Restoran Khusus

Kali ini aku ingin memperkenalkan sebuah restoran khusus. Khususnya adalah karena restoran itu memakai bahan-bahan dari daerah yang diwakilinya.

Nama restoran itu Tsukada Noujou 塚田農場、mewakili daerah Miyazaki di sebelah selatan Jepang. Awalnya Gen yang bercerita ingin makan di restoran ini. Memang sejak adiknya pindah ke Miyazaki, dia selalu ingin membuat “hubungan” dengan daerah tempat tinggal adiknya. Dulu waktu adiknya tinggal di Sendai (Miyagi) dia juga suka membeli barang/makanan dari daerah itu. Waktu Gen mengajak pergi ke restoran itu aku tanya, memangnya apa keistimewaannya?

waktu pergi berdua Riku saja

Ternyata keistimewaannya, restoran itu memakai hasil bumi dan  hasil peternakan dari prefektur Miyazaki. Setiap pagi dikirim ayam yang memang merupakan andalan daerah ini. Ayam segar sehingga bisa dimakan setengah mentah (sashimi/ tataki). Kalau ayam itu enak, dagingnya juga tidak amis bahkan manis! Tapi jangan coba makan ayam setengah mentah di Indonesia ya. Kalau di Jepang, semua bahan sudah melalui pemeriksaan sehingga bisa dimakan mentah (demikian pula dengan telur yang dijual umum, semua sudah diperiksa dan bisa dikonsumsi mentah). Ayam setengah matang itu hanya dibakar bagian luarnya, sedangkan bagian dalamnya masih mentah, kemudian disiram kecap asin khusus. Enak!

menu andalan Tsukada Noujou (dan Yamanouchi Noujou): ayam setengah matang dan ayam panggang

Selain itu ada juga ayam panggang dengan arang, yang juga merupakan menu andalan restoran ini. Aku selalu memesan kedua jenis masakan ayam ini di sini. Dan karena menu utamanya adalah ayam, aku bisa mengajak teman muslim yang tidak keberatan makan ayam tanpa tanda halal (asal ayam).

Selain ayam, mereka pasti mengeluarkan makanan awal appetizer berupa sayur mentah hasil perkebunan Miyazaki. Biasanya kol dan ketimun, yang dimakan dengan miso khusus. Duh sayurannya benar-benar segar dan juicy dan enak! Bahkan aku pernah makan terong mentah dan wortel berwarna yang mentah sebagai appetizernya. Enak! Kaget juga aku waktu makan terong mentahnya, karena dalam pikiranku terong itu selalu harus dimasak (kena api).

Ramen Jahe yang kusuka

Ada satu lagi menu andalan resto ini yaitu Ramen Jahe. Tentu ramen dengan kaldu ayam lalu diberi parutan jahe, banyak! Wah cocok sekali kalau kurang enak badan, atau seperti saat ini, musim dingin. Menghangatkan perut dan badan.

Restoran ini juga mempunya cara tersendiri menarik pengunjung. Jadi kalau pertama datang, pengunjung akan diberi kartu nama. Tulis nama sendiri dan posisinya sebagai “pegawai”. Nanti setelah dua kali, diangkat menjadi kepala bagian. Dan sebagai “hadiah” promosi kenaikan pangkat, diberikan satu piring masakan gratis. Kemudian naik pangkat lagi setelah 5 kali menjadi boss, dan setelah itu ada posisi komisaris (lupa setelah berapa kali). Lucu juga cara mereka, sehingga aku selalu membawa “kartu nama”ku di dalam dompet, siapa tahu aku bisa jadi komisaris ya 😀

jelly dalam piring yang dihias

Tapi ada satu lagi layanan mereka yang menarik hati pengunjung (terutama wanita), yaitu memberikan pencuci mulut berupa jelly (kecil sih) tapi piringnya dihias dengan pesan-pesan, tergantung kreatifitas pelayan yang bertugas di meja kami. Misalnya waktu aku pergi berdua dengan Riku saja, waktu itu Riku pulang dari bimbel sedangkan papa Gen dan Kai menginap di rumah Yokohama. Jadi pelayannya menghias piringnya dengan tulisan: “Selamat belajar! Untuk ibu-anak yang serupa”. Atau waktu pergi dengan teman-teman alumni UI dalam rangka tutup tahun, petugasnya menulis dalam bahasa Indonesia! Ah perhatian “kecil” seperti ini memang menghangatkan hati.

Oh ya sebagai penutup layanan mereka, biasanya kami diberi sekotak kecil plastik berisi miso khas mereka waktu pulang. Dan pelayannya akan mengantar sampai pintu keluar. Good service!

Cara pemasaran seperti Tsukada Noujou ini menjadi terkenal, sehingga ada perusahaan lain yang juga menirunya. Kata Gen pasti perusahaan itu “beli” ide dari Tsukada Noujou. Nah nama restoran itu adalah Yamanouchi Noujou 山内農場, yang mengandalkan hasil bumi (sama-sama ayam dan sayuran) dari Kagoshima (tetangganya Miyazaki). Menu ayam setengah mentah dan ayam panggangnya sama, tapi di Yamanouchi Noujou lebih banyak variasi menu-menu dengan ukuran kecil. Secara pribadi aku lebih suka Yamanouchi Noujou karena menu makanan yang lebih kaya. Tapi mereka tidak menerapkan sistem kartu nama atau piring jelly, atau memberikan “hadiah” miso waktu pulang. Harga masakan di Yamanouchi Noujou juga sedikit lebih murah daripada Tsukada Noujou. Tapi ada satu yang kurasa Yamanouchi Noujou itu “kalah” yaitu, mereka tidak mempunyai menu Ramen Jahe 😀

Kedua restoran ayam ini sekarang menjadi restoran favoritku, sehingga aku biasanya mengajak teman-teman ke sana. Apalagi kedua restoran ini mempunyai cabang (waralaba) di mana-mana, di setiap stasiun besar. Tapi baru-baru ini aku menemukan lagi satu restoran  khusus yaitu restoran dari prefecture Yamaguchi (masih daerah di selatan Jepang). Tapi aku tidak merasa menu masakan mereka itu istimewa, kecuali soba hijau yang dipanggang di atas genteng. Biasa saja untuk makanan. Tapi prefecture Yamaguchi mempunyai sake jepang yang sangat enak dan terkenal, yaitu Dassai! Jadi restoran ini wajib dikunjungi oleh mereka yang ingin menikmati sake Jepang yang sudah terkenal di dunia.

Soba hijau yang dimasak di atas genteng. Sake Dassai memang terkenal dan enak (dan mahal hehehe)

Restoran dari 3 prefektur, masing-masing dengan keunggulannya. Dan kurasa restoran ini cukup berhasil menunjang perekonomian daerahnya masing-masing.

Originality

Kalau kemarin aku menulis tentang pernyataan Riku tentang “Bulannya indah ya!” padahal merujuk ke I Love You, hari ini aku ingin menulis tentang pendapat Kai yang dia ucapkan di dalam mobil, hari Sabtu yang lalu.

Katanya, “Kalaupun mau membuat sesuatu yang original (asli) pasti akan ada bagian yang mirip dengan yang lain ya? Pasti selalu ada kesamaannya”. Memang waktu itu kami sedang mendengar lagu dari pemain biola terkenal Hakase Tarou. Maksudnya Kai, dalam suatu lagu, ada bagian-bagian yang pernah di dengar di lagu lain. Jadi dalam membuat sesuatu, orang tidak bisa mengatakan bahwa ini ASLI, karena pasti ada bagian yang menyerupai karya orang lain.

Duh, masih kecil saja sudah berpikir demikian 😀 Yang sudah dewasa saja kadang kala main comot sana sini dan MENGAKU karyanya ASLI100% …. Kai … kai.

Lalu papanya menjelaskan bahwa sebenarnya MANABU 学ぶ atau belajar itu, awalnya adalah MANEBU まねぶ yang mane artinya meniru. Jadi kalau mau belajar sesuatu, kita awalnya adalah meniru guru kita. Ada pola, ada panduan, dan kita harus menjaga, mengikuti 守る pola itu.  Sesudah berhasil menguasai/ berhasil meniru apa yang dibuat guru itu, maka si murid akan menemukan sebuah pola baru yang cocok untuk dirinya. Saat ini dia akan merobek/merusak 破る pola awal yang dipelajari dari gurunya. Sesudah itu dia akan menguasai pola yang sesuai dengan dirinya dan menemukan kiatnya sendiri, sehingga menjauh 離れる dari pola pertama. Tiga tingkat SHUHARI 守破離 ini merupakan tingkatan/ langkah dalam mempelajari sesuatu ketrampilan seperti upacara minum teh, bela diri atau kesenian dan lain-lain yang membutuhkan hubungan guru-murid. Jadi kalau Kai mau belajar sesuatu yang sebaiknya mulai dari MENIRU dulu. Itu adalah pendidikan dasar yang harus dikuasai sebelum bisa berkreasi dan menemukan aliran/penemuan baru.

Sulit untuk bisa dimengerti Kai yang sekarang berusia 9 tahun, tapi semoga dia selalu ingat 3 langkah, 3 tingkatan ini untuk bisa berkembang di kemudian hari.

(sambil mamanya ngedumel dalam hati… pantesan aku bukan orang Jepang, apa-apa maunya bebas dan tidak terikat pada buku manual sih 😀 Hayoooo kamu pernah buka dan baca buku manual dulu sebelum melakukan sesuatu ngga? :D)

Tsuki ga kireidesune

Tadi siang, kami sekeluarga makan bersama di restoran. Suatu kesempatan yang sudah mulai jarang terjadi. Kemudian Riku yang kemarin berada di sekolah dari pukul 7 pagi sampai 6 sore karena ada pertandingan badminton di sekolah, bercerita bahwa dia kemarin melihat bulan purnama yang cantik dan besar sekali. Sayang sekali, aku kemarin menyetir mobil dan ada acara di gereja, kehilangan moment itu.

Tsuki ga kirei desu ne…. Bulannya indah ya…. Aku ambil tadi sore dari teras rumah. Masih bagus, meskipun sebetulnya purnamanya kemarin.

Riku melihat bulan yang besar itu di sekolahnya, sambil menengadah ke atas bersama beberapa teman-temannya. Dan ada pula teman wanitanya. Saat itu dia berkata,
“Mestinya ada laki-laki yang berkata, Tsuki ga kirei desu ne (harafiah Bulannya indah ya)”
tapi sekelilingnya tidak ada yang mengerti, tidak ada pulang yang mengatakan “Tsuki ga kirei desune”. Lalu Riku berpikir, ya tentu saja ada yang bisa mengerti perkataanku, ada pula yang tidak ya….. Lalu papa Gen bertanya, “Jadi, Riku bilang tidak Tsuki ga kirei desune”
“Tentu saja tidak… tidak ada juga yang bisa dibilang sih”

Terus terang, aku tidak mengerti percakapan itu. Kenapa? Apa maksudnya?
Lalu Riku mengatakan, “Coba saja mama cari di internet apa arti Tsuki ga kirei desune. Itu perkataannya Natsume Soseki”

Saat begini, aku merasa perlunya HP karena aku segera bisa mencari di internet. Jadi rupanya ada sebuah kejadian sewaktu pengarang Jepang terkenal (“Botchan” dsb) Natsume Soseki menjadi guru bahasa Inggris. Ada muridnya yang menerjemahkan “I Love You” sebagai “我君を愛す(ware kimiwo aisu)”, dan disalahkan oleh Natsume Soseki, katanya harus menerjemahkan dengan “Tsuki ga kireidesu ne (Bulannya Indah ya)”. Tentu saja maksudnya bahwa orang Jepang TIDAK AKAN MENGATAKAN aku cinta kamu secara langsung, tetapi biasanya akan mengatakan “Bulannya Indah ya” dan itu dimengerti sebagai pernyataan cinta.

Haduuuh ribet banget, tapi ini menunjukkan bahwa memang orang Jepang tidak pernah mengatakan cinta! Lalu tambah Riku, “Bahasa Inggris tuh bagus ya, ada LOVE ada LIKE, jadi bisa dimengerti. Tapi kalau bahasa Jepang hanya ada SUKI yang bisa artinya suka terhadap teman, atau suka terhadap pacar”. Hmmm anakku sudah mulai mengerti perbedaan bahasa, tapi ini didapat hanya karena dia suka membaca karya sastra dan sejarah. Karena itu dia tadi mengatakan “tentu saja ada yang bisa mengerti perkataanku, ada pula yang tidak ya”. Hanya orang yang mengetahui hubungan “Tsuki ga kirei desune” dengan Natsume Soseki sajalah yang mengerti, bahwa topiknya bukan BULAN tapi pernyataan CINTA.

Sastra itu sulit ya… tapi indah menurutku!

Bibliobattle

Ini adalah nama program kegiatan membaca dari sekolah SD nya Kai. Memang dalam satu tahun ada dua kali yang dinamakan “Pekan Membaca” 読書週間. Biasanya anak-anak harus menuliskan target mereka, semisal dalam 10 hari itu ingin membaca berapa buku. Tapi sekarang kebanyakan bukan jumlah bukunya yang penting, tapi jumlah halamannya. Dan untuk kelas 3, gurunya mengatakan bahwa targetnya 1000 halaman waktu liburan musim panas. Hmmm 1000 halaman kan banyak! Dan terus terang Kai tidak bisa membaca 1000 halaman selama liburan musim panas, karena lebih banyak bermain di Indonesia atau di Jepang. Tapi setelah itu, pada bulan November, Kai berhasil membaca 1000 halaman lebih dalam 1 minggu!

buku-buku pilihan gurunya untuk Bibliobattle kelas 3 ditaruh di depan kelas

Tapi sebagai kelanjutan kegiatan “Pekan Membaca”, pada bulan Desember, mereka mengadakan “Bibliobattle” dengan tema: Cerita kuno dunia atau cerita rakyat. Masing-masing anak diwajibkan memilih dari sekian banyak buku dan mempromosikan buku yang dibacanya (battle). Kemudian dari kelas akan dipilih buku yang paling populer di antara murid.

The Big Turnip, cerita rakyat Rusia

Saat itu Kai memilih ブレーメンの音楽隊 ”Town Musicians of Bremen” padahal menurutku itu bukan cerita rakyat 😀 Jika disuruh memilih cerita rakyat yang populer di Jepang, aku akan memilih buku yang berjudul 大きなかぶ Ookina kabu “The Big Turnip” yang merupakan cerita rakyat Rusia atau てぶくろ Tebukuro ”Sarung Tangan” yang merupakan cerita rakyat Ukrania. Tapi memang anak-anak Jepang terbiasa membaca cerita rakyat dunia yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Penerbit yang terkenal sering menerbitkan buku cerita anak-anak adalah Fukuinkan Shoten. Dulu waktu Riku usia 1 sampai 3 tahun setiap bulan dikirimi buku baru berseri yang merupakan hadiah dari temannya Gen.

Tebukuro (Sarung Tangan) cerita rakyat Ukrania

Kalau soal cerita rakyat dunia, buku apa yang ingin kamu sarankan?

 

Gelas-gelas Kaca

Seperti beberapa teman sudah ketahui, sejak akhir Februari, Riku terjangkit influenza. Aku pernah menulis di sini mengenai apa bedanya Influenza dan Masuk Angin. Jangan sembarangan berkata flu di Jepang deh, kalau tidak mau dituding penyebar penyakit 😀 Karena kalau influenza di Jepang, pasti tidak boleh keluar rumah, untuk mencegah mewabah.

Nah sesudah Riku sembuh, giliran aku yang kena… aku hampir sembuh, papa Gen dan Kai yang kena. Berturut-turut dan sepertinya memang lebih baik begitu, karena kalau sekaligus empat-empatnya sakit berbarengan, siapa yang akan merawat kami? 😀

Selama Gen di rumah, aku jadinya suka menonton deh. Karena dia suka merekam acara-acara tertentu yang dirasa bagus. Kesempatan untuk menonton, dan menghapus supaya kapasitas BR kami bisa kosong kembali untuk diisi acara TV lain. Dan salah satu acara yang suka direkam Gen adalah tentang seni (art). Sambil “melirik” acara yang ditayangkan (sambil lalu) aku bisa mengetahui nama-nama seniman terkenal. Dan salah satunya adalah Francois Pompon, yang terkenal dengan patung beruang kutubnya.

beruang kutub dari kristal

Daaaan… tiba-tiba aku teringat! Almarhum mama punya koleksi beruang itu yang terbuat dari kristal! Aku memang mempunyai hobi yang sama dengan mama, yaitu menyukai gelas/kristal. Karena toh dipajang di rumah, aku dan juga adikku sering membelikan kristal sebagai hadiah untuk mama. Koleksinya banyak! Tapi sayangnya, aku tidak bisa bawa koleksi itu ke Jepang. Bukannya apa, sayang saja. Jepang kan negara gempa, kaca-kaca itu pasti akan hancur waktu gempa. Jadi mendingan taruh di Jakarta saja hehehe.

Ada satu tempat di Hakone yang sudah lama aku ingin kunjungi. Namanya Hakone Garasu no Mori 箱根ガラスの森 Venetian Glass Museum. Tapi sejak kami punya mobil, itu berarti kami punya anak. Duh, ngga deh membawa anak kecil ke museum yang isinya kaca semua. Nanti kalau pecah dan aku harus ganti, mau petik uang dari pohon apa ya? hehehe.

Jadi keinginan aku untuk masuk Museum Kristal itu baru terwujud pada tanggal 11 Desember tahun lalu. Kami ke museum Kristal itu setelah mengunjungi Museum Little Prince yang ke dua kali (pertama kali waktu anak-anak masih kecil). Riku mulai membaca bukunya, sehingga dia yang minta untuk pergi lagi ke Museum Little Prince itu. Karena dia sudah puas bisa ke Museum Little Prince, dia mau tinggal di mobil dan baca buku  saja waktu kami mampir di Museum Kristal. Dia tidak suka kristal, lain dengan Kai yang sangat suka barang-barang mengkilat dan berkilau. Jadilah aku, Gen dan Kai saja yang masuk ke Museum Kristal ini.

Begitu masuk memang sudah “silau” dengan tunel terbuat dari gelas kristal. Melalui tunel ini kita masuk ke bagian museum yang memamerkan kristal-kristal antik yang biasa terdapat di istana-istana Eropa. Kami tidak berlama-lama di sini karena mengingat Riku juga yang menunggu di mobil. Pokoknya asal lihat saja.

yang klasik dan modern

Di bangunan ke dua lebih banyak memamerkan karya gelas yang lebih bisa diterima awam. Lebih banyak bentuk, banyak warna dan desain. Selain itu di bangunan yang kedua ini terdapat toko yang menjual apa yang dipamerkan. Di sini aku harus menutup dompetku erat-erat karena cukup banyak yang ingin kubeli. Beberapa kali Gen menggoda untuk membelikan kalung yang kelihatan cocok untukku, tapi kutolak dengan mengatakan, “suka sih… bagus sih… tapi pakainya kapan dan bajunya apa?”

Nah yang kurasa memang menjadi daya tarik tempat ini adalah pohon kristal. Pohon besar yang semuanya kristal. Mengkilat terkena sinar matahari, tapi keindahannya menjadi “biasa” saja kalau difoto. Memang lebih bagus melihat langsung. Meskipun aku yang suka kristalpun mengetahui bahwa itu hanya keindahan semu, karena buatan. Mungkin akan lebih senang berlama-lama melihat pohon asli daripada pohon kristal. Cukup satu kali lihat saja sebagai pengalaman.

pohon yang mengkilau tapi jadi “biasa” kalau di foto. Kilauannya tidak terekam

Sebetulnya di dekatnya ada beberapa museum seperti museum Pola, Lalique dan museum seni patung (ini sudah pernah pergi tapi waktu itu tidak punya kamera hehehe). Nanti suatu saat ingin coba juga masuk museum-museum ini.

HPU 雑学

Apakah ada yang masih ingat singkatan HPU? Duluuu sekali waktu aku masih SD, aku ingat aku punya buku catatan dengan judul HPU : Himpunan Pengetahuan Umum. Isinya catatan macam-macam deh, mungkin google sekarang kalah loh 😀 Ada kepanjangan dari singkatan-singkatan, ada info-info lain yang kalau sekarang tinggal tanya di mesin pencari. Sedangkan dulu? Baca (buku/koran), Dengar (Radio/TV), dan Lihat (acara TV /pameran). Pengetahuan yang dirasakan perlu, aku catat di dalam buku HPU itu. Salah satu yang masih kuingat sampai sekarang adalah : Nama pabrik kertas Indonesia : Letjes (ingatnya juga masih ejaan lama hehehe)

Aku suka HPU, mungkin karena aku suka ingin tahu macam-macam ya. Dan ternyata hobiku untuk mengetahui macam-macam itu menurun ke anak pertamaku, Riku. Banyak kali dia menyebutkan sesuatu yang aku dan papanya tidak tahu, lalu dia beritahu. Aku memujinya tentu, tapi papanya bilang, “Buat apa tahu yang remeh begituan! 雑学 zatsugaku , pengetahuan “sembarang”. Belajar sesuatu yang bener sana!” Hmmmm di sini sudah mulai kelihatan kan bedanya. Memang orang Jepang lebih memilih menguasai satu bidang saja, tetapi secara mendalam. Sedangkan aku (tidak berani bilang orang Indonesia secara umum) lebih suka tahu semua hal, meskipun hanya permukaan saja 😀

Salah satu “pengetahuan”nya Riku yang menjadi topik waktu itu adalah ketika dalam suatu acara kuis, ditanya soal negara  yang paling banyak menghasilkan parfum (atau mirip-mirip begitu deh pertanyaannya). Tentu kujawab : Perancis. Nah di situ Riku menyela, “Jelas perancis lah, orang Perancis kan paling jorok dulu. Mereka tidak mandi jadi mesti pakai parfum yang banyak supaya tidak bau”
“Oh kalau itu mama tahu. Oma tuh dulu suka cerita kalau orang Eropa jarang mandi, tidak seperti orang Asia yang mandi tiap hari”
“Tapi orang Perancis bener-bener jorok. Tahu ngga kenapa orang-orang jaman dulu pakai payung dan sepatu hak tinggi? Soalnya mereka dulu suka lempar kotoran manusia ke luar jendela. Nah kalau dari lantai atas lempar keluar jendela kan bisa jatuh ke kepala orang! Makanya pada pakai payung. Trus di jalanan kan jelas bertebaran tuh kotoran manusia, jadi supaya tidak kena kaki, pakai deh hak tinggi…..” sambil ketawa-ketawa si Riku menjelaskan.

WHAAAAAT! “Masa sih Riku! Kamu becanda?”
“Ngga becanda… bener kok aku pernah baca!”

Nah saat begini, langsung dong googling cari penjelasan dalam bahasa Jepang, dan…. ketemu! Memang ternyata benar abad pertengahan di Perancis memang jorok dan bau. Sistem pembuangan mereka tidak bagus, sehingga orang membuang kotoran besar/kecil dalam pispot, lalu buang ke luar begitu saja……. hueeekkkk.

Tentu saja pengetahuan umumnya si Riku bukan hanya tentang yang jorok di atas, ada banyak kali dia nyeletuk tentang sesuatu, tapi yang membekas di kepalaku sampai  hari ini ya tentang si Perancis itu hehehe.

Coco chanel parfum kesukaanku! karena mama dulu sering pakai jadi setiap cium aroma parfum yang ini aku teringat mama. Dan pada saat-saat khusus aku pakai parfum ini.

Kamu suka HPU “pengetahuan sembarang” seperti aku dan Riku ngga?  😀

 

Kelas Ski

Sebetulnya aku ingin menyalahkan kelas Ski yang diadakan oleh SMPnya Riku sebagai penyebab sekian lamanya deMiyashita terkurung dalam rumah akibat influenza. Karena begitu Riku pulang dari kelas Ski, dia kena influenza. Dia sembuh, aku sakit…. menjelang aku sembuh, Gen dan Kai kena 😀 (sampai sekarang masih di rumah). Untung saja mulai akhir Januari aku sudah memasuki libur musim semi di dua universitas, sehingga tidak banyak kelas yang perlu aku batalkan.

Bagaimana aku tidak akan menyalahkan kelas Ski itu dong, karena di situ kemungkinan berjangkitnya virus amat tinggi. Bayangkan 4 hari “hidup bersama” sekitar 240 remaja kelas dua SMP. Sangat mungkin beberapa di antaranya sudah membawa virus influenza pergi ke kelas Ski kan, dan menjangkitkannya kepada teman-temannya kan?

Eh tapi mungkin hanya Riku yang dalamkondisi lemah badannya waktu pulang, ditambah keesokan harinya dia harus berlatih badminton lagi. Tapi bagaimana pun juga, aku tidak menganggap kelas Ski itu jelek! Bahkan aku merasa bersyukur bahwa Riku bisa mengikuti kelas Ski bersama teman-teman sekolahnya.

Rupanya kelas Ski itu merupakan program pendidikan yang diadakan di luar lingkungan sekolah bagian kurikulum untuk kelas 2 yang PASTI dijalankan di kelurahan kami. SMP Riku memang sekolah negeri (pemda) sehingga semua kebijakan pendidikan kelurahan pasti dirasakan langsung. Rupanya tidak setiap SMP negeri mempunyai program yang sama, mempelajari Ski bersama. Kelurahan kami bahkan mempunyai tempat penginapan di dekat resort untuk belajar main ski. Jadi 34 SMP yang ada di kelurahan kami itu secara bergantian menempati villa milik pemda. Bahkan pemda menyediakan bus untuk pulang pergi secara gratis. Ini membuat kami hanya perlu membayar sedikit untuk makanan dan sewa baju ski saja! Memang olahraga ski cukup mahal jika harus merencanakan sendiri.

Persiapan dilakukan dengan matang. Kami orang tua selain menyiapkan biaya, kami juga harus berkumpul untuk mendengarkan briefing sebelum keberangkatan. Dijelaskan program harian mereka, apa saja yang harus dipersiapakan untuk dibawa dsb. Di situ kami tahu bahwa ada 1 guru ski yang akan mendampingi 10 murid. Dan mereka menjamin dalam 4 hari biasanya murid-murid sudah bisa meluncur di atas salju. Dan pada hari keberangkatan Riku memang berhari-hari cuaca dingin dan turun salju di Karuizawa, sehingga menunjang kelas Skinya.

Enaknya punya anak sudah SMP itu adalah dia sendiri yang mempersiapkan tasnya. Mulai dari baju dalam, kaus kaki sampai glove. Karena baju musim dingin itu tebal, tentu makan tempat yang cukup banyak dalam tas. Untuk itu aku pinjamkan beberapa plastik kedap udara sehingga baju yang tebal-tebal itu dapat dipampatkan menjadi tipis. Oh ya, Riku dalam rombongan kelas ski ini ditugaskan untuk menjadi ketua tim “kamar mandi”. Bayangkan 200 orang harus mandi kan? Jadi perlu dibagi menjadi berapa kelompok dan kelas. Setiap kelas ada ketuanya dan mereka bertanggung jawab pada kebersihan kamar mandi. Sesudah dipakai, tentu harus dibersihkan. Termasuk memeriksa apakah ada keran yang masih terbuka, air yang menggenang dsb. Setiap anak punya tugas masing-masing, dan ya ini yang kusukai dari sekolah di Jepang. Semua harus bekerja, semua harus sama.

untung Riku berada di tengah ya? hehehe Ini kelasnya dia, semuanya ada 6 kelas

Program kelas di luar lingkup sekolah setiap tahunnya berbeda. Untuk kelas satu, berenang di laut pada musim panas. Waktu Riku kelas 1, dia tidak mengikuti kelas ini karena kami pergi ke Jakarta. Kelas 2 adalah kelas ski di musim dingin. Dan kelas 3 kelas budaya karyawisata ke Kyoto sekitar musim gugur.

Hiburan di Musim Dingin

Bagi kami yang tinggal di negara 4 musim, kami mempunyai cara untuk melewatkan panasnya musim panas, dan dinginnya musim dingin, serta melewatkan waktu-waktu di antaranya.  Intinya kami menikmati atau mencari cara untuk menikmati setiap musim yang datang.

Musim Semi, kami menikmati bunga sakura atau bunga-bunga lain yang bermekaran. Musim panas, kami menikmati pantai atau gunung. Sedangkan musim gugur, kami menikmati perubahan daun-daun yang berubah warna. Musim dingin? Kami menikmati salju yang turun. Tapi tidak semua daerah itu bersalju. Seperti Tokyo yang ada hanyalah angin yang bertiup kencang dan dingin yang menusuk sampai tulang. Bagaimana mau menikmati musim dingin kalau begitu ya?

Memang kalau menjelang Natal, begitu masuk bulan November, kami bisa menikmati lampu-lampu dan hiasan Natal di mana-mana. Memasuki bulan Desember ditambah lagu-lagu Natal. Tapi pemandangan Natal ini hanya bisa dinikmati sampai tanggal 25 Desember. Begitu tanggal 26 Desember, hiasan Natal diganti dengan hiasan Tahun Baru tradisional Jepang. Padahal musim dingin kan masih panjang?

belum masuk saja sudah dihadang oleh pemandangan seindah ini

Iluminasi atau pemandangan hiasan lampu-lampu di kota bisa menjadi tujuan wisata dalam musim dingin. Nah, tanggal 28 Desember yang lalu, aku sempat mampir ke Yomiuri Land, Kawasaki. Karena aku memang cuma mau melihat lampu-lampu saja maka aku hanya membeli Night Pass yang harganya cuma sekitar 1000 yen untuk dewasa. Night pass ini bisa dipakai mulai jam 4, yang memang pada musim dingin cepat gelap. Cocok deh.

Kami turun di stasiun Yomiuri Land Mae dari Odakyu line, untuk kemudian naik bus ke tamannya. Sebetulnya bisa juga naik Keio Line, dan dari situ bisa naik gondola ke tamannya. Tapi karena aku janjian dengan adikku yang tinggal di Odakyu line, jadi kami menggunakan bus saja. Sebelum pergi lebih baik pastikan dulu jadwal busnya supaya tidak terlalu lama menunggu, meskipun kalau berdiri di baris terdepan pasti dijamin bisa duduk dalam bus. Karena jalan mendaki untuk mencapai Yomiuri Land itu, cukup terjal, agak menyulitkan jika harus berdiri terus dalam bus. Kalau kakinya kuat sih tentu tidak apa-apa hehehe.

susah ya memadukan wajah dan latarnya

Begitu sampai di Yomiuri Land rasanya ingin berlari masuk saja, karena di pintu masuk saja sudah terlihat keindahan pemandangan berhiaskan lampu-lampu. Untung saja waktu itu tidak banyak pengunjung yang datang sehingga aku langsung bisa membeli karcis masuk dan masuk!

Tentu saja keindahan lampu-lampu itu ingin langsung diabadikan dengan memotretnya dari berbagai sudut, tapi aku belum bisa menguasai  cara memadukan foto diri dengan latar lampu-lampu dengan baik. Sulit ya!

supaya lega memang lebih enak berdua-dua

Karena anak-anak bosan dan kedinginan, kami tidak berkeliling taman, dan hanya antri untuk naik Kincir Ria yang harga karcisnya terpisah (600 yen). Karena kami berempat, sebetulnya bisa masuk satu kabin, tapi dengan sengaja kami pisah berdua-dua. Tumben Kai mau dengan kakaknya, sehingga aku bisa berdua adikku dalam satu kabin.

pemandangan dari atas Kincir Ria

Karena lega, kami bisa puas memotret dari atas, tapi angin yang masuk di sela-sela kabin cukup kencang dan membuat menggigil. Mungkin gara-gara ini pula, aku sempat masuk angin dan harus tidur seharian setelah itu.

tentu tak lupa swafoto di atas 😀

Iluminasi di Taman Yomiuri Land ini masih bisa dinikmati sampai tanggal 19 Februari 2017! Jadi masih bisa menikmati valentine di sini ya? hehehe Tapi pasti banyak orang dan antri tuh. Karena memang Yomiuri Land dianggap sebagai tempat melihat iluminasi nomor satu di Tokyo, dengan jumlah 4 juta lampu yang dipakai.

foto yang kami beli, diambil waktu sedang antri masuk Kincir Ria. Lumayan supaya ada kenang-kenangan foto berempat

Pinchi! Sial!

Semalam waktu aku akan tidur, Kai naik ke tempat tidurku dan tidur di sebelahku, “Aku sudah lama ngga tidur sebelah mama… peluk dong!”… hmmm dia mau bermanja-manja rupanya. Tapi dia itu sudah gede! sekarang sehingga tempat tidur terasa sempit jika harus bertiga. Mau usir kasihan juga sehingga aku biarkan saja karena dia sering sakit hati sekarang. Nah saat itu aku menikmati pembicaraan bincang sebelum tidur  kami.

Tiba-tiba saja dia bertanya,” Mama pernah merasa sial? Pinchi?”
“Tentu saja pernah. Tidak ada orang yang tidak pernah kan?”
“Tapi mama tidak pernah kelihatan seperti pinchi
“Ya buat apa mama terus bermuram durja kalau pinchi? Kan masih banyak yang bisa dikerjakan. Masih banyak keuntungan yang didapat. Harus punya semangat untuk mulai terus. Hmmm kalau dipikir-pikir mama memang jarang merasa pinchi ya?”

“Kalau papa? ” Dia bertanya pada papanya yang sedang bermain tab. Papanya diam saja.
“Papa juga sama seperti mama lah. Kan papa dan mama sama-sama ulang tahunnya.”
“Eh ngga bisa dong persis sama. Papa lain sama mama. Mama sepertinya tidak pernah susah”
“Hmmm iya ya. Kai selalu khawatir untuk mencoba sesuatu. Mama jarang khawatir. Mungkin karena mama selalu berpikir, kalau tidak mencoba kita tidak tahu bisa atau tidak. Kau tahu, mama punya semboyan sejak SMP dalam bahasa Inggris, You Can if You Think You Can”

“Ahhh itu aku tahu 為せば成る為さねば成らぬ何事も Naseba naru, nasaneba naranu nanigotomo!”
“Ya seperti itu. Meigen (kata mutiara) nya siapa ya itu?”
Langsung papanya berkata: “Lengkapnya 為せば成る為さねば成らぬ何事も、成らぬは人の為さぬなりけり itu Meigen dari 上杉鷹山Uesugi Youzan. Kata-kata dia dicantumkan dalam buku ” Representative Men of Japan (代表的日本人Daihyouteki Nihonjin)” karya Uchimura Kanzo. Sehingga John F Kennedy mengatakan bahwa dia paling mengagumi Uesugi Youzan dengan mottonya itu.

Langsung deh Kai menghafal peribahasa itu berkali-kali di tempat tidur.

Dan akhirnya aku bilang “Kai mau tahu mama dua kali merasa pinchi dalam sebulan kemarin. Pertama waktu mama pergi ke  Universitas Tokyo untuk memotret daun-daun musim gugur. Mama cuma punya waktu 2 jam, dan supaya mama tidak terlambat ngajar jam 3, mama naik taksi. Eh tahunya supir taxi tidak tahu jalan. Jadi mama bilang, sampai stasiun Kanda saja. Mama pikir mama lebih cepat jalan daripada naik taxi kalau sudah dekat stasiun. Lalu mama berhenti sebelum stasiun…dan ternyata itu masih jauuuuuh. Terpaksa mama lari, dan waktu mama isi absen, ternyata mama terlambat DUA menit! Duuuh sebel banget! Tahu gitu kan mama lebih cepat larinya. Pinchi deh 😀

Lalu yang kedua waktu mama diantar papa dengan mobil ke universitas. Waktu mama turun dari mobil, HP mama jatuh di dalam mobil. Mama sadar tapi papa sudah keburu pergi menjauh. Terpaksa deh mama cari akal bagaimana kasih tahu papa bahwa HP mama ada di mobil dan mama perlu sekali HP itu. Karena malamnya mama ada kerjaan lain dan semua orang akan menghubungi mama di HP. Nah, mama mau telepon papa, tapi telepon pakai apa? mama juga tidak hafal nomornya. Duh saat itu mama merasa sial banget! Pinchi deh. Terpaksa mama pergi ke ruang komputer dan mengirim email ke papa. Dan kalau perlu setelah mengajar, mama saja yang cari papa karena sulit untuk menentukan harus bertemu di mana tanpa HP. Di situ mama benar-benar merasa ketergantungan terhadap HP. Eh, tahunya papa sadar bahwa mama menjatuhkan HP dan papa cari ubek-ubek satu gedung tempat mama ngajar, lihat satu per satu kelasnya, dan akhirnya bertemu mama. Duh mama senang sekali! Yah lebih senang melihat HP daripada papa (sorry papa hehehe)”

“Ehhh ternyata mama bisa juga pinchi ya? hehehe.”

“Bisa dong, tapi mungkin jarang. Makanya harus selalu persiapkan diri sebelumnya. Kalau sampai terjadi hal yang sial, ya terima saja apa adanya, dan pikir bagaimana cara menyelesaikannya.”

Bincang sebelum tidur yang sangat berguna untuk Kai dan mamanya. Dan yah setelah Kai tidur aku terpaksa bangun karena tempat tidur terasa sempiiiit sekali  :v