Who am I

Saya adalah :

Nama            : Imelda Emma Veronica Coutrier-Miyashita
Handle name: Ikkyu_san a.k.a emi_myst a.k.a emiko
Ulang tahun : 14 Januari
Anak ke       : Pertama dari 4 bersaudara
Status marital : Nikah dengan wna dan dua anak laki-laki yang juga wna
Kota halaman : Kebayoran Baru – Jakarta
Tempat tinggal : Nerima-ku Tokyo
Kegemaran   : Baca, blogging, masak, nyanyi, dengar musik, koleksi perangko, drive.
Pendidikan   :

  • TK sampai SMA Tarakanita, Jakarta
  • Sarjana Sastra (Program Studi Jepang) Fakultas Sastra Universitas Indonesia
  • Master of Education, School Education, History of Japanese Education, Graduate School of Education, Yokohama National University, Japan.

Pekerjaan :

  • Ibu rumah tangga
  • Dosen Bahasa Indonesia di Universitas Senshu, Kanagawa dan Universitas Waseda, Tokyo
  • Narator (Mantan DJ  – Announcer Radio InterFM 76,1 Mhz Tokyo)
  • Penerjemah
  • Editor – proofreader
  • Sekretaris KMKI (Keluarga Masyrakat Kristen Indonesia) Tokyo-Jepang
  • Blogger (hihihi masuk profesi nih)

More about me:

Favorite Food         : Sushi/sashimi, Fish, Vegetables, segala yang terbuat dari Kanji (Baso, Siomay, Mpek-mpek, otak-otak dsb)

Favorite Beverages : Coffee, segala yang bersoda (dan sedikit beralkohol hehehe)

Favorite Singer/Bands  : Julio Iglesias, Barry Manilow, Carpenters, Jose Mari Chan, Takeuchi Mariya, Yamashita Tatsuro, Keizo Nakanishi, ZARD, Tube, Harvey Malaiholo, Katon Bagaskara, Vina Panduwinata, Rita Effendy, ADA Band

Favorite Song : You Make My World So Colorful

Favorite Writer : Remy Sylado, Seno Gumira,

Favorite place : Mtb28

*****************************************************************************************************

Cerita ini panjang, silakan di-skip saja bagi yang tidak punya waktu heheheh.

Sapa sih loe? gaya amat punya homepage hihihi.

OK. Saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Imelda. Anaknya pak Coutrier, sehingga saya menjadi Imelda Coutrier. Lalu karena saya sekarang berstatus sebagai Ny. Miyashita, jadilah tambahan nama Jepang di belakang namaku itu.

○ 

Waktu lahir saya diberi nama Emma oleh orang tua saya, mengikuti nama nenek, ibu dari papa saya yang bernama Emma. Terus terang saya tidak begitu suka nama ini. Nama Imelda dipilih karena katanya waktu saya lahir, papa saya sempat tertahan di jalanan yang macet di Jakarta, karena kedatangan Imelda Marcos, first ladynya Philipina waktu itu. So, nama saya menjadi Imelda. Tiga hari setelah lahir, saya dipermandikan secara katolik, dan diberi nama baptis Veronica. Kebetulan ada seorang teman mama yang bernama Suster Veronis, sehingga terpilihlah nama Veronica. Jadi nama lengkap saya Imelda Emma Veronica Coutrier.

dari kanan ke kiri - Imelda - Novita -Tina - Andy

dari kanan ke kiri - Imelda - Novita -Tina - Andy

Bahasa di rumah

Saya lahir, dan dibesarkan di Jakarta. Bahasa sehari-hari saya adalah bahasa Indonesia. Tetapi mama dan papa di rumah berbicara bahasa Belanda. Lama-lama saya ingin tahu bahasa Belanda, dan dari mendengar saya bisa mengira-ngira pembicaraan mereka tentang apa. Saya mengerti bahasa Belanda secara otodidak, dan ternyata bisa terpakai sedikit waktu saya Universitas, pergi ke pelabuhan Sunda Kelapa mengantar saudara-saudara dari negeri Belanda sebagai supir dan pemandu wisata berbahasa Belanda. Wuihhhh gaya!!

Karena anak tertuanya sudah bisa mengerti bahasa Belanda, maka orang tua saya berbicara bahasa Inggris untuk yang sifatnya rahasia. Saya belajar bahasa Inggris baru di SMP waktu itu, sehingga sampai sekitar SMP kelas 2-3, orang tua saya bebas berbicara bahasa Inggris di depan saya. Tapi semakin lama tentu saja perbendaharaan kata-kata bahasa Inggris saya bertambah banyak, sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk orang tua saya bersembunyi dengan bahasa asing di hadapan saya. Sehingga satu-satunya jalan, mereka masuk kamar dan mengunci pintu…hehehe. Oh ya satu lagi pengalaman berbahasa Inggris waktu saya di SMP, yaitu menjawab telepon dari teman papa yang di luar negeri. Karena papa banyak bekerja dengan orang asing, sering juga berdering telepon dari luar negeri. Kalau mama ada sih tidak menjadi masalah….. tapi kalau mama tidak ada, siapa saja yang mengangkat telepon pasti akan panggil, “Imeldaaaaaaaa…”

Nah loh, saya harus jawab apa? Pertama kali hafal saja,

“Who’s speaking please?”

dijawab “This is bla bla bla….”

Mabok deh tidak bisa terdengar jelas dia bicara apa. Akhirnya saya hafalkan

“I’m sorry, he is not at home. Please call again”

Waktu itu juga sebagai orang yang baru belajar bahasa Inggris paling banyak melakukan kesalahan adalah penggunaan he dan she. Pasti tertukar-tukar.

Setelah saya bisa berbahasa Jepang, dan adik saya yang ke dua juga bisa berbahasa Jepang, saya dan dia yang berhasil menggunakan bahasa Jepang di depan orang-orang untuk membicarakan hal yang rahasia. Untung papa dan mama sampai saat ini belum pernah marah atau ingin tahu kami membicarakan apa. Memang anak-anak harus melebihi orang tua ya….

Taman Kanak-Kanak

Saya masuk TK di sekolah bergengsi di Jakarta Selatan. TK Tarakanita. Mama selalu berkata, “Biar kita makan tempe terus, kalian harus bersekolah yang bagus dan tinggi”. Banyak anak orang kaya yang bersekolah di situ. Saya tahu diri dan biasanya tidak bermain dengan anak-anak kaya itu. Karena mata kita akan digoda oleh segala barang yang bermerek yang pasti tidak bisa dibelikan oleh orang tua saya. Tetapi memang sifat saya dari kecil yang introvert sehingga tidak mudah bergaul.

Ada dua episode di TK yang masih membekas di ingatan saya. Yang pertama, waktu saya memakai sebuah jepitan rambut “My Melody” hadiah dari papa dalam tugas di luar negeri. Seorang teman anak kaya (A.M.) melihat jepitan itu dan dia mau membeli dari saya. Dia berikan uang kertas 100 rupiah. Bayangkan 100 rupiah di tahun 1973 dan di TK…. sebuah jumlah yang besar. Tapi saya lugu sekali waktu itu sehingga tidak bisa bilang apa-apa, jepitan berpindah tangan. Waktu pulang, saya serahkan uang Rp 100 itu pada mama, dan disuruh kembalikan. Kata mama, “Sudah kasih saja jepitan itu. Mama tidak suka kamu terima uang”.  Waktu itu mungkin saya kesal juga ya…. jepitan hilang tak berbekas dan tidak terima apa-apa. But no revenge.

Kejadian kedua yang masih membekas adalah mengikuti tarian Hula Dance bersama. Lagunya Pearly Shell. Itu adalah pertama dan terakhir kali saya mengikuti kegiatan “Menari”.

Sekolah Dasar

Saya melanjutkan ke SD dari yayasan yang sama. Beda beberapa langkah saja dari TK-nya.  Saya lupa di kelas berapa, satu atau dua, saya duduk di sebelah anak laki-laki yang amat sangat nakal. Dia selalu mematahkan penggaris saya, sehingga terpaksa harus membeli baru terus, dan akhirnya karena takut ditanya mama kenapa penggaris selalu hilang (demikian aku saya), saya terpaksa memakai patahan penggaris sepanjang 5-10 cm itu. Akhirnya mama berhasil mengetahui bahwa itu ulah teman sebangku saya, mama langsung melaporkan ke guru saya, dan minta agar saya atau dia dipindahkan. Memang dia dipindahkan, saya selalu duduk di baris paling belakang, karena saya termasuk anak perempuan paling tinggi di kelas. Tidak enaknya menjadi anak tinggi di kelas, yaitu karena selalu diberi tugas untuk menyalin/menulis di papan tulis karena bisa menulis mulai dari ujung teratas papan itu. Hemat tempat!!. Dan mungkin dengan menjadi “asisten” guru itu, saya tidak rugi/menjadi jelek nilainya. Tugas menjadi “asisten” guru ini terus saya jalankan sampai SMP.

Karena waktu TK pernah menari hula dance, saya juga pernah dipanggil bersama teman-teman yang menari lainnya. Diajak untuk ikut sanggar sendratari, yang mungkin pernah angkatan 80-an mengenalnya. Yaitu sanggar Shangrila, yang waktu itu akan mementaskan operet “Cinderella” dnegan bintang utamanya Ira Maya Sopha. Sayang sekali waktu itu mama melarang ikut kegiatan seperti itu. Mama paling tidak suka kami ikut les anu les itu. Katanya tugas kami hanya belajar!. Dulu kami tidak mengerti pendirian dia, tapi sekarang saya bisa mengerti. Yaitu selain tugas kami , murid SD untuk belajar, waktu itu ekonomi keluarga kami tidak bisa untuk mengeluarkan “ekstra” biaya untuk kegiatan tersebut. Meskipun mungkin dikatakan “gratis” tetap saja kami harus mengeluarkan transportasi ekstra untuk latihan dsb. Waktu saya pergi menonton operet itu di Balai Sidang Senayan, saya sempat merasa “kecil” karena seharusnya saya bisa berada di sana , di atas panggung. Melihat teman-teman yang berperan sebagai Drunella, atau si Tikus…

“Kerja kerja mari kita kerja…. gunting jahit jadilah baju…. baju indah menarik untuk putri yang cantik…”

Saya sampai hafal semua lagu yang dinyanyikan dalam operet tersebut. Bangga juga bisa mengenal teman-teman pemain dalam operet tersebut. Seandainya saya waktu itu diperbolehkan mengikuti kegiatan itu oleh mama, pasti saya tidak akan “tidak bisa dance/menari” seperti sekarang ini. Atau tidak akan menjadi anak pemalu sampai SMA.

Tapi jiwa seni masih bisa disalurkan karena waktu kelas 5 SD, saya terpilih untuk ikut dalam grup Angklung sekolah. Tidak semua bisa ikut kegiatan ini, karena latihannya dalam jam pelajaran. Jadi yang dipilih hanya anak-anak yang “pintar” sehingga bisa mengejar ketinggalan pelajaran yang diberikan pada waktu yang dipakai untuk latihan Angklung.  Dari satu kelas kalau tidak salah hanya 3-5 anak. Waktu itu saya ranking ke 2 atau ke 3 (saya lupa) jadi otomatis terpilih. Tapi Ibu M, wali kelas kami, tiba-tiba memanggil saya, dan dia katakan,

“Imelda, kamu kan terpilih dalam grup angklung ya. Tapi bagaimana kalau kamu tidak usah ikut? Karena…ada seorang anak, teman kamu R yang ingin sekali ikut kegiatan itu. Bisa tidak kamu memberikan tempat kamu padanya.”

Masih terbayang sampai sekarang raut muka ibu M yang terkenal galak itu. Sambil mengelus lengan saya, dia bicara begitu. Lalu saya bilang

“Tidak apa-apa kok bu. Biar saja R yang ikut”.

“Terima kasih Imelda. Saya tahu kamu anak yang baik.”

Tapi meskipun demikian, ternyata pada latihan pertama, saya dipanggil khusus untuk ikut latihan, melebihi jatah peserta. Mungkin Pak Cheppy Soemirat, yang memimpin grup Angklung itu yang khusus memanggil saya. Pak Cheppy ini memang akhirnya sering datang ke rumah, karena rumah kami dipakai untuk latihan ansamble, dan adik saya yang kedua itu memainkan decoder. Grup ansamble ini rutin muncul di TVRI waktu itu. Pikir-pikir setelah papa yang sering muncul di TV untuk acara “Dunia Minyak”, anggota keluarga lain yang masuk TV (calon selebritis) adalah adik saya itu. Bangganya saya setiap melihat adik saya bermain di TV, “Itu Tina… itu Tina…” Sayang waktu itu kami belum punya video, sehingga tidak bisa merekam peristiwa bersejarah itu.

Alhasil di kelas 5 itu saya terpilih menjadi Pelajar Teladan. Hadiahnya buku album!!  Kata ibu M, Pelajar Teladan itu bukan hanya nilai saja, tapi juga dilihat dari kelakuannya. Bangga? Tentu, tapi karena saya pendiam, saya juga tidak meledak-ledak. Biasa saja. Cool yang mungkin artinya sedikit beda dengan yang dimaksud orang jaman sekarang. Benar-benar dingin. Apakah ini akibat minder karena punya papa yang hebat, adik yang pintar si IQ 150, atau adik yang calon selebritis? Tapi mungkin itu juga sebagai proteksi diri supaya tidak sakit jika merasa kecewa atau “jatuh”. Secara tidak sadar pemikiran “Ferris wheel” dari mama, yaitu seseorang bisa berada di atas, puncak, tapi juga akan kembali ke bawah. Pemikiran itu melekat pasti di benak anak usia 11 tahun.

Kelas 6, kelas penentuan lulus tidaknya. Waktu itu saya punya hobby memasak kue. Saya sering mencoba resep masakan yang ada di Femina. Yang jadi korban untuk mencicip tentu saja keluarga saya. Saya sendiri suka masak, tapi tidak suka makan buatan sendiri. Dan waktu itu adik laki-laki terkecil masih berumur 3-4 tahun. Kami terpaut 9 tahun. Andy, sangat lengket pada saya, dan dia juga sering membantu saya masak kue. Kalau sekarang saya mengajarkan membuat kue pada Riku, seakan “de javu”. Memory masa lalu kembali timbul di pikiran. So, apa hubungan masak kue dengan kelas 6? Ya, sehari sebelum ujian kelas 6 saya masih sempat membuat kue…. bukannya belajar!!

Sekolah Menengah Pertama

Saya masuk SMP sebagai angkatan ke 2. Ya, sekolah itu baru dibentuk satu tahun sebelum saya masuk SMP. Tempatnya? Di bekas TK, persis di depan toko H yang terkenal di waktu itu dengan slogannya “Pembeli adalah Raja”. SMP Tarakanita V, yang dipimpin seorang suster yang benar-benar “Kejam” menurut murid-murid. Tidak pernah kami melihatnya tersenyum. Tapi kalau ditanya masa apa yang paling kamu kenang? jawabnya adalah masa SMP. Kelas satu SMP hanya ada 3 kelas. Muridnya sedikit. satu kelas paling 45 orang. Dan di SMP ini saya pertama kali dituntut untuk aktif berorganisasi. Selalu menjadi wakil ketua kelas, kemudian waktu pembentukan OSIS, menjadi sekretaris…. padahal saya tidak tahu waktu itu saya berbuat apa ya. Yang selalu teringat bagaikan mimpi buruk, adalah saya selalu menjadi lektor (semacam MC untuk Misa) setiap misa bersama pada jam pelajaran agama. Harus menjadi pemimpin lagu, padahal saya begitu pemalu. Untung gereja di situ gelap, sehingga muka umat tidak begitu kelihatan, kalah dengan sinar matahari yang masuk dari luar (backlight).

Selain tugas di organisasi itu saya tetap harus menjadi “penulis” di papan karena masih termasuk yang tinggi di SMP. Di SMA sih begitu banyak yang tinggi, sehingga “pensiun” dari tugas itu.

Pelajaran yang saya sukai sebenarnya Matematika. Tapi saya sempat benci dengan pelajaran ini karena ulah gurunya kepada saya. Ada beberapa teman yang sudah tahu masalah saya ini, tapi untuk menuliskannya masih belum bisa. Kasihan kalau dia membaca tulisan ini. Dia pernah berkata “Saya ingin membuktikan bahwa IQ itu tidak menjadi kunci kepintaran seseorang. Ada yang IQ nya 144 (teman saya A.K. she is one of my best friend) tapi ada yang hanya 127 (saya). Saya ingin buktikan bahwa yang 127 bisa melebihi kepintaran 144. ” Duhh kalau tidak ada maksud terselubung sih tidak apa (termasuk seksual harrasment)….. Sekolah kami ini memang terkenal menetapkan standar IQ murid 120 ke atas dalam penerimaan murid baru, meskipun mungkin tidak tertulis.

Di saat mengenang pelajaran Matematika ini, saya juga terkenang seorang teman wanita yang bernama Anastasia (where are you now?). Dia selalu mengejek gaya guru-guru termasuk gaya si Guru Matmat ini mencuci tangan. (Dalam kelas disediakan ember dan lap untuk mencuci tangan setelah menulis di papan tulis)

Banyak kenangan di SMP ini. Pertama kali punya “Pacar-pacaran” juga di sini. Pertama kali melakukan dosa di kelas sampai dijambak suster juga di sini. Apa sih dosanya? Makan di kelas dalam pelajaran!. Abis kalau dipikir bete juga loh sekolah siang-sore. Jam 3 an merupakan jam paling bete. Jadi apa salahnya sih makan ngemut permen atau asem-aseman. Dan hampir semua melakukannya. Jadi waktu ada yang ketahuan si Guru Mat-mat ini, dia lapor suster. Dan suster datang bertanya, “Siapa yang pernah makan di kelas…. semua ke kantor saya….” Waktu itu saya tidak makan tapi suster katakan “Pernah”… ya memang pernah. Saya harus solider dengan teman-teman, jadi saya ikut ke kantor suster. Dengan jalan dnegan lutut kami menghadap satu-per-satu , dan begitu suster melihat saya…. “Aduh Imelda…. saya tidak sangka”. Sedih juga saya waktu itu karena saya lihat matanya berkaca-kaca. Mungkin saya telah merobek image dia tentang saya. Image bahwa saya anak yang baik!!. Maaf ya Suster Bertine.

Sekolah Menengah Atas

Kotak-kotak yang sebetulnya biasa-biasa saja ternyata bisa memukau perhatian dunia. Lihat saja Burberry dengan motifnya yang sebetulnya “begitu aja” dan “jimi” .. (jimi dalam bahasa Jepang artinya warna pucat yang tidak menyala/menarik) buktinya laku terus. Namun saya suka karena kesannya cool dan klasik. Dan ternyata saya sekeluarga penggemar rok kotak-kotak, tapi dengan variasi warna merah dan hitam. Apalagi kalau panjangnya dikorting sedikit (sedikit saja karena kalau banyak dimarahi suster). Rok kotak-kotak ini adalah seragam saya sejak TK sampai SMA.

Waktu kelulusan di SMP, semua ribut untuk menentukan akan melanjutkan kemana. Tentu saja bagi murid perempuan, masuk SMA Tarakanita merupakan impian. SMA ini terkenal dengan grup Marching Bandnya. Namun saya sendiri tidak tertarik untuk ikut kegiatan ekstra kurikuler ini , sebab saya tidak bisa menari apalagi bermain musik. Rasanya otomatis saya ingin melanjutkan ke SMA ini karena keinginan orang tua dan jaminan pendidikan bermutu tinggi. Tapi memang tidak bisa semua masuk ke SMA ini. Bayangkan kalau semua anak perempuan dari SMP yang ada 5 buah ini berminat masuk…. tentu harus ada seleksinya. Dan saya beruntung bisa masuk tanpa test, dengan rekomendasi dari SMP saya.

Dari SMP ke SMA seakan dunia yang saya masuki lebih dewasa dan lebih luas. Bayangkan dari 3 kelas setiap angkatan, menjadi 5 kelas setiap angkatan. Dan yang menariknya SEMUA perempuan. HEBOH aja judulnya. Kelas satu masih malu-malu. Dan ada juga semacam “tekanan” dari kelas senior, meskipun tidak terang-terangan. Selama masih bisa “DIAM” dan tidak menyolok maka akan terbebas dari gencetan kakak kelas. Jangan coba untuk CENTIL, apalagi berdandan …huaahhhh bisa diincer deh. Karena saya KUPER maka tidak pernah mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan selama di SMA.

Tahun pertama kami harus mengambil semua jenis mata pelajaran yang disediakan. Termasuk bahasa Perancis. Guru perancis saya waktu itu seorang wanita muda (lupa namanya) dan mengajar anak-anak bandel dengan susah payah. Saya ingat saya duduk paling depan, dan terkagum-kagum dengan kecantikan dia. Saya berusaha mengikuti pelajaran dengan serius. Satu lagu yang dia ajarkan masih terngiang di telingaku (dan masih hafal).

CHEVALIER DE LA TABLE RONDE

Chevalier de la table ronde }
Goutons voir si le vin est bon }(x2)

Goutons voir oui oui oui, }
Goutons voir non non non, }(x2)
Goutons voir si le vin est bon }

dst dst….

Susah jeh bahasa Perancis. Yang tertulis dengan yang terucap lain banget. Meskipun nama keluarga saya seperti berasal dari perancis, kita sama sekali tidak bisa berbahasa Perancis. Bahasa Perancis ini hanya 6 bulan saya, dan waktu penjurusan aku masuk kelas IPA, sehingga mendapat bahasa Jerman. Gurunya Ibu Willy yang begitu tomboy juga. Untungnya bahasa Jerman mirip dengan belanda, sehingga untuk arti kata saya bisa cepat hafal. Yang susah ngafalin pengelompokan der, das, die aja.

Kelas IPA yah bisa diterka deh pelajaran apa saja. Dan ternyata yang namanya KIMIA benar-benar musuh saya. Pak Ibnu ngga bisa membuat aku tertarik dengan kimia. Meskipun daftar unsur aku hafal…. Dan meskipun om saya guru kimia…. sama sekali tidak mempengaruhi deh. Biologi paling suka. Fisika dan Matematika biasa-biasa saja. Dan mungkin mata pelajaran yang paling dinanti itu cuma pelajaran menggambar. Kenapa? Karena gurunya waktu itu masih muda, dan berjenis kelamin laki-laki….sesuatu yang jarang di dalam sekolah kami. Dasar anak-anak badung sukanya godain si bapak G. Akibatnya bapak G selalu menunduk terus kalau duduk di kursi guru. Oh ya, di kelas entah kenapa tempat duduk saya selalu yang terdepan…..

Yang selalu saya nanti-nantikan juga adalah Rapat Osis. Karena berarti pengurus OSIS diberikan dispensasi tidak mengikuti palajaran untuk rapat. Kebanyakan memang waktu jam pelajaran, karena yang IPA sesudah jam sekolah usai masih musti masuk lab praktikum. Atau mengikuti ekstra-kurikuler. Dua tahun menjadi pengurus OSIS, dan tugasnya adalah?…. Seksi ROHANI…duh…. Karena itu semua murid dan guru selalu menyangka saya akan menjadi biarawati selepas SMA. Apalagi Suster Marietta, karena saya pernah tanya beliau menjadi suster sesudah selesai Sarjana atau sebelum. Jadi dipikirnya saya mau masuk biara.

Kegiatan OSIS yang masih terkenang sampai sekarang adalah kunjungan ke LP anak-anak. Cewe-cewe gini masuk ke sarang LP… agak ngeri juga. Dan memang sebelum masuk ke sana kami diwanti-wanti oleh kepala LP nya. (Padahal apa sih yang harus ditakuti…mereka masih kecil meskipun pernah melakukan kejahatan kriminal). Lalu yang juga masih teringat adalah waktu saya dan 2 orang pengurus lainnya harus mengantar surat ke SMA Pangudi Luhur. Sama seperti sekolah kami SMA PL ini sekolah satu jenis kelamin …alias sekolah laki-laki semua. Tetanggaan lagi. Saya juga heran kenapa kami harus mengantar surat itu waktu jam pelajaran (mungkin kalau sesudah jam pelajaran lebih bahaya ya hihihi). Waktu mobil kami memutari sekolah tersebut, mulai timbul kepala-kepala yang melihat ke arah mobil. Mungkin pikir mereka “Wah rok kotak-kotak!” Jadi begitu kami masuk halaman sekolah menuju ke kantor kepala sekolah, terdengar suara…”Wanita…!!!.” Wah ngeri juga…untung ada kepala sekolah yang langsung memarahi mereka.

Tapi sebetulnya kejadian berbalik juga terjadi di sekolah kami. Jangan coba-coba seorang pemuda datang sendirian meskipun ada urusan dengan kepala sekolah. Kebetulan kelas saya langsung menghadap kantor kep sek, sehingga kelas saya juga yang sering dimarahi, karena selalu menggoda cowok-cowok yang datang.

Soal disiplin memang sekolah kami terkenal disiplin (tapi mungkin masih kalah dengan Canisius College yang memberlakukan kosek wc sebagai hukuman). Setiap hari senin, Suster kepala sekolah akan berkeliling mausk kelas untuk memeriksa kuku. Kuku yang panjang dipukul dengan penggaris kayu. Selain kuku juga diperiksa panjangnya rok. Harus tidak boleh lebih dari 10 cm di atas lutut. Juga tidak boleh berbuntut rambutnya (waktu masih mode buntut, menyisakan rambut sedikit yang panjang). Dasar anak badung, ya ada saja cara untuk menghindar hukuman. Sebelum pemeriksaan menggigit kuku yang panjang, atau melepaskan lakban dari rok yang pendek sehingga memenuhi syarat (biasanya jauh lebih pendek), atau menyembunyikan buntut dengan jepit rambut halus ke dalam rambut sehingga panjangnya sama. So kebiasaan disiplin ini membuat saya terbengong-bengong melihat kelakuan mahasiswa yang tidak disiplin waktu melanjutkan ke UI.

Sebagai kegiatan ekstra kurikuler, saya mengikuti dua kegiatan. Sebetulnya cukup satu, tapi kebetulan suka dua-duanya sehingga tidak bisa melepaskan keduanya. Science Club, kumpulannya orang pinter (meskipun saya tidak pinter). Kami mencoba membuat taman kimia, tippex, atau membedah binatang dll. Memang seakan perpanjangan dari praktikum saja. Tapi ada satu kegiatan gabungan dengan PL (lagi-lagi) yaitu membuat solar system. Gara-gara ini saya membeli buku bahasa Inggris di sebuah toko di Blok M…ih lupa namanya di sebelahnya es krim rendezvous. Kerja sama dengan cowo-cowo cakep cukup membutuhkan ekstra tenaga untuk berkonsentrasi (tapi terus terang sampai sekarang saya tidak tahu nama mereka). Dan ada satu kenang-kenangan dari ikut SC ini, yaitu masuk majalah gadis…. bukan cover sih, tapi halaman pertama euy. Sayanya sedang bedah burung…. sayang ngga ada copy nya)

(Science Club —– hmmm…saya yang mana?)

Exkul yang lainnya adalah Sanggar Fotografi. Modalnya kamera Fujicanya papa. Mempelajari teknik pemotretan, hunting (kalo ngga salah ke Ancol deh), kemudian belajar cuci cetak foto hitam putih. Gurunya dari studio foto apa gitu (om om hihihi ngga nafsu deh) dan tentu saja dikasih liat juga contoh n*de pic…hualah cewe model nya jelek hehehe. Ini ada satu foto aku yang dinilai cukup bagus dan dipajang waktu itu.

(Hayo….modelnya siapa? Yang pasti bukan Riku ya… Tapi mirip Riku kan…or tepatnya Riku mirip Om nya)

Masa-masa di SMA penuh dengan kegiatan dan berakhir dengan sekejap mata. Sekolah yang cewe semua ini juga membuat saya (entah yang lain) jadi berdikari. Saya ingat untuk acara pertunjukan saya diberi tugas untuk lighting. Dan waktu itu dengan bantuan teman (cowo) dari SMP menjadi operator lighting. Pengalaman ini juga nantinya dipakai waktu di universitas.

Yang paling membingungkan mungkin adalah pilihan akan melanjutkan ke mana. Ikut ujian di Trisakti untuk elektro dan akuntasi… dua-dua diterima. Ikut ujian Sipenmaru dengan pilihan Elektro, Biologi, Ekonomi dan Sastra Jepang, semuanya di UI. Waktu menerima kabar sipenmarunya lolos ke Sastra Jepang, jadi bingung. Diambil atau ngga? Dan berdasarkan Test Bakat juga opini papa, akhirnya masuklah aku ke Sastra Jepang (dengan cibiran …. lah kok IPA masuk bahasa)

So, dari rok kotak-kotak beralih ke jaket kuning…..

Fakultas Sastra Universitas Indonesia – Program Study Jepang


Pasca Sarjana, Yokohama National University – Program Pendidikan Sekolah

Di tahun 1992, juga diadakan Pameran Pendidikan Jepang tapi bukan di tempat bergengsi seperti yang akhir-akhir ini dilaksanakan di JCC. Tempatnya di Universitas Dharma Persada yang di samping Komdak itu (dulunya). Universitas yang kecil, ruangan kelas kecil, pamerannya dihadiri paling oleh 20-an universitas Jepang. Berpanas-panas karena tidak ada AC waktu itu. Diselenggarakan selama 2 hari kalau tidak salah. Dan pengunjungnya sedikit (bisa bayangkan mungkin class meeting sekolah lebih banyak pengunjungnya), mungkin juga karena pamor Jepang di tahun itu belum semarak sekarang ini.

Tapi Pameran Pendidikan Jepang 1992 itu (mustinya sih sekitar Februari 1992) yang mengubah jalan hidup saya menjadi seperti sekarang ini. Dengan membawa beberapa berkas seperti transkip nilai, sertifikat ujian bahasa Jepang dll dalam sebuah map, saya datangi pameran itu. Sebelum pameran memang saya sudah mengadakan korespondensi dengan seorang dosen di Tokyo (Rikkyo Univ) tapi karena universitas swasta mahal, saya pikir saya bisa cari universitas lain yang lebih murah dan mempunyai bidang yang ingin saya perdalam.

Adalah papa yang menggerakkan saya untuk mengumpulkan informasi mengenai melanjutkkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena pada tahun 1989-1990, Papa dipindahtugaskan ke London, untuk menjadi kepala perwakilan Pertamina wilayah Eropa yang berpusat di sana. Dan waktu itu saya sedang mencari tema skripsi, sehingga waktu berkunjung ke sana, saya sempatkan datang ke University of London, tepatnya ke SOAS (School of Oriental and African Studies) dan ke toko bukunya dan menemukan buku yang bisa menjadi sumber pustaka utama penulisan skripsi saya. Karangan R.P. Dore “Education in Tokugawa Japan” (masih ada tuh harganya 32 pound…. mahal euy). Dan ternyata setelah saya mencari informasi, juga papa mencari informasi ke teman-temannya di London… diketahui bahwa SOAS adalah sekolah yang terkenal jika Anda mau mempelajari Asia dan Africa. Mungkin aneh ya kok mau mendalami Jepang tapi di negara lain. In some cases, bahkan lebih baik mendalami pengetahuan ttg suatu negara bukan di negaranya. Contohnya saja, jika Anda mau mendalami sejarah kebudayaan Jawa, belajarlah ke Leiden University, karena sumber dokumen mereka mungkin jauh lebih banyak daripada di Jawa nya sendiri (Dan ada memang teman saya dari sastra Jawa yang ambil master di Leiden). Juga saya pernah disarankan oleh Prof Kurasawa untuk mengambil PhD di Cornell Universiy….. she said go internasional… selain dari kenyataan bahwa mengambil PhD untuk bidang humaniora di Jepang itu amat sangat sulit.

Jadi papa menganjurkan saya supaya cepat menulis skripsi, dan mendaftar saja ke SOAS, mempersiapkan diri untuk TOEFL dsb. Dan dengan tinggal bersama keluarga di London tentu akan lebih murah daripada saya pergi sendiri ke Jepang. But rencana memang tinggal rencana karena tidak lama kemudian Papa harus kembali ke Indonesia sebelum waktu tugasnya selesai, bukan karena tidak becus menjalankan tugasnya di London, tapi karena dia dipanggil oleh Bapak Emil Salim untuk menjadi wakilnya di Bapedal, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang akan dibentuk. Dalam segi promosi, memang papa langsung menjadi eselon satu, dan sebagai orang dari Pertamina yang dipinjamkan istilahnya, pengangkatan ini juga merupakan suatu blessing in disguise karena dalam 2 tahun lagi papa harus pensiun. Padahal dengan pengangkatan ini, seakan menjadi perpanjangan pensiun. Papa selalu berkata, “Bersyukurlah atas apa yang ada” (karena itu saya setuju ungkapan Pak Oemar “seize the day”)

So, dengan kepulangan papa ke Jakarta, mimpi saya untuk tinggal di London, menimba ilmu di kampus terkenal University of London, menikmati dinginnya dan muramnya London di taman-taman kecil yang ada di sekitar rumah, membayangkan kehidupan Sherlock Holmes, Shakespeare, or Agatha Christie, menikmati british garden dengan tea time nya, menyusuri Hyde Park dan sesekali berbaring di atas rerumputan yang menghampar di sana ditemani squirel yang berlarian ke sana kemari, sambil menunggu disapa polisi London dengan seragamnya yang kakko ii (keren) itu… hmmm I love London. Meskipun it is indeed the most expensive city in the world.

But Papa bilang, cari saja univesitas di Jepang kalau kamu mau melanjutkan ke S2nya. Padahal kalau dipikir-pikir, waktu itu aku sebetulnya tidak begitu ngotot untuk pergi ambil master. Aku bisa kok langsung bekerja, dan Asmara Mariko san, my best friend di UI sudah menyambut saya untuk bekerja bersama-sama di bussiness centre nya (dan saya enjoy bekerja selama 3 bulan di sana). Sambil saya mengajar privat bahasa Indonesia kepada orang Jepang expatriate yang bekerja di Indonesia. Kalau bukan karena papa yang menyuruh mencari informasi itu, dan mendorong saya untuk sekolah terus, mungkin saya juga tidak akan melangkahkan kaki ke Pameran Pendidikan Jepang 1992 itu.

Hhhhh, ngalor-ngidul ke sana kemari dan akhirnya sampai ke topik masalah. Gomennasai…..

Memasuki kelas tempat diadakan pameran pendidikan, berderet bangku yang bertuliskan nama Universitas yang ada di Jepang. Waktu itu tentu saja hadir perwakilan dari Tokyo University, Yokohama University, Chiba University, universitas negeri di daerah-daerah Jepang, dan beberapa universitas swasta. Dosen/perwakilan tiap universitas tidak semuanya didampingi penerjemah. Kelihatannya satu penerjemah dipakai untuk beberapa universitas. Jadi kalau perlu baru memanggil dia. Sejak awal saya sudah mencoret Tokyo University dari daftar saya. Why? Imelda ngga mau masuk the best university in Japan? Yes, aku tidak mau. Aneh kan? Yup aneh… karena saya tidak mau menjadi nerd, kutu buku…. itu saja alasannya heheheh. And  I want to be number one, dan saya tahu kemampuan saya, saya tidka akan bisa bersaing di sana. Saya akan mati-matian untuk suatu goal yang belum tentu ada. Program Master hanya 2 tahun. Saya tidka mau menjadikan 2 tahun itu penuh penderitaan. I want to enjoy life also.

So saya hampiri booth Yokohama National University. Seakan Tuhan membimbing saya ke situ. Karena sebelumnya saya datangi booth sekolah bahasa Jepang dan ditolak (“Anda sudah bisa berbahasa Jepang, kenapa mau belajar lagi dengan kami…. pelajarilah yang lain…” “Hai, wakarimashita!”, dan disarankan ke YNU itu. ) Dua orang lelaki setengah baya menyambut saya, dan dengan memakai bahasa Jepang saya memperkenalkan diri, dan mengatakan bahwa saya ingin melanjutkan pendidikan di bidang sejarah pendidikan sesuai tema skripsi saya Terakoya, dan atau bahasa Jepang. Watanabe sensei dari kantor administrasinya dan Sato sensei, professor bahasa dan sejarah Jerman itu melayani saya dan langsung Sato sensei berkata, “Kami tidak ada program studi sejarah, tapi kami terkenal dengan fakultas pendidikannya. (dan memang benar YNU terkenal dengan Fakultas pendidikannya). tinggal sekarang kamu mau meneliti dari sejarahnya atau pendidikannya.”  Ok terus terang saya tidka mau dari sejarahnya. Saya tidak mau jadi ahli sejarah, but untuk pendidikan saya juga tidak ada latar belakang yang kuat. Tapi pendidikan itu amat berguna di kemudian hari. So saya putuskan untuk mulai dari bawah belajar pendidikan sambil meneliti sejarah pendidikan Jepang. Sato sensei langsung mencari dosen mana yang kira-kira bisa menjadi dosen pembimbing saya jika saya belajar ke sana. (FYI, belajar di jepang = belajar pada seorang dosen, jadi harus mencari dosennya dulu yang kira-kira bisa dan mau menerima kita+ usulan penelitian kita…. dna mencari dosen pembimbing itu yang sulit). Dan dengan seenak perut (maaf ya sensei) dia bilang…. yah kita suruh si S.M.  ini membimbing Imelda. Dia kan thesisnya tentang sejarah pendidikan Manchuria, dan dia punya mata kuliah sejarah pendidikan Jepang… dia yang paling cocok untuk Imelda.

OK Imelda, saya pikir bahasa Jepang kamu sudah cukup, dan saya bisa kenalkan  kamu dengan si SM ini, Kapan kamu bisa datang? Untuk masuk program Master kamu harus jadi mahasiswa pendengar/peneliti (Kenkyuusei) dulu minimal 6 bulan (biasanya 1 tahun).  Untuk menjadi mahasiswa di April 1992 ini tidak bisa karena pendaftarannya baru saja ditutup. Tapi kami minta fotocopy berkas untuk kami bawa supaya bisa dipersiapkan kamu masuk bulan September 1992.

Oi..oi..oi… saya harus bicarakan dulu dnegan papa. Berapa biaya segala…. Saya tidak bisa putuskan saya mendaftar ke YNU saat ini juga. “OK… kan pameran masih ada sampai besok, bicarakan dulu kalau memang berminat, bawa saja berkasnya besok ke sini lagi”……… aku terdiam…. begini cepatkah prosesnya? sambil aku lihat disekelilingku, booth universitas lain yang kurang pengunjung, sementara booth Tokyo University yang dipenuhi mahasiswa… tapi muka dosen yang menyambutnya amat sangat tidak ramah. Muka-muka dosen lainnya yang terlihat bosan dan kepanasan, dan seakan terus menerus melihat jam … kapan berakhirnya sih pameran ini. Saya pulang ke rumah masih dalam keadaan “bengong”. Dan menceritakan hasil pameran kepada papa, dan keputusannya…. daftarkan saja, siapkan berkas untuk diberikan besok. Tapi kata papa, kamu pergi shitami (survey) bulan April-Mei selama 3 bulan dengan visa turis, untuk lihat-lihat Tokyo dan cari informasi, dan kalau perlu belajar bahasa Jepang lagi. Nanti saya minta info dari Hatakeyama san (teman papa).

So…. dengan kilat, saya serahkan berkas keesokan harinya, sambil persiapkan survey bulan Aprilnya, dan bulan Septembernya saya sudah di Jepang memulai hidup yang baru. Speedy…. what a preparation.

Jadi bagi saya Pameran Pendidikan Jepang ini sangat berarti, karena dia yang membuka jalan ku menuju masa depan. Karena itu waktu tahun 2004 almamaterku Yokohama National University bermaksud untukmengikuti pameran pendidikan Jepang di Jakarta, saya menawarkan diri untuk menjadi penerjemahnya dan mengatur liburan saya ke jakarta  bertepatan dengan waktu pelaksanaan Pameran tersebut.

Di Tahun 2004 itu juga didorong oleh keinginan pihak universitas untuk membuat network bagi alumni YNU, saya mengumpulkan alumni YNU dan mengadakan reuni yang pertama serta memikirkan apa dan bagaimana kita bisa membantu almamater kita dalam melaksanakan kegiatan2 terutama karena mulai tahun 2005, universitas negeri di seluruh Jepang di swastanisasi. Jadi mereka harus “menghidupi” diri sendiri dan tidka mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Jadi pihak Universitas juga yang harus mempromosikan diri dan mencari calon mahasiswa sebanyak-banyaknya termasuk dari luar negeri.

Jadi di malam pertama sesudah pameran, hanya ada 7 orang yang berhasil berkumpul. Namun ini menjadi awal reuni ke dua, setahun sesudahnya (8 maret 2005) yang dihadiri 20 an orang dan terakhir tahun berapa ya (soalnya kalau bukan saya yang nanya2 atau pas datang ke jkt, pada ngga ngumpul sih…)

Semoga saja ikatan alumni YNU ini bisa terus exist dan bisa membantu almamater kita, tempat kita menimba ilmu di negeri matahari terbit.

======= Dunia Pekerjaan  =======

RADIO

(sudah pernah diposting di #Kugadaikan Cintaku)

Saya mulai bekerja sebagai announcer, pembawa berita di Radio InterFM, Tokyo (76,1 Mhz) sejak usai menyelesaikan program Master di Yokohama National University (YNU), April 1996. Saya langsung diterima sebagai pembaca berita berbahasa Indonesia di situ karena mempunyai “pengalaman” dengan “Mike Radio”. Itu saja alasannya. Memang saya pernah sebelumnya selama 3 tahun kontrak mengisi sebuah acara di Radio Japan (radio NHK-Internasional) yang berjudul “Ogenkidesuka” yang disiarkan lewat Radio SW (ShortWave). Acara pengajaran percakapan bahasa Jepang selama 5 menit setiap minggu selama setahun, dan paket itu diulang selama 2 tahun (padahal honornya cuman buat setahun tuh….heheheh). Di NHK ini yang dipakai adalah pengalaman saya or latar belakang saya yang pernah mengikuti pendidikan menjadi guru bahasa Jepang. Bukan latar belakang “Radio” nya. Dan itu ternyata menjadi jalan pelicin saya menjadi “Orang radio”.

(NHK -Ogenkidesuka with Yasui-san    — Stasion’s opening ceremony -PSA personality)

Awalnya tugas saya hanya menerjemahkan berita dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dalam acara “Public Service Announcement” (PSA) …ini disiarkan satu kali seminggu dengan jangka waktu 3 menit saja. Tapi di hari yang sama, saya memperoleh jatah 2 x 3 menit untuk membacakan berita-berita aktual dalam bahasa Indonesia. Dan beritanya saya cari sendiri, edit sendiri dan bacakan sendiri, karena producernya tentu saja tidak mengerti bahasa Indonesia. Jadi kalau seandainya saya seorang provokator, saya bisa saja mengumumkan “seruan perang”, berbohong pada laporan isi berita. Jadi untuk acara 3x 3 menit ini saya harus datang seminggu sekali ke studio InterFM , yang waktu itu berkantor di Shibaura, dekat Tokyo Tower. Jadi kalau dipikir juga, biasanya honor di Jepang itu dihitung berdasarkan jam, saya berdasarkan menit. hehheh …cuma persiapannya itu loh….

Selain membaca berita, kemudian saya harus membuat Bansen (Bangumi Senden= Promosi Acara lain) di Radio kami dalam bahasa Indonesia. Misalnya … “Anda sedang mendengarkan Acara Prime Time bersama Charles Glover”. Si Charles ini biasanya minta kita bacakan dengan “suara bersemangat”, “suara seksi” (karena acaranya dia larut malam), dan “biasa-biasa”. Huh, suara seksi itu yang paling susah bo…..

Selain Bansen, saya juga mengerjakan narator untuk iklan-iklan misalnya Kartu Telepon Internasional. Tentu saja dalam bahasa Indonesia karena targetnya adalah orang Indonesia yang tinggal di Tokyo sekitarnya. Oh ya mungkin saya harus menjelaskan sedikit mengapa Radio InterFM ini memiliki siaran 7 bahasa asing, dan merupakan Radio berbahasa Inggris (90%) , satu-satunya di Tokyo. Awalnya adalah karena gempa KOBE yang banyak menelan korban jiwa. Nah disitu terpikirkan bagaimana orang asing yang tinggal di Jepang ini bisa mendapatkan “bantuan” informasi jika terjadi bencana alam yang besar. Dengan tujuan memberikan informasi pada warga asing itulah, akhirnya di Tokyo didirikan InterFM ini (meskipun setelah 10 tahun tujuan itu memudar dan akhirnya dibeli pihak swasta dan tidak menjadi internasional lagi…dan saya juga berhenti dari situ…after 10 years).  Jadi misalnya selama saya bekerja di situ, terjadi gempa besar di tokyo, saya harus datang ke studio dengan cara apa pun  dan bagaimanapun, untuk kemudian membacakan pengumuman-pengumuman bagi masyarakat dalam bahasa Indonesia. Karena itu juga saya tahu banyak tentang apa yang harus dipersiapkan dalam menghadapi gempa. (Untung saja selama itu belum —dan amit-amit jangan—- terjadi gempa besar di Tokyo).

Setahun sesudah acara PSA berjalan, saya ditawari dipaksa untuk menjadi DJ, host untuk program 1 jam dalam bahasa Indonesia. Program ini BOLEH diisi apa saja. TERSERAH kamu. Bagaimana-bagaimana nya semua TERSERAH kamu. Karena pihak Radio hanya BUTUH program 1 jam itu berbentuk kaset digital SIAP PUTAR setiap minggu. DOOOOr deh. So saya yang sorangan ini, harus menjadi Producer, Penulis naskah, Pemilih lagu (jangan sebut music director deh…kekerenan), Pemutar lagu, dan Cuap-cuap dan setelah itu menulis laporan lagu apa saja yang dipasang, dan berita apa saja yang dibicarakan ke dalam bahasa Inggris (mengisi Cue sheet), dan terakhir menuliskan keterangan lagu (judul, artis, album, produksi, lama lagu, lama diputar) untuk diserahkan ke JASRAC. Duuuh ,…… Help Meeee. Dan satu lagi teman-teman, saya waktu itu sudah 5 tahun di Jepang dan no touch dengan musik Indonesia… how can I know that in this very short notice. Untuuuuung banget waktu itu adik saya baru datang dari Indonesia untuk melanjutkan studi di sini, dan tinggal sama-sama (of course yah) dan dia yang input saya dengan band baru Indonesia saat itu, GIGI, Dewa, Slank dsb dsb dsb dsb dsb ….

Start from zero!!! Saya belajar bagaimana mainkan operator board, bagaimana rekam ke kaset digital DAT, menggunakan DAD, MD,  kemudian tidak boleh ada blank lebih dari 5 detik karena bisa menjadi “kecelakaan siaran” and so on, and so on. Sepertinya saya harus MENJELMA menjadi DJ (yes saya rasa saya bisa pakai kata DJ for this kind of work, not just announcer) dalam huh …no time. Saya hanya diberi satu kali studio rehearsal untuk coba alat-alat then sesudah itu langsung rekaman siaran pertama. SAKIT PERUUUUT. Untung lagi si Tina mendampingi aku, dan bantu serabutan…wong sama -sama ngga tau. Program yang satu jam itu butuh waktu studio 6 jam, padahal skrip nya sudah disiapkan, album juga sudah disiapkan. So saya sekarang tidak mau dengar kaset rekaman siaran pertama saya…. gagap jeh. kaku…  Ya gimana dong, sistem One Man Studio ini bagaimana bisa saya kuasai dalam waktu yang (bukan relatif lagi) BENAR-BENAR singkat. Bagaimana saya bisa nyaingi DJ kawakan seperti si Charles yang sudah “bangkotan” kerja di Radio. aduh aduh aduh deh. Dan musti diingat juga saya tidak kerja as a DJ saja waktu itu. Saya masih dan terus kerja sebagai guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Bahasa. Satu hari dalam satu minggu saya harus menderita euy. (satu hari lainnya yang PSA itu sudah “bukan apa-apa” lagi). Saya harus putar otak terus…ini acara 1 jam harus saya isi apa….. Nangis, nangis deh loe. Satu-satunya yang menghibur saya waktu itu adalah jam penyiarannya jam 2 pagi hari Sabtu (Jumat jam 26:00 istilahnya). Saya pikir ah sudahlah …toch tidak ada yang mau dengar jam segitu.

BUT …… perkiraan saya salah….. hiks….. (lanjutnya besok besok aja ya….capek….jadi inget masa lalu sih).

bersambung

NB: Nama program musik 1 jam itu saya namakan “Gita Indonesia” dan memakai Tema Song lagu-lagunya Ruth Sahanaya yang riang, berganti setiap tahun (untuk 4 tahun).

196 gagasan untuk “Who am I

  1. Hery Azwan

    Ditunggu sambungannya Ime-Chan. Tapi ditaruh di postingan aja biar pada tahu kalau ada update…Nanti akalu udah seminggu bisa dicopypaste ke sini…

    wah… makasih Bang udah mau membacanya… saya sebetulnya antara malas dan ingin nulis. malasnya karena ngga suka narsis hehehe. Ok nanti aku isi di postingan dulu lanjutannya.

    Balas
  2. nh18

    Emiko ….
    Ini bagus Em …
    Dan ini sama sekali bukan Narcis …!!!

    Ada banyak pelajaran yang bisa dijadikan renungan pembacanya …

    Dan aku terharu membaca kisah angklung dan cinderella itu Em … itu sangat touchy …

    BTW… aku kenal Pak Cheppy Sumirat personally … bapak putih berkacamata orang sunda yang guru musik itu kan ?
    Pernah main musik sama-sama ketika mengiri engsembel musik di gedung Nusantik gatot subroto …

    SMA Em … SMA … terusin dong
    (jangan jangan kamu temen sebangku adik ku … hehehe)(kamu anak IPA kan )

    hehehe mas, sebetulnya memang agak personal ya, tapi kebiasaan saya nulis di blog sudah mendarah-daging nih kayaknya. Kalau bukan blog kok sepertinya ngga lancar. Tadinya sempat terpikir juga untuk mengunci page ini dnegan pakai password. Tapi kok mendokusai (repot). So biarlah apa adanya aja hehehe. Pak Cheppy iya yang putih berkaca mata skr memimpin grup Gita Sumitra. Kalau ketemu kirim salam dari Imelda dan Tina Coutrier ya. Mustinya sih masih Ingat.

    Balas
    1. Marthinson Tobing

      Oh ternyata alumni tar V yahhh ? Sama sya jga alumni tar V btw sist Imelda kakaknya Tina & Andi ya ?? Wah sya kenal bgt sma Tina n Andy krn sya dlu satu angkatan sma Andy diSD Tar 1 cma beda kls klu gak slh Andy dlu dikelas A sya dikelas B tpi wktu smp qta bareng dikelas I 3 wktu pertengahan klu gak slh Andy pindah keBelanda trus balik lagi kesini wktu kls 3 ya sist tpi dia gak diTar v lagi pindah keSMP PL klu Tina klu gak slh dlu prnh ikut bela diri Kempo ya krn dia dlu Simpai sya wktu itu dia udah Sabuk coklat n sya Sabuk putih brg sma Andi juga btw apa khabar mrka sist aku kangen bgt ama mrk terutama Andy blh tau kontak numbernya gak ? Tlg blg ke Andi dpt slm dri ” TOBING ” salam kenal yaa sist

      Balas
  3. Lala

    aaahh… penasaraaaannnnn…

    Sama kayak Om, terharu banget sama kisah Cinderella dan Angklung itu… Hmmm… that must be horrible ya, EmiChan..

    Ini bukan narsis, lah. Saya kok nggak nangkep ada nada-nada narsis di sini… Malah bikin orang penasaran… want to know more and more… seperti seorang teman dari Surabaya yang pengen tahu banget siapa seorang EmiChan yang hebat ituh… ^___^

    You should know, that every single words you wrote in this page are precious, EmiChan. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pengalaman hidup orang lain. Life’s a ferris wheel, indeed. Realize where you are now, EmiChan? 🙂

    Tetap semangat nulis yaah… Dan saya tunggu kelanjutannyaaaa……. ganbatte!

    Makasih Lala….. jadi terharu nih. apalagi jadi bahan postingannya Lala. Makasih yaaaaa

    Balas
  4. OP

    Opie desu, yoroshiku onegaishimasu 🙂
    aaaarrggghhh Emichan (sok akrab gini ya hehehe)… nasib kita sama, anak IPA yang terdampar di sastra jepang hehehe.

    Opie chan yoroshiku ne. Sastra Jepang di Unpad? nanti aku berkunjung ke rumah maya oppie ya.

    Balas
  5. putri

    Wah..ini ternyata biografinya mbak Imelda…

    Hm…Wah..ingetannya tajam, ya…Hal-hal detil pun masih inget..
    ckk…ckk

    wah putri mengingat hal detil mungkin merupakan suatu BAKAT ya? Biasanya meskipun baru satu kali lewat suatu jalan, saya akan ingat seterusnya, kecuali langsung saya erase dari ingatan saya karena tidak perlu. But, jeleknya saya juga mengharapkan ada orang lain yang mengingat detil tentang saya, tapi….tidak ada. Itu membuat saya sedih.

    Balas
  6. Manik

    Horas !!!
    Saya datang lagi Tante 😛

    makasih dah jauh2 tadi datang ke kost-an saya yg selalu telat bayarnya 😀 ehehehe…

    lucu2 juga poto waktu SMA nya…kriting2 euyy…

    btw, aku add Rumah Tante ke kost-an saya yah 😉

    makasih sebelumnya

    Tuhan Memberkati Tante dan seluruh keluarga disana

    wahhh untung saya bukan tante kost kamu ya Manik…bisa gulung tikar, gulung tembakau, gulung lengan baju deh…. silakan aja, dan GBU too. (Kayaknya kamu chatters juga ya? Aku tahu beberapa contact-nya tuh )

    Balas
  7. niaalive

    trus abis dari jaket kuning kemana donk tante? btw, bahasa perancis itu gasulit ko, tre facile =)

    hmmm dari jaket kuning ke negara matahari terbit nih. Iya ya bahasa Perancis tidak sulit. Tau ngga kunci belajar bahasa? (sssst rhs jgn ketahuan yang lain — Pacaran sama orang sono biar cepet hehehe)

    Balas
  8. Arm

    halo…
    salam kenal, lagi jalan2 siang…
    btw, foto-nya jadul juga, boleh saya panggil obaasan? 😀

    jangan obaasan dunk… cukup dengan satu a.

    Balas
  9. Richard Susilo

    Imelda, kebetulan ketemu web kamu, sekarang tinggal di Jakarta/Indonesia atau masih di Tokyo?
    Bagus web mu, sukses selalu ya.

    Hai Richard, long time no see…pasti sukses ya. Bukannya kamu ada sekolah bahasa di Bali? or itu hanya kamu promosikan saja. Saya masih tinggal di Tokyo kok, kebetulan lagi liburan di Jakarta, but will be back to Tokyo on 18th. Any job for me? heheheh

    Balas
  10. Yulis

    Hi, Kak Imelda, salam kenal ya. Wah profilenya panjang dan lama tapi asyik deh membacanya. Tulisan untuk menggambarkan diri kak Imelda menarik sekali. Jadi malu deh saya sama gaya menulis saya. Any way Salam kenal dan persahabatan ya bila berkenan. terimakasih.

    Salam kenal juga Yulis… aku juga baru baca sedikit blog kamu…seru juga kayaknya.

    Balas
  11. goop

    salam kenal, karena goop sedang jalan-jalan… :mrgreen:
    terima kasih atas perhatiannya, mohon masukannya…
    oya, mohon oleh-olehnya juga kalau pulang dari Jepang, hihihi

    wah uncle goop tidak perlu masukan dari saya karena tulisan di postingnya sungguh bagus. Oleh-olehnya mau apa? goofy? hehehhe

    Balas
  12. hedi

    Membaca biografinya sampai lupa minum, padahal udah bawa aer dari dapur met kenal ikutan baca yah

    wah kasian aernya dong dicuekin. terima kasih sudah mampir

    Balas
  13. trijokobs

    Salam Kenal Ikyu San..
    sy anak buah BossNh 😀

    pdhl saya ni dikasih blajar nihon go gratis lho.. tp karena bukan bakat ya ga bisa..
    akhirnya, gak pernah ikut..
    jadi nyesel dah.

    nanti kembali lagi deh.. soalnya ada sms dr nakamura san..

    trijokobss last blog post..Ketika Ujian Mendera

    wah kok nyesel… berarti masih ada rasa ingin belajar kan? heheheh
    Ayo… belajar mumpung ada guru gratis nih . Ikut Lang-8.com aja deh kalo niat hehehhe
    Salam kenal tapi saya sudah sering baca komentarnya di rumahnya Boss jadi kayaknya udah kenal lama ….Salam sama Nakamura san (eh dia masih muda ngga? cuman nanya tanpa maksud apa-apa loh)
    ***EM***

    Balas
  14. dyah suminar

    salam kenal mbak Imelda. ibu dari Jogja, waah…baru baca kisah ibu dosen yang begitu lengkapnya saja Ibu sudah ingin baca2 tulisan mbak Imel yang lain.
    Saya juga punya kenalan mbak Fitri, tinggal di Jepang, suami nya orang jepang. Ok,ibu akan kunjung lagi ke tulisan2 lain.

    Terima kasih banyak kunjungannya Ibu. Fitri itu tinggalnya di Tokyo?
    ***EM***

    Balas
  15. sonyssk

    kekayaan pengalaman hidup yang penuh warna, pastinya membuat Ida semakin bahagia kan ? selamat menjalankan roda kehidupan dengan penuh kasih.
    Kalau nama Veronika diperoleh dari nama seorang suster di jakarta, maka anakku juga kuberi nama Monica yakni dari nama seorang suster di Our Ladies Home di Cogee, Sydney Australia. Semoga nama santa pelindung itu sungguh jadi pelindung yang setia.

    Terima kasih kunjungannya pak Sony. Ya memang dengan beragam pengalaman membuat saya seperti sekarang, dan saya masih terus menggali dan menggali, melebarkan sayap untuk menimba pengalaman yang lebih lagi.Monica sebuah nama yang bagus. Sungguh semoga Santa pelindung membimbing kita dalam kehidupan kita. Dengan komentar bapak saya teringat kembali (terima kasih pak!) bahwa mungkin Santa Veronica yang membuat saya berani untuk bertindak tanpa menghiraukan pandangan orang lain. Dia berani bertindak menyapu wajah Yesus yang berdarah, membersihkannya dengan saputangan, meskipun perlu keberanian untuk melakukannya ya. Dan dengan resiko yang cukup besar. Santa Veronica bimbinglah saya selalu…. Amin.

    Balas
  16. iman

    Hai Imelda,
    Saya di kantor sampai melentengi kisahmu dan melupakan pekerjaan saya hehehe…
    selain tulisannya, pasti pribadinya juga menarik. Senang sekali bisa berkenalan dengan imelda.
    salam,

    Waduh pak Iman, jadi malu sekali nih…. belum ada apa-apanya saya ini….
    Tapi terima kasih banyak berkenan membaca blog saya.
    EM

    Balas
  17. kursi

    salut deh buat imelda.

    blognya bagus dan kisahnya sungguh membuat kita penasaran. thank yah udah mampir ke blog saya. kapan-kapan mampir lagi yah ke gubukku yang sederhana dan jauh dari bagus itu. hehehehe…..

    Thanks untuk komentar dan masukannya.

    Terima kasih untuk kunjungannya juga… Nanti saya mampir lagi ya…
    Salam untuk istri dan calon bayinya…
    EM

    Balas
  18. shierly

    kunjungan balik nih mba imelda, makasih atas kunjungannya ya 🙂
    baca2 blog mba makin lama bikin ketagihan bacanya…cara penyampaiannya pas sekali, ringan namun kena di sasaran 🙂

    kira-kira bisa menohok juga spt yang DM bilang di blog kamu ngga? hihihi
    EM

    Balas
  19. Kwek Lina

    Salam kenal mbak…

    wah…seorang wanita yang luar biasa…

    Semoga selalu sukses dan bahagia dalam kehidupan!

    Salam kenal juga Lina…
    Terima kasih kunjungannya.
    EM

    Balas
  20. alris sutan batuah

    Salam kenal mba Imelda.
    Saya baru baca postingan Who am I, postingan yang lain belum. Postingannya bagus, bahasanya renyah, cara bertutur mba Imelda sangat enak dan gampang dicerna (emangnya makanan. Jadi tak sabar untuk membaca postingan lainnya. Mohon ijin blog mba Imelda saya tautkan ke blog saya. Saya baru memulai belajar ngeblog dua minggu yang lalu, jadi masih sangat bayi. Perlu masukan dari mba Imelda.
    Salam

    Silakan dan terima kasih Alris…. saya meluncur ke sitenya Alris ya…
    EM

    Balas
  21. kuro

    mbak imelda kuro suka blognya kuro ijin kasih link di blognya kuro yah ^^

    silakan dan makasih…kayaknya saya juga sudah link deh?
    EM

    Balas
  22. Andrey Rachfriwijaya Tokoyoda

    Ibu Imelda, saya berdomisili di Nagoya, Japan. Senang berkenalan dengan Ibu dan keluarga. Kalau ada waktu saya berharap bisa bertemu dengan Ibu dan juga keluarga. Terima kasih banyak.

    Andrey, wah dari Nagoya ya. Saya pernah menginap di Nanzan Univ tuh..dan amat suka dengan suasana di sana. Nanti kapan-kapan mau ajak Riku juga ke sana. Salam kenal juga dari kami di tokyo
    EM

    Balas
  23. mikekono

    nice blog, inspiring
    salam kenal mbak Imelda….
    semoga sukses & bahagia selalu bersama
    keluarga tercinta….arigato

    Salam kenal juga bang,
    sudah sering lihat namanya di blogsphere.
    EM

    Balas
  24. AriefDJ®

    Salam kenal, bu..
    Wah, perjalanan yang menarik.. Belajarnya Sastra Jepang, mengajar jadi dosen Bhs Indonesia di Jepang… Bener2 menarik.. Arigato..

    Salam kenal juga ya
    EM

    Balas
  25. Laurentia Angelina Liona Lee

    WOW!!! I’m completely speechless! This is incredible! Although, the technique of writing is not a master, I salute Mrs. Miyashita! U’ve reminded me of my school memories and kid’s experiences. I’m eagerly touched by ur story, too. I fancy those people, writing the comments, are also admiring u so much. & I’m also agazed by ur profile & ur life. U’r such a tough and great woman. I’m really proud of u. Keep on the great work. God Bless You Forever. ~LiOnA~

    Aw… you make me blushing Liona.
    Thank you for wasting your time reading my writing LOL….
    May God Bless You and Your Family Liona
    EM

    Balas
  26. Denok

    ehm..ehm..
    bunda satu ini gak henti2 nya bikin denok kagum (serius)
    banyak pelajaran dr hidup bu melda..1 pelajaran yg buat denok menguatkan niat dr sekarang..pengen bgt ngasih pendidikan terbaik buat anak2 denok nanti..daoin ya 🙂
    Tx bunda melda..Riku dan Kai pasti bangga bgt sm bunda… 🙂

    wah denok…. kalau kita sudah melampaui hidup dan bisa menoleh ke belakang, sebetulnya setiap orang mempunyai situasi/kondisi yang bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Coba deh baca biografi orang terkenal, pasti akan iri dengan kondisi mereka. saya doakan Denok juga bisa berhasil dalam segalanya ya
    EM

    Balas
  27. cahaya

    hmmm…speechless. Duduk diam dan menghayati semua yang tertulis. Membaca setiap kata-kata yang pastinya sangat menginspirasi.
    Salam kenal ibu imelda, saya ijin pasang link semoga berkenan.
    May God blessyou and your family.
    Amin

    Terima kasih Cahaya…saya juga senang membaca blognya
    saya juga sudah pasang linknya
    May God bless you too
    EM

    Balas
  28. kartiko

    haloo mbak imelda…
    kita pernah ketemu waktu mbak dapat tugas dari IHI crane untuk jadi guide kita (3 org) di jepang 10 tahun yang lalu, tepatnya di Fuchu (Toshiba factory). Perjalananku ke LN yg pertama 🙂
    Kebetulan pas blogwalking trus baca blog ini dan liat photonya mbak, rasanya kok familiar. kebetulan hari ini inget 10 thn yg lalu trus inget mbak.
    Salam kenal ya…

    Aduuuuhhhhh seneng sekali bisa ketemu di dunia maya.
    Itu wkt itu gara-gara apa ya aku sampe iya-kan jadi penerjemah di situ.
    Aku ngga akan lupa kok masuk pabrik di Fuchu itu.
    Untung saja dibantu sama bapak-bapak utk istilah tekniknya heheheh.
    tapi seru juga tuh, pertama kali saya masuk pabrik gitu. setelah itu malah saya banyak terjemahin soal-soal untuk pengoperasian crane (pake acara mabok juga sih hehehhe)
    tabik
    EM

    Balas
  29. arie

    salam kenal sensei…
    saya arie dari Bandung.
    seru jg baca tulisannya sensei
    boleh minta alamat emailnya ga?
    makasih…

    hai Arie salam kenal juga
    silakan saja email saya : emi.myst(at)gmail.com

    EM

    Balas
  30. Afdhal

    Salam kenal juga bu…
    wah kehormatan nih sudi mampir..
    monggo kalo mau ngambil foto saya (hihihi bangga juga donk), ntar diceritain ya..

    soal tuh buku, iya agak lama bacanya, ceritanya biar lebih menghayati topik demi topik gituhh loh

    soal HP tuh bener hehehe..indonesia buangett deh…

    Banjarbaru?? hmmm i’ll be back

    Foto?? iya kami dimana-mana butuh dokumentasi, sbg bukti..bukti kalo udah jalan2 hehehe

    sekali lagi
    salam kenal
    mudah2an bisa segera maen ke Tokyo
    AMINNNNNNNNNNNNNNNN

    Salam kenal juga Afdhal…maaf ya komentar kamu di sini terlewatkan untuk dijawab. Kapan ke Tokyo kasih tahu aja. OK!
    EM

    Balas
  31. Daniel Mahendra

    Lho-lho-lho… Kok foto-foto masa kecilnya lucu? Giliran besarnya…

    Wakakakakkk…

    Tapi banyak bener pengalamannya ya (ya iyalah! Udah 40! Hihihi)

    Lengkap dari TK sampai kuliah. Wuuuiiihhh…


    kecil lucu, besar cantik kan (sambil kedip-kedip)(bilang ngga aku timpuk!!! hahaha)
    DANNY!!!! ya saya sudah 40 tahun, what’s wrong with it? bukannya katanya kamu suka perempuan matang 😉 hihihi (buah mangga kali)
    EM

    Balas
  32. Yoga

    Mbak kunjungan balik ya, salam kenal 😉
    Hehehe…

    Aduuuuhhhh, aku bacanya sampai tahan nafas. Seru! Mengalir! Oh ya mbak, jangan menggubris komentarnya si “Danny Boy”… usil dia mah.

    ps. Kapan tulisannya dilanjutkan?

    aih aih kunjungan balik…
    salam kenal ya mbak…asl pls?
    hihihi

    Danny Boy? down boy down hahahahahahahehehehehehihihihihihi (ngamuk dia ntar aku becandain gini)
    lanjutan ya? hmmmm kumpul inspirasi dulu…. sementara itu aku buat “hallo cantik” hihii

    Balas
  33. Musa

    Wah, sejarah hidup masih teringat ya. Saya mungkin sudah lupa bebebrapa kawan saya. Mungkin karena dulunya aku orangnya cuek banget.

    ehehhe makanya dicatat nama2nya. Tapi lama kelamaan karena proses penuaan, aku juga semakin pikun kok. Makanya aku tulis di blog aja .
    Salam kenal ya
    EM

    Balas
  34. goenoeng

    whalah2…….
    ceritanya komplit banget, detail banget….
    salam kenal ya mbak Imel 🙂

    wah ya mustinya jangan dibaca toh Pak hehehehe
    Salam kenal juga
    EM

    Balas
  35. -G-

    Saya tandain dulu niy, haha, nanti saya lanjuut lagi ah bacanya trus lanjuuut lagi ah komentarnya (^^,)

    Wihiiy, kita sama2 ex Tarakanita Blok S ternyata, cuma saya hanya sampai SD kelas 6, setelah itu pindah ke PL, karena lebih dekat ke rumah. Cita2 mau masuk SMA Tarakanita, apa daya tidak berhasil akhirnya masuk SMAN 70.

    Yaah kok malah saya ikut2an bikin Who Am I di sini yah… hahaha.. gawat! (^^,)

    waaah alumni SMAN 70 ya…itu si mas NH18 juga loh. BTW saya SD tarkinya yang di barito tuh. bukan blok S tapi blok B
    EM

    Balas
  36. rini

    tulisan kak imelda tentang masa sekolah menarik banget….ak jadi pengin nulis masa kecilku dulu…ak jg mau nunda2 lagi belajar bahasa jepang ,smoga ak dapat lihat pameran nishiki nanti.

    Iya dong…karena kalau tidak ditulis, pasti lupa deh
    EM

    Balas
  37. nunur

    Umur saya masih belia dibanding Ibu, cuma sering lupa ma kejadian unik, wah ini inspirasi buat saya utk menulis ulang cerita masa kecil saya. Thx for the inspiration mom ! Jg salam kenal buat Ibu, banyak coretan Ibu yg asyik2 (tp gk nyoret muka orang hehe) dan gk sanggup di-komen2.

    Heheheh ngga papa kok jangan terpaksa harus komentar…. senang kalau bisa mengingatkan untuk menulis kenangan masa kecil. Dicicil dari sekarang ya
    EM

    Balas
  38. ajunk

    nice blog’

    salam kenal mbak’ ,mbak atau apa ya???

    (gak tau bhs jepangnya “mbak”):D

    wah mbak aja, jangan pake bahasa Jepang…kan aku orang Indonesia asli
    EM

    Balas
  39. yuli

    salam kenal. wah blognya bagus…banyak foto-foto cantiknya 🙂 jadi semangat untuk terus up date blog saya.

    visit my blog yuliku.wordpress.com

    hai juga, salam kenal, meluncur ke sana
    EM

    Balas
  40. tuti nonka

    Wah, kemana aja saya kemarin ya? Udah begitu sering ngobrol dan haha-hihi dengan Mbak Imelda, kok baru sekarang baca profil lengkapnya. Menarik sekali, asli!!

    Eh, itu … yang suka makan segala dari kanji, termasuk lem ya? Wakaka …
    Saya juga suka lagu-lagu Vina Panduwinata, seperti “Biru”, “Satu Nada Dalam Cinta”, “Kumpul Bocah”, dll. Tapi lagu-lagu Vina tidak gampang dinyanyikan ya. Yang paling sering saya nyanyikan adalah “Biru” dan “Satu Nada Dalam Cinta”.

    Tentang menari, tidak ada kata terlambat untuk mulai belajar lho Mbak. Saya juga baru mulai belajar dance sekitar satu setengah tahun yang lalu, dan ternyata asyik banget. Apalagi kalau kita sudah punya dasar suka musik, klop lah. Dance-nya juga bukan dance seperti di diskotik atau nihgtclub yang cuma peluk-pelukan doang itu, tapi dance yang bener-bener ada teknik dasarnya.

    Salam hangat dari Yogya,
    TN (halah! ikut-ikutan pakai inisial)

    hahahah mbak Tuti, kecuali lem deh…. Memang lagu Vina tidak gampang dinyanyikan…mungkin karena suara mbak Tuti tinggi (sopran). Biru ya…..
    “Tiada pernah aku bahagia….
    sebahagia kini oooh kasih…… ”
    enak ya lagu itu dan romantis sekali

    soal dance…. wah kalau mau mulai belajar sekali ngga dulu deh. Percuma juga ngga ada pasangannya. Ntar kalo ketemu pasangan yang pas…. senafas segerakan (taelah) hihihihi

    BTW singkatan TN asyik juga mbak hihihi

    EM

    Balas
  41. chilonic

    Hi Imelda.
    Finally..saya sampai juga di blog ini. Setelah sering lihat di Lala’s blog.
    “Complete and detail page” 🙂
    Salam kenal ya.

    hai Chilo…salam kenal juga. Saya sudah baca blog kamu, and its really personal …. bahasanya juga bagus loh. Maaf belum sempat komentar tapi… because I don’t think such a delicate posting needs somebody’s opinion.
    EM

    Balas
  42. Cucu

    Kak Imel, udah lama buanget gak kontak yah. Masih ingat saya? Cucu, yang dulu di gereja Meguro. Ini saya kebetulan nemu blognya Kak Imel, pas lagi surfing nyari nama restoran baru.
    Wah sekarang udah punya putra ya, Kak. SELAMAT deh, senang bisa baca ceritanya.
    Semoga bisa kontak-kontak lagi yah. Apa masih kontak ama Haruko-chan??

    Salam selalu dari Jakarta.

    Cucu

    Waaaaaaaaaaaah Cucu apa kabar? Udah pindah kantor rupanya.
    Haruko chan punya anak cewe satu, sibuk juga tuh dia …masih di Mito sama Haryo.
    Aduuuh jadi kangen pengen karaoke bareng ya… ntar reuni yuuk
    udah tahu pastor Downey sudah meninggal tahun lalu?
    EM

    Balas
  43. wita

    Mbak Imel, salam kenal yaa, manggilnya mbak aja deh, hbs masih muda siih hihihihih. Awalnya bisa nemu blog ini aku juga lupa, pokoknya blognya mbak Imel sampe aku bookmark (saking ngefansnya) pokoknya salut n kagum deh sama Mbak Imel, suka banget baca2 tulisannnya. Hehhehehe kapan-kapan mampir ke blog ku yang aneh bin ajaib ya mbak hehehhehe (^^)/

    Yoroshiku onegaishimasu m(_ _)m

    -Wita-

    Hai wita kita langsung ngobrol aja di YM yah hihihi
    EM

    Balas
  44. Ria

    Salam Kenal mbak…cerita hidup yg seru bgt ya…setiap sisi kehidupan punya maknanya sendiri…senang bisa mampir kesini dan membaca postingan2 mbak imel 😉

    Salam kenal juga Ria…yah begitulah hidup (duuuh kayak udah tua banget hihihi)
    EM

    Balas
  45. Dewi

    Hallo mba Imelda, salam kenal.
    Cape banget bacanya tapi asyik.

    btw, suka koleksi royal doulton / wedgwood ?
    kebetulan aku kerja di royal doulton indonesia,
    kalo minat bisa pesan ke aku.

    khusus buat karyawan dapet harga pabrik. kalo minat email ke aku tar aku kirim balik price list dan contoh produk.

    otsukaresama deshita.
    wah royal doulton…suka sih tapi susah bawanya ke jepang heheheh
    EM

    Balas
  46. Priyono S

    Salam kenal mbak imelda,
    cerita hidupmu sangat menarik. Aku yakin mbak juga seorang dengan kepribadian yang sangat menarik. Gak kangen indonesia mbak? Thanks!

    Salam kenal juga, Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya
    Kangen banget sama Indonesia, tapi abis gimana dong….hehehhe
    EM

    Balas
  47. yunie jusri djalaluddin

    Membaca blog ini ketagihan, pengen terus, terus & terus. Rasanya seperti ‘studi banding’ ke Jepang. Terus ditunggu artikel yang lain. Salam kenal, sehat selalu dan tetap semangat Mamanya Riku & Kai 🙂

    Hai Yunie,
    terima kasih banyak atas kunjungannya… hehhehe studi banding ya,
    aku udah ke blog kamu tapi kok ngga bisa tulis komentar ya?
    EM

    Balas
  48. Ping-balik: THE BEST FROM MY FRIENDS #2 « The Ordinary Trainer writes …

  49. basir

    makin bagus ja ni blog-nya bunda hehehe… 🙂

    senangnya dapat icon baru =]] <:-p
    bagi dong pastel tutupnya bunda :[[

    hehehe.. salam dari Romi’s army http://ilmukomputer.com

    hehehhe basir…iya tuh icon lucu amat.
    Kalo mau pastel tutupnya ke sini aja.
    Salam buat boss Romi ya heheheh (aku ngga berani ganggu orang sibuk hehheh)
    EM

    Balas
  50. Daniel Mahendra

    Seharian ini berpikir keras: foto kiri atas di halaman utama blog ini (about me) kok familiar banget. Tapi tetap juga nggak nemu-nemu mirip siapa. Sampai akhir, ah, ketemu juga…

    Sophia Latjuba! :))

    HAH!!
    akhirnya dikau mengakui kan? kan? kan?
    hihihi

    dulu di suatu posting kamu mengiyakan bhw aku mirip Lita Zen hihihi
    EM

    Balas
  51. Yusahrizal

    Wah, blog yang bagus. Boleh aku link nggak, mbak? Lumayan buat pengetahuan ttg kejepangan, aku sendiri walau udah 3 tahun tinggal di jepang tapi masih meraba-raba ttg ke jepangan nih.

    Balas
  52. fety

    salam kenal mbak imelda:)
    tahu blog mbak imelda dari blognya ibu edratna.
    saya tinggal di chiba..

    salam,
    fety

    hai fety salam kenal juga. chiba lumayan dekat dengan Tokyo ya… yoroshiku ne
    EM

    Balas
  53. Hejis

    Akhirnya cita-citaku berkunjung ke blog ini terwujud..he.. he..
    Memang bagus, lho mbak, blogmu. Aku jadi seneng, betah. Kapan-kapan mau mampir lagi. Boleh ya?
    Salam kenal, salam hangat, semoga bermanfaat
    😀

    Aduh pak … jadi malu saya sama bapak yang ahli komunikasi. Apalah saya ini pak.
    EM

    Balas
  54. pakde

    Amazing! baru saya menemukan blog seindah ini, Mbak adalah orang pertama yang mengulas detail profil lewat blog. Keren….!! Inspirastif, Terbuka.

    Foto2 jadulnya itu …wuiiiiih asyik asyik!

    Balas
  55. Deasy

    Mba Blognya bagus banget. Seperti menyaksikan perjalanan hidup mbak Imelda deh. Ngomong2 mba sebenarnya tinggal di Jepang enak gak sih?

    Salam kenal,

    Balas
  56. T Joko U

    mel.. gak yangka lo punya akar pahit ma pak Y guru math kite smp…. huahuahau…. nice blog mel

    hehehehe iya tuh si Y, kemana dia sekarang ya? Aku inget banget dia nyanyi “My Way” di pesta tahunan atau wisuda, katanya khusus buat gue …hihihihi
    Anyway thanks sudah mau berkunjung ke sini, Mampir lagi ya…. (BTW masih menunggu undangannya ke bubur barito hihihi)
    EM

    Balas
  57. Dewi

    Halo Mbak Imelda..salam kenal…sungguh menyenangkan baca biografi yang ini..
    Mau lanjut ke tulisan lainnya…

    See u

    Hai Dewi …salam kenal juga…
    EM

    Balas
  58. Antoni

    Wah lengkap bgt, tpi ga sempat baca smuanya.
    btw salam kenal ja ya mbak….

    heheheh ngga usah baca semua kok…
    salam kenal juga Antoni
    EM

    Balas
  59. Agus Ibrahim

    Hallo bu Imelda, Apa kabar? Perkenalkan nama saya Agus Ibrahim. Ini adalah untuk pertama kalinya saya mengunjungi situs ibu dan saya langsung tertarik. Langsung saja ke tujuan, saat ini saya sedang mengerjakan draf tulisan tentang kumpulan nama Jepang yang Insyaallah akan saya kirimkan ke penerbit, tapi saya kekurangan literatur dan bahan bacaan yang dapat dipercaya mengenai nama Jepang, apalagi sebagian besar data saya berasal dari internet dan berbahasa Inggris pula. Oleh karenanya saya meminta saran dan masukan dari ibu Imelda yang sedikit banyak mengetahui tentang Jepang dan budayanya.Atas saran dan masukanya terima kasih.

    Balas
  60. Desy

    Salam kenal,
    Saya sudah sering mampir ke blog ini, tapi baru kali ini baca tulisan yg ini. Kebetulan saat ini suami saya kerja di Business Center-nya bu Mariko. Wkt dpt beasiswa Monbukagakusho dulu, saya sempat tertarik pada YNU tapi akhirnya memutuskan ke Hiroshima University (Fakultas Pendidikannya bagus juga lho)
    Keep on writing mbak..

    Balas
  61. Andrey Rachfriwijaya

    Selamat Pagi Ibu Imeida, Saya mendengar ada Jurusan Bahasa Indonesia di Nanzan University. Apakah hal tersebut benar ?
    Maaf ibu, saya ingin bertanya, Apakah di Universitas tempat Ibu mengajar, banyak orang jepang yang mengikuti jurusan Bahasa Indonesia ?
    Atas Perhatian Ibu, saya ucapkan terima kasih banyak.

    Balas
  62. faza

    Wow… bari sekarang menemukan profile selengkap ini
    Luar biasa mantapp… Alur hidup yang dapat meng-inspirasi bagi yg baca
    Lam kenal ya bu..
    c u…

    Balas
  63. titiw

    Wow.. you’re life is so colorful ya mbak.. Mana anak2nya lucuuuu banget.. Send my HI to them! Wah, kalo ke Jepang berarti ada temen blogger yang bisa dikunjungi nih 🙂 Salam kenal ya mbak…

    Balas
  64. AL

    Waduh, halaman perkenalan paling panjang yang pernah saya baca. Sampe di save ditinggal mandi dulu loh baru dilanjutkan lagi heheh.
    Salam kenal ya, Bu. Saya Alifia.

    Balas
  65. Nins

    Hallo Im….
    Wah detail sekali riwayat hidupnya, kayaknya saya belum bisa cerita sedetail itu. Baca cerita tentang SMA, saya jadi inget pengalama waktu di SMA dulu, (SMA yang sama juga….) tapi saya dah lupa nama-nama dari kebanyakan guru-guru itu, cuma suster Marietta, Pak Ibnu dan Ibu Willy aja yang masih inget.
    Blognya akan saya link ya…. saya harap Imelda juga nge link ke blog saya….

    Cheers,
    Nins

    Balas
  66. Murni Ramli

    Mba Imel, ta baca sampe selesai otobiografinya,
    lengkap tenan! Senang bacanya. Btw, wkt itu komentar di blog sy ttg bukunya Bu Kurasawa, jadinya meneliti ttg pembelajaran bhs Indonesia jaman Jepang, Mba ? Saya belum baca semua buku itu, cuman dinukil bagian2 yg nyangkut dg tesis doang.
    Btw,ini sambungan ceritanya di mana ya, Mba?

    Balas
  67. iskandarjet

    mbak imel, salam kenal. baca tulisan sepanjan ini kaya baca cerpen. tapi jujur saya baru sampai sd, udah harus buru2 ‘kembali ke leptop’. nanti dilanjutin lagi ah…

    btw, saya kebetulan baru balik dari jepang setelah seminggu menyusuri kota tokyo dalam petualangan nekat seorang iskandarjet. semuanya berkat kompasiana, tempat saya ngeblog selama ini.

    sekali lagi salam kenal, senang bisa berkenalan dengan mbak imel.

    salam hangat,
    JET

    Balas
  68. sri

    halo mba imelda,,
    saya baru buat account di wp nih,,
    nemu blognya mba, bagus banget,,
    cerita simple ttg daily life di jepang tapi informatif,,
    salam kenal ya mba

    Balas
  69. martha

    wah, ternyata kakak kelas ya….saya juga sama sekolah di tar 1, tar 5, hanya waktu sma ke negri lalu lanjut lagi ke LPK…Tarki all the way. Sekarang putri saya juga sekolah di SD yang sama kaya kita 😀
    Sukses ya mbak…btw, anaknya pak P.L Coutrier ya?

    Balas
  70. saraswati

    Mba imelde saya baru baca tulisannya saya boleh bertanya tentang sekolah di jepang sekarang anak saya ikut pertukaran pelajar dijepang tepatnya di Saitama anak saya sangat ingin mempelajari budaya jepang karena dari kecil saya suka bercerita tentang OSHIN .Dimana saya harus mendapat informasi tentang sekolah dijepang terutama yg ada Beasiswanya. bagusya tulisannya saya suka membacanya. Mba maukah membalas lewat e-mail , Btw saya mau berkomunikasi dengan host family anak saya di Saitama tapi saya tidak begitu fawam tentang tatakrama orang jepang, seperti jamberapa saya haus menelepon yg tidak menggangu dll.dapatkah membantu saya memberikan sedikit informasi, anak saya kembali ke Indonesia tgl 17 des 09 saya ingin tali silaturahmi dengan host family nya di Saitama tetap berlanjut gomennasai osewani narimasu

    Balas
  71. nohara

    saya sangat bangga bisa mampir di blog yang luar biasa hebatnya ini… tentu saja tidak terlepas dari pemilikmya yang betul,,betul,betul luar biasa…
    salam kenal bu…

    Balas
  72. dinda27

    Ini kunjungan ke2, sejak baca Mama’s jewel kemarin.
    mmm … memang panjang. Padahal sy paling ga’ betah baca tulisan panjang. Tapi kisah ini sungguh menarik, membuat sy penasaran membacanya hingga usai.
    Tarakanita (kita tetanggaan), suster, Jerman, Belanda, Jepang, (meskipun tidak bisa), Pertamina dst.nya … seolah mengajak sy ke masa lalu hingga kini, begitu familiar.
    Sy turut bangga membaca riwayat hidup-nya mbak.
    Salam hangat.

    Balas
  73. Nohara

    cerita hidup yang memberi inspirasi yang sangat kuat! membuat Nohara semakin bersemangat untuk terus bermimpi dan meraihnya.
    Nohara cinta banget dengan Jepang, dan semoga suatu saat mimpi itu benar-benar bisa tercapai.(jadi terharuu nih. pingin banget sekolah disana)
    tapi sekarang sedikit down saat Nohara sadar bahwa Nohara tidak sesempurna bunda. (maaf ya bun, saya panggil bunda).
    nasib yang berbeda, latar pendidikan, keluarga, dan otak semakin membuatku minder…
    cuma sebuah mimpi besar yang tetap bersarang di kepala…

    jadi curhat bun, heee…
    salam!

    Balas
  74. ajeng

    emi san,.menarik sekali ceritanya,.klo boleh sedikit banyak hampir sama dengan cerita kehidupan saya,.walopun punya emi san jauh lebih keren 😉 saya mengagumi anda karena anda pekerja keras dan selalu punya semangat untuk mengambil hikmah dari segala peristiwa yang terjadi (yang masih harus saya pelajari sampai sekarang). saya juga ingin sekali ke jepang,.walaupun mungkin usaha saya tidak bisa dikategorikan sebagai usaha sama sekali,.terima kasih atas inspirasi dan semangatnya,..

    Balas
  75. Retty

    Wah, dari dulu lihat nama Imelda di blogroll Krismariana tapi nggak membuatku blogwalking. Gara-gara Diadjeng (ketemuan karena anaknya sekelas anakku) lihat status FBku bertautan dengan Kris, aku baru ngeh kalau mbak Imelda yang terkenal ini anak Mtb**. Rasanya kenal oi…

    Eh main ke blog ini, rada lupa-lupa ingat juga…lucunya betapa memori begitu pendek untuk beberapa hal. Yang lebih lucu lagi, aku nggak pernah merasa Imelda yang aku kenal itu kuper hahaha….Banyak hal tersembunyi dari mata karena setiap sepatu memang beda pemilik, orang baru bisa merasakan posisi orang lain bila dia yang berada di dalam sepatu orang itu.

    Kejutannya…eh kok ada foto aku mejeng di blog ini…itu tuh yang bareng di Science Club. Jangan-jangan kamu salah arsip nih Melda hehehe….(nanti minta ya buat FB, nasibku di FB tidak seberuntung di blog ini hehehe…). Belum selesai baca postingan ini (duh…ini sejarah penting hehehe..) tapi langsung meluncur ke komentar karena senang ikut mejeng di sini hehehe… Pak G itu aku pernah ketemu di bis (zaman kuliah) dan dia sangat ingin tahu bagaimana kabar murid-muridnya yang cantik-cantik dan iseng-iseng itu…Sedikit tentang guru-guru (nggak selengkap tulisanmu ini…http://khazanahpikir.blogspot.com/2009/10/thanks-to-teachers.html) Ngomong-ngomong aku juga jatuh cinta sama bahasa Perancis gara-gara Bu guru itu (lupa juga namanya), dan jadi ikutan les di CCF. Alhasil bahasa Jerman dari Bu Willy menguap dari kepalaku, aku lebih ngerti bahasa Perancis daripada Jerman hehehe….

    Wah komentarku bisa jadi satu postingan sendiri nih…hehehe…salam kangen ya…

    Balas
  76. Ping-balik: Agustus di Ceritaeka | Cerita EKA

  77. Anastasia

    hei2…watashi wa ocha desu….seneng, suka, sama yg berbau2 jepang…nihon go benkyooshimashita for 5 years…tapi dah lupaaa…

    satu almamater kita ya mbak…dengan putihputih dan dasi biru muda berstrip putih dua buah ituh…sama2 introvert pulakh…

    btw…temennya abangku juga ada yang sempet jadi researcher di Waseda Uni ampe thn 2003, tapi sekarang udah di Hakodate…

    nice blog btw…

    Balas
  78. Ping-balik: 5 Alasan Blog Anda Harus Unik | isnuansa.com

  79. Prima

    Salam kenal mbak…ceritanya seru, penuh pelajaran hidup, saya bangga nih bisa kenal sama mbak imelda yg punya banyak prestasi. btw, ultahnya cuma beda sehari sama saya, hahahhaha… 😀

    waaah duluan atau belakangan? Salam kenal ya
    EM

    Balas
  80. udo hafiz

    wah senangnya bisa kuliah dan tinggal di Jepang 🙂
    dulu juga sempat mau ambil FIB sastra Jepang UI.. tapi tidak jadi..
    kira-kira biaya hidup di Jepang itu berapa ya per bulannya? dan lagi katanya universitas di Jepang diubah jadi swasta semua, benar? wah, kira_kira mahal sekali tidak ya mbak?

    Balas
  81. muti chan

    Hi mbak Imelda salam kenal. Yoroshiku onegaishimasu. Homepagenya menarik sekali, jadi tahu banyak soal Jepang dan kehidupan sehari2-nya. Jadi makin pingin ke Jepang he he heDari homepage ini saya jadi bisa nambah vocab bahs Jepang. Maklum dulu pernah les terus terabaikan dan sekarang mau mulai belajar serius lagi.

    Balas
  82. Necky

    Baca Who Am I…atau biasanya about Me…paling2 cuma 2 atau 3 paragraf…tapi yang ini bener2 berbeda abisss. Kayak baca cerpen….tulisannyapun enak di baca….bener2 yahud deh pokoknya….belum lama sih mampir di websitenya…tapi baca tulisan2nya oke punya……..salam kenal

    hihihi, berani tampil beda ya pak….
    salam kenal juga
    EM

    Balas
  83. Gyannara

    Begitu baca artikel pertama dari blog ini langsung save ke bookmark biar bisa baca artikel yang lainnya. two tumb up deh buat mbak Melda
    Salam kenal ya mbak

    Balas
  84. wha1

    はじめましてワワンと申します。
    よろしくお願。

    bagus sekali tulisannya Ikkyu san. HHe, nama kampus saya disebut-sebut diatas sebagai penyelenggara pameran pendidikan..hhe… berarti itu udah dulu banget ya.karena sekarang kampus itu ada di pondok kelapa jakarta timur. saya baru lulus tahun ini. kalo sekarang udah ber AC kok. jd gak panas lagi..^^
    saya baru sekali berkunjung.tulisannya bagus-bagus.salam sukses selalu… ^^

    Duh universitas itu udah ada sejak jaman “pelajar pampasan perang” kembali dan mendirikan universitas 😀
    Salam kenal juga
    EM

    Balas
  85. craft4kidz

    Wah ceritanya bisa jadi satu buku cerpen nih…tapi asyik juga membacanya dari awal hingga akhir….banyak kisah dan pelajaran hidup di sana….
    keep on writing….Bu Imel

    Balas
  86. Ping-balik: SURAU INYIAK » Blog Archive » otw

  87. diah

    dear Imelda…..saya bangga n salut pada anda…..sy baru baca blog anda n sy angkat jempol….bukan main perlajanan hidup dan pengalaman yg sangat menarik yang anda tuangkan dlm tulisan…….memang anda di S1 pun tergolong mhs yg pandai dan cerdas….itsumademo ganbattekudasai!!!

    Balas
  88. alice

    saya pengikut setia TE sejak satu setengah tahun lalu (silent reader).. tapi baru kali ini saya memberikan komen di TE.. (ngak pede, maap ya mbak)….

    maju terus mbak, blog mbak bagus banget, gara2 liat mbak nulis blog, saya juga pengen ngeblog, tapi apa daya saya ternyata lebih suka ngeBACA blog daripada nulisnya.. hehe

    Balas
  89. Ping-balik: REVEALED karsini #27 dan karsini #28 « The Ordinary Trainer writes …

  90. ridwan

    wah bagian waktu mbak ime ga bisa ikut pementasan cinderella bikin saya trenyuh.meneteskan airmata.menjadi pembelajaran bahwa anak belum tentu mau mengerti apa yang orang tua lakukan.thx bwt share pengalamannya.

    Balas
  91. intan

    Salam kenal saya Intan
    Saya sangat termotivasi stlh membaca cerita di atas
    Kebetulan saya juga dari Sastra Jepang, dan ingin sekali mlanjutkan studi ke Jepang…

    Semoga saya bisa seperti ibu Imelda… ^^

    Ganbarimashou!!

    Balas
  92. Pelatihan Online

    Apakah diizinkan pengunjung blog berkirim tulisan ke media ini, dan apa saja syaratnya? Bilakah ada persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh pengirim tulisan?

    Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

    Balas
  93. didut

    setelah sekian lama menjelajah blog ini akhirnya masuk ke halaman ini dan ternyata mbak Imelda senior saya dari TK sampai SMP hahahaha~ gak nyangka 🙂

    bulan September ini aku akan jalan-jalan ke Jepang mbak, pengen banget kopdar but who knows ^^

    O genki de Imelda-san

    Balas
  94. Marthinson Tobing

    Oh ternyata sist Imelda alumni Tar V ,kakaknya Tina n Andi yah kemarin wktu baca blog ini sya koq kynya familiar dgn nama ” Courtrier ” stlh sya ingat semaleman ternyata itu nama blkg teman sya dlu diSD N SMP yaitu Andi Mika Courtrier gak sangka ketemunya disini Andi SD sya brg sma Andi tpi beda kls dia kls A sya kls B tapi wktu SMP qta brg di kls I 3 wktu pertengahan dia pindah keBelanda trus blk kesini kls 3 SMP sygnya Andi pindah ke SMP PL klu sist Tina dia dlu mantan Simpai sya wktu ikut bela diri Kempo brg2 Andi dlu dia Sabuk coklat n sya Sabuk putih wah kangen bgt sya sma Andi n Sist Tina apa khabar mrk ??? Blh tau kontak numbernya blg sma Andi dpt slm dri Tobing ok deh salam kenal jga utk sist Imelda

    Balas
  95. Octa

    halo tante, maybe saya panggil tante ya gpp? salam kenal tante, saya octa 23 tahun asal bandung, saya berencana untuk melanjutkan studi master saya di yamanashi university, tapi saya masih buta banget sama yamanashi, karena saya beragama kristiani jadi apakah di yamanashi ada gereja? terimakasih sebelumnya

    Hai Octa, Mungkin bisa baca tulisan sebelumnya tentang Yamanashi.
    Soal ada gereja atau tidak, pasti ada gereja berbahasa Jepang. Tapi yang berbahasa Indonesia saya belum tahu. Kalau katolik sudah pasti tidak ada yg berbahasa Indonesia. Kalau kristen protestan bisa tanya ke GIII http://www.giii-japan.org/
    EM

    Balas
  96. Lynn

    Konnichiwa Tante Imelda, senang sekali membaca tulisan2 Tante, apalagi riwayat hidup Tante, sedikit banyak kita punya kemiripan, TK-SMP sama, mungkin karena faktor lokasi ya, hehe, aku juga sangat suka Jepang sejak umur 9 tahun, mudah2an bisa mengikuti jejak Tante ya, Tuhan Yesus memberkati Tante sekeluarga.. ^^

    Balas
  97. Miz Tia

    saya baru baca setengah aja sudah luar biasa banget :’)
    blognya gak bisa di follow ya…
    ternyata tulisan lama , salam kenal kak.. pengen banget follow blog ini. di mana buttonnya .

    Balas
  98. Ping-balik: Novembre Tigapuluhe Mari Mulai Lagi, heee « ... CatatanKaki

  99. Ping-balik: multi multi lingual | Chelle's Room

  100. nophaluve

    konnichiha.. nama saya Novarina.. Salam kenal..
    saya seorang mahasiswi Sastra Jepang di Universitas Airlangga..
    Rekan Imelda sensei adalah dosen saya.. Lebih tepatnya pembimbing saya..
    Namanya Putri Elsy..
    Saat ini saya sedang menempuh tugas akhir/skripsi.. saya sedang melakukan penelitian mengenai Pernikahan Campur..
    Putri Sensei merekomendasikan Imelda sensei kepada saya..
    apakah saya bisa minta alamat email Imelda sensei?? atau sensei bisa mengirimkan langsung ke email saya, jika sensei kurang berkenan apabila alamat emailnya dipublikasikan.. saya juga sudah mengirimkan pertemanan melalui Facebook dengan nama saya Novarina

    Terima kasi atas perhatiannya..

    Balas
  101. ratna indriana

    mba salam kenal yaaa , Asmara Mariko san itu yang punya JAC recruitment bukan ya ? salam dari mitsui kinzoku team 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *