Gunung Sempit

8 Jan

Ini merupakan tulisan pertamaku, di tahun baru, di rumah baru, di desa.

Keputusan ingin pindah sebetulnya sudah sejak akhir tahun 2017, ketika Riku mulai ikut ujian-ujian masuk SMA. Karena memang kamu berencana pindah ke Saitama, maka dia tidak bisa mengikuti ujian masuk SMA Negeri di Tokyo. Pilihan dialihkan ke sekolah swasta di sekitar jalur kereta yang menuju ke Saitama. Tapi akhirnya pilihan jatuh pada sebuah sekolah swasta yang terletak di Sayama-shi. Sekolah swasta ini konon ranking 1 di daerah Saitama sehingga sebetulnya Riku tidak percaya diri bisa lulus. Tapi keuntungan mengikuti ujian sekolah swasta adalah, kamu bisa tahu kamu akan diterima atau tidaknya jauuuh sebelum teman-teman seangkatan mengikuti ujian masuk sekolah negeri. Karcis itu sudah di tangan! Meskipun Riku tidaklah pintar, dia sudah mengikuti bimbingan belajar sejak kelas 5 SD dan sudah mengikuti ujian try out beberapa kali. Dan hasilnya rata-rata saja selama ini.

Dia sangat kurang di nilai bahasa Inggris, tapi top di kelas bahasa Jepang! Aneh bin ajaib kan? Anak yang blasteran kok tidak bisa bahasa Inggris, malahan jago bahasa Jepang? Sampai suamiku berkata, “Kamu harus berterima kasih sama mama. Karena mama tidak memaksa kamu belajar bahasa lain!” Di rumah kami, memang bahasa pengantarnya bahasa Jepang. Riku tahu kata-kata/kalimat mudah bahasa Indonesia. Tapi dia tidak merasa perlu belajar! (Ini lain dengan Kai, yang sepertinya memang bisa membandingkan bahasa-bahasa dengan mudah… tapi tidak dipakai 😀 Soal komunikasi, Riku lebih jago … apapun bahasanya). Satu yang kutahu pasti mengapa Riku top di kelas bahasa Jepang adalah karena dia kutu buku! Tidak semua buku dia baca loh, dia punya selera tersendiri dalam memilih bacaannya.

Jadilah Riku diterima masuk ke SMA B di Saitama. Waktu berlalu begitu cepat, tapi aku belum bisa menemukan rumah yang pas untuk kami. Syaratnya terlalu banyak, maunya murah, dekat stasiun dan ada parkir untuk 2 mobil. Sudah ada 2 rumah yang lepas dari tangan kami, keburu dibeli orang lain. Tapi memang, jodoh tidak kemana! Akhirnya kami menemukan rumah yang sesuai syarat kami, meskipun kami harus menghapus syarat parkir 2 mobil. Hanya bisa 1 mobil! Tapi karena rumah ini dekat stasiun, hanya 5 menit jalan kaki, kami tidak perlu lagi mobil tambahan! Bungkus! 😀

Masalahnya kapan pindahan? Kami sudah bisa menempati rumah baru itu sebetulnya sejak Oktober, tapi…. aku sibuk setiap akhir pekan. November pergi ke luar kota/ ke Jakarta. Yo wis…. kami tetapkan Desember saja yuk! Jadi sementara kami tinggal di Tokyo, Gen dan Riku mengangkut barang-barang sedikit demi sedikit untuk di taruh di rumah lama. Sekalian ngantor dan sekolah.

Tapi ternyata … barang kami terlalu banyak untuk bisa selesai akhir Desember. Kami memang tidak mau memakai jasa pindahan, karena ingin menyortir barang apa yang hendak dibawa dan apa yang hendak dibuang. Karena barang-barang eletronik yang sudah kami pakai 19 tahun (sejak pertama tinggal) umurnya juga sudah terlalu tua dan patut diganti. Dan untuk membuang barang ini butuh waktu yang tidak cepat! Jadi, aku masih harus bebersih rumah lama meskipun sudah tinggal di rumah baru nih sekarang hehehe. Horang kayah, bisa tinggal di dua rumah \:D/

Tapi sejak bulan Oktober – November – Desember ini, kami amat menikmati percakapan-percakapan yang terjadi di dalam keluarga kami. Selama perjalanan melewati jalan tol yang menghubungkan Tokyo dan Saitama, pulang balik, banyak cerita yang bisa dinikmati. Family Quality Time.

Kami akhirnya resmi menjadi KENMIN (warga prefektur) dari TOMIN (warga Tokyo) tgl 26 Desember lalu.

Jumlah warganya pasti sudah bertambah 4 deh … (tapi suamiku bercanda, mungkin bertambah dengan kita, tapi berkurang dengan kematian lansia yang memang banyak tinggal di sini juga… ih kurang ajar deh hehehe)

Lalu kenapa judulnya Gunung Sempit?

Ya karena aku sekarang tinggal di Sayama, dengan kanji 狭山 sempit dan gunung (dibalik menjadi gunung sempit) . Dan memang betul karena dikelilingi gunung, udara di sini 3-5 derajat lebih dingin daripada di Tokyo! Brrrr….

mendaftar menjadi warga di sini tepat usia pernikahan kami yang ke 19

Ada satu keuntungan sejak kami pindah, yaitu mudah mencari makan di luar! Karena letaknya hanya 5 menit dari stasiun, dengan jalan kaki, kami bisa mencoba banyak restoran yang ada di sekeliling stasiun. Dan entah kenapa, di daerah kami juga banyak restoran ramen!

Semoga di tahun yang baru, aku bisa menemukan waktu lebih banyak sehingga bisa tetap menulis di Twilight Express ya.

8 Besar dari Nerima 2018

31 Des

Seperti biasanya di penghujung tahun, sejak tahun 2010, kami sekeluarga menetapkan 10 berita besar dari keluarga kami. Tapi aku sendiri menetapkan 8 saja, dan kuberi nama 8 Besar dari Nerima. Tahun depan, judul akan berganti, karena… kami pindah rumah.

  1. Imelda, seperti biasa sibuk sepanjang tahun. Setelah Februari terbit kamus Bahasa Indonesia, masih tetap mencatat perbaikan dan kata-kata yang belum termuat di kamus yang diterbitkan Shogakukan itu. Apalagi aku punya seorang murid yang rajin bertanya, sehingga membuatku tertolong karena dia sering menemukan kata yang terlewatkan tidak tercetak. Hampir setiap Sabtu, aku juga tidak berada di rumah karena ada kegiatan Rumah Budaya Indonesia (RBI) atau Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA). Kadang setelah acara pagi/siang, dilanjutkan sampai sore/malam dengan meeting-meeting. Kalau Kai berada di rumah pada Sabtu, aku mesti masak ekstra untuk makan pagi, siang dan malam. Untung anakku ini bisa menyiapkan makanan sendiri, sehingga kalau sampai aku tidak sempat memasak, dia akan masak telur atau makan cup noodle sendiri. Yang kasihan aku jadinya tidak pernah bisa mengikuti open school di SD nya. Sebagai puncaknya aku mesti ke Indonesia (sendiri) seminggu untuk menghadiri Kongres Bahasa Indonesia di Jakarta.
  2. Riku lulus SMP dan masuk SMA swasta di Saitama (April). Dengan keinginan sendiri dia mendaftarkan persiapan sakramen Krisma di gereja Kichijoji. Pada hari Krisma itu aku pertama kali bertemu dengan Uskup Tokyo Tarsicius Kikuchi Isao SVD. Dengan malu-malu, aku minta ijin untuk mencium cincin Uskup, sebuah kebiasaan yang tidak dilakukan oleh umat Katolik Jepang. Riku juga setelah SMA menjadi leader di Sekolah Minggu. Kelihatannya cukup banyak murid SD (terutama kelas 1 SD baik perempuan atau laki-laki) yang sayang pada Riku sehingga selalu menempel pada Riku.
  3. Kai menjadi kelas 5 SD dan mendapat wali kelas laki-laki yang baik (kelas 4 wali kelasnya perempuan dan… duh galak banget! Aku aja takut hahaha) . Untuk pelajaran Kokugo (bahasa Jepang) dan Matematika, Prakarya dan IPA dia bisa (dan bagus), tapi jangan disuruh kelas olahraga dan musik. Ada satu kali dia boikot sekolah setelah beberapa kali minta aku tulis surat ke gurunya supaya tidak usah olahraga karena sakit perut. Waktu dia minta tidak masuk sekolah, aku pikir ini sudah puncaknya. Jadi aku ajak dia malahan pergi ke Museum berdua. Ada satu masa aku juga kewalahan menghadapi Kai yang masa 反抗期. Aku tahu ada masalah pada dirinya sendiri (berat badan berlebih) dan dia juga sering dibully temannya akibat gemuknya. Untung saja setelah kami sudah pasti akan pindah rumah, dia mulai tidak enggan lagi ke sekolah (toh sudah tinggal sedikit lagi di sana). Padahal gurunya senang pada Kai karena Kai dewasa dan selalu baik pada temannya. Oh ya di kelas 5 dia menjadi 飼育員 petugas memelihara kelinci di sekolah.
  4. Berempat kami bisa berlibur bersama ke Jakarta, sekaligus merayakan ulang tahun papa ke 80. Gen sudah 6 tahun (sejak mama meninggal) tidak ke Jakarta, sehingga senang sekali kami sekeluarga bisa pergi bersama. Selain merayakan ultah papa di Jakarta, kami juga bisa pergi ke Galesong, Makassar. Untuk Gen setelah 16 tahun baru bisa ke Makassar lagi. Oleh Prof. Aminuddin Gen diberi padaengan menjadi Daeng Bella. Kami juga bisa bermain bersama anak-anak Galesong dan memberikan sedikit buku-buku bacaan untuk mereka. Untuk proyek 100Famous Castle kami, cuma dapat 1 cap tambahan yaitu Gifu Castle. Semoga tahun depan bisa nambah deh.
  5. Anak-anak semakin besar dan sudah bisa berdiri sendiri. Mereka berdua pergi menginap di summer camp bersama teman-teman gereja. Riku hampir setiap Sabtu pergi ke gereja untuk mempersiapkan bahan mengajar Sekolah Minggu bersama teman-temannya, dan makan bersama. Berkat teman-teman ini, dia juga bisa melebarkan sayap mengunjungi sekolah-sekolah dan kegiatan lain. Dengan teman akrabnya di SMA, dia juga pergi ke Harajuku dan membeli coat! Riku juga menjadi pekerja sukarela di Tokyo International Film Festival, dan harus menjadi MC berbahasa Inggris (baca sih)…. tapi lumayanlah, karena anakku ini memang tidak bisa berbahasa Inggris (malas belajar bahasa Inggris) . Semoga dia semakin berusaha memperbaiki bahasa Inggrisnya. Kalau bahasa Jepang sih dia termasuk nomor atas di kelas, terutama Bahasa Jepang Kuno. Selain itu entah mengapa dia juga mempelajari Bahasa Jerman pada guru yang buka kelas tambahan di SMAnya. Dan peserta kelas bahasa Jerman itu cuma 3 orang! Duh kok ceritanya Riku melulu ya. Untuk Kai dia sering pergi beli buku sendiri di stasiun dekat rumahku, dan rekor dia pergi naik kereta sendiri sampai Saitama! Memang dia membawa HP tapi bukan smartphone, sehingga untuk berhubungan dengan dia, harus melalui email! (No Line, No WA)
  6. Dalam bersosialisasi, aku mendapat banyak pertemuan pada tahun 2018. Bertemu banyak guru-guru BIPA, termasuk tokoh bahasa Indonesia Ibu Felicia, yang dulu jaman aku mahasiswa pernah ikut kuliahnya. Banyak teman baru dari grup Wanita Indonesia Berkarya di Jepang (WIB-J) yang tinggal di Jepang. Banyak belajar kebudayaan baru dengan berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai suku, guru-guru seni dan kelompok budaya Indonesia di Jepang. Dan saya hanya berharap Kai bisa melebarkan sayap, bisa mendapat tempat baru di Saitama nanti setelah pindah sekolah. Semoga dia bisa bersosialisasi dan lebih dewasa. Satu yang bisa dicatat adalah Kai dan Gen bisa melihat Prince Akishino dan Princess Kiko sekeluarga waktu mengikuti konser 60 tahun, yang saat itu aku tak bisa hadiri karena harus ikut pertemuan PTA SMA. Ya, aku tetap menjadi petugas PTA di SMA, tapi kegiatan PTA di SMA tidak sesibuk waktu di SMP sehingga tidak memberatkanku.
  7. September kami akhirnya berhasil mendapatkan rumah di Saitama. Sebetulnya keinginan pindah rumah sudah lama, terutama sejak Riku berhasil masuk sekolah favorit di Saitama. Tapi karena tidak seperti beli tahu di pasar, kami belum bisa mendapatkan rumah yang menarik dan memenuhi kriteria kami. Akhirnya setelah kembali dari Jakarta, dapat! Tapi, kami belum bisa pindah langsung, karena memikirkan Kai yang harus pindah sekolah tiba-tiba di tengah semester. Aku pun mesti pergi ke Jakarta dan Nagoya bulan November… pokoknya Oktober, November, Desember sibuk deh! Sedikit-sedikit kami membawa barang sambil Gen dan Riku ke sekolah dan tempat kerja, taruh di rumah sana. Akhirnya kami memutuskan untuk melaporkan kepindahan di kelurahan setempat pada tgl 26 Desember kemarin, dan menggunakan liburan tahun baru untuk memindahkan barang-barang besar. Nanti cerita lagi tentang lingkungan kami yang baru ya.
  8. Setiap pertemuan ada perpisahan. Aku kehilangan seorang kakak sepupu yang meninggal di Jakarta. Di Jepang pengarang terkenal Kako Satoshi yang karyanya pernah aku ulas di TE ini : “Anda tahu PLTA Cirata?” atau juga “Oh Dewi Sri” meninggal. Ada dua anggota gereja Meguro yang meninggal muda. Mengingatkanku bahwa umur tak bisa diukur dan kematian tak bisa diprediksikan. Akhir-akhir ini juga di sekitar rumah kami banyak toko dan tempat yang tutup. Circle K di dekat halte bus kami tutup dan dampaknya setiap malam tempat itu terasa gelap sekali. Sebuah toko alat tulis yang dulu kami sering beli, ditutup dan tempatnya menjadi apartemen. Toko ikan hias langganan kami juga tutup. Banyak layanan yang kami ikuti juga menghentikan layanannya. Di rumah Nerima ini juga berturut-turut lampu mati, dan kami malas mengganti/memperbaiki karena toh akan pindah rumah. Yang paling besar mungkin adalah mobil. Karena pas jatuh tempo perpanjangan STNK (shaken habis), kami buang saja karena toh sudah 9 tahun dipakai. Sudah banyak “bonyok”nya bekas aku tabrakin 😀 (parah nih kiri belakang aku adalah 死角 buatku). Jadi kami sekarang pakai mobil rental 😀 . Siap-siap dengan semua yang baru… Semangat baru juga. Tahun baru segalanya baru 😀

Ada awal, ada akhir, Ada buka ada tutup. Dengan tulisan ini, Aku ingin menutup lembaran kehidupan kami sekeluarga di Nerima, Tokyo … dan memulai kehidupan di Sayama, Saitama di tahun yang baru dengan semangat baru.

Merry Christmas and Happy New Year 2019! よいお年をお迎えください。

6 Bulan Berlalu

23 Des

Aduh, pertama kali ini aku menelantarkan blogku sampai 6 bulan! Tulisan terakhir bulan JUNI! Unbelievable…. hiks

Padahal aku pernah berkata bahwa aku ingin ngeblog sampai mati loh! (Nyengir kecut 😀 ). Keinginan menulis itu besar sekali, dan topik yang ingin ditulis juga banyak! Tapi kegiatan di dunia nyata tidak bisa dimungkiri banyak sekali menyita waktu dan tenagaku. Meskipun begitu aku juga masih tetap menulis untuk sebuah komunitas di FB mengenai bahasa an kebudayaan Jepang. Aku sudah minta ijin untuk nanti memuatnya di sini, sebagai dokumenku pribadi dan membagikannya bagi teman-teman pembaca yang bukan anggota grup tersebut. Nanti ya…. masih sibuk hehehe 😀

Kalau mau menoleh kembali, bulan Juli aku harus membuat ujian akhir semester dan laporan semester sebelum liburan musim panas. Liburan musim panas tahun ini aku lewatkan 10 hari di Indonesia, tepatnya di Jakarta, Makassar, Semarang dan Solo! Bisa bayangkan kan… 10 hari di 4 kota 😀 memang gila aku ini 😀 Biasanya aku menulis tentang perjalananku, tapi kali ini, untuk upload foto-foto pun aku tidak ada waktu.

Daeng Senga dan Daeng Bella di Galesong, bersama Riku dan Kai

Agustus kembali dari Jakarta, aku mengikuti upacara bendera pada saat proklamasi di Wisma Duta, bersama teman-teman. Juga mengadakan workshop Gamelan Sunda untuk Rumah Budaya Indonesia (RBI). Sendirian kali ini, karena partnerku sedang naik haji.

Bulan September disibuki dengan Seminar Tahunan APPBIPA (Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) cabang Jepang perdana. Seminar ini cukup sukses karena berhasil menghadirkan 4 pembicara ahli.

Oktober bulan Bahasa! Aku punya gawe besar bulan ini, yaitu melaksanakan Makassar Day. Persiapan sudah dimulai sejak Juli, termasuk belanja-belanja di Makassar. Penelitian untuk menyajikan keterangan tentang Makassar juga aku lakukan disambi kerja lain. Untunglah peserta cukup senang mendengarkan penjelasanku mengenai upacara Mapacci (midodareninya orang Makassar).

Seminggu setelah acara RBI, aku terbang ke Jakarta (lagi) untuk 6 hari guna mengikuti Kongres Bahasa di Jakarta. Sayangnya pas aku ke Jakarta, adikku yang tinggal di Jakarta sedang dinas ke Amerika hahaha. Selisih jalan deh. Untung ada Jumria yang selalu menemaniku ke mana-mana.

Selalu sempat berswafoto meski sedang kongres 😀

November diisi dengan seminar yang biasa disebut gakkai. Tahun ini diadakan di Nanzan University, Nagoya. Dan untuk pertama kalinya aku membawakan presentasi tentang APPBIPA sih. Tahun depan sepertinya harus presentasi yang ilmiah sedikit ah. Semoga. Kegiatan RBI tabrakan dengan gakkai, sehingga kali ini partnerku sendirian mengelola workshop wayang.

Desember bulannya menutup buku dan Natal! Tapi tanggal 8 Desember acara RBI adalah Dayak Day. Bersama sahabat Anyan yang asli Dayak Benuaq berhasil memberikan sedikit pengetahuan tentang Dayak kepada orang Jepang. Natal bersama KMKI (Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia) tgl 15 Desember merupakan aktifitas terakhir, tapi kuliah terakhir baru tanggal 22. Ada satu kelas yang sudah ujian, tapi 2 kelas lainnya baru tgl 11 Januari. Yang penting sekarang… istirahat dan beberes 😀

Kegiatan 6 bulan digabung dalam satu tulisan. Keterlaluan yah :D. Tapi daripada aku menutup tahun 2018 dengan tulisan bulan Juni, lebih baik dengan tulisan tgl 23 DESEMBER kan? 😀

Merry Christmas all <3

Karyawisata

25 Jun

Aku mengaku dulu ya, baru bisa menulis lagi setelah menyelesaikan hutang-hutang tulisan lain. Dan kebetulan malam ini belum bisa tidur (kebanyakan minum kopi) jadi aku pikir, ingin memulai kembali menulis di TE.

Hari Kamis yang lalu, Kai pergi study tour a.k.a karyawisata ke daerah Nagano. Memang 移動教室 ini merupakan program dari sekolah dasar terutama kelas 5 dan 6 (高学年)sehingga tentu saja kakak Riku juga sudah pernah (bisa baca di sini dan sini). Jadi aku sudah tahu kira-kira apa saja yang harus dibawa Kai.

Dalam shiori しおり(buku panduan) tercantum bahwa mereka harus membawa satu tas besar, dan satu tas kecil. Dalam tas besar diisi dengan baju dan baju dalam untuk 3 hari, handuk dan peralatan mandi, sedangkan dalam tas kecil, dimasukkan jaket seandainya dingin, jas hujan, payung lipat, bekal makanan dan tempat minum, serta plastik etiket yaitu plastik untuk membuang sampah, atau kalau mabuk dan m*nt*ah. Selain itu juga dompet kosong, karena pada hari terakhir mereka akan diberikan uang saku (yang sudah orang tua siapkan) untuk membeli oleh-oleh.

Kira-kira 3 minggu sebelum berangkat, kami sudah mendapat daftar apa saja yang harus dibawa (supaya bisa disiapkan jauh hari), juga berapa biaya yang dibutuhkan. Karena sekolah kami ini menginap di villa milik pemerintah daerah, biayanya sangat murah. Untuk tiga hari hanya 4900 yen, tentu sudah termasuk transportasi sewa bus dan tiket masuk tempat-tempat yang akan dikunjungi. Selain uang biaya, kami orang tua juga boleh memberikan uang saku untuk belanja oleh-oleh yang sudah ditentukan maksimum 2000 yen. Jumlah yang tidak berbeda dengan 5 tahun lalu waktu Riku kelas 5 SD. Uang 2000 yen ini kami masukkan amplop tertutup, yang akan dipegang gurunya sampai waktunya berbelanja. Ini untuk keamanan anak-anak sendiri, dan mencegah keinginan mencuri pada anak-anak (dan atau orang luar). Dianggap batas maksimum 2000 sudah cukup untuk berbelanja oleh-oleh, dan tidak ada orang tua yang memberikan lebih dari yang sudah ditetapkan, meskipun mereka kaya. Peraturan adalah peraturan yang harus dipatuhi.

Perlu diketahui, anak SD di sini tidak ada yang membawa uang ke sekolah. Mengapa? Ya karena tidak perlu uang juga. Transportasi dengan jalan kaki dari rumah. Juga tidak perlu untuk jajan, karena di sekolah disediakan makan siang. Minum pun tidak perlu karena ada “fountain” yang dipasang di sekolah. Kalaupun membawa tempat minum, kami sudah diperingatkan untuk hanya mengisinya dengan air atau teh tawar. Tidak boleh teh manis!

Lalu pertanyaannya, apakah anak SD dapat uang saku? Saya sendiri tidak pernah memberikan uang saku kepada Riku dan Kai selama SD. Riku dulu memang sering bermain dengan teman, tapi kalaupun perlu uang untuk beli jajanan, aku berikan per hari dan hanya 100yen (cukup untuk membeli jajanan murah). Kalau Kai, dia tidak pernah main di luar bersama teman, sehingga tidak pernah perlu uang. Tapi kalau mau ditanya berapa kira-kira uang saku anak SD, ya sekitar 1000-2000 yen per bulan. (Saya baru berikan sejumlah ini waktu Riku di SMP)

Kembali lagi ke karyawisata Kai. Hari pertama mereka harus berkumpul di sekolah pukul 7:20, untuk kemudian pergi ke pabrik Lotte di Saitama. Pabrik lotte ini adalah pabrik yang membuat permen karet dan kue-kue snack untuk anak-anak. Mereka membuat kue “Koala no Marchi” khusus bertuliskan nama sekolah mereka.

Setelah itu mereka langsung ke tempat penginapan yang merupakan penginapan milik pemda Nerima, sehingga biayanya juga murah sekali. Malam mereka mengadakan camp fire, dan mereka bersama-sama menarikan gerakan waktu pesta olah raga.

Keesokan harinya, Kai yang biasanya tidur jam 11 pada acara menginap ini harus tidur jam 9, jadi dia bisa bangun sebelum teman-teman lainnya bangun jam 6. Dia bertugas sebagai penyiap makanan, sehingga dia membawa makanan untuk teman-temannya ke meja makan. Setelah selesai makan, dia harus mengelap meja dan meyakinkan bahwa meja telah bersih.

Hari itu mereka mendaki 3 gunung dan diakhiri dengan makan bekal yang disiapkan di dalam bus. Memang kegiatan utama hari itu adalah mendaki gunung. Untung saja anakku yang “gede” itu bisa mendaki dengan dibantu teman-temannya. Setelah kembali ke penginapan, mereka bermain dodge ball dan melakukan “kimodameshi” (mencoba nyali keberanian). Mereka harus melaksanakan tugas dalam kegelapan.

Hari ketiga mereka bersiap untuk pulang termasuk membereskan kasur yang mereka tiduri. Saat ini Kai dipuji teman-temannya karena menegur seorang teman yang tidak rapih. Kata mereka, “Lain kali kalau pergi lagi Kai saja yang jadi ketua kelompok deh”. Entah mengapa, aku bangga sekali mendengar cerita ini. Anakku bisa dipercaya, meskipun secara fisik dia tidaklah kuat karena gemuk.

Setelah makan pagi (tentu Kai bertugas lagi), mereka mengadakan upacara penutupan Karya wisata. Kemudian berangkat ke Museum dan Kebun Apel tempat mereka mempelajari tentang penanaman dan panen apel. Baru terakhir mereka dibagikan amplop yang berisi uang (dari orang tua) untuk berbelanja. Kai membeli potato chips yang pedas, serta beberapa snack yang menurutnya “tidak ada di Tokyo”. Katanya, “Mama lucu deh. Tempat aku beli potato chips itu kan di atas gunung, jadi waktu turun ke Tokyo, kantong potato chipsnya kempes karena ada perbedaan tekanan!”. Lalu mama dengan kurang ajarnya  berkata, “Sayang perutnya Kai tidak kempes ya”…. hahaha

Aku perhatikan memang dengan adanya kegiatan bermakan dan karyawisata itu, sekembalinya anak-anakku berubah, lebih bertanggung jawab dan tidak manja lagi…. kesepian deh mamanya jarang dimintakan “peluk doong” lagi 😀

 

Youtuber

28 Apr

Aduh maaf, ternyata halaman TE sudah berdebu tebal, akibat aku tidak tulis-tulis 😀 Hampir 3 bulan ya? Sebelum ambruk TEnya aku tulis sedikit ya 😀

Tahu Youtuber? Kalau anak muda pasti tahu deh. Karena “youtuber” atau pembuat video clip di youtube ini menjadi salah satu jenis pekerjaan terbaru di kalangan anak-anak di Jepang. Mereka あこがれる terpesona pada “artis” youtube yang bisa menjelaskan atau membawakan sesuatu dengan menarik, sehingga “pengikut” atau followernya banyak.

Ada beberapa yang terkenal di Jepang, dan salah satunya sering ditonton anak bungsuku, Kai. Tapi karena aku sering marah karena tidak suka suaranya, dia jadinya sering menonton doraemon atau pokemon di youtube. TAPI sebetulnya ada beberapa youtuber yang dia suka, yang isinya mengadakan eksperimen-eksperimen. Nah, kalau yang begini aku juga tidak bisa melarangnya.

Suatu hari dia bilang padaku: “Mama aku mau menyiangi ikan! Aku tonton rupanya menyiangi ikan itu ada 2 macam ya? 二枚おろし Nimaiosroshi (membelah ikan menjadi dua)  dan 三枚おろし (membelah ikan menjadi tiga) ya. Aku mau coba”

atas nimai-oroshi bawah sanmai-oroshi

Jadi aku mengajak dia pergi ke pasar bersama dan membiarkan dia memilih ikan apa yang mau dia potong. Begitu sampai rumah, dia ambil mulailah menyiangi ikan, sambil mengingat yang dia lihat di youtube. Aku berikan contoh, terutama waktu membuang insang ikan. Ada satu ikan yang akhirnya dia buat untuk sashimi (ini sulit karena harus mencabut semua duri-durinya), sedangkan yang lainnya aku bakar.

Hari yang lain, dia minta aku belikan kepala susu 生クリーム sepulang ngajar. Tanpa tanya untuk buat apa, aku belikan saja. Begitu pulang, dia masukkan kepala susunya ke dalam botol plastik dan mengocoknya. Katanya dia mau membuat mentega 😀

Sudah dari hari Jumat dia minta aku belikan (lagi) kepala susu. Tapi karena aku tidak bisa mampir toko sebelum pulang, tadi siang aku suruh dia beli sendiri. Rupanya dia mau membuat es krim vanila. Begitu pulang dia langsung siapkan alat-alat dan dia buat sendiri. Aku hanya menyediakan tempat kecil supaya bisa dimasukkan lemari pembeku.

Dia salah takaran gulanya, sehingga tidak manis sama sekali! Tapi aku bilang padanya, toh nanti kalau sudah jadi bisa dikasih madu, atau sirup atau karamel.

Es krim hasil eksperimen Kai

Anakku yang satu ini lucu juga. Dia tidak hanya mau eksperimen masak, tapi juga yang lain. Sekitar seminggu lalu dia minta dibeikan pemoles logam, dan dia poles uang logam 10 yen jadi mengkilap. Rupanya dia menemukan uang logam 10 yen langka tahun 64 Showa (1989)  yang hanya berlangsung  seminggu karena kemudian Kaisar Showa meninggal dan diganti Heisei. Setelah dia poles mengkilap, dia bawa ke sekolah untuk diperlihatkan pada gurunya… yang sangat heran tentang keberadaan uang Showa64 itu.

Tapi untung bahan yang dia cari untuk melakukan eksperimen itu masih terjangkau untuk dibeli. Kalau dia minta yang aneh-aneh, akunya yang pusing 😀

Bank Doa

23 Jan

Ada seorang temanku yang menyebut ibunya sebagai “Bank Doa”, dan aku setuju sekali. Memang seorang ibu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya kan? Sayang sekali Bank Doa-ku sudah tidak di dunia lagi, sehingga aku tak bisa memintanya mendoakanku, mendapatkan pelukan dan tanda salib di dahi setiap aku menghadapi ujian-ujian berat dan bepergian. Aku tahu ibuku juga merasa cemas waktu kami anak-anaknya ujian, dan berdoa setiap hari untuk kami.

Kemarin tgl 22 Januari 2018, aku merasakan perasaan seorang ibu jika anaknya ujian! Maklum, biasanya aku sendiri, boleh dikatakan tidak pernah panik/ grogi kalau mengikuti ujian. Malah lebih panik mama daripada aku sendiri 😀 .

Ah, aku sampai sekarang merasa “berdosa” menertawakan mama yang ketakutan, panik waktu mau ujian lisan les Bahasa Inggris di LIA dulu.   Dulu waktu aku SMA, mama, aku dan adikku bertiga mengikuti les bahasa Inggris di LIA (beda-beda tingkatan kelas sih). Kami selalu naik bus bersama ke Slipi, atau kadang kami “nunut” teman kami dan teman mama yang juga les di LIA dan tinggal hanya beda 100m dari rumah kami. Ibunya bisa menyetir jadi kami bisa pergi bersama naik mobil. Nah setiap term ada ujian lisan dan tulisan. Padahal mama itu jago bahasa Inggris, tapi setiap ujian lisan mesti nervous dan ternyata mengantongi rosario! Mungkin sambil menunggu giliran dia berdoa tuh. Lalu aku tertawakan dan bilang, “Aduh mama segitunya nervous sih?”…..

Kualat! Ternyata setelah itu aku pun selalu membawa rosario kalau ujian, dan kemarin aku pun berdoa waktu anak sulungku mengikuti ujian masuk SMA.  Dan aku pun mengulangi kebiasaan mama kepada kami, aku sebagai seorang ibu yang melepas anaknya pergi ujian. Ah, rupanya begini perasaan seorang ibu pada saat-saat penting anaknya. Dan aku menjadi kangen pada mama 🙁

“We are always with you. You can do it!” Tulisan badge dari bimbel. Ada omamori juga di tasnya. Tapi aku juga tahu ada rosario di kantong dadanya, dan ada doa dariku, dari seluruh keluarga dan sahabat supaya R bisa tenang mengerjakan ujian masuk hari ini. Dalam kecemasan akan turunnya salju pagi ini, ternyata saljunya baru akan turun setelah ujian selesai. Mestakung!

Waktu melihat prakiraan cuaca akhir minggu lalu, memang sudah diprediksikan bahwa salju lebat akan turun di Tokyo. Aku pun berdoa, semoga salju itu tidak menghalangi perjalanan ke tempat ujian bagi Riku. Dan rupanya Tuhan mengabulkan doaku! Salju turun setelah siang hari, waktu dia sudah hampir selesai ujian. Dalam perjalanan pulang pun salju belum begitu banyak, sehingga dia bisa sampai di rumah dengan selamat.

Ada beberapa email masuk pada siang hari, dari sekolah SD dan bimbelnya Riku yang memberitahukan rencana pembelajaran hari itu dan esok harinya. Bahkan malam harinya, guru bimbelnya Riku menelepon dan menanyakan bagaimana ujiannya. Ah, aku suka orang-orang di sini yang penuh perhatian. Mereka benar-benar menjalankan pekerjaannya dan tulus.

“Bagaimana ujiannya Riku?”
“Sepertinya sih biasa-biasa saja sensei. Katanya bahasa Jepang dia bisa, tapi bahasa Inggris dan matematikanya sulit. Tapi ya kita lihat hasilnya saja.”
“Ya pasti tidak apa-apa.”
“Besok masih ada ujian lagi. Semoga salju tidak berkepanjangan sampai besok.”
“Ya, besok harap hati-hati waktu berangkat, jangan tergesa-gesa.”
“Terima kasih sensei, sudah dengan sengaja menelepon kami.”

Tentu aku juga tahu bahwa kelulusan (semoga) Riku juga mengangkat nama baik bimbel. Mereka bisa pasang iklan bahwa anak didiknya berhasil masuk SMA favorit. Tapi terlepas dari dunia “dagang berdagang”, aku berterima kasih karena mereka memang menjalankan pekerjaannya dengan baik dan bertanggung jawab. Aku sendiri tidak bisa mengajarkan Riku pelajaran SMP Jepang! Wong aku tidak pernah bersekolah di Jepang…..

Hari ini aku bangun pukul 5:30. Membangunkan Gen yang harus pergi kerja naik kendaraan umum. Sudah pasti kendaraan umum akan tidak lancar akibat salju yang menumpuk. Dia berangkat jam 6:30 dan baru sampai di kantornya jam 8:30 (padahal biasanya 1 jam cukup). Bus tidak jalan, mungkin karena banyak orang yang jalan di tengah-tengah jalan, jadi busnya juga sulit lewat.

ada yang memotret di tengah jalan euy… Aku juga mauuuu 😀

Nah, hari ini pun si Riku harus mengikuti ujian hari kedua. Dan kemarin, untuk mengantisipasi sulitnya transportasi SMA itu sudah menghubungi lewat email dan memberitahukan bahwa ujian diundur 4 jam dari rencana semula. Jadi ujian hari ini akan dimulai pukul 12:30 dan tadi pukul 9:00 Riku sudah mulai berangkat ke stasiun dan ke SMA yang juga butuh waktu sekitar 2 jam. Lebih baik terlalu cepat daripada terlambat bukan?

di TV juga dibilang mesti usahakan kedua tangan bebas dan pakai sepatu yang tidak mudah selip. Si perempuan depan memegang bayi yang digendong, sambil berjalan hati-hati.

Satu hal yang perlu diketahui, orang Jepang jarang memakai  “cuaca” sebagai alasan terlambat, kecuali memang sampai masuk TV. Jam 5:30 pagi di TV sudah diperlihatkan orang-orang berangkat ke kantor lebih cepat dari biasanya (biasanya 1 jam lebih awal), hanya supaya tidak terlambat sampai di kantor/sekolah. Rasa tanggung jawab yang besar inilah yang membuat negara ini tangguh, tidak mau “kalah” dengan cuaca.

Pagi ini aku pun menemani Kai berjalan ke SD, karena kemarin di email pihak sekolah menyarankan orang tua untuk “mendampingi” anak-anak jalan ke sekolah, supaya tidak terpeleset, berhati-hati berjalan dalam tumpukan salju. Dan tentu saja supaya bisa mengingatkan supaya jangan bermain salju 😀 Namanya juga anak-anak yang tangannya gatal dan sulit menahan diri untuk tidak bermain salju 😀 Lah, ibunya saja ingin sekali bermain salju jeh 😀 😀 😀 . Akhirnya ibunya bermain-main dengan camera deh hehehe.

8 Besar dari Nerima 2017

31 Des

Melanjutkan kebiasaan kami setiap tahun, untuk menutup tahun 2017 ini aku ingin menuliskan 8 Besar dari Nerima 2017.

  1. Bulan September 2017, genap 25 tahun lalu aku mendarat di Narita Jepang untuk memulai kehidupan sebagai mahasiswa S2 di Yokohama. Dan tahun ini juga kami deMiyashita merayakan ulang tahun pernikahan orang tuanya Gen yang ke 50. Gold Anniversary. Kami rayakan bersama keluarga, hanya bersembilan di hotel tempat mereka membuat resepsi 50 tahun yang lalu, Chinsanzo Tokyo. Tahun yang penuh berkat bagi kami. Sehingga aku sendiri menentukan kanji tahun ini bagiku adalah 「祝」.
  2. Riku 14 th, kelas 3 SMP dan sekarang sedang puncaknya belajar untuk masuk SMA. Selama 3 tahun dia mengikuti bulutangkis dan akibatnya bentuk badannya bagus… sangat jauh dibanding waktu dia baru masuk SMP. Tingginya sudah 170cm lebih dan yang paling mencolok adalah celana panjangnya yang kedombrongan sehingga harus pakai ikat pinggang. Untung panjang celana sudah diantisipasi pembuat seragam sehingga bisa dilepas kancingnya. Tadinya kupikir dia akan berhenti tengah jalan, tapi senang juga melihat dia bisa menyelesaikan sampai waktunya “keluar” excul yaitu musim panas dan sempat ikut beberapa pertandingan dan menang beberapa kali. Memang tidak sampai ke tingkat yang lebih tinggi, tapi lumayanlah untuk kami, keluarga yang bukan pelaku olahraga (Miyashita dan Coutrier sama-sama tidak juara dalam olahraga 😀 ). Dia akan mengikuti ujian masuk di bulan Januari nanti, dan semoga hasilnya memuaskan.
  3. Kai 10 th, kelas 4 SD. Kai selalu anak mama. Dia selalu berkata “Aku tidak bisa tidur tanpa mama” dan karenanya aku selalu membawa dia kalau perlu ke Indonesia dan menginap (2 kali ke Jakarta dalam tahun 2017). Tapi Kai juga yang selalu memperhatikan kalau mamanya sakit. Dia sudah bisa masak sendiri, sehingga kalau dia pulang sekolah dan lapar, dia akan masak nasi goreng sebagai snack timenya dia 😀 Dan akibatnya berat badannya membengkak. Sampai di sekolah semua temannya tahu dan tidak memperbolehkan dia tambah makanan waktu makan siang bersama. Ini akan menjadi PR kami berdua, aku dan Kai supaya Kai tidak menjadi rendah diri nanti jika naik kelas 5. Oh ya, Kai juga sudah mulai mengikuti bimbingan belajar sejak bulan November lalu. Dan kalau SMP Riku tahun 2017 memperingati 70 tahun, maka SD nya Kai memperingati 40 tahun. Aku tidak ikut acara apa-apa di SD Kai karena memang waktu itu aku sedang berada di Indonesia.
  4. Tahun 2017 merupakan tahun yang sibuk buat keluarga kami. Sehingga kami sudah tidak ada waktu untuk pergi bersama, apalagi mengumpulkan cap untuk 100Famous Castle. Sulit sekali menyatukan waktu aku dan Gen, apalagi Riku yang hampir setiap hari ada latihan badminton. Gen dengan posisi naik di kantor menjadi lebih banyak tanggung jawab sehingga membiarkan pegawai muda untuk ambil cuti di hari libur dan dia yang bekerja di hari libur. Tapi untungnya, tahun ini dia tidak perlu pulang sampai di rumah jam 2-3 pagi untuk kerja lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Ini juga karena ada larangan lembur dari pemerintah, sehubungan dengan meningkatnya bunuh diri akibat overworked. Jadi aku akhirnya mengambil keputusan bahwa aku yang pergi sendiri saja begitu ada hari kosong. Naik bus sendiri melihat pemandangan di Ibaraki atau naik sepeda ke Taman Tachikawa. Mungkin karena keputusan-keputusanku untuk mengambil libur sendiri ini ternyata bisa membuat balancing kesehatan, pikiran dan hati yang lumayan sepanjang tahun ini.
  5. 2017 merupakan tahun tersibuk sepanjang sejarah bagiku. Kadang aku harus mengorban janji lain demi pekerjaan yang memang bertumpuk. Sebagai sekretaris PTA kupikir HANYA mengikuti rapat sebulan sekali saja, dan sudah kuplot hari Kamis pagi untuk itu. Eh, ternyata pekerjaan sebagai sekretaris bukan itu saja (ah! memang waktu perekrutan banyak bohongnya nih hehehe). Sebelum rapat bulanan tentu harus membuat rapat pengurus inti, harus membuat agenda rapat, harus membuat laporan rapat dan menerbitkan buletin PTA. Juga harus menghadiri open school karena petugas penjaga di open school harus diarahkan oleh sekretaris! Belum lagi sekretariis ternyata juga harus mengikuti pertemuan dan kegiatan dari asosiasi PTA sekelurahan, serta di barisan pertama pada setiap kegiatan SMP. Puncaknya pada tanggal 28 Oktober yaitu perayaan ulang tahun ke 70 SMP nya Riku (dan untuk mengatur pesta perayaan ini ada rapat setiap sebulan sekali yang akhirnya aku angkat tangan tidak hadir sama sekali). Untung saja ada 3orang sekretarisnya, 1 kerja full time, 2 part time (aku da seorang lagi, tapi dia tidak bisa komputer… jadi kalau urusan hadir rapat biasanya dia yang wakilkan) .
  6. Sebagai pengelola Rumah Budaya Indonesia, yang dimulai bulan Agustus 2017, selain harus merencanakan kegiatan termasuk dekorasi dsb, aku juga membuat pamflet, membuka pendaftaran via email, dan pada hari H kerja serabutan sebagai MC atau kameraman :D. Dan tidak terlupa… laporan, laporan, laporan hehehe. Selain RBI, aku juga harus membuat laporan kegiatan untuk APPBIPA Jepang (Afiliasi Pengajar dan Pengiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Jepang) yang baru terbentuk bulan November 2017.
  7. Mulai tahun ini aku memakai buku cetakan sendiri untuk mengajar. Memang perlu modal yang cukup besar tapi dengan adanya buku tata bahasa untuk kelas dasar ini, aku tidak perlu lagi boyong-boyong fotokopian untuk mengajar. Bagi anak yang pintar dan mau belajarpun jadi bisa mempersiapkan sendiri bagian-bagian yang tidak aku ajarkan. Kemudian pada bulan Oktober aku mencetak buku ajar untuk kelas menengah yang berisi tulisan-tulisan mengenai Indonesia. Buku ini merupakan perkembangan buku yang dulu sekali pernah kutulis untuk kelas Bahasa Indonesia di Keio University (dan sudah habis). Ada 35 judul cerita umum mengenai Indonesia dalam 65 halaman, yang bisa kupilih untuk bahan mengajar kelas menengah yang tentunya sudah menguasai tata bahasa dasar. Dengan adanya buku ini aku jadi tidak perlu repot-repot lagi memilih bahan dan foto copy deh. Sekarang aku juga sedang menyusun lagi edisi ke duanya, yang isinya lebih banyak pendapatku (esai). 
  8. Sebagai penutup tulisan, sengaja saya pilihkan kegiatan ini sebagai nomor 8. Jadi sebetulnya selama 3 tahun terakhir ini, aku ikut aktif dalam pembuatan kamus bahasa Indonesia-Jepang v.v. karena diajak Ibu Funada (Ketua/Tim Penyusun). Tentu banyak orang yang ikut serta dalam pembuatan kamus ini. Sebagai penulis, kami diberikan sejumlah kata untuk ditulis dalam kamus, dan kami juga harus memikirkan contoh kalimatnya. Setelah semua kata terkumpul, pada tahun ke-3 yaitu awal tahun 2017 ini, sebagai anggota tim editor, kami harus memeriksa lagi semua tulisan yang masuk. Apakah sudah benar jenis katanya, contoh kalimatnya. Ini masih berupa halaman file. Dan tahap terakhir membaca lagi semua dalam bentuk buku apakah sudah benar letaknya, apakah tidak ada salah tulis, atau terlewati. Pekerjaan yang berat yang baru pertama kali aku geluti tapi aku merasa senang mengerjakannya. Sulit memang untuk menyisihkan waktu di antara semua pekerjaanku, apalagi kalau pas dapat halaman yang isinya kata-kata membosankan, yang sulit diekspresikan dalam bahasa Jepang, atau kata-kata aneh dan jarang yang sudah selayaknya dihapus dari kamus. Untung saja tugas penulisanku dalam 1 tahun pertama bisa dilaksanakan dalam jangka waktu yang diberikan (biasanya sekian ratus lema/turunan kata dalam satu bulan), meskipun kadang aku masih “nawar” minta perpanjangan waktu. Tapi untuk bagian editing yang terakhir, aku merasa memang aku cocok untuk pekerjaan editing yang perlu kecepatan tapi tetap harus teliti. Senang loh bisa menemukan passionku di mana, meskipun aku yakin aku tidak mau  mengerjakan editing melulu hahaha. Jadi nanti tanggal 26 Februari 2018, sudah bisa dibeli di toko-toko besar sebuah kamus Progressive Indonesiago dari penerbit Shogakukan dengan harga 4,900 yen (+tax) .                                 『プログレッシブ インドネシア語辞典』  
     B6版 1104ページ  ISBN978-4-09-515811-2,   定価: 4,900円+消費税 

    Sampai dikerjakan di restoran sambil menunggu pesanan. (bukan sandiwara karena benar-benar sudah mepet hehehe)

Tahun 2017 penuh dengan pencapaian dan peringatan. Semoga aku bisa melanjutkan pekerjaan yang sudah kupegang selama ini di tahun 2018 dengan lebih baik lagi. Dan tentunya bisa mulai menulis lagi di blog ini ya 😀

Happy New Year 2018!

Kucing yang Ingin Menjadi Manusia

27 Okt

Ini adalah judul sendratari yang dibawakan kelas 4, kelasnya Kai dalam acara pentas seni di sekolahnya. Memang bulan Oktober di Jepang merupakan bulan olahraga (Hari Olahraga pada minggu kedua Oktober), dan bulan seni. Sekolah Dasar kami menggelar pentas seni 3 tahun sekali, dan tahun ini merupakan pentas terakhir Kai yang duduk di kelas 4. Siklus 3 tahun sekali memang dimaklumi karena persiapan pentas seni ini cukup makan waktu dan bisa mengganggu target pendidikan sekolah jika dilakukan setahun sekali.

Pentas seni itu dilakukan hari Sabtu minggu lalu. Basah! Meskipun demikian masih beruntung badai  -supertaifu- belum sampai ke Tokyo. Dan karena dilakukan di dalam aula sekolah, acara tetap dilaksanakan. Banyak sekolah yang mengadakan pekan olahraga terpaksa membatalkan kegiatan mereka karena hujan. Dan entah kenapa, dalam ingatanku pentas seni 3 tahun yang lalu juga diadakan dalam kondisi hujan.

Karena pentas kelasnya Kai mendapat urutan kedua, aku berangkat cepat-cepat dari rumah supaya pas waktunya bisa masuk pada waktu pintu dibuka. Ternyata sudah cukup banyak orang tua murid yang datang dan menempati tempat duduk yang disediakan. Sedapat mungkin di depan karena mereka antusias menonton anaknya yang akan manggung. Kalau bisa satu keluarga diajak serta 😀 Paling sedikit satu anak dihadiri 2 orang (bapak-ibu), tapi tak jarang dihadiri 4 orang (bapak-ibu-kakek-nenek tambah adik/kakak) lebih. Keluarga kami hanya aku sendiri, karena Gen harus bekerja dan Riku mempunyai janji dengan teman-temannya.

Aku beruntung mendapat tempat duduk di deretan ketiga dan menikmati tampilan kelas 2 yang mempertunjukkan “Jugemu, anak bernama terlalu panjang”. Jugemu ini memang cerita klasik Jepang dan sudah kutonton beberapa kali. Tapi kali ini murid-murid kelas 2 patut kuacungi jempol. Kemasan pertunjukan yang menarik! Coba baca ringkasannya dari wikipedia:

Jugemu adalah cerita humor klasik Jepang berbentuk susunan kata pembelit lidah yang sulit untuk diucapkan dalam bahasa Jepang. Susunan kata-kata yang panjang sekali digunakan sebagai nama anak kecil (nama singkat: Jugemu). Cerita Jugemu merupakan salah satu cerita pembuka dalam seni bercerita rakugo karena merupakan permainan kata yang dapat digunakan dalam berlatih mengucapkan cerita.

Cerita Jugemu sangat sederhana. Sepasang orang tua kebingungan dalam memilih nama anak laki-laki yang baru dilahirkan. Biksu yang dikunjungi menyarankan beberapa nama untuk sang bayi yang dimulai dengan nama Jugemu. Sang ayah ternyata masih juga kebingungan, hingga akhirnya seluruh nama yang diberikan biksu dijadikan nama si anak. Pada suatu hari, Jugemu jatuh ke danau dan nyaris tidak dapat diselamatkan. Semua orang di kampung kesulitan mengucapkan nama Jugemu yang sangat panjang.

Nama lengkap Jugemu dalam romaji dan kanji (bahasa Jepang):

Romaji Kanji
Jugemu-jugemu

Gokōnosurikire
Kaijarisuigyo-no Suigyōmatsu
Unraimatsu Fūraimatsu
Kūnerutokoroni-sumutokoro
Yaburakōjino-burakōji
Paipopaipo-paiponoshūringan
Shūringanno-gūrindai
Gūrindaino-ponpokopīno-ponpokonāno
Chōkyūmeino-chōsuke

寿限無寿限無

五劫の擦り切れ
海砂利水魚の 水行末
雲来末 風来末
食う寝る処に住む処
やぶら小路のぶら小路
パイポパイポ パイポのシューリンガン
シューリンガンのグーリンダイ
グーリンダイのポンポコピーのポンポコナーの
長久命の長助

Hal yang kusayangkan adalah, aku pindah tempat duduk waktu pertunjukan Kai akan dimulai. memang ada tempat duduk matras yang disediakan di depan panggung, khusus untuk orang tua yang anaknya pentas saat itu. Diadakan pergantian setiap kelas berakhir. Karena aku melihat Kai mencari-cariku, aku menghampiri dia untuk memberitahukan keberadaanku. Dan setelah itu aku tidak bisa kembali ke tempat dudukku, dan terpaksa aku duduk di matras. Parah deh, aku tidak bisa duduk jongkok karena lutut mulai bermasalah dan menahan sakit (dan kesemutan) selama pertunjukkan berlangsung. Belum lagi aku tak bisa mengambil foto atau video tanpa terhalang orang tua lainnya.

Tapi secara keseluruhan pentas kelasnya Kai cukup bagus. Semua jalan cerita, kostum, tata lampu, musik, tata suara, pergantian latar dilakukan sendiri oleh anak-anak. Sehingga terjadi peralihan adengan yang cukup lama, karena memang panggung gelap sekali. Tapi penggunaan lampu cukup menarik, menyesuaikan adegan demi adegan. Dan aku cukup senang Kai bisa bersuara keras membawakan lakonnya, dan ikut menari dengan terampil. Dia menjadi pandai besi dalam cerita itu (sebagai salah satu warga saja sih) .

Yang menarik, aku mencari alur cerita “Kucing yang Ingin Menjadi Manusia” di google (dalam bahasa Indonesia) tapi tidak menemukannya. Padahal cerita ini merupakan cerita terjemahan dari The Cat Who Wished to Be a Man karangan Loyd Chuddley Alexander, seorang pengarang buku anak-anak terkenal dari Amerika (Pennsylvania)

Lionel, a housecat given the power of speech by the magician Stephanus, begs his master to turn him into a man. After many objections concerning the depravity of humans, Stephanus relents; and the transformed Lionel begins his adventures to town of Brightford. The mayor and his officers are plaguing Brightford with capricious rule and economic hardship. The mayor is especially covetous of the inn belonging to Gillian, with whom Lionel begins a rocky friendship. Lionel becomes entangled in the struggles of Brightford, and escalates the conflicts between the mayor and the people, while falling in love with Gillian as he becomes more and more human. (wikipedia)

Menarik! Aku sendiri benar-benar salut pada Jepang yang banyak menerjemahkan dan mengadaptasi cerita-cerita dari seluruh dunia. Benar aku merasa kaya di sini karena secara tidak langsung (melalui anak-anakku) aku banyak mengenal sastra dunia. Mungkin kalau aku di Indonesia, tidak akan mengetahui cerita-cerita yang sebetulnya merupakan karya terkenal di luar negeri.

Dari cerita drama ini, ada satu bagian yang benar-benar menyentuh hatiku adalah ucapan lakon sarjana (yang kira-kira seperti ini) : “Lionel, seekor kucing yang mempunyai jiwa manusia. Manusia sendiri belum tentu bisa. Manusia lahir sebagai manusia, melewati perjalanan panjang, pengalaman menyenangkan dan menyedihkan, serta pembelajaran yang panjang baru bisa menjadi seorang manusia sejati. ”

Ya, dikatakan bahwa masih banyak manusia yang belum menjadi manusia seutuhnya.

Masih banyak orang Indonesia yang belum bisa menjadi manusia Indonesia seutuhnya, yang menyadari bahwa dirinya bagian dari komunitas beragam, dan untuk hidup bersama perlu tepaselira, bertoleransi dalam berinteraksi dengan sesamanya.

Masih banyak orang Indonesia yang belum menghargai usaha-usaha para pendahulu untuk menyatukan Indonesia dengan pernyataan, “Berbahasa satu Bahasa Indonesia”. Aku sedih membaca timeline seperti “Anak-anak jaman now”.. apa itu? Mengapa dalam satu kalimat bahasa Indonesia, bercampur kata-kata bahasa Inggris yang tidak seharusnya. Hei! Banggalah berbahasa Indonesia, dan tugas kita untuk menaikkan martabat bahasa Indonesia. ( mengenang Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928) . Pakailah KBBI! FYI Dalam menulis posting ini aku memeriksa KBBI paling sedikit 10 kali untuk mengecek penulisan yang benar. Contohnya: adegan atau adengan 😀

Satu tambahan lagi,

Masih banyak narablog yang melupakan tugasnya untuk memajukan Indonesia dengan tulisan-tulisannya. Termasuk aku yang akhir-akhir ini absen menulis dikarenakan kesibukan di dunia nyata. Padahal kalau saja aku mau “menutup mata” sedikit, mengorbankan waktuku 1 jam, pasti bisa. Seperti hari ini kupaksakan bangun pukul 4 pagi, karena memang niat menulis dalam rangka “Hari Blogger Nasional”, dan mengingat kembali tulisanku di blog sahabat Donny Verdian yang ini: “Blogger sampai Mati“. Ah, Donny memang narablog sejati! Ssst Don…. aku masih blogger kok, meskipun hanya bisa menulis sekali sebulan, untuk sementara ini…

Satu tulisan yang padat tujuan kuakhiri dan mungkin akan menjadi tulisan terakhir di bulan Oktober. Semoga November bisa menulis lagi meskipun cuma satu.

 

 

PUN = plesetan

2 Sep

Apa pula PUN itu?

Sebetulnya hari ini aku mau menulis soal goroawase 語呂合わせ, yaitu pemudahan pengucapan sebuah kata/huruf atau angka. Dan kalau mencari bahasa Inggrisnya adalah “pun”, yang diterjemahkan menjadi “plesetan”. Hmmm jauh juga ya pengertiannya.

Goroawase sulit diterima oleh orang Indonesia karena dalam bahasa Indonesia memang cuma ada “pelesetan” itu. Jadi contohnya terbatas. Aku sendiri kalau ditanya apa contoh goroawase dalam bahasa Indonesia, paling-paling teringat mejikuhibiniu. Padahal dalam bahasa Jepang cukup banyak, dan biasanya dipakai untuk menghafal deretan angka, atau menyingkat kata. Yang paling sering dipakai adalah 39 yang dibaca san-kyu = Thank You. atau 4649 dibaca yo-ro-shi-ku. Dan ssst aku kasih tahu kata sandi ipadku supaya Kai tidak bisa buka yaitu Sa-i-ko-ro 3156 loh hehehe

Nah hari ini tanggal 2 September kalau ditulis ala Jepang menjadi 9-2 yang bisa dibaca menjadi KU-JI. Merupakan peringatan hari KUJI atau undian. Tanggal ini ditetapkan menjadi hari (takara)kuji oleh Daiichikangin (Mizuho Bank sekarang) pada tahun 1967.

Yang kedua 9-2 ini juga bisa dibaca menjadi hari KU-TSU (Tsu adalah pelafalan bahasa Inggris untuk 2) sedangkan kutsu sendiri berarti sepatu. Tanggal ini ditetapkan oleh perusahan sepatu DIANA pada tahun 1992 (wah kutsu lagi deh 😀 )

Goroawase ini memudahkan kita untuk menghafal angka-angka, apalagi jika angkanya banyak.