Pulang Hari

DeMiyashita memang sering mengadakan perjalanan dalam satu hari, pulang hari istilahnya,  jadi tidak menginap. Tapi tentu saja tujuan dari perjalanan kami itu biasanya tidak terlalu jauh dari Tokyo. Sampai ke Fukushimapun yang berjarak 250 km dari rumah kami, pernah  kami jalani. Tapi tgl 22 Agustus 2015, hari Sabtu yang lalu kami memecahkan rekor dengan pergi ke Inuyama di prefektur Aichi yang berjarak 355 km dari rumah kami, pulang hari. Kami keluar rumah pukul 5 pagi dan masuk rumah kembali pukul 1 malam.

Kenapa sih ngoyo (=maksa)  begitu ? Yah, karena Riku yang sudah kelas 1 SMP, tidak mau membuang waktu banyak di luar rumah. Jika menginap, pasti akan sampai rumah hari berikut malam hari, jadi dua hari terbuang…padahal dia masih banyak PR yang harus dibuat. Jadi kami berjanji untuk tidak menginap di Aichi.

Aku memang yang mencetuskan nama kastil Inuyama, karena kupikir kalau bisa dalam liburan musim panas ini, kami bisa menambah cap 100kastil kami. Lagipula aku pernah mendengar dari Ando-kun bahwa kastil Inuyama itu yang tertua di Jepang, jadi wajib untuk dikunjungi. Harapanku sih kalau bisa sepulang dari Inuyama, bisa mampir ke kastil Nagoya dalam perjalanan pulang, sehingga bisa mendapat dua cap sekaligus.

Tapi tentu saja aku menyerahkan pada Gen yang menyetir mobil. Dia punya rencana juga selain kastil Inuyama. Kami sih enak bisa tidur dalam mobil, selama perjalanan, tapi sang supir kan harus konsentrasi menyetir. Sering aku terbangun dan mengajaknya bicara, karena merasa mobil kami terlalu cepat berlari di jalan tol Chuo Express. Kami juga berhenti beberapa kali di Parking Area untuk makan pagi dan meluruskan punggung.

Inuyama castle

Akhirnya kami sampai di kastil Inuyama sekitar pukul 10 pagi. Langsung berjalan mendaki dari pintu gerbang. Di situ Kai mengutarakan sesuatu yang menarik. Inu = anjing, Yama = gunung, Gunung Anjing. Tapi kenapa orang tidak boleh membawa serta anjing masuk ke kastil itu? 😀

Tanda masuk kastil itu 550 yen untuk dewasa dan 110 yen untuk anak-anak. Begitu kami masuk pintu gerbangnya, terlihat bangunan kastil yang…. kecil, jika dibandingkan dengan kastil-kastil yang pernah kami datangi. Mungkin sama besarnya dengan kastil Komine. TAPI butuh tenaga ekstra untuk menaikinya. Karena kecil, tangga setiap tingkat sangat curam. Untung saja aku tidak pakai kaus kaki, jadi tidak licin, dan bisa mendaki sampai lantai teratas.

Begitu sampai di lantai atas, kita memang bisa mengelilingi teras luar dan melihat pemandangan sekitarnya. Tapi karena terlalu curam, aku tidak berani berjalan di luar. Masalahnya biasanya waktu turun. Jadi biasanya aku minta Gen untuk duluan dari aku sehingga menutupi pemandangan tangga turun sehingga tidak terlalu takut. Saking curamnya, aku sampai terduduk di setiap anak tangga 😀

Waktu kami keluar dari kastil pas hujan keras. Terpaksa kami berteduh dulu dalam bangunan yang menjual oleh-oleh. Saat itu memang gerah sekali. Setelah hujan reda, kami berjalan kembali pulang.

Inuyama jinja.. Ema (papan permohonan)nya lucu deh bentuk hati. Kiri bawah Riku “cuci” koin. Kanan bawah tempat “mencuci uang”

Oh ya sebelum menaiki kastil, di tengah perjalanan ada jinja (kuil Shinto) dengan gerbang merah khasnya. Di sana juga terdapat zeni arai ba (tempat mencuci uang). Konon jika mencuci uang dengan air itu, uangnya akan berlipat ganda. Ada yang mengatakan uang yang dicuci harus dipakai supaya berlipat ganda, tapi aku pernah mendengar bahwa uang yang dicuci, tidak boleh dipakai dan dimasukkan dalam dompet saja, semacam jimat. Well, terserah yang percaya saja kan.

Dari kastil Inuyama, kami menuju Japan Monkey Center. Tempat ini yang ingin dikunjungi Gen karena katanya tempat ini merupakan pusat penelitian monyet di seluruh Jepang.

Kami sampai di sebuah kebun binatang! Tapi benar kok namanya Japan Monkey Center. Kami parkir di tempat parkir yang luas. Sudah cukup banyak mobil yang parkir di sana. Tapi ternyata yang banyak parkir itu tujuannya bukan ke Monkey Center tapi ke taman ria yang berada di sebelah Monkey Center itu. Memang sih udara panas saat itu mengundang orang untuk berenang saja. Tapi petugas yang merobek karcis kami mengatakan bahwa pukul 11:30 akan ada kuliah umum mengenai Golden Lion Tamarin, kera yang pernah menjadi model dalam serial Ultraman. Dia menyarankan kami pergi langsung ke gedung utama dan tak lupa meyakinkan kami bahwa gedung itu ber-AC 😀

Japan Monkey Center at Inuyama

Seminar itu dibawakan seorang peneliti cantik mengenai monyet asal Brazil yang mukanya memang menyerupai singa karena bulu di kepalanya berbentuk seperti singa. Lalu warnanya kuning oranye sehingga dinamakan Golden Lion Tamarin. Kami juga diperlihatkan jenis-jenis kera yang sudah diawetkan, dari gorilla yang terbesar, sampai kera terkecil di dunia. Kera terkecil ini dipinjamkan ke museum Ueno dan baru kembali, sehingga kebetulan sekali masih berada di ruangan seminar itu. Beruntung sekali kami bisa melihat kera terkecil di dunia itu dari dekat. Karena kalau sudah di museum pasti terhalang kotak kaca.

Setelah selesai seminar, kami ingin mencari makan siang. Sayangnya di tempat itu tidak ada restoran dengan makanan yang mengenyangkan. Adanya semacam snak saja. Terpaksa kami mengalas perut dengan snack-snack itu. Tapi sebelum kami ke “warung” snack, kami bisa berfoto dan mengelus kura-kura yang sedang JJS (Jalan jalan sore). Kami lalu kembali lagi ke ruang seminar, karena pukul 2 siang, anak-anak telah mendaftar kelas enrichment. Kelas ini membuat makanan untuk simpanse dengan trik menaruhnya dalam lipatan koran. Ini merangsang simpanse untuk berpikir dan menggunakan tangannya.

Selama anak-anak mengikuti kelas, aku menunggu di luar dan menghubungi teman-teman yang berada di Nagoya dan sekitarnya. Sayang sekali tempat tinggal Narpen yang paling jauh sehingga aku tidak bisa bertemu dengannya.

Kura-kura dan Lemur di Japan Monkey Center

Setelah anak-anak keluar kelas, kami mengikuti mereka memberi makan simpanse. Setelah itu kami mampir ke tempat Lemur atau di situ disebut Wao yang dilepas begitu saja. Kami bisa melihat dari dekat, tapi tidak boleh menyentuhnya. Lucu sekali kera-kera yang kami kenal dalam film Madagaskar.

Terus terang anak-anak ngomel waktu kami ajak pulang. Karena aku mau mengejar cap kastil Nagoya, kami harus sampai di Nagoya pukul 16:00. Mereka ingin datang lagi ke Monkey Center. Aku tidak sangka anak-anakku suka dengan tempat ini. Maklumlah bagiku monyet itu sudah biasa ya hehehe.

Nagoya Castle

Kami sampai di tempat karcis kastil Nagoya jam 3:55… dan oleh petugas dikatakan bahwa kami boleh masuk areal kastil, tapi tidak bisa naik ke kastil. Well kami memang tidak berniat naik, yang penting capnya itu loh. Areal kastil ditutup pukul 4:30, dan kami pun keluar taman kastil. Kami bertemu dengan Ando kun dan Grace, di parkiran mobil dan berfoto bersama. Kalau tidak begitu sulit sekali kami bertemu lagi. Ini merupakan “kopdar” kami yang kedua, setelah pertama kami bertemu di Tokyo sebelum mereka menikah. Terima kasih ya Ando kun mau menemui kami di kastil Nagoya.

bertemu Ando kun dan Grace di Nagoya castle

Setelah melambaikan tangan pada Ando kun, kami lalu menuju Nanzan Church. Karena kami ingin bertemu dengan Pastor John Lelan SVD yang tinggal di Nagoya. Ordo SVD yang memimpin paroki kami di Kichijouji, sehingga selain pastor John, kami juga bisa bertemu pastor Yan (asal China) yang dipindahtugaskan dari Kichijouji ke Nagoya. Rupanya ada 3 pastor Indonesia di sana dengan tugas yang berbeda-beda.

bertemu pastor John Lelan di Nanzan Church, Nagoya

Akhirnya sebelum meninggalkan Nagoya pukul 8 malam, kami mencari makan malam. Sebetulnya Riku ingin makan yakiniku, tapi kok sulit mencari restoran Yakiniku di daerah itu. Jadi kami mengarahkan car navigator kami ke restoran Indonesia yang berada di daerah Sakae, bernama Bulan Bali. Ternyata waktu kami sampai di sana, mereka sedang mengadakan pesta yang dimeriahkan band juga. Untung kami boleh menyelundup ke ruang atas, dan membayar “iuran” pesta seorang 2000Yen untuk nasi campur dan satu minuman (mahal untuk lunch, tapi murah untuk dinner…. karena harga resto di Jepang, harga siang dan harga malam itu beda loh). Sayang sekali Kai sama sekali tidak bisa makan nasi campurnya karena diberi sambal semuanya. Kami sempatkan membeli onigiri dan minuman untuk Kai di toko konbini sebelum mengarahkan mobil kami ke jalan Tomei Highway.

restoran Indonesia di Nagoya

Satu hari, hampir 800km dalam 20 jam yang melelahkan tapi benar-benar padat dengan ilmu dan pertemuan.

Tugas Musim Panas 2015

Libur musim panas hampir berakhir. Untuk SD dan SMP di daerahku, libur musim panas mulai tanggal 18 Juli sampai 31 Agustus. Tapi minggu pertama sampai dengan tanggal 29 Juli, kegiatan deMiyashita masih disibukkan dengan urusan sekolah dan latihan ekskulnya Riku. Kami lalu pergi ke Jakarta dari tanggal 29 Juli sampai 10 Agustus saja. Terasa sekali bedanya yang biasanya (tahun-tahun lalu) berlibur hampir 1 bulan di Jakarta, dengan kali ini yang hanya 12 hari. Memang aku yang menentukan sendiri panjangnya liburan musim panas kami, dengan mempertimbangkan kegiatan Riku, dan kesempatan untuk berlibur dengan papanya di dalam negeri Jepang.

Namanya sih memang liburan, tapi di Jepang meskipun liburan tetap ada tugas-tugas yang perlu dikerjakan oleh murid sekolah. Memang untuk SD tidak seberapa, paling mengerjakan PR berhitung dan bahasa, ditambah karangan bergambar dan membaca buku. Tapi untuk anak SMP, tugasnya bertambah karena mata pelajarannya bertambah, ditambah tetap latihan ekskul. Jadi sebelum mudik Jakarta dan sepulang mudik pun Riku tetap harus pergi ke sekolah untuk latihan badminton. Aku sendiri minta kepada gurunya (disebut konselor) untuk meliburkan Riku selama 12 hari. Tentu saja akibatnya dia tidak bisa berlatih sempurna apalgi mengikuti pertandingan. Sepertinya tahun depan sudah sulit mengajak Riku mudik ke Jakarta.

Ada dua tugas Riku yang ingin aku tulis di sini. Pertama, dia harus pergi ke salah satu museum science di Jepang (daerah mana saja) dan membuat laporan dalam satu kertas. Laporan itu seperti membuat pamflet promosi yang mengundang warga untuk mendatangi tempat itu. Ada banyak museum di Jepang. Aku sebetulnya ingin mengajak dia pergi ke Museum di Odawara atau di Ueon. Tapi berhubung waktunya sedikit (karena dipakai berlatih badminton) jadi dia memutuskan untuk pergi ke museum Tamarokuto, museum kecil yang mempunyai planetarium juga dekat daerah tempat tinggal kami bersama dua temannya. Aku senang karena dia mulai akrab dengan teman-teman sebayanya dengan pergi bersama. Apalagi aku tahu teman-temannya ini juga baik-baik, dan aku kenal orang tuanya juga. Aman rasanya.

Tugas museum selesai, ada lagi tugas lain  dari pelajaran PKK yaitu mempersiapkan sarapan pagi dengan memakai bahan-bahan dari daerah kami : Nerima. Daerah kami terkenal menghasilkan daikon (lobak) tapi lobak sulit untuk dipakai dalam sarapan, kecuali diiris halus dan dimasukkan dalam salada. Jadi Riku mencari bahan-bahan lain yang mungkin, sambil memikirkan cara menghidangkan. Selain memakai bahan dari daerah kami, sarapan itu harus memenuhi kebutuhan gizi, jadi harus ada protein dan karbohidrat juga.  Juga perlu ditulis berapa jumlah dan waktu mempersiapkannya.

Untung saja di Jepang, koperasi (JA = Japan Agriculture) sangat mudah ditemui. Di daerah rumah kami ada dua tempat yang dekat yang bisa dicapai dengan naik sepeda. Tapi karena kami sekeluarga mau pergi, kami bermobil ke sana. Eh, tapi sebelumnya kami ingat bahwa di dekat stasiun kami, ada peternakan sapi yang terkenal karena pernah masuk TV. Peternakan di dalam kota memang aneh bin ajaib. Namanya Koizumi Bokujo (Koizumi Farm). Kami pikir bisa mendapatkan daging di sana, ternyata hanya menjual es krim dari susu sapi yang dihasilkan. Kami disambut ramah oleh pemiliknya, bapak Koizumi, yang mempersilahkan kami melihat-lihat kandang sapinya. Sebetulnya kami ingin membeli susunya juga, tapi bapak Koizumi mengatakan bahwa susu dari peternakannya digabung dengan peternakan lain, diproses dan dikemas dengan nama Tokyo Milk dan dijual di toko JA. Karena itu kami kemudian mencari toko JA di dekatnya.

Kami kemudian mengunjungi toko JA dalam dua hari terpisah dan sekaligus melihat hasil ladang apa saja yang dijual di sana. Tujuan kami yang utama sebetulnya membeli blueberry. Karena sebetulnya daerah kami mempunyai cukup banyak ladang blueberry yang bisa kami petik langsung juga. Sayangnya karena hujan keras ladang blueberry tidak menerima lagi kunjungan agro-wisata yang mau memetik blueberry. Padahal ada ladang yang dekat sekali dengan rumah kami. Semoga tahun depan bisa pergi deh.

Kami membeli buah dan selai blueberry,  lobak, ketimun, tomat, wortel, telur, susu di toko JA. Bahan lainnya aku sudah punya di rumah. Ini sarapan tugas musim panas ala chef Riku:

goreng bacon, telur orak-arik, potong wortel, ketimun dan lobak, lalu taruh di piring, atur dan foto!.. setelah itu makan sendiri :D

Tentu saja aku bantu mengarahkan tapi dia yang memotong dan membuat semuanya sendiri. ku membantu menghitung waktunya saja, sambil memotret si chef yang sedang sibuk hehehe.

Judulnya “Pancake Silakan Pilih” :D

Aku rasa tugas pelajaran PKK ini bagus sekali. Kami jadi lebih mengenal hasil pertanian/peternakan daerah kami sendiri. Memang sih harganya cukup mahal, tapi kalau hasil belanja kami bisa membantu petani/peternak sendiri, why not?

Pemikiran ini yang harus dipunyai oleh semua warga. Kalau mau produk Jepang maju ya orang Jepang harus membeli barang Jepang meskipun mahal. Dengan kata lain juga, kalau mau produk Indonesia maju ya orang Indonesia harus berusaha membeli barang  Indonesia meskipun mahal (atau kwalitasnya kurang, sambil membenahi kwalitasnya tentunya). 

bersama bahan-bahan yang dibeli di koperasi daerah kami

Sssttt, masih ada beberapa  tugas lagi yang harus Riku selesaikan sampai dengan tanggal 31, salah satunya “memperkenalkan salah satu negara”. Tentu saja harapan mamanya, Riku akan memperkenalkan negara Indonesia dong! hehehe

Kerjap

Beberapa hari setelah kembali dari Jakarta, aku dan anak-anak di rumah saja. Papa Gen tidak bisa ambil libur lama, sehingga kami tidak bisa pergi ke mana-mana. Begitu papa Gen bisa libur, Rikunya harus ikut latihan badminton untuk ekskulnya. Yah, apa boleh buat.

Semenjak kami kembali ke Tokyo tanggal 11 Agustus 2015, udara di luar boleh dikatakan tidaklah terlalu menyengat. Sepertinya kami memang disambut dengan udara yang cukup bersahabat, dan secara perlahan menaik suhunya. Meskipun demikian, aku dan anak-anak masih malas pergi ke luar rumah. Jadilah kami menonton rekaman-rekaman acara (film) di TV selama kami pergi. Aneh memang anakku si Kai, dia suka sekali menonton film. Setiap aku melihat wajahnya yang begitu serius menonton, aku selalu teringat almarhum ibuku, yang juga suka menonton. Persis!

Ada 3 acara yang kami tonton yang aku ingin tuliskan di sini. Satu mengenai acara BuccakeJi, acara yang mengumpulkan pendeta-pendeta Buddha (dari berbagai aliran) untuk menerangkan agama Buddha secara simple. Banyak sekali pengetahuan yang kudapat dalam acara ini, terutama istilah-istilah bahasa Jepang yang berasal dari agama Buddha. Yang menarik dari acara yang kami tonton kemarin adalah mengenai patung Buddha besar yang terdapat di seluruh Jepang. Mungkin kami tidak akan mengunjungi langsung, sehingga bagus juga bisa melaksanakan perjalanan secara virtual. Seri acara TV ini aku simpan dalam BRay disk untuk ditonton lagi lain kali.

diambil dari situs TV Asahi http://www.tv-asahi.co.jp/bucchakeji/

Yang kedua tentang Enoden. Enoden (kereta Enoshima) mewakili Enoshima, sebuah “pulau” yang terletak di prafektur Kanagawa, atau lebih memudahkan kalau kita katakan daerah Kamakura. Tempat beratus, bahkan beribu kuil Buddha berada, dan bekas pusat pemerintahan Jepang, di jaman Kamakura 1185-1333. Aku suka pergi ke Kamakura, tapi tidak pada musim panas. Tempat wisata yang menarik, tapi tentu harus kuat berjalan banyak. Sebetulnya aku pernah merencanakan mengunjungi Kuil Meigetsuin di Kamakura pada bulan Juni yal, tapi batal. Kuil Meigetsuin itu juga dikenal sebagai Kuil Ajisai (Hydrangea) sehingga aku ingin mengunjunginya lagi dan memotret bunga ajisai di sana. Sayang waktu itu aku harus membatalkan rencanaku, dan menemani Gen bekerja.

Nah, acara NHK bertajuk BURATAMORI yang dipandu oleh Tamori, seorang pembawa acara pria yang terkenal karena selalu memakai kacamata hitam ini, mengajak kita mengetahui liku-liku daerah Kamakura yang biasanya tidak diketahui wisatawan biasa. Sekali lagi kami mengadakan perjalanan virtual dengan acara ini. Kami juga bisa melihat kereta pertama dari Enoden, yang pintunya masih manual, penumpangnya harus buka tutup pintunya sendiri hehehe. Kalau tidak salah kereta ini sudah berusia 100 tahun, dan disimpan dalam tempat khusus sebagai museum yang tidak bisa dikunjungi umum, tapi sekali waktu dibawa keluar melewati rel-rel yang ada. Sekali lagi, kami bisa merasakan betapa orang Jepang sangat menghargai sejarah!

Dan sebagai  penutup acara Buratamori itu dilantunkan lagu dari Inoue Yosuke, berjudul “Mabataki” Kerjap. Kata liriknya :

Untuk kamu di masa depan, kukirim kebahagiaan berupa ingatan dan kenangan, beserta rangkaian bunga. Perlihatkanlah impianmu dengan kerjapan matamu.

Dan kami bertiga terpaksa mengerjapkan mata lebih cepat, sambil menahan air mata, setelah menonton acara ke tiga yang kami pilih malam itu. Sebuah film mengenang selesainya perang bagi Jepang (dan kemerdekaan bagi Indonesia), EIEN NO ZERO mengenai seorang pilot Kamikaze yang bernama Kawabe (diperankan oleh Okada Junichi) . Dia tidak takut mati, tapi … dia ingin orang-orang yang ditinggalkannya bahagia. Termasuk orang-orang yang hidup di masa datang. Pada masa itu, pada masa perang, manusia tidak mempunyai pilihan lagi. Tidak bisa lagi memilih ingin mati atau ingin hidup. Tapi yang pasti, semua manusia, apapun kewarganegaraannya ingin orang-orang yang dia kasihi untuk bahagia setelah dia tinggalkan.

Eien no Zero, dengan peran utama Okada Junichi, yang mendapat penghargaan Japan Academy sebagai aktor Jepang terbaik tahun ini.

Film yang berat bagi anak-anakku. Aku sebetulnya tidak mau mereka menontonnya. Tapi mereka sendiri yang mau, dan kupikir bagus mereka tahu bahwa kami sekarang ini bisa hidup seperti sekarang, karena ada pendahulu yang menderita. Bangsa Jepang, bangsa Indonesia, bangsa manapun, punya sejarah yang pahit, dan sebaiknya sejarah itu dihargai, dikenang dan dijadikan pelajaran oleh generasi mudanya.

Dirgahayu negaraku~~~

 

Tepuk Pramuka

Suatu saat aku pernah menjadi penerjemah untuk kunjungan persahabatan rombongan pemuda dari Indonesia dan mereka mengadakan acara ramah-tamah dengan rombongan pemuda Jepang. Setelah makan-makan dan acara kesenian, acara ditutup dengan “sanbonjime 三本締め”. Penerjemah acara waktu itu (temanku) kesulitan untuk menerjemahkan sanbonjime itu dengan apa. Dan aku dari jauh membisikkan, “Mirip tepuk pramuka!”, tapi dia tidak dengar. Untung saja orang Indonesia cepat meniru tepuk khas orang Jepang yang memang mirip tepuk pramuka.

Aku tidak tahu apakah tepuk pramuka di Indonesia berasal dari Jepang atau bukan, karena tidak ada data yang pasti mengenai itu. Bisa saja diperkenalkan waktu pejajahan Jepang, tapi tentu saja bisa saja merupakan ciptaan pramuka Indonesia sendiri. Sanbonjime itu kalau diterjemahkan secara harafiah menjadi “penutup 3 batang” . Biasanya dijadikan sebagai penutup acara, dengan tepukan 3, 3, 3, 1. (Kalau pramuka 3,3,3,7)  Konon  tepukan ini menyatakan supaya acara selesai dengan selamat dan menyatukan pesertanya. Namun kalau dirasakan terlalu panjang, bisa saja disingkat dengan satu tepukan, yang disebut ipponjime 一本締め.

Sudah lama aku ingin menulis tentang sanbonjime ini, dan kebetulan hari ini adalah hari Pramuka, sehingga aku teringat lagi. Berhubung aku pernah mengikuti pramuka sampai penggalang, rasanya natsukashi, bernostalgia kembali dengan istilah-istilah pramuka. Dulu aku selalu menjadi komandan upacara bergantian dengan Agnes temanku. Padahal aku pendiam loh (tidak segalak si Agnes hehehe). Semaphore, Morse, tali temali, P3K, tanda kecakapan, peta pita, persami dan jambore adalah istilah-istilah yang masih kuingat sampai sekarang. Eh tapi selain kenangan yang bagus, aku pernah menyesal membawa bolpen Lamy yang kudapat dari papa ke latihan dan menghilangkannya. Soalnya bolpen itu muahal jeh.

Selamat hari Pramuka!

Aku sendiri sebetulnya ingin mengikutsertakan anak-anak dalam kegiatan boyscout, tapi berhubung kegiatannya selalu hari minggu dan mengganggu kegiatan sekolah minggu di gereja, terpaksa aku tidak mengikutkan mereka. Yang pasti aku belum pernah melihat Girl Guide, pramuka wanita di Jepang nih.

 

Bunga di Musim Panas – Himawari –

Suatu hari ada seorang ibu Indonesia yang meneleponku dan bertanya padaku tentang bunga apa yang bisa dipakai sebagai hiasan pengantin, baik untuk handbuoqet maupun ruangan gereja. Masalahnya pernikahan itu akan dilakukan pada musim panas, di Jepang. Bulan Agustus, pas terik-teriknya matahari. Dan bunga-bunga yang biasa kita lihat yang dipakai sebagai hiasan itu, tidak hidup di musim panas. Kalaupun ada pasti cepat layu. Tentu ada bunga-bunga yang masih hidup di musim panas, dan yang cukup besar dan tahan lama yaitu Bunga Matahari.

Bahasa Jepangny bunga Matahari adalah Himawari ひまわり, beragam jenisnya (konon sampai 70 jenis) dan beragam ukuran juga. Ada yang memang kecil-kecil bunganya, tapi tentu ada yang sampai sebesar mukaku 😀 (emang sebesar apa sih ya? hehehe). Batangnya tinggi, dari 50 cm sampai 390 cm…wah setinggi rumah dong! Aku belum pernah lihat yang setinggi 3 meter begitu deh.

Kiyose Himawari Festival 2014

Sudah lama sebetulnya aku ingin pergi ke taman yang penuh dengan bunga Matahari. Tapi baru terwujud tahun lalu, karena kebetulan waktunya juga pas, sesudah kami kembali dari mudik. Yang lucu, kami pergi ke Kiyose Sunflower Festival 2014 itu siang hari dan di sana secara kebetulan bertemu dengan sepasang teman Indonesia yang tinggal di Chiba dengan kedua anaknya.

Bersama dr Jordan dan dr Kiki. sayang latarnya kurang bagus… tapi anak-anak sudah capek sih, jadi tidak mau pindah tempat :D

Taman ini cukup luas. Konon di tanah seluas 24.000 meter persegi ini ditumbuhi 100.000 batang bunga Matahari dari berbagai jenis. Yang menarik waktu kubaca di sini, ternyata tempat festival ini sebetulnya adalah tanah milik pribadi (bukan milik pemerintah daerah) sehingga hanya boleh dikunjungi pada waktu diadakan festival saja. Untuk tahun 2015 ini adalah dari tanggal 16 Agustus (Minggu) sampai 30 Agustus (Minggu). Harga tanda masuknya gratis, tapi di sana disediakan tenda makanan dan bibit tumbuhan yang dijual dengan harga murah.

ciluuuk ba!

Tempatnya memang agak jauh dari stasiun sehingga harus naik bus, dan berjalan kaki 10 menitan sampai taman tersebut. Kami naik mobil dan disediakan tempat parkir di dekat taman (tentu saja berbayar…tapi aku lupa berapa).

ketemu ini di parkiran, becak Jepang naik mobil :D

Tapi benar deh, melihat hamparan bunga kuning seluas itu, senang rasanya. Yang kuperhatikan memang banyak kupu-kupu dan lebah/serangga yang mendekat untuk mengisap sari bunga. Aku sempat mengambil foto kupu-kupu yang bukan asli Tokyo hinggap di bunga Matahari itu.

Bunga Matahari yang dihinggapi kumbang

Sayangnya aku tidak keburu mengirimkan hasil jepretanku untuk mengikuti festival foto yang diadakan pemda setempat. Lupa!

Selain Kiyose Himawari Festival, tentu saja banyak tempat yang mengadakan festival bunga Matahari di sekitar Tokyo. Waktu mencari informasi, ternyata di Showa Kinen Koen (Tachikawa) pun ada dan bahkan tengah berlangsung. Tapi… karena akhir-akhir ini Tokyo benar-benar panas (realFeel sampai 41 derajat), aku mikir-mikir dulu deh untuk keluar rumah 😀 Kalau tidak penting sekali, mending ngadem di rumah 😀

Exkul

Tentu tahu apa itu exkul kan? Extra Kurikuler, yaitu kegiatan di luar jam pelajaran tapi masih dalam lingkup sekolah. Waktu aku SMP, belum ada Exkul… kecuali pramuka kalau mau dihitung sebagai exkul. Tapi waktu SMA, cukup banyak kegiatan Exkul yang tersedia, termasuk exkul drumbandnya yang terkenal. Tapi, …. aku tentu saja mengikuti exkul yang kalem (uhuy), yaitu Science Club dan Fotografi.

Tapi aku bukan ingin bercerita tentang aku. Aku ingin bercerita tentang Riku, si anak SMP kelas satu dengan kegiatan exkulnya. Bukatsu 部活 namanya.

Kalau di negara kita, sepertinya exkul tidak wajib diikuti. Tapi di Jepang, sepertinya bukatsu tidak wajib tapi harus 😀 Bingung kan? 😀 Jarang sekali murid SMP yang tidak ikut bukatsu, kecuali memang dia tidak begitu kuat badannya. Dan kebanyakan bukatsu memang olahraga.

Waktu SD Riku pernah mengatakan bahwa dia ingin mengikuti bukatsu “art” saja. Tapi setelah masuk SMP, tidak jadi! Alasannya, kebanyakan perempuan 😀  Tapi dia juga tidak mau masuk bukatsu populer di SMP nya seperti sepak bola atau base ball. Karena latihan setiap hari, dan anggotanya banyaaaaaak sekali (maksudnya banyak). Sepertiga kelas Riku adalah anggota sepak bola dan baseball. Jadi dia memilih badminton. Dari kelas 1 yang sejumlah 250 orang itu, hanya 33 wanita dan 6 laki-laki yang memilih badminton.

Badminton masih mending karena hanya latihan 5 hari dalam seminggu. Tapi aku pribadi minta ijin pada gurunya untuk meliburkan Riku pada hari Minggu, karena harus pergi ke gereja dan mengikuti sekolah Minggu. Jadi 4 hari dalam seminggu dia harus berlatih di sekolah, setelah pulang sekolah atau hari Sabtu pagi, khusus untuk berlatih.

Aku pribadi merasa heran sekali, kenapa sih bukatsu di SMP Jepang segitu padatnya berlatih. Awal-awal masuk bukatsu, Riku pulang dengan badan capek dan otot tegang. Tidak biasa lari selama itu, belum lagi push up dan latihan otot lainnya. Memang sih, dari bukatsu itu ada juga beberapa yang menjadi atlit olahraga. Tapi kalau dalam liburan musim panas juga harus berlatih setiap hari? Kapan liburnya dong ~~~~.

Tapi memang aku sendiri melihat Riku banyak berubah. Selain bentuk badannya yang semakin tinggi dan semakin slim, dia juga bisa mengatur waktunya lebih baik lagi. Dia tahu kapan harus belajar, kapan harus tidur. Memang benar bahwa semakin sibuk seseorang, semakin banyak kegiatan dan semakin bisa mengatur waktunya supaya bisa melaksanakan semuanya. Benar juga bahwa untuk anak lelaki SMP kalau terlalu banyak waktu senggang juga tidak baik, menggoda dia untuk berteman atau bermain di luar yang mungkin tidak baik pergaulannya. Dan olahraga juga mengajarkan tepat waktu, kerjasama dan solidaritas terhadap semua anggota. Aku sendiri sering merasa terharu kalau Riku bercerita tentang teman atau kegiatan bukatsunya, apalagi waktu kemarin dia cerita ada sempainya (= kakak kelas) yang masuk ke klasifikasi se-Tokyo. Terdengar rasa bangga pada sempainya. Kebetulan sempainya ini ibunya juga satu seksi publikasi PTA denganku.

raket yang ketiga… (raket pertama dan kedua terlalu murah jadi kurang pas dipakainya)

Untung saja peralatan olahraga badminton tidak mahal. Ada seragam berlatih khusus tapi bisa dipakai selama tiga tahun. Hebatnya seragam ini ringan dan cepat sekali kering. Sehingga meskipun aku harus mencuci setiap Riku pulang berlatih, sudah bisa kering untuk dipakai besok paginya meskipun dijemur di dalam ruangan saja. Bahkan aku pernah lupa mencuci, baru kujemur jam 6 pagi, padahal akan dipakai jam 12 dan hari hujan hehehe. Itupun bisa kering. Padahal aku sudah siap-siap kalau perlu aku akan pakai jurus pamungkas, yaitu menggulung dengan handuk sampai kandungan air pindah semua ke handuk, lalu aku akan keringkan dengan hair dryer 😀  (tips jitu loh ini untuk mengeringkan baju secepatnya).

Alat lainnya yang harus dibeli adalah raket, yang tentunya ada rupa ada harga, ada mutu harganya juga cukup mahal. Kock nya juga harus beli tapi untungnya untuk berlatih di sekolah disediakan oleh sekolah yang diambil dari uang iuran pertahun. Memang waktu kami memilih bukatsu apa yang akan diikuti, kami mendapat daftar jenis olahraga dan iuran pertahunnya berapa. Untuk badminton masih murah karena hanya 8000 yen pertahun.

Nah, memasuki libur musim panas tanggal 19 kemarin, ada satu lagi pengeluaran “mendadak” untuk kegiatan badminton, yaitu membeli jug thermos yang 2,6 liter isinya. Sebetulnya Riku sudah punya yang 1 liter, tapi itu masih kurang! Maklum musim panas di Jepang seperti sauna, sehingga harus minum terus supaya tidak dehidrasi. Selain membawa minum di thermos 2,6 liter itu, Riku juga diminta membawa es batu yang berukuran besar untuk dipool jadi satu dalam server air untuk semua peserta di sport hall. Tidak ada galon aqua dan dispensernya sih 😀 Dan thermos + es batu dalam tas menambah beban  dia berjalan selama 30 menit ke sekolahnya.

Waktu aku pulang kerja hari ini kebetulan bertemu dia yang sedang berjalan pulang sambil bawa jug thermos 2,6 liter hehehe. tampangnya capek ya, soalnya sesudah ini dia masih harus pergi bimbel lagi.

Dan… tentu aku juga minta izin khusus kepada gurunya, supaya Riku bisa berlibur ke kampung halaman ibunya. Karena sebetulnya ada persiapan pertandingan dsbnya, aku terpaksa hanya bisa mudik 10 hari saja di Jakarta. Tapi kalau aku tanya, “Riku tinggal saja ya, tidak usah ke Jakarta” Dia menjawab, “Enak aja ih mama… aku kan mau makan sate juga :D”.
Well, Riku juga bisa temani opa olahraga ya karena kabarnya opa juga rutin latihan di gym tuh. Sementara itu mama mau wisata kuliner dan reuni-reuni yaaa… hehehe.

Menyatakan Cinta

Tadi pagi, sambil menonton TV, aku tertawa melihat murid-murid SD menyatakan cintanya di depan teman-temannya. Wah, apaan nih, pikirku awal aku menonton acara itu. Masa anak SD sudah berkata: “Aku suka sama kamu. Maukah kamu menikah denganku?” hehehe

Ternyata itu adalah sebuah kompetisi yang diadakan oleh murid-murid sendiri. Jadi ceritanya anak-anak memilih tema “menyatakan cinta” karena tema ini tidak mengenal kelas, umur dan jenis kelamin. Meskipun ada beberapa peserta murid perempuan yang mengatakan, “Aneh ah jika perempuan menyatakan cinta”, dan dia memang senang jika bukan dia yang proposed melainkan yang laki-laki. Well, jaman boleh berubah, tapi masih banyak kok yang memang mengetahui “kodrat”nya.

Tujuan kompetisi ini agar anak-anak tidak malu berbicara dengan lantang di muka orang banyak, dan bisa mengungkapkan perasaan/pemikirannya. Kreatif juga sih. Yang lucu waktu si pemenang kontes, seorang anak laki, ditanya apakah nanti kalau sudah besar akan berkata seperti yang dia katakan? Lalu dijawab, “Waaaah tidak tahu ya nanti… masih jauh sih!” sambil memerah mukanya 😀 Aku juga heran kenapa dia yang terpilih, soalnya dia berkata, “Maukah kamu menjadi MILIKKU!” waaaaah perempuan jaman sekarang mana mau cuma jadi MILIK 😀

Tapi menyatakan cinta memang butuh keberanian. Dan ini pula yang disimulasikan untuk anak-anak disleksia, anak autis, anak yang terbelakang. Kebetulan aku menonton acaranya, dan kupikir… iya juga ya, anak-anak berkebutuhan khusus seperti mereka pun perlu mengenal cinta dan mengetahui cara-caranya.

Pada acara itu, disimulasikan sepasang anak terbelakang, laki-laki dan perempuan pergi berkencan selama 1 jam. Mulai dari si lelaki mengajak perempuan itu pergi, lalu ke mall dan memilih kegiatan apa yang dilakukan. Perlu diketahui bahwa anak-anak ini TIDAK BISA berhitung. Mereka juga cepat emosi, cepat panik. dari tayangan itu diketahui si anak lelaki mengajak temannya makan spaghetti, lalu panik setelah selesai makan harus bagaimana. Jadi dia meninggalkan ceweknya, dan cepat-cepat bayar. Sayangnya dia LUPA mengatakan “betsu-betsu” (bayar sendiri-sendiri) kepada kasirnya. Padahal uangnya tidak cukup untuk membayar dua orang. Panik deh… untung si cewe sadar (dan kelihatan yang cewek autisnya tidak begitu parah) dan pergi ke kasir untuk membayar bagiannya. Well, di Jepang meskipun pacaran juga masih bayar sendiri-sendiri loh. Tidak ada kewajiban untuk yang laki harus membayar, apalagi jika statusnya dua-duanya belum bekerja.

Di situ aku merasa terharu pada usaha guru-guru di sekolah luar biasa itu untuk menanamkan keberanian dan mengajarkan bermasyarakat. Ah, mereka juga bisa kok seperti manusia normal lainnya, asal didukung, diajar dan diberikan waktu. Aku merasa beruntung tinggal di Tokyo, apalagi di dekat rumahku ada sekolah luar biasa 養護学校, sehingga aku setiap hari bisa melihat mereka. Mereka TIDAK dikucilkan, dan kami warga juga tidak heran jika berjumpa dengan mereka.

“Hati yang luas yang mau menerima mereka yang kurang, apa adanya” justru bisa kutemukan di Jepang. Aku pun merasa kagum pada universitas tempatku bekerja yang memang kuketahui menerima mahasiswa yang dianggap tidak normal. Aku pernah mengajar seorang mahasiswa yang berkursi roda, seorang mahasiswa yang berpendengaran tidak normal sehingga harus memakai alat khusus. Untuk menghadapi mereka aku dikirimi surat oleh pihak universitas, untuk memperhatikan mahasiswa ini, dan jika perlu memberikan tugas yang lain dengan mahasiswa normal. Aku juga usahakan untuk tidak berbicara cepat-cepat supanya si mahasiswa tidak bingung. Memang tidak setiap kelas, dan tahun ini aku mempunyai seorang mahasiswa yang menderita  Asperger syndrome, sejenis autis. Kekurangan yang  paling mendasar, dia tidak bisa membaca situasi, yang istilah Jepangnya: Kuuki wo yomenai 空気を読めない.  Dia selalu duduk paling depan, dan suaranya paling kencang (dan cepat sehingga sering salah) jika aku suruh seluruh kelas membaca sebuah percakapan. Awalnya aku tidak sadar, lalu kemudian aku menerima surat dari pihak universitas tentang mahasiswa tersebut. Sayangnya dia jarang masuk dan terakhir dia sudah duduk di bangku belakang sekali. Semoga dia bisa bertahan sampai akhir semester deh.  Dan tentu… tentu aku akan memberikan tugas yang sedikit berbeda dari teman-temannya yang lain.

 

Latihan Bencana

Waduh, siapa juga mau ya latihan bencana… mungkin lebih tepat persiapan menghadapi bencana, atau bahasa kerennya Mitigasi Bencana.

Tanggal 30 Juni lalu, aku harus cepat-cepat pulang dari tempat kerja karena ada latihan menjemput anak di sekolah, jika terjadi gempa besar. Saat itu pukul 2:10 kelurahan kami serentak mengadakan latihan menghadapi bencana. Jadi akan ada alarm berbunyi di setiap sekolah, dan anak-anak berlatih prosedur jika terjadi gempa (berlindung di bawah meja, setelah aman dan guru menginstruksikan, mereka akan berjalan dengan rapi menuruni tangga dan berkumpul di halaman sekolah.

Sebelumnya kami juga menerima pemberitahuan melalui email, bahwa mulai saat itu ada latihan menghadapi bencana. Kami diminta untuk datang menjemput setelah pukul 2:20, sambil menyebutkan nama anak dan hubungan kami dengan anak itu: ayah atau ibu atau kakek/nenek. Jadi seandainya nanti terjadi gempa besar, kami memang harus menjemput ke SD dan menyebutkan nama anak serta hubungan kami. Sehingga bisa dicatat anak itu telah pulang dengan siapanya, jikalau orang tua lainnya datang menjemput. Selama anak-anak di dalam lingkungan sekolah memang sekolah bertanggung jawab akan keselematan anak-anak.

Keluarga kami sendiri sudah menentukan SD nya Kai sebagai tempat pertemuan kami. Selain itu memang SD tersebut yang menjadi tempat kami mengungsi pada waktu terjadi bencana. Latihan antisipasi bencana memang sudah dan terus dilaksanakan di sini. Biasanya latihan itu diperkuat setiap tanggal 1 September karena merupakan hari peringatan bencana gempa Besar Kanto, tapi khusus kelurahan kami melaksanakan latihan “menjemput” itu pada tanggal 30 Juni.

anak-anak yang menunggu dijemput di lapangan sekolah

Untuk murid SMP, karena sudah cukup besar, mereka bisa jalan sendiri ke rumah. Kalau ada adik dan SD nya dekat, mereka diminta untuk jalan ke SD adiknya dan bertemu orang tuanya di SD. Tapi karena SMP Riku cukup jauh dari SD Kai, Riku bisa langsung pulang ke rumah saja. Tapi dari pelajaran menjemput hari ini, aku sangat senang karena bisa jalan pulang bersama Kai, sambil memperhatikan jalan yang dilewati sampai rumah, dan menemukan bagian mana saja yang berbahaya. Misalnya tembok yang mudah runtuh, tiang yang mudah goyah, rumah yang dekat jalan dan berkaca (cepat pecah) dll.

Kalau latihan menghadapi bencana memang sering dilakukan di SD/SMP tapi di jenjang yang lebih atas? Biasanya tidak ada. Untuk universitas, sudah dianggap dewasa untuk menemukan jalan pulang sendiri. Tapi sejak terjadi gempa bumi Tohoku 4 tahun lalu, kami para dosen dibagikan manual cara-cara menghadapi gempa bumi jika terjadi pada saat kami sedang mengajar.

Nah hari Jumat kemarin, tidak biasanya, aku diminta untuk ikut latihan penanganan bencana. Kebetulan yang menjadi “sasaran” latihan adalah jam pelajaran kedua, hari Jumat, yang menempati tingkat 3 gedung 10 saja! Haduh! Ada sekitar 10 kelas sih memang, dan aku sebagai dosen, begitu terdengar alarm, harus mengumumkan: Berlindung di bawah meja. Lalu memerintahkan mahasiswa untuk mengikutiku, menuruni lantai 3 ke tempat pengungsian yang sudah ditetapkan, yaitu lapangan di sebelah gedung 10.

Untung saja kelasku dekat tangga, sehingga kami bisa segera turun. TAPI kami belum boleh langsung bubar. Setelah aku melaporkan bahwa kelas kami sudah turun, kami masih harus menunggu kelas-kelas lainnya. Kelasku merupakan kedua yang tercepat turun. Dan… cukup lama kami harus menunggu sampai semuanya berkumpul… di dalam panas. Heran sekali deh hari Jumat itu terik padahal sebelumnya hampir seminggu penuh hujan terus 😀 Kami juga lapar, karena sudah pukul 12:30 dan sudah memangkas jam istirahat kami untuk makan siang.

pembagian nasi dan biskuit tahan lama sebagai tanda sudah mengikuti latihan menghadapi bencana di universitas kami

Setelah mendengarkan pidato dari rektor yang mengucapkan terima kasih, kami dibagikan nasi dan biskuit tahan lama yang bisa disimpan 6 bulan. Tapi yang sempat membuatku tertegun waktu mendengar dari kepala pelatihan yang mengatakan bahwa sebetulnya setelah latihan mengungsi ini, ada beberapa acara yang dilakukan di depan kampus, termasuk latihan pemadam kebakaran dan pengungsian dalam ruangan berasap (tahun lalu aku pernah ikut ruangan berasap ini). TAPI ternyata semua unit pemadam kebakaran yang sedianya dipakai untuk latihan di universitas, dipanggil karena ada kebakaran sungguhan yang cukup besar sehingga semua unit dipanggil. Hmmm kebakaran, bencana memang tak dapat diprediksi kapan akan terjadinya. Tapi memang jika kita sudah siap dan tahu harus bagaimana menghadapinya, jumlah korban dapat diperkecil, jika tidak bisa dihilangkan.

mobil pemadam yang lewat di depan rumahku beberapa hari yang lalu. Mempunyai tangga yang cukup panjang untuk mengungsikan orang dari lantai atas gedung tinggi

 

Pergeseran

Hari ini aku pergi mengajar di universitas yang cukup jauh dari rumahku. Karena sejak musim dingin kemarin kakiku sakit (meskipun berangsur pulih), aku sering “memanjakan” kakiku dengan tidak naik turun tangga. Kalaupun naik turun tangga aku usahakan untuk tidak cepat-cepat. Daripada kakiku tidak bisa dipakai selamanya kan, lebih baik mencegah.

Jadi aku sekarang sering berangkat lebih pagi dari biasanya, dan memakai lift di stasiun. Di setiap stasiun biasanya ada lift, yang diperuntukkan bagi kaum lansia, atau mereka yang sedang hamil, sakit atau membawa barang besar (seperti koper) dll. Layaknya silver seat, bangku khusus untuk yang membutuhkan.

Waktu aku sehat, aku TIDAK akan menaiki lift karena kupikir, aku masih mampu jalan. Dan kalau aku buru-buru justru akan lebih cepat jalan/naik eskalator daripada naik lift. Tapi sekarang setelah aku lebih banyak menggunakan lift, aku banyak melihat yang tidak lazim. Yaitu anak muda, remaja baik perempuan atau laki-laki sehat yang tidak terlihat hamil atau sakit kakinya menggunakan lift. Dan mereka sabar menunggu datangnya lift, dibandingkan harus jalan dan naik tangga, tentu saja sambil bermain dengan HP nya. Duh….  Bahkan aku sering melihat mereka naik lift sendirian. Hmmm kalau aku sehat, aku tidak akan naik lift sendirian. Bukan, bukan memikirkan keamanan, tapi memikirkan boros energinya. Kan untuk menjalankan lift perlu listrik :)

Itulah, sudah terjadi pergeseran pemikiran manusia sekarang. Yang penting dirinya enak, tidak capai, tidak mau bergerak sedikit. Tidak memikirkan dampak perbuatannya pada lingkungannya. Rasanya masyarakat sekarang mulai menjadi “sakit” deh.

Di universitas, biasanya satu kali dalam 15 kali pertemuan, aku meminjam ruang komputer di universitas, untuk “memaksa” mahasiswa mencari informasi tentang Indonesia di internet, dan menjawab pertanyaanku (dalam bahasa Indonesia).  Setiap mahasiswa biasanya mempunyai akun sendiri yang dibagikan pihak universitas, sehingga untuk bisa login memakai komputer pun harus memasukkan id dan passwordnya. Untuk email juga disediakan webmail universitas sendiri, tapi kali ini ada dua mahasiswa (dari 20 orang) yang tidak bisa mengirim email karena lupa passwordnya. Untuk ini aku bisa bantu dengan “meminjamkan” aku emailku yang lain.

Dan pagi ini aku melihat pemandangan aneh seperti ini:

aneh kan? (foto sudah minta ijin si mahasiswa)

aneh tidak? Dia duduk di depan komputer, display besar. Tapi mencari informasi JUSTRU dengan smartphonenya yang berlayar kecil. Aku tidak bisa mengerti pemandangan seperti ini. Dan kelihatannya memang kaum muda sekarang tidak biasa memakai komputer. Segal-segalanya cukup dengan smartphone. Kalau dalam kondisi di jalan sih bisa dimaklumi, ini sedang berada di depan komputer loh 😀

Aku masih merasa pentingnya punya komputer. Karena secanggih-canggihnya smartphone, tetap saja kapasitas dan kemampuannya lebih kecil dari komputer. Misalnya akan sulit dong, membaca pdf dari smartphone. Untuk membaca format A4, tentu lebih baik dari komputer, daripada dari smartphone. Meskipun kalau terpaksa aku juga kadang memakai aplikasi Word untuk smartphone. Untuk browsing di internet, kalau mendadak dan mendesak tentu saja bisa pakai smartphone, tapi kalau aku ada di rumah atau tempat yang ada komputernya aku lebih suka mencari info-info itu dengan komputerku.

Aku tahu jaman memang berubah, juga manusianya. Sah-sah saja, sepanjang kita masih bisa memilah dengan hati tentunya.