Dia Hebat

Tak banyak orang yang bisa mengatakan “Dia Hebat!”, tanpa ada embel-embel misalnya “tapi…..” atau “sayangnya….” di belakang kalimatnya. Memuji dari hati bahwa dia hebat, dan mengakuinya. Sulit! Apalagi anak-anak yang biasanya akan berkata, “Mama lihat deh… AKU hebat kan?”

Baru kemarin aku bersama Gen merasa bangga pada ke dua anak kami.

Riku: “Waaah Kai hebat ya… dia bisa buat ini”
Kai: “Riku…. ini bagus sekali… hebat!”

Memang saat itu mereka berbicara soal game “minecraft” yang sedang mereka gandrungi, tapi baru kali ini aku melihat mereka berdua main akur. Kalau game berkelahi, pasti akan berakhir dengan tengkar mulut. Tapi game minecraft ini mereka sama-sama membuat bangunan, membuat kota sendiri, ya seperti SIM City. Dan …. selama dua minggu sejak aku unduh soft ini, rumahku adem, nyaman dan … sepi. Tapi sepertinya sebentar lagi akan aku hentikan, dan hapus softnya karena mereka terlalu kecanduan bermain di iPad dan iPhone.

ulangan berhitung dan hiragana

Tapi akhir-akhir ini Riku memang sering memuji adiknya karena perkembangan pendidikan yang juga dipantau Riku. Seperti yang kutulis dalam Tugas Kai, Kai sudah “gede” dan melakukan tugas-tugasnya selaku murid kelas 1 SD, dan bahkan melewati harapanku. Dia bisa mengatur waktunya sendiri, begitu pulang sekolah langsung buat PR sehingga aku sama sekali tidak perlu mengejar-ngejar dia buat PR. Cuma ada satu tugas yang tetap aku sendiri yang laksanakan yaitu Ondoku 音読, membaca dengan suara keras sebuah bacaan dalam buku Bahasa Jepangnya. Ini berguna untuk melatih membaca juga. Memang dari test bahasa Jepang 国語 dan berhitung 算数 nya, Kai hampir seluruhnya mendapat nilai sempurna. Terharu sekali waktu Kai menunjukkan ulangan pertamanya. Ah, anak yang belum ada “isi”nya sekarang sedikit demi sedikit mulai “berisi” dengan pengetahuan.

Gambar T Shirt karya Kai

Pelajaran untuk kelas 1 itu baru Bahasa Jepang 国語, dengan belajar hiragana dan partikel pembentuk kalimat. Berhitung 算数 berupa penambahan dan pengurangan, Kehidupan 生活 (mengamati makhluk hidup) yaitu dengan menanam bunga Morning Glory dan mengamati perkembangannya. Pelajaran lainnya adalah musik 音楽, yaitu mempelajari pianika dan olah raga 体育. Selama musim panas murid SD juga mempelajari renang. Ini juga yang membuat aku kaget, karena ternyata di semua sekolah Jepang mempunyai kolam renang selain lapangan luas. Bahkan di kelurahanku sangat menekankan perlunya berenang sehingga mengadakan pencatatan rekor di semua SD dalam kelurahan.

Kai’s 7th birthday cake

Tanggal 16 Juli yang lalu Kai genap berusia 7 tahun. Kami sibuk hari itu karena hari kerja, sehingga kami “rayakan” dengan makan sushi malam sebelumnya. Pagi harinya hanya dinyanyikan dengan kue tart yang kubeli sore sebelumnya. Benar-benar sederhana saja perayaan ultah Kai tahun ini. Tapi sayangnya ada satu “hadiah” dari gurunya Kai yang datangnya sehari sesudahnya. Jadi ceritanya waktu aku pulang, gurunya telepon dari sekolah. Minta ijin untuk memasang namanya Kai di website karena lukisan Kai tentang mobil pemadam kebakaran “terpilih” untuk dipamerkan di Gedung Pemda. Tentu saja aku ijinkan, malahan bangga bukan? Tapi memang prosedur karena Jepang mempunyai perlindungan atas hak asasi (jadi tidak bisa memberikan nama dan keterangan warga tanpa persetujuan ybs). Bahkan Riku yang mendengar soal terpilihnya lukisan Kai mengatakan…. “Wah Kai hebat ya lukisannya bisa terpilih… Aku 6 tahun di SD tidak ada yang terpilih”.

Kai dengan bunga asagao (Morning Glory) yang ditanam sejak dari biji sampai berbunga. Dalam waktu tertentu mereka harus memperhatikan perkembangan dan menuliskannya.

Bagaimana lukisannya? Aku tidak tahu dan tidak bisa lihat juga, karena kami tidak berada di Tokyo saat lukisan itu dipamerkan. Jadi kami menugaskan papa Gen untuk mengambil foto untuk kami :D

Tapi memang Kai Hebat! Good boy….Mama bangga pada Kai!

 

Menanti Kedatanganmu-2-

Lanjutan Menanti Kedatanganmu -1-,  padahal sebetulnya foto inilah yang menginspirasiku dalam pemberian judul.

Ini adalah aula Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Karena umat Islam warga negara Indonesia belum memiliki mesjid sendiri di Tokyo, biasanya mereka berkumpul di aula ini untuk sembahyang Jumat.

Biasanya setelah sembahyang Jumat tentu alas karpet langsung disimpan kembali. Namun pada bulan Ramadhan, dibiarkan begini karena setiap malam ada taraweh di sini.  Aula ini menanti kedatangan umatNya yang sedang dalam bulan yang suci ini, bulan Ramadhan.

Meskipun aku bukan muslim, ingin ikut meramaikan perhelatan ini:

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

Menanti Kedatanganmu -1-

Pertengahan Juli. Sudah tanggal 15. Tapi ternyata aku baru bisa menulis di blog ini setelah 14 hari berlalu dari bulan Juli. Bermacam pikiran dan perasaan selama 14 hari itu, atau kalau mau dihitung tepatnya 20 hari aku tidak menulis. Mengapa?

1. Fajar seperti ini jarang muncul di beranda rumahku. Musim hujan, badai No 8, kabut sering menutupinya. Kami selalu menanti kedatangan Sang Matahari pertanda hari yang baru akan dimulai.

fajar tadi pagi dari apartemenku…

2. Pemilihan Presiden yang belum ada ujungnya, yang membuat aku ikut deg-degan sebelum dan hari pelaksanaannya, dan sesudah pelaksanaannya. Kalau kukutip pernyataan temanku, ASN:

Sebelum sampai saat memilih aku gak netral. Namun setelah memilih, terlepas suara rakyat harus dijaga agar jadi pemilu yg jujur, bersih dan tak ada kecurangan. Kita semua harus siap untuk menang dan kalah. Menang senang tapi ya gak usah berlebihan. Kalah sedih tapi ya juga gak usah lebay dan berlebihan. Siapa pun presiden terpilih kan akan jadi Presiden untuk SELURUH rakyat Indonesia. Apapun pilihannya.”

Dan kalau perlu aku tambahkan lagi, siapapun presiden kita, janganlah mencemoohkan atau mengejeknya terus: “Kan aku sudah bilang dulu bla bla bla….” “Makanya pensiun saja, kembali tidur sana… bla bla bla”.  Sedih loh setiap kali membaca cemoohan orang, terhadap siapapun. Sering aku berpikir, orang-orang ini kok bisa mencemoohkan orang segitu sadis. Apa mereka tidak pernah berpikir seandainya cemoohan yang sama berbalik padanya? Hati mereka di mana ya? Begitukah sifat orang Indonesia sekarang?

Dan pagi ini aku menemukan pepatah  baru dari Karaeng Toto, Profesor Aminuddin Salle yang kuhormati, sebuah pepatah dari Makassar, kampung halaman ke 4 ku. “OLOK-OLOKA LAGI NANIAK PACCENA, Binatangpun Ada Rasa Iba“. Masa sih kita lebih rendah dari binatang yang tidak punya rasa iba? Tolong dipikirkan bersama.

Kami menanti kedatangan Presiden RI yang terpilih dengan berdebar-debar.

3. Libur musim panas bagi deMiyashita akan dimulai tanggal 26 Juli, tapi itu berarti aku harus menyiapkan segala-sesuatunya sebelum libur. Hari kuliah terakhir tgl 25 Juli dan tentu aku harus membuat soal-soal ujian. Dan merencanakan liburan musim panas tahun ini memang menyenangkan dan … makan waktu.

Kami menanti kedatangan liburan musim panas dengan gembira.

4. Bersambung di Menanti Kedatanganmu -2-

Kastil Segi Lima

Sudah cukup lama deMiyashita tidak pergi jalan-jalan bersama, karena Papa Gen sampai akhir Juni benar-benar sibuk, sehingga hari Sabtu dan Minggu tetap kerja, bahkan kadang harus menginap di kantor. Dan hari Minggu 6 Juli kemarin, Gen (berhasil) meliburkan diri. TAPI aku, Riku dan Kai harus ke gereja pagi. Jadilah baru setelah selesai gereja, pukul 12, kami melesat ke arah Nagano.

Menurut GPS diperkirakan kami akan sampai pukul 3. Dan karena tempat tujuan kami tutup pukul 4, kami tidak mau membuang waktu untuk makan siang di restoran. Untung sebelum naik mobil aku sempat mebeli sandwich dan onigiri di toko konbini. Jadilah kami makan, alas perut, dengan sandwich dan onigiri. Tapi meskipun begitu kami tetap mampir di Parking Area untuk istirahat ke toilet.

Akhirnya kami sampai di Kantor Informasi Goryokaku di kota Saku, Nagano tempat tujuan kami sekitar pukul 3. Kami sengaja tidak memasuki lingkungan kastil Goryokakunya dulu karena ingin mengunpulkan informasi. Dan di dalam Kantor informasi itu ada seorang bapak tua yang dengan senang hati menjelaskan tentang kastil ini kepada kami. Apalagi dia melihat Riku dan mengatakan bahwa di SD Taguchi yang berada dalam wilayah kastil itu mengadakan kentei shiken (ujian lisensi) mengenai kastil ini. Sayang Riku tidak mengeluarkan catatan (aneh deh itu anak tidak suka mencatat dan juga tidak suka memotret padahal bawa kamera dia sendiri loh… Malah si Kai yang potret semua yang dia bisa potret :D )

Riku mendengarkan penjelasan mengenai sejarah kastil Tatsuoka Goryokaku. Riku akhirnya mencatat setelah disuruh papanya :D

Nama kastil ini adalah Kastil Tatsuoka, ditambah dengan nama Goryokaku yang berarti bentuk segi lima. Kastil ini merupakan kastil terakhir yang didirikan sebelum terjadi Restorasi Meiji (1867). Karenanya meskipun bentuk segilimanya lengkap, hanya ada 3 parit yang mengelilingi. Dua sisi yang lainnya belum sempat selesai karena keburu Bafuku (pemerintahan Tokugawa) jatuh. Kastil ini mengikuti bentuk yang sama yang ada di Hokkaido. Tentu jika ada waktu kami juga ingin mengunjungi goryokaku yang di Hokkaido. Oh ya kastil Tatsuoka Goryokaku (dan juga yang di Hokkaido) ini TIDAK termasuk 100 kastil terkenal yang kami kumpulkan capnya! Kebetulan Riku ingin menulis tentang kastil ini untuk tugas libur musim panasnya.

Setelah mendapat penjelasan dari si bapak tua itu, Gen menanyakan apakah ada suatu tempat yang bisa melihat kastil ini dari atas, sehingga bisa terlihat semua segi limanya. Dan dia mengatakan bahwa jalannya kecil dan sulit dan hanya bisa dilewati mobil kecil. Dia memberitahukan cara untuk ke sana. Dan mumpung masih terang dan cuaca baik, kami tidak masuk ke dalam lingkungan kastil tapi malah menaiki mobil untuk pergi ke atas bukit yang ditunjukkan oleh si bapak tua. Diapun berpesan untuk hati-hati.

Kastil segi lima dari atas bukit. Untung tidak hujan… kalau hujan kami tidak bisa kembali pastinya

Akhirnya kami mengikuti pesannya, dan untung kami sempat memotret peta jalan menuju ke atas. Memang jalannya kecil dan dari tanah. Kalau hujan sudah pasti kami tidak bisa ke atas. Harus pakai jeep. Di tengah jalan kami juga harus menyibakkan ranting yang mengganggu jalan, dan setelah 20 menit kami sampai. Parkir di samping jalan, dan dari situ kami harus berjalan ke arah deck yang tersedia. Dan di situ banyaaaaaaaaaaaaaaaaaak sekali terdapat ulat bulu hiiiii. Jangan sampai deh bersandar di pohon, karena dipenuhi ulat bulu.

Aku ngeri tapi pura-pura tidak lihat, demi memotret pemandangan ke bawah. Eh, tapi aku sempat kok memotret seekor ulat bulu emas hehehe. Selain itu untung aku pakai sneaker sehingga tidak tergelincir. Dan kami akhirnya sampai di deck untuk melihat ke bawah, dan melihat ini. Kalau musim sakura atau musim gugur pasti bagus deh.

Memasuki kastil, di sebelah kanan ada kuilnya. Foto kanan bawah itu bangunan peninggalan 150 th lalu

Setelah itu kami bergegas kembali dan masuk ke dalam lingkungan kastil. Kantor informasi yang kami datangi sudah tutup. Kami melewati jembatan masuk dan menemukan kuil di sebelah kiri, lapangan base ball yang sedang dipakai latihan. Sebuah gedung yang konon merupakan ruang penyimpanan senjata, dan di tengah-tengah berdiri bangunan sekolah dasar Taguchi. Dari depan bangunan SD itu kami bisa melihat bukit tempat kami memotret sebelumnya.

SD Taguchi yang berada dalam lahan kastil

Kami juga sempat memutari seluruh segi lima lahan tersebut dan memang menemukan 3 bagian yang berparit dan dua bagian yang tidak berparit. Memang tidak ada kastilnya yang berupa kastil tapi hanya ada  bekas lahannya saja.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 5, sedangkan kami belum makan, kami mencari makanan khas daerah itu, yaitu Soba Walnut. Restoran yang kami tuju tidak begitu jauh dari tempat itu, ditandai dengan kincir air di depannya. Sebetulnya kami mendapat info restoran ini juga dari acara TV yang kami lihat malam sebelumnya. TAPI… kami harus menunggu lamaaaaa sekali, sehingga jam 6:15 kami baru bisa makan, makan siang dan malam sekaligus.

Melewati stasiun terdekat. Stasiun tanpa bangunan :D. Juga “Bajaj” khusus pengangkut rumput

Tapi kami cukup senang dengan perjalanan hari itu karena kami bisa belajar banyak tentang kastil segi lima. Dan sebetulnya kastil ini ingin kami bandingkan dengan kastil di Indonesia….. hehehe tunggu saja tulisannya. Dua bulan lagi ya…..

walnut soba khas restoran ini

 

SIM Card

Di Jepang, beberapa tahun yang lalu, kalau membeli unit telepon genggam, berarti membeli nomor. Nomornya sudah terdapat di dalam teleponnya, sehingga kami tidak bisa menukar unit telepon seperti di Indonesia. Kalau di Indonesia kan gampang saja bisa mencopot SIM Cardnya lalu “pinjem” telepon teman dengan nomor kita sendiri. Sekarang Jepang sudah memberlakukan SIM Card terutama sejak smartphone menjamur. Tapi kalau kami tidak minta khusus kepada provider, kami tidak mendapat SIM Card. Jadi istilah SIM Card termasuk baru untuk orang di Jepang.

Sering aku mendapat pertanyaan dari teman di Jakarta, apakah dia bisa membeli SIM card di Jepang, seperti biasanya di Indonesia bisa membeli nomor perdana dan mengisi pulsa. Well, tidak bisa! Tidak ada penjualan SIM Card/nomor tanpa unit telepon. Adanya rental telepon dengan pra bayar. Sehingga biasanya teman-temanku itu memakai telepon yang diaktifkan pemakaian internasionalnya (roaming), dan memakai wifi gratis jika mau mengirim sms/data.

Tapi dua hari yang lalu aku membaca di surat kabar Asahi, yang menuliskan bahwa NTT mengeluarkan SIM Card untuk data bagi pelancong atau pebisnis yang datang ke Jepang. Sebelum mendarat di Jepang bisa membeli via internet lalu begitu sampai di Jepang bisa ambil di Narita/Haneda atau di hotel. Pemakaian SIM Card data ini berlaku untuk 14 hari (cukup jika dapat visa 15 hari kan?) . Jika dalam satu hari memakai kurang dari 100Megabyte, maka bisa mendapatkan koneksi supercepat. Untuk email kira-kira 10.000 surat elektronik, kalau untuk menonton Youtube bisa sekitar 45 menit. Layanan ini dimulai untuk menyambut kedatangan wisatawan asing menghadapi olimpiade 2020 yang diperkirakan akan menarik wisatawan dan pebisnis lebih banyak lagi.

sumber: asahi shimbun

 

Kupikir NTT adalah yang pertama membuat terobosan SIM Card- prepaid bagi wisatawan, tapi ternyata J-Com sudah menyediakan b-mobile dan So-net juga sudah menyediakan Prepaid LTE SIM. Tapi dikatakan bahwa dibanding dua perusahaan pendahulunya, NTT lebih murah yaitu seharga 3500 yen (di luar tax) .

So, kalau datang ke Jepang sudah tidak perlu khawatir lagi, bisa membeli SIM Card prepaid, yang bisa dipasang langsung pada telepon genggam yang Anda bawa dari Indonesia. Setelah habis tentu saja bisa buang, atau beli baru lagi. Tapi memang sih kalau suka gratisan, tentu maunya pakai wifi gratis ya….. Di Jepang memang masih sedikit tempat umum yang menyediakan wifi gratis. Semoga saja menjelang Olimpiade, semakin banyak tersedia wifi gratis di Tokyo ya.

Pesan Yanz, temanku: “HP dipastikan yang keluaran terbaru, kalau yang butut sih yah sebaiknya disimpan aja, atau sewa Wifi Modem” dan “Blackberry nya kalau yang sudah LTE/3.5G atau keluaran terbaru yang OS nya terakhir mungkin bisa, namun yang Blackberry konvensional menggunakan Modem Wifi saja” hehehe. Demikian laporan dari Yanz yang baru saja mencoba pemakaian SIM Card b-mobile untuk keluarganya.

Rasa Aman dan Damai

Seperti yang sudah kutuliskan di posting-posting sebelumnya, aku memang menjadi sangat sibuk sejak bulan April lalu. Setiap hari kerja aku harus pergi mengajar, dan tempatnya jauh. Kira-kira makan waktu 2 jam dari rumahku. Sebetulnya kalau aku mau, aku bisa minta kamar untuk menginap di tempat itu, karena tempat ini adalah semacam mess pelatihan dengan banyak kamar, tapi tentu saja sebagai seorang ibu, aku tidak akan merasa tenang jika tidak meyakinkan diri bahwa anak-anak akan pergi ke sekolah dengan segala persiapannya. Membangunkan mereka (Riku bisa bangun sendiri, tapi Kai  sulit bangun), kemudian menyiapkan sarapan dan tas mereka, bahkan jika aku harus menyiapkan juga makan sore/malam mereka. Biasanya aku bangun jam 4 untuk masak dan menyiapkan bahan pelajaran. Dan karena sejak masuk bulan Juni, kelembaban udara naik dan menyebabkan kami tidak bisa menaruh makanan di luar terlalu lama. Untung saja anak sulungku sudah bisa memanaskan dengan microwave.

Tapi untungnya pekerjaan di sebuah institut negara ini sudah selesai kontraknya sampai tanggal 18 Juni yang lalu, sehingga mulai tanggal 23, aku bisa leyeh-leyeh di rumah dan mengerjakan apa-apa yang tidak sempat kukerjakan selama ini. Benar-benar dua setengah bulan yang memeras tenaga dan pikiran. Tapi, selama itu sedikitnya ada dua kali peristiwa yang membuatku merasa aman.

Pertama waktu terjadi hujan lebat dan angin puting beliung di daerah rumah kami. Aku mengetahui kejadian tersebut dari layanan email kelurahan kami bahwa daerah kami terkena hujan badai setempat serta guntur, Dan di jalan rumahku listrik mati. Padahal di tempat kerjaku terang benderang… wah bagaimana nih. Aku tanya “adik lesung pipit”ku Sachan yang rumahnya terletak di kelurahan sebelah, dan memang bener terjadi hujan lebat. Aku coba telepon ke rumah tapi tidak bisa sambung… benar saja apartemenku mati listriknya. Sempat khawatir akan kondisi Kai yang pulang sendiri, tapi kemudian ada email dari sekolah yang bertuliskan, “Karena hujan keras dan guntur, murid kelas 1 yang seharusnya pulang, kami suruh tunggu di sekolah sampai hujan reda” Ahhhh rasanya lega sekali. Pasti lebih aman berada dalam sekolah (padahal sekolah juga padam listriknya). Sambil bergegas pulang, aku perhatikan HP terus. Tak lama aku menerima email dari kelurahan yang menyatakan bahwa listrik di jalan apartemenku sudah nyala kembali, dan email dari SD bahwa anak-anak sudah diperbolehkan pulang. Legaaaa sekali rasanya, dan saat ini aku berterima kasih sekali akan pelayanan pemerintah daerah tempat tinggalku yang sudah memberikan rasa aman.

Memang untuk mendapatkan layanan email ini perlu pendaftaran sendiri, dan aku sudah lakukan cukup lama. Aku bisa pilih pemberitahuan apa saja yang aku mau, dan aku pilih “keamanan” dan “Cuaca”. Kadang jika terjadi kejahatan minor, akan ada laporannya via email pagi hari. Misalnya “kemarin waktu pulang sekolah, seorang murid wanita di jalan xxx ditanya oleh seorang laki-laki separuh baya letak WC umum dan mengajak pergi bersama. Tapi si murid lari.” Sehingga ibu-ibu bisa mewanti-wanti anak perempuannya, terutama jika berjalan ke arah jalan itu.

Nah peristiwa kedua terjadi hari Senin kemarin. Rupanya  ada kejadian percobaan perampokan di sekitar stasiun dekat rumahku. Memang perampokannya bisa digagalkan, tapi pelakunya lari. Nah, ditakuti kalau dia lari ke daerah perumahan dan sekolah. Sehingga anak-anak disuruh pulang berkelompok dan tidak keluar bermain sendiri. Ini kuketahui dari email sekolah, dan aku cukup merasa aman dan tenang waktu anak-anak telepon ke HPku dan memberitahukan bahwa mereka sudah di rumah.

ajisai (Hydrangea)

Waktu itu, aku sedang jalan dengan Sanchan ke Showa Memorial Park. Kami berdua sudah lama tidak bertemu dan masing-masing sibuk, sehingga begitu ada waktu kosong, kami janjian untuk bertemu. Sebetulnya bingung juga antara ingin istirahat di rumah atau pergi berdua. Tapi karena memang sulit mencocokkan jadwal, kami akhirnya janjian pergi ke Tachikawa. Tanpa lunch karena sudah siang waktu kami keluar rumah. Untung saja aku sempat membeli roti sandwich untuk dimakan jika kelaparan.

rumpun bunga hydrangea di Showa Memorial Park, Tachikawa

Kami masuk ke areal taman pukul 2 siang. Dan kami memutuskan untuk menyewa sepeda supaya bisa mengelilingi taman yang cukup luas ini. Biaya sewa 410 yen untuk 3 jam, tapi kami harus kembali pukul 4:30 karena taman tutup pukul 5. Tapi yang pasti, kami merasa bersyukur menyewa sepeda. Meskipun banyak tanjakan juga, kami bisa menghemat waktu dan bisa melihat banyak meskipun tidak semua. Kebanyakan di daerah tepi jalan sepeda saja.

pohon dan bunga

Yang pasti kami senang bisa menemukan rumpun ajisai putih. Bunga hydrangea ini umumnya berwarna biru, sehingga yang putih bersih jarang ditemukan. Selain menemui pohon-pohon aneh, kami juga sempat berfoto di jalan yang dinaungi pohon ginkyo. Damai sekali rasanya melihat bunga-bunga dan pohon-pohon di sini. Kalau musim gugur pasti lebih indah deh. Kami berencana untuk pergi ke sini lagi, nanti sekitar bulan Oktober, dan tentu menyewa sepeda lagi :D

Taman Jepang…. kok seperti saung kuring ya? hehehe

Tujuan kami sebetulnya adalah Taman Jepang, karena meskipun aku sudah beberapa kali ke sini, belum pernah masuk ke Taman Jepang. Kebetulan di situ juga sedang ada pameran Bonsai. Terkaget-kaget kami melihat tulisan nama bonsai di situ, karena tercantum juga usianya. Yang paling tua  berusia 300 tahun dan termuda 15 tahun. Orang Jepang benar-benar telaten merawat bonsai, yang sudah pasti dilanjutkan turun temurun.

berbagai bonsai yang dipamerkan

Karena lapar, akhirnya kami makan roti di parkiran sepeda, kemudian pulang mengembalikan sepeda. Tak ada waktu lagi untuk makan bareng, karena aku juga harus berbelanja dan menemani anak-anak di rumah. Tapi paling tidak dalam satu hari itu aku sudah menggunakan waktu me-time dengan bermanfaat (bersepeda bersama sahabat) dan merasakan aman dan damai!

kami dan ajisai

Merinding

Tahu dong artinya merinding itu apa. Kata dasarnya rinding, tapi kalau kita cari di KBBI penjelasannya sbb: 2rin·dingme·rin·ding a terasa bangun bulu kuduk; ngeri; seram: ia ~ mendengar suara makhluk itu; me·rin·ding·kan v menyeramkan; mengerikan: teriakannya keras ~ yg mendengarkannya Hmm berarti kita sebetulnya tidak boleh memakai kata “merinding” untuk menyatakan kekaguman bercampur terharu seperti waktu melihat foto ini:

foto yang membuatku merinding

Aku tidak menyoalkan apakah foto itu benar atau tidak, atau dalam rangka apa dsb tapi membayangkan orang segini banyak yang mau mendengarkan seorang calon presiden berbicara, rasanya tidak salah kalau aku mengatakan bahwa aku merinding melihat foto itu. Dan kurasa banyak orang akan setuju denganku untuk pemakaian kata merinding seperti di atas, kan?

Aku merinding melihat poster buatan salah satu teman kami. Tercetak nama-nama kami sebagai latar poster itu. Kreatif sekali.

Sama halnya, aku juga merinding, ketika sekitar 100-an WNI berkumpul di sebuah gedung di Shibuya, untuk mendukung calon presiden nomor 2 dalam acara Deklarasi Dukungan terhadap Jokowi. Pendukung menandatangani deklarasi di akhir acara dengan penekan 7 point yaitu  baru, bersih, Bhinneka, terbukti, terbuka, demokratis, dan merakyat. Tak kusangka begitu banyak orang yang hadir saat itu, mengingat pengumpulan hanya dilakukan via FB. Acara dibuka dengan lagu Indonesia Raya dan ditutup dengan Padamu Negeri. Aku berusaha menahan haru waktu menyanyikan lagu kebangsaan, yang terus terang sudah lamaaaaa sekali tidak kunyanyikan. Apalagi lagu Padamu Negeri. Karena aku dan beberapa teman di sini bekerja dalam lingkungan orang Jepang, sehingga otomatis tidak ada kesempatan menyanyi lagu-lagu Indonesia. Aku merinding sekali melihat antusiasme teman-teman dengan mendatangi venue acara dari berbagai penjuru Tokyo (kami berkumpul dulu di depan patung anjing Hachiko lalu jalan bersama), dan kemudian bersatu suara menyanyikan lagu serta bersepakat untuk memilih calon presiden nomor 2. Seperti halnya aku, banyak teman di sini yang sudah bertahun-tahun menjadi golput, tapi kami merasa bahwa tahun ini kami wajib memakai hak suara kami. 

Poster dan kumpulan uang 1 yen, sebagai lambang dukungan kami. Satu orang satu yen. Dan setelah acara selesai, hampir semua pendukung menambahkan nominal sukarela untuk membantu relawan di Indonesia.

Aku sebenarnya tidak pernah mau menunjukkan dukungan kepada salah satu capres. Tidak di FB, tidak juga di blog sini, karena aku menganggap setiap orang memang mempunyai hak untuk memilih yang menurutnya terbaik. Aku anti meneruskan link, baik yang memuji capres dukunganku, maupun link yang menjelekkan capres yang bukan pilihanku. Kupikir sudah saatnya warga Indonesia untuk mempelajari ,menilai dan memilih secara dewasa, tanpa perlu ada pengaruh dari pihak lain.

Tanda tangan kami di atas poster berisi deklarasi dukungan terhadap Jokowi. Aku merasakan persatuan melalui deklarasi ini.

Jadi pakailah kesempatanmu untuk mengikuti pemilu presiden di Tokyo, dengan mendaftarkan secara online melalui PPLN Tokyo. Pemilu di Tokyo akan diadakan tanggal 6 Juli, di SRIT, tapi tentu Anda juga bisa minta supaya kertas suara dikirim ke rumah sebelum tanggal itu. Yang mau bergabung mendukung Jokowi di Jepang silakan langsung mengisi deklarasi secara online.

Ahhh aku merinding melihat sebagian pendukung yang datang ke Shibuya saat itu. Mereka semua semangat memakai baju khusus, atau baju kotak-kotak ala jokowi. Ajang deklarasi sekaligus menjadi ajang reuni dan perkenalan. Sudah lama aku tidak merasakan sensasi seperti ini.

Kapan terakhir kamu merinding? hehehe

Diskusi 討論

Pernah mempelajari bagaimana berdiskusi yang baik? Aku sendiri lupa-lupa ingat, apakah aku belajar berdiskusi di sekolah atau di latihan kepemimpinan. Maklum sudah banyak kali mengikuti latihan kepemimpinan, sampai lupa apakah pernah belajar berdiskusi di SD.

Pagi ini aku mengunjungi sekolah Riku dan Kai dalam rangka Open School SD Negeri daerahku, yang merupakan kegiatan berkala sekolah itu. Karena Gen bekerja, dan palajaran yang diberikan hari ini hanya 4 pelajaran, aku cepat-cepat keluar rumah dan mengikuti dari pelajaran pertama pukul 8:35 di kelasnya Riku, kelas 6. Dia memang mengatakan padaku, “Mama kan musti lihat kelasnya Kai juga, mending ke kelas aku jam pertama, lalu jam kedua ke kelas Kai. Jam pertama aku akan ada pelajaran diskusi”.

Diskusinya bertemakan “Untuk sarapan, lebih baik roti daripada nasi”. Kemarin malam dia sempat bertanya-tanya pada papanya karena dia masuk grup yang memihak nasi, dan harus mengemukakan keunggulan nasi daripada roti. Dari soal kalori, soal kemudahan persiapan, soal kebudayaan orang Jepang yang makan nasi dsb. Yang lucu Gen sempat mengatakan begini, “Kalau bangun pagi, apakah cuci tangan dulu sebelum makan? Biasanya tidak kan? Padahal kalau makan roti pasti pegang langsung pakai tangan, sedangkan makan nasi tidak. Pakai sumpit kan? Jadi lebih bersih nasi!” hahaha…. ya benar sih, aku jadi ingin tanya apakah orang-orang itu cuci tangan ngga ya kalau makan pagi. Kalau makan siang/malam memang pasti cuci tangan dulu, tapi pagi2 begitu bangun duduk dan makan? hihihi. Aku sih pasti cuci tangan, karena aku yang masak :D

Sepanjang yang kulihat tadi, anak-anak kelas 6 sudah lumayan untuk berdiskusi. Tidak ada yang bertengkar, atau menjelek-jelekkan lawan, atau bicara dengan “membodoh-bodohi”. Di kelas 5 mereka hanya belajar diskusi dengan dua grup, pro-kontra dan diketuai moderator, dilengkapi pencatat untuk grup pro dan pencatat grup kontra serta penghitung waktu. Tapi kali ini ditambah dengan grup pengawas dan grup ini yang memberikan keputusan siapa yang paling bagus memberikan argumen. Semoga saja di SD Indonesia juga mempelajari cara berdiskusi yang baik ya.

frame karya Riku hasil pelajaran prakarya

Pada jam pelajaran ke dua aku ke kelas Kai, dan mereka sedang belajar etika. Setiap anak dibagikan lembar pertanyaan seperti : Apakah kamu punya adik laki-laki? Apakah kamu suka susu? dsb sebanyak 10 pertanyaan. Setiap anak harus secara aktif menyapa teman, memberikan salam lalu menanyakan satu pertanyaan yang ada. Kalau benar, temannya akan memberikan tanda-tangan, sedangkan kalau salah, dia harus mencari teman lain yang kira-kira jawabannya benar. Tujuannya untuk membuat murid-murid tidak takit bertanya dan berkomunikasi. Belajar bermasyarakat. Terutama karena mereka baru kelas 1 dan belum begitu mengenal teman-teman sekelasnya.

Dan Kai? aduuuh dia cuek beibeh dan tidak bisa menyapa teman-temannya untuk bertanya duluan. Kalau ada yang menghampir dia, dia sih akan jawab, tapi dia sendiri tidak aktif! Pemalu! Sampai aku melotot-melotot dari jauh menyuruh dia berbaur dengan temannya. Untung saja gurunya juga memperbolehkan bertanya pada orang tua yang berdiri di belakang, sehingga paling tidak Kai bisa bertanya padaku :D Tapi untunglah pada akhir pelajaran dia berhasil mendapatkan 6 tanda tangan dari 10 yang harus dikumpulkan. Duh Kai~~~~

Selesai jam kedua, aku cepat-cepat pulang untuk menjemur cucian, kemudian pergi ke dokter gigi untuk memeriksa luka bekas cabutan minggu lalu dan membersihkan karang gigi, yang sebetulnya harus dilakukan 6 bulan sekali (aku sudah “bolos” 2 tahun euy hihihi).

Hari ini panas, max 30 derajat saja! Sudah summer! (Dan semoga musim hujannya sudah selesai, karena hujan terus menerus seminggu yang lalu, pakaian jadi anyep, tidak kena matahari)

masih tersisa jasmin sebagai penghias pagar jalanan di daerah dekat rumahku

Che Che Kule dari Ghana

Tahu Ghana? Ghana adalah salah satu negara di Afrika. Tapi kalau kamu tinggal di Jepang, pasti tahu merek coklat “Ghana” yang agak bitter sweet itu.  Kenapa tiba-tiba Imelda menulis tentang Ghana? Sebetulnya aku ingin memperkenalkan sebuah gerak dan lagu yang berjudul “Che Che Kule” yang merupakan lagu rakyat Ghana, dan kalau di bahasa Jepangkan menjadi CHE CHE KORI, CHE CHE KORISA. Sebuah gerak dan lagu yang diketahui SEMUA anak Jepang! Di TK dan SD pasti dalam acara kumpul-kumpul olahraga ada penampilan lagu ini. Biasanya dipadukan dengan lomba memasukkan bola merah dan putih ke dalam keranjang di tengah lingkaran. Ibu-ibu Indonesia yang tinggal di Jepang dan menyekolahkan anaknya di sekolah Jepang pasti tahu deh.

gerak memakai lagu Che Che Korisa oleh kelas 1 SD

Ini merupakan penampilan kelas satu SD, termasuk Kai dalam acara pertandingan olahraga UNDOKAI yang telah dilaksanakan tgl 30 Mei yang lalu. 90 anak yang terbagi dalam dua kelompok Merah dan Putih (silakan baca tulisanku yang ini) membuat dua lingkaran besar, yang mengelilingi keranjang untuk dimasuki bola. Tapi sebelum memasukkan bola itu, mereka harus goyang badan dulu sesuai irama Che Che Kori. Baru setelah lagu berhenti di tengah-tengah, mereka berebut menuju tengah lingkaran dan memasukkan bola yang dipegangnya ke dalam keranjang. Namanya anak-anak main asal lempar sehingga lebih banyak bola yang keluar daripada yang masuk. Setelah peluit ditiup, mereka harus kembali ke tempatnya, dan guru melakukan penghitungan kelompok mana yang terbanyak memasukkan bola ke dalam keranjangnya. Setelah diketahui siapa yang terbanyak, lagu che che kori dilanjutkan lagi. Dan ini berulang sampai 3 kali. Hasilnya? Kelompok putih, kelompok Kai menang. Oh ya dalam undokai tahun ini baik Riku maupun Kai masuk dalam kelompok Putih. Untung saja sama, karena kalau tidak mama papanya bingung mau mengunggulkan kelompok yang mana :D

Undokai pertama untuk Kai. kiri waktu Kai lari 50 meter, tentu saja yang paling buntut hehhee. Panasnya hari itu mencapai 32 derajat euy. Sampai perih kakinya. Dan Kepala sekolah sebentar-sebentar mengumpukan supaya anak-anak minum dan membasahi handuk supaya tidak dehidrasi. Kanan kibasen, pertandingan kuda-kudaan

Selain permainan dengan lagu Che Che Kori itu, Kai juga melakukan satu lagi gerak dan lagu, dan lari 50 meter. Yang lucu Kai sudah sejak seminggu sebelum pelaksanaan undokai itu minta maaf padaku kalau dia menjadi yang paling buntut. Hmmm aku sih mengatakan tidak apa, tapi sebetulnya dia bisa tuh. Hanya malas saja! Kelas 2 kudu diperbaiki deh. Sedangkan Riku, tahun ini dia bertugas lagi berdiri di depan waktu senam pemanasan dan pendinginan, kemudian lari 100 meter, pertandingan kuda kibasen dan senam eksibisi. Aku selalu kagum pada pertandingan kibasen 騎馬戦, yaitu setiap grup 4 orang, tiga yang menggendong (sebagai kuda) seorang (sebagai serdadu). Serdadu harus mengambil topi lawan untuk menang. Ibaratnya permainan catur. Berat! Pasti berat karena harus menopang teman sambil berlari dan harus punya strategi. Kenapa orang Indonesia tidak pernah coba permainan ini ya? Hasil pertandingan kelompok putih dan merah campuran murid kelas 5 dan 6 ini dimenangkan oleh kelompok merah.

Riku berdiri di depan untuk memimpin senam pemanasan dan pendinginan

Untuk senam eksibisi tahun ini berjudul “Michi” (jalan), dan memang tahun ini tidak ada piramida manusia seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi cukup menarik gerakan yang diperagakan, terutama gerakan ombak yang begitu serasi. Tanpa terasa aku dan papanya beberapa kali menghapus air mata. Anakku sudah menjadi kakak kelas yang tertinggi di SD dan memang sesuai judul senam eksibisi itu, dia sudah mulai menemukan “jalan” di SD dan akan menghadapi “jalan” lain yang lebih rumit di SMP. Dan yang ditekankan dalam senam eksibisi ini adalah kerjasama. Tanpa ada kerjasama dan latihan yang baik, tidak akan bisa menghasilkan gerakan yang bagus.

senam eksibisi oleh kelas 6, sebagai salah satu “pertunjukan” terakhir di SD nya, dan membuat kami orang tua terharu waktu terakhir kali mereka menghormat kepada guru-gurunya

Undokai yang dilaksanakan sejak pukul 9 pagi dalam terik matahari yang pada hari itu Tokyo mencapai maksimum temperatur 32 derajat, ditutup dengan acara menggulirkan bola besar yang berwarna merah dan putih. Sekali lagi kelompok putih kalah cepat membawa bola besar itu dibandingkan kelompok merah. Keseluruhan pertandingan hari itu dimenangkan oleh kelompok merah, hanya dengan beda 10 point.

Menggulirkan bola besar sebagai penutup rangkaian pertandingan dalam undokai

Undokai tahun ini merupakan undokai terakhir di SD bagi Riku, dan undokai pertama di SD bagi Kai. Baru tahun ini juga aku mengikuti semua pertandingan sebagai penonton berdua dengan Gen. Selalu ada rasa haru akan kegiatan yang amat bermanfaat ini, dan merasa bahwa seharusnya di sekolah Indonesia pun dilaksanakan acara-acara semacam ini. Bukan pertandingan perorangan, tapi pertandingan secara kelompok yang lebih mengutamakan kerjasama banyak orang. Apa salahnya orang Indonesia juga meniru kegiatan dari luar negeri yang positif. Sama seperti Jepang yang ternyata juga meniru dan mengadaptasi lagu dari sebuah negeri yang jauh, Ghana, dalam kegiatan anak-anak dan menyebar ke seluruh Jepang. Waktu kubaca, mereka mengetahui lagu Che Che Kule ini dari kegiatan pramuka Internasional yang diadakan di Jepang. Dan ini juga mengingatkanku bahwa cukup banyak orang Jepang yang juga mengetahui lagu Nona Manis, karena pernah diperkenalkan dalam kegiatan pramuka juga. Nona Manis ini diterjemahkan menjadi Kawaii Ano ko wa dareno mono. かわいいあの娘は誰のもの. Cobalah tanya pada orang Jepang yang berumur, pasti tahu deh hehehe.  Akhirnya selesai juga tulisan ini hehehe

salah satu tampilan kelas 4. Keren banget!!! Seperti tarian dalam festival yang mengadaptasi gerakan samurai. Riku ngiri tidak bisa ikut menari seperti ini, karena dia punya pedang kayunya :D