Arsip Tag: Picture Book

Negara Terkuat di Dunia

Seharian ini aku tidak kemana-mana, semua tidak enak badan sehingga lebih baik berada di dalam rumah karena suhu di Tokyo juga hanya 15 derajat. Kebetulan Gen juga bisa pulang jam 7 malam, sehingga kami bisa makan malam bersama.

Dan tentu saja TV nyala terus. Ada banyak acara yang bagus hari ini. Ada program kuis yang banyak menambah pengetahuan, dan salah satunya memperkenalkan sebuah buku cerita bergambar (Picture Book ) berjudul Negara Terkuat di Dunia Sekaide ichiban tsuyoi kuni.

Negara Terkuat di Dunia

Ceritanya mengenai sebuah negara besar yang kuat. Pemimpin negara itu ingin menjadi negara yang terkuat di dunia sehingga dia menyuruh pasukannya menyerang negara-negara kecil di sekitarnya. Begitu pasukan datang, rakyat negara kecil terpaksa harus melawan dan mempertahankan negaranya tapi kalah. Demikian seterusnya negara besar menjadi tambah kuat dan menyerang negara lain.

Tapi suatu hari presiden menyuruh pasukan menyerang sebuah negara kecil yang tidak mempunyai tentara. Pasukan datang ke sana dan disambut sebagai tamu. Pasukan bercakap-cakap dengan penduduk dan makan minum bersama. Bahkan mereka menari dan berdendang bersama. Melihat pasukannya bukannya bertempur malah beramah tamah dengan penduduk, presiden marah dan memanggil mereka pulang. Tentu saja negara kecil kalah. TAPI….

Setelah kembali ke negaranya, presiden menemukan banyak restoran yang menyajikan masakan dari negara kecil. Atau melihat penduduknya menari tarian dari negara kecil. Sesampainya di rumah, presiden diminta menyanyikan lagu pengantar tidur oleh anaknya. Dan tanpa sadar, lagu pengantar tidur yang dinyanyikan presiden itu adalah lagu-lagu dari negara kecil.

Jadi negara mana yang sebenarnya terkuat di dunia?

Buku karangan David McKee yang diterbitkan tahun 2005 ini sekarang merupakan picture book yang terpopuler di Jepang.

Jangan Baca Ini Sebelum Tidur!

Kami masih meneruskan kebiasaan mendongengkan anak-anak setiap malam. Seringnya aku membacakan sebuah buku pilihan untuk Kai, sedangkan papanya (kalau sudah pulang) akan membacakan buku pilihan Riku. Bisa dibayangkan ramainya dalam satu kamar hehehe. Kalau papanya belum pulang, maka biasanya Riku ndompleng mendengarkan buku yang aku bacakan untuk Kai.

Ada satu buku bagus yang berjudul “24 pasang mata 二十四の瞳 ” yang Gen bacakan untuk Riku hampir setiap malam selama sebulan. Karena Riku sangat cepat tertidur jadi ceritanya tidak maju-maju.  Sedangkan Kai biasanya memilih buku-buku bergambar mengenai cerita dongeng rakyat Jepang. Tapi ada satu buku mengenai “Hitomaneko zaruCurious George” yang dia sering minta aku bacakan. Sebetulnya aku malas sekali membaca bukunya George yang ini karena lumayan panjang, padahal aku tahu aku yang lebih cepat mengantuk daripada Kai. Kalau sedang baik memang Kai menginjinkan aku berhenti dan tidur, tapi kalau lagi keras kepala….duh aku harus baca terus meskipun ngantuk (seringnya aku skip beberapa halaman sekaligus supaya cepat habis :D).

Ada satu buku bergambar yang berjudul “Singa yang Baik- Yasashi Raion” karangan Yanase  Takashi si pencipta Anpanman, yang hari lahirnya sama dengan Pramoedya Ananta Toer, tgl 6 Februari. Menceritakan tentang seekor Singa yang lahir yatim piatu, kemudian dirawat oleh seekor anjing. Anjing membesarkan dengan kasih sayang dan mengajarkan semua tentang kehidupan pada si Singa, sampai Singa menjadi lebih besar dari si Anjing. Tapi kemudian si Singa dipisahkan dengan Anjing dan dipindahkan ke sebuah sirkus. Setiap malam Singa menangis karena rindu pada mamanya, yaitu si Anjing. Sehingga suatu hari dia menerobos kandangnya, melompati rumah-rumah untuk bertemu dengan mamanya- Si Anjing. Karena Singa lari dari sirkus itu, dia dianggap berbahaya dan dikejar-kejar oleh polisi bersenjata. Sampai akhirnya dia bertemu mamanya dan menggendong mamanya pergi…. tapi senjata polisi sudah memberondongnya dan ibu-anak itu pun mati. Setelah itu warga di situ sering melihat bayangan singa yang menggendong anjing “terbang” menuju hutan….. hiks…dan aku tersedu-sedu sampai beberapa saat tidak bisa langsung tidur 😀

Jadi yang ingin aku katakan dalam tulisan ini, mendongeng memang baik, tapi tergantung juga bukunya apa. Kalau terlalu panjang, bisa jadi tidak habis-habis seperti buku yang dibacakan Gen untuk Riku. Atau terpaksa harus memotong beberapa bagian seperti buku George… atau kalau bukunya sedih, bisa sulit tidur malahan. Itu kalau mendongeng, sedangkan aku tidak pernah membiasakan membaca buku untuk diri sendiri sebelum tidur. Karena aku tidak akan bisa tidur sebelum buku itu habis!

Buku seperti apa yang menurut kamu tidak pantas atau sebaiknya tidak dibaca sebelum tidur? Buku tentang hantu? atau mungkin buku humor? hehehe….

Untung Bertemu Kamu!

Seberapa sering kita merasakan pertemuan dengan seseorang merupakan anugerah yang tak terhingga? Bertemu pasangan hidup tentu saja, tapi bertemu seorang teman? Memang, biasanya kita katakan itu pada waktu perpisahan atau kematian. “Aku merasa beruntung bertemu kamu. Deaete hontouni yokatta. 出合えて本当に良かった.”

Dua malam yang lalu, aku benar-benar terisak. Ah emang cengeng ya aku ini 🙁 Tapi aku tak menyangka bahwa picture book yang aku pilihkan untuk aku dongengkan bagi Kai malam itu benar-benar cocok untuk situasi saat itu.

Sebuah buku karangan Miyanishi Tatsuya (1956-) dari penerbit Popura-sha. Harganya lumayan mahal 1200 yen, tapi aku pinjam dari perpustakaan Pemda. Waktu aku cari di Amazon, harga buku bekasnya pun masih mahal! 1147 yen, bayangkan cuma turun 53 yen. Yah mending beli buku baru dong ya. Tapi itu menunjukkan bahwa buku ini, tidak ada yang mau jual kembali, buku yang harus di -keep, disimpan. Karena isi ceritanya?

Tadinya aku tidak begitu senang dengan gambarnya. Seorang grafik desainer yang membuat karakter keluarga dinosaurus menjadi tema cerita, dengan gambar yang … ok tidak halus menurutku. Tapi aku baru tahu bahwa seri cerita keluarga dinoasurus ini bahkan ada 8 jilid! dan semua bagus (katanya). Nanti aku mau cari cerita-cerita yang lainnya. Aku pertama kali kenal dengan pengarang ini dari buku “Ultraman wa otousan ウルトラマンはおとうさん (Ayahku Ultraman)” yang dipinjam oleh Riku dari perpustakaan sekolahnya. Riku sangat suka dengan buku ini, sampai dia pinjam berbulan-bulan 😀 (Dan papanya seakan tersentil dengan isi buku ini hihihi)

OK, aku akan menceritakan isi buku “Untung Bertemu Kamu” ini ya… Duduk yang manis dan perhatikan baik-baik ya.

****************************************************************

Cover buku"Untung Bertemu Kamu"

Dulu….dulu….dulu sekali.
Seekor anak Spinosaurus sedang berada di pinggir tebing pantai untuk mengambil buah merah yang ada di sana. Saat itu….

Gaoooo…..
Seekor Tyrannosaurus mendekat dengan mulut menganga dan mata yang berkilat-kilat.

Waaaaahhh toloooooong!!!!
Sambil gemetar, anak Spinosaurus bersembunyi di balik pohon.
“Sayang sekali ya, kamu bertemu aku di tempat ini…” kata Tyrannosaurus.
Dengan giginya yang tajam, dia menumbangkan pohon buah merah. Dan….
persis waktu dia akan melahap anak spynosaurus it….

kraaaakkkkkk
grrrrrr …. gempa bumi yang begitu dahsyat
membelah bumi
dan memecahkan tebing itu sehingga terpisah dari daratan
dan menghanyutkannya
persis di tempat Tyrannosaurus dan anak Spynosaurus itu berada
pecahan tebing hanyut dengan mereka berdua
menjauhhh…..

“Aku tidak bisa berenang….” dengan suara hampir menangis Tyrannosaurus itu berkata.
“Aku juga tidak bisa berenang…. Kita berdua…. dari sekarang bagaimana ya”, anak spynosaurus berkata sambil menangis.

“Apaan tuh dengan ‘KITA BERDUA’? KAMU akan saya makan. Tau!” sambil berkata begitu Tyrannosaurus berusaha menangkap spynosaurus.

“Jangan… Tidak boleh makan aku”, teriak anak Spynosaurus. Lalu cepat-cepat dia berkata,
“Aku amat pandai menangkap ikan. Mulai sekarang aku akan menangkap ikan sebanyak-banyaknya untuk Paman. Paman akan bisa makan ikan sebanyak-banyaknya setiap hari sampai kenyang. Kalau Paman makan aku sekarang ini, mulai besok paman akan lapar terus. Ngga mau kan? Makanya tidak boleh makan aku. Ngerti? Ngerti? Ngertiiiii?????”

“Emangnya benar kamu bisa menangkap ikan?”

Anak spynosaurus kemudian memasukkan mukanya ke laut dan dengan kecepatan yang luar biasa… haaap, seekor ikan tetrangkap.

Tyrannosaurus sangat senang… hmmm hmmm hmma “enaaaak…. ambil lagi yang banyak” Karena tyrannosaurus makan ikan banyak, anak spynosaurus kelelahan menangkap ikan. Dan di pulau yang kecil itu, mulailah kehidupan mereka berdua.

Pada suatu malam.
“Namaku meso-meso ‘Si Cengeng’, emua memanggilku demikian. Nama paman siapa?” Anak spynosaurus bertanya pada Tyrannosaurus.

“Namaku? Namaku tak ada”

“Oooh namanya TAKADA? Paman Takada, kenapa kok bisa sampai di sini?”

“TAKADA? Ahhhh sudahlah. Waktu gempa itu, kupikir aku bisa menemukan mangsa enak di dekat pohon buah merah itu. Kamu Meso-meso, kenapa kamu datang ke situ?”

Meso-meso menjawab dengan sedih
“Ibuku …. sakit. Kata Paman Pteranodon kalau makan buah merah ini akan sembuh….”

“Ohhh untuk ibumu, kamu datang ke sini?”
Meso-meso sambil menangis berkata,
” Ibu bagaimana ya… menungguku?”

“Meso-meso, Ibu pasti tidak apa-apa. Menunggumu pulang!… dengan lembut Tyrannosaurus menghibur.

“Terima kasih …Paman…”

Tyrannosaurus pertama kali mendapat kata “TERIMA KASIH”.

Hari berikutnya,

Waku Meso meso akan pergi menangkap ikan, Tyrannosaurus sambil tertawa berkata, “Hari ini tidak usah makan ikan. Kita makan buah merah ini saja.”

Tyrannosaurus mengambil banyak buah merah dari tempat yang tinggi dan memberikan pada Mesomeso.

“Paman hebat!”

Tyrannosaurus pertama kali mendapat kata “HEBAT”.

“Hmmm hmm enaaaak. Paman juga makan dong”
Tyrannosaurus juga makan… “Ow enaaaak… mungkin lebih enak dari kamu hehehe”

“Kaan? hehehe Paman lucu juga ya”

Tyrannosaurus pertama kali mendapat kata “LUCU”.

Waktu melihat Meso meso makan buah merah itu, Tyrannosaurus itu berpikir “Ingin segera memberikan buah merah ini pada ibu Meso-meso”.

Tiba-tiba dari langit ada seekor Tapejara menukik mengincar Meso meso.
Tyrannosaurus mengusir Tapejara dengan ekornya… wuushhh.

Dengan gembira Meso meso berkata,
“Paman kereeeen!”

Tyrannosaurus pertama kali mendapat kata “KEREN”

Beberapa hari setelah itu.
Meso meso teringat pada ibunya, dan menangis.
Tyrannosaurus, tanpa berkata apa-apa, memeluk Meso meso.

Meso meso menghapus air matanya dan berkata,
“Paman baik ya”
Tyrannosaurus pertama kali mendapat kata “BAIK”.

Setiap Meso meso mengatakan “Terima kasih”, “Hebat”, “Lucu”, “Keren”, “Baik”, hati Tyrannosaurus menjadi hangat.

Tyrannosaurus berkata pada Meso meso.

“Bertemu kamu…..

dan saat itu…..

kraaaakkkkkk
grrrrrr …. gempa bumi yang begitu dahsyat
Menggerakkan pulau itu
mendekati daratan semula
lebih dekat….lebih dekat lagi…
TInggal sedikit lagi, gempa berhenti dan pulau tidak bergerak lagi.

“Ayo… sekarang!”
Tyrannosaurus memeluk Meso meso, dan melompat sekuat tenaga.
Ombak berkilat di bawahnya.

Buumm…
Pas-pasan berhasil mendarat di daratan itu.

“Horeeee Meso meso! Kita berhasil tertolong!”
Sambil berkata dengan gembira, tiba-tiba Tyrannosaurus teringat
“Aduuuh lupa!”

Lalu

Gao…..
Tyrannosaurus melompat kembali ke pulau itu
Grrrr… menggigit pohon buah merah itu.
Sambil memegang pohon itu dengan kuat
melompat kembali ke daratan tempat Meso meso menunggu.

Byuuuurrrr….
Padahal tinggal sedikit lagi, Tyrannosaurus jatuh ke laut.
Pohon buah merah saja tersangkut di tebing…

“Bagaimana bisa melupakan pohon ini. Ayoooo cepat pergi ke tempat ibumu!”

Meso meso sambil menangis berkata,
“Bagaimana bisa meninggalkan Paman….”

“Aku tidak apa-apa… Cepat pergi…
Aku… aku…. bertemu kamu… sungguh … sungguh beruntung!”

Sambil berkata begitu,
Tyrannosaurus
dengan perlahan
tenggelam ke dasar laut…..

“Pamaaaaan…. pamaaaaann… pamaaaaaaaaaaaaaan”
Di langit yang terdengar hanya gaung suara Meso meso.

.

.

.

.

 

Bertahun berlalu.
Meso meso yang sudah bisa berenang
kembali ke pulau itu
Dan di dahan pohon yang ditumbangkan Tyrannosaurus itu
terdapat dua buah merah.

Sambil makan satu buah merah itu, Meso meso meniru lagak Tyrannosaurus,
“”Ow enaaaak… mungkin lebih enak dari kamu hehehe”
dan air mata mengalir ke pipi Meso meso.

“Paman lucu, keren, dan benar-benar baik.
Terima kasih Paman.
Aku sangat beruntung bertemu Paman……”

END
(Diterjemahkan oleh Imelda Coutrier. Harap mengerti bahwa menyebarkan cerita ini dalam bentuk tulisan melanggar hak cipta. Dilarang meng-copy dengan tujuan komersial.)

 

Siapa yang bisa menahan tangis membaca cerita begini?

Gempa bumi Tohoku …
pada hari Jumat Agung,
membuatku tambah menangis…..

Aku merasa beruntung menemukan buku ini
Aku merasa beruntung bisa bahasa Jepang
Aku merasa beruntung mempunyai sahabat-sahabat nyata dan maya yang baik-baik.
Aku merasa beruntung juga bisa membagikan cerita ini di sini.
Semoga bermanfaat.

dan

HAPPY EASTER

=Imelda=

Ghost Bird

Aku sempat tertawa membaca status Pak Syafruddin Azhar di FB nya seperti begini:

Pagi tadi sebelum ke kantor sempat nonton acara “Ranking 1” (Trans TV), ada satu pertanyaan yang disampaikan Sarah Sechan: “Burung Hantu tergolong hewan buas (karnivora/pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal). Apa nama burung Hantu dalam bahasa Inggris?” Pertanyaan ini dijawab sebagian peserta: “Ghost Bird”… Peserta “Ranking 1” ini ternyata pintar ya berbahasa Inggris…

Hastaga…. masak Ghost Bird sih… eh tapi aku lebih ingin tahu mengapa Bahasa Indonesia menyebut OWL itu sebagai Burung Hantu ya? Siapa yang menciptakan atau menentukan ya/ Apa karena suaranya yang cukup “menakutkan” di tengah malam?

Memang semua tahu bahwa Burung Hantu itu bangun di malam hari, tidur di siang hari…. Nah picture book yang aku pinjam kemarin salah satunya adalah mengenai Burung Hantu. Judulnya “Burung Hantu yang Benci Malam”.

Di hutan tinggal seekor Burung Hantu yang benci malam hari. Waktu kecil dia pernah keselo di malam bulan purnama, sehingga dia menjadi takut. Dia menjadi lain dari burung hantu yang lain. Dia tidur di malam hari dan bangun siang hari. Karena itu dia tidak punya teman.

Pada suatu senja, ada seekor ngengat yang tersesat masuk ke rumah Burung Hantu karena melihat lilin yang terpasang.
“Eh, Burung Hantu, kamu sudah mau tidur? Malam hari kan waktunya kita untuk bermain. Ayo kita bermain.”
Burung Hantu menggelengkan kepala dan sambil menepuk-nepuk bantalnya berkata, “Aku sudah memutuskan untuk tidur di malam hari. Selamat tidur!”
Ngengat itu keheranan dan pergi ke luar.

Akan tetapi si Ngengat datang lagi keesokan harinya, dan keesokan harinya, lalu keesokan harinya dan mengajak Burung Hantu untuk bermain. Karena si Ngengat datang setiap malam, Burung Hantu mulai tidak bisa tidur di malam hari. Ngenat selalu menceritakan indahnya malam hari di hutan, tapi Burung Hantu diam saja.

Pada suatu malam, sudah waktunya Ngengat datang, tapi dia tidak datang-datang. Burung Hantu heran. “Kenapa yah? Pertama kali Ngengat tidak datang. Apa karena tadi hujan ya?” Sambil melongok keluar lewat jendela, tapi cepat-cepat menutup tirainya kembali. Malam itu Burung Hantu sama sekali tidak bisa tidur.

Setelah itu Ngengat tidak datang 3 hari berturut-turut. Kemudian malam itu Burung Hantu menatap ke luar menunggu Ngenat datang.

“Hallo… maaf ya aku tidak datang karena kena flu waktu itu kehujanan”
“Aduh aku sudah khawatir …ada apa. Kupikir kamu tidak akan datang lagi…”
” Maaf sudah membuatmu khawatir. Tapi hari ini bulan purnama loh, mari kita jalan-jalan ke luar. Malam ini terang, jadi tidak usah takut.

Jadilah si Burung Hantu ditemani Ngengat ini keluar dan bermain di hutan. Karena sudah lama tidak keluar malam hari, dia takut-takut tapi karena ditemani si Ngengat dia bisa menikmati malam bulan purnama itu. Bahkan sampai ke tempat yang tertinggi dan merasa berada di sebelah sang Bulan.

Berkat teman barunya si Ngengat ini, dia berhasil mengalahkan rasa takutnya, dan pertama kali sejak bertahun-tahun tidur ketika matahari mulai terbit. Dia masih merasakan kegembiraan bermain di malam hari dan ingin sekali hari segera menjadi malam. (diterjemahkan oleh Imelda dengan beberapa penyesuaian)

Cerita yang sederhana, tapi aku rasa kasus seperti ini cukup banyak. Mereka yang terbuang yang menyendiri karena alasan-alasan tertentu. Tapi jika ada seseorang yang seperti Ngengat yang tanpa jemu mengajak, pasti orang itu akan berubah. Siapapun butuh teman. 🙂

Itu cerita Picture Book yang kemarin aku pinjam, dan tema Burung Hantu ini sebetulnya juga pernah menjadi pertanyaan dari mas ordinarytrainer dalam postingnya “Question“. Tanyanya:

Mengapa burung hantu selalu di identikkan dengan Ilmu pengetahuan ??? Apa Burung Hantu itu Pintar ???  Ada yang tau latar belakangnya

Dan karena aku juga penasaran aku mencari di wikipedia. Yang lucu, aku justru bertemu macam-macam keterangan dari wikipedia berbahasa Jepang. Sering loh aku mencari suatu info lebih banyak yang tertulis dalam bahasa Jepang daripada bahasa Inggris. Ini karena orang Jepang memang suka sekali meninggalkan dokumentasi dalam bentuk tulisan yang bisa dipakai sebagai acuan, bukan sekedar curhat-curhatan saja 😀 . Dan dari hasil browsingku aku menemukan bahwa:

Untuk burung hantu sebetulnya bukan pintarnya yang ditonjolkan, tapi bijaksananya. Dalam pemikiran modern dikatakan Owl = wisdom.
Sekali lagi ini pemikiran ini berasal dari Yunani Kuno, yaitu pengikut dewi Athena bernama Minerva yang terkenal pandai sering digambarkan sebagai burung hantu. Padahal konon kepintaran burung hantu kalah dari burung Gagak. (cerita lengkap kurang jelas karena ada beberapa versi, sumber : wikipedia bahasa Jepang)

Tapi memang Burung Hantu adalah salah satu binatang yang kusuka, meskipun aku tidak memeliharanya. (Dan jenisnya juga cukup banyak loh!)

Buku Bagus

Menurutku hampir semua buku itu bagus! Kalau ada buku jelek, ya itu mungkin karena cara penyampaian, atau topik yang tidak menarik (ini juga relatif sih), atau editornya kurang cerewet hehehe. Bener ngga mas Din?

Yang sedikit adalah buku “luar biasa”, dan memang itu berbeda karena di situ sudah masuk unsur pendapat dan kesukaan masing-masing individu. Buku favoritku dan buku favorit kamu pasti beda deh. Jadi daripada menanyakan buku itu bagus atau tidak, lebih tepat mengelompokkan buku menjadi : buku menarik dan tidak menarik.

Nah, aku di blog TE ini sudah banyak memperkenalkan Picture Book Jepang yang aku rasa bagus dan menarik. Aku memperkenalkan picture book itu karena memang aku kagum pada keberadaan picture book dalam pendidikan anak-anak di Jepang. Sampai-sampai waktu pergi memeriksakan kesehatan  berkala bayi pertama kali di puskesmas, orang tua akan diberikan hadiah picture book gratis, untuk dibacakan pada bayi mereka. Tujuannya cuma satu: supaya bayi dapat menjadi anak-anak yang cinta buku.

Kali ini aku ingin menulis lagi tentang picture book yang bagus. Buku ini sudah lama Gen beli, mungkin musim panas tahun yang lalu. Tapi aku baru bacakan untuk Kai beberapa malam yang lalu. Riku sudah dibacakan Gen sejak awal beli. Tapi karena Gen yang bacakan, aku sendiri tidak perhatikan isinya. Tapi begitu aku selesai bacakan ke Kai, esoknya aku bilang pada Gen, “Buku itu bagus ya!”.  Jawabnya, “Itu aku buka-buka di toko buku, dan aku beli karena menurutku memang bagus. Buku ini merupakan buku pilihan untuk tahun 2009.” Dan… harganya cukup mahal, 1500 yen. (ssst padahal gambarnya ngga bagus loh— sekali lagi pendapat pribadi)

sampul buku picture book kali ini

Judulnya?” Okodademasenyouni” 「おこだでませんように」 dan aku yakin orang Indonesia yang sudah belajar bahasa Jepang tidak bisa menemukan arti dari judul tersebut. Karena sebenarnya cerita dalam picture book ini memakai dialek Kansai (Osaka, Kyoto dan sekitarnya) yang berlainan dengan bahasa Jepang standar. Sedangkan okodademasennyouni sendiri merupakan bahasa anak-anak (seperti mam untuk makan dalam bahasa Indonesia). Aku pun agak terbata-bata waktu membacakan picture book ini pada Kai, tapi…. isinya tetap tersampaikan.

Seorang anak laki-laki kelas 1 SD, berjalan pulang ke rumah dari sekolah sambil menundukkan kepala…

Aku selalu dimarahi. Di rumah maupun di sekolah….
Kadang-kadang mama pulang lambat dari kerja,
karenanya aku harus bermain dengan adikku.
Tapi entah kenapa khusus di hari-hari mama tidak ada,
adikku itu manja sekali…
“Apaan origami seperti ini. Jelek! Kertas lipat buatan mama lebih bagus”
“Cerewet! Lebih muda dariku sudah cerewet!”

Kalau aku marah, adikku langsung menangis.
Dan biasanya nangis terus sampai mama pulang.
Memang sih tengah-tengah berhenti, tapi begitu mama pulang…
langsung nangis lagi! huh….

Waktu adik menangis itu, mama selalu marah.
“Kamu gangguin adik lagi ya!”  (abis dia lebih muda dari aku minta macam-macam)
“Kamu belum bikin PR?????” (Ya iya… kan aku main dengan adik… kapan aku bisa bikin PR?)

Tapi, kalau aku bilang apa yang kusebutkan dalam hati itu,
mama PASTI marah.
Makanya aku diam saja dan berpaling.
Berpaling dan tidak bicara apa-apa, terima dimarahi.

Huh, aku selalu dimarahi.

Di sekolah pun aku sering dimarahi. (gambar dia pegang jangkrik, dan murid perempuan menangis)

Hari ini waktu istirahat, aku ngga dibolehin ikut main sepakbola oleh Ma-kun dan Ta-kun
“Kenapa aku ngga boleh ikut main?”
“Kamu ngga tau peraturan dan sering kasar mainnya sih!”
Aku kesal!
“Ohhh gitu ya? Aku biar diminta kamu untuk main bersama juga ngga mau!”
sambil berkata begitu aku tendang Ma-kun dan pukul Ta-kun.
Keduanya langsung menangis.

Guru langsung datang, dan hanya marahin aku saja.
“Kamu apain?” (Tuh mereka berdua yang duluan musuhin aku)
“Tidak boleh kasar kan!” (Tapi waktu dibilang “kamu ngga boleh ikut” , itu adalah pukulan telak di hatiku)

Tapi kalau aku bilang apa yang ada dalam hati, PASTI guruku akan marah.
Karena itu aku diam saja, dan berpaling.
Berpaling dan tidak bicara apa-apa, terima dimarahi.

Huh, aku selalu dimarahi.

(gambar: sambil berjalan pulang ke rumah….)

Kemarin juga dimarahi…
Hari ini juga dimarahi…..
Pasti besok juga dimarahi……

Sesungguhnya aku ingin sekali dikatakan, “anak baik”
Tapi mama dan guruku setiap melihatku, pasti dengan muka marah..

Waktu itu, aku bilang pada mama,”Kalau mukanya seperti itu nanti keriputnya bertambah loh”…. dimarahin lagi. Padahal aku ingin mama tetap cantik.

Aku harus gimana ya supaya tidak dimarahi…
Aku harus gimana ya supaya dipuji……
Apa aku memang “anak nakal?”
Padahal aku sudah masuk SD
Sudah jadi anak kelas 1.

Tanggal 7 Juli, kami menuliskan keinginan di kertas Tanzaku.
Ma-kun dan Ta-kun menulis, “Supaya bisa jadi atlit sepakbola”.
Tomo-chan menulis,”Supaya bisa pintar bermain piano”.

Aku berpikir.
Aku berpikir apa keinginanku nomor satu.
Waktu aku sedang berpikir keras…
“Ayo cepat tulis!”
dimarahi lagi…….

Kemudian aku menulis keinginanku dengan huruf hiragana yang kupelajari sejak masuk SD.
Dengan hiragana satu per satu, penuh perasaan.

“Okodademasenyouni” (Supaya jangan dimarahi)

Selesai menulis, aku selalu yang terakhir. (Aaaah pasti dimarahi lagi)
Sambil berpikir begitu, aku menyerahkan kertas Tanzaku pada guruku.
Guruku melihat tanzaku milikku….
Guruku teruuuus membaca kertas tanzaku milikku.

Ahhhhhh

Guruku menangis!!!!!

“Bu guru selalu marah ya…. maaf ya. Pintar ya tulisannya. Keinginan yang bagus!”

Haaaaaa…. guruku memujiku!!!!!!

Aku kaget sekali
Abis…keinginanku langsung terkabulkan!

Malam harinya, ada telepon dari guruku.
Mama lamaaaa sekali berbicara di telepon dengan guruku.
Selesai telepon, mama memelukku seperti waktu memeluk adikku.
“Maaf yah, mama marah terus-menerus”
sambil berkata begitu, mama memelukku erat-erat.

Karena adikku iri, aku memeluk adikku.
“Kamu berdua, harta mama yang paling berharga”
Sambil berkata begitu mama memeluk aku dan adikku… lamaaaaa sekali.

Tanabata sama, terima kasih.
Banyak banyak terima kasih.
Hari ini aku bahagia sekali.
Sebagai terimakasihku, aku akan jadi anak baik.

ZzZZzzzzzzz

***(Tanggal 7 Juli adalah peringatan tanabata. Berasal dari dongeng pertemuan dua kekasih yang bisa dibaca di sini, sehingga setiap tanggal tersebut orang Jepang mempunyai kebiasaan untuk menuliskan keinginan mereka pada kertas tanzaku dan menggantungkan di daun Sasa. Bisa baca cerita permohonan tanabata ini juga di sini.)

(Terjemahan oleh Imelda. Cerita ini aku terjemahkan hampir semua karena tidak bisa sepotong-sepotong. Ingat copyright ada di tangan penerbit. Jadi dilarang menyebarkan cerita keseluruhan tanpa menyebutkan sumber, apalagi mencetaknya)

Aduuuuh aku menangis sambil membaca buku ini. Bohong kalau aku tidak pernah marah pada anak-anak. Dan buku ini menceritakan perasaan anak-anak sesungguhnya. Mereka TIDAK BERMAKSUD UNTUK NAKAL. Pasti ada sebabnya, sedangkan kita, orang dewasa selalu menyalahkan mereka. Selalu MENYURUH MEREKA MENYESUAIKAN DIRI DENGAN KEHENDAK ORANG DEWASA. Padahal mereka juga belum mampu. Oh Tuhan… memang keinginan anak itu adalah permohonannya juga pada Tuhannya. Supaya jangan dimarahi. Supaya dipuji.

Anak butuh pujian! Dan tidak ada salahnya orang tua minta MAAF pada anak.

Buku ini benar-benar buku yang bagus. Dan sebetulnya HARUS dibaca oleh para orang tua, bukan anak-anak. Kita selalu beranggapan bahwa picture book itu untuk anak-anak saja. NO! Sebetulnya banyak picture book yang cocok untuk semua umur! Betapa banyak aku belajar juga dari picture book (silakan search kata kunci “picture book” di TE, pasti ada beberapa cerita yang telah aku perkenalkan)

Cerita ini dikarang oleh Kusunoki Shigenori, gambar oleh Ishii Koyotaka. Diterbitkan oleh Shogakkan pertama kali Juli 2008 seharga 1500yen(+pajak 5%)

Roman Pria

kata ini merupakan terjemahan dari bahasa Jepang Otoko no Roman. Aku pertama kali mendengar kata ini waktu Gen memohon persetujuan aku dan kemudian memamerkan satu set/ seri buku TIM, karangan Edward Ardizzone (penulis asal Inggris yang lahir di Vietnam tahun 1900 dan meninggal tahun 1979). Karena wajah Gen memelas sekali waktu itu, jadi aku mengiyakan. Meskipun agak manyun karena ternyata untuk melengkapi satu set seri TIM ini aku harus mengeluarkan uang kira-kira 15.000 yen! Satu seri ini terdiri dari 11 buku @1365yen. Dan kebetulan memang penerbit Fukuinkan Shoten menerbitkan kembali bulan Agustus tahun 2007 sebagai cetakan ke 11. Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1963 (oleh Oxford University Press dan dalam bahasa Jepang  oleh Fukuinkan Shoten tahun 2001) … wow… sebuah karya besar yang terbit  jauh sebelum Gen lahir.

Lalu apa sih hebatnya Picture Book ini? Buku ini menceritakan petualangan anak laki-laki bernama Tim berlayar naik kapal laut. Dimulai dengan judul pertama Little Tim and The Brave Sea Captain, Tim and Lucy Go to Sea, Time to the Rescue, Tim and Charlotte, Tim in Danger, Tim All Alone, Tim Friends Towser, Tim and Ginger, Tim to the Lighthouse, Tim Last Voyage dan Ships’s Cook Ginger. Aku sendiri belum baca, dan hanya mencuri dengar waktu Gen mendongengkan pada Riku sebelum tidur, sampai buku ke dua. (Dan menurut Gen dia sudah membacakan seluruh seri TIM ini pada Riku).

Buku seri Picture Book yang "katanya" merupakan roman laki-laki di Jepang.

Roman Pria….. menurut penjelasan dari situs hatena jepang, Roman Pria ini adalah suatu dunia angan-angan, tindakan, pemikiran dan あこがれ akogare idaman dari anak laki-laki pada umumnya (bukan mengidamkan perempuan loh), mulai dari narsisme sampai ideologi yang menjadi syarat macho atau bisa dikatakan definisi untuk menjadi “cowo keren”. Sehingga tokoh-tokoh dunia seperti Napoleon, Raja Alexander, Adolf Hitler yang berkuasa pun disebut sebagai roman Pria.

Dan menurut Gen, memiliki buku Tim ini juga merupakan perwujudan Roman Pria… entah apakah ini hanya Gen saja, tapi kalau melihat definisi Roman Pria berarti banyak yang meng”idola”kan Tim ini.  Dan waktu aku mencari-cari di website istilah ini, banyak gambar yang menunjukkan “idaman” nya pria Jepang, misalnya pemantik api Zippo, miniature mobil-mobilan (daripada boneka aku mending ngumpulin mobil-mobilan deh), jam tangan tag heuer (ih aku juga mau tag heuer!), dan lain-lain. Hmmm aku jadi ingin tahu pria-pria Indonesia apa ya “roman” nya (bukan romance atau asmara loh hehehe). Kalau Zippo, aku rasa hanya bagi mereka yang merokok, dan aku jarang mendengar ada teman laki-laki yang hobbynya mengumpulkan mobil-mobilan miniatur. Mungkin (baru mungkin loh) cerutu? atau sepatu gunung? jaket kulit? kalau buku mungkin Kho Ping Ho? atau Bung Karno untuk tokohnya? Dan menurutku tentu saja barang-barang atau pemikiran/idaman pria berbeda menurut generasinya.

Nah yang lucunya, meskipun dalam bahasa Jepang ada kata “Roman Pria/ Otoko no Roman”, tapi tidak ada kata “Roman Wanita atau Onna no roman”. Padahal semestinya wanita juga mempunyai “idaman” yang mempunyai persamaan secara umum yang menunjukkan “keperempuanannya” ya? Misalnya jaman aku dulu, kami punya idaman Lady Diana, dengan rambut gaya Lady Di itu, atau si Farah Fawcett deh. Kalau untuk barang, aku memang tidak tahu, karena aku merasa aku tidak suka barang “wanita” seperti Barbie, atau yang womanish womanish pinkish gitu deh (duh bahasa apa lagi tuh womanish hihihi).

So, apa atau siapa roman kamu?

Beda Buku Jepang dan Indonesia

Kemarin aku sakit kepala, sampai setiap suara anak-anak menjadi gangguan 🙁 Meskipun sudah kuminta anak-anak untuk tidak berteriak atau bertengkar tapi tetap saja. Dan puncaknya sekitar pukul 7:30 malam aku menyuruh Riku mematikan televisi dan diam. Untung Riku sudah bisa mengerti sehingga dia mengajak adiknya masuk tempat tidur, dan membacakan picture book. Yang dipilih adalah “Momotaro”, cerita tentang seorang anak lelaki yang “lahir” dari sebuah Peach besar yang mengalir di sungai, kemudian diambil oleh seorang nenek yang sedang mencuci. Cara lahirnya itu yang lucu, yaitu waktu si nenek mau membelah buah peach dengan pisau, maka peach itu membuka sendiri, dan “oe oek….” seorang bayi menangis deh. Nah yang lucu di situ bergambar bayi dengan t*titnya, dan Kai menunjuk-nunjuk… Eh ada cincin! Aku juga punya! hahaha…

Rame deh akhirnya, tapi saat itu Kai bilang, “Chigau!(Berbeda)”. Ya dia ingat penjelasanku tentang buku beberapa hari yang lalu. Anak ini memang pintar, dijelaskan satu kali bisa ingat terus. Apa yang dia tanyakan waktu itu? Coba perhatikan gambar 2 picture book ini.

Saya pilihkan dua picture book, yang satu "Momotaro" dan satunya "Wall-e" terjemahan ke bahasa Jepang

Sekilas tidak berbeda ya? sama besarnya. Coba lihat foto berikutnya, bagaimana kalau kita buka halaman pertama.

Terlihat perbedaannya ya. Yang "Wall-e" membuka ke kiri, sedangkan "Momotaro" membuka ke kanan

Buku “Wall-e” seperti biasanya buku-buku Indonesia, membuka ke kiri. Sedangkan “Momotaro” adalah ciri khas buku Jepang! Membuka ke kanan. Atau kalau dengan pemikiran orang Indonesia, membuka dari belakang ke depan. YA! BERBEDA! Dan itu disadari Kai beberapa malam yang lalu waktu aku mendongeng untuk dia. (Doooh akhir-akhir ini dia selalu minta dibacakan buku, dan kadang butuh 2 jam sampai dia tertidur…sengsara bener deh aku! Kalau tengah malam dia terbangun, juga minta membaca buku. Akhirnya biasanya aku pura-pura buka buku, padahal aku tidak baca…aku ceritakan apa yang sudah aku hafal. Bahkan kalau perlu hanya bergumam saja hihii)

Nah waktu itu aku jelaskan pada Kai tentang perbedaan kedua buku itu. Pasti dia tidak bisa menyerap semua penjelasan aku, tapi tetap aku jelaskan. Dia akan bisa memahaminya kelak.

Seperti yang sudah aku katakan tadi, bahwa “Momotaro” adalah buku khas Jepang. Ditulis dengan bahasa Jepang (ya iyalah… hihihi) Tapi ditulis dari atas ke bawah. Ini sebetulnya cara menulis Jepang yang asli. Dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan. Oleh sebab itu cara membuka buku yang ditulis vertikal begitu itu harus membuka ke kanan! Sedangkan buku “Wall-e” meskipun ditulis dalam bahasa Jepang pun, ditulis dengan cara modern dari kiri ke kanan secara horisontal. Karena itu dalam membaca pun harus membuka ke kiri, selayaknya buku-buku berbahasa Inggris/Indonesia atau buku lain yang ditulis dalam alfabet.

Beda tulisan vertikal dan horisontal mempengaruhi "cara" membuka buku.

Tentu akan bertanya, loh menulis dari atas-ke bawah dari kiri ke kanan, apa tidak belepotan tuh tangannya dengan tinta? Ini juga pertanyaan aku tadinya, lalu aku teringat bahwa memang orang Jepang kuno menulis bukan dengan bolpen tapi dengan tinta dan kuas. Tidak boleh meletakkan tangan pada kertas. Gaya menulis kaligrafi Jepang pun menunjukkan bahwa sikap duduk yang lurus (tidak bongkok) mempengaruhi keindahan tulisan.

Aku pernah belajar kaligrafi Jepang sebentar dan memang sikap duduk amat sangat menentukan. Sebenarnya kalau ada kelas menulis kaligrafi yang murah, aku ingin ikut lagi deh. Atau paling sedikit ingin menyuruh Riku mempelajarinya supaya tulisan dia bagus dan rapih. ( Aku harus bersyukur bahwa dia masih termasuk rapih menulisnya, meskipun kadang aku bingung membaca tulisannya hehehe)

Well, untuk sementara waktu aku harus bersiap mendengarkan celoteh Kai sebelum aku dongengi dengan kata-kata, “Chigau (Berbeda)”

Ikkyu menulis kaligrafi dengan kuas pada kertas yang panjang. Test waktu itu adalah menulis satu huruf yang mempunyai arti dengan satu goresan saja (tidak boleh terputus) dan ikkyu memilih kata "shi" dalam hiragana yang artinya "mati"

Ketika Koala bertemu Koala

Si Koala KAI sudah bertemu Gajah di sini. Juga sudah pernah ke kebun binatang Indonesia, Ragunan. Tapi dia belum bertemu saudaranya, sesama Koala. Jadi hari Minggu tgl 13 September lalu, kami pergi ke Tama Zoo. Berangkatnya sesudah makan siang, tapi dengan begitu kami jadi tidak terlalu capek. Karena tidak semua tempat kami kunjungi.

Tujuan utama memang menemui Koala, yang memang kandangnya terletak paling jauh dan dalam. Sehingga sambil menuju ke arah kandang koala, kami mampir melihat kandang binatang dari yang terdekat dengan pintu masuk. Ada kolam dengan bebek dan angsa, tapi sama kotornya dengan ragunan hehehe. Kemudian ada kandang tapir, yang dalam bahasa Jepangnya disebut Baku. Baku ini sering dipakai sebagai peneman tidur. Entah apa yang membuat image seperti ini.

Setelah itu kami melihat kandang rusa dan beruang. Yang lucu yang beruang ini, dia sepertinya sangat “narsis” dan merasa semua perhatian padanya, sehingga selalu melakukan ritual khasnya. Dia berjalan kearah pintu lalu berdiri dan berbalik kembali ke tengah “catwalk”…

Di dekat kandang beruang juga terdapat kandang burung seperti beo dan burung merak (kujaku). Karena Riku sudah pernah lihat burung merak yang indah sekali di Taman Safari, dia berkata, “Ah di sini jelek, yuuuk kita pergi!” hihihi. Memang sih, kalau bisa lihat sedekat yang waktu itu, burung merak di sini tidak menarik. Tapi, burung beo di sini sangat pintar bergaya. Dia memamerkan bulunya yang indah, bagaikan peragawati.

Setelah itu kami pergi ke taman burung. Maunya seperti Taman Burung di Taman Mini, tapi di sini kecil sekali dan hanya ada jenis burung yang ada di Jepang. Kalah deh dengan Taman Burung di TMII, tempat favorit saya, meskipun setelah gemparnya flu burung, saya takut mengajak orang Jepang ke situ.

Akhirya kami sampai di kandang koala di gedung khusus paling dalam kebun binatang ini. Semua gelap di dalam sini. Karena koala adalah binatang yang sensitif, kami juga diwanti-wanti untuk tidak memakai lampu blitz waktu memotret. Dan, lihatlah si Koala bertemu saudaranya!

Paling akhir kami menengok kandang gajah India. Kami baru tahu ternyata gajah yang berada di situ, menjadi model sebuah Picture Book  yang berjudul “Tomodachi wo tasuketa Zou tachi” Gajah-gajah yang menolong temannya. Ada tiga gajah yang dahulu menghuni kebun binatang Tama ini. Yang masih hidup sekarang bernama Annura. Saya tidak bisa mengambil fotonya karena dibalik kandang besi yang teralinya cukup mengganggu pemandangan. Annura ini pernah sakit, dan gajah bila sakit tidak bisa tidur rebahan. Tidur dalam keadaan berdiri. Yang menjadi tema cerita dari Picture Book itu adalah betapa dua teman Annura, selalu berada di sisi kanan dan kiri Annura, menyangga, menopang, membantu Annura selama sakit, dan itu berlangsung cukup lama. Ahhh Gajah saja bisa perhatian begitu, masak kita manusia tidak bisa membantu sesama yang kesulitan?

Akhirnya pukul 4:50 sore, kami diperintahkan untuk meninggalkan lokasi kebun binatang karena akan tutup. Tapi sbeelumnya kami sempat mampir di tempat orang utan, yang orang utannya sudah berlarian entah kemana. Hanya ada satu yang bergelantungan dan bergerak terus, sehingga sulit untuk dipotret. Tetapi di bagian luar ada dua orang utan yang diberi nama Yuki dan Kiki. Kiki ini berasal dari Taman Safari Indonesia. Ada satu lagi penghuni kandang ini yang bernama Jipsi, berasal dari Malaysia. Dan saya menemukan satu lambang (bendera) yang akhir-akhir ini cukup menjadi berita, dua saudara yang sedang “bertengkar”. Begitu saya melihat ini, saya sempat menjelaskan pada Gen yang tidak mengerti. “Untung merah putih di atas, kalau tidak…. tambah berkelahi lagi hihihi!”. Ahhh, seharusnya kita banyak belajar dari binatang…. Betul kan?

Kai dan mama menunggu pesanan spaghetti datang... laparrrr!

Tama Zoo terletak di Kota Hino, turun di Tama Dobutsu Koen kira-kira satu jam perjalanan dari Shinjuku (Keio Line). Harga tanda masuk 600 yen untuk dewasa, dan gratis untuk anak berusia 0-12 tahun. Keterangan dalam bahasa Inggris bisa dilihat di situs ini.

Mendongeng di Sekolah

Sudah sejak Riku berusia 1 tahun, kami biasakan untuk membacakan Picture Book sebelum tidur. Selalu bergantian, siapa saja yang bisa, saya atau Gen. Dan setelah berusia lewat 4 tahun, Riku yang memilih sendiri cerita mana yang ingin dia dengar. Hampir setiap malam, sampai Kai lahir.

Kai paling mudah untuk tidur. Cukup berikan botol susu dan kadang tanpa ditemani tidurpun, dia bisa tidur nyenyak. Tak ada cerita, tak ada lullaby. Sepi…. Sampai Gen menyayangkan kondisi ini. Terasa dingin, kurang ada hubungan batin antara Kai dan kami sebagai orang tua. Sementara Riku juga biasanya sudah tertidur sebelum Gen pulang kerja, atau saya sedang menidurkan Kai, memberi makan atau lain-lain. Kalau capek, Riku bisa tertidur sambil duduk di meja makan!

Tapi sejak Kai mulai berinteraksi dengan teman-teman di Himawari (penitipan anak) yang tentu saja salah satu kegiatan mereka adalah membaca Picture Book, Kai mulai menunjukkan minat pada buku. Tak jarang dia mengambil sendiri sebuah buku dan membalik-baliknya, tak jarang mengoceh sendiri dengan suara keras. Sebuah pemandangan yang jarang kami temui waktu Riku berusia sama dengan Kai, 1 tahun 10 bulan.

Dan akhir-akhir ini setiap malam terpaksa saya harus “berantem” dengan mereka. Karena Riku minta dibacakan “Iyaiyaenいやいやえん” sebuah buku yang sedikit gambarnya, sedangkan Kai minta dibacakan buku yang lebih banyak gambar khusus untuk usia 0-1-2 atau sebuah buku “Daiku to Oniroku だいくとおにろく” . Dan biasanya yang menang Kai, karena Riku langsung tertidur begitu kepalanya kena bantal. Jadilah saya mendongeng untuk Kai, berkali-kali sampai… terkadang saya yang duluan tertidur karena bosan.

Beberapa hari yang lalu, saya baru tahu bahwa setiap hari Kamis pukul 8:30 sampai 8:45 (pelajaran mulai pukul 8:50) di setiap kelas dari kelas 1 sampai 6, diadakan pembacaan buku cerita/mendongeng di SD nya Riku. Yang membacakan adalah orang tua murid yang tergabung dalam kelompok “Yomoccha Asa no kai”. Saya mengetahui tentang keberadaan kelompok ini, karena ada surat ajakan untuk ikut masuk ke dalam perkumpulan itu. Saya sebetulnya ingin sekali masuk ke kumpulan itu, tapi berhubung saya orang asing, pengucapan kalimat bahasa Jepang saya bisa mengacaukan pendidikan bahasa anak-anak sehingga saya mengurungkan diri. Tapi yang saya kagumi, pertama: sekolah memberikan waktu khusus untuk dipakai mendongeng di kelas. Dan kedua, orang tua sukarela meluangkan waktu untuk membacakan cerita. Karena tujuan membaca cerita itu amatlah bagus. Pasti ada manfaatnya bagi anak-anak di kemudian hari.

Selain acara rutin setiap pagi sebelum pelajaran pertama mulai, ada juga sebuah kegiatan lain dari PTA, yang juga mengumpulkan anak-anak setelah pulang sekolah pukul 3:30 sore di ruang serba guna, dan membacakan cerita. Selama 30 menit, murid bisa mendengar, melihat dan juga bertanya. Hari ini cerita yang dibacakan adalah mengenai “Curious George Goes to Hospital”… tentu saja versi bahasa Jepang.

Mendongeng… Saya sampai besar dan datang ke Jepang belum pernah mengalami “didongengi” selain oleh orang tua (baca: mama, pada waktu kami belum bisa membaca). Tapi di Jepang sering saya temui acara “mendongeng” yang disebut juga dengan yomikikase atau roudoku. Yomikikase biasanya audiencenya anak-anak, sedangkan roudoku pembacaan di atas panggung (mungkin bisa dibayangkan seperti pembacaan puisinya Rendra). Dan roudoku ini biasanya menampilkan artis kawakan yang penghayatannya juga bagus. Dan sekali lagi, roudoku bukan hanya konsumsi anak-anak! Hebat memang Jepang.

Saya hanya tahu kegiatan mendongeng di Indonesia diadakan oleh  Poetri Soehendro, announcer yang banyak membacakan cerita untuk anak-anak. Tapi selain dia, saya tidak tahu. Or saya juga tidak tahu seberapa “banyak”nya kegiatan mendongeng di Indonesia. Padahal, bekalnya hanya buku loh. Dan suara. Murah bukan? Dan dengan didongengi begini, daya imaginasi anak-anak bisa dipupuk, selain memperkaya pengetahuan.

Memang masyarakat Jepang tidak bisa lepas dari buku. Sejak anak-anak sampai dewasa. (Dan saya tak henti-hentinya mengatakan Indonesia harus meniru Jepang untuk yang ini)

NB: Sssst… Ada satu Picture Book, yang saya pribadi ingiiiin sekali beli. Berjudul, “Shakkuri Gaikotsu” terjemahan dari “Skeleton Hiccups” karangan Margery Cuyler、 S.D. Schindler. Masih mikir-mikir mau beli ngga soalnya harganya 1575 yen … cukup mahal untuk sebuah Picture Book.

Amazon.com
Skeletons are a little less scary when they have the hiccups. This particular skeleton can’t seem to shake them–not in the shower (nice fuzzy bat slippers!), not while brushing his teeth (woops! there goes the bottom jaw!), not while polishing his bones, carving a pumpkin, raking leaves, or even when playing baseball with his friend Ghost. Ghost, instead of Boo-ing! away his buddy’s hiccups right away as we might expect, advises Skeleton to hold his breath and eat some sugar and drink water upside down. When he finally does Boo! it still doesn’t work. But when Ghost finds a mirror and holds it up to Skeleton’s face, he sees his reflection and screams in fright! The hiccups jump away, hic, hic, hic. While it’s novel to see a skeleton eating sugar, drinking water, showering, etc., it may be tricky to find the right audience for this unusual picture book that’s more about hiccups than Halloween. (Ages 4 to 8) –Karin Snelson

Akhirnya aku dibelikan buku ini, yang bisa dibaca ceritanya di sini.