Arsip Tag: odaiba

Seni Menipu – Tokyo Trick Art Museum

Bukan, aku tidak mau mengajarkan pembaca mengenai bagaimana cara-cara menipu loh. Tapi yang ingin kutulis adalah tentang kesenian yang bisa mengelabui mata. Kelihatannya seperti sesuatu yang lain, padahal itu adalah pinter-pinternya yang menggambar saja.

Aku pergi ke Tokyo Trick art Museum  waktu pergi ke Legoland yang kedua kalinya. Karena Tokyo Trick art Museum ini terletak satu lantai di bawah legoland (Decks ODAIBA), sehingga pasti lewat waktu pulang. Karena harga tiket masuknya hanya 900 yen untuk dewasa, maka aku dan Sanchan sepakat untuk mampir di sini berdua, waktu anak-anak main lego, dan berfoto narsis 😀 Emang duo emak ini udah klop kalau soal foto berfoto 😀

Eh, tapi ternyata kami tidak bisa melepaskan diri dari anak-anak. Memang peraturan di Legoland itu, tidak boleh meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan orang tua. Waktu makan siang kami bisa meninggalkan satu jam, Riku dan Yuyu, tapi Kai kami bawa sebagai “jaminan” supaya waktu masuk kembali, kami bersama anak-anak. Untung saja Kai mau, dan kami ajak makan di restoran Surabaya, yang berada di gedung sebelah. Kai suka makan soto ayam, sehingga aku bisa “membujuk” dia untuk pergi sebentar dari Legoland dan makan soto ayam bersama duo emak. Riku dan Yuyu makan siang di dalam Legoland, yang ternyata menurut perhitungan duo emak, tidak terlalu mahal. Biasanya kalau makan di dalam sebuah thema park, harga makanan diketok habis-habisan (jadi inget Disneyland), tapi di Legoland, satu bento paling mahal 500 yen. Memang untuk dewasa tidak cukup (dan tidak enak), tapi untuk anak-anak lebih dari cukup. Apalagi karena kamu member, kami mendapat potongan 10% setiap berbelanja di dalam Legoland.

Restoran Surabaya di Odaiba

 

Balik ke Tokyo Trick art Museum, kami akhirnya masuk bersama pada pukul 18:30. Memang Legoland kali ke dua  itu aku minta supaya anak-anak bisa selesai dan pulang jam 6 sore. Tidak seperti malam sebelumnya yaitu jam 8 malam (Legoland sendiri tutup jam 9 malam). Nah waktu menuruni eskalator itu lah kami memutuskan mengajak anak-anak juga. Tadinya kami pikir anak-anak tidak antusias, tapi perkiraan kami salah. Ternyata anak-anak jauuuuh lebih narsis daripada ibunya 😀 

Dua gambar di atas berada di luar museum, sedangkan yang di bawah di pintu masuk

Untungnya waktu kami masuk itu masih sepi, tapi tak lama mulai berdatangan tamu yang lain, sehingga cukup menyebalkan, karena tidak bisa konsentrasi berfoto :D. Di pintu masuk kami disambut (lukisan) seorang wanita berkimono, yang jika dilihat dari berbagai sudut akan aneh. Jika melihat pada sudut yang tepat memang kita akan melihat tangannya seakan benar-benar tiga dimensi. Tapi yang cukup menarik adalah sebuah lukisan yang menggambarkan kedai minum teh ala jepang dengan payung di luar kios. Dengan menekuk lutut sedikit kita bisa memotret seakan-akan kita sedang duduk santai di situ.

Kiri atas, perumahan di kota Edo. Ternyata berbentuk segitiga yang menonjol dari dinding, sehingga Sanchan sempat menabraknya 😀 Kanan atas: Riku dengan kappa (binatang jejadian). Kiri bawah: Aku lebih kecil dari Riku. Kanan bawah : Riku minum sake dengan hantu mata tiga 😀

Permainan lukisan yang menghasilkan tiga dimensi tentang kota pada jaman Edo. Satu yang perlu percobaan cukup banyak adalah sebuah ruangan yang bisa memutarbalikkan fakta. Aku yang sebesar ini bisa jauh lebih kecil daripada Riku. Dan memang harus memotretnya dari luar ruangan. Pada jaman Edo banyak pembantaian, dan cerita mengenai setan, hantu dsb nya itu sangat populer.

Yang lucu fotonya Kai, kok dia menutupi bagian yang “tepat” dengan tangannya ya? hahaha.(eh aku ngga suruh-suruh loh) Kalau Riku dia bergaya persis memegang bahu si baju merah seakan sedang menepuknya.

 

Anak-anak cukup takut untuk sendirian berada di dalam bagian ini. Setelah keluar dari bagian “perhantuan” kami bisa melihat beberapa lukisan manusia dan binatang.

foto ikan hiu itu sepertinya sudah banyak ya?

Konon trick art seperti ini juga sudah menyebar ke Jakarta juga. Tapi aku baru pertama kali melihat berbagai trick di museum ini. Museumnya tidak besar sih, tapi ya kalau mau berusaha memotret dengan jurus yang diberitahukan (dengan tiduran atau menjengking segala) bisa menghasilkan foto yang bagus, sehingga HTM seharga 900 yen cukup murah lah. Tapi ternyata kami fotonya tidak seheboh waktu berada di Madame Tussaud. Kembali ke museum ini lagi? Nanti deh kalau musti antar tamu baru mau masuk lagi 😀

(Tulisan yang tertunda hampir 2 bulan :D)

 

Madame Tussauds Tokyo

Seperti yang sudah kutulis di posting tentang Legoland, aku membeli karcis masuk kolaborasi dengan Madame Tussauds Tokyo, yang letaknya persis sebelahan dengan Legoland, yaitu di lantai 3 mall DECK, Odaiba. Memang sih karcis itu berlaku sampai 30 hari, jadi tidak perlu pergi hari itu juga. Tapi kami pikir ngapain tunda-tunda lain hari, mumpung sudah di situ. TAPI belum tentu anak-anak suka ke museum Madame Tussauds ini. Jadi setelah makan siang, kamu ajak anak-anak ‘mampir’ ke Madame Tussauds dengan janji ‘cuma 15 menit’ dan setelah 15 menit kita akan ke Legoland lagi –nyambung main.

Matsuko Deluxe

Waktu kami masuk, sepi sekali tempat ini. Sebelum naik lift kami disambut dengan patung lilin MATSUKO Deluxe マツコデラックス, artis Jepang yang aslinya laki-laki (bisa baca di Hari Terjepit untuk Transgender). Ternyata ngga gede-gede amat badannya, soalnya kalau di TV bayanganku tinggi besar seperti pesumo 😀

Kami naik ke lantai 6 dengan lift dan begitu lift membuka disambut oleh Bruce Willis. Ho ho… sayang kesempatan kita berfoto singkat waktunya dan ruangannya sempit untuk bisa memotret satu badan (kecuali si pemotret di luar lift. Jadi yang kena foto dengan BW ini cuma Kai karena dia yang terdekat berdirinya.

Kai dan Bruce Willis

Setelah kami keluar lift nah, kami disambut oleh Johnny Depp deh. Memang di atur seperti ada red carpet dan begitu kami melangkah ke sana ada suara-suara dan lampu blitz. Di situ juga dipasang kamera yang otomatis mengambil foto kami bersama Johnny Depp dan dijual di pintu keluar. Untuk dua lembar (padahal pose dan komposisi berbeda) kami ‘cukup’ membayar 1800 yen. Padahal kami juga bisa mengambil dengan kamera kami sendiri, bahkan staff yang ada juga sudah mengambilkan foto kami. Tetap saja takut jika hasilnya buruk atau tidak jelas. Tapi untunglah semua pemotretan di tempat-tempat wisata seperti begini (baik lego, Madame Tussauds dan Disneyland) tidak pernah memaksa. Silakan beli kalau mau, kalau tidak juga tidak dikejar-kejar 😀

Red Carpet with Johnny Depp

Setelah selesai berfoto dengan Johnny Depp, kami memasuki ruang bulat yang berdirilah Lady Diana, Pangeran William dan Kate, lalu di situ juga ada kursi keratuan Inggris. Kami dipersilahkan memakai mantel bulu dan mahkota yang disediakan, lalu boleh duduk di kursi itu. Katanya, “Nikmatilah kursi ini seakan-akan Anda Ratu”. Memang oleh staff di bawah, kami diberitahukan bahwa kami boleh memegang patung-patung lilin itu asalkan tidak mendorongnya. Jadilah kami (terutama aku dan Sanchan) tidak mau melewatkan kesempatan untuk berfoto. Kebetulan juga masih sepi, sehingga kami bebas bergaya.

Mantan PM Koizumi dan Presiden Obama

Di ruangan yang sama juga ada Dalai Lama, mantan PM Jepang Koizumi dan presiden Obama. Wah rasanya aku ingin meniru gaya Mas Nug yang angkat kaki di mejanya. Sayang aku pakai rok sehingga tidak pantas untuk angkat kaki :D.

Setelah itu kami memasuki wilayah Sport. Patung lilin yang ditampilkan di sini adalah Darvish, pegolf Ishikawa Ryo, figure skating Asada Mao, pebalap Ayrton Senna, pemain bola Miura Kazuyoshi, Lionel Messi dan David Beckham. Eh ada pesumo juga tapi aku lupa namanya 😀

tokoh-tokoh olahraga

Sesudah dari wilayah Sport, masuklah kami ke ruangan selebriti. Dimulai dengan Maryln Monroe dengan gaun merah. Ternyata dia kecil sekali saudara-saudara. Bukannya kecil langsing, tapi juga tidak tinggi untuk ukuran negara sono.

Lalu yang kurasa juga kecil tuh Madonna dan di tempat Madonna diletakkan wig dan korset yang boleh dicoba jika mau. ho ho tentu saja kami coba, tapi maaf foto untuk konsumsi pribadi hahaha. Waktu kami mencoba wig itulah tiba-tiba anak-anak membawa bermacam wig, termasuk Kai dengan wig Elvis dan topinya Michael Jackson. Ah, anak-anak ini ternyata enjoy juga di sini, sehingga yang tadinya CUMA 15 menit, menjadi 1 jam lebih 😀 Mereka juga mengeksplore tokoh-tokoh dunia yang ada.

Kai dan Riku bergaya

Selain foto-foto dengan wig, kami juga tidak bisa memperlihatkan foto kami dengan aktor George Clooney yang menjadi idola para wanita. Takut nanti kami dilempari telur busuk oleh mereka karena kami berani-beraninya merangkul dan menc*um pipinya 😀 Eh TAPI si George Clooney itu TINGGI BESAR deh, lihat saja sofanya… aku duduk di situ saja kakinya melayang dan terlihat kecil kan 😀

George Clooney yang tinggi besar. Lihat kakiku nggantung 😀

Ada Leonardo diCaprio yang tinggi besar…(Kupikir dia kecil loh hehehe ternyata gede bo…), lalu ada si pretty woman Julia Roberts, ada Richard Gere, ada spiderman, ada juga anggota AKB yang sorry aku tidak hafal namanya 😀 Tapi di situ yang kurasa paling bagus fotoku adalah waktu minta bonceng si Kang Tom Cruise naik sepeda motornya 😀 Aku dan Sanchan bilang, “Coba ada kipas angin yang bisa membuat rambut tergerai seakan2 benar-benar naik motor” hahaha. Maunya sih gitu ….

Kang Tom ganti profesi jadi ojek

Di arena selebriti aku suka melihat foto Riku dengan Jackie Chan, atau anak-anak menaiki sepedanya ET yang sama sekali tidak mereka kenal. Wong ET itu ada waktu aku kecil…. hehehe.

ET dan Jacky Chan

Dan sebagai foto penutup di ruang selebriti kami berfoto dengan Lady Gaga deh.  

Setelah dari ruang selebriti, kami memasuki ruang tokoh yang menampilkan cara pembuatan patung lilin, juga sempat berfoto dengan alm Steve Jobs dan Einstein … moga-moga ketularan pintarnya 😀

bersama orang-orang pintar

Sayang lama-lama pengunjung bertambah banyak, sehingga kegilaan kami tidak bisa tersalurkan lagi. Cuma kami yang bergaya aneh-aneh di situ. Orang Jepang terlalu jaim sih… eh tapiiiii aku bisa ikut aneh-aneh karena ada temannya si Sanchan. Mungkin kalau bukan dengan Sanchan aku juga jaim deh 😀 Makasih ya Sanchan 😉

Museum Madame Tussauds Tokyo ini baru saja dibuka tanggal 15 Maret, sehingga masih baru dan masih kosong. Mungkin masih belum banyak yang tahu soal museum ini. Tapi ada juga penilaian orang Jepang yang mengatakan, “Ah di museum itu cukup 15 menit saja kok. Terlalu mahal (1900 yen) untuk waktu yang singkat…” Hmmm pasti dia cuma lihat-lihat saja tanpa foto-foto deh… atau… dia tidak suka infotainment 😀

Breakfast with Audrey Hepburn

Harga karcisnya 1900 yen jika membeli di loket pada hari itu, tapi kalau beli online hanya 1450 yen. Keterangannya bisa dibaca di website resminya. Saya sarankan kalau mau datang ke Madame Tussauds, datanglah pada hari biasa siang hari, dan kamu bisa narsis dengan patung lilin artis/aktor idolamu dengan santai.

NB: Pengumuman hasil GA TE BD5 ada di sini.

Legoland Discovery Center Tokyo

Tulisan yang tertunda, mengenai liburan musim semi kami di awal April.

Setelah pergi nonton Doraemon bareng, aku janjian dengan Sanchan untuk membawa anak-anak ke Legoland Discovery Center yang terletak di Odaiba. Gen sudah lama ingin mengajak anak-anak ke sana sejak mengetahui dibukanya Legoland itu, tapi belum pernah terlaksana. Lucu aja, pas anak-anak ditanya, “Pilih mana Toshimaen (semacam Dufan dengan segala atraksinya) dan Legoland? ” Ketiganya menjawab dengan tegas, LEGOLAND!. Wah cocok deh Riku dan Kai dengan Yuyu, karena mereka bertiga suka lego. So, aku hunting karcis Lego via internet, karena aku tidak mau antri 😀

Dari web resminya, aku mengetahui bahwa dijual paket tiket kolaborasi dengan Madame Tussaud seharga 2500 yen untuk dewasa dan 2100 untuk anak-anak. Wah, lumayan juga potongan harganya, jadi kami berdua, aku dan Sanchan sepakat untuk pergi ke Legoland tanggal 1 April yang lalu. Karena tempat legoland itu cukup jauh dari rumah kami (butuh waktu sekitar 1,5 jam) jadi kami memilih untuk masuk jam 11-11:30 an. Mereka memakai sistem kontrol pengunjung dengan pembagian jam masuk jika penuh. Kami naik JR dan monorail Yurikamome dari stasiun Shinbashi. Sengaja kami menunggu kereta berikutnya supaya anak-anak bisa duduk paling depan dan melihat pemandangan kawasan Tokyo Beach tanpa halangan. Oh ya aku baru sadar bahwa yurikamome itu berjalan dengan ban, setelah Kai mengatakan :”Ma, kereta ini tidak ada relnya loh. Pakai ban!” Jeli bener deh si Kai itu.

yurikamome line

Sambil menikmati perjalanan selama 18 menit dengan biaya yang tidak murah (tiket dewasa one way 310 yen!), aku ikut menikmati pemandangan yang ada. Tanggal 1 itu tidak hujan tapi agak mendung. Tapi menurutku lumayan bagus sehingga tidak terlalu silau oleh cahaya mentari. Aku sempat memotret selama perjalanan. Ya, sudah cukup lama aku tidak ke sini, terakhir aku ke sini waktu bersama temanku Ira W yang kutulis di  “Obat Kekecewaan” sekitar satu setengah tahun yang lalu. Senang juga mempunyai alasan untuk bisa datang ke Odaiba lagi. Tanpa Sanchan, aku malas mengajak anak-anak sendirian 😀

So, begitu sampai, kami langsung pergi ke DECK Odaiba lantai 3 tempat Legoland berada. Sama tingkat dengan Joypolis dan Madame Tussaud. Tapi tentu saja dong deh ya, mama-mama nya mau berfoto dulu di Deck yang menghadap ke Rainbow Bridge dan membuat anak-anak tidak sabar untuk berlari masuk 😀 Tapi kami sampai di depan antrian Legoland pada waktu yang ditentukan yaitu pukul 11:00. Eh, masih harus antri? Sebentar sih, tapi sambil antri itu kami sempat berfoto dan aku mengatakan pada Sanchan, bahwa Gen sebetulnya ingin menjadi anggota tahunan. Dengan membayar 4500 yen, kami bisa keluar masuk selama setahun kapan saja, tanpa ditolak (kalau penuh yg bukan anggota pasti ditolak), dan selain itu kami mendapat potongan 10% untuk semua pembelian di dalam Legoland. Well, Sanchan bilang, kita lihat saja dulu dalamnya gimana… kalau bagus, boleh juga kita beli annual pass nya.

lift menuju lantai 7 dan factory nya

Setelah diperiksa karcis pemesanan dari email yang dikirim, anak-anak mendapat souvenir Lego dan kami diantar ke lift yang akan membawa kami ke lantai 7. Rupanya permainannya sendiri berada di lantai 7, sedangkan pintu masuknya di lantai 3. Di muka lift saja, eh bahkan di tempat antrian sudah ada bentuk-bentuk Lego. Gemes deh lihatnya. Ceritanya kita masuk ke pabrik legonya dengan mesin-mesin yang menjelaskan tentang pembuatan lego dan penyebarannya (pemasarannya) di seluruh dunia. TAPI anak-anak mana mau berlama-lama di sini, mereka mau langsung masuk dan mencari surprise apa lagi yang ada.

Begitu masuk lorong, kami melihat antrian yang cukup panjang… Dan ternyata itu atraksi Kingdom Quest, yang memungkinkan penumpang kendaraan (max  5 orang) untuk menembak musuh-musuh kerajaan 😀 Di sini juga ada tempat khusus yang dipasang kamera sehingga waktu kita keluar ada foto kita di dalamnya. Tentu saja dijual (mahal) seharga 1000 yen berupa foto, atau bisa juga berupa gantungan kunci dan magnet. Sayang waktu kami membeli foto yang pertama kami belum dapat diskon 😀 Ssstt tempat ini menjadi tempat favorit mama Imelda dan mama Sanchan loh 😀

Setelah Kingdom Quest kami memasuki sebuah ruangan yang berisi maket kota Tokyo dari lego semua. Tentu saja ada semua tempat wisata di Tokyo termasuk Tokyo Tower dan Sky Tree. Ada pula pojok khusus Kyoto. Yang bagusnya di sini dipamerkan suasana Tokyo di siang hari dan malam hari…. Lampu-lampu malam hari dibuat sedemikian rupa sehingga membuat kami seakan memang berada di Tokyo pada malam hari. Duuuh detil pembuatan bangunan, jembatan, orang-orang dan mobil2 itu benar-benar bagus deh! Mungkin pecandu Lego ingin membuat kamar khusus seperti ini di rumahnya 😀 Aku cukup menikmati pemadangan di sini, tapi anak-anak tentu cari yang lebih seru lagi.

Lebih seru buat anak-anak berarti bisa membuat lego sendiri, bisa berlari, manjat-manjat memakai badannya. Dan di bagian tengah memang terpasang jungle jim besar berwarna merah kuning seperti lego, tempat anak-anak bermain. Sebelum masuk jungle jim ini semua anak harus melepas sepatunya. Bisa dibayangkan betapa banyak sepatu di depan pintu masuknya. Dan ibu-ibu semua duduk di sekitar situ, dan atau di meja kursi dari tempat makan yang disediakan. Setelah lama di situ baru aku perhatikan bahwa harga-harga di tempat makan itu tidak mahal sama sekali. Kalau di disney misalnya, mereka memasang harga mahal untuk makanan yang rata-rata tidak ada seharga 500-an. Nah kalau di legoland ini ada makanan seharga 500-an, yang cukup untuk anak-anak. Tentu saja untuk ibu-ibunya tidak level 😀 Karena biasanya ibu-ibunya makan di restoran di luar legoland, bangunan DECK yang banyak diisi restoran-restoran yang enak-enak. Pada hari kedua aku dan Sanchan bahkan makan siang di restoran Surabaya di Aqua City yang terletak di sebelah DECK. (Ketahuan deh pergi ke legoland sampai dua kali :D)

junglejim dan wc di legoland

Setelah puas bermain, anak-anak menjemput jacket yang kami pegang, dan kami antri di tempat menonton film 4D. Film pertama yang kami lihat adalah ”Spellbreaker”, cerita tentang lego kingdom deh… Dan terus terang lebih bagus dari film ke dua yang berjudul apa racer gitu hehehe. Jadi film di 4D Cinema itu ada 2 judul yang diacak pemutarannya. Dan kalau ke sini HARUS nonton 😀 Aku sendiri suka sekali cinema 4D ini karena seruuuuu. Ada angin, air, bahkan “salju”… pokoknya seru!

Lego Racer: build and test!

Setelah keluar dari cinema langsung ada pojokan yang berjudul Lego Racer: build and test…nah anak-anak langsung deh ngedon di sini. Mereka buat mobil-mobilan sendiri dan langsung coba di track yang disediakan. Padahal di sebelahnya ada juga pojok untuk cewek-cewek …di sini sepi deh. Memang kelihatan penggemar lego kebanyakan anak-anak laki-laki. Jadi sementara anak-anak main ya mamanya ngobrol ngalor ngidul seh.

Eh tapi kami sempat keluar untuk makan dan membuat kartu anggota tahunan. Yang aku dan Sanchan rasa hebat tuh, kami kan sudah bayar 2800 untuk beli karcis hari itu, dan untuk kartu anggota tahunan itu harus bayar 4500 yen per orang (dewasa dan anak-anak sama harganya). Tapi kami cukup membayar kekurangannya saja sejak hari itu bisa berlaku. Wah… untung sekali. Kami bayangkan kalo di Indonesia pasti ngga bisa seperti itu. Karcis yang sudah terpakai pasti dianggap hangus dan kami harus tetap bayar 4500 yen. Bengong juga waktu disuruh bayar sisanya saja. Salut deh.

permainan untuk anak-anak di bawah 6 tahun juga ada, jadi Kai bisa main sendiri

Akhirnya tanggal 1 April itu kami bermain di Legoland sampai jam 7:30 malam, dan makan malam di Odaiba. Sampai di rumah pukul 11:30, bersamaan dengan papa Gen pulang. Tentu saja anak-anak ramai menceritakan kunjungan mereka ke Legoland, dan tidur setelah pukul 12:30 malam. Dan tanggal 4 Aprilnya kami pergi lagi ke sana untuk bermain lagi, dan dari awal anak-anak sudah diwanti-wanti tidak boleh beli souvenir di toko legonya, meskipun akhirnya kami kasian juga dan memperbolehkan membeli lego seharga 350 yen. (Tanggal 1 masing-masing anak mendapat jatah 1000 yen). Dan kami sampai di rumah jam 9 malam 😀 Dingin juga mengayuh sepeda di malam harinya. TAPI wajah anak-anak itu puas sekali bisa bermain seharian eh dua-harian di Legoland, bersama teman yang sehobi juga.  Dan karena kami sudah punya passport tahunan, bisa deh pergi setiap saat sampai dengan tanggal 31 Maret 2014 Yeahhhh… Bisa juga antar tamu dari jakarta tapi tamunya bayar karcisnya sendiri ya hehehehe 

rainbow bridge waktu kami datang(siang hari), dan waktu pulang (malam hari)

Nenek moyangku orang pelaut

dan ya aku bangga bisa terciprat sedikit darah penjelajah lautan dari suku yang terkenal dengan perahu phinisinya. Meskipun terus terang aku takut laut. Sedapat mungkin menghindari untuk naik segala jenis perahu/kapal karena aku takut!  Tapi tentu saja hal itu tidak mungkin. Pasti ada suatu saat harus naik ferry atau perahu wisata dan semakin lama hidup aku menganggap aku semakin “berani”. Well mungkin  di sini berlaku pepatah Witing tresno jalaran soko kulino. cinta karena terbiasa…. Mungkin loh hehehe.

Hari Minggu lalu, tanggal 16 Mei 2010, kami pergi ke Museum of Maritime Science,  Funenokagakukan 船の科学館. Entah kenapa si Gen pengeeen banget ke situ. Dan waktu cari info di website, khusus tgl 15-16, limapuluh pengunjung pertama akan mendapat hadiah. Jadi, kalau mau dapat hadiah kami harus cepat-cepat pergi.

Jam 6 pagi Riku sudah bangun, sedangkan aku sendiri sudah bangun sejak jam 2 hahahaha (terbangun dan tidak bisa tidur lagi). Dan jam 7:30 kami semua sudah sarapan, untuk keluar rumah jam 8:30. Odaiba (pantai reklamasi Teluk Tokyo) cukup jauh dari rumah kami. Tapi kami bisa sampai di situ jam 9:30. Kalau menurut perhitungan kami sih telat, karena biasanya orang Jepang datang satu jam sebelum pintu dibuka (museum ini buka jam 10:00) jadi kami sih pasrah saja kalau tidak dapat hadiah.

Eh ternyata waktu kami ke antrian baru ada sekitar 12-13 orang. Asyiiik. Pasti dapet hadiah. Sambil menunggu, aku sempat melihat burung walet membuat sarang di langit-langit. (Aku sempat lama menulis di bagian ini, tiba-tiba ragu dengan nama burung. Walet atau camar ya? hihihi)

Burung "dompet" , karena emang sih sarang burung walet bisa buat tebal dompet hihihi

Dan satu yang membuat Gen sedih yaitu tidak bisa mengikuti naik kapal keliling teluk Tokyo. Jadi dalam rangka Festival Pelabuhan Tokyo yang ke 63, di museum ini diadakan  “Pesta Anakanak Laut”. Khusus tanggal 15-16 Mei semua yang berumur di bawah 18 tahun gratis memasuki Museum of Maritime Science ini (HTM museum ini 700 yen utk dewasa dan 400 utk SD-18 th), dan ada beberapa acara khusus untuk anak-anak. Salah satunya adalah keliling teluk Tokyo dengan menaiki kapal pengamat “Takashima” dari Departemen Perhubungannya Jepang (MITI). Waktu lihat di website memang diberitahu bahwa hanya untuk 50 orang saja, dan pada hari H-nya akan diisi kekurangan peminat sekitar 20-an orang. Tapi waktu kami antri itu dibilang bahwa hanya 10 orang saja yang bisa ikut dalam kapal. Nah loh, kita berada di nomor 12-an di antrian…hiks. Jadi pasti tidak dapat nomor deh.

Memang ada dua keberangkatan yaitu pukul 11 dan pukul 1:30. Yang pukul 11, langsung penuh kan…jadi kami harus kembali mendaftar (dari 10 kursi kosong) itu untuk kali keberangkatan ke dua jam 1:30. Pendaftarannya sendiri mulai jam 12 siang. Hmmm kalau melihat lagat orang Jepang kan pasti mereka mulai antri jam 11 tuh. Dan aku kasian banget liat Gen kecewa begitu. Waktu itu kami berada di antrian pertama jika mau antri untuk kali ke dua. Pasti bisa! Jadi aku bilang sama Gen, aku antri saja dari sekarang, Gen dan anak-anak biar main , berkelliling lalu sekitar jam 11 kembali dan antri. Jadi kami tetap berada di barisan! (dan tidak ada orang lain sesudah kami — ya edan lah nunggu berjam-jam di situ)

Kami tetap bersikeras menunggu di situ terus, meskipun petugas mengatakan, “Masih lama loh”. Dan Gen jawab dengan, “Dengan begini kan sudah pasti kami bisa ikut yang kedua” (Kalau aku sih pasti tidak jawab dengan manis begitu…pasti sambil ngedumel hahahah, soalnya ada orang yang nyerobot antrian kami sebetulnya sehingga kami tidak bisa ikut kloter pertama. Manyun deh aku). Untuuung banget suamiku sabar, dan rupanya melihat kami “keras kepala” dengan dua anak kecil menunggu berjam-jam, petugasnya kasihan dan dia menegosiasikan ke pihak pendaftaran supaya bisa memasukkan kami berempat dalam list penumpang yang pertama. Well, ada usaha ada hasil, bukan?

Riku dan Kai memegang ikan Suzuki, ikan laut dari teluk Tokyo. Kai senang sekali main air, maklum dia lahir di Hari Laut sih hihihi.

Jadi deh kami bisa berangkat jam 11:00. Dan sambil menunggu waktu keberangkatan, Riku dan Kai bermain (boleh memegang) ikan Suzuki yang biasa terdapat di Teluk Tokyo. Ada beberapa booth di lingkungan itu yang salah satunya menggaungkan kampanye pembersihan air laut Teluk Tokyo.

Jembatan baru di teluk Tokyo yang sedang dibangun, tingginya 55 meter. Kalau cari di website katanya akan selesai tahun 2010.... bisa selesai ngga ya?

Kami naik kapal Takashima pukul 11, dan mengikuti cruise mengelilingi Teluk Tokyo, dengan dipandu bapak dari MITI deh, lupa namanya. Dia menjelaskan pengetahuan umum dalam berlayar termasuk kode-kode berlayar, kapal kontainer yang bisa mengangkut 3000 kotak kontainer… wah tidak sangka bisa sampai 3000. Di situ juga terdapat kapak dari NYK Line, sebuah pelayaran utama Jepang. Aku ingat aku pernah menerjemahkan pamflet tentang kapal tanker minyak milik NYK Line 2 tahun yang lalu.  Ada pula kapal pengangkut truk yang menuju ke Hokkaido, pulau di utara Jepang dan lain-lain. Dia juga menjelaskan tentang pembangunan sebuah Jembatan baru di Teluk Tokyo setinggi 55 meter (aku baru tahu bahwa akan ada jembatan baru di sini). Katanya tinggi jembatan 東京湾臨海大橋  - Tokyo Bay Seaside Ohashi – itu harus 55 meter dari permukaan laut supaya kapal besar juga bisa lewat di bawahnya.

Sayang aku tidak bisa konsentrasi lebih banyak pada penjelasan dia, karena sambil menjaga Kai. Kai sama sekali tidak mau dibawa ke deck kapal supaya bisa melihat pemadangan di luar sambil mendengar penjelasan. Baru setelah hampir pulang, dia mau digendong Gen dan kita keluar ke deck. Sekitar jam 12 kami mendarat dengan Gen tersenyum karena senang bisa naik kapal tersebut.

Riku menggendong adiknya untuk memperlihatkan takoyaki yang tengah dibuat

Well, kami masih punya banyak waktu sampai jam 5 sore untuk melihat seluruh museum termasuk dua buah kapal yang bersandar di situ. Tapi karena lapar, kami makan roti Begel dan takoyaki yang dijual dari mobil keliling. Di bawah terik matahari yang puanasss kami makan siang. Tapi sebetulnya hari itu cuaca cukup bersahabat, karena selain waktu makan siang itu, meskipun terik, angin bertiup sehingga kaiteki, comfortable nyaman deh.

Riku menggerakkan perahu dengan radio control. Mainnya cuma 5 menit, nunggunya 40 menit! huh...

Setelah makan, Riku langsung cepat-cepat pergi ke kolam renang di depan museum untuk mendaftar memainkan perahu beradio control. Hanya untuk menjalankan perahu tersebut kami harus antri dan menunggu 40 menit. Duh… hari ini isinya mengantri mulu deh. Demi Riku, karena sebetulnya aku dan Kai bengong nungguin Riku. Meskipun Kai merasa senang berada di areal kolam tersebut, karena ada pula acra naik perahu boat dan kanoe. Kami juga tadinya mau naik perahu boat, tapi pendaftaran sudah ditutup. (untung aja, kalau tidak, nunggu lagi deh)

Dari sini, kami masuk ke tempat pameran dalam gedung, yang menceritakan sejarah pembuatan perahu/kapal. Mulai dari kapal pertama yang dibuat di Mesir, untuk menyeberangi sungai Nil, sampai kapal-kapal modern dengan turbin dsb. Setiap kapal tentu saja ada keterangannya, tapi aku lihat sambil lalu saja. Dan di bagian kapal modern ada juga kemudi dan tobol yang bisa ditekan untuk mengetahui cara pengoperasian mesin kapal. Sayang aku tidak melihat ada tulisan sejarah kapal phinisi. Kapal-kapal yang terkenal dibuat modelnya yang buatannya amat detil dan bagus. Wah mereka yang kuliah di perkapalan musti lihat museum ini nih (ada saudara sepupuku cewe yang kuliah di perkapalan Unhas loh!)

Kemudian kami naik ke kapal SOYA. Kapal ini adalah kapal ekspedisi ke kutub selatan untuk meneliti kehidupan di sana. Tapi karena harus melintasi khatulistiwa maka kapal juga dilengkapi dengan kulkas dan ruang ber-AC untuk anjing-anjing kutub. Ini adalah kali kedua aku memasuki kapal dan melihat kamar-kamar mereka yang kecil. Sebelumnya pernah melihat kapal Nipponmaru yang dipakai sebagai kapal pelatihan yang waktu itu berlabuh di Yokohama. Lorong yang sempit dan kamar/tempat tidur yang kecil, membuat aku berpikir pelaut itu kok badannya kecil-kecil ya? Kapan-kapan ingin masuk kapalnya Amerika, ingin tahu apakah lorong dan kamar-kamar di kapal Amerika juga sama kecilnya, atau karena kapal Jepang saja jadi semua serba kecil dan sempit.

Kapal ekspedisi ke kutub selatan, SOYA.

Tapi begitu kami masuk ke kapal YOTEIMARU, langsung deh lain. Tidak terasa seperti di kapal, malah seperti di hotel. Mungkin karena sudah direnovasi sebagai tempat pameran dan eksibisi, jadi lain sekali. Atau mungkin yang seperti inilah kapal Titanic, jenis-jenis kapal mewah untuk keliling dunia ya? Yang pasti aku tidak mau coba naik kapal sampai berhari-hari. Kalau berjam mungkin masih mau, tapi naik kapal dan lebih dari 24 jam harus liat air terus? hiiiiii

Kapal Yoteimaru, dulunya dipakai sebagai kapal penyeberangan dari Aomori yang terletak di pulau utama Jepang, Honshu ke Hakodate di Hokkaido.

Di Yoteimaru ini, ada kegiatan membuat seni lukisan dari ikan yang diberi nama Gyotaku. Seni ini memindahkan bentuk ikan atau hewan laut lainnya ke kertas, dan menjadikannya lukisan yang indah. Riku masih sempat mengikuti kegiatan ini, dan membuat satu lukisan kerang.

Melukis kerang dengan cara menempelkan kertas yang dibasahi pada kerang/ikan lalu diwarnai dengan cat air. Seni ini disebut gyotaku.

Sesudah seharian berada di museum ini, akhirnya kami pulang pukul 5 sore. Dan Riku berkata ingin datang lagi, karena masih banyak yang dia mau lakukan tapi belum bisa. Termasuk naik perahu boat dan memancing. Lalu aku bujuk dia untuk bersabar, dan bertekad mengajak dia naik perahu dan memancing di Indonesia waktu kami liburan musim panas nanti. Semoga bisa terlaksana.

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menembus badai sudah biasa

Angin bertiup, layar berkembang
Ombak menderu di tepi pantai
Pemuda b’rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

 

 

Miraikan

Ini bukan kata bahasa Indonesia baru, tapi bahasa Jepang yang berarti “Balai Masa Depan”. Kalau diinggriskan menjadi National Museum of Emerging Science and Innovation. Kami pergi ke sini hari Minggu tanggal 2 Mei, pas di Indonesia memperingati Hari Pendidikan. Tidak dipas-pasin loh, karena memang sejak paginya kami bingung mau pergi ke mana hari ini. Sayang gitu kalau tidak keluar rumah. Memang ada banyak alternatif awal seperti pergi manen stroberi, atau pergi ke peternakan Mother Farm di Chiba. Tapi karena paginya Gen mau pergi ganti oli mobil, jadi kami baru bisa memutuskan tujuan kami pukul 2 siang.(Kayaknya de Miyashita waktu keluar kandang nya emang pas jam segini deh… bukan morning person untuk hal-hal begini heheheh)

Gedung fuji Television di Odaiba

Nama lengkapnya Nihon Kagaku Miraikan 日本科学未来館, disingkat Miraikan, terletak di Odaiba, sebuah lahan reklamasi di Teluk Tokyo. Odaiba sendiri merupakan kompleks yang besar dengan gedung-gedung besar nan canggih, termasuk gedung Fuji Television. Kami sampai di depan gedung Miraikan ini sudah jam 3:20. Sambil Gen mencari parkir, aku dan anak-anak membeli karcis masuk. Untuk dewasa 600 yen, anak SD 200 yen. Kami harus membayar lebih jika mau melihat film 3D, tapi itupun harus pesan tempat. Karena waktu tinggal sedikit, jadi aku beli karcis yang base saja.

National Museum of Emerging Science and Innovation, Odaiba

Nah sebetulnya yang menjadi trigger, pemicu kami datang ke sini adalah adanya pameran Kako Satoshi mengenai teknologi. Kako Satoshi yang mengarang picture book Dewi Sri yang barusan kutulis itu, memang menulis juga berbagi picture book yang menyangkut pengetahuan. Misalnya tentang laut, tentang planet dsb. Nanti deh kalau ada senggang aku coba tulis tentang bukunya yang lain lagi ya.

Bola dunia raksana di lobby

Pameran itu berjudul Your Future, Your FutureSelf, a journey into picture book with Satoshi Kako. Sayangnya di pameran ini banyak bagian yang dilarang memotret. Ada yang aku kadung motret, karena tidak lihat sign “No Photography” nya. Nah kalau soal ginian, aku strict nih, kalau dilarang, ya aku pasti patuh. Padahal ada kalanya Gen punya sense…ngga papa lah, bilang aja ngga tau (kadaaang sekali, soalnya kalau orang Indonesia kan kebanyakan berprinsip peraturan itu memang dibuat untuk dilanggar hihihi). Nah untuk ini Gen jadi orang Indonesia deh, aku yang orang Jepang. hehehe.

Pameran Your Future, Your FutureSelf, a journey into picture book with Satoshi Kako

Isi pameran itu kebanyakan berisi panel-panel tentang pentingnya belajar ilmu pengetahuan, juga disediakan beberapa pojok dengan matras plastik bagi yang mau membaca picture book yang disediakan di situ. Menurut Gen, “Yaaah aku ngga nyangka pamerannya kok sok kotbah gini” hehehe. Pasti ada pejabat/institusi yang mau memakai nama Kako Satoshi yang terkenal untuk menyampaikan pesan tertentu. Namun memang ada surat dari Kako Satoshi kepada anak-anak, yang kata-katanya aku setuju. “Belajarlah apa yang kamu sukai, dan tidak sukai, supaya bisa menjadi pintar dan bisa mengubah dunia dengan pengetahuan”. Kita memang harus juga belajar yang tidak kita sukai karena, somehow suatu waktu akan perlu dan berguna.

Pintu masuk pameran Kako Satoshi

Di pameran ini Riku dan Kai bosan! Aku harus menjaga Kai yang lari kian kemari, sehingga tidak bisa melihat dengan tenang. Ya tidak apa lah, sudah biasa hehehe. Dari pameran ini, kami pergi ke ruang Yokan Kenkyujo, kalau diterjemahkan yokan = prediksi, imaginasi, kenkyujo = penelitian. Jadi di sini memang kita bisa melihat penemuan-penemuan pengembangan teknologi yang berhubungan dengan art (kesenian) dan hiburan. ART! adalah sesuatu yang disukai Riku. Anak ini memang suka seni, segala macam ini dicoba dan berkreasi sendiri. Jadilah di sini dia melewatkan waktu cukup lama dan mencoba semua booth yang ada. Lari ke sana ke mari sendiri. Wew…sementara mamanya berdiri dari jauh memperhatikan dia dan si unyil koala yang juga merasa bosan, tidak ngerti apa-apa. Jelas lah…apa sih yang menarik bagi anak usia 2 tahun?

Memainkan wayang tradisional

Booth pertama yang dikunjungi Riku adalah memadukan permainan wayang (memakai bayang-bayang) dengan komputer. Riku mencoba menggerakkan wayang secara tradisional dan setelah itu dipakaikan semacam topi yang tersambung pada komputer. Setiap gerak riku dibaca oleh komputer yang akan menggerakkan wayang sesuai dengan gerakan Riku. Jadi kalau tradisionalnya orang menggerakkan wayang kulit dengan tangan, di masa depan, orang menggerakkan wayang dengan gerakannya sendiri, tapi dengan tampilan wayang kulit (bayangan) . Hehehe…bukan wayang orang gitchuuu. Cukup bangga aku di booth ini, tentu saja karena mereka memperkenalkan wayang, dan penelitinya adalah team dari Universitas Waseda. Waseda gitu loh….

Wayang canggih dengan gerak virtual

Setelah dari sini aku kehilangan jejak Riku, yang sudah lari ke sana kemari mencoba setiap booth yang hampir semua dilengkapi komputer. Sampai akhirnya aku bertemu dia sedang mencoba program komputer untuk membuat balon dari gambar kita sendiri.

Program membuat balon dari gambar kita di komputer

Booth selanjutnya tentang program komputer untuk mendesain kursi yang cocok untuk kita. Disesuaikan dengan tinggi badan, keseimbangan kursi dll, sehingga bisa menghasilkan desain kursi khusus spesial (ngga pake telur!) . Di sini aku turun tangan, karena si peneliti tidak bisa bahasa Jepang, jadi Riku tidak mengerti maksudnya. So begitu deh dia menjelaskan kegunaan programnya dengan bahasa Inggris padaku (yang cerewet tanya ini itu hihihi)

Kami berfoto dengan Mr Chair yang menjelaskan program mendesain kursi khusus. Bisa lihat pramodel kursi di bagian belakang

Berikutnya adalah program komputer yang memungkinkan karakter beruang di dalam display bereaksi terhadap gerakan kita. Selain itu juga ada program memasak virtual, program menyarankan menu makanan dengan balancing bahan-bahan makanan yang telah kita konsumsi, bahkan sampai mengatur dan menghitung jumlah kalori yang sudah dikonsumsi. Nah…yang ini perlu deh untuk aku hahaha.

Kai mulai bosan,papanya juga bosan, jadi mereka berdua pergi duluan ke ruang pameran lain, yang terletak di lantai 5.  Sementara aku menemani Riku mencoba ini itu. Dan setelah semuanya dicoba, kami juga pergi ke lantai lima gedung ini, untuk melihat pameran tentang manusia dan teknologi. Nah, waktu mau masuk ke ruangan ini, kami sempat bingung, karena pintu otomatisnya tidak membuka. Seperti di pintu masuk stasiun sepertinya harus memasukkan karcis. Tapi pintu ini lebih canggih, cukup menyentuh QR code yang terdapat pada karcis masuk, kemudian pintu membuka. Huh.. berasa ketinggalan jaman deh.

Pintu masuk museum dengan scanner pembaca QR code yang terdapat pada karcis masuk

Menurutku di sini terlalu beragam yang ingin dipamerkan. Ada masalah lingkungan hidup, ada tentang DNA dan manusia, penelitian biologi, sampai kehidupan di luar angkasa… tidak fokus gitu hehehe. Tapi lumayan deh aku sempat mendengar sedikit kuliah gratis  mengenai DNA  sebelum akhirnya Kai minta minum. Kelaparan dia. Jadi aku dan Kai keluar ke Cafe, dan membeli hot dog untuk dia. Sementara Riku dan papanya melewatkan waktu dalam museum itu sampai jam 5:45 sore.

Jadi DNA itu begini toh...kata Kai

Kesan aku? Jepang kebanyakan duit sampai harus membuat museum begitu besar, mewah dan canggih untuk menjadi pusat pameran teknologi. Tapi mungkin memang harus begitu, sebagai daya tarik  supaya akan lebih banyak lagi anak-anak canggih yang lahir dan berkreasi di bidang penemuan. Aku kagum ada anak yang sudah mengerti DNA dan bisa menjawab semua keterangan pada waktu kuliah gratis itu. Mungkin dia kelas 5 SD…duh otakku ngga nyampe deh bersaing dengan dia. Dan aku juga tidak memaksa anakku untuk tahu semuanya seperti dikarbit. Enjoy aja nak!

Jam 6:30 kami keluar dari parkiran Museum.  Bayarnya cuma 700 yen untuk 3 jam…aku pikir bakal lebih dari 1000 yen, kalau mengingat gedung yang begitu mewah ini. Lalu Gen berkata, “Ngga mungkin lah pemerintah meras warga dan mengambil keuntungan dari ongkos parkir!” … Hmmm memang sih, 600 yen karcis masuk juga masih murah. Tapi masalahnya, mau ngga keluarin 600 yen untuk datang ke tempat beginian?

Karena sudah starving, pekopeko alias lapar berat, kami akhirnya masuk ke tempat parkir di gedung DECK Odaiba. Semacam mall dan restoran. Ada banyak gedung semacam ini di daerah ini, tapi kebetulan yang cepat dan mudah parkirnya ya di DECK ini. Jelas aja… 1 jam parkirnya 500 yen jeh… muahal! Dan kami langsung menuju lantai 5, ke restoran Tonkatsu WAKO. Restoran ini menjual daging/ayam/udang goreng yang cukup terkenal. Tadinya sih kepingin makan sushi tapi antri… jadi ubah haluan deh. TAPI….

Kami benar-benar enjoy makan di sini, bukan karena makanannya enak banget, tapi pemandangannya bagus banget! Restoran ini mempunyai teras yang langsung menghadap ke teluk Tokyo, dengan Rainbow Bridgenya yang mulai diwarnai lampu-lampu. Keren banget pemandangannya! Riku tadinya mau duduk di luar, tapi sepertinya petugas restoran malas membawa makanan sampai luar (atau kami perlu membayar charga khusus… ngga tau juga deh) Tapi alasannya dingin berangin. Padahal Riku berdiri di luar terus sampai makanan datang karena di lantai 3 nya ada pertunjukan “gratis” musik oleh idunnohisname, tapi entah kenapa Riku suka sekali sehingga merekam dalam video pertunjukan itu dengan camera.

Pemandangan dari teras restoran... Rainbow Bridge by night

Meskipun waktu pulang kami terjebak macet di jalan tol (bayangin jalan tol macet!…eh udah biasa ya di Jakarta hehehe) tapi pemandangan lampu-lampu di sekeliling bisa menghibur kami, dan mengakhiri hari yang kedua dalam liburan panjang  Golden Week.