Tutup buku

Haiyah sudah tanggal segini, Imelda baru cerita soal tutup buku. Biasanya kan tutup buku itu akhir Maret. Tapi memang kalau mengerjakan tutup buku biasanya sibuk sekali mana ada  waktu untuk menulis blog ya :D

Nah sebetulnya aku ingin menulis tentang tutup bukunya Riku, yang dilaksanakan tanggal 25 Maret yang lalu, yaitu wisuda SD. Kalau bicara soal wisuda, sejak kapan ya anak TK juga ada wisuda-wisudaan pakai toga segala? Kadang aku geli melihat foto bocah-bocah yang masih ingusan itu memakai toga…dan memang jamanku dulu tidak ada (dan sekolah almamaterku juga tidak ada). Toga hanya untuk wisuda universitas.

Kalau di Jepang, terutama untuk sekolah negeri yang tidak mempunyai seragam,tidak ada peraturan harus memakai apa untuk acara wisuda.Tapi biasanya anak perempuan akan memakai baju setelan yang sudah diset menjadi “baju wisuda “oleh toko-toko. Sedangkan untuk anak laki lebih simple, blazer dan celana panjang. Dan kulihat malah tidak ada yang memakai setelan jas berwarna sama. Jadi untuk Riku aku hanya perlu membeli celana “pantalon” karena dia sudah dapat lungsuran blazer dari opanya (bayangkan gedenya dia sama dengan opanya loh hehehe)  dan dasi pinjam dasi papanya. Sempat terpikir untuk membeli sepatu pantofel tapi teringat bahwa upacara diadakan di dalam hall sehingga semua tidak pakai sepatu (pakai uwabaki -sepatu dalam- atau tamu pakai slipper).

waktu masuk SD dan lulus SD… terima kasih untuk 6 tahun yang berguna

Kami harus berada di sekolah pukul 9:15,karena acara dimulai pukul 10:30. Tapi tentu saja orang Jepang terbiasa datang sebelum jamnya, sehingga diumumkan bahwa orangtua boleh masuk sejak pukul 8:45. Dan karena kakiku masih sakit sehingga tidak bisa jalan cepat-cepat, kami berangkat jam 8:20 dari rumah. Karenanya kami masih sempat berfoto di depan sekolah. Cuaca cerah meskipun dingiiin. Karena aku ingin sekali memakai baju tradisional Indonesia, meskipun dingin aku paksakan juga deh. Ya kalau kimono itu memang tebal jadi cocok untuk dipakai pada musim dingin (sebagai gantinya kalau pakai kimono di musim panas ya kepanasan. Karena itu ada yukata sebagai kimono musim panas).

Kami mendapat tempat duduk persis di lokasi yang sama seperti waktu upacara masuk sekolah 6 tahun yang lalu, sehingga dapat memotret Riku yang sedang berjalan dari pintu masuk melewati “karpet merah” menuju tempat duduknya. Selama “wisudawan” masuk, hadirin bertepuk tangan. Kebiasaan ini dipakai untuk upacara masuk juga, semacam defile gitu. Tapi tepuk tangan HANYA di awal dan akhir acara waktu lulusan masuk dan keluar. Tidak ada tepuk tangan setiap sebelum atau sesudah acara sambutan dll. Tidak seperti di Indonesia, yang  berkali-kali bertepuk tangan. Well kebiasaan tiap negara tentu berbeda kan.

masuk melewati karpet merah, kiri dulu waktu masuk SD, dan kanan waktu lulus SD. Perubahan selama 6 tahun

Acara berlangsung lancar dengan penerimaan ijazah satu persatu. Namun sebelum menerima ijazah, mereka harus mengucapkan satu kalimat dulu. Ada yang mengatakan cita-citanya, ada yang mengucapkan terima kasih. Aku sempat kepikiran juga Riku akan mengatakan apa, soalnya pada buletin sekolah yang terakhir, murid kelas 6 harus menuliskan “apa yang kamu lakukan 10-20 tahun di masa datang”, Riku menulis: “saya akan bekerja di toko buku dan memberikan saran buku yang bagus untuk calon pembeli”. Ternyata dia hanya mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah membantu dia sampai lulus kelas 6.

Setelah acara penerimaan ijazah, dilanjutkan dengan sambutan dan upacara selamat dari kepala sekolah dan komite pendidikan kelurahan kami. Lalu disambung dengan persembahan lagu dan musik dari kelas 5 yang mengantar “kakak”nya lulus. Di sini aku merasa kagum dengan SD ini yang menekankan musik dalam kurikulumnya. Cukup bagus tentu sesuai dengan tingkatan SD. Tapi yang membuat aku terharu (meskipun tidak sampai menangis) adalah sambutan dan lagu dari kelas 6…terutama paragraf terakhir yang menekankan “sayonara”. Ya sampai ada satu anak yang terus menangis sampai acara terakhir yaitu keluar hall melewati karpet merah lagi.

Setelah acara terakhir yaitu membuat foto bersama guru-murid dan orang tua per kelas, kami keluar sekolah. Kupikir acara sudah selesai, tapi ternyata semua berdiri di lapangan yang sudah diberi kapur. Ya kelas 5 membuat gerbang dan lulusan melewati di bawahnya. Mengantar keluar gerbang. Justru di sini aku merasa terharu sekali. Namun wajah mereka tidak lagi terharu tapi justru gembira.

melewati gerbang “kelulusan”

Kami sempat “menangkap” Riku yang mencari teman-teman baiknya untuk berfoto bersama, sambil juga mencari bunga sakura. Beruntung sekali hari itu cerah. Karena setelah pulang dari acara wisuda, malamnya kami berkumpul lagi untuk merayakan kelulusan di sebuah restoran dekat rumah. Aku yang sudah lama tidak makan daging, puas-puasin deh makan daging karena sistemnya “all you can eat” dan cukup mahal hehehe.

Setelah acara wisuda, memang sekolah libur musim semi sampai tanggal 7 April. Tapi libur selama 2 minggu itu diisi dengan pelajaran di bimbingan belajar dan perjalanan ke Kyoto. Sehingga setelah ini aku akan menuliskan tentang perjalanan ke Kyoto ya. Tanoshimini shitekudasai. 

di bawah pohon sakura

 

 

Menoleh ke belakang

Ya masak sih menoleh ke depan? Tapi bisa menoleh ke samping loh :D

Menoleh ke belakang, Furikaeru 振り返る merupakan kegiatan mengenang kembali, menilai dan menemukan perkembangan yang telah dicapai dalam waktu tertentu. Dan kami orang tua murid, sepuluh hari yang lalu berkumpul dengan guru untuk membicarakan hasil pembelajaran selama satu tahun di SD untuk Riku dan Kai. Hogoshakai 保護者会namanya, dan biasanya dilakukan 3 -4 kali setahun. Awal, pertengahan dan akhir tahun pelajaran. Seperti yang pernah aku tulis, murid SD menerima rapor langsung dari guru pada hari terakhir sekolah, jadi bukan orang tua datang untuk menerima. Untuk itu biasanya 10-15 hari sebelum sekolah berakhir, diadakanlah hogoshakai ini, tempat guru menjelaskan perkembangan murid sekaligus kepada orang tua, dan orang tua juga mempunyai kesempatan untuk mengenali orang tua teman anaknya. Tentu saja selain hogoshakai ini ada mendan個人面談, tatap muka untuk membahas empat mata antara orang tua dan guru, biasanya diadakan sebelum semester satu berakhir.

Di kelas Kai (1 SD), kami menerima penjelasan dari guru mengenai perkembangan anak-anak kami. Bayangkan yang bulan April tahun lalu lulus TK belum bisa baca tulis, sekarang sudah bisa 80 kanji dan menguasai hiragana dan katakana. Untuk berhitung sudah menguasai penambahan, pengurangan dan baca jam. Kata gurunya Kai: “Waktu awal tahun ajaran, masih ada murid yang masih takut ke WC, ngompol. Atau belum bisa pakai peniti nama di dadanya.. Atau pada wkatu istirahat, awal-awal anak-anak masih duduk di kelas terus, takut untuk bermain di halaman. Tapi setelah lewat setengah tahun, begitu bel berbunyi, langsung lari deh. Selain belajar, dalam pertemanan juga mulai ada friksi, tapi kalau dulu setiap bertengkar pasti nangis dan ngadu kepada guru, lambat laun mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Biasanya ada yang jadi penengah. Memang saya selalu mengajarkan bahwa jika terjadi pertengkaran, dua pihak harus mencari penyebabnya, lalu menyadari siapa yang salah, kemudian memaafkan.”

Soal bertengkar memang Kai sering mengadu padaku bahwa ada beberapa anak yang memang “tukang pukul”. Dia sering dipukul atau didorong oleh anak-anak tertentu. Kadang dia balas, tapi aku memang beritahu dia jangan membalas, lebih baik lari dan lapor guru. Mendengar nama-nama teman Kai yang bermasalah, aku bisa menduga bahwa mereka itu menderita Autis, yang membutuhkan perhatian dari sekitarnya dan gurunya. Jadi aku selalu bilang pada Kai bahwa anak itu “sakit” sehingga maklumi saja.

Setelah mendengarkan penjelasan guru, tiba giliran kami orang tua menceritakan kemajuan anak masing-masing selama satu tahun ini. Aku katakan bahwa Kai dalam segi belajar tidak ada masalah, karena dia selalu membuat PR begitu pulang sekolah, dan selalu memaksa aku mendengarkan dia membaca tugas bahasa (音読ondoku = tugas untuk membaca dengan keras supaya lancar). Belum lagi dia selalu memberitahukan padaku jika perlu membawa sesuatu keesokan harinya (dia telepon ke HP dan meninggalkan pesan) sehingga aku bisa menyiapkan dan membelinya jika perlu. TAPI ada satu masalah yang belum bisa diperbaiki yaitu bahwa dia TIDAK pernah bermain di luar rumah dengan temannya. Biasanya memang anak-anak SD sesudah pulang sekolah dan menaruh ransel di rumah, akan keluar rumah dan bertemu teman di taman untuk bermain. Sekolah juga dibuka untuk dipakai mereka bermain di halaman sekolah. Nah, Kai tipe indoor sehingga sepertinya di kelas dua aku perlu memaksa dia untuk keluar rumah supaya lebih aktif bergerak. (Kalau tidak bisa ndut deh hehehe)

Tadi pagi jam 11 Kai sudah pulang dan membawa rapornya yang bernama AYUMI (langkah). Hasilnya bagus dengan 4 point mendapat nilai bagus sekali. Lalu dia cerita, “Tadi sensei bilang kalau ada yang mau mengerjakan PR waktu liburan musim semi, silakan ambil fotokopi PR”
“Kai ambil ngga?”
“Ngga”
“Lohhhh, kok ngga?”
“Abis, kan liburan… ngapain kerjain PR waktu liburan. lagipula itu tidak wajib”
Hahahahaha aku tidak bisa tahan ketawa. Siiip deh! Aku tahu dia ingin libur, karena setiap hari dia SELALU mengerjakan PR dan belajar rajin. Sekali-sekali boleh dong santai.

Tapi tadi malam, ternyata dia sendiri membuat catatan kanji-kanji yang sudah diketahui sendiri dalam buku catatan pribadinya, dan mengerjakan latihan baca jam yang pernah aku print out dari internet. Makanya aku tidak pernah khawatir tentang Kai, karena dia tahu sendiri kemampuannya.

Soal Riku?
Hmmm aku perlu menulis banyak kalau ingin mnceritakan detil pembicaraan guru wali kelasnya dalam hogoshakai untuk kelas 6, kelasnya Riku. Tapi intinya, kelasnya Riku dikenal sebagai kelas yang brengsek! Nakal dan ribut, sampai wakil kepala sekolah harus berdiri di belakang kelas. Itupun tetap ribut. Memang aku sudah tahu dari Riku tentang kelasnya yang tidak menunjang untuk belajar, sehingga membuatku berusaha keras supaya Riku belajar tambahan di bimbel (dan aku bersyukur karena guru-guru di bimbel mengatakan bahwa Riku pintar). Paling tidak dia tidka ketinggalan dalam akademisnya. Dan aku tahu Riku orangnya tidak terpengaruh oleh kenakalan temannya, malahan dia merupakan korban dari segelintir anak nakal yang ada di kelasnya (ada sekitar 5 anak yang menjadi biang keladi). Sampai -sampai gurunya angkat tangan, dan mengadu pada ibu-ibu yang hadir bahwa pihak sekolah takut jika acara wisuda akan berantakan oleh ulah anak-anak nakal ini.

Anak-anak kelas 6 memang sudah mulai memasuki pubertas, suka melawan orang tua dan guru. Itu alami, tapi jika sampai merugikan orang lain, itu tidak benar. Ada istilah khusus untuk anak-anak biang keladi ini yaitu Monster Children. Sayangnya, kami orang tua diberitahu sudah hampir lulus. Coba diberitahu sejak awal mulai bermasalah, kami orang tua bisa ikut membantu guru. (Pihak sekolah memang tidak mau membebani orang tua). Setelah pembicaraan dengan kepala sekolah, beberapa ibu mengusulkan supaya ibu-ibu bergiliran datang ke dalam kelas dan memperhatikan, kalau perlu menegur dan membantu guru dalam kelas. Aku pun ikut dua kali dan aku melihat bahwa anak-anak biang keladi ini memang adalah anak-anak dari keluarga yang tidak harmonis, tidak mempunyai waktu untuk mengurus anaknya (karena ada bayi), atau karena memang tidak bisa menegur dan mendidik anaknya. Kasihan! ya, karena anak-anak ini kan cermin keluarga. Ada memang anak panti asuhan, sehingga aku maklum kalau anak itu kasar…dan meskipun kasar dia mau ditegur. Aku pun melihat bahwa anak yang dimanja oleh orang tuanya itu cukup parah nilai akademisnya. Duh….. bagaimana mereka di SMP ya?

Hari ini Riku pun membawa rapornya, dan nilainya cukup bagus, meskipun tidak sebagus semester pertama (padahal hasil testnya bagus-bagus). Aku tahu ini juga pengaruh dari semangat guru wali kelas yang sudah merasa bahwa seluruh murid di kelasnya itu nakal dan tidak memperhatikan pelajaran. Gurupun manusia yang bisa capek, sehingga menurutku masalah seperti ini pasti akan ada di setiap sekolah. Kebetulan saja Riku sial mendapat kelas yang brengsek.

Besok Riku akan wisuda. Riku lumayan senang karena dengan lulus, berarti dia akan mempunyai suasana kelas yang lain, yang baru di SMP. Kebetulan SMPnya Riku jauh dari rumah, dan hanya ada 9 teman SD yang melanjutkan di sekolah yang satu angkatannya 200 orang. Berarti sudah pasti harus membuat teman baru kan?
Aku cuma bisa berdoa semoga acara wisuda besok bisa berjalan lancar tanpa halangan yang berarti.

Yang satu suka baca, yang satunya lagi suka nulis! Tiap anak memang berbeda :D

 

 

Langganan

Pasti kita semua punya toko langganan ya, tempat kita pergi membeli sesuatu. Seperti temanku Mawar, punya pedagang Bacang langganannya. Atau temanku, punya langganan tempat minum. Aku sendiri punya langganan tukang sayur, yang setiap hari mengirimkan email harga-harga sayuran yang akan dijual hari itu beserta passwordnya. Jadi kalau menyebut password itu akan berlaku harga langganan yang tentu jauh lebih murah. Kalau untuk membeli daging dan ikan, di toko langganan yang lain lagi.

Kadang toko atau restoran langganan itu bukan (hanya) dari murahnya. Lebih karena service/ pelayanan mereka yang menyentuh hati. Seperti toko sayurku itu memang murah, tapi kami sering bercakap-cakap mengenai hal lain. Tapi kalau aku mau membeli apel atau stroberi yang enak dan bentuknya bagus, aku beli di toko lain. Harga, mutu dan pelayanan memang merupakan faktor yang menentukan waktu kita berbelanja ya.

Di dekat rumahku (dan dekat sekolah SD Riku) ada sebuah toko alat tulis dan keperluan sekolah. Baju olahraga, topi dijual di situ, sehingga paling tidak waktu masuk kelas 1 kami wajib ke situ. Semacam toko yang ditunjuk pihak sekolah. Ini saya rasa merupakan kebijakan pemerintah daerah juga untuk membantu toko-toko kecil di sekitar sekolah. Tapi biasanya orang-orang hanya membeli yang wajib saja di situ. Aku pun tidak sering pergi ke situ, hanya kalau perlu buku catatan saja. Lalu biasanya sekalian  membeli bolpen, pensil atau kertas origami. Karena aku tahu bolpen, pensil dan kertas origami lebih murah di toko lain. Eh tapi di sini bisa membeli cat air satu warna saja, sehingga kalau cat air anak-anak habis aku membeli di sini.

Sejak kelas 4 Riku bisa pergi ke toko Hinokiya itu sendiri. Pemilik toko adalah seorang nenek yang ramah. Suatu kali Riku membawa uang 1000 yen untuk membeli buku catatan dan pensil merah. Waktu dia kembali ke rumah, dia heran melihat di dalam kantong plastiknya ada 1700-an. LOH kok bisa bawa 1000, kembalinya malah lebih. Lalu dia lapor ke aku, “Ma, aku kembali ke toko obasan dulu ya. Ini pasti obasan lupa ambil uangnya, tapi sudah kasih kembaliannya”
Lalu dia pergi, dan… obasan begitu terharu sampai dia diberi setip macam-macam bentuk. Obasan itu selalu memuji-muji Riku setiap aku datang ke sana. Dan tentu saja sejak itu aku juga berhati-hati mengecek uang kembalian, jangan sampai salah. Kasihan obasan kalau rugi kan.

Nah, Riku akan lulus dari SD. Sudah hampir dipastikan dia tidak berbelanja ke toko itu lagi. SMPnya jauh, dan di dekat SMP ada toko kecil lagi yang ditunjuk pihak sekolah. Jadi kemungkinannya akan berbelanja di sana, sepulang sekolah yang konon sampai jam 6 sore. Belum lagi dia ikut bimbel di dekat stasiun, sehingga bisa berbelanja alat tulis di toko-toko dekat stasiun. Karena itu aku mengajak Riku berbelanja terakhir di toko obasan sekaligus melaporkan bahwa dia akan lulus. Dan… obasan itu senang sekali karena diingat.

Aku pun bertanya, “Boleh aku memotret obasan dengan Riku?”
“Aduh aku belum sisiran dan tidak dandan….”
“Tidak apa-apa kok”

dan kami berfoto bersama…. sebagai kenangan antara pemilik toko dan pembelinya.

riku dan obasan pemilik toko alat tulis

“Biarpun anak sulung kamu sudah ke SMP, kamu dan adiknya bisa datang ke sini kan? Kadang-kadang tengok saya ya. Aduh saya masih ingat waktu kamu antar Riku dengan perut besar lagi hamil anak kedua…”
“Iya nanti saya akan mampir. Nanti saya akan suruh Kai juga pergi belanja ke sini. Terima kasih ya selama ini”
“Saya juga terima kasih”

Riku dan aku meninggalkan toko itu membawa plastik berisi buku catatan untuk Kai, pensil dan beberapa setip hadiah dari obasan untuk Kai.
Osewaninarimashita.

 

Juken dan DUDUKU

Malam ini (eh sudah dini hari :D ) mau cerita tentang anak-anak ya… oyabaka ahhh :D

Jadi begini, Riku yang sekarang kelas 6, sejak bulan Oktober tiba-tiba menyatakan ingin ikut ujian masuk SMP (negeri/swasta), atau yang dikenal dengan Juken. Sebetulnya setiap anak usia sekolah sudah tahu pasti bisa melanjutkan ke SMP negeri terdekat rumah, tanpa perlu ujian. Tapi jika ingin masuk ke SMP negeri terkenal di wilayah lain atau masuk SMP swasta, harus mengikuti ujian yang diadakan bulan Februari. Dan biasanya untuk juken itu, persiapannya dimulai waktu si anak kelas 4 SD dengan mengikuti bimbingan belajar (bimbel atau bahasa Jepangnya JUKU).

Nah, Riku terlambat aku masukkan ke JUKU. Waktu kelas 4 aku masukkan ke KUMON, dan ternyata Riku tidak cocok dengan cara pelajaran di Kumon (aku juga tidak….) . Cara Kumon itu berlatih terus menerus tanpa diajari gurunya, hanya mengerjakan latihan terus menerus. Kalau sudah melewati “jatah” (misalnya berapa lembar) baru maju ke topik berikutnya. Dan jeleknya waktu itu Riku kelas 4, tapi harus mengerjakan soal-soal dari kelas 1. Jadi Kumon itu harus menyelesaikan SEMUA tingkatan dulu. BOSAN! (aku juga hahaha) Jadi Riku menjadi malas pergi ke Kumon, karena dia merasa sudah bisa, dan buang waktu (yes, aku juga pikir buang waktu). Jadi dia selalu mencari alasan untuk tidak pergi les, dan terus terang aku tidak pernah mau memaksa anak untuk pergi les kalau dia tidak mau. Buat apa? Karena kupikir jika anak itu BENCI, sekeras-kerasnya kita SURUH, dia tidak akan maju dan takutnya dia jadi benci belajar.

Jadi menjelang kenaikan kelas 5, aku menghentikan pelajaran di Kumon itu. Dan karena Riku mau belajar di Juku, akupun mencari Juku yang bagus di dekat rumah. Juku E**** itu terkenal dan sering kudengar namanya, dan mempunyai cabang hampir di setiap stasiun. Tidak murah pastinya. Dan untuk bisa mengikuti les di situ, Riku harus mengikuti semacam test awal untuk mengetahui levelnya dia seberapa. Kalau terlalu rendah, tidak bisa masuk! Di sini aku agak kesal juga karena kupikir orang menyuruh anaknya ke Juku kan semestinya karena anaknya kurang, sehingga minta bimbingan tambahan supaya bisa naik nilainya. Eh, tapi itu pengertianku untuk les tambahan di Indonesia. Di Jepang, apalagi juku yang terkenal, tidak mau namanya jelek karena mereka butuh “iklan” sudah meloloskan berapa anak, masuk sekolah-sekolah terkenal :)

Pada test pertama, Riku tidak memenuhi standar. Lalu gurunya tanya, apakah Riku mau ikut test kedua? Memang waktu itu Riku tidak siap untuk test. Dan, aku bersyukur, Riku mau ikut test kedua. Di situ dia sudah mendapat nilai plus dari gurunya. Karena Riku mau mengulang dan berusaha. itu menunjukkan kemauannya untuk belajar. Test kedua, lewat standar. Jadi Riku bisa mengikuti kelas di Juku itu untuk dua mata pelajaran utama yaitu Matematika 算数 dan Bahasa 国語.

Sejak kelas 5 jadinya Riku harus pergi belajar sekali seminggu dua jam pelajaran (2×80 menit) ke Juku. Dia mengikuti kelas biasa yang mempersiapkan ujian SMA (tidak mempersiapkan juken SMP). Satu kelas muridnya ada 10 orang.

Setelah beberapa bulan, Riku mulai malas-malasan mengikuti kelas. Alasannya capek lah, sakit kepala lah… sehingga aku harus menelepon ke juku supaya dia bisa absen. Untunglah dia berhak untuk mendapatkan bimbingan “pergantian” di luar jam pelajaran dengan guru langsung. Nah! Ternyata dia lebih enjoy belajar dengan guru langsung pada jam-jam pergantian ini. Hmmm aku menyadari pasti ada masalah dengan kelasnya.

Setelah kutanya, ternyata benar, Riku tidak suka dengan murid-murid di kelas itu. Murid-murid itu memang berasal dari sekolah macam-macam. Katanya, “Anaknya ribut ma… ” dan “Aku dikatain gendut!” Hmm … ini masalah. Jadi aku bicara ke kepala Jukunya, dan langsung diatur supaya Riku tidak berada di dekat anak tersebut. Pokoknya gurunya memperhatikan Riku deh. Tapi tetap Riku tidak merasa nyaman. Dia ingin ikut les yang privat…. dan itu berarti lebih mahal :(

Les privat itu adalah dua murid dengan satu guru. Dalam waktu 80 menit itu, dia bisa bertanya langsung pada gurunya dan bisa jadi murid yang satunya bukan level dia. (pada kenyataannya dia sering pair dengan anak SMP sehingga nantinya dia sering melihat/mendengar tip belajar di tingkat yang lebih tinggi sehingga menjadi nilai plus untuknya). Karena biayanya mahal, aku minta Riku untuk les privat matematika saja, tapi kelas bahasa tetap ikut yang kelas. Untuk membayar dua kelas privat aku belum mampu.

Jadi Riku mengikuti bimbel dua hari seminggu, hari senin dan jumat. Karena akhirnya kelas bahasa itu juga terasa tidak bermanfaat untuk Riku, aku menyuruh dia ikut dua kelas privat. Berat tapi mengingat dia sudah kelas 6, kupikir lebih baik begitu. Dan benar saja dia bisa menunjukkan perkembangan belajarnya lebih bagus lagi di sekolah. Sehingga tiba-tiba dia menyatakan ingin juken!

Wah, juken itu berarti biaya tambahan (untuk ikut pre-test try-out dan ujian masuk di tiap SMP) dan pelajaran yang lebih tinggi standarnya. Aku langsung menghubungi guru jukunya dan minta supaya gurunya membimbingnya. Tapi, aku cukup senang karena gurunya berkata, “Kalau Riku pasti bisa mengejar kok. Saya percaya karena Riku beberapa bulan terakhir menunjukkan perkembangan yang pesat”. Jadi mulai November, tujuan belajarnya berubah, dan Riku juga lebih banyak belajar.

Yang menjadi patokan dalam juken adalah hensachi 偏差値, yaitu nilai rata-rata sebuah sekolah, dan nilai rata-rata si murid. Jadi kalau SMP A hensachinya 70, maka anak-anak yang hensachi-nya hanya 50, akan sulit lulus. Kemungkinannya jauh! Anak-anak yang hensachi-nya 50 selayaknya mencari sekolah yang hensachinya 50 atau 60, supaya kemungkinan diterimanya lebih besar. Hmmm memang hensachi itu penting di Jepang karena rapor sekolah Jepang BUKAN berupa angka, atau ranking. Hanya tanda bisa, cukup atau kurang!  Sehingga perlu “angka” yang bisa menilai sebuah sekolah atau murid. Dan ini baru diketahui kalau ikut belajar di juku.

Riku akhirnya mengikuti try out satu kali, dan dia menyatakan tidak mau mengikuti ujian masuk SMP. Alasannya, dia tidak tahu mau masuk SMP yang mana :D Memang biasanya waktu juken itu murid (atau orang tua murid) sudah tahu ingin masuk SMP favorit mana, ambisi masuk mana. Misalnya SMP W, sehingga guru tahu hensachi SMP W dan akan menggeber belajar supaya bisa lulus ujian masuk di SMP itu. Nah, setiap kali guru juku menanyakan pada kami, kami tidak bisa menjawab. Ya, karena kami sebetulnya tidak punya maksud memasukkan Riku ke SMP lain :D Rikunya sendiri yang mau coba-coba ikut ujian. Tentu kami biarkan  dia coba dong ;) Dan akhirnya dia bisa tahu sendiri bahwa memang untuk bisa masuk SMP favorit harus punya nilai hensachi yang tinggi, dan itu memang tidak mungkin dicapai dalam waktu 2 bulan hehehe. Tapi yang penting dia tahu kemampuannya sekarang.

So,  Riku tetap masuk SMP negeri yang sudah ditentukan oleh Komite Pendidikan kelurahan kami. Dan letaknya cukup jauh dari rumah kami (lokasi rumah kami termasuk perbatasan wilayah sekolah atau dulu istilahnya di Indonesia adalah rayon 学区), dan kami sudah pergi mengikuti orientasi termasuk pengukuran baju seragam dll. Tinggal nanti ikut upacara masuk tanggal 7 April.

Dan Riku sekarang setiap hari menggunakan waktu luangnya pergi ke juku dan menggunakan ruangan di sana (boleh dipakai setiap saat) untuk belajar! Wah anakku sekarang belajar terus loh :D Sebagai orang tua tentu senang sekali, dan memang persiapan masuk SMA selayaknya sudah dimulai sejak kelas 1 SMP, supaya bisa masuk SMA yang diinginkan. Nah kalau SMA memang harus juken semuanya, karena SMA bukan wajib belajar, sehingga kita harus cari sendiri. Kelurahan tidak “menyediakan” SMA, hanya “menyediakan” SD dan SMP hehehe.

Salah satu yang Riku lakukan sekarang adalah membuat daftar kata-kata bahasa Inggris, supaya menghemat waktu belajar di SMP. Jadi guru jukunya sudah memberikan kata-kata bahasa Inggris yang harus dihafal di kelas 1 SMP, dan dia membuat sendiri daftarnya. Katanya, “Kalau setiap hari bisa 10 kata kan bagus” :D

Jadi begitu ceritaku tentang juken, sedangkan DUDUKU itu apa?

Karena Kai yang kelas 1 SD melihat kakaknya menulis alfabet setiap hari, dia juga mulai aware dengan huruf latin. Dia sudah menguasai alfabet, sehingga kalau dia bisa baca sebuah kata dia akan tanya padaku apa bacaan dari tulisan tersebut.

Tadi siang tiba-tiba dia berkata, “Mama b o x itu box ya?”
Aku kaget dan bilang “Betul. Hebat kamu. Apa artinya?”
“箱 (kotak)”

wah kelihatannya aku perlu menginput Kai dengan kata-kata baru bahasa Inggris nih. Siapa tahu pelajaran kelas 1 SMP dia sudah bisa ikuti hahaha.

Jadi tadi sebelum tidur kami bermain dengan iPad. Aku minta dia menulis BOX. bisa.
Lalu aku minta dia menulis S I T, dan bisa. lalu aku katakan ini SIT artinya suwaru 座る.
Dan tiba-tiba dia tanya padaku bagaimana menulis DU? Ya aku katakan D dan U
Lalu dia tulis DUDUKU…. waaaaaaah anakku tahu bahasa Indonesianya suwaru itu duduk. Jadi sekaligus deh belajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Tapi waktu aku bilang harus menghapus U sesudah K, dia kesal dan bertanya? KENAPA? hahaha Inilah susahnya orang Jepang! SEMUA KONSONAN HARUS ADA VOKALNYA hihihi.

Aku bilang, “Besok deh mama jelasin, kalau mama jelasin sekarang nanti kamu tidak bisa tidur!”

SE LA MA (T)TO MA RA MU
SE LA MA (T)TO CHI DU RU   :v :v :v  ~~~~~

Trisomy18

Kurasa masih sedikit yang tahu apa arti trisomy, lain halnya dengan kata threesome ya :) Akupun tidak tahu, atau baru tahu akhir-akhir ini, dari seorang teman di Yogyakarta yang kukenal waktu dia belajar di Jepang, Ani.

Trisomy 18 pada bayi adalah  kelainan kromosom yaitu kelebihan kromosom nomor 18 yang seharusnya 2 kromosom saja (kromosom nomor 18nya ada 3).  Jika kita mengetahui down syndrom, itu kelebihan kromosom nomor 21, yang masih bisa ditangani. Sedangkan Trisomy 18 lebih sulit, karena membawa dampak ke semua organ tubuh. Dampak yang paling umum adalah lubang di jantung. Namun sebetulnya kelainan trisomy 18 (T18) ini bisa terjadi 1 dari 6000 kelahiran. Angka yang menurutku cukup banyak ya.

Ani melahirkan anak keduanya pada bulan April 2014 dan divonis bahwa bayinya mengalami kelainan T18 ini. Tentu sangat menyedihkan bagi orang tua jika mengetahui bayinya menderita trisomy, dan sulit juga bagi orang tua untuk menjelaskan kondisi bayinya kepada saudara dan teman-teman. Untunglah Ani akhirnya mau memberitahukanku melalui Ekawati Sudjono, mohon doa katanya.

Anak perempuan manis itu diberi nama Marvella. Vella mempunyai kista di otak, otot-otot kaku dan reflek telan tidak berjalan. Itu sebabnya dia hanya bisa minum susu melalui selang. Sebagai seorang ibu, aku juga tahu betapa berat Ani menghadapi semuanya. Apalagi setelah beberapa saat cuti melahirkan, dia masih harus kembali bekerja di universitas. Bersama suami dan kakak Brian, mereka berempat melewati hari-hari yang pasti amat berat. Aku bisa mengikuti perkembangan adik Vella melalui catatan Ani di FB.

Karena aku ingin menemui Ani dan dik Vella maka aku merencanakan perjalanan ke Yogyakarta summer lalu. Jadi setelah dari rumah ibunya Donny di Klaten, kami menyusuri jalan yang cukup macet ke Yogyakarta dengan mobil Ata chan. Kebetulan Atachan mengetahui daerah tempat tinggal Ani, sehingga bisa cepat ketemu.

Brian langsung mengajak kakak Riku dan Kai untuk bermain, sementara aku menjenguk Vella yang sedang tidur. Kamipun berdoa bersama (aku berterima kasih pada Riku dan Kai yang mau ikut berdoa padahal aku berbicara dalam bahasa Indonesia) sebelum aku pamit untuk menuju tempat kami menginap di Yogya, Catys House.

Kemarin adalah 100 harinya dik Vella meninggalkan dunia, kembali kepada Sang Pencipta. Aku hanya bisa melihat foto bunga yang dibawa kakak Brian ke makam lewat FB, tapi hatiku ikut berdoa bagi bayi kecil Vella, dan untuk orang tuanya. Dari tulisan Ani, aku juga mengetahui bahwa ternyata ada kelompok keluarga-keluarga dengan bayi dengan kelainan langka yang saling menguatkan.Dan seperti yang Ani pernah tuliskan, bayi-bayi ini diberikan Tuhan untuk mengajarkan manusia terus bersyukur untuk kehidupan. Dik Vella hanya mampu bertahan 7 bulan tapi telah memberikan cinta dan persahabatan yang indah di antara kami. Terima kasih dan selamat jalan Vella sayang <3

kenangan bersama adik Vella di Yogyakarta, 13 Agustus 2014. Foto diambil oleh Atachan

Bulan Maret adalah bulan untuk Trisomy. Aku ingin mendoakan untuk semua keluarga yang mempunyai anak trisomy 18 agar mereka dapat menjalankan kehidupan bersama kelainan anaknya. Karena meskipun T18 dikatakan incompatible with life, mereka hanya membutuhkan support dan treatment karena kondisi mereka memang tidak memungkinkan hidup tanpa treatment. Hidup memang butuh perjuangan, tapi perjuangan itu juga butuh dukungan. Aku juga  menunggu tulisan Ani mengenai suka dukanya merawat bayi T18 sehingga bisa menjadi pengetahuan bagi orang tua lainnya.

KLA X

Aku sebetulnya tidak mau tulis KLATEN seperti itu karena mengingatkan pada perbuatan orang Indonesia yang tidak menghargai tempat wisata di Jepang. Waktu itu ramai kejadian ada tulisan KLA X Indonesia di rute gunung Fuji. Pas saat itu aku berada di Indonesia sehingga tidak tahu bagaimana akhir kejadian itu.

Perjalanan dengan kereta dari Surabaya akhirnya mengharuskan kami turun di Klaten. Ya, aku memang mempunyai tujuan khusus mampir ke Klaten dulu sebelum ke Jogja. Inginnya sih mampir ke Solo juga, tapi… nanti saja lain kali. Di Klaten aku ingin mengunjungi DUA tempat, yang pertama adalah rumah mertua dari adik perempuanku yang akrab kami panggil Yang Ti dan Yang Kung serta rumah ibunya Donny Verdian (yang sudah kutulis di sini).

Seperti yang kutuliskan di sini, begitu mendekati stasiun Klaten, petugas cleaning yang kuminta carikan porter mendatangi kursi kami dan menurunkan barang-barang kami. Loh… kupikir dia akan turun panggil porter, tapi katanya, “Stasiun kecil bu, tidak ada porter, biar saya bawakan saja” Wah, untung saja. Jadi dia menurunkan bawaanku, lalu membawakan sampai pintu keluar. Aku sempat berkata padanya untuk turunkan saja dari kereta ke peron, nanti aku sedikit-sedikit bisa bawa. Eh dia bawa sampai pintu stasiun. Soalnya aku kasian kan kalau dia ditinggal kereta :D:D :D

Riku dan Kai naik becak di Klaten :D

Sesampai di pintu stasiun, sudah ada YangTi menunggu. Barang-barang langsung dimasukkan mobil, sedangkan Riku dan Kai disuruh naik BECAK! hahaha, senang lah mereka bisa naik becak.

stasiun Klaten

Kami memang sampai duluan di rumah, tapi YangTi bilang abang becaknya kenalan jadi tidak perlu khawatir.

berdikari!

Kami diantar berkeliling rumah, melihat ayam dan ikan yang dipelihara. Anak-anak langsung memancing ikan di empang, lalu digoreng menjadi lauk kami selain ayam peliharaan. Jikyu jisoku 自給自足 berdikari menyediakan semua keperluan sendiri :D Dan YangTi juga sempat menggorengkan sukun dari pohon sendiri! duh Sukun kesukaanku! Kapan lagi bisa makan gorengan sukun panas-panas!

Masih ada foto bersama alm. YangKung di Klaten

Sambil menunggu dijemput Atachan, aku sempat tidur siang. Saat itu YangTi pergi ke acara di gereja, sedangkan YangKung menunggu di rumah. Aku sempat bercakap-cakap dengan YangKung sambil menikmati teh panas manis dan buah-buahan. Itu adalah pertemuan aku dengan YangKung yang terakhir karena beliau meninggal sekitar 4 bulan yang lalu. Aku bersyukur mengikuti perasaanku untuk turun di Klaten dan bertemu YangTi dan YangKung, ditambah lagi dengan kunjungan ke rumah ibunya Donny Verdian. Klaten kemudian kutinggalkan untuk kemudian menuju ke Yogyakarta dengan mobilnya Atachan.

Yogyakarta I’m coming!

kenangan di Klaten 13 Agustus 2014

Catatan perjalanan mudik summer 2014

voorzichtig zijn = sing ngati-ati

“voorzichtig zijn” adalah kata yang sering diucapkan mamaku.

sing ati-ati le” adalah kata-kata yang terpatri dalam hati sahabat blogger, DV yang diucapkan ibunya pada saat-saat penting hidupnya.

Yang satu bahasa Belanda, dan yang satunya bahasa Jawa. Apapun bahasanya artinya sama… Hati-hati ya (nak).

Dalam satu kalimat itu HATI seorang ibu menyatu dalam doa untuk anaknya. Doa SEMUA ibu yang terucap untuk anak-anaknya, agar anak-anaknya tidak menemui rintangan, kemalangan atau marabahaya. Agar anaknya sehat dan bisa menjalankan aktifitasnya dengan baik.

Tiga hari yang lalu, hari Senin aku banyak menangis. Aku memang tidak mengisi rencana apa-apa karena ingin kuperuntukkan satu hari itu untuk mama yang telah dipanggil Tuhan 3 tahun yang lalu. Apalagi waktu kubuka FB pagi harinya, tante Diana, adik papa, salah satu tante yang amat kukasihi, menulis akan bersiap-siap ke Oasis (kolumbarium, tempat abu mama disimpan) bersama papa. Kuisi satu hariku dengan doa untuk mama, dan membongkar foto-foto lama untuk mengenang mama. Di situ aku ingat mama memang jarang bicara setelah terserang stroke pertama 1999. Tapi senyum mama tak pernah pudar. Senyum dan tawanya yang khas, terekam dalam setiap foto. She will always in my heart.

Dua hari yang lalu, aku menanyakan kabar ibunya Donny melalui google, dan aku tahu keputusannya seperti yang telah dia tuliskan dalam blognya. Berada jauh dari mama itu sangat tidak enak, apalagi dalam waktu-waktu seperti begini, ketika mama sakit atau dalam kesusahan.

Aku sendiri pernah bertemu dengan mamanya Donny ketika aku mampir di rumahnya di Klaten. Memang aku berencana mengunjungi rumahnya, mampir sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, Agustus 2014. Padahal aku tidak kenal ibunya, tidak tahu rumahnya dan Donny tentu tinggal di Australia. Aku sangat berterima kasih pada papa-mamaku yang selalu meneladani kami untuk berusaha mengunjungi keluarga/saudara/sahabat yang sakit atau melayat, semampu kita, meskipun hanya satu menit. Karenanya dengan berbekal alamat dan nomor HP adiknya Donny, kami bertiga (aku, Riku dan Kai) dengan Ata-chan mencari rumah Donny di Klaten.

dasar blogger, semua difoto :D Bukti aku sudah sampai rumah DV di Klaten

Setelah menunggu beberapa saat, kami bisa bertemu mamanya Donny, omanya dan adiknya. Mamanya Donny sempat tanya padaku, kamu siapa? Dan kukatakan: “Saya temannya Donny. Saya tinggal di Tokyo, Donny di Australia dan kami bersahabat melalui tulisan di internet. Pertama kali bertemu Donny tahun lalu di Jakarta, dan sekarang saya di sini di Klaten untuk bertemu mamanya Donny  hehehehe. Rumit ya. ”

dinding kenangan

 

Karena anak-anak mulai rewel, aku cepat berpamitan dan kami berfoto bersama, tak lupa aku sempat memotret foto-foto kenangan keluarga di dinding rumah. Bersama foto di depan rumah, aku kirimkan beberapa foto ke Donny via email saat itu. Maaf, saat itu mungkin aku membuat Donny kangen akan rumahnya, tapi…. rasa kangen, sedih nano-nano itu wajar untuk seorang manusia bukan? Apalagi untuk yang di rantau seperti kami… rindu tak tertahankan merupakan makanan sehari-hari :)

bersama mamanya Donny, mamak, dan dik Chitra… yang tidak kelihatan sedang hamil.

Sebetulnya aku sempat gembira ketika beberapa saat yang lalu melihat ibunya sudah tidak duduk di kursi roda lagi, pada sebuah foto di FBnya Donny. Fotonya sedang duduk memangku dan memandangi  cucu ketiga, anak dari adiknya Donny. Rupanya sempat mengalami kemajuan, tapi karena tersedak sekitar awal Februari lalu, sekarang kondisinya turun lagi.

Pada saat-saat seperti ini, kata-kata “sing ati-ati” sepertinya bukan hanya milik seorang ibu. Tapi juga milik seorang anak, yang amat sangat khawatir akan keadaan ibunya. Jika dulu anak-anak hanya menerima perkataan itu, sekarang waktunya untuk mengatakan hal yang sama kepada ibunya… “Bu, sing ati-ati”…

“Pa, take care”

 

Karena sesungguhnya ucapan itu merupakan doa bagi orang yang dicintai, dan sepotong hati ikut selalu menyertai ~~~

Sing ati-ati

voorzichtig zijn

Ki wo tsukete ~~~

 

“Kiranya Tuhan selalu melindungi kita semua di manapun kita berada. Amin”
Sebuah tulisan catatan perjalanan Surabaya-Jogjakarta 2014 yang tertunda.

Mendaki Tangga Kedewasaan

sebetulnya itu terjemahan dari perkataannya Kai waktu itu: 大人の階段に上った otona no kaidan ni nobotta. Hanya karena dia merasa bisa mengalahkan keinginan untuk main iPad seharian pada hari Sabtu. Aku merasa geli, kalau dia membandingkan perbuatan dia yang diukur dengan menahan diri. Tapi memang sebagai orang dewasa, kita sepantasnya bisa menahan diri, tidak lepas mengumbar emosi seperti anak-anak ya. Dan aku juga tercenung sih, untuk menjadi dewasa itu berapa banyak tangganya ya? hehehe

Tapi memang akhir-akhir ini Kai merasa bangga sendiri jika sudah bisa melakukan sesuatu yang tadinya belum bisa, atau yang menurutnya hanya “orang gede” saja yang bisa melakukan. Seperti waktu aku ajarkan dia memakai microwave, tentu dengan wanti-wanti tidak memasukkan sendok (besi-besian) dan hanya 1 menit saja, kalau kurang baru tambah 1 menit lagi. Dia seperti mencari kesempatan untuk pakai microwave itu. Dia juga suka untuk membuat sesuatu, mencampur sesuatu, dan mengumpulkan sesuatu :D Kadang aku bingung melihat ada piring kecil berisi cabe cair yang ntah dicampur apa oleh Kai :D Kalau aku ada di rumah, dia juga suka mengajakku membuat sesuatu. Jadi deh coba-coba membuat macam-macam kue.

Memang dia suka menonton youtube. Dan ntah kenapa kadang dia melihat cara memasak. Jadi deh dia ingin membuat puding karamel. Aku langsung menyiapkan bahan-bahan dan berdua mencoba resep dari tante Mega, tapi gagal! Akhirnya sisa caramelnya aku jadikan mousse au caramel deh :D

Riku sudah lebih tinggi dari mamanya :)

Setiap anak akan melampaui masa-masa menuju kemandirian. Belajar dari orang tua atau dari kakaknya kalau ada kakak. Susahnya, orang tua kadang menahan kemandirian anak-anak dengan memanjakannya, untuk kepentingan orang tua itu sendiri. Tidak mau mereka menjadi dewasa, karena nanti akan “ditinggal”. Pada malam hari, Kai yang masih tidur di sebelahku akan memelukku dan aku menciumnya. Saat itu aku berkata;” Kai kamu setahun dua tahun lagi pasti tidak mau disun mama deh…” Jawabnya, “Ngga kok… sampai aku gede aku mau kok disun mama!”

Ya, dia bisa bilang begitu, tapi aku yang harus mengerti bahwa anak akan menjadi besar dan merasa malu jika disun mamanya.

Sama seperti hari Sabtu kemarin, waktu aku mengantar Riku ke calon sekolah SMPnya untuk mengukur baju seragam. Karena kakiku sakit, aku maunya berpegangan dengan dia, tapi secara halus dia melepaskan tanganku. Saat itu aku pikir…”Ahh coba ada Kai, dia akan memperhatikanku dan memegangku dengan tangannya yang kecil, dengan tubuhnya yang kecil mencoba menopangku”. Tapi Riku bukan Kai, dia sejak Kai lahir sudah biasa mandiri.

Lalu waktu tiba giliran kami, si petugas mengukur badan Riku yang jauuuuh terlihat besar dibanding anak-anak sebelumnya yang…. boleh dibilang sebesar Kai! Untung saja ada ukurannya. L saja saudara-saudara. Badannya lebih kekar daripada petugasnya malahan hahaha.

Juga waktu mencoba sepatu olahraga. Dia langsung memilih nomor 26,5 … duh kakiku cuma 25,5 (42) yang sudah termasuk besar untuk orang Indonesia. Untung ada persediaannya. Dan dia baru akan menjadi kelas SATU SMP!

Dan dia sempat berkata pada papanya, “Nanti aku ulang tahun aku minta Kartu Buku 図書券 (semacam gift card buku) saja deh, supaya aku bisa beli sendiri buku yang kumau”

Apakah aku parno dengan buku-buku pilihannya itu bagus atau tidak? Dia baru saja menyelesaikan 30 jilid buku (manga) SANGOKUSHI (the Three Kingdoms, cerita sejarah daratan China) . Dia juga sudah menyelesaikan dua buku pilihannya : Cerita Sesudah Sejarah, yaitu kelanjutan cerita sejarah (Eropa dan Jepang) yang kita pelajari di sekolah yang jarang/tidak diketahui umum. Dua tema buku yang mungkin tidak akan kupilih untuk dibaca :D

Sangokushi 30 jilid! Makan tempat kan? huhuhuhu

Sebetulnya ada dua lagi permintaannya, yaitu ingin smartphone dan ke Kyoto. Tapi waktu kami menghadiri orientasi SMP, diberitahukan bahwa sekolah akan mengadakan Karyawisata ke Kyoto waktu kelas 3 SMP. Hmmm tour ke  Kyoto mahal sih  :( , tapi akan aku usahakan. Sedangkan untuk smartphone? Mendingan notebook computer ah! hehehe (di SMP murid-murid TIDAK BOLEH bawa HP)

Jadi, di hari ulang tahun Riku yang ke 12 hari ini, kami merayakan dengan sederhana. Sesuai permintaannya, kami memberikan gift card Kartu Buku, dan meniup lilin dengan kue buatanku yang kubuat cepat-cepat semalam. kami tidak bisa pergi makan malam “birthday dinner” bersama karena aku dan Gen bekerja. Tapi Riku sudah memaklumkan hal itu dan berkata, :”Ngga papa kok mah, biaya dinnernya masukkan menjadi Kartu Buku saja!”…. huh :D :D :D 生意気 Namaiki !

Tiup lilin begitu bangun pagi tadi. kuenya berantakan tapi enak loh hehehe ;)

Selamat Ulang Tahun Riku sayang. Sebentar lagi (akhir Maret) kamu lulus SD, dan benar-benar menaiki satu tangga kedewasaan, yaitu menjadi murid SMP. Semakin berat pelajarannya, semakin banyak waktu untuk belajar dan ekskul. Semakin sedikit waktu untuk berkumpul dengan keluarga, tapi satu yang kami pinta: Ceritakan semua kesusahanmu! mama dan papa akan berusaha membuat kamu bahagia dan menghilangkan keresahan kamu dalam hidup. Tentu sambil berdoa pada Tuhan untuk selalu melindungimu setiap saat. Amin ~~~

Segitiga dan Permintaan Doa

Siang tadi, aku terbangun persis Kai mengebel jam 2 siang. Memang aku tidur dari jam 11 pagi karena malamnya aku hanya tidur 3 jam. Setelah membukakan pintu untuk Kai, aku makan siang dan membuka komputerku. Sementara itu aku mendengar Kai kluthekan di WC, dan dia memanggilku, “Mama sini dong….lihat deh!”

Wah ternyata dia membersihkan WC! Ada apa nih… kok tiba-tiba dia membersihkan WC? Tapi memang aku tahu Kai sering melakukan sesuatu yang dia suka dengan impulsif. Tapi, aku lebih terkejut lagi waktu melihat tissue gulung dilipat segitiga bagian ujungnya. Ya, seperti di hotel-hotel begitu, meskipun segitiganya tidak rapih. Ah, senang rasanya mendapat “service” seperti itu, dan aku merasa terharu. Akupun kemudian membuat segitiga pada tissue yang habis kupakai. Kamu pernah berbuat begitu? segitiga pada tissue itu sebetulnya seperti “bantuan” kecil pada orang yang akan memakai tissue setelah kita.

segitiga pada tissue WC. Lipatan Kai sih tidak sebagus ini :D

Karena aku curious ingin mengetahui apakah segitiga pada toilet itu merupakan manner atau tidak, aku jadinya browsing deh. Ternyata namanya FireHold, karena dulu pertama kali digunakan untuk para pemadam kebakaran. Mereka harus selalu dalam keadaan siaga, sehingga sedapat mungkin menghemat waktu. Seandainya tanpa segitiga, mereka mungkin sulit mencari “ujung” tissue, lain halnya jika diberi segitiga tersebut. Langsung bisa memakai tissue itu tanpa perlu mencari-cari sehingga menghemat waktu.

Konon hotel Jepang pertama yang memperkenalkan segitiga itu adalah hotel Imperial di Tokyo. Rupanya itu dipakai sebagai tanda kepada petugas hotel lainnya bahwa WC kamar hotel itu sudah dibersihkan. Senang kan mengetahui kamar kita memang sudah bersih.

Tapi ada beberapa orang yang tidak suka dengan segitiga di tissue itu. Maklumlah orang Jepang memang  きれい好き”bersihan” kan. Katanya rasanya jijik kalau orang yang membuat segitiga di tissue itu tangannya kotor (habis ceb*k belum cuci) hahaha. Kepikiran sampai situ ya? Orang “bersihan” memang sulit karena memandang segala sesuatu dari segi higienitasnya.

Tadi aku waktu melihat lipatan segitiga Kai memang terharu, karena dia “melihat” apa saja. Aku jadi ingat semalam Kai minta aku mendoakan dia, karena hari ini dia akan ditest permainan harmonikanya. Lalu dia juga minta aku membuat tanda salib di dahinya waktu berangkat ke sekolah. Memang akhir-akhir ini aku melakukan kebiasaan itu, mengulang kebiasaan mama dan papa yang memberikan tanda salib di dahi sebagai berkat dalam melakukan pekerjaan/ujian hari itu. Jika kami anak-anak berempat merasa takut dan waswas kami datang ke orang tua kami dan minta di”berkati” dengan tanda salib di dahi. Alm mama bahkan memberikan ciuman di dahi kami, katanya, “supaya otaknya encer!” :D

Kadang-kadang teman-teman kita meminta kita mendoakannya bukan? Aku menganggap permintaan ini sebagai tanda bahwa kita dipercaya dan kita merupakan orang “khusus” baginya. Biasanya aku secara khusus membawa namanya dalam doa malam, memohon agar Tuhan memberikan atau mengabulkan permohonannya.

Jadi, aku langsung tanyakan pada Kai, bagaimana test harmonikanya hari ini. Lalu dia bilang, “Aku sih dapat 100 ma. Tapi ada teman-temanku yang dapat 200!”

LOH? hihihi. Lalu aku katakan,

“Tidak apa Kai, yang penting Kai sudah berusaha. Mama juga tidak bisa pelajaran musik kok dulu. Kakak juga tidak bisa. Yang standar sajalah. Tapi tadi tidak khawatir waktu test kan?”

“Tidak dong. Kan mama sudah kasih tanda salib di dahi!”

Topik tulisan hari ini : Segitiga dan salib. Terlihat tidak saling berhubungan, tapi pasti ada hubungannya (bagiku) ah! :D