Arsip Bulanan: April 2010

Oh Dewi Sri

Aku rasa tidak ada seorangpun orang Indonesia yang tidak tahu bahwa Dewi Sri adalah Dewi padi. Itu merupakan pengetahuan umum, sama saja seperti Ganecha, yang menjadi lambang ITB  adalah dewa pengetahuan. Tapi kali ini aku memang merasa agak malu karena pengetahuanku hanya sekadar pada Dewi Sri adalah dewi padi. titik…. Dan aku mempelajari cerita asal muasalnya justru dari Picture Book yang ditulis oleh Kako Satoshi, yang karangannya “Anda Tahu PLTA Cirata” atau “Hahaha no hanashi” yang sudah pernah aku bahas juga. Kata Gen, tidak ada seorang Jepangpun yang tidak mengetahui Kako Satoshi, pengarang beberapa buku PB yang terkenal. Memang dia hebat, bisa menjelaskan yang sulit-sulit melalui gambar yang menarik!

Buku yang menceritakan Dewi Sri ini berjudul “Fushigina ine to ohimesama” (Padi yang Ajaib dan Putri Raja).

halaman depan picture book Fushigina ine to ohimesama

Dahulu kala masih banyak terdapat dewa-dewa baik yang berbentuk manusia maupun yang berbentuk binatang. Dan Maha Dewa menyerukan pada semua dewa-dewa untuk membangun sebuah gedung yang besar. Mereka semua berkumpul dan menyetujui untuk mendirikan gedung tersebut. Dewa Timur membawa batu, Dewa Angin membawa tanah liat, Dewa Obat membawa pasir, Dewa Hutan membawa pohon. Semua dewa membawa barang yang diperlukan dalam pembangunan, kecuali satu Dewa, yaitu Dewa Ular. Karena dia tidak berkaki dan bertangan, dia tidak bisa membawa apa-apa ke tempat Maha Dewa.

Dewa Ular melihat dewa-dewa lain membawa menjadi sedih, sehingga menangis.. Satu tetes, dua tetes, tiga tetes air mata mengalir…dan begitu mencapai tanah menjadi tiga butir telur. Lalu Dewa Ular berpikir, daripada tidak membawa apa-dia ingin membawa telur itu kepada Maha Dewa. Lalu dibawanya satu telur dengan cara menggigitnya. Di tengah jalan Dewa Ular bertemu dengan Dewa Ayam, dan Dewa Ayam bertanya, “Ular kamu buru-buru begitu, ada apa sih?”. Tapi karena Dewa Ular menggigit telur, jadi dia tidak bisa menjawab pertanyaan Dewa Ayam. Dewa Ayam marah karena dipikir Dewa Ular sombong, dan dia mematuk ekor ular. Tanpa sadar Dewa Ular berteriak “Aduh…” dan Akibatnya telur itu jatuh dari mulut Dewa Ular, mengenai batu dan pecah.

Dewa Ular kesal dan kembali mengambil satu lagi telur yang dia sembunyikan di lubang batu. Dan kembali dia dia bergegas pergi sambil membawa telur dalam mulutnya. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Dewa Merak. Dewa Merak bertanya kepada Dewa Ular, tetapi karena didiamkan, Dewa Merak mematuk peurt Dewa Ular. Dan telur yang di mulut Dewa Ularpun jatuh ke jurang setelah Dewa Ular berteriak, “Aduuuh”.

Dewa Ular kemudian kembali untuk mengambil telur yang tersisa. Dan di tengah jalan dia bertemu dewa Kelelawar. Dewa kelelawar juga bertanya, dan karena Dewa Ular tidak menjawab, Dewa Kelelawar mematuki kepala dan mencakar muka Dewa Ular. Namun kali ini Dewa Ular bertahan untuk tidak teriak, sehingga dia berhasil membawa telur itu kepada Maha Dewa.

Maha Dewa sangat gembira menerima persembahan telur dari Dewa Ular, dan membeli telur tersebut. Dengan ajaib telur itu menetaskan seorang anak perempuan cantik, dan diberi nama Sang Hyang Sri. Dan pada waktu bangunan besar itu selesai, Sang Hyang Sri sudah menjadi putri yang cantik.

Ternyata telur kedua yang jatuh ke jurang, tidak pecah malah terbawa aliran sungai, dan ditemukan oleh Dewa Kerbau. Dari telur itu lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Anita. Anita menjadi pemuda yang pandai dan gagah.

Saatnya tiba untuk merayakan selesainya pembangunan gedung. Anita datang bersama Dewa Kerbau, dan pertama kali dia melihat Sang Hyang Sri di sana. Anita langsung menyukai Sri dan demikian pula dengan Sri. Tetapi Maha Dewa tidak menyetujui pernikahan Anita dan Sri, karena dia mengetahui bahwa keduanya sebenarnya kakak-beradik, yang berasal dari telur Dewa Ular.Tetapi mereka berdua Anita dan Sri tidak tahu. Malahan Maha Dewa membuang Anita ke pulau yang jauh.

Sri yang bersedih terus menerus menjadi kurus dan akhirnya meninggal. Maha Dewa membuat makan di sebelah barat Bangunan, dan yang aneh di sekitar makam Sang Hyang Sri tumbuh rerumputan yang berbiji. Hingga suatu hari di makam Sri sampailah seorang yang kurus kering. Dialah Anita yang melalui jalan yang berat dari pulau terpencil dan akhirnya sampai ke makam Sri. Anita menangisi makam tanpa suara. Dan setelah berhenti menangis, dia memunguti biji dari rerumputan dis ekitar makam, dan menyebarkannya ke mana-mana. Bahkan setelah Anita meninggal, biji rerumputan menjadi besar dan enak. Inilah permulaan dari padi.

halaman belakang

Dalam kata penutupnya Kako Satoshi mengatakan bahwa beliau tinggal di Bandung pada tahun 1986 (waaah persis waktu aku masuk UI nih) untuk membantu UNESCO dalam program pemberantasan buta huruf. Dari penerjemahnya Hariyana, beliau  mengetahui cerita ini, dan setelah pulang kembali ke Jepang melakukan riset lebih detil lagi. Memang ceritanya bervariasi tapi beliau menyatukan cerita-cerita ini menjadi satu cerita mengenai permulaan panenan padi, dengan harapan dapat menceritakan keadaan negara di selatan (minami no kuni, sering dipakai untuk menunjuk negara-negara di sebelah selatan Jepang, seperti Asia Tenggara dan termasuk Indonesia)

Kako Satoshi,84 tahun, pengarang lebih dari 500 buku. Foto diambil dari http://www.pref.kanagawa.jp/osirase/bunka/bunspo/bunka-profile.html

Diterbitkan oleh penerbit Kaiseisha pertama kali bulan Mei 1989 seharga 890 yen, tapi sekarang sudah tidak terbit lagi, dan jika mau membeli harganya minimum 5000 yen saja. Kami meminjam buku ini dari perpustakaan Pemerintah Daerah Nerima.

Sebagai penutup aku mau mengutip lagi tulisanku di postingan lalu “how JAWA are you”:

Saya percaya, jika manusia keluar dari “sarang”nya bukan hanya bisa melihat pemandangan indah di luar, dan terlebih dapat melihat ke dalam sarangnya sendiri dengan lebih obyektif dan bahkan mendalaminya. Meskipun kadang saya –sebagai manusia tak bersuku– merasa gamang dalam menentukan dimanakah sebetulnya sarangku itu. Yang saya tahu, hutanku adalah Indonesia!

Yang Aneh dari Tokyo

Judul aslinya sih “Tokyo no koko ga hen”, yaitu suara warga atau pendatang di Tokyo mengenai Tokyo sendiri. Maksudnya, kenapa sih  kok bisa begitu, dan mungkin bisa dibayangkan mengucapkannya sambil geleng-geleng kepala dan mengeluarkan suara “ck ck ck”.

Ini adalah hasil ranking yang dibuat dari responden online, dan kupikir bisa menjadi gambaran tentang kota Tokyo.

Ranking pertama, apalagi kalau bukan, “Mahalnya sewa rumah”, well semakin dekat pusat kota, dan semakin dekat stasiun semakin mahal. Tokyo terbagi dalam 23 -ku (ku = kotamadya) yang terletak di pusat dan 26 shi yang perpanjanganya Tokyo, kemudian 5 machi dan 8 mura (desa). Tentu tinggal di “23 KU”. Dan di antara warga Tokyo sendiri ada semacam pengetahuan bahwa ketenaran masing-masing KU itu berbeda. Shinjuku- ku adalah daerah padat dan terkenal, sehingga sewa rumah di situ mahal, sehingga tidak bisa menyewa apartemen yang luas. Memang tergantung lokasinya juga. Apartemen sebesar 65m persegi bisa lebih dari 20 juta rupiah perbulan jika di daerah Shinjuku. Apalagi jika dekat stasiun.

Peta Tokyo, bagian berwarna ungu adalah KU, sedangkan sebelah kiri berwarna hijau adalah perpanjangan Tokyo terdiri dari SHI. Ada beberapa pulau yang dikategorikan shi dan mura

Sumber : http://www.metro.tokyo.jp/PROFILE/map_to.htm

Ranking ke 2 adalah Banyaknya orang. Jelas saja, persis tadi pagi tgl 27 April dilaporkan penduduk Tokyo per 1 April 2010 sudah mencapai 13.010.279 jiwa. Bertambah 25.619 dari bulan Maret. Dan…. dari jumlah penduduk itu 20 persen adalah warga berusia 65 tahun ke atas.

Yang ketiga adalah  Mahalnya ongkos parkir. Well di tempat yang padat bisa sampai 10 menit 100 yen (Rp10.000 ), tapi kalau pergi ke pinggiran Tokyo, hampir semua restoran dan toko mempunyai pelataran parkir yang besar dan gratis.

Keempat:  udaranya kotor. hmmm aku sih tidak begitu merasa, mungkin karena aku bandingkan dengan Jakarta ya hihihi.

Ranking lima adalah kereta padat penumpang…. hahaha ini memang khasnya Tokyo. Bener-bener nempel deh orang kalau naik kereta terutama di jam-jam sibuk. Dan ini pula yang menyebabkan timbulnya kata chikan (orang yang ramah alias rajin menjamah tubuh wanita hihihi)

Yang ke enam adalah  mahalnya biaya makanan dan minuman. Well, kemarin minggu aku bertemu Eka di Tsukuba. Kami makan ke restoran dan ada set menu dengan harga 1050 yen. Memang di Tokyo ada juga set menu dengan harga segitu, tapi tidak pada hari Minggu, dan malam hari. Mau makan malam hari di restoran? harus siap-siap membayar 3000-4000 yen satu orang.

Ranking 7 adalah air ledengnya tidak enak. Aku sih tidak pernah minum  air ledeng, meskipun sebenarnya air ledeng di Tokyo bisa diminum (kecuali tempat/WC umum) . seperti kebiasaan di Indonesia aku selalu masak atau membeli mineral water. Sekarang aku rajin mengambil air mineral gratis di supermarket, dengan menjadi anggota dan membayar 500 yen untuk “membeli” botol 4 liter. Selanjutnya gratis terus tuh.

Yang ke delapan : tidak mengenal tetangga sebelah. Untung aku masih kenal tetangga sebelah apartemen aku…dulu sebelum Riku lahir memang tidak pernah tahu siapa tetangga sebelahku. Itu karena aku bekerja siang, sehingga tidak ada kesempatan bertemu tetangga, dan ngobrol.

Ke sembilan : ribut meskipun malam. Yaaaa kalau pergi ke daerah Shinjuku, Roppongi, Harajuku ya jelas aja. Atau ke stasiun-stasiun. Sampai pagi malah. Tapi kalau ke daerah perumahan ya ngga lah.

Ranking 10: walaupun kereta terakhir tetap saja penuh. Justru karena kereta terakhir jadi penuh, karena tidak mau ketinggalan kereta sehingga harus menginap di taman (kalau tidak mau keluar duit) atau hotel/karaoke/bar.

Yang ke 11: pintu masuk keluar stasiun yang banyak. Terutama stasiun kereta bawah tanah. Kalau salah keluar pintu, bisa-bisa nyasar deh.

Ranking ke 12: Tetap terang meskipun malam hari. Well itu benar. Dan ini kusadari waktu mudik, loh kok jakarta gelap sekali ya? heheheh

Ke 13 adalah :  Jalannya cepat! Heheheh kalau lambat ya DITABRAK! Makanya aku suka kasihan kalau ada lansia yang keluar rumah dan mau naik kereta pas jam-jam sibuk. Orang-orang tidak berperasaan sekali deh, tabrak-tabrak mereka. Dan kadang kalau aku terpaksa berada di belakang mereka juga merasa sebal karena LELET nya. Padahal kalau aku nanti tua juga sama tuh. Tokyo bukan untuk LANSIA, terutama pagi/malam hari.

Ranking 14:  banyaknya gedung pencakar langit. well namanya Metropolitan, ya wajarlah kalau banyak skyscapernya.

Ke lima belas adalah Jarak antar stasiun yang pendek. Ini di pusat kota, kalau agak menjauh juga tidak dekat kok. Aku sendiri sekarang tinggal di tengah-tengah 3 stasiun, yang bisa dicapai dengan bus.

Ranking 16 : banyaknya orang berfashion aneh-aneh. Hahaha…. memang aneh-aneh sih. tunggu saja di musim panas, ada kok yang berani memakai celana pendek macam celana dalam pendeknya hihihi/

Ke 17 adalah  banyaknya jumlah kereta dalam satu jalur. Misalnya untuk jalur yamanote line yang memutar Tokyo, setiap 3-5 menit pasti ada kereta yang datang, sehingga tidak perlu menunggu lama.

Yang ke 18: peron stasiunnya banyak. Wahh iya, coba datang ke stasiun tokyo, Stasiun Ueno dan Shinjuku… sudah merupakan satu “kota” sendiri deh.

Ke 19. tidak perlu mobil. Well, karena kereta lebih tepat waktu, banyak dan teratur, buat apa punya mobil. Lagian sewa tempat parkir di apartemen itu mahal. setahuku di daerah Meguro sebulan bisa 40.000. Kalau Ginza? Wahhh siap-siap aja membayar 60.000 yen.

Dan yang terakhir adalah adanya gerbong kereta khusus perempuan. Seperti sudah pernah aku tulis di sini, memang karena padatnya gerbong kereta waktu jam-jam sibuk, membuat perusahaan kereta api menyediakan gerbong khusus penumpang. Biasanya di bagian ujung kereta.

Sumber ranking : http://cache001.ranking.goo.ne.jp/crnk/ranking/999/tokyo_funny_2010/p1/

Sumber berita: asahi.com

東京都は27日、4月1日現在の推計人口が初めて1300万人を超え、1301万279人となったと発表した。3月より2万5619人(0.2%) 増えていた。都は「都心部のマンション増に加え、求人が減った地方から仕事を求めて移住する人が増えたためでは」とみている。

都の人口は1967年に1100万人を超え、33年後の00年に1200万人に到達。その後は年10万人程度のペースで増加し続けた。97年以降は毎 年、転入者数が転出者数を上回っている。

地域別では、23区が882万440人、多摩地区が416万2592人、島しょ部が2万7247人。人口増は区部で目立ち、前年同月比で最多だったのは 高層マンション建設が相次いだ江東区の7470人増。次いで足立区が4840人増だった。asahi.com

From Paris with Love

Ya, sebuah judul film yang dibintangi John Travolta, Sabtu lalu  menjadi tema perbincangan aku dan Gen dalam kereta. Tidak biasanya Sabtu pagi Gen harus dinas luar dan harus menggunakan kereta. Dalam hujan, Gen, aku dan Kai naik bus menuju stasiun. Setelah menitipkan Kai, kami berdua naik kereta sampai Shinjuku. Canggung juga rasanya berduaan naik kereta, kapan terakhir kami berdua naik kereta ya? Mungkin sebelum Riku lahir…lebih dari 7 tahun yang lalu.

Kesempatan ini kami pakai untuk bercerita macam-macam dengan suara lirih tentunya. Tentang apartemen-apartemen yang baru dibangun, tentang tempat tujuan kunjungan di liburan golden week (29 April-5 Mei) nanti (yang sepertinya dia tetap harus bekerja–dan akhirnya aku juga ada terjemahan baru)…dan saat itu kami melihat poster filmnya John Travolta, From Paris with Love di dalam kereta.

bukan ini sih poster yang kami lihat. yang ini masih pakai alfabet semua

Bukan, bukannya kami mau menonton. Selain membicarakan John Travolta yang sudah “gaek” (duh filmnya yang dulu Saturday Night Fever… waktu itu aja kita sudah SMP kan, sekarang  dia masih juga main film), terlambatnya film-film hollywood diputar di Jepang (bahkan lebih cepat Indonesia daripada Jepang untuk hal penayangan begini. sebabnya bisa dibaca di sini) , kami juga membicarakan tentang terjemahan JUDUL film.

Judul filmnya si Travolta itu dalam bahasa Jepang adalah パリより愛をこめて (Pari yori ai wo komete), dan setelah aku cari info di HP, memang benar jika diterjemahkan kembali adalah “From Paris with Love”. OK berarti terjemahan judul bahasa Jepangnya sama dengan judul aslinya. TAPI hal ini jarang terjadi! Maksudku, jika kita menonton film Hollywood atau yang aslinya bahasa Inggris di Jepang, harus siap-siap BINGUNG dengan judul bahasa Jepangnya. Karena biasanya jika diterjemahkan kembali maka tidak sama bahkan jauh dari judul aslinya. Dan …itu cukup membuat pusing kepala orang-orang asing alias gaijin di Jepang.

Yang aku tahu misalnya film “Basic Instinct” nya Sharon Stone, judulnya menjadi 「氷の微笑」(Koori no bishou – Senyum Es) 1992. Atau “Sliver” menjadi 「硝子の塔」 (Garasu no Tou – Menara Kaca 1993). Atau untuk film baru, contohnya film Disney yang di dalam bahasa Inggris hanya “UP”, diterjemahkan menjadi 「カールじいさんの空飛ぶ家」(Ka-ru jiisan no Soratobu ie — Rumah Terbang Kakek Carl  2009).

Well, memang akan kaku rasanya jika semua film berbahasa Inggris diterjemahkan secara harafiah, atau memakai tulisan katakana semua.” Blue Pasific Stories” ditulis katakana semua : ブルー・パシフィック・ストーリーズ, “Alice in Wonderland” アリス・イン・ワンダーランド, kalau pendek seperti “Avatar”  アバータ sih masih mudah membacanya, tapi kalau panjang, bisa puyeng juga (yang puyeng emang aku yang gaijin orang asing sih…orang Jepang ngga puyeng karena katakana kan tulisannya mereka juga). Tapi pusing juga kalau harus mengira-ngira judul dengan tulisan kanji itu judul aslinya apaan. Sering aku pikir, kenapa sih tidak “begitu saja” tulis judul dalam bahasa Inggris dengan alfabet? Supaya orang Jepang terbiasa baca alfabet nih! Katanya mau globalization…jangan nanggung hehehe.

Aku jadi berpikir, orang Indonesia ternyata tidak mempunyai masalah dengan penerjemahan film seperti di Jepang ya? Ah, aku juga sudah lama sekali tidak menonton di Jakarta, jadi tidak tahu kondisi film asing sekarang. Apakah juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan apakah memakai subscript atau dubbing? Yang pasti kita tidak harus pusing menerjemahkan judul.

foto jadulku yang aku kasih judul: from rusia with love..tuh kan narsis, bilang aja mau mejeng foto hahaha

Indahnya Blogging

(Ini adalah tulisan kedua untuk hari ini, setelah Like THIS)

OK…OK…. aku nanti akan membayar royalti ke mas NH18, karena istilah “The Beauty of Blogging” itu milik dia, dan supaya tidak sama persis aku terjemahkan ke bahasa Indonesia. Indahnya bercinta blogging!

Sejak aku menulis blog di domain ini bulan Maret 2008, aku mendapatkan banyak sekali teman blogger yang ditandai dengan saling mengunjungi blog masing-masing. Melalui komentar dan akhirnya kopdar (kopi darat atau bertemu muka langsung) kita dapat terus menjaga silaturahmi dan persahabatan di antara blogger. Meskipun aku tidak termasuk komunitas blog tertentu, aku merasa aku mempunyai kumpulan teman tersendiri. Dan nama-nama mereka bisa Anda lihat di antara di daftar top commentator, list sahabat TE dan beberapa postingan tentang mereka.

Nah, kali ini aku ingin menuliskan khusus tentang pertemanan yang diawali dari blog TE ini dengan mereka yang bukan blogger.Tanggal 11 Maret yang lalu, Witha Kutsuki datang ke apartemenku di Tokyo. Ini memang merupakan pertemuan kami yang ke dua. Tapi Witha memang membawa “titipan khusus” dari Jakarta, yaitu hadiah ulang tahun untuk Riku yang berulang tahun tgl 25 Februari. Riku  mendapat hadiah buku cerita berbahasa Indonesia, “Tidurlah Beruang” dari Wita (Eka Perwitasari),nah namanya sama Witha dan Wita makanya aku suka bilang si kembar…. Padahal mereka berdua tuh ketemunya gara-gara aku yang ngenalin loh. Wita sendiri sudah pernah datang ke rumahku tgl 24 Maret 2009, wah setahun lalu!

Sayang sekali aku dalam keadaan tidak enak badan, sehingga waktu itu hanya bisa menjamu dengan membuat mie bakso. Menurutku kurang enak, tapi ternyata bakso yang kubuat itu akhirnya aku sendirian yang habisin selama 3 hari. Enak kan kalau sakit makan bakso (Dan Witha ngaku bahwa tadinya dia mau minta bawa pulang…tapi sungkan… yah sayang banget deh). Sejak hari itu, aku belum bikin bakso lagi nih! Sepertinya musti ada yang datang main ke rumahku lagi baru aku masakin hehehe.

Riku senang sekali menerima hadiah dari kedua wita, apalagi aku juga dimanjakan mereka dengan hadiah syal dan dompet dari Wita, serta anting-anting garnet dari Witha. Katanya ini hadiah ulang tahun yang tertunda (ulang tahunnya udah lewat lama banget padahal) Tapi aku sangat senang atas perhatian kedua Witha ini. Really appreciate! Doumo arigatou….

Dan Hari minggu kemarin, aku bertemu dengan seorang pembaca TE yang sudah menjadi sahabat FB ku juga. Theresia Ani namanya, dan dia sedang melanjutkan penelitian bidang pertanian di Universitas Ibaraki. Seperti biasa, kami mengisi hari libur kami dengan berjalan-jalan yang murah meriah. Kali ini kami menuju sebuah danau di prefektur Ibaraki, yang bernama Kasumigaura. Menurut Gen danau ini danau nomor dua terbesar di Jepang, setelah danau Biwa, di prefektur Shiga. Dan tempat ini dekat dengan tempat tinggal  Ani. Jadi waktu masih di highway aku menelepon Ani menanyakan kemungkinan bisa bertemu. Dan kebetulan dia memang sedang akan pergi ke danau itu bersama teman-temannya naik sepeda! Wahhh asyik banget membayangkan bisa naik sepeda 20 menit ke tempat yang indah dan luas itu.

berdua Ani di taman Tulip danau Kasumigaura, Ibaraki (lupa deh sama anak-anak...hehehe)

Tentu saja kami berfoto-foto deh begitu bertemu. Selain kami memang baru pertama kali bertemu, pemandangan taman Tulip dengan Kincir Anginnya memanggil kami untuk mengeluarkan bakat narsis kami. Untung Ani datang bersama suami dan temannya Dewi, jadi anak-anak bermain bersama mbak Dewi deh.Kami bertemu tidak lebih dari setengah jam, tapi sudah cukup untuk bertukar berita terutama tentang gereja katolik di daerah Ibaraki (Ooarai).

Setelah Ani, suami dan mbak Dewi kembali ke tempat teman-temannya, kami melihat ke dalam sebuah rumah yang dijadikan semacam museum kecil, dengan informasi mengenai Danau Kasumigaura. Kupu-kupu, burung, ikan-ikan yang hidup di sana. Kata Gen danau ini juga sama dengan Danau Biwa, adalah danau yang kotor sekali dulunya. Kemudian dengan program lingkungan hidup menjadi bersih seperti sekarang ini.

depan Kincir Angin di taman tulips Kasumigaura

Karena mendengar dari Ani, bahwa rumah Ekawati Sudjono hanya 12 km dari danau itu, Gen menawarkan aku untuk bertemu Eka. Langsung aku telepon Eka, dan kami akan menjemputnya di asramanya di kompleks Universitas Tsukuba. Jadi deh kami rendezvous di sebuah restoran di Tsukuba Center (pertemuan dengan Eka adalah yang kedua kali, pertama di rumahku) . Ternyata jika naik mobil dan highway, jarak antara apartemenku dengan Ibaraki/Tsukuba dapat ditempuh hanya satu setengah jam. Hmmm jadi ingin pergi drive ke daerah lainnya deh.

bertemu Eka di Tsukuba Center

Cerita pertemuan dengan Witha, Ani dan Eka di Tokyo ingin kututup dengan sebuah tanda persahabatan lagi dari seorang pembaca TE, yaitu Henny Rupita (Henny menulis blog di Multiply). Memang bukan pertemuan secara fisik, tapi Henny mengirimkan makanan kesukaanku melalui pos! Katanya, dia ubek-ubek page about me dan menemukan bahwa aku menyukai yang serba kanji. Jadi dia mengirimkan TEKWAN kering (+buku batik) . Terima kasih banyak ya Henny, aku sudah menikmati tekwan itu sendirian, biasanya dini hari sambil menulis postingan.

tekwan ini berhasil mengurangi rasa homesick yang akhir-akhir ini mendatangiku

Aku sedang menikmati indahnya persahabatan melalui blogging. Terima kasih banyak teman-teman. Dan semoga aku diberi kesempatan mudik musim panas ini, dan bisa bertemu di Jakarta.

Like THIS!

Aku pernah mengatakan waktu berkomentar di blog seseorang, “Coba ada tombol “like this” seperti di FB, pasti aku pakai tombol itu untuk tulisan ini. Aku suka!”

Dan kemarin pagi tiba-tiba plugin “Like This” itu muncul di perkenalan plugin di dashboardku…dan aku langsung pasang. Bisa dilihat bahwa di setiap posting akan ada tombol yang bisa diklik seperti di facebook, asalkan sudah login di FB. Aku merasa si Ferri Sutanto briliant, karena aku sejak lama mengamati fenomena like this a.k.a jempol di FB. Memang paling gampang memasang tombol like this untuk status-status atau link, foto, application, dll untuk menyatakan pada pemilik akun itu, “Saya sudah lihat, saya setuju/suka, tapi tidak bisa berkomentar banyak!”. Meskipun kadang  aku merasa aneh jika si pemasang status ikut men”jempol” postingnya sendiri (kamu pasti suka/setuju dong jika sampai memasangnya di status, atau boleh deh asal jangan setiap statusnya dijempolin), atau memasang “like this” untuk berita kemalangan atau kematian.

silakan tekan tombol ini!

bisa diunduh dari sini.



Sayonara….

Banyak sekali kenangan yang tersimpan dalam dirimu

Rasa sedih,sepi yang menyertai kesibukan mungkin lebih dominan daripada rasa gembira

Tapi memang engkau telah berperan banyak bagi diriku

dan sudah waktunya aku mengucapkan selamat tinggal

pada dirimu dan kenangan dalam dirimu….

Sayonara….

FLOPPY!

.

.

.

kenangan masa lalu yang tersimpan rapi

Si Floppy ini memang telah menyertaiku semenjak aku kenal komputer. Lihat foto di atas: floppy disk ukuran 5 inchi dan 3,5 inchi. Yang berukuran 5 inchi berisi skripsi S1 tahun 1991, sedangkan yang kanan berukuran 3,5 inchi berisi copy thesis tahun 1996. Jaman itu  belum ada ZIP (aku tidak pernah punya), belum ada MO (Magneto Optical Disc – ini sempat populer di Jepang tapi tidak di Indonesia), belum ada USB Flash Drive, CF (Compact Flash), belum ada SD Card (Secure Digital Card – bukan singkatan resmi) baik yang biasa, Mini maupun Micro. Semakin ke sini semakin kecil ukuran tapi daya tampung semakin besar. Canggih ya?

semakin lama semakin kecil....

Kalau dilihat sejarahnya Floppy ini ada yang berukuran 8 inchi, 5 inchi dan 3,5 inchi. Aku tidak kenal dengan yang 8 inchi, langsung kenalannya sama si 5 inchi dengan komputer jadul yang displaynya sebesar tv . Kalau mau instal program atau game, harus berpuluh lembar floppy! Ya jelas waktu itu kapasitasnya cuma 64K.

ukuran 8 inchi, 5 inchi dan 3.5 inchi

Sony memutuskan untuk menghentikan penjualan floppy 3,5 inch terhitung mulai bulan Maret tahun depan. Sony yang memang memelopori floppy disc 3,5 inch tahun 1981 menghentikan penjualan karena pengguna floppy yang kian menurun seiring dengan tersedia media yang lebih cepat, ringan tapi besar dayanya seperti USB memory dll. Menurut catatan penjualan floppy itu mencapai puncaknya tahun 2000 dengan 47 juta unit dan tahun 2009 menurun menjadi 8 juta unit saja. (Sumber asahi.com)

Memang perubahan harus terjadi dalam segala aspek, dan kita mau tidak mau harus bisa menerimanya…. dalam segala aspek. Dan saya yakin teman-teman juga mempunyai banyak  kenangan yang tersimpan dalam floppy. (Atau ada yang tidak kenal si 3,5 ini?)

(Ber)Gosip itu perlu tidak?

Memang harus dilihat dari konteksnya dulu. Gosip macam mana yang dimaksudkan. Apakah semacam gosip artis yang biasa terdapat di infotainment (yang aku sama sekali tidak MINAT) atau gosip tentang tingkah laku dan kepribadian seseorang? Bagi orang yang religious pasti mengatakan jangan bergosip, tapi kali ini aku sendiri menyadari bahwa bergosip itu sebetulnya perlu juga. Apalagi dikatakan bahwa perempuan senang bergosip, yang tentu saja dapat disangkal karena tidak sedikit pria yang juga suka bergossip.

Jadi seperti yang pernah aku katakan pada yessy, gosip itu wajib diketahui tapi tidak wajib ditindaklanjuti. Karena sebetulnya dari bergunjing itu ada juga kok hal-hal yang merupakan fakta yang bisa dipelajari. Asal tahu batasnya.

Seminggu yang lalu aku datang ke sekolah Riku untuk mengerjakan pemilahan eco cap. Aku memang kebagian tugas bulan April, jadi meskipun sebetulnya pekerjaan PTA periode tahun fiskal 2009-2010 itu habis bulan Maret, aku masih harus bekerja, sampai nanti pergantian pengurus tanggal 28 April.

Nah di situ aku hisabisani (after a long long time) bergossip ria. Mungkin karena membernya juga enak, tema percakapan ngelantur kemana-mana. TAPI banyak yang berguna. Kebetulan tiga member kami ada yang berpenyakit. Tidak terlihat, tapi ternyata cukup mengganggu. Itu akibat hormon perempua. Yang satu cukup terlihat yaitu dia agak pincang kalau berjalan, dan ternyata pergelangan tangannya berubah. Akibat hormon berlebihan setelah menikah, tulangnya berubah bentuk! Duh kasian juga, sehingga dia tidak boleh terlalu capek, dan tergantung obat untuk mengurangi pergeseran tulang yang lebih drastis lagi. Teman yang kedua, juga akibat perubahan hormon setelah melahirkan, menjadi kurus sekali. Makan sebanyak apapun berat badannya menyusut terus. Untung dokter yang merawatnya langsung menyuruh memeriksa laboratorium dan ketahuan dia mengidap penyakit hormonal itu. Sekarang dia bisa mengontrol berat badannya dengan obat yang harus diminum setiap hari …selamanya sampai mati. Sedangkan yang satunya kebalikannya, menjadi gemuk meskipun sedikit makan. Katanya penyakit kelenjar tiroid ini namanya Hashimoto byo (Hashimoto’s thyroiditis). Duhhh ibu-ibu setelah melahirkan memang rentan terhadap berbagai penyakit. Ternyata keluhan sekecil apapun bisa dicari penyebabnya (di Jepang).  Dan aku harus bersyukur bahwa aku tidak sedrastis itu.

Selain bergunjing masalah penyakit, kami juga membicarakan kelakuan anak-anak. Banyak anak-anak sekarang yang tidak berbekal pengetahuan umum  joushiki 常識. Ibunya sendiri jadi bingung, kenapa anak saya ini. Misalnya seorang anak kelupaan kunci rumah, dan berusaha membuka kunci dengan ranting pohon! Mungkin dia pernah melihat film detektif, tapiiiiiii bukan ranting dong. Ranting itu bisa patah di dalam lubang kunci dan malah merepotkan. Hmmm … di saat-saat seperti itu biasanya aku hanya diam saja (kebanyakan begitu sih) tidak bicara dan membayangkan anak-anakku ternyata masih mending hehehe.

Dan ada satu lagi kesadaran yang terpikirkan dalam pembicaraan kali itu. Yaitu bahwa mengurus anak memang susah, menguras tenaga, waktu dan pikiran. Ibu-ibu dituntut untuk alert terus terhadap pertumbuhan anaknya. Aku baru tahu juga dari gosip hari itu, bahwa pernah suatu sore aku membutuhkan waktu 30 menit naik bus dari stasiun dekat rumah, sampai ke rumah. Yang biasanya 7 menit! Ternyata saat itu ada kecelakaan yang tragis. Seorang ibu “menyuruh” anaknya yang berusia 3 tahun menunggu sendiri di halte bus, sementara dia pergi belanja ke toko seberang. Dan anak itu terlindas roda kanan bus yang bergerak waktu lampu merah berganti hijau. Ternyata anak itu menyeberang jalan sendiri dan tidak terlihat oleh supir bus, yang memang tinggi kursinya. Duuuuhhh (mati seketika dengan kepala pecah hiiii). Terlepas dari gosip bahwa anak itu nakal, atau ibu yang careless menyuruh anak “pecicilan” itu menunggu sendiri, atau gosip bahwa si ibu memang tidak disukai oleh sekitarnya, kejadian ini merupakan pelajaran untuk “selalu berpikir sebelum bertindak”.

Menjadi wanita memang tidak mudah. Mungkin lebih banyak susahnya, tapi itulah hidup. Apalagi menjadi seorang ibu, karena dia harus memikirkan suami dan anak-anaknya, bukan hanya dirinya sendiri. Karenanya wanita juga dituntut untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohaninya, supaya bisa menjalankan tugas yang berat itu.

Posting ini BUKAN untuk merayakan hari Kartini, tapi setelah aku tulis ternyata bisa juga dihubungkan dengan perayaan hari Kartini yang sudah lewat kemarin. Yaitu perempuan itu harus pintar!

Dari perempuan manusia menerima pendidikannya yg pertama-tama, di pangkuannya anak belajar merasa, berpikir, berbicara…Dan bagaimana ibu-ibu Bumiputera itu mendidik anak-anak mereka kalau mereka sendiri belum terdidik? (Kartini, 31 Jan 1901)

(kutipan kuambil dari statusnya Koelit Ketjil di FB)

Beda Buku Jepang dan Indonesia

Kemarin aku sakit kepala, sampai setiap suara anak-anak menjadi gangguan 🙁 Meskipun sudah kuminta anak-anak untuk tidak berteriak atau bertengkar tapi tetap saja. Dan puncaknya sekitar pukul 7:30 malam aku menyuruh Riku mematikan televisi dan diam. Untung Riku sudah bisa mengerti sehingga dia mengajak adiknya masuk tempat tidur, dan membacakan picture book. Yang dipilih adalah “Momotaro”, cerita tentang seorang anak lelaki yang “lahir” dari sebuah Peach besar yang mengalir di sungai, kemudian diambil oleh seorang nenek yang sedang mencuci. Cara lahirnya itu yang lucu, yaitu waktu si nenek mau membelah buah peach dengan pisau, maka peach itu membuka sendiri, dan “oe oek….” seorang bayi menangis deh. Nah yang lucu di situ bergambar bayi dengan t*titnya, dan Kai menunjuk-nunjuk… Eh ada cincin! Aku juga punya! hahaha…

Rame deh akhirnya, tapi saat itu Kai bilang, “Chigau!(Berbeda)”. Ya dia ingat penjelasanku tentang buku beberapa hari yang lalu. Anak ini memang pintar, dijelaskan satu kali bisa ingat terus. Apa yang dia tanyakan waktu itu? Coba perhatikan gambar 2 picture book ini.

Saya pilihkan dua picture book, yang satu "Momotaro" dan satunya "Wall-e" terjemahan ke bahasa Jepang

Sekilas tidak berbeda ya? sama besarnya. Coba lihat foto berikutnya, bagaimana kalau kita buka halaman pertama.

Terlihat perbedaannya ya. Yang "Wall-e" membuka ke kiri, sedangkan "Momotaro" membuka ke kanan

Buku “Wall-e” seperti biasanya buku-buku Indonesia, membuka ke kiri. Sedangkan “Momotaro” adalah ciri khas buku Jepang! Membuka ke kanan. Atau kalau dengan pemikiran orang Indonesia, membuka dari belakang ke depan. YA! BERBEDA! Dan itu disadari Kai beberapa malam yang lalu waktu aku mendongeng untuk dia. (Doooh akhir-akhir ini dia selalu minta dibacakan buku, dan kadang butuh 2 jam sampai dia tertidur…sengsara bener deh aku! Kalau tengah malam dia terbangun, juga minta membaca buku. Akhirnya biasanya aku pura-pura buka buku, padahal aku tidak baca…aku ceritakan apa yang sudah aku hafal. Bahkan kalau perlu hanya bergumam saja hihii)

Nah waktu itu aku jelaskan pada Kai tentang perbedaan kedua buku itu. Pasti dia tidak bisa menyerap semua penjelasan aku, tapi tetap aku jelaskan. Dia akan bisa memahaminya kelak.

Seperti yang sudah aku katakan tadi, bahwa “Momotaro” adalah buku khas Jepang. Ditulis dengan bahasa Jepang (ya iyalah… hihihi) Tapi ditulis dari atas ke bawah. Ini sebetulnya cara menulis Jepang yang asli. Dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan. Oleh sebab itu cara membuka buku yang ditulis vertikal begitu itu harus membuka ke kanan! Sedangkan buku “Wall-e” meskipun ditulis dalam bahasa Jepang pun, ditulis dengan cara modern dari kiri ke kanan secara horisontal. Karena itu dalam membaca pun harus membuka ke kiri, selayaknya buku-buku berbahasa Inggris/Indonesia atau buku lain yang ditulis dalam alfabet.

Beda tulisan vertikal dan horisontal mempengaruhi "cara" membuka buku.

Tentu akan bertanya, loh menulis dari atas-ke bawah dari kiri ke kanan, apa tidak belepotan tuh tangannya dengan tinta? Ini juga pertanyaan aku tadinya, lalu aku teringat bahwa memang orang Jepang kuno menulis bukan dengan bolpen tapi dengan tinta dan kuas. Tidak boleh meletakkan tangan pada kertas. Gaya menulis kaligrafi Jepang pun menunjukkan bahwa sikap duduk yang lurus (tidak bongkok) mempengaruhi keindahan tulisan.

Aku pernah belajar kaligrafi Jepang sebentar dan memang sikap duduk amat sangat menentukan. Sebenarnya kalau ada kelas menulis kaligrafi yang murah, aku ingin ikut lagi deh. Atau paling sedikit ingin menyuruh Riku mempelajarinya supaya tulisan dia bagus dan rapih. ( Aku harus bersyukur bahwa dia masih termasuk rapih menulisnya, meskipun kadang aku bingung membaca tulisannya hehehe)

Well, untuk sementara waktu aku harus bersiap mendengarkan celoteh Kai sebelum aku dongengi dengan kata-kata, “Chigau (Berbeda)”

Ikkyu menulis kaligrafi dengan kuas pada kertas yang panjang. Test waktu itu adalah menulis satu huruf yang mempunyai arti dengan satu goresan saja (tidak boleh terputus) dan ikkyu memilih kata "shi" dalam hiragana yang artinya "mati"

Bertualang ke Antariksa

Hari Minggu yang cerah, setelah sehari sebelumnya, Tokyo dikejutkan dengan salju di musim semi, dan suhu maksimum 7 derajat. Hari Minggu kemarin kami menikmati hangatnya mentari dengan suhu maksimum 17 derajat. Huh, perbedaan suhu yang besar setiap harinya memang bisa menggoyahkan kesehatan kita. Untung saja anak-anakku kuat sehingga tidak terpengaruh.

Karena kami semua tidur cepat Sabtu malam, jam 8 pagi sudah bangun semua, dan menikmati matahari pagi, sambil merencanakan tujuan jalan-jalan hari ini. Paling banter kami mau bermain sepeda saja di dekat-dekat rumah. Tadinya kami ingin pergi ke JAXA Tsukuba sesuai undangan Ekawati Sudjono, tapi acara open house Jaxa Space Center di sana tanggal 17 Sabtu kemarin…. dan Gen bekerja. Sayang sekali.

Lalu aku mengusulkan pergi ke taman Tulip. Pasti indah! Dan kami sudah mulai bersiap-siap pergi ke Ibaraki, tapi kemudian Gen menemukan info, bahwa JAXA di CHOFU (dekat rumah kami, kira-kira 20 menit bermobil) juga membuat acara open house hari Minggu ini. Well tidak bisa ke Tsukuba, tapi bisa coba ke Chofu saja. Toh sama saja JAXA Japan Aerospace Explore Agency, sebuah lembaga antariksa Jepang.

Open house di Jaxa dalam rangka Science and Technology Week 12-18 April 2010

Sebetulnya kami lapar, belum makan pagi, tapi karena takut tidak dapat tempat parkir, kami cepat-cepat berangkat dan sampai di Jaxa Chofu itu pukul 9:30. Dan …hebat memang orang Jepang, sudah ada sekitar 20-30 orang yang antri di pintu masuk! Pintu ruang pameran dibuka sebelum jam 10, dan kami masuk ke sebuah hall yang berisi maket/model pesawat/roket yang dibuat di situ. Riku dan papanya seperti biasa, langsung antri untuk mencoba simulator… entah simulator apa. Aku dan Kai berkeliling melihat model pesawat, dan…foto-foto.

Beuh…. terus terang aku tidak mengerti! Sebal ya rasanya kalau menonton sesuatu yang kita tidak mengerti. Saat itu sih aku tidak merasa sebal karena datang ke pamerannya, tapi sebal karena tidak mengerti hehehe… bingung kan? Tapi sambil melihat sana-sini, aku berpikir, untung anakku dua laki-laki, jadi kalau diajak jalan-jalan ya ke tempat beginian. Aku masih bisa tolerir. Coba kalau anak perempuan? ayoooo bawa ke mana? Musti yang pink-pink, yang manis-manis, yang modis-modis… wuaahhh bukan gue banget! Mending disuruh anterin anak-anak ke camp atau latihan pramuka deh (meskipun terus terang aku ngga suka outdoor, padahal dulu ikut pramuka sampai penggalang loh) . Waktu aku ceritakan pemikiran ini ke Gen, dia bilang gini, “Kata siapa di keluarga kita laki-lakinya cuma 3? Kamu? ” Dengan senyum-senyum…
Iyaaaaa gue ngga feminin! Eh, tapi mungkin benar ya, teman kegiatan PTA aku ada yang berkata bahwa di kehidupan sebelumnya (Buddha kan percaya reinkarnasi) aku itu laki-laki. Hanya dengan melihat bentuk ibu jarinya. hihihi.

Kami sempat keluar dari komplek Jaxa yang luas ini untuk pergi makan sarapan, berjalan sampai ke supermarket terdekat. Lumayan deh mengisi perut kosong (dan meredam emosi! Aku emang cepat emosian kalau perut kosong… hati-hati! bagaikan singa yang siap mengaum… auuuummmmm hihihi)

Riku pergi ke suatu gedung untuk membuat pesawat model dari kertas. Yang aku rasa hebat, setiap institusi yang membuat Open House, PASTI memikirkan suatu event untuk anak-anak. Dan mereka modali cukup besar euy (Katanya gen sih, mungkin institusi antariksa yang ada beberapa di Jepang itu sedang berlomba menarik perhatian masyarakat. Karena dengan pemerintahan sekarang akan ada penghematan, jadi lembaga yang “senada” akan dijadikan satu… hehehe)

Di gedung yang sama ada juga corner kuis antariksa di komputer. Yang mengantri anak-anak saja sih… coba kalau tidak, aku mau juga tuh ikut main hahaha.Daaaannn di sini aku diberikan “goods” clear file + penggaris. Karena si papanya mau goods juga, dia ajak Riku untuk ikut kuis yang diberikan oleh salah satu staf. Lumayan bermanfaat loh kuis itu. Karena aku sendiri ngga tau jawabannya! OK, pertanyaannya gini:

1. Awak pesawat antariksa tidur di mana?
A. sambil duduk     B. tempat tidur    C: sleeping bag
Jawab : C sleeping bag yang tertempel dengan magic tape di badan pesawat
Di sini kami juga diberitahukan bahwa awak pesawat itu tidak mandi, hanya membersihkan badan dgn lap basah. Mencuci rambut juga dengan shampoo khusus

2. Berapa jarak bumi dengan space station di ruang angkasa? Aku pikir jawabannya ribuan km loh! Ternyata hanya sekitar 400 km, yaitu jarak Tokyo -Osaka!

3. Berapa berat baju astronot? A. 40 kg  B. 120 kg     C. 500 kg
Jawab B :120 kg termasuk mesin pembuat oksigen (aku salah loh, kupikir 500kg hihihi)

4. Astronot harus berada di luar space station selama 7 jam terus menerus. Nah, bagaimana mereka buang air kecil ?
A. pergi ke WC     B: masukkan ke botol   C: pampers
Jawab : C : pampers

Karena Riku bisa menjawab dengan benar semua pertanyaannya, maka dia diberi bolpen dengan karakter baju ruang angkasa. Eeeh tau-tau si Kai juga dikasih… asyik. (Emang satu keluarga pengumpul barang pembagian nih! Mumpung gratis — ngga minta loh, tapi dikasih)

Gimmick, goods serta booklet yang diberikan

Nah, karena di meja informasi utama kami dibagikan pernak-pernik, dan kertas untuk stempel, maka kami akhirnya juga berburu stempel. Katanya jika bisa mengumpulkan stempel dari semua tempat akan mendapatkan hadiah. Nah! Karena ada juga pameran di tempat yang terpisah, kami ikut mengantri naik bus ke tempat itu. Bayangkan, mereka menyediakan shuttle bus untuk mengangkut pengunjung yang mau ke tempat terpisah itu. Cukup lama naik busnya sekitar 15 menit.

Jaxa berhasil meredam suara pesawat supersonik

Di sini kami melihat bermacam ruangan untuk ujicoba peralatan, roket/pesawat. Misalnya pesawat Concorde yang supersonik itu. Karena supersonik, suara yang kita dengar hanya 2 kali, awal dan akhir, dan itu CUKUP KENCANG, kalau diandaikan seperti suara bom. Nah, para ahli di sini meneliti bagaimana caranya mengurangi suara yang terdengar, tanpa mengurangi kecepatan. Dan kami diperdengarkan perbandingannya! Benar-benar berkurang banyak, seperti mendengar debar jantung saja. Hmm peneliti itu memang hebat ya!

Ada satu lagi tempat yang menarik untuk Riku, yaitu ruang percobaan kecepatan angin. Kami bisa merasakan kekuatan angin dalam sebuah mulut terowongan. Waktu itu dicoba kecepatan angin 50km/h. Wahhh perlu tenaga kuat juga untuk bisa melawan angin ini. Waktu kutanya, maksimum berapa yang dicobakan di sini, staff menjawab maksimum 200 km/h. Waaah…

Riku mencoba flight simulator bersama papanya, aku dan Kai tunggu di taman.

Di kompleks penelitian yang terpisah ini terdapat hanggar untuk pesawat/helikopter peneliti kepunyaan Jaxa, sayang tidak boleh dinaiki …heheheh. Setelah beristirahat sebentar di kantin, kami kembali lagi naik bus ke tempat pameran utama.

mama, riku, kai di hanggar

Dan… Kai tertidur! Padahal di tempat pameran pertama itu masih banyak yang belum kami lihat. Kasihan juga Gen harus menggendong Kai dan tidak bisa enjoy. Karena masih ada waktu 1 jam sebelum ditutup jam 4, maka aku menawarkan diri untuk menunggu di mobil bersama Kai. Jadi aku juga bisa bobo deh hehehe. Biar saja mereka berdua menikmati sisa waktu. Katanya Riku bisa mencoba mengemudikan robot, lalu menerbangkan pesawat kertas dll.

Riku dan pesawat kertasnya

Mereka berdua kembali ke mobil sudah lewat dari pukul 4 dengan muka berseri meskipun capek. Si Gen berkata”Duh kalau aku bisa lahir kembali, aku ingin belajar IPA dan menjadi ilmuwan” . Hmmm memang sih aku selalu kagum dengan peneliti, dan orang pintar! Tapi untuk pintar kan tidak perlu harus menjadi ilmuwan saja hehehe. (Aku belajar IPA, tapi toh akhirnya aku tidak menjadi ilmuwan, malah nyasar di bahasa )

Sambil keluar kompleks, aku mengajak makan malam di SUSILO… namanya kan seperti Indonesia banget tuh, padahal itu adalah restoran sushi berputar, yang muraaaah sekali. TAPI tidak jadi karena ternyata penuh sekali, sampai kami tidak bisa masuk areal parkir. Dan si petugas parkir berkata begini,”Maaf, lain kali datangnya kalau sudah agak sepi. Jika tunggu di jalanan, bisa ditangkap polisis soalnya. Mohon maaf” Lohhh kapan sepinya bung, itu jam 4:30 loh! Kalau waktu makan malam pasti lebih banyak lagi yang antri. Jadi kami tidak jadi ketemu sama mas susilo, dan langsung pulang ke rumah. Dan aku terpaksa “bongkar” lemari es untuk menyulap makan malam dalam 30 menit. (padahal kalau di antariksa semua dalam tube aja tuh, ngga pake masak-masak 🙂 )

Hari ini berhasil lagi menikmati akhir pekan yang mengasyikkan, murah (gratis malah) dan menjadikan pintar…. sedikit hehehe. Bertualang di antariksa…. mungkin kelak akan lebih mudah lagi ya? Tapi seandainya anakku jadi astronot, dan harus melewatkan waktu di ruang hampa udara berbulan-bulan dengan resiko “hilang” di antariksa? hmmm parnonya keluar deh hehehe