Gigi

31 Mei

Seberapa sering Anda ke dokter gigi untuk memeriksakan gigi Anda? Semestinya setiap 6 bulan sekali disarankan untuk memeriksakan gigi sekaligus membersihkan gigi dari plaq yang ada. Aku? wah sedapat mungkin tidak mau ke dokter gigi deh. Meskipun akhirnya 3 minggu lalu aku terpaksa mulai berobat lagi, karena tambalan gigi geraham paling belakang terlepas. Dan oleh dokter disarankan untuk mencabut gigi itu di Rumah Sakit Gigi yang menyatu dengan Universitas. Karena termasuk operasi, mungkin mereka maunya semua terjamin (termasuk anastesinya).

Aku perhatikan di Jepang memang orang lebih senang pergi ke RS Universitas daigaku byouin 大学病院 , mungkin karena lebih afdol dan dipercaya  bahwa teknologi baru terus dikembangkan justru di universitas. Padahal kalau di Indonesia kita punya persepsi bahwa tidak mau dijadikan kelinci percobaan oleh mahasiswa kedokteran. Hmmm persepsi soal kepercayaan ini, sepertinya harus diubah deh.

Dan untuk pergi ke RS universitas ini aku diberi surat pengantar. Cuma aku belum bisa menentukan kapan sebaiknya aku ke sana. Butuh waktu sehari penuh untuk memeriksakan diri selain dari hari operasi. Selain tempatnya lumayan jauh dari rumah aku, antrinya itu lohhhh… Kapan ya? (Sekarang aku sendiri sedang sakit flu, jadi harus menyembuhkan flunya dulu)

Meskipun aku malas memeriksakan gigi untuk diriku, untuk anak-anak aku selalu perhatikan dan antar mereka ke dokter. Riku lumayan bagus giginya, tapi sayangnya untuk Kai aku terlambat. Kai termasuk cepat tumbuh giginya. Belum satu setengah tahun giginya sudah lengkap semua. Tapi karena kebiasaan dia minum susu sambil tidur, ditambah lagi kelihatan mutu giginya buruk (mungkin karena dia prematur ya…) jadi belum apa-apa sudah rusak gigi depannya.  Dengan susah payah aku ajak dia ke dokter gigi sejak umur 2 tahun tapi dokter juga tidak mau memaksakan pengobatan. Katanya takut menimbulkan image yang jelek terhadap dokter gigi. Ya sutra lah… terpaksa tunggu sampai gigi susunya tanggal satu-per-satu deh.

Nah, tadi pagi kebetulan ada berita menarik tentang dokter gigi di Jepang. Ternyata sekarang jumlah dokter gigi di Jepang sudah lebih dari 100 ribu orang, melebihi jumlah toko konbini (convinience store semacam Circle K). Dengan kenyataan ini persaingan dokter gigi juga semakin ketat. Banyak dokter gigi yang pasiennya berkurang, dan terpaksa menganggur semu. Dikatakan bahwa sekitar 20 tahun yang lalu memang diperlukan banyak dokter gigi untuk mengobati anak-anak yang sering sakit gigi akibat konsumsi gula dan boom ekonomi. Sekarang kesadaran akan kesehatan sudah meningkat dan sistem pencegahan kerusakan gigi semakin canggih.

Untuk itu klinik gigi shika-iin 歯科医院 harus membuat terobosan baru yang bisa menjamin datangnya pasien ke tempat mereka. Salah satu yang dibuat sebuah klinik gigi di Sendai adalah dengan membuat kamar bermain bagi anak balita. Sehingga ibu-ibu dapat memeriksakan gigi dengan tenang karena tau anak-anaknya dijaga oleh perawat yang ada, tanpa perlu mengeluarkan uang tambahan untuk penitipan. Selain itu keadaan anak-anak bisa dimonitor lewat TV yang terpasang di kursi “pesakitan” hihihi. Canggih deh pokoknya kursi dokter gigi sekarang. Di klinik yang aku biasa pergi, air kumur-kumurnya akan otomatis mengisi sendiri jika level air berkurang dari seharusnya. Satu setnya bisa berapa juta yen tuh harganya.

Selain servis terhadap ibu-ibu dengan balita, juga melakukan kunjungan ke rumah orang tua yang tidak bisa ke klinik. Dinas luar ceritanya. Nah, kalau yang begini sih tidak bisa bawa kursinya ke mana-mana, jadi back to manual lagi deh.Satu lagi servis yang disediakan adalah pencegahan (bukan pengobatan) jadi untuk waktu tertentu orang bisa datang untuk memeriksakan giginya, yang akan ditangani oleh perawat saja. Termasuk membersihkan plaq. Seperti ke salon deh gitu hihihi…..

kursi pesakitannya nyaman loh...bisa ganti nama bukan kursi pesakitan tapi kursi kenikmatan ...cieeee

Bagi yang tinggal di Jepang, biasanya kita ke klinik gigi akan ditanya rekomendasi siapa. Lalu disuruh mengisi riwayat kesehatan untuk dibuatkan karte. Untuk pemeriksaan pertama biasanya gigi akan dirongent dulu. Dan hasil rontgen akan ditampilkan secara digital di monitor (ini yang punya kursi canggih itu ya, kalau tidak maka bentuk hasil rontgen seperti film negatif saja. Nah jika gigi berlubang, kita harus siap untuk berkunjung ke dokter paling sedikit satu setengah bulan. 2-3 kali untuk mencabut syaraf, 1 kali pembuatan cetakan gigi, 1 kali pemasangan tambalan yang sudah dicetak dan 1-2 kali untuk memeriksa bentuk dan dudukan dari tambalan. Kadang aku sebel kok untuk tambal gigi aja seakan-akan disuruh bolak-balik terus. Tapi ya begitulah sistem kerja di sini. Ngga bisa sistem “ketok magic” 2 minggu jadi gitu hahaha! Tapi karena dokter giginya cakep-cakep, lumayanlah buat cuci mata 😀 (Eh tapi waktu “dikerjain” kan merem…jadi ngga bisa deh liat-liatan hihihi)

Waktu aku mengantar Riku ke dokter bedah juga begitu. Jadi waktu Riku berumur 4 tahun, dia pernah terantuk di kamar dan dahinya terkena ujung tempat tidur. Keluar darah kental yang untungnya tidak “menyembur”. Cepat-cepat kami bawa ke klinik bedah dan emergency dekat rumah. Kemudian pelipisnya dijahit dua jahitan. Takjub deh sama Riku, dia tidak menangis sama sekali. Dari dulu Riku tidak pernah menangis kalau disuntik atau diperiksa dokter. Nah, selesai dijahit, aku harus mengantar Riku SETIAP HARI untuk diganti perban dan diobati! Menyebalkan sekali, tapi memang katanya begitu kalau ke dokter bedah. Mereka biasanya menyuruh kita kembali minimum satu minggu. Mungkin ini juga ada kaitannya dengan asuransi. Biasanya asuransi swasta baru membayarkan asuransi jika seminggu bolak-balik ke klinik.

Jadi …kapan ya aku ke Rumah Sakit itu? hmmmm liat jadwal dulu deh! Yang penting sembuhin flunya dulu deh…

DPR yang di bawah pohon rindang

26 Mei

Aku yakin semua pembaca TE belum pernah mencoba potong rambut di DPR a.k.a di bawah pohon rindang. Kalaupun ada paling 1-2 orang saja. Masalahnya keberanian kita apakah kita bisa merelakan potongan rambut pada tangan-tangan yang belum tentu dipercaya. Aku katakan belum tentu, karena biasanya kita mempunyai kapster atau pemotong rambut yang sudah tetap, atau langganan yang sudah tahu selera kita, bentuk kepala kita, dan kita menyerahkan penampilan rambut kita untuk beberapa waktu ke depan pada kapster tersebut.

Aku sendiri sekarang tidak mempunyai kapster tetap. Dulu sekali aku ingat aku sering memotongkan rambut pada Indra dan temannya, lupa namanya, yang punya salon di depan gereja St Johannes Penginjil, Jl Melawai Raya. (Ada yang tau ngga ya? hihihi) Tuh kan, nama salonnya aja lupa hehehe. Katanya sih si Indranya akhirnya punya salon sendiri di Jl Wolter Monginsidi…tapi aku tidak “mengejar” dia ke sana.

Lebih lama lagi sebelumnya, aku sering memotongkan rambut pada salah satu tante yang memang belajar memotong rambut dan akhirnya bekerja di salon. Harga saudara…(meskipun mungkin loh, harga saudara itu justru lebih mahal dari harga resmi hehehe). Intinya, aku tidak keberatan menjadi kelinci percobaan 😉 siapapun juga.

Riku dan Kai dengan rambut baru. Riku membacakan picture book untuk Kai. Tugasku berkurang satu deh. Senangnya Riku sudah bisa membaca (bahasa Jepang)

Nah, kemarin malam aku memotong rambut kedua anakku, Riku dan Kai. Karena Riku mau dipotong dan bekerjasama alias tidak bergerak sana-sini, potongan rambutnya lumayan bagus. Dan Kai melihat kakaknya dipotong dia juga mau dipotong, sehingga memberikan kesempatan padaku untuk “membereskan” potongan poninya yang miring-miring waktu itu. Aku sendiri juga selalu memotong rambut sendiri. Sering ditanya bagaimana caranya? Ya potong saja depannya dulu, lalu samping kiri kanan, lalu belakang di bagi dua ke kiri dan ke kanan. Jadi deh. Lagipula rambutku memang keriting jadi kalaupun tidak sama panjangnya juga tidak terlihat. Nanti akan ada beberapa hari kesempatan memperbaiki potongan yang keluar-keluar.

Memang sih kalau bisa ke salon aku juga mau ke salon. Terakhir aku ke salon di Indonesia kalau mudik (that means last agust). Pergi ke salon di depan RSPP, potong kalau tidak salah harganya 80.000 rupiah saja! Untung aku tidak neko-neko, tidak perlu creambath, keriting, dicat dsbnya. Memang aku mewarnai rambutku tapi selalu cat sendiri, membeli cat rambut yang sudah jadi. Terakhir ke salon di Jepang? Setahun setelah melahirkan Riku, yaitu tahun 2004. Dan karena itulah aku juga berhenti ke salon di Jepang.

Kenapa berhenti? Karena waktu itu aku harus membayar 16.000 yen! Weks untuk potong dan cat aku harus membayar 1,6 juta rupiah! Potongnya saja biasanya standar 4000 yen kalau salon. Wait… tunggu dulu deh kalau begitu. Mending aku tahan sampai mudik ke Jakarta… Padahal aku juga pernah kena “ketok” potong rambut di Jakarta sampai lebih 1 juta! hahaha. Lihat lokasi deh kalau mau potong. Biarpun sama-sama nama salon berinisial “RS” ternyata lain-lain tarifnya. (Ih pasti gue diketawain nih sama yang baca postingan ini … gue juga berasa dungu banget waktu musti bayar dan bengong dibilang harganya…. emang sih dipaksa-paksa beli cream produk “ker*stase”…yang gue buta banget soal merek!)

Tapi memang pelayanan di salon Jepang hebat! Waktu dicuci rambutnya, pertama muka kita akan ditutup saputangan sehingga tidak usah melihat MUKA SI PENCUCI…bagaimanapun juga risih kan tuh hadap-hadapan langsung face to face. Aku tidak tahu apakah sudah ada salon di Indonesia yang memikirkan seperti ini. Lalu ditanya suhu air showernya, kepanasan atau tidak. Massage atau pijat sudah termasuk dalam service. Memang tidak ada makanan yang ditawarkan hanya minum gratis, tidak seperti di Jakarta, bisa tuh pesan sate ayam hahaha. Tapi sate ayam dan minuman yang dipesan kan harus bayar sendiri! Dan satu lagi di sini TIDAK PERLU memberikan tip. Kadang aku bingung bagaimana dan berapa memberikan tip di salon Jakarta. Yang nyuci, yang motong dan yang ngeblow…huh ribet deh!  Trus ngasihnya gimana? Kalau pelanggannya tante-tante tuh aku suka liat memasukkan tipnya ke celana yang motong (biasanya cowo) sambil meraba-raba lama deh hahaha. asyiiik …..

TAPI sebetulnya di Jepangpun ada tempat potong rambut yang murah. Cukup membayar 1000 yen (100.000 rupiah) tapi tanpa cuci, tanpa blow, tanpa cat (coloring), tanpa  keriting (perm), tanpa shaving segala. Nama tokonya QB House. Tadinya kusangka singkatan dari Quick Barbershop tapi waktu lihat websitenya ternyata Beaute Quatre. Motto mereka 10 menit 1000 yen. Dimulai tahun 1996, perusahaan ini memanfaatkan tempat-tempat strategis, seperti di stasiun, dengan jaminan 10 menit bisa dipotong rambutnya (tentu saja lebih lama kalau antri). Menurut mereka, mereka menyediakan pelayanan ini bagi orang Jepang yang selalu sibuk dan menghargai waktu. Tapi menurutku mereka telah membaca keperluan masyarakat Jepang yang memang sedikit waktu ditambah dengan pemikiran tidak mau mengeluarkan uang banyak untuk hal yang bisa dilakukan sendiri. Memotong rambut sendiri memang membutuhkan keberanian dan ketrampilan tersendiri. Dan toko ini sangat berhasil, karena dalam jangka waktu lebih dari 10 tahun (14 tahun tepatnya) mereka telah mempunyai tempat potong 395 dengan pengguna 12.000 orang.

Di depan QB Ikebukuro, tempat potong rambut 10 menit 1000 yen

Cuma memang kalau dilihat kita manusia yang akan dipotong rambutnya di QB House ini seperti barang saja. Karena tanpa cuci, untuk menghilangkan potongan rambut kecil-kecil di kepala dan badan, mereka memakai alat yang bernama  “Air Washer”…padahal sebetulnya ya kerja sama dengan penyedot debu! Tapi aku sih no problem sama sekali, meskipun aku belum pernah mencobanya. Gen hampir selalu pergi ke QB house kecuali mendadak perlu terpaksa mengeluarkan 4000 yen di barbershop samping rumah. Riku juga kadang diajak Gen potong rambut di sini. Soalnya Gen tidak mau kalau aku potong sih…takut kalau jelek tuh hehehe.

Padahal sudah cukup banyak loh “KORBAN”ku. Mulai dari Tina, adikku saat aku masih mahasiswa dulu, dengan hasil yang…terrible. Tapi semenjak di Tokyo lumayan deh pelangganku, termasuk mama (juga kalau aku ke jakarta), mahasiswa yang rela dijadikan kelinci percobaan seperti Wen…kemana ya tuh anak? Lalu kedua anakku, diriku sendiri dan EKA …yuhuuuu Ekawati Sudjono, bagaimana testimoni kamu tentang Imelda si kapster? hihihi.

Siapa lagi yang mau daftar jadi kelinci percobaanku? Gratis loh! Dukan di bawah pohon rindang, tapi di kursi depan televisi hihihi. Kalau ke sini, malah dikasih makan hahaha… Tapi dengan menandatangani surat perjanjian (ini PENTING!) tidak akan mengeluh atau komplain kalau hasilnya jelek ya :). Tapi kalau di Jakarta,menerima panggilan juga kok, tapi transportasi+konsumsi situ yang tanggung ya 🙂 (konsumsinya di GI atau PS atau PP ya! hahaha)

NAH, buat yang berdomisili di Jepang juga perlu membaca tulisannya sahabatku (cihuy) yang satu ini, di Mari Potong Rambut. Mampir dan berikan komentar ya hihihi. (Yang punya blog…layani dengan baik ya tamu-tamuku ini 😀 )

Roman Pria

22 Mei

kata ini merupakan terjemahan dari bahasa Jepang Otoko no Roman. Aku pertama kali mendengar kata ini waktu Gen memohon persetujuan aku dan kemudian memamerkan satu set/ seri buku TIM, karangan Edward Ardizzone (penulis asal Inggris yang lahir di Vietnam tahun 1900 dan meninggal tahun 1979). Karena wajah Gen memelas sekali waktu itu, jadi aku mengiyakan. Meskipun agak manyun karena ternyata untuk melengkapi satu set seri TIM ini aku harus mengeluarkan uang kira-kira 15.000 yen! Satu seri ini terdiri dari 11 buku @1365yen. Dan kebetulan memang penerbit Fukuinkan Shoten menerbitkan kembali bulan Agustus tahun 2007 sebagai cetakan ke 11. Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1963 (oleh Oxford University Press dan dalam bahasa Jepang  oleh Fukuinkan Shoten tahun 2001) … wow… sebuah karya besar yang terbit  jauh sebelum Gen lahir.

Lalu apa sih hebatnya Picture Book ini? Buku ini menceritakan petualangan anak laki-laki bernama Tim berlayar naik kapal laut. Dimulai dengan judul pertama Little Tim and The Brave Sea Captain, Tim and Lucy Go to Sea, Time to the Rescue, Tim and Charlotte, Tim in Danger, Tim All Alone, Tim Friends Towser, Tim and Ginger, Tim to the Lighthouse, Tim Last Voyage dan Ships’s Cook Ginger. Aku sendiri belum baca, dan hanya mencuri dengar waktu Gen mendongengkan pada Riku sebelum tidur, sampai buku ke dua. (Dan menurut Gen dia sudah membacakan seluruh seri TIM ini pada Riku).

Buku seri Picture Book yang "katanya" merupakan roman laki-laki di Jepang.

Roman Pria….. menurut penjelasan dari situs hatena jepang, Roman Pria ini adalah suatu dunia angan-angan, tindakan, pemikiran dan あこがれ akogare idaman dari anak laki-laki pada umumnya (bukan mengidamkan perempuan loh), mulai dari narsisme sampai ideologi yang menjadi syarat macho atau bisa dikatakan definisi untuk menjadi “cowo keren”. Sehingga tokoh-tokoh dunia seperti Napoleon, Raja Alexander, Adolf Hitler yang berkuasa pun disebut sebagai roman Pria.

Dan menurut Gen, memiliki buku Tim ini juga merupakan perwujudan Roman Pria… entah apakah ini hanya Gen saja, tapi kalau melihat definisi Roman Pria berarti banyak yang meng”idola”kan Tim ini.  Dan waktu aku mencari-cari di website istilah ini, banyak gambar yang menunjukkan “idaman” nya pria Jepang, misalnya pemantik api Zippo, miniature mobil-mobilan (daripada boneka aku mending ngumpulin mobil-mobilan deh), jam tangan tag heuer (ih aku juga mau tag heuer!), dan lain-lain. Hmmm aku jadi ingin tahu pria-pria Indonesia apa ya “roman” nya (bukan romance atau asmara loh hehehe). Kalau Zippo, aku rasa hanya bagi mereka yang merokok, dan aku jarang mendengar ada teman laki-laki yang hobbynya mengumpulkan mobil-mobilan miniatur. Mungkin (baru mungkin loh) cerutu? atau sepatu gunung? jaket kulit? kalau buku mungkin Kho Ping Ho? atau Bung Karno untuk tokohnya? Dan menurutku tentu saja barang-barang atau pemikiran/idaman pria berbeda menurut generasinya.

Nah yang lucunya, meskipun dalam bahasa Jepang ada kata “Roman Pria/ Otoko no Roman”, tapi tidak ada kata “Roman Wanita atau Onna no roman”. Padahal semestinya wanita juga mempunyai “idaman” yang mempunyai persamaan secara umum yang menunjukkan “keperempuanannya” ya? Misalnya jaman aku dulu, kami punya idaman Lady Diana, dengan rambut gaya Lady Di itu, atau si Farah Fawcett deh. Kalau untuk barang, aku memang tidak tahu, karena aku merasa aku tidak suka barang “wanita” seperti Barbie, atau yang womanish womanish pinkish gitu deh (duh bahasa apa lagi tuh womanish hihihi).

So, apa atau siapa roman kamu?

Yago

20 Mei

Kemarin malam aku marah pada Riku, ternyata dia tidak memberikan Surat Rencana Belajar Bulan Mei kepadaku sehingga aku terlambat tahu bahwa hari kamis ini ada pelajaran khusus di kelasnya. Yaitu menangkap YAGO. Yago, adalah calon anak capung dan bisa diambil dari kolam di sekolah. Karena pasti berbasah-basah, jadi kami orang tua disuruh menyiapkan celana renang+ baju yang bisa dikotori lumpur, sepatu yang sudah tidak dipakai, dan ….(jaring) penangkap serangga. Nah loh… Kalau celana renang, baju dan sepatu pasti bisa disediakan sendiri, tapi penangkap serangga? Harus beli!

Padahal saat itu sudah pukul 6:30 sore. Hujan dan musti cari di mana? Riku sudah putus asa dan bilang,”Ah aku besok bolos aja ahhh…”. Tapi belum aku bicara apa-apa, dia bilang, “Ngga, aku tetap mau ke sekolah. ” Senangnya hatiku mendengar itu, dan aku bilang padanya, “Mama cari di toko Murata sebentar ya. Moga-moga ada. Kalau sekarang mustinya dia masih buka. Kalau tidak ada ya Riku tidak usah bawa tidak apa-apa kan?”
“OK, Riku jaga rumah sama Kai”, dia menawarkan diri jaga rumah, rusuban.

Cepat-cepat aku ke toko Murata dan untung si ojisan (bapak penjaga toko, bapak Murata) ngerti waktu aku bilang aku mau beli penangkap serangga. Ada di gudang katanya. Dan dia mencari di gudang toko yang ada di samping toko. Ternyata ada 2 jenis, yang satu untuk di air, seperti menangkap yago itu, dan yang satu jenis lagi untuk menangkap di udara seperti menangkap kupu-kupu dan capung di udara. Karena sudah pasti untuk Yago saja, maka aku beli jaring yang untuk di air. Harganya? 420 yen saja (hmmm bisa beli satu nasi bento tuh hahaha).

Riku senang sekali melihat aku membawa pulang jaring itu. Dan begitu papanya pulang, yang kebetulan cepat sekali pulang malam kemarin karena tidak enak badan, dia ribut tanya-tanya soal menangkap Yago.

Memang SD di Jepang banyak mengadakan “kuliah nyata” di alam terbuka, terutama menjelang musim panas. Kemarin dulu hari Selasa, Riku mengikuti ensoku, piknik bersama teman-teman sekolah ke Koukou Koen (Taman besar di Saitama yang merupakan bekas pelabuhan udara pertama di Jepang, dan luasnya 11 kali Tokyo Dome). Waktu Riku masih TK juga sudah pernah ke sana, yang foto-fotonya bisa dilihat di sini. Namun kali ini sebagai murid SD kelas dua, mereka pergi berjalan dari sekolah sampai stasiun berjarak jalan kaki 25 menit untuk anak-anak, lalu naik kereta bersama ke Taman tersebut (naik kereta kira-kira 3o menit). Tujuan ensoku ini supaya anak-anak belajar berkomunikasi dengan teman-teman dan guru sambil bermain di taman yang luas. Tentu saja juga mematuhi peraturan yang ada dalam masyarakat, misalnya tidak boleh berlarian di peron stasiun, berbicara keras di dalam gerbong kereta dan lain-lain. Bagaimana anak-anak berinteraksi di masyarakat/umum.

Menangkap yago ini juga untuk mendekatkan anak-anak dengan alam. Sambil mengamati perubahan yago menjadi capung dalam kelas IPA. Termasuk juga mengambar bentuk Yago, dan membuat karangan tentang yago itu.

Dan menjelang musim panas ini aku harus bersiap-siap untuk menikmati anak-anak menangkap serangga seperti chocho kupu-kupu, kabutomushi dan kuwagata kumbang kelapa, cicadas dan juga sarigani udang kepiting sungai. Musim panas berarti alam terbuka! Well, meskipun aku tidak suka binatang kecil seperti serangga begitu, aku harus bisa TIDAK MENJERIT DAN KETAKUTAN, karena kedua anakku itu COWO! Be brave Imelda!

Nenek moyangku orang pelaut

19 Mei

dan ya aku bangga bisa terciprat sedikit darah penjelajah lautan dari suku yang terkenal dengan perahu phinisinya. Meskipun terus terang aku takut laut. Sedapat mungkin menghindari untuk naik segala jenis perahu/kapal karena aku takut!  Tapi tentu saja hal itu tidak mungkin. Pasti ada suatu saat harus naik ferry atau perahu wisata dan semakin lama hidup aku menganggap aku semakin “berani”. Well mungkin  di sini berlaku pepatah Witing tresno jalaran soko kulino. cinta karena terbiasa…. Mungkin loh hehehe.

Hari Minggu lalu, tanggal 16 Mei 2010, kami pergi ke Museum of Maritime Science,  Funenokagakukan 船の科学館. Entah kenapa si Gen pengeeen banget ke situ. Dan waktu cari info di website, khusus tgl 15-16, limapuluh pengunjung pertama akan mendapat hadiah. Jadi, kalau mau dapat hadiah kami harus cepat-cepat pergi.

Jam 6 pagi Riku sudah bangun, sedangkan aku sendiri sudah bangun sejak jam 2 hahahaha (terbangun dan tidak bisa tidur lagi). Dan jam 7:30 kami semua sudah sarapan, untuk keluar rumah jam 8:30. Odaiba (pantai reklamasi Teluk Tokyo) cukup jauh dari rumah kami. Tapi kami bisa sampai di situ jam 9:30. Kalau menurut perhitungan kami sih telat, karena biasanya orang Jepang datang satu jam sebelum pintu dibuka (museum ini buka jam 10:00) jadi kami sih pasrah saja kalau tidak dapat hadiah.

Eh ternyata waktu kami ke antrian baru ada sekitar 12-13 orang. Asyiiik. Pasti dapet hadiah. Sambil menunggu, aku sempat melihat burung walet membuat sarang di langit-langit. (Aku sempat lama menulis di bagian ini, tiba-tiba ragu dengan nama burung. Walet atau camar ya? hihihi)

Burung "dompet" , karena emang sih sarang burung walet bisa buat tebal dompet hihihi

Dan satu yang membuat Gen sedih yaitu tidak bisa mengikuti naik kapal keliling teluk Tokyo. Jadi dalam rangka Festival Pelabuhan Tokyo yang ke 63, di museum ini diadakan  “Pesta Anakanak Laut”. Khusus tanggal 15-16 Mei semua yang berumur di bawah 18 tahun gratis memasuki Museum of Maritime Science ini (HTM museum ini 700 yen utk dewasa dan 400 utk SD-18 th), dan ada beberapa acara khusus untuk anak-anak. Salah satunya adalah keliling teluk Tokyo dengan menaiki kapal pengamat “Takashima” dari Departemen Perhubungannya Jepang (MITI). Waktu lihat di website memang diberitahu bahwa hanya untuk 50 orang saja, dan pada hari H-nya akan diisi kekurangan peminat sekitar 20-an orang. Tapi waktu kami antri itu dibilang bahwa hanya 10 orang saja yang bisa ikut dalam kapal. Nah loh, kita berada di nomor 12-an di antrian…hiks. Jadi pasti tidak dapat nomor deh.

Memang ada dua keberangkatan yaitu pukul 11 dan pukul 1:30. Yang pukul 11, langsung penuh kan…jadi kami harus kembali mendaftar (dari 10 kursi kosong) itu untuk kali keberangkatan ke dua jam 1:30. Pendaftarannya sendiri mulai jam 12 siang. Hmmm kalau melihat lagat orang Jepang kan pasti mereka mulai antri jam 11 tuh. Dan aku kasian banget liat Gen kecewa begitu. Waktu itu kami berada di antrian pertama jika mau antri untuk kali ke dua. Pasti bisa! Jadi aku bilang sama Gen, aku antri saja dari sekarang, Gen dan anak-anak biar main , berkelliling lalu sekitar jam 11 kembali dan antri. Jadi kami tetap berada di barisan! (dan tidak ada orang lain sesudah kami — ya edan lah nunggu berjam-jam di situ)

Kami tetap bersikeras menunggu di situ terus, meskipun petugas mengatakan, “Masih lama loh”. Dan Gen jawab dengan, “Dengan begini kan sudah pasti kami bisa ikut yang kedua” (Kalau aku sih pasti tidak jawab dengan manis begitu…pasti sambil ngedumel hahahah, soalnya ada orang yang nyerobot antrian kami sebetulnya sehingga kami tidak bisa ikut kloter pertama. Manyun deh aku). Untuuung banget suamiku sabar, dan rupanya melihat kami “keras kepala” dengan dua anak kecil menunggu berjam-jam, petugasnya kasihan dan dia menegosiasikan ke pihak pendaftaran supaya bisa memasukkan kami berempat dalam list penumpang yang pertama. Well, ada usaha ada hasil, bukan?

Riku dan Kai memegang ikan Suzuki, ikan laut dari teluk Tokyo. Kai senang sekali main air, maklum dia lahir di Hari Laut sih hihihi.

Jadi deh kami bisa berangkat jam 11:00. Dan sambil menunggu waktu keberangkatan, Riku dan Kai bermain (boleh memegang) ikan Suzuki yang biasa terdapat di Teluk Tokyo. Ada beberapa booth di lingkungan itu yang salah satunya menggaungkan kampanye pembersihan air laut Teluk Tokyo.

Jembatan baru di teluk Tokyo yang sedang dibangun, tingginya 55 meter. Kalau cari di website katanya akan selesai tahun 2010.... bisa selesai ngga ya?

Kami naik kapal Takashima pukul 11, dan mengikuti cruise mengelilingi Teluk Tokyo, dengan dipandu bapak dari MITI deh, lupa namanya. Dia menjelaskan pengetahuan umum dalam berlayar termasuk kode-kode berlayar, kapal kontainer yang bisa mengangkut 3000 kotak kontainer… wah tidak sangka bisa sampai 3000. Di situ juga terdapat kapak dari NYK Line, sebuah pelayaran utama Jepang. Aku ingat aku pernah menerjemahkan pamflet tentang kapal tanker minyak milik NYK Line 2 tahun yang lalu.  Ada pula kapal pengangkut truk yang menuju ke Hokkaido, pulau di utara Jepang dan lain-lain. Dia juga menjelaskan tentang pembangunan sebuah Jembatan baru di Teluk Tokyo setinggi 55 meter (aku baru tahu bahwa akan ada jembatan baru di sini). Katanya tinggi jembatan 東京湾臨海大橋  - Tokyo Bay Seaside Ohashi – itu harus 55 meter dari permukaan laut supaya kapal besar juga bisa lewat di bawahnya.

Sayang aku tidak bisa konsentrasi lebih banyak pada penjelasan dia, karena sambil menjaga Kai. Kai sama sekali tidak mau dibawa ke deck kapal supaya bisa melihat pemadangan di luar sambil mendengar penjelasan. Baru setelah hampir pulang, dia mau digendong Gen dan kita keluar ke deck. Sekitar jam 12 kami mendarat dengan Gen tersenyum karena senang bisa naik kapal tersebut.

Riku menggendong adiknya untuk memperlihatkan takoyaki yang tengah dibuat

Well, kami masih punya banyak waktu sampai jam 5 sore untuk melihat seluruh museum termasuk dua buah kapal yang bersandar di situ. Tapi karena lapar, kami makan roti Begel dan takoyaki yang dijual dari mobil keliling. Di bawah terik matahari yang puanasss kami makan siang. Tapi sebetulnya hari itu cuaca cukup bersahabat, karena selain waktu makan siang itu, meskipun terik, angin bertiup sehingga kaiteki, comfortable nyaman deh.

Riku menggerakkan perahu dengan radio control. Mainnya cuma 5 menit, nunggunya 40 menit! huh...

Setelah makan, Riku langsung cepat-cepat pergi ke kolam renang di depan museum untuk mendaftar memainkan perahu beradio control. Hanya untuk menjalankan perahu tersebut kami harus antri dan menunggu 40 menit. Duh… hari ini isinya mengantri mulu deh. Demi Riku, karena sebetulnya aku dan Kai bengong nungguin Riku. Meskipun Kai merasa senang berada di areal kolam tersebut, karena ada pula acra naik perahu boat dan kanoe. Kami juga tadinya mau naik perahu boat, tapi pendaftaran sudah ditutup. (untung aja, kalau tidak, nunggu lagi deh)

Dari sini, kami masuk ke tempat pameran dalam gedung, yang menceritakan sejarah pembuatan perahu/kapal. Mulai dari kapal pertama yang dibuat di Mesir, untuk menyeberangi sungai Nil, sampai kapal-kapal modern dengan turbin dsb. Setiap kapal tentu saja ada keterangannya, tapi aku lihat sambil lalu saja. Dan di bagian kapal modern ada juga kemudi dan tobol yang bisa ditekan untuk mengetahui cara pengoperasian mesin kapal. Sayang aku tidak melihat ada tulisan sejarah kapal phinisi. Kapal-kapal yang terkenal dibuat modelnya yang buatannya amat detil dan bagus. Wah mereka yang kuliah di perkapalan musti lihat museum ini nih (ada saudara sepupuku cewe yang kuliah di perkapalan Unhas loh!)

Kemudian kami naik ke kapal SOYA. Kapal ini adalah kapal ekspedisi ke kutub selatan untuk meneliti kehidupan di sana. Tapi karena harus melintasi khatulistiwa maka kapal juga dilengkapi dengan kulkas dan ruang ber-AC untuk anjing-anjing kutub. Ini adalah kali kedua aku memasuki kapal dan melihat kamar-kamar mereka yang kecil. Sebelumnya pernah melihat kapal Nipponmaru yang dipakai sebagai kapal pelatihan yang waktu itu berlabuh di Yokohama. Lorong yang sempit dan kamar/tempat tidur yang kecil, membuat aku berpikir pelaut itu kok badannya kecil-kecil ya? Kapan-kapan ingin masuk kapalnya Amerika, ingin tahu apakah lorong dan kamar-kamar di kapal Amerika juga sama kecilnya, atau karena kapal Jepang saja jadi semua serba kecil dan sempit.

Kapal ekspedisi ke kutub selatan, SOYA.

Tapi begitu kami masuk ke kapal YOTEIMARU, langsung deh lain. Tidak terasa seperti di kapal, malah seperti di hotel. Mungkin karena sudah direnovasi sebagai tempat pameran dan eksibisi, jadi lain sekali. Atau mungkin yang seperti inilah kapal Titanic, jenis-jenis kapal mewah untuk keliling dunia ya? Yang pasti aku tidak mau coba naik kapal sampai berhari-hari. Kalau berjam mungkin masih mau, tapi naik kapal dan lebih dari 24 jam harus liat air terus? hiiiiii

Kapal Yoteimaru, dulunya dipakai sebagai kapal penyeberangan dari Aomori yang terletak di pulau utama Jepang, Honshu ke Hakodate di Hokkaido.

Di Yoteimaru ini, ada kegiatan membuat seni lukisan dari ikan yang diberi nama Gyotaku. Seni ini memindahkan bentuk ikan atau hewan laut lainnya ke kertas, dan menjadikannya lukisan yang indah. Riku masih sempat mengikuti kegiatan ini, dan membuat satu lukisan kerang.

Melukis kerang dengan cara menempelkan kertas yang dibasahi pada kerang/ikan lalu diwarnai dengan cat air. Seni ini disebut gyotaku.

Sesudah seharian berada di museum ini, akhirnya kami pulang pukul 5 sore. Dan Riku berkata ingin datang lagi, karena masih banyak yang dia mau lakukan tapi belum bisa. Termasuk naik perahu boat dan memancing. Lalu aku bujuk dia untuk bersabar, dan bertekad mengajak dia naik perahu dan memancing di Indonesia waktu kami liburan musim panas nanti. Semoga bisa terlaksana.

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menembus badai sudah biasa

Angin bertiup, layar berkembang
Ombak menderu di tepi pantai
Pemuda b’rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

 

 

Domo Arigato Mr Roboto

15 Mei

Aku yakin banyak pembaca TE muda yang tidak mengenal lagu ini (bahkan belum lahir mel…). Sebuah lagu asyik dari STYX, sebuah band rock dari Amerika, yang menjadi di hit di tahun 1980-an (tepatnya lagu ini muncul tahun 1983, saat aku masuk SMA). Jaman itu memang banyak lagu rock-techno-disco (ngga ngerti deh kalau soal musik, mending tanya sama mas NH18 yang ahlinya), karena aku ingat kelasku di SMA pernah membuat performance dance dengan baju ala robot-robot gitu deh (dan tentu saja aku tidak pernah ikut, wong aku ngga bisa goyang). Buat yang mau tahu lagunya silakan dengar di Youtube ini.

Tapi sedikitnya kalimat itu akan aku ucapkan kepada Mr Sato yang cocok sekali disebut sebagai Mr Roboto, bukan karena dia robotnya, tapi dia yang “menghibur” aku dan pengunjung pameran robot kecil di Tama Rokuto Kagakukan (Tama Rokuto Science Center) hari minggu 9 Mei yang lalu (maaf yah, sekali lagi aku pamer kegiatan keluarga kami hari minggu lalu). Sebetulnya ini kali kedua untuk Riku dan Gen, karena mereka sudah pernah pergi ke sini yang laporannya aku tulis di Menumbuhkan Kemampuan Berkreasi pada Anak Indonesia.

Teman bloggerku Dewa Bantal, pernah buzz aku di YM dan bilang, “Jalan-jalan teruuuuusss….(iri)”.  Dan ketika aku ceritakan pada Gen, kami sepakat menjawab alasan kami jalan-jalan terus setiap weekend adalah karena ngga betah di rumah terus. Apartemen kami kecil, selama seminggu kami menghabiskan kehidupan dalam kotak  cubicle kami, rumah dan kantor. Sehingga kami usahakan setiap weekend untuk keluar rumah, mencari pemandangan atau pengetahuan, semurah mungkin. Paling sedikit ke taman dekat rumah.

Nah tanggal 8 Mei, Sabtu sepulang Gen kerja, yang lumayan pagi sampai rumahnya (jam 6 sore itu pagi menurut kami), kami mencari tempat yang bisa dikunjungi hari minggunya supaya tidak dadakan pergi. Untuk tgl 15 sudah ada jadwal, dan harus pergi. Lalu kami menemukan di homepage bahwa planetarium sekaligus science center yang berada dekat rumah kami mengadakan pameran mini “Takuto Robot Park” dengan workshop membuat jangkrik solar. Karena setiap workshop hanya bisa 15 orang, jadi kami harus pergi pagi-pagi untuk antri. Asal tahu saja, biasanya orang Jepang akan hadir 1 jam sebelum acara dimulai. Kadang untuk pertunjukan musik yang jam 7 malam misalnya, diberitahukan bahwa pintu terbuka pukul 6, tapiiiiiii jika tempat duduk/berdirinya bebas, para pengunjung PASTI datang minimum 1 jam sebelum jam pintu dibuka. CAPEK DEHHHHH!!!! Untuk acara yang cuma dua jam, nunggu 2-3 jam. HUH! (Makanya aku males deh pergi konser atau pertunjukan gitu)

Dan benar saja. Science Center itu buka jam 9:30, tempat parkirnya buka jam 9:15. Kita datang persis jam 9:15, parkir mobil, dan disitu baru terlihat 6 mobil. Save, pikirku…. Eeeh baru kami jalan keluar lapangan parkir terdengar suara anak-anak beserta ibu mereka naik sepeda, dan lari-lari ke depan loket. Ya ampuuuuuun udah berderet yang antri. Dan kami harus terima bahwa kami itu nomor 16 yang mau mengikuti workshop jangkrik solar. Terpaksa deh mengikuti bagian ke dua yang dimulai pukul 1 siang…hiks.

Tapi memang tujuan kami ke sini kan bukan HANYA untuk si jangkrik doang. Ini kan planetarium, jadi ngga aci dong kalau tidak lihat bintang-bintang berserakan di langit (pasti susah tuh ngumpulinnya hihihi). Nah, di sini ada 5 kali pertunjukan film/penjelasan ttg bintang. Kami harus memilih ingin mengikuti yang mana, dan itu juga berpengaruh pada harga karcis. Tanda masuk pameran saja 500 yen, untuk pameran+ planetarium 1000 yen, sedangkan kalau mau nonton semua planetarium dan Pan-hemispheric movie ada tiket terusan seharga 1400 yen. Ini karcis dewasa, sedangkan anak-anak tiket terusannya hanya 500 yen (Usia SD ke atas, Kai tidak membayar).

Kami memilih menonton planetariumnya pukul 10:00 dengan judul “Oz the wizard”, sebuah film anime yang memperkenalkan rasi bintang tapi dikemas dengan cerita anak-anak. Keseluruhan penayangan dan penjelasan makan waktu 45 menit, dan Kai bisa duduk tenang ikut menonton dan menikmati planetarium itu. Hmm ternyata Kai juga sudah bisa aku ajak menonton bioskop nih. Nanti deh kalau ada film anak-anak yang bagus dan tidak terlalu panjang, mau ajak mereka berdua. Toh aku sekarang sudah berani menonton di bioskop.

Naik Moon walker, yang bergerak berdasarkan gerakan tubuh

Sebelum menonton film pertama dan di sela-sela film pertama dan kedua, kami berkeliling tempat pameran. Riku mencoba Moon walker, dia duduk di semacam crane yang akan membuat dia melambung-lambung hanya dengan gerakan tubuh waktu duduk. Ya mungkin begitu kalau berada di ruang angkasa.

"Mama...uchu dayo" (Mama...planet) kata Kai, begitu dia melihat gambar planet di perpustakaan center ini.

Pertunjukan Pan-hemispheric movie kali mengenai dunia 3D, dan dimulai pukul 11:50. Selama menunggu kami sempat melihat pameran yang ada. Wah bener-bener seperti game center! Tapi semuanya ada keterangannya mengapa bisa begini, bisa begitu. Isi tempat itu anak-anak semua! Kai saja senang berlari-lari ke sana kemari sendiri, pencet tombol ini itu. Dan kalau tidak ingat aku harus jaga mereka, aku juga pasti cobain satu-satu tuh alat-alat. (Dan suamiku entah jalan kemana, enjoy diri dia sendiri… sabar…sabar… ntar kalau anak-anak udah gede, gue jalan sendiri!)

Ternyata film 3D menakutkan Kai. Pertamanya sih memang menarik, karena harus pakai kacamata kan. Tapi karena filmnya banyak ngaget-ngagetin, dia minta dipeluk deh. Dan …dia tertidur dalam pelukanku. Dan…karena ada selimut hangat di dadaku (badannya Kai), aku juga sempat tertidur hahaha.

Sesudah film 3D selesai, Riku dan papanya mengikuti workshop, membuat jangkrik solar panel. Biaya workshop ini 940 yen, yaitu biaya bahan  untuk membuatnya. Lucu juga jadi jangkrik berpunggung solar panel, yang akan bergetar jika kena sinar matahari, tapi jika berada di bayangan akan berhenti. Workshop ini dilakukan di ruangan yang sama dengan pameran robot kecil-kecilan.

Kai mencoba satu alat yaitu yang menggerakkan mainan shinkansen hanya dengan kepalan tangan. Begitu tangan membuka kepalan akan berhenti. Kok bisa gitu, tanpa ada gerakan lain hanya dengan mengepalkan tangan maka kereta itu berjalan di relnya. Nah menurut penciptanya ini nantinya akan dikembangkan untuk penderita catat tubuh untuk menyalakan atau menggerakkan sesuatu.

Selain itu ada juga sebuah robot berwujud anak anjing laut berbulu putih. Si Seal bernama Paro ini berfungsi untuk terapi penyembuhan, sehingga dinamakan robot therapy. Jika dibelai, dia akan bereaksi, mengeluarkan suara dan gerak. Dan matanya berkedip-kedip…cute. Pasien karena alasan alergi, penyakit menura atau digigit dsb, tidak bisa memelihara binatang asli. Padahal dipercaya interaksi dengan manusia dan hewan dapat memberikan ketenangan rohani, memberikan semangat, menstabilkan tekanan darah dan denyut jantung, serta sarana komunikasi. Jadi robot Paro ini dikembangkan sebagai Mental Commit Robot oleh Dr Takanori Shibata (sudah masuk Guinness World Records). Harganya? 350.000 yen saja! (35 juta rupiah deh). Waktu kutanya apa ada yang beli, si petugas bilang, yang beli biasanya RS dan klinik untuk dipinjamkan ke pasien rawat inap. Hmmm aku lalu membayangkan orang tua Jepang yang banyak memelihara anjing atau kucing sebagai “teman” mereka. Daripada susah-susah merawat binatang yang hidup, bagus juga kalau beli saja Seal robot Paro ini. Tidak repot. Si Paro ini tidak perlu diberi makan tiap hari. Paling-paling dicharge baterenya.

Nah, kemudian kami bertemu si Mr Roboto itu, Mr Sato. Orangnya lucu dan antusias sekali berbicara dengan anak-anak, dibandingkan peneliti yang lain yang datang di tempat itu dia yang paling ramah dan lucu. Dia menciptakan humanoid, robot berbentuk manusia dengan dua kaki mini. Katanya dari usia 10 tahun dia sudah mencoba sendiri membuat barang elektronik dengan memakai bahan yang ada di rumah. Jam bekas, batere, kardus dibuat robot-robotan. Dia berharap anak-anak yang datang ke sini tergerak hatinya untuk belajar mencipta.  Dia sendiri salah satu dari peneliti (yang di foto-foto berompi kuning) yang bekerja di National Institute of Advanced Industrial Science and Technology (AIST) atau singkatan bahasa Jepangnya 産総研 sansoken. Dia sendiri berkata bahwa dia ingin menciptakan robot bukan untuk mengambil alih pekerjaan yang bisa dilakukan manusia. Robot haruslah mengerjakan sesuatu yang memang tidak bisa dikerjakan manusia. Misalnya untuk mengelus rambut pasien karantina, atau menyelam meneliti ke dasar samudra. Dan aku sangat setuju dengan pendapat dia.

Dalam lirik lagunya Mr Roboto itu pun ada:

I’m not a Hero
I’m not a Savior
Forget what you know

I’m just a man who’s
Circumstances went beyond his control
Beyond my control,
We all need control

I need control
We all need control

……..

The problem’s plain to see
Too much technology
Machines to save our lives
Machines de-humanize

Jangan, jangan sampai mesin “memesinkan” manusia!

Karena manusia bukan mesin, maka kami butuh makan… sesudah 5 jam lebih berada di sini, kami pun pulang dan sebelum ke rumah mampir ke  SUSILO! Wah di Jepang ada juga nih mas Sushi loh! Sebuah resto Sushi yang piring-piringnya diletakkan di atas ban berjalan, alias kaiten sushi. Resto ini ternyata sudah mempunyai 263 resto di seluruh Jepang, dan katanya  nomor satu di bidang kaiten sushi. Yang membuat Sushilo ini menarik memang karena harganya tetap semua piring berharga sama 105 yen. MURAH! Karena biasanya di kaiten sushi, harga sushi berubah tergantung jenis ikan/hasil laut yang dipakai, misalnya Maguro dengan banyak lemak bisa berharga 525 yen satu piring, sedangkan maguro biasa seharga 160-an . Nah yang membedakan adalah warna atau corak piring yang dipakai. Dan biasanya di resto sushi kaiten ada 5 jenis harga. Tapi di sushi lo ini hanya ada dua jenis, dan itu bukan berdasarkan pembedaan harga, tapi hanya pembedaan sushinya pakai wasabi atau tidak. Wasabi adalah sejenis umbian berwarna yang menimbulkan rasa pedas di hidung, yah “cabe”nya Jepang deh.

karena sudah jam 4 jelas aja resto ini kosong hehehe

Tapi terus terang aku tidak mau ke resto ini lagi….maaf. Begitulah kalau kamu sudah dimanjakan dengan rasa yang enak, bisa membedakan kesegaran dan mutu bahan, jadi spoiled! Sedangkan kita makan harus bisa menikmati kan. Dan setiap orang seleranya lain-lain. Kalau dipikir-pikir tentunya sulit dong jika restoran padang menetapkan harga sama untuk semua jenis masakan yang ada. Kalau rendang harganya sama dengan sayur singkong, ya aku pasti pilih rendang deh! Tapi kalau rendangnya berasa sayur singkong, mending ngga makan rendang kan? hihihi (Eh tapi kalau aku ajak orang asing yang belum pernah makan rendang pasti suka aja kali yah 🙂 )
Tapi aku senang karena my koala yang biasanya makan sedikit, di sini dia puasss makan sushi dengan telur ikan, ikura, kesukaan dia. Jadi dia makan banyak tuh. Ngga biasanya. (Sambil aku bayangin sedikit lagi aku musti siap-siap masak banyak untuk kedua anakku ini hihihi).

Weekend lalu kami kembali belajar sedikit dengan melihat kecanggihan teknologi di Tamarokuto Science Center , dan weekend minggu ini kami berencana pergi ke Museum of Maritime Science di Odaiba. Tunggu saja laporan dan fotonya ya (bagi yang berminat saja sih hehehe).

100 dan 72 tahun yang lalu

12 Mei

Seratus tahun lalu, seorang wanita berkelahiran 12 Mei yang berhati mulia meninggal dunia. Selama 100 tahun sejak kematiannya dunia keperawatan tetap melanjutkan karyanya. Berkat dia sebuah profesi bernama “perawat” tercipta dan banyak orang sakit tertolong dan mendapatkan kesembuhan.Dia adalah Florence Nightingale (12 Mei 1820 – 13 Agustus 1910), seorang perawat, penulis dan ahli statistik. Dia mendirikan sekolah perawat di RS Thomas London tahun 1860.

Florence Nightingale, sumber dari wikipedia

Tepat hari ini 72 tahun yang lalu, seorang wanita yang bagiku berhati mulia lahir. Dan dari rahimnya aku lahir. Memang karyanya tidak bisa dibandingkan dengan “The Lady with the Lamp” julukan Miss Nightingale yang begitu hebat. Tapi ada sedikit kesamaan yaitu pernah belajar keperawatan di St Carolus. Alasannya masuk waktu itu hanya karena ingin belajar, tetapi tidak punya uang. Jika belajar menjadi perawat, tidak perlu membayar, malah akan digaji. Dan ternyata dia tidak bisa tahan bekerja sebagai perawat. Seorang perawat tidak boleh takut jarum suntik bukan? Kemudian dia beralih profesi menjadi sekretaris di sebuah perusahaan minyak yang akhirnya bertemu dengan papaku.

Aku banyak belajar dari mama. Katanya, “perempuan harus pintar! Harus bisa apa saja. Kamu tidak bisa hanya bercita-cita menjadi ibu rumah tangga saja. Bagaimana kamu mau menjadi ibu rumah tangga jika tidak bisa berhitung, tidak bisa ini itu. Iya kalau suami kamu baik, kalau jahat dan kamu disiksa, ditinggal? Atau kalau suami kamu kehilangan pekerjaan? Perempuan harus bisa semua”. Dia bisa memperbaiki seterika yang mati. Dia juga pernah mengadakan operasi kecil waktu kaki adikku kemasukan duri. Dia bisa mengurus rumah seluas 150 meter dan kebun 850 meter sendirian! Dan…aku jarang melihat dia tidur….

Aku senang lahir sebagai anak pertama. Bisa mendengarkan ceritanya tentang ini itu. Tentang penderitaannya waktu kecil, terlahir dari keluarga dengan 7 anak. Yang terpaksa tinggal bersama keluarga jauh di Yogyakarta waktu Jepang datang. Yang makan seadanya, sisa-sisa dari bapak ibu yang merawatnya. Yang tidur di emperan kolong teras. Yang harus pindah sana sini untuk hidup bersama kakak-kakak lelakinya, dan mengalami masa sulit dengan istri-istri mereka. Akhirnya pergi ke Jakarta untuk belajar menjadi perawat.

mama, entah usia berapa, sebelum nikah

Setiap mama cerita aku hanya bisa mendengarkan dan menitikkan air mata. Aku tidak bisa memberikan pelukan untuknya, atau belaian di kepalanya seperti yang Kai dan Riku berikan untukku kalau aku menangis. Aku memang kaku sekali waktu kecil, tidak bisa mengungkapkan kasih sayangku untuknya. Hanya bisa menunduk dan menangis. Dan mama juga tidak berusaha memelukku. Bagaimana bisa? Dia juga tidak pernah merasakan dipeluk  ibunya yang meninggal saat dia berusia 4 tahun. Dia tidak tahu apa pentingnya skinship saat itu. Di mataku, mama adalah ibu yang tegar dan disiplin. Dan aku tahu, tentu sulit membagikan kasih sayang secara eksplisit pada ke tiga putrinya di samping mengatur rumah tangga. Meskipun aku tahu bahwa dia sangat menyayangi kami.

Tapi, cerita mama tidak hanya tentang kesengsaraannya saja. Dia banyak bercerita bagaimana dia menabung dan mengikuti kursus ini itu, terutama bahasa Inggris. Dia mengambil diploma  untuk bahasa Inggris dan mengetik. Waktu luangnya selalu dipakai untuk belajar, belajar dan belajar. Betapa bangganya aku juga waktu dia bercerita bahwa ketikannya amat cepat sehingga semua yang ada di kantor menoleh padanya. Jaman teleks baru dimulai, dia termasuk orang yang pertama menggunakannya. Dengan pinggang kecil, rok lebar, baju putih dan rambut yang panjang, dia memukau orang. Bukan saja dengan kecantikan tapi juga dengan kepandaiannya, meskipun dia tidak bersekolah tinggi.

Aku tak pernah bisa mengalahkannya dalam berhitung. Belum sempat menekan tombol sama dengan pada kalkulator, mama sudah menyebutkan jawabannya. Dia selalu punya cara menghitung yang aneh dan cepat. Sampai semua penjual terheran-heran, dan mungkin dengan terpaksa menjual barang ke mama dengan harga murah. Karena mama menawar keseluruhan harga barang, bukan satu persatu. Dan jangan pernah bertengkar soal arah pada mama. Dia pengingat jalan yang baik, meskipun dia sering salah berbahasa Indonesia. Dia tetap sulit menyebutkan mana yang kiri dan mana yang kanan. Lebih baik tanya links (kiri) atau recht (kanan).

Mama, mungkin sekarang mama sudah sukar bercerita tentang masa lalu. Aku sedih waktu aku bercerita soal toneel, pertunjukan musik pertama yang mama lakukan, mama hanya bisa memukul Cymbal dan kemudian menjatuhkannya. Cymbal itu menggelinding jatuh di panggung dan menjadi bahan tertawaan pengunjung. Mama pernah ceritakan itu padaku, dan waktu aku tanyakan saat itu, mama sudah lupa. …. sedih memang mengetahui bahwa orang tua kita makin melemah, baik fisik maupun pikiran. Tapi ma, cerita-cerita mama selalu aku ingat.Sedangkan cerita saja aku ingat, apalagi cinta dan kasih mama sebagai seorang mama…

Ma, Selamat ulang tahun yang ke 72. Di telepon kemarin, mama bercanda mengatakan “Aku sudah tua, hanya tinggal menunggu Tuhan memanggil”. Tapi ingat ma, Tuhan memanggil siapa saja kapan saja tanpa kita tahu kan. Jadi selama kita hidup, aku mau terus mengatakan bahwa aku sayang mama, meskipun mungkin aku tak pernah bisa memeluk mama selalu. Atau bahkan kalau aku pulang liburan nanti pun, belum tentu aku bisa memeluk mama seperti Riku dan Kai memeluk aku. Karena aku dan mama tahu…. pelukan itu berat. Kita bisa tenggelam dalam pelukan itu, dan tidak mau melepaskannya…. selamanya.

(Dan aku tambah menangis sambil menulis ini karena Koalaku, si Kai menghampiri dan memeluk, membelai kepalaku dan berkata, “ii ko ii ko”…anak baik…anak baik…)

Ah, aku selalu menulis sambil menangis, jika berbicara soal Mama. Maafkan aku ma… Aku hanya ingin mengungkapkan rinduku padamu. Itu saja. Dan aku yakin Tuhan akan melindungi mama dan papa, memberikan berkatnya pada mama dan papa. Sama seperti tadi pagi, ketika pastor memberikan berkat, hosti dan anggur langsung untuk mama dan papa. Semoga hidup kita semua selalu bersandar padaNya, karena hanya Dia sang empunya hidup kita.

Selamat ulang tahun ke 72, Maria Elizabeth Mutter-Coutrier

dan selamat pernikahan ke 43 untuk mama dan papa tercinta

dari imelda -gen-riku-kai

Swirl, Tumble and Squish

11 Mei

Sebetulnya cuma mau menulis grumble, misuh-misuh, tentang perasaan hati sejak kemarin sampai saat tulisan ini diterbitkan. Mau nulis judul Mixed Feeling, lah kok seperti mixed juice aja feelingnya bisa dicampur aduk begitu? Lalu timbul kata swirl di otakku dan waktu membuka google dan kamus untuk meyakinkan pengertianku dengan definisi sebenarnya, bertemu juga dengan kata tumble dan squish. Ya sudah aku pakai saja sebagai judul deh.

Tulisan ini benar-benar sampah jadi sambil lalu aja bacanya ya hehehe. Swirl adalah berputar bercampur ke arah horisontal, sedangkan tumble ke arah vertikal. Perasaanku sedang campur aduk ngga keruan. Itu saja intinya.

Kemarin aku mantengin komentator di TE karena tidak mau terlewatkan moment siapa yang menjadi komentator ke 12345. Menjelang aku harus siap-siap untuk pergi mengajar malam, tiba-tiba TE kebanjiran komentar dari Eka. Dia selama ini memang sering mengeluh padaku kalau koneksinya jelek, disamping sibuk sebagai PNS baru, jadi jarang datang ke TE. sekalinya ada waktu ya diborong semua gitu. Jadi kemarin dia menulis komentar bertubi-tubi deh. Aku sudah pikir pasti dia yang menjadi nomor ke 12345.

Eh, tiba-tiba si Henny, sahabatku dari Lubuk Linggau itu muncul, dan menuliskan komentar 3 buah! Jadi pada suatu ketika kala aku reload lagi dashboardku, sudah 12346, dan yang sebenarnya mendapat 12345 adalah Henny. 12346nya Eka. TAPI, akhirnya aku menentukan keduanya menjadi 12345, karena aku telah membuat satu kesalahan yaitu memberikan komentar di komentar bu Enny. Sehingga nomornya berlebih satu. Jika diperhatikan aku hampir tidak pernah menjawab komentar dengan login sendiri, sehingga bisa mengetahui seluruh jumlah komentar, murni dari pembaca TE. Terima kasih pada Henny dan Eka yang sudah meramaikan Twilight Express.

akhirnya yang ditunggu datang juga.. angka cantik! komentator ke 12345, sesudah ini tidak ada lagi angka yang aku tunggu

Setelah lega bisa membuat capture komentator ke 12345, aku pergi menjemput Kai pukul 4 sore dan kami langsung pergi ke Sekolah Republik Indonesia Tokyo, Meguro, untuk mengajar pukul 6:30-8:30. Kami tiba pukul 5 sore, masih ada 1,5 jam untuk beradaptasi. Hari ini mulai term baru KOI (Kursus Orientasi Indonesia) yang diselenggarakan Japinda (Japan Indonesia Association) dan bidang pendidikan KBRI Tokyo. Mulai April ini aku resmi mulai mengajar kembali setelah vakum 3 tahun.  Kursus ini pertama kali dibuat tahun 1974-an oleh kumpulan orang Jepang yang pernah tinggal, bekerja, bertugas di Indonesia yang berkeinginan mempelajari, bercakap-cakap mengenai Indonesia sambil ngopi-ngopi dalam suasana kekeluargaan. Jadi KOI memang bukan sekolah, lebih tepat dianggap sebagai mini culture center.

Biasanya kalau aku mengajar di situ, anak-anak aku titipkan mbak Ayu, yang suaminya bekerja di situ. Tapi kemarin mbak Ayu nya sakit. Waaah aku bingung, masak mengajar hari pertama sudah tidak nyaman. Bagaimanapun juga membawa anak-anak dalam kelas pasti akan merusak konsentrasi dan kelangsungan belajar. Kira-kira jam 6 sore, sudah tinggal 30 menit lagi, aku teringat om dan tante Soejarno yang tinggal di dekat sekolah. Langsung aku telepon mereka dan kebetulan mereka ada di rumah dan tidak ada acara apa-apa. Akhirnya aku mengantar anak-anak ke rumah mereka untuk menunggu selama aku mengajar. Hatiku tenang sekali waktu itu karena om dan tante Sudjarno sudah lama kukenal dan seperti keluarga sendiri. Sudah lama kami tidak bertemu, dan meskipun aku buru-buru aku senang sekali bisa bertemu keduanya.

Aku kembali lagi ke sekolah sambil setengah berlari, dan memulai pelajaran. Kelas dasar ada 7 murid, 5 yang baru dan 2 orang yang sudah pernah belajar tapi mau mengulang. Selalu senang mengajar orang baru, meskipun memang cukup sulit untuk mencairkan ketegangan mereka. Bagaimanapun juga orang Jepang lebih serius daripada orang Indonesia.

Dan kegembiraan ketiga hari ini adalah, salah satu murid baruku di kelas KOI ini juga tinggal di Nerima. Dan kami hanya beda 2 blok, sedangkan kalau dilihat jarak rumah hanya 5 menit naik sepeda. (Jalan kaki mungkin 10 menit). Dan rumah ibu itu berada pada jalur yang biasa aku lewati pulang. Jadi waktu pulang aku menawarkan ibu itu untuk ikut kami pulang naik mobil. Senang sekali bisa bercakap-cakap dalam perjalanan pulang di malam yang gelap. Biasanya hanya Kai yang menemani aku sampai di rumah, kalau dia tidak ketiduran. Riku biasanya langsung tidur begitu naik mobil.

Ibu itu (orang Jepang) belajar bahasa Indonesia di KOI ini secara rahasia! Tidak mau memberitahukan anak perempuannya yang sedang tinggal bekerja di Bali. Waktu ibu itu pergi ke Bali mengunjungi anak perempuannya, dia pergi kemana-mana naik motor, dan melihat kehidupan anaknya di negara asing. Dia merasa bahwa dia juga harus mulai belajar bahasa Indonesia supaya waktu dia mengunjungi anaknya lagi, dia bisa bicara. So sweet….. Aku senang karena sekali lagi Indonesia bisa merubah kehidupan orang Jepang, seorang lansia yang hidup sepi di Jepang.

Tapi dini hari aku merasa sedih. Membaca sebuah komentar yang membuatku tidak bisa berkata apa-apa, selain kesal. Mungkin kesalku padanya memang sudah memuncak karena dia selalu “mengejek” aku yang tidak tahu kondisi Indonesia. Mungkin maksudnya bercanda, tapi gotcha… candanya bisa mengiris-iris hati bagaikan pisau. Memang aku tidak tahu apa-apa tentang Indonesia and its life style…. siapa itu jayus, apalagi nama artis baru, atau program televisi. Makanya aku sering kesal jika membaca posting narablog yang membahas TV, dan masyarakat Indonesia. Aku bagaikan orang bego, dan aku tidak senang menjadi orang bego! Masalahnya hanya karena aku tidak tinggal di Indonesia. Itu adalah my handicap, dan dia telah menusuk suatu kondisi yang akupun tak dapat merubahnya. Aku tidak bisa dong meninggalkan suami dan anak-anak hanya karena aku ingin partisipasi membantu negaraku?

Dan ditambah dengan perjumpaan kenalan lama di FB. Bukan saudara, bukan teman, tapi suatu hubungan yang terkait-kait oleh pernikahan. Adik seorang om yang sudah meninggal yang tinggal di Amerika. Ingatanku dibawa kembali ke masa lalu, ketika dia menjelaskan dia siapa. Ya aku tahu aku pernah bertemunya di Jakarta …dulu waktu aku kecil. Alm om itu mempunyai anak gadis yang tanggal 8 kemarin menikah. Amelia…. dia dan mamanya pernah tinggal bersama kami waktu usia 4 tahun, setelah papanya meninggal.  Aku tidak bisa hadir di pernikahannya. Meskipun aku bisa melihat foto-fotonya, aku merasa sedih tidak bisa hadir langsung.

Ah, mungkin memang perasaan aku saja yang sedang sensitif akhir-akhir ini, apalagi besok tanggal 12 Mei adalah hari ulang tahun mama, dan aku tak bisa bertemu…… huhuhuhu… homesick!

UP and DOWN, naik turun berputarputar… gembira dan sedih begitu cepat berganti-ganti. Swirl, Tumble and Squish…. ah perasaan ini seperti dalam mesin cuci, tinggal tunggu kapan waktu untuk drain nya.

Negara Idaman Para Ibu

10 Mei

adalah Norwegia. Sedangkan negara idaman untuk anak-anak adalah Swedia.

Memang ini hanyalah sebuah angket yang dilaksanakan oleh organisasi “Save The Children” yang melaporkan hasil surveynya persis sebelum sebagian negara di dunia merayakan Mother’s Day, tanggal 9 Mei kemarin. Dalam artikel bahasa Jepang memang memakai kalimat “Negara yang paling cocok untuk menjadi ibu” sedangkan kalau melihat judul asli dari survey adalah “2010 Mother’s Index Ranking”.

Bagaimana Jepang? Ternyata Jepang tidak bagus-bagus amat loh! Jepang menempati ranking 32 dari 160 negara yang menjadi obyek survey. Jepang hanya naik 2 tingkat dibanding tahun lalu yang berada di urutan ke 34. Padahal tahun 2006 pernah mencapai ranking 12 loh…..

Amerika juga ternyata hanya menempati ranking ke 28 dibawah 3 negara Baltik, Crotia dan Slovakia. Kok bisa begitu? Katanya di Amerika satu dari 4800 bumil (ibu hamil) meninggal, dan persentase kematian balita juga 8 dari 1000 bayi.

Nah… bagaimana dengan Indonesia? Kalau melihat artikel di surat kabar Jepang tentu saja tidak tertulis, jadi lebih baik melihat hasil survey langsungnya, dan menemukan bahwa Indonesia menempati ranking 54. hihihi Jauuuuh ya! (Jangan menghibur diri…ah Amerika aja cuma segitu! Mustinya malu dengan Malaysia yang 38, dan Filipina yang 48). Dari survey itu kita juga bisa mendapatkan bahwa ranking Indonesia sebagai idaman para anak-anak bahkan lebih buruk daripada sang ibu. Ranking 66 !!! Berarti memang kita harus mengasihani anak-anak Indonesia ya? Anak-anak Jepang (termasuk Riku dan Kai ) harus berbahagia karena negaranya termasuk 10 besar yaitu ranking ke 6. Berarti lebih baik menjadi anak-anak di Jepang daripada menjadi ibu. Aku mau tukeran sama Riku ah jadi anak-anak kembali…hahaha.

Riku dan bunga carnation sebagai hadiah Mother's day

Mau nebeng juga menuliskan Selamat Ulang Tahun kepada Mbak Tuti Nonka yang berulang tahun tanggal 10 Mei ini. Semoga mbak Tuti dapat terus melanjutkan kegiatannya dan menjadi teladan bagi para wanita eh perempuan! (Konon kata wanita itu jelek, jadi lebih baik perempuan…tapi bahasa kan tidak statis, asalkan intinya tersampaikan apa salahnya memakai wanita? )

Lalu komentator ke 12321 adalah Alamendah, dan komentator ke 12345? Mungkin kamu loh hehehehe.