header-image

Twilight Express

my journey from dawn to dusk

Blog

Kucing yang Ingin Menjadi Manusia

Ini adalah judul sendratari yang dibawakan kelas 4, kelasnya Kai dalam acara pentas seni di sekolahnya. Memang bulan Oktober di Jepang merupakan bulan olahraga (Hari Olahraga pada minggu kedua Oktober), dan bulan seni. Sekolah Dasar kami menggelar pentas seni 3 tahun sekali, dan tahun ini merupakan pentas terakhir Kai yang duduk di kelas 4. Siklus 3 tahun sekali memang dimaklumi karena persiapan pentas seni ini cukup makan waktu dan bisa mengganggu target pendidikan sekolah jika dilakukan setahun sekali.

Pentas seni itu dilakukan hari Sabtu minggu lalu. Basah! Meskipun demikian masih beruntung badai  -supertaifu- belum sampai ke Tokyo. Dan karena dilakukan di dalam aula sekolah, acara tetap dilaksanakan. Banyak sekolah yang mengadakan pekan olahraga terpaksa membatalkan kegiatan mereka karena hujan. Dan entah kenapa, dalam ingatanku pentas seni 3 tahun yang lalu juga diadakan dalam kondisi hujan.

Karena pentas kelasnya Kai mendapat urutan kedua, aku berangkat cepat-cepat dari rumah supaya pas waktunya bisa masuk pada waktu pintu dibuka. Ternyata sudah cukup banyak orang tua murid yang datang dan menempati tempat duduk yang disediakan. Sedapat mungkin di depan karena mereka antusias menonton anaknya yang akan manggung. Kalau bisa satu keluarga diajak serta 😀 Paling sedikit satu anak dihadiri 2 orang (bapak-ibu), tapi tak jarang dihadiri 4 orang (bapak-ibu-kakek-nenek tambah adik/kakak) lebih. Keluarga kami hanya aku sendiri, karena Gen harus bekerja dan Riku mempunyai janji dengan teman-temannya.

Aku beruntung mendapat tempat duduk di deretan ketiga dan menikmati tampilan kelas 2 yang mempertunjukkan “Jugemu, anak bernama terlalu panjang”. Jugemu ini memang cerita klasik Jepang dan sudah kutonton beberapa kali. Tapi kali ini murid-murid kelas 2 patut kuacungi jempol. Kemasan pertunjukan yang menarik! Coba baca ringkasannya dari wikipedia:

Jugemu adalah cerita humor klasik Jepang berbentuk susunan kata pembelit lidah yang sulit untuk diucapkan dalam bahasa Jepang. Susunan kata-kata yang panjang sekali digunakan sebagai nama anak kecil (nama singkat: Jugemu). Cerita Jugemu merupakan salah satu cerita pembuka dalam seni bercerita rakugo karena merupakan permainan kata yang dapat digunakan dalam berlatih mengucapkan cerita.

Cerita Jugemu sangat sederhana. Sepasang orang tua kebingungan dalam memilih nama anak laki-laki yang baru dilahirkan. Biksu yang dikunjungi menyarankan beberapa nama untuk sang bayi yang dimulai dengan nama Jugemu. Sang ayah ternyata masih juga kebingungan, hingga akhirnya seluruh nama yang diberikan biksu dijadikan nama si anak. Pada suatu hari, Jugemu jatuh ke danau dan nyaris tidak dapat diselamatkan. Semua orang di kampung kesulitan mengucapkan nama Jugemu yang sangat panjang.

Nama lengkap Jugemu dalam romaji dan kanji (bahasa Jepang):

Romaji Kanji
Jugemu-jugemu

Gokōnosurikire
Kaijarisuigyo-no Suigyōmatsu
Unraimatsu Fūraimatsu
Kūnerutokoroni-sumutokoro
Yaburakōjino-burakōji
Paipopaipo-paiponoshūringan
Shūringanno-gūrindai
Gūrindaino-ponpokopīno-ponpokonāno
Chōkyūmeino-chōsuke

寿限無寿限無

五劫の擦り切れ
海砂利水魚の 水行末
雲来末 風来末
食う寝る処に住む処
やぶら小路のぶら小路
パイポパイポ パイポのシューリンガン
シューリンガンのグーリンダイ
グーリンダイのポンポコピーのポンポコナーの
長久命の長助

Hal yang kusayangkan adalah, aku pindah tempat duduk waktu pertunjukan Kai akan dimulai. memang ada tempat duduk matras yang disediakan di depan panggung, khusus untuk orang tua yang anaknya pentas saat itu. Diadakan pergantian setiap kelas berakhir. Karena aku melihat Kai mencari-cariku, aku menghampiri dia untuk memberitahukan keberadaanku. Dan setelah itu aku tidak bisa kembali ke tempat dudukku, dan terpaksa aku duduk di matras. Parah deh, aku tidak bisa duduk jongkok karena lutut mulai bermasalah dan menahan sakit (dan kesemutan) selama pertunjukkan berlangsung. Belum lagi aku tak bisa mengambil foto atau video tanpa terhalang orang tua lainnya.

Tapi secara keseluruhan pentas kelasnya Kai cukup bagus. Semua jalan cerita, kostum, tata lampu, musik, tata suara, pergantian latar dilakukan sendiri oleh anak-anak. Sehingga terjadi peralihan adengan yang cukup lama, karena memang panggung gelap sekali. Tapi penggunaan lampu cukup menarik, menyesuaikan adegan demi adegan. Dan aku cukup senang Kai bisa bersuara keras membawakan lakonnya, dan ikut menari dengan terampil. Dia menjadi pandai besi dalam cerita itu (sebagai salah satu warga saja sih) .

Yang menarik, aku mencari alur cerita “Kucing yang Ingin Menjadi Manusia” di google (dalam bahasa Indonesia) tapi tidak menemukannya. Padahal cerita ini merupakan cerita terjemahan dari The Cat Who Wished to Be a Man karangan Loyd Chuddley Alexander, seorang pengarang buku anak-anak terkenal dari Amerika (Pennsylvania)

Lionel, a housecat given the power of speech by the magician Stephanus, begs his master to turn him into a man. After many objections concerning the depravity of humans, Stephanus relents; and the transformed Lionel begins his adventures to town of Brightford. The mayor and his officers are plaguing Brightford with capricious rule and economic hardship. The mayor is especially covetous of the inn belonging to Gillian, with whom Lionel begins a rocky friendship. Lionel becomes entangled in the struggles of Brightford, and escalates the conflicts between the mayor and the people, while falling in love with Gillian as he becomes more and more human. (wikipedia)

Menarik! Aku sendiri benar-benar salut pada Jepang yang banyak menerjemahkan dan mengadaptasi cerita-cerita dari seluruh dunia. Benar aku merasa kaya di sini karena secara tidak langsung (melalui anak-anakku) aku banyak mengenal sastra dunia. Mungkin kalau aku di Indonesia, tidak akan mengetahui cerita-cerita yang sebetulnya merupakan karya terkenal di luar negeri.

Dari cerita drama ini, ada satu bagian yang benar-benar menyentuh hatiku adalah ucapan lakon sarjana (yang kira-kira seperti ini) : “Lionel, seekor kucing yang mempunyai jiwa manusia. Manusia sendiri belum tentu bisa. Manusia lahir sebagai manusia, melewati perjalanan panjang, pengalaman menyenangkan dan menyedihkan, serta pembelajaran yang panjang baru bisa menjadi seorang manusia sejati. ”

Ya, dikatakan bahwa masih banyak manusia yang belum menjadi manusia seutuhnya.

Masih banyak orang Indonesia yang belum bisa menjadi manusia Indonesia seutuhnya, yang menyadari bahwa dirinya bagian dari komunitas beragam, dan untuk hidup bersama perlu tepaselira, bertoleransi dalam berinteraksi dengan sesamanya.

Masih banyak orang Indonesia yang belum menghargai usaha-usaha para pendahulu untuk menyatukan Indonesia dengan pernyataan, “Berbahasa satu Bahasa Indonesia”. Aku sedih membaca timeline seperti “Anak-anak jaman now”.. apa itu? Mengapa dalam satu kalimat bahasa Indonesia, bercampur kata-kata bahasa Inggris yang tidak seharusnya. Hei! Banggalah berbahasa Indonesia, dan tugas kita untuk menaikkan martabat bahasa Indonesia. ( mengenang Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928) . Pakailah KBBI! FYI Dalam menulis posting ini aku memeriksa KBBI paling sedikit 10 kali untuk mengecek penulisan yang benar. Contohnya: adegan atau adengan 😀

Satu tambahan lagi,

Masih banyak narablog yang melupakan tugasnya untuk memajukan Indonesia dengan tulisan-tulisannya. Termasuk aku yang akhir-akhir ini absen menulis dikarenakan kesibukan di dunia nyata. Padahal kalau saja aku mau “menutup mata” sedikit, mengorbankan waktuku 1 jam, pasti bisa. Seperti hari ini kupaksakan bangun pukul 4 pagi, karena memang niat menulis dalam rangka “Hari Blogger Nasional”, dan mengingat kembali tulisanku di blog sahabat Donny Verdian yang ini: “Blogger sampai Mati“. Ah, Donny memang narablog sejati! Ssst Don…. aku masih blogger kok, meskipun hanya bisa menulis sekali sebulan, untuk sementara ini…

Satu tulisan yang padat tujuan kuakhiri dan mungkin akan menjadi tulisan terakhir di bulan Oktober. Semoga November bisa menulis lagi meskipun cuma satu.

 

 

PUN = plesetan

Apa pula PUN itu?

Sebetulnya hari ini aku mau menulis soal goroawase 語呂合わせ, yaitu pemudahan pengucapan sebuah kata/huruf atau angka. Dan kalau mencari bahasa Inggrisnya adalah “pun”, yang diterjemahkan menjadi “plesetan”. Hmmm jauh juga ya pengertiannya.

Goroawase sulit diterima oleh orang Indonesia karena dalam bahasa Indonesia memang cuma ada “pelesetan” itu. Jadi contohnya terbatas. Aku sendiri kalau ditanya apa contoh goroawase dalam bahasa Indonesia, paling-paling teringat mejikuhibiniu. Padahal dalam bahasa Jepang cukup banyak, dan biasanya dipakai untuk menghafal deretan angka, atau menyingkat kata. Yang paling sering dipakai adalah 39 yang dibaca san-kyu = Thank You. atau 4649 dibaca yo-ro-shi-ku. Dan ssst aku kasih tahu kata sandi ipadku supaya Kai tidak bisa buka yaitu Sa-i-ko-ro 3156 loh hehehe

Nah hari ini tanggal 2 September kalau ditulis ala Jepang menjadi 9-2 yang bisa dibaca menjadi KU-JI. Merupakan peringatan hari KUJI atau undian. Tanggal ini ditetapkan menjadi hari (takara)kuji oleh Daiichikangin (Mizuho Bank sekarang) pada tahun 1967.

Yang kedua 9-2 ini juga bisa dibaca menjadi hari KU-TSU (Tsu adalah pelafalan bahasa Inggris untuk 2) sedangkan kutsu sendiri berarti sepatu. Tanggal ini ditetapkan oleh perusahan sepatu DIANA pada tahun 1992 (wah kutsu lagi deh 😀 )

Goroawase ini memudahkan kita untuk menghafal angka-angka, apalagi jika angkanya banyak.

 

Mitigasi Bencana

Hari ini tanggal 1 September adalah hari Mitigasi Bencana, Disaster Prevention Day atau bahasa Jepangnya Bousai no Hi 防災の日. Hari ini ditetapkan sebagai Hari Mitigasi Bencana karena pada hari ini tahun 1928, tepat pukul 11:58 siang terjadi Gempa Bumi Besar Kanto. Jadi biasanya hari ini dilakukan latihan-latihan menghadapi bencana di seluruh Jepang.

Tapi karena hari ini hari biasa, dan tepat hari masuknya murid-murid di daerah kami, latihan bencana sudah dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu yang lalu. Kebetulan SMP nya Riku menjadi pusat pengungsian daerah kami jika terjadi bencana, jadi pemda kami mengadakan latihan di SMP pada hari Sabtu lalu (26 Agustus) . Karena aku termasuk dalam pengurus inti PTA di SMP, sebagai tuan rumah kami wajib datang dan ikut bertugas dalam latihan mitigasi tersebut.

Kami diminta berkumpul pukul 9 pagi, dan hari itu dibanding hari sebelumnya cukup panas! Kami diberi tugas memasak nasi alpha yang pernah aku tulis di Nasi Jadi. Nasi Alpha ini cukup diberi air panas dan ditunggu 15 menit, jadi! Tapi kalau yang aku pernah punya ukuran 1 orang, kami harus menyediakan untuk 50-60 orang (ada 4 kelompok jadi membuat nasi untuk 300 orang). Jadi di dalam satu  kardus besar. Setelah nasi itu jadi, kami masukkan dalam plastik untuk dibagikan.

Sebetulnya acara hari itu sampai pukul 11:30, tapi karena aku harus pergi ke Saitama mencari sekolah SMA untuk Riku jadi aku minta ijin pulang duluan pukul 10 pagi.

gunting dari kertas

Ada satu yang aku perhatikan. Waktu membuka kardus berisi beras yang terdapat dalam plastik alumunium itu, selain tersedia sarung tangan plastik, plastik untuk pembagian nasi, sendok kecil, karet gelang untuk menutup plastik ada juga GUNTING DARI KERTAS. Gunting itu cukup memadai untuk membuka plastik itu. Hebat ya, orang Jepang itu memikirkan semuanya sampai ke detail begitu.

Penelitian Bebas

Liburan musim panas sudah selesai! Ya hari ini adalah hari terakhir liburan musim panas. Dalam 2-3 hari belakangan ini amat terasa jalanan dan stasiun jauuuuh lebih sepi dibandingkan awal-awal liburan di awal Agustus yang penuh dengan anak-anak dengan ibunya. Mungkin mereka sedang berkutat membuat PR liburan musim panas di rumah ya? Anak sulungku berkata, “Seperti lebih bagus tidak ada liburan musim panas deh, karena liburan musim panas itu PR nya banyaaaaak sekali. Menyebalkan!” hehehe. Yang pasti memang anak-anakku seperti itu, berkutat pada hari terakhir liburan! Padahal  PR (Matematika, bahasa, IPS dll) yang diberikan gurunya sudah dicicil , tapi tetap saja ada yang mesti dikerjakan di hari-hari terakhir.

PR yang dikerjakan terakhir itu biasanya “Penelitian Bebas” atau “penelitian mandiri”, 自由研究 Jiyu Kenkyu bahasa Jepangnya. Murid-murid dibebaskan untuk mengadakan penelitian apa saja. Bisa memperhatikan bintang di langit . Bisa membuat resep baru, membuat jahitan atau prakarya, atau membuat laporan. Memang anak-anak deMiyashita biasanya membuat laporan, kecuali Kai tahun lalu membuat specimen kupu-kupu. Dulu Riku waktu kelas 4 SD membuat laporan penelitian tentang Mangrove di Jakarta, sedangkan Kai sekarang menulis laporan tentang Dr. Noguchi Hideyo (1876-1928), bacteriologist Jepang yang wajahnya terpampang di uang kertas 1000 yen.

Untuk menulis laporan itu, kami memang pergi ke Inawashiro, Fukushima dan mendatangi Museum Memorial Noguchi Hideyo, Museum waktu Noguchi muda di kota Aizu Wakamatsu. Kemudian Kai dan papanya sempat juga pergi ke Museum tempat penelitian Noguchi di Yokohama. Memang ada 3 tempat yang merekam aktivitas Dr Noguchi sejak lahir sampai meninggal. Jadi kunjungan ini pun menjadi tulisan utama dalam laporan Kai. Kai sendiri memang suka membaca biografi Dr. Noguchi sampai diulang berkali-kali.

Saat ini pukul 22:56, dan Kai masih menulis laporan itu secara detail. Sudah kukatakan tidak usah terlalu detail karena dia akan memasang banyak foto, tapi sepertinya anakku itu keras kepala seperti emaknya, dan mau sesempurna mungkin. yang kasihanmamanya kan harus menunggu dan membantu dia mencetak dan memasang foto-foto yang dia ambil itu 😀 Dan…. sambil menemani Kai aku pun teringat pada mamaku. Dulu pun dia sering menemani kami mengerjakan tugas-tugas, dan bahkan membantu lebih dari 50% karena si anak sudah terkantuk-kantuk 😀 Pekerjaan seorang ibu dari masa ke masa memang sama ya?

Tapi aku memang kagum dengan sekolah di Jepang yang memberikan tugas seperti penelitian bebas ini, BUKAN hanya dengan tugas mengarang “Liburanku” saja 😀

di depan rumah asli Dr Noguchi

Kasihanilah Aku

Gara-gara melihat sebuah tulisan di lini masaku, jadi teringat suatu percakapan dengan anak bungsuku. Sudah cukup lama berlalu tapi memang ingin kutuliskan.

Jadi di lini masa media sosial itu ramai tentang cerita bahwa ada seorang ibu-ibu yang naik kereta di Indonesia. Karena tidak ada tempat duduk, dia berdiri di depan seorang pemuda yang duduk. Bukan gerbong wanita, dan si wanita itu dengan suara keras mengatakan yang intinya, si pemuda tidak boleh duduk karena dia laki-laki.  Si pemuda tidak mau bertengkar, jadi memberikan tempatnya pada si ibu. Tapi waktu ada kursi di sebelahnya kosong, si wanita tidak memperbolehkan laki-laki duduk di sebelahnya. Intinya: laki-laki tidak ada  yang boleh duduk.  Haduh…. kalau yang begini sih mungkin sudah korslet ya? Tidak cocok untuk feminisme atau pejuang gender dong 😀  Sebagai tambahan cukup banyak loh lansia di Jepang yang tidak mau duduk meskipun sudah ditawarkan. Alasannya, “Saya masih sehat dan kuat, sedangkan kamu sudah capek bekerja seharian”. Hebat ya lansia itu…..

Nah, yang membuatku teringat pada anak bungsuku, yaitu waktu dia bercakap-cakap dengan kami.

Hadairo 肌色 itu warna apa sih pa?”

jreng…..

Jadi memang di Jepang selain warna akai 赤い (merah),  aoi 青い (biru), midori 緑 (hijau), kuro 黒 (hitam), kiiro 黄色 (kuning) dll, dulu ada warna yang bernama hadairo 肌色. Aku ingat sekali di susunan crayon/pensil warna untuk Riku dulu, ada yang namanya hadairo. Yaitu warna pink muda R- 246 G-222 B 197 yang dianggap warna yang mewakili kulit orang Jepang. Nah, Kai lahir 4 tahun setelah Riku dan memang waktu itu aku tidak melihat lagi nama warna hadairo.

hadairo … warna kulit orang Jepang…dulu 🙂

“Itu warna seperti pink muda, Kai. Warna kulitnya orang Jepang”

“Seperti apa ya? Aku tidak tahu!”

“Ya, dulu ada. Nanti deh mama kasih liat di rumah ya”

Papa G menyahut,

“Warna hadairo itu sekarang diganti menjadi …”

“Usudaidai…. ” Kai menyela

“Nah itu tahu kok. Ya hadairo itu usudaidai

“Mulai kapan ganti nama?”

“Nah itu musti cari dulu. Tapi kenapa hadairo diganti namanya yang penting. Karena ternyata orang Jepang sekarang warna kulitnya sudah banyak yang berubah. Tapi selain itu, kita tidak bisa menentukan warna kulit seseorang sebagai satu warna hadairo. Karena hada=kulit, warna kulit. Sedangkan warna kulit orang di dunia ini kan banyaaaaaak sekali! Itu menjadi bahasa diskriminasi/sabetsu 差別用語. Karena itu diganti menjadi usudaidai

Rupanya pergerakan untuk menghapus kata yang diskriminatif ini sudah mulai pada November tahun 1998 dengan sebuah artikel di harian Yomiuri yang mengangkat penamaan warna baru dari produsen craypas Pentel. Kemudian tahun berikutnya pada harian Asahi, dikatakan bahwa nama warna hadairo sudah dibuah oleh Pentel menjadi “pale orange”. Baru kemudian tahun 2000, tiga perusahaan produsen pensil/crayon/spidol yaitu Mitsubishi, Sakura dan Tombow mengganti hadairo menjadi usudaidai (daidai secara umum dikenal sebagai warna oranye, sedangkan usu = muda, jadi oranye muda). Tidak diketahui siapa yang menentukan penamaan warna itu. Tapi lucunya dalam kamus warna yang diterbitkan tahun 2005, tidak tercantum nama “usudaidai” atau “pale orange” sama sekali.

Memang di Jepang sekarang banyak penamaan yang diganti karena mengandung kata-kata diskriminatif. Sebuah pergerakan yang kukagumi karena memang seharusnya kita tidak melukai hati orang lain, bukan? Di Indonesia sendiri yang kuketahui sudah ada pemakaian kata pramu- atau tuna- menggantikan nama penderita yang tidak seperti manusia normal.

Nah, kembali ke percakapan dengan Kai, suamiku memberikan ilustrasi lain yang cukup membuat kami berpikir.

“Dalam kereta pagi hari. Banyak pegawai yang masih kecapekan dan ngantuk karena malam sebelumnya bekerja sampai larut. Lalu muncul lansia yang berpakaian untuk hiking (memang banyak lansia Jepang amat sangat kuat dan sehat bahkan mampu mendaki gunung). Berdiri di depan silver seat, di depan pegawai-pegawai yang lelah itu, sambil mengharapkan diberikan tempat duduk oleh penumpang yang lebih muda itu. Coba bandingkan si tua sehat semangat untuk mendaki itu…. bukankah kekuatannya jauh lebih banyak daripada pegawai yang kecapekan itu?”

Kai tertawa, tapi aku tidak… bahkan memikirkan hal itu. Memang benar, lansia Jepang itu jauh lebih tua tapi jauh lebih sehat. Akankah aku bisa tetap sehat dan kuat seperti mereka jika umurku mencapai umur yang sama dengan mereka?

Kejadian di kereta Jepang dan Indonesia…. penuh dengan kontradiksi dan pemikiran. Jenis kelamin, warna kulit, umur, seharusnya memang tidak menjadi suatu yang perlu dipertentangkan, atau dijadikan sebagai alasan. 

 

Tukar Informasi

Biasanya aku hari Jumat memang mengajar. Tapi karena hari ini universitas S tempatku bekerja menyelenggarakan festival kampus, maka aku hanya mengajar sampai jam 12. Dengan agak terburu-buru aku menuju ke Nerima, kelurahanku, tepatnya sebuah sekolah SMP dekat Kantor Pemdanya. Karena mulai pukul 2 ada acara yang bertajuk: “Pertemuan Tukar Informasi antar PTA SMP”.

Dari 34 SMP milik pemda, sedikitnya 5 orang perwakilan pengurus (inti) PTA dan seorang kepala sekolahnya berkumpul dalam kegiatan ini. Dalam sambutannya, ketua komite pendidikan menyatakan pentingnya peran orang tua yang tergabung dalam PTA karena dalam setiap kegiatan terlihat kehadiran PTA. Apalagi tahun ini banyak sekali sekolah yang merayakan ulang tahun ke 70 (Kelurahanku ini memang baru berusia 70 tahun), sehingga bantuan dari orang tua sangat penting. 

Kami dibagi menjadi 15 grup, dan masing-masing grup diminta untuk membicarakan topik tertentu yang intinya bertujuan untuk “memikirkan bagaimana membuat lingkungan belajar yang lebih baik bagi murid SMP”. Ada beberapa kata kunci yang dipakai, misalnya Smartphone, pemilihan SMA, masa puber, hubungan pertemanan, PTA dan lain-lain.

Grup aku hanya membicarakan tentang Smart phone, yang ternyata dari 4 ibu, 2 memberikan smart phone pada anaknya, sedangkan aku dan satu ibu lagi menegaskan bahwa smart phone baru boleh diberikan waktu SMA. Tapi kami berdua mengijinkan pemakaian ipad/ipod di rumah dengan aturan yang sudah ditentukan. Semisal: orang tua BOLEH melihat percakapan di Line, atau pembatasan waktu hanya sampai pukul 9-10 malam kemudian piranti itu diletakkan di ruang tamu. Masalah smart phone ini memang agak rumit karena di satu pihak kita tidak bisa memungkiri bahwa smartphone merupakan kemajuan jaman yang harus bisa diterima, tapi di pihak lain smartphone membawa dampak negatif bagi anak atau lingkungannya. Cukup banyak anak yang ternyata kurang tidur karena terlalu banyak pakai LINE.

Tapi sebetulnya selain masalah smartphone, kami juga menyinggung masa puber dan aku merasa lega bahwa anakku tidak menunjukkan masa-masa perlawanan terhadap orang tua (atau belum). Dari pembicaraan di grup, aku juga bisa melihat bahwa kebanyakan yang bermasalah dengan smartphone justru murid perempuan. Karena mereka rentan terhadap godaan pria yang lebih tua, dan mereka sendiri juga membuat gank-gank kelompok yang lebih rumit dibandingkan murid laki-laki.

Lima belas grup kemudian membawakan hasil pembicaraan dan mempresentasikan di depan semua peserta selama 3 menit. Sehingga kami juga bisa mengetahui apa yang dibicarakan grup lain. Dari presentasi 15 grup ini aku bisa tahu mereka juga membahas sulitnya meminta orang tua murid untuk menjadi pengurus PTA. Ada saja orang tua yang memakai alasan “sibuk” padahal sebetulnya mereka melepaskan tanggung jawab pendidikan kepada sekolah saja! Tidak mau tahu! Aku pribadi merasa dengan menjadi pengurus PTA, kita secara tidak langsung bisa memonitor pelaksanaan pendidikan di sekolah, yang orang tua lainnya tidak bisa lihat.

Aku selalu kagum dengan pendidikan di sini, yang amat menekankan pemberian salam. Setiap aku ke sekolah, murid yang berpapasan PASTI memberi salam “selamat pagi/siang”. Mereka juga harus memberikan hormat kepada guru. Bukan dengan salut menaruh tangan di dahi, tapi dengan menunduk jika bertemu dan pasti melihat wajah guru yang sedang bicara. Ah, aku jadi teringat pada pendidikan Sr Bertine yang sama persis! Bahagianya aku pernah mendapatkan disiplin yang bisa terus kubawa sampai sekarang.

Ada satu lagi yang menarik dari presentasi tadi, yaitu bahwa bahasa murid-murid yang menjadi buruk. Yaitu dengan timbulnya kata-kata baru yang menjadi trend. Dan satu kata yang sempat kucatat adalah: Majipane まじぱね。 Yang setelah kutanya pada Riku artinya : Benar-benar hebat, singkatan dari Maji Hampa Janai マジ半端じゃない! (Dan disambung Riku bahwa yang sering pakai biasanya anak perempuan yang guoblok hahaha. Anakku itu benar-benar suka “merendahkan” cewek-cewek yang sukanya cekikan dan tidak suka belajar, atau paling sedikit bisa menggunakan bahasa yang baik 😀 Sasuga anak dosen bahasa hahaha)

Cukup capek 3 jam mengikuti acara itu, tapi yang membuatku capek sekali sebetulnya adalah duduk di tatami selama 1 jam penuh. Mati rasa deh kakiku, meskipun sudah berusaha ganti-ganti posisi. Dasar orang asing yang tidak terbiasa duduk di tatami sih 😀

Tulisan pertama di bulan Juni, pada hari terakhir.

Dua menit lagi bulan Juni habis, jadi sekian dulu yaaaaa

 

Hari Museum

Tulis pendek saja deh, sebetulnya mau tulis sebagai status di FB, tapi kok sebagai status kepanjangan juga hehehe.

Hari ini tanggal 20 Mei adalah hari Kebangkitan Nasional. Karena ini hari peringatan yang cukup besar, sudah banyak orang yang menanggapinya sehingga saya rasa saya tidak perlu menulis tentang tanggal 20 Mei. Tapi ada yang mengusik saya tentang hari peringatan yang sudah lewat yaitu tanggal 18 Mei yang merupakan Hari Museum Internasional. Terutama waktu membaca status teman saya yang memang pecinta museum Retty  yang mengingatkan tentang hari peringatan ini.

Langsung aku mencari informasinya dengan bantuan paman google, dan menemukan bahwa memang tanggal 18 Mei itu ditentukan sebagai hari Museum Internasional oleh ICOM (International Council of Museum) sejak tahun 1977, tapi tidak diberitahukan mengapa dipilih tanggal 18 Mei.

Tapi aku menemukan juga bahwa Museum Gajah (Museum Nasional) kita merayakan ulang tahun yang ke 239 tepat tanggal 18 Mei. Otomatis kupikir hari Museum Nasional itu mestinya sama dong ya? Eh ternyata hari Museum Nasional itu dirayakan tanggal 12 Oktober. Karena ditentukan dalam  Musyawarah Museum se-Indonesia (MMI) yang pertama yang diselenggarakan pada 12-14 Oktober 1962 di Yogyakarta. Coba waktu itu ditentukan sesuai ultahnya Museum Nasional, kan bisa bilang yang Internasional ngikut kita :D.

Anyway, hari ini aku mendapat satu link lagi yang memberitahukan soal patung Gajah pada Museum Nasional. Karena ada patung Gajah itulah museum kita disebut Museum Gajah. Tapi ternyata satu patung Gajah yang katanya merupakan hadiah dari Thailand, ternyata merupakan hasil “tukar-tambah” dengan arca-arca berharga dari Borobudur. Silakan baca detilnya di sini : http://historia.id/kuno/harga-mahal-di-balik-patung-gajah-museum-nasional

Sudah lama aku tidak ke museum, dan hari ini aku diajak pergi ke Museum Sastra di Yokohama atau Kamakura nih oleh Gen hehehe.

Kamu kapan terakhir ke museum?

Naik Pangkat

Sebetulnya mungkin lebih cocok naik kelas, tapi aku mau pakai naik pangkat saja ah…. Dan bukan, bukan cerita tentang suamiku naik pangkat di pekerjaannya. Tapi tentang aku 😀

Anak-anak naik kelas. Mulai bulan April 2017, Riku menjadi kelas 3 SMP dan Kai 4 SD. Wajar saja peristiwanya, toh setiap tahun memang harus naik kelas ya? Karena masih sebagai murid! Kalau aku? Mau naik kelas bagaimana lagi? Sudah mentok 😀 Tapi memang komposisi jam pelajaran yang harus aku pegang bertambah sedikit, di 3 kampus, 1 lembaga pemerintah, 1 kursus yang dikelola KBRI-Japinda. Selain mengajar, masih harus mengurus organisasi kristen, kegiatan gereja, tentu selain mengurus rumah ya 😀 (kadang lupa sih bahwa masih ada rumah yang harus diurus hehehe, karena yang penting dapur dan meja makan saja harus disulap setiap hari). Nah, tapi sesuai judulnya, tahun ini aku naik pangkat!

Seorang teman Miyamoto namanya, ibu ini tomboy sekali. Anaknya laki-laki, dulu waktu TK anaknya satu kelas dengan Riku. SD nya beda, sehingga waktu masuk SMP yang sama, kami merasa seperti “teman lama”. Apalagi namaku Miyashita, sama-sama masuk di seksi publikasi 2 tahun yang lalu. Dan kamu berdua sering hadir di acara-acara sekolah dengan kamera kami, sehingga diberi nama “Miya-combi” 😀

Aku, “Miyamoto san, ayo masuk kegiatan PTA lagi (dulu kami janjian untuk masuk seksi publikasi lagi di kelas 3)”
Dia, “Maaf, aku tahun ini tidak bisa ikut PTA. Karena aku jadi ketua seksi di PTA SMA (anak tertuanya sudah masuk SMA). Jadi untuk SMP tahun ini aku pas deh. Soalnya sudah NAIK PANGKAT 出世!”

Kami berdua tertawa, karena ya memang istilah Shusse Naik Pangkat itu terasa pas untuk kondisi kami berdua. Dia sibuknya sekarang di SMA, naik pangkatlah dari SMP. Sedangkan aku? aku masih tetap di SMP, tapi aku sekarang menjadi PEJABAT (pengurus inti) di PTA SMP hehehe.

Pas pulangnya, aku mendapat inbox dari teman di Tokyo, Zya, “Mbaaaak aku disuruh jadi wakil ketua PTA, padahal aku tidak bisa bahasa Jepang!”
“PTA apa TK atau SD?”
“SD”
Aku memang tidak menyarankan ibu-ibu Indonesia menjadi pengurus PTA di sekolah di Jepang, kalau tidak bisa bahasa Jepang. Karena mau tidak mau semua komunikasi, baik lisan atau tertulis dengan bahasa Jepang. Tapi teman-teman  Zya itu berkata akan membantu…. ya mungkin bisa dicoba saja, kataku. Dan ternyata Zya menerima tugas sebagai wakil ketua dan bahkan sudah ikut rapat-rapat yang diterjemahkan oleh yang hadir. Hebat! Dan aku ikut merasa bangga  dengan Zya  dan senang mendengar dia sudah merasakan persahabatan tulus dari teman-teman Jepangnya sejak dia menjadi pengurus PTA.

PTA itu apa sih? Dalam bahasa Inggris Parent Teacher Association. Bahasa Jepangnya 父母と教職員の会 Fubo to kyoshokuin no kai. Perkumpulan orang tua murid dan guru, yang fungsinya untuk membantu kelancaran jalannya pendidikan di sekolah. Dan PTA ini di Jepang cukup mempunyai andil dalam pendidikan sekolah, meskipun tentu kadarnya berbeda antara sekolah negeri dan sekolah swasta, juga menurut jenjang pendidikannya. PTA di TK tentu tidak seaktif jenjang-jenjang di atasnya. Tapi menurutku selama aku mengikuti kegiatan kepengurusan PTA, PTA di TK membutuhkan keterampilan yang menunjang kegiatan anak-anak. Menjahit atau kreasi yang lucu-lucu ditambah dengan tenaga ekstra. Membantu anak-anak dalam acara olahraga dan kesenian itu memerlukan tenaga yang tidak sedikit.

PTA SD lebih teratur, lebih memakai pemikiran. Meskipun kegiatannya biasanya sudah pasti yaitu pengejawantahan kegiatan  dengan 3 unsur: membantu pendidikan murid (kegiatan dalam sekolah), pendidikan orang tua (kegiatan untuk diri sendiri) dan pendidikan masyarakat (kegiatan yang melibatkan warga sekitar). Kebetulan di SD kami tidak mengikuti asosiasi PTA SD sehingga kegiatannya dalam setahun tidak begitu banyak. Waktu Riku SD, aku menjadi pengurus PTA untuk seksi kegiatan siswa, yang kerjanya antara lain mengumpulkan tutup botol, tanda bellmark dll.

PTA SMP lebih sulit, lebih banyak kegiatannya daripada SD. Karena biasanya juga menjadi anggota dari asosiasi PTA, jadi sudah pasti Ketua PTA akan bertambah lagi tugasnya untuk menghadiri kegiatan asosiasi PTA, yang dihadiri juga oleh komite pendidikan daerah. Selama tiga tahun di SMP, kebetulan sekali ketua PTA nya sama, seorang bapak yang cukup slengekan. Waktu Riku kelas 1, aku masuk ke seksi publikasi dan tugasnya seksi ini cukup sulit. Seperti yang tadi aku sudah tulis, tadinya aku mau masuk seksi publikasi lagi di kelas 3, sebelum Riku lulus dari sekolah itu. TAPI pada akhir tahun kelas 2 (sekitar bulan Oktober 2016), aku terjerat undian! Sehingga aku terpaksa berkumpul bersama orang-orang lain yang terjerat undian, untuk memilih “pejabat” kepengurusan inti. Karena pos ketua sudah ada, masih harus memilih untuk pos wakil ketua 副会長, sekretaris 書記 dan bendahara 会計. Terpaksalah aku datang, dan tidak betah berada dalam ruangan dengan sekitar 25 orang “terpilih paksa”. Kebetulan ada satu teman yang waktu kelas 1 kami bersama-sama mengajukan diri jadi pengurus PTA. Dia memang terlihat pandai dan sudah berpengalaman berorganisasi. Dia langsung mengajukan diri menjadi wakil ketua.

Nah pos yang tersisa adalah sekretaris dan bendahara deh, dan aku memang tidak suka pada kondisi semua diam, tidak mau menjadi pengurus. Memang semua sibuk, tidak ada ibu-ibu yang tidak sibuk di Jepang! Tapi akhirnya karena ada ibu di sebelahku sudah mulai menangis (dia selain harus kerja dan urus rumah tangganya, juga harus merawat orang tuanya yang sudah jompo), aku akhirnya angkat tangan dan bersedia menjadi sekretaris. Toh buatku tidak masalah menulis (mengetik) bahasa Jepang dan membuat laporan, termasuk mencetaknya dengan lithograf (stensilan). Malah sebetulnya aku cukup senang bekerja seperti itu. Begitu namaku ditulis di papan, akhirnya pos-pos lainnya terisi juga. Mungkin mereka malu juga ada orang asing yang bersedia hehehehe.

Jadi aku menjadi “pejabat” di PTA, dan mulai rapat pertama kali bulan Februari. 1 Ketua, 2 wakil ketua, 3 sekretaris dan 2 bendahara, 8 orang yang harus mengatur kegiatan selama 1 tahun. Pada rapat pertama itu saja kami sudah mabok melihat agenda kerja kami selama setahun, dan aku merasa beruntung pekerjaan sekretaris dilakukan bertiga (aku dan seorang menguasai komputer sedangkan yang satunya lebih banyak waktu untuk wara-wiri mengambil surat, fotokopi, menghubungi kepala sekolah dll).

Tugas pertama kami adalah menghadiri upacara penerimaan murid baru sebagai tamu! Wah pertama kalinya aku harus ikut berbaris masuk dan duduk bersama undangan kepala sekolah-kepala sekolah dan pejabat sekolah lain yang diundang. Barisan kami ini disambut dengan tepuk tangan 800 murid dan orang tua murid kelas 1 (SMP di tempatku cukup besar, 1 angkatan ada 6 kelas dengan murid 1 kelas 40 orang) . Aku tentu saja yang paling belakang, tapi rasanya tetap saja deh malu hehehe. Duduk di barisan depan tentu lain rasanya dibanding duduk di bangku orang tua biasa. Ada satu yang aku sadari dan perhatikan waktu menjadi “tamu” itu. Yaitu bahwa setiap orang yang maju ke depan pasti menunduk menghormat ke arah orang tua dan guru-guru/kepala sekolah. Tapi kepala sekolah, sebagai yang paling “tinggi” kedudukannya selain menghormat ke orang tua, juga menghormat ke BENDERA! Ya, SMP kami SMP milik pemerintah daerah, jadi ada bendera Jepang dan bendera pemda. Guru-guru adalah pegawai negeri sehingga menghormat kepada “pemerintah” yang diwakili oleh bendera.

Setelah upacara penerimaan murid baru, kami langsung mengumpulkan orang tua murid per kelas, untuk memilih wakil-wakil per kelas yang akan bergabung dalam 4 seksi. Memang tidak semua orang tua mempunyai kemampuan dan kesadaran bahwa PTA itu adalah kegiatan untuk anak mereka sendiri. Pada dasarnya tidak ada pemaksaan, tapi kalau tidak ada yang bersedia biasanya dipakai cara undian.

Cara pemilihan seperti ini juga dilaksanakan untuk kelas 2 dan kelas 3, setelah itu pada tgl 27 April lalu kami mengadakan rapat besar untuk menentukan ketua dan wakil seksi, sekaligus perkenalan dengan kepala sekolah. Yang aku kagum, setiap ada rapat, tidak pernah bertele-tele, semuanya sudah diagendakan (dan agenda ini sekretaris yang buat). Pada umumnya rapat bisa selesai dalam 1 jam. Sehingga hari itu bisa menyelesaikan dua rapat, rapat penentuan ketua/wakil serta rapat koordinasi penentuan kegiatan seksi. Mulai jam 9 dan jam 11 aku sudah bisa kembali ke ruang kerja PTA untuk menyelesaikan pengisian daftar nama serta surat pemberitahuan yang harus diprint untuk dibagikan ke seluruh murid. Jam 12 aku menunggu bus (yang tak kunjung datang) sampai akhirnya aku panggil taksi karena ada harus mengajar jam 1. Untuk letak universitas W tidak jauh sehingga untuk perjalanan cukup 30 menit (tanpa makan siang deh hehehe).

Selain tepat waktu (waktu terorganisir dengan baik), setiap pengurus tidak ada yang membiarkan orang lain bekerja sendiri. Semua saling membantu sehingga pekerjaan cepat selesai. Dan aku baru tahu bahwa ternyata orang Jepang yang pekerja, lebih suka membuat laporan memakai program excel daripada word! Aku sendiri lebih menguasai Word karena memang pekerjaanku lebih bersifat penulisan tanpa perlu spread sheet. Tapi pada kenyataannya di sini, laporan biasa pun mereka lebih suka pakai excel. Karena itu sekarang aku merasa perlu belajar excel lagi nih hehehe.

Jadi kegiatan PTA selanjutnya kapan? besok hahaha. Besok aku harus mengumpulkan kuestioner dan memilahnya sebagai bahan untuk lusanya pada rapat “pejabat” a.k.a pengurus inti untuk evaluasi dan persiapan Taiikusai 体育祭 (Sport Day) tanggal 27 Mei y.a.d.

Mau lihat agenda aku? Jangan deh saking penuhnya sampai tidak terbaca hehehe.

Menutup April

Wah  baru bisa menulis lagi, setelah tanggal 3 April! huhuhu. Memang bulan April itu bulan yang menyibukkan sekali ya. Sebelum terlambat, aku ingin menuliskan bagaimana aku melewatkan satu hari kemarin dulu deh. Nanti kalau sempat baru kegiatan mendetil bulan April … tapi ngga janji 😀

Jadi ceritanya kemarin aku pulang dari kegiatan KMKI (Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia) pukul 9malam. Untung aku dijemput Gen dan anak-anak, lalu kami makan di sebuah restoran pizza/spaghetti di tengah perjalanan pulang. (Yang ternyata tidak enak, sehingga kami berjanji tidak akan ke situ lagi hehehe). Karena capek sekali, aku langsung merebahkan diri di tempat tidur, paling tidak meluruskan punggung deh. Memang aku salah juga, mengangkut botol minuman 500 ml sebanyak 100 biji  ke mobil sendiri (tentu tidak sekaligus… aku belum menjadi wonder woman kok) . Akibatnya buruk bagi punggungku.

Nah sekitar pukul 11 an, Kai masuk kamar dan seperti biasa peluk memeluk sebelum tidur. Lalu aku minta dia untuk memijat punggungku. Dia lumayan pandai loh. Aku beritahu bagian mana yang perlu ditekan dan dia lakukan. Sambil kesakitan aku bilang enak! Lalu tiba-tiba dia menirukan ucapan sebuah tokoh tukang pijat yang terdapat dalam film Thermae Romae. Begitu mirip dan lucu! Aku, Gen dan Kai sendiri langsung tertawa terbahak-bahak, karena mengingat adegan lucu itu. Apalagi aku sampai keluar air mata karena mengingat karakter pemijat itu yang jempol a.k.a ibu jarinya besar. Lalu kucari fotonya di google dan menemukan foto ini:

dari : http://pbs.twimg.com/media/ aku lupa lengkapnya apa yang dikatakan si pemijat ini. Nanti deh tanya Kai ya
patung asli dari Namikoshi sensei

Ternyata tokoh pemijat yang ada dalam film itu benar-benar ada! Kupikir buatannya yang buat cerita saja. Namanya Namikoshi Tokujiro (1905-2000), yang merupakan bapak Shiatsu Jepang. Jepang itu memang keren! Mereka sering sekali membuat film dengan selipan-selipan adegan yang memuat sejarah asli Jepang! Kalau begini kan kita sambil menghibur diri jadi belajar juga.

Sayangnya, karena kami tertawa terus, pemijatanku terhenti deh 😀 Dan karena celetukan Kai yang meniru pemijat itu, kepenatanku yang sudah menggunung selama bulan April bisa terbang habis dan membuatku ingin menuliskannya di Twilight Express!

Bulan April ini memang melelahkan. Tapi pekan emas “Golden Week” di depan mata, dan deMiyashita bermaksud untuk menikmati liburan yang jarang dan berharga ini bersama. Semoga aku bisa menemukan waktu juga untuk menuliskannya di TE ya.

Have a happy holidays!