Guru dan Murid

Seminggu yang lalu sebuah kapal pesiar di Korea tenggelam. Di dalamnya sekitar 200 murid SMA yang menumpang kapal itu untuk berwisata bersama sekolahnya ikut tenggelam. Hampir semua murid tidak ditemukan dan belum dipastikan apakah hidup atau mati. Ada seorang guru pria dari sekolah itu yang dapat hidup diselamatkan, tapi beberapa hari setelah itu dia kemudian bunuh diri karena tidak tahan mengetahui murid-muridnya menjadi korban. Bunuh diri memang tidak diperbolehkan oleh agama kita, namun keputus-asaan guru itu sangat bisa dimengerti. Bagi seorang guru yang baik, murid adalah anaknya. Anak didik yang dititipkan orang tua, untuk diberikan pengetahuan yang cukup sesuai levelnya. Keselamatan seorang anak didik juga menjadi perhatian dari semua guru… saya rasa begitu.

Sebagai orang tua, kita sering menyalahkan guru, atau jika tidak berpikir negatif, kita “menilai” guru itu. Mudah sekali kita katakan “Ah guru itu bodoh…” atau “Guru itu tidak bagus”, padahal mungkin hanya salah memilih cara penyampaian. Setiap anak punya karakter, setiap kelas juga punya karakter tersendiri.

Seperti aku dalam mengajar selama 14 tahun di sebuah universitas, belum pernah aku marah penuh emosi, tapi tahun ini sejak mengajar pertama aku sudah marah, memarahi 3 mahasiswa yang berbicara cukup keras dalam kelas, sementara teman-temannya mendengarkan pelajaranku. Langsung…dengan emosi aku katakan, “Kalau mau berbicara silakan di luar saja. Kalian mengganggu teman yang mau belajar.”  Dan kelas berjumlah 60-an orang itu akhirnya sepi. Tapi perkataan yang sama mesti aku katakan minggu berikutnya, sampai aku tambahkan, “Saya tidak marah kalian mau tidur di kelas, atau main dengan HP. Silakan… selama kalian tidak mengganggu, saya perbolehkan!” Kelas yang cukup sulit…..

Tapi aku bisa menangkap pengalaman lucu yang dialami gurunya Kai, di kelas satu. Waktu pertemuan dengan orang tua murid, dia bercerita tentang jalannya pembelajaran selama seminggu itu. Sambil tersenyum dia menceritakan kelucuan anak-anak yang seminggu sebelumnya masih anak TK! Pertama kali anak-anak ini berada di sebuah “organisasi” yang lebih kaku daripada di TK. Setiap tindakan di dalam kelas itu pertama kali mereka lakukan. Seperti waktu makan bersama, tangan-tangan kecil ini belum bisa membuka karton susu dengan baik. Terpaksa guru lepas yang berada di sekitar kelas, membantu membukakan karton. Ya, di TK mereka minum susu yang sudah dituangkan ke dalam gelas mereka oleh senseinya, sedangkan di SD mereka sendiri yang harus melayani teman-temannya. Mereka tidak biasa dan tidak bisa membukanya. Di rumahpun biasanya ibunya yang membukakan. Tapi namanya anak-anak, mereka cepat belajar dan keesokan harinya mereka bisa menyelesaikan masalah “buka-membuka” karton susu sendiri, tanpa bantuan guru.

Kebiasaan di TK pun masih dibawa. Sedikit-sedikit laporan kepada gurunya, “Sensei, si XXX tidak bisa minum susu loh, tapi dia coba sedikit dan bisa…” “Sensei, kemarin si XXX cuma segini, tapi hari ini bisa setengah gelas loh” Mungkin karena dukungan teman-temannya, si XXX ini berusaha untuk bisa minum susu. Atau “Sensei, si YYY mukanya pucat. Kelihatannya dia sakit” Dan benar, dia terpaksa dibawa ke Ruang P3K. Gurunya Kai sambil menceritakan hal ini tersenyum dan kelihatan dia menikmati kepolosan anak-anak ini. Katanya dia sudah tahun ke empat mengajar di SD itu, dan tahun pertama mengajar kelas 1, tapi sesudah itu mengajar kelas yang lebih tinggi. Sehingga dia bisa bernostalgia mengenang kembali pengalamannya waktu pertama kali mengajar kelas 1.

Guru memang seharusnya menikmati proses pembelajaran, begitupun murid. Aku mengajar sudah hampir 24 tahun sejak mempunyai murid privat pertama waktu aku masih kuliah tingkat 2. Dan ya aku sangat menyukai profesiku yang satu ini (karena profesiku kan bukan hanya satu hehehe). Setiap bulan Februari-Maret, aku merasa sakit-sakitan dan tidak bersemangat karena tidak ada kelas, tapi begitu masuk bulan April, merasa gembira karena bisa bertemu dengan murid-murid baru lagi. Tidak nervous?

Kadang saja aku nervous, terutama jika di dalam kelas yang mestinya berisi mahasiswa semua, ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang terlihat sudah tua. Biasanya kupikir mereka itu guru yang “menyamar” untuk memata-mataiku (menilaiku) hahaha. Seperti tahun lalu, di kelas dasar di Universitas W ada 3 orang yang “mencurigakan”. Mereka mahasiswa Pascasarjana jurusan bahasa Jepang. Wah, aku harus benar-benar bisa membuktikan secara linguistik nih …., begitu pikirku. Tapi ternyata, kecemasanku tidak terbukti, dan kami bisa menikmati suasa kelas yang nyaman.

Tapi memang, aku menyadari bahwa seorang guru itu senang kalau muridnya bodoh…. Jadi berasa mengajar, bisa membuat seseorang menjadi pintar :D Tapi kalau terlalu bodoh, juga repot sih hehehe. Hmmmm aku musti meralat kalimat di atas yaitu, guru itu bingung jika muridnya terlalu pintar. Karena rasa-rasanya tidak perlu diajari lagi, toh sudah bisa. Terus terang aku panik waktu memulai satu kelas baru di sebuah institut negara untuk hari Senin, Selasa dan Rabu. Ada dua kelas, tapi masing-masing kelas hanya satu orang. Ya semacam privat deh. Nah, salah satu kelas itu muridnya sudah pandai sekali berbahasa Indonesia, karena sudah pernah belajar bahasa Indonesia dan bahkan sudah berkali-kali ke Indonesia. Tapi sebagai pegawai baru, dia wajib mengikuti trainig bahasa.  Selama 80 menit pertama aku bisa mewawancara dan mendengar pembicaraannya yang 90% dia katakan dalam bahasa Indonesia. Wah kalau muridnya pintar begini, apa lagi yang perlu kuajarkan?

Untung aku membawa beberapa bacaan bahasa Jepang dan mengajarkannya bagaimana menerjemahkan tulisan ke dalam bahasa Indonesia, terutama untuk bahasa baku dan bahasa jurnalis. Akhirnya aku menemukan beberapa kesalahannya, dan bisa memperbaiki beberapa kalimat yang kurang bagus. Waktu itu rasanya seperti bertepuk tangan pada ketidaktahuan orang lain :D Yang awalnya sempat khawatir, sekarang sudah bisa melihat perkembangan lebih tinggi lagi pada kemampuan muridku ini daripada sebelumnya, terutama untuk kalimat baku.

Hubungan Guru Murid merupakan hubungan saling percaya, shinrai kankei 信頼関係, untuk mencapai hasil yang maksimal. Apalagi untuk murid SD, guru adalah segalanya… panutan, guru bahkan okaasan ibu di sekolah. Waktu aku mengikuti upacara penerimaan murid baru, aku sempat pergi ke WC dan melihat seorang guru membantu anak-anak perempuan yang roknya lepas. Bahkan guru itu sempat mengetuk pintu bilikku karena agak lama sambil bertanya, “Daijoubu? 大丈夫 tidak apa-apa?” dan begitu dia melihat aku, orang tua murid  yang keluar dia minta maaf. “Maaf saya sangka murid yang terkunci”. Tindakan-tindakan kecil dari guru, perhatian-perhatian dari lingkungan sekolah membuat orang tua merasa aman menyerahkan anak-anaknya dalam bimbingan mereka.  Betul kan?

Lapisan plastik kuning pada ransel untuk murid kelas satu SD Jepang, untuk membantu supaya terlihat pengendara dan warga sekitarnya bisa membantu anak-anak yang baru mulai bermasyarakat. Di Jepang anak SD berangkat pergi pulang jalan kaki sendiri dari rumah ke sekolah tanpa diantar ibunya. Mereka diajarkan mandiri sejak kelas satu SD.

Ten busy days

Sepuluh hari telah berlalu sejak Kai menjadi kelas satu SD. Sepuluh hari yang begitu merepotkan dan membuatku stress. Tadi waktu aku mengikuti pertemuan orang tua murid kelas 1, pihak sekolah mengatakan, “Anak-anak pasti stressnya mulai keluar, jadi besok akhir pekan biarkan mereka beristirahat dan menikmati liburan….” Tapi menurutku, untuk kasusku, bukan Kai yang stress tapi mamanya, dan yes! Aku butuh liburan. :D

Aku memang sekarang, sampai akhir Juni nanti, bekerja setiap hari. Dulu hanya hari Kamis dan Jumat (pekerjaan tetapku di universitas), tapi mulai tanggal 8 April setiap hari Senin, Selasa dan Rabu daku harus pergi mengajar di sebuah institusi pemerintah yang terletak 45 km dari rumah, jika ditarik garis lurus. Pelajaran dimulai pukul 9:30 tapi aku berangkat dari rumah pukul 7 pagi. Naik bus 1 kali dan naik kereta 2 jalur selama 1 jam 45 menit. Memang bisa saja aku keluar rumah jam 7:30, tapi kalau sudah jam segitu kereta akan lebih penuh lagi. Lebih baik aku pergi lebih cepat kan? ;) Tapi meskipun begitu memang lebih sering aku tidak dapat tempat duduk sih, yang kadang aku nikmati juga. You know what.… hari pertama aku pergi aku dapat tempat duduk dan aku tertidur! Kelewatan deh stasiun yang seharusnya aku turun sehingga terpaksa naik kereta arah balik dan menghabiskan waktu 20 menit hehehe (untung pergi pagi sekali). Abis aku bangun pukul 4 pagi supaya bisa masak sarapan dan membuat bekal makanan (bento) untukku sendiri. Aku pun harus menyediakan makan siang untuk Kai yang seminggu pertama tidak mendapat makan di sekolah.

Lorong pertokoaan dengan pilar berhiaskan karikatur serta taman di sebelah tempat kerja baruku. Kalau pagi masih dingin dan senang jalan-jalan di sini.

Aku merasa beruntung, dan beryukur bahwa Kai sudah lebih dewasa dibandingkan dengan anak lain seumur dia. Mungkin karena sebagai anak kedua, orang tua (baca: aku) sudah lebih mempercayai dia melakukan segala sesuatunya sendiri. Memang kalau pagi hari, Kai akan keluar rumah bersama kakaknya Riku sekitar pukul 7:50. Dia yang sewaktu TK baru keluar rumah jam 8:50 harus bangun lebih pagi apalagi karena aku harus pergi jam 7, dia harus bangun sebelumnya. Karena dia masih manja memintaku untuk mengganti baju pijamanya dengan baju untuk ke sekolah. Baju sekolah SD negeri di sini bebas. Banyak yang menyangka bahwa seragam SD nya adalah jas seperti yang dia pakai waktu upacara penerimaan murid baru, tapi bukan! Dalam upacara itu setiap anak memakai jas atau pakaian formal yang berbeda-beda. Sebetulnya tidak ada ketentuaan harus jas, tapi biasalah, orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk sang anak anak kan?

Seminggu pertama aku membiasakan diri untuk menelepon Kai di rumah dari tempat kerjaku waktu istirahat makan siang. Kalau aku lupa pasti Kai akan menelepon sekitar pukul 2 atau 3 siang. Dia pulang sekolah sendirian pukul 12:15 karena Riku sudah punya jadwal pelajaran sampai pukul 3 atau 4. Dia buka pintu dan ambil nasi sendiri dan makan lauk yang sudah kusediakan di meja. Dia tahu bahwa dia tidak boleh menyalakan kompor atau memakai microwave. (Kalau Riku sudah bisa bertanggung jawab dengan kompor dan microwave sehingga sering kumintakan bantuan). Kalau aku menelepon Kai pasti begini:
Moshi moshi Kai? Ini mama….”
“Nani? (Apa?….)”
“Sudah makan?”
“Ini lagi makan”
“Ada masalah?”
“Tidak….”
“OK deh mama kerja dulu ya, nanti mama sedapat mungkin pulang cepat (Padahal secepat-cepatnya aku akan sampai pukul 7 malam di rumah huhuhu)”
“Iya…. ”
“Daaag”
“Iya…”
Dasaaaaar anak lelaki, bahasanya pendek-pendek hihihi.

Tapi ada suatu hari aku lupa menelepon dia. Kemudian sekitar pukul 3 an dia menelepon dan memasukkan pesan, karena aku tidak bisa angkat telepon.
“Mama… Riku tadi sudah pulang. Tapi dia cepat-cepat pergi lagi. Aku takut….”
Dan pesan itu sampai dua kali… Hmmm dia benar-benar takut.
Jadi begitu ada waktu menelepon aku menelepon dia dan menyuruh dia menonton rekaman acara Dash-Jima (Acara membuka pulau baru oleh grup penyanyi TOKIO), karena acara itu menyenangkan (dan bukan anime). Lalu waktu kelas selesai, aku menelepon dia kembali sambil berjalan pulang. Untung saja dia tidak panik saat takut itu dan tetap berada di rumah. Kalau Riku waktu kecil, pasti akan keluar rumah dan mengebel pintu tetangga dan minta untuk berada di rumah tetangga :D, atau ke pos polisi hehehe.

Tapi kejadian Kai menjadi takut itu hanya satu kali. Keesokan harinya bahkan aku mendapati rumah kosong. Memang hari itu aku bisa pulang lebih cepat karena lokasi pengajaran dekat (di Universitas W). Sudah sampai rumah pukul 4 sore, dan …anak-anak tidak ada meskipun kulihat tas ransel mereka sudah ada. Sempat berpikir untuk mencari mereka di taman dekat sekolah, tapi ah…sepertinya aman-aman saja. Baru kemudian aku lihat pesan di telepon. Waktu kudengar, suara anak sulungku,
“Mama aku ajak Kai main di halaman sekolah ya. Jadi mama tidak usah khawatir”
Ngga nak… mama tahu kalian baik-baik saja dan mama bisa mempercayai kalian berdua.

Kedua anakku siap berangkat ke sekolah. Aku bisa mengantarkan mereka begini sebelum aku pergi kerja hanya pada hari Kamis.

 

Minggu kedua, Kai sudah mendapat makan siang di sekolah sehingga aku tidak perlu bangun terlalu pagi untuk menyiapkan makan siang juga, cukup makan pagi dan bento. Tapi ada satu happening yang terjadi pada hari Rabu lalu. Waktu istirahat siang aku melihat ada misscall dari SD nya Riku dan Kai. Aduuuuh ada apa ya? Tapi karena mereka tidak meninggalkan pesan apa-apa, semestinya tidak parah. Aku curiga kemungkinan Kai demam. Ternyata pihak sekolah menghubungi papanya, dan Gen memberitahukanku bahwa Kai muntah waktu makan dan sekarang tidur di ruang Kesehatan di sekolah. Gen sudah kasih tahu gurunya bahwa biar Kai tunggu di situ sampai Riku selesai pelajarannya dan pulang dengan kakaknya, karena kami berdua (Gen dan aku) tidak bisa cepat-cepat pulang. Meskipun akhirnya Gen yang mendapat ijin untuk pulang cepat sehingga dari jam 3, Gen sudah bisa menemani anak-anak di rumah. Aku sendiri baru pukul 7 sampai di rumah dan langsung mempersiapkan makan malam. The three boys are starving! peko-pekoda!

Beginilah suka dukanya ibu yang bekerja, terutama karena ada perubahan jenjang pendidikan (Kai menjadi murid SD) dan aku memulai pekerjaan baru di tempat yang jauh. Tapi aku bersyukur karena kedua anakku bisa diandalkan. Good job!

Penyambutan Murid Baru

Di Jepang, setiap awal tahun ajaran akan diadakan 始業式 shigyoushiki, upacara awal tahun ajaran yang diikuti oleh kelas 2 sampai kelas 6 SD. Sedangkan 入学式 nyuugakushiki, secara harafiah Upacara Masuk, tapi kalau di Indonesia lebih tepat diterjemahkan menjadi upacara penerimaan murid baru diadakan untuk kelas 1 baru. Pika-pika no ichinensei (kelas satu yang masih berkilau, aku pernah menulis tentang Riku yang kelas 1 SD di sini).

Kai bersiap berangkat ke upacara penerimaan murid baru

Satu hal yang aku sadari yaitu jika penekanan kata nyuugakushiki itu adalah upacara si anak MASUK ke sekolah, kalau di Indonesia itu penekanannya pada pihak sekolah yang MENERIMA/Menyambut datangnya murid baru. TAPI pada kenyataannya sepertinya upacara nyuugakushiki di Jepang, lebih “menyambut” murid baru, daripada hanya sekedar “Oh kamu sudah masuk SD ya?” saja. Hal itu terlihat dari susunan acara. Atau karena Riku adalah murid kelas 6 SD, aku tahu bahwa murid-murid kelas 6 yang dikerahkan oleh pihak sekolah untuk mempersiapkan upacara nyuugakushiki ini.

Upacara Masuk ini berlangsung hari Senin tgl 7 April, tapi sudah sejak Jumat sebelumnya, murid SD mempersiapkan hall tempat pelaksanaan upacara dan mereka juga berlatih menyanyikan lagu kebangsaan 国歌 Kimigayo serta lagu sekolah mereka 校歌. Selain itu mereka juga bertugas menjadi penerima tamu dengan membagikan daftar kelas (kami baru tahu murid kelas 1 masuk kelas yang mana pada hari upacara), membantu murid-murid mengisi absen di kelas barunya serta memasangkan badge nama di jas mereka.

susunan acara upacara penerimaan murid baru

Sejak di pintu masuk itulah, murid-murid baru berpisah dengan orang tuanya. Mereka diantar masuk ke loker tempat penyimpanan sepatu dan ditunggui 先輩 sempai kakak kelasnya untuk mengganti sepatu dengan 上履き uwabaki, sepatu untuk di dalam ruangan. Lalu mereka diantar sampai ke kelasnya. Orang tua, dengan was-was apakah anaknya大丈夫 daijoubu (tidak apa-apa), menuju ke aula sambil melirik kelas satu yang dilewati. Ah, kakak kelas dan guru sudah di dalam kelas dan menyambut murid-murid baru yang tegang. Untung saja tidak ada yang menangis hehehe. Lain dengan upacara penyambutan murid TK yang riuh rendah dengan suara tangis. Well, saat itu mereka memang masih usia 3 tahun…sedangkan kalau SD kan sudah berusia 6 tahun (batas umur di Jepang untuk kelas 1 SD adalah GENAP 6 tahun terhitung tgl 2 April tahun tersebut).

Orang tua menempati tempat duduk yang sudah disediakan dalam hall dan menunggu upacara dimulai. Kebetulan aku duduk di samping satu pasang suami istri yang membawa dua anak, satu berusia sekitar 3 tahun dan satu lagi masih bayi. Hmmm ribut! anaknya yang usia 3 tahun itu tidak bisa diam dan ngoceh terus sambil naik turun kursi lipat. Beberapa kali dia hampir jatuh dari kursi. Sabar imelda….sabar :D Untung aku sudah merasakan betapa repotnya membesarkan dua anak, jadi bisa mengerti bahwa mereka tidak bisa menitipkan anak-anaknya yang masih kecil demi mengikuti upacara anak pertama mereka (I hope so…. karena jarang ada keluarga Jepang yang mempunyai lebih dari 2-3 anak). Tapi seharusnya anak kecil begitu duduk di antara ayah dan ibu, sehingga tidak mengganggu orang yang duduk di sebelah anak itu. Benar-benar aku khawatir kalau anak itu jatuh dari kursi dengan kepala duluan :(

Acara diawali dengan masuknya kepala sekolah, tamu-tamu kehormatan yang kemudian duduk di tempat khusus. Kemudian kami menyambut dengan tepuk tangan masuknya murid-murid baru yang masuk ke dalam hall dengan berbaris. Oh ya, aku perlu beritahu bahwa dalam upacara-upacara begini, jarang sekali terdengar tepuk tangan. Orang Jepang tidak biasa bertepuk tangan seusai seseorang mengucapkan pidato. Entah kalau sekolah lain, tapi aku jarang sekali mendengar tepuk tangan pada acara-acara sekolah. Lain ladang lain ilalang ~~~~

kepala sekolah menyambut murid kelas satu

Semua acara dimulai dengan 起立 kiritsu  礼 rei 着席 chakuseki, berdiri – hormat – duduk. Ah aku jadi ingat pendidikan di SMP-ku dulu yang mengadaptasi cara ini. Kamu harus selalu berdiri dan menghormati guru SETIAP ganti pelajaran, di awal dan akhir pelajaran. Entah apakah masih ada sekolah di Indonesia yang menerapkan seperti ini. Tapi di Jepang dalam semua acara resmi pasti akan terdengar “perintah-perintah” semacam ini.

Kepala sekolah memberikan pidato juga tidak bertele-tele, dan menyampaikan tiga hal penting yang harus diingat murid baru yaitu : memberi salam, mendengarkan pembicaraan orang lain baik guru maupun teman dan membuat teman sebanyak mungkin.

Satu-satunya acara “hiburan” adalah pementasan lagu oleh kelas 2. Mereka bernyanyi dan memainkan pianika, sambil menyambut “adik-adik” dan menyampaikan pesan-pesan seperti : “kalau ada yang tidak tahu, silakan tanya kami ya” dsb. Aku merasa cukup senang menyekolahkan anakku di SD Negeri ini. Memang tidak “sedisiplin” sekolahku dulu atau sekolahnya Gen juga, tapi cukuplah. Yang penting anak-anak merasa nyaman bersekolah.

Setelah acara di hall, kami menuju kelas masing-masing dan mendengarkan perkenalan dari guru serta pengumuman-pengumuman. Kami juga membawa pulang banyak barang baru yang dibagikan. Ada satu kotak berisi peralatan menulis dan belajar (pensil, buku catatan, buku pelajaran, pensil warna, craypas), sedangkan dari kelurahan mendapatkan topi pelindung kepala yang bisa dipakai sebagai alas duduk serta buzzer keamanan untuk dipasang di ransel masing-masing. Ada happening seorang anak membunyikan buzzer itu dan orang tuanya sibuk mencari cara menyetopnya. Buzzer ini perlu jika anak-anak bertemu dengan orang iseng atau jahat dan merasa perlu bantuan, tinggal menarik tali buzzer sehingga alarm akan berbunyi kencang.

Kai dengan barang-barang yang mesti dibawa pulang

Semua barang-barang ini kami bawa pulang dan menjadi “pekerjaan rumah” baru untuk kami, karena kami harus menuliskan nama satu-per-satu pada barang-barang ini, termasuk pensil dan craypas.

Setelah selesai menuliskan nama pada semua barang, kami pergi makan siang dan bermobil ke Yokohama untuk bertemu dengan kakek-neneknya Kai karena sudah cukup lama kami tidak berjumpa. Kebetulan Gen juga ambil cuti khusus untuk hari ini. DeMiyashita kemudian merayakan “hari bersejarah” bagi Kai yang masuk SD dengan makan malam bersama.

 

Selamat bersekolah ya Kai… 入学おめでとうございます。

 

April Mop

Banyak orang Indonesia sudah tahu kata ini, April Mop yang aslinya merupakan bahasa Belanda,  April Fools, tanggal 1 April yang memperbolehkan orang untuk berbohong atau berkelakar yang agak-agak kelewatan. Seperti seorang temanku di FB tiba-tiba menulis : Saya hamil…. padahal dia single. Siapa tidak panik dan berpikir bagaimana dia harus menyelesaikan masalahnya kalau dia hamil di luar nikah. Dan… April Fools… ternyata dia bercanda saja. Well, syukurlah. Aku ikut lega.

Tapi pemerintah Jepang tidak sedang bercanda waktu menaikkan pajak pembelian dari 5% menjadi 8%, karena sudah sejak tahun lalu ditetapkan. Aku ingat 17 tahun yang lalu, pada tanggal 1 April pemerintah menaikkan pajak dari 3 % menjadi 5 %. Beuh sudah lama juga ya aku tinggal di sini :D Jadi warga Jepang sudah antisipasi dengan membeli barang-barang tahan lama, atau barang mahal yang memang diperlukan seperti rumah, mobil, lemari es dll. Ibu rumah tangga rush membeli beras, minyak, minuman dll di supermarket. Tapi anehnya aku kok jarang melihat ada liputan TV warga antri sampai kacau ya? Seperti antrian di pompa bensin Indonesia waktu pemerintah menyatakan bensin naik. Mungkin karena orang Jepang sudah bisa berpikir, toh tangki bensin hanya bisa menampung sedikit :D

Aku sendiri tidak menimbun barang sama sekali, karena aku berwisata ke selatan Jepang sejak tgl 26 Maret sampai 31 Maret. Percuma juga aku membeli bahan makanan banyak-banyak karena kami toh tidak ada. Barang-barang kebutuhan rumah tangga juga tidak beli, karena tidak ada tempat penyimpanan sih hehehe. Tapi memang aku membeli barang yang sebetulnya tidak begitu perlu, tidak begitu tinggi prioritasnya, dan pasti tidak kubeli kalau harganya naik :D. Misalnya timbangan badan baru, kaki tiga (tripod), buku-buku dan kamus dll. Padahal kalau dipikir-pikir ya naiknya “cuma” 3 persen. Kalau tadinya belanja 100 yen musti bayar 105 yen, sekarang harus bayar 108 yen. Nah…. ini yang membuat konsumen malas sebetulnya. Malas menghitung 8% itu berapa. Konsumen telah terbiasa membayar dengan pecahan 5 yen, sekarang harus menyiapkan 1 yen. Dan memang dikatakan bahwa Nippon Ginko sudah menyiapkan lebih banyak koin 1 yen bersamaan dengan kenaikan pajak ini. Well, serahkan pada kalkulator atau kasir saja deh… tapi memang harus siap uang lebih banyak dari biasanya.

Ada seorang teman Jepang yang bertanya, “Apa yang kamu beli pada tanggal 1 April dengan pajak 8%?” Aku memang tidak belanja hari itu, tapi kebetulan aku, Riku dan Kai pergi ke bioskop di Shinjuku. Jadi yang kami bayar pertama dengan pajak 8% itu adalah ongkos kereta. Yang tadinya 210 yen menjadi 220 yen. Dan memang untung kereta dan bus, kenaikan tidak bisa memakai pecahan 1 yen, harus 10 yen. Mungkin karena mesinnya memang hanya bisa menerima sampai pecahan 10 yen. Tapi ada keuntungan bagi mereka yang memakai kartu prabayar Suica/Pasmo karena digital, kenaikan bisa dengan pecahan 1 yen. Jadi memang lebih untung memakai kartu digital.

Meskipun transport naik, aku merasa untung pada tanggal 1 April itu. Jadi ceritanya, Riku ingin sekali menonton Lego The Movie sejak film itu mulai beredar di Jepang tgl 21 Maret. Tapi film ini tidak main di bioskop langganan kami, baik yang di dekat rumah, maupun yang di Kichijouji. Repot karena masih harus pergi dan mencari lagi. Jadi waktu di Hakata, sebetulnya aku ingin menggunakan waktu menunggu keberangkatan shinkansen pulang dengan menonton, tapi jam tayangnya tidak pas. Sehingga aku janji akan pergi khusus menonton film itu kemana saja. Nah, waktu aku mencari bioskop yang terdekat yang menayangkan film Lego itu, aku menemukan sebuah bioskop di Shinjuku yang menjual tiketnya dengan online juga. Bisa pilih tempat duduk lagi. Jadi deh aku beli tiket untuk jam tayang pukul 19:10 yang 3D. Dan ternyata bioskop itu memberlakukan setengah harga setiap tanggal 1. Untung besar deh aku, karena cukup membayar setengahnya. Pantas bioskop itu penuh waktu kami ke sana. Rupanya penikmat film sudah tahu informasi ini dan menggunakannya.

Jadi memang tanggal 1 April itu bagi warga Jepang ada untung dan ruginya ya. Dan aku baru tahu ternyata orang Jepang yang lahir pada tanggal 1 April itu “beruntung” karena menjadi murid termuda di kelas, dan yang lahir tanggal 2 April itu “rugi” karena menjadi murid yang tertua di kelas. Batasnya memang tanggal 1 April, bukan tanggal 31 Maret seperti yang aku sangka sebelumnya karena bersamaan dengan tahun fiskal. Di Jepang ada istilah “Lahir Cepat” (hayaumare 早生まれ) untuk mereka yang lahir tanggal 1 Januari sampai 1 April karena mereka termasuk yang muda di kelas. Dan di keluarga deMiyashita kecuali Kai yang lahir bulan Juli, semua hayaumare.

Bagaimana April Mop kamu? Ada untung ruginya ngga? :D

Genap 6 Tahun

Happy anniversary tuh katanya WP. Dan seperti biasanya menjelang genap 1 tahun selalu ada masalah dengan server, sehingga TE sempat sulit diakses/eror. Sepertinya TE perlu ganti baju nih, dan untuk memilih baju yang pas, sedang dipelajari dulu :D

Horreeee. Twilight Express sudah boleh masuk SD di Jepang hehehe. Ya, aku menganggap bahwa ulang tahun TE itu tanggal 1 April, meskipun sebenarnya aku mendapatkan ucapan selamat dari WordPress sendiri pada tanggal 18 Februari karena aku mendaftarkan ID ku pada wordpress tanggal itu tahun 2008. Memasuki tahun ke 7, aku berharap masih bisa terus menulis meskipun sudah semakin sulit aku mencari waktu untuk menulis (selama 6 tahun baru bisa 1359 tulisan nih).  Ide tulisan sih masih ada (banyak), termasuk menuliskan perjalananku mulai tanggal 26 Maret sampai 31 Maret keliling 4 prefektur di Kyushu (Jepang selatan) ala backpacker bertiga dengan Riku dan Kai.

6 cap castle yang kami dapatkan

Dan tentu tujuan kami sebenarnya adalah untuk melengkapi cap 100Famous Castle in Japan. Kami berhasil mendapatkan 6 cap selama 6 hari. Sayang ada 2 kastil yang terlewatkan karena meskipun berada di prefektur yang sama, jaraknya amat jauh dan membutuhkan satu hari penuh (masing-masing) jika kami mau memaksakan pergi ke sana. Nanti begitu ada waktu akan kutulis mengenai perjalanan Kyushu ini ya. Hari ini masih mencuci baju yang bertumpuk sampai perlu 5 kali memutar mesin cuci. Inem eh Oshin sudah selesai liburan dan kembali bekerja kembali. Yosh Gambarou!

Pesta Terima Kasih

Di Jepang, sebelum atau sesudah wisuda, bagi setiap jenjang pendidikan, ada sebuah acara yang dikelola oleh murid-murid sendiri atau orang tua murid. Namanya Shaonkai 謝恩会. Pertemuan untuk menyatakan terima kasih kepada orang yang telah membimbing mereka, membalas budi baik guru atau dosen. Guru sebagai tamu khusus, tamu utama しゅひん 主賓 yang datang saja tanpa perlu membawa apa-apa (termasuk tidak perlu membayar iuran).

Acara ini sudah direncanakan sejak awal tahun ajaran kelas terakhir, dengan memilih orang tua murid yang berbakat untuk mengelola acara semacam ini. Satu kelas diwakili oleh dua ibu dan dinamakan Sotsutaiin 卒対員. Karena ada 4 kelas, jadi panitia terdiri dari 8 orang. Mereka yang merencanakan jalannya acara pesta ini.

Senin lalu, acara itu dilaksanakan. Ibu-ibu datang bersama anak-anak dan memasuki aula yang sudah diatur tempat duduknya. Memang memakai meja dan kursi ukuran anak TK, sehingga sempit dan rendah. Kami menempati tempat duduk dengan urutan yang sudah disediakan dengan makanan berupa bento untuk ibu, dan bento roti untuk anak-anak. Wih begitu baca bentonya dari Imahan (今半) langsung mengerti kenapa tidak ada hiasan-hiasan lainnya di atas meja. Dulu waktu Riku ada bunga dan kuenya ditaruh di dalam “sangkar” yang bisa dibawa pulang dan digunakan sebagai tempat kue. Imahan adalah toko/restoran yang terkenal dengan dagingnya yang empuk. Biasanya memang kita bisa menaksir “harga” sesuatu dari nama tokonya kan? Tapi sayang aku merasa bento itu biasa-biasa saja, dan tidak ada ke-khas-an sebuah restoran daging. Satu-satunya masakan daging yang keluar hanya soboro daging giling di atas nasi (daging giling dengan bumbu kecap asin/manis, seperti semur kering).

deretan kursi di aula, sudah diatur dengan bento untuk ibu dan anak

Tapi tentu saja perhatian ibu-ibu tidak hanya pada makanan. Yang terpenting biasanya justru acara apa yang bisa disajikan sebagai hiburan. Penampilan pertama dari bapak-bapak supir yang bekerja di TK tersebut (ada antar-jemput bagi yang mau, tapi aku tidak ikut antar jemput karena rumahku dekat). Lucu juga mereka menampilkan semacam sulap dan percobaan seperti yang dilakukan Denjiro Sensei (Percobaan kimia mudah yang menarik). Setlah acara itu murid-murid dari Grup Yuri (Bunga Bakung) kelasnya Kai tampil dengan lagu dari SMAP yang berjudul Sekaini hitotsudake no hana 世界にひとつだけの花. Yang membuat lagu ini menarik, anak-anak menyanyi sambil memakai shuwa 手話, bahasa tangan untuk tuna rungu. Aku sempat khawatir bagaimana Kai, karena latihan terakhir dia tidak ikut. Tapi ternyata dia OK OK saja.

Kai dengan teman-teman dari Kelas Yuri menyanyikan lagu. Kiri bawah, guru-guru memainkan operetta. Kanan bawah potret diri yang digambar anak-anak sendiri

Tampilan kelas-kelas yang lain berupa lagu yang… biasa-biasa saja. Sesudah itu ada persembahan dari guru-guru berupa operetta. Karena ada jalan ceritanya, anak-anak cukup terhibur menontonnya. Tapi yang kurasa paling memukau adalah acara yang dikemas oleh ibu-ibu sendiri. Ceritanya minta tolong pada Doraemon untuk kilas balik sejak masuk TK. Acara demi acara seperti pertandingan olah raga diperagakan lagi oleh ibu-ibu. Dan tentu dalam acara-acara itu ada peran guru, jadi ada beberapa ibu yang memakai topeng foto wajah guru-guru mereka. Menarik sekali, karena apa yang ditampilkan memang benar-benar terjadi, dan tentu menjadi lucu karena pemerannya ibu-ibu pakai baju olah raga dan celana pendek. Menarik sekaligus mengharukan. Pasti mereka lama sekali berlatih untuk tampilan ini. Sesekali kulihat gurunya Kai, Haruka sensei mengusap air mata. Ah, jangankan sensei, aku pun sesekali mengusap air mata (dan tentu sudah jaga-jaga pakai maskara yang tahan air hehehe)

suasana dalam kelas… lihat anak-anak perempuan terus memeluk sensei dari belakang. Kai? dia sih malu-malu ngga mau dipeluk atau berfoto dengan senseinya :D (Masih kecil aja udah tahu malu hehehe)

Kupikir hanya dua jam saja acaranya, ternyata sampai hampir 3 jam tapi tak terasa. Anak-anak menerima candy wreaths dan tas berisi kamus dan alat tulis langsung dari Haruka Sensei. Yang mengharukan, banyak anak-anak perempuan yang memeluk terus sensei dari belakang. Mereka sedih harus berpisah dengan sensei yang cantik itu. Kami akhirnya pulang membawa barang-barang isi loker anak-anak yang masih tersisa, dan tentu saja sambil menyiapkan acara berikutnya, upacara wisuda, keesokan harinya.

Sensei Daisuki! (Kami suka sekali sensei!)

 

 

B.Y.O

Bring Your OwnPotluck) adalah bawa (makanan) sendiri-sendiri sering dilakukan di luar negeri, atau di keluargaku. Masing-masing tamu membawa makanan yang ingin dia bagikan kepada teman-teman/keluarga dan tamu dari keluarga yang mengundang. Tentu kalau dikatakan B.Y.O porsinya bukan hanya untuk diri sendiri, meskipun tidak ditentukan seberapa besar. Jika ingin tahu seberapa banyak perlu membawa suatu makanan, biasanya tanya nyonya rumah ada berapa tamunya, dan nyonya rumah atau tamu lainnya akan bawa apa. Komunitas gereja katolik berbahasa Indonesia di Meguro (yang aku ketuai hehehe)  juga sering mengadakan pesta dengan cara B.Y.O yang dikelola oleh tante Christine. Tante Christine menelepon ke umat yang bisa masak, dan menanyakan akan masak apa, sehingga menunya tidak tabrakan :D Kan lucu kalau 5 ibu membawa 5 jenis sup yang berbeda. Meskipun menurutku bisa saja ASAL berbeda. Yang susah, kalau ada dua ibu membuat jenis yang sama, dan masing-masing bersikeras bahwa masakannya yang lebih enak daripada yang satunya hehehe. Karena itu perlu sekali B.Y.O ini dikelola dengan benar. Makanya aku amat berterima kasih pada Tante Christine yang selalu mau bersusah payah menelepon satu-per-satu dan mengkoordinirnya. I love you tante!!!

Selain ke gereja bahasa Indonesia setiap Sabtu di Meguro itu, aku juga anggota (umat) gereja Katolik di Kichijouji, Tokyo. Biasanya aku pergi ke misa pukul 9 pagi (misa anak-anak) karena mengantar Riku mengikuti Sekolah Minggu. Dan otomatis aku masuk menjadi anggota  “Perkumpulan orang tua Sekolah Minggu”. Perkumpulan ini kerjanya melakukan kegiatan yang menunjang Sekolah Minggu, seperti bazaar, perayaan Paskah dan Natal, pesta Komuni Pertama dan penutupan tahun ajaran. Dan kemarin itu tgl 16 Maret adalah penutupan tahun ajaran, untuk kemudian memasuki libur musim semi, dan tahun ajaran baru akan dimulai bulan Mei nanti. 

Kalau orang Indonesia biasanya memang cukup dengan saling telepon bla bla bla. Tapi di Jepang aku menemukan cara yang sistematis yang kurasa patut untuk di tiru untuk B.Y.O ini atau yang bahasa Jepangnya: Mochiyori 持ち寄り. Panitia inti perayaan akan membuat list, print out daftar makanan apa saja yang akan disediakan untuk pesta. Kalau banyak waktu memang kita, ibu-ibu akan masak bersama. Tapi biasanya tidak ada waktu, sehingga dalam beberapa kali pertemuan sebelum pesta akan diedarkan daftar itu dan setiap ibu yang mau menyumbang jenis makanan/snack yang tertulis, menuliskan namanya di situ dan berapa jumlah yang mau dibawa. Sehingga tidak akan ada satu jenis yang dobel atau kebanyakan, sedangkan ada jenis lain yang tidak dibawa. Repot juga kan kalau semua bawa nasi dan kerupuk padahal tidak ada yang bawa lauknya :D Nanti kalau ada makanan yang belum ada peminat untuk membawa, panitia akan tanya kepada orang-orang tertentu, atau membelinya dari uang sumbangan.

Nah, untuk pesta kemarin, aku sebenarnya tertarik untuk membawa Kare (Jepang) meskipun aku sendiri biasanya tidak makan (tidak tahan baunya Kare Jepang hehehe). Memang setiap tahun ada yang masak Kare, karena Kare termasuk makanan favorit anak-anak Sekolah Minggu. Tapi rasanya daripada Kare lebih baik aku bawa Gulai atau Soto Ayam. Kendalanya aku perlu membawa panci dari rumah dan belum tentu aku bisa diantar Gen ke gereja pagi-pagi naik mobil. Akhir-akhir ini dia kerja juga hari Minggu (Semoga bulan April sudah bisa nafas lagi). Daripada tidak pasti, aku menyanggupi membawa 20 onigiri isi Mentaiko (telur ikan) dan Salmon. Kalau onigiri (nasi kepal)  naik bus pun masih bisa kubawa.

Tapi karena panitia mengatakan ada banyak minyak sumbangan di gudang, panitia mengharapkan ibu-ibu membawa ayam yang sudah dibumbui dan tinggal digoreng saja. Juga apa saja goreng-gorengan lainnya, yang bisa digoreng sebelum acara dimulai di dapur gereja. Langsung aku mencatat harus membawa kerupuk udang. Dan, terlintas alangkah bagusnya kalau aku bisa buat pisang goreng (tergantung sempat beli pisang atau tidak).

Akhirnya aku datang ke dapur pagi hari itu membawa onigiri, pisang + terigu+telur untuk pisang goreng dan kerupuk udang, kerupuk bawang dan emping! Ibu-ibu Jepang yang lain takjub melihat aku menggoreng kerupuk udang. 

“Kok bisa jadi besar begitu?”
“Wah aku baru tahu pisang bisa digoreng seperti tempura. Lain kali mau bikin ah…”

Well, lain kali aku akan masak Soto Ayam atau Gado-gado ahhhh.

Begini penampilan meja berisi makanan yang disumbang/dibuat oleh ibu-ibu Sekolah Minggu, dan meja seperti ini ada tiga, selain meja khusus untuk Kare dan Mie Cup serta kopi/teh. Berlainan dengan tahun lalu, tahun ini memang banyak gorengan, dan ternyata disambut anak-anak dengan suka cita. Terbukti tidak ada makanan yang bersisa, kecuali snack dan permen yang bisa dibawa pulang anak-anak. Kampeki 完璧 (Perfect!)

Horreee ada pisang goreng tuh di kanan bawah :D Ingin masak macam-macam tapi tidak sempat belanja sih ~~~

Kamu sering mengikuti pesta dengan B.Y.O? Atau kamu pernah bawa apa ke pesta-pesta saweran macam begitu?

 

Omoide (Kenangan)

Kemarin siang aku pergi ke TK nya Kai untuk mengikuti “bebersih dan pertemuan orang tua murid” 大掃除・父母会 oosoji dan fubokai yang terakhir kalinya. Bebersih besar biasanya dilakukan sebelum libur musim panas, libur musim dingin dan kenaikan kelas. Tapi untuk Kai, dia akan lulus dari TK ini, sehingga ini merupakan bebersih yang terakhir. Aku pergi sendiri naik sepeda, sementara Kai tunggu di rumah. Dia tidak mau pergi ke TK dan bermain di sana sambil menunggu aku rapat. Dia lebih suka di rumah nonton sendiri. Dia bilang, “Aku sudah gede, sudah bisa sendiri. kan sudah mau kelas 1 SD. Mama pergi aja!”

Sesampai di kelas, seperti biasa masing-masing mengambil lap yang tersedia dan membersihkan apa saja yang ada di dekatnya. Kali ini aku mengelap jendela dan pintu kaca, berdua dengan teman yang mengelap dulu dengan lap basah, sedangkan aku mengelap dengan lap kering. Aku lebih banyak diam, dan sempat merasa sedih juga, ibu Cantik pemilik resto steak yang akrab denganku itu tidak datang.

Sebelum membersihkan aku sempat bertemu dengan gurunya Kai, Haruka Sensei yang cantik itu, lalu aku minta maaf. Karena kamis kemarin aku memboloskan Kai tanpa memberitahu lagi kepada senseinya. Baru kemarin (jumat)nya aku memaksa Kai untuk ke sekolah, hari terakhir.

“Oh tidak apa-apa” kata sensei…

“Ya, sebetulnya dia tidak mau ke sekolah lagi. Tapi saya paksa untuk terakhir Jumat ini harus sekolah. Penyebabnya karena waktu hari Selasa kemarin waktu saya paksa dia pergi, Kai dicakar oleh M-kun. Jadi dia sudah tidak mau sekolah lagi”

“Hmmm pantas tadi pagi dia semangat sekolah. Saya juga musti melaporkan pada ibu, bahwa tadi Kai sempat menangis. Rupanya waktu Kai masuk kelas, M-kun memukul dia. Kai menahan diri dan lapor ke saya. Tapi M-kun tetap memukul Kai, dan akhirnya Kai membalas. Akhirnya Kai menangis. Saya panggil mereka berdua dan menjelaskan pada M-kun bahwa dia telah menyakiti Kai. ”

“Wah saya tidak tahu bahwa Kai menangis hari ini. Tadi dia tidak berkata apa-apa. Mungkin karena sudah terakhir ya? Saya sih kasihan saja pada M-kun. Nanti dia SD bagaimana ya? Sulit sepertinya untuk menjelaskan padanya soal pertemanan ya…”

“Ya saya juga sudah sering berbicara pada ibunya. Sampai kepala sekolah juga sudah berbicara. Tugas saya hanya sampai TK saja, setelah itu ya saya tidak bisa berkata apa-apa lagi….”

“Saya sangat mengerti posisi sensei yang sulit mengatasi soal M-kun ini. Untung saja kejadian ini sudah tinggal beberapa hari lagi sekolah. Seandainya awal-awal tahun sudah begini, saya juga bingung bagaimana harus membujuk Kai untuk ke sekolah”

“Saya sebetulnya tidak ingin murid-murid membawa kenangan yang menyakitkan di TK. Tapi ya sulit juga ya”

Omoide atau kenangan… memang banyak yang telah dilakukan selama Kai 3 tahun di TK itu. Dan aku sih yakin, Kai tidak hanya akan mengingat soal M-kun saja, karena masih banyak kenangan lain yang lebih bagus, lebih menyenangkan yang telah dilakukan bersama. Seperti tadi pagi aku bertanya pada Kai, hal apa yang paling menyenangkan, ternyata dia bisa menjawab soal menang pertandingan bola. Tapi dia juga berkata, “Aku paling benci M-kun”. :(

Mou sugu ichinensei (Sebentar lagi kelas satu SD)

Setelah acara bebersih, kami ibu-ibu duduk melingkar dan mendengarkan pengumuman dari Haruka Sensei mengenai dua hari yaitu Senin dan Selasa, saat perta perpisahan (shaonkai 謝恩会) dan upacara wisuda (sotsuenshiki 卒園式). Lalu setelah itu Haruka sensei mengharapkan sepatah kata dari masing-masing orang tua murid mengenai anaknya. Setiap kenaikan kelas memang ada acara ini, dan aku tahu…. ibu-ibu pasti akan menangis apalagi kali ini bukan naik kelas, tapi lulus TK. Sayangnya, biasanya aku mendapat giliran awal-awal sehingga selalu bisa bicara dengan jernih, tanpa emosi. Tapi kali ini aku mendapat giliran kedua terakhir, sehingga sudah mendengarkan banyak “sambutan” ibu-ibu yang dibarengi air mata. Oh bisa mengerti sekali bagaimana terharunya mereka, karena memang kelas kami ini cukup akrab. Sering mengadakan acara bermain bersama, makan bersama bahkan minum-minum bersama. Tapi sayangnya aku tidak bisa ikut. Selalu.

“Pertama-tama saya ucapkan terima kasih untuk Haruka sensei yang sudah mengajar anak saya selama satu tahun. Tiga tahun berada di TK ini, rasanya lama, tapi juga sebentar. Sejak Otanoshimikai, saya sibuk sekali sehingga tidak pernah bisa mengikuti acara-acara bersama seperti Natalan. Saya merasa egois karena saya sibuk, Kai terpaksa juga tidak bermain dengan teman-temannya. Tapi itu juga yang membuat Kai menjadi cepat dewasa sehingga hari ini dia bisa tunggu di rumah sendiri. Bisa apa-apa sendiri, bahkan mengambil nasi dan lauk, lalu makan sendiri jika lapar.
Tepat dua minggu yang lalu, saya hanya punya 3 set baju TK untuk Kai, dan semuanya sudah bolong-bolong. Dan sudah kekecilan. Saya pikir saya harus beli baru, tapi saat itu saya teringat bahwa waktu sekolah hanya tinggal 2 minggu saja. Dan saya merasa sedih karena setelah 2 minggu harus membuang baju-baju seragam ini.
Untuk saya, karena Kai anak bungsu, ini merupakan “kelulusan” saya sebagai ibu anak TK. Selama tiga tahun Kai dan dua tahun kakaknya bersekolah di sini, saya tahu sekolah ini memiliki guru-guru yang baik, kurikulum dan kegiatan yang baik. Sampaikan terima kasih saya juga pada kepala sekolah, karena saya mungkin tidak ada kesempatan untuk menyampaikannya. Saya senang dan bangga bisa menyekolahkan Kai dan Riku kakaknya di sekolah ini. Dan saya yakin kenangan di TK tak akan terlupakan…. Terima kasih ibu-ibu sudah mau berteman dengan saya.”

Ah, Haruka sensei yang memang sudah menangis setiap melihat ibu-ibu menangis, tambah menangis… ntah karena “pidato”ku atau juga karena dia merasa tidak bisa menyelesaikan masalah Kai dan M-kun. Karena sesungguhnya setelah aku, giliran yang terakhir adalah ibunya M-kun. Ya aku duduk di sebelahnya ibunya M-kun. Dan ibunya M-kun hampir tidak bisa berkata apa-apa karena tepat saat itu anak-anak kembali dari halaman sekolah, masuk ke sekolah dan ribut. Kelihatan juga memang ibunya M-kun menyendiri dan tidak bisa berbicara dengan ibu-ibu yang lain. Aku melihat dengan mata kepala sendiri, M-kun memukul murid perempuan yang berdiri di depannya, dan murid itu memang membalas. Ibu M-kun sampai harus memeluk dan menangkap anaknya supaya tidak memukul anak perempuan itu terus. Bukti bahwa M-kun tidak hanya memukul Kai, tapi juga semua anak. Dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri (karena ADHD). Dan ahhhh melihat begitu aku makin merasa kasihan pada ibunya, dan M-kun. Semoga M-kun bisa berubah di SD, atau perlu dibawa ke dokter khusus untuk mengurangi sifat-sifat jeleknya. Dan, jeleknya, aku bersyukur bahwa M-kun tidak bersekolah di tempat yang sama dengan Kai, karena rayonnya berbeda.

Aku cepat-cepat pulang sekitar pukul 3:30, setelah keluar rumah 1, 5 jam. sambil membawa album Omoide, album kenangan berisi karya-karya Kai selama setahun yang telah dimasukkan binder oleh gurunya. Bersama kotak peralatan berisi pensil/crayon/spidol warna, lem, gunting dll. Dan sesampai di rumah Kai melaporkan,
“Mama tadi ada orang ngebel, rupanya bawa paket dari Amazon”
“Loh kok, kamu kenapa jawab (lewat aiphone)”
“Tapi aku bilang kok, mama tidak ada, saya tidak bisa buka pintu”
“Aduh Kai pinter ya…. tapi lain kali JANGAN angkat aiphonenya. Kalau orang jahat dan tahu kamu sendiri di dalam, dia bisa buka paksa pintunya. Jadi kalau ada yang bel, diam saja pura-pura tidak ada orang. Toh mama dan kakak punya kunci sendiri untuk masuk”
“Iya ma… maaf…..”

“Omoide” Kai = Menang dalam permainan DodgeBall

Tinggal dua hari, untuk pesta perpisahan dan upacara wisuda di TK, dan Kai pun menjadi anak “gede” menjadi anak “kelas satu yang bercahaya ピカピカの一年生(pika-pika no ichinensei)

Anak Berkebutuhan Khusus

“Mama aku tidak suka deh dengan si M-kun… Dia sering pukul aku :(”
“Hmmm M-kun itu suka sekali sama Kai. Temani dia”
“Kalau suka kenapa pukul? Aku kan kesal kalau dia pukul terus. Kalau aku balas, sensei marah”
“Ya. Begini saja, kalau dia pukul kamu, langsung kasih tahu sensei. Jangan balas”
“Aku kasih tahu. Tapi terus-terusan… aku kesal. Aku benci M-kun!”
“Jangan dekat-dekat dia saja deh.”
“Aku juga ngga mau dekat-dekat dia… Tapi dia selalu datang ke aku. Gimana dong….”
“Hmmm iya sayang. Sabar saja. Gini…. M -kun itu sakit, dia suka kamu, tapi dia tidak tahu menyampaikannya. Jadi dia pukul kamu, karena dia tidak tahu caranya. ”

Itu percakapan aku dan Kai kira-kira dua bulan yang lalu. Memang gurunya Kai pernah berbicara denganku, bahwa M-kun itu suka pada Kai tapi pelampiasannya dengan memukul. Aku mengerti kedudukan gurunya Kai juga, mau melindungi semua anak. Dan aku bilang pada gurunya, “Tidak apa-apa. Saya akan kasih tahu Kai untuk beritahu setiap dipukul. Tolong handle saja. Saya yakin Kai tidak apa-apa. Nanti saya follow di rumah”

Dan …. Hari Senin lalu Kai melapor,
“Mama, Aku tidak mau ke TK. M-kun cakar aku. Sakit loh”
“Kamu sudah kasih tahu sensei?”
“Sudah… tapi dia tetap cakar aku. Aku sebal. Malas ke sekolah”
“Kai, kamu sekolah tinggal 4 kali lagi. Kemudian ada pesta dan wisudaan…. Tolong sabar ya”
Dan aku bujuk dia untuk pergi ke sekolah hari Selasa, karena aku harus mengajar. Aku bisa saja membawa dia ke tempat kerjaku, tapi sediam-diamnya dia, aku tidak bisa konsentrasi penuh mengajar. Untung dia mau ke sekolah hari Selasa. TAPI dia tetap dicakar M-kun. Jadi hari Rabu kemarin aku memboloskan dia. Daripada anakku trauma, lagipula di jam pelajaran sudah mulai pendek, hanya dua jam sehari, dan pasti sudah tidak banyak belajar. Biarlah aku mengikuti keinginan Kai untuk bolos ke TK, tapi dengan janji jika masuk SD bulan April nanti, tidak boleh bolos.

Dan, hari ini juga bolos, berarti tinggal hari Jumat besok, dan aku akan menyuruh dia pergi untuk terakhir kalinya.

M-kun itu penderita Autis. “Anak berkebutuhan khusus” istilah kerennya. Jika mencari di wikipedia, istilah ini berarti :

 Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Aku sendiri cukup akrab dengan ibu si M-kun, dan sering bercakap-cakap. Si Ibu juga sering minta maaf kepadaku bahwa anaknya sering mengganggu. Dan aku selalu menjawa, “Tidak apa-apa, namanya anak-anak” Aku sendiri baru SADAR bahwa anaknya Autis setelah mendengar dari ibu teman lainnya, waktu dipanggil bersama oleh gurunya Kai. Aku tahu bahwa M-kun sering mengganggu di kelas. Jika kami datang ke kelas, aku melihat dia sering berteriak sendiri, atau mengulang omongan gurunya, jalan-jalan dalam kelas sementara yang lainnya duduk. Kadang dia berteriak dan tidak mau turun dari sepeda, tidak mau masuk kelas pagi hari waktu diantar ibunya. Menangis sekeras-kerasnya waktu tersandung jatuh, yang menurut pengamatanku, jika yang jatuh Kai, Kai biasa saja paling meringis sedikit. Tapi M-kun ini memang ochitsukanai 落ち着かない, tidak bisa tenang, dan overreacting.

Aku pertama kali kenal dan mengetahui istilah ADHD 20 tahun yang lalu, dari seorang teman Jepang. Dia cerita bahwa anaknya ADHD. Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) is a problem of not being able to focus, being overactive, not being able control behavior, or a combination of these. Saat itu aku tidak begitu perhatian, tapi memang dia mengatakan soal tidak tenang, susah belajar dan biasanya punya masalah dengan penglihatannya, jadi harus pakai kacamata. Saat itu di Jepang tidak ada dokter yang bisa menangani sehingga dia sekali setahun harus pergi ke Amerika untuk memeriksakan anaknya. Dokternya menyarankan dia untuk memberikan minuman berkafein (kopi dan teh) dalam takaran tertentu setiap hari untuk membantu anaknya supaya bisa tenang, dan menghindari Coca Cola dan jus lain yang mengandung aspartame. Anak lelaki yang waktu aku bertemu berusia 6 tahun sekarang sudah lulus akademi dan bekerja sebagai perawat orang sakit/tua. Si ibu sering meneleponku, hanya untuk curhat dan aku hanya bisa mendengarkan saja. Terus terang awalnya aku sering tidak konsentrasi mendengarkan kalau dia telepon, atau tidak mau angkat telepon jika nomornya yang keluar jika aku sedang tidak mood juga. Tapi selama 20 tahun berteman dengan ibu ini, aku bisa tahu sulitnya menangani anak ADHD.

Ibu M-kun ini juga terlihat payah, padahal dia baik dan mau aktif. Tapi mungkin karena anaknya begitu, dia jarang sekali terlihat berbicara dengan ibu-ibu yang lain. Bukan karena ibu-ibu yang lain tidak mau berbicara dengannya, tapi TIDAK DIPERBOLEHKAN oleh anaknya. Anaknya sering memukulku juga jika aku sedang berbicara dengan ibuku. Dia tidak kasih ibunya beramahtamah dengan orang lain, APALAGI berbicara dengan anak lain. Pernah ibunya memberikan foto Kai kepada Kai, dan M-kun memukul Kai. Dengan susah payah ibunya menenangkan anaknya, dan aku maklum, cepat-cepat berkata terima kasih lalu cepat-cepat menjauh pulang. Kasihan…. Butuh tenaga ekstra untuk menangani anak-anak seperti dia, yang terlihat normal berlainan dengan tunanetra, tunarungu dll. Kadang teman-teman sekitarnya tidak bisa mengerti dan menganggap mereka aneh. Padahal, ya, mereka hanya butuh perhatian yang lebih banyak. Dan… cukup banyak juga ibu-ibu tidak menyadari bahwa anak-anaknya butuh psikolog, obat dan guru yang bisa mengerti.

Bersyukur pada Tuhan bahwa anakmu tidak berkebutuhan khusus.
Bersyukur pada Tuhan bahwa jika anakmu berkebutuhan khusus, kamu juga diberikan kemampuan untuk menangani mereka.

Semoga Tuhan memberikan kekuatan ekstra kepada ibunya M-kun, dan ibu-ibu teman lain yang berkebutuhan khusus. Dan…. Semoga Tuhan juga memberikan kekuatan dan kebijaksanaan pada guru-guru yang mempunyai murid berkebutuhan khusus dalam kelasnya. Amin