Kelas Tiga

Haduh tuh kan April sudah hampir habis baru bisa (maksa) nulis lagi. Sampai sudah lupa apa yang mau ditulis di sini. Parah ya? Dulu semua kutulis judulnya saja dulu, lalu masuk draft. Sekarang boro-boro, buka dashboard saja jarang sekali hehehe.

OK, kali ini aku mau tulis pendek saja dulu, yang penting update! Judulnya kelas 3, yaitu si Kai.

Kebetulan kemarin aku pergi ke rumah keluarga Indonesia, dan salah satu anaknya kelas tiga, sama seperti Kai. Badannya kekar, kalau tidak dibilang gede :D. Dan suka makan! Ibunya sampai harus mengerem karena anaknya mau makan terus. Apalagi anaknya ini sudah bisa masak sendiri, sehingga kalau lapar langsung udek-udek dapur, masak dan langsung dimakan.

Dengar cerita ibunya, aku jadi geli sendiri, karena Kai pun sama. Persis kemarinnya itu Kai menelepon aku dan meninggalkan pesan: “Ma aku mau masak telur ceplok, boleh ngga?”

Aku memang masih melarang dia pakai api sendiri, takut kalau terjadi apa-apa. Kalau bisa, pakai microwave saja. Tapi beberapa hari sebelumnya, aku melatih dia memasak telur dengan aku awasi. Aku selalu katakan kalau takut semisal telurnya meletup-letup, pakai tutup panci, dan matikan api. Kalaupun sampai kejatuhan masakan (air) panas pun, matikan api langsung nyemplung ke bak mandi. Jangan buka baju (ini aku lihat di TV Jepang, karena kalau buka baju/celana maka kulit yang melepuh bisa terkelupas).

Jadi aku telepon kembali dia dan mengatakan, “Boleh masak. Hati-hati dan ingat pesan mama”
“Iya ma… harus begini begini begini kan?”

Aku berhasil mengalahkan ketakutan sebagai seorang ibu, memperbolehkan si anak 8 tahun masak sendiri, tanpa ada orang lain di rumah. Dan senang juga karena Kai sudah merasa bisa dan percaya diri bahwa dia pasti bisa. Menurutku, ini penting buat kami berdua.

Dan waktu aku pulang, aku lihat bekas panci yang dia pakai, dan tahu bahwa dia memasak nasi goreng ala dia sendiri 😀 Caranya, dia campur nasi dengan telur mentah, baru dimasak, pakai lada garam saja. Aku tanya, “Enak Kai? Lain kali masak buat mama ya?” hehehe

Mungkin saat ini memang cuma Kai yang rajin membantuku melakukan pekerjaan rumah. Dia setiap malam membersihkan kamar mandi dan mengisi bak mandi dengan air panas. Terharu sekali waktu suatu malam aku pulang dengan badan capek, disambut Kai: “Mama, aku sudah isi bak mandi untuk mama…” Wah itu yang kuharapkan! Jadi aku langsung mandi berendam dulu sebelum menyiapkan makan malam.

Di sekolahnya, Kai mendapat guru wali kelas yang baru. Seorang ibu yang sudah lewat dari 50 tahun, dan terlihat tegas (baca: galak) 😀 Setiap hari bu wali kelas menyuruh setiap anak melakukan furikae atau evaluasi apa yang terjadi hari itu. Dan di akhir minggu, kertas itu diperlihatkan kepada orang tua untuk kami beri komentar. Di situ terlihat pentingnya anak-anak mengungkapkan pikirannya dalam kalimat yang baik dan berurut.

Belum lagi setiap hari dia harus berlatih kanji 2 buah, dan harus mencari sendiri penggunaan kanji serta artinya. SUSAH! Sampai aku pun harus selalu mendampingi dia untuk mengerjakan PR Bahasa Jepangnya itu. “Wah si guru ngerjain gue juga nih…” .pikirku hehehe. Perasaan dulu waktu Riku kelas 3 SD, tidak pernah melihat PR sesusah ini deh.

Semoga Kai dapat menjalankan kehidupannya sebagai murid kelas 3 dengan sebaik-baiknya.

(Aku sampai mengenang kembali, aku masak nasi/lauk pertama kali kelas berapa ya? Kalau kue aku memang sudah suka buat sejak kelas 5-6 SD sih. Kamu kelas berapa?)

S.M.

Singkatan S.M. yang kupakai sebagai judul adalah kepanjangan dari Simbiosis Mutualisme, atau gampangnya Saling Menemani. Tapi kalau Kai bilang, Oyakoukou 親孝行 istilahnya.

Tanggal 30 Maret, aku mesti pergi ke KBRI untuk mengambil sebuah dokumen. Tapi karena Kai  (dan Riku) sedang libur musim semi, aku ingin mengajak dia jalan-jalan. Tahun ini, kami tidak bisa pergi jauh-jauh seperti dua tahun lalu yang pergi ke Kyushu dan tahun lalu ke Kyoto. Selain lagi bokek, juga waktunya tidak pas. Riku seperti biasa, meskipun libur sekolah, tetap harus datang untuk latihan bukatsu ekskul badmintonnya. Dan meskipun ada libur ekskulnya, jadwalnya persis sesudah masuk bulan April, yang aku juga  sudah mulai sibuk kerja. Tahun ini agaknya sulit untuk bepergian jauh berempat deh.

Kai itu suka menonton! Persis papanya, persis oma alm. Dia sejak kecil suka menonton film yang sulit-sulit juga, termasuk film-film kaliber national georaphic tentang alam semesta 😀 Lain dengan Riku yang mirip mamanya, hanya mau menonton film yang disuka, dan jumlahnya terbatas. Nah, Kai punya 3 film yang masuk wishlistnya, yaitu sebuah film Doraemon Birth of Japan, Kamen Rider dan Chihaya Furu. Chihaya Furu masuk listnya Riku dan papanya, sehingga biar saja kalau mereka mau menonton bertiga. Tapi kalau aku menemani Kai pergi menonton, aku tentu lebih pilih doraemon dong.

Senangnya Kai bisa menonton film yang ditunggu-tunggu

Jadilah kami berdua naik bus dan membeli karcis Doraemon di Kichijouji Odeon. Dan lucky hari itu hari rabu jadi Women’s Day! Aku cukup membayar 1100 yen (biasanya 1800)… senangnya!

Seperti biasanya film doraemon, gedung  bioskopnya dipenuhi anak SD (dan orang tuanya). Karena film ini sudah cukup lama, jadi tidak penuh. Aku dan Kai memilih kursi paling belakang. Dan…. harus kuakui dibanding Doraemon yang Stang By Me, film kali ini tidak menarik untukku. Buktinya aku tidur separuh film hahaha.

Seusai film, kami makan siang lalu pergi ke kedutaan. Dengan asumsi bisa keluar KBRI jam 5, aku ingin mampir ke restoran Cabe yang sudah pindah ke dekat KBRI, dan buka hari itu jam 5:30 sore. Sebetulnya aku diundang dari tanggal 23-26 untuk datang ke pembukaan resto di tempat baru, tapi persis tanggal itu aku sibuk dan jadwal penuh. Resto Cabe memang pindah dari tempatnya yang dulu, dan sekarang menempati bekas restoran Indonesia yang sudah 30 tahun berdiri di situ, namanya Sederhana. Jadi sebetulnya mudah dicari tempatnya, dan strategis, tidak begitu jauh dari stasiun. Cuma memang gedungnya sudah tua. Kamipun makan early dinner di situ, baru pulang.

Resto Cabe yang menempati bekas tempat Resto Sederhana di Meguro

Sebetulnya aku ingin melihat sakura di malam hari. Tapi mengingat Kai yang sudah capek (dan agak tidak enak badan), kami langsung pulang. Sebelum naik bus, di Kichijouji kami mampir untuk berbelanja. Kai ingin membeli pensil mekanik dengan uangnya sendiri. Akhir-akhir ini dia sering mendapat uang saku dari neneknya di Yokohama, jadi dia ingin membayar sendiri. Gaya deh!

Tapi yang mengharukan, setelah dia membeli pensil, dia menghitung uang yang dia bawa (dia hanya membawa 1500 yen hari itu, jatah yang dia bisa pakai sendiri). Lalu dia mengajak aku ke toko aksesori, katanya,

“Mama aku waktu itu belum beli kado ulang tahun mama. Sekarang aku mau beli sesuatu untuk mama. Hmmm sekitar 1300 yen deh. Mama suka aksesori warna apa?”

Aku terharu melihat tindakan dia, meskipun ingin tersenyum senang juga. Lalu aku katakan,
“Mama biasanya sih suka merah atau hitam. Tapi biru juga suka”

Dia mencari ikat rambut berwarna merah, tapi aku katakan jangan ikat rambut karena kepala mama sering sakit kalau pakai ikat rambut. Jadi dia cari anting-anting deh. Lucuuuu sekali melihat anak lanangku ini memilih anting-anting. Tadinya dia memilih yang kecil-kecil untuk beberapa lubang di sau telinga. Lalu aku bisikin bahwa mama suka anting-anting yang menjuntai. Jadi dia memilih yang berwarna biru (horree memang sudah aku lirik).

Petugas tokonya sepertinya tahu bahwa anak ini beli untuk mamanya, jadi waktu Kai bayar, dia tanya,

“Mau dibungkus kado ya?”

“Ya, tolong”

Dan dengan coolnya dia membayar harga anting itu.

Sambil senyum-senyum dia bilang, “Mama, nanti aku kasih di rumah ya”

Duhhhh gemes! Kapan lagi aku bisa gandengan tangan dengan dia jalan-jalan begini.
Kapan lagi bisa duduk berdua di dalam bus sambil senderan dan tidur 😀

Lalu dia serahkan anting-anting itu di rumah.

“Mama suka?”

“Suka dong!”

“Aku bahagia hari ini, bisa oyakoukou. Ini yang namanya oyakoukou kan ya? Aku sekarang 8 tahun, nanti 8 tahun lagi aku belikan mama lagi ya?”

“Yaaaah, kok 8 tahun lagi? Setiap tahun dong…. Ngga usah belikan apa-apa, asal jalan-jalan bareng ya?”

Kai mencari anting-anting untukku

Dan ternyata tidak perlu tunggu 8 tahun lagi kok. Tanggal 1 April kemarin, kami pergi berdua lagi. Kai menemani mama melihat sakura, dan mama menemani Kai main dragon ball card game di Yodobashi Camera.

Mama happy karena bisa melihat sakura di Inokashira Koen.

dan Kai happy karena mendapat 3 kartu bagus di gacha-gacha yang dia beli dengan uangnya sendiri. Dan kami pulang dengan senyum, dan perut kenyang makan sushi yang murah-meriah berduaan. Dan Kai pun bilang, “Aku bahagia hari ini, bisa pergi berdua mama! Ya, memang mama nomor satu!” huhuhu terharu deh

sakura di Inokashira Park 01042016

Daaan baru sadar bahwa kemarin itu 1 April. Terlalu sibuk untuk memikirkan joke yang bisa dilontarkan untuk April Mop. Tapi ada 2 orang yang berhasil mengelabui aku dengan postingan bahwa dia akan nikah, dan yang satunya akan pindah kewarganegaraan menjadi wni (orang Jepang).

Daaan terlalu sibuk dan capek untuk menulis padahal TWILIGHT EXPRESS mestinya berulang tahun yang ke 8! Delapan tahun blogging…. ritme semakin menurun, tapi semangat masih ada kok 😀  Meskipun untuk satu tahun ke depan aku juga belum bisa janji rajin menulis, karena justru semakin sibuk dengan satu proyek yang rencananya akan selesai tahun 2017.

I’ll do my best!

Welcome Spring
Welcome New Fiscal Year
Welcome New Students

 

Well Done

Sebetulnya aku mau menulis judul “Finished” tapi sepertinya Well Done lebih bagus, meskipun tulisan ini sama sekali tidak berhubungan dengan tingkat kematangan steak 😀

Jadi ceritanya sejak bulan Oktober lalu, aku yang memang menjadi seksi publikasi di SMP-nya Riku sibuk meliput dan mulai bulan Desember mendesain dan mengedit artikel, foto supaya menjadi buletin cetak setebal 20 halaman. Kemudian mencetaknya untuk dibagikan sekitar pertengahan Maret, sebelum/pas acara kelulusan kelas 3 SMP.

Tugas memotret diawali dengan acara kesenian yaitu lomba paduan suara di bulan Oktober. Saat ini aku datang dari pagi dan pulang terakhir bersama teman-teman seksi publikasi yang lain. Karena pada pertunjukan yang diadakan di music hall kelurahan itu pengunjung TIDAK diperbolehkan memotret. Sebetulnya ini karena ada perusahaan yang akan merekam dengan video dan akan dijual. Kalau pengunjung diperbolehkan memotret, bisa jadi videonya tidak laku kan? Tapi karena PTA akan menerbitkan buletin, maka khusus PTA saja yang diperbolehkan, dan diberi tanda dan tempat khusus supaya bisa memotret di dalam hall. TAPI sebetulnya, kamera ibu-ibu itu kurang memadai untuk bisa memotret dengan bagus! Ibu-ibu tentu bukan kameraman dan tidak biasa memotret di dalam gedung. Aku pun tidak pede! Dengan cahaya yang minim, aku tidak yakin bisa memotret tanpa flash, dengan kamera DSLR ku. Tapi aku ada canon yang cukup memadai untuk memotret dalam ruangan. Jadi aku hanya mengandalkan kamera pocket digital ini saja. Kalau sudah begini rasanya ingin punya kamera mirrorless yang lebih canggih deh heehe.

Selain acara lomba paduan suara, kami juga harus mengambil foto klub ekstrakurikuler, pada hari latihan mereka. Hampir setiap hari  aku datang membawa kamera ke SMP (setelah kerja tentunya) untuk memotret mereka. Tapi ada beberapa ekskul yang jadwalnya tidak pas dengan jadwalku sehingga teman seksi publikasi yang lain yang memotretnya. Tapi selain foto klub ekskul masih ada satu yang terpenting yaitu mengambil foto per kelas, dan satu angkatan! Foto satu angkatan itu diambil dari lantai 2 atau 3 dan akan dipakai sebagai sampul buletin. Dan pada hari itu aku harus mengajar (tidak bisa dibatalkan) sehingga sampai di sekolah mepet waktunya. Itupun sudah naik taxi dari stasiun. Begitu aku datang, teman yang lain mengambil tasku, dan aku lari naik ke atas. Memang sudah ada satu teman sebagai cadangan kalau aku tidak bisa datang, dan dia sudah standby. Karena toh sudah ada dia, aku ambil saja seenakku, sambil naik turun tangga deh 😀 Baru setelah mengambil foto keseluruhan itu, kami berdua turun dan mengambil foto per kelas.

DAN ternyata….. untung sekali aku mengambil foto dengan kamera DSLRku itu! Ternyata pada saat mengatur layout isi buletin itu, baru ketahuan bahwa hasil foto dari kamera temanku itu semua resolusinya kecil dan KOTAK ala instagram. Haduh! Benar-benar tidak bisa dipakai untuk sampul, atau yang memerlukan hasil yang besar. Paling hanya untuk hiasan saja. Kasihan sekali dia, waktu aku beritahu bahwa setting kameranya salah, dia sedih sekali. Jadi deh, aku harus memilih foto-foto dari kameraku saja yang memang resolusinya tinggi. Proses layout dan editing dilakukan berdua, memakai office word, karena memang paling gampang. Setelah desain jadi masih harus disetujui pihak guru dan sekolah, sehingga aku harus bolak balik sekolah. Untung waktu itu sudah masuk bulan Februari sehingga pekerjaanku sudah banyak yang libur.

Nah, yang paling sulit menurutku sebenarnya adalah proses pencetakan. Karena temanku yang satunya lagi sibuk, harus aku yang mengurusnya. Sebetulnya kalau cuma membawa original ke percetakan lalu minta cetak sih mudah sekali. Tapi ini karena budget terbatas, sesuai tahun-tahun sebelumnya, kami minta cetak secara online. Aduh, aku memang sering belanja online, tapi minta percetakan secara online seluruhnya… ngeri juga. Karena banyak istilah percetakan yang aku tidak tahu bahasa Jepangnya 😀 Misalnya halaman membuka ke kiri atau ke kanan (di Jepang pada umumnya membuka ke kanan, terbalik dengan Indonesia. Aku pernah menulisnya di sini ) , lalu setting marginnya ternyata juga tertentu. Juga aku harus memilih jenis kertas yang dipakai. Semuanya mudah kalau petugas yang sebelumnya mau memberikan keterangan rinci, apalagi kalau dia mau bantu pengurusannya. Masalahnya menghubungi petugas sebelumnya juga sulit sekali. Orang Jepang tidak ada yang tidak sibuk sih (tapi toh masih mau membantu kegiatan PTA hehehe).

Pokoknya untuk order cetak saja aku harus membaca peraturannya 3 hari hihihi. Sambil aku mempelajari cara untuk mengirim naskah ke percetakannya, yang sudah ditentukan juga caranya (tidak bisa kirim via email!) . Lalu pembayaran juga melalui credit card, juga permintaan pengiriman hasil cetakan langsung ke sekolah. Aku pelajari benar-benar karena jangan sampai karena aku salah baca dan salah order, 1500 eksemplar terbuang begitu saja (dan tentu aku harus ganti semuanya secepatnya). Supaya biaya murah, aku minta prosesnya 10 hari, karena semakin cepat semakin mahal…semakin lama semakin murah 😀 Dan karena ongkos kirim ditanggung percetakan, aku perlu menghitung mundur, supaya hasil cetakan dikirim pada hari kerja…. beuh (ngelap keringat).

Naskah masuk percetakan tgl 25 Februari dan selesai tanggal 6 Maret. Selama itu tentu aku tidak bisa tenang dong. Baru bisa lega tanggal 8 Maret, karena sesudah kerja aku langsung ke sekolah dan membuka satu dari dua kardus untuk melihat hasilnya. Rencananya buletin itu akan dibagikan keesokan harinya. Hampir nangis terharu waktu membuka satu eksemplar dan melihat setengah karyaku tercetak dengan rapi dan bagus! Kata orang Jepang: 文句なし Monku nashi (tidak ada keluhan). WELL DONE!

Bahayanya kalau begini, aku jadi ketagihan untuk mencetak buku/buletin deh hahaha. Apa aku ganti profesi saja ya? 😀 😛

NB: maaf tidak bisa pasang foto karena buletinnya memuat data/informasi pribadi dan sekolah.

Menjelang Akhir

Lah baru juga tanggal 1 Maret, kok judulnya menjelang akhir sih?

Ya aku ingin bercerita menjelang akhir tahun ajaran 2015, yang akan selesai tanggal 25 Maret nanti. Memang tahun ajaran di Jepang dimulai pada bulan April dan selesai bulan Maret. Jadi biasanya saat-saat ini merupakan saat sibuk mengakhiri dengan test-test keseluruhan. Mungkin kalau di Indonesia namanya UAS (Ujian Akhir Semester) .

Sebagai penutup tahun ajaran itu, ada dua kegiatan yang melibatkan murid dan orang tua murid. Yaitu open school dan pertemuan orang tua. Pertemuan orang tua murid akan dilakukan minggu depan, tapi open school sudah selesai. Aku menyempatkan diri pergi ke open school SD dan SMP dan melihat kegiatan pembelajaran mereka yang kebetulan diadakan pada hari Sabtu yang sama. Karena papa Gen harus bekerja, aku lumayan sibuk mondar-mandir ke dua sekolah, selain juga pas ada rapat seksi publikasi PTA di SMP.

Jadilah pagi hari aku pergi ke SD. Mungkin karena aku sudah terbiasa pergi ke SD, aku sudah hafal kegiatan mereka sehingga sudah tidak menarik lagi 😀 Kai sekarang kelas dua, termasuk murid yang berbadan besar sehingga duduk di paling belakang. Dan itu berarti paling dekat dengan orang tua yang melihat dari belakang kelas. Pas aku datang memang sedang pelajaran bahasa Jepang, dan mereka harus membuat Kaibun 回文 yaitu kalimat palindrome, yang dibaca dari kiri dan kanan sama. Kebetulan memang beberapa hari sebelumnya Kai sempat heboh mencari contoh-contoh yang bisa dipakai. Dan waktu itu aku bisa melihat bahwa ada murid yang tempat duduknya di dekat Kai sangat…. aktif. Tidak bisa diam, dan aku sempat melihat dia memukul tangan Kai berkali-kali. Untung Kai tidak marah dan membalas, karena aku tahu Kai sekarang juga suka marah jika dipukul dan langsung membalas. Waktu pulang aku tanya nama anak itu, dan menurut Kai memang dia sumber keributan di kelas. Hmmmm….. dan biasanya anak bermasalah itu orang tuanya tidak datang ke acara sekolah, apalagi pertemuan orang tua murid. Satu keluarga bermasalah 😀 Miris ya.

Nah, setelah jalan kaki pulang dari SD dan makan siang, aku mengayuh sepeda ke SMP nya Riku, yang letaknya memang agak jauh dari rumah. Bersepeda 12-15 menit deh. Aku mengikuti rapat dulu, yang membicarakan penerbitan buletin PTA bulan Maret. Kebetulan aku yang menjadi editor dan bertanggungjawab untuk mengurus percetakannya. (Sekarang sedang dicetak dan moga-moga selesai minggu depan… dan aku deg-degan semoga hasilnya bagus deh).

Setelah rapat, aku bersama teman-teman dari seksi publikasi kemudian mengelilingi sekolah untuk melihat pameran hasil karya murid-murid yang dipasang sepanjang koridor lantai 1 sampai 4. Memang hari itu dikhususkan untuk memamerkan hasil karya mereka selama 10 bulan kepada orang tua murid, dan juga boleh dilihat pengunjung umum. Kebetulan hari itu juga merupakan hari pertemuan pertama orang tua calon murid yang akan masuk kelas 1 bulan April nanti. Jadi semacam pameran untuk mengetahui kegiatan murid SMP itu apa saja. Aku jadi teringat tahun lalu, persis tanggal 14 Februari itu, berdua Gen melihat karya murid SMP itu dan terkagum-kagum. Tahun ini pun aku masih terkagum-kagum, karena memang banyak yang bagus. Tentu saja aku mencari karya Riku di antara karya yang dipamerkan dan memotretnya.

sumpit buatan Riku hasil pelajaran prakarya menukang 

gambar kegiatan musim panas, yaitu nyekar ke makam.

lukisan di atas kanvas, pemandangan di taman

tugas mengarang bahasa Inggris, tentang My Favorite Person

Selain itu masih ada beberapa, seperti laporan kunjungan ke museum dan tugas pelajaran PKK membuat sarapan pagi. Tapi yang paling membuat aku kaget waktu aku melihat karangan bahasa Inggrisnya Riku. Dia memilih Shakespeare sebagai My favorite people. Teman-temannya yang lain ada yang memilih pemain band, ilmuwan Jepang/luar negeri, paman atau kakeknya dll. TAPI persis di atas Riku dipamerkan karangan teman sekelas Riku yang mengarang tentang RIKU sebagai favoritnya hahahaha. Aku kaget dan tidak bisa menyembunyikan senyum sampai pulang ke rumah. Penulisnya sih memang laki-laki, tapi rasanya lucu dan sedikit bangga jika anakmu dianggap sebagai favorit oleh temannya, bukan?

Karangan tentang Riku oleh temannya.

Nyeni

Wah … sudah tanggal 18 Februari. Kalau melihat daftar posting aku terakhir tulisannya tanggal 12 Januari. Setelah itu sebetulnya mau menulis tentang ultahku, atau tentang perjalanan dengan bus ke daerah Kanzawa…. tapi ya begitu, ditunda-tunda terus sehingga akhirnya ceritanya “terasa” basi! Sedangkan untuk cerita yang melulu tentang anak-anak sekarang aku tulis di Rabbit’s Home sih. Sehingga bisa dikatakan TE ditelantarkan 😀

Tapi hari ini aku memaksakan diri menulis di sini. Karena aku mendapat ucapan selamat dari WP (wordpress) waktu aku membuka dashboardku ini. Katanya 8 tahun yang lalu aku join WordPress. Ya, memang 8 tahun lalu, sahabatku si Marten membuatkan blog dengan domain ini, mendaftarkan aku di wordpress, dan menjadikan wordpress sebagai platform blog Twilight Express. Meskipun sebetulnya aku sudah menulis blog di blogspot sejak 2005. Tapi karena perlu belajar pemakaian wordpress, memasang thema, menentukan mau menulis apa, tulisan pertama baru bisa tampil tanggal 2 Maret. Dan aku biasanya sih “merayakan” ultah TE di awal April.

OK, Hari ini aku mau menulis sedikit tentang seni dalam merintang waktu. Kalau dulu aku merintang waktu di taman, kemarin aku mempunyai waktu kosong 5 jam sebelum aku mengajar malam. Jadi aku merintang waktu di sebuah museum Art di Roppongi.

Biasanya aku memang ke rumah dulu untuk masak makan malam, baru keluar lagi untuk mengajar. Itu kalau aku tidak ada janji atau pekerjaan lain. Nah, kebetulan ada dua teman baru di sebuah grup di FB mengajak anggota grup untuk pergi melihat karya lukisan Murakami Takashi yang sedang mengadakan pameran di Roppongi. Murakami Takashi ini konon terkenal di seluruh dunia dengan karyanya yang kontemporer.

OK, aku ingin sekali bertemu ke dua teman baru itu. TAPI aku tidak suka lukisan kontemporer hehehe (dan aku terus terang), jadi aku bertanya apakah mereka mau bertemu ngopi setelah melihat pameran lukisan Murakami itu. Dan mereka meng-iya-kan. So, aku pikir aku akan mengerjakan sesuatu sambil menunggu mereka ke museum dan bergabung pada pukul 4:30 untuk minum kopi bersama.

Poster di museum Kiri: Murakami Takashi Kanan: Vermeer dan Rembrant kamu pilih mana? hehehe

Tapi waktu aku mencari transportasi tersingkat untuk bisa ke Roppongi dari Kanda (yang ternyata naik bus dari Shinbashi adalah solusi terbaik), aku menemukan bahwa di tempat yang sama, tapi ruangan yang lain, sedang berlangsung pameran lukisan dari Belanda, yaitu Vermeer dan Rembrant (dan pelukis lain tentunya). Pelukis-pelukis Belanda yang hidup dalam jaman keemasan di abad 17. Nah, kalau aliran ini aku suka. Klasik, impressionis, realisme. Apalagi lukisan Vermeer yang Gadis dengan Bejana itu merupakan lukisan terkenal. Aku lupa apakah aku sudah lihat lukisan aslinya atau belum. Kalau Rembrant aku sudah pernah lihat di Rijks Museum (dan benar-benar kagum dengan lukisannya yang besar-besar).

Jadilah aku pergi ke bagian museum yang lain untuk melihat lukisan-lukisan Belanda ini sendirian, sementara ke dua temanku pergi ke bagian lain. Memang orang Jepang suka pameran! Untuk membeli karcis saja harus antri 10 menit. Dan harga karcis tidak murah. 1600 yen untuk karcis hari itu, terasa cukup mahal. Tapi bagi orang Jepang, segitu sih cemen! murah!  hehehe. Dan aku pun berada di belakang sepasang suami istri yang memakai kimono menuju ke lantai 52 untuk melihat lukisan-lukisan orang Belanda.

Banyak sekali lukisan yang dipamerkan. Menurutku untuk jumlah sebanyak itu, wajar lah harga tiket semahal itu. Pihak museum menata lukisan dengan baik, sesuai dengan jamannya dan kategorinya. Ada kategori lukisan tidak bergerak, ada kategori lukisan potret, kategori laut, kategori pemandangan dll. Bak seorang yang “nyeni” aku melihat lukisan-lukisan itu satu persatu lamat-lamat sambil mengikuti arus pengunjung.

Aku tidak mengerti lukisan! Pertama kali melihat lukisan dengan “sadar” ya di Jepang. Awalnya tidak bisa menikmati, tapi lama kelamaan bisa menyukainya. Tapi memang secara keseluruhan lukisan Belanda ini menurutku ya memang bagus, memang real, tapi dominan berwarna coklat tanah (termasuk piguranya), dan sambil melihat lukisan-lukisan itu, aku membayangkan kedua temanku yang sedang melihat lukisan kontemporer itu. Ya, pasti menurut orang yang suka kontemporer, lukisan yang kulihat ini semesti membosankan. Semua hampir sama goresannya, warnanya terbatas, dan dan tidak dinamis. Membosankan deh. Tapi ya itulah seni, hanya bisa dinikmati oleh orang yang mengerti, dan kita tidak bisa memaksakan bahwa aliranku yang paling bagus.

Ada dua lukisan yang menarik menurutku, tentu saja selain yang populer, yaitu dua buah lukisan bundar dan kecil. Kok bisa dengan kanvas sekecil itu menggambarkan detil memakai cat minyak. Satu lagi adalah lukisan seorang wanita yang membawa lentera di jendela. Aku cukup kaget dengan ukuran lukisan-lukisan itu. Kusangka lukisannya berukuran besar, ternyata tidak.

Satu lagi yang selalu menjadi pertanyaannku adalah mengapa di pameran-pameran lukisan di Jepang tidak boleh memotret! memang itu tergantung perjanjian antar pihak museum dengan empunya lukisan. Dan…. karena itu orang Jepang suka membeli souvenir sebelum pulang. Karena itu aku juga biasanya membeli kartu pos dari lukisan-lukisan yang dipajang. Mungkinkah ketentuan tidak boleh memotret itu supaya jualannya laku? hehehe

Setelah menikmati lukisan-lukisan terkenal itu kamipun akhirnya bertemu dan  ngopi di dekat Roppongi Hills sampai waktuku mengajar.

Kurasa cara yang nyeni dan mendidik seperti itu merupakan salah satu cara jitu untuk merintang waktu. Don’t you think so? 😉

Bintil Kuku

Kamu tahu bintil kuku? Aku dong, tidak tahu kata ini(bangga hihihi). Baru saja kudapat di kamus Inggris – Indonesia. Hanya karena aku penasaran apa sih bahasa Indonesianya : Sasakure, ささくれ. (Bahasa Inggrisnya : Hangnail).

Aku pertama kali tahu kata Sasakure dari Kai. Kai yang dulu sering bilang: Aku ada sasakure, sakit deh. Aku belajar kata baru dari Kai deh 😀 Sasakure adalah kulit bagian bawah kuku yang terkelupas. Penyebabnya bisa macam-macam. Bisa karena kering jadi terkelupas atau pecah. Tapi bisa juga karena kurang gizi. Jadi kalau sering terjadi bintil kuku ini (benar tidak sih namanya bintil kuku? Ada yang tahu bahasa lainnya?) mesti ke dokter untuk menanyakan penyebabnya.

Hari ini aku menderita karena sasakure. Hari ini Tokyo memang dingin sekali, dan kering. Pagi tadi turun salju pertama dan suhu hari ini maximum 5 derajat. Kulit tangan kering dan waktu aku cuci piring pagi hari, terjadilah sasakure di dua jariku….. dan itu sakit. Apalagi waktu aku harus memeras lemon untuk membuat ramuan minuman pagiku. Bisa kebayang kan? 😀

Cara menyembuhkan sasakure bagaimana? Menurut yang kubaca, tidak boleh menarik bagian kulit yang terkelupas, tapi memotongnya dengan gunting kuku. Lalu diberi salep supaya cepat sembuh. Kesempatan deh untukku memakai hand lotion hadiah dari my dimple sister. Terima kasih ya…

20 tahun, Terima Kasih

Di atas sebuah jembatan, jauh di bawahnya mengalir sungai yang deras.
Seorang pemuda berpakaian jas lengkap, sambil berteriak, “Ibuuuu terima kasih!” kemudian terjun bebas…..

Tapi ini bukan bunuh diri! Dia melakukan bungee jump di sebuah jembatan, bersama beberapa pemuda-pemudi lainnya. Bahkan pemudinya memakai kimono!

Mereka adalah orang Dewasa Baru 新成人, yang baru berusia 20 tahun, yang diperingati hari ini di Jepang sebagai seijin no hi 成人の日. Memang Jepang mematok usia 20 tahun sebagai batas kedewasaan seseorang. Seperti yang sudah pernah kutulis di sini, dalam Undang-undang mengenai hari libur nasional di jepang, dituliskan ” mendukung remaja yang menyadari dirinya telah dewasa dan berusaha hidup mandiri”.  Untuk itu setiap remaja yang telah berumur 20 tahun akan diundang oleh pemerintah daerah yang mengadakan upacara Hari Dewasa di tempat-tempat tertentu. Remaja Putri dan Putra akan datang ke pesta itu dengan memakai kimono atau hakama (kimono laki-laki. Kimono Furisode (berlengan panjang) dipersiapkan khusus untuk dipakai dalam upacara hari dewasa ini. Usia 20 tahun di Jepang dinyatakan telah dewasa, dan ini berarti mereka boleh minum minuman keras (di tempat umum), boleh merokok dan boleh ikut pemilu.

Secara personal waktu aku melihat tayangan televisi si pemuda yang jelas-jelas berteriak, “Ibu terima kasih”, aku menjadi terharu. Ah masih ada pemuda yang menyadari bahwa dia bisa menjadi dewasa justru karena peran ibu dan bapaknya. Karena sebelumnya di TV memang ditayangkan sisi buruk dari “orang Dewasa Baru” yang datang ke upacara dengan berpakaian kimono/hakama ala gangster, dengan makeup aneh-aneh. Memang ada beberapa kelompok yang ingin tampil lain sendiri, dan sebagai akibatnya mencoreng mereka-mereka yang biasa-biasa saja. Kaum pemuda/pemudi gangster itu akhirnya mencari keributan demi kepuasan mereka sendiri.

Tapi aku juga cukup tersentak, waktu TV itu memberikan pertanyaan, “Dengan kedewasaan Anda, apa yang sudah Anda capai waktu berusia 20 tahun?”. Dan menayangkan orang-orang terkenal yang pada usia 20 tahun sudah mencapai kesuksesan sebagai atlit pemegang medali olimpiade, atau sudah berkarir. Konon Bill Gates juga membangun perusahaan raksasanya pada usia 20 tahun. Wah kalau ditanya begini, memang banyak yang tidak bisa menjawab. Tapi paling tidak banyak yang bisa menjawab waktu mengikuti upacara itu mereka mempunyai suatu cita-cita dan setelah beberapa tahun cita-cita banyak yang tercapai. Di situ aku merasa, seandainya di negara kita juga ada upacara dewasa seperti ini….. Atau justru sulit untuk menentukan usia berapa menunjukkan kedewasaan karena anak kecilpun sudah merokok.

Yang pasti orang Dewasa baru tahun ini adalah mereka yang lahir 20 tahun, tepat waktu terjadinya gempa bumi Kobe, dan peristiwa bahan kimia Sarin di kereta subway. Dan … aku sudah berada di Jepang dari 3 tahun sebelumnya. Jadul ya? 😀

8 Besar dari Nerima : 2015

Tibalah waktu untukku melengkapi tulisan kebiasaan keluarga kami yang dimulai sejak tahun 2010 yaitu 8 peristiwa besar yang terjadi di keluarga kami selama setahun.

  1.  MASUK. Ya tahun ini Riku masuk SMP sehingga banyak terjadi perubahan dalam keluarga kami. Ternyata menjadi murid SMP, volume belajarnya jadi lebih banyak, dan selain itu dia juga MASUK ke dalam kegiatan ekstra kurikuler Badminton. Kupikir kegiatannya HANYA yang tertulis di jadwal yaitu 4 hari seminggu : Selasa, Jumat, Sabtu, Minggu, tapi pada kenyataan jadwal tinggallah jadwal. Rasanya hampir setiap hari dia harus berlatih, terutama pada waktu liburan dan menjelang pertandingan. Ini membuat kami tidak bisa bepergian jauh dan menginap. Musim panas kemarin aku memboloskan dia dari kegiatan badmintonnya selama sepuluh hari karena mudik ke Indonesia, dan ternyata membuat dia jauh ketinggalan dengan teman lainnya. Tahun depan sudah pasti aku tidak bisa mengajak dia lagi 🙁 Waktu kami pergi berempat akhirnya memang berkurang banyak. TAPI bersamaan dengan masuknya Riku ke SMP, aku juga ikut MASUK ke PTA di SMP dan menangani Bagian Publikasi. Beraksi dengan camera dan komputer tentunya.
    Selain Riku, aku juga “masuk” ke akademi baru, Kanda International of Foreign Language (KIFL) sebagai dosen. Meskipun bukan “masuk” (masuknya sudah 2 tahun lalu), tahun ini aku juga pertama kali memasukkan Kasumigaseki yang pusat kantor pemerintah Jepang sebagai tujuan bekerja, dan cukup sukses memulai kembali menjadi commuter kereta bawah tanah (setelah aku kena panic syndrome). Aku juga tahun ini resmi masuk ke sebuah organisasi yang bernama “Himpunan Pengkaji Indonesia Seluruh Jepang” 日本インドネシア学会 dan untuk itu aku pertama kali meninggalkan anak-anak 3 hari 2 malam untuk mengikuti simposium di Kyoto (Tahun depan ke Aichi loh).
    Untuk Kai, dia naik kelas 2 SD dan Akuberharap Kai bisa masuk ke Club Badminton di SDnya, setelah melihat dia mengikuti trial lesson 2 minggu yang lalu dan ternyata anak bungsuku ini berbakat juga loh. Semoga ya.
  2. MENYAMBUT. Kami menyambut kedatangan papaku, opa, ke kandang kelinci kami di Nerima pada bulan April. Supaya opa bisa tidur nyaman, aku hampir sebulan membereskan rumah sepetak kami, membuat satu kamar untuk opa. Kamar itu akhirnya menjadi kamar Riku setelah opa pulang. Nah, aku masih mempunyai pekerjaan tak terselesaikan yaitu mengatur barang-barang yang kukeluarkan dari kamar, dan sekarang tergeletak di balkon hehehe.
    Tahun 2015 kami juga menyambut kedatangan Shaw, anjing shiba, sebagai pengganti DAI yang hilang/mati untuk menemani ibu mertuaku di rumah Yokohama. Di Nerima kami mulai memelihara ikan dalam akuarium karena Riku ingin punya akuarium sendiri, meskipun aku tahu (dan memang terjadi) aku sendiri yang akan memeliharanya. Tapi waktu Riku ingin memelihara kura-kura bertepatan dengan masuknya dia ke SMP (ingin tahu juga bisa bertahan berapa tahun), aku menyetujuinya. Seandainya Riku minta memelihara kucing, sudah pasti aku tidak setuju karena aku benci kucing, entah kenapa. Kura-kura kecil ini asal Jepang yang sebesar-besarnya dia tumbuh, tidak akan lebih besar dari piringnya cangkir. Ngeri juga kalau dia bertumbuh sebesar TV gitu hehehe. Daaan, kura-kura itu lucu, selalu menyambutku kalau dia lapar seakan minta makan. Kuberi nama KUYA 😀 (si Riku sendiri tidak kasih nama sih)
  3. KESENGSEM /hobby. Karena Riku mulai bermain badminton, dia jadi kecanduan membeli raket dan buku-buku tentang badminton. Memang dia pernah debut pertandingan double pada bulan Oktober lalu (dan kalah di set pertama). Tapi nanti tanggal 11 Januari, dia akan debut pertandingan badminton single. Jadi dia selain berlatih otot, lari juga mempelajari teknik-teknik dari buku-buku badminton. Terus terang aku berdua Gen, bangga sekaligus heran melihat semangat Riku dalam badminton. Ternyata bisa juga ya anak dari orangtua yang tidak suka olahraga, menjadi pemain badminton :D. Selain “kecanduan” badminton, Riku juga kecanduan membeli stationary, terutama pensil mekanik. Duh, uang jajannya habis untuk membeli pensil! Padahal menurutku sih pensil semahal apapun sama aja 😀 Kalau Kai?  Dia masih kesengsem pada bebatuan dan kartu dragon ball. Menjelang akhir tahun, dia mulai getol menggambar komik dan masuk ke klub komik di kelasnya.
  4. WISATA. Karena sulit membuat waktu pergi bersama, selama tahun 2015 kami sedikit tempat yang bisa kami kunjungi. Pada bulan Maret, aku, Riku dan Kai berburu cap 100 Famous Castle ke Kyoto (Nijo Castle) dan Osaka (Osaka Castle). Ini merupakan perjalanan wisata entah keberapa kalinya ke Kyoto dan Osaka bagiku, tapi pertama kali untuk Riku dan Kai. Tujuan Kyoto dan Osaka ini juga merupakan permintaan Riku sebagai hadiah kelulusannya di SD. Pada bulan April, aku menemani papa ke Matsumoto Castle dan Azumino dan menikmati keindahan bunga sakura di sana. Bulan Mei kami pergi ke Shirakawa dan Komine Castle (1 Day trip). Summer kami mudik ke Jakarta tanpa papa Gen, dan setelah kembali kami menyempatkan diri pergi ke Inuyama Castle, dan Nagoya Castle ini juga 1 Day trip. Setelah itu sempat juga pergi menyusuri sungai Nagatoro sebagai wisata terakhir bagi keluarga. Aku sendiri pergi (lagi) ke Kyoto pada bulan November dan menikmati Kiyomizudera , Heian Shrine dan Tofukuji di sela-sela simposium. Jadi koleksi 100 Famous Castle kami tahun ini hanya bertambah LIMA castle huhuhu. Perjalanan masih panjang untuk mencapai 100 nih (sekarang baru 30-an). Semoga tahun 2016 bisa menambah cap kami deh.
  5. BELANJA. Tahun ini belanja kami memang lebih banyak untuk makanan dan kebutuhan hobby Riku dan Kai (juga papanya) yaitu BUKU. Aku sendiri tidak ada buku baru yang kubeli, karena aku membeli versi kindle saja. Itupun jarang ada waktu untuk membaca, kecuali di dalam kereta. Untukku, sebagai belanja “besar”, aku membeli iPhone 6S setelah bertahan 3 tahun tidak mengganti HP. Itupun karena iPhone 5 aku sudah mulai rewel dan untung saja cepat aku ganti begitu iPhone6S released, karena seminggu sesudahnya benar-benar dead :D. Oh ya aku membelikan komputer laptop baru untuk Riku sebagai hadiah ultahnya, karena dia memaksa terus untuk dibelikan HP. Aku sedapat mungkin tidak mau membelikan HP dan berhasil merentang waktu sampai satu tahun ini. Semoga masih dapat merentang lagi keinginannya sampai dia masuk SMA, meskipun sulit karena teman-temannya kebanyakan sudah punya HP sendiri. Selain smartphone dan komputer, aku membeli rice cooker baru pengganti yang lama (yang sudah 15 tahun mengabdi), juga steam cleaner, dengan maksud untuk bebersih besar-besaran tapi kok sampai tanggal terakhir bulan Desember, belum kubuka kardusnya ya? hehehe. Ada juga beberapa CD yang kubeli karena suka dengan lagunya, lalu beberapa aplikasi smartphone yang kupasang karena memang bagus.
  6. KESEHATAN. Nah, awal tahun 2015 aku sakit cukup parah, yaitu terkena perubahan tulang lutut yang membuat aku tidak bisa jalan. Benar-benar sakit sampai kadang aku menangis menahan sakit setiap harus berjalan. Sudah ke orthopedy dan dibilang tidak ada obatnya selain memanaskan bagian lutut dan pakai supporter/koyok. Dokter tidak mau kasih obat penahan sakit karena katanya percuma begitu obatnya hilang, akan merasa sakit lagi. Memang sih. Untung waktu itu aku tidak harus bekerja (libur musim semi), jadi bisa tinggal di rumah. Tapi menurutku sepertinya sakit itu terjadi karena aku tidak bergerak pas musim dingin. Jadi meskipun sakit, aku paksakan berjalan biarpun pelan-pelan. Selain itu aku sendiri mengubah pola makanku, dengan membuka hari dengan perasan lemon hangat. Baru sebulan terakhir memasukkan irisan jahe dan menambahkan madu ke dalamnya. Ramuan ini amat membantu. Selain itu aku mengurangi asupan carbo, sehingga setiap saat sedapat mungkin aku makan salada saja. Untuk antisipasi, bulan Maret aku menghubungi universitas tempatku bekerja untuk menyediakan kelas pada bulan April yang tidak perlu naik-turun tangga. Naiknya sih tidak apa-apa, yang sakit pada waktu turun. Seiring dengan musim yang menghangat, lututku juga membaik sampai sekarang. Nah aku teruskan terapi makanan ini sambil berharap lututku tidak rewel lagi jika hari-hari bertambah dingin nantinya. Semoga ya.
  7. PENCAPAIAN dan KERJA.
    Tinggi Riku sudah melampaui mama! Ini berita besar buatku. Benar deh, akhir-akhir kalau berfoto bersama, aku sudah merasa menjadi kecil! Bagaimana kalau Kai juga melampauiku ya? Berasa kerdil deh… atau aku menciut? Hehehe.
    Kai sudah bisa naik sepeda sendiri! INI juga pencapaian untuk Kai, karena dulu dia pernah bilang, “Mendingan aku jalan kaki daripada harus naik sepeda!” Seiring dengan naik kelas 2, dia sudah menguasai sepedanya. Tapi lucunya, dia menolak waktu kami mau memberikan hadiah natal sepeda yang lebih besar. Katany, “Masih bisa pakai sepeda ini kok!” Padahal menurut kami, badannya dia kegedean untuk sepeda itu hehehe.
    Pencapaianku apa ya? sepertinya dari segi pekerjaan, aku masih belum ada yang bisa dikatakan sebagai pencapaian dalam 1 tahun ini. Cuma aku merasa, terutama di masa-masa menjelang akhir tahun ini, aku mengalami pencapaian dalam bidang spiritualku. Mungkin bagi sebagaian orang tidak bisa dianggap sebagai pencapaian, tapi bagiku ya. Seperti layaknya bintang capricorn yang lain, kalau tidak suka pada orang, jangan harap bisa berbaik-baik. Sifat itu memang kubawa, tapi semakin dewasa, aku bisa menyembunyikannya, atau menguranginya. Jadi waktu tahun-tahun lalu aku memutuskan hubungan “silaturahmi” dengan beberapa orang, aku pun tidak mau tahu lagi. Tidak peduli, karena toh bukan aku yang mulai dan aku tidak butuh mereka! Tapi entah kenapa orang-orang itu pada tahun ini “kembali” padaku dan aku pun bisa menerima dan memaafkan mereka (meskipun mereka tidak meminta maaf secara literal loh). Senang sekali deh, tahun ini aku bisa membuang list “musuh” atau “yang kubenci” dari kamusku! Rekonsiliasi 😀
  8. RENCANA dan HARAPAN.
    Tahun 2015 menurutku sudah seimbang. Balance deh. Sibuk tapi aku bisa seimbangkan dengan menyediakan waktu bersama anak-anakku. Meskipun ada yang harus dikorbankan, yaitu BLOGGING. Ya, tahun 2015 kegiatan bloggingku mencapai titik terendah. Bayangkan aku HANYA bisa menulis 44 posting setahun ini di blog ini (memang ada beberapa blog lain sih, yang masih kadang-kadang aku update). Dan kemarin aku sempat KAGET melihat Page Rank blog ini menjadi 0 (dari 2) huaaaaah…… (tapi tadi kulihat lagi ternyata masih 2 kok). Sedih rasanya tidak bisa menulis seperti dulu, tapi ya, ini merupakan imbas kesibukan pekerjaanku. Tambah pekerjaan tentu memerlukan waktu juga untuk mempersiapkannya. Tapi aku senang bisa menyelesaikan satu pekerjaan menulis di suatu proyek, meskipun selesai menulis bukan berarti selesai pekerjaannya 😀 Masih ada satu tahun yang diperlukan untuk menyempurnakannya. Karena itu mungkin tahun 2016 kegiatan bloggingku tidak banyak berbeda dengan tahun yang hampir habis ini. Tapi sesedikit apapun, aku usahakan untuk tetap menulis paling sedikit satu setiap bulannya. Atau… aku pindah saja blog-blog lainnya ke sini ya? hehehe. Ada sih satu solusi yang bisa kulakukan supaya blog ini tetap update, yaitu menulis sependek apapun! Itu yang aku kurang bisa atasi. Menurutku untuk menulis di Twilight Express, aku punya target tidak mau yang asal menulis (pendek) saja. Aku harus memberikan informasi tambahan yang tidak terdapat di tempat lain. Nah, kalau saja “hambatan” ini bisa kuabaikan, mungkin setiap hari pun aku masih bisa menulis hehehe. Aku akan coba deh, kembali lagi ke tujuan menulis bloggingku, yaitu “pencatatan sejarahku dan keluargaku” 😀 Doakan ya 😉

Akhirnya selesai juga tulisan tradisiku untuk tahun 2015. Semoga tahun yang baru membawa semangat baru lagi bagi kita semua untuk menjalankannya.

Selamat menutup tahun 2015, dan menyambut tahun 2016.

 
Tulisan serupa dari tahun-tahun yang lalu:

8 Besar dari Nerima

8 Besar dari Nerima (edisi 2011)

8 Besar dari Nerima (2012)

8 Besar dari Nerima (2013)

8 Besar dari Nerima 2014

Natal 2015 & Anniversary

Natal tahun 2015  istimewa?

Ya mungkin karena malam Natal bersamaan dengan Maulid Nabi Muhammad bisa dikatakan istimewa. Tapi bagiku, natal tahun 2015 terasa berbeda dari biasanya.

Pertama, aku mengikuti Natal Bersama Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia di Jepang secara aktif. Terakhir aku ke perayaan Natal KMKI tahun 2011 karena janjian dengan temanku Ira Wibowo yang membawakan kopi untukku. Setelah itu aku vakum tidak pergi ke acara Natalan bersama KMKI. Salah satu alasannya karena dilaksanakan pada minggu pertama atau kedua bulan Desember. Nah, tahun ini Natal bersamanya diadakan pada minggu ke-3 yaitu tgl 19 Desember. Aku juga bisa pergi ke sini, karena sudah minta ijin pada anak-anak! Ya, anak-anakku sudah bisa ditinggal sendiri dan makan malam sendiri asal sudah kusiapkan. Gen, seperti biasanya memang bekerja pada hari Sabtu.

Jadi hari-hari sebelumnya, kebetulan aku juga sibuk dari pagi sampai malam. Jadi begitu ada waktu belanja, aku belanja agak banyak, terutama makanan yang tahan lama, dan bisa disiapkan oleh Riku untuk makan dengan adiknya. Pas hari Sabtu itu, dari pagi jam 9 sudah ada rapat PTA di SMPnya Riku. Aku harus datang, karena memang tugas aku sebagai editor buletin sangat banyak. Ada 10 orang ibu-ibu dalam tim kali ini, tapi yang bisa komputer hanya 2 orang. Dan kebetulan aku merangkap jadi fotografer juga, sehingga bisa membicarakan layout bersama. Seselesainya rapat, aku langsung mengayuh sepeda pulang, makan siang dan persiapkan makan malam anak-anak. Ganti baju langsung cabut lagi.

Natal Bersama KMKI2015

Acara KMKI kali ini diadakan di YMCA Hotel dekat stasiun Suidobashi. Kecil tempatnya, yang konon hanya bisa menampung max 300 orang. Tapi tempat ini biasa dipakai sebagai tempat beribadah bagi gereja GIII Tokyo (Gereja Interdenominasi Injili Indonesia).  Aku sendiri bantu-bantu penerima tamu dan dokumentasi. Serta membantu membagikan bingkisan natal untuk anak-anak. Setelah acara ibadah selesai, umat pindah ke lantai 9 hotel itu untuk makan bento yang sudah disediakan panitia. Lalu ada lagi acara perayaan yang dimulai pukul 6 sampai pukul 8. Kalau tahun 2011 acara itu dimeriahkan oleh Katon Bagaskara, maka tahun ini oleh Nugie, yang adik kandung Katon. Bukan kolusi sih, tapi memang kebetulan saja mereka bersaudara kan? hehehe

Nugie tentu saja membawakan lagu andalannya Pelukis Malam dan Burung Gereja. Tapi selain itu dia juga membawakan lagu anak-anak tahun 80-an. Wah ketahuan deh siapa saja yang seangkatan dengan Nugie (termasuk aku sih hehehe). Senang sekali bisa ikut bernyanyi lagu-lagu anak-anak jaman dulu. Entertainer yang hebat! Aku merasa senang hari itu, tentu saja selain dihibur Nugie, aku juga bisa bertemu para pendeta dan teman-teman anggota lama yang sudah cukup lama tidak bertemu. Dulu aku (waktu masih single) memang pernah menjadi sekretaris dari kepengurusan KMKI. Jadi aku juga tahu sulitnya membentuk panitia pelaksana acara-acara seperti Natal bersama ini. Tapi secara keseluruhan acara ini lancar dan bagus.

sempat berfoto bersama Nugie

Ada satu cerita yang ingin aku tuliskan sebagai kenangan dan peringatan untukku juga. Begini, ada seorang umat yang… hmmm… merasa dirinya patut dihormati. Jadi dia menganggap, kalau dia datang acara seperti ini, dia ingin disambut, lalu diantar ke tempat duduk. Dia mencari penerima tamu untuk mengantar dia dan mencarikan tempat duduk yang kosong. Padahal, dia bukan undangan tapi umat. Penerima tamu hanya bertugas mengantar tamu undangan yang bukan umat. Selayaknya sebagai umat atau bagian dari suatu komunitas, menurut saya, dia sudah merupakan bagian yang bukan TAMU, jadi wajar mencari tempatnya sendiri. Seharusnya sebagai anggota sebuah komunitas, mempunyai HATI yang selalu menunjang keutuhan dan kelangsungan komunitas itu. Ucapan khas Indonesia, “Anggap rumahku sebagai rumah sendiri, jangan malu-malu” itu sebetulnya bukan basa-basi. Kalau kita anggota rumah itu, kita bebas makan, minum, menikmati yang ada, tapi juga paling sedikit mempunyai kesadaran untuk membantu. Tidak perlu sampai cuci piring, tapi cukuplah dengan mengembalikan piring yang sudah dipakai ke tempatnya. Bagus kalau bisa bawa ke dapur, tapi dengan menaruh ke meja saja sudah baik. Ingat saja kalau kita tamu, mungkin kita mendapat pelayanan yang bagus, tapi hanya saat itu saja. Tidak selamanya, seperti kalau kita anggota. Bagaimana kita mau menerima berkat Tuhan yang berlimpah, jika kita datang hanya sebagai TAMU, yang sekali-sekali saja diundang? Ah, tapi mungkin memang aku saja yang sensitif terhadap orang yang selalu mau dilayani.

Kedua, selain acara Natal KMKI, aku pun merasa senang karena aku bisa membantu menjadi petugas gereja dalam misa Natal untuk anak-anak yang diadakan tanggal 24 pukul 6 sore. Tahun-tahun sebelumnya aku sebagai umat biasa, duduk paling depan karena selalu datang pagian. Tapi tahun ini aku berdiri paling belakang, mengatur umat yang datang, mengambilkan kursi atau mengatur lalu lintas penyambutan komuni. Hampir misa selesai, aku senang melihat Gen datang. Sebetulnya dia ingin ikut misa, tapi karena harus bekerja, baru sampai di gereja pukul 7 malam, misa hampir selesai. Jadi setelah misa selesai, kami berempat kemudian mencari makan malam di sekitar stasiun Kichijouji. Tidak pulang ke rumah, karena aku harus tugas lagi pukul 10 malam, yaitu menyanyi lagu-lagu latin. Karena itu pula Natal tahun ini aku tidak masak apa-apa hehehe.

Aku senang bisa ikut paduan suara ini, sambil mengingat almarhum mama yang dulu juga menjadi anggota paduan suara (bersama papa tentunya), dan suka menyanyi lagu misa bahasa latin. Sayangnya suaranya tidak bisa maksimal karena sempat batuk-batuk karena udara kering. Misa pukul 10 malam umatnya tidak terlalu banyak seperti waktu misa pukul 6 dan 8 malam. Paroki Kichijouji ini sebetulnya dianggap sebagai paroki ke dua terbesar sesudah paroki Yotsuya, dengan umat 1000 orang yang terdaftar. Paroki Yotsuya memang banyak dihadiri tamu asing dengan misa berbagai bahasa sehingga pasti umatnya lebih banyak. Dan aku sendiri terdaftar sebagai umat di paroki ini sejak 4 tahun lalu. Kami, umat katolik warga Indonesia di Tokyo memang bisa pergi ke gereja katolik di mana saja. Bahkan ada misa berbahasa Indonesia di Yotsuya, Meguro dan ShinKoyasu (Yokohama). Tapi jika kita akan tinggal lama di Jepang, ada baiknya mendaftar pada satu paroki terdekat rumah. Tentu saja dengan terdaftar kita wajib memenuhi ketentuan sebagai anggota paroki seperti membayar IJIHI 維持費 (iuran bulanan untuk pemeliharaan gereja) sukarela besarnya. Aku menganggap pendaftaran sebagai umat ini penting, jika kita perlu kehadiran pastor waktu sakit/ meninggal. 

Yang terakhir, ketiga, masih serangkai dengan Natal yaitu wedding anniversary-ku yang ke 16. Dwiwindu kalau hitungannya orang Jawa. Dan kali ini, kami sepakat untuk merayakannya bersama bapak ibu mertua, di restoran Hotel New Otani, tempat kami dulu membuat resepsi pernikahan. Sudah jauh hari aku pesan tempat, karena memang hotel ini lumayan populer. Karena memikirkan jauhnya bapak dan ibu mertua datang dari yokohama, kami mengajak untuk makan siang bersama saja. Kalau dinner, takut pulangnya kemalaman.

merayakan hari spesial bersama keluarga

Restoran The Sky yang aku pesan berada di lantai 17, dan restoran itu revolving. Ya, lantainya bergerak, berputar 360 derajat. Serasa naik piring terbang deh hehehe. Bapak Ibu mertua sudah pernah ke restoran itu, tapi kami berempat belum pernah. Eh, papa dan mamaku sudah pernah sih. Aku ingat cerita mama yang bercerita bahwa mama kaget waktu mengetahui harga jus jeruk yang mama pesan waktu ke sana harganya segelas 10 $ saja (sekarang sudah lebih mahal sih hehehe). Jadi kali ini merupakan pengalaman kami makan sambil menikmati pemandangan Tokyo di hotel yang didirikan tahun 1964, waktu Tokyo Olimpic diadakan … sudah tua sudah 51 tahun. Satu yang kami sadari, satu putaran 360 derajat lantai atas itu butuh waktu 70 menit 😀 Dan putarannya lumayan cepat daripada prediksi kami sebelumnya. Karena sesekali berasa gerakan engselnya.

Sebagai tambahan, hotel ini mempunyai taman Jepang yang indah. Aku dan Kai menyempatkan diri untuk mengambil foto taman, sementara yang lain beristirahat di lobby hotel. Senang sekali melihat bungsuku antusias memotret, sampai sampai dia selalu bilang , “Tunggu dong” kalau aku minta dia memotret mamanya 😀

Dengan ini aku mengucapkan terima kasih atas ucapan Natal yang disampaikan teman-teman melalui socmed, dan aku ingin mengucapkan Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan dan mungkin terlewatkan kusebut. Juga Happy Holiday untuk teman-teman lainnya.  Mulai besok aku akan kerja bakti membersihkan rumah oosouji dan menuliskan 8 Besar dari Nerima. Semoga bisa terlaksana ya 😀