Satu bulan di SMP

Padahal sudah lebih dari satu bulan… hmmm begitulah kalau menunda-nunda terus, tulisannya jadi tidak rampung-rampung. Memang sibuk, tapi biasanya biarpun sibuk, pasti ada waktu yang bisa diusahakan, jika mau. Dan kali ini, aku lebih mementingkan urusan rumah daripada menulis.

OK, ceritanya Riku sudah satu bulan menjadi anak SMP. Dan kehidupan keluarga kami, terutama Riku berubah banyak. Aku sempat khawatir kalau Riku kecapekan, tapi ternyata dia bisa menikmati kehidupan barunya.

Apa sih yang berubah?

1. Siklus hidup. Secara umum, sekolah mulai pukul 8:30, dan sudah dibiasakan agar 10 menit sebelum kelas dimulai, murid-murid sudah datang dan langsung mulai membaca. Boleh membawa buku bacaan dari rumah, tapi tentu tidak boleh manga (komik). Diharapkan dengan membaca 10 menit, hati menjadi tenang dan siap mendengarkan pelajaran pertama.

Nah kalau harus berada di sekolah jam 8:20, berarti Riku harus berangkat dari rumah pukul 7:50. Berarti tidak berbeda dengan jam dia berangkat waktu SD. TAPI bedanya, letak sekolahnya jauh bo… butuh waktu minimum 20 menit, kalau jalan cepat. TAPI kurasa butuh waktu 30 menit karena setiap hari Riku membawa tas ransel yang amat sangat berat sekali. Selain buku-buku, dia harus membawa kamus, sepatu, baju olahraga (setiap hari) dan raket badminton + thermos minuman. Aku pernah mencoba mengangkat tas ranselnya, dan tidak bisa :( berat sekali.

Pulangnya sekitar jam 4 kalau tidak ada kegiatan ekstra kurikuler, dan jam 6:30 sore kalau ada ekskul. Sampai rumah jam 7 malam, makan malam dan jam 8 pergi ke bimbel seminggu dua kali. Kalau tidak ada bimbel, ya belajar dan buat PR.

2. Esktra kurikuler. Ya, Riku memilih badminton sebagai kegiatan ekstra kurikuler. Setiap murid memang tidak diwajibkan untuk mengikuti ekskul. TAPI di SMP nya Riku 90% murid mengikuti ekskul. Ada base ball, soft ball, sepak bola, tenis meja, tenis, atletik, volley, basket, kendo, musik perkusi, art, drama, pkk dan tea ceremony. Masing-masing mempunya hari berlatih yang berbeda, dan sekolah Riku terkenal dengan eskul baseball. Setiap ekskul tentu memerlukan iuran dan kostum. Kostum paling mahal adalah Kendo (meskipun bisa sewa).

Awalnya kupikir Riku akan melanjutkan basket, karena di SD dia ikut ekskul basket. TAPI di SD memang latihannya hanya seminggu sekali, sedangkan di SMP SETIAP HARI…. weleh…weleh. Dan sebelum masuk SMP memang Riku pernah nyeletuk padaku akan masuk ART (seni rupa) saja. Yah bolehlah, meskipun kutahu pasti mahal jika harus menyediakan bahan-bahan kegiatan. Ehhhh ternyata dia memilih bulu tangkis!

Ketika kutanya kenapa bukan Art, jawabannya “Isinya cewe semua… ogah!” Dan kenapa kok malah bulutangkis? “Yang ikut cuma 6 laki-laki dan 30 cewe… laki-laki sedikit tapi masih ada yang ikut. Selain itu kan badminton masih belum terkenal, jadi pertandingannya sedikit!”

Siapa bilaaaaang? Riku salah besar hehehe.

Jadi ceritanya aku pun harus ikut orientasi mengenai ekskul badminton. Ibu-ibu yang anaknya mengikuti ekskul tertentu, harus berkumpul, mendengarkan penjelasan konsuler (guru pendamping) dan harus memilih ketua ekskul Badminton yang harus menghadiri rapat umum PTA (Parent Teacher Association) keseluruhan SMP. Aku tidak bisa menjadi pengurus di ekskul karena aku sudah menjadi pengurus PTAnya.  Dalam orientasi itu aku menerima daftar agenda kegiatan ekskul tahun ini dan didalamnya sudah ada jadwal-jadwal pertandingan! Dan untuk Riku yang baru kelas satu, debut pertamanya nanti pada tanggal 17 Agustus! hedeh…..

Tapi… selama sebulan ini, aku melihat Riku rajin sekali! dia sambil pamer, bercerita bahwa dalam latihan badminton dia harus lari keliling lapangan berapa kali, harus sit up, harus jalan miring, harus macam-macam deh. Dan terus terang aku melihat perbedaan fisiknya yang cukup jelas dibandingkan waktu dia SD. Aku bangga, karena akhirnya anakku bisa menjadi “atlit” hehehe. Soalnya di keluargaku dan keluarga suamiku tidak ada yang berbakat atlit, semuanya tipe pelajar dan desk work.

3. Pelajaran.

Pasti berbeda banyak dengan SD. Sistem pelajaran yang dipegang oleh satu guru, dan satu wali kelas untuk kelancaran proses pembelajaran. Guru wali kelasnya Riku seorang perempuan, yang mengajar bahasa Jepang. Dia baru juga bertugas di SMP itu, sehingga aku senang karena biasanya guru yang baru pindah itu semangat mengajarnya masih 100% hehehe.

Aku pun mengikuti acara perkenalan kurikulum secara keseluruhan di aula dan perkenalan per kelas. Pada acara perkenalan kurikulum, kami menerima satu bundel panduan tiap pelajaran. Tujuan pelajaran, apa saja yang dipelajari, dan apa saja yang menjadi point penilaian. Secara keseluruhan semua mata pelajaran menuntut murid untuk aktif dan menyerahkan semua tugas yang diberikan. Terlambat mengumpulkan berarti minus. Jadi NILAI bukan hanya TEST, tapi kelakuan/ sikap dalam mengikuti pelajaran.

Memang kepala sekolah menekankan bahwa SMP di Jepang itu mempersiapkan lulusan SMP yang siap pakai. Maksudnya, sekolah SMP itu adalah tingkat terakhir yang termasuk dalam WAJIB BELAJAR. JADI SMP harus mendidik murid-murid untuk BISA bermasyarakat, secara akademis dan secara sosial. Dan aku sendiri sudah membuktikan bahwa murid-murid SMP di situ sopan semua. PASTI memberikan salam kepadaku kalau berpapasan! AISATSU atau memberikan salam merupakan kewajiban di Jepang! Dan aku merasa ini bagus sekali. Makanya kalau kamu masuk restoran atau Jepang, pasti akan disapa oleh pelayan dan tidak akan dicuekin saja! Itu sudah merupakan desk job setiap pekerja (dalam bidang apa saja).

Ibu-ibu di sebelahku dan aku sesekali menghela nafas mendengarkan penjelasan guru-guru terkait. Rasanya tugas sebagai anak SMP kok berat sekali. Apakah anak-anak kami bisa? Rasanya mereka masih kekanak-kanakan dua bulan yang lalu deh. hehehe

Dan waktu perkenalan di kelas, selain berkenalan pertama kali dengan guru wali kelas, kami bisa melihat wajah-wajah ibu-ibu teman sekelas untuk pertama kalinya. Wali kelas menyampaikan kegiatan kelas selama itu dan juga menyampaikan harapan-harapannya terhadap murid kelasnya. Di sini kami juga memperkenalkan kami merupakan orang tua dari (nama anak) dan dia mengikuti ekskul apa. Ternyata guru wali kelasnya Riku merupakan guru pendamping untuk ekskul drama.

Yang lucu, justru terjadi setelah acara selesai. Aku menghadap guru wali kelas karena ingin memberitahukan nomor HPku. Sebagai pengurus kelas (PTA – bagian publikasi/promosi) aku harus menjadi penyampai pesan sekolah jika terjadi apa-apa dan mengecek apakah semua orang tua sudah mendapatkan pesan itu atau tidak. Padahal aku jarang berada di rumah, sehingga kurasa sebaiknya guru dan pengurus yang lain mengetahui nomor HPku.

Nah, di situ guru wali kelasnya berkata, “Ibu… saya memang ingin bertemu dan berbicara dengan ibu… Saya dengar dari Riku bahawa ibu mengajar di universitas W ya? Saya alumni situ…” Wah, kebetulan yang menyenangkan apalagi waktu mengetahui bahwa dia sempat belajar di program master pengajaran bahasa Jepang, yang ruangnya menjadi satu dengan ruang guru yang selalu kupakai. Jangan-jangan kami sebetulnya pernah bertemu dulu hehehe.

Sebetulnya banyak juga yang ingin kuceritakan tapi sulit untuk kutulis tanpa memberikan penjelasan panjang lebar. Seperti makanan siang di sekolah (kyushoku) SMP yang berbeda dengan SD. Kalau di SD setiap anak bergiliran menjadi petugas dan memakai pakaian putih dengan topi mirip koki, kalau di SMP bukan berupa baju, tapi celemek dan bandana (kain segitiga) sebagai penutup kepala. Selain itu kalau murid SD harus membawa table mat dan handuk kecil untuk alas piring dan penyeka mulut/tangan, maka di SMP tidak perlu lagi membawa perlengkapan itu. Karena di SMP rupanya memakai baki (nampan) sehingga tidak perlu lagi table mat. Menurut Riku masakannya memang enak tapi terlalu banyak porsinya untuk dia …  Dia sepertinya sedang diet sih 😀 😀 😀

Dan hari Sabtu ini akan diadakan Pesta Olahraga (Taiikusai 体育祭) di SMPnya Riku. Cara dan lingkungan baru untuk Riku dan untukku, karena aku harus meliput kegiatan olahraga ini untuk ditulis dalam buletin. Yang pasti setiap hari sampai sabtu besok, Riku harus pergi pukul 7 pagi dan sampai di rumah pukul 7 malam!

Salam Damai di Hari Hijau

Tadi pagi, deMiyashita bangun kesiangan semua! Jam 8 aku bangun, tak lama Kai dan Riku…. yang paling akhir tentu papanya 😀 Tapi dimaklumkan karena papa kemarin menyetir seharian dari jam 9 pagi sampai jam 12 malam. Riku pun begitu sampai di rumah mengatakan:,”Besok JANGAN pergi kemana-mana naik mobil ya. BOSAN! Pinggangku rasanya mau patah. Kecuali kita naik mobil yang lebih besar dan lebih empuk!” hahaha. Aku sendiri merasa bahuku membatu karena memang hari-hari sebelumnya banyak duduk mengerjakan terjemahan juga.

Cepat-cepat aku membakar roti, mengoleskan dengan mentega dan menaburi muisjes coklat di atasnya. Kai lah yang mengucapkan kalimat ini: “Ah damainya. Bahagia ya.” Dia memang akhir-akhir ini sering mengatakan “Aku bahagia, lahir waktu damai!” Dan disambut kakaknya, “Sebetulnya deskripsi damai itu adalah jika dua orang atau lebih di sekitarmu tidak bertengkar, maka itu sudah bisa dikatakan damai!”. Doooh anak-anakku kok tiba-tiba jadi begini 😀

Hari ini adalah Hari Hijau (Midori no hi) di Jepang, salah satu hari dalam Golden Week yang merupakan hari libur beruntun di Jepang. Dulu tanggal 4 Mei hanyalah “harpitnas” Hari Kejepit antara hari peringatan UUD dan hari Anak-anak. Kemudian tanggal 29 April merupakan hari Showa, yaitu hari ulang tahun kaisar Hirohito, kaisar yang sudah meninggal. Dan karena kaisar Hirohito adalah ahli biologi peneliti Hydra yang sangat menyukai tumbuhan, maka tanggal 4 Mei dijadikan hari Hijau.

Kemarin kami pergi ke Fukushima, untuk mendapatkan cap Kastil yang ke 13 dari #100FamousCastle yang kami kumpulkan yaitu Komine Castle yang terletak di Shirakawa, Fukushima. Tadinya kami mau juga mengambil cap di Tsurugajo yang sudah pernah kami kunjungi tapi waktu itu belum punya buku Cap nya. TAPI karena jalan tol macet dan kami baru sampai di Komine Castle jam 2, kami membatalkan rencana ke Tsurugajo, dan pergi ke daerah sekitar Shirakawa, tempat Komine Castle berada. Pelataran Komine castle merupakan taman yang luas membentang. sehingga Riku sempat tiduran di kursi dan memadang langit. Inginnya sih berbaring di rumput, tapi takut dimarahin hehehe.

Riku berbaring di atas bangku taman Komine Castle

Karena diberitahu ada danau di dekat situ, kami pun menuju danau …dan wah pemandangannya begitu menyegarkan. Kami memutari danau dan akhirnya memarkirkan mobil di depan sebuah toko mochi khas Jepang. Sebetulnya aku tidak begitu suka mochi, tapi karena disajikan dalam 3 rasa, aku pun akhirnya bisa menikmatinya. Toko itu awalnya sepiiii tak ada tamu, tapi seperti biasa kalau aku masuk, pasti banyak orang yang ikut masuk, sehingga pelayannya cukup repot 😀

Nenek penjaga toko kue mochi yang berusia 100 tahun

Dan waktu kami mau membeli oleh-oleh mochi untuk dibawa pulang itulah, kami dikenalkan pada nenek penjaga etalasi itu. Seorang tamu, yang mungkin pelanggan di situlah yang mengatakan padaku bahwa nenek itu sebentar lagi akan berulang tahun yang ke 100. Suaminya meninggal waktu dia berusia 34 tahun, tapi survive terus sampai sekarang. Dan aku disuruh menyalami nenek itu supaya “ketularan” panjang umur. Si Nenek secara tidak langsung memberikan kenangan baik dalam kunjungan kami, menghapuskan kepenatan berada dalam kemacetan sebelumnya.

“Mama cepat foto itu, gunungnya memantul di sawah!” Kata Riku. Bagi kami pemandangan seperti ini membawa kedamaian di hati

Kami pun melanjutkan perjalanan melihat jinja (Kuil Shinto) dengan pemandangan sawah dan bunga-bunga selama perjalanan. Di dekatnya ada tempat untuk bermain anak-anak, dan aku mencari obyek yang bisa difoto. Ternyata ada kursi yang disediakan untuk menikmati gunung dan hutan di belakangnga. Kami melewati waktu di sini cukup lama. Sayang bunga-bunga banyak yang belum mekar.

aku suka foto ini yang diambil Kai dari belakang. Foto aku dan Riku

 

Juga waktu kami menuju kampung Ishikawa, tempat kakek dan nenek dari ibunya Gen berasal, sepanjang jalan beragam warna hijau bergradasi. Indah…dan memang terasa sekali suasana pedesaannya. Kai sempat berkata, “Pulang yukk,… kalau malam di sini ngeri, ngga ada lampu” hehehe.

hijau, hijau, hijau di mana-mana

Kami sebetulnya ingin menginap di daerah ini, tapi karena Golden Week, tidak ada hotel yang kosong. Karenanya kami pun kembali ke Tokyo, dan baru sampai rumah pukul 12 malam. Capek tapi kami membawa kedamaian dalam hati kami, yang terus bergema dalam hati kami, bahkan ketika kami melewati hari Hijau ini di rumah… eh tapi anak-anak dan Gen sempat jalan-jalan ke taman besar dekat rumah kami, dan menikmati hijaunya musim semi.

pemandangan ini juga banyak terlihat. Bendera KOI (Koi nobori) untuk memperingati Hari Anak tanggal 5 Mei

Damai itu berasal dari hati dan tentu dari lingkungan terkecil kita: keluarga. Salam Damai dari kami di Tokyo kepada semua yang membaca tulisan ini.

Pohon Wisteria di jinja Shirakawa

 

Harga Dewasa

Meskipun sebenarnya yang dianggap dewasa di Jepang adalah mereka yang sudah berusia 20 tahun, Riku sudah harus membayar “harga dewasa” otona no ryoukin 大人の料金 jika naik kendaraan umum di Jepang. Jadi yang biasanya membayar setengah harga yaitu 110 yen (kodomo ryoukin 子供料金) sekarang harus membayar penuh (dan setelah pajak naik aku masih belum hafal berapa harga naik bus karena selalu pakai prepaid card). Juga waktu menginap di hotel, seperti waktu kami pergi ke Kyoto, sudah harus dihitung sebagai orang dewasa. Memang sih tidak bakalan bisa tidur satu tempat tidur dengan dia lagi, wong badannya guede banget hehehe. Selain itu yang biasanya hanya membayar 75% untuk tiket pesawat sekarang sudah harus membayar penuh.

Mulai tanggal 1 April kemarin, dia memang sudah harus membayar “harga dewasa”, padahal baru tanggal 7 nya dia resmi menjadi murid SMP. Hmm murid SMP kok dewasa ya? hehehe. Tapi benar deh, aku sebagai orang tua murid SMP, ikut tegang dan khawatir dengan hari-harinya di SMP.

ruangan aula sebelum upacara mulai

Upacara masuk SMP juga lain rasanya dibanding waktu masuk SD. Aku perhatikan sekali, hall sudah siap sejak 15 menit sebelum acara dimulai pukul 10 pagi. Memang kami diminta untuk datang dan berada paling lambat 15 menit sebelumnya. Karena hari itu hujan, kami keluar lebih cepat lagi dan sudah sampai di aula sekolah pukul 9:30…. tapi aula sudah penuh!

Kebiasaan di Jepang, menuliskan susunan acara sehingga semua hadirin tahu urutannya dan tidak perlu penjelasan bertele-tele dari MC

Dan murid baru masuk ke dalam ruangan itu 5 menit sebelum pukul 10 sehingga pas pukul 10, langsung mendengarkan sambutan dari kepala sekolah. Wuiih atmosfir aulanya yang jauh lebih besar dari SD saja sudah berbeda. Murid baru angkatannya Riku sebanyak 249 orang, yang terbagi dalam 7 kelas ditambah 1 kelas untuk anak-anak terbelakang yang dinamakan I gumi (baca lafal bahasa Inggris “ai” gumi). Riku sendiri masuk ke kelas F. Aku sendiri selama bersekolah tidak pernah satu angkatan lebih dari 5 kelas di SMA (SMP hanya 3 kelas), jadi keder juga mendengar ada 7 kelas.

Riku dengan teman lelaki sekelasnya. Tingginya memang beda-beda, ada anak yang keciiil sekali, ada yang tinggiiii sekali

Upacaranya juga tidak bertele-tele meskipu cukup banyak sambutan. Sambutan dari kepala sekolah yang masih kuingat bahwa dia mengambil contoh dua penemu shinkansen (kereta super ekspress Jepang) . Kedua penemu ini awalnya ditertawakan, tapi tidak pernah putus asa terus meneliti, sehingga akhirnya kereta shinkansen yang menjadi kebanggan Jepang dapat tercipta. Jadi dia juga mengharapkan agar murid-muridnya tidak cepat putus asa, pasti ada jalan menuju sukses.

murid kelas 2-3 di bagian belakang, sedangkan murid baru duduk di bagian depan

Acara ditutup dengan tampilan paduan suara dari kakak kelas 2 dan 3 yang begitu “lain” warna suaranya daripada SD. Ya, suara lelaki menyanyikan part rendah, sementara yang perempuan menyanyikan part tinggi. Musiknya juga lebih berani dibandingkan waktu SD. Kelihatannya sekolah Jepang memang menekankan pelajaran musiknya dengan sungguh-sungguh.

Nah, sebelum acara pemotretan dengan orang tua dan murid per kelas, kami mempunyai waktu 20 menit untuk berkumpul per kelas dan menentukan wakil-wakil yang duduk dalam kepengurusan PTA (Parent Teacher Association). Ada 5 pos dengan tugas masing-masing yang perlu dipilih. Nah, di pertemuan ini memang berlainan dengan ibu-ibu waktu SD, tidak ada yang spontan langsung mengangkat tangan. Alasannya? Kebanyakan ibu-ibu dengan anak SMP biasanya bekerja, baik part time maupun full time. Semakin tinggi sekolah sang anak, semakin banyak pengeluaran sehingga sudah biasa di Jepang untuk ibu-ibu anak SMP untuk bekerja. Well, aku juga bekerja (dan cukup sibuk). Tapi aku merasa sebel melihat ibu-ibu ini tidak ada yang mengangkat tangan. Waktu “diam” menunggu seperti itulah yang paling kubenci. Jadi deh aku mengangkat tangan untuk mengisi pos bagian “promosi” yaitu bertugas membuat majalah sekolah. Untung suamiku selalu mendukung dan sambil tertawa membiarkan aku angkat tangan.  Ada contoh majalahnya sih, dan kulihat mereka ada dana khusus untuk percetakan. Jadi paling mengisi rubrik, editing dan foto-foto saja. Keciiiil (huh sapa bilang hahaha). Lagi pula kupikir ada 7 kelas, berarti sedikitnya ada 20-an orang dalam satu seksi sehingga pekerjaan (mestinya) tidak begitu sibuk. Waktu Riku kelas 1 SD, aku juga menjadi pengurus PTA dan banyak manfaatnya jika kita aktif di PTA. Aku jadi banyak teman dan tahu informasi dalam sekolah yang mungkin tidak diketahui ibu-ibu lain.

Berfoto di depan papan di gerbang sekolah. Riku udah manyun aja :D

Setelah acara pemotretan selesai, kami bergegas pulang ke rumah karena opa (papaku) dari Jakarta sudah sampai di rumah. Ya, papa datang ke Jepang satu pesawat dengan my dimple sister Sanchan, dan Sanchan mengantar dari bandara Haneda sampai ke rumah sementara kami tidak ada di rumah dan sampai Sanchan pulang juga tidak bertemu (terima kasih banyak ya Sanchan). Di rumah hanya ada Kai yang memang aku boloskan karena dia batuk parah. Jadi Kai yang membukakan pintu rumah. Dari opa kami mendengar ceritanya bahwa opa mengajak Kai (dan Sanchan) makan pagi di restoran dekat rumah. Tapi opa lihat si Kai seperti bingung, dan bertanya ke Sanchan. Rupanya Kai khawatir apakah opa bawa uang Yen tidak….. Kalau tidak, dia mau bawa uangnya. hihihi Aku geli mendengar ceritanya, tapi kagum juga karena kok bisa Kai terpikir bahwa uang Indonesia dan Jepang itu lain. Nalarnya jalan.

berfoto bersama opa setelah selesai upacara penerimaan murid baru. Kasihan opa disambut udara dingin! (Yang semestinya sudah hangat)

Sejak tanggal 7 April itulah rumahku jadi tambah sibuk dan ramai karena Riku sudah memulai kehidupan baru sebagai anak SMP, DAN opa melewatkan liburan selama 13 hari di Tokyo.

 

Tutup buku

Haiyah sudah tanggal segini, Imelda baru cerita soal tutup buku. Biasanya kan tutup buku itu akhir Maret. Tapi memang kalau mengerjakan tutup buku biasanya sibuk sekali mana ada  waktu untuk menulis blog ya 😀

Nah sebetulnya aku ingin menulis tentang tutup bukunya Riku, yang dilaksanakan tanggal 25 Maret yang lalu, yaitu wisuda SD. Kalau bicara soal wisuda, sejak kapan ya anak TK juga ada wisuda-wisudaan pakai toga segala? Kadang aku geli melihat foto bocah-bocah yang masih ingusan itu memakai toga…dan memang jamanku dulu tidak ada (dan sekolah almamaterku juga tidak ada). Toga hanya untuk wisuda universitas.

Kalau di Jepang, terutama untuk sekolah negeri yang tidak mempunyai seragam,tidak ada peraturan harus memakai apa untuk acara wisuda.Tapi biasanya anak perempuan akan memakai baju setelan yang sudah diset menjadi “baju wisuda “oleh toko-toko. Sedangkan untuk anak laki lebih simple, blazer dan celana panjang. Dan kulihat malah tidak ada yang memakai setelan jas berwarna sama. Jadi untuk Riku aku hanya perlu membeli celana “pantalon” karena dia sudah dapat lungsuran blazer dari opanya (bayangkan gedenya dia sama dengan opanya loh hehehe)  dan dasi pinjam dasi papanya. Sempat terpikir untuk membeli sepatu pantofel tapi teringat bahwa upacara diadakan di dalam hall sehingga semua tidak pakai sepatu (pakai uwabaki -sepatu dalam- atau tamu pakai slipper).

waktu masuk SD dan lulus SD… terima kasih untuk 6 tahun yang berguna

Kami harus berada di sekolah pukul 9:15,karena acara dimulai pukul 10:30. Tapi tentu saja orang Jepang terbiasa datang sebelum jamnya, sehingga diumumkan bahwa orangtua boleh masuk sejak pukul 8:45. Dan karena kakiku masih sakit sehingga tidak bisa jalan cepat-cepat, kami berangkat jam 8:20 dari rumah. Karenanya kami masih sempat berfoto di depan sekolah. Cuaca cerah meskipun dingiiin. Karena aku ingin sekali memakai baju tradisional Indonesia, meskipun dingin aku paksakan juga deh. Ya kalau kimono itu memang tebal jadi cocok untuk dipakai pada musim dingin (sebagai gantinya kalau pakai kimono di musim panas ya kepanasan. Karena itu ada yukata sebagai kimono musim panas).

Kami mendapat tempat duduk persis di lokasi yang sama seperti waktu upacara masuk sekolah 6 tahun yang lalu, sehingga dapat memotret Riku yang sedang berjalan dari pintu masuk melewati “karpet merah” menuju tempat duduknya. Selama “wisudawan” masuk, hadirin bertepuk tangan. Kebiasaan ini dipakai untuk upacara masuk juga, semacam defile gitu. Tapi tepuk tangan HANYA di awal dan akhir acara waktu lulusan masuk dan keluar. Tidak ada tepuk tangan setiap sebelum atau sesudah acara sambutan dll. Tidak seperti di Indonesia, yang  berkali-kali bertepuk tangan. Well kebiasaan tiap negara tentu berbeda kan.

masuk melewati karpet merah, kiri dulu waktu masuk SD, dan kanan waktu lulus SD. Perubahan selama 6 tahun

Acara berlangsung lancar dengan penerimaan ijazah satu persatu. Namun sebelum menerima ijazah, mereka harus mengucapkan satu kalimat dulu. Ada yang mengatakan cita-citanya, ada yang mengucapkan terima kasih. Aku sempat kepikiran juga Riku akan mengatakan apa, soalnya pada buletin sekolah yang terakhir, murid kelas 6 harus menuliskan “apa yang kamu lakukan 10-20 tahun di masa datang”, Riku menulis: “saya akan bekerja di toko buku dan memberikan saran buku yang bagus untuk calon pembeli”. Ternyata dia hanya mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah membantu dia sampai lulus kelas 6.

Setelah acara penerimaan ijazah, dilanjutkan dengan sambutan dan upacara selamat dari kepala sekolah dan komite pendidikan kelurahan kami. Lalu disambung dengan persembahan lagu dan musik dari kelas 5 yang mengantar “kakak”nya lulus. Di sini aku merasa kagum dengan SD ini yang menekankan musik dalam kurikulumnya. Cukup bagus tentu sesuai dengan tingkatan SD. Tapi yang membuat aku terharu (meskipun tidak sampai menangis) adalah sambutan dan lagu dari kelas 6…terutama paragraf terakhir yang menekankan “sayonara”. Ya sampai ada satu anak yang terus menangis sampai acara terakhir yaitu keluar hall melewati karpet merah lagi.

Setelah acara terakhir yaitu membuat foto bersama guru-murid dan orang tua per kelas, kami keluar sekolah. Kupikir acara sudah selesai, tapi ternyata semua berdiri di lapangan yang sudah diberi kapur. Ya kelas 5 membuat gerbang dan lulusan melewati di bawahnya. Mengantar keluar gerbang. Justru di sini aku merasa terharu sekali. Namun wajah mereka tidak lagi terharu tapi justru gembira.

melewati gerbang “kelulusan”

Kami sempat “menangkap” Riku yang mencari teman-teman baiknya untuk berfoto bersama, sambil juga mencari bunga sakura. Beruntung sekali hari itu cerah. Karena setelah pulang dari acara wisuda, malamnya kami berkumpul lagi untuk merayakan kelulusan di sebuah restoran dekat rumah. Aku yang sudah lama tidak makan daging, puas-puasin deh makan daging karena sistemnya “all you can eat” dan cukup mahal hehehe.

Setelah acara wisuda, memang sekolah libur musim semi sampai tanggal 7 April. Tapi libur selama 2 minggu itu diisi dengan pelajaran di bimbingan belajar dan perjalanan ke Kyoto. Sehingga setelah ini aku akan menuliskan tentang perjalanan ke Kyoto ya. Tanoshimini shitekudasai. 

di bawah pohon sakura

 

 

Menoleh ke belakang

Ya masak sih menoleh ke depan? Tapi bisa menoleh ke samping loh 😀

Menoleh ke belakang, Furikaeru 振り返る merupakan kegiatan mengenang kembali, menilai dan menemukan perkembangan yang telah dicapai dalam waktu tertentu. Dan kami orang tua murid, sepuluh hari yang lalu berkumpul dengan guru untuk membicarakan hasil pembelajaran selama satu tahun di SD untuk Riku dan Kai. Hogoshakai 保護者会namanya, dan biasanya dilakukan 3 -4 kali setahun. Awal, pertengahan dan akhir tahun pelajaran. Seperti yang pernah aku tulis, murid SD menerima rapor langsung dari guru pada hari terakhir sekolah, jadi bukan orang tua datang untuk menerima. Untuk itu biasanya 10-15 hari sebelum sekolah berakhir, diadakanlah hogoshakai ini, tempat guru menjelaskan perkembangan murid sekaligus kepada orang tua, dan orang tua juga mempunyai kesempatan untuk mengenali orang tua teman anaknya. Tentu saja selain hogoshakai ini ada mendan個人面談, tatap muka untuk membahas empat mata antara orang tua dan guru, biasanya diadakan sebelum semester satu berakhir.

Di kelas Kai (1 SD), kami menerima penjelasan dari guru mengenai perkembangan anak-anak kami. Bayangkan yang bulan April tahun lalu lulus TK belum bisa baca tulis, sekarang sudah bisa 80 kanji dan menguasai hiragana dan katakana. Untuk berhitung sudah menguasai penambahan, pengurangan dan baca jam. Kata gurunya Kai: “Waktu awal tahun ajaran, masih ada murid yang masih takut ke WC, ngompol. Atau belum bisa pakai peniti nama di dadanya.. Atau pada wkatu istirahat, awal-awal anak-anak masih duduk di kelas terus, takut untuk bermain di halaman. Tapi setelah lewat setengah tahun, begitu bel berbunyi, langsung lari deh. Selain belajar, dalam pertemanan juga mulai ada friksi, tapi kalau dulu setiap bertengkar pasti nangis dan ngadu kepada guru, lambat laun mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Biasanya ada yang jadi penengah. Memang saya selalu mengajarkan bahwa jika terjadi pertengkaran, dua pihak harus mencari penyebabnya, lalu menyadari siapa yang salah, kemudian memaafkan.”

Soal bertengkar memang Kai sering mengadu padaku bahwa ada beberapa anak yang memang “tukang pukul”. Dia sering dipukul atau didorong oleh anak-anak tertentu. Kadang dia balas, tapi aku memang beritahu dia jangan membalas, lebih baik lari dan lapor guru. Mendengar nama-nama teman Kai yang bermasalah, aku bisa menduga bahwa mereka itu menderita Autis, yang membutuhkan perhatian dari sekitarnya dan gurunya. Jadi aku selalu bilang pada Kai bahwa anak itu “sakit” sehingga maklumi saja.

Setelah mendengarkan penjelasan guru, tiba giliran kami orang tua menceritakan kemajuan anak masing-masing selama satu tahun ini. Aku katakan bahwa Kai dalam segi belajar tidak ada masalah, karena dia selalu membuat PR begitu pulang sekolah, dan selalu memaksa aku mendengarkan dia membaca tugas bahasa (音読ondoku = tugas untuk membaca dengan keras supaya lancar). Belum lagi dia selalu memberitahukan padaku jika perlu membawa sesuatu keesokan harinya (dia telepon ke HP dan meninggalkan pesan) sehingga aku bisa menyiapkan dan membelinya jika perlu. TAPI ada satu masalah yang belum bisa diperbaiki yaitu bahwa dia TIDAK pernah bermain di luar rumah dengan temannya. Biasanya memang anak-anak SD sesudah pulang sekolah dan menaruh ransel di rumah, akan keluar rumah dan bertemu teman di taman untuk bermain. Sekolah juga dibuka untuk dipakai mereka bermain di halaman sekolah. Nah, Kai tipe indoor sehingga sepertinya di kelas dua aku perlu memaksa dia untuk keluar rumah supaya lebih aktif bergerak. (Kalau tidak bisa ndut deh hehehe)

Tadi pagi jam 11 Kai sudah pulang dan membawa rapornya yang bernama AYUMI (langkah). Hasilnya bagus dengan 4 point mendapat nilai bagus sekali. Lalu dia cerita, “Tadi sensei bilang kalau ada yang mau mengerjakan PR waktu liburan musim semi, silakan ambil fotokopi PR”
“Kai ambil ngga?”
“Ngga”
“Lohhhh, kok ngga?”
“Abis, kan liburan… ngapain kerjain PR waktu liburan. lagipula itu tidak wajib”
Hahahahaha aku tidak bisa tahan ketawa. Siiip deh! Aku tahu dia ingin libur, karena setiap hari dia SELALU mengerjakan PR dan belajar rajin. Sekali-sekali boleh dong santai.

Tapi tadi malam, ternyata dia sendiri membuat catatan kanji-kanji yang sudah diketahui sendiri dalam buku catatan pribadinya, dan mengerjakan latihan baca jam yang pernah aku print out dari internet. Makanya aku tidak pernah khawatir tentang Kai, karena dia tahu sendiri kemampuannya.

Soal Riku?
Hmmm aku perlu menulis banyak kalau ingin mnceritakan detil pembicaraan guru wali kelasnya dalam hogoshakai untuk kelas 6, kelasnya Riku. Tapi intinya, kelasnya Riku dikenal sebagai kelas yang brengsek! Nakal dan ribut, sampai wakil kepala sekolah harus berdiri di belakang kelas. Itupun tetap ribut. Memang aku sudah tahu dari Riku tentang kelasnya yang tidak menunjang untuk belajar, sehingga membuatku berusaha keras supaya Riku belajar tambahan di bimbel (dan aku bersyukur karena guru-guru di bimbel mengatakan bahwa Riku pintar). Paling tidak dia tidka ketinggalan dalam akademisnya. Dan aku tahu Riku orangnya tidak terpengaruh oleh kenakalan temannya, malahan dia merupakan korban dari segelintir anak nakal yang ada di kelasnya (ada sekitar 5 anak yang menjadi biang keladi). Sampai -sampai gurunya angkat tangan, dan mengadu pada ibu-ibu yang hadir bahwa pihak sekolah takut jika acara wisuda akan berantakan oleh ulah anak-anak nakal ini.

Anak-anak kelas 6 memang sudah mulai memasuki pubertas, suka melawan orang tua dan guru. Itu alami, tapi jika sampai merugikan orang lain, itu tidak benar. Ada istilah khusus untuk anak-anak biang keladi ini yaitu Monster Children. Sayangnya, kami orang tua diberitahu sudah hampir lulus. Coba diberitahu sejak awal mulai bermasalah, kami orang tua bisa ikut membantu guru. (Pihak sekolah memang tidak mau membebani orang tua). Setelah pembicaraan dengan kepala sekolah, beberapa ibu mengusulkan supaya ibu-ibu bergiliran datang ke dalam kelas dan memperhatikan, kalau perlu menegur dan membantu guru dalam kelas. Aku pun ikut dua kali dan aku melihat bahwa anak-anak biang keladi ini memang adalah anak-anak dari keluarga yang tidak harmonis, tidak mempunyai waktu untuk mengurus anaknya (karena ada bayi), atau karena memang tidak bisa menegur dan mendidik anaknya. Kasihan! ya, karena anak-anak ini kan cermin keluarga. Ada memang anak panti asuhan, sehingga aku maklum kalau anak itu kasar…dan meskipun kasar dia mau ditegur. Aku pun melihat bahwa anak yang dimanja oleh orang tuanya itu cukup parah nilai akademisnya. Duh….. bagaimana mereka di SMP ya?

Hari ini Riku pun membawa rapornya, dan nilainya cukup bagus, meskipun tidak sebagus semester pertama (padahal hasil testnya bagus-bagus). Aku tahu ini juga pengaruh dari semangat guru wali kelas yang sudah merasa bahwa seluruh murid di kelasnya itu nakal dan tidak memperhatikan pelajaran. Gurupun manusia yang bisa capek, sehingga menurutku masalah seperti ini pasti akan ada di setiap sekolah. Kebetulan saja Riku sial mendapat kelas yang brengsek.

Besok Riku akan wisuda. Riku lumayan senang karena dengan lulus, berarti dia akan mempunyai suasana kelas yang lain, yang baru di SMP. Kebetulan SMPnya Riku jauh dari rumah, dan hanya ada 9 teman SD yang melanjutkan di sekolah yang satu angkatannya 200 orang. Berarti sudah pasti harus membuat teman baru kan?
Aku cuma bisa berdoa semoga acara wisuda besok bisa berjalan lancar tanpa halangan yang berarti.

Yang satu suka baca, yang satunya lagi suka nulis! Tiap anak memang berbeda :D

 

 

Langganan

Pasti kita semua punya toko langganan ya, tempat kita pergi membeli sesuatu. Seperti temanku Mawar, punya pedagang Bacang langganannya. Atau temanku, punya langganan tempat minum. Aku sendiri punya langganan tukang sayur, yang setiap hari mengirimkan email harga-harga sayuran yang akan dijual hari itu beserta passwordnya. Jadi kalau menyebut password itu akan berlaku harga langganan yang tentu jauh lebih murah. Kalau untuk membeli daging dan ikan, di toko langganan yang lain lagi.

Kadang toko atau restoran langganan itu bukan (hanya) dari murahnya. Lebih karena service/ pelayanan mereka yang menyentuh hati. Seperti toko sayurku itu memang murah, tapi kami sering bercakap-cakap mengenai hal lain. Tapi kalau aku mau membeli apel atau stroberi yang enak dan bentuknya bagus, aku beli di toko lain. Harga, mutu dan pelayanan memang merupakan faktor yang menentukan waktu kita berbelanja ya.

Di dekat rumahku (dan dekat sekolah SD Riku) ada sebuah toko alat tulis dan keperluan sekolah. Baju olahraga, topi dijual di situ, sehingga paling tidak waktu masuk kelas 1 kami wajib ke situ. Semacam toko yang ditunjuk pihak sekolah. Ini saya rasa merupakan kebijakan pemerintah daerah juga untuk membantu toko-toko kecil di sekitar sekolah. Tapi biasanya orang-orang hanya membeli yang wajib saja di situ. Aku pun tidak sering pergi ke situ, hanya kalau perlu buku catatan saja. Lalu biasanya sekalian  membeli bolpen, pensil atau kertas origami. Karena aku tahu bolpen, pensil dan kertas origami lebih murah di toko lain. Eh tapi di sini bisa membeli cat air satu warna saja, sehingga kalau cat air anak-anak habis aku membeli di sini.

Sejak kelas 4 Riku bisa pergi ke toko Hinokiya itu sendiri. Pemilik toko adalah seorang nenek yang ramah. Suatu kali Riku membawa uang 1000 yen untuk membeli buku catatan dan pensil merah. Waktu dia kembali ke rumah, dia heran melihat di dalam kantong plastiknya ada 1700-an. LOH kok bisa bawa 1000, kembalinya malah lebih. Lalu dia lapor ke aku, “Ma, aku kembali ke toko obasan dulu ya. Ini pasti obasan lupa ambil uangnya, tapi sudah kasih kembaliannya”
Lalu dia pergi, dan… obasan begitu terharu sampai dia diberi setip macam-macam bentuk. Obasan itu selalu memuji-muji Riku setiap aku datang ke sana. Dan tentu saja sejak itu aku juga berhati-hati mengecek uang kembalian, jangan sampai salah. Kasihan obasan kalau rugi kan.

Nah, Riku akan lulus dari SD. Sudah hampir dipastikan dia tidak berbelanja ke toko itu lagi. SMPnya jauh, dan di dekat SMP ada toko kecil lagi yang ditunjuk pihak sekolah. Jadi kemungkinannya akan berbelanja di sana, sepulang sekolah yang konon sampai jam 6 sore. Belum lagi dia ikut bimbel di dekat stasiun, sehingga bisa berbelanja alat tulis di toko-toko dekat stasiun. Karena itu aku mengajak Riku berbelanja terakhir di toko obasan sekaligus melaporkan bahwa dia akan lulus. Dan… obasan itu senang sekali karena diingat.

Aku pun bertanya, “Boleh aku memotret obasan dengan Riku?”
“Aduh aku belum sisiran dan tidak dandan….”
“Tidak apa-apa kok”

dan kami berfoto bersama…. sebagai kenangan antara pemilik toko dan pembelinya.

riku dan obasan pemilik toko alat tulis

“Biarpun anak sulung kamu sudah ke SMP, kamu dan adiknya bisa datang ke sini kan? Kadang-kadang tengok saya ya. Aduh saya masih ingat waktu kamu antar Riku dengan perut besar lagi hamil anak kedua…”
“Iya nanti saya akan mampir. Nanti saya akan suruh Kai juga pergi belanja ke sini. Terima kasih ya selama ini”
“Saya juga terima kasih”

Riku dan aku meninggalkan toko itu membawa plastik berisi buku catatan untuk Kai, pensil dan beberapa setip hadiah dari obasan untuk Kai.
Osewaninarimashita.

 

Juken dan DUDUKU

Malam ini (eh sudah dini hari 😀 ) mau cerita tentang anak-anak ya… oyabaka ahhh 😀

Jadi begini, Riku yang sekarang kelas 6, sejak bulan Oktober tiba-tiba menyatakan ingin ikut ujian masuk SMP (negeri/swasta), atau yang dikenal dengan Juken. Sebetulnya setiap anak usia sekolah sudah tahu pasti bisa melanjutkan ke SMP negeri terdekat rumah, tanpa perlu ujian. Tapi jika ingin masuk ke SMP negeri terkenal di wilayah lain atau masuk SMP swasta, harus mengikuti ujian yang diadakan bulan Februari. Dan biasanya untuk juken itu, persiapannya dimulai waktu si anak kelas 4 SD dengan mengikuti bimbingan belajar (bimbel atau bahasa Jepangnya JUKU).

Nah, Riku terlambat aku masukkan ke JUKU. Waktu kelas 4 aku masukkan ke KUMON, dan ternyata Riku tidak cocok dengan cara pelajaran di Kumon (aku juga tidak….) . Cara Kumon itu berlatih terus menerus tanpa diajari gurunya, hanya mengerjakan latihan terus menerus. Kalau sudah melewati “jatah” (misalnya berapa lembar) baru maju ke topik berikutnya. Dan jeleknya waktu itu Riku kelas 4, tapi harus mengerjakan soal-soal dari kelas 1. Jadi Kumon itu harus menyelesaikan SEMUA tingkatan dulu. BOSAN! (aku juga hahaha) Jadi Riku menjadi malas pergi ke Kumon, karena dia merasa sudah bisa, dan buang waktu (yes, aku juga pikir buang waktu). Jadi dia selalu mencari alasan untuk tidak pergi les, dan terus terang aku tidak pernah mau memaksa anak untuk pergi les kalau dia tidak mau. Buat apa? Karena kupikir jika anak itu BENCI, sekeras-kerasnya kita SURUH, dia tidak akan maju dan takutnya dia jadi benci belajar.

Jadi menjelang kenaikan kelas 5, aku menghentikan pelajaran di Kumon itu. Dan karena Riku mau belajar di Juku, akupun mencari Juku yang bagus di dekat rumah. Juku E**** itu terkenal dan sering kudengar namanya, dan mempunyai cabang hampir di setiap stasiun. Tidak murah pastinya. Dan untuk bisa mengikuti les di situ, Riku harus mengikuti semacam test awal untuk mengetahui levelnya dia seberapa. Kalau terlalu rendah, tidak bisa masuk! Di sini aku agak kesal juga karena kupikir orang menyuruh anaknya ke Juku kan semestinya karena anaknya kurang, sehingga minta bimbingan tambahan supaya bisa naik nilainya. Eh, tapi itu pengertianku untuk les tambahan di Indonesia. Di Jepang, apalagi juku yang terkenal, tidak mau namanya jelek karena mereka butuh “iklan” sudah meloloskan berapa anak, masuk sekolah-sekolah terkenal :)

Pada test pertama, Riku tidak memenuhi standar. Lalu gurunya tanya, apakah Riku mau ikut test kedua? Memang waktu itu Riku tidak siap untuk test. Dan, aku bersyukur, Riku mau ikut test kedua. Di situ dia sudah mendapat nilai plus dari gurunya. Karena Riku mau mengulang dan berusaha. itu menunjukkan kemauannya untuk belajar. Test kedua, lewat standar. Jadi Riku bisa mengikuti kelas di Juku itu untuk dua mata pelajaran utama yaitu Matematika 算数 dan Bahasa 国語.

Sejak kelas 5 jadinya Riku harus pergi belajar sekali seminggu dua jam pelajaran (2×80 menit) ke Juku. Dia mengikuti kelas biasa yang mempersiapkan ujian SMA (tidak mempersiapkan juken SMP). Satu kelas muridnya ada 10 orang.

Setelah beberapa bulan, Riku mulai malas-malasan mengikuti kelas. Alasannya capek lah, sakit kepala lah… sehingga aku harus menelepon ke juku supaya dia bisa absen. Untunglah dia berhak untuk mendapatkan bimbingan “pergantian” di luar jam pelajaran dengan guru langsung. Nah! Ternyata dia lebih enjoy belajar dengan guru langsung pada jam-jam pergantian ini. Hmmm aku menyadari pasti ada masalah dengan kelasnya.

Setelah kutanya, ternyata benar, Riku tidak suka dengan murid-murid di kelas itu. Murid-murid itu memang berasal dari sekolah macam-macam. Katanya, “Anaknya ribut ma… ” dan “Aku dikatain gendut!” Hmm … ini masalah. Jadi aku bicara ke kepala Jukunya, dan langsung diatur supaya Riku tidak berada di dekat anak tersebut. Pokoknya gurunya memperhatikan Riku deh. Tapi tetap Riku tidak merasa nyaman. Dia ingin ikut les yang privat…. dan itu berarti lebih mahal :(

Les privat itu adalah dua murid dengan satu guru. Dalam waktu 80 menit itu, dia bisa bertanya langsung pada gurunya dan bisa jadi murid yang satunya bukan level dia. (pada kenyataannya dia sering pair dengan anak SMP sehingga nantinya dia sering melihat/mendengar tip belajar di tingkat yang lebih tinggi sehingga menjadi nilai plus untuknya). Karena biayanya mahal, aku minta Riku untuk les privat matematika saja, tapi kelas bahasa tetap ikut yang kelas. Untuk membayar dua kelas privat aku belum mampu.

Jadi Riku mengikuti bimbel dua hari seminggu, hari senin dan jumat. Karena akhirnya kelas bahasa itu juga terasa tidak bermanfaat untuk Riku, aku menyuruh dia ikut dua kelas privat. Berat tapi mengingat dia sudah kelas 6, kupikir lebih baik begitu. Dan benar saja dia bisa menunjukkan perkembangan belajarnya lebih bagus lagi di sekolah. Sehingga tiba-tiba dia menyatakan ingin juken!

Wah, juken itu berarti biaya tambahan (untuk ikut pre-test try-out dan ujian masuk di tiap SMP) dan pelajaran yang lebih tinggi standarnya. Aku langsung menghubungi guru jukunya dan minta supaya gurunya membimbingnya. Tapi, aku cukup senang karena gurunya berkata, “Kalau Riku pasti bisa mengejar kok. Saya percaya karena Riku beberapa bulan terakhir menunjukkan perkembangan yang pesat”. Jadi mulai November, tujuan belajarnya berubah, dan Riku juga lebih banyak belajar.

Yang menjadi patokan dalam juken adalah hensachi 偏差値, yaitu nilai rata-rata sebuah sekolah, dan nilai rata-rata si murid. Jadi kalau SMP A hensachinya 70, maka anak-anak yang hensachi-nya hanya 50, akan sulit lulus. Kemungkinannya jauh! Anak-anak yang hensachi-nya 50 selayaknya mencari sekolah yang hensachinya 50 atau 60, supaya kemungkinan diterimanya lebih besar. Hmmm memang hensachi itu penting di Jepang karena rapor sekolah Jepang BUKAN berupa angka, atau ranking. Hanya tanda bisa, cukup atau kurang!  Sehingga perlu “angka” yang bisa menilai sebuah sekolah atau murid. Dan ini baru diketahui kalau ikut belajar di juku.

Riku akhirnya mengikuti try out satu kali, dan dia menyatakan tidak mau mengikuti ujian masuk SMP. Alasannya, dia tidak tahu mau masuk SMP yang mana 😀 Memang biasanya waktu juken itu murid (atau orang tua murid) sudah tahu ingin masuk SMP favorit mana, ambisi masuk mana. Misalnya SMP W, sehingga guru tahu hensachi SMP W dan akan menggeber belajar supaya bisa lulus ujian masuk di SMP itu. Nah, setiap kali guru juku menanyakan pada kami, kami tidak bisa menjawab. Ya, karena kami sebetulnya tidak punya maksud memasukkan Riku ke SMP lain 😀 Rikunya sendiri yang mau coba-coba ikut ujian. Tentu kami biarkan  dia coba dong 😉 Dan akhirnya dia bisa tahu sendiri bahwa memang untuk bisa masuk SMP favorit harus punya nilai hensachi yang tinggi, dan itu memang tidak mungkin dicapai dalam waktu 2 bulan hehehe. Tapi yang penting dia tahu kemampuannya sekarang.

So,  Riku tetap masuk SMP negeri yang sudah ditentukan oleh Komite Pendidikan kelurahan kami. Dan letaknya cukup jauh dari rumah kami (lokasi rumah kami termasuk perbatasan wilayah sekolah atau dulu istilahnya di Indonesia adalah rayon 学区), dan kami sudah pergi mengikuti orientasi termasuk pengukuran baju seragam dll. Tinggal nanti ikut upacara masuk tanggal 7 April.

Dan Riku sekarang setiap hari menggunakan waktu luangnya pergi ke juku dan menggunakan ruangan di sana (boleh dipakai setiap saat) untuk belajar! Wah anakku sekarang belajar terus loh 😀 Sebagai orang tua tentu senang sekali, dan memang persiapan masuk SMA selayaknya sudah dimulai sejak kelas 1 SMP, supaya bisa masuk SMA yang diinginkan. Nah kalau SMA memang harus juken semuanya, karena SMA bukan wajib belajar, sehingga kita harus cari sendiri. Kelurahan tidak “menyediakan” SMA, hanya “menyediakan” SD dan SMP hehehe.

Salah satu yang Riku lakukan sekarang adalah membuat daftar kata-kata bahasa Inggris, supaya menghemat waktu belajar di SMP. Jadi guru jukunya sudah memberikan kata-kata bahasa Inggris yang harus dihafal di kelas 1 SMP, dan dia membuat sendiri daftarnya. Katanya, “Kalau setiap hari bisa 10 kata kan bagus” 😀

Jadi begitu ceritaku tentang juken, sedangkan DUDUKU itu apa?

Karena Kai yang kelas 1 SD melihat kakaknya menulis alfabet setiap hari, dia juga mulai aware dengan huruf latin. Dia sudah menguasai alfabet, sehingga kalau dia bisa baca sebuah kata dia akan tanya padaku apa bacaan dari tulisan tersebut.

Tadi siang tiba-tiba dia berkata, “Mama b o x itu box ya?”
Aku kaget dan bilang “Betul. Hebat kamu. Apa artinya?”
“箱 (kotak)”

wah kelihatannya aku perlu menginput Kai dengan kata-kata baru bahasa Inggris nih. Siapa tahu pelajaran kelas 1 SMP dia sudah bisa ikuti hahaha.

Jadi tadi sebelum tidur kami bermain dengan iPad. Aku minta dia menulis BOX. bisa.
Lalu aku minta dia menulis S I T, dan bisa. lalu aku katakan ini SIT artinya suwaru 座る.
Dan tiba-tiba dia tanya padaku bagaimana menulis DU? Ya aku katakan D dan U
Lalu dia tulis DUDUKU…. waaaaaaah anakku tahu bahasa Indonesianya suwaru itu duduk. Jadi sekaligus deh belajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Tapi waktu aku bilang harus menghapus U sesudah K, dia kesal dan bertanya? KENAPA? hahaha Inilah susahnya orang Jepang! SEMUA KONSONAN HARUS ADA VOKALNYA hihihi.

Aku bilang, “Besok deh mama jelasin, kalau mama jelasin sekarang nanti kamu tidak bisa tidur!”

SE LA MA (T)TO MA RA MU
SE LA MA (T)TO CHI DU RU   :v :v :v  ~~~~~

Trisomy18

Kurasa masih sedikit yang tahu apa arti trisomy, lain halnya dengan kata threesome ya :) Akupun tidak tahu, atau baru tahu akhir-akhir ini, dari seorang teman di Yogyakarta yang kukenal waktu dia belajar di Jepang, Ani.

Trisomy 18 pada bayi adalah  kelainan kromosom yaitu kelebihan kromosom nomor 18 yang seharusnya 2 kromosom saja (kromosom nomor 18nya ada 3).  Jika kita mengetahui down syndrom, itu kelebihan kromosom nomor 21, yang masih bisa ditangani. Sedangkan Trisomy 18 lebih sulit, karena membawa dampak ke semua organ tubuh. Dampak yang paling umum adalah lubang di jantung. Namun sebetulnya kelainan trisomy 18 (T18) ini bisa terjadi 1 dari 6000 kelahiran. Angka yang menurutku cukup banyak ya.

Ani melahirkan anak keduanya pada bulan April 2014 dan divonis bahwa bayinya mengalami kelainan T18 ini. Tentu sangat menyedihkan bagi orang tua jika mengetahui bayinya menderita trisomy, dan sulit juga bagi orang tua untuk menjelaskan kondisi bayinya kepada saudara dan teman-teman. Untunglah Ani akhirnya mau memberitahukanku melalui Ekawati Sudjono, mohon doa katanya.

Anak perempuan manis itu diberi nama Marvella. Vella mempunyai kista di otak, otot-otot kaku dan reflek telan tidak berjalan. Itu sebabnya dia hanya bisa minum susu melalui selang. Sebagai seorang ibu, aku juga tahu betapa berat Ani menghadapi semuanya. Apalagi setelah beberapa saat cuti melahirkan, dia masih harus kembali bekerja di universitas. Bersama suami dan kakak Brian, mereka berempat melewati hari-hari yang pasti amat berat. Aku bisa mengikuti perkembangan adik Vella melalui catatan Ani di FB.

Karena aku ingin menemui Ani dan dik Vella maka aku merencanakan perjalanan ke Yogyakarta summer lalu. Jadi setelah dari rumah ibunya Donny di Klaten, kami menyusuri jalan yang cukup macet ke Yogyakarta dengan mobil Ata chan. Kebetulan Atachan mengetahui daerah tempat tinggal Ani, sehingga bisa cepat ketemu.

Brian langsung mengajak kakak Riku dan Kai untuk bermain, sementara aku menjenguk Vella yang sedang tidur. Kamipun berdoa bersama (aku berterima kasih pada Riku dan Kai yang mau ikut berdoa padahal aku berbicara dalam bahasa Indonesia) sebelum aku pamit untuk menuju tempat kami menginap di Yogya, Catys House.

Kemarin adalah 100 harinya dik Vella meninggalkan dunia, kembali kepada Sang Pencipta. Aku hanya bisa melihat foto bunga yang dibawa kakak Brian ke makam lewat FB, tapi hatiku ikut berdoa bagi bayi kecil Vella, dan untuk orang tuanya. Dari tulisan Ani, aku juga mengetahui bahwa ternyata ada kelompok keluarga-keluarga dengan bayi dengan kelainan langka yang saling menguatkan.Dan seperti yang Ani pernah tuliskan, bayi-bayi ini diberikan Tuhan untuk mengajarkan manusia terus bersyukur untuk kehidupan. Dik Vella hanya mampu bertahan 7 bulan tapi telah memberikan cinta dan persahabatan yang indah di antara kami. Terima kasih dan selamat jalan Vella sayang <3

kenangan bersama adik Vella di Yogyakarta, 13 Agustus 2014. Foto diambil oleh Atachan

Bulan Maret adalah bulan untuk Trisomy. Aku ingin mendoakan untuk semua keluarga yang mempunyai anak trisomy 18 agar mereka dapat menjalankan kehidupan bersama kelainan anaknya. Karena meskipun T18 dikatakan incompatible with life, mereka hanya membutuhkan support dan treatment karena kondisi mereka memang tidak memungkinkan hidup tanpa treatment. Hidup memang butuh perjuangan, tapi perjuangan itu juga butuh dukungan. Aku juga  menunggu tulisan Ani mengenai suka dukanya merawat bayi T18 sehingga bisa menjadi pengetahuan bagi orang tua lainnya.

KLA X

Aku sebetulnya tidak mau tulis KLATEN seperti itu karena mengingatkan pada perbuatan orang Indonesia yang tidak menghargai tempat wisata di Jepang. Waktu itu ramai kejadian ada tulisan KLA X Indonesia di rute gunung Fuji. Pas saat itu aku berada di Indonesia sehingga tidak tahu bagaimana akhir kejadian itu.

Perjalanan dengan kereta dari Surabaya akhirnya mengharuskan kami turun di Klaten. Ya, aku memang mempunyai tujuan khusus mampir ke Klaten dulu sebelum ke Jogja. Inginnya sih mampir ke Solo juga, tapi… nanti saja lain kali. Di Klaten aku ingin mengunjungi DUA tempat, yang pertama adalah rumah mertua dari adik perempuanku yang akrab kami panggil Yang Ti dan Yang Kung serta rumah ibunya Donny Verdian (yang sudah kutulis di sini).

Seperti yang kutuliskan di sini, begitu mendekati stasiun Klaten, petugas cleaning yang kuminta carikan porter mendatangi kursi kami dan menurunkan barang-barang kami. Loh… kupikir dia akan turun panggil porter, tapi katanya, “Stasiun kecil bu, tidak ada porter, biar saya bawakan saja” Wah, untung saja. Jadi dia menurunkan bawaanku, lalu membawakan sampai pintu keluar. Aku sempat berkata padanya untuk turunkan saja dari kereta ke peron, nanti aku sedikit-sedikit bisa bawa. Eh dia bawa sampai pintu stasiun. Soalnya aku kasian kan kalau dia ditinggal kereta :D:D 😀

Riku dan Kai naik becak di Klaten :D

Sesampai di pintu stasiun, sudah ada YangTi menunggu. Barang-barang langsung dimasukkan mobil, sedangkan Riku dan Kai disuruh naik BECAK! hahaha, senang lah mereka bisa naik becak.

stasiun Klaten

Kami memang sampai duluan di rumah, tapi YangTi bilang abang becaknya kenalan jadi tidak perlu khawatir.

berdikari!

Kami diantar berkeliling rumah, melihat ayam dan ikan yang dipelihara. Anak-anak langsung memancing ikan di empang, lalu digoreng menjadi lauk kami selain ayam peliharaan. Jikyu jisoku 自給自足 berdikari menyediakan semua keperluan sendiri 😀 Dan YangTi juga sempat menggorengkan sukun dari pohon sendiri! duh Sukun kesukaanku! Kapan lagi bisa makan gorengan sukun panas-panas!

Masih ada foto bersama alm. YangKung di Klaten

Sambil menunggu dijemput Atachan, aku sempat tidur siang. Saat itu YangTi pergi ke acara di gereja, sedangkan YangKung menunggu di rumah. Aku sempat bercakap-cakap dengan YangKung sambil menikmati teh panas manis dan buah-buahan. Itu adalah pertemuan aku dengan YangKung yang terakhir karena beliau meninggal sekitar 4 bulan yang lalu. Aku bersyukur mengikuti perasaanku untuk turun di Klaten dan bertemu YangTi dan YangKung, ditambah lagi dengan kunjungan ke rumah ibunya Donny Verdian. Klaten kemudian kutinggalkan untuk kemudian menuju ke Yogyakarta dengan mobilnya Atachan.

Yogyakarta I’m coming!

kenangan di Klaten 13 Agustus 2014

Catatan perjalanan mudik summer 2014