Tetangga

30 Sep

Dulu, waktu masih tinggal di Nerima, aku cukup mengenal tetangga kiri dan kananku. Yang kanan, cuma tahu bahwa mereka punya dua anak perempuan. Kami jarang bicara. Yang kiri, aku tahu mereka dari suatu aliran agama yang sangat saya hindari di Jepang, setelah mendengar dari sahabat yang “terpaksa” masuk ke agama itu karena menikah. Bukan, bukan agama Y. Tapi suatu agama lain, yang berprinsip “sama rasa sama rata” dan mewajibkan “umat”nya untuk memberikan seluruh kekayaannya untuk kepentingan agama. Tentu si Ibu gigih mengajakku ikut acara-acara mereka, tapi bisa saja aku tolak karena memang aku bekerja. Selain soal agama, kami baik-baik saja dan sering saling mengirimkan buah tangan.

Aku sudah tinggal di Sayama sini, hampir 2 tahun. Waktu pindah, tentu kami “aisatsu” memperkenalkan diri kepada tetangga kami. Karena rumah kami paling pojok, ujung jalan bentuk L , aku mempunyai tetangga di depan rumah kami ada dua kiri dan kanan. Keduanya cukup saling tahu saja, meskipun tetangga depan kiri itu agak aneh menurutku. Mungkin kebanyakan uang sehingga dalam dua tahun kami di sini sudah ada 2-3 kali dia memperbaiki tembok pagarnya. Mending kalau berubah model. Tidak! Sama saja modelnya, tembok batu yang mulus :D. Waktu dia membongkar tembok batu yang mulus itu, aku tidak bisa mengajar secara online karena ribut!

Nah, kami tidak punya tetangga kiri, karena parkiran, tapi ada tetangga kanan. Sebut saja Bapak KW. Rumah dia satu-satunya yang hampir menempel pagar kami. Jadi kalau aku buka pintu rumah, pasti terdengar karena begitu dekat. Untung saja Bapak KW sudah tidak peka pendengarannya, sehingga dia mungkin tidak pernah terganggu teriakanku pada Kai di lantai dua setiap pagi. “Kai bangun!” 😀

Bapak KW ini sudah berusia 86 tahun (lupa juga tepatnya, tapi pasti lebih dari 80 tahun). Dia hidup sendirian. Kalau teman-teman berpikir dia itu “loyo”, wih ngga deh. Dia itu masih sehat, jalan tegap, daaaaan… Dia pernah keluar rumah berjalan di depan rumahnya dengan baju training tanpa kaus kaki pada musim dingin. Ampun deh.. aku saja kedinginan melihatnya.

Awal pindah, pernah aku bertemu dengannya waktu hendak ke stasiun. Tiba-tiba saja, “Miyashita san..” Maklum karena baru pindah, belum kenal siapa-siapa. Waktu itu aku jalan dengan Kai, dan dia menyapa mengajak bicara. Untung waktu itu kami tidak buru-buru sehingga masih bisa bertukar sapa.

Kadang aku bertemu di depan supermarket, lalu biasanya aku sapa, “Okaimono? (Berbelanja?). Dan dia akan berkata, “Iya, sekaligus olahraga”. Padahal aku pernah bertemu dengannya di sebuah supermarket yang jauh, yang jalan kaki butuh waktu 20 menit! Tanjakan lagi. Hebat deh. Aku so pasti dong, naik sepeda yang assist lagi. Duh! Tapi urusan belanja memang aku tidak bisa tanpa sepeda, karena kalau belanja pasti untuk 1 minggu sekalian. Berat booo.

Terakhir aku bertemu dia sekitar bulan April, saat aku berbelanja pakai masker. Eh, dia bisa kenali aku (ya iyalah, siapa lagi yang badannya besar pakai batik hihihi. Masih kutanya, “Sehatkah?” Dan dia menjawab, “Sehat. Kalian juga sehat-sehat ya!” Dia memang selalu menyapaku, setiap melihatku. Kadang dia laporan kalau melihat anakku sedang jalan, tapi tidak mau menegur, karena takut mengganggu.

Aku mengganggap dia tetangga yang kawaii, yang menarik. Ingin rasanya aku mengetuk pintu rumahnya, dan tanya “Apa kabar?” Tapi … sungkan, karena tidak ada kebiasaan begitu di sini. Dan memang aku pun jarang keluar rumah, kecuali ke supermarket, kan?

Jadi, kemarin ada yang mengebel rumahku. Rupanya keponakan Bapak KW. Dia minta izin untuk parkir di depan rumahku. Katanya, “Bapak KW kan sudah pikun, jadi kami mau melihat kondisinya. Mungkin perlu bawa ke RS”…. aku jadi sedih. Kukatakan, “Silakan parkir saja. Dan sampaikan salamku ya. Kemarin malam aku masih lihat lampu di kamar tamunya menyala. Semoga dia baik-baik saja.”

Dan…. semalam….. lampu kamar tamunya tidak menyala. Gelap. Dingin. Dan aku sedih. Mungkin dia dibawa ke RS Khusus lansia. Rumah Jompo. Meskipun aku tahu itu yang terbaik untuk dia, daripada tinggal sendiri dan berbahaya. Tapi tetap sedih. Sayang aku tidak bisa mendengar sapaannya lagi, “Miyashita san….” Semoga Bapak KW sehat-sehat saja ya.

NB: Hari ini keponakan si Bapak KW datang lagi, dan ternyata benar Bapak KW kena stroke dan tidak bisa digerakkan setengah badannya sehingga kemarin masuk RS. Keponakan datang untuk membersihkan rumah bapak KW. Sedih rasanya 🙁

Kemewahan

8 Sep

Dalam bahasa Jepangnya adalah Zeitaku 贅沢, tapi kemudian berubah menjadi investasi. Persis sebelum Tokyo belum ditutup dan dinyatakan dalam situasi darurat pada bulan Maret, tepatnya tanggal 24 Februari 2020, kami mendapatkan kemewahan yang kalau kami kenang lagi, semua memang sudah tepat pada waktunya.

Riku ulang tahun tanggal 25 Februari, tapi itu hari kerja. Tanggal 24 Februarinya Senin, tapi hari libur di Jepang. Jadi kami katakan pada Riku bahwa lebih baik rayakan sebelumnya saja. Tapi hari itu sebetulnya dia harus arbaito, kebetulan ada permintaan untuk menjadi figuran dalam iklan Indonesia, yang diambil di Akihabara.

Berempat menuju Akihabara.

Jadilah kami berempat pergi ke Akihabara naik kereta, sambil menunggu Riku “kerja” selama 1-2 jam, kami berpisah dan jalan-jalan di Akihabara. Tujuan kami adalah mencari komputer yang cocok untuk Kai. Kai lulus SD dan akan masuk SMP. Sama seperti kakaknya waktu lulus SD, kami ingin membelikan dia laptop.

Awalnya dia tidak mau. Tahu alasannya? Dia mau MERAKIT sendiri! hahaha. Jaman now, merakit sendiri. Yang ada jatuhnya lebih mahal. Dan yang pasti makan tempat dong. Eh, tapi ada loh paket rakitan sendiri, sudah dipilihkan oleh orang tokonya motherboard, casting, display, keyboard dsb. Tapi tanya-tanya pada tante Titin, disarankan untuk pelajari lama dulu, atau beli notebook saja.

Yang membantu Riku pilih-pilih juga mahasiswa, jadi dia beritahu hints banyak.

Setelah naik turun cari yang cocok buat dia (Dia maunya sih yang bisa untuk gaming…. no no no deh), akhirnya kami belikan DELL. Terus terang aku belum pernah pakai Dell, dulu pernah beli IBM, Fujitsu, NEC, HP, dan terakhir lenovo sampai 5 biji (untuk beberapa orang loh). Keburu cinta sama lenovo sih hehehe. Kata orang tokonya specnya bagus karena harganya miring. Rupanya seminggu sebelumnya ada Dell Fair. Karena anaknya suka, ya kami belikan. Langsung bawa pulang.

Janji untuk bertemu Riku lagi di kedai teh. Aku dan Kai menunggu di kedai teh itu, sambil pesan es untuk Kai dan teh untukku. Nah es itu didalam cone, tapi ditaruh dalam gelas. Nah si pelayannya waktu akan menyerahkan ke aku, akunya belum siap, sehingga esnya jatuh. Kasihan! Karena aku juga sebetulnya bersalah di situ. Eh diganti es nya dengan yang baru. Padahal aku sudah bilang tidak usah. Pelayanan di Jepang sih memang begitu.

Ginza pada hari libur menjadi CFD Car Free Day

Begitu Riku selesai, kami lalu naik subway menuju Ginza. Karena memang aku ingin mengajak nostalgia mengenang mama, di restoran Shabu-shabu yang ada di Ginza. Dulu setiap mama dan papa datang, pasti makan di sini. Jadi ceritanya pesta ultahnya dirayakan dengan shabu-shabu. Mantap deh.

Setelah selesai makan, kami masih mau jalan-jalan sekitar Ginza, mencari kertas washi. Lalu tiba-tiba aku bilang bahwa mama terakhir ke Ginza karena mau perbaiki iPhone. Nah, Riku langsung bilang bahwa dia mau lihat-lihat. Dia memang sudah mengeluh iPadnya lelet dan memorynya sedikit. Lagipula iPad itu adalah turunan dari Ibu Mertua yang aku tahu sekali kapasitasnya jauh dari memadai, karena dulu Ibu Mertua hanya perlu untuk main game 😀

Jadilah kami ke gerai apple dan penuh orang dong. Sambil melihat-lihat, ternyata iPad sudah canggih sekali sekarang. Hampir tidak ada bedanya dengan komputer deh. Apalagi Riku sedang persiapan ujian masuk universitas, jadi perlu banyak belajar dan mencatat. Hampir setiap hari perlu ke bimbel juga. Daaan, dia juga bilang, “Ma, dulu aku kelas 6 SD dibelikan komputer tapi kan harganya cuma sepertiganya Kai yang sekarang”… Well, dia butuh dan akhirnya aku belikan dia iPad yang terbaru, yang memadai sehingga dia bisa pakai sampai lulus universitas. Kalau selama universitas dia mau ganti, silakan kerja sambilan untuk beli sendiri hehehe.

Setelah itu kami langsung pulang deh, tidak ada waktu lagi jalan-jalan. Kami pulang ke rumah dengan komputer dan iPad baru dan tentu saja begitu sampai rumah mereka langsung ke kamar masing-masing untuk set up peralatan baru mereka.

Atas: Si Bungsu belajar programming sama tante Titin. Bawah: Kalau bosan belajar di kamarnya, Riku sering turun dan belajar di meja makan bersama aku.

Daaaan, aku merasa kemewahan dalam sehari itu amat sangat tepat waktu. Karena kemudian Tokyo dinyatakan kondisi darurat dan kami semua harus belajar/bekerja dari rumah. Masing-masing sudah punya perangkat sendiri, sehingga tidak perlu bergantian pakai komputer mama/papa. Kondisi ini yang tidak dipunyai oleh banyak keluarga Jepang lain, sehingga tidak mungkin untuk belajar daring (online) untuk SD, SMP di Jepang. Jadi selama itu SD dan SMP TIDAK belajar online. Tugas dan PR diambil di sekolah, bahkan ada daerah yang gurunya antar ke rumah. SMA Riku swasta sehingga terus online, sampai bulan Juni, waktu sekolah dimulai kembali. Kai? Untuk SD/SMP nya Kai memang tidak ada kelas online, tapi sejak Februari Kai masuk bimbel, dan bimbel ini ONLINE seminggu 2 kali. Aku merasa beruntung sekali sempat memasukkan Kai ke bimbel itu. Karena tidak semua bimbel menyediakan pembelajaran daring. Memang semuanya sudah tepat pada waktunya.

Ketika Bang Kopid Belum Datang

6 Sep

Akhir-akhir ini aku merasakan keinginan yang kuat untuk menulis. Jadi mumpung mau menulis, langsung buka blog ini.

Akhir Januari tahun 2020. Waktu itu belum ramai soal pandemi. Tiba-tiba aku dan adikku memutuskan untuk pergi ke Indonesia untuk keperluan yang urgent. Memang sebelumnya kami mengetahui juga bahwa papa masuk RS sampai dua kali. Tapi bukan (hanya) papa yang menyebabkan kami memutuskan untuk langsung berangkat keesokan harinya, tentu dengan membeli tiket yang amat sangat mahal. Tapi, kami merasa perlu. Keluarga yang utama.

Banyak yang berubah di Jakarta. Termasuk seringnya menemui ondel-ondel ribut seperti ini.

Aku sangat beruntung mempunyai suami yang bilang, “Pergi aja, jangan pikir uang!”, dan anak-anak yang mengerti bahwa mereka harus mandiri selama 10 hari aku tidak di Jepang. Yang aku khawatirkan cuma si bungsu, karena dia selalu sulit bangun pagi untuk ke sekolah. Tapi ternyata bisa juga kok. Secara rutin dia setiap pagi mengirimkan message “Ittekimasu (Saya pergi ke sekolah dulu)”. Lega rasanya.

Kadang kami tidak sempat ke restoran dan makan malam di Hotel, dengan minta dibelikan masakan yang kami inginkan. Sate RSPP, Martabak manis is a must.

Pertama kali juga memakai lounge untuk bisnis class sebelum terbang, dan cukup norak melihat semua fasilitas yang disediakan, termasuk makanannya. Eh ada juga sake Jepangnya yang sampai 5/6 jenis. Padahal pagi hari tuh, jadi benar-benar cuma satu sruput untuk rasa saja dan mencatat namanya. Kalau enak kan bisa beli sendiri.

Putu Made di Sency. Sepertinya setiap aku ke Jakarta pasti ke sini deh 😀

Tidak ada yang tahu kami ke Jakarta. Dan kami juga pikir tidak ada waktu sama sekali bertemu teman-teman karena tujuan kami ke Jakarta bukan untuk berlibur. Selama 10 hari itu, kami cuma di hotel, RS dan restoran 😀 Kami selalu menyempatkan mencari restoran baru yang katanya enak untuk kami nilai.

Kami juga sempat ke Seribu Rasa. Pertama kali bagiku. Lumayanlah.

Aku selalu menginap di Hotel GM kalau pulang ke Jakarta. Kenyamanannya tidak tergantikan. Dan kali itu pun aku terkejut ketika seorang doorman, menyapa namaku, “Ibu Imelda, kok sudah lama tidak ke sini?” . Lohhh, aku tidak pakai name tag loh, kok dia bisa tahu, atau dia bisa ingat? Aku tidak pernah kasih segepok uang tip kok untuk dia. Hospitalitynya di sini memang top.

Karena bingung cari restoran padahal sudah malam dan capek, akhirnya ke Pasific Place dan makan di Tesate. Restoran Indonesia semua kan yang aku pergi 😀

Ada dua orang yang sering aku tanyakan restoran apa yang layak dicoba. Adik angkatku di Jumria dan teman SMA ku Tipri. Kebanyakan pilihan mereka itu cocok untukku. Kali ini aku sempat mencoba gerai Kopi Toby’s di PIM sampai dua kali. Kali pertama mungkin karena lapar sekali, terasa enak sekali. Kali ke dua, beda rasanya heheheh. Tapi kopinya enak kok. Konon Toby’s ini dari Aussie sih.

Sempat makan sate padang juga sih, tapi kurang enak 🙁

Tentu kami juga tidak lupa mengunjungi mama di Oasis Lestari. Dan pulang dari situ, kami mengunjungi saudara yang tinggal di Alsut. Pertama kali ke rumah dia.

Lupa mencatat nama restoran ini, ternyata di Kemang Village bukan di Citos. Nona Manis namanya. Enak juga.

Sepuluh hari yang terasa pendek tapi melelahkan juga. Tapi kami lega karena tujuan kami ke Jakarta berakhir dengan baik. Bisa menengok papa juga dan menyelesaikan beberapa tugas termasuk makan hehehe.

Malam sebelum kembali ke Jepang. Sempat bertemu Sanchan yang membawakan tongkat untuk papa dan Susi yang kebetulan menginap di hotel yang sama denganku

Siapa sangka waktu itu bahwa mulai bulan Maret, dunia akan dilanda pandemi yang membuat kami tidak bisa bebas untuk mudik ke Jakarta lagi. Biasanya aku pulang setiap Agustus, tetapi kali ini tidak bisa pulang. Sedih tapi apa boleh buat ya? Aku bersyukur membuat keputusan tepat untuk pulang akhir Januari itu. Semoga bisa segera ke Jakarta lagi deh. Bang Kopid, cepet pergi dong! 😀

Hari Gunung 山の日

11 Agu

Tahun 2020 ini sebenarnya Hari Gunungnya pindah ke tanggal 10 Agustus, padahal seharusnya tanggal 11 Agustus, karena direncanakan supaya banyak libur beruntun pada saat pelaksanaan Olimpiade 2020. Sayang karena Mbak Corona, rencana tinggallah rencana, tidak bisa diwujudkan.

Jadi kalau melihat penanggalan Jepang pada bulan Agustus, pasti tanggal 11 Agustus itu berwarna merah dan merupakan hari libur resmi. Dan hari Gunung ini sebetulnya baru dirayakan sejak 2016 yang lalu. Memang sepertinya Jepang sedang berusaha memperbanyak hari libur untuk mengerem atau memperpendek hari kerja orang Jepang (meskipun dipantek hari libur setengah tahun pun orang Jepang akan tetap bekerja di hari libur 😃 ), dengan memutuskan Happy Monday (menggeser hari libur ke hari Senin sehingga bisa libur berturut-turut dan menambah hari libur.

Penetapan Yama no hi 山の日 ini dilakukan setelah 20 tahun berlalu sejak penetapan Hari Laut yang jatuh hari Senin ke3 pada bulan Juli. Selain daripada tujuan penetapan yang “membuat warga lebih menyadari keberadaan gunung dan menghargainya”, sebetulnya tidak ada latar belakang sejarah yang mendukung, seperti saudaranya si Hari Laut. Dengan tidak ada latar sejarahnya ini memang yang membuktikan bahwa pemerintah “mencari-cari” kesempatan untuk meliburkan warganya di bulan Agustus.

Dalam penggodokan penentuan tanggal untuk diperingati sebagai Yama no hi, awalnya ditentukan tanggal 12 Agustus. Tapi pada tanggal itu pada tahun 1985, telah terjadi kecelakaan jatuhnya pesawat 墜落事故 JAL dengan nomor penerbangan 123 di daerah Osutakano one (Prefektur Gunma) yang menelan korban 520 orang. Kecelakaan ini merupakan kecelakaan terparah dalam bidang penerbangan. Jadi, rasanya tidak etis untuk merayakan Hari Gunung pada tanggal 12. Sedangkan jika diundur ke tanggal 13, juga tidak bisa karena biasanya pada tanggal 13-14-15 Jepang merayakan Obon (meskipun bukan tanggal merah, biasanya orang Jepang pulang kampung pada hari-hari ini). Jadilah Hari Gunung dirayakan pada tanggal 11 Agustus, dan menjadi hari libur yang ke 16 dalam satu tahun di Jepang.

Saya sendiri belum pernah mendaki Gunung Fuji. Orang asing biasanya menyebutkan Gunung Fuji adalah Fujiyama, sedangkan orang Jepang menyebutnya dengan Fujisan. Mengapa? Sebetulnya memang kanji 山 itu bisa dibaca “yama”, dan bisa dibaca “san” (atau “zan”), jadi tidak salah kalau disebut dengan Fujiyama. Tapi orang Jepang menyebutkan Fujisan itu konon karena lebih menghormati gunung Fuji, layaknya menghormati manusia yang juga dipanggil dengan -san.

Tapi tahukah teman-teman ada berapa banyak gunung sih di Jepang? Sebetulnya Jepang itu selain bisa disebut sebagai “negara kepulauan”, juga bisa disebut dengan “negara gunung”, karena jumlahnya 16.667 gunung (menurut peta dengan skala 1:25.000)! Dan ini masih ada yang tidak tercantum namanya, sehingga mungkin lebih banyak lagi jumlahnya. Gunung yang tertinggi di Jepang tentu adalah Fujisan (3776mdpl) Sedangkan gunung yang terendah, yang tercantum dalam peta skala 1:2.00 itu setinggi 5 meter yang terletak di Osaka dan bernama Tenbouzan 天保山.

Saking banyaknya gunung di Jepang, Fukuta Kyuya, seorang novelis dan pendaki gunung memilih 100 gunung populer di Jepang 日本百名山, dan biasanya menjadi panduan atau target pendaki gunung di Jepang. Boleh berbangga, bapak mertua saya sudah menyelesaikan pendakian 100 gunung populer di Jepang pada usia 74 tahun. Sayangnya sekarang beliau harus mengurus istrinya yang sakit sehingga tidak bisa memenuhi target 200 gunung populer di Jepang.

Saya sendiri sebetulnya takut ketinggian, sehingga takut mendaki. Tapi paling sedikit ada 2 gunung yang saya ingat pernah saya daki yaitu Nokogiriyama 鋸山 (330mdpl) di Chiba dan Hachijoji-shiroyama八王子城山 (446mdpl) di Tokyo. Untuk berikutnya mau coba Takaosan 高尾山 (599mdpl)…. entah kapan. Tapi paling enak memang mendaki Daikanyama, atau Aoyama atau Yamanote saja deh hehehe 😃. (Daikanyama, Aoyama adalah nama daerah di Tokyo yang terkenal sebagai tempat belanja 😀 , sedangkan Yamanote adalah jalur kereta komuter yang memutari Tokyo). Kalau Sayama? boseeeen tiap hari di gunung sempit sih 😀 (Sayama adalah nama daerah tempat tinggal saya)

Tulisan ini pernah tayang dalam Pojok “Bahasa dan Budaya Jepang” dalam Grup Wanita Indonesia Berkarya di Jepang.

Semestinya memang Hari Gunung diperingati tgl 11 Agustus, tapi khusus untuk tahun 2020 dipindah ke tanggal 10 Agustus, karena (rencana) penutupan Olimpiade itu tanggal 9 Agustus, jadi bisa istirahat sesudahnya. Tapi sayang Olimpiade tidak jadi diadakan. Nah untuk tahun 2021 konon karena Olimpiade dipindah tahun depan, dan penutupannya tanggal 8 Agustus, maka Hari Gunung menjadi tanggal 9 Agustus. Mari kita doakan tahun depan Olimpiade bisa dilaksanakan sesuai rencana ya. Tetap berharap.

Annual baby’s-breath

7 Jul

Napas Bayi Tahunan?

Nama latinnya Gypsophila elegans atau KASUMISOU カスミソウ dalam bahasa Jepang. Bunga yang imut-imut, kecil berwarna putih, dan biasa dipakai untuk mengisi kekosongan rangkaian bunga.

Kasumisou

Bunga yang kecil-kecil dan banyak ini dianggap menggambarkan bintang-bintang di galaksi. 天の川. Karena itu hari ini tanggal 7 Juli dinyatakan juga sebagai hari Kasumisou, selain sebagai hari Tanabata.

Asal usul perayaan Tanabata di Jepang berasal dari Legenda Tanabata yaitu kisah cinta Orihime dengan Hikoboshi. Orihime adalah putri Raja Langit (Tentei) yang pandai menenun. Dikatakan Orihime ini adalah bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dalam rasi bintang Lyra. Raja Langit sangat suka tenunan Orihime, sehingga Orihime kerjanya hanya menenun saja. Orihime sedih karena kalau dia hanya menenun saja, bagaimana bisa mendapat jodoh. Nah, sang bapak kemudian mengatur pertemuan dengan Hikoboshi yang merupakan penggembala sapi di seberang Amanogawa (Galaksi Bima Sakti). Hikoboshi ini dianggap sebagai Bintang Altair yang berada di rasi bintang Aquila. Begitu Orihime bertemu Hikoboshi, mereka jatuh cinta dan menikah. Tapi karena itu, Orihime tidak lagi menenun, dan Hikob tidak lagi menggembala (maklum lah pak… kan masih pengantin baru :D). Raja Langit kemudian sangat marah dan keduanya dipaksa berpisah. Orihime dan Hikoboshi tinggal dipisahkan sungai Amanogawa (galaksi Bima Sakti) dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam hari ke-7 bulan ke-7. Tetapi ternyata meskipun mereka diizinkan bertemu, mereka tidak bisa menyeberangi sungai Amanogawa karena tidak ada jembatan yang menghubungi. Sekawanan burung kasasagi terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih dan berbaris membentuk jembatan yang melintasi sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu. Tapi kalau kebetulan hujan turun, burung-burung itu tidak bisa datang dan membantu mereka menyeberang sungai sehingga harus menunggu setahun lagi ☹

Jarang sekali kasumisou ini bertindak sebagai bunga ‘primadona’, selalu menjadi peran pembantu 😀 Tapi terasa juga kalau ada dia, rangkaian lebih meriah loh. Jadi peran pembantu itu juga diperlukan dalam kehidupan ini, bukan?

Akhir-akhir ini banyak kasumisou berwarna, baik itu biru atau merah dan pink. Itu bukan warna asli, tapi warna celupan. Tapi konon cukup kuat menempel sehingga meskipun dikeringkan, warna tersebut akan tetap tinggal. Dan kasumisou ini memang tahan lama. Jika bunga primadona sudah layupun, biasanya kasumisou masih terlihat segar. Sehingga akupun kadang menghias kasumisou begitu saja. Ditaruh dalam jambangan kecil, airnya pun tidak banyak berkurang dan tidak cepat kotor dibandingkan bunga lain.

Bunga bakung jenis casablanca pink dari taman kecil di rumahku, dan ditambahkan kasumisou berwarna pink juga.

MESES

4 Jul

“Mau makan apa?”
“Roti saja”
“Mau yang asin atau manis”
“Manis”

Dengan sigap aku memasukkan dua lembar roti ke dalam toaster, mengambil mentega dan meses.

“Namanya Muisjes Imelda! Bukan meses! Apa itu meses, meses….”
“Bagaimana tulisnya?”

Mamaku menuliskannya dengan tulisannya yang khas. M U I S J E S. Oh… Bahasa Belanda!

Memang Muisjes itu dari Belanda. Konon muisjes yang artinya Tikus Kecil itu ditaburkan di atas beschuit (roti kering bulat : bayangkan bagelen) menjadi tanda terima kasih pada acara kelahiran bayi baru. Orang tua membagikan beschuit met muisjes kepada para tamunya. Dinamakan Tikus Kecil karena adas manis berlapis gula berwarna merah muda, biru dan oranye ini bentuknya memang menyerupai tikus kecil.

Wait! Warnanya kok hanya merah muda, biru dan oranye dan terbuat dari adas manis? Padahal kita di Indonesia mengetahui bahwa meses itu terbuat dari coklat?

Jadi sebenarnya penyebutan coklat tabur menjadi muisjes itu salah. Karena sebetulnya namanya chocoladehagelslag, apalagi sulit menyebutkan hagelslag (baca : hahelslah) bagi orang Indonesia. Lagipula toh sama-sama ditaburkan di atas roti, bolehlah orang Indonesia menamakannya sebagai meses. Yang pasti sejarah hagelslag ini sudah lama yaitu dari tahun 1919 oleh B.E. Dieperink, dan dipopulerkan oleh perusahaan VENCO. Sampai sekarang pun meses ini tidak bisa lepas dari kehidupan orang Belanda sebagai makan pagi mereka, juga bagi Indonesia yang mengikutinya.

“Mamaaaa… Rotinya belum?”
“Oh iya…. Sebentar”

Aku pun cepat-cepat mengoleskan mentega dan meses eh muisjes eh hagelslag di atas roti untuk anakku.

**Ma…. aku kangen. Semalam aku merasakanmu lagi dalam mimpiku. Samar-samar. Aku tahu mama selalu bersamaku.**

sumber: https://www.iamexpat.nl/lifestyle/lifestyle-news/brief-history-dutch-sprinkles-aka-hagelslag

Makanan sederhana

21 Apr

Ada dua makan sederhana yang kutahu waktu kecil. Nasi dengan kaldu ayam + air panas. Dan nasi dengan emping/kerupuk + kecap manis.

Nasi dengan emping dan kecap manis. Membangkitkan nostalgia dengan mama.

Kedua makanan sederhana itu adalah makanannya alm. mama. Aku pernah memergokinya makan nasi dengan bulyon (kaldu ayam) yang dilarutkan dalam air panas. Waktu itu memang belum waktu makan, tapi karena mama melewati pagi tanpa sarapan, dan langsung kerja di kebun, dia bilang dia kelaparan. Kelihatan enak sekali. Kadang aku diberinya sesuap.

Saat yang lain dia makan nasi dengan emping dan kecap manis. Pakai cabe rawit dan tidak kalah lahapnya. Aku minta tapi kepedasan untukku. Aku heran mama kok makan seperti itu.

“Ini enak Imelda…” Dan dia bercerita bahwa dulu, waktu dia masih kecil, sering hanya makan sisa-sisa kakek-nenek tempat dia tinggal. Waktu perang, opa masuk kamp tahanan dan oma berdagang. Karena anak banyak, mama dititipkan pada saudara jauh di Kemetiran, Yogya. Mama hanya makan sisa-sisa dari kedua sepuh itu.

Hari ini hari Kartini. Seorang pahlawan wanita yang mengangkat pendidikan bagi kaum wanita. Aku ingin membandingkannya dengan ibuku. Betapa ibuku juga menekankan pendidikan bagi anak-anak perempuannya.

“Imelda, kamu harus sekolah tinggi. Jangan seperti mama. Waktu SD mama terpaksa tinggal kelas. Di kelas 5, karena tiba-tiba harus mengikuti ujian dalam bahasa Indonesia. Kami belajar dalam bahasa Belanda, ya tentu tidak tahu apa pertanyaan ujian itu, karena ditanya dalam bahasa Indonesia. Zaman Batu? Apa itu?2

Mama sendiri hanya lulus SMP. Dia mau melanjutkan tapi karena kendala biaya, tidak bisa masuk SMA. Dan dia masuk sekolah perawat. Karena jika masuk sekolah perawat, dia tidak usah membayar uang sekolah, bahkan digaji. Banyak ceritanya tentang suka dukanya belajar di sekolah perawat itu, yang diceritakan di meja makan kepadaku. Yang pingsan waktu melihat jarum suntik. Atau cerita seorang nenek yang suka meleper tinjanya di tembok. Tapi dia selalu cari mama…. “Suster Maria….” Sampai suatu hari waktu mama dinas, dia melihat tempat tidurnya telah kosong.

Dengan gajinya Mama menabung supaya bisa mengikuti kursus bahasa Inggris dan mengetik. Berbekal ijazah bahasa Inggris dan mengetik itulah, mama bisa masuk bekerja di Shell. Dan mama bisa buktikan bahwa mama memang mampu bekerja. Setiap orang yang lewat meja mama waktu mama mengetik, pasti berhenti karena terpesona dengan kecepatan ketikannya. Di situlah mama bertemu papa.

Kami semua mendapat pendidikan yang top. Mama selalu berkata, “Tidak apa kita makan setiap hari dengan tempe, asal kalian sekolah di sekolah yang bagus. Pendidikan nomor satu!” Sekolah bagus berarti mahal, dan yang bersekolah di situ anak orang kaya. Untung aku tidak pernah malu membawa roti dengan telur ceplok untuk dimakan waktu istirahat. Karena kami tidak pernah mendapat uang jajan.

Mama, terima kasih untuk pendidikan yang engkau sediakan. Untuk gemblengan dan disiplin selama kami kecil. Kami bisa merasakan manfaatnya sekarang. Dan tentu akan aku teruskan untuk anak-anakku.

Nasi dan emping pakai kecap manis ini terasa enak sekali, Ma. Karena aku tahu Mama selalu melihat kami dari atas sana.

Dalam tangan anaklah terletak masa depan dan dalam tangan ibulah tergenggam anak yang merupakan masa depan itu. (RA. Kartini)

2019 – 8 dari Sayama

16 Mar

Sebetulnya saya terbiasa menuliskan pencapaian setahun dalam tajuk 8 dari Nerima. Tapi karena tahun 2019 saya sudah pindah ke kota Sayama di Saitama, seharusnya saya menulis 8 dari Sayama di akhir tahun 2019 lalu. Tapi…. ya tidak keburu. Kenapa? Karena bapak mertua menghabiskan tutup tahun di rumah kami, menginap, sehingga aku harus mempersiapkan semuanya, tempat tidur, dan makanan.

1. Tahun 2019 merupakan tahun pernikahan yang ke 20 tahun, sekaligus 1 tahun menjadi warga Sayama. Kami rayakan secara sederhana saya di sebuah restoran Jepang yang berada antara rumah kami dan stasiun. Jadi dari rumah kami ke stasiun 5 menit, ke restoran itu setengahnya deh. Restoran itu memang baru buka, tapi Gen sudah pernah makan di situ dengan teman kantornya, sehingga mau mengajakku juga mencoba makan di situ. Karena agak mahal, perlu ada “timing” yang tepat. Jadilah aku memesan tempat pas hari ultah pernikahan kami . Restoran ini buka juga siang hari, tapi tetap harus pesan tempat. Makanannya enak dan dikeluarkan satu-satu (istilahnya: kaiseki ryori 会席料理). Waktu pihak restoran mengetahui bahwa kami memperingati wedding anniversary, mereka memberikan hadiah berupa sashimi ikan buntal (fugu) yang cukup mahal juga (dan enak!). Ntah kapan lagi kami akan ke sini……

Makan malam bersama di restoran Jepan Ootsu

2. Meskipun kami pindah rumah, yang pindah sekolah hanya Kai. Dia harus masuk ke SD negeri di dekat rumah. Tapi sedekat-dekatnya juga butuh 20 menit untuk jalan kaki ke SD! Cerita pindah sekolah akan aku tulis terpisah, tapi yang pasti setelah pindah sekolah, Kai lebih banyak tertawa dan banyak teman! Ternyata sekolah yang baru jauh lebih baik daripada sekolah di Nerima. Dan ini melegakan kami selaku orang tua. Karena biasanya terdengar kasus bully pada anak yang pindah sekolah.

setiap pagi mereka harus berangkat bersama dalam kelompok

3. Riku tetap bersekolah SMA yang sama. Yang waktu di Nerima jauh, tetapi sekarang menjadi dekat. Memang kami pindah ke kota yang dekat dengan tempat kerja Gen, dan SMA nya Riku. Untuk Riku tidak ada masalah. Tapi di tahun 2019, dia mendapat dua penghargaan, yaitu satu penghargaan tentang catch phrase bertemakan lingkungan hidup dari pemda kota kami, dan satu lagi penghargaan dari perusahaan teh botol Itoen atas haiku yang dibuatnya. Sebagai hadiah, haiku dan nama Riku dicantumkan dalam label botol, dan kami dikirimkan satu kardus teh hijau botolan dengan haiku Riku. Riku juga mengikuti test bahasa Inggris dan mendapat nilai yang lumayan, mengingat dia baru “bersemangat” belajar bahasa Inggris sejak masuk SMA.

4. Waktu Riku masuk SMA, dia tanya apakah dia boleh pergi ke Inggris. Saat itu kami katakan, dengan bahasa Inggrisnya yang sekarang (kelas 1) tidak mungkin bisa. Lebih baik, brush up bahasa Inggrisnya dulu selama setahun, dan di kelas dua, pada musim panas boleh summer camp di LN Dia setuju dan berusaha belajar bahasa Inggris lebih giar. Aneh sekali memang anakku ini, dia nomor 1 untuk bahasa Jepang, tapi untuk bahasa Inggris, yah sedikit di bawah rata-rata deh. Kadang merasa malu juga, tapi aku sendiri tidak pernah mau memaksa anak-anak harus bisa. Percuma deh dipaksai. Dengan janji bahwa dia boleh ke LN di kelas dua, dia jadi semangat deh. TAPIIIIIII, aku lupa akan janji aku. Jadi waktu sekitar bulan Februari dia katakan, “Ma, aku kan naik kelas 2 nih, aku mau ke Inggris pada libur musim panas”… jreeeeng. Panik deh mamanya 😀 tidak siap keuangan. Tapi… ya, akhirnya aku cari dong tiket yang murah dan atur sana sini. Ceritanya terpisah ya? Yang pasti tahun 2019, Riku pergi ke UCLA di Amerika, Inggris (London dan sekitarnya), Belanda, Singapore dan Malaysia. Beuh, kayak anak kaya aja! Satu musim panas dihabiskan di 5 negara! 😀

Foto kenangan di dalam gereja, yang letaknya hanya 50 meter dari apartemen papa di London, dan aku bisa menemukan tempat ini. Napak tilas. Difoto oleh supir kami dari Afganistan: Ash.

5. Kai tidak ikut ke Inggris, dia sendiri mengatakan tidak mau. Alasannya dia tidak suka makanan di pesawat. Jadi, Kai tinggal di rumah selama 2 minggu bersama papanya. Dia hanya pergi ke Nikko bersama rombongan sekolahnya. Tapi di karya wisata itu, dia menjadi kepala kelompok. Kelihatannya dia cocok menjadi “ketua” karena termasuk pendiam dan serius. Mana badannya lebih besar (dan tinggi) dibandingkan teman lainnya. Dia juga ketua kelompok untuk berangkat sama-sama ke sekolah setiap pagi!

Kai berangkat ke Nikko, masih gelap waktu dia harus berangkat sendiri ke sekolah.

6. Mama Imelda selama tahun 2019 menemani Riku ke Inggris dan Belanda. Pertama kalinya aku LIBUR dua minggu dari tugas rumah 😀 dan 2 minggu itu lama booo… kelamaan 😀 Sebetulnya mungkin kalau bisa pakai bath tub untuk berendam, aku tidak merasa lama. Ternyata aku sudah menjadi orang Jepang yang merindukan berendam air panas hehehe. Selain ke Inggris dan Belanda, aku juga ke Osaka untuk seminar, dan ke Jakarta untuk menghadiri konferensi Leksikografi dari Badan Bahasa. Bulan Desember, aku ke Niigata untuk mengadakan kegiatan RBI di Niigata.

Salah satu tujuanku ke Belanda adalah untuk bertemu Kiki! Sahabat maya yang kukenal hampir 15 tahun, dan pertama kali bertemu muka. Kiki menjemput aku di Schiphol! Karena Kiki, aku ngeblog….. (Foto di sebuah cafe di Den Haag)

7. Dari segi kerjaan, aku masih seperti tahun sebelumnya. Mengajar di 3 universitas/sekolah, di kemenlu dan kursus bahasa dari KBRI dan mengelola Rumah Budaya Indonesia (RBI) yang menampilkan kegiatan bulanan. Yang terbesar adalah yang ke Niigata, karena membawa rombongan 17 orang pengisi acara. Itu di bulan Desember (tgl 7 ) dan seminggu sesudahnya, aku juga harus mengurus pelaksanaan kebaktian Natal KMKI, karena kebetulan aku yang menghubungi penyanyinya. Dua minggu itu aku kebanyakan tinggal di hotel (Jumat-Sabtu-Minggu) karena ya rumahku jauh sedangkan badanku tidak kuat lagi. Desember adalah bulan yang sibuk! Makanya aku tidak bisa menuliskan 8 Besar th 2019 hehehehe (alasan!)

Mengantar Michael ke Haneda bersama Sanchan. Terima kasih atas suara yang merdu ya Mike!

8. Pada tahun 2019 ada sebuah film yang menceritakan tentang Saitama, daerah tempat tinggalku. Judulnya Tonde Saitama 跳んで埼玉, film berdasarkan komik mangga. Sepertinya setiap warga Saitama wajib menonton deh. Tapi deMiyashita yang menonton baru Riku (dia menonton di bioskop dengan temannya), dan SAYA! yeay! Biasanya kan aku tidak suka menonton, tapi kali ini aku menonton loh…. bukan di bioskop tapi di dalam pesawat hahaha. Perjalanan ke Inggris kan lama, jadi aku bisa menonton banyak deh. Ada 4 judul film yang aku tonton, dan salah satunya ya Tonde Saitama ini.
Tahun 2019 merupakan tahun yang bersejarah untuk Jepang juga, karena Kaisar baru dan nama tahun juga baru. Tahun Reiwa. Tahun kedatangan Paus ke Jepang. Tahun pembukaan Moomin Park yang berada 20 menit naik mobil dari rumahku. Aku sudah 3-4 kali ke Moomin Park ini.
Tapi tahun 2019 juga ditandai dengan bencana taifu yang cukup membawa korban. Dan satu lagi yang tidak boleh dilupa, pajak pembelian naik dari 8 % menjadi 10%!

Moomin Park di bulan Desember 2019

Akhirnya selesai deh 8 besar dari Sayama edisi tahun 2019. Sedapat mungkin akan kuteruskan kebiasaan menulis 8 besar kejadian yang terjadi dalam keluarga kami satu tahun, sebagai pengingat dan kenangan.

9 tahun berlalu

11 Mar

11 Maret 2011, terjadi gempa bumi Tohoku yang begitu dashyat. Sembilan tahun berlalu, tapi tragedi itu masih belum bisa terlupakan.

Seorang Abe, petani. Dia sedang mengurus rumah kacanya yang terletak di belakang rumahnya, saat tsunami terjadi. Dia bisa selamat karena berpegangan pada tiang listrik. Tapi ibunya, istrinya dan 3 anaknya yang mengungsi di tempat yang sudah ditentukan tidak tertolong karena tempat pengungsiannya tertelan tsunami.

Abe sendiri mencari keluarganya keesokan harinya. Ditemukan jenazah, sudah kaku. Tidak diketahui jenazah siapa karena tertutup lumpur semua. Harus membersihkan lumpur di muka, di hidung, untuk mengetahui siapa dia 🙁 …. itu yang Abe ceritakan tapi bisa menggambarkan betapa hatinya hancur, harus menerima kenyataan bahwa 5 orang yang dikasihinya harus meninggal dalam waktu yang bersamaan. Selain keluarga, dia juga kehilangan perkebunannya dan pekerjaannya.

Kalau tidak ada 2 temannya yang juga petani dan korban tsunami, yang mengajaknya untuk bangun dan memulai lagi perkebunan, dia mungkin sudah jadi “mayat hidup”. Dia bisa bangkit berdiri, mendirikan perkebunan lagi dan berhasil mempekerjakan 60 orang staf. Tujuannya bukan untuk kebahagiaannya sendiri, tapi dia selalu berkata bahwa dia melakukan untuk orang lain, toh dia sudah tidak punya keluarga lagi.

“Kita masih diberikan kehidupan, jadi kita harus hidup terus”, itu yang temannya katakan pada Abe. Namun kesusahan Abe tidak berhenti karena tahun lalu terjadi badai dan meluluhlantakkan rumah kacanya LAGI! tapi dia tetap semangat, dan dalam pembicaraannya aku tahu seakan dia mau bilang, “Badai itu kecil, dibanding Tsunami saat itu”. Dan dia tetap berkarya.

Hari ini, pelangi terlihat di tempat yang terkena tsunami. Pelangi Harapan.

Saat ini Jepang sedang mengalami “cobaan” dengan COVID19. Sekolah diliburkan, pegawai dirumahkan, barang sanitasi seperti masker, tissue beralkohol, toilet paper dan tissue kotak habis. baru segitu saja, sudah banyak yang merasa susah! Banyak teman-teman Indonesia di sini yang mengeluh, dan stress karena takut dengan kemungkinan terjangkit. Kadang kupikir, kenapa ya orang-orang tidak bisa berpikir jernih? Diliburkan kan maksudnya supaya tidak tertular? Bisa merasakan anak-anak libur di rumah kan suatu “berkat” karena berarti kita punya banyak waktu dengan anak-anak? Dan apa susahnya sih tidak ada barang-barang sanitasi itu? Masih banyak cara lain kok. Mengeluh? Abe san itu sudah bukan mengeluh lagi tapi menangis darah! Jangan manja ah.

Doa terbaik untuk semua korban, semua yang kehilangan dan semua yang terdampak kejadian tragis 9 tahun yang lalu.

合掌 (gassho) mengatupkan kedua tangan (untuk berdoa)

Hari ini aku harus pergi ke SD untuk mengambil barang-barang Kai yang belum terbawa di hari Jumat, 28 Februari lalu, terakhir dia bersekolah. Karena permintaan pemerintah, semua SD- SMP negeri di daerah kami mendadak libur. Padahal mestinya masih ada 20 hari sekolah sebelum spring vacation.

Aku bertemu dengan gurunya, dan setelah mengambil barang-barang Kai, aku mengucapkan terima kasih padanya. Semoga tgl 24 Wisuda tidak dibatalkan, karena kemarin pemerintah meminta lagi perpanjangan waktu untuk memutuskan wabah corona sampai akhir Maret. Disneyland pun yang tutup sampai tgl 14 Maret, diperpanjang sampai akhir Maret.

Sepulang dari SD, aku mampir ke toko bunga langganan, untuk membeli bunga (lagi). Mumpung sudah mulai hangat, bisa berkebun di halaman rumah yang kecil.

Beli tulip potong juga. Karena kami sedang berusaha membantu florist Jepang yang overstock bunga potong karena banyak event yang dibatalkan. Eh pas mau pulang oleh pemilik toko aku dibagi satu cabang Sakura. Asyik.