(Anak) Lelaki Sejati

Well, saya sedikit  merasa itu adalah terjemahan yang baik untuk kata bahasa Jepang yang saya maksudkan. Dalam bahasa Jepang ada kata Otokorashii 男らしい yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi : macho, maskulin, manly… seseorang yang memenuhi syarat sebagai “laki-laki” …tidak termehek-mehek, menye-menye, apalagi lebay hihihi. OK, mungkin bisa pakai maskulin sebagai bahasa Indonesia.

Tapi bagaimana untuk Otokonokorashii 男の子らしい, yang saya cari di kamus bahasa Inggris menjadi boyish. Wah…kalau pakai boyish bisa gawat juga, karena bisa jadi yang dimaksud adalah perempuan yang kelaki-lakian. Padahal artinya otokonokorashii itu adalah real boy, sebagaimana anak laki-laki itu seharusnya.Hmmm memang susah ya bahasa Indonesia, sedikit perbendaharaan kata-katanya.

Bagaimana seharusnya seorang anak laki-laki bertindak, dalam postingan ini yang saya ingin tekankan adalah bermain. Bukan, bukan maksud saya untuk membahas gender, pembedaan jenis kelamin. Tapi lahir di keluarga dengan 3 anak perempuan (dan satu lelaki jauh di bawah saya), lagipula tinggal di kota Jakarta, saya tidak mengetahui permainan anak laki-laki (sejati) itu apa. Padahal kedua anak saya adalah laki-laki. Saya tidak mau menjadikan mereka “banci” (sebetulnya saya tidak mau menggunakan kata prejudice/ henken begini, karena “banci” juga manusia) . Atau saya maunya anak laki-laki saya, benar-benar laki-laki. Kalau perlu nakal pun tidak apa! Nakal yang kreatif ya hihihi, bukan nakal yang abuser, yang menyiksa/menyakiti.

Karenanya saya senang jika papanya Riku mengajak Riku pergi berdua, do that “boy” things. Karena saya tidak bisa! Terus terang saya takut pada kumbang kelapa. Setiap melihat kaki kumbang kelapa, saya teringat kecoak… hiiiii. Saya tidak bisa memanjat pohon (kasian pohonnya hihihi) karena saya takut ketinggian. Meskipun berenang bukan monopoli anak laki-laki, tapi saya tidak berani berenang (meskipun bisa berenang)…saya agak takut air. Apalagi ya?

Hmmm, dalam rangka mendidik Riku menjadi “(Anak) lelaki sejati” , saya ingin dia lebih banyak bermain di luar rumah. Kebetulan Riku sudah bisa naik sepeda, jadi kalau dia mau, dia bisa pergi ke mana-mana naik sepeda (meskipun memang saya agak khawatir ….tapi orang tua kan tidak boleh parno terus menerus). Sekarang kadang-kadang dia pergi bermain ke rumah temannya naik sepeda, atau pergi ke taman dekat sekolahnya. Meskipun jarang, dia sudah bisa.

Akhir-akhir ini dia suka pulang bermain dalam keadaan, baju dan celana kotor. Good Boy! Saya tidak keberatan mencuci baju dan celana itu, toh yang bekerja mesin cuci, bukan saya! Laki-laki identik dengan keringat! (Saya ingat cerita mama, katanya pernah mengatakan pada saya waktu saya SD, “Imelda …bermainlah!” karena saya pulang ke rumah dengan baju putih dan rok kotak-kotak berplits masih kaku dan bersih, sama seperti waktu pergi berangkat ke sekolah)

Awal bulan September, hari Selasa tanggal 1, Gen libur di hari biasa. Dia mendapat ganti hari libur di hari biasa, karena dia bekerja pada hari Minggu. Sepulang sekolah (pukul 2) , Riku dan papanya pergi bermain. Ke taman, katanya. Tapi menjelang jam 3:30 siang, saat saya akan berangkat menjemput Kai di penitipan, mereka kembali dari bermain. Riku dengan celana basah masuk membawa satu ekor kepiting sungai. “Mama aku dapat Zarigani (Cambaroides japonicus kepiting sungai). Kami bermain di sungai Shirako dekat taman. Asyik loh Ma. Aku mau ke situ lagi”.

tempat bermain di dekat mata air sungai Shirako

Jadi kami jemput Kai di penitipan, lalu bersama-sama naik mobil ke sungai Shirako dekat rumah. Sungainya kecil, dan tempat yang kami datangi itu adalah sumber mata airnya. Di sekitarnya dibangun tempat bermain, dan jalan untuk mencapai sumber air tersebut. Well, menurut saya, air itu tidaklah bening, tapi menurut Gen, tadi waktu mereka bermain di situ, sinar matahari memantul begitu indah. Waktu kami datang sekitar setengah 5, matahari memang mulai condong. Dan terlalu banyak anak-anak bermain di dalam sungai, sehingga menyebabkan sungai itu keruh.

Ya, anak-anak laki-laki ini masuk ke dalam air, bermain di sungai menangkap kepiting sungai. Ada yang membawa jala, ada yang dengan tangan kosong… termasuk Riku. Riku langsung berbaur dengan sempaitachi, anak-anak yang lebih besar dari dia, ikut mencari kepiting-kepiting itu. (Satu hal yang aku kagumi dari dia, dia mudah berbaur, meskipun agak mengkhawatirkan karena sebetulnya masyarakat Jepang tidak suka dengan sikap yang “semaugue” itu. Moga-moga kelak tidak menjadi masalah)

Jadilah papa, mama dan adik Kai menunggui si Kakak ngudek-ngudek sungai, lari sana sini…. dan….menangis waktu kami ajak pulang, sedangkan belum ada satu kepitingpun didapat. Kebetulan saya berdiri di sebuah jembatan kayu. Sambil menasehati Riku supaya datang lagi lain kali dengan membawa jala, saya juga menasehati untuk mencari kepitingnya di pinggiran sungai, di dekat tembok atau batuan besar, rumpunan rumput. Bukan di tengah-tengah. Dan…. benar, tiba-tiba terlihat bayangan kepiting tak jauh dari tempat saya berdiri. Saya beritahu Riku untuk menangkap…. Duh cara menangkap saja dia belum tahu! Tapi saya tidak bisa ajarkan…karena saya sendiri takut! hiiii

Akhirnya Gen yang menangkapkan kepiting itu. Dua ekor! Dan dengan tersenyum lebar (meskipun bukan dia yang menangkap) dia bangga membawa pulang dua kepitingnya. Dan, keesokan harinya dia bawa ke sekolah untuk memamerkan kepada teman-temannya.

Hari itu, anak sulungku berhasil menjadi “anak lelaki”. Sudah pernah menangkap kumbang, kupu-kupu, bermain pasir, berenang di laut, mendaki gunung (Mt. Shirane), menangkap kepiting …. apa lagi ya? supaya anakku benar-benar menikmati alam sambil merasakan menjadi otokonokorashii.

(Yang kasihan kepiting itu akhirnya mati setelah 1 minggu…hiks)

Ohhh, aku tahu….bermain ski di musim dingin nanti!!!! Semoga kakeknya mau mengajarkan dia, karena kakeknya bisa ski dengan baik.

24 gagasan untuk “(Anak) Lelaki Sejati

  1. Henny

    Wah, beruntung Riku punya Papa yg baik dan Mama yg perhatian! Papa Gen mau menemani menangkap kepiting di sungai, hebat hebat! Selamat bertualang buat Riku dan juga Kai (nantinya..)
    Selamat mikir ‘the next project’ buat satu-satunya perempuan di keluarga kecil yg hangat ini! *geleng2 ternyata pusing juga merancang -anak laki biar gak jadi anak mami!! Anakku perempuan soalnya ;))

    *mbak, thanks untk undangannya!

    Balas
  2. Ria

    walahhh dirimu takut kecoa ya mbak 😛 disini banyak mo aku kirimin ke sana? huhehehehehe *ampun 😛 *

    Kai hebat!! sudah bisa main2 bersama teman2 cowoknya, memang harus dibiasain begitu ya mbak biar dia punya teman untuk sama2 bandel 😀 duluuuu waktu aku kecil aku termasuk bandel, suka manjatin pohon jambu tetangga, suka naik sepeda yg kenceng sampai akhirnya aku jatoh ke got…hahahaha…itu karena temenku cowok semua 😀 untunglah aku di kelilingi tante2 yg cewek banget, jadinya sama mereka di ajarin dandan dan bikin kue 😛
    .-= Ria´s last blog ..Berbagi Cinta =-.

    Balas
  3. Oemar Bakrie

    Saya dulu liburan dengan adik dan paman yg hampir seumuran main ke bendungan, mancing nggak dapet2 lalu cari udang sungai yg nempel di pintu air tinggal nangkep pakai tangan. Dibawa pulang dengan dibungkus daun pisang, digoreng untuk makan malam … Pokoknya nggak kalah seru dengan laskar pelangi …
    .-= Oemar Bakrie´s last blog ..ditulis tapi dicoret =-.

    Balas
  4. Hp

    Kalau gentleman rumusanya, just because you can does’nt means you should. Tapi laki2 kan beda dgn gentleman, apalagi kalau beda budaya dan adat.

    Balas
  5. Didien®

    sudah belajar menjadi Pria sejati ya bun..? 🙂
    kalo AC-DC gmn bun..? kan berarti bisa menyesuaikan lingkunagnnya hehehe….

    salam, ^_^

    Balas
  6. vizon

    anak-anak itu haruslah imun, bukan steril…
    anak yang imun, akan tahan dari segala keadaan, tapi kalau anak steril, kena angin dikit masuk angin…

    oleh karena itulah, maka kami memilih tinggal di kampung kweni, tidak di tengah kota jogja. sehingga anak-anak dapat dengan bebas main di sungai, sawah ataupun kebun.

    lain kali, kalau riku dan kai ke jogja, tak ajak main ke sawah ya nechan, hehehe… 😀

    Balas
  7. nanaharmanto

    Wah..petualangan yang seruuuu…
    bahagianya Riku dan Kai…pasti kalau udah besar nanti, mereka bisa mengenang (dan nulis) segala yang indah tentang masa kanak-kanak mereka.

    Aku masih aja heran dengan ibu-ibu yang meributkan baju anak-anak yang kotor karena bermain….Bu Mar termasuk jenis ini lho…*geleng-geleng*
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Bu RT =-.

    Balas
  8. D Laras H

    Idealnya, memang seorg anak tumbuh diantara hubungan ayah dan ibunya. Ayah membuat seorg anak tumbuh mnjd pemberani, baik anak laki maupun anak perempuan. Sedangkan seorg ibu membuat anak mjd org yg peduli dan lembut hati, Beruntunglah Riku dan Kai tumbuh dlm keluarga yg lengkap krn tdk bnyk anak yg bahagia spt ini..Riku n Kai, tumbuhlah mjd anak laki yg sejati…

    Balas
  9. Lala

    Ah, anak lelaki memang harus begitu, Sis! 🙂 Beberapa hari yang lalu, aku ngobrol2 sama temen2 kantor, kenapa sekarnag anak-anak lebih sering main di dalam rumah (nonton sinetron, liat film kartun, atau main PS), padahal dulu waktu kecil, selalu main di luar… Seneng2.. berkotor2.. 🙂

    Makanya, aku seneng banget kalo ada kegiatan outdoor seperti begini… Dan orang tuanya mendukung! Ini yang jarang.. Biasanya orang tua selalu bilang, “Jangan kotor2…” Nah, you’re different. That’s why I lloooovvveeee it! 🙂

    Balas
  10. Eka Situmorang-Sir

    Mbak, baca postingan ini koq aku kebayangnya pilem Doraemon ya. Si Nobita maen ke sungai cari kepiting, gak dapat kepitingnya trus ditolongin Doraemon 😛 otak pilem nich :p hehhehehe

    Anw, seneng deh tau mbak Em bilang, nakal gpp asal nakal yg positif. Ada kebebasan yang bertanggung jawab disitu 😉

    Weleh gak sabar nunggu Riku maen ski :p hehehe
    .-= Eka Situmorang-Sir´s last blog ..Kesempatan dalam Kesempitan =-.

    Balas
  11. vee

    saya baru tau ternyata di jepang sini kumbang kelapa (kabuto mushi ya bhs jepangnya mbak?) ternyata dijual dengan harga cukup mahal yak…sampe 1000 yen…wakssss padahal kalo di indo pada dibunuhin hehe
    btw kayaknya daerah tempat tinggal mbak imelda asyik ya, anak2nya masih bis a diajakin maen di tempat2 yg bisa buat “do the boys things :D” kayak diatas

    Balas
  12. Tuti Nonka

    Ha! Baguslah Riku suka main di alam. Saya melewatkan masa kecil juga di alam. Main di sungai cari ikan, di sawah, nyuri tebu (hihihi!), manjat pohon sampai nangis karena nggak bisa turun (hehehe!), ngejar ayam di kebon sampai keringatan penuh debu, main sepedaan sampai ke luar kota, masuk gua … woah, pokoknya puas! Makanya saya kasihan kalau lihat anak-anak sekarang yang nggak pernah ‘menyentuh tanah’. Jujur, saya juga nggak suka lihat anak yang keasyikan main game komputer di rumah (apalagi orang tua keasyikan main game … huaa! )

    Setuju usul Uda Vizon, besok kalau ke Yogya lagi, biarkan Riku main ke sawah sama keempat yunior Uda. Pasti asyik!
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Minggu atau Senin? =-.

    Balas
  13. edratna

    Semakin besar nanti Riku juga akan makin senang bermain diluar (di alam) bersama teman sebayanya. Adik bungsuku laki-laki, kedua kakaknya perempuan. Sehari-hari dia terlihat tenang….hehehe…setelah baca blog nya ternyata dia badung juga.
    Pernah saya tanya, saat kamu bandel, alm ibu tahu nggak? Dia cuma menggeleng….
    .-= edratna´s last blog ..Syukurlah Mbak nggak jadi pulang =-.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *