Bintil Kuku

Kamu tahu bintil kuku? Aku dong, tidak tahu kata ini(bangga hihihi). Baru saja kudapat di kamus Inggris – Indonesia. Hanya karena aku penasaran apa sih bahasa Indonesianya : Sasakure, ささくれ. (Bahasa Inggrisnya : Hangnail).

Aku pertama kali tahu kata Sasakure dari Kai. Kai yang dulu sering bilang: Aku ada sasakure, sakit deh. Aku belajar kata baru dari Kai deh 😀 Sasakure adalah kulit bagian bawah kuku yang terkelupas. Penyebabnya bisa macam-macam. Bisa karena kering jadi terkelupas atau pecah. Tapi bisa juga karena kurang gizi. Jadi kalau sering terjadi bintil kuku ini (benar tidak sih namanya bintil kuku? Ada yang tahu bahasa lainnya?) mesti ke dokter untuk menanyakan penyebabnya.

Hari ini aku menderita karena sasakure. Hari ini Tokyo memang dingin sekali, dan kering. Pagi tadi turun salju pertama dan suhu hari ini maximum 5 derajat. Kulit tangan kering dan waktu aku cuci piring pagi hari, terjadilah sasakure di dua jariku….. dan itu sakit. Apalagi waktu aku harus memeras lemon untuk membuat ramuan minuman pagiku. Bisa kebayang kan? 😀

Cara menyembuhkan sasakure bagaimana? Menurut yang kubaca, tidak boleh menarik bagian kulit yang terkelupas, tapi memotongnya dengan gunting kuku. Lalu diberi salep supaya cepat sembuh. Kesempatan deh untukku memakai hand lotion hadiah dari my dimple sister. Terima kasih ya…

20 tahun, Terima Kasih

Di atas sebuah jembatan, jauh di bawahnya mengalir sungai yang deras.
Seorang pemuda berpakaian jas lengkap, sambil berteriak, “Ibuuuu terima kasih!” kemudian terjun bebas…..

Tapi ini bukan bunuh diri! Dia melakukan bungee jump di sebuah jembatan, bersama beberapa pemuda-pemudi lainnya. Bahkan pemudinya memakai kimono!

Mereka adalah orang Dewasa Baru 新成人, yang baru berusia 20 tahun, yang diperingati hari ini di Jepang sebagai seijin no hi 成人の日. Memang Jepang mematok usia 20 tahun sebagai batas kedewasaan seseorang. Seperti yang sudah pernah kutulis di sini, dalam Undang-undang mengenai hari libur nasional di jepang, dituliskan ” mendukung remaja yang menyadari dirinya telah dewasa dan berusaha hidup mandiri”.  Untuk itu setiap remaja yang telah berumur 20 tahun akan diundang oleh pemerintah daerah yang mengadakan upacara Hari Dewasa di tempat-tempat tertentu. Remaja Putri dan Putra akan datang ke pesta itu dengan memakai kimono atau hakama (kimono laki-laki. Kimono Furisode (berlengan panjang) dipersiapkan khusus untuk dipakai dalam upacara hari dewasa ini. Usia 20 tahun di Jepang dinyatakan telah dewasa, dan ini berarti mereka boleh minum minuman keras (di tempat umum), boleh merokok dan boleh ikut pemilu.

Secara personal waktu aku melihat tayangan televisi si pemuda yang jelas-jelas berteriak, “Ibu terima kasih”, aku menjadi terharu. Ah masih ada pemuda yang menyadari bahwa dia bisa menjadi dewasa justru karena peran ibu dan bapaknya. Karena sebelumnya di TV memang ditayangkan sisi buruk dari “orang Dewasa Baru” yang datang ke upacara dengan berpakaian kimono/hakama ala gangster, dengan makeup aneh-aneh. Memang ada beberapa kelompok yang ingin tampil lain sendiri, dan sebagai akibatnya mencoreng mereka-mereka yang biasa-biasa saja. Kaum pemuda/pemudi gangster itu akhirnya mencari keributan demi kepuasan mereka sendiri.

Tapi aku juga cukup tersentak, waktu TV itu memberikan pertanyaan, “Dengan kedewasaan Anda, apa yang sudah Anda capai waktu berusia 20 tahun?”. Dan menayangkan orang-orang terkenal yang pada usia 20 tahun sudah mencapai kesuksesan sebagai atlit pemegang medali olimpiade, atau sudah berkarir. Konon Bill Gates juga membangun perusahaan raksasanya pada usia 20 tahun. Wah kalau ditanya begini, memang banyak yang tidak bisa menjawab. Tapi paling tidak banyak yang bisa menjawab waktu mengikuti upacara itu mereka mempunyai suatu cita-cita dan setelah beberapa tahun cita-cita banyak yang tercapai. Di situ aku merasa, seandainya di negara kita juga ada upacara dewasa seperti ini….. Atau justru sulit untuk menentukan usia berapa menunjukkan kedewasaan karena anak kecilpun sudah merokok.

Yang pasti orang Dewasa baru tahun ini adalah mereka yang lahir 20 tahun, tepat waktu terjadinya gempa bumi Kobe, dan peristiwa bahan kimia Sarin di kereta subway. Dan … aku sudah berada di Jepang dari 3 tahun sebelumnya. Jadul ya? 😀

8 Besar dari Nerima : 2015

Tibalah waktu untukku melengkapi tulisan kebiasaan keluarga kami yang dimulai sejak tahun 2010 yaitu 8 peristiwa besar yang terjadi di keluarga kami selama setahun.

  1.  MASUK. Ya tahun ini Riku masuk SMP sehingga banyak terjadi perubahan dalam keluarga kami. Ternyata menjadi murid SMP, volume belajarnya jadi lebih banyak, dan selain itu dia juga MASUK ke dalam kegiatan ekstra kurikuler Badminton. Kupikir kegiatannya HANYA yang tertulis di jadwal yaitu 4 hari seminggu : Selasa, Jumat, Sabtu, Minggu, tapi pada kenyataan jadwal tinggallah jadwal. Rasanya hampir setiap hari dia harus berlatih, terutama pada waktu liburan dan menjelang pertandingan. Ini membuat kami tidak bisa bepergian jauh dan menginap. Musim panas kemarin aku memboloskan dia dari kegiatan badmintonnya selama sepuluh hari karena mudik ke Indonesia, dan ternyata membuat dia jauh ketinggalan dengan teman lainnya. Tahun depan sudah pasti aku tidak bisa mengajak dia lagi :( Waktu kami pergi berempat akhirnya memang berkurang banyak. TAPI bersamaan dengan masuknya Riku ke SMP, aku juga ikut MASUK ke PTA di SMP dan menangani Bagian Publikasi. Beraksi dengan camera dan komputer tentunya.
    Selain Riku, aku juga “masuk” ke akademi baru, Kanda International of Foreign Language (KIFL) sebagai dosen. Meskipun bukan “masuk” (masuknya sudah 2 tahun lalu), tahun ini aku juga pertama kali memasukkan Kasumigaseki yang pusat kantor pemerintah Jepang sebagai tujuan bekerja, dan cukup sukses memulai kembali menjadi commuter kereta bawah tanah (setelah aku kena panic syndrome). Aku juga tahun ini resmi masuk ke sebuah organisasi yang bernama “Himpunan Pengkaji Indonesia Seluruh Jepang” 日本インドネシア学会 dan untuk itu aku pertama kali meninggalkan anak-anak 3 hari 2 malam untuk mengikuti simposium di Kyoto (Tahun depan ke Aichi loh).
    Untuk Kai, dia naik kelas 2 SD dan Akuberharap Kai bisa masuk ke Club Badminton di SDnya, setelah melihat dia mengikuti trial lesson 2 minggu yang lalu dan ternyata anak bungsuku ini berbakat juga loh. Semoga ya.
  2. MENYAMBUT. Kami menyambut kedatangan papaku, opa, ke kandang kelinci kami di Nerima pada bulan April. Supaya opa bisa tidur nyaman, aku hampir sebulan membereskan rumah sepetak kami, membuat satu kamar untuk opa. Kamar itu akhirnya menjadi kamar Riku setelah opa pulang. Nah, aku masih mempunyai pekerjaan tak terselesaikan yaitu mengatur barang-barang yang kukeluarkan dari kamar, dan sekarang tergeletak di balkon hehehe.
    Tahun 2015 kami juga menyambut kedatangan Shaw, anjing shiba, sebagai pengganti DAI yang hilang/mati untuk menemani ibu mertuaku di rumah Yokohama. Di Nerima kami mulai memelihara ikan dalam akuarium karena Riku ingin punya akuarium sendiri, meskipun aku tahu (dan memang terjadi) aku sendiri yang akan memeliharanya. Tapi waktu Riku ingin memelihara kura-kura bertepatan dengan masuknya dia ke SMP (ingin tahu juga bisa bertahan berapa tahun), aku menyetujuinya. Seandainya Riku minta memelihara kucing, sudah pasti aku tidak setuju karena aku benci kucing, entah kenapa. Kura-kura kecil ini asal Jepang yang sebesar-besarnya dia tumbuh, tidak akan lebih besar dari piringnya cangkir. Ngeri juga kalau dia bertumbuh sebesar TV gitu hehehe. Daaan, kura-kura itu lucu, selalu menyambutku kalau dia lapar seakan minta makan. Kuberi nama KUYA 😀 (si Riku sendiri tidak kasih nama sih)
  3. KESENGSEM /hobby. Karena Riku mulai bermain badminton, dia jadi kecanduan membeli raket dan buku-buku tentang badminton. Memang dia pernah debut pertandingan double pada bulan Oktober lalu (dan kalah di set pertama). Tapi nanti tanggal 11 Januari, dia akan debut pertandingan badminton single. Jadi dia selain berlatih otot, lari juga mempelajari teknik-teknik dari buku-buku badminton. Terus terang aku berdua Gen, bangga sekaligus heran melihat semangat Riku dalam badminton. Ternyata bisa juga ya anak dari orangtua yang tidak suka olahraga, menjadi pemain badminton :D. Selain “kecanduan” badminton, Riku juga kecanduan membeli stationary, terutama pensil mekanik. Duh, uang jajannya habis untuk membeli pensil! Padahal menurutku sih pensil semahal apapun sama aja 😀 Kalau Kai?  Dia masih kesengsem pada bebatuan dan kartu dragon ball. Menjelang akhir tahun, dia mulai getol menggambar komik dan masuk ke klub komik di kelasnya.
  4. WISATA. Karena sulit membuat waktu pergi bersama, selama tahun 2015 kami sedikit tempat yang bisa kami kunjungi. Pada bulan Maret, aku, Riku dan Kai berburu cap 100 Famous Castle ke Kyoto (Nijo Castle) dan Osaka (Osaka Castle). Ini merupakan perjalanan wisata entah keberapa kalinya ke Kyoto dan Osaka bagiku, tapi pertama kali untuk Riku dan Kai. Tujuan Kyoto dan Osaka ini juga merupakan permintaan Riku sebagai hadiah kelulusannya di SD. Pada bulan April, aku menemani papa ke Matsumoto Castle dan Azumino dan menikmati keindahan bunga sakura di sana. Bulan Mei kami pergi ke Shirakawa dan Komine Castle (1 Day trip). Summer kami mudik ke Jakarta tanpa papa Gen, dan setelah kembali kami menyempatkan diri pergi ke Inuyama Castle, dan Nagoya Castle ini juga 1 Day trip. Setelah itu sempat juga pergi menyusuri sungai Nagatoro sebagai wisata terakhir bagi keluarga. Aku sendiri pergi (lagi) ke Kyoto pada bulan November dan menikmati Kiyomizudera , Heian Shrine dan Tofukuji di sela-sela simposium. Jadi koleksi 100 Famous Castle kami tahun ini hanya bertambah LIMA castle huhuhu. Perjalanan masih panjang untuk mencapai 100 nih (sekarang baru 30-an). Semoga tahun 2016 bisa menambah cap kami deh.
  5. BELANJA. Tahun ini belanja kami memang lebih banyak untuk makanan dan kebutuhan hobby Riku dan Kai (juga papanya) yaitu BUKU. Aku sendiri tidak ada buku baru yang kubeli, karena aku membeli versi kindle saja. Itupun jarang ada waktu untuk membaca, kecuali di dalam kereta. Untukku, sebagai belanja “besar”, aku membeli iPhone 6S setelah bertahan 3 tahun tidak mengganti HP. Itupun karena iPhone 5 aku sudah mulai rewel dan untung saja cepat aku ganti begitu iPhone6S released, karena seminggu sesudahnya benar-benar dead :D. Oh ya aku membelikan komputer laptop baru untuk Riku sebagai hadiah ultahnya, karena dia memaksa terus untuk dibelikan HP. Aku sedapat mungkin tidak mau membelikan HP dan berhasil merentang waktu sampai satu tahun ini. Semoga masih dapat merentang lagi keinginannya sampai dia masuk SMA, meskipun sulit karena teman-temannya kebanyakan sudah punya HP sendiri. Selain smartphone dan komputer, aku membeli rice cooker baru pengganti yang lama (yang sudah 15 tahun mengabdi), juga steam cleaner, dengan maksud untuk bebersih besar-besaran tapi kok sampai tanggal terakhir bulan Desember, belum kubuka kardusnya ya? hehehe. Ada juga beberapa CD yang kubeli karena suka dengan lagunya, lalu beberapa aplikasi smartphone yang kupasang karena memang bagus.
  6. KESEHATAN. Nah, awal tahun 2015 aku sakit cukup parah, yaitu terkena perubahan tulang lutut yang membuat aku tidak bisa jalan. Benar-benar sakit sampai kadang aku menangis menahan sakit setiap harus berjalan. Sudah ke orthopedy dan dibilang tidak ada obatnya selain memanaskan bagian lutut dan pakai supporter/koyok. Dokter tidak mau kasih obat penahan sakit karena katanya percuma begitu obatnya hilang, akan merasa sakit lagi. Memang sih. Untung waktu itu aku tidak harus bekerja (libur musim semi), jadi bisa tinggal di rumah. Tapi menurutku sepertinya sakit itu terjadi karena aku tidak bergerak pas musim dingin. Jadi meskipun sakit, aku paksakan berjalan biarpun pelan-pelan. Selain itu aku sendiri mengubah pola makanku, dengan membuka hari dengan perasan lemon hangat. Baru sebulan terakhir memasukkan irisan jahe dan menambahkan madu ke dalamnya. Ramuan ini amat membantu. Selain itu aku mengurangi asupan carbo, sehingga setiap saat sedapat mungkin aku makan salada saja. Untuk antisipasi, bulan Maret aku menghubungi universitas tempatku bekerja untuk menyediakan kelas pada bulan April yang tidak perlu naik-turun tangga. Naiknya sih tidak apa-apa, yang sakit pada waktu turun. Seiring dengan musim yang menghangat, lututku juga membaik sampai sekarang. Nah aku teruskan terapi makanan ini sambil berharap lututku tidak rewel lagi jika hari-hari bertambah dingin nantinya. Semoga ya.
  7. PENCAPAIAN dan KERJA.
    Tinggi Riku sudah melampaui mama! Ini berita besar buatku. Benar deh, akhir-akhir kalau berfoto bersama, aku sudah merasa menjadi kecil! Bagaimana kalau Kai juga melampauiku ya? Berasa kerdil deh… atau aku menciut? Hehehe.
    Kai sudah bisa naik sepeda sendiri! INI juga pencapaian untuk Kai, karena dulu dia pernah bilang, “Mendingan aku jalan kaki daripada harus naik sepeda!” Seiring dengan naik kelas 2, dia sudah menguasai sepedanya. Tapi lucunya, dia menolak waktu kami mau memberikan hadiah natal sepeda yang lebih besar. Katany, “Masih bisa pakai sepeda ini kok!” Padahal menurut kami, badannya dia kegedean untuk sepeda itu hehehe.
    Pencapaianku apa ya? sepertinya dari segi pekerjaan, aku masih belum ada yang bisa dikatakan sebagai pencapaian dalam 1 tahun ini. Cuma aku merasa, terutama di masa-masa menjelang akhir tahun ini, aku mengalami pencapaian dalam bidang spiritualku. Mungkin bagi sebagaian orang tidak bisa dianggap sebagai pencapaian, tapi bagiku ya. Seperti layaknya bintang capricorn yang lain, kalau tidak suka pada orang, jangan harap bisa berbaik-baik. Sifat itu memang kubawa, tapi semakin dewasa, aku bisa menyembunyikannya, atau menguranginya. Jadi waktu tahun-tahun lalu aku memutuskan hubungan “silaturahmi” dengan beberapa orang, aku pun tidak mau tahu lagi. Tidak peduli, karena toh bukan aku yang mulai dan aku tidak butuh mereka! Tapi entah kenapa orang-orang itu pada tahun ini “kembali” padaku dan aku pun bisa menerima dan memaafkan mereka (meskipun mereka tidak meminta maaf secara literal loh). Senang sekali deh, tahun ini aku bisa membuang list “musuh” atau “yang kubenci” dari kamusku! Rekonsiliasi 😀
  8. RENCANA dan HARAPAN.
    Tahun 2015 menurutku sudah seimbang. Balance deh. Sibuk tapi aku bisa seimbangkan dengan menyediakan waktu bersama anak-anakku. Meskipun ada yang harus dikorbankan, yaitu BLOGGING. Ya, tahun 2015 kegiatan bloggingku mencapai titik terendah. Bayangkan aku HANYA bisa menulis 44 posting setahun ini di blog ini (memang ada beberapa blog lain sih, yang masih kadang-kadang aku update). Dan kemarin aku sempat KAGET melihat Page Rank blog ini menjadi 0 (dari 2) huaaaaah…… (tapi tadi kulihat lagi ternyata masih 2 kok). Sedih rasanya tidak bisa menulis seperti dulu, tapi ya, ini merupakan imbas kesibukan pekerjaanku. Tambah pekerjaan tentu memerlukan waktu juga untuk mempersiapkannya. Tapi aku senang bisa menyelesaikan satu pekerjaan menulis di suatu proyek, meskipun selesai menulis bukan berarti selesai pekerjaannya 😀 Masih ada satu tahun yang diperlukan untuk menyempurnakannya. Karena itu mungkin tahun 2016 kegiatan bloggingku tidak banyak berbeda dengan tahun yang hampir habis ini. Tapi sesedikit apapun, aku usahakan untuk tetap menulis paling sedikit satu setiap bulannya. Atau… aku pindah saja blog-blog lainnya ke sini ya? hehehe. Ada sih satu solusi yang bisa kulakukan supaya blog ini tetap update, yaitu menulis sependek apapun! Itu yang aku kurang bisa atasi. Menurutku untuk menulis di Twilight Express, aku punya target tidak mau yang asal menulis (pendek) saja. Aku harus memberikan informasi tambahan yang tidak terdapat di tempat lain. Nah, kalau saja “hambatan” ini bisa kuabaikan, mungkin setiap hari pun aku masih bisa menulis hehehe. Aku akan coba deh, kembali lagi ke tujuan menulis bloggingku, yaitu “pencatatan sejarahku dan keluargaku” 😀 Doakan ya 😉

Akhirnya selesai juga tulisan tradisiku untuk tahun 2015. Semoga tahun yang baru membawa semangat baru lagi bagi kita semua untuk menjalankannya.

Selamat menutup tahun 2015, dan menyambut tahun 2016.

 
Tulisan serupa dari tahun-tahun yang lalu:

8 Besar dari Nerima

8 Besar dari Nerima (edisi 2011)

8 Besar dari Nerima (2012)

8 Besar dari Nerima (2013)

8 Besar dari Nerima 2014

Natal 2015 & Anniversary

Natal tahun 2015  istimewa?

Ya mungkin karena malam Natal bersamaan dengan Maulid Nabi Muhammad bisa dikatakan istimewa. Tapi bagiku, natal tahun 2015 terasa berbeda dari biasanya.

Pertama, aku mengikuti Natal Bersama Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia di Jepang secara aktif. Terakhir aku ke perayaan Natal KMKI tahun 2011 karena janjian dengan temanku Ira Wibowo yang membawakan kopi untukku. Setelah itu aku vakum tidak pergi ke acara Natalan bersama KMKI. Salah satu alasannya karena dilaksanakan pada minggu pertama atau kedua bulan Desember. Nah, tahun ini Natal bersamanya diadakan pada minggu ke-3 yaitu tgl 19 Desember. Aku juga bisa pergi ke sini, karena sudah minta ijin pada anak-anak! Ya, anak-anakku sudah bisa ditinggal sendiri dan makan malam sendiri asal sudah kusiapkan. Gen, seperti biasanya memang bekerja pada hari Sabtu.

Jadi hari-hari sebelumnya, kebetulan aku juga sibuk dari pagi sampai malam. Jadi begitu ada waktu belanja, aku belanja agak banyak, terutama makanan yang tahan lama, dan bisa disiapkan oleh Riku untuk makan dengan adiknya. Pas hari Sabtu itu, dari pagi jam 9 sudah ada rapat PTA di SMPnya Riku. Aku harus datang, karena memang tugas aku sebagai editor buletin sangat banyak. Ada 10 orang ibu-ibu dalam tim kali ini, tapi yang bisa komputer hanya 2 orang. Dan kebetulan aku merangkap jadi fotografer juga, sehingga bisa membicarakan layout bersama. Seselesainya rapat, aku langsung mengayuh sepeda pulang, makan siang dan persiapkan makan malam anak-anak. Ganti baju langsung cabut lagi.

Natal Bersama KMKI2015

Acara KMKI kali ini diadakan di YMCA Hotel dekat stasiun Suidobashi. Kecil tempatnya, yang konon hanya bisa menampung max 300 orang. Tapi tempat ini biasa dipakai sebagai tempat beribadah bagi gereja GIII Tokyo (Gereja Interdenominasi Injili Indonesia).  Aku sendiri bantu-bantu penerima tamu dan dokumentasi. Serta membantu membagikan bingkisan natal untuk anak-anak. Setelah acara ibadah selesai, umat pindah ke lantai 9 hotel itu untuk makan bento yang sudah disediakan panitia. Lalu ada lagi acara perayaan yang dimulai pukul 6 sampai pukul 8. Kalau tahun 2011 acara itu dimeriahkan oleh Katon Bagaskara, maka tahun ini oleh Nugie, yang adik kandung Katon. Bukan kolusi sih, tapi memang kebetulan saja mereka bersaudara kan? hehehe

Nugie tentu saja membawakan lagu andalannya Pelukis Malam dan Burung Gereja. Tapi selain itu dia juga membawakan lagu anak-anak tahun 80-an. Wah ketahuan deh siapa saja yang seangkatan dengan Nugie (termasuk aku sih hehehe). Senang sekali bisa ikut bernyanyi lagu-lagu anak-anak jaman dulu. Entertainer yang hebat! Aku merasa senang hari itu, tentu saja selain dihibur Nugie, aku juga bisa bertemu para pendeta dan teman-teman anggota lama yang sudah cukup lama tidak bertemu. Dulu aku (waktu masih single) memang pernah menjadi sekretaris dari kepengurusan KMKI. Jadi aku juga tahu sulitnya membentuk panitia pelaksana acara-acara seperti Natal bersama ini. Tapi secara keseluruhan acara ini lancar dan bagus.

sempat berfoto bersama Nugie

Ada satu cerita yang ingin aku tuliskan sebagai kenangan dan peringatan untukku juga. Begini, ada seorang umat yang… hmmm… merasa dirinya patut dihormati. Jadi dia menganggap, kalau dia datang acara seperti ini, dia ingin disambut, lalu diantar ke tempat duduk. Dia mencari penerima tamu untuk mengantar dia dan mencarikan tempat duduk yang kosong. Padahal, dia bukan undangan tapi umat. Penerima tamu hanya bertugas mengantar tamu undangan yang bukan umat. Selayaknya sebagai umat atau bagian dari suatu komunitas, menurut saya, dia sudah merupakan bagian yang bukan TAMU, jadi wajar mencari tempatnya sendiri. Seharusnya sebagai anggota sebuah komunitas, mempunyai HATI yang selalu menunjang keutuhan dan kelangsungan komunitas itu. Ucapan khas Indonesia, “Anggap rumahku sebagai rumah sendiri, jangan malu-malu” itu sebetulnya bukan basa-basi. Kalau kita anggota rumah itu, kita bebas makan, minum, menikmati yang ada, tapi juga paling sedikit mempunyai kesadaran untuk membantu. Tidak perlu sampai cuci piring, tapi cukuplah dengan mengembalikan piring yang sudah dipakai ke tempatnya. Bagus kalau bisa bawa ke dapur, tapi dengan menaruh ke meja saja sudah baik. Ingat saja kalau kita tamu, mungkin kita mendapat pelayanan yang bagus, tapi hanya saat itu saja. Tidak selamanya, seperti kalau kita anggota. Bagaimana kita mau menerima berkat Tuhan yang berlimpah, jika kita datang hanya sebagai TAMU, yang sekali-sekali saja diundang? Ah, tapi mungkin memang aku saja yang sensitif terhadap orang yang selalu mau dilayani.

Kedua, selain acara Natal KMKI, aku pun merasa senang karena aku bisa membantu menjadi petugas gereja dalam misa Natal untuk anak-anak yang diadakan tanggal 24 pukul 6 sore. Tahun-tahun sebelumnya aku sebagai umat biasa, duduk paling depan karena selalu datang pagian. Tapi tahun ini aku berdiri paling belakang, mengatur umat yang datang, mengambilkan kursi atau mengatur lalu lintas penyambutan komuni. Hampir misa selesai, aku senang melihat Gen datang. Sebetulnya dia ingin ikut misa, tapi karena harus bekerja, baru sampai di gereja pukul 7 malam, misa hampir selesai. Jadi setelah misa selesai, kami berempat kemudian mencari makan malam di sekitar stasiun Kichijouji. Tidak pulang ke rumah, karena aku harus tugas lagi pukul 10 malam, yaitu menyanyi lagu-lagu latin. Karena itu pula Natal tahun ini aku tidak masak apa-apa hehehe.

Aku senang bisa ikut paduan suara ini, sambil mengingat almarhum mama yang dulu juga menjadi anggota paduan suara (bersama papa tentunya), dan suka menyanyi lagu misa bahasa latin. Sayangnya suaranya tidak bisa maksimal karena sempat batuk-batuk karena udara kering. Misa pukul 10 malam umatnya tidak terlalu banyak seperti waktu misa pukul 6 dan 8 malam. Paroki Kichijouji ini sebetulnya dianggap sebagai paroki ke dua terbesar sesudah paroki Yotsuya, dengan umat 1000 orang yang terdaftar. Paroki Yotsuya memang banyak dihadiri tamu asing dengan misa berbagai bahasa sehingga pasti umatnya lebih banyak. Dan aku sendiri terdaftar sebagai umat di paroki ini sejak 4 tahun lalu. Kami, umat katolik warga Indonesia di Tokyo memang bisa pergi ke gereja katolik di mana saja. Bahkan ada misa berbahasa Indonesia di Yotsuya, Meguro dan ShinKoyasu (Yokohama). Tapi jika kita akan tinggal lama di Jepang, ada baiknya mendaftar pada satu paroki terdekat rumah. Tentu saja dengan terdaftar kita wajib memenuhi ketentuan sebagai anggota paroki seperti membayar IJIHI 維持費 (iuran bulanan untuk pemeliharaan gereja) sukarela besarnya. Aku menganggap pendaftaran sebagai umat ini penting, jika kita perlu kehadiran pastor waktu sakit/ meninggal. 

Yang terakhir, ketiga, masih serangkai dengan Natal yaitu wedding anniversary-ku yang ke 16. Dwiwindu kalau hitungannya orang Jawa. Dan kali ini, kami sepakat untuk merayakannya bersama bapak ibu mertua, di restoran Hotel New Otani, tempat kami dulu membuat resepsi pernikahan. Sudah jauh hari aku pesan tempat, karena memang hotel ini lumayan populer. Karena memikirkan jauhnya bapak dan ibu mertua datang dari yokohama, kami mengajak untuk makan siang bersama saja. Kalau dinner, takut pulangnya kemalaman.

merayakan hari spesial bersama keluarga

Restoran The Sky yang aku pesan berada di lantai 17, dan restoran itu revolving. Ya, lantainya bergerak, berputar 360 derajat. Serasa naik piring terbang deh hehehe. Bapak Ibu mertua sudah pernah ke restoran itu, tapi kami berempat belum pernah. Eh, papa dan mamaku sudah pernah sih. Aku ingat cerita mama yang bercerita bahwa mama kaget waktu mengetahui harga jus jeruk yang mama pesan waktu ke sana harganya segelas 10 $ saja (sekarang sudah lebih mahal sih hehehe). Jadi kali ini merupakan pengalaman kami makan sambil menikmati pemandangan Tokyo di hotel yang didirikan tahun 1964, waktu Tokyo Olimpic diadakan … sudah tua sudah 51 tahun. Satu yang kami sadari, satu putaran 360 derajat lantai atas itu butuh waktu 70 menit 😀 Dan putarannya lumayan cepat daripada prediksi kami sebelumnya. Karena sesekali berasa gerakan engselnya.

Sebagai tambahan, hotel ini mempunyai taman Jepang yang indah. Aku dan Kai menyempatkan diri untuk mengambil foto taman, sementara yang lain beristirahat di lobby hotel. Senang sekali melihat bungsuku antusias memotret, sampai sampai dia selalu bilang , “Tunggu dong” kalau aku minta dia memotret mamanya 😀

Dengan ini aku mengucapkan terima kasih atas ucapan Natal yang disampaikan teman-teman melalui socmed, dan aku ingin mengucapkan Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan dan mungkin terlewatkan kusebut. Juga Happy Holiday untuk teman-teman lainnya.  Mulai besok aku akan kerja bakti membersihkan rumah oosouji dan menuliskan 8 Besar dari Nerima. Semoga bisa terlaksana ya 😀

Kanji of The Year : 2015

Biasanya setiap tanggal 12 Desember, aku menulis tentang Kanji of The Year, karena tanggal 12 Desember adalah Hari Kanji. Tapi entah kenapa tahun ini diumumkannya pada tanggal 15 Desember, dan gaungnya tidak begitu terdengar. Apakah karena sudah bosan? atau kanji yang terpilih tidak populer. Meskipun terlambat 10 hari dari Hari Kanji, aku ingin menulis tentang Kanji yang terpilih untuk tahun 2015, sekaligus melengkapi tulisanku untuk kanji tahun 2014, 2013, 2012, dan 2011.

Kanji tahun 2015 adalah 安 yang bisa dibaca sebagai AN, atau A untuk nama orang, lalu YASUI yang berarti murah. Yang jarang dipakai yang dibaca sebagai Yasunjiru (merasa aman, puas) atau izukunzo sebagai pengganti kata tanya doushite (mengapa). Nama perdana menteri yang sekarang bernama ABE 安倍 memakai kanji ini, dan tahun ini ada usulan 安保法案 UU mengenai keamanan nasional, yaitu mengaktifkan pasukan bela diri Jepang dalam keamanan negara/dunia. Juga ada kanji FUAN 不安 (secara harafiah fu = tidak) jadi tidak aman atau khawatir. Dengan adanya ancaman teror, diawali dengan berita awal tahun 2015 dengan pemenggalan warga Jepang oleh ISIS, peristiwa teror di beberapa negara juga termasuk dalam pemicu kekhawatiran. Sepertinya contoh yang berarti murah yang kurang ya? heheheh Harga-harga memang tidak menjadi murah, yang murah mungkin gajinya malahan 😀

Kanji tahun 2015: 安

Kanji 安 ini dipilih oleh 5632 orang dari129.647 orang pemilih, yaitu sekitar 4,34%. Pilihan yang menempati posisi kedua adalah kanji 爆 (berarti BOM)  dan 戦 (berarti perang). Hmmm sepertinya memang pilihan Kanji tahun ini tidak ada yang menyenangkan ya?

Untuk keluarga kami, yang terpikir olehku saat ini adalah kanji 部 dibaca sebagai BU, karena untuk pertama kalinya Riku mempunyai 部屋 (HEYA) atau kamar sendiri, dia juga masuk kegiatan extra kurikuler 部活 Badminton. Saya sendiri masuk seksi PTA 広報部 Bagian Publikasi.

Semoga saja tahun depan bisa terpilih kanji yang lebih menyenangkan artinya ya….

Festival Boro Ichi

Wah, posting pertama pada bulan desember padahal sudah tanggal 15? Unbelievable! Memang sibuk sih dengan macam-macam hehehe.

Pada hari Rabu dan Kamis minggu lalu di dekat rumahku, ada sebuah festival/pasar malam yang bernama Boro Ichi. Aku sempat bercanda: “Wah yang dijual udah boro-boro (bahasa Jepang yang artinya hancur/ compang camping) dong ya?” Dan ehhh ternyata memang jaman dulu dimulainya dengan menjual baju bekas.

Boro Ichi ini rupanya pertamanya dilakukan tahun 1751 untuk memperingati hari wafatnya Nichiren, seorang pendiri aliran agama Buddha. Karena daerah ini dulunya pertanian yang dijual adalah alat-alat pertanian, tapi seiring dengan perkembangan jaman, mereka mulai menjual baju bekas bahkan barang-barang lainnya.

Festival ini memang dilaksanakan setiap tanggal yang sama yaitu 9-10 Desember dari pagi sampai malam, terserah mau jatuh pada hari apa. Jadi kalau jatuh pada akhir pekan bisa dibayangkan betapa banyaknya orang yang datang. Konon rata-rata 80.000 pengunjung memenuhi daerah ini setiap tahunnya.

Riku memang sudah minta ijin padaku untuk pergi sendiri ke festival itu, karena dia ingin bertemu dengan bekas teman-teman SDnya. Karena dia sudah besar, aku beri dia uang jajan untuk membeli makanan di sana, meskipun aku tidak ada di rumah pada hari Rabu. Kai sebenarnya juga mau ikut pergi, tapi Riku tidak mau mengajak Kai. Aku juga takut menyerahkan Kai dengan Riku saja, karena pasti tanggung jawabnya besar. Jadi aku menjanjikan untuk pergi bersamanya pada hari Kamis, sepulang dari aku mengajar.

Jam 4:30 sore, aku masih  dalam bus pulang, Kai sudah menelepon, “Mama… kok belum pulang sih?” Cepat-cepat deh aku naik kereta express meskipun berarti aku harus berdiri dan ganti kereta lokal lagi. Sepeda juga kukayuh dengan cepat. Begitu sampai di rumah, Kai sudah menunggu lengkap dengan jaketnya. Duuuh senang sekali melihat mukanya yang ceria. Kencan deh berdua Kai…

suasana di festival/pasar malam Boro Ichi

Kami pergi ke Festival itu naik bus karena tahu pasti tidak bisa memarkirkan sepeda di sana. Tak kusangka festival Boro Ichi ini seramai itu. Seperti layaknya matsuri (festival) di Jepang, di samping kanan kiri ada tenda yang menjual makanan, minuman atau mainan. Juga ada yang menyediakan permainan untuk anak-anak seperti menciduk ikan mas dengan saringan kertas, menembak hadiah, meraup kelereng, atau undian dengan hadiah mainan. Tentu saja Kai ingin bermain dan ya itulah kesenangan yang bisa didapat dari festival di Jepang bagi anak-anak. Kenyang bermain dan makan, kami pulang lagi naik bus setelah berbelanja sayur dulu.

makannya yakisoba dan okonomiyaki

Senang sekali bisa menggembirakan anak bungsuku ini. Karena akhir-akhir ini dia bawaannya sedih terus karena dikucilkan teman baiknya. Ada dua teman baiknya yang tinggal dekat kami. Dulu mereka selalu baik, meskipun ada sih perkelahian kecil-kecil. Tapi akhir-akhir ini mereka berdua dengan sengaja menjauhi Kai dan memancing kemarahan Kai. Aku sudah menceritakan pada gurunya tentang hal ini, dan kami ingin melihat lebih jauh bagaimana perkembangannya pada Kai. Aku sendiri sudah mengatakan pada Kai bahwa dia harus menceritakan kejadian apa yang dialami. Memang sulit sih anak-anak laki yang sedang bertumbuh menjadi “anak gede”. Tadi siang aku sempat menangis bersama Kai sewaktu dia menceritakan sakit hatinya kepadaku. Aku pun memang melihat sendiri tadi pagi waktu Kai akan berangkat sekolah, ke dua temannya melihat Kai dan cepat-cepat menjauh dan meninggalkan dia. Semoga kondisi ini  tidak berlangsung lama deh.

Belajar (+Wisata) Lagi di Kyoto

Sepuluh hari yang lalu, tepatnya tgl 14-15 November aku pergi ke Kyoto. Sendiri, dalam arti tanpa anak-anak. Karena aku pergi ke sana bukan untuk berwisata, tapi untuk belajar. Lagi. Jadi mulai awal tahun lalu aku menjadi anggota sebuah Himpunan yang diberi nama Himpunan Peneliti Indonesia Seluruh Jepang atau dalam bahasa Jepangnya Nihon Indonesia Gakkai 日本インドネシア学会( untuk selanjutnya aku sebut Gakkai saja).

Sudah lama aku ingin masuk gakkai ini, tapi kesibukanku mengurus dua anak yang masih kecil membuatku mengurungkan niat. Kebetulan aku mendapatkan rekomendasi dari Funada Sensei untuk menjadi anggota (rupanya untuk menjadi anggota harus ada rekomendasi dari anggota lainnya). Dan gakkai ini mempunyai program sekali setahun yaitu berkumpul dan mengadakan kongres. Selain kongres, anggota yang bersedia bisa mempresentasikan (menyajikan) hasil penelitiannya di depan anggota lainnya. Kesempatan mempresentasikan makalah bisa menjadi nilai plus bagi peneliti untuk mendapatkan pengakuan akademis juga. Selain itu dengan adanya kongres, kita bisa bertatap muka dengan profesor-profesor peneliti tentang bahasa dan budaya (termasuk sejarah) Indonesia. Bisa bertemu dengan Prof Sasaki yang mengarang kamus bahasa Indonesia, yang baru pertama kali kutemui. Karena biasanya aku bertemu dengan istrinya yang juga dosen bahasa Indonesia. Prof Sato juga pengarang kamus. Ah, pokoknya orang-orang hebat semua! Kebanyakan anggotanya (seluruhnya sekitar 90 orang) memang orang Jepang, tapi ada juga mahasiswa pasca sarjana atau dosen orang Indonesia. Jadi semua yang hadir pasti bisa bahasa Indonesia dan bahasa Jepang!

Kalau mengikuti penyajian makalah-makalah  itu, aku jadi diingatkan asyiknya meneliti. Bermacam tema dihadirkan, mulai dari ahli bahasa Makassar Prof. Yamaguchi dari Universitas Setsunan. Ada makalah juga ahli bahasa Bali, bahasa prokem, atau sejarah Indonesia jaman penjajahan Jepang. Yang terakhir ini benar-benar mengingatkanku pada tahun-tahun aku sakit perut meneliti dokumen perang dengan bahasanya yang njlimet 😀 Memang seharusnya tema ini dikerjakan oleh orang Jepang sih hehehe. Kalau ditanya sekarang aku mau meneliti apa, lebih baik tidak melanjutkan thesisku deh…. lebih baik meneliti sosio-linguistik bahasa Indonesia atau sejarah kebudayaan. Tapi belum terpikir untuk mengambil S3 sih.

Perjalanan dimulai dari jumat sore, langsung setelah mengajar di univ S, ke stasiun Tokyo. Masih keburu untuk membeli bento makan malam di dalam shinkansen dan keluar stasiun untuk melihat night view… wisata malam sekitar stasiun Tokyo… udik deh, soalnya aku jarang keluar malam kan :D

Well, kongres di Kyoto itu berlangsung siang hari tanggal 14 sampai sore, dilanjutkan dengan makan malam bersama. Kemudian keesokan harinya dimulai pukul 9 pagi sampai pukul 12. Aku bersama Funada sensei pergi ke Kyoto bersama Jumat sorenya, sehari sebelum pelaksanaan kongres. Tadinya aku sudah senang sekali berkesempatan memotret di Kyoto, tapi karena prakiraan cuaca menyebutkan hujan selama 3 hari, aku meninggalkan kamera DSLRku. Juga tidak membawa kamera pocket karena akan dipakai Gen waktu menonton pagelaran musik di SD. Sehingga kucukupkan memotret dengan iPhone saja.

Kiyomizudera di pagi hari dalam rintik hujan. Magis!

Pagi hari pukul 7, tanpa sarapan, kami sudah keluar menuju ke Kiyomizudera dalam hujan rintik. Karena aku membaca bahwa kuil-kuil di Kyoto buka mulai pukul 6. Pagi hari bukan halangan bagiku untuk bergerak, jadilah kami berdua pergi ke Kiyomizu. Rasanya aneh sekali berjalan menaiki Kiyomizudera dalam sepi, hanya satu dua wisatawan yang ada. Tapi memang jadinya pemandangan yang terhampar masih berkabut tipis dan sesekali kami harus memakai payung. Tapi keindahan kuil yang menyatu dengan alam dihiasi daun-daun yang mulai berwarna pertanda musim gugur dapat mengibur hati dan menambah semangat untuk menghadapi satu hari yang panjang.

Memang kalau ke Kyoto HARUS ke kiyomizudera. Ini merupakan kunjunganku ke sini yang ke 4 kalinya, tapi pertama kali dalam musim gugur. Keindahan 4 musim memang berbeda!

Tadinya kami berniat untuk pergi mencari ilumination malam harinya tapi acara makan malam tidak bisa ditinggalkan. Yang rencananya makan malam dari pukul 6 sampai 8 malam, berlanjut sampai jam 10 malam! Jadi kami bertekad mampir ke Heian Shrine keesokan harinya, sebelum acara gakkai mulai jam 9 pagi. Karena kami tahu Heian Shrine letaknya hanya 10 menit berjalan kaki dari Kyoto Career College of Foreign Languages, tempat gakkai diadakan.

Makan malam kami. Bawah Heian shrine

Kami juga tahu bahwa taman di shrine itu bagus, sehingga kami menyempatkan mengelilinginya, meskipun aku harus menggeret tas setelah cek out hotel. Waktu satu jam sebelum gakkai terasa pendek, tapi cukup memuaskan karena pemandangan yang indah di taman. Belum lagi waktu kami keluar dari kuil, sudah mulai banyak pengunjung yang datang, terutama keluarga yang membawa anak-anak berkimono. Karena pas hari itu memang ada perayaan shichigosan, mendoakan anak-anak usia 3-5-7 tahun.

Taman Heian Shrine. Duh nyesal tidak bawa kamera DSLRku karena di sini mulai cerah langitnya

Setelah gakkai selesai, kami makan siang dan langsung pergi ke Tofukuji, sebuah kuil yang letaknya berlawanan dan terkenal dengan pemandangan di musim gugur. Kami harus naik kereta dan berjalan cukup jauh dari stasiun. Terasa lebih jauh karena aku masih harus menggeret kereta, tapi tentu saja tangan satunya dipakai untuk memotret 😀 Dan waktu itu saja sudah cukup banyak wisatawan yang datang padahal warna-warna daun belum banyak yang berubah. Aku jamin pasti dua minggu lagi, wisatawan harus sabar antri untuk melihat dan memotret keindahan tamannya.

Tofukuji… cerah, banyak orang dan cukup panas! Kami hanya punya waktu satu jam di sini, karena sudah memesan shinkansen pulang jam 5

Mungkin inilah yang tepat dinamakan mencampur kegiatan bisnis akademis dengan wisata. Ingin rasanya aku kembali lagi ke Kyoto pada musim gugur tahun depan …tapi lebih larut dari tahun ini atau pada saat ada salju! Dan tentu tidak lupa membawa kameraku.

(SSttt aku masih punya laporan kunjungan ke Kyoto pada musim semi lalu yang belum sempat kutulis. Kyoto dengan sakura juga indah!)

 

Merintang Waktu

Bukan merentang waktu loh… tapi mengisi waktu luang dengan melakukan sesuatu. Atau bahasa Inggrisnya kill time.  Kebanyakan orang memilih untuk duduk di coffee shop atau cuci mata di dalam mall. Tapi aku dalam dua kesempatan memilih untuk berjalan-jalan di taman. Apalagi musim gugur, rasanya sayang untuk melewati cuaca bagus di dalam ruangan.

Hari Rabu yang lalu, aku mempunyai waktu 3 jam kosong sebelum mengajar malam. Aku memang harus pergi ke KBRI di daerah Meguro, sehingga aku mencari taman yang bisa dilihat di sekitar KBRI. Ada sih sebuah taman milik balai pengantin, tapi aku tahu daerahnya berbukit, dan agak melawan arah tujuanku setelah dari KBRI. Sebetulnya aku ingin pergi ke Teien Art  Museum yang baru saja dibuka setelah renovasi lama. TAPI ternyata setiap hari Rabu minggu ke2 dan ke 4 ditutup. Informasi itu sudah kuketahui sebelum pergi ke arah KBRI. Tapi toh kupikir mampir saja, siapa tahu bisa memotret bagian depannya saja. Ternyata… tidak terlihat apa-apa hehehe.

Nah kemudian aku melihat papan petunjuk bahwa di sebelahnya ada Taman Natural Education. Karena tanda masuknya cuma 300 yen, aku pikir coba saja masuk ke dalamnya. Di sini tidak tutup meskipun letaknya persis berdampingan. Bagaimana dalamnya?

Shizen Kyouiku-en

Well… seperti masuk dalam hutan belantara. Taman ini BUKAN taman buatan, sehingga tidak dengan sengaja ditanam bunga-bungaan. Isinya pepohonan atau bunga liar, atau tanaman sekitar rawa-rawa. Untuk penyuka bunga, tempat ini tidak aku sarankan. Tapi waktu aku memperlihatkan foto-foto kepada suamiku, dia langsung ingin pergi. Dia memang lebih suka yang alami daripada yang buatan.

Di situ setiap tanaman diberi nama, sehingga sangat menolong bagi yang mempelajari biologi. Aku bertemu dengan seorang mahasiswa yang sibuk mencatat dan memotret tumbuhan. Mungkin kalau dibandingkan semestinya taman ini setara dengan Kebun Raya Bogor, tapi menurutku KR Bogor juga masih lebih terlihat dibuat-buat. Jika kita berada di sini, tak akan menyangka bahwa taman itu berada di pusat kota. Dan memang taman ini luasnya 20 hektar!

rimbunnyaaaaaa

Tempat ini awalnya merupakan salah satu rumah (shimoyashiki) dari Matsudaira Yorishige dari clan Takamatsu. Pada jaman Meiji mejadi tempat penyimpanan amunisi angkatan laut dan darat Jepang. Baru pada tahun 1962 ditetapkan menjadi taman penelitian alam.

Lumayan ada tempat duduk di dalam sehingga aku bisa beristirahat di situ sebelum berjalan kembali ke pintu gerbang dan melanjutkan perjalanan ke KBRI.

Perjalanan “kill time” yang kedua, baru kemarin, tgl 16 November. Kebetulan aku ada waktu dari jam 2 sampai jam 5 sore. Tiga jam pasti bisa kupakai untuk jalan-jalan di dalam kota Tokyo, dan Gen menyarankan untuk pergi ke Taman Rikugien. Memang aku sudah lama mendengar tentang taman ini, tapi belum pernah kudatangi. Dan kebetulan temanku dari Radio InterFM dulu juga mau pergi bersama. Jadilah kami berdua berjalan dari stasiun Komagome ke taman Rikugien.

Taman Rikugien

Taman ini awalnya merupakan taman yang dibuat atas perintah Shogun Tokugawa Tsunayoshi. Meniru taman-taman dari Cina, dan diberi nama RIKUGIEN karena mempunyai 6 unsur yang diperlukan dalam membuat puisi. Pada jaman Meiji taman ini kepunyaan pendiri Mitsubishi yaitu keluarga Iwasaki. Tapi pada tahun 1938 keluarga memberikannya kepada pemerintah daerah Tokyo, dan sepuluh  tahun sesudahnya ditetapkan menjadi taman milik negara.

Taman ini memang taman buatan yang indah. Menempati areal seluas 87,809.41m2 taman ini juga mempunyai tempat berkumpul dan chaya (tempat minum teh). Tidak memerlukan waktu yang banyak untuk mengelilingi satu taman ini, sehingga aku dan temanku menyempatkan diri minum mattcha dan kue khas Jepang (seharga 500 yen) di balai-balai berwarna merah di samping kolam. Suasananya cocok sekali untuk merenung (dan melamun hehehe).

bebek dan teh mattcha

Karena waktu kami datang belum banyak daun yang memerah, kami berjanji untuk datang lagi di awal bulan Desember. Atau mencari lagi taman lain yang berada di dalam kota Tokyo, dan konon ada 20 taman yang cukup besar loh!

Beginilah caraku merintang waktu sekitar 3-4 jam kosong antara 2 pekerjaan. Kalau kamu punya waktu 3-4 jam kosong, bagaimana caramu menggunakannya?

Orang tua bodoh = Bangga

Lah, kok orang tua bodoh malah bangga?

Bukan, ini adalah istilah bahasa Jepang: Oyabaka 親ばか, yang secara harafiah diterjemahkan menjadi orang tua bodoh. Oya = orang tua, baka = bodoh. Mengacu pada orang tua yang suka memamerkan dan memuji anaknya sendiri, sehingga terlihat bodoh di hadapan orang lain. Bangga pada anak yang kelewatan gitu. Padahal dalam memuji anaknya sering juga orang Jepang mengatakan : baka musume バカ娘 atau baka musuko バカ息子, seakan merendahkan mengatakan anak (laki/perempuan)ku yang bodoh.

Mungkin dalam bahasa Indonesia tidak ada padanan satu kata yang pas. Doting parents bahada Inggrisnya. Paling-paling orang Indonesia hanya mengatakan antara orang tua yang memanjakan anak atau orang tua yang bangga pada anaknya. Thats all.

Bagiku, tidak ada salahnya orang tua membanggakan anaknya kok. Tidak juga terlihat bodoh, apalagi yang dibanggakan pasti prestasi anaknya kan? Kalau sampai ada yang yang banggakan kebodohan anaknya, nah baru deh itu aneh hehehe.

Jaman sekarang kebanggaan orang tua dapat langsung terlihat di sosmed. Ada yang bangga anaknya pintar menggambar, atau juara ini itu. Baru-baru ini aku sendiri merasa temanku hebat karena dia membesarkan 3 anak lelaki dan semuanya dapat beasiswa ke luar negeri. Wah dia pasti bangga sekali pada anaknya tuh!

Aku sendiri tidak atau belum ada sesuatu yang setara dengan kebanggaan orang tua  seperti yang dipamerkan teman-teman di sosmed seperti itu. Tapi aku merasa beberapa hari terakhir ini aku merasa bangga akan anak-anakku dan mahasiswaku! Mulai dari yang terkecil, Kai dulu deh. Beberapa hari terakhir, dia sering sulit tidur. Ntah itu karena siangnya dia tidur (dan kebablasan) atau terlalu excited. Dan aku menyuruhnya membaca. Kemudian pada suatu malam aku mendengar dia membaca dari buku pelajaran bahasa Indonesia yang dikarang ibu Funada. Besar, kecil….. Hmm lalu kupikir ah, aku mau iseng tanya seberapa banyak kata bahasa Indonesia yang dia tahu (kami sehari-hari memakai bahasa Jepang di sekolah/rumah).

“Kai, 大きい (ookii) itu apa?”
“GEDE!”

kaget aku hahaha, iya ya dia lebih sering  dengar kata gede daripada besar.

“Hmm boleh gede, tapi ada yang lain…”
“Gendut?”

hahaha tambah geli… emang sih dia pikir maksudnya besar badannya. Lalu aku kasih tahu dia bahwa Ookii itu besar. Dan lawan katanya “Kecil”…

“Oh kecil aku tahu. Kucing kecil kencing kan?”

“hahah iya Kai hebat!”

ketawa lagi deh… memang opanya pernah bercanda dengan maksud membingungkan dia dengan kata yang cepat diucapkan dan mirip-mirip. Kucing kunci dan kencing kan mirip. Jadi dia selalu ingat deh kata Kucing, kecil dan kencing 😀

Dua buku bahasa Indonesia yang mudah untuk Kai pelajari karena ada hiragana/katakananya. Dua ambil sendiri dari rak buku kami

Dan yang membuatku bangga, tanpa aku suruh beberapa hari berturut-turut selalu baca buku pelajaran itu, bahkan dalam mobil waktu pergi ke rumah mertuaku di Yokohama sesudah misa minggu. Well, semua orang suka dipuji dan biasanya kalau dipuji akan meneruskan kan?

Kalau kebanggaan pada Riku baru saja terjadi kemarin malam, yaitu Riku kemarin bisa pergi ke dokter sendiri! Sudah sejak Jumat lalu otot kedua pahanya sakit. Sabtu pagi aku ajak ke dokter, tapi dia menolak, mungkin karena masih sakit berjalan dan tidak bisa mengayuh sepeda padahal klinik orthopedi yang kami tuju lumayan jauh dari rumah. Aku sudah katakan kita naik taxi saja (mobil sedang dipakai papa Gen) tapi dia menolak padahal klinik itu hanya buka sampai jam 12 di hari Sabtu dan Minggu libur. Akhirnya papanya hari Minggu malam menyuruhnya pergi sendiri ke klinik sore sesudah pulang sekolah hari Seninnya. Kami tidak bisa antar karena sudah terlanjur membeli karcis menonton film Hijrah: HOS Tjoroaminoto sebagai bagian Tokyo International Film Festival dan baru bisa pulang pukul 6:30 an, pas klinik itu tutup. Jadi kemarin hatiku, hati seorang ibu tidak tenang karena pertama kali membiarkan anakku pergi sendiri ke dokter. Tapi ternyata bisa dan sukses kok. Karena ada asuransi, anak-anak tidak perlu membayar pemeriksaan. Hanya waktu beli obatnya saja, dia membayar 600 yen.

Tapi sebetulnya selain bahwa Riku bisa pergi sendiri ke dokter, aku merasa bangga padanya, waktu dia mengikuti Hari Budaya dengan lomba paduan suara di sekolahnya tgl 12 Oktober yang lalu. Karena aku seksi publikasi, aku bisa membuat foto dalam hall tempat mereka berlomba (ibu-ibu lain tidak boleh memotret). Dan pada awal acara, aku yang duduk di lantai atas, mencari-cari tempat duduk anakku di bawah dengan kamera berlensa tele. Tepat saat itu aku melihat dia sedang membuat tanda salib sambil dilihat teman sebelahnya. Lalu teman sebelahnya menirunya sambil bertanya, “Begini ya?” sambil meniru gerakannya. Aku terkejut dan aku memang selalu mengatakan, jika gelisah, khawatir, takut bawa semua dalam doa, paling sedikit membuat tanda salib, sesuai agama kami, katolik. Jadi aku tahu bahwa dia sebetulnya takut, atau demam panggung. Dan dia bawa itu ke dalam bentuk tanda salib, tanpa sembunyi-sembunyi. Ini membuatku bangga pada anak sulungku. Selain itu dia juga tidak segan untuk memperkenalkan Indonesia waktu harus berpidato dalam pelajaran bahasa Jepang. Alhasil kelasnya ramai menanyakan tentang Indonesia dan dia mendapat nilai tambah dari gurunya.

ssst foto yang kucuri ambil dari jauh :D, sayang aku terlambat menekan shutternya, sehingga hanya menangkap gerakan temannya

Selain perkembangan anak-anakku sendiri, aku juga merasa bangga dan senang mendengar perkembangan dari mahasiswaku. Karena aku hanya mengajar seminggu sekali, jarang bertemu atau tidak mempunyai waktu untuk lebih lama bercengkerama dengan mahasiswa-mahasiswaku. Tapi dua minggu yang lalu, tiba-tiba seorang mahasiswa datang padaku dan melaporkan bahwa untuk beberapa kali ke depan dia akan absen, karena harus mengikuti kursus yang diadakan kantornya. Dia melaporkan bahwa dia diterima di NHK! Wah aku ikut bangga.

Dalam bulan oktober ini juga aku mendapat message khusus dari mantan mahasiswaku. Dia mengabarkan bahwa anak pertamanya baru lahir. Wah aku langsung mengucapkan selamat menjadi bapak, dan bertanya kapan lahirnya. “Dua jam yang lalu”…. senangnya dia teringat untuk memberitahukan aku, yang hanya sekedar mantan dosennya selama dua tahun waktu dia ambil pelajaran bahasa Indonesia, waktu dia mahasiswa hampir 10 tahun lalu! Bangga!

Berita dari siapapun, anak/ keluarga sendiri atau mahasiswa sendiri dapat membuat kita bangga ya. Besar kecilnya peristiwa yang membanggakan tidak menjadi ukuran untuk merasa bangga dan senang kan?

Semoga teman-teman semua terus merasa bangga pada diri sendiri, atau pada orang lain di sekitar. Dan yang pasti aku masih merasa bangga masih bisa menulis di blogku, meskipun tersendat-sendat karena kesibukanku akhir-akhir ini. Dan masih bisa mengatakan, “Aku blogger!”…. dan melanjutkan terus mimpiku untuk bisa terus menulis ….sampai mati :)

Selamat hari Blogger Nasional 27 Oktober untuk teman-teman bloggerku