Bunga di Musim Panas – Himawari –

Suatu hari ada seorang ibu Indonesia yang meneleponku dan bertanya padaku tentang bunga apa yang bisa dipakai sebagai hiasan pengantin, baik untuk handbuoqet maupun ruangan gereja. Masalahnya pernikahan itu akan dilakukan pada musim panas, di Jepang. Bulan Agustus, pas terik-teriknya matahari. Dan bunga-bunga yang biasa kita lihat yang dipakai sebagai hiasan itu, tidak hidup di musim panas. Kalaupun ada pasti cepat layu. Tentu ada bunga-bunga yang masih hidup di musim panas, dan yang cukup besar dan tahan lama yaitu Bunga Matahari.

Bahasa Jepangny bunga Matahari adalah Himawari ひまわり, beragam jenisnya (konon sampai 70 jenis) dan beragam ukuran juga. Ada yang memang kecil-kecil bunganya, tapi tentu ada yang sampai sebesar mukaku 😀 (emang sebesar apa sih ya? hehehe). Batangnya tinggi, dari 50 cm sampai 390 cm…wah setinggi rumah dong! Aku belum pernah lihat yang setinggi 3 meter begitu deh.

Kiyose Himawari Festival 2014

Sudah lama sebetulnya aku ingin pergi ke taman yang penuh dengan bunga Matahari. Tapi baru terwujud tahun lalu, karena kebetulan waktunya juga pas, sesudah kami kembali dari mudik. Yang lucu, kami pergi ke Kiyose Sunflower Festival 2014 itu siang hari dan di sana secara kebetulan bertemu dengan sepasang teman Indonesia yang tinggal di Chiba dengan kedua anaknya.

Bersama dr Jordan dan dr Kiki. sayang latarnya kurang bagus… tapi anak-anak sudah capek sih, jadi tidak mau pindah tempat :D

Taman ini cukup luas. Konon di tanah seluas 24.000 meter persegi ini ditumbuhi 100.000 batang bunga Matahari dari berbagai jenis. Yang menarik waktu kubaca di sini, ternyata tempat festival ini sebetulnya adalah tanah milik pribadi (bukan milik pemerintah daerah) sehingga hanya boleh dikunjungi pada waktu diadakan festival saja. Untuk tahun 2015 ini adalah dari tanggal 16 Agustus (Minggu) sampai 30 Agustus (Minggu). Harga tanda masuknya gratis, tapi di sana disediakan tenda makanan dan bibit tumbuhan yang dijual dengan harga murah.

ciluuuk ba!

Tempatnya memang agak jauh dari stasiun sehingga harus naik bus, dan berjalan kaki 10 menitan sampai taman tersebut. Kami naik mobil dan disediakan tempat parkir di dekat taman (tentu saja berbayar…tapi aku lupa berapa).

ketemu ini di parkiran, becak Jepang naik mobil :D

Tapi benar deh, melihat hamparan bunga kuning seluas itu, senang rasanya. Yang kuperhatikan memang banyak kupu-kupu dan lebah/serangga yang mendekat untuk mengisap sari bunga. Aku sempat mengambil foto kupu-kupu yang bukan asli Tokyo hinggap di bunga Matahari itu.

Bunga Matahari yang dihinggapi kumbang

Sayangnya aku tidak keburu mengirimkan hasil jepretanku untuk mengikuti festival foto yang diadakan pemda setempat. Lupa!

Selain Kiyose Himawari Festival, tentu saja banyak tempat yang mengadakan festival bunga Matahari di sekitar Tokyo. Waktu mencari informasi, ternyata di Showa Kinen Koen (Tachikawa) pun ada dan bahkan tengah berlangsung. Tapi… karena akhir-akhir ini Tokyo benar-benar panas (realFeel sampai 41 derajat), aku mikir-mikir dulu deh untuk keluar rumah 😀 Kalau tidak penting sekali, mending ngadem di rumah 😀

Exkul

Tentu tahu apa itu exkul kan? Extra Kurikuler, yaitu kegiatan di luar jam pelajaran tapi masih dalam lingkup sekolah. Waktu aku SMP, belum ada Exkul… kecuali pramuka kalau mau dihitung sebagai exkul. Tapi waktu SMA, cukup banyak kegiatan Exkul yang tersedia, termasuk exkul drumbandnya yang terkenal. Tapi, …. aku tentu saja mengikuti exkul yang kalem (uhuy), yaitu Science Club dan Fotografi.

Tapi aku bukan ingin bercerita tentang aku. Aku ingin bercerita tentang Riku, si anak SMP kelas satu dengan kegiatan exkulnya. Bukatsu 部活 namanya.

Kalau di negara kita, sepertinya exkul tidak wajib diikuti. Tapi di Jepang, sepertinya bukatsu tidak wajib tapi harus 😀 Bingung kan? 😀 Jarang sekali murid SMP yang tidak ikut bukatsu, kecuali memang dia tidak begitu kuat badannya. Dan kebanyakan bukatsu memang olahraga.

Waktu SD Riku pernah mengatakan bahwa dia ingin mengikuti bukatsu “art” saja. Tapi setelah masuk SMP, tidak jadi! Alasannya, kebanyakan perempuan 😀  Tapi dia juga tidak mau masuk bukatsu populer di SMP nya seperti sepak bola atau base ball. Karena latihan setiap hari, dan anggotanya banyaaaaaak sekali (maksudnya banyak). Sepertiga kelas Riku adalah anggota sepak bola dan baseball. Jadi dia memilih badminton. Dari kelas 1 yang sejumlah 250 orang itu, hanya 33 wanita dan 6 laki-laki yang memilih badminton.

Badminton masih mending karena hanya latihan 5 hari dalam seminggu. Tapi aku pribadi minta ijin pada gurunya untuk meliburkan Riku pada hari Minggu, karena harus pergi ke gereja dan mengikuti sekolah Minggu. Jadi 4 hari dalam seminggu dia harus berlatih di sekolah, setelah pulang sekolah atau hari Sabtu pagi, khusus untuk berlatih.

Aku pribadi merasa heran sekali, kenapa sih bukatsu di SMP Jepang segitu padatnya berlatih. Awal-awal masuk bukatsu, Riku pulang dengan badan capek dan otot tegang. Tidak biasa lari selama itu, belum lagi push up dan latihan otot lainnya. Memang sih, dari bukatsu itu ada juga beberapa yang menjadi atlit olahraga. Tapi kalau dalam liburan musim panas juga harus berlatih setiap hari? Kapan liburnya dong ~~~~.

Tapi memang aku sendiri melihat Riku banyak berubah. Selain bentuk badannya yang semakin tinggi dan semakin slim, dia juga bisa mengatur waktunya lebih baik lagi. Dia tahu kapan harus belajar, kapan harus tidur. Memang benar bahwa semakin sibuk seseorang, semakin banyak kegiatan dan semakin bisa mengatur waktunya supaya bisa melaksanakan semuanya. Benar juga bahwa untuk anak lelaki SMP kalau terlalu banyak waktu senggang juga tidak baik, menggoda dia untuk berteman atau bermain di luar yang mungkin tidak baik pergaulannya. Dan olahraga juga mengajarkan tepat waktu, kerjasama dan solidaritas terhadap semua anggota. Aku sendiri sering merasa terharu kalau Riku bercerita tentang teman atau kegiatan bukatsunya, apalagi waktu kemarin dia cerita ada sempainya (= kakak kelas) yang masuk ke klasifikasi se-Tokyo. Terdengar rasa bangga pada sempainya. Kebetulan sempainya ini ibunya juga satu seksi publikasi PTA denganku.

raket yang ketiga… (raket pertama dan kedua terlalu murah jadi kurang pas dipakainya)

Untung saja peralatan olahraga badminton tidak mahal. Ada seragam berlatih khusus tapi bisa dipakai selama tiga tahun. Hebatnya seragam ini ringan dan cepat sekali kering. Sehingga meskipun aku harus mencuci setiap Riku pulang berlatih, sudah bisa kering untuk dipakai besok paginya meskipun dijemur di dalam ruangan saja. Bahkan aku pernah lupa mencuci, baru kujemur jam 6 pagi, padahal akan dipakai jam 12 dan hari hujan hehehe. Itupun bisa kering. Padahal aku sudah siap-siap kalau perlu aku akan pakai jurus pamungkas, yaitu menggulung dengan handuk sampai kandungan air pindah semua ke handuk, lalu aku akan keringkan dengan hair dryer 😀  (tips jitu loh ini untuk mengeringkan baju secepatnya).

Alat lainnya yang harus dibeli adalah raket, yang tentunya ada rupa ada harga, ada mutu harganya juga cukup mahal. Kock nya juga harus beli tapi untungnya untuk berlatih di sekolah disediakan oleh sekolah yang diambil dari uang iuran pertahun. Memang waktu kami memilih bukatsu apa yang akan diikuti, kami mendapat daftar jenis olahraga dan iuran pertahunnya berapa. Untuk badminton masih murah karena hanya 8000 yen pertahun.

Nah, memasuki libur musim panas tanggal 19 kemarin, ada satu lagi pengeluaran “mendadak” untuk kegiatan badminton, yaitu membeli jug thermos yang 2,6 liter isinya. Sebetulnya Riku sudah punya yang 1 liter, tapi itu masih kurang! Maklum musim panas di Jepang seperti sauna, sehingga harus minum terus supaya tidak dehidrasi. Selain membawa minum di thermos 2,6 liter itu, Riku juga diminta membawa es batu yang berukuran besar untuk dipool jadi satu dalam server air untuk semua peserta di sport hall. Tidak ada galon aqua dan dispensernya sih 😀 Dan thermos + es batu dalam tas menambah beban  dia berjalan selama 30 menit ke sekolahnya.

Waktu aku pulang kerja hari ini kebetulan bertemu dia yang sedang berjalan pulang sambil bawa jug thermos 2,6 liter hehehe. tampangnya capek ya, soalnya sesudah ini dia masih harus pergi bimbel lagi.

Dan… tentu aku juga minta izin khusus kepada gurunya, supaya Riku bisa berlibur ke kampung halaman ibunya. Karena sebetulnya ada persiapan pertandingan dsbnya, aku terpaksa hanya bisa mudik 10 hari saja di Jakarta. Tapi kalau aku tanya, “Riku tinggal saja ya, tidak usah ke Jakarta” Dia menjawab, “Enak aja ih mama… aku kan mau makan sate juga :D”.
Well, Riku juga bisa temani opa olahraga ya karena kabarnya opa juga rutin latihan di gym tuh. Sementara itu mama mau wisata kuliner dan reuni-reuni yaaa… hehehe.

Menyatakan Cinta

Tadi pagi, sambil menonton TV, aku tertawa melihat murid-murid SD menyatakan cintanya di depan teman-temannya. Wah, apaan nih, pikirku awal aku menonton acara itu. Masa anak SD sudah berkata: “Aku suka sama kamu. Maukah kamu menikah denganku?” hehehe

Ternyata itu adalah sebuah kompetisi yang diadakan oleh murid-murid sendiri. Jadi ceritanya anak-anak memilih tema “menyatakan cinta” karena tema ini tidak mengenal kelas, umur dan jenis kelamin. Meskipun ada beberapa peserta murid perempuan yang mengatakan, “Aneh ah jika perempuan menyatakan cinta”, dan dia memang senang jika bukan dia yang proposed melainkan yang laki-laki. Well, jaman boleh berubah, tapi masih banyak kok yang memang mengetahui “kodrat”nya.

Tujuan kompetisi ini agar anak-anak tidak malu berbicara dengan lantang di muka orang banyak, dan bisa mengungkapkan perasaan/pemikirannya. Kreatif juga sih. Yang lucu waktu si pemenang kontes, seorang anak laki, ditanya apakah nanti kalau sudah besar akan berkata seperti yang dia katakan? Lalu dijawab, “Waaaah tidak tahu ya nanti… masih jauh sih!” sambil memerah mukanya 😀 Aku juga heran kenapa dia yang terpilih, soalnya dia berkata, “Maukah kamu menjadi MILIKKU!” waaaaah perempuan jaman sekarang mana mau cuma jadi MILIK 😀

Tapi menyatakan cinta memang butuh keberanian. Dan ini pula yang disimulasikan untuk anak-anak disleksia, anak autis, anak yang terbelakang. Kebetulan aku menonton acaranya, dan kupikir… iya juga ya, anak-anak berkebutuhan khusus seperti mereka pun perlu mengenal cinta dan mengetahui cara-caranya.

Pada acara itu, disimulasikan sepasang anak terbelakang, laki-laki dan perempuan pergi berkencan selama 1 jam. Mulai dari si lelaki mengajak perempuan itu pergi, lalu ke mall dan memilih kegiatan apa yang dilakukan. Perlu diketahui bahwa anak-anak ini TIDAK BISA berhitung. Mereka juga cepat emosi, cepat panik. dari tayangan itu diketahui si anak lelaki mengajak temannya makan spaghetti, lalu panik setelah selesai makan harus bagaimana. Jadi dia meninggalkan ceweknya, dan cepat-cepat bayar. Sayangnya dia LUPA mengatakan “betsu-betsu” (bayar sendiri-sendiri) kepada kasirnya. Padahal uangnya tidak cukup untuk membayar dua orang. Panik deh… untung si cewe sadar (dan kelihatan yang cewek autisnya tidak begitu parah) dan pergi ke kasir untuk membayar bagiannya. Well, di Jepang meskipun pacaran juga masih bayar sendiri-sendiri loh. Tidak ada kewajiban untuk yang laki harus membayar, apalagi jika statusnya dua-duanya belum bekerja.

Di situ aku merasa terharu pada usaha guru-guru di sekolah luar biasa itu untuk menanamkan keberanian dan mengajarkan bermasyarakat. Ah, mereka juga bisa kok seperti manusia normal lainnya, asal didukung, diajar dan diberikan waktu. Aku merasa beruntung tinggal di Tokyo, apalagi di dekat rumahku ada sekolah luar biasa 養護学校, sehingga aku setiap hari bisa melihat mereka. Mereka TIDAK dikucilkan, dan kami warga juga tidak heran jika berjumpa dengan mereka.

“Hati yang luas yang mau menerima mereka yang kurang, apa adanya” justru bisa kutemukan di Jepang. Aku pun merasa kagum pada universitas tempatku bekerja yang memang kuketahui menerima mahasiswa yang dianggap tidak normal. Aku pernah mengajar seorang mahasiswa yang berkursi roda, seorang mahasiswa yang berpendengaran tidak normal sehingga harus memakai alat khusus. Untuk menghadapi mereka aku dikirimi surat oleh pihak universitas, untuk memperhatikan mahasiswa ini, dan jika perlu memberikan tugas yang lain dengan mahasiswa normal. Aku juga usahakan untuk tidak berbicara cepat-cepat supanya si mahasiswa tidak bingung. Memang tidak setiap kelas, dan tahun ini aku mempunyai seorang mahasiswa yang menderita  Asperger syndrome, sejenis autis. Kekurangan yang  paling mendasar, dia tidak bisa membaca situasi, yang istilah Jepangnya: Kuuki wo yomenai 空気を読めない.  Dia selalu duduk paling depan, dan suaranya paling kencang (dan cepat sehingga sering salah) jika aku suruh seluruh kelas membaca sebuah percakapan. Awalnya aku tidak sadar, lalu kemudian aku menerima surat dari pihak universitas tentang mahasiswa tersebut. Sayangnya dia jarang masuk dan terakhir dia sudah duduk di bangku belakang sekali. Semoga dia bisa bertahan sampai akhir semester deh.  Dan tentu… tentu aku akan memberikan tugas yang sedikit berbeda dari teman-temannya yang lain.

 

Latihan Bencana

Waduh, siapa juga mau ya latihan bencana… mungkin lebih tepat persiapan menghadapi bencana, atau bahasa kerennya Mitigasi Bencana.

Tanggal 30 Juni lalu, aku harus cepat-cepat pulang dari tempat kerja karena ada latihan menjemput anak di sekolah, jika terjadi gempa besar. Saat itu pukul 2:10 kelurahan kami serentak mengadakan latihan menghadapi bencana. Jadi akan ada alarm berbunyi di setiap sekolah, dan anak-anak berlatih prosedur jika terjadi gempa (berlindung di bawah meja, setelah aman dan guru menginstruksikan, mereka akan berjalan dengan rapi menuruni tangga dan berkumpul di halaman sekolah.

Sebelumnya kami juga menerima pemberitahuan melalui email, bahwa mulai saat itu ada latihan menghadapi bencana. Kami diminta untuk datang menjemput setelah pukul 2:20, sambil menyebutkan nama anak dan hubungan kami dengan anak itu: ayah atau ibu atau kakek/nenek. Jadi seandainya nanti terjadi gempa besar, kami memang harus menjemput ke SD dan menyebutkan nama anak serta hubungan kami. Sehingga bisa dicatat anak itu telah pulang dengan siapanya, jikalau orang tua lainnya datang menjemput. Selama anak-anak di dalam lingkungan sekolah memang sekolah bertanggung jawab akan keselematan anak-anak.

Keluarga kami sendiri sudah menentukan SD nya Kai sebagai tempat pertemuan kami. Selain itu memang SD tersebut yang menjadi tempat kami mengungsi pada waktu terjadi bencana. Latihan antisipasi bencana memang sudah dan terus dilaksanakan di sini. Biasanya latihan itu diperkuat setiap tanggal 1 September karena merupakan hari peringatan bencana gempa Besar Kanto, tapi khusus kelurahan kami melaksanakan latihan “menjemput” itu pada tanggal 30 Juni.

anak-anak yang menunggu dijemput di lapangan sekolah

Untuk murid SMP, karena sudah cukup besar, mereka bisa jalan sendiri ke rumah. Kalau ada adik dan SD nya dekat, mereka diminta untuk jalan ke SD adiknya dan bertemu orang tuanya di SD. Tapi karena SMP Riku cukup jauh dari SD Kai, Riku bisa langsung pulang ke rumah saja. Tapi dari pelajaran menjemput hari ini, aku sangat senang karena bisa jalan pulang bersama Kai, sambil memperhatikan jalan yang dilewati sampai rumah, dan menemukan bagian mana saja yang berbahaya. Misalnya tembok yang mudah runtuh, tiang yang mudah goyah, rumah yang dekat jalan dan berkaca (cepat pecah) dll.

Kalau latihan menghadapi bencana memang sering dilakukan di SD/SMP tapi di jenjang yang lebih atas? Biasanya tidak ada. Untuk universitas, sudah dianggap dewasa untuk menemukan jalan pulang sendiri. Tapi sejak terjadi gempa bumi Tohoku 4 tahun lalu, kami para dosen dibagikan manual cara-cara menghadapi gempa bumi jika terjadi pada saat kami sedang mengajar.

Nah hari Jumat kemarin, tidak biasanya, aku diminta untuk ikut latihan penanganan bencana. Kebetulan yang menjadi “sasaran” latihan adalah jam pelajaran kedua, hari Jumat, yang menempati tingkat 3 gedung 10 saja! Haduh! Ada sekitar 10 kelas sih memang, dan aku sebagai dosen, begitu terdengar alarm, harus mengumumkan: Berlindung di bawah meja. Lalu memerintahkan mahasiswa untuk mengikutiku, menuruni lantai 3 ke tempat pengungsian yang sudah ditetapkan, yaitu lapangan di sebelah gedung 10.

Untung saja kelasku dekat tangga, sehingga kami bisa segera turun. TAPI kami belum boleh langsung bubar. Setelah aku melaporkan bahwa kelas kami sudah turun, kami masih harus menunggu kelas-kelas lainnya. Kelasku merupakan kedua yang tercepat turun. Dan… cukup lama kami harus menunggu sampai semuanya berkumpul… di dalam panas. Heran sekali deh hari Jumat itu terik padahal sebelumnya hampir seminggu penuh hujan terus 😀 Kami juga lapar, karena sudah pukul 12:30 dan sudah memangkas jam istirahat kami untuk makan siang.

pembagian nasi dan biskuit tahan lama sebagai tanda sudah mengikuti latihan menghadapi bencana di universitas kami

Setelah mendengarkan pidato dari rektor yang mengucapkan terima kasih, kami dibagikan nasi dan biskuit tahan lama yang bisa disimpan 6 bulan. Tapi yang sempat membuatku tertegun waktu mendengar dari kepala pelatihan yang mengatakan bahwa sebetulnya setelah latihan mengungsi ini, ada beberapa acara yang dilakukan di depan kampus, termasuk latihan pemadam kebakaran dan pengungsian dalam ruangan berasap (tahun lalu aku pernah ikut ruangan berasap ini). TAPI ternyata semua unit pemadam kebakaran yang sedianya dipakai untuk latihan di universitas, dipanggil karena ada kebakaran sungguhan yang cukup besar sehingga semua unit dipanggil. Hmmm kebakaran, bencana memang tak dapat diprediksi kapan akan terjadinya. Tapi memang jika kita sudah siap dan tahu harus bagaimana menghadapinya, jumlah korban dapat diperkecil, jika tidak bisa dihilangkan.

mobil pemadam yang lewat di depan rumahku beberapa hari yang lalu. Mempunyai tangga yang cukup panjang untuk mengungsikan orang dari lantai atas gedung tinggi

 

Pergeseran

Hari ini aku pergi mengajar di universitas yang cukup jauh dari rumahku. Karena sejak musim dingin kemarin kakiku sakit (meskipun berangsur pulih), aku sering “memanjakan” kakiku dengan tidak naik turun tangga. Kalaupun naik turun tangga aku usahakan untuk tidak cepat-cepat. Daripada kakiku tidak bisa dipakai selamanya kan, lebih baik mencegah.

Jadi aku sekarang sering berangkat lebih pagi dari biasanya, dan memakai lift di stasiun. Di setiap stasiun biasanya ada lift, yang diperuntukkan bagi kaum lansia, atau mereka yang sedang hamil, sakit atau membawa barang besar (seperti koper) dll. Layaknya silver seat, bangku khusus untuk yang membutuhkan.

Waktu aku sehat, aku TIDAK akan menaiki lift karena kupikir, aku masih mampu jalan. Dan kalau aku buru-buru justru akan lebih cepat jalan/naik eskalator daripada naik lift. Tapi sekarang setelah aku lebih banyak menggunakan lift, aku banyak melihat yang tidak lazim. Yaitu anak muda, remaja baik perempuan atau laki-laki sehat yang tidak terlihat hamil atau sakit kakinya menggunakan lift. Dan mereka sabar menunggu datangnya lift, dibandingkan harus jalan dan naik tangga, tentu saja sambil bermain dengan HP nya. Duh….  Bahkan aku sering melihat mereka naik lift sendirian. Hmmm kalau aku sehat, aku tidak akan naik lift sendirian. Bukan, bukan memikirkan keamanan, tapi memikirkan boros energinya. Kan untuk menjalankan lift perlu listrik :)

Itulah, sudah terjadi pergeseran pemikiran manusia sekarang. Yang penting dirinya enak, tidak capai, tidak mau bergerak sedikit. Tidak memikirkan dampak perbuatannya pada lingkungannya. Rasanya masyarakat sekarang mulai menjadi “sakit” deh.

Di universitas, biasanya satu kali dalam 15 kali pertemuan, aku meminjam ruang komputer di universitas, untuk “memaksa” mahasiswa mencari informasi tentang Indonesia di internet, dan menjawab pertanyaanku (dalam bahasa Indonesia).  Setiap mahasiswa biasanya mempunyai akun sendiri yang dibagikan pihak universitas, sehingga untuk bisa login memakai komputer pun harus memasukkan id dan passwordnya. Untuk email juga disediakan webmail universitas sendiri, tapi kali ini ada dua mahasiswa (dari 20 orang) yang tidak bisa mengirim email karena lupa passwordnya. Untuk ini aku bisa bantu dengan “meminjamkan” aku emailku yang lain.

Dan pagi ini aku melihat pemandangan aneh seperti ini:

aneh kan? (foto sudah minta ijin si mahasiswa)

aneh tidak? Dia duduk di depan komputer, display besar. Tapi mencari informasi JUSTRU dengan smartphonenya yang berlayar kecil. Aku tidak bisa mengerti pemandangan seperti ini. Dan kelihatannya memang kaum muda sekarang tidak biasa memakai komputer. Segal-segalanya cukup dengan smartphone. Kalau dalam kondisi di jalan sih bisa dimaklumi, ini sedang berada di depan komputer loh 😀

Aku masih merasa pentingnya punya komputer. Karena secanggih-canggihnya smartphone, tetap saja kapasitas dan kemampuannya lebih kecil dari komputer. Misalnya akan sulit dong, membaca pdf dari smartphone. Untuk membaca format A4, tentu lebih baik dari komputer, daripada dari smartphone. Meskipun kalau terpaksa aku juga kadang memakai aplikasi Word untuk smartphone. Untuk browsing di internet, kalau mendadak dan mendesak tentu saja bisa pakai smartphone, tapi kalau aku ada di rumah atau tempat yang ada komputernya aku lebih suka mencari info-info itu dengan komputerku.

Aku tahu jaman memang berubah, juga manusianya. Sah-sah saja, sepanjang kita masih bisa memilah dengan hati tentunya.

Seksi Publikasi

Seperti yang sudah kutuliskan dalam Sebulan di SMP, aku memang menjadi anggota seksi Publikasi (広報部)dari Perkumpulan Orang Tua Murid dan Guru atau disebut PTA dari SMP nya Riku. Aku bukan terpilih, tapi memang mengajukan diri, karena sebal tidak ada ortu lainnya yang mau 😀 (baca di sini). Daripada aku dapat seksi yang tidak kusukai, mending langsung minta seksi yang aku bisa dong. Tapi aku tidak mau mengajukan diri waktu rapat pertama untuk menentukan ketua dan wakil seksi. Karena dengan menjadi ketua aku harus lebih sering datang ke sekolah dalam acara-acara sekolah, padahal aku bekerja hampir setiap hari. Dan kebiasaan di sini kalau tidak ada yang mau maka diundi. Untung saja yang diundi orang tua murid kelas3 sehingga aku boleh merasa lega.

Tugas dari seksi Publikasi ini adalah menerbitkan buletin yang akan dibagikan kepada seluruh murid, guru, serta badan pendidikan terkait. Isinya mengenai kegiatan PTA di sekolah. Selama ini dalam satu tahun seksi ini mengeluarkan buletin dua kali setahun, meskipun tidak wajib. Artinya pengurus bisa menetapkan sendiri mau menerbitkan berapa edisi buletin sesuai dengan kemampuan pengurus sendiri. Dan keputusan rapat pengurus tahun ini, kami akan menerbitkan sama saja seperti kepengurusan tahun lalu. Yaitu buletin edisi summer yang dibagikan sebelum libur summer dan edisi winter yang dibagikan sebelum kenaikan kelas bulan februari. Edisi winter ini sekaligus sebagai edisi laporan dan perpisahaan untuk kelas 3. Sedangkan edisi summer biasanya merupakan edisi perkenalan bagi murid kelas 1 yang baru, sehingga berisi perkenalan guru, kegiatan ekskul dan Pesta Olahraga.  Memang kegiatan utama SMP ini adalah Pesta Olahraga yang diadakan akhir Mei dan Pertunjukan Paduan Suara pada bulan Oktober.

Yang lucunya, kalau mengikuti cara kepengurusan tahun lalu, mereka membagi seksi menjadi dua bagian yaitu yang mengurus buletin summer dan buletin winter. Jadi kerjanya cuma setengah tahun gitu. Bagus juga sih. Jadi aku memilih untuk menjadi editor pada buletin winter saja, karena memang bulan-bulan ini aku bekerja setiap hari. Yang pasti kami memang harus menuliskan “keahlian” kami apa, OS komputer, punya Word atau Adobe atau tidak, dan punya kamera atau tidak. Kamera ini penting, karena buletin ini berwarna dan memasang banyak foto!

Kami langsung mulai bekerja pada acara Pesta Olahraganya Riku yang berlangsung tanggal 23 Mei lalu. Sebelumnya kami sudah menerima “perintah” yang tertulis dalam kertas, tanggung jawab kami untuk memotret bagian-bagian apa saja. Aku mendapat tugas memotret kelas-kelas, spanduk, keseluruhan sekolah dan pertandingan lari estafet. Tapi otomatis aku memotret semua yang bisa aku ambil, karena ternyata yang mempunyai kamera besar (DSLR) hanya sedikit.

senam pemanasan

Hari H, panas terik! Aku sudah di SMP sejak pukul 8:15 pagi, meskipun sebetulnya acara mulai jam 8:45. Pengurus seksi publikasi sebetulnya boleh datang kapan saja, asalkan tugasnya selesai. Kami juga mempunyai hak khusus untuk masuk ke kelas-kelas atau ke track lari yang sebetulnya tidak ditutup untuk umum. Tentu kami memakai tanda di lengan yang bertuliskan “PERS” cieeee.

Tapi dasar kebanyakan pengurusnya (20 orang) itu ibu-ibu sehingga malu-malu untuk masuk lapangan atau mengambil foto dari tempat-tempat yang aneh. Kalau tidak panas, dan badan tidak segede aku (supaya tidak mencolok)  aku sih mau saja ke mana-mana. TAPI aku itu udah gede, orang asing lagi. Jadi berada di situ saja sudah diperhatikan orang hehehe.

Terus terang pesta olahraganya SMP tidak (begitu) menarik. Isinya LARIIIIII melulu. Jaraknya 60, 100, 400, jarak jauh, estafet dan lari rintangan…. doooh susah deh ambil foto yang menariknya karena ya itu-itu saja kan. Kami tidak boleh mengambil wajah murid secara close-up karena ada hak privasi setiap anak. Kalaupun memasang foto, harus mengusahakan supaya wajahnya tidak jelas. Nah loh bingung kan 😀 Ada sih acara yang menarik pada bagian kedua sesudah istirahat makan siang, tapi akunya sudah capek (dan tidak ada tugas), jadi ngadem di ruang PTA yang ber AC.

Foto-foto yang kami ambil kemudian dikumpulkan ke ketua seksi melalui media USB atau DVD-R untuk kemudian dipilih foto-foto mana yang bisa dan akan dipakai.

Menarik sebenarnya jika kita mau meluangkan waktu sedikit untuk ikut dalam kegiatan PTA di sekolah. Selain kita bisa mengenal orang tua kelas lain, kita juga bisa mendapat informasi-informasi mengenai “isi perut”nya sekolah yang tidak diketahui orang tua “biasa”. Selain itu, guru-guru juga lebih hormat pada kita, dan lebih memperhatikan perkembangan dan kegiatan anak-anak kita di sekolah.

saking panasnya waktu istirahat siang, lapangan sekolah disemprot air

Acara berikutnya yang perlu diliput adalah Lomba Paduan Suara di bulan Oktober. Tapi kali itu aku tidak yakin bisa memotret dengan baik karena di dalam ruangan yang cahayanya kurang bersahabat. Tapi aku ingin ikut menonton tampilan anak-anak SMP ini. Dari upacara masuk yang kuhadiri, aku melihat bahwa sekolah ini memang sangat menekankan olahraga dan paduan suara. Semoga aku tidak ada kerja hari itu, atau pas libur kuliahnya hehehe.

Daydream Believer

Tahu lagu ini? dari kelompok The Monkees dan wuih tahun pembuatannya, tahun 1967!!! (Aku belum lahir loh hehehe).

Tiba-tiba lagu ini sering mengalun di apartemenku. Memang sih, lagu ini dipakai oleh gerai Seven Eleven Jepang untuk iklan di TV dan dinyanyikan oleh Ulfuls+Iwamano Kiyoshirou, sehingga pasti kalau ada iklan Sevel itu terdengar. Tapi bukan itu saja sih, karena si Riku yang suka menyiulkan lagu itu. Apa pasal?

Ternyata lagu ini dipakai dalam pelajaran bahasa Inggris di kelasnya (1 SMP). Riku yang baru mulai belajar bahasa Inggris, masih terbata-bata membaca tulisan bahasa Inggris. Aku sendiri memang tidak pernah memaksa anak-anak untuk belajar sesuatu yang tidak disukai, jika memang itu belum saatnya. Dan aku merasa murid SD di Jepang belum perlu belajar bahasa Inggris. Karena? ya bahasa Jepang saja sudah sulit, belum tentu bisa menuliskan kanji yang distandarkan, masa mau menambah dengan sesuatu yang baru. Bahasa Inggris itu sulit loh, karena apa yang terucap kan lain dengan apa yang tertulis 😀 Padahal anak-anak ini banyak sekali menyerap kata asing yang asalnya tentu dari bahasa Inggris TAPI tertulis dalam katakana. Mabok deh.

Terutama untuk Riku, aku tidak pernah memaksakannya belajar. Karena dia lahir prematur, yang sebetulnya di harusnya lahir di angkatan kelas di bawahnya (jadi seharusnya dia masih kelas 6 sekarang). Oleh dokter anak di sini, kami diminta untuk sabar dan tidak memaksa anak prematur belajar. Karena otomatis waktu terkejar “ketinggalan” umur yaitu sekitar usia SMP, mereka akan belajar dan bertindak seperti anak yang lahir normal. Jadi, begitulah sekarang Riku baru belajar bahasa Inggris. Dan berlainan dengan Kai yang suka belajar bahasa, Riku agak cuek dalam pelajaran bahasa Inggris. Dia lebih suka bahasa Jepang, sejarah dan ilmu Sosial lainnya. Well, setiap anak memang lain kan?

Jadi, tadi pagi aku memutarkan lagu Daydream Believer-nya the Monkees di Youtube sebelum Riku berangkat ke sekolah, dan kami bertiga (Riku, aku dan papanya) jadinya ikut nyanyi terus deh. Sementara Kai yang masih ngantuk sarapan.

Aku katakan pada Riku, “Belajar lewat lagu itu asyik loh. Mama juga belajar bahasa Jepang, terutama kanji lewat lagu (karaoke). Nanti mama kasih lagu-lagu yang enak dan bagus dipelajari bahasanya” Soalnya aku merasa lirik lagu Daydream Believer itu sulit dimengerti!

Dan aku teringat waktu SMP aku juga belajar bahasa Inggris dengan menulis lirik lagu-lagunya Queen. Dan lagu yang paling “gawat” adalah “You Take my Dress (mustinya Breath) Away” (emangnya Joko Tarub hahaha)

Kamu punya lagu kenangan waktu belajar bahasa asing?

 

Satu bulan di SMP

Padahal sudah lebih dari satu bulan… hmmm begitulah kalau menunda-nunda terus, tulisannya jadi tidak rampung-rampung. Memang sibuk, tapi biasanya biarpun sibuk, pasti ada waktu yang bisa diusahakan, jika mau. Dan kali ini, aku lebih mementingkan urusan rumah daripada menulis.

OK, ceritanya Riku sudah satu bulan menjadi anak SMP. Dan kehidupan keluarga kami, terutama Riku berubah banyak. Aku sempat khawatir kalau Riku kecapekan, tapi ternyata dia bisa menikmati kehidupan barunya.

Apa sih yang berubah?

1. Siklus hidup. Secara umum, sekolah mulai pukul 8:30, dan sudah dibiasakan agar 10 menit sebelum kelas dimulai, murid-murid sudah datang dan langsung mulai membaca. Boleh membawa buku bacaan dari rumah, tapi tentu tidak boleh manga (komik). Diharapkan dengan membaca 10 menit, hati menjadi tenang dan siap mendengarkan pelajaran pertama.

Nah kalau harus berada di sekolah jam 8:20, berarti Riku harus berangkat dari rumah pukul 7:50. Berarti tidak berbeda dengan jam dia berangkat waktu SD. TAPI bedanya, letak sekolahnya jauh bo… butuh waktu minimum 20 menit, kalau jalan cepat. TAPI kurasa butuh waktu 30 menit karena setiap hari Riku membawa tas ransel yang amat sangat berat sekali. Selain buku-buku, dia harus membawa kamus, sepatu, baju olahraga (setiap hari) dan raket badminton + thermos minuman. Aku pernah mencoba mengangkat tas ranselnya, dan tidak bisa :( berat sekali.

Pulangnya sekitar jam 4 kalau tidak ada kegiatan ekstra kurikuler, dan jam 6:30 sore kalau ada ekskul. Sampai rumah jam 7 malam, makan malam dan jam 8 pergi ke bimbel seminggu dua kali. Kalau tidak ada bimbel, ya belajar dan buat PR.

2. Esktra kurikuler. Ya, Riku memilih badminton sebagai kegiatan ekstra kurikuler. Setiap murid memang tidak diwajibkan untuk mengikuti ekskul. TAPI di SMP nya Riku 90% murid mengikuti ekskul. Ada base ball, soft ball, sepak bola, tenis meja, tenis, atletik, volley, basket, kendo, musik perkusi, art, drama, pkk dan tea ceremony. Masing-masing mempunya hari berlatih yang berbeda, dan sekolah Riku terkenal dengan eskul baseball. Setiap ekskul tentu memerlukan iuran dan kostum. Kostum paling mahal adalah Kendo (meskipun bisa sewa).

Awalnya kupikir Riku akan melanjutkan basket, karena di SD dia ikut ekskul basket. TAPI di SD memang latihannya hanya seminggu sekali, sedangkan di SMP SETIAP HARI…. weleh…weleh. Dan sebelum masuk SMP memang Riku pernah nyeletuk padaku akan masuk ART (seni rupa) saja. Yah bolehlah, meskipun kutahu pasti mahal jika harus menyediakan bahan-bahan kegiatan. Ehhhh ternyata dia memilih bulu tangkis!

Ketika kutanya kenapa bukan Art, jawabannya “Isinya cewe semua… ogah!” Dan kenapa kok malah bulutangkis? “Yang ikut cuma 6 laki-laki dan 30 cewe… laki-laki sedikit tapi masih ada yang ikut. Selain itu kan badminton masih belum terkenal, jadi pertandingannya sedikit!”

Siapa bilaaaaang? Riku salah besar hehehe.

Jadi ceritanya aku pun harus ikut orientasi mengenai ekskul badminton. Ibu-ibu yang anaknya mengikuti ekskul tertentu, harus berkumpul, mendengarkan penjelasan konsuler (guru pendamping) dan harus memilih ketua ekskul Badminton yang harus menghadiri rapat umum PTA (Parent Teacher Association) keseluruhan SMP. Aku tidak bisa menjadi pengurus di ekskul karena aku sudah menjadi pengurus PTAnya.  Dalam orientasi itu aku menerima daftar agenda kegiatan ekskul tahun ini dan didalamnya sudah ada jadwal-jadwal pertandingan! Dan untuk Riku yang baru kelas satu, debut pertamanya nanti pada tanggal 17 Agustus! hedeh…..

Tapi… selama sebulan ini, aku melihat Riku rajin sekali! dia sambil pamer, bercerita bahwa dalam latihan badminton dia harus lari keliling lapangan berapa kali, harus sit up, harus jalan miring, harus macam-macam deh. Dan terus terang aku melihat perbedaan fisiknya yang cukup jelas dibandingkan waktu dia SD. Aku bangga, karena akhirnya anakku bisa menjadi “atlit” hehehe. Soalnya di keluargaku dan keluarga suamiku tidak ada yang berbakat atlit, semuanya tipe pelajar dan desk work.

3. Pelajaran.

Pasti berbeda banyak dengan SD. Sistem pelajaran yang dipegang oleh satu guru, dan satu wali kelas untuk kelancaran proses pembelajaran. Guru wali kelasnya Riku seorang perempuan, yang mengajar bahasa Jepang. Dia baru juga bertugas di SMP itu, sehingga aku senang karena biasanya guru yang baru pindah itu semangat mengajarnya masih 100% hehehe.

Aku pun mengikuti acara perkenalan kurikulum secara keseluruhan di aula dan perkenalan per kelas. Pada acara perkenalan kurikulum, kami menerima satu bundel panduan tiap pelajaran. Tujuan pelajaran, apa saja yang dipelajari, dan apa saja yang menjadi point penilaian. Secara keseluruhan semua mata pelajaran menuntut murid untuk aktif dan menyerahkan semua tugas yang diberikan. Terlambat mengumpulkan berarti minus. Jadi NILAI bukan hanya TEST, tapi kelakuan/ sikap dalam mengikuti pelajaran.

Memang kepala sekolah menekankan bahwa SMP di Jepang itu mempersiapkan lulusan SMP yang siap pakai. Maksudnya, sekolah SMP itu adalah tingkat terakhir yang termasuk dalam WAJIB BELAJAR. JADI SMP harus mendidik murid-murid untuk BISA bermasyarakat, secara akademis dan secara sosial. Dan aku sendiri sudah membuktikan bahwa murid-murid SMP di situ sopan semua. PASTI memberikan salam kepadaku kalau berpapasan! AISATSU atau memberikan salam merupakan kewajiban di Jepang! Dan aku merasa ini bagus sekali. Makanya kalau kamu masuk restoran atau Jepang, pasti akan disapa oleh pelayan dan tidak akan dicuekin saja! Itu sudah merupakan desk job setiap pekerja (dalam bidang apa saja).

Ibu-ibu di sebelahku dan aku sesekali menghela nafas mendengarkan penjelasan guru-guru terkait. Rasanya tugas sebagai anak SMP kok berat sekali. Apakah anak-anak kami bisa? Rasanya mereka masih kekanak-kanakan dua bulan yang lalu deh. hehehe

Dan waktu perkenalan di kelas, selain berkenalan pertama kali dengan guru wali kelas, kami bisa melihat wajah-wajah ibu-ibu teman sekelas untuk pertama kalinya. Wali kelas menyampaikan kegiatan kelas selama itu dan juga menyampaikan harapan-harapannya terhadap murid kelasnya. Di sini kami juga memperkenalkan kami merupakan orang tua dari (nama anak) dan dia mengikuti ekskul apa. Ternyata guru wali kelasnya Riku merupakan guru pendamping untuk ekskul drama.

Yang lucu, justru terjadi setelah acara selesai. Aku menghadap guru wali kelas karena ingin memberitahukan nomor HPku. Sebagai pengurus kelas (PTA – bagian publikasi/promosi) aku harus menjadi penyampai pesan sekolah jika terjadi apa-apa dan mengecek apakah semua orang tua sudah mendapatkan pesan itu atau tidak. Padahal aku jarang berada di rumah, sehingga kurasa sebaiknya guru dan pengurus yang lain mengetahui nomor HPku.

Nah, di situ guru wali kelasnya berkata, “Ibu… saya memang ingin bertemu dan berbicara dengan ibu… Saya dengar dari Riku bahawa ibu mengajar di universitas W ya? Saya alumni situ…” Wah, kebetulan yang menyenangkan apalagi waktu mengetahui bahwa dia sempat belajar di program master pengajaran bahasa Jepang, yang ruangnya menjadi satu dengan ruang guru yang selalu kupakai. Jangan-jangan kami sebetulnya pernah bertemu dulu hehehe.

Sebetulnya banyak juga yang ingin kuceritakan tapi sulit untuk kutulis tanpa memberikan penjelasan panjang lebar. Seperti makanan siang di sekolah (kyushoku) SMP yang berbeda dengan SD. Kalau di SD setiap anak bergiliran menjadi petugas dan memakai pakaian putih dengan topi mirip koki, kalau di SMP bukan berupa baju, tapi celemek dan bandana (kain segitiga) sebagai penutup kepala. Selain itu kalau murid SD harus membawa table mat dan handuk kecil untuk alas piring dan penyeka mulut/tangan, maka di SMP tidak perlu lagi membawa perlengkapan itu. Karena di SMP rupanya memakai baki (nampan) sehingga tidak perlu lagi table mat. Menurut Riku masakannya memang enak tapi terlalu banyak porsinya untuk dia …  Dia sepertinya sedang diet sih 😀 😀 😀

Dan hari Sabtu ini akan diadakan Pesta Olahraga (Taiikusai 体育祭) di SMPnya Riku. Cara dan lingkungan baru untuk Riku dan untukku, karena aku harus meliput kegiatan olahraga ini untuk ditulis dalam buletin. Yang pasti setiap hari sampai sabtu besok, Riku harus pergi pukul 7 pagi dan sampai di rumah pukul 7 malam!

Salam Damai di Hari Hijau

Tadi pagi, deMiyashita bangun kesiangan semua! Jam 8 aku bangun, tak lama Kai dan Riku…. yang paling akhir tentu papanya 😀 Tapi dimaklumkan karena papa kemarin menyetir seharian dari jam 9 pagi sampai jam 12 malam. Riku pun begitu sampai di rumah mengatakan:,”Besok JANGAN pergi kemana-mana naik mobil ya. BOSAN! Pinggangku rasanya mau patah. Kecuali kita naik mobil yang lebih besar dan lebih empuk!” hahaha. Aku sendiri merasa bahuku membatu karena memang hari-hari sebelumnya banyak duduk mengerjakan terjemahan juga.

Cepat-cepat aku membakar roti, mengoleskan dengan mentega dan menaburi muisjes coklat di atasnya. Kai lah yang mengucapkan kalimat ini: “Ah damainya. Bahagia ya.” Dia memang akhir-akhir ini sering mengatakan “Aku bahagia, lahir waktu damai!” Dan disambut kakaknya, “Sebetulnya deskripsi damai itu adalah jika dua orang atau lebih di sekitarmu tidak bertengkar, maka itu sudah bisa dikatakan damai!”. Doooh anak-anakku kok tiba-tiba jadi begini 😀

Hari ini adalah Hari Hijau (Midori no hi) di Jepang, salah satu hari dalam Golden Week yang merupakan hari libur beruntun di Jepang. Dulu tanggal 4 Mei hanyalah “harpitnas” Hari Kejepit antara hari peringatan UUD dan hari Anak-anak. Kemudian tanggal 29 April merupakan hari Showa, yaitu hari ulang tahun kaisar Hirohito, kaisar yang sudah meninggal. Dan karena kaisar Hirohito adalah ahli biologi peneliti Hydra yang sangat menyukai tumbuhan, maka tanggal 4 Mei dijadikan hari Hijau.

Kemarin kami pergi ke Fukushima, untuk mendapatkan cap Kastil yang ke 13 dari #100FamousCastle yang kami kumpulkan yaitu Komine Castle yang terletak di Shirakawa, Fukushima. Tadinya kami mau juga mengambil cap di Tsurugajo yang sudah pernah kami kunjungi tapi waktu itu belum punya buku Cap nya. TAPI karena jalan tol macet dan kami baru sampai di Komine Castle jam 2, kami membatalkan rencana ke Tsurugajo, dan pergi ke daerah sekitar Shirakawa, tempat Komine Castle berada. Pelataran Komine castle merupakan taman yang luas membentang. sehingga Riku sempat tiduran di kursi dan memadang langit. Inginnya sih berbaring di rumput, tapi takut dimarahin hehehe.

Riku berbaring di atas bangku taman Komine Castle

Karena diberitahu ada danau di dekat situ, kami pun menuju danau …dan wah pemandangannya begitu menyegarkan. Kami memutari danau dan akhirnya memarkirkan mobil di depan sebuah toko mochi khas Jepang. Sebetulnya aku tidak begitu suka mochi, tapi karena disajikan dalam 3 rasa, aku pun akhirnya bisa menikmatinya. Toko itu awalnya sepiiii tak ada tamu, tapi seperti biasa kalau aku masuk, pasti banyak orang yang ikut masuk, sehingga pelayannya cukup repot 😀

Nenek penjaga toko kue mochi yang berusia 100 tahun

Dan waktu kami mau membeli oleh-oleh mochi untuk dibawa pulang itulah, kami dikenalkan pada nenek penjaga etalasi itu. Seorang tamu, yang mungkin pelanggan di situlah yang mengatakan padaku bahwa nenek itu sebentar lagi akan berulang tahun yang ke 100. Suaminya meninggal waktu dia berusia 34 tahun, tapi survive terus sampai sekarang. Dan aku disuruh menyalami nenek itu supaya “ketularan” panjang umur. Si Nenek secara tidak langsung memberikan kenangan baik dalam kunjungan kami, menghapuskan kepenatan berada dalam kemacetan sebelumnya.

“Mama cepat foto itu, gunungnya memantul di sawah!” Kata Riku. Bagi kami pemandangan seperti ini membawa kedamaian di hati

Kami pun melanjutkan perjalanan melihat jinja (Kuil Shinto) dengan pemandangan sawah dan bunga-bunga selama perjalanan. Di dekatnya ada tempat untuk bermain anak-anak, dan aku mencari obyek yang bisa difoto. Ternyata ada kursi yang disediakan untuk menikmati gunung dan hutan di belakangnga. Kami melewati waktu di sini cukup lama. Sayang bunga-bunga banyak yang belum mekar.

aku suka foto ini yang diambil Kai dari belakang. Foto aku dan Riku

 

Juga waktu kami menuju kampung Ishikawa, tempat kakek dan nenek dari ibunya Gen berasal, sepanjang jalan beragam warna hijau bergradasi. Indah…dan memang terasa sekali suasana pedesaannya. Kai sempat berkata, “Pulang yukk,… kalau malam di sini ngeri, ngga ada lampu” hehehe.

hijau, hijau, hijau di mana-mana

Kami sebetulnya ingin menginap di daerah ini, tapi karena Golden Week, tidak ada hotel yang kosong. Karenanya kami pun kembali ke Tokyo, dan baru sampai rumah pukul 12 malam. Capek tapi kami membawa kedamaian dalam hati kami, yang terus bergema dalam hati kami, bahkan ketika kami melewati hari Hijau ini di rumah… eh tapi anak-anak dan Gen sempat jalan-jalan ke taman besar dekat rumah kami, dan menikmati hijaunya musim semi.

pemandangan ini juga banyak terlihat. Bendera KOI (Koi nobori) untuk memperingati Hari Anak tanggal 5 Mei

Damai itu berasal dari hati dan tentu dari lingkungan terkecil kita: keluarga. Salam Damai dari kami di Tokyo kepada semua yang membaca tulisan ini.

Pohon Wisteria di jinja Shirakawa