my journey from dawn to dusk

Gunung Sempit

Ini merupakan tulisan pertamaku, di tahun baru, di rumah baru, di desa.

Keputusan ingin pindah sebetulnya sudah sejak akhir tahun 2017, ketika Riku mulai ikut ujian-ujian masuk SMA. Karena memang kamu berencana pindah ke Saitama, maka dia tidak bisa mengikuti ujian masuk SMA Negeri di Tokyo. Pilihan dialihkan ke sekolah swasta di sekitar jalur kereta yang menuju ke Saitama. Tapi akhirnya pilihan jatuh pada sebuah sekolah swasta yang terletak di Sayama-shi. Sekolah swasta ini konon ranking 1 di daerah Saitama sehingga sebetulnya Riku tidak percaya diri bisa lulus. Tapi keuntungan mengikuti ujian sekolah swasta adalah, kamu bisa tahu kamu akan diterima atau tidaknya jauuuh sebelum teman-teman seangkatan mengikuti ujian masuk sekolah negeri. Karcis itu sudah di tangan! Meskipun Riku tidaklah pintar, dia sudah mengikuti bimbingan belajar sejak kelas 5 SD dan sudah mengikuti ujian try out beberapa kali. Dan hasilnya rata-rata saja selama ini.

Dia sangat kurang di nilai bahasa Inggris, tapi top di kelas bahasa Jepang! Aneh bin ajaib kan? Anak yang blasteran kok tidak bisa bahasa Inggris, malahan jago bahasa Jepang? Sampai suamiku berkata, “Kamu harus berterima kasih sama mama. Karena mama tidak memaksa kamu belajar bahasa lain!” Di rumah kami, memang bahasa pengantarnya bahasa Jepang. Riku tahu kata-kata/kalimat mudah bahasa Indonesia. Tapi dia tidak merasa perlu belajar! (Ini lain dengan Kai, yang sepertinya memang bisa membandingkan bahasa-bahasa dengan mudah… tapi tidak dipakai 😀 Soal komunikasi, Riku lebih jago … apapun bahasanya). Satu yang kutahu pasti mengapa Riku top di kelas bahasa Jepang adalah karena dia kutu buku! Tidak semua buku dia baca loh, dia punya selera tersendiri dalam memilih bacaannya.

Jadilah Riku diterima masuk ke SMA B di Saitama. Waktu berlalu begitu cepat, tapi aku belum bisa menemukan rumah yang pas untuk kami. Syaratnya terlalu banyak, maunya murah, dekat stasiun dan ada parkir untuk 2 mobil. Sudah ada 2 rumah yang lepas dari tangan kami, keburu dibeli orang lain. Tapi memang, jodoh tidak kemana! Akhirnya kami menemukan rumah yang sesuai syarat kami, meskipun kami harus menghapus syarat parkir 2 mobil. Hanya bisa 1 mobil! Tapi karena rumah ini dekat stasiun, hanya 5 menit jalan kaki, kami tidak perlu lagi mobil tambahan! Bungkus! 😀

Masalahnya kapan pindahan? Kami sudah bisa menempati rumah baru itu sebetulnya sejak Oktober, tapi…. aku sibuk setiap akhir pekan. November pergi ke luar kota/ ke Jakarta. Yo wis…. kami tetapkan Desember saja yuk! Jadi sementara kami tinggal di Tokyo, Gen dan Riku mengangkut barang-barang sedikit demi sedikit untuk di taruh di rumah lama. Sekalian ngantor dan sekolah.

Tapi ternyata … barang kami terlalu banyak untuk bisa selesai akhir Desember. Kami memang tidak mau memakai jasa pindahan, karena ingin menyortir barang apa yang hendak dibawa dan apa yang hendak dibuang. Karena barang-barang eletronik yang sudah kami pakai 19 tahun (sejak pertama tinggal) umurnya juga sudah terlalu tua dan patut diganti. Dan untuk membuang barang ini butuh waktu yang tidak cepat! Jadi, aku masih harus bebersih rumah lama meskipun sudah tinggal di rumah baru nih sekarang hehehe. Horang kayah, bisa tinggal di dua rumah \:D/

Tapi sejak bulan Oktober – November – Desember ini, kami amat menikmati percakapan-percakapan yang terjadi di dalam keluarga kami. Selama perjalanan melewati jalan tol yang menghubungkan Tokyo dan Saitama, pulang balik, banyak cerita yang bisa dinikmati. Family Quality Time.

Kami akhirnya resmi menjadi KENMIN (warga prefektur) dari TOMIN (warga Tokyo) tgl 26 Desember lalu.

Jumlah warganya pasti sudah bertambah 4 deh … (tapi suamiku bercanda, mungkin bertambah dengan kita, tapi berkurang dengan kematian lansia yang memang banyak tinggal di sini juga… ih kurang ajar deh hehehe)

Lalu kenapa judulnya Gunung Sempit?

Ya karena aku sekarang tinggal di Sayama, dengan kanji 狭山 sempit dan gunung (dibalik menjadi gunung sempit) . Dan memang betul karena dikelilingi gunung, udara di sini 3-5 derajat lebih dingin daripada di Tokyo! Brrrr….

mendaftar menjadi warga di sini tepat usia pernikahan kami yang ke 19

Ada satu keuntungan sejak kami pindah, yaitu mudah mencari makan di luar! Karena letaknya hanya 5 menit dari stasiun, dengan jalan kaki, kami bisa mencoba banyak restoran yang ada di sekeliling stasiun. Dan entah kenapa, di daerah kami juga banyak restoran ramen!

Semoga di tahun yang baru, aku bisa menemukan waktu lebih banyak sehingga bisa tetap menulis di Twilight Express ya.


Category: Diary

8 Besar dari Nerima 2018

Seperti biasanya di penghujung tahun, sejak tahun 2010, kami sekeluarga menetapkan 10 berita besar dari keluarga kami. Tapi aku sendiri menetapkan 8 saja, dan kuberi nama 8 Besar dari Nerima. Tahun depan, judul akan berganti, karena… kami pindah rumah.

Imelda, seperti biasa sibuk sepanjang tahun. Setelah Februari terbit kamus Bahasa Indonesia, masih tetap mencatat …


Category: Diary
Read More

6 Bulan Berlalu

Aduh, pertama kali ini aku menelantarkan blogku sampai 6 bulan! Tulisan terakhir bulan JUNI! Unbelievable…. hiks

Padahal aku pernah berkata bahwa aku ingin ngeblog sampai mati loh! (Nyengir kecut 😀 ). Keinginan menulis itu besar sekali, dan topik yang ingin ditulis juga banyak! Tapi kegiatan di dunia nyata tidak bisa dimungkiri banyak sekali menyita waktu dan …


Category: Diary
Read More

Karyawisata

Aku mengaku dulu ya, baru bisa menulis lagi setelah menyelesaikan hutang-hutang tulisan lain. Dan kebetulan malam ini belum bisa tidur (kebanyakan minum kopi) jadi aku pikir, ingin memulai kembali menulis di TE.
Hari Kamis yang lalu, Kai pergi study tour a.k.a karyawisata ke daerah Nagano. Memang 移動教室 ini merupakan program dari sekolah dasar terutama kelas 5 …


Category: Diary
Read More

Youtuber

Aduh maaf, ternyata halaman TE sudah berdebu tebal, akibat aku tidak tulis-tulis 😀 Hampir 3 bulan ya? Sebelum ambruk TEnya aku tulis sedikit ya 😀
Tahu Youtuber? Kalau anak muda pasti tahu deh. Karena “youtuber” atau pembuat video clip di youtube ini menjadi salah satu jenis pekerjaan terbaru di kalangan anak-anak di Jepang. Mereka あこがれる terpesona pada “artis” youtube …


Category: Diary
Read More

Bank Doa

Ada seorang temanku yang menyebut ibunya sebagai “Bank Doa”, dan aku setuju sekali. Memang seorang ibu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya kan? Sayang sekali Bank Doa-ku sudah tidak di dunia lagi, sehingga aku tak bisa memintanya mendoakanku, mendapatkan pelukan dan tanda salib di dahi setiap aku menghadapi ujian-ujian berat dan bepergian. Aku tahu ibuku …


Category: Diary
Read More

8 Besar dari Nerima 2017

Melanjutkan kebiasaan kami setiap tahun, untuk menutup tahun 2017 ini aku ingin menuliskan 8 Besar dari Nerima 2017.

Bulan September 2017, genap 25 tahun lalu aku mendarat di Narita Jepang untuk memulai kehidupan sebagai mahasiswa S2 di Yokohama. Dan tahun ini juga kami deMiyashita merayakan ulang tahun pernikahan orang tuanya Gen yang ke 50. Gold Anniversary. …


Category: Diary
Read More

Kucing yang Ingin Menjadi Manusia

Ini adalah judul sendratari yang dibawakan kelas 4, kelasnya Kai dalam acara pentas seni di sekolahnya. Memang bulan Oktober di Jepang merupakan bulan olahraga (Hari Olahraga pada minggu kedua Oktober), dan bulan seni. Sekolah Dasar kami menggelar pentas seni 3 tahun sekali, dan tahun ini merupakan pentas terakhir Kai yang duduk di kelas 4. Siklus 3 …


Category: Diary
Read More

PUN = plesetan

Apa pula PUN itu?
Sebetulnya hari ini aku mau menulis soal goroawase 語呂合わせ, yaitu pemudahan pengucapan sebuah kata/huruf atau angka. Dan kalau mencari bahasa Inggrisnya adalah “pun”, yang diterjemahkan menjadi “plesetan”. Hmmm jauh juga ya pengertiannya.
Goroawase sulit diterima oleh orang Indonesia karena dalam bahasa Indonesia memang cuma ada “pelesetan” itu. Jadi contohnya terbatas. Aku sendiri kalau …


Category: Diary
Read More