Arsip Bulanan: Juni 2010

EMERGENCY

Wahhhh TE dalam keadaan darurat (perang)!!! Mohon maaf, sejak tadi pagi jam 9 Anda melihat ini:

mengganggu pemandangan sekali yaaaahhh...hiks

Nah… katanya si tukang server, terlalu banyak yang akses ke server dan saya sendiri menghabiskan 20% CPU usagenya mereka. Karenanya web saya di hentikan. Bukan karena belum bayar loh…. Nah sekarang sedang diusahakan macem-macem. Jadi TE masuk Emergency deh. Para dokter yang cakep dan cantik sedang mengutak-utik tubuh TE, (tentu saja dibantu suster yang manis-manis). Karena itu postingan yang terakhir yang tampil adalah postingan tanggal 4 Juni. Mohon doanya semoga postingan sesudah tanggal 4 Juni bisa terselamatkan yahhhh…. dan mohon doanya supaya TE cepet sembuh!

KESALAHAN BUKAN PADA MATA ANDA…MEMANG BENAR BAHWA POSTINGAN TERAKHIR YANG TAMPIL ADALAH POSTINGAN LAMA TERTANGGAL 4 JUNI. MOHON SABAR YA

imelda

Buku Baru dan Buku Bekas

Kalau kita mau membeli buku biasanya kita akan pergi ke toko buku atau ke pameran buku dengan sale besar-besaran, dan membeli buku yang kita inginkan. Tapi itu waktu aku di Jakarta. Waktu aku pertama kali ke toko buku di Jepang yang menarik perhatianku adalah toko buku TIDAK menjual peralatan tulis. Jadi toko buku atau honya 本屋 hanya menjual buku dan majalah + peta (pembatas buku + cover deh paling), sedangkan kalau mau membeli alat tulis, notes dsb nya itu di Bunguten 文具店. Meskipun demikian di toko besar biasanya ada juga bagian stationary. Tapi kamu tidak katakan, “Aku mau ke honya beli bolpen”.

Nah, kalau membeli buku dimanapun di Jepang akan sama harganya. Harga buku tertera di bagian belakang berikut bar codenya. Biasanya tertulis harga berikut pajak pembelian. Dan harga itu yang harus kita bayar di kasir. TIDAK ADA KORTING di toko buku, tidak ada penjualan besar-besaran, kecuali untuk buku bahasa asing berupa wagon sale (itu juga karena ada perbedaan kurs). Tapi untuk buku terbitan penerbit Jepang tidak ada SALE, atau tidak ada PAMERAN BUKU, sama sekali. Masyarakat Jepang tidak perlu sale atau pameran buku untuk “diumpan” minat membacanya. Mereka akan membeli sesuai harga yang tertera.

Tapi jika kamu mau membeli buku yang murah, bisa mencarinya di Toko BUKU BEKAS yang disebut FURUHON-YA 古本屋. Meskipun bekas, buku-buku yang dijual di furuhon-ya seperti baru, tak ada coretan apalagi robek. Begitu ada coretan atau robek, dia akan masuk ke keranjang untuk wagonsale yang bisa dikasih harga 10 yen sampai 100 yen. Begitu pula kalau mau membeli majalah. Tunggu satu-dua hari, lalu cari di toko buku bekas, maka bisa berhemat 100-200 yen tapi… telat informasinya…mungkin.

Majalah di Jepang berumur “jam” an hehehe. Begitu dibeli, dibaca, poi...buang! Kadang mereka membuang majalah baru (atau koran) di tempat sampah atau kadang taruh begitu saja di bangku atau rak dalam kereta. Kalau melihat majalah atau koran di atas rak dalam kereta, boleh diambil, karena berarti itu sudah dibuang. Karena itu kadang kala, ada “pemulung” yang mengambili majalah-majalah di rak dalam kereta atau di bangku stasiun, dan kemudian dijual kembali seharga 100 yen. Tentu saja ilegal, tapi kadang petugas stasiun menutup mata terhadap kondisi ini. Jika terjadi masalah, misalnya bertengkar mulut dan kemudian membuat keributan, baru polisi datang dan “mengusir” mereka. Jadi? beli saja majalah 100 yen itu, meskipun saya rasa tidak banyak yang mau membeli, karena mereka juga pikir “Wah itu majalah mungkin sudah pernah masuk tong sampah…tidak higienis…!”.

Toko buku bekas ini banyak dijumpai di daerah sekolah/universitas. Sepanjang jalan menuju universitas Waseda, banyak terdapat toko buku bekas, dan kadang mereka mempunyai spesialisasi bidang tertentu, misalnya buku ekonomi di toko A, dan buku sosial di toko B. Ada pula perhimpunan toko buku bekas di suatu daerah, atau bahkan ada perhimpunan toko bekas se-Jepang, bisa lihat webnya di sini. Nanti mereka akan mengadakan pasar buku bekas murah di tempat-tempat strategis, dan bisa kita datangi. Tapi, tentu saja harganya tidak seperti yang tercantum di halaman belakang buku. Kadang bisa murah, seperti kamus bahasa Indonesia- Jepang yang terbitan Daigaku Shorin, jika baru seharga 8000 yen, jika mencari di toko buku bekas, berkisar 3500-5000 yen. Kadang aku membelikan kamus bekas itu setiap mampir dan melihat ada di toko buku bekas, untuk murid-muridku. Tapiiiiiii itu dulu, karena sekarang sudah ada Kamus Bahasa Indonesia -Jepang karangan Sasaki Shigetsugu (mantan dosen Universitas Bahasa Asing Tokyo), suami dari ibu Sasaki yang memperkenalkan aku dengan Universitas Senshu dan banyak membantuku waktu aku melahirkan Riku. Pemesanan dan pembelian Kamus Bahasa Indonesia Jepang ini bisa dilakukan online, harap lihat website ini.

Tapi ada pula buku yang jauh lebih mahal dari harga yang tertera di bagian belakang buku. Karena jarang dan kuno, harganya bisa berlipat-lipat. Tidak ada standar yang pasti, kecuali dari pemilik toko, yang mungkin jeli membaca trend minat baca warga Jepang. Kalau mau bisa saja membandingkan dengan toko buku bekas lain dan membeli yang termurah. Tapi biasanya buku-buku khusus amatlah susah dicari.

Nah, sejak aku malas dan tidak ada waktu membeli buku baru di toko buku, maka aku membeli di toko online, AMAZON. Yang herannya, kalau membeli di sini banyak yang dikorting (meski sedikit) ! Hipotesa aku karena mereka tidak perlu sumber daya manusia yang banyak dan toko yang representatif. Selain itu jika menjadi anggota (dengan membayar iuran tahunan) ongkos kirim gratis. Dan karena aku juga sering membeli pampers, dot, susu di sana, dan berkali-kali, jelas lebih murah jika aku membayar iuran anggota daripada membayar ongkos kirim setiap kali pesan. Tidak perlu capek-capek apalagi mengeluarkan transport, sesudah pesan dan bayar (bisa credit card, bisa transfer) buku dan barang-barang dikirim ke rumah, dengan service yang mengagumkan. Karena kebanyakan bisa diantar keesokan harinya, bahkan kalau pesan sebelum jam 8 pagi bisa diantar malamnya di hari yang sama. Betapa sering aku membeli pampers waktu hujan dan kehabisan, emergency.

Hampir semua judul buku ada, dan bahkan jika kita mencari buku dengan judul tertentu yang sulit didapat atau habis di toko buku, kita juga bisa pesan dan menunggu sampai ada atau….. tersedia buku bekasnya. Selain buku baru, kadang ada daftar toko buku bekas yang berkolaborasi dengan Amazon! Masing-masing dengan harganya. Daftar akan dimulai dengan harga 1 yen (+340 yen untuk ongkos kirim, karena tidak dikirim dari gudangnya amazon, tapi langsung dari toko buku bekas ybs). Kalau buku itu masih barupun, tapi kalau mau menghemat budget buku, bisa membeli buku bekasnya. Apalagi kalau memang buku itu sudah tidak dicetak lagi, seperti buku Dewi Srinya Kako Satoshi yang aku ceritakan di sini.

Aku baru saja membelikan Gen 5 buah buku bekas, 1 buku bahasa Jepang mengenai cara pelayanan penumpang JAL yang dia cari-cari dan sudah tidak dijual di toko karena sudah lama (th 1985). Waktu buku itu sampai, kami berdua sempat tertawa melihat logo JAL yang lama… wah jadul bener deh. Lalu 4 buku yang lainnya? Semua adalah buku terjemahan buku Indonesia. Mau tahu judulnya?

1. “Kisah Perjuangan Suku Naga” karya alm. Rendra ナガ族の闘いの物語 (1998, harga asli 1995 yen, masih ada yang baru) kami beli seharga 171+ ongkos kirim jadi 511 yen

2. Burung-Burung Manyar karangan alm. YB Mangunwijaya 嵐の中のマニャール (th 1987, tidak ada yang baru, harga asli 2200 yen) kami beli dengan  harga 1 yen + ongkos kirim 340yen

3. Romo Rahadi karangan alm. YB Mangunwijaya イリアン 森と湖の祭り,(harga asli 2625 yen, masih dijual yang baru)  harganya 84 yen+ ongkos kirim 340 yen

4. Kumpulan cerita rakyat Indonesia, Hanaoka (th 1982, sudah tidak dijual lagi) kami beli dengan harga 384 yen+ongkos kirim

buku bekas sastra Indonesia dalam bahasa Jepang

Buku bekasnya benar-benar seperti baru! Karena itu aku tidak pernah ragu meskipun membeli buku bekas. Mereka sudah steril dulu bukunya sebelum dijual. Packingnya juga bagus. Jika ada cacat pasti diberitahu sebelumnya. Dan terus terang saja, kecuali buku Burung Manyar bahasa Indonesia,  buku bahasa Indonesianya yang lain saya tidak punya! Memang Gen suka membaca karya sastra dan dia paling rajin membaca buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang (tentu saja bukan diterjemahkan olehku hahaha). Dia sudah pernah membaca “Saman” karya Ayu Utami, yang menurut penilaiannya: biasa-biasa saja hihihi.

Apa yang mau aku sampaikan di sini adalah Jepang memang SURGA buku, baik buku baru (lumayan mahal) maupun buku bekas (cukup murah). Apalagi dengan adanya toko online yang amat membantu orang-orang yang sibuk dan tidak bisa mencari di toko buku sendiri. Untuk toko online di Indonesia memang sudah banyak, meskipun kebanyakan masih menjual buku baru atau judul buku yang terbatas. Ada banyak masalah dengan pelayanan seperti yang pernah aku tuliskan di sini juga. Untuk buku bekas? Aku pernah menemukan toko online buku bekas, tapi ternyata toko itu sudah tutup tup… tup…. tup….!

Tapi….. sebetulnya aku juga baru saja membeli buku bekas bahasa Indonesia secara online! Kalau kamu baca ceritanya sahabat saya Eka di sini, pasti lebih afdol lagi, atau langsung ke toko onlinenya: VIXXIO. Memang jumlah buku yang dijual masih sedikit. cuma kebetulan seleranya si Fanda, pemiliknya, mirip-mirip aku, sehingga langsung deh aku beli sampai 8 buku! (dan sedang pesan lagi 2 buku dari Maria A. Sardjono loh) . Kalau dia bisa mengembangkan dan me-maintain toko buku bekasnya lebih yahud lagi, aku jamin banyak yang membelinya.

Pesanan buku dari Vixxio yang sudah sampai di Jkt. Menunggu jemputanku 😀

Nah, rumahku sekarang begitu penuh dengan buku. Kata Gen sih, dia mau menjual saja buku-bukunya yang sudah dibaca. Menjual buku bekas di sini juga gampang…tapi….. murah sekali! Sepuluh buku bunkobon 文庫本 (buku dengan ukuran saku, yang dicetak khusus pertama kali oleh Iwanami Shoten, kemudian diikuti penerbit lainnya. buku ukuran saku ini memungkinkan orang membeli buku dengan harga murah karena bukan hard cover, ukuran seragam dan jarang ada gambarnya. mass product, tapi aku senang karena ukuran sama, sehingga pemandangan rak buku juga bagus dilihat), paling-paling dihargai 100 yen. Waktu itu Gen pernah menjual 2 kantong besar penuh buku dan hanya menerima 2000 yen! Habis deh untuk beli satu buku hard cover. Tapi daripada dibuang…. (dibuang pun biasanya ada yang mungut sih hihihi).

Memang solusi untuk mereka yang tidak mempunyai tempat penyimpanan buku yang luas adalah dengan membeli e-book. Apalagi sekarang sudah ada Ipad kan. HP ku bahkan namanya Biblio yang dirancang untuk membaca buku digital. Tapi secanggih-canggihnya e-book, aku memang masih lebih suka membaca buku. Sensasi membuka lembar demi lembar sambil tiduran atau duduk di kereta itu tidak bisa digantikan dengan elektronik. Untuk surat kabar, cukuplah online…karena beritanya berubah terus setiap hari. Bisa hemat kertas juga, tapi buku? Aku masih lebih suka buku yang terbuat dari kertas, dan tidak akan aku buang… jika tidak terpaksa sekali. Bagaimana dengan teman-teman? Suka e-book?

Aku sudah punya e-booknya Balada si Roy, tapi tetap saja lebih suka baca bukunya. Baru terbit loh bundel buku BSR lengkap, yang dijual dengan harga 125.000-an

Aku dan dunia mayaku

Ada bermacam peristiwa di dunia maya yang membuatku ingin menoleh kembali pertama kali aku menggunakan sarana internet, serta memikirkan dampaknya.

Pertama kali berkenalan dengan yang namanya internet itu sekitar tahun 1996, jaman nulis email musti konek jaringan lalu buka eudora segala macem. Saat itu untuk chat adanya MIRC, dan aku tidak pernah coba pakai. Browsing pertama kali pakai Netscape dan paling-paling aku buka kompas.com untuk cari berita radio dan bahan ngajar. Saat itu aku belum tergantung benar pada internet.

Ketergantungan pada internet timbul sejak aku hamil Riku tahun 2002. Aku harus membatalkan tiket mudik bulan Agustus 2002 karena tidak diperbolehkan dokter naik pesawat. Dia hanya bilang begini, “Ya terserah karena tanpa naik pesawat saja, kita tidak tahu bayi ini bisa bertahan atau tidak”. Ya karena calon “Riku” hidup berdampingan dengan myom (semacam kista) yang membesar terus hampir 10 cm. Terpaksa aku cepat-cepat membatalkan tiket pesawat sambil membayar denda pembatalan 20.000 yen. Dan saat itu aku kenal chatting di Yahoo Messenger.

Aku cukup addict dengan chatting untuk mengusir kesepian dengan ngobrol di room, membuat kelas bahasa Jepang, atau menjadi DJ dengan memutar lagu-lagu. Aku juga banyak belajar mengenai komputer dari chatting…dari cara menghubungkan beberapa komputer dengan LAN, sampai pengetahuan dasar menjadi webmaster.  Lumayan tidak usah membayar kursus komputer. Dari chatting, aku tahu dunia blog dan membuat akun di blogger Juni 2003 untuk memberikan komentar di blog teman. Aku sendiri mulai menulis blog Mei 2005 karena saat itu aku banyak memangkas jam mengajar dan merasa perlu mencatat perkembangan Riku saat itu… dan aku bersyukur memulai kebiasaan menulis itu dan melanjutkkannya sampai sekarang.

Sekarang semakin mudah untuk membangun hubungan di dunia maya. Koneksi internet yang jauuuh lebih cepat dibandingkan dahulu. Dulu masih pakai dial phone 28 Kbps, sekarang sudah FTTH dengan kecepatan koneksi 100MBps. Biaya nginternet juga jauuuuh lebih murah, dulu sampai 7000 yen, sekarang cukup 3800 yen. Hampir separuh! Selain chatting, blogging juga ada banyak jaringan pertemanan SNS (Social Networking Service) yang diciptakan oleh orang-orang pinter dengan tujuan dan fungsi yang berbeda. Sudah pernah mencoba semua service yang ada di dunianya si Maya ini. Friendster… yuhuu apa kabarnya FS aku ya? Dari dulu aku tidak begitu suka FS, jadi jarang log in. Lalu kemudian ada Multiply, Plurk, Facebook dan Twitter. Sebelumnya aku pernah coba MySpace, dan malas melanjutkan karena isinya pemusik semua hihihi.

Pernah coba imeem, tempat upload musik dan bisa embed ke blog juga. Untuk foto sampai sekarang aku masih pakai Photobucket, setelah mencoba Webphoto dan kurang asyik karena susah memasang embeb ke blog. Sampai dengan tahun 2007 aku masih pakai Multiply untuk mengupload foto-foto. Sekarang? Multiply ku sudah jarang sekali dibuka.

Pasti semua sudah pernah mendengar  bahwa katanya FB dan BB “Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat“. Banyak yang mengeluhkan betapa orang masing-masing kutak-kutik HPnya sendiri padahal sedang berkumpul rame-rame. Kalau menurut aku sih, itu memang terjadi karena kita sendiri tidak membatasinya, tidak kontrol diri. Jaman HP pertama kali diperkenalkan di Jepang pun, terjadi euphoriasemacam itu. Di mana-mana terlihat orang berbicara memakai HP nya, tanpa mengenal tempat dan waktu. Baru kemudian dibuat peraturan, “dilarang memakai HP di tempat umum dan set dering telepon menjadi vibrate”. Bahkan jika berada di tempat duduk “silver seat” (tempat duduk khusus untuk lansia, ibu hamil dan penyandang cacat) kami WAJIB mematikan HP. Alasannya, mengganggu frekuensi pengguna alat pacu jantung. Dan memang aku merasa gatal kalau mudik ke Indonesia dan melihat orang berbicara seenaknya di sembarang tempat. Persis seperti dulu di Jepang, nenek-nenek berteriak di HP karena tidak terdengar, atau pemuda pemudi berpacaran di HP dan kita sekelilingnya bisa mendengar percakapan mereka. TAPI, orang Jepang(cukup) taat peraturan, sehingga sejak ada larangan menggunakan HP di tempat umum seperti di kereta dan bus, tidak terdengar lagi suara-suara yang mengganggu itu. Sekarang yang menjadi masalah masyarakat justru semua DIAM sambil mengetik email/browsing dengan HP nya. Ironis…

Tapi, ada satu kejadian di Facebook yang membuat aku berpikir…cukup dalam. Facebook memang dipakai untuk mengumpulkan teman-teman lama. Tetap saja untuk bertemu teman lama itu, kita akan dan harus pergi ke luar untuk bertemu muka. FB hanya sebagai media yang mempertemukan kita. Tapi? pernahkah kamu berpikir bahwa FB itu membuat kita lebih “emosional”? Lebih memakai perasaan kita dibanding jika tidak ada FB. OK, memang maksud aku untuk sedikit membela FB. Aku tinggal di negara lain, dan bisa berhubungan kembali dengan teman-teman lama melalui FB. Semua info tentang teman itu bisa disampaikan lewat FB (kalau mau). Aku tahu jika ada yang ulang tahun, dan mengirimkan ucapan selamat ulang tahun. Tanpa FB? aku lupa dia ulang tahun kapan. Aku tahu dari statusnya kalau anaknya kecelakaan, dan ikut bingung sambil berdoa semoga anaknya tidak apa-apa. Aku bisa lihat aktifitas teman-teman yang kaya-kaya yang merayakan ulang tahun dengan piknik bersama ke singapore. Tidak, aku tidak iri, tapi justru bersyukur aku jauh, karena jika aku di jkt mungkin aku akan “maksa diri” mengumpulkan duit dan pergi bersama mereka. Karena jauh, aku bisa basi-basi, “Aduuuh enaknya yang jalan-jalan terus. Iri deh…” Padahal belum tentu aku mau ikut. basa-basi….

Dan satu lagi aku mulai berpikir, ketika salah satu friend di FB ku, yang sudah lumayan sepuh menulis begini, ” Wah ini temanku yang sudah mati, apa kuhapus saja ya idnya….” Lalu banyak yang memberikan komentar, sampai dia menjawab begini,”Ya aku cuma takut saja tiba-tiba dia menulis di tempatku”. OK…. Bercanda tentu saja. Tapi tak lama dari kejadian itu, seorang kontakku, kakak kelas di UI meninggal dunia karena kanker 🙁

Sedih… itu pasti meskipun aku tidak akrab dengannya dan tahukah kamu kalau membuka home di FB ada saran dari FB untuk “mencolek” teman-teman yang sudah lama tidak berhubungan. Dan kamu bisa bayangkan kalau foto teman yang sudah tiada itu terpampang di sana. Ingin rasanya bilang pada FB, ” oooi ini orang sudah meninggal, jangan sarankan saya menghubungi dia dong”.Akhirnya memang terpikir seperti joke temanku tadi bahwa dia mau menghapus nama orang yang meninggal (karena takut jika si almarhum menulis di tempatnya). Hapus? tidak hapus?

Aku justru tidak akan menghapus namanya. Karena justru dengan timbulnya foto di halaman “Home” ku, aku diingatkan …setiap kali diingatkan akan arti hidup ini, dan arti komunikasi. Dan memang menurutku FB membuatku (entah bagi yang lain) lebih emosional, lebih memakai perasaan dan memperhatikan keadaan teman-teman. Sekarang tinggal kita saja yang menggunakan sebaik-baiknya.

Dan satu lagi yang ingin kutulis di sini, yaitu bahwa sebagus-bagusnya Twitter dan FB, mereka hanya menyediakan sesuatu tulisan yang “timely”, begitu lewat akan hilang. Kamu tidak bisa search lagi percakapan status/komentar di FB dan twitter (kecuali di link/notes di FB). Semua akan tertelan oleh waktu dan karena aku tahu tentang hal ini, maka aku tidak pernah menghapus notifikasi lewat email yang penting dan berharga buatku. Tapi kamu masih bisa mencari kata/komentar yang pernah kamu tuliskan di blog! Karenanya aku lebih menyukai blog dibandingkan SNS lain. Benar, kan?

Beberapa waktu yang lalu aku pindah hosting. Mungkin karena aku terlalu banyak memakai plugin macam-macam, jadi setiap mempublish posting baru, pengunjung tiba-tiba dalam waktu yang bersamaan berkunjung kemari. Karena itu mungkin teman-teman pernah menemukan halaman TE bahwa “This Account has been suspended” , well perkataannya itu loh suspended, seakan aku penjahat belum bayar, padahal maksudnya busy hehehe. Lalu beberapa tindakan dilakukan dengan bantuan sahabatku, Ria (you are really an angel Ri…couldn’t thank you enough) yang memang ahlinya IT sehingga TE bisa tetap “hidup”. Jadi saranku, hati-hati menambah plugin di blog kamu-kamu yang memakai domain pribadi. Dan mungkin sebagai imbas dari pengurangan plugin dll ada selang waktu yang cukup lama bagi komentar yang sudah tertulis untuk tampil di kolom komentar. Ada beberapa teman yang menuliskan nada putus asa karena berkali-kali menulis tapi tidak muncul. Coba tinggalkan TE dulu beberapa waktu dan kembali, pasti komentar kamu ada dan tidak hilang kok. Karena aku pun mengalami waktu menjawab komentar, terjadi lag time yang cukup lama. Aku mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Yang pasti aku memang hidup di dua dunia, dunia nyata dan di dunia maya. Tapi bagiku, teman-teman di dunia maya, bukan hanya sepotong gambar/foto/avatar saja. Semua mempunyai jiwa yang sangat aku hargai. Terima kasih jika pertemanan lewat blog ini dapat menjadi pertemanan yang baik, meskipun kita belum pernah bertemu.

Boling

Aku masih belum biasa mengatakan boling untuk bowling, sebuah cabang olahraga yang: “berupa permainan dng menggelindingkan bola khusus untuk merobohkan sejumlah gada yg berderet yg kemudian dapat tertata lagi secara otomatis; bola gelinding” (kbbi daring). Yah memang kalau mau menyingkat bola gelinding jadi boling, memang tidak perlu huruf “w” di tengahnya. Hanya saja, aku masih belum bisa melihat boling sebagai sebuah cabang olahraga. Soalnya aku jarang melihat orang berkeringat dengan main boling, lha wong tempatnya biasanya ber-AC gitu.

Pertama kali kenal boling dari tante kenalan keluarga yang cukup mahir sampai pernah dikirim sebagai kontingen nasional. Tapi selama tinggal di Jakarta belum pernah menyentuh bola boling! Aku pertama kali kenal boling ya di Jepang sini.

Boling adalah satu “kegiatan” kumpul-kumpul waktu mahasiswa selain karaoke. Dosen pembimbingku di tahun pertama pernah bertanya, “Imelda bisa boling?” Aku cuma bengong dan bilang, “belum pernah main”. Jadi batal deh acara bolingnya karena kasian pada diriku hihihi, dan diadakan acara makan-makan saja. Sesudah makan-makan baru pergi karaoke, dan dosenku tidak ikut. Katanya, “Kalau acara karaoke lebih baik mahasiswa saja, biar lebih rileks. Kalau ada saya nanti tegang semua…” hihihi. Well, tahun-tahun kuliah di sini memang diisi dengan boling dan karaoke (selain juga minum-minum/makan-makan tentunya)

Jadi? Imelda jago dong main bolingnya? Meskipun cukup sering “strike” tapi jumlahnya masih kalah dengan “masuk got”, dan sepertinya tidak jago-jago mainnya. Cukup dengan “pernah main” aja deh. Eh tapi kalau main boling di computer game sih jago hihihi. Kadang ingin sih main lagi di Jakarta waktu mudik. Yang aku tahu dulu di Blok M ada tempat main boling, tapi sekarang tidak ada. Adik sepupuku kalau main boling jadinya di Manggala Wanabakti Bowling Center, Jl Jend Gatot Subroto. Tapi aku selama ini belum pernah ke sana. Perlu dicoba mungkin nanti kalau mudik ya…. Dari pembaca TE ada yang jago boling ngga?

Kenapa tiba-tiba aku menulis soal boling? Ya tentu saja ada alasannya, yaitu hari ini tanggal 22 Juni adalah hari peringatan untuk boling, yang ditentukan sebagai hari boling oleh “Serikat Tempat Bowling Jepang“, karena menurut sejarahnya tanggal ini di tahun 1861 tercatat sebagai hari pertama dibukanya tempat bowling di kompleks orang asing Nagasaki.

Sekaligus aku juga mau mengucapkan selamat ulang tahun kota Jakarta, tempat kelahiranku yang ke 483 tahun.

Dirgahayu Jakarta!

Terrrrrrrr………

Ter+ kata sifat adalah awalan dalam bahasa Indonesia yang menyatakan paling. Dan merupakan sifat manusia untuk mencapai “Paling” ini. Saya merasa tersanjung (ter- yang ini bukan “paling”) karena diberi kesempatan oleh sahabat saya sang penulis novel, Mbak Tuti Nonka untuk tampil di TV. TV chanel mana? Coba saja Anda saksikan sendiri di sana. Saya menulis tentang “Ichiban – Nomor Satu“. Silakan berkunjung ke sana.

Nah, persis tadi pagi Riku berkata padaku:
“Ma, kata temanku Yuki-kun, Indonesia adalah negara terbesar(terluas) di dunia loh”
“Masa sih? Bukan kok….”
Gen yang mendengar itu, langung googling dan mengatakan:
“Yang terbesar Rusia, Indonesia nomor 15…” (Wahhh 15 ya? Baru tahu, pikirnya masuk 10 besar)

Memang paling asyik mencari-cari yang ter- di dunia ini. Aku ingat dulu waktu SD punya buku catatan kecil HPU: Himpunan Pengetahuan Umum, catat dari penjelasan guru atau cari sendiri dari surat kabar. HPU seperti itu dalam bahasa Jepang disebut: Mame chishiki ( 豆知識 mame = kacang chishiki = pengetahuan….pengetahuan kecil-kecil seperti kacang tapi berguna, karena dari biji/ kacang itu bisa menjadi pohon yang besar).

Dan sambil menuliskan di TV, saya juga ketemu dua informasi yang menarik yaitu:

1. Lift terpendek di Jepang: Hanya satu tingkat dari tingkat 5 sampai 6. Terdapat di Hiratsuka, Kanagawa. Saya ambil dari sini.

2. Eskalator terpendek di dunia: Udah gitu menurun lagi, setinggi 5 anak tangga, atau 83,4 dan hanya perlu 5 detik untuk “menaikinya”. Terdapat di Kawasaki More’s Dept Store, Kanagawa. (Saya pernah naik yang serupa, mungkin sedikit lebih tinggi tapi tidak sampai 1 meter, di stasiun Shibuya)

Mencari yang ter+ di dunia ini memang menarik ya…  Semoga terhibur ya!

Sankanbi

Hari ini hari Minggu, tapi kami harus ke SD Riku karena ada sankanbi. Sankanbi adalah kunjungan orang tua ke kelas anak-anaknya dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana anak-anaknya belajar di kelas dalam satu hari. Saya tidak tahu apakah sankanbi juga dilakukan di SMA dan SMA atau tidak, tapi yang pasti di TK dan SD dilakukan sebagai salah satu program sekolah. Cerita sankanbi Riku waktu TK aku tulis di sini dan di sini, sedangkan waktu di SD kelas 1 di sini.

Entah kenapa, mungkin karena capek, Kai tidur sampai jam 11 siang. Padahal Riku sudah berangkat sejak jam 8, untuk memulai jam pelajaran pertama “Berhitung” mulai jam 9 pagi di sekolahnya. Karena sankanbi biasanya dilakukan hari biasa, yang tentu saja tidak bisa dihadiri Gen, maka karena kali ini hari Minggu, Gen bertekad untuk menghadiri semua pelajaran. Lagipula hari ini adalah Father’s Day. Tidak biasanya kemarin dia tanya Riku, “Riku, papa pakai celana jeans tidak apa-apa kan? ” Dijawab Riku, ” Gpp… pake kacamata hitam juga ngga papa kok” hahahhaa lalu papanya bilang, “Kalau papa pakai kacamata hitam jadi seperti gangster dong”. Intinya Gen ingin Riku bangga dengan kehadiran papanya di sekolah.

Jadwal pelajaran hari ini adalah ① “Berhitung 算数”, sesudah itu ② “Bahasa Jepang 国語”, ③”Musik 音楽”, ④ ”Olahraga 体育”  dan ⑤ ” Ilmu Hayat 生活”. Aku dan Kai akhirnya menyusul pada mata pelajaran Olahraga. Waktu itu mereka sedang lari estafet, kemudian bermain dodge ball. Nah, sesudah pelajaran olah raga yang selesai jam 12:15 itu, mereka makan bersama di sekolah 給食 dan kami harus pulang dulu untuk kembali pada jam pelajaran ke 5, jam 13:15. Cuma ada waktu 1 jam, sedangkan kalau pulang ke rumah dan masak, pasti akan terlambat kembali. Jadi kami membeli obento, bekal makanan dan sandwich di toko konbini, kemudian makan di taman terdekat. Piknik deh! (Yang aku lupa bahwa Kai pakai celana pendek, sedangkan musim panas di taman-taman banyak nyamuk. Jadi deh dia “dimakan” nyamuk 蚊に食われた)

Makan bento bersama Kai di taman

Kembali lagi kami ke sekolah untuk melihat jam pelajaran terakhir, “Ilmu Hayat” dan memang sedapat mungkin orang tua diminta datang pas jam pelajaran ini, karena anak-anak akan mengadakan “presentasi” 発表 mengenai tumbuh-tumbuhan yang mereka tanam di sekolah. Dari 33 orang murid, 2 orang menanam paprika ピーマン, 5 orang menanam okura オクラ, 10 orang mini tomato ミニトマト,  15 orang ketimun きゅうり dan 1 orang terong ナス。Satu orang itu adalah Riku…. Untung anakku tidak kelihatan grogi dan bisa mempresentasikan pohon terong dengan baik.

Anak-anak ini meskipun baru kelas 2 SD bisa menyampaikan apa yang mereka amati dari pohon yang mereka tanam. Ada beberapa anak yang aku rasa hebat karena bisa menggambarkan hal-hal detil dari pohon mereka. Dari SD mereka sudah dilatih untuk presentasi begini, sehingga tidak heran kalau mereka bisa mengarang dan mempresentasikan suatu penemuan di kemudian hari.

Ada satu joke yang aku lihat di TV beberapa waktu yang lalu. Situasinya begini: Jika ada presentasi, waktunya tinggal 30 menit bagaimana orang-orang mengantisipasinya.   Tepatnya aku lupa tapi secara garis besar begini: “Orang Jerman akan berbicara spt biasa, dan berhenti tiba2 pada waktunya. Orang Italia akan bicara terus terus terus sampai 2 jam melebihi jatah. Orang Amerika akan bicara lebih cepat dan marah2 karena wkt yang disediakan sedikit. Orang mana lupa, akan bicara dua kali lipat kecepatan sampai pendengar tidak ngerti”
Nah… orang Jepang gimana? Karena ini kuis jadi ada yang menjawab, “Orang Jepang bungkuk2 terus minta maaf”
tapi jawaban yang benar adalah “Orang Jepang tidak akan panik, dia akan bicara terus karena DIA TIDAK TERLAMBAT MEMULAI PRESENTASI dan sudah memperhitungkan semua, pasti akan selesai dalam 20 menit, dan akan menyediakan wkt 10 menit untuk pertanyaan.
IT IS SOOOOOO JAPANESE!! (bener 100%). Adalah hal yang memalukan utk selesai terlambat karena semua oang punya “ACARA” lain sesudahnya. Jadi seandainya mulai terlambat sudah biasa untuk minta maaf tetapi  juga minta maaf berkali-kali jika selesai terlambat.

Waktu aku mengikuti kuliah di sini pun aku agak shock dengan sistem “seminar” bersama dosen pembimbing. Jadi biasanya di tingkat 3 universitas, mahasiswa akan mendapat atau memilih dosen pembimbingnya untuk skripsi, dan mengikuti “seminar” dari dosen itu. Dan sistem seminar adalah presentasi dari setiap murid. Aku tidak terbiasa dengan sistem begini di UI, jadi agak keteteran juga tuh waktu mengikuti seminar. Seharusnya sistem seperti ini di “budayakan” di Indonesia, sehingga mahasiswa terbiasa membuat presentasi ilmiah. (Maaf, mungkin sudah ada universitas yang menjalankannya, tergantung bidang studinya juga sih).

Setelah semua murid kelas 2 SD ini sudah selesai presentasi, guru cantik melanjutkan pelajaran dan mempersiapkan anak-anak pulang. Tak lupa semua anak berdiri dan menghormat ke arah orang tua, karena orang tua sudah emluangkan waktu datang untuk mereka.

Dalam perjalanan pulang, Gen cuma mengatakan …”Aduuuh Riku itu ngga bisa main harmonika. Dia musti kita latih terus bermain harmonika. Tadi dia cuma main not terakhir saja. Malu-maluin!” hihihi….. nah aku emang ngga bisa juga, jadi gimana mau latih dia? Aku mending disuruh nyanyi deh daripada main musik 🙂

Well, menurutku kebiasaan sankanbi ini memang merepotkan orang tua, tapi amat bagus untuk melihat langsung perkembangan dan tingkah anak di sekolah.

Karena kami tidak boleh memotret di dalam sekolah, jadi aku tutup dengan foto Kartu "Fathers Day" buatan Kai di penitipan.

Terong dan Kentang

Hari ini kedua anakku membawa pulang terong dan kentang ke rumah. Bukan dari toko loh! tapi “buatan” sendiri. Ya, sebagai tugas sekolah, masing-masing murid di SD nya Riku wajib menanam salah satu sayuran yang bibitnya disediakan pihak sekolah. Memang sebelum menanam ditanyakan keinginan murid, maunya menanam apa. Ada pilihan Terong, Ketimun, Tomat, Okura atau Paprika.

Masing-masing murid mendapat sepetak tanah seukuran 30×30 cm di dalam halaman sekolah, dan mereka menanam sendiri bibit yang diterima dari gurunya. Tentu saja mereka juga harus memberi air setiap hari, dan mencatat perkembangan sayur mereka. Riku mendapat bibit Terong karena dia sendiri memilih terong sebagai pilihan pertama. Ternyata semua teman di kelasnya memilih sayuran lain, sehingga hanya Riku yang menanam terong. Hari ini terongnya sudah bisa dipanen meskipun masih “cilik”. Dengan bangganya tadi siang dia membawa pulang satu terong dan memperlihatkan padaku.

Kalau Riku membawa Terong, maka si koalaku Kai membawa pulang kentang. Bersama teman-teman di penitipan Himawari, hari ini mereka pergi ke ladang kentang yang terletak di Hoya, satu stasiun (kira-kira 5 menit) dari tempat penitipannya. Berarti hari ini juga pertama kalinya dia naik kereta, bersama sensei dan teman-temannya. Aku bisa bayangkan anak-anak balita itu berbaris dan berjongkok dengan rapih sebelum masuk kereta. Iiiih pasti lucu, aku pengen “ngikut” sebetulnya, tapi kalau mereka melihat aku, pasti jadi rame, “Ada mamanya Kai…ada mamanya Kai”. Jadi lebih baik serahkan Kai ke tangan senseinya, dan aku tunggu saja foto-foto mereka.

Masing-masing anak harus membawa ransel yang berisi pakaian ganti, handuk kecil, jas hujan, termos minuman dan …kantong plastik. Kantong plastik ini gunanya untuk membawa hasil panen pulang.

Kabarnya (menurut cerita senseinya waktu aku menjemput Kai pulang), anak-anak balita itu semua bersemangat pergi dan menggali kentang dengan tangan. Tidak ada satupun yang menangis, padahal kelas “Gajah” tahun ini banyak yang berusia 2 tahun (belum 3 tahun , termasuk Kai). Tapi karena “kerja keras” dalam perjalanan pulang semua diam, dan kelihatan semua capek. Waktu tidur siang juga lebih lama dari biasanya. Dua jam!

Jadi hari ini aku akan memasak sayuran hasil karya anak-anakku! Tentu saja musti tambah dengan terong “buatan” supermarket karena Riku cuma bawa satu buah. Tapi kentang? Ada satu kilo tuh! lumayan untuk membuat potato salada.

Dan…. malam ini pasti anak-anak cepat tidur karena capek. Karena Riku juga tadi ada kelas berenang di sekolahnya, jadi pasti capek 😉

Riku dengan terongnya, dan Kai dengan kentangnya + potato chips (yang ini sih beli hihihi)

Pinjam

Aku sebetulnya paling benci kata pinjam! Kalau tidak punya ya sudah… soalnya susah ngembaliinnya. Dan ini juga berlaku untuk buku. Karena itu pula aku jarang sekali pinjam buku di perpustakaan di sini sejak aku datang. Abis udah tau juga bakal lama bacanya, Kanji semua kan! Jadi mending aku beli saja, dan bisa coret-coret bacaan furigana kanji itu, tanpa harus takut kelewatan waktu pengembaliannya. Mau pinjam novel bahasa Inggris, ngga ada di perpustakaan. Jadi lebih baik beli deh.

Nah, berhubung ekonomi rumah tangga diperketat sekarang ini, budget untuk buku untuk sementara ditekan. Gen dulu juga sering sekali membeli buku tanpa sepengetahuanku karena dia naik kereta, jadi gampang mampir toko buku yang ada di stasiun. Sekarang dia naik mobil, jadi kalau mau membeli buku harus pergi dengan sengaja waza waza ke toko buku. Untuk memenuhi kebutuhan membaca ini kemudian kami menggunakan perpustakaan di daerah kami.

Perpustakaan daerah?  Iya, perpustakaan ini dikelola pemerintah daerah Nerima-ku, Tokyo. Dalam satu wilayah Nerima ada 12 perpustakaan, dan yang dekat rumahku ada dua. Kami biasanya menggunakan perpustakaan yang berada dekat Taman Shakujii (Shakujii Koen 石神井公園).  Perpustakaan ini baru direnovasi, jadi masih kinclong deh. Semua warga Nerima bisa menjadi anggota, dan setiap anggota bisa meminjam 10 buku untuk 3 minggu.  Karena waktu itu yang mau pinjam buku si Riku dan Gen, jadi cuma mereka berdua saja yang membuat kartu anggota. Nanti seandainya perlu aku bisa buat kartu anggota dan meminjam buku untuk Kai.

Kalau mau meminjam buku bisa mencari di rak sendiri (tentu saja), atau mencari dulu di OPAC (Online Public Access Catalog), komputer untuk mengetahui diletakkan di rak mana. Kadang buku itu tidak ada di situ, tapi di perpustakaan Nerima, cabang lainnya. Untuk itu kami bisa memesan untuk diambilkan, dan disediakan supaya kami bisa ambil di perpustakaan Shakujii. Pernah Riku ingin membaca buku komik Kaiketsu Zorori, tapi 5 bukunya ada di perpustakaan lain, sehingga kami pesan. Begitu buku itu terkumpul, kami ditelepon atau dikirimi email untuk mengambilnya.

Komik Kaiketsu Zorori yang dipinjam Riku

Sebetulnya bisa juga kami memesan buku itu sebelum kami datang ke perpustakaan lewat websitenya. Jadi tidak usah buang waktu. Seperti waktu Gen mau meminjam buku tentang Dewi Sri yang aku tulis di sini, kami juga memesan terlebih dahulu. Senang sekali waktu Gen mengetahui buku yang memang dia cari-cari karena sudah zeppan (tidak diterbitkan lagi) ada di perpustakaan Nerima.

Buku yang akan kami pinjam seperti layaknya perpustakaan lain, kami berikan ke petugas. Tapi bisa juga kami bawa ke mesin seperti mesin foto copy yang akan membaca code nomor perpustakaan kami dan code buku. Begitu sudah terbaca, keluar kertas bukti dan bawa pulang. Huh, semakin canggih kan semakin tidak memakai tenaga manusia. Bagus sih, tapi….. manusianya kerja apa dong 🙁

Nah, satu lagi service yang menyenangkan di sini adalah diletakkannya box pengembalian buku di luar perpustakaan. Jadi seandainya mau mengembalikan di luar jam buka perpustakaan, bisa langsung masukkan ke dalam box itu. Yang canggih aku pernah melihat box pengembalian buku perpustakaan daerah untuk Kamakura yang ditaruh di dalam stasiun! Jadi petugasnya yang “menjemput” buku-buku itu ke stasiun dan tempat strategis. Di satu pihak memang ada otomatisasi tapi di lain pihak ada pendayagunaan tenaga manusia untuk service yang lain yaitu “menjemput” dan mengumpulkan buku itu juga mengantar ke perpustakaan lain jika dipesan oleh warga.

Buku yang Riku pinjam di perpustakaan sekolah

Untuk sementara bacaan anak-anak bisa meminjam di perpustakaan deh. Selain di perpustakaan daerah ini, Riku juga bisa meminjam di perpustakaan sekolah. Tapi aduuuh buku-buku di perpustakaan sekolah udah banyak yang hancurrrr….Tapi bacaan untuk Gen dan aku memang jarang ada di perpustakaan, jadi yah harus sabar deh. Aku baru bisa beli kalau mudik ke Indonesia (kalau bahasa Indonesia, kalau bahasa Inggris ya beli deh terpaksa), sedangkan untuk Gen? beli tapi yang murah alias buku bekas!

Nah soal buku bekas aku tulis di posting lain ya….

Summer Greetings

Kalau pada  tahun baru orang Jepang terbiasa untuk  mengirimkan Nengajo 年賀状 dengan kartu pos khusus yang disediakan kantor pos, sebenarnya  ada satu lagi “event” yang dianggap perlu, sampai-sampai Kantor Pos Jepang perlu membuat kartu pos khusus. Ya, Summer greeting, atau bahasa Jepangnya Shochuu mimai 暑中見舞い。

Kebetulan kemarin aku membaca bahwa tanggal 15 Juni adalah hari “shochuu mimai“. Sudah lama ya aku tidak menulis seri “Hari ini hari apa”, karena tahun lalu cukup banyak aku menulisnya. Ternyata kemarin itu adalah hari peringatan penerbitan kartu pos Summer Greeting pertama pada tahun 1950. Jadi sejak tahun 1950, orang Jepang mempunyai kebiasaan mengirim summer greeting dengan kartu pos khusus. Kalau kartu pos untuk tahun baru disebut Nengajo, maka kartu summer greeting ini disebut dengan “Kamomeru”. Perpaduan dua kata kamome (burung camar) dan meru (mail) . Musim panas memang identik dengan laut dan di laut ada burung camar bukan?

Dengan mengirim kamomeru ini, kita menyampaikan kabar kita kepada relasi dan kawan-kawan. Sebuah wadah silaturahmi dan bisa juga promosi atas produk atau barang jika pengirimnya perusahaan. Kamomeru ini juga seperti nengajo dilengkapi dengan undian berhadiah, dengan hadiah-hadiah menarik. Tapi karena musim panas juga ada akhirnya, kamomeru ini hanya dijual sampai tanggal 20 Agustus.

Bisa membeli kartu pos itu dari website kantor pos jepang

Selain mengirim kartu pos, biasanya orang Jepang juga mengirim Ochuugen お中元 berupa barang, biasanya makanan/minuman/sabun/minyak dsb kepada orang-orang yang dianggap banyak membantu, osewaninatta. Mengirimkan barang atau kartu pos seperti ini sudah menjadi kebiasaan di Jepang, meskipun memang lama kelamaan mulai berkurang. Yang menerima ochuugen dan kamomeru, sedikitnya bisa “menyejukkan” diri dalam udara panas Jepang yang lembab ini. Tahun ini aku dapat kamomeru atau ochuugen tidak ya? (haduh gimana mau dapat kalau tidak pernah kirim hihihi)

e-card dari kami, bunga sweetpea... menyejukkan ruangan