Arsip Kategori: Education

Naik Pangkat

Sebetulnya mungkin lebih cocok naik kelas, tapi aku mau pakai naik pangkat saja ah…. Dan bukan, bukan cerita tentang suamiku naik pangkat di pekerjaannya. Tapi tentang aku 😀

Anak-anak naik kelas. Mulai bulan April 2017, Riku menjadi kelas 3 SMP dan Kai 4 SD. Wajar saja peristiwanya, toh setiap tahun memang harus naik kelas ya? Karena masih sebagai murid! Kalau aku? Mau naik kelas bagaimana lagi? Sudah mentok 😀 Tapi memang komposisi jam pelajaran yang harus aku pegang bertambah sedikit, di 3 kampus, 1 lembaga pemerintah, 1 kursus yang dikelola KBRI-Japinda. Selain mengajar, masih harus mengurus organisasi kristen, kegiatan gereja, tentu selain mengurus rumah ya 😀 (kadang lupa sih bahwa masih ada rumah yang harus diurus hehehe, karena yang penting dapur dan meja makan saja harus disulap setiap hari). Nah, tapi sesuai judulnya, tahun ini aku naik pangkat!

Seorang teman Miyamoto namanya, ibu ini tomboy sekali. Anaknya laki-laki, dulu waktu TK anaknya satu kelas dengan Riku. SD nya beda, sehingga waktu masuk SMP yang sama, kami merasa seperti “teman lama”. Apalagi namaku Miyashita, sama-sama masuk di seksi publikasi 2 tahun yang lalu. Dan kamu berdua sering hadir di acara-acara sekolah dengan kamera kami, sehingga diberi nama “Miya-combi” 😀

Aku, “Miyamoto san, ayo masuk kegiatan PTA lagi (dulu kami janjian untuk masuk seksi publikasi lagi di kelas 3)”
Dia, “Maaf, aku tahun ini tidak bisa ikut PTA. Karena aku jadi ketua seksi di PTA SMA (anak tertuanya sudah masuk SMA). Jadi untuk SMP tahun ini aku pas deh. Soalnya sudah NAIK PANGKAT 出世!”

Kami berdua tertawa, karena ya memang istilah Shusse Naik Pangkat itu terasa pas untuk kondisi kami berdua. Dia sibuknya sekarang di SMA, naik pangkatlah dari SMP. Sedangkan aku? aku masih tetap di SMP, tapi aku sekarang menjadi PEJABAT (pengurus inti) di PTA SMP hehehe.

Pas pulangnya, aku mendapat inbox dari teman di Tokyo, Zya, “Mbaaaak aku disuruh jadi wakil ketua PTA, padahal aku tidak bisa bahasa Jepang!”
“PTA apa TK atau SD?”
“SD”
Aku memang tidak menyarankan ibu-ibu Indonesia menjadi pengurus PTA di sekolah di Jepang, kalau tidak bisa bahasa Jepang. Karena mau tidak mau semua komunikasi, baik lisan atau tertulis dengan bahasa Jepang. Tapi teman-teman  Zya itu berkata akan membantu…. ya mungkin bisa dicoba saja, kataku. Dan ternyata Zya menerima tugas sebagai wakil ketua dan bahkan sudah ikut rapat-rapat yang diterjemahkan oleh yang hadir. Hebat! Dan aku ikut merasa bangga  dengan Zya  dan senang mendengar dia sudah merasakan persahabatan tulus dari teman-teman Jepangnya sejak dia menjadi pengurus PTA.

PTA itu apa sih? Dalam bahasa Inggris Parent Teacher Association. Bahasa Jepangnya 父母と教職員の会 Fubo to kyoshokuin no kai. Perkumpulan orang tua murid dan guru, yang fungsinya untuk membantu kelancaran jalannya pendidikan di sekolah. Dan PTA ini di Jepang cukup mempunyai andil dalam pendidikan sekolah, meskipun tentu kadarnya berbeda antara sekolah negeri dan sekolah swasta, juga menurut jenjang pendidikannya. PTA di TK tentu tidak seaktif jenjang-jenjang di atasnya. Tapi menurutku selama aku mengikuti kegiatan kepengurusan PTA, PTA di TK membutuhkan keterampilan yang menunjang kegiatan anak-anak. Menjahit atau kreasi yang lucu-lucu ditambah dengan tenaga ekstra. Membantu anak-anak dalam acara olahraga dan kesenian itu memerlukan tenaga yang tidak sedikit.

PTA SD lebih teratur, lebih memakai pemikiran. Meskipun kegiatannya biasanya sudah pasti yaitu pengejawantahan kegiatan  dengan 3 unsur: membantu pendidikan murid (kegiatan dalam sekolah), pendidikan orang tua (kegiatan untuk diri sendiri) dan pendidikan masyarakat (kegiatan yang melibatkan warga sekitar). Kebetulan di SD kami tidak mengikuti asosiasi PTA SD sehingga kegiatannya dalam setahun tidak begitu banyak. Waktu Riku SD, aku menjadi pengurus PTA untuk seksi kegiatan siswa, yang kerjanya antara lain mengumpulkan tutup botol, tanda bellmark dll.

PTA SMP lebih sulit, lebih banyak kegiatannya daripada SD. Karena biasanya juga menjadi anggota dari asosiasi PTA, jadi sudah pasti Ketua PTA akan bertambah lagi tugasnya untuk menghadiri kegiatan asosiasi PTA, yang dihadiri juga oleh komite pendidikan daerah. Selama tiga tahun di SMP, kebetulan sekali ketua PTA nya sama, seorang bapak yang cukup slengekan. Waktu Riku kelas 1, aku masuk ke seksi publikasi dan tugasnya seksi ini cukup sulit. Seperti yang tadi aku sudah tulis, tadinya aku mau masuk seksi publikasi lagi di kelas 3, sebelum Riku lulus dari sekolah itu. TAPI pada akhir tahun kelas 2 (sekitar bulan Oktober 2016), aku terjerat undian! Sehingga aku terpaksa berkumpul bersama orang-orang lain yang terjerat undian, untuk memilih “pejabat” kepengurusan inti. Karena pos ketua sudah ada, masih harus memilih untuk pos wakil ketua 副会長, sekretaris 書記 dan bendahara 会計. Terpaksalah aku datang, dan tidak betah berada dalam ruangan dengan sekitar 25 orang “terpilih paksa”. Kebetulan ada satu teman yang waktu kelas 1 kami bersama-sama mengajukan diri jadi pengurus PTA. Dia memang terlihat pandai dan sudah berpengalaman berorganisasi. Dia langsung mengajukan diri menjadi wakil ketua.

Nah pos yang tersisa adalah sekretaris dan bendahara deh, dan aku memang tidak suka pada kondisi semua diam, tidak mau menjadi pengurus. Memang semua sibuk, tidak ada ibu-ibu yang tidak sibuk di Jepang! Tapi akhirnya karena ada ibu di sebelahku sudah mulai menangis (dia selain harus kerja dan urus rumah tangganya, juga harus merawat orang tuanya yang sudah jompo), aku akhirnya angkat tangan dan bersedia menjadi sekretaris. Toh buatku tidak masalah menulis (mengetik) bahasa Jepang dan membuat laporan, termasuk mencetaknya dengan lithograf (stensilan). Malah sebetulnya aku cukup senang bekerja seperti itu. Begitu namaku ditulis di papan, akhirnya pos-pos lainnya terisi juga. Mungkin mereka malu juga ada orang asing yang bersedia hehehehe.

Jadi aku menjadi “pejabat” di PTA, dan mulai rapat pertama kali bulan Februari. 1 Ketua, 2 wakil ketua, 3 sekretaris dan 2 bendahara, 8 orang yang harus mengatur kegiatan selama 1 tahun. Pada rapat pertama itu saja kami sudah mabok melihat agenda kerja kami selama setahun, dan aku merasa beruntung pekerjaan sekretaris dilakukan bertiga (aku dan seorang menguasai komputer sedangkan yang satunya lebih banyak waktu untuk wara-wiri mengambil surat, fotokopi, menghubungi kepala sekolah dll).

Tugas pertama kami adalah menghadiri upacara penerimaan murid baru sebagai tamu! Wah pertama kalinya aku harus ikut berbaris masuk dan duduk bersama undangan kepala sekolah-kepala sekolah dan pejabat sekolah lain yang diundang. Barisan kami ini disambut dengan tepuk tangan 800 murid dan orang tua murid kelas 1 (SMP di tempatku cukup besar, 1 angkatan ada 6 kelas dengan murid 1 kelas 40 orang) . Aku tentu saja yang paling belakang, tapi rasanya tetap saja deh malu hehehe. Duduk di barisan depan tentu lain rasanya dibanding duduk di bangku orang tua biasa. Ada satu yang aku sadari dan perhatikan waktu menjadi “tamu” itu. Yaitu bahwa setiap orang yang maju ke depan pasti menunduk menghormat ke arah orang tua dan guru-guru/kepala sekolah. Tapi kepala sekolah, sebagai yang paling “tinggi” kedudukannya selain menghormat ke orang tua, juga menghormat ke BENDERA! Ya, SMP kami SMP milik pemerintah daerah, jadi ada bendera Jepang dan bendera pemda. Guru-guru adalah pegawai negeri sehingga menghormat kepada “pemerintah” yang diwakili oleh bendera.

Setelah upacara penerimaan murid baru, kami langsung mengumpulkan orang tua murid per kelas, untuk memilih wakil-wakil per kelas yang akan bergabung dalam 4 seksi. Memang tidak semua orang tua mempunyai kemampuan dan kesadaran bahwa PTA itu adalah kegiatan untuk anak mereka sendiri. Pada dasarnya tidak ada pemaksaan, tapi kalau tidak ada yang bersedia biasanya dipakai cara undian.

Cara pemilihan seperti ini juga dilaksanakan untuk kelas 2 dan kelas 3, setelah itu pada tgl 27 April lalu kami mengadakan rapat besar untuk menentukan ketua dan wakil seksi, sekaligus perkenalan dengan kepala sekolah. Yang aku kagum, setiap ada rapat, tidak pernah bertele-tele, semuanya sudah diagendakan (dan agenda ini sekretaris yang buat). Pada umumnya rapat bisa selesai dalam 1 jam. Sehingga hari itu bisa menyelesaikan dua rapat, rapat penentuan ketua/wakil serta rapat koordinasi penentuan kegiatan seksi. Mulai jam 9 dan jam 11 aku sudah bisa kembali ke ruang kerja PTA untuk menyelesaikan pengisian daftar nama serta surat pemberitahuan yang harus diprint untuk dibagikan ke seluruh murid. Jam 12 aku menunggu bus (yang tak kunjung datang) sampai akhirnya aku panggil taksi karena ada harus mengajar jam 1. Untuk letak universitas W tidak jauh sehingga untuk perjalanan cukup 30 menit (tanpa makan siang deh hehehe).

Selain tepat waktu (waktu terorganisir dengan baik), setiap pengurus tidak ada yang membiarkan orang lain bekerja sendiri. Semua saling membantu sehingga pekerjaan cepat selesai. Dan aku baru tahu bahwa ternyata orang Jepang yang pekerja, lebih suka membuat laporan memakai program excel daripada word! Aku sendiri lebih menguasai Word karena memang pekerjaanku lebih bersifat penulisan tanpa perlu spread sheet. Tapi pada kenyataannya di sini, laporan biasa pun mereka lebih suka pakai excel. Karena itu sekarang aku merasa perlu belajar excel lagi nih hehehe.

Jadi kegiatan PTA selanjutnya kapan? besok hahaha. Besok aku harus mengumpulkan kuestioner dan memilahnya sebagai bahan untuk lusanya pada rapat “pejabat” a.k.a pengurus inti untuk evaluasi dan persiapan Taiikusai 体育祭 (Sport Day) tanggal 27 Mei y.a.d.

Mau lihat agenda aku? Jangan deh saking penuhnya sampai tidak terbaca hehehe.

Jangan Menyamakan Semuanya

Kemarin  malam aku merasa bahagia. Sederhana saja sebenarnya.

Kemarin Kai pergi karya wisata bersama teman-teman satu angkatan. Memang setiap tahun sekolahnya (negeri) mempunyai program dengan mengajak satu angkatan pergi ke luar sekolah. Kelas satu dan dua pergi ke tempat yang dekat saja, dan tahun lalu (kelas 2) Kai demam sehingga tidak bisa ikut. Tahun ini mereka pergi ke daerah Saitama yang terkenal dengan higanbana, bunga berwarna merah. Sudah sejak seminggu sebelumnya Kai mempersiapkan sendiri apa saja yang mesti dibawa. Sehingga benar-benar meringankan tugasku. Tugasku hanya menyiapkan bekal di pagi harinya.

Karena sangat capek mendaki bukit, Kai tidur lebih cepat. Tapi sebelumnya, dia minta untuk tidur bersama aku, di sebelahku sebab malam sebelumnya dia mimpi buruk. Karena akupun capek, aku juga leyeh-leyeh di tempat tidur, dan tak lama Gen juga masuk kamar. Daaaan…. aku mulai ngedumel soal perkuliahan. Karena tahu kami masih bangun, Riku masuk kamar kami dan bertiga leyeh-leyeh di tempat tidur. Tentu sambil mendengarkan aku yang sedang ngedumel hehehe.

Apa sih kekesalan aku sebenarnya?
Ini merupakan kekesalan seorang dosen terhadap sikap mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Waktu aku datang 24 tahun lalu, aku cukup kaget melihat sikap mahasiswa Jepang dalam perkuliahan, terutama jika kuliah itu diikuti oleh 50 orang lebih. Ya, mereka sering tidur!

Waktu aku masuk UI dulu, aku juga sering heran melihat sikap mahasiswa yang amat sangat berlainan dengan sikap murid di SMA asalku. Doooh waktu SMA kami benar-benar disiplin dan harus menghormati guru deh. Di UI pun aku mengikuti beberapa kuliah di ruangan besar, tapi tidak ada yang tidur deh sepertinya. (Atau aku saja yang tidak lihat?)

Anyway, jadi aku sudah tahu bahwa mahasiswa Jepang suka tidur di kelas. Alasannya macam-macam, ada yang capek karena mesti bekerja sampai malam. Atau memang tidak berminat mengambil mata kuliah itu tapi merupakan kuliah wajib ambil.

Aku mempunyai satu kelas yang pesertanya sampai 70 orang. Berat sekali mengendalikan kelas ini, yang sudah tiga tahun aku jalani. Pengaruh smartphone terhadap perkuliahan itu amat besar, seperti yang sudah kutulis di sini. Tapi akhir-akhir ini aku merasa kondisi menjadi lebih parah. Biasanya jika aku menyuruh mahasiswa membaca dan ketahuan dia tidur, tapi kalau dipanggil namanya, pasti bangun dan berusaha mencari bagian mana yang dia mesti baca. Mahasiswa itu akan merasa “malu” ketahuan tidur. Tapi sekarang, rasa malu itu sudah tidak ada 🙁 Bahkan waktu aku menyuruh menjawab soal, yang jawabannya pun ada di halaman yang sama, tidak bisa! Tidak usaha sama sekali! Duh!

Yang paling menyebalkan, kejadian waktu pokemon go dirilis di Jepang. Pas hari itu aku mengadakan ujian akhir. Open book, satu jam saja. Tapi kalau sudah selesai, boleh kumpulkan dan keluar. Daaaan ada satu mahasiswa yang mengumpulkan di menit ke 30. Kupikir dia pasti pintar, tapi waktu kulihat lembar jawabannya, hanya setengah yang diisi. Ternyata waktu pulang, aku melihat dia dan teman-temannya sedang main pokemon go! So, dia sama sekali tidak berusaha mengisi semua ujiannya, dan yakin dia pasti akan dapat sksnya meskipun dengan nilai pas-pasan!

Suamiku juga bekerja di bidang yang sama, pendidikan. Dan menurutnya, mahasiswa jaman sekarang  tidak mempunyai lagi “keinginan untuk maju”. Yang aku namakan dengan tidak mempunyai “alert” terhadap bahaya. Bahaya bahwa kamu tidak bisa dapat pekerjaan! Kelihatannya mahasiswa Jepang bersekolah di universitas hanya untuk memenuhi keinginan orang tua. Toh orang tua yang bayar! Tidak perlu lah dapat nilai bagus, nanti juga dapat pekerjaan. Bahkan, ada kecenderungan beberapa orang mahasiswa laki-laki yang merasa cukup, jika dia bisa bekerja menjadi “tukang bangunan”, seperti tukang cat, tukang semen dll. Bukan, bukannya aku merendahkan pekerjaan itu, tapi kok tidak punya keinginan untuk “lebih” dari yang lain ya? Jepang sudah terlalu lama berada dalam “kedamaian” mungkin ya?

Kesimpulannya, aku akan lebih “galak” lagi, dengan memberikan ancaman-ancaman jika tidak memenuhi syarat akan kuminta tidak usah datang saja ke kuliahku, karena aku tidak akan “memberikan” sks.

Nah, yang membuatku bahagia malam kemarin itu, Riku ikut mendengarkan dan berdiskusi dengan kami soal “mahasiswa yang tidak belajar” itu. Baru kali ini kami terlibat pembicaraan serius yang cukup lama. Sampai aku baru sadar setelahnya, bahwa dia BARU kelas 2 SMP, karena gaya bicaranya yang cool 😀

Katanya, “Memang aku juga banyak mendengar dari guru-guru di bimbel bahwa murid SMA dan mahasiswa sekarang ini kurang belajar. Tapi murid SMP nya lain loh. Murid SMP yang aku lihat itu mereka belajar loh. Mereka berusaha menjadi yang terbaik. Memang dibilang bahwa murid SMA dan mahasiswa sekarang menjadi bodoh karena pakai smartphone. Tapi jangan samakan mereka dengan murid SMP ya, karena kami TIDAK punya smartphone yang bisa dibawa ke sekolah (memang tidak diperbolehkan, sedangkan SMA dan univ tidak ada larangan). Kami pakai smartphone pun di luar jam sekolah. Menyebalkan sekali jika kami disamakan dengan mereka!”

Ya, ya…. memang tidak boleh menyamakan semuanya. Karena sebetulnya kemarinnya lagi, aku baru saja memulai satu kelas baru di universitas yang lain. Muridnya 35 orang. Memang aku lihat ada 2-3 orang yang ngantuk-ngantukan, tapi secara keseluruhan mereka bisa menunjukkan kecerdasan mereka. Apalagi ternyata hampir setengahnya sangat fasih berbahasa Inggris. Kepalaku sampai pening memakai tiga bahasa, Jepang, Inggris dan Indonesia  dalam tiga jam hahaha.

Yang penting, semoga anakku tidak seperti mahasiswa yang malas-malasan itu deh 😀 dan semoga dia bisa menemukan bidang yang disenangi untuk diselami lebih dalam di universitas.

*dongeng perkuliahan*

Menjelang Akhir

Lah baru juga tanggal 1 Maret, kok judulnya menjelang akhir sih?

Ya aku ingin bercerita menjelang akhir tahun ajaran 2015, yang akan selesai tanggal 25 Maret nanti. Memang tahun ajaran di Jepang dimulai pada bulan April dan selesai bulan Maret. Jadi biasanya saat-saat ini merupakan saat sibuk mengakhiri dengan test-test keseluruhan. Mungkin kalau di Indonesia namanya UAS (Ujian Akhir Semester) .

Sebagai penutup tahun ajaran itu, ada dua kegiatan yang melibatkan murid dan orang tua murid. Yaitu open school dan pertemuan orang tua. Pertemuan orang tua murid akan dilakukan minggu depan, tapi open school sudah selesai. Aku menyempatkan diri pergi ke open school SD dan SMP dan melihat kegiatan pembelajaran mereka yang kebetulan diadakan pada hari Sabtu yang sama. Karena papa Gen harus bekerja, aku lumayan sibuk mondar-mandir ke dua sekolah, selain juga pas ada rapat seksi publikasi PTA di SMP.

Jadilah pagi hari aku pergi ke SD. Mungkin karena aku sudah terbiasa pergi ke SD, aku sudah hafal kegiatan mereka sehingga sudah tidak menarik lagi 😀 Kai sekarang kelas dua, termasuk murid yang berbadan besar sehingga duduk di paling belakang. Dan itu berarti paling dekat dengan orang tua yang melihat dari belakang kelas. Pas aku datang memang sedang pelajaran bahasa Jepang, dan mereka harus membuat Kaibun 回文 yaitu kalimat palindrome, yang dibaca dari kiri dan kanan sama. Kebetulan memang beberapa hari sebelumnya Kai sempat heboh mencari contoh-contoh yang bisa dipakai. Dan waktu itu aku bisa melihat bahwa ada murid yang tempat duduknya di dekat Kai sangat…. aktif. Tidak bisa diam, dan aku sempat melihat dia memukul tangan Kai berkali-kali. Untung Kai tidak marah dan membalas, karena aku tahu Kai sekarang juga suka marah jika dipukul dan langsung membalas. Waktu pulang aku tanya nama anak itu, dan menurut Kai memang dia sumber keributan di kelas. Hmmmm….. dan biasanya anak bermasalah itu orang tuanya tidak datang ke acara sekolah, apalagi pertemuan orang tua murid. Satu keluarga bermasalah 😀 Miris ya.

Nah, setelah jalan kaki pulang dari SD dan makan siang, aku mengayuh sepeda ke SMP nya Riku, yang letaknya memang agak jauh dari rumah. Bersepeda 12-15 menit deh. Aku mengikuti rapat dulu, yang membicarakan penerbitan buletin PTA bulan Maret. Kebetulan aku yang menjadi editor dan bertanggungjawab untuk mengurus percetakannya. (Sekarang sedang dicetak dan moga-moga selesai minggu depan… dan aku deg-degan semoga hasilnya bagus deh).

Setelah rapat, aku bersama teman-teman dari seksi publikasi kemudian mengelilingi sekolah untuk melihat pameran hasil karya murid-murid yang dipasang sepanjang koridor lantai 1 sampai 4. Memang hari itu dikhususkan untuk memamerkan hasil karya mereka selama 10 bulan kepada orang tua murid, dan juga boleh dilihat pengunjung umum. Kebetulan hari itu juga merupakan hari pertemuan pertama orang tua calon murid yang akan masuk kelas 1 bulan April nanti. Jadi semacam pameran untuk mengetahui kegiatan murid SMP itu apa saja. Aku jadi teringat tahun lalu, persis tanggal 14 Februari itu, berdua Gen melihat karya murid SMP itu dan terkagum-kagum. Tahun ini pun aku masih terkagum-kagum, karena memang banyak yang bagus. Tentu saja aku mencari karya Riku di antara karya yang dipamerkan dan memotretnya.

sumpit buatan Riku hasil pelajaran prakarya menukang 

gambar kegiatan musim panas, yaitu nyekar ke makam.

lukisan di atas kanvas, pemandangan di taman

tugas mengarang bahasa Inggris, tentang My Favorite Person

Selain itu masih ada beberapa, seperti laporan kunjungan ke museum dan tugas pelajaran PKK membuat sarapan pagi. Tapi yang paling membuat aku kaget waktu aku melihat karangan bahasa Inggrisnya Riku. Dia memilih Shakespeare sebagai My favorite people. Teman-temannya yang lain ada yang memilih pemain band, ilmuwan Jepang/luar negeri, paman atau kakeknya dll. TAPI persis di atas Riku dipamerkan karangan teman sekelas Riku yang mengarang tentang RIKU sebagai favoritnya hahahaha. Aku kaget dan tidak bisa menyembunyikan senyum sampai pulang ke rumah. Penulisnya sih memang laki-laki, tapi rasanya lucu dan sedikit bangga jika anakmu dianggap sebagai favorit oleh temannya, bukan?

Karangan tentang Riku oleh temannya.

100 Karung Beras

Judul aslinya “Kome Hyappyou 米百俵” , samar-samar aku mengingat  sebuah cerita sejarah yang melatarbelakangi slogan “100 karung  beras” ini. Peristiwa ini terjadi di domain (=藩 han = daerah yang dikepalai seorang Hanshu, semacam “raja kecil”)  Nagaoka, di prefektur Niigata sekitar tahun 1860-an. Saat itu daerah ini kalah perang Boshin, dan mengalami kelaparan. Melihat kondisi ini, “tetangga”nya domain Mineyama, mengirimkan 100 karung beras, dengan tujuan menyelamatkan daerah Nagaoka dari kelaparan. TAPI, seorang petinggi daerah Nagaoka yang bernama Kobayashi Torasaburo malahan menyuruh menjual beras itu dan hasil penjualan diperuntukkan untuk membangun sekolah. Katanya: “Seratus karung beras itu jika dimakan akan habis dalam sekejap, tapi jika dijadikan sekolah (pendidikan) kita akan menuai hasilnya kelak, 10.000 atau 100.000 karung.” 「百俵の米も、食えばたちまちなくなるが、教育にあてれば明日の一万、百万俵となる」

Tentu saja keputusan itu dikecam oleh petinggi yang lain, namun keputusan itu tetap dijalankan dan didirikan Koukkan Gakkou yang menjadi cikal bakal SD Sakanoue, yang masih ada sampai sekarang. Dan semangat Kome Hyappyou ini disentil lagi oleh PM Jun-ichiro Koizumi, dengan menekankan pentingnya berpikir jauh ke depan.

buku skrip drama oleh Yamamoto Yuzo

Sebetulnya hari ini tanggal 12 Oktober 2015 merupakan hari Olahraga di Jepang. Karena sekolah anak-anakku sudah menjalankan class meeting di bulan Mei, kami tidak perlu datang ke sekolah untuk meramaikan Undokai (class meeting) tersebut. Tapi meskipun hari ini tanggal merah, deMiyashita tidak libur. Papa Gen bekerja, karena hampir semua universitas mengadakan kuliah pada hari ini. Riku juga tidak ada di rumah, karena mengikuti pertandingan Badminton pemula bagi amatir se-kelurahan Nerima sejak kemarin. Hari ini dia bermain dobel bersama temannya…. dan … tentu saja kalah karena dia baru mulai belajar bermain sejak April lalu hehehe.

Nanti tanggal 3 November, Jepang juga merayakan Hari Kebudayaan, jadi libur. Dan untuk merayakan hari kebudayaan itu, sekolah Riku mengadakan perlombaan paduan suara. Delapan belas kelas sudah berlatih sejak awal bulan Oktober, dan besok akan tampil di Pusat Kebudayaan daerah kami. Aku pun akan ikut sibuk karena aku harus mengambil foto untuk kemudian dimasukkan ke dalam buletin PTA.

Yang membuat aku termenung hari ini adalah kenyataan bahwa di Jepang TIDAK ADA hari pendidikan seperti di Indonesia. Tapi tentu bukan berarti Jepang tidak menganggap pendidikan itu penting. Dan aku sadari bahwa dari olahraga dan kebudayaan itu juga tercermin pendidikan Jepang yang sesungguhnya. SEMUA berawal dari kelompok kecil. Kerjasama dan persatuan. Maju bersama demi masa depan!

Satu lagi yang membuatku ingat pada “100 karung beras” ini adalah sebuah buku yang dikarang Yamamoto Yuzo, seorang pengarang sastra anak-anak dan penulis skrip drama (screen play) yang terkenal. Buku “Kome Hyappyou” juga merupakan buku skrip drama. Aku melihat buku ini di museum Yamamoto Yuzo yang berada di Kichijouji, tidak jauh dari gerejaku. Karena ada tempat parkirnya, Gen memarkirkan mobil kami, dan kami bertiga : aku, Gen dan Kai masuk ke dalam. Riku sakit kepala sehingga menunggu di mobil.

Memang seperti rumah biasa, yang dibuat menjadi museum.

Museum ini merupakan bekas rumah kediaman Yamamoto Yuzo. Dari foto-foto yang ada, terlihat banyak anak-anak yang mengunjungi rumah itu dan membaca buku-buku cerita anak-anak di perpustakaan rumah itu. Ada pula foto waktu Yamamoto Yuzo berdiri berbicara di depan anak-anak itu di teras rumah. Rumahnya asri dan memang merupakan bangunan eropa.

ternyata salah satu ruangan pernah dibuka untuk umum, sebagai tempat membaca anak-anak.

Ada beberapa karyanya yang terkenal, tapi belum ada yang pernah kubaca. Tapi Gen menyarankan untuk membaca kompilasinya mengenai sastra dunia yang dia terjemahkan. Hmmm kalau sastra dunia mending aku baca dalam bahasa Inggris dong hehehe.

Menyatakan Cinta

Tadi pagi, sambil menonton TV, aku tertawa melihat murid-murid SD menyatakan cintanya di depan teman-temannya. Wah, apaan nih, pikirku awal aku menonton acara itu. Masa anak SD sudah berkata: “Aku suka sama kamu. Maukah kamu menikah denganku?” hehehe

Ternyata itu adalah sebuah kompetisi yang diadakan oleh murid-murid sendiri. Jadi ceritanya anak-anak memilih tema “menyatakan cinta” karena tema ini tidak mengenal kelas, umur dan jenis kelamin. Meskipun ada beberapa peserta murid perempuan yang mengatakan, “Aneh ah jika perempuan menyatakan cinta”, dan dia memang senang jika bukan dia yang proposed melainkan yang laki-laki. Well, jaman boleh berubah, tapi masih banyak kok yang memang mengetahui “kodrat”nya.

Tujuan kompetisi ini agar anak-anak tidak malu berbicara dengan lantang di muka orang banyak, dan bisa mengungkapkan perasaan/pemikirannya. Kreatif juga sih. Yang lucu waktu si pemenang kontes, seorang anak laki, ditanya apakah nanti kalau sudah besar akan berkata seperti yang dia katakan? Lalu dijawab, “Waaaah tidak tahu ya nanti… masih jauh sih!” sambil memerah mukanya 😀 Aku juga heran kenapa dia yang terpilih, soalnya dia berkata, “Maukah kamu menjadi MILIKKU!” waaaaah perempuan jaman sekarang mana mau cuma jadi MILIK 😀

Tapi menyatakan cinta memang butuh keberanian. Dan ini pula yang disimulasikan untuk anak-anak disleksia, anak autis, anak yang terbelakang. Kebetulan aku menonton acaranya, dan kupikir… iya juga ya, anak-anak berkebutuhan khusus seperti mereka pun perlu mengenal cinta dan mengetahui cara-caranya.

Pada acara itu, disimulasikan sepasang anak terbelakang, laki-laki dan perempuan pergi berkencan selama 1 jam. Mulai dari si lelaki mengajak perempuan itu pergi, lalu ke mall dan memilih kegiatan apa yang dilakukan. Perlu diketahui bahwa anak-anak ini TIDAK BISA berhitung. Mereka juga cepat emosi, cepat panik. dari tayangan itu diketahui si anak lelaki mengajak temannya makan spaghetti, lalu panik setelah selesai makan harus bagaimana. Jadi dia meninggalkan ceweknya, dan cepat-cepat bayar. Sayangnya dia LUPA mengatakan “betsu-betsu” (bayar sendiri-sendiri) kepada kasirnya. Padahal uangnya tidak cukup untuk membayar dua orang. Panik deh… untung si cewe sadar (dan kelihatan yang cewek autisnya tidak begitu parah) dan pergi ke kasir untuk membayar bagiannya. Well, di Jepang meskipun pacaran juga masih bayar sendiri-sendiri loh. Tidak ada kewajiban untuk yang laki harus membayar, apalagi jika statusnya dua-duanya belum bekerja.

Di situ aku merasa terharu pada usaha guru-guru di sekolah luar biasa itu untuk menanamkan keberanian dan mengajarkan bermasyarakat. Ah, mereka juga bisa kok seperti manusia normal lainnya, asal didukung, diajar dan diberikan waktu. Aku merasa beruntung tinggal di Tokyo, apalagi di dekat rumahku ada sekolah luar biasa 養護学校, sehingga aku setiap hari bisa melihat mereka. Mereka TIDAK dikucilkan, dan kami warga juga tidak heran jika berjumpa dengan mereka.

“Hati yang luas yang mau menerima mereka yang kurang, apa adanya” justru bisa kutemukan di Jepang. Aku pun merasa kagum pada universitas tempatku bekerja yang memang kuketahui menerima mahasiswa yang dianggap tidak normal. Aku pernah mengajar seorang mahasiswa yang berkursi roda, seorang mahasiswa yang berpendengaran tidak normal sehingga harus memakai alat khusus. Untuk menghadapi mereka aku dikirimi surat oleh pihak universitas, untuk memperhatikan mahasiswa ini, dan jika perlu memberikan tugas yang lain dengan mahasiswa normal. Aku juga usahakan untuk tidak berbicara cepat-cepat supanya si mahasiswa tidak bingung. Memang tidak setiap kelas, dan tahun ini aku mempunyai seorang mahasiswa yang menderita  Asperger syndrome, sejenis autis. Kekurangan yang  paling mendasar, dia tidak bisa membaca situasi, yang istilah Jepangnya: Kuuki wo yomenai 空気を読めない.  Dia selalu duduk paling depan, dan suaranya paling kencang (dan cepat sehingga sering salah) jika aku suruh seluruh kelas membaca sebuah percakapan. Awalnya aku tidak sadar, lalu kemudian aku menerima surat dari pihak universitas tentang mahasiswa tersebut. Sayangnya dia jarang masuk dan terakhir dia sudah duduk di bangku belakang sekali. Semoga dia bisa bertahan sampai akhir semester deh.  Dan tentu… tentu aku akan memberikan tugas yang sedikit berbeda dari teman-temannya yang lain.

 

Harga Dewasa

Meskipun sebenarnya yang dianggap dewasa di Jepang adalah mereka yang sudah berusia 20 tahun, Riku sudah harus membayar “harga dewasa” otona no ryoukin 大人の料金 jika naik kendaraan umum di Jepang. Jadi yang biasanya membayar setengah harga yaitu 110 yen (kodomo ryoukin 子供料金) sekarang harus membayar penuh (dan setelah pajak naik aku masih belum hafal berapa harga naik bus karena selalu pakai prepaid card). Juga waktu menginap di hotel, seperti waktu kami pergi ke Kyoto, sudah harus dihitung sebagai orang dewasa. Memang sih tidak bakalan bisa tidur satu tempat tidur dengan dia lagi, wong badannya guede banget hehehe. Selain itu yang biasanya hanya membayar 75% untuk tiket pesawat sekarang sudah harus membayar penuh.

Mulai tanggal 1 April kemarin, dia memang sudah harus membayar “harga dewasa”, padahal baru tanggal 7 nya dia resmi menjadi murid SMP. Hmm murid SMP kok dewasa ya? hehehe. Tapi benar deh, aku sebagai orang tua murid SMP, ikut tegang dan khawatir dengan hari-harinya di SMP.

ruangan aula sebelum upacara mulai

Upacara masuk SMP juga lain rasanya dibanding waktu masuk SD. Aku perhatikan sekali, hall sudah siap sejak 15 menit sebelum acara dimulai pukul 10 pagi. Memang kami diminta untuk datang dan berada paling lambat 15 menit sebelumnya. Karena hari itu hujan, kami keluar lebih cepat lagi dan sudah sampai di aula sekolah pukul 9:30…. tapi aula sudah penuh!

Kebiasaan di Jepang, menuliskan susunan acara sehingga semua hadirin tahu urutannya dan tidak perlu penjelasan bertele-tele dari MC

Dan murid baru masuk ke dalam ruangan itu 5 menit sebelum pukul 10 sehingga pas pukul 10, langsung mendengarkan sambutan dari kepala sekolah. Wuiih atmosfir aulanya yang jauh lebih besar dari SD saja sudah berbeda. Murid baru angkatannya Riku sebanyak 249 orang, yang terbagi dalam 7 kelas ditambah 1 kelas untuk anak-anak terbelakang yang dinamakan I gumi (baca lafal bahasa Inggris “ai” gumi). Riku sendiri masuk ke kelas F. Aku sendiri selama bersekolah tidak pernah satu angkatan lebih dari 5 kelas di SMA (SMP hanya 3 kelas), jadi keder juga mendengar ada 7 kelas.

Riku dengan teman lelaki sekelasnya. Tingginya memang beda-beda, ada anak yang keciiil sekali, ada yang tinggiiii sekali

Upacaranya juga tidak bertele-tele meskipu cukup banyak sambutan. Sambutan dari kepala sekolah yang masih kuingat bahwa dia mengambil contoh dua penemu shinkansen (kereta super ekspress Jepang) . Kedua penemu ini awalnya ditertawakan, tapi tidak pernah putus asa terus meneliti, sehingga akhirnya kereta shinkansen yang menjadi kebanggan Jepang dapat tercipta. Jadi dia juga mengharapkan agar murid-muridnya tidak cepat putus asa, pasti ada jalan menuju sukses.

murid kelas 2-3 di bagian belakang, sedangkan murid baru duduk di bagian depan

Acara ditutup dengan tampilan paduan suara dari kakak kelas 2 dan 3 yang begitu “lain” warna suaranya daripada SD. Ya, suara lelaki menyanyikan part rendah, sementara yang perempuan menyanyikan part tinggi. Musiknya juga lebih berani dibandingkan waktu SD. Kelihatannya sekolah Jepang memang menekankan pelajaran musiknya dengan sungguh-sungguh.

Nah, sebelum acara pemotretan dengan orang tua dan murid per kelas, kami mempunyai waktu 20 menit untuk berkumpul per kelas dan menentukan wakil-wakil yang duduk dalam kepengurusan PTA (Parent Teacher Association). Ada 5 pos dengan tugas masing-masing yang perlu dipilih. Nah, di pertemuan ini memang berlainan dengan ibu-ibu waktu SD, tidak ada yang spontan langsung mengangkat tangan. Alasannya? Kebanyakan ibu-ibu dengan anak SMP biasanya bekerja, baik part time maupun full time. Semakin tinggi sekolah sang anak, semakin banyak pengeluaran sehingga sudah biasa di Jepang untuk ibu-ibu anak SMP untuk bekerja. Well, aku juga bekerja (dan cukup sibuk). Tapi aku merasa sebel melihat ibu-ibu ini tidak ada yang mengangkat tangan. Waktu “diam” menunggu seperti itulah yang paling kubenci. Jadi deh aku mengangkat tangan untuk mengisi pos bagian “promosi” yaitu bertugas membuat majalah sekolah. Untung suamiku selalu mendukung dan sambil tertawa membiarkan aku angkat tangan.  Ada contoh majalahnya sih, dan kulihat mereka ada dana khusus untuk percetakan. Jadi paling mengisi rubrik, editing dan foto-foto saja. Keciiiil (huh sapa bilang hahaha). Lagi pula kupikir ada 7 kelas, berarti sedikitnya ada 20-an orang dalam satu seksi sehingga pekerjaan (mestinya) tidak begitu sibuk. Waktu Riku kelas 1 SD, aku juga menjadi pengurus PTA dan banyak manfaatnya jika kita aktif di PTA. Aku jadi banyak teman dan tahu informasi dalam sekolah yang mungkin tidak diketahui ibu-ibu lain.

Berfoto di depan papan di gerbang sekolah. Riku udah manyun aja 😀

Setelah acara pemotretan selesai, kami bergegas pulang ke rumah karena opa (papaku) dari Jakarta sudah sampai di rumah. Ya, papa datang ke Jepang satu pesawat dengan my dimple sister Sanchan, dan Sanchan mengantar dari bandara Haneda sampai ke rumah sementara kami tidak ada di rumah dan sampai Sanchan pulang juga tidak bertemu (terima kasih banyak ya Sanchan). Di rumah hanya ada Kai yang memang aku boloskan karena dia batuk parah. Jadi Kai yang membukakan pintu rumah. Dari opa kami mendengar ceritanya bahwa opa mengajak Kai (dan Sanchan) makan pagi di restoran dekat rumah. Tapi opa lihat si Kai seperti bingung, dan bertanya ke Sanchan. Rupanya Kai khawatir apakah opa bawa uang Yen tidak….. Kalau tidak, dia mau bawa uangnya. hihihi Aku geli mendengar ceritanya, tapi kagum juga karena kok bisa Kai terpikir bahwa uang Indonesia dan Jepang itu lain. Nalarnya jalan.

berfoto bersama opa setelah selesai upacara penerimaan murid baru. Kasihan opa disambut udara dingin! (Yang semestinya sudah hangat)

Sejak tanggal 7 April itulah rumahku jadi tambah sibuk dan ramai karena Riku sudah memulai kehidupan baru sebagai anak SMP, DAN opa melewatkan liburan selama 13 hari di Tokyo.

 

Belajar Belanja

Akhir-akhir ini di FB aku sering di Tag teman, mengenai tulisan pendidikan SD di Jepang yang kelihatan seperti bermain. Memang apa yang dituliskan di situ benar, tapi bukan berarti tidak ada pelajaran sama sekali. Murid SD pun ada pelajaran Doutoku 道徳 atau diterjemahkan sebagai pelajaran Moral (Etiket). Yang pada kelas 5 Riku mendapat pelajaran tentang penggunaan internet dan HP.

Pelajaran Kai sekarang di SD kelas 1 baru-baru ini ada lagi yang menarik, yaitu diajarkan untuk belanja! Perlu diketahui bahwa anak-anak SD semua TIDAK BOLEH SAMA SEKALI membawa dompet/uang ke sekolah. TENTU TIDAK ADA JAJAN! Hanya ada makan siang bersama yang biayanya dibayar otomatis dari rekening pos orang tuanya (sekitar 4000-5000 yen perbulan).

receipt (struk belanja) dari Kai hari itu

Tapi belanja pun perlu kotsu コツ kiatnya sendiri, maka murid kelas 1 SD diajarkan cara berbelanja. Beberapa waktu yang lalu, kami orang tua disuruh memasukkan uang 150 yen dalam amplop untuk anak-anaknya. Mereka kemudian pergi bersama satu kelas, dengan gurunya ke toko yang menjual bibit tanaman dekat sekolah. Mereka masing-masing membeli 3 bibit bunga tulip yang satunya seharga 50 yen. Mereka membayar dan menerima struknya untuk dibawa pulang sebagai bukti kepada orang tuanya. Ternyata oleh toko bibit itu setiap anak menerima 1 bibit sebagai extra (gratis) おまけ. Tiga bibit langsung ditanam di halaman sekolah, dan satu bibit dibawa pulang untuk ditanam di rumah. Jadi hari itu Kai berhasil belajar belanja + menanam bunga.

 

Penyambutan Murid Baru

Di Jepang, setiap awal tahun ajaran akan diadakan 始業式 shigyoushiki, upacara awal tahun ajaran yang diikuti oleh kelas 2 sampai kelas 6 SD. Sedangkan 入学式 nyuugakushiki, secara harafiah Upacara Masuk, tapi kalau di Indonesia lebih tepat diterjemahkan menjadi upacara penerimaan murid baru diadakan untuk kelas 1 baru. Pika-pika no ichinensei (kelas satu yang masih berkilau, aku pernah menulis tentang Riku yang kelas 1 SD di sini).

Kai bersiap berangkat ke upacara penerimaan murid baru

Satu hal yang aku sadari yaitu jika penekanan kata nyuugakushiki itu adalah upacara si anak MASUK ke sekolah, kalau di Indonesia itu penekanannya pada pihak sekolah yang MENERIMA/Menyambut datangnya murid baru. TAPI pada kenyataannya sepertinya upacara nyuugakushiki di Jepang, lebih “menyambut” murid baru, daripada hanya sekedar “Oh kamu sudah masuk SD ya?” saja. Hal itu terlihat dari susunan acara. Atau karena Riku adalah murid kelas 6 SD, aku tahu bahwa murid-murid kelas 6 yang dikerahkan oleh pihak sekolah untuk mempersiapkan upacara nyuugakushiki ini.

Upacara Masuk ini berlangsung hari Senin tgl 7 April, tapi sudah sejak Jumat sebelumnya, murid SD mempersiapkan hall tempat pelaksanaan upacara dan mereka juga berlatih menyanyikan lagu kebangsaan 国歌 Kimigayo serta lagu sekolah mereka 校歌. Selain itu mereka juga bertugas menjadi penerima tamu dengan membagikan daftar kelas (kami baru tahu murid kelas 1 masuk kelas yang mana pada hari upacara), membantu murid-murid mengisi absen di kelas barunya serta memasangkan badge nama di jas mereka.

susunan acara upacara penerimaan murid baru

Sejak di pintu masuk itulah, murid-murid baru berpisah dengan orang tuanya. Mereka diantar masuk ke loker tempat penyimpanan sepatu dan ditunggui 先輩 sempai kakak kelasnya untuk mengganti sepatu dengan 上履き uwabaki, sepatu untuk di dalam ruangan. Lalu mereka diantar sampai ke kelasnya. Orang tua, dengan was-was apakah anaknya大丈夫 daijoubu (tidak apa-apa), menuju ke aula sambil melirik kelas satu yang dilewati. Ah, kakak kelas dan guru sudah di dalam kelas dan menyambut murid-murid baru yang tegang. Untung saja tidak ada yang menangis hehehe. Lain dengan upacara penyambutan murid TK yang riuh rendah dengan suara tangis. Well, saat itu mereka memang masih usia 3 tahun…sedangkan kalau SD kan sudah berusia 6 tahun (batas umur di Jepang untuk kelas 1 SD adalah GENAP 6 tahun terhitung tgl 2 April tahun tersebut).

Orang tua menempati tempat duduk yang sudah disediakan dalam hall dan menunggu upacara dimulai. Kebetulan aku duduk di samping satu pasang suami istri yang membawa dua anak, satu berusia sekitar 3 tahun dan satu lagi masih bayi. Hmmm ribut! anaknya yang usia 3 tahun itu tidak bisa diam dan ngoceh terus sambil naik turun kursi lipat. Beberapa kali dia hampir jatuh dari kursi. Sabar imelda….sabar 😀 Untung aku sudah merasakan betapa repotnya membesarkan dua anak, jadi bisa mengerti bahwa mereka tidak bisa menitipkan anak-anaknya yang masih kecil demi mengikuti upacara anak pertama mereka (I hope so…. karena jarang ada keluarga Jepang yang mempunyai lebih dari 2-3 anak). Tapi seharusnya anak kecil begitu duduk di antara ayah dan ibu, sehingga tidak mengganggu orang yang duduk di sebelah anak itu. Benar-benar aku khawatir kalau anak itu jatuh dari kursi dengan kepala duluan 🙁

Acara diawali dengan masuknya kepala sekolah, tamu-tamu kehormatan yang kemudian duduk di tempat khusus. Kemudian kami menyambut dengan tepuk tangan masuknya murid-murid baru yang masuk ke dalam hall dengan berbaris. Oh ya, aku perlu beritahu bahwa dalam upacara-upacara begini, jarang sekali terdengar tepuk tangan. Orang Jepang tidak biasa bertepuk tangan seusai seseorang mengucapkan pidato. Entah kalau sekolah lain, tapi aku jarang sekali mendengar tepuk tangan pada acara-acara sekolah. Lain ladang lain ilalang ~~~~

kepala sekolah menyambut murid kelas satu

Semua acara dimulai dengan 起立 kiritsu  礼 rei 着席 chakuseki, berdiri – hormat – duduk. Ah aku jadi ingat pendidikan di SMP-ku dulu yang mengadaptasi cara ini. Kamu harus selalu berdiri dan menghormati guru SETIAP ganti pelajaran, di awal dan akhir pelajaran. Entah apakah masih ada sekolah di Indonesia yang menerapkan seperti ini. Tapi di Jepang dalam semua acara resmi pasti akan terdengar “perintah-perintah” semacam ini.

Kepala sekolah memberikan pidato juga tidak bertele-tele, dan menyampaikan tiga hal penting yang harus diingat murid baru yaitu : memberi salam, mendengarkan pembicaraan orang lain baik guru maupun teman dan membuat teman sebanyak mungkin.

Satu-satunya acara “hiburan” adalah pementasan lagu oleh kelas 2. Mereka bernyanyi dan memainkan pianika, sambil menyambut “adik-adik” dan menyampaikan pesan-pesan seperti : “kalau ada yang tidak tahu, silakan tanya kami ya” dsb. Aku merasa cukup senang menyekolahkan anakku di SD Negeri ini. Memang tidak “sedisiplin” sekolahku dulu atau sekolahnya Gen juga, tapi cukuplah. Yang penting anak-anak merasa nyaman bersekolah.

Setelah acara di hall, kami menuju kelas masing-masing dan mendengarkan perkenalan dari guru serta pengumuman-pengumuman. Kami juga membawa pulang banyak barang baru yang dibagikan. Ada satu kotak berisi peralatan menulis dan belajar (pensil, buku catatan, buku pelajaran, pensil warna, craypas), sedangkan dari kelurahan mendapatkan topi pelindung kepala yang bisa dipakai sebagai alas duduk serta buzzer keamanan untuk dipasang di ransel masing-masing. Ada happening seorang anak membunyikan buzzer itu dan orang tuanya sibuk mencari cara menyetopnya. Buzzer ini perlu jika anak-anak bertemu dengan orang iseng atau jahat dan merasa perlu bantuan, tinggal menarik tali buzzer sehingga alarm akan berbunyi kencang.

Kai dengan barang-barang yang mesti dibawa pulang

Semua barang-barang ini kami bawa pulang dan menjadi “pekerjaan rumah” baru untuk kami, karena kami harus menuliskan nama satu-per-satu pada barang-barang ini, termasuk pensil dan craypas.

Setelah selesai menuliskan nama pada semua barang, kami pergi makan siang dan bermobil ke Yokohama untuk bertemu dengan kakek-neneknya Kai karena sudah cukup lama kami tidak berjumpa. Kebetulan Gen juga ambil cuti khusus untuk hari ini. DeMiyashita kemudian merayakan “hari bersejarah” bagi Kai yang masuk SD dengan makan malam bersama.

 

Selamat bersekolah ya Kai… 入学おめでとうございます。

 

Kalimat dan Surat Pemda

Selama dua malam Riku pergi karyawisata, Kai mempunyai kesempatan untuk mendominasi waktu papa mamanya lebih banyak dari biasanya. Kalau Riku sudah pasti tidur pukul 9:00 tanpa menunggu kami masuk kamar,Kai mesti tidur denganku. Sehingga sering dia harus menungguku jika aku ada pekerjaan yang perlu diselesaikan malam itu juga. Kalau ada Gen, biasanya dia minta papanya membacakan buku dulu sambil menunggu aku masuk kamar. Nah kemarin itu aku memaksakan untuk menulis posting dulu sebelum tidur, sehingga minta Gen dan Kai masuk kamar duluan. Saat itu Kai bertanya mengapa aku tidak langsung tidur? Dan Gen menjawab: “Mama wa bunsho wo kakanakereba naranaino…. (harafiah : Mama harus menulis kalimat dulu…)”
Kai bertanya: “Bunsho itu apa?” Nah loh… Apa jawabmu jika ditanyakan anak usia 6 tahun, “Kalimat itu apa?”

Aku sebetulnya menunggu Gen menjawab, tapi seperti biasanya dia jarang menjelaskan dengan detil. Jadi aku meninggalkan komputerku dan menjelaskan pada Kai.
“Kai, kalimat itu ekspresi pikiran kamu. Misalnya mama bilang:  ママはご飯を食べたMama makan nasi, Kai jadinya tahu kan bahwa mama makan. Tapi kalau mama bilang : ママご飯, Mama nasi. Kai pasti bingung mama bilang apa sih, masa mama nasi. Kai tahu kata ‘mama’, tahu juga kata ‘nasi’. Tapi itu bukan kalimat yang bagus kalau Kai tidak ngerti. Kurang kata ‘makan’ kan? Nah, kalimat itu dibuat untuk menerangkan kepada orang lain.  Itu namanya bunsho” 😀 Semoga dia bisa mengerti.

Tulisan dalam blog merupakan kesatuan kalimat-kalimat yang dapat dimengerti.  Dimengerti oleh si penulis dan dimengerti oleh pembaca. Membuat kalimat, membuat posting itu memang sulit, tapi kalau kita tidak berlatih  menyampaikan pikiran kita lewat tulisan sudah pasti kita bukan blogger yang baik. Ya jelas blogger tanpa tulisan sih. Silakan dibaca juga tulisan sahabat blogger uncle Lozz Akbar bahwa kita lebih baik menulis saja tanpa harus nyastra. Dan bagian yang aku garisbawahi adaah: “Sambil terus belajar mengasah teknik-teknis dasar menulis. Tentang cara menempatkan huruf kapital yang benar. Memahami kosakata EYD. Juga tentang cara memainkan tanda baca titik koma. Insya Allah lama-lama akan ketemu juga pakem sastra versi Anda.”

Setelah aku jelaskan mengenai kalimat, akhirnya aku membacakan buku dulu supaya dia tertidur baru aku bisa menulis dengan tenang. Aku baru selesai membacakan buku pilihan dia yang berjudul “生命の歴史Sejarah Kehidupan” beuhhh susaaah bacanya. Buku itu menceritakan pembentuka tata surya, planet-planet, bumi, bulan, lalu kehidupan di bumi, dinosaurus…..sampai kehidupan seperti sekarang ini. Memang Kai suka yang susah-susah sih 😀

Bulan April tahun depan, Kai akan masuk SD. Baru kemarin kami mendapat pemberitahuan dari pemerintah daerah Nerima yang “mengingatkan” bahwa anak kami akan memasuki usia sekolah (usia SD 6 tahun). Dalam surat itu kami diberitahukan bahwa Kai masuk SD (SD pemda – yang sama dengan Riku) terdekat rumah kami, dan harus mengikuti pemeriksaan kesehatan tanggal 7 November akan datang serta harus melengkapi formulir dari SD. Hebatnya pemda di sini, bukannya kami yang ribut cari sekolah, malah mereka yang memberitahukan sesuai dengan daftar kependudukan yang mereka punya. Jadi kami tinggal mengikuti prosedur yang sudah ditulis dalam surat itu. Ini juga berlaku untuk undangan pemeriksaan kesehatan tahunan, pemberitahuan habisnya masa berlaku kartu identitas dan SIM, pemberitahuan pemberian tunjangan untuk anak-anak (sampai usia 12 tahun) dll. Tapi tentu saja kami juga mendapat surat pengingat untuk membayar pajak 😀 Semoga kelak Indonesia juga dapat mengikuti sistem seperti ini ya.