Belajar terus sampai mati

Akhir-akhir ini aku sering mengisi kuis di FB, dan salah satunya menghasilkan pernyataan seperti ini:

Your dream is to live a life where you are constantly learning and evolving.
You believe that the world, people, and life are incredibly fascinating.
You want to use your mind as much as possible. You want to dare yourself to do what’s difficult. You’d like to expand your worldview and maybe even solve some of the world’s problems.

Belum lagi ada kuis yang mengatakan orang yang lahir di bulan Januari memang suka mengajar dan diajar.  OK memang kita tidak usah percaya hasil ramalan/kuis sepenuhnya, tapi memang aku berusaha untuk terus belajar tentang apa saja rather than specialize in one subject. Aku ingin tahu semua! Dan pemikiran ini sebetulnya tidak cocok untuk orang Jepang yang “Otaku” menguasai bidang keahliannya saja sedalam-dalamnya, bukan all round.

Tetapi merupakan kenyataan juga bahwa jika kita sudah capek, atau sudah mencapai kondisi tertentu, stagnan atau berada dalam comfort zone, zona aman kita merasa tidak perlu lagi menambah pengetahuan dan seiring juga dengan kemampuan otak yang melambat. Padahal otak yang tidak dipakai, bisa berkarat, jamuran, dan akan menjadikan kita pikun!

“Saya tetap belajar bahasa Indonesia seminggu sekali supaya tidak pikun!” demikian jawab Bapak Watanabe, 94 tahun, mantan muridku. Dia, dan hanya dia sajalah yang selalu memenuhi pikiranku dan menyemangati aku untuk belajar dan belajar terus …. sampai mati.

Lelaki kelahiran delapan belas April 1915, siang ini duduk di hadapanku sambil makan siang bersama. Oh Tuhan,…. aku harus bersusah payah menahan haruku, dan jangan menangis di hadapan dia.

Kemarin aku telepon dia, dan basa-basi bertanya kabarnya… dan dia berkata, “Sensei, kapan yuk kita minum kopi bersama”.
Lalu aku berkata, “Watanabe san, sebenarnya saya telepon untuk menanyakan apakah besok ada waktu untuk bertemu? Besok saya ada urusan di KBRI, kalau bisa sekitar jam 11 bertemu di Stasiun Meguro bagaimana?
“Tentu saya akan pergi ke sana. Sampai jam 11 besok”.

Jam 11 kurang lima aku sampai di stasiun, setelah tergesa-gesa setengah berlari dari KBRI menuju stasiun. Jangan sampai aku membiarkan Watanabe san menunggu. Dan persis pukul 11, aku melihat ke arah terminal bis, di situ bapak tua itu menunggu sambil celingak celinguk. Aku berjalan ke arahnya, sambil tersenyum gembira.

“Sensei… saya senang sekali bertemu sensei”… dia menjabat tanganku… dan memelukku. Aduh …aku benar-benar terharu dan ingin menangis. Laki-laki Jepang mana yang mau memeluk wanita di depan umum? Meskipun istrinya.  Aku merasakan kerinduannya yang besar untuk bertemu denganku. Ahhh Bapak… aku merasa tersanjung… aku tahu kamu menghormati aku sebagai sensei, tapi aku lebih menghormati bapak bukan sebagai murid. Entah harus kukatakan sebagai apa, sebagai sesepuh yang mengingatkan terus… Hai manusia, Jangan kalah oleh umur!

Dia masih sehat. Matanya awas, telinganya tajam. Hanya sayang kakinya mulai lemah, meskipun dia tidak memakai tongkat. Dan aku salah waktu itu, terlambat menyadari, sehingga dia sempat “merosot terduduk” di atas tangga turun. Tidak jatuh, tapi tiba-tiba sudah terduduk di atas tangga. Untung aku langsung tangkap dia, kemudian membantunya berdiri. Sambil berjalan menuju lift ke lantai atas gedung stasiun, aku lihat dia mengisap jari tengahnya. Oh No… buku jari tengahnya berdarah! Terkelupas kulitnya. Aduh….

“Watanabe san saya cari plester dulu ya?”
“Tidak usah… biasa ini”
dan kita langsung ke lantai atas dan mencari restoran soba. Aku tahu pasti makanan yang paling cocok untuk dia hanya soba…. (Aku pernah berdosa besar padanya. Waktu aku masih mengajar dia, dia memberikan aku tiket makan di restoran soba dekat rumahku. Tapi aku tidak pakai sampai hangus. dan aku menyesal…)

Sambil memesan soba, aku tanya pada pelayan restoran apakah dia punya plester. Dan aku dapatkan plester dan aku pasangkan di jari tengahnya.


Lelaki berusia 94 tahun, bukan main-main … 6 tahun lagi dia 100 tahun!  Dan siang ini dia memenuhi undanganku makan siang bersama.  Kami bertemu terakhir 4 tahun yang lalu. Oh Tuhan…. aku harus bersusah payah menahan haruku, dan jangan menangis di hadapan dia. Karena…..

Ya, ternyata yang luka bukan hanya jari tengahnya. Kamu tahu, jika manusia sudah tinggal tulang berbalut kulit, maka kulit itu akan mudah mengelupas. Dan aku baru sadar ketika aku lihat bercak darah di mulut lengan kemeja putihnya. Ya dia berkemeja putih, berdasi dan berjas untuk bertemu dengan aku. Ternyata di lengan di bawah jam tangannya kulitnya terkelupas sepanjang 8 cm. Uhhhh tidak bisa dengan plester, itu harus diperban. Tapi dia berkata, “Tidak apa sensei, memang kalau sudah tua suka begini. Gampang jatuh! Tidak apa-apa. Nanti juga kering lukanya. ” Ingin aku memberikan saputanganku untuk membalut luka, tapi pasti kotor.
“Kalau ada saputangan….”
“Saya ada saputangan, tapi tidak apa-apa”

Aku sudah mulai sulit menelan makanan yang ada di hadapanku. Bukan… bukan aku takut darah atau luka, tapi aku tahu kenyataan, bahwa manusia yang renta mudah luka, mudah jatuh, mudah goyah…. dan sewaktu-waktu si renta itu tiba-tiba tidak ada lagi di hadapanku.

Aku berusaha bercakap-cakap yang ringan, sambil memperhatikan dia makan, jangan sampai tersedak. Jangan sampai dia emosi ingin menjawab, lalu makanan salah masuk. Aku selalu tunggu dia selesai mengunyah dulu baru aku ajak bercakap-cakap.

Dia adalah lulusan Tokyo Teikoku University. Elite, sangat elite di jamannya. Jurusannya? Ekonomi. Pasti dia cerdik pandai. Dan setelah lulus dia bekerja di perusahaan dagang Mitsui Bussan. Aku juga sering mengajar pegawai dari MB dulu, pegawai yang ditugaskan ke Indonesia. Namun Watanabe san ini tidak pernah mendapat kesempatan ditugaskan ke Indonesia. Malahan dia bertugas di Hamburg, Jerman selama 4 tahun. Karena pengalaman di Jerman ini, dia bisa berbahasa Jerman, dan anak lelaki yang sekarang tinggal bersamanya juga bisa berbahasa Jerman dan menjadi penerjemah.

Watanabe san sendiri tidak pernah punya hubungan dengan Indonesia. Hingga usianya yang ke 83, waktu dia berjalan-jalan di dekat sekolah Indonesia Tokyo. Dia mendengar bahasa Indonesia. Juga waktu dia mengajar bahasa Jepang sebagai volunter di Kelurahan Meguro, dia bertemu dengan orang Indonesia. Dia merasa bahasa Indonesia indah bunyinya. Sampai dia bertanya, dimana saya bisa belajar bahasa Indonesia? Kemudian sampailah dia di rumah seorang guru bahasa Indonesia yang mengajar di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo). Dan dia mendapat keterangan dari Pak Herlino Suleman (Pengarang “Pintu Tertutup Salju” ) ini, bahwa setiap hari Senin, Rabu dan Jumat ada pelajaran bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Kedutaan yang bisa diikuti oleh warga Jepang. Pak Herlino juga mengajar di KOI (Kursus Orientasi Indonesia), tapi Watanabe san masuk ke kelas pemula, yang gurunya bernama Imelda Coutrier. Dan dia mengakui, bahwa kalau bukan Imelda sensei, mungkin dia tidak akan belajar terus di KOI.

Ya aku tahu kehadiran bapak Watanabe ini di kelasku. Kelas yang sulit, karena waktu itu muridnya berjumlah 40 orang. Jaman itu bahasa Indonesia sedang berjaya, zaman keemasan. Semua kursus dipenuhi peserta, sampai membludak. Guru Bahasa Indonesia dicari-cari. Dan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat aku mengajar di lobby SRIT, karena itu satu-satunya tempat yang bisa menampung 40 orang. Tanpa mike, aku harus menguasai 40 orang. Impossible. Tapi aku tahu awalnya 40 orang, setelah berjalan biasanya  akan berkurang. Akan ada murid-murid yang tidak tahan untuk belajar 3 kali seminggu. (setelah itu kami ubah jam belajar menjadi 2 kali seminggu dan akhirnya 1 kali seminggu). Benar saja setelah 6 kali, murid-murid tinggal 30 orang. Tapi Bapak Watanabe masih terus hadir dengan rajinnya. Sampai kelas atas dia sudah ikuti, dan begitu dia mengetahui bahwa aku mengajar kelas atas (kelas lanjutan) di sebuah Culture Center, Watanabe san berhenti belajar di KOI, dna belajar di Culture Center, di kelas saya. Di kelas itu, aku harus mengajar 3 lansia dari 9 murid yang ada. Bapak Watanabe 87 th, Bapak Fukuoka 85 th, dan Bapak Asaga 83 tahun. Kelas yang impresif (dan agak sulit)

Watanabe san masih terus belajar di Culture Center itu sampai sekarang. Meskipun aku sudah berhenti mengajar di sana sejak 5 tahun yang lalu. Hanya karena mendengar bahasa Indonesia yang indah… tanpa sekalipun pernah pergi ke Indonesia … bahkan ke Bali pun belum pernah. Tapi kecintaannya pada bahasa Indonesia dan ketekunannya memang patut mendapatkan penghargaan. Kalaupun aku punya hak untuk mencalonkan penerima Bintang Maha Putra atau penghargaan lainnya, ingin aku calonkan nama bapak Watanabe ini dalam nominasi. Yang pasti, semangatnya akan selalu aku patri dalam ingatanku.

“Seharusnya persatuan alumni KOI membuat acara reuni ya?” dia berkata. Terlihat dia ingin sekali hadir dalam acara-acara silaturahmi.
“Ya, seharusnya ada acara reuni ya. Tapi… ketua persatuan alumni (Bapak Fukuoka) sudah meninggal….” Ahhh suram sekali percakapan ini.
“OK nanti saya coba bicara dengan ibu Hikita, supaya kita mengadakan acara reuni.  Nanti saya kasih tahu hasilnya”
“Sensei juga kalau iseng, telpon saya, nanti kita bicara di telepon ya”
“Ya…. kalau tidak, saya akan coba kirim fax ya” Tapi aku tahu dia ingin ngobrol….
“Watanabe san juga hati-hati ya, jaga kesehatan dan hati-hati kalau mandi. Kamar mandi kan licin….”
“Iya… waktu itu juga teman saya ada yang meninggal di kamar mandi. Istrinya panggil-panggil, ternyata sudah tengkurap dalam bak” ….ahhh kenapa aku musti menyebutkan kamar mandi segala!!!!

Sambil berjalan ke tempat taxi….
“Kalau saya kebetulan ke Meguro lagi, nanti saya telpon dan mungkin bisa bertemu lagi ya…. ” Aku tahu ada perasaan itu…. di hati kami…. Mungkin kali ini adalah kali yang terakhir…

Kami berjabatan tangan lagi di depan taxi yang menanti…. dan berpelukan lagi. Tapi aku tahu pelukan ini agak lemah dibanding dengan yang tadi. Aku cuma bisa berdoa, Tuhan lindungi dia… lindungi dalam perjalanannya setiap hari Sabtu untuk belajar bahasa Indonesia, karena berarti dia akan naik kereta, dan jalan kaki sampai tempat kursus yang aku tahu jaraknya cukup jauh.

Aku bantu dia duduk di kursi belakang taxi dan berkata pada pak supir, “Yoroshiku onegaishimasu” (tolong perhatikan dia ya)

Dan aku membungkuk ke arahnya takzim dan melambaikan tangan…

Dan aku berbalik ke arah stasiun dan berusaha menahan tangis.

Dan sekarang aku bisa melepaskan tangisan yang kutahan tadi, sambil menuliskan posting ini.

Jika kamu bisa hidup sampai 94 tahun, masihkah kamu akan belajar… dan belajar…dan belajar terus?

Hormat, Doa dan Terima kasihku untuk Watanabe san.


Dan pagi ini (1 Juli) pukul 8:00 aku menerima telepon darinya, mengucapkan terima kasih untuk pertemuan kemarin (Orang Jepang selalu begitu, menghubungi kembali untuk berterima kasih, sebuah kebiasaan yang patut ditiru). Dia berkata, dia senang dan terkejut melihat aku yang katanya tambah cantik (hahhaha dan aku tambahkan …tambah gendut). Dan dia mengucapkan selamat beraktifitas, semoga bisa bertemu lagi…. Ya, aku masih berharap bisa bertemu lagi, sementara itu aku ingin menulis banyak tentang sejarah dan pertemuan-pertemuanku dengan orang Jepang yang menginspirasiku.

EM

 

NOTE:

Watanabe san sudah meninggal tgl 7 Maret 2012, dalam usia 96 (hampir 97 di bulan April),  karena pnumonia. Di RS dia tetap membaca buku bahasa Indonesia. Sayang aku tak dapat datang melayat, karena persis pulang dari Indonesia, sesudah menghadiri pemakaman mama yang meninggal tgl 23 Februari 2012. Rest in Peace Watanabe san. Hormatku selalu.

Dua kakek Jepang yang kutulis di sini semua seudah meninggal. Bapak Fukuoka adalah dokter di Manado selama pendudukan Jepang. Bapak Asaga bertugas di Aceh dan Medan, pernah bercerita bahwa dia menjalani operasi usus buntu dalam perahu, tentu tanpa obat bius 🙁 Bapak Asaga mendonorkan badannya untuk medis, sehingga tidak ada penguburan sampai 3 tahun lebih. Hormatku untuk ketiga bapak tua, yang begitu mencintai Indonesia. Salute

102 gagasan untuk “Belajar terus sampai mati

  1. Didien®

    membaca postingan ini membuat saya sangat terharu sekali.. entah bagian mana yg membuat saya merinding…

    salam, ^_^
    .-= Didien®´s last blog ..Award dan PR yg kesekian =-.

    aku nangis terus selama menulis ini.
    hidup dan kehidupan… sebuah misteri.
    EM

    Balas
  2. Didien®

    belajar terus sampai mati… keknya memang harus seperti itu ya bun??? g ada kata terlambat utk selalu belajar.. 🙂
    .-= Didien®´s last blog ..Award dan PR yg kesekian =-.

    Balas
  3. Riris E

    aku menangis…karena photo itu mengingatkanku pada bapakku yang di kampung sana. Usianya baru 89 sih! tapi ya itu.. sdh gemetaran kalo berjalan..

    Ya Ris… kita semua akan menuju situ… siapkah kita? EM

    Balas
  4. Oemar Bakrie

    Sewaktu baru pulang dari Perancis saya pernah ikut kursus bahasa Inggris secara informal. Sebenarnya sih sekedar kongkow2 ngobrol di rumah teman pakai bahasa Inggris untuk sekedar melancarkan/mengingat kembali. Karena belum nemu native speaker yg “relevan” maka tuan rumah minta kenalannya yg notabene murid SMP dan SMA untuk “ngajar”, yg penting bule. Pada suatu kesempatan teman saya tadi cerita bahwa si guru (cewek bule) merasa grogi (intimidated) ada muridnya yg “setua” saya … hehehe 🙂

    heheheh memang mengajar orang yang lebih tua perlu keahlian tersnediri pak. Karena mereka biasanya ganko (keras kepala) merasa banyak tahu. Tapi itu wajar kok. Dan mereka juga suka kalau disanjung-sanjung. Jadi pakailah jurus itu, menyanjung sambil mengajar hehehe. Entah kenapa pak, saya terkenal sebagai guru untuk manula. Bukan karena saya sabar, tapi entahlah. Kadang sebal juga, masak saya lakunya di kalangan opa-opa hahaha. (Eh tapi kalau bisa dapat warisan boljug ya… uedannn!)
    EM

    Balas
  5. Nug

    Speechless… yaa, aku terdiam cukup lama setelah membaca tulisanmu ini.

    Dan beberapa pertanyaan langsung berterbangan dibenakku..
    Akankah aku hidup hingga 94 tahun?
    Kalaupun ya, apakah aku masih bisa berjalan sendiri, bicara dengan jelas, melihat dengan jelas, mendengar dengan jelas, berfikir dengan jelas..?
    Aku rasa “kuncinya” adalah ada pada pesannya padamu. “Belajarlah terus dan jangan kalah dengan umur”.

    Hm.. LUAR BIASA dan sangat inspirasional. Makasih Imelda.. 🙂

    Ya mas, belajarlah terus jangan kalah oleh umur. Masak kita kalah dengan Watanabe san yang 94 th?
    EM

    Balas
  6. G

    Mengharukan sekali… Saya sampai termenung lama sekali.. Ya, kalau hidup sampai sekian lama, apa yg kira2 akan saya lakukan untuk terus mengisinya?
    Salam untuk Pak Watanabe, salut.
    .-= G´s last blog ..Ruangan-ruangan =-.

    Quote: Ya, kalau hidup sampai sekian lama, apa yg kira2 akan saya lakukan untuk terus mengisinya?

    hmmm pet society, FB dan blogging??? 😀
    EM

    Balas
  7. wita

    Jadi inget oma yg selalu merajut crosstitch yg kemudian menjadi ahdiah pernikahan papa & mama. waktu oma sakit n tangan beliau minta dipegang…aku jg merasa spt yg neechan rasakan…entah knp genggaman itu akan jd genggaman yg terakhir…n ternyata benar…seminggu kemudian oma meninggal dunia.

    Jadi pengen ktmu sm Pak Watanabe…smg msh bisa bertemu klo aku ke sana lgi….
    .-= wita´s last blog ..Daruma, Si Bundar Pembawa Keberuntungan =-.

    Oh kalau kamu ke sini lagi, akan aku antar bertemu dia. Pasti dia senang.
    EM

    Balas
  8. Yoga

    Aku terharu dengan tulisan ini mbak. Penyebabnya ada dua, pertama semangat beliau, rasanya aku ini kok cengeng ya dalam mencari ilmu, kedua beliau mengingatkanku pada nenek buyutku yang ketika “pergi” usianya kira-kira sama dengan Pak Watanabe sekarang. Duuh, aku teringat, dulu aku suka mengusap-usap tangannya yang putih, kurus, tulang berbalut kulit karena usia lanjut.

    Mbak Imel pasti menuliskan dengan hati. Nampak dari tulisanmu mbak.
    .-= Yoga´s last blog ..Kisah dari Madobak =-.

    Menuliskan dari hati dan perasaan Yug… belum pernah aku menangis sesegukan seperti kali ini. Dan tulisan ini selesai dalam waktu yang relatif cepat tanpa halangan.
    EM

    Balas
  9. AtA chan

    Selesai baca tulisan ini saya langsung merenung..
    Saya begitu kagum dengan semangat Watanabe san,
    Saya terharu meski fisiknya sudah lemah tapi keinginan belajar tetap ada..
    Semoga Watanabe san selalu bahagia..

    Balas
  10. whita kutsuki

    hmmm,,semua yg coment di tulisan ini terharu dan menangis termasuk aku mba,,hikzz

    Teringat alm.papa ku yg sudah 1 tahun kembali kepada NYA,,Beliau selalu terlihat sehat,takdir memang tdk ada yg bisa menduga nya. Aku tdk bisa ada di sisi nya,ketika beliau menghembuskan napas nya yg terakhir,,ufff..
    Ya…aku selalu bangga sama papa ku,yg selalu semangat dan tdk pernah merasakan sakit wlpn sebetulnya sedang sakit..!!!

    Salut juga dengan semangat Watanabe san,,beliau keliatan masih segar di usia Nya saat ini,,semoga selalu di lindungi dan diberi kesehatan oleh NYA,, aminn

    So kita yg muda2 harus bisa belajar dan semangat seperti beliau yah,,yap ganbareeeee

    Benar Whita, kita yang muda-muda terlalu manja dengan situasi. Sedikit-sedikit cengeng. Aku ingat waktu nonton okuribito, seorang petugas pembakar mayat, yang setiap kali harus menekan tombol pembakaran itu. Waktu dia akan menekan tombol pujaan hatinya yang meninggal, dan akhirnya anak dari yang meninggal yang menekan tombol itu. Duuuh aku ngga bisa bayangin deh.
    Apa aku bisa kuat begitu.
    EM

    Balas
    1. whita kutsuki

      Tapi aku kl liat yg sedih2 pasti jd cengeng loh mba,,
      terlalu emosional nih,,ufff.!!

      Kl aku yg mencet pasti jg ga kuat deh tuh,,

      Balas
  11. vizon

    aih… sebuah pembelajaran yang luar biasa nechan.
    “Jangan kalah sama umur”, sebuah kalimat yang indah dan dalam sekali maknanya. ini sangat menginspirasiku; terus belajar sepanjang hayat…

    tenkyu nechan, sudah mengisahkan ini…
    .-= vizon´s last blog ..king =-.

    Balas
  12. narpen

    8 cm! panjang sekali lukanya, ya ampun.. dan luka itu terjadi hanya karena benturan yang (menurut saya) cukup sepele? ah serapuh itu ya kulit ketika sudah menua?
    membacanya membuat saya.. entahlah, kehabisan kata2.
    merasa diingatkan, tentang nikmat sehat.
    yang jelas saya salut buat pak watanabe, semangatnya luar biasa 🙂
    .-= narpen´s last blog ..Syukurlah.. =-.

    Ibu mertua saya baru 65 tahun, tapi badannya sering terbentur dan langsung lebam membiru. Begitulah kalau badan menua, semua organ pun menua. Opaku meninggal umur 88 tahun juga karena fungsi pencernaan dan badan lainnya sudah “sowak”. Semakin menua kita harus menghadapi kenyataan itu. Sekarangpun aku sudah merasa dengan punggung dan tangan karena itu yang paling sering aku pakai.
    EM

    Balas
  13. AFDHAL

    salut….salut banget sama pak watanabe..
    merinding bacanya mbakyu (sambil berkaca-kaca)
    dan saat membaca seakan-akan kita ada disana melihat kalian berdua…

    jangan2 waktu nulis status di FB juga nangis yah??

    FB? Yah FB kan cuma copy paste….
    EM

    Balas
  14. depz

    mendadak sedih membacanya
    dan malu..
    malu kepada diri sendiri. karna setua itu beliau masih mempunyai semangat yang luarbiasa u/ belajar.
    nice post
    inspiring.
    doa panjang umur dan kesehatan buat beliau
    .-= depz´s last blog ..hunting wiken kemarin =-.

    Balas
  15. afwan auliyar

    ehmm.. bangga juga pny bahasa indonesia yang dipelajari disana .. 🙂
    mengutip kata2 “bahasa indonesia indah bunyinya” … duh serasa kita ya hidup dagn bahasa ini tidak pernah merasakannya
    .-= afwan auliyar´s last blog ..content berkualitas, bertrafik tinggi =-.

    Afwan…saya sering mendengar orang Jepang/asing mengatakan bahwa bahasa Indonesia indah bunyinya. Karena kita sering pakai bunyi ya, yang, dan iramanya seperti lagu …katanya. Jika kita mendengar bahasa Korea, kesannya mereka berkelahi terus. Kalau dengar orang Cina bicara seperti kaset sowak, karena mereka banyak pakai “nada” yang berbeda. Seperti bahasa Perancis, sering dikatakan juga seperti bicara dengan suara hidung.Setiap bahasa punya karkteristik sendiri, dan unik.
    Saya bangga dengan bahasa Indonesia. Karena itu saya menulis dalam bahasa Indonesia.
    EM

    Balas
  16. hP

    Wow, ternyata bahasa Indonesia punya banyak penggemar rupanya. Sudah saatnya bikin TIPA, Tes bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. Masa’ sih cuma Inggris yg punya TOEFL & IELTS. Salam hormat untuk bapak Watanabe di Jepang. 🙂

    Bukannya sudah dibuat HP? Kan gaweannya Pusat Bahasa. Di sini sudah ada loh, yang buat sebuah kursus bahasa Indonesia, yang katanya mendapat persetujuan dari Pusat Bahasa. Tapi menurut saya itu bukan standar (mahal lagi hehhehe)
    EM

    Balas
  17. hatmi

    mbak imel…benar-benar terharu membacanya. hanya semangat dan ketulusan dan hati yang luas yang mampu dan mau belajar seperti itu…jadi gerimis hati membacanya.

    sampaikan salam hangat buat beliau dari sahabat nun jauh di pelosok Indonesia.

    dan semoga bahasa Indonesia memiliki masyarakat penutur yang memiliki penghargaan seperti beliau. amin.
    .-= hatmi´s last blog ..CINTA ITU LUKA =-.

    Terima kasih…akan aku sampaikan. Mungkin aku akan mencetak tulisan dan komentar-komentar ini dan berikan padanya.
    EM

    Balas
  18. faza

    Luaarrrr biasa……….
    semangat yg luar biasa….
    kita emang haru sterus belajar, belajar dan belajar
    kapan kita berhenti belajar??? jawabanya cm 1 : “saat kita mati”
    c u…
    .-= faza´s last blog ..Pemuda Langit =-.

    Balas
  19. Eka

    Terharu…
    Ketika orang muda berlomba untuk bermalasan, Bapak Watanabe malah berseri-seri bertemu Ibu Gurunya. Semangat belajar Bapak Watanabe sungguh luar biasa…

    Balas
  20. DV

    Tulisanmu indah, Mel!
    Kurasai barangkali ini yang terindah karena mataku pun sampai berkaca-kaca, sungguh!

    Kamu telah melakukan yang terbaik kepadanya tak hanya untuk mengajari bahasa Indonesia tapi juga tentang bagaimana memperlakukannya sebagai seseorang.

    Kamu memang benar-benar sensei!
    .-= DV´s last blog ..Lembu Betina =-.

    Don…. terima kasih
    komentar kamu yang ini : bagaimana memperlakukannya sebagai seseorang. sangat mengena… terima kasih… karena kalau kamu hidup di sini kamu bisa lihat betapa kamu hidup bersama ROBOT, yang tidak punya hati atau tidak mau memperlihatkan hati nya karena takut kalah dengan emosi. NO Skinship adalah salah satunya. Pak Watanabe adalah manula ke dua yang memeluk (dan saya peluk), yang pertama adalah nenek dari induk semang saya. Waktu saya peluk dia waktu dia berulang tahun, dia menangis dan berkata, “Sedangkan anak perempuanku saja tidak pernah memeluk aku seperti ini”. Miris… tapi itulah kenyataan. Aku ragu ada Cinta yang Tulus di sini…. hiks.
    (Mungkin kalau Melati san sudah bisa berkomentar, dia akan mendukung pernyataan saya dengan berapi-api… semoga Melati san juga dapat melampaui segala masalahnya)
    Really Don, aku berusaha menjadi guru dalam kemanusiaan, bukan ilmu pengetahuan. karena tanpa itu kita hanya akan menjadi robot. Dan itu juga yang menghambat aku mengambil doktor hiks…

    Terus terang aku merindukan mengajar di KOI lagi, karena KOI lebih bersifat silaturahmi daripada sekolah. Tapi karena jam pelajaran yang malam, membuat aku tidak bisa. Karena aku harus meninggalkan dua anak sampai jam 10 malam… siapa yang jaga?

    Terima kasih banyak untuk komentar kamu yang amat sangat mengena.

    EM

    Balas
  21. Maria

    涙止まらない。
    Banyak hal dalam kisah ini yang membuat saya merasa tersentuh… karena semangat belajar Watanabe-san, karena Watanabe-san bisa merasakan bunyi bahasa Indonesia yang indah…dan terutama karena Beliau begitu menyayangi dan menghargai senseinya sekalipun berusia jauh lbh muda di bawahnya.
    貴重な思い出。

    Quote: terutama karena Beliau begitu menyayangi dan menghargai senseinya sekalipun berusia jauh lbh muda di bawahnya.

    Maria, tulisan kamu ini benar mencerminkan pemikiran orang Indonesia. Di Jepang, yang namanya sensei, meskipun baru belasan tahun, tetap dihormati dan dijunjung. Mungkin di Indonesia tidak!
    Waktu aku pertama kali datang ke Jepang, usiaku 24 tahun mengajar bapak-ibu berusia jauh di atas aku. Tapi mereka tetap hormat dna panggil aku sensei, sekalipun aku bilang, “Panggil Imelda saja”. Tapi tidak, mereka tetap keukeuh panggil saya sensei. Meskipun saya juga risih karena masih menganggap diri saya ini juga belum “sensei” yang semestinya. Masih banyak harus belajar. Pemikiran “menghargai guru meskipun lebih muda” inilah yang harus ditanamkan di masyarakat Indoensia. Karena begitu kamu menghormati guru, guru itu juga akan berusaha memberikan yang terbaik untuk pengetahuan kamu atau anak-anakmu. Profesi guru di Jepang adalah profesi terhormat. Di Indoensia? entahlah… aku tak bisa menilai, tapi aku sendiri dididik secara katolik dan aku menghargai dan menghormati semua guru-guruku mulai dari TK sampai universitas. Kalau ada waktu aku ingin menjumpai mereka satu per satu (atau dalam suatu acara). Semoga masih bisa.

    EM

    Balas
    1. Maria

      Betul yg Imelda Sensei katakan. Saya merasakan saat mendengar panggilan “sensei” atau “Ibu Guru” yg begitu tulus dr murid2, (sekalipun merasa blm pantas)sy merasa terpacu untuk memberikan sesuatu yg lebih baik lagi.Bukan hanya sebagai guru, tapi juga sebagai seorang sahabat dan pribadi.
      Saya sungguh menghormati guru-guru yang telah mendidik saya. Setiap kali saya berkesempatan bertemu, berbicara lagi dengan suster atau Bapak Ibu Guru, serta melihat wajah antusias dan kebanggaan mereka akan anak didiknya membuat saya semakin menyadari tanpa ketulusan mereka saya bukan apa-apa.
      Terima kasih untuk menuliskan kisah ini, Imelda Sensei.

      Balas
  22. p u a k™

    Mbak Imel bener. Semakin tua kita harus semakin bisa berkarya at least untuk diri kita sendiri.
    Aku juga terinspirasi dengan tulisanmu ini mbak.
    Thanks ya.
    .-= p u a k™´s last blog ..Jadi, diet itu adalah.. =-.

    berkarya lewat blog juga bisa kan? hehehe
    sami-sami
    EM

    Balas
  23. zee

    Duh pagi2 bertandang kesini, baca ini saya jadi terharu… Benar-benar pria tua yang luar biasa, masih penuh semangat biarpun sudah senja. Saya jg pasti nangis sampai rumah kalo jadi mbak.

    Luar biasa bapak watanabe itu ya. Di saat orang2 Indonesia banyak yg bergaya dengan bahasa asingnya, beliau malah begitu mencintai bahasa Indonesia.

    salam kenal ya mbak. nice post..! seandainya bertemu dengan pak watanabe, sampaikan salam hangat saya utk beliau ya.

    🙂
    .-= zee´s last blog ..Cuci Mata ke Sarinah =-.

    Balas
  24. pakde

    Kapan mau ngajak jalan2 pak watanabe? Feature yang luar biasa. membuat kami hanyut. uhuk uhuk…. keren!
    Mbak EM, “Yoroshiku onegaishimasu” Ya!!! salam dari pakde. (dia bisa ngomong sunda nggak?) 😀
    .-= pakde´s last blog ..BB Addicted, are You? =-.

    Balas
  25. Joko Setiawan

    Woww……Subahanallah sekali….
    Ini yang benar2 patut ditiru ya Mbak….

    Watanabe san memang panutan, dan mungkin memang rata2 orang2 di Japan seperti itu ya Mbak, sudah lansia tapi semangatnya sangat luar biasa…..

    Salam semangat Bocahbancar Mbak…
    Saya juga akan belajar sampe Mati..Insyaallah
    .-= Joko Setiawan´s last blog ..2 DAYS SNMPTN 2009 REPORT =-.

    Balas
  26. nanaharmanto

    salam kenal, mbak…
    dulu teman saya dari AS bilang, ” your languange sounds like a rhyme, it’s beautiful”
    jujur mbak, saya menyepelekan ungkapannya, saya anggap dia cuma basa-basi.
    setelah saya baca posting mbak, saya benar2 terharu. ternyata org yg bukan orang Indonesia jauh lebih bisa menghargai Bahasa Indonesia.

    salam,
    nana
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Hexe =-.

    Balas
  27. racheedus

    Kisah yang sangat inspiratif! Belajar terus hingga usia renta. Mungkin, hal itu pula yang membuat Pak Watanabe panjang umur. Otak dan pikiran terus diasah sehingga tidak dirusak oleh usia.

    Balas
  28. Didien®

    belum beranjak ke next post bun..?? sedang ga sempat kah..?? *tidak seperti biasanya* hehe..
    baca postingan ini lagi, ternyata masih membuat saya merinding bun…

    salam,
    .-= Didien®´s last blog ..The Safest and Easiest Way to Invest =-.

    Balas
  29. suryaden

    jadi inget 15 tahun lalu pernah ketamuan serombongan kakek nenek dari Jepang, ternyata semangat hidup dan keingintahuannya mengalahkan saya sendiri… kekeke 😀
    .-= suryaden´s last blog ..Warsa adrenalin selain Pilpres obat Pileg =-.

    Balas
  30. Ria

    terharu…
    wahhh mbak imel…jadi inget guru matematika di SMU dulu
    belau itu sangat disayang sama kami2…tua2 tapi orangnya fungky…

    btw yg ini : “Belum lagi ada kuis yang mengatakan orang yang lahir di bulan Januari memang suka mengajar dan diajar”
    mbak imel lahirnya januari juga toh…waaaa sama kita 😛
    .-= Ria´s last blog ..Perempuan Hebat =-.

    Balas
  31. Ayawjeweltz

    Hai!! Salam kenal!

    Teman saya, Septa bilang klo blog ini bagus, dan cerita yg ini bisa bikin saya nangis.

    Ternyata benar! Saya ga berenti nangis dari paragraf awal sampe akhir..

    Smoga Pak Watanabe sehat selalu..

    Balas
  32. Nisa

    ^^ Wah, saya jadi malu… saya masih muda, namun jauhh sekali kalah semangat dengan beliau…

    Saya jadi membayangkan masa tua saya kelak…
    .-= Nisa´s last blog ..REASON.. =-.

    Balas
  33. mascayo

    tidak sia-sia saya membaca sampai usai …
    postingan yang satu ini bener-bener pas buat saya.
    dari kemarin disuruh belajar bahasa jepang sama bos, saya cengengesan melulu. padahal ada rencana mesti ke japan 3 ~ 6 bulan.
    Aggh!! belajar ah … belajar!
    *postingan yang satu ini saya ijin save ya bu
    .-= mascayo´s last blog ..Lanjutkan =-.

    Balas
  34. Izzy

    inspiratif sekali bu Imel, tulisannya..semoga air mata saya bukan sekedar perasaan terharu belaka tetapi juga menjadi tekad untuk “belajar sampai mati” seperti yg ibu dan Watanabe contohkan.
    Dari dulu bahasa Indonesia adalah bahasa yang Indah, semoga bangsa ini segera menyadari hal ini.

    salam kenal ibu Imel..salam saya juga buat pak Watanabe. saya sangat menghargai beliau.

    Salam

    Izzy yang sedang berpikir
    .-= Izzy´s last blog ..ST 12 =-.

    Balas
  35. Hery Azwan

    Luar biasa semangat belajar Pak Watanabe. Aku nggak yakin saat di umur 94 tahun nanti aku masih mau belajar bahasa orang yang nggak jelas manfaatnya seperti yang dilakukan Pak WAtanabe.
    Btw, orang Jepang umurnya panjang2 ya?
    Pak Watanabe kelahiran 1915 lebih tua dari Pak Harto kalau hidup (lahir 1921) dan kakekku (lahir 1919) yang meninggal dua tahun lalu dalam keadaan pikun dan sakit tua.
    Hm….tulisan yang sangat menyentuh…

    Balas
  36. JM Zacharias

    Wah saya terharu juga, melihat semangatnya untuk terus menjalani hidup.Saya selalu mengapresiasi dan menaruh hormat bagi siapapun yang menghormati budaya baik bahasa, kesenian dsb, apalagi yang bersangkutan adalah orang asing.
    Mbak, boleh saya share link (URL) ini ke teman2x yang lain untuk menjadi inspirasi banyak orang? Pengarang dan source (URL/link) pasti dicantumkan.
    .-= JM Zacharias´s last blog ..Million … Billion eyes … even more! =-.

    Balas
  37. Kiki

    ih ikutan haru bacanya kak, ga tau kenapa,mungkin karna aku ikut tenggelam dalam suasana cerita kk kali ini..
    thanks yah kak,sudah berbagi cerita ini, jd tambah semangat hidup dan bersyukur dgn apa yang sudah kumiliki..

    ga sabar pengen ketemu kk di real, ngobrol kita yang banyak.. kayanya ga cukup sehari deh untuk melepas kenangan cerita2 hidup kita di 6 tahun terakhir ini.. 6 thn yah kak? perasaan dari sebelum si riku lahir deh!

    love you kak Mel.. <3

    Balas
  38. elindasari

    Duh jujur mbak Imelda sambil baca postingan mbak Imelda ini air mataku saya ikut meleleh, ikut haru…perasaan jadi campur aduk…sekaligus bahagia….Semoga Watanabe san selalu diberi kesehatan dan umur panjang yach mbak. “Amien” …..salut atas semangat belajarnya 🙂

    Best regard,
    Bintang
    .-= elindasari´s last blog ..The Dream Come True =-.

    Balas
  39. Diajeng-r

    jd malu sm watanabe-san…sekaligus terharu denger cerita mbak imel
    oya, aku ajeng, sasjep UI angk 03 yg skrg sdh bnyk lupa nihongo krn jarang dipake (kurang malu apalgi coba?).jd termotivasi utk bikin blog baru yg kreatif, dan melancarkan nihongo yg (terlanjur) jd kebanggan ortuku..lam kenal mbak imel..it’s really a nice blog..yoroshiku 🙂

    Balas
  40. henny

    Hai Ata chan,
    sama seperti kamu -aku juga selalu ngulang-ngulang baca postingan yang ini,…dan setiap kali sanubari ini selalu dipenuhi spirit baru!…aku juga merekomendasikan (khusus) halaman ini untuk dibaca oleh adik-adikku yang berada di luar kota baik yang sedang bekerja atau kuliah… Semoga seperti aku dan kamu, mereka juga mendapat inspirasi dan ilmu dari sini…Salam persahabatan selalu!

    *Mbak Imel, terima kasih ya…!!
    .-= henny´s last blog ..PK 24 Seputar Dapur; Pigura Wangi Penyemangat =-.

    Balas
  41. Clara

    Hebaat… udah hampir 100 tahun, kalo mau pak Watanabe bisa duduk diam saja ya di rumah, bercanda dengan cucu dan cicitnya, membaca atau menonton tivi.. senangnya bisa kenal orang seperti beliau.. 🙂

    Balas
  42. anne

    Bagus sekali ya mbak cerita sekalian pelajaran buat kita kita ini. saya juga pernah ketemu dengan perempuan tua di yokohama yg ber umur 95 tahun, di suatu sore , beliau pulang dari belanja, atau jalan 2 sambil membawa kembang hidup dalam keranjang nya. kami sama 2 satu bus. orang jepang suka ulet dan mandiri. patut di contoh. salam kenal ya mbak imel.

    salam kenal balik anne. Tinggal di yokohama ya?
    di sini pemandangan orang tua yang jalan sendiri sering sekali kita jumpai kan?
    Biarpun tertatih-tatih akibat stroke pun mereka jalan di luar…. kadang aku sering harus mengelak orang tua yang jalan di tengah-tengah….(mungkin krn rumahku di daerah perumahan yang tidak begitu sibuk ya). Kalau di yokohama bagian gunung, jarang lihat orang tua jalan kaki

    EM

    Balas
  43. mei

    mengharukan sekali ya ceritanya..salut sama orang tua di jepang yg masih sehat dan keinginan belajarnya tinggi begitu..
    budayanya orang jepang itu saya rasa juga bagus sekali, teman2 jepang disini semuanya sopan, tepat waktu *jadi malu kalau jam karet hahaha*, dan rata2 anak2nya sopan sekali :), jadi kepingin buat belajar di jepang tp sayang biaya hidupnya tu loh ga tahan..ada ga ya beasiswa untuk mhs indo yg belajar di jepang? :O

    Balas
  44. nitnot

    walaupun postingnya udah lama, tapi sangat berkesan sekali untuk disimak…mmh…sekarang gimana kabarnya watanabe san….salam buat beliau ya mba…hehehee…salut dengan semangatnya…

    Balas
  45. niQue

    ahhh ….
    jadi bersemangat lagi.
    tadinya merasa sudah stuck!!
    ternyata masih banyak yg bisa dilakukan

    terima kasih sharingnya ya mba em

    kembali kasih
    EM

    Balas
  46. isananto

    Gara-gara mbak Imel menyebut ibu Hikita, aku jadi ingat beliau. Bulan yl ada teman pulang dari Tokyo dan bilang bhw ibu Hikita masih di Bag Pendidikan. Padahal seingat saya beliau sdh pensiun thn 98/99 yl. Beliau ingatannya tajam, hafal semua mhs kita di Jepang… Adakah alamat e-mail beliau?

    Balas
  47. Tifani

    ya ampuunn terharu banget deh pas baca ini…
    padahal org ktia sendiri berbondong2 belajar english yg katanya bahasa paling romantis,,,padahal ada org2 yg begitu cinta bahasa kita yah…

    Balas
  48. Putri

    sungguh terharu membaca tulisan mbak EM yang ini…
    *dari tadi nge-scroll komen.. ternyata put belum komen di postingan yg ini, ya.. ? 🙁

    Berharap semangat pak Watanabe menular ke Putri.. dan teman2…. ^_^
    btw.. mbak EM.. bagaimana kabar pak Watanabe ?
    masih sehat, kah ?

    mustinya. Terakhir Maret sesudah gempa masih sempat bicara lewat telepon
    EM

    Balas
  49. aan

    Semangat pak Watanabe untuk belajar diusianya yang sudah tua harus menjadi inspirasi kita semua agar tidak pernah berhenti untuk belajar.

    Balas
  50. Amela

    Wah,, saya jadi terharu sekaligus malu
    semoga saja saya bisa meneladani beliau,, tidak pernah berhenti untuk belajar..

    di saat orang Indonesia sendiri malas mempelajari bahasa Indonesia ada seseorang yang begitu semangatnya seperti beliau
    kisahnya benar-benar menginspirasi

    Balas
  51. ArMiKo

    Jadi kangen mau jalan-jalan ke meguro lagi nih. by the way nice posting, selalu belajar dan ajarkan apa yang sudah kita dapatkan agar orang lain dapat belajar juga dari kita. Jangan hanya mengambil tapi kita juga harus memberi.

    Balas
  52. callme eno

    jadi punya motivasi tersendiri u/lbh giat lg mengali ilmu… dimana pun dan ilmu apapun, selama ilmu tersebut bisa bermanfaat u/khalayak minimal u/ diri sendiri…. ^^

    sungguh sangat terharu akan smangat besar sang bapak dlm belajar…. terima kasih bapk… engkau tlah menginspirasiku… mba EM…. postingannya rancaaak bana…. ^^

    Balas
  53. usagi

    Tadi liat tulisannya tante Em,,
    Dan langsung meluncur kesini,,
    Ternyata tulisan ini,, dua tahun yg lalu yak,, waktu umurnya 94 dan sekarang 96

    Pasti perasaan tante amat sangat senang,, karena pertemuan yg ditulis ini bukan pertemuan terakhir,,,

    salut sama si kakek yang masih belajar di umur yang sudah semakin senja,,

    Mencintai bahasa indonesia,, aku jadi malu,, karena mungkin aku tidak mencintai bahasa indonesia seperti sang kakek,,,

    Tulisan ini semakin membuat aku bangga jadi anak Indonesia

    Balas
  54. sweet_emotion

    mbak Ime…. aku sampek nangis baca ini, HEBAT sekali ya Watanabe san…
    iya betul Mbak Ime, laki2 jepang jarang melakukan PDA alias Public Display of Affection, apalagi angkatan pak Watanabe ini ya.. kalau anak muda skrg sih sudah mulai berani.. salam hormat buat Watanabe san ya

    Balas
  55. Evi

    Terharu sekali membaca tulisan ini Mbak Imel. Akan kah saya sampai ke-94. Kalau sampai akan kah saya masih punya semangat belajar seperti Watanabe San? Sekarang Januari 2012 saat saya menemukan tulisan ini, apakah beliau masih sehat? Semoga ya Mbak

    Balas
  56. djawa

    Belajar memang tak terbatas waktu, namun dikala kita merasa mentok apalagi belajar secara otodidak., aku biasakan langsung merenung hehe., apalagi aku sering belajarnya secara otodidak., paling kalau dah ga mampu baru aku minta bantuan 😀

    Balas
  57. Mira

    amazing story!! Belajar dari buaian hingga ke liang lahat.. Watanabe san sudah membuktikannya.. Tak tertahan air mata ini sdh menetes sendirinya….

    Balas
  58. Ping-balik: “Watanabe San” | nicampereniqué.me

  59. Dani

    Imelda san,

    Mohon ijin untuk copy paste linknya yah. Pengen suatu saat di link ke postingan di blog saya

    Saya terharu sekali baca posting yang ini dan saya berusaha untuk tidak menitikkan air mata di kantor (saya tipe melankolis yang bisa nangis menjadi-jadi hanya dengan membaca buku).

    Lifetime learner. Itu yang saya pengen bisa menjadi. Belajar terus menerus seperti Watanabe san dan banyak orang lainnya.

    Balas
  60. Alris

    Setelah baca posting ini semangat saya untuk belajar tambah berlipat. Saya malu pada Watanabe san, saya malu jadi manusia cengeng. Tulisan mba Imelda bernas dan membangkitkan semangat belajar, semangat hidup dan semangat untuk maju. Satu lagi saya bangga bahasa Indonesia. Semangat belajar Watanabe san akan tetap hidup walau Beliau sudah kembali ke Sang Pencipta.

    Balas
  61. Veni

    Bu Imelda, izin share link ini ya bu. Saya sudah pernah membaca tulisan ibu ini, tetapi setelah sekian lama, saya baca ulang lagi dan ternyata Wanatabe-san sudah tiada.

    Mudah-mudahan saya bisa terus belajar seperti beliau. Bukan belajar samapai tua, tapi belajar sampai mati.

    Balas
      1. M.Kusman Burhan

        Ass.Wr. Wb. Selamat Malam, Imelda san, apa kabar ? semoga tetap sehat-sehatsaja ya bersama keluarga. Masih ingat saya ? Saya, M.Kusman Burhan, mantan Atase Penerangan di KBRI Tokyo. Masih ingat kita pernah rekaman makanan masakan indonesia di rumah Wahab san di Tokyo. Oh ya sekalian kasih tahu saja, Wahab san sudah tidak ada lagi (telah berpulang ke Rahmatullah). Saya senang bisa ketemu di dunia maya web nya Imelda san. Kapan-kapan ke Jakarta mam[ir ya, nanti tak sediakan rendang dan dendeng balado..hehhe…. Salam kangen.

        Salam,
        m.kusman burhan

        Balas
  62. Ping-balik: Diingatkan Usia | Twilight Express

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *