Peringatan Tsunami

Pagi hari tanggal 22 November, Selasa, seperti biasa aku terjaga pukul setengah lima pagi. Karena aku mesti memasak nasi untuk sarapan, aku masuk dapur dan mulai beberes ini itu. Tentu sambil sesekali kembali ke komputerku untuk menyiapkan bahan pelajaran hari itu. Kira-kira pukul 5:55 pagi, aku sedang berdiri sambil melipat cucian, dan aku merasa goyang. Aneh pikirku, mungkin aku terlalu capek. Eh persis 1 menit sebelum pukul 6, pas Riku juga sudah berada di dekat meja makan bersamaku, terasa gempa yang cukup lama. Kami berdua langsung bersiap kalau gempa akan menjadi besar, sementara Gen membangunkan Kai yang masih tidur. Langsung kupasang TV, dan mengetahui bahwa telah terjadi gempa di Fukushima, dan langsung melihat ada Peringatan Tsunami. Jepang telah belajar banyak dari gempa besar di Tohoku 5 tahun lalu. Pembaca berita mengatakan, “Belajarlah dari gempa yang lalu, segeralah pergi mengungsi ke tempat yang lebih tinggi!”.

Kabarnya ketinggian tsunami hanya 1,4 meter, tapi meskipun dikatakan tidak terlalu tinggi, air pasang yang hanya sebetis pun, jika berbalik akan menghanyutkan orang. Apalagi jika air itu membawa benda-benda hanyut berbahaya. Dan diketahui bahwa gempa bumi magnitude 7,4 skala richter ini tidak memakan banyak korban.

gempa-difb

senangnya FB mengumpulkan informasi dampak gempa untuk diberitahukan kepada teman/keluarga

Tapi pengaruh gempa pagi itu cukup terasa di Tokyo. Transportasi terutama kereta banyak yang terlambat, sehingga aku harus menunggu mahasiswa datang untuk mengikuti kuliahku. Nah, saat itu, sambil menunggu aku mendapat pesan lewat inbox message, dari BANTA san. Dia menanyakan kabarku, karena mendengar bahwa ada gempa di Jepang. Waaaah aku langsung menjawab messagenya dan bahkan memulai percakapan dengannya. Sebetulnya aku sudah mendapat pesan-pesan dari keponakan dan dari dia sendiri di sosmed, tapi setiap kubalas, tidak ada kelanjutannya. Baru kali ini, aku berhasil bercakap-cakap dengannya.

Siapa Banta san? Kalau ada teman yang pernah membaca tulisan di TE ini yang berjudul Kartu Pos itu…., tentu mengenal nama Banta. Dia adalah seorang pendengar setia acara radioku (jaman aku masih penyiar radio)  yang berasal dari Aceh. Waktu terjadi tsunami di Aceh aku kepikiran dia terus, karena aku tahu dia sudah pulang ke Indonesia. Dan tulisan tahun 2008 itu dijawab oleh keponakan Banta san tahun 20014 bahwa Banta san masih hidup! Itu saja sudah membuatku lega, meskipun semua pertanyaanku lewat email tidak dijawab. Nah, pagi itu, tgl 22 November 2016, Banta san sendiri menghubungiku.

Setelah menjawab pertanyaannya soal gempa paginya, aku langsung bertanya padanya ….soal Tsunami Aceh, 26 Desember 2004, apakah dia berada di Aceh saat itu? Dan dia menjawab:

Saya di pidie.aceh.langsung mengalami dan melihatnya.anak saya umur 2′ th meninggal.adik ipar 2, dan kemenakan.1 .hampir 5 th.saya seperti orang ling lung.sekarang sudah ada pengganti 3’orang

Ah, ternyata memang Banta san di Aceh dan terkena dampak tsunami. Aku hanya bisa mengatakan turut berduka dan berharap dia tetap tegar dan kuat. Lalu tadi sore dia mengirimkan pesan.

Saya membaca tulisan diblog, saya sampai menitikkan, air mata sungguh sangat kelu,saya waktu mengingat saat tsunami, apalagi membaca tulisan kk imelda, saya membaca semua,….

Aku merasa bersalah telah membuatnya sedih lagi, teringat lagi akan peristiwa itu. Tapi berkat aku menulis di blog ini, aku bisa mengetahui kabarnya. Ini adalah manfaat yang langsung bisa kurasakan dengan menulis di blog. Meskipun akhir-akhir ini aku jarang menulis di sini, aku akan usahakan terus mencatat atau paling sedikit merekam bukti-bukti berupa foto yang kelak bisa kutuangkan dalam tulisan.

Kutulis posting ini pada hari libur di Jepang, 23 November, Kinro Kansha 勤労感謝の日 atau Labour thanksgiving day. Hari yang dingin dengan awan merebak di langit, sesekali membiarkan sinar matahari menyembul. Sambil menantikan hari esok yang diperkirakan lebih dingin lagi dengan maksimum suhu 2 derajat saja. Kai sih senang sekali mendengar kemungkinan itu 😀

Keharuan Hari Ini

Sebetulnya tidak baik memulai bulan baru dengan keharuan ya? Mestinya dengan kegembiraan 😀 Tapi benar deh, ada peristiwa-peristiwa kecil hari ini yang menimbulkan keharuanku.

Pagi hari, aku bangun pukul 6 pagi. Biasanya sih pukul 4 atau 5 , tapi hari ini molor. Mungkin karena terlalu capek, yang tertimbun dari hari-hari sebelumnya. Tidak biasanya juga, Kai terbangun pukul 6:30 an tanpa mesti aku bangunkan. Rupanya dia gelisah karena hari ini ada pelajaran olahraga di sekolahnya. Dia memang tidak suka olahraga terutama sekarang mempelajari senam matras… Kebayang sih, dulu aku juga paling tidak bisa koprol hehhee. Takut! Nah, jadi beberapa kali dia mendatangiku yang sedang mempersiapkan bahan ajar di komputer dan mengatakan, “Peluk dong….!” Aduh… aku sedang sibuk tapi…. aku tahan dan pikir kapan lagi anakku ini akan minta peluk lagi? kakaknya sekarang sama sekali tidak mau digandeng, apalagi dipeluk. Jadilah aku memeluk Kai dan menenangkannya.

Hari ini basah dan dingin. Hujan cukup deras dan pagi itu suhunya 12 derajat saja. Brrr. Aku diantar oleh Gen sampai stasiun dekat rumah. Kereta terlambat, dengan alasan ada penumpang yang sakit mendadak, sehingga seluruh kereta terlambat sekitar 10 menit. Tentu disertai permintaan maaf. Tapi ternyata aku masih beruntung! Karena ternyata jalur lain juga banyak yang terlambat! Dan satu jalur biasanya juga kupakai hari Selasa itu ternyata terlambat karena menabrak BABI HUTAN hahaha. Sampai ramai di twitter, masa sih ada babi hutan di Tokyo? 😀 (Dan ya, memang masih ada babi hutan di pinggiran Tokyo yang bersebelahan dengan hutan tentunya. Aku pernah diberi daging babi hutan oleh salah satu murid yang tinggal di Hachiouji).

Lalu waktu aku pulang kerja, sekitar jam 3 aku perlu pergi ke kantor pos. Pas saat itu Kai pulang sekolah. Dia kaget bertemu denganku di depan pintu, “Loh kok mama sudah pulang?” ah…. akhir-akhir ini jarang aku pulang sebelum dia pulang sekolah. Rasanya …sedih, lalu aku pikir, aku akan ajak dia ke kantor pos, lalu kencan berdua di restoran dekat rumah. Makan es krim kek, dessert kek. Lalu kami bersama berjalan ke kantor pos.

Setelah urusanku selesai, aku ajak dia ke resto, tapi tahu apa yang dia bilang?
“Ma… di resto itu mahal. Mending kita beli es krim di toko konbini, lalu kita makan di rumah saja. Aku juga mau cepat-cepat bikin PR. Banyak sekali PR hari ini…”
Duuuh… aku terharu karena dia memikirkan aku. Rupanya dia tahu tadi pagi aku bilang ke papanya, di dalam dompetku tidak ada uang hari ini (karena belum ambil tunai). Jadilah kami berdua ke konbini dan membeli es krim dan desert. Dan aku menikmati jalan berdua bergandengan tangan dengan anak bungsuku.

Salah satu PR Kanji Kai, huruf SHINU (mati). Dia harus membuat contoh kalimat dan dia tulis

Salah satu PR Kanji Kai, huruf SHINU (mati). Dia harus membuat contoh kalimat dan dia tulis “susah setengah mati waktu membuat PR” dan dijawab gurunya, “Wah susah ya? Tapi kamu buat PR dengan baik kok”…. dan aku geli setengah mati waktu membaca PR Kai ini 😀

Selain keharuan dari Kai, hari ini aku juga terharu waktu menerima email dari sekolah (SD Negeri) nya Kai, siang hari. Kupikir apa, ternyata isinya begini:
“Hari ini sebagai salah satu lauk makan siang, kami membuat rebusan sayuran. Rupanya ada bagian-bagian di dasar panci yang  hangus. Setelah diperiksa ahli gizi dan penanggung jawab, dipastikan bahwa tidak berbahaya, kami membagikan makanan ke kelas-kelas. Ternyata waktu dibagikan ada yang mengatakan “bau hangus” dan beberapa anak mendapat lauknya sedikit. Untuk itu kami mohon maaf, dan berusaha supaya kejadian ini tidak terulang. Kami berusaha menyediakan makanan yang sehat dan enak bagi murid-murid”

Duh, ntah kenapa aku merasa terharu. Mereka (pihak sekolah) terlihat benar-benar menjalankan tugasnya. Memang banyak juga orang tua murid jaman sekarang yang “cerewet” soal-soal sepele seperti itu (dinamakan monster parents) , tapi untunglah aku tidak seperti mereka :D. Dan waktu aku tanyakan pada Kai, dia berkata, “ngga enak, soalnya aku ngga suka” hahaha (bukan karena hangus). Memang Kai agak “pemilih” soal makanan, tapi dia tetap makan kok.

Keharuan-keharuan kecilku hari ini, dan membuatku bersyukur atas hari yang dingin ini. Tapi hatiku hangat kok menyambut bulan baru, November.

Benar atau Betul?

Pemandangan sebelum fajar benar-benar (betul-betul) indah. Indah betul!

Pemandangan sebelum fajar benar-benar (betul-betul) indah. Indah betul (benar)!  Ini diksi saya 😀

Kemarin malam, aku mendapat pertanyaan dari salah satu murid orang Jepangku.

“Sensei, apa bedanya benar dan betul? Saya tanya pada 3 orang dan selalu dijawab ‘sama’. Memang sama ya?”

Sama, tapi juga tidak sama. Pemakaian bisa saja sama, tapi mungkin perlu ada pembedaan yang mendasar. Kalau menurutku, `betul’ itu pada sesuatu yang terlihat (nyata) dan mempunyai standar. Sedangkan ‘benar’ itu lebih pada sesuatu yang tidak terlihat (kualitas/abstrak) dan kebanyakan sulit menentukan standarnya. Mungkin sama seperti kata 正解 dan 正確 dalam bahasa Jepang.

Untuk soal matematika, tentu bisa dipakai keduanya. 1+1 =2 itu ‘betul’, dan ‘benar’ sebagai lawan kata ‘salah’.

Tapi untuk pemakaian dengan kalimat lainnya, belum tentu sama.

Misalnya:

Jawaban itu betul (sesuai dengan pertanyaan). Tapi isi jawaban benar atau tidak, aku tidak berhak menentukannya.

Atau

Ya, betul Robin Hood mencuri untuk orang miskin. Tapi apakah perbuatan Robin Hood itu benar? Tergantung. 😀

Atau kalau sulit memahami hanya dengan kata ‘betul’ dan ‘benar’, kita bisa memakai penambahan awalan/akhiran.

Kebetulan tidak sama dengan kebenaran. Pembetulan juga tidak sama dengan pembenaran. Di sini terlihat bedanya kan? Lagipula kalau ‘betul’ dan ‘benar’ itu sama, tentu KBBI tidak akan membuat betul dan benar sebagai lema terpisah kan?

Memang banyak sinonim kata, kata-kata yang berarti sama. Tapi, sebetulnya tidak akan sama persis. Pasti ada bedanya meskipun sedikit. Kalau sama persis, buat apa dibuat kata lain kan?Karena itu perlu konteks kapan bisa pakai kata x atau kapan bisa pakai kata y.  Untuk orang Indonesia mungkin bisa membedakan dengan ‘perasaan’ 😀 tapi bagi orang asing yang sedang belajar bahasa Indonesia, perlu ada penjelasan yang lebih detil untuk pembedaan kata-kata yang dikatakan ‘sama’. Dan jangan cepat-cepat berkata: “Oh itu sama!” karena itu akan memperlihatkan bahwa kamu tidak mau berpikir dan menjelaskan hehehe. Juga usahakan untuk memakai kata yang tepat dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari.

Sebagai penutup, saya akan mengatakan, “Betul, saya blogger. Benar, saya blogger. Tapi saya blogger benar atau tidak, saya tidak tahu :D. Karena akhir-akhir ini saya sering absen menulis di blog ini. Tapi saya akan menegaskan sekali lagi bahwa betul, saya akan berusaha ngeblog terus sampai mati :D”

Selamat Hari Blog Nasional, 27 Oktober 2016!

Dan ternyata aku cukup rajin menulis pas hari Blog Nasional di tahun-tahun yang lalu 😀

 

Hari Blogger?

Rasa Bangga

HP untuk Anak-anak

Orang tua bodoh = Bangga

Jangan Menyamakan Semuanya

Kemarin  malam aku merasa bahagia. Sederhana saja sebenarnya.

Kemarin Kai pergi karya wisata bersama teman-teman satu angkatan. Memang setiap tahun sekolahnya (negeri) mempunyai program dengan mengajak satu angkatan pergi ke luar sekolah. Kelas satu dan dua pergi ke tempat yang dekat saja, dan tahun lalu (kelas 2) Kai demam sehingga tidak bisa ikut. Tahun ini mereka pergi ke daerah Saitama yang terkenal dengan higanbana, bunga berwarna merah. Sudah sejak seminggu sebelumnya Kai mempersiapkan sendiri apa saja yang mesti dibawa. Sehingga benar-benar meringankan tugasku. Tugasku hanya menyiapkan bekal di pagi harinya.

Karena sangat capek mendaki bukit, Kai tidur lebih cepat. Tapi sebelumnya, dia minta untuk tidur bersama aku, di sebelahku sebab malam sebelumnya dia mimpi buruk. Karena akupun capek, aku juga leyeh-leyeh di tempat tidur, dan tak lama Gen juga masuk kamar. Daaaan…. aku mulai ngedumel soal perkuliahan. Karena tahu kami masih bangun, Riku masuk kamar kami dan bertiga leyeh-leyeh di tempat tidur. Tentu sambil mendengarkan aku yang sedang ngedumel hehehe.

Apa sih kekesalan aku sebenarnya?
Ini merupakan kekesalan seorang dosen terhadap sikap mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Waktu aku datang 24 tahun lalu, aku cukup kaget melihat sikap mahasiswa Jepang dalam perkuliahan, terutama jika kuliah itu diikuti oleh 50 orang lebih. Ya, mereka sering tidur!

Waktu aku masuk UI dulu, aku juga sering heran melihat sikap mahasiswa yang amat sangat berlainan dengan sikap murid di SMA asalku. Doooh waktu SMA kami benar-benar disiplin dan harus menghormati guru deh. Di UI pun aku mengikuti beberapa kuliah di ruangan besar, tapi tidak ada yang tidur deh sepertinya. (Atau aku saja yang tidak lihat?)

Anyway, jadi aku sudah tahu bahwa mahasiswa Jepang suka tidur di kelas. Alasannya macam-macam, ada yang capek karena mesti bekerja sampai malam. Atau memang tidak berminat mengambil mata kuliah itu tapi merupakan kuliah wajib ambil.

Aku mempunyai satu kelas yang pesertanya sampai 70 orang. Berat sekali mengendalikan kelas ini, yang sudah tiga tahun aku jalani. Pengaruh smartphone terhadap perkuliahan itu amat besar, seperti yang sudah kutulis di sini. Tapi akhir-akhir ini aku merasa kondisi menjadi lebih parah. Biasanya jika aku menyuruh mahasiswa membaca dan ketahuan dia tidur, tapi kalau dipanggil namanya, pasti bangun dan berusaha mencari bagian mana yang dia mesti baca. Mahasiswa itu akan merasa “malu” ketahuan tidur. Tapi sekarang, rasa malu itu sudah tidak ada 🙁 Bahkan waktu aku menyuruh menjawab soal, yang jawabannya pun ada di halaman yang sama, tidak bisa! Tidak usaha sama sekali! Duh!

Yang paling menyebalkan, kejadian waktu pokemon go dirilis di Jepang. Pas hari itu aku mengadakan ujian akhir. Open book, satu jam saja. Tapi kalau sudah selesai, boleh kumpulkan dan keluar. Daaaan ada satu mahasiswa yang mengumpulkan di menit ke 30. Kupikir dia pasti pintar, tapi waktu kulihat lembar jawabannya, hanya setengah yang diisi. Ternyata waktu pulang, aku melihat dia dan teman-temannya sedang main pokemon go! So, dia sama sekali tidak berusaha mengisi semua ujiannya, dan yakin dia pasti akan dapat sksnya meskipun dengan nilai pas-pasan!

Suamiku juga bekerja di bidang yang sama, pendidikan. Dan menurutnya, mahasiswa jaman sekarang  tidak mempunyai lagi “keinginan untuk maju”. Yang aku namakan dengan tidak mempunyai “alert” terhadap bahaya. Bahaya bahwa kamu tidak bisa dapat pekerjaan! Kelihatannya mahasiswa Jepang bersekolah di universitas hanya untuk memenuhi keinginan orang tua. Toh orang tua yang bayar! Tidak perlu lah dapat nilai bagus, nanti juga dapat pekerjaan. Bahkan, ada kecenderungan beberapa orang mahasiswa laki-laki yang merasa cukup, jika dia bisa bekerja menjadi “tukang bangunan”, seperti tukang cat, tukang semen dll. Bukan, bukannya aku merendahkan pekerjaan itu, tapi kok tidak punya keinginan untuk “lebih” dari yang lain ya? Jepang sudah terlalu lama berada dalam “kedamaian” mungkin ya?

Kesimpulannya, aku akan lebih “galak” lagi, dengan memberikan ancaman-ancaman jika tidak memenuhi syarat akan kuminta tidak usah datang saja ke kuliahku, karena aku tidak akan “memberikan” sks.

Nah, yang membuatku bahagia malam kemarin itu, Riku ikut mendengarkan dan berdiskusi dengan kami soal “mahasiswa yang tidak belajar” itu. Baru kali ini kami terlibat pembicaraan serius yang cukup lama. Sampai aku baru sadar setelahnya, bahwa dia BARU kelas 2 SMP, karena gaya bicaranya yang cool 😀

Katanya, “Memang aku juga banyak mendengar dari guru-guru di bimbel bahwa murid SMA dan mahasiswa sekarang ini kurang belajar. Tapi murid SMP nya lain loh. Murid SMP yang aku lihat itu mereka belajar loh. Mereka berusaha menjadi yang terbaik. Memang dibilang bahwa murid SMA dan mahasiswa sekarang menjadi bodoh karena pakai smartphone. Tapi jangan samakan mereka dengan murid SMP ya, karena kami TIDAK punya smartphone yang bisa dibawa ke sekolah (memang tidak diperbolehkan, sedangkan SMA dan univ tidak ada larangan). Kami pakai smartphone pun di luar jam sekolah. Menyebalkan sekali jika kami disamakan dengan mereka!”

Ya, ya…. memang tidak boleh menyamakan semuanya. Karena sebetulnya kemarinnya lagi, aku baru saja memulai satu kelas baru di universitas yang lain. Muridnya 35 orang. Memang aku lihat ada 2-3 orang yang ngantuk-ngantukan, tapi secara keseluruhan mereka bisa menunjukkan kecerdasan mereka. Apalagi ternyata hampir setengahnya sangat fasih berbahasa Inggris. Kepalaku sampai pening memakai tiga bahasa, Jepang, Inggris dan Indonesia  dalam tiga jam hahaha.

Yang penting, semoga anakku tidak seperti mahasiswa yang malas-malasan itu deh 😀 dan semoga dia bisa menemukan bidang yang disenangi untuk diselami lebih dalam di universitas.

*dongeng perkuliahan*

Jika Asap Masuk ke Matamu

apa yang akan terjadi? Ya pastilah akan matamu akan berair ya? Air mata memang diciptakan untuk menghapus semua “rintangan” yang masuk ke mata.

Aku jarang sekali mengungkapkan perasaanku yang terdalam di blog ini. Tapi hari ini sepertinya aku harus menuliskannya.

Tadi pagi aku bangun jam 6 pagi. Masih mengantuk karena semalam tidur jam 1, dan malam sebelumnya tidur hanya 3 jam. Biasanya, aku menghapus kekurangan tidur di dalam kereta perjalanan kerja, tapi kemarin aku jarang bisa dapat tempat duduk dalam kereta. Aku masih belum “ahli” untuk tidur sambil berdiri 😀

Jadi, tadi pagi, setelah anak-anak dan suami pergi, jam 8 pagi… aku jemur cucian, lalu menuju tempat tidur. Ingin membayar tidurku paling tidak 1-2 jam. Tapi sekitar pukul 9:15 aku terbangun. Oleh mimpi….. 🙁

Aku bermimpi, aku berada di rumah ala Jepang, rumah tua, dengan pintu halaman terbuat dari kayu yang tinggi. Hujan lebat, pintu terbuka… Di luar pintu aku melihat tanjakan semen yang mengalirkan air… masuk ke dalam halaman rumah. Ah! Pasti akan kebanjiran. Aneh juga rumah ini yang lebih rendah dari jalanan, pikirku. Lalu kututup pintu untuk menghalangi air masuk. Kemudian aku berbalik menuju teras rumah, tanpa payung, sambil memandang ke bawah, jalan setapak menuju teras. Sepanjang jalan dan teras itu penuh dengan tanaman di kanan-kirinya. Ah ini pasti karena aku sering baca “Dapur Hidup”nya mbak Ni Made nih….

Tapi di sebelah kiri, di belakang sebuah tanaman gantung, aku melihat setengah badan dari pinggul ke bawah. Aku tahu itu alm mama 🙁  (Mama tidak pernah memperlihatkan mukanya dalam mimpi, tapi aku sadar dan merasa kehadirannya). Lalu aku berkata, “Mama biarkan aku memelukmu”. Dan aku peluk…erat sekali…. dan aku terbangun. Setelah sadar, aku tahu aku kangen mama! Aku rindu sekali. Sudah 4 tahun mama pergi, tapi baru kali ini aku bisa merasakan memeluk mama yang eraaaat sekali meskipun dalam mimpi. Dan aku teringat peristiwa suatu malam kira-kira 2 tahun sebelum mama meninggal. Aku dan mama berpelukan erat sekali, di kamarnya. Tanpa bicara dan hanya bisa menangis. Aku dan mama tahu, moment seperti ini mungkin tidak akan terulang kembali. 

Aku memang sudah 24 tahun berpisah dari keluarga dan tinggal di Jepang, tepat tanggal 23 September yang lalu. Dan sekarang aku menjalani tahun ke 25 aku berada di Jepang.  Aku pun tahu bahwa aku bukan anak yang suka “lendotan” nempel pada orang tua (atau orang lain). Mungkin karena aku anak pertama, aku juga tidak pernah merasa takut melangkah, meskipun aku akan menangis terus di dalam hati jika harus berpisah dengan orang yang kusayangi. Separuh hidupku sudah kulalui di perantauan ini. Dan akan terus bertahan… di mana saja aku harus berada. Sama seperti mama yang juga bisa kuat berpindah-pindah tempat tinggal.

Pagi ini aku merasa perlu mengingat mama yang mungkin sedang memikirkanku juga di sana. Aku ingat mama yang suka berkebun dan merawat tanaman apa saja. Dia tahan berlama-lama memberikan siraman tanaman seadanya di sekitar rumahku. Aku ingat mama yang suka sembunyi-sembunyi makan nasi sederhana, nasi dengan sekotak kaldu Bouillon dan air panas dengan sambal…. mirip ochazukenya di Jepang, atau nasi dengan emping dan kecap manis saja. Aku yang kerap memergokinya, melihatnya makan enaaaak sekali, selalu meminta suapannya. Mama begitu sederhana, selalu tanpa make-up meskipun punya kosmetik yang mahal-mahal. Seakan memakai make up itu beban baginya. Dan aku selalu membujuknya untuk memberikan kosmetik itu padaku saja 😀

Ah, aku merasa memang aku harus sekali-sekali menyisihkan waktu untuk mengingatnya. Proses mengingat masa lalu yang selalu aku hindari karena aku takut menjadi sedih dan menangis. Tapi ternyata perlu juga ya menjadi sedih itu ya 😀 Karena dengan membuat waktu seperti itu aku justru bisa merasakan kehangatan “pelukan” mama. Dan aku bisa menuliskannya di sini….

Aku beranjak dari bantal yang basah, merasa bahwa aku harus mulai bekerja lagi. Sambil bernyanyi lagu yang disukai mama yang pernah dinyanyikannya, dulu, waktu kami mempunyai mesin karaoke di rumah di Jakarta.

Smoke Gets in Your Eyes!

They asked me how I knew
My true love was true
I of course replied something here inside
Cannot be denied

They said someday you’ll find
All who love are blind
When your heart’s on fire you must realize
Smoke gets in your eyes

So I chaffed them and I gaily laughed
To think they would doubt our love
And yet today my love has gone away
I am without my love

Now laughing friends deride
Tears I cannot hide
So I smile and say when a lovely flame dies
Smoke gets in your eyes

 

NB: konon “When your heart’s on fire smoke gets in your eyes” adalah peribahasa dari Rusia.

Mai Mama

Aduh maaf…. sudah lama blog ini ditelantarkan. Kebetulan baru kemarin membuka dan membaca sebuah email dari “silent reader” TE, bernama Olivia. Jadi aku teringat bahwa sudah lama tidak menulis hehehe. Terima kasih banyak ya Olivia, dan semoga aku mulai rajin lagi menulis 😀

Pasti bingung membaca judulnya ya…. Mai Mama. Sebetulnya dalam bahasa Jepang, anak tersesat disebut 迷子 MAIGO, dan itu biasa dong kalau anak tersesat dan terpisah dari orang tuanya semisal di keramaian. Tapi kali ini aku ingin cerita bahwa aku yang tersesat, sehingga timbullah istilah Mai Mama 迷ママ di keluarga kami.

Ceritanya, waktu liburan musim panas lalu, anak-anak beberapa kali pergi ke perpustakaan dekat rumah. Mereka memang sudah mempunyai kartu perpustakaan di situ, dan sering pergi dengan papanya. Aku sendiri belum pernah ke sana. Biasanya papanya mengajak anak-anak ke perpustakaan sekaligus bermain ke taman, atau pergi ke pemandian umum (sento) justru untuk membiarkan aku sendiri di rumah melewati “me time” (yang biasanya kupakai untuk beberes malahan hahaha).

Nah beberapa hari setelah libur musim panas berakhir, anak-anak harus mengembalikan buku pinjaman dan Kai harus membuat kartu perpustakaan baru karena kartunya hilang. Padahal Riku ada pelajaran bimbel sehingga tidak bisa menemani Kai. Jadilah aku menawarkan diri pergi bersama Kai. Kami berdua naik sepeda menuju perpustakaan itu, yang ternyata cukup jauh. Kai di depanku sebagai penunjuk arah.

Tapi…. karena jalanan menurun, dia melesat jauh meninggalkanku. Aku sempat melihat dia berbelok, tapi waktu kumasuki jalan itu, dia sudah tidak ada. Aduh pasti dia belok lagi ke jalan kecil-kecil… tapi yang mana? Cepat-cepat aku buka GPS di iphoneku dan mencari letak perpustakaan itu. Ternyata aku keterusan, sehingga aku berbalik dan menuju perpustakaan itu. Dan… Kai (dan sepedanya) tidak ada! Nah loh!

Aku sempat masuk ke perpustakaan dan mencari dia, tapi tidak kutemukan. Langsung kupikir… Kai pintar, jadi dia pasti kembali ke rumah! Cepat-cepat aku menelusuri jalan yang sama kembali ke rumah. Sempat termegeh-megeh (bahasa Indonesianya ; terengah-engah!) karena tanjakan (kalau ada turunan, pasti baliknya tanjakan kan huhuhu). Aku juga tahu bahwa Kai tidak membawa kunci rumah. Tak lama aku lihat dari kejauhan Kai yang bersepeda kembali ke arahku, sambil menangis!

Begitu dia lihat aku,”Mama di mana? Aku cari mama…. kok tidak ada. Jadi aku kembali ke  rumah. Tapi lihat di parkir sepeda juga tidak ada. Jadi aku kembali lagi”
“Maaf Kai…. tapi Kai pintar. Lain kali tunggu saja di perpustakaan ya. Kan mama punya HP, jadi bisa cari letak perpustakaannya di mana”
“Iya sih… tapi aku kan panik lihat mama tidak ada. Aku pikir mama MAIGO! ….eh tapi mama bukan Kodomo (anak-anak) jadi Mayoi mama ya….”
“Hahaha.. iya Mai Mama!

Lalu sambil tertawa kami menuju perpustakaan dan mengurus kartu peminjaman yang baru. Setelah itu Kai bilang,
“Mama, pulang ya. Aku capek! Bukan capek badan, tapi capek hati. Karena aku khawatir sekali tadi mama kok tidak ada”
“Iya, kita langsung pulang saja. Nah begitu deh perasaan orang tua kalau anaknya hilang. Sama. Dan dulu waktu Kai kecil, Kai sering nyasar sendiri, meninggalkan kita. Tahu-tahu mama dengar tangisan. Mama hafal suara Kai, jadi mama tahu Kai ada di mana….”

Seperti yang kutulis di posting sebelumnya, Kai memang sudah ‘dewasa’ untuk ukuran 9 tahun. Dia yang paling memperhatikanku, kalau aku batuk, atau sakit. Dia selalu berkata, “Mama jangan sakit, jangan mati ya…. Kai tidak bisa kalau tidak ada mama!”.
Dan ya, akhir-akhir ini dia sering menangis kalau aku godain (aku memang suka iseng sih). Dia cepat tersinggung, karenanya sekarang aku juga harus hati-hati kalau bercanda dengannya.

Hmmm susah deh 😀 (ucapan mama yang nakal sambil nyengir) hehehe

Akhirnya mau difoto karena aku janji pinjamkan iphoneku. Sekarang sudah susah ambil foto Kai karena dia menolak terus!

Akhirnya mau difoto karena aku janji pinjamkan iphoneku. Sekarang sudah susah ambil foto Kai karena dia menolak terus!

 

Sembilan

Sembilan adalah sebutan angka bahasa Indonesia, yang paling sulit dihafal oleh Kai. Jadi setiap dia ditanya, “Umur berapa?” Dia pasti melihat padaku… “Apa aya?” …”Sembilan!” “Iya ituuu…”

Memang dia baru saja menjadi usia sembilan tahun, tanggal 16 Juli lalu (wih tepat sebulan lalu ya… terlalu sibuk nih.). Kebetulan jatuh pada hari Sabtu, dan papanya libur (ambil libur), jadi bisa kami rayakan bersama. Kasihan Kai sebetulnya karena ulang tahun kali ini, aku sibuk sekali dan tidak merencanakan membuat apa-apa, atau memesan tempat di restoran atau apa gitu. Yang aku sempatkan hanya membeli ice cream cake sehari sebelumnya, sehingga pada pagi hari ulang tahunnya, dia bisa tiup lilin. Setelah tiup lilin itulah, baru kami bingung… makan di mana? Memang seperti biasanya kami akan pergi ke Yokohama ke rumah mertua, tapi masak kami tidak memikirkan “pesta kecil” sama sekali? Terlalu deh.

Akhirnya sekitar pukul 9, Gen mengajak pergi ke restoran Zauo, di Yokohama, restoran yang biasanya kami pergi kalau Riku ulang tahun. Resto dengan konsep memancing sendiri, kemudian dimasakkan saat itu. Kai sebetulnya mau ke resto ini, tapi aku yang tidak begitu mood ke situ karena… mahal hahaha. (Mahalnya karena semua ikan yang dipancing harus dimakan, sedangkan anak-anak maunya mancing terus!)  Tanpa pesan tempat, kami janjian langsung di restonya, pukul 11:30 karena memang waktu bukanya jam segitu. Untung saja sekitar pukul 10:30 -an aku menyempatkan diri menelepon untuk pesan tempat dan bisa! Yeah…

Kami tidak naik mobil pribadi, karena memang mobil kami waktu itu sudah tidak ada asuransinya. Belum sempat diperpanjang! Jadi kami naik kereta dan taxi ke sana. Untungnya, dengan naik kereta, Gen bisa minum alkohol hehehe. Kai tentu saja sangat senang karena memang dia ingin ke resto ini. Apalagi dia mendapat hadiah ultah dari tante Titinnya, DVD Boruto, anaknya Naruto 😀

the birthday boy

Apa yang berubah dari Kai begitu usia 9 tahun? Dia langsung mau menginap di rumah kakek-neneknya sendiri! Biasanya dia selalu nempel denganku, “tidak bisa tidur kalau tidak ada mama!”… dan hari itu, dia minta untuk nginap sendiri. Huhuhuhu… yang nangis mamanya, bukan Kai 😀

Dan memang sejak itu dia tidak mau lagi dicium-cium mamanya. Yaaah anakku sudah gede 🙁

Dan sesudah menginap di rumah kakek-neneknya sendiri, Dia juga sudah pergi 4 hari hanya dengan papanya ke Miyazaki (sebelah selatan Jepang) untuk mengikuti “Summer Camp” dan malam kemarin juga menginap di Yokohama lagi, sendiri tanpa kami.

Well, aku sudah harus bersiap melepas ke dua anak laki-lakiku yang semakin lama semakin dewasa tentunya….

Father’s Day

Secara internasional, hari Minggu yang lalu adalah Hari Ayah atau Father’s Day. Memang biasa dirayakan pada hari Minggu ke-3 bulan Juni, sebagai “penyeimbang” Mother’s Day yang jatuh pada hari Minggu ke-2 bulan Mei.

deMiyashita hari Minggu itu sibuk! Tapi masih bisa merayakan Hari Ayah ala kadarnya. Pagi kami bergegas ke gereja naik taxi, karena mobil kami sedang tidak bisa dipakai. Nah, kalau naik taxi atau mobil, biasanya kami sampai 10 menit sebelum misa dimulai (8:50) dan itu menurutku waktu yang cukup tepat. Karena kita bisa mempersiapkan diri dulu sebelum misa dimulai, termasuk masih bisa ke WC dulu :D. TAPI tidak bagi anak-anakku! Karena mereka malas disuruh menjadi petugas misa (payah deh! :D). Memang sih menjadi petugas misa tanpa persiapan (hanya 10 menit sebelum dimulai) itu menegangkan. Mereka takut salah. Jadi biasanya aku menyuruh mereka menunggu di lobby gedung gereja saja. Aku dan Gen masuk gereja duluan dan menuju tempat duduk yang kami biasa duduki.

Tapi waktu aku masuk, aku melihat petugas di meja masuk (di gereja kami biasanya ada dua petugas meja yang membantu peserta misa baru,  atau membukakan pintu, membantu kelancaran misa) hanya satu orang. Jadi aku berkata pada Gen bahwa aku akan membantu menjadi petugas misa (meskipun bukan giliran aku). Kasihan juga sih Gen duduk sendiri, tapi ntah kenapa aku ingin membantu. Tapi di tengah misa, kami berdua juga dikejutkan oleh Riku yang menjadi pembaca Injil kedua :D. Rupanya dia disuruh membaca karena tidak ada lagi murid SMP yang lain saat itu. Untung saja bacaannya pendek hehehe. Dan kami berdua bangga meskipun mendadak, Riku bisa membaca tanpa salah dan jelas pengucapannya.

Misa selesai, anak-anak mengikuti Sekolah Minggu dan aku serta Gen berjalan ke arah stasiun. Gen memotong rambut, sedangkan aku langsung naik kereta ke akademi bahasa tempatku bekerja. Aku harus memberikan sampel kuliah kepada calon mahasiswa (murid SMA) yang berminat masuk ke college itu. Termasuk kegiatan promosi dalam Open School akademi bahasa itu. Aku harus berada di situ sampai pukul 4:30! Duh lama 😀 (dan ternyata dari jam 9 pagi sampai jam 3 siang aku berdiri terus! Pantas kakinya pegal :D)

Film Laut Bercermin di Iwanami Hall

Sedangkan Riku harus pergi ke tempat juku, bimbingan belajar, dari pukul 1 siang sampai pukul 6 sore. Karena hari Seninnya dia masih harus mengikuti test. Nah, tinggal papa Gen dan Kai yang tidak ada kegiatan. Jadi sementara aku berada di akademi bahasa, mereka berdua menonton film Indonesia di Iwanami Hall, yang memang letaknya dekat dengan akademi yang aku tuju. Sudah lama Gen ingin menonton film ”Laut Bercermin” yang disutradarai Kamila Andini. Film ini pernah ikut dalam Tokyo International Film Festival tahun 2011, tapi  saat itu Gen tidak bisa pergi. Dia mengajak aku menonton, tapi waktunya selalu tidak pas, selain aku juga tidak begitu senang menonton film. Kebetulan isi ceritanya masih bisa dimengerti anak-anak, dan Kai termasuk hobi menonton. Dan pasti mereka bisa menikmati keindahan pulau Wakatobi yang menjadi latar belakang cerita ini. Cocoklah mereka berdua pergi ke sana 😀 “hadiah” Father’s Day dari Kai untuk papanya, yaitu menemani papa menonton!

Makan malam bersama di Yamauchi Noujou

Setelah film selesai, Gen dan Kai menjemput aku, lalu kami bertiga pulang dan janjian dengan Riku makan malam di sebuah restoran khas Kagoshima. Namanya Yamauchi Noujou 山内農場, menyediakan makanan dengan bahan-bahan asli dari prefektur Kagoshima. Prefektur ini terkenal dengan produk ayam, hasil laut dan minuman Shochu. Sudah lama rasanya kami tidak makan berempat begini dengan santai. Dan tentu saja kesempatan untuk Gen minum alkohol karena dia tidak menyetir mobil. Father’s Day kami rayakan di resto ini menutup satu hari Minggu yang penuh dengan aktifitas.

makanan dengan bahan asli dari Kagoshima. Enak-enak semuanya, terutama karena mereka menyediakan juga Yuzu (sejenis jeruk) paste yang kusuka

NB: Film Laut Bercermin itu menceritakan pencarian ayah yang hilang, dan Gen&Kai menonton pas Hari Ayah, tapi kok tidak ada potongan harga khusus ya? Terutama untuk ayah 😀 (biasanya ada hari tertentu “Ladies Day” kan? hehehe)

Kartu Telepon

Masih ingat tentang Kartu Telepon?

Kartu telepon itu dipakai untuk menelepon waktu kita memakai telepon umum!

Wait! Telepon umum? Duh mel… memangnya masih ada telepon umum? Sekarang jamannya semua pakai HP atau telpon pintar a.k.a smartphone mel! Jadul tuh!

Eits, asal kamu tahu ya… di Jepang MASIH ADA telepon umum! Terutama dekat stasiun, atau dekat toko konbini yang terletak di daerah ramai.

Masih… masih… dan masih AMAT SANGAT BERGUNA, karena beberapa waktu yang lalu ada murid perempuan yang BERHASIL lari dari penculiknya setelah 2 tahunan disekap. Dia menelepon polisi pakai telepon umum. Jadi meskipun tidak ada uangpun, ada tombol di situ untuk menghubungi polisi gratis loh (di Jepang). Akhirnya si penculik tertangkap, dan si anak kembali ke orang tuanya.

Dan sebetulnya aku mau menulis tentang kartu telepon ini karena tadi pagi Riku minta kartu telepon kepadaku. Jadi dia minggu depan akan semacam KKN (kuliah kerja nyata), atau istilah keren di universitas itu INTERNSHIP, masuk bekerja ke kantor untuk mengamalkan ilmunya, sebelum bekerja benar. Tapi istilah untuk anak SMP adalah SHOKUBA TAIKEN 職場体験, mencoba bekerja, dan merupakan kurikulum untuk kelas 2 SMP. Memang masuk kurikulum, karena wajib belajar itu hanya SD dan SMP. Ada kemungkinan selepas SMP murid-murid ini harus langsung bekerja, tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itu perlu dibekali pengetahuan untuk bisa dipakai waktu bekerja, dan salah satunya adalah Shokuba taiken ini. Si murid sebelumnya ditanya dulu minatnya apa. Dan kupikir Riku akan memilih perpustakaan, ternyata tidak atau perpustakaan jadi nomor-nomor terakhir (ada beberapa pilihan dari nomor 1 sampai 6). Alasannya : “Abis pilihannya perpustakaan dan taman kota… males ah kalau dapatnya taman kota, nanti disuruh nyapu aja. Ngga ketemu orang. Aku kan mau ketemu orang…. (wah baru tahu dia berminat bekerja seperti itu)” Daaaan, waktu kubaca pilihan pertamanya adalah SD…. wow…. berarti dia ada minat jadi guru? hehehe

OK, jadi dia perlu kartu telepon itu karena hari ini dia harus mengunjungi SD tempat dia akan “bekerja” untuk menanyakan persiapan-persiapan yang diperlukan (seperti pakai baju apa, datangnya jam berapa dll). Dan seandainya ada apa-apa mungkin dia perlu menelepon kepala sekolah SD itu diluar jam sekolah. Dia mungkin harus menelepon dari telepon umum SMP, dan untuk itu dia perlu membawa kartu telepon. Karena MURID SMP TIDAK BOLEH BAWA UANG (baik uang kertas/uang koin) tanpa ijin. Mereka BOLEH membawa kartu telepon atau kartu bus/prepaid card.

Memang kepala sekolahnya waktu orientasi pertama kali di SMP sudah mengatakan hal ini, jadi kami orang tua sudah tahu. Meskipun waktu orientasi lagi setelah Riku kelas 2, April kemarin, Kepsek menyatakan kebingungannya untuk mempertahankan telepon umum yang dipasang depan kantor guru di sekolah, karena pihak NTT mau mematikan saluran telepon umum itu. Katanya, “berkat kerja sama orang tua dan murid, semakin lama murid yang lupa membawa barang dan menelepon orang tua semakin sedikit, sehingga jarang ada yang pakai telepon umum. Jadi pihak NTT merasa rugi” hahaha… di satu pihak rugi, tapi di satu pihak menunjukkan keberhasilan pendidikan sekolah untuk membuat murid-murid MENGATUR diri sendiri, yaitu dengan mempersiapkan semua kebutuhannya sendiri, dan TIDAK LUPA pada tugasnya.

Jadi deh,  aku membongkar lemariku, karena aku tahu aku simpan kartu-kartu dalam satu kotak di lemari. Dan benar saja, aku masih punya beberapa kartu telepon yang masih baru, belum dipakai. Dan aku berikan satu pada Riku untuk dibawa. Sambil mencari kartu telepon yang maish bisa dipakai, aku bernostalgia melihat koleksi kartu-kartu yang kupunya. Selain kartu telepon, ada kartu prepaid bus, kartu abonemen kereta waktu aku mahasiswa, kartu nama, kartu mahasiswa, kartu IO dan orange yang merupakan prepaid untuk kereta waktu kartu prepaid dengan chip belum ada. Kartu teleponnya juga banyak bergambar bagus-bagus, terbanyak memang kartu telepon Jepang, tapi terselip juga kartu telepon Indonesia dan Singapore. Ada juga kartu telepon dari stasiun TV/radio yang aku pernah bekerja/muncul di acaranya. Natsukashiiiii…. 懐かしい.

Dan aku teringat ada beberapa teman yang dulu koleksi kartu-kartu telepon bekas. Sekarang mereka kemanakan kartu-kartu koleksinya ya? Aku sih masih akan simpan yang bagus gambarnya atau menyimpan kenangan. Oh ya, sebetulnya ada satu lagi KEGUNAAN kartu-karti telepon bekas itu bagi para ibu loh… Aku kasih tahu ya 😀

Jika memasak, kadang ada sisa makanan nasi/gosong yang menempel pada dasar panci yang sulit untuk dicuci. Kadang harus direndam dulu. Tapi dengan menggosokkan kartu telepon, biasanya gosong itu bisa terangkat dengan mudah. Coba deh 😀 😀 😀 (Ya kalau bisa sih jangan sampai gosong ya hehehe).

Ada kegunaan lain? 😉

berbagai kartu koleksiku 😀

 

YEAY….. posting pertama dalam bulan JUNI, setelah Mei kemarin tidak smepat membuat satu postingan-pun…padahal banyak yang bisa ditulis huhuhu. Nanti dirapel deh 😀 (ngga janji juga hahaha)