Tips

Semua orang pasti tahu apa itu tips. Meskipun banyak sebetulnya artinya, bisa berarti ujung, bisa berarti kiat/nasehat/info, tapi juga bisa berarti uang persenan/uang rokok/uang jajan.

Nah, sebelum saya menulis tentang tips di Jepang, baca dulu sebuah ilustrasi yang cukup “kena” di hati saya waktu saya membacanya.

Satu sore di sebuah mal, seorang anak berusia sekitar 8 tahun berlari kecil. Dengan baju agak ketinggalan mode, sandal jepit berlumur tanah, berbinar-binar senyumnya saat dia masuk ke sebuah counter es krim ternama.

Karena tubuhnya tidak terlalu tinggi, dia harus berjinjit di depan lemari kaca penyimpan es krim. Penampilannya yang agak lusuh jelas kontras dibanding lingkungan mal yg megah, mewah, indah dan harum.

“Mbak, Sunday cream berapa?” si bocah bertanya, sambil tetap berjinjit agar pramusaji dapat melihat sedikit kepalanya, yang rambutnya sudah lepek basah karena keringatnya berlari tadi.
“Sepuluh ribu!” yang ditanya menjawab.

Si bocah turun dari jinjitannya, lantas merogoh kantong celananya, menghitung recehan dan beberapa lembar ribuan lusuh miliknya.

Kemudian sigap cepat si bocah menjinjit lagi. “Mbak, kalo Plain cream yang itu berapa?”

Pramusaji mulai agak ketus, maklum di belakang pelanggan yang ingusan ini, masih banyak pelanggan “berduit” lain yang mengantri. “Sama aja, sepuluh ribu!” jawabnya.

Si bocah mulai menatap tangannya di atas kantong, seolah menebak berapa recehan dan ribuan yang tadi dimilikinya.
“Kalau banana split berapa, Mbak?”
“Delapan ribu!” ujar pramusaji itu sedikit menghardik tanpa senyum.

Berkembang kembali senyum si bocah, kali ini dengan binar mata bulatnya yang terlihat senang, “ya, itu aja Mbak, tolong 1 piring”. Kemudian si bocah menghitung kembali uangnya dan memberikan kepada pramusaji yang sepertinya sudah tak sabar itu.

Tidak lama kemudian sepiring banana split diberikan pada si bocah itu, dan pramusaji tidak lagi memikirkannya. Antrian pelanggan yang tampak lebih rapi dan berdandan trendi banyak sekali mengantri.

Detik berlalu menit, dan menit berlalu. Si bocah tak terlihat lagi dimejanya, Cuma bekas piringnya saja. Pramusaji tadi bergegas membersihkan sisa pelanggan lain. Termasuk piring bekas banana split bekas bocah tadi.

Bibirnya sedikit terbuka, matanya sedikit terbebalak. Ketika diangkatnya piring banana split bocah tadi, di baliknya ditemukan 2 recehan 500 rupiah dibungkus selembar seribuan.

Apakah ini?
Tips?
Terbungkus rapi sekali… rapi !

Terduduk si pramusaji tadi, di kursi bekas si bocah menghabiskan Banana splitnya. Ia tersadar, sebenarnya sang bocah tadi bisa saja Menikmati Plain Cream atau Sunday chocolate, tapi bocah itu mengorbankan keinginan pribadinya dengan maksud supaya bisa memberi tips kepada dirinya. Sisa penyesalan tersumbat di kerongkongannya. Disapu seluruh lantai dasar mall itu dengan matanya, tapi bocah itu tak tampak lagi.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2009/06/18/418/Di.Balik.Sepiring.Banana.Split

Menyentuh bukan? Mengingatkan kita, yang bekerja di bidang jasa/pelayanan agar tidak memandang penampilan pembeli dengan apa yang terlihat saja.

Saya tidak tahu siapa sih yang memulai kebiasaan memberikan tips atau persenan kepada pelayan/petugas yang telah melayani kita. Memang tips merupakan salah satu penghargaan si “pelanggan” terhadap “service” yang diterimanya. Tapi tidak semua dapat diekspresikan dengan uang, bukan? Kata terima kasih dan pujian yang tulus, sebetulnya sudah cukup karena toh sebetulnya pembeli sudah membayar apa yang sudah dibelinya.

Persoalan memberikan tips ini juga sering membuat saya pusing. Berapa sih sepantasnya saya memberikan tips kepada pelayan, yang jangan sampai dia tersinggung karena terlalu sedikit misalnya. Karena sejak kecil saya memperhatikan waktu bapak saya membayar, saya melihat berapa yang dia berikan untuk tips pelayan sebuah restoran misalnya. Besarnya tergantung pula pada “level” restoran itu, apakah hanya ber”level” rumah makan, atau restoran mahal yang eksklusif. Yang paling sering saya lihat memang, meninggalkan kembalian dari jumlah yang dibayarkan. (Dari segi kepraktisan memang malas rasanya menerima kembalian, apalagi kalau banyak koin nya)

Karena bapak saya juga sering ke luar negeri, saya juga tahu bahwa di Amerika atau negara Eropa, ada kebiasaan memberikan tips sebesar 10% dari apa yang sudah kita bayarkan. Hitungan ini yang kemudian saya pakai jika pergi ke luar negeri. Tapi ternyata, setiap negara punya hitungan dan kebiasaannya sendiri.

Misalnya waktu saya pergi ke Melbourne, saya sempat dimarahi adik saya yang tinggal d situ waktu itu, karena memberikan tips 10% dari yang saya harus bayarkan di sebuah restoran Vietnam. Katanya, “kamu merusak tatanan perburuhan di sini”. Jadi? saya harus membayar tips berapa? Katanya cukup 2-3 dolar saja. Hmmm….

sepanjang Romantischen Strasse dan berhenti di Wieskirche

sepanjang Romantischen Strasse dan berhenti di Wieskirche

Yang menarik juga pengalaman waktu menyewa mobil di Munchen sekitar akhir tahun 2001. Sudah sejak dari Jepang saya menghubungi Mr some-german-name lewat internet. Minta dijemput di bandara Munchen, untuk menuju Hersching, rumah kediaman adik saya waktu itu. Saya memakai jasa Mr itu selama 3 hari karena dia bisa berbahasa Inggris, dan mempunyai mobil besar yang bisa mengangkut 7 orang + koper.

Nah, yang menarik waktu saya akan membayar dengan credit card. Di situ tertera juga kolom “tips” selain dari harga yang saya harus bayarkan. Saya tinggal menuliskan berapa yang saya mau beri, lalu jumlahkan dan tanda tangan. Ow, praktis sekali. Jadi saya tidak usah menyediakan uang kecil terpisah.

Tapi, untung juga saya sempat menanyakan di bagian informasi airport Changi, waktu saya mendarat di Singapore dan akan bermalam di hotel di sana. Saya tanyakan berapa saya harus bayar tips untuk supir taxi, dan berapa untuk petugas hotel. Kemudian kembali saya ditanya, “Madam, kamu akan menginap di hotel mana?”
“Raffles”
“THE Raffles??? (hei… I ‘m on honeymoon you know! jangan pasang muka aneh gitu dong) well, kamu tidak usah memberikan tips pada petugas di sana, karena semua service dia sudah termasuk dalam bill hotel. ”
“Untuk bell boy juga?”
“Ya, tidak usah….” uhhh gini deh kalo katrok.
Jadi memang akhirnya saya tidak memberikan apa-apa kepada petugas hotel yang bersorban dan gagah-gagah itu. Tapi tetap saja rasanya tidak “nyaman” jika tidak memberikan tips.

Raffles Hotel, sayang tidak ada foto dengan bapak bersorban

Raffles Hotel, sayang tidak ada foto dengan bapak bersorban

Memang saya perhatikan juga kebanyakan restoran besar di Jakarta sekarang sudah menambahkan sekian persen (5% rasanya) di dalam tagihan makanan khusus untuk service. Nah, kalau saya sudah melihat tulisan itu, enak deh, tidak usah memberikan tips lagi.

Tapi memang paling enak menjadi turis di Jepang. Semua restoran, hotel, pelayanan jasa … SEMUA TIDAK MENERIMA TIPS. Jangan sekali-kali mencoba memberikan tips kepada supir taxi, pelayan toko/restoran di Jepang, karena biasanya kamu akan malu sendiri. Mereka akan kembalikan, dan menjawab, service sudah termasuk dalam barang/jasa yang dibayarkan. Tidak usah bersusah payah menghitung-hitung berapa tips yang patut diberikan. Bayar sesuai tagihan saja. (Oh ya, kebanyakan restoran di Jepang kita yang harus membawa tagihan bill ke kasir dan membayar sebelum keluar restoran. Sedikit sekali yang mau menerima bayaran di meja. Kecuali hotel internasional)

Lalu apakah orang Jepang memang sama sekali tidak memberikan tips? Kata beberapa murid saya, tentu saja ada yang memberikan tips jika menginap di hotel ala jepang “ryokan” yang pelayanannya memang bagus sekali (dan biasanya memang mahal). Diberikannya langsung pada pemilik ryokan tersebut. Atau pelanggan pria yang menggunakan jasa “pub/snack” memberikan pada host “Mama-san” (pemilik night club). Dan biasanya tips itu juga cukup besar jumlahnya. Tapi untuk kita yang “turis biasa-biasa” tidak perlu memikirkan tips di Jepang.

Nah, karena di Jepang tidak ada kebiasaan memberikan tips, biasanya orang Jepang yang ke Indonesia juga terbawa kebiasaan itu, tidak memberikan tips pada pelayanan yang diterima di tempat wisata/restoran di Indonesia. Sehingga terkenallah, “Orang Jepang Pelit!”. Meskipun bagi orang Jepang yang sudah sering ke luar negeri, mereka tahu kebiasaan memberikan tips ini. Dan biasanya mereka menaruh uang tips itu di atas bantal. Namanya saja Makurazeni 枕銭 まくらぜに (Makura = bantal, zeni = uang). Katanya itu untuk petugas yang membersihkan kamar. Hmmm memang orang Jepang jarang ada yang bisa memberikan langsung tips ala “salam tempel”.

Well, berapa pun yang kita berikan untuk tips pada jasa yang kita terima tentu saja akan diterima, asalkan kita juga memberinya dari hati bukan? Seperti si anak yang membeli Banana Split pada cerita di atas. Bagaimanapun Pelayan juga manusia!

65 gagasan untuk “Tips

  1. Chandra

    Aku waktu masih kuliah di Bogor sering pake travel dari Bandung, trus mamaku selalu wanti2 jgn lupa kasih tips Rp. 5000 buat si supir. Nah suatu hari aku naek travel ini bareng temenku yg kebetulan orang Perancis, eh aku malah ditegur ma temenku itu pas aku kasih tips ke si supir…tp aku sih kasih aja, supirnya baik sih…Tapi kalo si pelayan or siapa pun itu keliatan ngarep banget dapet tips aku malah suka males ngasih…hihi…

    hahaha iya kalo pelayan matrek sih mending ngga usah ngasih 😀

    EM

    Balas
  2. vizon

    aku setuju dengan ungkapan bahwa tips pada hakekatnya adalah ekspresi terima kasih kita kepada pemberi layanan, berterima kasih dengan tulus juga sudah menjadi sebuah tips yang luar biasa…

    kalau membuat ktp di kelurahan, trus kita beri petugas di kantor tersebut, apakah termasuk tips atau sogokan? hehehe… 😉

    kalo kelurahan di Jepang, kitanya yang ditangkep uda hihihi

    EM

    Balas
  3. Ria

    Tips memang bikin pusing mbak, apalagi kalau tiba waktu memberikan tips gak ada uang kecilan *mo ngasih yg besaran gak rela…hahahahahaha* yg sering kejadian itu kalo nginep di hotel, dianterin ke kamar sama bell boy tapi gak ngasih tips rasanya GAK ENAK bgt!!!! 😀
    .-= Ria´s last blog ..What I’ve Got after 3 Years =-.

    Balas
  4. Eka Situmorang-Sir

    Daku juga bingung mbak itung tips 🙂 tapi kalo memang udh masuk service charge emang dah gak ngasih tips lg. Kecuali ada situasi / dorongan tertentu yg bikin memberikan tips 🙂

    Biasanya emang 10 persen tipsnya, tapi baru tahu kalo beda2 di negara lain 🙂 hehehe

    Iya ada baiknya tanya dulu ttg situasi di negeri itu.

    EM

    Balas
  5. daffa

    alo Nte Imeeeellll, boleh ngga Daffa minta : 枕銭 まくらぜに , karena di bawal bantal Oma tak ada lagi recehan,,, hahaaa…

    Hahahaaha… tidak ada recehan tapi bantalnya bukannya uang kertas berwarna pink dengan nol sampai 5 biji???

    EM

    Balas
  6. whita K

    wah mba,,menyentuh sekali yah ceritanya,,pasti orang itu berlinang air mata deh,,hehe

    iya ya mba,disini 1 yen aja dikembaliin,,ck,,ck,,ck
    Bener tuh kalo yg punya jasa mukanya ngarep banget malah males banget ngasihnya,,kayak waktu itu kejadian di salah satu hotel di daerah thamrin,karna memang aku ga ada uang kecil dan suami pun ga punya akhirnya kita ga kasih kepada bell boy nya,,ehhh,,sebelum bell boy nya keluar kamar,ngelongok2 gitu ke aku dan keluarnya lama pisan,,

    alhasil keluar kamar dengan muka jutek,,hahahhah

    Balas
  7. aurora

    eh, emang harusnya begitu.. pelayanan yang baik harus diharagai. tapi masalahnya pengharagaan itu tidak ada lagi, selain ga ada duit, orang2 sekarang pada pelit, hanya memandang dari materi, dari makanan yang mereka makan, sedangkan pelayanan yang sangat baik, hanya dianggap sebagai bonus dari pelayan…
    .-= aurora´s last blog ..bahkan gerimis pun menyaksikan =-.

    Balas
  8. nh18

    This is Good EM … I like it …

    Memberikan Tips pada hakikatnya (menurut saya pribadi) adalah sedikit “hadiah” / “apresiasi” karena kita senang dengan yang melayani kita … dan itu bukan bayaran atas jasa pelayanan …

    Dan menurut pengamatan saya pribadi … Yang pelit itu bukan turis dari Jepang EM … tapi dari … dari … dari …

    (ah nggak jadi ah …)
    kan aku lagi puasa … nggak boleh menjelekkan orang lain hehehe

    Salam saya EM
    .-= nh18´s last blog ..MENGEMIS =-.

    Balas
  9. Zulhaq

    benar benar menyentuh, jadi haru biru sebiru textnya, membaca kisah itu. sungguh bocah yang luar biasa, tak peduli apa yang diperlakukan padanya, tak perlu apa yang ia dapat, yang penting keinginan mulia itu terlaksanakan…

    kebayang deh penyesalan sang pramusaji 🙂

    Balas
  10. Hery Azwan

    Ada nggak ya hubungan budaya tips dengan budaya suap? Misalnya saja hipotesisnya: adanya tips berbanding lurus dengan budaya korupsi di satu negara. Atau mungkin kebalikannya, adanya tips berbanding terbalik dengan adanya budaya korupsi di satu negara.

    Balas
  11. nanaharmanto

    wah…jujur aja, ngitung tips yang “layak” memang gampang-gampang susah..tergantung tempat dan pelayanannya juga..

    yang repot kalau nggak ada uang yang layak sebagai tips. -mau ngasih yang gede juga sayang- hehehe…
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Petasan =-.

    Balas
  12. imoe

    Kirain tadi TIPS apaan, ternyata…..suer aku tadi ngira postinganhya tentang TIPS MENGHADAPI GEMPA atau apa gitu ternyata TIPS itu ya hehehe.

    Aku dari dulu sampai sekarang gak pernah ngasih tips dimanapun mbak, karena aku yakin mereka di gaji untukmelakukan services kan, jadi apa lagi…lengkap sudah hehehehe

    Balas
  13. marshmallow

    cerita tentang bocah banana split itu sungguh mengharukan, mbak imel. si bocah ternyata begitu menghargai jasa sang pelayan, walaupun untuk belanjanya sendiri tidak mencukupi. tipping memang berbeda-beda di setiap negara, bahkan toko. namun sebagian pramusaji kafe dan restoran memang mengandalkan pemasukan terbesar mereka dari persenan ini.

    tapi mohon koreksi bila keliru, mbak. tip dan tips sepertinya berbeda. untuk menyatakan persenan digunakan istilah tip, sedangkan tips adalah penggalan informasi praktis. kalau saya nggak keliru, lho. :mrgreen:

    Tadinya saya juga pikir spt bu dok. Tapi sebelum saya menulis judul bahkan saya sudah cari di http://kamus.net keluar arti-arti tsb untuk lema “tips”. Lalu saya barusan cari juga di kamus jepang-inggris ada beberapa contoh yang menyatakan bahwa tips = persenan, misalnya juga ada slogan ini “We Never Refuse Tips”. atau kalimat ini , “pay higher wages to compensate for the lost tips”. Jadi memang TIPS bisa berarti persenan itu.

    Balas
  14. edratna

    Sepertinya tergantung pada budaya negaranya deh.
    Jika makan di restoran Indonesia, memang tip terserah kita, tapi jika sudah ada tulisan service charge berarti tak perlu memberi tip.
    Saat studi banding ke Yunani, Amsterdam dan Dresden tahun 2001, ketua tim memberi tahu agar kita memberikan tip 10 dolar pada bell boy yang bantu angkat koper kita. Begitu juga saat pernah dikirim seminar di London, maka tip diberikan sesuai yang berlaku umum (susahnya mesti tanya-tanya dulu).

    Kalau naik taksi, jika sopirnya santun dan baik, saya akan melebihkan pembayaran, namun jika terlihat dia ga sabaran, ya tambahnya sedikit aja..bukankah tip merupakan penghargaan kita pada yang melayani.

    Balas
  15. Bro Neo

    tipss…? sama euy kadang bingung mo kasih berapa.
    cara ter-aman emang tanya-tanya dulu, biasanya sih aku ke temen
    sama juga, kalo di bill udah ada service charge, bisa melenggang dengan nyantai walau tanpa tips…
    .-= Bro Neo´s last blog ..Just wanna say… =-.

    Balas
  16. exort

    mba kl saya megukur besar kecilnya tips dilihat dari mutu pelyananya, kl sedikit aja pelayanannya tidak berkenan buat saya mmm…tidak bakal saya ksih tips deh, kl saya jd anak kecil tiu wah…mendingan uanh 2 rbnya saya pake buat beli yg lain dr pada ngasih ke pelayan yg ketus dan tidak ramah itu…:)
    .-= exort´s last blog ..nikmatnya =-.

    Balas
  17. racheedus

    Tips dengan jumlah wajar saya kira tidak masalah. Tapi jika sudah menjadi kebiasaan yang seolah menjadi keharusan, hal itu juga bisa merepotkan.

    Btw, ilustrasi di atas sungguh mengharukan. Kita memang sering salah menilai orang hanya dari penampilan luar saja.
    .-= racheedus´s last blog ..Miss Universe =-.

    Balas
  18. Didien®

    saya tidak begitu tau etika ttg tips per-tips-an..cuma saya hanya ingin berkomentar ttg si bocah berhati mulia itu..
    kadang² seseorang yg merasa dirinya sempurna dan merasa terhormat itu terkadang terlalu memandang sebelah mata orang lain,,, hanya melihat dengan mata yg bisa di manipulasi tp bukan dengan melihat hati…
    maaf bun sedikit panjang dan bingungin commentnya..? 🙂

    salam, ^_^
    .-= Didien®´s last blog ..Kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang =-.

    Balas
  19. Caride™

    saya pernah dapat uang tips waktu masih di kampung dulu..
    ceritanya ada mobil terjebak dalam lumpur, trus minta kita² dorong keluar dari lumpur itu… pas mobil berhasil keluar tp si lumpur terbang ke muka kita semua hahaha… tipsnya cuma 500 perak, eh Rp500,- buat ber 6.
    menurut saya lebih baik ungkapan terimakasih aja, mungkin itu lebih terhormat dan santun..ya kan bun?

    salam, ^_^
    .-= Caride™´s last blog ..Pemakaman Para Pengantin =-.

    Balas
  20. Lala

    Salah satu temenku selalu memberikan seluruh uang kembaliannya buat tips. Nggak sedikit lho. Dulu pernah sampai delapan puluh ribu. Hehe.. maklum, dia business man yang handal dan terkenal royal ngasih duit… 🙂

    Btw,
    aku suka sekali dengan moral of the story-nya. Sangat!

    Balas
  21. dee.iia

    hallo mba imelda, permisi mba.. mau ikutan komentar.. hehe
    wah, saya suka bgt sama cerita anak kecil diatas trus saya jg suka sama kata2 mba imelda yang bilang “Menyentuh bukan? Mengingatkan kita, yang bekerja di bidang jasa/pelayanan agar tidak memandang penampilan pembeli dengan apa yang terlihat saja”… it’s so inspiring.. 🙂

    Balas
  22. Ade

    klo di sini, tips hukumnya wajib mba 🙂
    dari resto, handyman sampai delivery boy semuanya harus dikasih tips.. besarnya tergantung pelayanannya sih.. minimal 10%.. makanya pelayan resto itu ramah n helpful karena mempengaruhi tips yang mereka terima 😀

    Balas
  23. noname

    Tips itu perlu,,,,agar para pelayan2 akan melakukan service dengan maksimal,…..saya sering ngasih tips buat pengantar paket…hihihhihihi….membuat bapak2 sangar itu jadi ramah
    .-= noname´s last blog ..Juara Sejati =-.

    Balas
  24. vee

    di beberapa restoran di indonesia, saya menemukan beberapa pelayan yg kalo dikasi tips suka lirak lirik kiri kanan…trus uangnya langsung disembunyikan gitu, apa mreka takut ktauan dikasi tips ya :D, atau mungkin mreka sebenernya dilarang untuk mnerima tips karna biaya sudah termasuk pelayanan karna ada tambahan bill 5% untuk service…hehe ndak tau juga

    Balas
  25. Nugroho

    Saya punya pengalaman, suatu ketika sobat saya yg sdg sekolah di l.n meminta kami utk membeli bunga utk gebetannya yg dikenalnya via keluarga. Kami (bbrp sohib sma) dimintanya utk menjadi kurir juga, biar bisa tahu sosok sebenarnya, scr emal,webcam,mms dsb blm sepopuler skrg di tahun 90-an itu. Kamipun berangkat mnj toko bunga & tak lupa meminta form delivery yg membutuhkan sign penerima. Kantor bank dimana sang putri bekerja disasar. Saya (yg paling buluk) dpt tugas mulia ini. Sblm turun dr mobil, kami sempat berseloroh kalo sy mendapat tip dr sang target, kami akan merekomendasikan pd sobat kami utk melanjutkan pdktnya. Klo tdk ada tip, kami akn sarankan utk berpikir ulang. Artinya apa? Dlm wawasan berpikir kami, mahasiswa di thn 90-an, “orang yg mau memberi tip adlh orang yg baik, santun, beretika, bijak, tdk sembarangan dan berkelas!”. Naif ya? Utk itulah sy terpilih utk jd kurir agar bs menyamar sebaik mungkin. Selanjutnya.. Pos satpam bank membuat ciut nyali, jgn2 diterima disini saja, tdk boleh masuk. Ternyata sesuai rencana. Saya diantar menemui target, bahkan dipersilahkan duduk. Menunggu. Tak lama, target muncul dgn senyum simpul diiringi sorai teman2nya yg (mungkin) iri dpt bunga. Cantik. Bersinar. Menawan. …tapi baik,kah? Santun,kah? Sejurus sy berikan bunga beserta form td terima. “Mohon ditandatangani..”,sy berkata lirih. “Oh,tunggu bentar,ga bw bolpen nie..”. Dia masuk ke dalam. Ah,ini dia. Ada kesempatan dia utk menyiapkan tip tentu, he..he.. . Tak lama dia kembali dgn kedua tangan terbuka memegang form td, layaknya customer service melayani nasabahnya. Sangat hormat. Dan… 2 lembar 5rb-an edisi baru terselip di bawahnya… Sempurnalah kecantikan sang putri… Tamat.

    Jadi ingin tahu sobatnya jadi ngga dengan sang putri pemberi tip itu hehehe. Terima kasih cerita dan kunjungannya ya…
    EM

    Balas
  26. Nugroho

    Pilih jawabannya: Ketik A. Jadian; B. Tidak jadian. Kirim ke 9288. Pemenang akan diundi dan wajib memberikan tip 10% kepada pemilik blog ini. He..he..

    Balas
  27. bunda lily

    sepertinya kebiasaan utk memberikan tip ini memang berasal dari negara2 barat ya Mbak EM
    bukan hanya di Jepang, di Korea pun mereka tak mau menerima tip, seperti sopir taksi atau pun waitress……….
    salam

    Balas
  28. irfan

    ketika pelayanan yang di berikan oleh bellboy itu memuaskan, tidak salah kita memberikan penghargaan dengan memberikan uang tips atau hanya dengan ucapan terimakasih saja. tidak semua bellboy mata duitan terkadang pula pelayanan mereka bisa membuat kita terharu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *