Saya adalah :
Nama : Imelda Emma Veronica Coutrier-Miyashita
Handle name: Ikkyu_san a.k.a emi_myst a.k.a emiko
Ulang tahun : 14 Januari
Anak ke : Pertama dari 4 bersaudara
Status marital : Nikah dengan wna dan dua anak laki-laki yang juga wna
Kota halaman : Kebayoran Baru - Jakarta
Tempat tinggal : Nerima-ku Tokyo
Kegemaran : Baca, blogging, masak, nyanyi, dengar musik, koleksi perangko, drive.
Pendidikan :
- TK sampai SMA Tarakanita, Jakarta
- Sarjana Sastra (Program Studi Jepang) Fakultas Sastra Universitas Indonesia
- Master of Education, School Education, History of Japanese Education, Graduate School of Education, Yokohama National University, Japan.
Pekerjaan :
- Ibu rumah tangga
- Dosen Bahasa Indonesia di Universitas Senshu, Kanagawa dan Universitas Waseda, Tokyo
- Narator (Mantan DJ - Announcer Radio InterFM 76,1 Mhz Tokyo)
- Penerjemah
- Editor - proofreader
- Sekretaris KMKI (Keluarga Masyrakat Kristen Indonesia) Tokyo-Jepang
- Blogger (hihihi masuk profesi nih)
More about me:
Favorite Food : Sushi/sashimi, Fish, Vegetables, segala yang terbuat dari Kanji (Baso, Siomay, Mpek-mpek, otak-otak dsb)
Favorite Beverages : Coffee, segala yang bersoda (dan sedikit beralkohol hehehe)
Favorite Singer/Bands : Julio Iglesias, Barry Manilow, Carpenters, Jose Mari Chan, Takeuchi Mariya, Yamashita Tatsuro, Keizo Nakanishi, ZARD, Tube, Harvey Malaiholo, Katon Bagaskara, Vina Panduwinata, Rita Effendy, ADA Band
Favorite Song : You Make My World So Colorful
Favorite Writer : Remy Sylado, Seno Gumira,
Favorite place : Mtb28
*****************************************************************************************************
Sapa sih loe? gaya amat punya homepage hihihi.
OK. Saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Imelda. Anaknya pak Coutrier, sehingga saya menjadi Imelda Coutrier. Lalu karena saya sekarang berstatus sebagai Ny. Miyashita, jadilah tambahan nama Jepang di belakang namaku itu.
Waktu lahir saya diberi nama Emma oleh orang tua saya, mengikuti nama nenek, ibu dari papa saya yang bernama Emma. Terus terang saya tidak begitu suka nama ini. Nama Imelda dipilih karena katanya waktu saya lahir, papa saya sempat tertahan di jalanan yang macet di Jakarta, karena kedatangan Imelda Marcos, first ladynya Philipina waktu itu. So, nama saya menjadi Imelda. Tiga hari setelah lahir, saya dipermandikan secara katolik, dan diberi nama baptis Veronica. Kebetulan ada seorang teman mama yang bernama Suster Veronis, sehingga terpilihlah nama Veronica. Jadi nama lengkap saya Imelda Emma Veronica Coutrier.
Bahasa di rumah
Saya lahir, dan dibesarkan di Jakarta. Bahasa sehari-hari saya adalah bahasa Indonesia. Tetapi mama dan papa di rumah berbicara bahasa Belanda. Lama-lama saya ingin tahu bahasa Belanda, dan dari mendengar saya bisa mengira-ngira pembicaraan mereka tentang apa. Saya mengerti bahasa Belanda secara otodidak, dan ternyata bisa terpakai sedikit waktu saya Universitas, pergi ke pelabuhan Sunda Kelapa mengantar saudara-saudara dari negeri Belanda sebagai supir dan pemandu wisata berbahasa Belanda. Wuihhhh gaya!!
Karena anak tertuanya sudah bisa mengerti bahasa Belanda, maka orang tua saya berbicara bahasa Inggris untuk yang sifatnya rahasia. Saya belajar bahasa Inggris baru di SMP waktu itu, sehingga sampai sekitar SMP kelas 2-3, orang tua saya bebas berbicara bahasa Inggris di depan saya. Tapi semakin lama tentu saja perbendaharaan kata-kata bahasa Inggris saya bertambah banyak, sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk orang tua saya bersembunyi dengan bahasa asing di hadapan saya. Sehingga satu-satunya jalan, mereka masuk kamar dan mengunci pintu…hehehe. Oh ya satu lagi pengalaman berbahasa Inggris waktu saya di SMP, yaitu menjawab telepon dari teman papa yang di luar negeri. Karena papa banyak bekerja dengan orang asing, sering juga berdering telepon dari luar negeri. Kalau mama ada sih tidak menjadi masalah….. tapi kalau mama tidak ada, siapa saja yang mengangkat telepon pasti akan panggil, “Imeldaaaaaaaa…”
Nah loh, saya harus jawab apa? Pertama kali hafal saja,
“Who’s speaking please?”
dijawab “This is bla bla bla….”
Mabok deh tidak bisa terdengar jelas dia bicara apa. Akhirnya saya hafalkan
“I’m sorry, he is not at home. Please call again”
Waktu itu juga sebagai orang yang baru belajar bahasa Inggris paling banyak melakukan kesalahan adalah penggunaan he dan she. Pasti tertukar-tukar.
Setelah saya bisa berbahasa Jepang, dan adik saya yang ke dua juga bisa berbahasa Jepang, saya dan dia yang berhasil menggunakan bahasa Jepang di depan orang-orang untuk membicarakan hal yang rahasia. Untung papa dan mama sampai saat ini belum pernah marah atau ingin tahu kami membicarakan apa. Memang anak-anak harus melebihi orang tua ya….
Taman Kanak-Kanak
Saya masuk TK di sekolah bergengsi di Jakarta Selatan. TK Tarakanita. Mama selalu berkata, “Biar kita makan tempe terus, kalian harus bersekolah yang bagus dan tinggi”. Banyak anak orang kaya yang bersekolah di situ. Saya tahu diri dan biasanya tidak bermain dengan anak-anak kaya itu. Karena mata kita akan digoda oleh segala barang yang bermerek yang pasti tidak bisa dibelikan oleh orang tua saya. Tetapi memang sifat saya dari kecil yang introvert sehingga tidak mudah bergaul.
Ada dua episode di TK yang masih membekas di ingatan saya. Yang pertama, waktu saya memakai sebuah jepitan rambut “My Melody” hadiah dari papa dalam tugas di luar negeri. Seorang teman anak kaya (A.M.) melihat jepitan itu dan dia mau membeli dari saya. Dia berikan uang kertas 100 rupiah. Bayangkan 100 rupiah di tahun 1973 dan di TK…. sebuah jumlah yang besar. Tapi saya lugu sekali waktu itu sehingga tidak bisa bilang apa-apa, jepitan berpindah tangan. Waktu pulang, saya serahkan uang Rp 100 itu pada mama, dan disuruh kembalikan. Kata mama, “Sudah kasih saja jepitan itu. Mama tidak suka kamu terima uang”. Waktu itu mungkin saya kesal juga ya…. jepitan hilang tak berbekas dan tidak terima apa-apa. But no revenge.
Kejadian kedua yang masih membekas adalah mengikuti tarian Hula Dance bersama. Lagunya Pearly Shell. Itu adalah pertama dan terakhir kali saya mengikuti kegiatan “Menari”.
Sekolah Dasar
Saya melanjutkan ke SD dari yayasan yang sama. Beda beberapa langkah saja dari TK-nya. Saya lupa di kelas berapa, satu atau dua, saya duduk di sebelah anak laki-laki yang amat sangat nakal. Dia selalu mematahkan penggaris saya, sehingga terpaksa harus membeli baru terus, dan akhirnya karena takut ditanya mama kenapa penggaris selalu hilang (demikian aku saya), saya terpaksa memakai patahan penggaris sepanjang 5-10 cm itu. Akhirnya mama berhasil mengetahui bahwa itu ulah teman sebangku saya, mama langsung melaporkan ke guru saya, dan minta agar saya atau dia dipindahkan. Memang dia dipindahkan, saya selalu duduk di baris paling belakang, karena saya termasuk anak perempuan paling tinggi di kelas. Tidak enaknya menjadi anak tinggi di kelas, yaitu karena selalu diberi tugas untuk menyalin/menulis di papan tulis karena bisa menulis mulai dari ujung teratas papan itu. Hemat tempat!!. Dan mungkin dengan menjadi “asisten” guru itu, saya tidak rugi/menjadi jelek nilainya. Tugas menjadi “asisten” guru ini terus saya jalankan sampai SMP.
Karena waktu TK pernah menari hula dance, saya juga pernah dipanggil bersama teman-teman yang menari lainnya. Diajak untuk ikut sanggar sendratari, yang mungkin pernah angkatan 80-an mengenalnya. Yaitu sanggar Shangrila, yang waktu itu akan mementaskan operet “Cinderella” dnegan bintang utamanya Ira Maya Sopha. Sayang sekali waktu itu mama melarang ikut kegiatan seperti itu. Mama paling tidak suka kami ikut les anu les itu. Katanya tugas kami hanya belajar!. Dulu kami tidak mengerti pendirian dia, tapi sekarang saya bisa mengerti. Yaitu selain tugas kami , murid SD untuk belajar, waktu itu ekonomi keluarga kami tidak bisa untuk mengeluarkan “ekstra” biaya untuk kegiatan tersebut. Meskipun mungkin dikatakan “gratis” tetap saja kami harus mengeluarkan transportasi ekstra untuk latihan dsb. Waktu saya pergi menonton operet itu di Balai Sidang Senayan, saya sempat merasa “kecil” karena seharusnya saya bisa berada di sana , di atas panggung. Melihat teman-teman yang berperan sebagai Drunella, atau si Tikus…
“Kerja kerja mari kita kerja…. gunting jahit jadilah baju…. baju indah menarik untuk putri yang cantik…”
Saya sampai hafal semua lagu yang dinyanyikan dalam operet tersebut. Bangga juga bisa mengenal teman-teman pemain dalam operet tersebut. Seandainya saya waktu itu diperbolehkan mengikuti kegiatan itu oleh mama, pasti saya tidak akan “tidak bisa dance/menari” seperti sekarang ini. Atau tidak akan menjadi anak pemalu sampai SMA.
Tapi jiwa seni masih bisa disalurkan karena waktu kelas 5 SD, saya terpilih untuk ikut dalam grup Angklung sekolah. Tidak semua bisa ikut kegiatan ini, karena latihannya dalam jam pelajaran. Jadi yang dipilih hanya anak-anak yang “pintar” sehingga bisa mengejar ketinggalan pelajaran yang diberikan pada waktu yang dipakai untuk latihan Angklung. Dari satu kelas kalau tidak salah hanya 3-5 anak. Waktu itu saya ranking ke 2 atau ke 3 (saya lupa) jadi otomatis terpilih. Tapi Ibu M, wali kelas kami, tiba-tiba memanggil saya, dan dia katakan,
“Imelda, kamu kan terpilih dalam grup angklung ya. Tapi bagaimana kalau kamu tidak usah ikut? Karena…ada seorang anak, teman kamu R yang ingin sekali ikut kegiatan itu. Bisa tidak kamu memberikan tempat kamu padanya.”
Masih terbayang sampai sekarang raut muka ibu M yang terkenal galak itu. Sambil mengelus lengan saya, dia bicara begitu. Lalu saya bilang
“Tidak apa-apa kok bu. Biar saja R yang ikut”.
“Terima kasih Imelda. Saya tahu kamu anak yang baik.”
Tapi meskipun demikian, ternyata pada latihan pertama, saya dipanggil khusus untuk ikut latihan, melebihi jatah peserta. Mungkin Pak Cheppy Soemirat, yang memimpin grup Angklung itu yang khusus memanggil saya. Pak Cheppy ini memang akhirnya sering datang ke rumah, karena rumah kami dipakai untuk latihan ansamble, dan adik saya yang kedua itu memainkan decoder. Grup ansamble ini rutin muncul di TVRI waktu itu. Pikir-pikir setelah papa yang sering muncul di TV untuk acara “Dunia Minyak”, anggota keluarga lain yang masuk TV (calon selebritis) adalah adik saya itu. Bangganya saya setiap melihat adik saya bermain di TV, “Itu Tina… itu Tina…” Sayang waktu itu kami belum punya video, sehingga tidak bisa merekam peristiwa bersejarah itu.
Alhasil di kelas 5 itu saya terpilih menjadi Pelajar Teladan. Hadiahnya buku album!! Kata ibu M, Pelajar Teladan itu bukan hanya nilai saja, tapi juga dilihat dari kelakuannya. Bangga? Tentu, tapi karena saya pendiam, saya juga tidak meledak-ledak. Biasa saja. Cool yang mungkin artinya sedikit beda dengan yang dimaksud orang jaman sekarang. Benar-benar dingin. Apakah ini akibat minder karena punya papa yang hebat, adik yang pintar si IQ 150, atau adik yang calon selebritis? Tapi mungkin itu juga sebagai proteksi diri supaya tidak sakit jika merasa kecewa atau “jatuh”. Secara tidak sadar pemikiran “Ferris wheel” dari mama, yaitu seseorang bisa berada di atas, puncak, tapi juga akan kembali ke bawah. Pemikiran itu melekat pasti di benak anak usia 11 tahun.
Kelas 6, kelas penentuan lulus tidaknya. Waktu itu saya punya hobby memasak kue. Saya sering mencoba resep masakan yang ada di Femina. Yang jadi korban untuk mencicip tentu saja keluarga saya. Saya sendiri suka masak, tapi tidak suka makan buatan sendiri. Dan waktu itu adik laki-laki terkecil masih berumur 3-4 tahun. Kami terpaut 9 tahun. Andy, sangat lengket pada saya, dan dia juga sering membantu saya masak kue. Kalau sekarang saya mengajarkan membuat kue pada Riku, seakan “de javu”. Memory masa lalu kembali timbul di pikiran. So, apa hubungan masak kue dengan kelas 6? Ya, sehari sebelum ujian kelas 6 saya masih sempat membuat kue…. bukannya belajar!!
Sekolah Menengah Pertama
Saya masuk SMP sebagai angkatan ke 2. Ya, sekolah itu baru dibentuk satu tahun sebelum saya masuk SMP. Tempatnya? Di bekas TK, persis di depan toko H yang terkenal di waktu itu dengan slogannya “Pembeli adalah Raja”. SMP Tarakanita V, yang dipimpin seorang suster yang benar-benar “Kejam” menurut murid-murid. Tidak pernah kami melihatnya tersenyum. Tapi kalau ditanya masa apa yang paling kamu kenang? jawabnya adalah masa SMP. Kelas satu SMP hanya ada 3 kelas. Muridnya sedikit. satu kelas paling 45 orang. Dan di SMP ini saya pertama kali dituntut untuk aktif berorganisasi. Selalu menjadi wakil ketua kelas, kemudian waktu pembentukan OSIS, menjadi sekretaris…. padahal saya tidak tahu waktu itu saya berbuat apa ya. Yang selalu teringat bagaikan mimpi buruk, adalah saya selalu menjadi lektor (semacam MC untuk Misa) setiap misa bersama pada jam pelajaran agama. Harus menjadi pemimpin lagu, padahal saya begitu pemalu. Untung gereja di situ gelap, sehingga muka umat tidak begitu kelihatan, kalah dengan sinar matahari yang masuk dari luar (backlight).
Selain tugas di organisasi itu saya tetap harus menjadi “penulis” di papan karena masih termasuk yang tinggi di SMP. Di SMA sih begitu banyak yang tinggi, sehingga “pensiun” dari tugas itu.
Pelajaran yang saya sukai sebenarnya Matematika. Tapi saya sempat benci dengan pelajaran ini karena ulah gurunya kepada saya. Ada beberapa teman yang sudah tahu masalah saya ini, tapi untuk menuliskannya masih belum bisa. Kasihan kalau dia membaca tulisan ini. Dia pernah berkata “Saya ingin membuktikan bahwa IQ itu tidak menjadi kunci kepintaran seseorang. Ada yang IQ nya 144 (teman saya A.K. she is one of my best friend) tapi ada yang hanya 127 (saya). Saya ingin buktikan bahwa yang 127 bisa melebihi kepintaran 144. ” Duhh kalau tidak ada maksud terselubung sih tidak apa (termasuk seksual harrasment)….. Sekolah kami ini memang terkenal menetapkan standar IQ murid 120 ke atas dalam penerimaan murid baru, meskipun mungkin tidak tertulis.
Di saat mengenang pelajaran Matematika ini, saya juga terkenang seorang teman wanita yang bernama Anastasia (where are you now?). Dia selalu mengejek gaya guru-guru termasuk gaya si Guru Matmat ini mencuci tangan. (Dalam kelas disediakan ember dan lap untuk mencuci tangan setelah menulis di papan tulis)
Banyak kenangan di SMP ini. Pertama kali punya “Pacar-pacaran” juga di sini. Pertama kali melakukan dosa di kelas sampai dijambak suster juga di sini. Apa sih dosanya? Makan di kelas dalam pelajaran!. Abis kalau dipikir bete juga loh sekolah siang-sore. Jam 3 an merupakan jam paling bete. Jadi apa salahnya sih makan ngemut permen atau asem-aseman. Dan hampir semua melakukannya. Jadi waktu ada yang ketahuan si Guru Mat-mat ini, dia lapor suster. Dan suster datang bertanya, “Siapa yang pernah makan di kelas…. semua ke kantor saya….” Waktu itu saya tidak makan tapi suster katakan “Pernah”… ya memang pernah. Saya harus solider dengan teman-teman, jadi saya ikut ke kantor suster. Dengan jalan dnegan lutut kami menghadap satu-per-satu , dan begitu suster melihat saya…. “Aduh Imelda…. saya tidak sangka”. Sedih juga saya waktu itu karena saya lihat matanya berkaca-kaca. Mungkin saya telah merobek image dia tentang saya. Image bahwa saya anak yang baik!!. Maaf ya Suster Bertine.
Sekolah Menengah Atas
Kotak-kotak yang sebetulnya biasa-biasa saja ternyata bisa memukau perhatian dunia. Lihat saja Burberry dengan motifnya yang sebetulnya “begitu aja” dan “jimi” .. (jimi dalam bahasa Jepang artinya warna pucat yang tidak menyala/menarik) buktinya laku terus. Namun saya suka karena kesannya cool dan klasik. Dan ternyata saya sekeluarga penggemar rok kotak-kotak, tapi dengan variasi warna merah dan hitam. Apalagi kalau panjangnya dikorting sedikit (sedikit saja karena kalau banyak dimarahi suster). Rok kotak-kotak ini adalah seragam saya sejak TK sampai SMA.
Waktu kelulusan di SMP, semua ribut untuk menentukan akan melanjutkan kemana. Tentu saja bagi murid perempuan, masuk SMA Tarakanita merupakan impian. SMA ini terkenal dengan grup Marching Bandnya. Namun saya sendiri tidak tertarik untuk ikut kegiatan ekstra kurikuler ini , sebab saya tidak bisa menari apalagi bermain musik. Rasanya otomatis saya ingin melanjutkan ke SMA ini karena keinginan orang tua dan jaminan pendidikan bermutu tinggi. Tapi memang tidak bisa semua masuk ke SMA ini. Bayangkan kalau semua anak perempuan dari SMP yang ada 5 buah ini berminat masuk…. tentu harus ada seleksinya. Dan saya beruntung bisa masuk tanpa test, dengan rekomendasi dari SMP saya.
Dari SMP ke SMA seakan dunia yang saya masuki lebih dewasa dan lebih luas. Bayangkan dari 3 kelas setiap angkatan, menjadi 5 kelas setiap angkatan. Dan yang menariknya SEMUA perempuan. HEBOH aja judulnya. Kelas satu masih malu-malu. Dan ada juga semacam “tekanan” dari kelas senior, meskipun tidak terang-terangan. Selama masih bisa “DIAM” dan tidak menyolok maka akan terbebas dari gencetan kakak kelas. Jangan coba untuk CENTIL, apalagi berdandan …huaahhhh bisa diincer deh. Karena saya KUPER maka tidak pernah mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan selama di SMA.
Tahun pertama kami harus mengambil semua jenis mata pelajaran yang disediakan. Termasuk bahasa Perancis. Guru perancis saya waktu itu seorang wanita muda (lupa namanya) dan mengajar anak-anak bandel dengan susah payah. Saya ingat saya duduk paling depan, dan terkagum-kagum dengan kecantikan dia. Saya berusaha mengikuti pelajaran dengan serius. Satu lagu yang dia ajarkan masih terngiang di telingaku (dan masih hafal).
CHEVALIER DE LA TABLE RONDE
Chevalier de la table ronde }
Goutons voir si le vin est bon }(x2)Goutons voir oui oui oui, }
Goutons voir non non non, }(x2)
Goutons voir si le vin est bon }dst dst….
Susah jeh bahasa Perancis. Yang tertulis dengan yang terucap lain banget. Meskipun nama keluarga saya seperti berasal dari perancis, kita sama sekali tidak bisa berbahasa Perancis. Bahasa Perancis ini hanya 6 bulan saya, dan waktu penjurusan aku masuk kelas IPA, sehingga mendapat bahasa Jerman. Gurunya Ibu Willy yang begitu tomboy juga. Untungnya bahasa Jerman mirip dengan belanda, sehingga untuk arti kata saya bisa cepat hafal. Yang susah ngafalin pengelompokan der, das, die aja.
Kelas IPA yah bisa diterka deh pelajaran apa saja. Dan ternyata yang namanya KIMIA benar-benar musuh saya. Pak Ibnu ngga bisa membuat aku tertarik dengan kimia. Meskipun daftar unsur aku hafal…. Dan meskipun om saya guru kimia…. sama sekali tidak mempengaruhi deh. Biologi paling suka. Fisika dan Matematika biasa-biasa saja. Dan mungkin mata pelajaran yang paling dinanti itu cuma pelajaran menggambar. Kenapa? Karena gurunya waktu itu masih muda, dan berjenis kelamin laki-laki….sesuatu yang jarang di dalam sekolah kami. Dasar anak-anak badung sukanya godain si bapak G. Akibatnya bapak G selalu menunduk terus kalau duduk di kursi guru. Oh ya, di kelas entah kenapa tempat duduk saya selalu yang terdepan…..
Yang selalu saya nanti-nantikan juga adalah Rapat Osis. Karena berarti pengurus OSIS diberikan dispensasi tidak mengikuti palajaran untuk rapat. Kebanyakan memang waktu jam pelajaran, karena yang IPA sesudah jam sekolah usai masih musti masuk lab praktikum. Atau mengikuti ekstra-kurikuler. Dua tahun menjadi pengurus OSIS, dan tugasnya adalah?…. Seksi ROHANI…duh…. Karena itu semua murid dan guru selalu menyangka saya akan menjadi biarawati selepas SMA. Apalagi Suster Marietta, karena saya pernah tanya beliau menjadi suster sesudah selesai Sarjana atau sebelum. Jadi dipikirnya saya mau masuk biara.
Kegiatan OSIS yang masih terkenang sampai sekarang adalah kunjungan ke LP anak-anak. Cewe-cewe gini masuk ke sarang LP… agak ngeri juga. Dan memang sebelum masuk ke sana kami diwanti-wanti oleh kepala LP nya. (Padahal apa sih yang harus ditakuti…mereka masih kecil meskipun pernah melakukan kejahatan kriminal). Lalu yang juga masih teringat adalah waktu saya dan 2 orang pengurus lainnya harus mengantar surat ke SMA Pangudi Luhur. Sama seperti sekolah kami SMA PL ini sekolah satu jenis kelamin …alias sekolah laki-laki semua. Tetanggaan lagi. Saya juga heran kenapa kami harus mengantar surat itu waktu jam pelajaran (mungkin kalau sesudah jam pelajaran lebih bahaya ya hihihi). Waktu mobil kami memutari sekolah tersebut, mulai timbul kepala-kepala yang melihat ke arah mobil. Mungkin pikir mereka “Wah rok kotak-kotak!” Jadi begitu kami masuk halaman sekolah menuju ke kantor kepala sekolah, terdengar suara…”Wanita…!!!.” Wah ngeri juga…untung ada kepala sekolah yang langsung memarahi mereka.
Tapi sebetulnya kejadian berbalik juga terjadi di sekolah kami. Jangan coba-coba seorang pemuda datang sendirian meskipun ada urusan dengan kepala sekolah. Kebetulan kelas saya langsung menghadap kantor kep sek, sehingga kelas saya juga yang sering dimarahi, karena selalu menggoda cowok-cowok yang datang.
Soal disiplin memang sekolah kami terkenal disiplin (tapi mungkin masih kalah dengan Canisius College yang memberlakukan kosek wc sebagai hukuman). Setiap hari senin, Suster kepala sekolah akan berkeliling mausk kelas untuk memeriksa kuku. Kuku yang panjang dipukul dengan penggaris kayu. Selain kuku juga diperiksa panjangnya rok. Harus tidak boleh lebih dari 10 cm di atas lutut. Juga tidak boleh berbuntut rambutnya (waktu masih mode buntut, menyisakan rambut sedikit yang panjang). Dasar anak badung, ya ada saja cara untuk menghindar hukuman. Sebelum pemeriksaan menggigit kuku yang panjang, atau melepaskan lakban dari rok yang pendek sehingga memenuhi syarat (biasanya jauh lebih pendek), atau menyembunyikan buntut dengan jepit rambut halus ke dalam rambut sehingga panjangnya sama. So kebiasaan disiplin ini membuat saya terbengong-bengong melihat kelakuan mahasiswa yang tidak disiplin waktu melanjutkan ke UI.
Sebagai kegiatan ekstra kurikuler, saya mengikuti dua kegiatan. Sebetulnya cukup satu, tapi kebetulan suka dua-duanya sehingga tidak bisa melepaskan keduanya. Science Club, kumpulannya orang pinter (meskipun saya tidak pinter). Kami mencoba membuat taman kimia, tippex, atau membedah binatang dll. Memang seakan perpanjangan dari praktikum saja. Tapi ada satu kegiatan gabungan dengan PL (lagi-lagi) yaitu membuat solar system. Gara-gara ini saya membeli buku bahasa Inggris di sebuah toko di Blok M…ih lupa namanya di sebelahnya es krim rendezvous. Kerja sama dengan cowo-cowo cakep cukup membutuhkan ekstra tenaga untuk berkonsentrasi (tapi terus terang sampai sekarang saya tidak tahu nama mereka). Dan ada satu kenang-kenangan dari ikut SC ini, yaitu masuk majalah gadis…. bukan cover sih, tapi halaman pertama euy. Sayanya sedang bedah burung…. sayang ngga ada copy nya)

(Science Club —– hmmm…saya yang mana?)
Exkul yang lainnya adalah Sanggar Fotografi. Modalnya kamera Fujicanya papa. Mempelajari teknik pemotretan, hunting (kalo ngga salah ke Ancol deh), kemudian belajar cuci cetak foto hitam putih. Gurunya dari studio foto apa gitu (om om hihihi ngga nafsu deh) dan tentu saja dikasih liat juga contoh n*de pic…hualah cewe model nya jelek hehehe. Ini ada satu foto aku yang dinilai cukup bagus dan dipajang waktu itu.

(Hayo….modelnya siapa? Yang pasti bukan Riku ya… Tapi mirip Riku kan…or tepatnya Riku mirip Om nya)
Masa-masa di SMA penuh dengan kegiatan dan berakhir dengan sekejap mata. Sekolah yang cewe semua ini juga membuat saya (entah yang lain) jadi berdikari. Saya ingat untuk acara pertunjukan saya diberi tugas untuk lighting. Dan waktu itu dengan bantuan teman (cowo) dari SMP menjadi operator lighting. Pengalaman ini juga nantinya dipakai waktu di universitas.
Yang paling membingungkan mungkin adalah pilihan akan melanjutkan ke mana. Ikut ujian di Trisakti untuk elektro dan akuntasi… dua-dua diterima. Ikut ujian Sipenmaru dengan pilihan Elektro, Biologi, Ekonomi dan Sastra Jepang, semuanya di UI. Waktu menerima kabar sipenmarunya lolos ke Sastra Jepang, jadi bingung. Diambil atau ngga? Dan berdasarkan Test Bakat juga opini papa, akhirnya masuklah aku ke Sastra Jepang (dengan cibiran …. lah kok IPA masuk bahasa)
So, dari rok kotak-kotak beralih ke jaket kuning…..
Fakultas Sastra Universitas Indonesia - Program Study Jepang
Posted under Uncategorized
This post was written by imelda on March 2, 2008




Ditunggu sambungannya Ime-Chan. Tapi ditaruh di postingan aja biar pada tahu kalau ada update…Nanti akalu udah seminggu bisa dicopypaste ke sini…
wah… makasih Bang udah mau membacanya… saya sebetulnya antara malas dan ingin nulis. malasnya karena ngga suka narsis hehehe. Ok nanti aku isi di postingan dulu lanjutannya.
Emiko ….
Ini bagus Em …
Dan ini sama sekali bukan Narcis …!!!
Ada banyak pelajaran yang bisa dijadikan renungan pembacanya …
Dan aku terharu membaca kisah angklung dan cinderella itu Em … itu sangat touchy …
BTW… aku kenal Pak Cheppy Sumirat personally … bapak putih berkacamata orang sunda yang guru musik itu kan ?
Pernah main musik sama-sama ketika mengiri engsembel musik di gedung Nusantik gatot subroto …
SMA Em … SMA … terusin dong
(jangan jangan kamu temen sebangku adik ku … hehehe)(kamu anak IPA kan )
hehehe mas, sebetulnya memang agak personal ya, tapi kebiasaan saya nulis di blog sudah mendarah-daging nih kayaknya. Kalau bukan blog kok sepertinya ngga lancar. Tadinya sempat terpikir juga untuk mengunci page ini dnegan pakai password. Tapi kok mendokusai (repot). So biarlah apa adanya aja hehehe. Pak Cheppy iya yang putih berkaca mata skr memimpin grup Gita Sumitra. Kalau ketemu kirim salam dari Imelda dan Tina Coutrier ya. Mustinya sih masih Ingat.
Salam kenal untuk mbak Imelda…
salam kenal juga mas Didit
Kisahnya menarik sekali, emiko-san. Penasaran kelanjutannya nih.
jadi malu ah….
aaahh… penasaraaaannnnn…
Sama kayak Om, terharu banget sama kisah Cinderella dan Angklung itu… Hmmm… that must be horrible ya, EmiChan..
Ini bukan narsis, lah. Saya kok nggak nangkep ada nada-nada narsis di sini… Malah bikin orang penasaran… want to know more and more… seperti seorang teman dari Surabaya yang pengen tahu banget siapa seorang EmiChan yang hebat ituh… ^___^
You should know, that every single words you wrote in this page are precious, EmiChan. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pengalaman hidup orang lain. Life’s a ferris wheel, indeed. Realize where you are now, EmiChan?
Tetap semangat nulis yaah… Dan saya tunggu kelanjutannyaaaa……. ganbatte!
Makasih Lala….. jadi terharu nih. apalagi jadi bahan postingannya Lala. Makasih yaaaaa
Opie desu, yoroshiku onegaishimasu
aaaarrggghhh Emichan (sok akrab gini ya hehehe)… nasib kita sama, anak IPA yang terdampar di sastra jepang hehehe.
Opie chan yoroshiku ne. Sastra Jepang di Unpad? nanti aku berkunjung ke rumah maya oppie ya.
Wah..ini ternyata biografinya mbak Imelda…
Hm…Wah..ingetannya tajam, ya…Hal-hal detil pun masih inget..
ckk…ckk
wah putri mengingat hal detil mungkin merupakan suatu BAKAT ya? Biasanya meskipun baru satu kali lewat suatu jalan, saya akan ingat seterusnya, kecuali langsung saya erase dari ingatan saya karena tidak perlu. But, jeleknya saya juga mengharapkan ada orang lain yang mengingat detil tentang saya, tapi….tidak ada. Itu membuat saya sedih.
Horas !!!
Saya datang lagi Tante
makasih dah jauh2 tadi datang ke kost-an saya yg selalu telat bayarnya
ehehehe…
lucu2 juga poto waktu SMA nya…kriting2 euyy…
btw, aku add Rumah Tante ke kost-an saya yah
makasih sebelumnya
Tuhan Memberkati Tante dan seluruh keluarga disana
wahhh untung saya bukan tante kost kamu ya Manik…bisa gulung tikar, gulung tembakau, gulung lengan baju deh…. silakan aja, dan GBU too. (Kayaknya kamu chatters juga ya? Aku tahu beberapa contact-nya tuh )
Sapa yg Tante maksud?
btw, nomor punggung rumat Tante dah nempel tuh
OK dik. thank you.
trus abis dari jaket kuning kemana donk tante? btw, bahasa perancis itu gasulit ko, tre facile =)
hmmm dari jaket kuning ke negara matahari terbit nih. Iya ya bahasa Perancis tidak sulit. Tau ngga kunci belajar bahasa? (sssst rhs jgn ketahuan yang lain — Pacaran sama orang sono biar cepet hehehe)
halo…
salam kenal, lagi jalan2 siang…
btw, foto-nya jadul juga, boleh saya panggil obaasan?
jangan obaasan dunk… cukup dengan satu a.
Imelda, kebetulan ketemu web kamu, sekarang tinggal di Jakarta/Indonesia atau masih di Tokyo?
Bagus web mu, sukses selalu ya.
Hai Richard, long time no see…pasti sukses ya. Bukannya kamu ada sekolah bahasa di Bali? or itu hanya kamu promosikan saja. Saya masih tinggal di Tokyo kok, kebetulan lagi liburan di Jakarta, but will be back to Tokyo on 18th. Any job for me? heheheh
waah….lain kali ceritakan padaku tentang jepang yah?
salam kenal…
salam kenal juga septy
Wahh saya bacanya sampai nggak bergerak dari kursi…menarik sekali ceritamu.
Ditunggu cerita lanjutannya….
aduh ibu, jadi malu….
Hi, Kak Imelda, salam kenal ya. Wah profilenya panjang dan lama tapi asyik deh membacanya. Tulisan untuk menggambarkan diri kak Imelda menarik sekali. Jadi malu deh saya sama gaya menulis saya. Any way Salam kenal dan persahabatan ya bila berkenan. terimakasih.
Salam kenal juga Yulis… aku juga baru baca sedikit blog kamu…seru juga kayaknya.
salam kenal, karena goop sedang jalan-jalan…
terima kasih atas perhatiannya, mohon masukannya…
oya, mohon oleh-olehnya juga kalau pulang dari Jepang, hihihi
wah uncle goop tidak perlu masukan dari saya karena tulisan di postingnya sungguh bagus. Oleh-olehnya mau apa? goofy? hehehhe
Membaca biografinya sampai lupa minum, padahal udah bawa aer dari dapur met kenal ikutan baca yah
wah kasian aernya dong dicuekin. terima kasih sudah mampir
ada yang lupa ijin link di blog saya, makasih
saya yang terima kasih sudah mau dimasukkan dalam link
Salam Kenal Ikyu San..
sy anak buah BossNh
pdhl saya ni dikasih blajar nihon go gratis lho.. tp karena bukan bakat ya ga bisa..
akhirnya, gak pernah ikut..
jadi nyesel dah.
nanti kembali lagi deh.. soalnya ada sms dr nakamura san..
trijokobss last blog post..Ketika Ujian Mendera
wah kok nyesel… berarti masih ada rasa ingin belajar kan? heheheh
Ayo… belajar mumpung ada guru gratis nih . Ikut Lang-8.com aja deh kalo niat hehehhe
Salam kenal tapi saya sudah sering baca komentarnya di rumahnya Boss jadi kayaknya udah kenal lama ….Salam sama Nakamura san (eh dia masih muda ngga? cuman nanya tanpa maksud apa-apa loh)
***EM***
detail banget ceritanya mbak….panjang tapi ga ngebosenin buat dibaca
1nd1r4s last blog post..Menu berbuka hari ini (updated)
Wah terima kasih mau membacanya.
EM
salam kenal mbak Imelda. ibu dari Jogja, waah…baru baca kisah ibu dosen yang begitu lengkapnya saja Ibu sudah ingin baca2 tulisan mbak Imel yang lain.
Saya juga punya kenalan mbak Fitri, tinggal di Jepang, suami nya orang jepang. Ok,ibu akan kunjung lagi ke tulisan2 lain.
Terima kasih banyak kunjungannya Ibu. Fitri itu tinggalnya di Tokyo?
***EM***
Hi Imelda….
So… so… nice to meet you !!
Saya akan sering-sering berkunjung kesini yah ?
tantis last blog post..“Sayang,….global warming itu apa?”
Tanti… terima kasih untuk kunjungannya…
***EM***
kekayaan pengalaman hidup yang penuh warna, pastinya membuat Ida semakin bahagia kan ? selamat menjalankan roda kehidupan dengan penuh kasih.
Kalau nama Veronika diperoleh dari nama seorang suster di jakarta, maka anakku juga kuberi nama Monica yakni dari nama seorang suster di Our Ladies Home di Cogee, Sydney Australia. Semoga nama santa pelindung itu sungguh jadi pelindung yang setia.
Terima kasih kunjungannya pak Sony. Ya memang dengan beragam pengalaman membuat saya seperti sekarang, dan saya masih terus menggali dan menggali, melebarkan sayap untuk menimba pengalaman yang lebih lagi.Monica sebuah nama yang bagus. Sungguh semoga Santa pelindung membimbing kita dalam kehidupan kita. Dengan komentar bapak saya teringat kembali (terima kasih pak!) bahwa mungkin Santa Veronica yang membuat saya berani untuk bertindak tanpa menghiraukan pandangan orang lain. Dia berani bertindak menyapu wajah Yesus yang berdarah, membersihkannya dengan saputangan, meskipun perlu keberanian untuk melakukannya ya. Dan dengan resiko yang cukup besar. Santa Veronica bimbinglah saya selalu…. Amin.
Hai Imelda,
Saya di kantor sampai melentengi kisahmu dan melupakan pekerjaan saya hehehe…
selain tulisannya, pasti pribadinya juga menarik. Senang sekali bisa berkenalan dengan imelda.
salam,
Waduh pak Iman, jadi malu sekali nih…. belum ada apa-apanya saya ini….
Tapi terima kasih banyak berkenan membaca blog saya.
EM
salut deh buat imelda.
blognya bagus dan kisahnya sungguh membuat kita penasaran. thank yah udah mampir ke blog saya. kapan-kapan mampir lagi yah ke gubukku yang sederhana dan jauh dari bagus itu. hehehehe…..
Thanks untuk komentar dan masukannya.
Terima kasih untuk kunjungannya juga… Nanti saya mampir lagi ya…
Salam untuk istri dan calon bayinya…
EM
kunjungan balik nih mba imelda, makasih atas kunjungannya ya
baca2 blog mba makin lama bikin ketagihan bacanya…cara penyampaiannya pas sekali, ringan namun kena di sasaran
kira-kira bisa menohok juga spt yang DM bilang di blog kamu ngga? hihihi
EM
Salam kenal mbak…
wah…seorang wanita yang luar biasa…
Semoga selalu sukses dan bahagia dalam kehidupan!
Salam kenal juga Lina…
Terima kasih kunjungannya.
EM
Salam kenal mba Imelda.
Saya baru baca postingan Who am I, postingan yang lain belum. Postingannya bagus, bahasanya renyah, cara bertutur mba Imelda sangat enak dan gampang dicerna (emangnya makanan. Jadi tak sabar untuk membaca postingan lainnya. Mohon ijin blog mba Imelda saya tautkan ke blog saya. Saya baru memulai belajar ngeblog dua minggu yang lalu, jadi masih sangat bayi. Perlu masukan dari mba Imelda.
Salam
Silakan dan terima kasih Alris…. saya meluncur ke sitenya Alris ya…
EM
mbak imelda kuro suka blognya kuro ijin kasih link di blognya kuro yah ^^
silakan dan makasih…kayaknya saya juga sudah link deh?
EM
Ibu Imelda, saya berdomisili di Nagoya, Japan. Senang berkenalan dengan Ibu dan keluarga. Kalau ada waktu saya berharap bisa bertemu dengan Ibu dan juga keluarga. Terima kasih banyak