Big Issue

Memang bukan BIG Issue jika hari ini aku pergi date lunch dengan “adik lesung pipit”ku Sanchan, dan “adik sama harlah” Yanz di Shinjuku. Tapi BIG Issue waktu aku pulang setelah belanja, bawa belanjaan berat-berat dan harus menunggu taksi selama 40 menit dalam hujan yang dingin. Waktu kulihat di iphoneku, saat itu temperatur 3 derajat tapi real feelnya minus 2. Haduh, rasanya tanganku mati rasa akibat dingin, karena aku tidak bawa sarung tangan atau Kairo. Angin yang kencang berkali-kali menerpa payungku, dan untung “tulang” payungku ada 16 sehingga kuat tidak rusak oleh angin. Tanganku masih beku sesampai di rumah setelah ada sebuah taksi berhenti di depan stasiun dan mengantarku ke rumah yang hanya 10 menit itu.

berdiri di depan pohon Natalnya Sizzler… lucu hiasannya wortel, bawang bombay…segala sayuran hehehe

BIG Issue adalah nama majalah yang dijual oleh para furosha, homeless, bahasa Indonesianya…gelandangan (Karena mereka TIDAK mengemis tapi menggelandang di taman-taman atau di jalanan). Majalah ini diberi harga 350 yen, tapi 180 yen dari harga penjualan akan menjadi milik si penjual, yaitu si furosha itu. Dan syarat untuk menjual majalah ini adalah TIDAK BOLEH menawarkan majalah sama sekali. Hanya berdiri saja, sehingga tidak mengganggu masyarakat umum. Nah, bagaimana warga tahu dia menjual? Ya, dengan kuchikomi, atau penyebaran dari mulut ke mulut (atau seperti aku sekarang menulis begini)

Majalah BIG Issue ini diterbitkan pertama kali di United Kingdom oleh pendiri The Body Shop, John Bird MBE dengan dukungan Gordon dan Anita Roddick tahun 1991. Sedangkan di Jepang dimulai tahun 2003 dengan maksud untuk membantu para homeless mendapatkan uang BUKAN dengan mengemis, tapi menjual BIG Issue. Para homeless awalnya mendapat 10 eksemplar secara gratis dan dengan uang yang didapat bisa dia beli lagi BIG issue seharga 170 yen. Menurut  website BIG Issues Japan,  dari September 2003 sampai Maret  2013,  sudah ada 1427 homeless yang mendaftar sebagai penjual BIG Issues. Sampai Maret 2013, 5.71juta majalah terjual di Jepang dengan pemasukan  802 juta yen pendapatan bagi para homeless.

Jadi, kalau ada yang kebetulan bermain ke Tokyo (atau kota di Jepang yang lainnya), dan melihat ada orang yang berdiri dengan majalah diletakkan di sampingnya, dan mempunyai uang 350 yen…. belilah, meskipun mungkin Anda tidak membacanya. Belilah karena dengan demikian Anda telah memberikan KAIL kepada mereka, BUKAN ikannya.

Dan percayalah, homeless yang bernama Yoshizawa san tadi yang kutemui, TIDAK bau, dan TIDAK kasar seperti kebanyakan homeless di Tokyo. Dia memberikan kartu namanya kepada kami dan bahkan memberikan permen berhiaskan boneka salju sebagai tanda terima kasihnya. Dan tentu saja dia mengijinkan aku mengambil foto bersamanya.

Bersama Yoshizawa san, homeless penjual BIG Issue di depan Mitsui Building Shinjuku, Tokyo.

Ntah kapan, tapi kuharap suatu waktu nanti, akan ada usaha semacam BIG Issue Indonesia yang membantu pengemis dan gelandangan di Indonesia. INGAT, kita lebih baik memberikan Kail daripada ikan, meskipun mungkin pada saat tertentu kita harus memberikan ikan dulu, supaya dia bisa pergi ke sungai dan memakai kailnya :)

 

Sekolah Minggu

Memang sekolahnya hanya pada hari Minggu makanya disebut Sekolah Minggu. Tapi biasanya istilah ini langsung dimengerti oleh orang Indonesia sebagai waktu untuk “belajar” agama di gereja, karena umat Kristen pergi ke gereja pada hari Minggu.

Aku terdaftar sebagai umat katolik di paroki (wilayah) Kichijouji, Tokyo. Paroki Kichijouji konon adalah paroki kedua terbesar di Tokyo. Sejak 2 tahun lalu aku menyertakan Riku pada Sekolah Minggu di sini, karena dia harus belajar dulu untuk komuni pertama kelas 5. Kai baru ikut April lalu seiring masuknya dia ke SD.

Ada banyak kegiatan yang sudah terprogram, dan hari ini mereka menyelesaikan kegiatan sebelum masuk libur akhir tahun serta merayakan natal bersama. Pagi-pagi jam 5 pagi aku sudah bangun untuk menggoreng ayam, karena aku menjanjikan membawa ayam goreng untuk 20 orang leader (istilah untuk kakak pengajarnya).

Setelah misa jam 9 (misa anak-anak memang selalu jam 9), kami berkumpul di hall dan menonton sandiwara dari anak-anak sekolah minggu yang dibagi jadi dua grup. Riku dan Kai masuk grup A, dan tampil pertama. Karena minggu lalu Riku ikut test tryout dan tidak ke gereja, dia baru datang latihan kemarin (Sabtu) dan dicadangkan bermain drama sebagai Yosef. Ternyata anak yang seharusnya menjadi Yosef tidak datang, sehingga benar Riku harus bermain sebagai Yosef. Untung saja dia hafal apa yang harus diucapkan (pagi tadi dia belum hafal sehingga tulis di kertas kecil)

Riku sebagai Yosef dalam drama Natal di Sekolah Minggu

Kai hanya ikut bernyanyi saja, tapi mereka menyanyikan satu lagu yang disertai bahasa isyarat. Kai sejak pagi mengatakan tidak mau ikut pentas karena tidak bisa bahasa isyaratnya, jadi aku bilang, Kai di belakang saja…. Eh ternyata dia benar-benar di belakang, sampai aku saja tidak melihat dia :D

Nah, yang jadi masalah apakah Riku yang berperan sebagai Yosef bisa melakukan bahasa isyarat? Karena Yosef posisinya paling depan. Jadi aku ikut deg-degan apakah Riku bisa mengucapkan part bagiannya dan apakah bisa berbahasa isyarat. Eh Ternyata bisa loh, dia juga hafal apa saja yang harus dikatakan selaku Yosef. Kalau aku, hmmm pasti aku seperti Kai, tidak mau tampil di panggung hehehe.

Acara sandiwara anak-anak dilanjutkan dengan lagu yang dibawakan oleh pastor Ardy, pastor paroki Kichijouji, yang kebetulan berasal dari Indonesia. Ternyata pastor Ardy akan menyanyi sebuah lagu dari sekolah minggu di Indonesia, dan aku tahu lagunya. Dari jauh pastor sudah memberi isyarat supaya aku ikut menyanyi :D

Riku dan kai di depan YOSE (tempat pertunjukan rakugo) di Shinjuku

Sayang aku tidak bisa mengikuti acara penutupan yaitu pembagian hadiah dari Santa Claus, karena aku ada rapat di tempat lain. Buru-buru pergi, sambil meninggalkan pesan bahwa anak-anak pulang sendiri ke rumah. Gen memang kurang enak badan sehingga beristirahat di rumah. Baru setelah anak-anak kembali ternyata Gen mengajak mereka menonton rakugo (permainan kata-kata oleh satu orang) di Shinjuku. Aku kemudian bergabung dengan mereka setelah selesai rapat dan kami pulang sama-sama. Hari Minggu yang melelahkan dan kalau dipikir-pikir hari ini memang merupakan Minggu yang sibuk.

Kanji of The Year : 2014

Setiap tanggal 12 Desember, sebuah lembaga Jepang yang biasa menyelenggarakan Ujian Kanji, 日本漢字能力検定協会 mengadakan pemilihan huruf Kanji yang mewakili tahun itu. Kalau tahun 2012 terpilih 金 (kin= emas) dan 2013 輪 (wa = lingkaran), maka tahun 2014 terpilih kanji 税 (zei = pajak). Memang sejak April tahun ini, pajak pembelian di Jepang naik dari 5 % menjadi 8%, dan itu menjadi topik terus, karena ada rencana untuk melanjutkan kenaikan dari 8% menjadi 10%.

Kanji tahun 2014 : 税 ZEI、foto dari Asahi Shimbun

Biasanya Kanji yang mewakili tahun itu memang yang terbanyak dipilih. Karena dua tahun terakhir, kanjinya berarti bagus, kali ini kok rasanya membuat “suram”. Dan kalau melihat calon berikutnya adalaj kanji 熱 (netsu = panas, dari yang positif dari “panas”nya olimpiade musim dingin, yang menghasilkan medali emas untuk Jepang, sampai “panas” negatid dari Ebola). 嘘 (uso = bohong, yaitu peristiwa ghost writer dari seorang komposer terkenal di Jepang serta penemuan STAP yang ternyata merupakan kebohongan juga). 災 (sai = bencana, terutama bencana tanah longsor di Hiroshima yang menimbulkan banyak korban). serta yang ke 5, adalah 雪 (yuki = salju, ini tak lain dan tak bukan populernya film FROZEN :D

Naik Kereta Api tut tut tuut~

Aku suka naik kereta api di Jepang. Semuanya bisa direncanakan karena detil keberangkatan dan kedatangannya per menit, dan kita juga bisa memperkirakan berapa lama pindah kereta. Musim semi yang lalu, aku melewatkan 6 hari wisata di Selatan Jepang dengan kereta. Nyaman, meskipun tidak bisa dibilang murah.

Nah, waktu kami mudik musim panas lalu, aku ingin mengajak Riku dan Kai naik kereta di Indonesia. Supaya bisa membandingkan dengan Jepang. Kupikir bisa naik KA Parahyangan ke Bandung saja. EH ternyata waktu aku minta papa membelikan tiket pesawat Sby-Jogja, ternyata tidak ada rute itu, sehingga papa menyarankan aku naik kereta saja dari Surabaya- Jogja. Waktu kutanya pada Kang Yayat, beliau bilang kira-kiraa 5 jam sudah sampai kok. OK kalau 5 jam aku masih bisa tahan hehehe.

Setelah dari Zangardi, kami mampir ke stasiun Gubeng untuk membeli tiket kereta Surabaya-Jogja berangkat pagi. Mau antri di loket… hmmm banyak orang dan pasti makan waktu. Kemudian aku diajak mbak Lely untuk pergi ke Minimart yang ada di stasiun itu. Oleh mbak penjaga diberitahu bahwa bisa membeli secara online. OK deh, aku ahli kok kalau online-online an… jadi aku bilang padanya untuk bantu aku kalau aku tidak bisa. Jadilah aku beli secara online.

menunggu kedatangan kereta di Stasiun Gubeng

Masukkan tanggal, jam, pilih kereta lalu masukkan nama dan no HP. Karena kami bertiga, aku harus mengulang tiga kali! Dan no HP nya tidak boleh sama. Wah aku bingung, tapi mbaknya bilang, “Ngga papa kok bu, belakangnya aja diganti 1, 2, 3. Yang penting ada satu nomor yang asli”. Heran juga kenapa harus pakai nomor HP ya? Kalau tidak punya bagaimana dong? Pakai HP teman? atau isi asal-asalan?

Setelah mengisi data yang diperlukan, aku membayar harga tiketnya langsung di Minimart dan mendapatkan nomor transaksi. Katanya aku harus membawa nomor transaksi itu ke pencetakan karcis di samping loket. Duh, musti antri lagi?

denah di stasiun Gubeng. Kai takjub melihat vending machine di Indonesia, soalnya bayarnya pakai uang kertas, bukan logam. Lain dari vending machine di Indonesia. Jadi dia minta uang padaku untuk coba beli :D

Ternyata tidak sih, aku tinggal masukkan nomor transaksi di komputer yang ditunggui petugas PJKA, dan …. sret sret tiket langsung dicetak. Mudah! Coba kalau aku antri di loket pembelian, bisa mabok aku tunggu gilirannya :D

dalam kereta Sancaka

Nah, tanggal 13 Agustus paginya aku tinggal datang ke stasiun Gubeng dan masuk peron. Karena pengantar tidak boleh masuk ke dalam, kami berpisah dengan Kang Yayat di depan pintu. Kami pakai jasa porter untuk membawa barang-barang kami yang bertambah dengan oleh-oleh. Begitu banyak piece dibawa oleh satu orang pemuda, wah hebat juga ini anak pikirku. TAPI yang menjadi masalah nantinya bagaimana aku menurunkan barang-barang itu di stasiun KLATEN, tujuan kami hari itu.

Dalam kereta Sancaka itu…hmmm ya kereta tua sih. Kalau sudah biasa naik kereta Jepang, langsung berasa Downgrade :D (dan memang Riku langsung berbisik padaku, “Mama keretanya jelek ya…”) Ya, harap dimaklumi lah nak.

Tidak kalah kok kereta Sancaka dengan kereta yang bisa kita pakai di Jepang. Buktinya ada colokan listrik sehingga bisa charge gadget seenaknya. Kalau di Jepang hanya beberapa jenis shinkansen saja yang bisa. Lalu di kereta Sancaka juga ada pelayan yang membawakan makanan bagi yang belum makan, meskipun pilihannya sedikit. Kalau di Jepang memang dalam shinkansen menyediakan gerobak berisi berbagai jenis makanan, tapi kereta biasa tidak ada pelayanan seperti itu.

pramu-kereta yang menawarkan makanan kepada penumpang.

Hanya ada satu pertanyaan Kai yang amat sulit kujawab. Sambil melihat keluar jendela, dia bertanya, “Mama, kok semua sungai airnya kotor begitu sih? Coklat dan banyak sampah …. iiih jijik”
Dan maaf…aku tak bisa jawab sama sekali. Aku cuma bisa bilang, “Ya begitulah….”
Karena hampir semua kali dan sungai di Jepang berwarna bening, anakku tidak mengerti kenapa kok harus coklat warnanya di Indonesia. padahal… sama-sama punya sawah, sama-sama punya gunung, sama-sama ada hujan …..

Sambil merenungi kenyataan bahwa air di Indonesia masih jauh dari layak, aku memutar otak juga bagaimana caranya untuk menurunkan barang-barangku di Klaten, yang sepertinya stasiun kecil, dan selama kereta Sancaka berhenti berhenti di stasiun kecil, aku tidak pernah melihat ada porter yang masuk ke gerbong kami.

Karenanya menjelang klaten, aku mencari petugas cleaning yang masih muda. Lalu kutanya padanya apakah ada porter di stasiun Klaten. Lalu dia tanya, “Ibu turun di Klaten? Nanti saya bantu” dan dia tanya aku duduk di mana. Lega aku karena aku sudah menemukan solusi, si petugas cleaning akan memanggilkan porter untukku. :)

 

 

Hotel Majapahit Surabaya

Setelah hari pertama di Surabaya kami menginap di hotel yang masih baru bernama MidTown, malam kedua kami pindah hotel. Pindahnya ke hotel yang konon “fenomenal”. Karena setiap teman yang kuberitahu bahwa kami akan menginap di hotel Majapahit, pasti bertanya, “Kok di situ sih mel?”

Jadi ceritanya, waktu aku merencanakan pergi ke Surabaya, aku tentu cari-cari hotel di Surabaya dong. Maklum aku memang suka mencoba-coba hotel, jadi biasanya tidak pernah berlama-lama di satu hotel saja. Nah, aku cari deh nama hotel di Surabaya melalui situs Agoda. Dan aku melihat foto Hotel Majapahit! Wow… bagus, senada dengan hotel Raffles di Singapore. Tarifnya mahal (menurutku) tapi tidak semahal hotel-hotel chain yang terkenal. Apalagi waktu kucari itu Agoda sedang memberikan diskon cukup banyak, dengan syarat tidak boleh diganti/dibatalkan. Biasanya aku sih tanpa pikir panjang memesan saja, tapi….. tanya-tanya dulu ah!

Orang pertama yang kutanya mengatakan, “Kamu berani tidur di situ?”
“Loh emang kenapa?”
“Hmmm kan……. Tapi kalau kamu mau sih boleh saja”
ayashiii…. mengherankan. Dan membuatku jadi ingin mengetahui tentang hotel itu. Kenapa dan ada apa?

Menurut wikipedia, Hotel Majapahit didirikan tahun 1910 dan awalnya bernama LMS, kemudian menjadi hotel Oranje, lalu berubah nama menjadi Hotel Yamato, Hoteru dan sekarang namanya menjadi Hotel Majapahit.

tempat bersejarah

Begitu membaca nama hotel Oranje itu aku teringat… Ooooh ini hotel yang tempat insiden perobekan bendera Belanda menjadi Merah Putih. Tapi…. emang ada apa ya?

Ternyata biang keladi hotel itu dianggap angker yaitu karena hotel itu setelah menjadi hotel Yamato, pernah dipakai sebagai penjara dan RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees: Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran). Jadi deh banyak cerita seramnya.

Tapi waktu aku cerita ke Kang Yayat dia bilang “katanya sih, tapi ada teman fotografer yang sengaja ke sana, cari dan tidak menemukan apa-apa….” (Mungkin karena dicari ya hehehe).

Karena waktu mendesak, aku akhirnya memutuskan untuk memesan satu hari saja tapi ambil kamar suite (tadinya sih mau dua hari, tapi Yanz temanku bilang… jangan dua hari, seandainya ada apa-apa jadi tidak kelamaan :D), dan menguatkan diri untuk pergi. Padahal sih sempat juga kepikiran dan mau membatalkan saja :D

welcome drink,selasar dan kamar hotel

Jadi setelah kami selesai makan es krim di Zangardi, kami menuju ke hotel Majapahit dan cek in. Memang hotelnya bagus, bersih, terang (karena berwarna putih…warna kesukaanku untuk bangunan), pelayanannya bagus dan tamannya juga bagus. Tak disangka aku mendapat kamar persis menghadap Presidential Suite, jadi indah!

kiri atas, pintu masuk kamar. kiri bawah: depan kamar kami adalah presidential suite. kanan bawah coffee shop jaman dulu

Anak-anak kaget melihat kamar sebagus itu, dan langsung deh terjun ke tempat tidurnya :D Norak bener.

langsung nyobain bed dan kamar mandi

 

Sedangkan aku bersama Kang Yayat sekeluarga + Yuni berfoto di taman tengah. Karena kami merencanakan mengadakan kopdar blogger jam 6, jadi semua bubar dulu untuk istirahat.

kopdar di halaman hotel

 

Aku sendiri tidak istirahat karena menerima kedatangan dua orang kohai, junior dari sastra Jepang yang menjadi dosen di Surabaya. Padahal aku belum pernah tatap muka dengan mereka, tapi berkat FB kami bisa saling berkomunikasi.

bersama kohai sastra Jepang. Tiga ibu dosen :D

Setelah mandi dan bersiap kami meninggalkan kamar hotel untuk pergi ke Dapur Sunda, tempat kopdar malam itu.

kiri atas: lobby. kanan atas : tempat penurunan bendera kiri bawah: pintu masuk, kanan bawah: pemandangan dari kamar kami

Lalu pertanyaan semua orang, “Bagaimana hotel itu?”
Kujawab, “Baik, bagus….. aku tidak melihat apa-apa. Tapi karena sudah diinput cerita macam-macam sebelumnya, jadi aku sulit tidur. Itu saja. Anak-anak sih lelap, karena mereka tidak tahu cerita-cerita itu kan? ”
“Mau nginap lagi lain kali?”
“Ya! ASAL berdua dengan suamiku. TIDAK jika harus sendiri. Aku justru mau jalan-jalan malam hari berdua, hunting :D” (Gelo ah!)

saat senja… (sssttt ada yang berkelebat loh :P)

Keesokan harinya tgl 13 Agustus, kami bagun pukul 5 dan  sarapan pukul 6 pagi karena kami harus pergi ke stasiun. Ya, kami akan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan kereta api! Makan paginya enak-enak , tapi sayang anak-anak tidak berselera makan karena masih kepagian. Sebelum cek out, kami sempatkan berfoto di luar, di bawah tempat bersejarah.

breakfast yang mewah dan yummy!

Tambahan : Waktu aku mengupload foto hotel ini, seorang saudaraku bercerita di FB bahwa oma Dodo, omaku yang di Belanda yang berusia 94 tahun dan kutemui bulan November lalu di Makassar, rupanya pernah bekerja di sini. Dan waktu kejadian ramai-ramai itu, dia diungsikan lewat belakang hotel… ah sayang aku lupa menanyakannya waktu bertemu. Padahal aku ingin tahu ceritanya, cerita bersejarah, bahwa salah seorang keluargaku pernah menjadi saksi sejarah.

Arman… ini tulisannya untuk kamu loh ;)

3 Sampoerna!

Ada 3 hal yang membuat Hari kedua perjalananku di Surabaya menjadi sampoerna!

Pertama: kami mengunjungi Museum House of  Sampoerna yang katanya blogger Nh18 dan agoyyoga wajib dikunjungi jika ke Surabaya. Kami bersama Kang Yayat sekeluarga memasuki museum dan disarankan untuk langsung menuju lantai dua, mumpung kami bisa melihat proses penggulungan rokok secara manual yang hampir berakhir. (Tidak boleh memotret di sini). Seru juga melihat dari atas, seakan kita sedang mengawasi pekerja-pekerja itu. Yang pasti di situ Kai ngedumel terus…. “Oh gini ya buat rokok itu. Rokok kan tidak bagus untuk kesehatan. Mestinya tutup saja pabrik ini, biar papa juga tidak merokok lagi … bla bla bla” duh cerewet deh! Apalagi dia ingat lambang 234 memang ada di meja papanya :D

waruuuung!

Setelah itu kami mengelilingi lantai dua lalu turun ke lantai satu melihat sejarah pabrik rokok ternama itu. Tak lupa anak-anak kusuruh berpose di beberapa tempat. Dasar anak lelaki tidak seluwes Aiko yang kenes banget kalau berpose :D

berpose depan Museum Sampoerna. Kai langsung mengenali kanji 王 yang artinya raja

Kami tidak lama berada di sini karena anak-anak tidak berminat dengan sejarah…apalagi sejarah rokok di Indonesia. Jadi kami cepat-cepat saja pindah tempat dan mencari makan! Sayangnya aku lupa tidak tahu bahwa sebetulnya di samping museum itu terdapat Cafenya, dan mobil Kang Yayat sebetulnya parkir tepat di depan situ hahaha. TAPI ada untungnya juga kami tidak makan di Cafe Sampoerna itu. Karena …..

Kedua: Setelah bingung menentukan mau makan siang apa, akhirnya kami langsung menuju Zangardi. Tempat es krim yang wajib dikunjungi di Surabaya. Apalagi anak-anakku suka sekali es krim. Jadi deh kami langsung saja ke Jl Yos Sudarso dan memarkirkan mobil di sana. Karena memang jamnya nanggung (jam makan siang), tokonya sepi. Kami langsung masuk dan memesan snack seperti siomay dan risoles. Enak! Sehingga cukuplah kami makan snack itu untuk mengganjal perut yang lapar, dan pas setelah itu langsung makan es krim. Seandainya kami makan di resto lain dulu, pasti sulit untuk menghabiskan es krimnya (eh tapi kalau orang Jepang bilang BETSUBARA 別腹 perutnya lain yang untuk es krim jadi pasti bisa masuk hehehe)

Zangardi

Aku pesan Blue Island, dan Riku pesan apa lupa namanya yang coklat. Lalu aku juga pesan tutti frutti yang menjadi andalan Zangradi sejak lama. Entah kenapa aku merasa es krim di sini lebih enak daripada Ragusa Jakarta, yang dibangun sekitar tahun 1930-an juga. Tapi ternyata setelah browsing aku malah baru tahu bahwa sebenarnya yang punya sama saja, jadi tidak mungkin rasanya lain :D

yummy!

Nah, setelah selesai dari sini, kami pergi cek in ke hotel Majapahit (tulisan tentang hotel terpisah ya) tempat kami menginap malam itu, dan selanjutnya Sampoerna yang ketiga deh

Ketiga: Kopdar blogger + teman SMP dan SMA

Akhirnyaaaaa aku bisa bertemu Pakdhe (dan Budhe) Cholik, komandan Blogcamp di Surabaya. Selain itu NiarYuni dan Yoga! Juga teman FB ku Aaliyah Keke, teman SMA dan Univ ku Nana beserta suami. Dan tak ketinggalan yang terakhir datang adalah Gatot, teman sebangku waktu di SMP yang bekerja di Surabaya. Teman SMP memang yang paling “membekas” kenangannya karena masih sekolah campur laki-laki dan perempuan. SMA aku hanya perempuan saja sehingga kenangannya lain dengan waktu SMP.

sebelum pesan makanan

Kami berkumpul di sebuah restoran masakan Sunda dan masih sempat berfoto bersama. Sayang waktu itu Riku kurang enak badan sehingga tidur di mobil duluan.

Kopdar tanpa foto memang hoax. Jadi ini buktinya :D Terima kasih banyak untuk kehadirannya ya

Demikianlah tiga ke-sampoerna-an yang kudapat di hari kedua di Surabaya, setelah 30 tahun tidak kukunjungi

 

 

Bakwan Malang

Perjalananku bersama MakDea yang amat singkat sebetulnya sudah direncanakan dengan matang oleh MakDea. Sebelumnya di chat dia sempat tanya apakah aku suka rawon, atau soto atau bakso. Dan aku bilang bahwa aku paling suka Bakwan Malang!

Tapi wiskul yang direncanakan MakDea untukku ternyata bukan sembarang bakwan/bakso tapi Bakso Sumsum yang katanya belum lama masuk koran! Konon bukanya jam 4 sore dan kalau tidak cepat-cepat bisa kehabisan. Jadi setelah dari Musium Angkut, kami segera menuju Bakso Sumsum yang fenomenal itu, dan ternyata cukup jauh. Tempatnya dekat Candi Singosari, di jln Kertanegara. Kami parkir di pinggir jalan besar, dan harus jalan kaki masuk gang. Sudah gelap waktu kami sampai di sana. Nah loh… masih kebagian ngga ya?

Eh, ternyata masih! Rupanya si MakDea sudah langganan di sana sehingga sudah telepon dulu minta dipersiapkan untuk tamu dari Jepang :D Langsung deh kami duduk dan menunggu dihidangkan. Eh tapi sambil menunggu aku sempat dikenalkan dengan yang punya toko, Cak Hadi. Tuh sempat berfoto bersama (yang membuat MakDea tertawa si Cak Hadi sok akrab bener sama aku hahaha)

Cak Hadi si pembuat bakso sumsum di Malang

Menurut cerita yang bisa dibaca di sini, Cak Hadi yang bernama lengkap Hadi Prayitno itu sudah lama berjualan bakso dan menemukan sendiri resep khasnya untuk Bakso sumsum. Aku sendiri tidak ada bayangan bagaimana sih itu bakso sumsum, kupikir dalamnya ada semacam lapisan lembut putih seperti tahu, ternyata ya seperti cairan saja. Jadi kalau makan harus kunyah di dalam mulut, jangan gigit di luar mulut gitu hehehe. Lucu jadinya Riku dan Kai otomatis menutup mulutnya setelah aku wanti-wanti jangan muncrat :D

tampangnya jadi lucu makan bakso sumsum

Rasanya memang enak, tapi kata MakDea musti hati-hati jangan keseringan makan bakso ini karena tensi bisa naik tak terkendali. Untung saja aku tidak tinggal di Malang ya, karena bakso /bakwan merupakan kesukaanku :)

haduh jadi lapar lihat bakso malam-malam dingin begini hehehe

Setelah selesai makan, kami berpisah karena kami langsung kembali ke Surabaya sedangkan MakDea pulang ke rumahnya di Malang tentunya. Tapi dalam perjalanan ke Surabaya, kami sempat mampir dan membuat foto Mesjid Cheng Hoo Pandaan dari depan.

Mesjid Cheng Hoo Pandaan waktu malam

Kami sampai di hotel Surabaya sekitar pukul 9 malam sudah capek dan malas cari makan malam lagi. Hotel kami malam itu adalah MidTown yang terletak di jalan Basuki Rachmat. Hotel yang masih baru dan lumayan murah, dengan interior berwarna hitam. Aku sebetulnya kurang suka interior hitam, tapi lumayan lah karena masih baru (dan cuma untuk 1 malam saja). Tadinya aku berharap bisa menginap bersama Apikecil dan Masbro di sini, tapi karena Apikecil sakit jadi terpaksa batal bermain bersama kami. Yang keenakan Riku karena  dia bisa tidur sendiri di satu kamar, mungkin ini pertama kalinya Riku tidur sendiri di satu kamar hotel. Takut? Dia sama sekali tidak takut tuh tidur sendiri hehehe.

Setengah hari di Malang memang tidak cukup, tapi aku berharap kelak bisa kembali lagi ke kota yang sejuk ini. Dan kuharap jarak waktunya tidak selama kunjunganku ke Malang pertama kali yaitu 30 th lalu… harus lebih cepat ya :)

Tokyo SkyTree

Sejak aku menulis tentang pembangunan SkyTree di blog milik mbak Tuti Nonka (wah tulisan tahun 2010 tuh), SkyTree memang ditunggu-tunggu menjadi ikon kota Tokyo. Sayangnya waktu SkyTree diresmikan bulan Mei tahun 2012, waktu itu Jepang masih sedang berkabung karena gempa bumi besar di Tohoku. Aku sendiri pernah merencanakan untuk pergi ke SkyTree ini untuk merayakan ulang tahun kami tahun 2013, tapi gagal karena turun badai salju tepat di hari tersebut. Kami berhasil sampai ke sana, tapi tetap tidak bisa naik dan kami mendapat uang kembalian karcis yang telah kami beli. Setelah itu, kami hanya melihat dari jauh saja, seperti waktu kami pergi ke Sumo Arena.

Nah, hari ini aku dan Kai berduaan saja pergi ke SkyTree. Gen pergi kerja dan Riku sudah kepalang berjanji dengan teman-temannya untuk mengikuti acara mochitsuki taikai (membuat mochi) di SD nya, dan setelah itu harus belajar untuk ujian tryout besok. Kami janjian di SkyTree dengan adikku, sahabat keluarga yang tinggal di Kanagawa dan adik iparku yang sedang datang dari Jakarta untuk dinas ke Tokyo. Karena adik iparku akan kembali ke Jakarta besok, padahal seminggu ini dia sibuk sekali, kesempatannya hanya ada pada hari ini. Jadi sebetulnya kalau adik iparku tidak datang, kami tidak akan sampai ke SkyTree…. :D

Perjalanan yang jauh dan harus ganti kereta beberapa kali. Kondisi kaki kiriku yang salah urat juga tidak menunjang untuk naik turun tangga. Untung saja Kai tidak mengeluh harus berdiri terus dalam kereta ditambah ganti kereta berapa kali. Alhasil kami sampai di SkyTree mepet dengan jam pesanan tiket kami, jam 1 siang. Tiket memang sudah kupesan online, karena aku tidak mau antri lama-lama di sana. Harga tiket kalau beli pada hari tersebut memang cuma 2060yen (untuk dewasa), sedangkan kalau pesan menjadi 2570 yen. Untuk anak-anak usia SD adalah 1440 yen (930 yen kalau di loket). Tapi karena aku terlanjur membeli tiket untuk Riku, aku sebenarnya aku sudah merelakan jika harus hangus. TAPI ternyata aku hanya terkena denda cancel 500 yen, dan 1440 yennya dikembalikan. Hmmm aku sekaligus tanya, apakah jika ada satu orang tambahan aku bisa minta tambahan langsung? Dan dijawab, TIDAK BISA< harus antri. Jadi….. lebih baik beli saja dulu sejumlah orang-orang yang MUNGKIN bisa pergi, kalau cancel tinggal bayar denda :D (Tapi memang buat pihak SkyTree tidak menyarankan seperti itu hehehe)

Kami langsung diantar antri depan lift yang konon puya 4 hiasan dalamnya sesuai 4 musim, dan kami masuk dalam lift Musim Gugur. Kami langsung menuju deck setinggi 350 meter dpl dalam waktu 1 menit. Tidak terasa euy.

menjadi siluet karena cahaya belakangnya terlalu terang

Begitu keluar lift, mata menjadi silau melihat pemandangan yang terhampar. Kacanya bersih tanpa noda, sehingga kami dapat membuat foto dengan bagus, tapi memang harus hati-hati jangan kena bayangan dari kaca yang lain. Aku sendiri sebetulnya ingin membeli tiket masuknya jam 4-an supaya bisa melihat sunset, tapi sudah habis tiketnya. Jadi memang sekitar jam 1 itu sinarnya terlalu terik untuk memotret.

Kai juga ingin memotret sehingga aku memberikan iphoneku untuk dia pakai. Dan menariknya, Dia menemukan saja tempat dan moment yang bagus untuk dipotret. Seperti foto ini: Bayangan SkyTree di atas bangunan-bangunan. Kalau Kai tidak menunjukkan kami, pasti kami juga tidak sadar.

bayangan SkyTree di atas bagunan-bangunan

Karena kami sebetulnya belum makan siang dan sudah lapar, jadi kami memutuskan untuk turun saja. Karena kalau mau naik ke ketinggian 450 meter, kami harus membayar 1030 yen lagi dan harus antri lagi… padahal pemandangannya sama saja kan? heheheh (perut lapar lebih penting daripada pemandangan).

Kai asyik memakai display sentuh yang menunjukkan gambar daerah Tokyo yang terlihat pada bagian itu

Banyak bagian konstruksi yang dilapis busa sehingga kalaupun ada yang menabrak tidak sakit

 

Kami akhirnya turun ke lantai 4 dan masuk ke food courtnya. Di Foodcourt ini ada ramen Ippudo yang konon sudah membuka restorannya juga di Indonesia. Aku sendiri baru makan 2 kali (termasuk hari ini), dan its not my taste deh. Masih banyak ramen lain yang menurutku lebih enak :D

salah satu dari sekian banyak jembatan di Tokyo

Ada dua hal juga yang kurasa kurang di food court itu. Selain kurang meja dan kursi, pengembalian piring bekas pakai terlalu jauh. Memang orang Jepang terbiasa mengembalikan piringnya sendiri dan tidak meninggalkan piring bekasnya, tapi di food court itu karena luas, jika mendapat tempat duduk terjauh, maka perlu waktu juga untuk mengembalikan piringnya.

warna-warni musim gugur yang terlihat dari atas. Kanan bawah masih terlihat lahan makam yang biasanya dimiliki kuil Buddha

Kami akhirnya kembali ke pelataran pintu masuk SkyTree untuk berfoto dan menikmati toko-toko yang sedang merayakan christmas fair. Karena musim dingin senjanya cukup cepat, kami sempat mendapatkan perubahan senja dan light up yang kali ini berwarna hijau. Setelah adik iparku membeli Tokyo Banana untuk oleh-oleh, kami akhirnya menuju subway untuk pulang. Akupun sampai di rumah jam 7 malam dengan badan dan kaki remuk (redam :D)

Gaya Kai memotret

Bagi mereka yang mau menikmati SkyTree jika berkunjung ke Jepang, bisa melihat websitenya dalam bahasa Inggris di http://www.tokyo-skytree.jp/en/

Museum Angkut Batu

Bukan museum tentang angkut mengangkut batu sih, tapi Museum mengenai angkutan (kendaraan) di Batu, Malang. Duuuh tulisan ini memang terlambat sekali, tapi daripada tidak sama sekali, aku akan tetap menuliskan lanjutan perjalanan kami waktu liburan musim panas yang lalu (sekarang sudah musim dingin di Jepang sih hehehe). Setelah dari Hotel Tugu Malang tanggal 11 Agustus 2014, kami mengikuti mobil MakDea dan suami yang mengarah ke Batu. Memang banyak teman yang menyarankan pergi ke Jatim Park, tapi perjalanan dalam kota Malang kali ini aku serahkan pada  guide cantikku ini. Dan menurut MakDea, Museum Angkut yang baru dibuka bulan April itu BAGUS! (Pakai huruf gede!).

sungguh kontras  ya warnanya :D

Waktu kami sampai, kami masih mendapat tempat parkir, jadi mestinya tidak penuh sekali. Setelah berfoto-foto di depan helikopter di depan museum, kami masuk. HTM nya cukup mahal, Rp. 50.000 per orang. Dan aku membayar tambahan Rp. 30.000 karena aku mau membawa kamera besar ke dalam (tidak mau menitipkan di loker juga). Tapi pada kenyataannya aku mengganti kamera Nikonku dengan camera Canon Powershoot karena di dalam ruangan kurang cahaya jadi hasilnya kurang bagus.

begitu masuk terbentang ruangan besar berisi kereta kuda, mobil lama dan mobil sport, juga sepeda motor.

Begitu kami masuk berjejerlah mobil-mobil kuno yang aku tidak ketahui dikelompokkan berdasarkan apa. Salah satu kekurangan museum di Indonesia adalah tidak disediakan pamflet panduan yang menerangkan sedikit tentang apa saja yang dipamerkan. Kalau di Jepang, pasti kita akan mendapat selebar “rangkuman” sekaligus peta penuntun apa saya yang ada dalam museum itu, dan tentu saja leaflet itu gratis. Jadi kami foto-foto saja!  Riku dan Kai pun senang berfoto dengan mobil-mobil itu.

setelah dari ruangan besar itu kami naik ke lantai dua yang kebanyakan berisi kendaraan jaman dulu di Indonesia

Setelah puas di situ kami ke atas dan menemukan segala angkutan jaman dulu, mulai dari bendi (dokar) sampai becak dan vespa. Kelihatan ini kendaraan yang terdapat di Indonesia. Di sini kami juga bisa ke luar dan menaiki roket yang terletak di sebelah kiri. Aku dan MakDea menunggu di bawah, sementara Riku dan Kai naik ke roket…. dan salah deh menyuruh Kai naik, dia takut ketinggian, jadi teriak-teriak terus :D.

Ada Kang Yayat sedang memeriksa TKP mobil DI yang kecelakaan tuh :D

 

Nah kupikir sudah sampai situ saja museumnya, eh ternyata masih banyak! Masih ada pemandangan berlatar jalan Malioboro, ada pula mobil proyek percobaan Dahlan Iskak yang mengalami kecelakaan itu. Benar-benar aku tidak tahu mereka mengatur berdasarkan apa hehehe.

Dari ruangan ini kami keluar dan turun menuju sebuah “perkampungan” yang disetting seperti Jakarta jaman baheula. Ada toko, ada kantor pos, ada becak, ada bemo, ada warung…. menarik karena terlihat mereka membuatnya cukup halus. Halus banget untuk standar orang Indonesia. Aku tak menyangka melihat layout yang bagus begini. Terus terang langsung merasa senang berada di “jaman doeloe” ini, meskipun tidak terlalu besar tempatnya. Keuntungannya kami pergi waktu hari kerja ya begini, tidak terlalu banyak orang yang datang, sehingga masih bisa berfoto dengan santai. Kalau musim liburan… wah pasti ribet deh.

menuju tempat “Jaman Doeloe” dengan layout jalan di Jakarta. Menarik!

Setelah melewati “Jakarta Tempo Doeloe”, kupikir sudah akan keluar….eeeeh ternyata masih ada “hanggar” yang isinya mobil-mobil tentara USA, sepeda motor tentara di atas pasir, mobil holden yang besar-besar…. tapi ada juga sepeda motor Yamaha jaman baheula.

Garasi besar dengan sepeda motor/mobil tentara Amerika

Saat itu aku baru sadar bahwa Riku dan Kai sudah tidak bersama lagi. Tapi ah biar saja pasti nanti ketemu deh… Dan benar, setelah keluar dari “garasi besar” ini, kami bisa menikmati pemandangan jalanan di Amerika yang kiri kanannya terdapat pemadam kebakaran, polisi, ya diatur seperti jalan di Broadway. sekali lagi aku kagum dengan finishing laayout di sini. Memang jadinya ingin berlma-lama berada di sini. Apalagi waktu itu senja mulai turun sehingga cocok untuk berfoto di situ.

daerah “Broadway”… Anak-anak enjoy banget di sini karena bisa naik mobil pemadam, atau masuk penjara :D

Kami cukup lama berada di daerah “Broadway” ini, tapi karena kami harus kembali ke Surabaya, kami harus bergegas, sehingga kami cepat-cepat keluar….. EH, ternyata belum bisa keluar karena di situ kami dihadang dengan pemandangan Eropa. Jadi teringat adegan Audrey Hepburn menaiki vespa dalam film Roman Holiday. Dan jika masuk lebih dalam lagi ada menara Eifel (yang kependekan hehehe) tapi samping kiri kanannya dibuat seperti toko-toko roti dan jalan-jalan berbatu seperti di Eropa…. uh membuatku ingin berlibur di Eropa nih.

Bagian “Eropa” dengan detil yang cukup membuat romantisme bersemi…tsah!!

Bergegas kami keluar dari kawasan “Eropa” dan menjumpai halaman luas dengan “istana” yang indah. Sayang waktu itu mulai rintik-rintik dan karena tidak ada waktu, kami pas, tidak memasuk si “istana eropa”.

menjelang keluar Museum Angkut

TAPI ternyata belum selesai! Karena di bagian dekat pintu masuk ada patung manusia hijau yang menginjak mobil, juga ada mobil batman! Ya dipamerkan mobil-mobil yang dipakai dalam film-film.

Museum ini memang bagus! Rasanya untukku tidak rugi mengeluarkan uang Rp50.000 per orang (untuk weekday) dan melihat hiburan seperti ini, Meskipun tidak suka mobil pun bisa menikmati suasana yang dibuat. Cocok juga untuk berfoto. Dan yang pasti butuh waktu yang cukup jika mau santai dan tidak diburu-buru seperti kami. Kami hanya 1,5 jam saja di sana. Jadi kalau mau ke sana harus seharian deh! Bukanya memang baru pukul 12 tapi bisa sampai malam jam 8. Silakan lihat di websitenya di sini saja ya….

berbecak ke Malioboro dari Malang…. duh gempor deh betisnya :D :D :D

Sebagai penutup tulisan pamer ah foto waktu “berbecak” ke Malioboro dengan makDea hehehe.

Sampai jumpa lagi ya MakDea. Terima kasih sudah diajak ke sini….