Arsip Kategori: Diary

Kasihanilah Aku

Gara-gara melihat sebuah tulisan di lini masaku, jadi teringat suatu percakapan dengan anak bungsuku. Sudah cukup lama berlalu tapi memang ingin kutuliskan.

Jadi di lini masa media sosial itu ramai tentang cerita bahwa ada seorang ibu-ibu yang naik kereta di Indonesia. Karena tidak ada tempat duduk, dia berdiri di depan seorang pemuda yang duduk. Bukan gerbong wanita, dan si wanita itu dengan suara keras mengatakan yang intinya, si pemuda tidak boleh duduk karena dia laki-laki.  Si pemuda tidak mau bertengkar, jadi memberikan tempatnya pada si ibu. Tapi waktu ada kursi di sebelahnya kosong, si wanita tidak memperbolehkan laki-laki duduk di sebelahnya. Intinya: laki-laki tidak ada  yang boleh duduk.  Haduh…. kalau yang begini sih mungkin sudah korslet ya? Tidak cocok untuk feminisme atau pejuang gender dong 😀  Sebagai tambahan cukup banyak loh lansia di Jepang yang tidak mau duduk meskipun sudah ditawarkan. Alasannya, “Saya masih sehat dan kuat, sedangkan kamu sudah capek bekerja seharian”. Hebat ya lansia itu…..

Nah, yang membuatku teringat pada anak bungsuku, yaitu waktu dia bercakap-cakap dengan kami.

Hadairo 肌色 itu warna apa sih pa?”

jreng…..

Jadi memang di Jepang selain warna akai 赤い (merah),  aoi 青い (biru), midori 緑 (hijau), kuro 黒 (hitam), kiiro 黄色 (kuning) dll, dulu ada warna yang bernama hadairo 肌色. Aku ingat sekali di susunan crayon/pensil warna untuk Riku dulu, ada yang namanya hadairo. Yaitu warna pink muda R- 246 G-222 B 197 yang dianggap warna yang mewakili kulit orang Jepang. Nah, Kai lahir 4 tahun setelah Riku dan memang waktu itu aku tidak melihat lagi nama warna hadairo.

hadairo … warna kulit orang Jepang…dulu 🙂

“Itu warna seperti pink muda, Kai. Warna kulitnya orang Jepang”

“Seperti apa ya? Aku tidak tahu!”

“Ya, dulu ada. Nanti deh mama kasih liat di rumah ya”

Papa G menyahut,

“Warna hadairo itu sekarang diganti menjadi …”

“Usudaidai…. ” Kai menyela

“Nah itu tahu kok. Ya hadairo itu usudaidai

“Mulai kapan ganti nama?”

“Nah itu musti cari dulu. Tapi kenapa hadairo diganti namanya yang penting. Karena ternyata orang Jepang sekarang warna kulitnya sudah banyak yang berubah. Tapi selain itu, kita tidak bisa menentukan warna kulit seseorang sebagai satu warna hadairo. Karena hada=kulit, warna kulit. Sedangkan warna kulit orang di dunia ini kan banyaaaaaak sekali! Itu menjadi bahasa diskriminasi/sabetsu 差別用語. Karena itu diganti menjadi usudaidai

Rupanya pergerakan untuk menghapus kata yang diskriminatif ini sudah mulai pada November tahun 1998 dengan sebuah artikel di harian Yomiuri yang mengangkat penamaan warna baru dari produsen craypas Pentel. Kemudian tahun berikutnya pada harian Asahi, dikatakan bahwa nama warna hadairo sudah dibuah oleh Pentel menjadi “pale orange”. Baru kemudian tahun 2000, tiga perusahaan produsen pensil/crayon/spidol yaitu Mitsubishi, Sakura dan Tombow mengganti hadairo menjadi usudaidai (daidai secara umum dikenal sebagai warna oranye, sedangkan usu = muda, jadi oranye muda). Tidak diketahui siapa yang menentukan penamaan warna itu. Tapi lucunya dalam kamus warna yang diterbitkan tahun 2005, tidak tercantum nama “usudaidai” atau “pale orange” sama sekali.

Memang di Jepang sekarang banyak penamaan yang diganti karena mengandung kata-kata diskriminatif. Sebuah pergerakan yang kukagumi karena memang seharusnya kita tidak melukai hati orang lain, bukan? Di Indonesia sendiri yang kuketahui sudah ada pemakaian kata pramu- atau tuna- menggantikan nama penderita yang tidak seperti manusia normal.

Nah, kembali ke percakapan dengan Kai, suamiku memberikan ilustrasi lain yang cukup membuat kami berpikir.

“Dalam kereta pagi hari. Banyak pegawai yang masih kecapekan dan ngantuk karena malam sebelumnya bekerja sampai larut. Lalu muncul lansia yang berpakaian untuk hiking (memang banyak lansia Jepang amat sangat kuat dan sehat bahkan mampu mendaki gunung). Berdiri di depan silver seat, di depan pegawai-pegawai yang lelah itu, sambil mengharapkan diberikan tempat duduk oleh penumpang yang lebih muda itu. Coba bandingkan si tua sehat semangat untuk mendaki itu…. bukankah kekuatannya jauh lebih banyak daripada pegawai yang kecapekan itu?”

Kai tertawa, tapi aku tidak… bahkan memikirkan hal itu. Memang benar, lansia Jepang itu jauh lebih tua tapi jauh lebih sehat. Akankah aku bisa tetap sehat dan kuat seperti mereka jika umurku mencapai umur yang sama dengan mereka?

Kejadian di kereta Jepang dan Indonesia…. penuh dengan kontradiksi dan pemikiran. Jenis kelamin, warna kulit, umur, seharusnya memang tidak menjadi suatu yang perlu dipertentangkan, atau dijadikan sebagai alasan. 

 

Tukar Informasi

Biasanya aku hari Jumat memang mengajar. Tapi karena hari ini universitas S tempatku bekerja menyelenggarakan festival kampus, maka aku hanya mengajar sampai jam 12. Dengan agak terburu-buru aku menuju ke Nerima, kelurahanku, tepatnya sebuah sekolah SMP dekat Kantor Pemdanya. Karena mulai pukul 2 ada acara yang bertajuk: “Pertemuan Tukar Informasi antar PTA SMP”.

Dari 34 SMP milik pemda, sedikitnya 5 orang perwakilan pengurus (inti) PTA dan seorang kepala sekolahnya berkumpul dalam kegiatan ini. Dalam sambutannya, ketua komite pendidikan menyatakan pentingnya peran orang tua yang tergabung dalam PTA karena dalam setiap kegiatan terlihat kehadiran PTA. Apalagi tahun ini banyak sekali sekolah yang merayakan ulang tahun ke 70 (Kelurahanku ini memang baru berusia 70 tahun), sehingga bantuan dari orang tua sangat penting. 

Kami dibagi menjadi 15 grup, dan masing-masing grup diminta untuk membicarakan topik tertentu yang intinya bertujuan untuk “memikirkan bagaimana membuat lingkungan belajar yang lebih baik bagi murid SMP”. Ada beberapa kata kunci yang dipakai, misalnya Smartphone, pemilihan SMA, masa puber, hubungan pertemanan, PTA dan lain-lain.

Grup aku hanya membicarakan tentang Smart phone, yang ternyata dari 4 ibu, 2 memberikan smart phone pada anaknya, sedangkan aku dan satu ibu lagi menegaskan bahwa smart phone baru boleh diberikan waktu SMA. Tapi kami berdua mengijinkan pemakaian ipad/ipod di rumah dengan aturan yang sudah ditentukan. Semisal: orang tua BOLEH melihat percakapan di Line, atau pembatasan waktu hanya sampai pukul 9-10 malam kemudian piranti itu diletakkan di ruang tamu. Masalah smart phone ini memang agak rumit karena di satu pihak kita tidak bisa memungkiri bahwa smartphone merupakan kemajuan jaman yang harus bisa diterima, tapi di pihak lain smartphone membawa dampak negatif bagi anak atau lingkungannya. Cukup banyak anak yang ternyata kurang tidur karena terlalu banyak pakai LINE.

Tapi sebetulnya selain masalah smartphone, kami juga menyinggung masa puber dan aku merasa lega bahwa anakku tidak menunjukkan masa-masa perlawanan terhadap orang tua (atau belum). Dari pembicaraan di grup, aku juga bisa melihat bahwa kebanyakan yang bermasalah dengan smartphone justru murid perempuan. Karena mereka rentan terhadap godaan pria yang lebih tua, dan mereka sendiri juga membuat gank-gank kelompok yang lebih rumit dibandingkan murid laki-laki.

Lima belas grup kemudian membawakan hasil pembicaraan dan mempresentasikan di depan semua peserta selama 3 menit. Sehingga kami juga bisa mengetahui apa yang dibicarakan grup lain. Dari presentasi 15 grup ini aku bisa tahu mereka juga membahas sulitnya meminta orang tua murid untuk menjadi pengurus PTA. Ada saja orang tua yang memakai alasan “sibuk” padahal sebetulnya mereka melepaskan tanggung jawab pendidikan kepada sekolah saja! Tidak mau tahu! Aku pribadi merasa dengan menjadi pengurus PTA, kita secara tidak langsung bisa memonitor pelaksanaan pendidikan di sekolah, yang orang tua lainnya tidak bisa lihat.

Aku selalu kagum dengan pendidikan di sini, yang amat menekankan pemberian salam. Setiap aku ke sekolah, murid yang berpapasan PASTI memberi salam “selamat pagi/siang”. Mereka juga harus memberikan hormat kepada guru. Bukan dengan salut menaruh tangan di dahi, tapi dengan menunduk jika bertemu dan pasti melihat wajah guru yang sedang bicara. Ah, aku jadi teringat pada pendidikan Sr Bertine yang sama persis! Bahagianya aku pernah mendapatkan disiplin yang bisa terus kubawa sampai sekarang.

Ada satu lagi yang menarik dari presentasi tadi, yaitu bahwa bahasa murid-murid yang menjadi buruk. Yaitu dengan timbulnya kata-kata baru yang menjadi trend. Dan satu kata yang sempat kucatat adalah: Majipane まじぱね。 Yang setelah kutanya pada Riku artinya : Benar-benar hebat, singkatan dari Maji Hampa Janai マジ半端じゃない! (Dan disambung Riku bahwa yang sering pakai biasanya anak perempuan yang guoblok hahaha. Anakku itu benar-benar suka “merendahkan” cewek-cewek yang sukanya cekikan dan tidak suka belajar, atau paling sedikit bisa menggunakan bahasa yang baik 😀 Sasuga anak dosen bahasa hahaha)

Cukup capek 3 jam mengikuti acara itu, tapi yang membuatku capek sekali sebetulnya adalah duduk di tatami selama 1 jam penuh. Mati rasa deh kakiku, meskipun sudah berusaha ganti-ganti posisi. Dasar orang asing yang tidak terbiasa duduk di tatami sih 😀

Tulisan pertama di bulan Juni, pada hari terakhir.

Dua menit lagi bulan Juni habis, jadi sekian dulu yaaaaa

 

Hari Museum

Tulis pendek saja deh, sebetulnya mau tulis sebagai status di FB, tapi kok sebagai status kepanjangan juga hehehe.

Hari ini tanggal 20 Mei adalah hari Kebangkitan Nasional. Karena ini hari peringatan yang cukup besar, sudah banyak orang yang menanggapinya sehingga saya rasa saya tidak perlu menulis tentang tanggal 20 Mei. Tapi ada yang mengusik saya tentang hari peringatan yang sudah lewat yaitu tanggal 18 Mei yang merupakan Hari Museum Internasional. Terutama waktu membaca status teman saya yang memang pecinta museum Retty  yang mengingatkan tentang hari peringatan ini.

Langsung aku mencari informasinya dengan bantuan paman google, dan menemukan bahwa memang tanggal 18 Mei itu ditentukan sebagai hari Museum Internasional oleh ICOM (International Council of Museum) sejak tahun 1977, tapi tidak diberitahukan mengapa dipilih tanggal 18 Mei.

Tapi aku menemukan juga bahwa Museum Gajah (Museum Nasional) kita merayakan ulang tahun yang ke 239 tepat tanggal 18 Mei. Otomatis kupikir hari Museum Nasional itu mestinya sama dong ya? Eh ternyata hari Museum Nasional itu dirayakan tanggal 12 Oktober. Karena ditentukan dalam  Musyawarah Museum se-Indonesia (MMI) yang pertama yang diselenggarakan pada 12-14 Oktober 1962 di Yogyakarta. Coba waktu itu ditentukan sesuai ultahnya Museum Nasional, kan bisa bilang yang Internasional ngikut kita :D.

Anyway, hari ini aku mendapat satu link lagi yang memberitahukan soal patung Gajah pada Museum Nasional. Karena ada patung Gajah itulah museum kita disebut Museum Gajah. Tapi ternyata satu patung Gajah yang katanya merupakan hadiah dari Thailand, ternyata merupakan hasil “tukar-tambah” dengan arca-arca berharga dari Borobudur. Silakan baca detilnya di sini : http://historia.id/kuno/harga-mahal-di-balik-patung-gajah-museum-nasional

Sudah lama aku tidak ke museum, dan hari ini aku diajak pergi ke Museum Sastra di Yokohama atau Kamakura nih oleh Gen hehehe.

Kamu kapan terakhir ke museum?

Menutup April

Wah  baru bisa menulis lagi, setelah tanggal 3 April! huhuhu. Memang bulan April itu bulan yang menyibukkan sekali ya. Sebelum terlambat, aku ingin menuliskan bagaimana aku melewatkan satu hari kemarin dulu deh. Nanti kalau sempat baru kegiatan mendetil bulan April … tapi ngga janji 😀

Jadi ceritanya kemarin aku pulang dari kegiatan KMKI (Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia) pukul 9malam. Untung aku dijemput Gen dan anak-anak, lalu kami makan di sebuah restoran pizza/spaghetti di tengah perjalanan pulang. (Yang ternyata tidak enak, sehingga kami berjanji tidak akan ke situ lagi hehehe). Karena capek sekali, aku langsung merebahkan diri di tempat tidur, paling tidak meluruskan punggung deh. Memang aku salah juga, mengangkut botol minuman 500 ml sebanyak 100 biji  ke mobil sendiri (tentu tidak sekaligus… aku belum menjadi wonder woman kok) . Akibatnya buruk bagi punggungku.

Nah sekitar pukul 11 an, Kai masuk kamar dan seperti biasa peluk memeluk sebelum tidur. Lalu aku minta dia untuk memijat punggungku. Dia lumayan pandai loh. Aku beritahu bagian mana yang perlu ditekan dan dia lakukan. Sambil kesakitan aku bilang enak! Lalu tiba-tiba dia menirukan ucapan sebuah tokoh tukang pijat yang terdapat dalam film Thermae Romae. Begitu mirip dan lucu! Aku, Gen dan Kai sendiri langsung tertawa terbahak-bahak, karena mengingat adegan lucu itu. Apalagi aku sampai keluar air mata karena mengingat karakter pemijat itu yang jempol a.k.a ibu jarinya besar. Lalu kucari fotonya di google dan menemukan foto ini:

dari : http://pbs.twimg.com/media/ aku lupa lengkapnya apa yang dikatakan si pemijat ini. Nanti deh tanya Kai ya

patung asli dari Namikoshi sensei

Ternyata tokoh pemijat yang ada dalam film itu benar-benar ada! Kupikir buatannya yang buat cerita saja. Namanya Namikoshi Tokujiro (1905-2000), yang merupakan bapak Shiatsu Jepang. Jepang itu memang keren! Mereka sering sekali membuat film dengan selipan-selipan adegan yang memuat sejarah asli Jepang! Kalau begini kan kita sambil menghibur diri jadi belajar juga.

Sayangnya, karena kami tertawa terus, pemijatanku terhenti deh 😀 Dan karena celetukan Kai yang meniru pemijat itu, kepenatanku yang sudah menggunung selama bulan April bisa terbang habis dan membuatku ingin menuliskannya di Twilight Express!

Bulan April ini memang melelahkan. Tapi pekan emas “Golden Week” di depan mata, dan deMiyashita bermaksud untuk menikmati liburan yang jarang dan berharga ini bersama. Semoga aku bisa menemukan waktu juga untuk menuliskannya di TE ya.

Have a happy holidays!

Siapa bilang harus lama?

Kalau aku merencanakan perjalanan, memang selalu “rakus” ingin ke sana, ke sini juga dalam waktu yang ditentukan. Ya mikirnya ekonomis saja, jauh-jauh datang dengan budget yang cukup besar, tentu maunya menikmati banyak. Dan selalu mikir, “kapan lagi bisa ke sini?”. Padahal kadang perjalanan itu hanya dilakukan untuk satu tujuan: melepaskan penat keseharian!

 

patung yang menyambut kami di depan taman bagian dalam

 

Jadi Minggu pagi yang cerah kemarin, setelah pergi mengikuti misa di gereja Kichijouji, aku sedikit memaksa Gen dan anak-anak untuk melihat sakura di Jindai Botanical Park, Chofu. Padahal tinggal belok sedikit dari gereja, ada Inokashira Park yang terkenal. Tapi memang aku tahu bahwa bunga sakuranya belum banyak di situ, dan Riku menolak untuk ke situ…. takut ketemu teman-temannya 😀 Susah deh punya anak ABG yang sangat sensitif dengan pertemanan dan penampilan 😀 Itu pun setelah sampai di Jindai Koen itu, dia menunggu dalam mobil, sementara aku, Gen dan Kai masuk taman. Tujuannya sudah pasti menyusuri ke arah kiri taman ke padang rumput yang dikelilingi pohon sakura.

dua fotografer amatir sedang beraksi 😀

Namun sesuai perkiraanku, sakuranya belum banyak. Baru 20 persen deh. Tapi ada sekitar 3 pohon yang sudah berbunga lebat, dan tentu saja dikerumuni pengunjung untuk memotret dan menikmati keindahannya. Pengunjung di sini memang relatif sedikit dibandingkan taman-taman lainnya, dalam musim apapun. Padahal aksesnya cukup praktis (naik bus dari Stasiun Kichijouji atau dengan mobilpun ada parkir tersedia). Luasnya juga tidak terlalu luas seperti Showa Memorial Park di Tachikawa yang adzubilah besarnya 😀 Jadi kalau mau yang sepi, aku sarankan bertandang ke sini.

sakura dari salah satu dari 3 pohon yang sudah berbunga lebat

Yang menarik kami temukan di taman ini adalah kenyataan bahwa pohon Almond itu ternyata masuk keluarga Sakura dan bunganya memang mirip sakura! Juga kami diberitahu seorang kakek bahwa ada tanpopo (Dandelion) yang bunganya putih (biasanya dandelion berbunga kuning)

bunga pohon Almond

Jadi kami cukup menghabiskan 45 menit saja, mulai masuk sampai keluar ke mobil lagi dalam “perjalanan” kali ini. Tapi gema kebahagiaan melihat karya Tuhan ini terus terasa sampai malam hari, waktu kami melihat foto-foto yang kami ambil.

baru 20-30 persen lah yang berbunga. Perkiraanku sih akhir minggu depan akan rimbun

Kenapa kami “cuma” 45 menit saja berada di sana? Soalnya aku ada rapat PTA di SMPnya Riku mulai jam 1. Itupun aku tidak sempat makan siang sebelum rapat yang berlangsung sampai pukul 4:30 sore huhuhu. Isi rapatnya juga cukup membuatku “gemetaran” karena banyaknya tugasku sebagai Sekretaris PTA yang otomatis harus cukup sering hadir dalam kegiatan dan rapat-rapat sekolah. Untung sekretarisnya ada tiga (tapi semua bekerja, jadi harus atur jadwal jauh-jauh hari). Tugas pertamaku tanggal 7 April nanti, pas upacara penerimaan murid baru! Gambarou…..

 

Awalnya selalu hujan

Bahasa Jepangnya : Hajimari wa itsumo ame. Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Chage Aska, yang dirilis tahun 1991. Tadi pagi aku teringat lagu ini, karena memang sejak pagi hujan turun. Padahal awal April, dan padahal diprediksi juga bahwa seharusnya sakura sudah bermekaran. Banyak wisatawan dari Indonesia yang berkunjung ke Jepang harus kecewa karena tidak bisa menemukan deretan pohon sakura di Jepang. Yah memang kita berhadapan dengan alam yang tidak bisa diprediksi. Semuanya hanya perkiraan. Siapa sangka Tokyo akan kembali dingin lagi beberapa hari terakhir.

Satu April merupakan awal tahun fiskal di Jepang. Biasanya pegawai kantor juga dimutasikan mulai awal April. Sedangkan untuk tahun ajaran di kelurahan kami akan dimulai tanggal 6 April nanti. Riku akan menjadi kelas 3 SMP dan Kai kelas 4 SD. Jadi mereka sekarang masih dalam liburan di rumah saja. Riku terus belajar karena ada kelas intensif dari bimbelnya, sedangkan Kai di rumah. Bahayanya kalau Kai di rumah dia main gadget terus. Jadi biasanya aku ajak dia masak, atau pergi bersama aku. Tapi kemarin aku kesal melihat dia bermain terus…. padahal aku juga sambil kerja. Jadi aku tanya dia mau apa, masak atau menjahit? Nah, dia langsung bilang mau coba menjahit. Mulailah aku mengajari dia memasukkan benang, membuat simpul di ujung benang, lalu mulai dengan jelujur. Dan tadi pagi dia melanjutkan berlatih dan mencoba menjahit namanya sendiri. Ketrampilan menjahit biasanya diajarkan di kelas 5, jadi dia senang karena sebelum menjadi kelas 5 dia sudah bisa.

serius!

Dia sempat berkata sama kakaknya: “Riku bisa menjahit? Kalau kamu ngga bisa jahit, ngga bisa hidup sendiri loh!” (Hidup sendiri maksudnya tinggal nge-kos sendirian, bukan di rumah sendiri). Namaiki …. belagu deh dia.

ide dia untuk menulis namanya

Satu April juga April Fool. Aku sih sudah malas untuk menggoda orang, meskipun aku dengar si Riku sempat menggoda temannya dengan April Fool. Apalagi waktu sore hari, aku dihubungi oleh om yang tinggal di Belanda memberitahukan bahwa oma Dodo, yang pernah kutulis di sini, kritis dan mungkin tak lama lagi akan meninggal. Tak lebih dari 1 jam setelah itu, aku membaca bahwa Oma Dodo telah tiada dalam 97 tahun. Manusia memang akan kalah dengan umur, tapi aku percaya Oma Dodo telah mengisi hidupnya dengan penuh semangat dan keceriaan. Selamat Jalan Oma.

Dan… sebagai penutup tulisan, hanya mau menuliskan bahwa dengan ini blogku Twilight Express sudah berusia 9 tahun! Yeaaaahhhh! Semoga panjang umur ya blogku ini hehehe.

 

Berbagi itu Membahagiakan

Haduhhhhh… posting pertama dan terakhir di bulan Maret 2017, akhir tahun fiskal 2016! Benar-benar (keterlaluan) deh 😀 Sampai tidak menulis apa-apa tentang ulang tahun anak sulungku yang berulang tahun di bulan Februari 🙁

Memang, aku benar-benar sibuk sih selama bulan Maret ini. Dimulai dengan pembuatan silabus, pengisian tax return yang tenggatnya tanggal 15 Maret, pekerjaan terjemahan dan editing yang disambil dengan membuat makalah-makalah dan bahan ajar. Duh!

Tapi aku senang sekali ketika namaku disebut-sebut untuk menjelaskan pendidikan anak-anak di Jepang untuk ibu-ibu yang tergabung dalam WIB-J (Wanita Indonesia Berkarya di Jepang). Kebetulan saja ada yang bertanya, lalu namaku disebut sebagai yang bisa menjelaskan. Ini merupakan kegiatan yang baru dicanangkan yaitu membuat workshop kecil berdasarkan tema untuk sesama anggota. Yang bisa menggambar mengajarkan menggambar, yang bisa menjahit mengajarkan menjahit untuk sesama wanita Indonesia yang lain. Kegiatan sukarela yang sangat aku pujikan. Tapi aku terus terang tidak punya keahlian apa-apa yang bisa dibagikan kepada ibu-ibu lain, kecuali mengajar bahasa Indonesia …dan ibu-ibu ini kan tidak perlu bahasa Indonesia hehehe.

Tapi karena ada yang bertanya tentang pendidikan Jepang untuk anaknya, aku jadi tersentak. Ya betul, banyak orang (Indonesia) yang tidak mengerti pendidikan Jepang seperti apa, apalagi kalau tidak bisa berbahasa Jepang. Memang ada yang ditulis dalam bahasa Inggris, tapi tidak mendetil juga. Jadi aku tentukan waktu workshop itu tgl 25 Maret, dengan perkiraan anak-anak sudah mulai libur dan ibu-ibu belum begitu sibuk menghadapi tahun ajaran baru.

Bertempat di rumah salah satu ibu di daerah Yokohama, ada 12 ibu yang berkumpul. Tentu mereka sudah punya satu (atau dua, tiga) anak dan ingin sekali mengetahui tentang pendidikan Jepang untuk anaknya. Ada yang baru datang ke Jepang, ada yang sudah cukup lama dan hampir semua akan lama tinggal di Jepang. Yang luput dari perkiraanku adalah suami dari ibu-ibu ini semua adalah orang Indonesia/bukan orang Jepang. Baru di situ aku tersadar! Tentu saja ibu-ibu inilah yang  perlu mengetahui pendidikan Jepang, karena kalau yang menikah dengan orang Jepang (suami Jepang) kan tidak perlu mengetahui atau bisa menyerahkan pada suaminya untuk mengurus pendidikan anaknya.

Jadi aku sangat kagum dengan antusiasme ibu-ibu muda ini. Karena waktu yang dialokasikan 1,5 jam molor menjadi 3 jam. Tapi rasanya bahagia sekali bisa membantu menghilangkan kebingungan mereka memilih pendidikan bagi anak-anak mereka. Pemilihan antara day care (hoikuen), TK (yochien) dan kemudian SD negeri atau SD swasta. Memang topik yang dibahas dibatasi tentang pendidikan dari 0-12 tahun. Diskusi dan sesi berbagi pengalaman antar ibu juga sangat meriah sehingga acara yang dimulai pukul 12 dengan makan siang bersama, terpaksa harus dihentikan pukul 4sore.

makalah dipersiapkan dengan kilat di sela-sela kerja yang lain hehehe

Dan ya, workshop ini juga membangkitkan kenangan masa lalu waktu belajar dan meneliti pendidikan Jepang dan menyadarkanku bahwa aku belum banyak menghasilkan sesuatu dari bidang yang cukup aku dalami: Sejarah Pendidikan Jepang. Semoga bisa deh.

canggung juga berbicara bukan di kelas 😀

Restoran Khusus

Kali ini aku ingin memperkenalkan sebuah restoran khusus. Khususnya adalah karena restoran itu memakai bahan-bahan dari daerah yang diwakilinya.

Nama restoran itu Tsukada Noujou 塚田農場、mewakili daerah Miyazaki di sebelah selatan Jepang. Awalnya Gen yang bercerita ingin makan di restoran ini. Memang sejak adiknya pindah ke Miyazaki, dia selalu ingin membuat “hubungan” dengan daerah tempat tinggal adiknya. Dulu waktu adiknya tinggal di Sendai (Miyagi) dia juga suka membeli barang/makanan dari daerah itu. Waktu Gen mengajak pergi ke restoran itu aku tanya, memangnya apa keistimewaannya?

waktu pergi berdua Riku saja

Ternyata keistimewaannya, restoran itu memakai hasil bumi dan  hasil peternakan dari prefektur Miyazaki. Setiap pagi dikirim ayam yang memang merupakan andalan daerah ini. Ayam segar sehingga bisa dimakan setengah mentah (sashimi/ tataki). Kalau ayam itu enak, dagingnya juga tidak amis bahkan manis! Tapi jangan coba makan ayam setengah mentah di Indonesia ya. Kalau di Jepang, semua bahan sudah melalui pemeriksaan sehingga bisa dimakan mentah (demikian pula dengan telur yang dijual umum, semua sudah diperiksa dan bisa dikonsumsi mentah). Ayam setengah matang itu hanya dibakar bagian luarnya, sedangkan bagian dalamnya masih mentah, kemudian disiram kecap asin khusus. Enak!

menu andalan Tsukada Noujou (dan Yamanouchi Noujou): ayam setengah matang dan ayam panggang

Selain itu ada juga ayam panggang dengan arang, yang juga merupakan menu andalan restoran ini. Aku selalu memesan kedua jenis masakan ayam ini di sini. Dan karena menu utamanya adalah ayam, aku bisa mengajak teman muslim yang tidak keberatan makan ayam tanpa tanda halal (asal ayam).

Selain ayam, mereka pasti mengeluarkan makanan awal appetizer berupa sayur mentah hasil perkebunan Miyazaki. Biasanya kol dan ketimun, yang dimakan dengan miso khusus. Duh sayurannya benar-benar segar dan juicy dan enak! Bahkan aku pernah makan terong mentah dan wortel berwarna yang mentah sebagai appetizernya. Enak! Kaget juga aku waktu makan terong mentahnya, karena dalam pikiranku terong itu selalu harus dimasak (kena api).

Ramen Jahe yang kusuka

Ada satu lagi menu andalan resto ini yaitu Ramen Jahe. Tentu ramen dengan kaldu ayam lalu diberi parutan jahe, banyak! Wah cocok sekali kalau kurang enak badan, atau seperti saat ini, musim dingin. Menghangatkan perut dan badan.

Restoran ini juga mempunya cara tersendiri menarik pengunjung. Jadi kalau pertama datang, pengunjung akan diberi kartu nama. Tulis nama sendiri dan posisinya sebagai “pegawai”. Nanti setelah dua kali, diangkat menjadi kepala bagian. Dan sebagai “hadiah” promosi kenaikan pangkat, diberikan satu piring masakan gratis. Kemudian naik pangkat lagi setelah 5 kali menjadi boss, dan setelah itu ada posisi komisaris (lupa setelah berapa kali). Lucu juga cara mereka, sehingga aku selalu membawa “kartu nama”ku di dalam dompet, siapa tahu aku bisa jadi komisaris ya 😀

jelly dalam piring yang dihias

Tapi ada satu lagi layanan mereka yang menarik hati pengunjung (terutama wanita), yaitu memberikan pencuci mulut berupa jelly (kecil sih) tapi piringnya dihias dengan pesan-pesan, tergantung kreatifitas pelayan yang bertugas di meja kami. Misalnya waktu aku pergi berdua dengan Riku saja, waktu itu Riku pulang dari bimbel sedangkan papa Gen dan Kai menginap di rumah Yokohama. Jadi pelayannya menghias piringnya dengan tulisan: “Selamat belajar! Untuk ibu-anak yang serupa”. Atau waktu pergi dengan teman-teman alumni UI dalam rangka tutup tahun, petugasnya menulis dalam bahasa Indonesia! Ah perhatian “kecil” seperti ini memang menghangatkan hati.

Oh ya sebagai penutup layanan mereka, biasanya kami diberi sekotak kecil plastik berisi miso khas mereka waktu pulang. Dan pelayannya akan mengantar sampai pintu keluar. Good service!

Cara pemasaran seperti Tsukada Noujou ini menjadi terkenal, sehingga ada perusahaan lain yang juga menirunya. Kata Gen pasti perusahaan itu “beli” ide dari Tsukada Noujou. Nah nama restoran itu adalah Yamanouchi Noujou 山内農場, yang mengandalkan hasil bumi (sama-sama ayam dan sayuran) dari Kagoshima (tetangganya Miyazaki). Menu ayam setengah mentah dan ayam panggangnya sama, tapi di Yamanouchi Noujou lebih banyak variasi menu-menu dengan ukuran kecil. Secara pribadi aku lebih suka Yamanouchi Noujou karena menu makanan yang lebih kaya. Tapi mereka tidak menerapkan sistem kartu nama atau piring jelly, atau memberikan “hadiah” miso waktu pulang. Harga masakan di Yamanouchi Noujou juga sedikit lebih murah daripada Tsukada Noujou. Tapi ada satu yang kurasa Yamanouchi Noujou itu “kalah” yaitu, mereka tidak mempunyai menu Ramen Jahe 😀

Kedua restoran ayam ini sekarang menjadi restoran favoritku, sehingga aku biasanya mengajak teman-teman ke sana. Apalagi kedua restoran ini mempunyai cabang (waralaba) di mana-mana, di setiap stasiun besar. Tapi baru-baru ini aku menemukan lagi satu restoran  khusus yaitu restoran dari prefecture Yamaguchi (masih daerah di selatan Jepang). Tapi aku tidak merasa menu masakan mereka itu istimewa, kecuali soba hijau yang dipanggang di atas genteng. Biasa saja untuk makanan. Tapi prefecture Yamaguchi mempunyai sake jepang yang sangat enak dan terkenal, yaitu Dassai! Jadi restoran ini wajib dikunjungi oleh mereka yang ingin menikmati sake Jepang yang sudah terkenal di dunia.

Soba hijau yang dimasak di atas genteng. Sake Dassai memang terkenal dan enak (dan mahal hehehe)

Restoran dari 3 prefektur, masing-masing dengan keunggulannya. Dan kurasa restoran ini cukup berhasil menunjang perekonomian daerahnya masing-masing.

Originality

Kalau kemarin aku menulis tentang pernyataan Riku tentang “Bulannya indah ya!” padahal merujuk ke I Love You, hari ini aku ingin menulis tentang pendapat Kai yang dia ucapkan di dalam mobil, hari Sabtu yang lalu.

Katanya, “Kalaupun mau membuat sesuatu yang original (asli) pasti akan ada bagian yang mirip dengan yang lain ya? Pasti selalu ada kesamaannya”. Memang waktu itu kami sedang mendengar lagu dari pemain biola terkenal Hakase Tarou. Maksudnya Kai, dalam suatu lagu, ada bagian-bagian yang pernah di dengar di lagu lain. Jadi dalam membuat sesuatu, orang tidak bisa mengatakan bahwa ini ASLI, karena pasti ada bagian yang menyerupai karya orang lain.

Duh, masih kecil saja sudah berpikir demikian 😀 Yang sudah dewasa saja kadang kala main comot sana sini dan MENGAKU karyanya ASLI100% …. Kai … kai.

Lalu papanya menjelaskan bahwa sebenarnya MANABU 学ぶ atau belajar itu, awalnya adalah MANEBU まねぶ yang mane artinya meniru. Jadi kalau mau belajar sesuatu, kita awalnya adalah meniru guru kita. Ada pola, ada panduan, dan kita harus menjaga, mengikuti 守る pola itu.  Sesudah berhasil menguasai/ berhasil meniru apa yang dibuat guru itu, maka si murid akan menemukan sebuah pola baru yang cocok untuk dirinya. Saat ini dia akan merobek/merusak 破る pola awal yang dipelajari dari gurunya. Sesudah itu dia akan menguasai pola yang sesuai dengan dirinya dan menemukan kiatnya sendiri, sehingga menjauh 離れる dari pola pertama. Tiga tingkat SHUHARI 守破離 ini merupakan tingkatan/ langkah dalam mempelajari sesuatu ketrampilan seperti upacara minum teh, bela diri atau kesenian dan lain-lain yang membutuhkan hubungan guru-murid. Jadi kalau Kai mau belajar sesuatu yang sebaiknya mulai dari MENIRU dulu. Itu adalah pendidikan dasar yang harus dikuasai sebelum bisa berkreasi dan menemukan aliran/penemuan baru.

Sulit untuk bisa dimengerti Kai yang sekarang berusia 9 tahun, tapi semoga dia selalu ingat 3 langkah, 3 tingkatan ini untuk bisa berkembang di kemudian hari.

(sambil mamanya ngedumel dalam hati… pantesan aku bukan orang Jepang, apa-apa maunya bebas dan tidak terikat pada buku manual sih 😀 Hayoooo kamu pernah buka dan baca buku manual dulu sebelum melakukan sesuatu ngga? :D)