Solitaire dan Sendiri

 

 

 

Ikut yuuk! GIVE AWAY Pribadi Mandiri

Keterangan lengkap baca di bawah posting ini

 

Tahu solitaire kan? Itu loh permainan kartu yang mengurutkan angka-angkanya sampai kartu di tangan habis (ada pula versi digitalnya). Itu memang permainan khusus untuk sendiri, dan bagi yang menikmatinya bisa loh mereka berlama-lama main solitaire begitu berjam-jam. Dan saat ini aku mengingat almarhum Oma Poel yang kadang bermain kartu solitaire itu di rumahku.

Permainan kartu Solitaire itu konon sejarahnya mulai dari pertengahan abad ke 18 yang menyebar ke seluruh dunia dengan nama yang berbeda-beda. Di Inggris dikenal dengan nama “Patience”, di Perancis sering dinamakan “Success” dan dalam bahasa Denmark, Finlandia dan Polandia disebut dengan “Kabal” atau “Kabala” yang berarti secret knowledge, karena sering dihubungkan dengan ramal-meramal.

Konon diberitakan bahwa Napoleon memainkan solitaire ini dalam pengasingannya, tapi tidak terbukti. Pada pertengahan abad 19, permainan ini populer dalam masyarakat Perancis. Sampai akhirnya tahun 1980-an personal computer membuat permainan ini lebih populer karena tidak diperlukan kartu, tidak perlu mengocok dan membaginya. Dengan satu klik pemain  bisa memulai permainan baru. (dari http://justsolitaire.com/history.html)

Yang aku mau tulis sebetulnya bukan soal solitairenya tapi soal bermain “sendiri”nya. Memang kalau banyak waktu luang, atau ingin “membunuh waktu” kita tentu bisa saja bermain sendiri. Bermain game, bermain BB, Angry Bird atau PS/Nintendo dsb dsbnya. Tapi seberapa lama sih bisa bertahan? Apakah tidak pernah bosan?

Aku suka bermain game, tapi cepat bosan. Biasanya kalau aku mulai bermain game berarti aku sedang kesepian. Untunglah sejak 5 bulan lalu otomatis aku sudah tidak bermain game lagi karena sudah ada temen special berbagi hati 😀 Sementara sahabat hati satunya sedang  amat sangat  sibuk sehingga bagiku mendapat teman akrab  baru lagi sesudah pulang mudik dari Jakarta itu merupakan berkat dari Tuhan. Dan aku sadar bahwa aku memang tidak bisa “sendiri”.

Dalam percakapan kami, temanku itu berkata, “Mbak aku mau nonton sendiri hari ini”. Aduuuh kok bisa ya? Kamu bisa? Aku terus terang tidak bisa nonton sendiri, meskipun memang aku amat sangat jarang nonton bioskop. Nah di situ aku langsung berpikir, apa saja ya kegiatan yang tidak bisa aku lakukan sendiri? Dan jawabannya yang langsung melintas di kepala adalah MAKAN!

Ya aku mau cerita, bahwa aku TIDAK BISA makan sendiri… dulu sampai tahun-tahun pertama aku di Jepang. Aku memang tidak menampik bahwa keluargaku termasuk keluarga yang jarang makan bersama waktu malam. Masing-masing sibuk sendiri, sehingga jam makan berbeda semua. Tapi biasanya pasti ada seseorang yang menemani makan, kalau tidak hanya duduk di meja makan dan mengobrol bersama. Apalagi jika makan di luar rumah. TIDAK PERNAH makan di luar/di restoran sendirian! NEVER!

Karenanya aku bersyukur waktu pertama kali datang ke Jepang, aku homestay dengan keluarga Jepang dan biaya kost termasuk makan. Hari pertama mendarat, makan malam bersama keluarganya dan pembantunya! Ya saat itu aku juga kaget, benar-benar kaget karena orang yang dikenalkan padaku sebagai “pembantu” keluarga itu (memang keluarga kaya sih, karena biasanya keluarga Jepang tidak menggaji pembantu) ikut DUDUK di sampingku. Suatu kejadian yang tidak akan pernah dapat aku alami di Indonesia! Atau tidak juga di keluargaku. Apakah keluarga teman-teman yang mempunyai asisten, asistennya makan bersama????? Kurasa meskipun kita ajak makan bersama, mereka juga akan menolak, dan merasa nyaman makan sendiri di dapur. Ini satu pengalaman spritualku yang begitu membekas saat itu. SEMUA ORANG DUDUK DI SATU MEJA YANG SAMA. Inilah negara yang katanya tak beragama tapi betul-betul mengamalkan bahwa manusia itu semua sama. Aku mengubah pandanganku saat itu juga, sampai waktu aku mudik ke Indonesia setelah 2 tahun, begitu aku sampai di rumah Jakarta aku memeluk Dyah, asistem rumahku yang sudah lama bekerja pada kami, dengan perasaan syukur dan terima kasih yang begitu dalam (sambil menuliskan ini aku tak bisa menahan air mata mengingat perasaanku waktu itu dan mengingat mukanya yang kaget, tapi senang… ah Dyah aku kangen kamu. Semoga kamu sehat-sehat bersama Ricky anakmu di desa sana ya)

Jadi, selama di rumah homestay, aku selalu makan bersama keluarga atau minimum bersama sang asisten rumah. Tapi, aku tidak bisa selalu makan siang di rumah. Kalau sedang arbaito (kerja sambilan pertamaku menjadi asisten di kantor landscape di Harajuku, kerja serabutan menggambar atau menghitung, kadang mengantarkan pesanan gambar ke klien) , saat itu aku harus makan siang sendiri. Aku belum tahu bagaimana untuk makan siang yang murah, sehingga aku TERPAKSA masuk ke restoran spaghetti sendiri, duduk di meja untuk sendiri, dan melihat banyak OL (office lady) yang makan sendiri, sehingga aku berhasil menghabiskan spaghetti dalam piringku. Makan di restoran sendirian akhirnya berhasil aku jalani, …dan menjadi biasa. Karena banyak sekali OL yang sendirian di restoran itu. Dan aku juga bisa berganti restoran lain dengan memberanikan diri mencari restoran yang banyak meja untuk berdua saja.

Setelah cukup lama bekerja di kantor landscape itu aku kemudian bisa berteman dengan para arsitek di situ yang kebetulan berasal dari luar negeri. Ada orang Irlandia, orang Malaysia dan orang Amerika. Laki-laki semua, dan mereka mengajarkan aku membeli bento (bekal makanan) di toko dan makan di taman! Waduhh pertama kali aku diajak makan di taman dekat kantor aku canggung sekali. Tidak biasa aku makan di luar ruangan. Untung waktu itu seorang asisten lain yang  perempuan membawa bento dan ikut kami makan bersama. Dan untung mereka semua tidak tahu bahwa itu merupakan pengalaman aku makan di taman yang pertama 😀 Sesekali kami juga makan di restoran bersama, dan aku diajak ke restoran yang murah di sekitar kantor. Waktu itu budgetku untuk sekali makan adalah 1000 yen padahal kalau sekarang banyak sekali restoran yang menawarkan set makan siang seharga 700- 850 yen. Dan sekarang tentu sudah pintar mencari bekal makanan yang 400-an sehingga bisa hemat banyak.

Pengalaman makan siang bersama teman-teman kantor di Harajuku itu membuatku lebih mudah dan lebih cuek untuk makan sendiri. TAPI yang menjadi masalah waktu aku harus makan sendiri di universitas. Waktu pertama kali kuliah di universitas aku belum begitu tahu seluk beluk universitasku. Sehingga tidak tahu kantin itu di mana. Jadi cara terbaik adalah membeli roti. Tapi makan di mana? Tidak ada taman yang rimbun dengan tempat duduk di sekitar kampusku. Adanya lapangan rumput yang besar, lapang, tempat beberapa anak laki-laki selonjor dan makan siang. Tidak ada mahasiswi sama sekali. ADUUUH aku bagaimana? aku tahu, aku tidak bisa makan di luar. Dan aku tidak bisa makan di kelas, karena aku tidak punya kelas khusus waktu itu. Sebagai mahasiswa peneliti, kelasku adalah ruang kerja dosen pembimbingku, SM sensei. Sebetulnya kalau aku mau cuek, bisa saja aku minta ijin untuk makan di situ, karena aku tahu beberapa kali sensei pun makan siang di situ sambil berkata, “Imelda saya makan dulu ya…”.  TAPI aku tidak bisa begitu. Makan sendirian, dengan ditatap sensei yang belum begitu aku kenal (kurasa waktu itu aku memang salting deh, soalnya senseiku itu cakep sih hehehe **waktu itu aku belum kenal Gen loh**) . Jadi waktu kuliah itu aku makan rotinya di mana? Hayo tebak….

Di WC… ya di WC perempuan kampus lantai 5 itu memang jarang dipakai karena mahasiswi nya juga sedikit. WC di situ juga bersih,  tidak bau sehingga aku bisa makan deh dalam bilik WC itu cepat-cepat. Baru setelah aku mempunyai teman perempuan orang Jepang satu seminar, aku diajak makan di kantin atau beli bekal dan sama-sama makan di dalam kantor sensei. Ah…. urusan makan ini memang rumit sekali bagiku, karena aku tidak bisa makan sendiri, tidak bisa makan diliatin orang yang tidak aku kenal 🙁 Kalau diingat kembali, adaptasi adikku yang datang ke Jepang 5 tahun setelah aku jauuuuh lebih cepat daripadaku soal makan ini. Bayangkan, aku belajar makan tachigui soba (mie Jepang yang dimakan sambil berdiri di stasiun) dari dia. Tachigui soba  di stasiun ini MURAH meriah. Beli tiket di vending machine, hanya 350 yen, makan sambil berdiri, slurp 5 menit selesai!  kembalikan mangkoknya lalu pergi. Tidak berlama-lama. Ya aku baru bisa makan itu setelah adikku datang dan mengajariku. Makasih ya Tin 😉  Waktu pertama kali aku tahu bahwa dia sering makan tachigui soba itu, aku bertanya, “Kok kamu bisa sih makan sambil berdiri begitu?” Dia berkata, “Bisa dong. Yang penting murah! Kan aku tidak sekaya kamu yang bisa makan di restoran”…. hmmmm berarti aku manja  ya?

Sekarang tentu saja aku sudah bisa makan sendirian, bisa belanja sendirian, bisa minum kopi sendirian di kedai kopi, bahkan bisa masuk internet cafe/ mangga kissa sendirian. Bisa segala sesuatu (sepertinya sih) sendirian. Tapi awalnya ya itu aku tidak bisa makan sendirian. Bagaimana dengan teman-teman? Tidak bisa melakukan apa sendirian?

Tulisan ini sekaligus mengenang Oma Poel yang jika masih hidup akan berusia 91 tahun pada tanggal 18 Februari besok. I miss you oma!

NB:

Aku menerima beberapa pesan dari mereka yang pernah/sedang tinggal di Tokyo dan merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan waktu itu. Well soal makan memang sulit. Aku masih beruntung karena aku kristen bisa makan semua. Sehingga masalahku HANYA pada soal kebiasaan saja. Tapi mereka yang muslim… sulit sekali untuk mendapatkan makanan yang halal, jika tidak mau masak sendiri. Itu juga menjadi masalah. Mau makan roti atau makanan jadipun di sini kan SUDAH PASTI tidak ada tanda halalnya, kecuali beli di toko khusus. Tapi aku ingat perkataan Alm. Prof Koesnadi waktu kutanyakan soal makanan (beliau pernah tinggal berbulan-bulan di sini dan aku sering bermain ke apartemennya), katanya :”Kan ada kekecualian untuk musafir Imelda”. Ah aku juga kangen pada Prof Koesnadi yang begitu bijak, juga istrinya Tante Nina yang sering membuatkan aku sambal terasi jika aku datang 🙁
Teman-teman yang baru/sedang tinggal di Jepang, semoga bisa mengatasi masalah makan ini dan menjadikannya sebagai suatu pengalaman yang berharga ya.

 

 

Ikut yuuk! GIVE AWAY Pribadi Mandiri

Perhelatan KHUSUS untuk warga Warung Blogger (WeBe) baik bloggerwan maupun bloggerwati. Bila anda BLOGGER tapi belum jadi warga WeBe yaaa sebaiknya daftar dulu deh hehehe  Silahkan membuat  postingan berjudul SOLITAIRE dan SENDIRI, boleh mengintip postingan kami (saya dan Imelda)  tapi tidak boleh mencontek plek ketiplek *GR* di blog masing-masing. Tentu  saja wajib mencantumkan link blog kami berdua, sebagai pemberitahuan pada kami bahwa tulisan kalian sudah tayang. Setelahnya, daftarkan tulisanmu di komen postingan ini seperti biasa:

Nama : Fulan (id facebook : www.facebook.com/fulan)

 Judul : SOLITAIRE dan SENDIRI

URL:

Cantumkan juga : Tulisan ini diikutkan pada perhelatan GIVEAWAY :  PRIBADI MANDIRI yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier dan Nicamperenique.

Ada 3 kriteria untuk calon pemenang, yaitu :

1. Tulisan yang teratas di google.com

2. Tulisan yang terOK menurut kami berdua

3. Tulisan yang terbanyak mendapatkan LIKE dari warga Warung Blogger.  Berarti tulisan teman2 harus diposting di WeBe ya, jangan lupa itu

Perhelatan ini diadakan SATU MINGGU saja, mulai hari ini 17 –  24 Pebruari, 2012, dan pengumuman akan ditayangkan pada tgl. 25 Pebruari 2012.

HADIAHnya aapaaaaa???

Ga pake ribet, ga pake lama, VOUCHER GIFT senilai Rp 100.000,- dari toko buku untuk 3 orang pemenang. Gimana? Menarik toh? Menarik dong!

Semua warga WeBe WAJIB ikut ya … becanda ding … ok, ditunggu partisipasinya yaaaa !

 

 

73 gagasan untuk “Solitaire dan Sendiri

  1. whita K

    hahaha ya ampun mba di WC..ternyata oh ternyata pemalu juga mba ime^,*
    kalo aku ngga bisa bobok sendirian mbaa..hahahaha

  2. nique

    HAHAHAHAHHA *sengaja itu huruf kapital semua biar etok2e ketawanya kerasssss sekali hiihihhi*

    Saya yang mengaku pemalu dan minderan dan tidak pedean dan sensitif ini, sudah dilepas sejak lulus SMK untuk tinggal di Jogja sendiri. Mau tak mau ya harus berani ngapa2in sendirian. Terus terbawa sampai sekarang. Tak ada yang sulit buatku. Dan ga merasa gimana2 juga sih. Tapi soal menonton sendiri, hmm … aku punya pengalaman buruk yang ga bisa bikin aku kapok hehehe *bandel*

    Tunggu aku posting deh ya hehehe

  3. nyunyu

    Pernah sekali seumur hidup nonton bioskop sendirian, ga sampe setengah film udah keluar gara-gara tetangga sebelah sibuk “bikin film” juga, kikuk sendiri jadinya. 😀
    Paling nonton bioskop doang yang ga bisa sendiri mbak, sisanya, sendirian pun okeh…. 😀

  4. mei

    mbak imel apa kabar?
    aku selalu baca blognya mbak imel, tp jarang kasih komentar, hehe… jadi gak eksis deh dan gak mungkin bisa dpt reward 🙂

    aku banyak yang dilakukan sendirian mbak, ke mall sendiri, nonton bioskop sendiri, nongkrong di KFC sendiri, backpacking sendiri, wahhhh… lumayan banyak ya.
    tp kadang kita memang butuh waktu sendiri kan? tapi emang lebih enak sih kalau ramai-ramai.
    aku gak pandai bergaul sih jadi lebih banyak sendirinya.

    aku tersentuh dengan cerita asisten rumahnya. hehe…
    mbak imel baik dan lembut sekaliiiiiii ya…

    hmmm kayaknya aku perlu buat acara khusus silent reader nih. Nanti ya aku buat pengumumannya pada waktu yang tepat. Spy yang silent reader juga bisa dapat reward hehehe
    EM

  5. nique

    oiya, ada ketinggalan, saya klo sama pembantu ga beda2in lho mba.
    Waktu ada mbak-nya Egi dan Reza tuh, ya tidur makan semua sama2.
    Memang kami tak anggap dia orang lain sih.
    Wong dia njagain ponakan ‘kan, kalau dimanusiakan begitu kan dia pasti sayang juga sama anak2 yang diasuhnya 😀

    masalahnya bukan dimanusiakan atau tidak. Kami punya pembantu selalu berdua, jadi tidak bisa dua-duanya tidur di kamar kami. Lalu ada anak jaka (adikku) kan, jadi ngga bisa juga tidur di dalam. ntar masalah lagi. Kalau anaknya balita atau masih SD sih ngga jadi masalah. Makan juga mereka tidak mau. Musti diingat bahwa kami kristen, jadi mereka juga takut kalau ada yang haram kan? 🙂 Lagipula menunya tidak cocok. Kami tidak suka santan dan kebanyakan makanan belanda. Semuanya serba sulit. Kalau memang selera dan agama sama mungkin tidak jadi masalah.
    Kalau pembantu pas cuma satu sering kok kami panggil tidur bersama karena kasian sendiri di kamar belakang. TAPI mereka tidak mau karena kamar kami berAC, mereka kedinginan, sedangkan kami alergi kalau tidak berAC 😀 susah kan?
    EM

  6. prih

    Komen soliter saja ….Solitare di komputer sbg pengalih kala jenuh. asik lho ada pesan tersirat tak ada permainan tanpa jalan keluar yang ada hanya lebih panjang atau ‘tidak biasa’, asal tekun mencoba. senada dengan tugas2 kita. Salam

  7. BlogS of Hariyanto

    dalam kesendirian itu terkadang mengkuatirkan loh..sampai bisa nyasar di WC untuk makan..luarbiasa..
    btw- sebenar-nya mengajak pembantu untuk makan bersama bukan hanya terjadi di Jepang saja..di Indonesia juga banyak kejadian yang sama loh…majikan pembantu duduk satu meja untuk makan..hanya kebetulan saja terkadang tidak terekspos oleh pemburu berita 🙂

    Ya mungkin di Jakarta, atau di sekitarku saja yang tidak pernah mengajak pembantu makan bersama. Mereka biasanya berdua/bertiga lebih suka masak sendiri makanan yang mereka mau dan makan di dapur atau di kamarnya. Kadang mama minta makanan mereka karena lebih suka menu mereka (spt pete, karena kami semua tidak ada yang suka pete)
    EM

  8. Tt

    Di sini kalo eche-echean sering nyebut kami yang single ini ‘solitero’ 🙂

    Apa2 yg gk bs dilakukan sendirian?
    Dulu saya seperti kak Em, tidak bisa makan sendirian. Kebetulan sejak dulu kalau makan selalu ada temennya. Sampai kuliah pun kalau makan bareng2 sama teman satu kontrakan. Saat masuk kerja, mulai kost sendiri, tapi pj Tuhan ada teman yg nemani makan (terutama makan malam, karna kalau makan siang biasanya sama-sama teman kantor). Tetapi wkt dia tdk bs menemani makan malam lagi, saya jadi jarang (tidak pernah) makan malam. Menurunlah berat badan. Drastis. Hehe…
    Akhirnya saya mulai ‘belajar’ untuk melakukan apa-apa sendirian, dan berhasil. Saya bisa makan sendirian, bisa nonton sendirian, bisa jalan2 sendirian, motoran sore hari sambil bawa kamera blusukan ke mana-mana sendirian, datang ke undangan manten sendirian, benerin kran bocor sendirian, apa-apa sendirian….sampai-sampai sekarang saya (dan Bapak) agak takut kalau-kalau saya jadi kebablasan merasa nyaman dengan ‘keserbasendirian’ ini. Hehehe…

    Aku sebelum sampai di Jepang di usia 22 tahun sudah bisa semua sendiri, masak, jahit apa juga bisa.. kecuali makan sendiri. Pernah suatu saat di awal kuliah itu aku bayarin mahasiswi hanya supaya aku ada temennya. Dan dia senang sekali!
    Kalau di rumah sendiri aku sih bisa masak. Yang jadi masalah itu makan sendiri di luar rumah 🙁
    Benar-benar menderita deh. (dan aku juga ngga bisa makan di depan cowo yang aku suka hehehe)
    EM

  9. morning_hen

    Kalau makan sendiri sih aku sering, Kak. Waktu masih ngajar privat, kadang sambil nunggu jemputan, aku makan dulu sendirian di KFC, hehe. Atau kalau lagi jalan-jalan sendiri (yap! i love doing that, hwhw), dan mendadak pengen makan apaaa, ya udah, makan deh sendiri 😀

    Tapi yang paling mantep ya makan di rumah sambil baca buku. Wahhh… Itu gak baik buat kesehatan, abisnya bakal nambahhhh mlulu :p

  10. Lidya

    aku gak suka game kak, main solitaire terkahir waktu kerja sambil nunggu dijemput pulang.
    aku juga gak pernah tuh nonton film bioskop sendiri

  11. arman

    saya juga termasuk orang yang gak terlalu bisa ngapa2in sendirian. bisa sih mungkin bisa ya, tapi gak enak rasanya.

    soal makan sendiri juga gitu. terutama di area publik. kalo makan di rumah sendirian sih masih ok. tapi kalo makan di resto/kantin sendirian? no way deh… makanay dulu pas masih kuliah atau kerja… kalo udah deket jam makan siang, saya paling ribut nyari temen makan. huahahaha.

    tapi sejak disini… kadang saya udah bisa makan sendiri nih. walaupun sebenernya pasti ada aja sih temen yang bisa diajak pergi makan. tapi karena pernah sekali waktu tuh saya lagi mau buru2, dan jam makannya gak pas, jadi saya pergi sendiri. ternyata ok ok aja. huahaha. jadi rasanya so far pernah 2 kali makan sendiri di luar. tapi biasanya kalo sampe harus makan sendiri, saya mendingan beli dibungkus trus makan di meja kantor. jadi at least gak berasa sendirian. hahahaha.

    kalo ke mal sendiri juga mendingan enggak deh. dulu di jakarta sih lumayan sering ke mal sendiri, tapi itu gara2 gym saya di mal. jadi ke mal cuma nge-gym. paling mampir2 ke supermarket. disini pernah sekali rasanya ke mal sendirian. tetep rasanya gak enak. kalo gak terpaksa sih mendingan saya di rumah daripada harus pergi sendirian gitu. 😛

  12. monda

    ya … aku termasuk solitaire juga kali mbak… seringnya apa2 sendiri .
    yang nggak bisa aku lakukan sendiri ya nukang… karena jadinya kacau..
    pernah sok mau macul sendiri di halaman, malah kena pipa air, jadi bocor dan nambah2in kerjaan suami
    sejak itu aku kapok deh nukang sendiri he..he…

  13. Ping-balik: Giveaway : Pribadi Mandiri | nicampereniqué.me

  14. Orin

    Wow…ceritanya menarik seperti biasanya Nechan (aku mau manggil Nechan jg ah kyk uda vizon he he). Namanya kebiasaan pasti sulit untuk mengubahnya ya, jd inget di keluargaku kalo makan sering bareng2 tapi ga di meja makan, melainkan lesehan di depan TV hihihi..

    Yg tidak bisa dilakukan sendiri? mmm…sepertinya hampir ngga ada, beberapa kali nonton bioskop sendiri, makan sendiri di resto malah sering bgt, entah itu artinya aku PD-an atw cuek ya? hahahah

  15. edratna

    Ya ampun…Imel makan di WC?
    Kalau temanku suka belajar di WC..tapi saya percaya yang dimaksud Imel dan temanku pastilah WC yang bersih, sehingga tak seperti WC umum.

    Saya dipaksa oleh keadaan harus sering makan sendiri, walau saya akui, saya lebih lahap jika makan ada temannya. Jadi kalau pengin makan sendiri, misalnya habis beli buku di Mal, saya mojok, ambil buku dan pesan makanan yang ringan saja, yang penting perut kenyang.

    Saya bahkan bisa jalan-jalan sendiri saat ke Brisbane negok si sulung, karena tak mungkin si sulung menemani jalan-jalan karena sibuk kuliah. Akibatnya saya keliru pesan kopi pahit hitam, yang diberikan dalam cangkir keciiil dan pahitnya ampun deh.

    Nonton sendiri baru setelah menikah…..tapi saya jarang nonton sendiri ke bioskop karena lebih suka baca buku. Hmm ternyata baca buku di Cafe, sendirian sambil menikmati secangkir coklat panas dan croissant sedap lho….kok setelah tua saya jadi suka begini ya…habis anak-anak sudah sibuk dengan dunianya sendiri….hehehe. Dan teman lain yang sealiran dengan saya juga tak banyak.

  16. della

    Tapi manusia memang makhluk yang mudah beradaptasi ya Mbak, buktinya sekarang sudah nggak ada masalah dengan makan, kan? 🙂
    Aku juga lebih suka main solitaire daripada main game. Bahagianya tak terkatakan waktu kartunya habis 😀

  17. nh18

    I am a solitaire person …

    Saya biasa melakukan kegiatan sendiri …
    bahkan saya bisa lebih nyaman melakukannnya sendiri …

    (ini ide postingan nih …)

    (saya akan menulis masalah ini aaahhh )

    salam saya EM

      1. nh18

        Lho …
        saya kan bukan anggota WB …

        Tapi anggota atau bukan …
        saya tetap ingin menulis ini … mau ikut meramaikan … walaupun bukan sebagai peserta …

        salam saya Nike
        salam saya EM

        1. edratna

          WB itu apa om…Warung Blogger? Kayaknya saya udah masuk deh, soalnya jika buka FB ku, disitu kok ada link Waroeng Bloger dan IIDN (Ibu-ibu doyan nulis), tapi nggak ingat awal-awal nya dan belum pernah posting, ….biasalah, nggak tahu cara nge link nya….juga malu, lha nulis di blog sendiri masih amburadul.

          Namun istilah solitaire ini dikenal untuk menjelaskan orang-orang yang suka kemana-mana sendiri. Si bungsu awalnya dijuluki “Alone Ranger” karena suka sendirian ke kampus sambil dipunggungnya bawa ransel. Mungkin gara-gara saya melatihnya untuk bisa sendirian ya?

          Tapi benar, cerita EM ini bisa jadi ide untuk tulisan….cuma akhir minggu ini saya udah dicarter ponakan dan teman-temannya untuk ngajari, karena dia mau ujian kompre di sebuah Bank.
          (Waduhh kok jadi kayak postingan sendiri ???)……maaf EM kok nyampah disini.

  18. 'Ne

    Busyeett mbak sampai makan di WC..
    masih mendingWC di Jepang gak bau gitu ya.. kalo di sini mah aduuhh gak kuat deh 😀

    *siap2 buat ikutan GAnya ah..

  19. DV

    Aku malah sebaliknya, dulu biasa apa2 sendiri, sekarang (sejak tiga taon silam) harus share 🙂 Susah-susah gampang hahaha….

  20. marsudiyanto

    Itu pengumuman pasti copy paste tulisan Ni…
    Saya hafal betul tulisan Bu eM… 😀
    Banyak kosa kata di pengumuman itu yang nggak pernah bu eM pakai tiba2 ada disitu. 😀
    (ini komen awal sebelum nanti komen lagi)

    Hahahahaha emang copas pak eM … itu HTML juga copasssss tinggal masukin kata-kata doang., sedangkan warnanya aja tidak sempat diganti 😀
    buru-buru soalnya 😀
    EM

  21. vizon

    Makan di WC…? ini benar-benar sesuatu deh, hehe.. 🙂

    Sedari kecil aku banyak melakukan segalanya sendiri. Mungkin bukan karena mau, tapi karena keadaan sih lebih tepatnya. Coba deh nanti aku bikin postingannya…

  22. Bibi Titi Teliti

    whuaaaaa…
    mba Imel ngadain kontes?
    ikut..ikut…
    tapi boleh curhat di postingan kan?…hihihi…

    Aku mah cuek cuek aja sih makan sendirian mba…
    udah beberapa kali terpaksa harus makan sendiri…

    Tapi modalnya…harus sambil bawa buku/majalah…hihihi..

  23. Mood

    Aku barusan nyoba lagi main solitare kok malah lupa gimana cara mainnya 😛

    Pengalaman tentang makannya unik juga Mbak, sampe sempet2 nya ngumpet di Wc, kalo soal makan aku malah lebih suka makan sendirian, rasanya enak aja menikmati kesendirian dengan makanan itu. Dalam soal hobi aku juga lebih suka melakukannya sendirian, seperti bersepeda sendirian dan memancingpun aku lebih suka sendirian juga.

    Eh, Mbak walaupun kurang suka menulis cerita tapi keknya saya kepingin juga ikutan give away yang diadakan oleh kalian berdua. Semoga saja bisa keburu buat ceritanya.

    Salam.. .

  24. die

    Terakhir main game ini 15 (lima belas tahun yang lalu).
    Kalau urusan serba sendiri sudah dimulai sejak anak pertama masuk Taman kanak-kanak.

  25. fety

    mbak imel, kita samaan, gak bisa makan sendirian hi..hi..sampai sekarangpun klo terpaksa makan sendirian, mesti ada ‘teman’ nya entah komputer, tv atau buku 😀

  26. Sugeng

    Koment yang keluar pertama setelah selesai membaca tulisan ini, “makan di WC jangan dilakukan di toilet Indonesia”. Karena akan ada nuansa dan aroma aneh disana :lol;
    Dan untuk solitaire, saya jarang memainkan seingatku saat pertama kenal komputer dulu baru sering.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  27. Susindra

    Aku 2x punya asisten rumah tangga ketika Binbin bayi, mbak. dan biasanya selalu kuajak makan bareng semeja. Kami sepakat menunda makan sampai dia mau duduk bersama. Awalnya memang asisten itu kaget dan bingung. Tetapi memastikan ART makan layak adalah tugas saya sebagai majikan. Makanya dia betah sekali bekerja. Sayang harus selesai bekerja karena ternyata dia alergi protein dan kakinya mulai bermasalah hanya karena satu gigitan nyamuk. (mungkin diabetes, ya? Karena 2 bulan tak sembuh juga. Akhirnya berhenti bekerja. ART kedua pun mendapat perlakuan sama. Sayang dia hanya sebentar karena bekerja di rumahku hanya tuk batu loncatan agar bisa bekerja di rumah tetanggaku. Sudah 3x bekerja, hanya 1 minggu kemudian mundur, lalu bekerja kembali dan mundur kembali selama 2 tahun ini. Memang labil sekali orangnya.

  28. Ping-balik: Solitaire dan sendiri «

  29. niee

    aaahh pengen ikutan. karena aku juga ada cerita tentang jalan sendiri.. hehehe.. tapi waktunya itu mepet amat.. mudah2an sempet deh ~_~

  30. Lyliana Thia

    ya iyalah mbak di Jepang gak ada logo halal hehehe… Tp pengecualian bagiku, pengalaman tgl di negara orang dulu ya setidaknya dibaca ingredientnya.. At least berusaha semaksimal mgkn apa yg diperintahkan Tuhan itu aja sih.. Hehe..

    Ttg makan bareng asisten rmh tangga.. Memang mereka malu sih makan di meja makan.. Tp kadang aku yg makan di dapur bareng mereka.. Kayaknya gak semua keluarga di Indonesia menjaga jarak spt itu mbak..

  31. Ping-balik: solitaire dan sendiri | SURAU INYIAK

  32. chocoVanilla

    Waah, susah juga ya 😀 Aku juga paling susah makan jika di tempat baru, apalagi soal tidur. Waduuh, bisa gak tidur semalaman 🙁

    Kalo soal makan bareng asisten rumah tangga di rumah memang gak pernah, BuEm. Karena merekanya juga sungkan ya. Tapi kalo makan di luar/resto bareng-bareng, kami bisa duduk satu meja. Mereka juga gak bsia nolak, masa iya mau beda meja 😀

    Sayang saya gak bisa ikut kontesnya, belum jadi warga warung siy 🙂

  33. bowosoedadi

    Waaah…. cerita yang menarik, senang sekali bisa baca postingan ini, menemani kantuk yang belum datang (tepat 01:38 dini hari).
    apalagi kalimat yg menceritakan ini :
    “belajar makan tachigui soba (mie Jepang yang dimakan sambil berdiri di stasiun) dari dia. Tachigui soba di stasiun ini MURAH meriah. Beli tiket di vending machine, hanya 350 yen, makan sambil berdiri, slurp 5 menit selesai! kembalikan mangkoknya lalu pergi. Tidak berlama-lama. Ya aku baru bisa makan itu setelah adikku datang dan mengajariku. Makasih ya Tin 😉 Waktu pertama kali aku tahu bahwa dia sering makan tachigui soba itu, aku bertanya, “Kok kamu bisa sih makan sambil berdiri begitu?” Dia berkata, “Bisa dong. Yang penting murah! Kan aku tidak sekaya kamu yang bisa makan di restoran”…. hmmmm berarti aku manja ya?”.
    Jadi nambah wawasanku akan hal itu, lalu berkata : “Oh..seperti itu”

    Salam, 🙂

  34. nanaharmanto

    Wah… nggak kebayang makan di WC hehehe…. belum pernah tuh dan kayaknya nggak akan pernah deh…

    Aku pernah kesulitan untuk bisa makan di lingkungan rumah sakit, kesannya makan di tempat yang “penuh penyakit” dan ngebayangin di salah satu ruangan-entah-di mana- ada banyak darah karena operasi, kecelakaan dll… hiiiyy..

    Aku akhirnya bisa makan di RS karena aku opname. mau nggak mau, terpaksa harus makan di RS. Sekarang sih udah bisa makan di lingkungan RS, misalnya di kantin RS (kalau terpaksa).. tapi kalau makan di luar ruangan rawat (seperti biasanya para penunggu pasien sering bawa bekal dan makan sambil duduk di lantai/koridor RS, terutama RSUD tuh) :D, wah , bener-bener nggak bisa tuh aku… Orang Jawa bilang “nggak kolu” — nggak bisa nelan/menikmati..

  35. MataSapi

    waduh, sampe makannya juga di WC ya, LOL.
    saya termasuk yang apa2 sendiri sih, jalan2, nonton, makan, pokoknya apa aja ga masalah sendiri. dari kecil juga sudah terbiasa begitu.

    tadi pas baca cerita tentang ga bisa makan sendirian ini, pikiranku langsung melayang ke postingan 12 tadi, salah satu hal yang mbak tidak disukai adalah “picky eater”. nah, saya mikirnya, ga suka picky eater, tapi sendiri kok difficult eater juga ya, haha. difficult dalam arti ya itu, mo makan juga banyak kriterianya, haha. ya, saya ngerti picky eater maksud mbak pasti beda ya, yang artinya milih2 makan, hehe. (padahal saya dulu picky eater loh, walo udah blajar mulai ga picky lagi sejak merantau. lagipula i know it’s bad). cuman saya melihat sedikit korelasinya aja. hehe.

  36. Ping-balik: Solitaire Dan Sendiri « Blognya Sugeng Harjono

    1. eksak

      haha, stumon lucu! ikut GA dulu baru kenalan? kayak gue, nih! kenalan dulu, “salam kenal, mbak! boleh ya ane ikut GA-nya? dadaaaa… 🙂 “

  37. Mugniar

    Salam kenal mbal Imelda. Cerita ttg kesendirian di negeri orang selalu menarik dibagi dan dibaca ya mbak. Oya, saya sudah daftar di blog mbak Nique. Cukup hanya di situ saja kan mbak?

  38. Ping-balik: Solitaire dan Sendiri | Andy Hardiyanti Hastuti

  39. Susan Noerina

    Mba Imelda, salam kenal *heheh sebenernya mah saya udah kenal Mba coz sering mampir imari* 🙂

    Saya barusan ikut GA nya. Sampe ngos2an mo daptar soale sama Mba Nique pintu gerbangnya sempet ditutup lebih awal. Tapi alhamdulillah bisa juga hehehe

    Maap Mba kalo tulisannya panjang banget. Moga2 ga pingsan bacanya 🙂

    Sukses yah Mba GA nya 🙂

  40. Ping-balik: SOLITAIRE DAN SENDIRI « The Ordinary Trainer writes …

  41. Ping-balik: Pengumuman GA : Pribadi Mandiri | nicampereniqué.me

  42. Ping-balik: Twilight Express » Blog Archive » Solitaire dan Sendiri (2)

  43. Ping-balik: GIVE AWAY | The Ordinary Trainer writes ...

Komentar ditutup.