RSS
 

Posts Tagged ‘birthday’

Memang keluarga yang terbaik…

04 Mar

Setidaknya itu kata Riku di akhir pekan lalu. Pada hari ulang tahunnya, Kamis lalu, dia mengundang 6 orang temannya untuk bermain di rumah. Sengaja bukan aku yang mengundang, karena sebetulnya tidak ada kebiasaan di Jepang untuk membuat pesta ulang tahun. Apalagi membagikan kue-kue bingkisan ulang tahun di sekolah (kebiasaan membagikan “berkat” begitu idi sekolah ternyata masih ada, karena waktu aku pulkam tahun lalu, adikku sempat bingung akan membagikan apa waktu anaknya ultah) sama sekali tidak ada. Well orang Jepang jarang memperingati ulang tahun deh.

Jika aku menuliskan undangan, ibu anak-anak itu akan kewalahan untuk mencari kado. M-E-R-E-P-O-T-K-A-N. Kita orang Indonesia bisa bilang, “Tidak usah bawa apa-apa….datang saja”. Tapi orang Jepang TIDAK AKAN PERNAH BISA DATANG TANPA MEMBAWA APA-APA. Pernah beberapa kali teman Riku main ke rumah, mereka pasti membawa (dibawain ibunya sih) satu bungkus snack untuk dibagi/makan bersama (OMG Riku pernah bermain ke rumah temannya ngga ya? Aku kudu siapkan snack nih untuk membawakan Riku kalau dia bermain ke rumah temannya).

Jadi aku menyuruh Riku memanggil temannya, dan karena aku sedang sibuk mengerjakan terjemahan aku sediakan pizza dan kue ultah dari Baskin aja. Undangan disampaikan hari Senin. Hari Selasa Riku mendapat jawaban bahwa hanya 3 orang yang bisa datang. Lalu aku bilang, biar saja, lebih sedikit kan lebih banyak jatah makannya hihihi (dasar pikirannya makan mulu). Tapi hari Rabunya dia pulang dengan sedih dan berkata bahwa cuma 2 orang yang bisa datang esoknya.

Pas hari H, sesudah pulang sekolah, Riku menjemput temannya ke bawah. Ternyata hanya ada satu orang yang datang, dan ….. mereka bermain di bawah. Temannya ini membawa semacam permainan dengan tali. Tapi mungkin Riku mengikat salah atau bagaimana, tali itu tidak bisa diurai lagi. Oleh temannya itu, Riku harus memperbaiki (mengurai) tali itu dan jika tidak bisa game DS nya untuk dia. Wah Riku kan panik, karena dia tahu DS itu mahal. Akhirnya Riku minta maaf dan lari ke rumah.

Begitu masuk ke dalam rumah, dia menangis. Wah aku kan panik, ada apa nih… Mendengar ceritanya ternyata dia di”ancam” harus memberikan barangnya jika tidak bisa begini begitu. Aku ikut sedih, karena kok anak kelas 1 SD sudah bisa main palak-memalak begini. “Hari ulang tahun aku yang paling buruk!”… Ya kenapa mesti terjadi pas di hari ulang tahun. Kasihan Riku. Untuk sementara aku peluk dia, dan mengajak dia makan Pizza berdua. “Hari Sabtu, Minggu dan Senin kan papa libur, nanti Riku pergi saja sama papa ya. Kasih tahu papa, Riku mau ke mana”
“Cuma mama yang baik sama Riku…”
“LOH Riku… Riku kan anak mama. Masak mama mau jahat sama Riku. Riku nangis ya mama juga ikut nangis dong.”
“Iya ya…. hihihihi”

merayakan ultah Riku dengan sederhana

Setelah Gen pulang kantor (yang lebih cepat dari biasanya yaitu jam 7:30 malam) kami makan pizza dan kue yang tadinya diperuntukkan pesta kecilnya Riku. Padahal tadinya mau makan di luar tuh, soalnya aku ngga ada waktu untuk masak.

bergaya dengan sepeda barunya

Baru hari Sabtunya, Riku pergi bersama papanya untuk membeli kado ulang tahunnya, sementara aku di rumah bersama Kai dan mengerjakan pekerjaan terjemahan yang belum selesai. Sebuah sepeda baru karena sepedanya yang lama sudah “kekecilan”. Anakku sudah bertambah tinggi, sehingga sepeda “masa kanak-kanak”nya sudah terlalu pendek untuk kakinya. Jadi kami sepakat untuk memberikan sepeda dengan jari-jari 22 cm (tadinya 18 cm).

bedanya ternyata cukup banyak ya, Ban dengan jari-jari 18 cm dan 22 cm

Sepeda yang lama nanti akan diberikan ke Kai kalau dia sudah mau, karena sebetulnya kami masih menyimpan roda bantuan sehingga tinggal dipasang saja lagi. Kasihan si Kai jarang dapet barang yang baru, selalu lungsuran.

Untuk berlatih memakai sepedanya yang baru, Gen mengajak Riku ke stasiun dekat rumah kami. Dan ternyata di pos pemadam api dekat stasiun itu sedang mengadakan “open house”. Jadi deh Riku belajar mematikan api, dipakaikan baju pemadam, diperbolehkan naik mobil pemadam, dan juga belajar tali temali serta pernafasan buatan untuk bayi. wow! Aku melihat foto-fotonya saja jadi iri, dan juga iri untuk Kai karena dia tidak ikut. Tapi Kai juga masih terlalu kecil, bisa-bisa dia nggerecokin saja, Pasti ada waktunya juga untuk Kai.

Well, terobati sudah kekecewaan Riku di hari ulang tahunnya. Memang melewatkan waktu bersama keluarga adalah yang terbaik….

Riku dengan baju petugas pemadam ... pipoooo pipoooo

 

Happy Milad Bouya

25 Feb

Di sebuah iklan Disney Channel, ada sebuah pernyataan hati seorang ibu:

kemarin kamu tidak bisa apa-apa, sekarang sudah bisa…
tapi jangan cepat-cepat menjadi besar ya……

Tujuh tahun yang lalu kamu lahir, kecil dan tidak mampu apa-apa. Bahkan hari-hari  pertama harus kamu lewati di dalam inkubator.

Karena prematur, pertumbuhan motorik kamu juga tidak secepat teman-teman seangkatan kamu.

Meskipun badan kamu besar, kadang hati kamu masih kecil. Karena teman sekelasmu  berbeda usia hampir satu tahun.

Tapi mama tahu kamu selalu mau berusaha, menjadi murid yang baik. Anak yang baik, dan kakak yang baik.

Terima kasih ya sayang, kamu tidak pernah menolak satu kalipun kalau mama minta tolong sesuatu. Meskipun kamu sering menolak kalau mama suruh tunggu sendirian di rumah, karena takut.

Maafkan mama ya kalau akhir-akhir ini mama sering marah dan bersuara keras sehingga kamu pikir mama bentak kamu. Bukan maksud mama memojokkan kamu di depan Kai, hanya ingin tahu mengapa kalian bertengkar. Itu saja.

Dan satu lagi Riku… Mama senang sekali waktu tadi malam kamu merapat ke mama karena takut waktu mama bacakan buku yang diminta Kai.

Jam berdentang…. dong…dong…dong….
Siapa yang masih bangun jam segini?
Burung Hantu? Kucing hitam? Tikus yang nakal? Atau… pencuri?
Bukan….bukan…. tengah malam adalah waktunya HANTU
Ehh… ada yang masih bermain tengah malam begini?
Jadilah kamu hantu dan terbang ke dunia hantu….

Sesekali manja ya Riku… mama kangen peluk kamu. Mama tahu kamu sering kecewa karena Kai merebut mama dan minta dipeluk begitu kamu peluk mama. Tapi percayalah, mama sayang kamu sama besarnya dengan Kai.
Apalagi kamu sudah menemani mama 7 tahun … jauh lebih lama dari Kai yang baru 2,5 tahun kan?

Kamu….

Paulus Riku Miyashita

kamu istimewa…

Jadi… di hari jadi kamu hari ini 25 Februari 2010, mama mau mengucapkan selamat ulang tahun. Selamat menjadi lebih besar 1 tahun lagi. Tapi…. jangan cepat-cepat ya besarnya.

Mama mau menikmati hari-hari kita bersepeda bersama menjemput Kai.
Masih mau mendengar, “Mama lapar, ada snack apa?”.
Masih ingin menggandeng tangan kamu dan pulang bersama dari sekolah, karena kamu mau pulang sama-sama. Bahkan kamu pamer ke teman-teman, “Ini mama gue…”
Masih mau date bersama, makan es krim dan takoyaki…
Masih mau ini dan itu bersama-sama…sebelum kamu bosan dengan mama (semoga tidak ya)

Kado ulang tahun? Tunggu hari Minggu ya? Nanti kita cari sama-sama papa dan Kai…..


 

Hari ke 11 – And The Main Cast is….

02 Mar

My Crown Prince. Riku Miyashita.

Hari ini 25 Februari adalah hari Rabu Abu, hari awal masa Puasa bagi umat Katolik, untuk menyambut Paskah. Sesuai namanya, pada hari ini, kami menerima tanda abu di dahi, sebagai pengingat bahwa manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Jadi perlu adanya mati raga dan pantang untuk makan kesukaan atau melakukan suatu hobby. Pagi jam 5:45 aku sudah di dalam mobil bersama papa dan mama, untuk mengikuti misa Rabu Abu, dan berdoa juga untuk ulang tahun Riku yang ke 6. Merupakan kebiasaan keluarga kami untuk memulai hari ulang tahun dengan misa.

Pagi ini aku merasa dingin karena angin yang bertiup cukup kencang. Sesudah misa sempat bertemu dengan Romo Chris yang juga menjadi contact aku di FB. Beliau dulu sering membantuku untuk urusan teks misa. Tapi berhubung kemudian aku hamil dan tidak bisa urus kelangsungan misa bahasa Indonesia di Tokyo, jadi pengiriman teks misa juga terhenti.

Sampai di rumah, Riku sudah bangun, dan menagih kado. Kemarin aku menjanjikan kue ulang tahun dan main di game center + makan sushi sebagai kado. Jadi kita bersama-sama dengan Opa Oma dan sepupunya Riku ke restoran Midori di Mayestik untuk makan siang bersama. Ternyata restoran ini mempunyai cabang (entah yang mana cabang yang mana pusat) di Pondok Indah. Dan aku pernah pergi ke Midori yang di PI bersama teman-teman alumni FSUI waktu kita reunian Agustus lalu.

Kami menempati tempat di sebelah panggung, yang kemudian didaulat anak-anak sebagai tempat bermain mereka. Pesanan Riku datang yang terakhir, padahal dia sudah lapar. Lalu aku bilang, “Ikannya musti diambil di Tokyo dulu sih…”

Akhirnya datanglah pesanan Riku. Dan seperti biasa, dia memang tidak bisa menghabiskannya. Dan merupakan tugas seorang ibu untuk menjadi Tong Sampah. Karena itu aku sendiri tidak pesan apa-apa. Anak-anak yang lain, Kei dan Sophie minta obento yang khusus dihias untuk anak-anak. Opa makan bento untuk dewasa yang berisi ikan dan udang goreng. Aku pesan oden untuk Kai, dan aku senang karena Kai mau makan banyak, daikon, wortel dan tahu.

Karena Kai capek dan hujan, kita pulang kembali ke rumah dulu, kasih tidur Kai, kemudian kita pergi ke Pand’Or di jl Wijaya. Riku sih maunya kue bergambar heroes yang dia suka, tapi di Indonesia mana ada. Jadi aku suruh dia yang pilih sendiri mau kue dengan rasa apa.

Pulang, mendapati Kai sudah bangun dan kita bernyanyi deh. Setelah selesai makan kue, Riku menagih kadonya yang lain yaitu game center. Tapi karena aku sebenarnya sakit kepala sejak pagi dan memaksakan diri pergi-pergi, jadi aku minta maaf pada Riku dan berjanji esok aku akan antar dia pergi bermain.

Malam, sekitar jam 8 WIB, (jam 10 di Tokyo) aku telpon Gen, dan membiarkan Riku berbicara dengan papanya. Kai duduk di sebelah Riku, dan jadilah si mama Imelda menjadi photografer deh.

Memang primadono hari ini adalah Riku.

 

Hari ke 8 – 88 dan Cantent in Viis Domine

26 Feb

Seperti yang pernah saya posting di Apa artinya sebuah angka! Bagi orang Jepang, angka delapan adalah angka mujur. Dan dalam kehidupan manusia, ada suatu titik-titik usia tertentu yang “Diagungkan”. Usia o tahun atau usia 1 tahun pada hitungan Jepang lama yang merupakan hari kelahiran, usia 20 tahun yang menurut pemerintah merupakan pengakuan seseorang menjadi dewasa dengan sebutan khusus HATACHI 二十歳 , usia 60 tahun dengan sebutan KANREKI 還暦 (genap 4 kali putaran shio dan dikatakan bahwa manusia kembali lagi menjadi bayi), usia 88 tahun yang disebut BEIJU 米寿 , 90 tahun disebut SOTSUJU 卒壽 dan 99 tahun yang disebut HAKUJU 白寿.

Sedikit sekali orang yang bisa mencapai umur 88, dan lebih sedikit yang bisa mencapai 90 tahun. Ada dua muridku, orang Jepang yang bisa mencapai sotsuju, yaitu Almarhum Dr Fukuoka Yoshio, yang meninggal 11 januari lalu, dan Bapak Watanabe Ken yang masih segar bugar sekarang dengan usia 93 tahun. Ah aku ingin segera berjumpa Bapak Watanabe sepulang dari Indonesia. Dialah yang memberikan kesadaran pada saya bahwa umur tidak menjadi penghalang untuk belajar, belajar dan belajar terus. Dia mulai belajar bahasa Indonesia denganku pada umur 83 tahun dan sampai saat ini masih belajar di sebuah sekolah bahasa di Shinjuku. Bayangkan… SEMBILAN PULUH TIGA tahun.

Di keluarga Coutrier sendiri, Opa dan Oma (dari pihak papa) berhasil melewati 88 tahun. Padahal boleh dibilang mereka juga tidak fit 100% sampai akhir hidupnya. Opa meninggal persis di hari ulang tahunnya yang ke 88 dan saya bisa menghadirinya. Oma meninggal usia 89 tahun, tanpa ada yang memberitahukan saya (mungkin karena pikir saya toh tidak bisa datang). Dan dari Coutrier Clan ini, sesepuh yang masih hidup adalah Oma Dorothea Versluys yang tinggal di Amersfoort dan baru saja merayakan ulang tahun ke 89 tahun tanggal 7 Januari lalu. Aku juga sangat menyayangi oma Do ini, dan berkhayal kapan lagi bisa bertemu beliau in real.

Dan tanggal 18 Februari lalu, seminggu sebelum Riku ulang tahun, seorang Oma berulang tahun yang ke 88 tahun. Beliau memang bukan Oma yang terdaftar dalam pohon keluargaku. Oma Poel Fernandez dan saya, cucunya, tak ada hubungan darah sama sekali. Beliau yang terus melajang sampai sekarang, hanyalah tetangga belakang rumah kami yang lama. Tapi Oma Poel yang kucinta itu sudah hadir sejak aku lahir, yang memberikan aku nama julukan BARENDJE DONDER KOP (arti harfiah bocah gundul…. yang penggambarannya amat cocok dengan Ikkyu_san, si pendeta Buddha kecil yang gundul dan pintar).

Dan sejak aku bisa berjalan, beliau selalu membuatkan, menjahitkan baju untukku sampai aku SMA. Yang terakhir dia jahitkan adalah rok seragam Tarakanita dalam empat warna/corak, putih untuk hari Senin, abu-abu dan kotak-kotak, serta rok berwarna krem untuk hari Sabtu. Setelah itu dia angkat tangan, dan berkata, “Aku sudah terlalu tua untuk bisa menjahitkan kamu lagi, beli saja. Saya bahkan tidak yakin bisa hidup sampai kamu menikah.”

Nyatanya dia masih bisa melihat foto-foto pernikahan kami (karena dilaksanakan di Jepang), dan bisa menggendong Riku setiap kali aku ke Jakarta, dan bisa bertemu juga dengan cicit ke duanya, Kai di Jakarta. Tuhan memang yang terindah, dan Hanya DIA yang membuat hidup kita menjadi indah pada waktunya.

KAU YANG TERINDAH
DI DALAM HIDUP INI
TIADA ALLAH TUHAN YANG SEPERTI ENGKAU
BESAR PERKASA PENUH KEMULIAAN

KAU YANG TERMANIS
DI DALAM HIDUP INI
KUCINTA KAU LEBIH DARI SEGALANYA
BESAR KASIH SETIA-MU KEPADAKU

REFF:
KUSEMBAH KAU YA ALLAHKU
KUTINGGIKAN NAMA-MU SELALU
TIADA LUTUT TAK BERTELUT
MENYEMBAH YESUS TUHAN RAJAKU

KUSEMBAH KAU YA ALLAHKU
KUTINGGIKAN NAMA-MU SELALU
SEMUA LIDAH KAN MENGAKU
ENGKAULAH YESUS TUHAN RAJAKU

Aku menangis sambil mendengar dan ikut menyanyikan lagu ini. Sebuah lagu kesayanganku yang dinyanyikan oleh teman-teman yang tergabung dalam Paduan Suara Cantent in Viis Domine, atau disingkat CAVIDO, pada misa syukur ulang tahun Oma Poel Fernandez di gereja St Johannes Penginjil Blok B, tanggal 22 Februari (hari ke 8 aku di Jakarta) yang lalu. Aku memang pernah menjadi anggota Paduan Suara ini sejak SMP, sampai sebelum keberangkatanku ke Jepang tahun 1992. Adalah Oma yang mendorongku bergabung dalam paduan suara ini, sehingga menjadi anggota paling rawit saat itu. Tapi setiap kali selalu ditanya, mbak SMA kelas berapa? , karena badanku yang bongsor itu, padahal aku masih SMP.

Pindah ke Jepang tahun 1992, aku merasa kehilangan pada suasana kekeluargaan yang kocak yang ada dalam paduan suara ini. Tapi yang membuat aku bahagia adalah, bahwa mereka, meskipun banyak anggota baru yang tidak mengenal aku, tetap menyambutku dengan hangat setiap aku mampir dalam tugas-tugas mereka di gereja setiap kali aku mudik ke jakarta. Aku masih dianggap sebagai anggota. Dan seandainya aku mau jujur, aku merasa menyesal tidak mendengarkan mereka mengiringi misa pernikahanku karena dilaksanakan di Jepang. (Dan aku tahu Oma Poel juga kecewa dengan keputusanku…. maafkan aku Oma)

Paduan suara ini memang tidak bisa melupakan kehadiran Oma Poel dalam sejarahnya. Kepala sekolah SMA Tarakanita waktu itu, Sr Fraceline yang mendirikan paduan suara ini. Karena anggotanya adalah murid SMA Tarakanita maka tentu saja hanya bersuara wanita saja. Kemudian membuka diri dan menerima murid SMA Pangudi Luhur (yang pria semua) supaya bisa lengkap 4 suara, dan akhirnya menerima anggota umum. Baru setelah itu pelaksanaan sehari-hari untuk latihan dan pemilihan lagu kemudian dilakukan oleh Oma Poel Fernandez ini. Terus dilakukannya sampai saat kesehatan dan pendengarannya bermasalah sehingga akhirnya koordinasi latihan dan lagu-lagu diserahkan pada Mas Atok Joko dan istrinya Mbak Savitri. Dan PS Cavido tahun lalu sudah merayakan lustrum ke 6 atau 30 tahun berdirinya.

88 tahun dan 30 tahun

Oma Poel dan Cavido

aku dan komunitas gereja katolik indonesia

ikatan yang hanya bisa “abadi” dengan campur tangan Bapa Surgawi saja

Selamat ulang tahun untuk Oma Poel

Selamat berkarya dan terus maju untuk Cavido. I love you all, and always miss our togetherness.

The Lord bless you and keep you; The Lord make his face to shine upon you and be gracious unto you; The Lord lift up the light of his coutenance upon you and give you peace. Amen(Bilangan 6:24~26)

http://www.youtube.com/watch?v=O2WQ5yKhgLw compossed by Peter C. Lutkin. yang sering dinyanyikan Cavido juga.

Foto lengkap bisa dilihat di

http://www.facebook.com/album.php?aid=64867&id=787239774&l=31bec

 

The Crown Prince

25 Feb

Tepat 6 tahun yang lalu, 25 Februari 2003. Aku harus pergi ke Obgyn untuk memeriksakan kandungan yang memasuki bulan ke 8 pukul 12 siang. Biasanya aku pergi ke rumah sakit sendiri, tapi karena sudah disuruh bed rest sebulan, lalu oma juga sudah datang dari Jakarta, dan aku pikir kami harus membicarakan rencana kelahiran anak pertama kami yang rencananya tanggal 28 Maret itu. Mungkin ingin minta dipercepat menjadi 14 Maret saja. Kemudian aku juga merencanakan pergi ke bank untuk mencairkan deposito, dan mempersiapkan uang bersalin yang tidak sedikit. Jadi aku minta Gen untuk ambil cuti dan menemani ke dokter.

Tapi ternyata si jabang bayi, tidak sabar untuk segera menikmati udara luar. Karena pukul 7 aku terbangun dengan merasa aneh. Pergi ke WC dan menemukan “tanda” bercak yang diperkirakan mulainya proses persalinan. Memang biasanya masih lama, tapi entah kenapa aku merasa bahwa hari ini lah harinya. Benar saja. Tak lama kontraksi mulai dengan selang waktu 10 menit. wah sudah teratur begitu, jadi lebih baik telepon RS untuk minta periksa. Kami harus cepat-cepat sebelum traffic padat dengan orang yang akan ngantor.

Jadilah aku masuk kamar bersalin pukul 9, persiapan epidural yang memang hanya ada di rumah sakit ini, dan tepat pukul 12:06 siang seorang anak laki-laki lahir ke dunia ini. Beratnya hanya 2070 gram, karena memang kurang bulan. Untung saja dia hanya masuk inkubator untuk 1 hari saja. Tapi dia masih harus tinggal di RS sampai beratnya mencapai 2500 gram, yaitu satu minggu setelah aku keluar RS. Aku sendiri satu minggu berada di RS, dan karena RS itu adalah RS advent yang vegetarian, begitu keluar RS saya dan Gen langsung pergi ke resto sushi deh…. ngga bisa jadi vegetarian. Selama satu  minggu itu aku besuk Riku dan memberi ASI, serta menyelesaikan urusan-urusan kelurahan.

Siapa sangka pemilik jari mungil ini bisa menjadi anak lelaki yang segemuk sekarang? Sejak keluar RS, dia tidak pernah sakit yang berat, yang dikhawatirkan pada anak-anak prematur seperti dia. Bahkan sejak dia umur 6 bulan, terpaksa harus mulai bersosialisasi dengan anak-anak lainnya di penitipan, karena aku mulai bekerja lagi. Kadang dia harus berada di penitipan dari jam 9 pagi sampai 9 malam. Melebih jam kerja orang kantor.

Tapi berkat menjadi anggota penitipan Himawari itu, dia tidak pernah menolak sayur, selalu makan dengan teratur, lebih toleransi, dan mandiri. Aku ingat sekali begitu dia bisa jalan, dia pernah mengambil saputangan dan mengepel lantai. Aku menangis melihatnya. Dia berbuat begitu pasti karena dia selalu melihat di penitipannya. Dan dia sampai hari ini masih merindukan suasana di penitipan yang memang lebih mengutamakan bermain daripada belajar seperti di TK.

Kemudian 1,5 tahun yang lalu dia harus berbagi kasih sayang papa dan mama dengan Kai. Awalnya dia masih mempertanyakan, kenapa sih harus ada Kai? Tapi sekarang dia  malahan menunjukkan sikap seorang kakak terhadap adiknya, dengan berbagi mainan, makanan dan buku.

Yah hari ini, 25 Februari 2009, the crown prince Riku Miyashita menjadi 6 tahun!

Selamat ulang tahun dan peluk cium dari papa,mama, dan kai