How JAWA are you?

How JAWA are you?

Aduuuuh aku mau ngakak bener deh begitu selesai menjawab kuis tentang “How Jawa are you?” di FaceBook. Karena jawabannya gini :

Wong Jowo Asli

sampeyan benar-benar orang jawa Tulen, jangan melupakan kebudayaan, unggah ungguh dan tata krama, matur sembah nuwun

***********************

Nah loh…. padahal? Dalam diriku TIDAK ADA darah jowo-jowoan sama sekali! Meskipun mama pernah tinggal di Yogya (Tapi itu kan mama, bukan saya! Saya hanya pernah tinggal di jakarta dan JAPAN not JAVA  — tidak seperti abang Sony yang orang Batak tapi jawa banget karena pernah sekolah di sono). Saya juga bukan Novi, adik saya yang menikah dengan wong Solo dan punya rumah kedua di Klaten sono. Pernah sih punya mantan pacar orang Jawa (gede di Jakarta) sebentar hihihi (dan yang pasti tidak pernah dia mengajari saya bahasa/ budaya jawa). So? …mau tahu pertanyaannya? Sebetulnya lebih enak ikut kuisnya langsung di FB supaya bisa langsung dapat resultnya. (Terus terang saya sendiri tidak tahu jawaban benernya apa… jadi cari sendiri ya jawabannya hehehhe. Lha wong aku jawabnya juga sambil ketawa-ketiwi ngga yakin dan kayaknya pasti salah — ada sih niat untuk pake Uncle Goole mencari jawabnya, but ngga lah moso mau serius gitu hihihi)

kuis ini mengukur betapa JAWA diri anda, monggo dipun jawab !

  1. Apa nama Ibukota Jawa Tengah

  2. Raden Harjuna satriyo ing?

  3. Apa bahasa jawa halusnya “Makan”?

  4. Isi Sawo arane?

  5. Kota Batik adalah?

  6. Gendhing untuk mengiringi temanten adalah?

  7. Anake Kebo arane?

  8. Becik ketitik, …………

  9. Jamu untuk mengobati Panas Dalam adalah?

  10. Ing …… mangun karso

SO? gimana …. bagi yang Jawa apakah Anda jawa tulen….seperti saya hhihihihi.

But, sebagai kelanjutan tulisan ini, Anda kenal Ki Manteb Sudharsono? Ya, saya pernah berkesempatan mewawancarai beliau waktu beliau datang ke Jepang dalam rangka undangan Nihon Wayang Kyokai yang diketuai Bapak Matsumoto Ryo (tahunnya saya lupa). Dan waktu itu pertama kali saya melihat langsung pertunjukan wayang langsung (bukan lewat TV — saya ingat duluuuuuu sebelum saya datang ke Jepang, di TV ada pertunjukan wayang dini hari, dan adik saya Andy dengan getolnya nonton di depan TV, syaa kadang hanya menemani dia….. lah saya juga tidak mengerti bahasa Jawa hiks) yang didalangi oleh pedalang Indonesia apalagi terkenal begitu. Dan memang, Ki Manteb memang mantap sekali membawakan cerita dan menggerakkan wayang kulit… ya saya ingat terkadang beliau menyelipkan humor (sedikit berbau politik juga) sehingga yang mengerti bahasa Indonesia dan situasi Indonesia waktu itu bisa tertawa. Saya kagum pada pedalang yang bisa membuat penontonnya tertawa seperti itu.

Mewawancarai Ki Manteb Sudarsono untuk acara Radio Gita Indonesia di InterFM 76,1 MHz Tokyo
Mewawancarai Ki Manteb Sudharsono untuk acara Radio “Gita Indonesia” di InterFM 76,1 MHz Tokyo
******************************

 

Saya banyak mempelajari wayang justru setelah saya datang ke Jepang. Sejak saya berkenalan dengan Nihon Wayang Kyokai, secara tidak langsung akhirnya saya mempelajari wayang juga, terutama tokoh-tokoh yang keluar dalam cerita perwayangan itu. Itu masih awal-awal kedatangan saya di Jepang, sambil belajar di Universitas Yokohama, saya arubaito (part-time) mengajar bahasa Indonesia di Kelompok Wayang itu. Setiap hari Selasa malam, saya mendatangi apartemen Bapak Matsumoto/ Sebuah apartemen kecil yang dijadikan studio wayangnya. Begitu masuk langsung terhampar layar putih lebar yang memakan semua kelebaran apartemen. Bukan layar itu saja yang memenuhi ruangan. Bermacam wayang kulit tersimpan dalam peti kayu, buku-buku wayang, batik (kebetulan istri dari Bapak Matsumoto adalah juga pembuat batik — dan jangan pikir dia orang Indonesia…. pasangan suami istri ini JAPANESE tulen yang menguasai JAVANESE culture! ) dan sebuah kotatsu (meja rendah berukuran 1 meter x 1 meter untuk kita belajar. Memang serasa masuk “gudang” tapi langsung bisa merasakan suasana Indonesia di dalam kamar itu!
 Bersama Bapak Matsumoto Ryo, Restoran Jembatan Merah,Akasaka-Tokyo dalam penyambutan Pedalang Ki Manteb Sudharsono
Bersama Bapak Matsumoto Ryo, Restoran Jembatan Merah,Akasaka-Tokyo dalam penyambutan Pedalang Ki Manteb Sudharsono
********************

 

Bapak Matsumoto sendiri sudah pintar berbahasa Indonesia. Sebetulnya Bapak Matsumoto ini adalah lulusan bahasa Perancis pada Universitas Bahasa Asing Osaka, 40 tahun lebih berkecimpung dalam dunia perwayangan, sampai mendirikan Nihon Wayang Kyokai (Perhimpunan Wayang Jepang). Dan tidak heran atas usahanya ini, pemerintah Indonesia memberikan penghargaan Satyalencana Kebudayaan. Setiap hari selasa ini, saya hanya mengajar anggota Nihon Wayang Kyokai yang belum begitu mahir berbahasa Indonesia. Meskipun pada awalnya saya sudah katakan, mungkin lebih baik mencari guru bahasa Indonesia yang berasal dari jawa sehingga kalau ada bahasa Jawa bisa juga sekaligus diajarkan. Tapi mereka berkata, soal bahasa Jawa gampang, kami tinggal bertanya pada Bapak Matsumoto. Yang kami perlu bahasa Indonesianya. OK then…

 

Nah, bahan pelajaran yang dipakai adalah cerita dalam bahasa Indonesia dari sebuah majalah bulanan kepunyaan bapak Matsumoto. Biasanya satu cerita sepanjang 3 halaman A4, kadang bisa selesai diterjemahkan  dalam 1 kali pertemuan (2 jam) jika banyak yang hadir, tapi kadang harus  2 kali pertemuan jika sedikit yang hadir. Banyak itu berapa orang? Maximum 6-7 orang. Ceritanya mengenai Karna, Durna, Pandawa …. dsb dsb (hmmm saya harus mengumpulkan kembali fotokopian itu! pasti ada… somewhere hehehhe)

 

Saya memang mengajar bahasa Indonesia kepada mereka, tapi saya belajar banyak dari mereka! Saya belajar wayang, cerita Mahabarata, bahkan bahasa Jawa dan sedikit bahasa Jepang yang kromo. Sebelum saya mengajar di situ, saya tidak tahu apa bahasa Jepangnya “pamit” …. eh rupanya 暇乞い(いとまごい)をする。Sayang saya terpaksa harus menghentikan mengajar di situ, karena konsentrasi untuk pembuatan thesis dan kesibukan lain.

 

Tapi sekitar awal tahun 2006, saya bertemu kembali dnegan Bapak Matsumoto dan mendapat kehormatan dipercayakan mengisi suara (narasi) dalam bahasa Indonesia sebuah lakon “Mizu no Onna” (kalau tidak salah bahasa Indonesianya Dewa Ruci….  lupa deh) karya bapak Matsumoto sendiri yang akan ikut serta dalam Festival Wayang Internasional di Yogya 23-Juli 2006. Waaaah, waktu itu saya senang sekali karena menjadi “artis suara” merupakan impian saya. Saya harus mengganti suara sesuai karakter yang ada dalam skenario. Kadang sedih, kadang genit, kadang marah…. wah itu susah. Skenario itu merupakan challenge pertama untuk saya. Dan untung saja masih ada kesempatan ke dua, karena tahun berikutnya, 2007, saya  diberi kesempatan lagi untuk membacakan cerita “Menuju Istana Bayangan” (Wayang Jepang) yang akan digelar di Mangkunegaran. Nah… ini benar challenge karena dalam cerita banyak terdapat karakter pria, wanita dan jin hehhehe. Sayang sekali saya tidak bisa hadir di kedua acara pagelaran wayang dari bapak Matsumoto itu di Yogya.
bersama pak Matsumoto Desember 2010

 

Saya percaya, jika manusia keluar dari “sarang”nya bukan hanya bisa melihat pemandangan indah di luar, dan terlebih dapat melihat ke dalam sarangnya sendiri dengan lebih obyektif dan bahkan mendalaminya. Meskipun kadang saya –sebagai manusia tak bersuku– merasa gamang dalam menentukan dimanakah sebetulnya sarangku itu. Yang saya tahu, hutanku adalah Indonesia!

 

86 Comments

Aku suka dan sangat setuju dengan poin terakhirmu.
Ya, hutanku adalah Indonesia, pohonku adalah Jawa dan rantingnya adalah Jogja … eh Klaten heheh 🙂

Donny Verdian´s last blog post..Menikmati Priscilla Queen of Desert

bentul Mbak, ‘Indonesia adlh hutanku’, mantep skalee jargon itu…
Tapi lebih manteb lagi Mbah Manteb Sudarsono,dalang kondang asli karanganyar…hehehe…barusan ketemu beliau didepan warung deket rumah, karena beliau adalah tetangga satu Rw sama sayaa…

ayik´s last blog post..Ada apa di kebun Mbah Kung ?

wow Mbah Manteb masih suka ngedalang ngga tuh? Lebih dari 10 th yang lalu saya bertemu dia, pastinya sudah sepuh ya…
EM

How Jawa I am ? …
Mmmmm … gimana ya … Let others decide …

Ini tulisan khas EM …
mulai dari Kuis … sampe Dalang …
huahahaha

Hai EM

nh18´s last blog post..PAK SOLEH

Hehehe mas jawa dong kalo ngga aku ngga panggil mas kan hihihi.
tulisan ngalor-ngidul? Tapi kan berhubungan TOH?
Intinya JAWAAAAAAAAAAAAA
(eh jadi pengen tahu pernikahannya si mas dengan bunda adat apa sih? jawa atau minang?
Kalo jawa pake blangkon dong? Hayoooo pasang dong fotonya Mr Mysterius!)

Hai juga mas NH
EM

Secara geneologis, saya orang Jawa. Tapi latar pendidikan dan pengalaman hidup, saya sama sekali bukan Jawa. Bahkan saya tidak bisa berbahasa Jawa sama sekali dan selalu menolak untuk mempelajarinya.

Zaman sekarang, apalagi yang jauh di negeri seberang, orang kan banyak yang mengalami krisis identitas. Akhirnya mereka memilih kembali kepada identitas primordial mereka, agama dan suku. Itu tidak salah. Hanya saja, dalam hemat saya kenapa tidak membuat identitas baru. Identitas sebagai bagian masyarakat internasional. Macam dunia blog, itukan identitas baru juga. Meski untuk bidang etika, kita selalu kembali ke primordialitas tadi.

Lalu, bagaimana dengan anakanak bu? Orang Jepangkah, Jawa, atau Indonesia?

OK HIM (aku panggil kamu HIM aja ya hehhehe, kalo HP kok kayak homepage atau handphone) ]

aku jawab mungkin agak panjang ya.
Kalau HIM mungkin berasal dari Jawa, yang mayoritas sehingga merasa aman dan tidak pernah memikirkan “posisi” dalam masyarakat. Meskipun seakan HIM tidak mau belajar bahasa Jawa, atau menjauh dari sifat kesukuan. Tapi bagi orang yang dari lahirnya tidak bersuku, akan merasakan sulitnya tinggal di negara Indonesia. Betapa secara tidak sadar orang Indonesia menanyakan,
“Kamu orang apa?”
“Indonesia”
“Iya saya tahu, Indonesianya dari mana?”
“Dari Jakarta”
“Ohhh orang Betawi ya?”
“Bukan”
“Loh, jadi…suku apa?”
“tidak bersuku”
“Kok bisa?”
“Ya bisa saja”
“Emang papa kamu dari mana?”
“Dia lahir di Makassar”
“Ohhh Bugis? Makassar? tapi kok kristen?”
“Hmmm bukan asli Makassar juga sih”
“Campuran apa?”
“Belanda”
“Ok …kamu indo ya?”
“saya Indonesia”
“OK deh… tapi ibu kamu? Jawa?”
“bukan. Meskipun dia lahir di Yogya”
“Jadi? orang Ambon ya?”
“bukan”
“Menado?”
“Bukan juga….. hmmm campuran juga”
“Arab?”
“Bukan campur belanda”
“weleh indo belanda kawin sama indo belanda. 1/2 + 1/2 jadi 1. Kamu orang Belanda ya?”
hahahahah

meskipun sebetulnya percakapan di atas akan menjadi lebih panjang lagi, tapi saya cut saja. Begitulah susahnya menjadi orang tanpa suku sehingga kadang saya hentikan sampai orang Betawi. atau ya saya orang-aring. Saya rasa masih sedikit orang yang tidak akan bertanya “suku apa” jika bertemu dengan orang Indonesia (apalagi di LN)
Tapi saya juga tidak suka dengan banyaknya ungkapan “wah kalau blasteran itu memang cocok jadi bintang film” dan asal dia ada darah campuran langsung memilih profesi sebagai bintang film. Saya juga benci dengan penyataan begini, “Ohhh pantes cantik, dia campuran sih….” Emangnya orang asli Indonesia trus ngga bisa cantik?
Hmmm HIM, sedih loh sebetulnya kondisi seperti saya. Mungkin karena saya nasionalis, tapi tidak bersuku. Tidak bisa bicara dengan lantang saya orang Jawa! atau orang Batak! dsb dsb. Dan orang-orang seperti saya rentan pada krisis identitas. Makanya saya berusaha menanamkan pada diri saya. SAYA adalah SAYA. Dan saya tahu juga bahwa nantinya anak-anak saya akan mengalami pemikiran yang sama.
Riku saja sekarang selalu bilang,
“Aku orang Indonesia”.
“BUkan Riku, Riku orang Jepang (dia wn jepang)”
“Tapi mama orang Jepang?”
“Bukan, Mama orang Indonesia (aku masih bangga dengan paspor Indonesiaku)”
“Riku mau ikut mama….”
“Tapi papa orang Jepang”
“…….”

Kasihan ngga tuh? Seorang anak sudah menjadi bingung dengan “perbedaan negara”. Tapi saya tidak mau menutupi, karena pasti dia nanti di sekolahnya juga akan mengalami “Ijime” (bullying) dengan status dia yang “setengah jepang setengah indonesia”. Yang pasti karena kita tinggal di Jepang, dan anak-anak semua warga negara Jepang, maka saya akan mengajarkan bahasa-kebudayaan -tata cara Jepang pada anak-anak saya. Tapi saya akan tetap menjadi orang Idnoensia, sehingga mereka bisa melihat orang Indonesia itu seperti saya. Kita memang tidak pernah tahu hasilnya, tapi semoga saja jalan yang saya tempuh ini benar cocok buat Riku dan Kai.

Barusan saya tanya sambil bercanda pada Riku. (dalam bahasa Jepang)
“Riku kamu orang apa? Orang Jepang atau Orang Indonesia?”
“Orang Indonesia”
“Loh kok?”
“Kan mama orang Indonesia. Mama yang melahirkan Riku, jadi Riku orang Indonesia seperti mama.”
“Tapi papa kan orang Jepang”
“Iya, saya tahu”
“Tapi Riku maunya jadi orang Indonesia?”
“Iya, mau ikut mama”
“Tapi paspor Riku paspor Jepang loh”
“Hah???”
“OK Riku tetap mau jadi orang Indonesia?”
“Iya”
(dalam bahasa Indonesia) “Orang Indonesia musti bisa bahasa Indonesia. Riku bisa bahasa Indonesia?”
(dalam bahasa Indonesia) “sedikit”
hihihihi

kemudian saya tanya lagi dalam bahasa Jepang,
“Teman-teman Riku suka ngejek Riku orang Indoensia?”
“Nggak pernah. Riku yang bilang”
“Riku bilang bahwa Riku orang Indonesia?”
“Iya”
“Riku bangga jadi orang Indonesia?”
“Iya dong!”
……(mata saya mulai berair)
dan sambil keluar kamar dia bilang, “besok mama ajarin bahasa Indonesia ya….”

well….
menurut saya sih
tidak usah kita terlalu mengkotakkan bahwa saya orang dari suku ini-itu. Tapi menurut saya penting untuk menyadari bahwa asal kamu dari Indonesia (saya bangga dengan sifat-sifat Indonesia saya kok, meskipun saya tahu banyak juga sifat negatifnya. Ya yang negatif tinggal dibuang saja. Ambil yang bagus dari negara lain i.e. Jepang dan seperti HIM bilang, buat identitas baru. Tidak perlu juga dnegan kawin campur untuk membuat identitas baru kan? Dengan kawin antar suku saja sudah bisa tercipta identitas baru. Atau bahkan kawin sesama suku pun bisa membuat identitas baru dengan perpaduan sifat dari dua orang yang menikah itu kan?

Maaf jadinya puanjaaaaaaaaaang banget tapi kebetulan saya mau nulis jadi OK juga komentarnya HIM ini sebagai pemicu penulisan pikiran saya mengenai identitas.

Dalam bahasa Jepang memang ada istilah Kokusai jin . Orang (masyarakat) Internasional, dengan syarat bisa berbahasa Inggris (yang pasti sempit sekali pemikiran ini). Saya lebih suka dengan istilah Uchuujin (Manusia Antariksa — yang lebih luas dari planet bumi saja, atau bolehlah pakai istilah makhluk planet bumi jika tidak mau pakai kata Antariksa) meskipun yang pasti di kepala saya tidak ada tentacles dan kulit saya tidak berwarna hijau heheheh.

Secara singkat jawaban saya untuk pertanyaannya HIM yang : Lalu, bagaimana dengan anakanak bu? Orang Jepangkah, Jawa, atau Indonesia? adalah….. saya menyerahkan kepada mereka untuk memilih pada waktunya. (hei, anak-anak itu kan titipan Tuhan? demikian kata Khalil Gibran ya heheheh)

salam persaudaraan seantariksa
EM

(kayaknya ini bisa saya posting saja suatu waktu)

Kalo ndak bisa njawab kuis di atas, ora patheken kan?
Sebagai orang yang punya banyak teman orang Jawa rasanya aku bisa deh menjawab 80% dengan benar.
Tapi, ngapain juga ah serius banget…
Btw, foto Ime-chan yang lagi wawancara dengan Ki Manteb itu benar2 mantap lho…Auranya dapet…Tapi, lagi wawancara kok malah melengos?
Lagi liat apaan tuh?

Hery Azwan´s last blog post..Tak Ada Krisis

Iya aku juga sebel tuh sama yang moto. lagi dipanggil seseorang deh kayaknya. tapi mbok yo foto lagi pas lagi aku tidak menoleh kenapa sih hehhee. Ntar aku mau bikin dokumentasi suara ahhh hihihi (kayak kurang kerjaan aja nih si melda)
EM

Saya asli dan jelas sama sekali bukan org Jawa, dan sama sekali tidak bisa menjawab Kuis itu dengan baik dan benar, hihihi… Yah sudahlah saya puas menjadi masyarakat Jakarta saja yg ngomong pun campur2 ga jelas begini (^_^)

Wah, saya kagum banget mbak dengan seluruh pengalaman mbak Imelda, top banget deh pokoknya, dan artis suara, huhu..saya juga kepingin dong, dari dulu soalnya klo pas drama untuk Natalan jadi dubber ga pernah jadi pemain (brarti cucok dong untuk jadi artis suara–walopun skalanya mikro mouse sekali, hihi..)

Selamat men-Jawa, mbak Imelda Courtier Miyashita Van Java (^_-)

-G-´s last blog post..Pertanyaan: What Kind of Blogger Are You?

ahhahahahahah G edan tenan kamu hihihi. Namaku jadi keren euy jadi panjang gitu yak. ada perancisnya, ada jepangnya, ada belandanya (van) dan Java? oooooohhhh itu bahasa Komputer Java script kan? kalo itu sih ….

aku ……

ngga bisa

hahhahah.

Yuk kita bikin Sanggar Cerita-ceritaan… mau ngga? (hmmm jadi pengen ketemu G deh…pasti suaranya enak didenger… G… no HP dong — G nya ketakutan dipikir aku l**bong lagi hahhhaa)
EM

Hihihi… pertanyaannya lucu-lucu. Tapi bisa kusikat semua.

Sulit bagiku untuk mengibaskan ke-Jawa-anku. Tapi mungkin aku satu dari sekian orang Jawa yang tak begitu suka atas ke-Jawa-anku. Alasannya, emh, mungkin di lain waktu kita bahas ya. Tapi intinya aku sangat merasakan sekali:

bahasa Jawa adalah bahasa yang sangat berstrata sosial. Itu bisa dilihat dari beberapa pertanyaan di atas.

Orang dari kalangan “atas” bisa mengumpat ke “bawah”. Karena ada kosakatanya. Tapi orang dari kalangan “bawah” tidak bisa mengumpat ke kalangan “atas”. Kenapa? Karena tidak ada kosakatanya.

Lho, kenapa yang kusodorkan contoh adalah umpatan? Ya, karena bahkan untuk sesuatu yang tidak baik pun kalangan “atas” punya kosakata untuk mengumpat ke kalangan “bawah”, tapi tidak dengan kalangan “bawah”.

Sebagai contoh umpatan:

Kalangan “atas” bisa mengumpat ke “bawah” dengan: Asu! Kurang ajar! Goblok!

Coba, apa ada kosakata itu pada kalangan “bawah” ke “atas”? Tidak ada. Masa’ mau ngomong: Nuwun sewu, panjenengan segawon nggih!

Haha! Nggak enak. Itu artinya kalangan “bawah” tidak boleh mengumpat atau kesal atau ngersulo pada kalangan “atas”. Nggak fair kan?

Itulah yang membuatku tidak suka dengan Ke-Jawa-anku (bukan tidak suka dengan Jawa, tapi dengan ke-Jawa-anku). Namun tidak bisa tidak: aku adalah Jawa yang berusaha tidak menjadi Jawa.

Ini hanya pendapat. Tolong koreksi kalau aku salah.

————————

Kalau nggak datang ke Jepang, apa berarti nggak mempelahari wayang? Hehe.

Tapi satu hal pasti: aku suka sekali tatapan matanya saat mewawancara Ki Mantep. Dashat! 😉

Daniel Mahendra´s last blog post..The Waiting Is Almost Over

Suka sekali dengan jawaban Mbak Imel di komen nomor 7.

Daniel Mahendra´s last blog post..The Waiting Is Almost Over

suka sama jawabannya, atau suka sama saya HAHAHAHAHAHAH
Becanda (sodara-sodara patut diketahui bahwa saya dan DM tidak ada apa-apanya, kecuali sahabat ketawa sambil berguling-guling di pasir —iconnya YM gitchu—)
EM

wahhh ternyata mbak imel juga baca khalil gibran ya :D…salut mbak buatmu ternyata di sana dirimu ikutan promosiin indonesia dengan mengajar bahasa indonesia disana 😀

Ria´s last blog post..Tetralogi Laskar Pelangi

Wayang? Wahh seneng banget, justru saya mengajarkan wayang dimulai dari komiknya RA Kosasih (bukan Jawa, tapi Sunda), tapi karena asalnya dari India, maka tak masalah. Anak-anakku namanya adalah nama tokoh wayang panutan ayahnya….hehehe
Saya dulu suka menjadi penari wayang wong….tapi jangan tanya bagaimana bahasa halusnya Jawa, payah deh…udah lupa semua.

Btw Imel, seneng sekali, jadi pengin dengar suara Imel saat memperagakan jadi tokoh wayang. Saya suka dengan pak Manteb …. sabetannya bagus sekali. Dan dia juga menyesuaikan dengan kondisi terkini, pakai tambur dll. Pernah diundang ultah perusahaan tempatku bekerja, saya yang tak pernah nonton wayang semalaman, saat itu saya benar-benar melek sampai pagi (semalam suntuk).

Anakku cuma si sulung yang suka wayang, baik wayang Jawa, Sunda, maupun saat diskusi dengan teman-temannya dari India. Si bungsu cenderung suka kebudayaan Sunda, mungkin karena pacarnya orang Sunda….

edratna´s last blog post..Lari pagi di Sabuga

Aku ambil ngakaknya aja lagi …Aalagi menikmati gambar WW dengan Ki Mantap … metode baru kali, mikropon di sorong mBak Mel … ngeliat kamera atau kucing lagi lari he he

Ersis Warmansyah Abbas´s last blog post..Menulis Mencatat Pikiran

Banggalah jadi anak Indonesia, mungkin itu intisarinya. Aku juga bukan org jawa melainkan batax, tp aku bisa ngomong jowo dan suka tembang jawa terutama Rek ayo Rek. Salut buat mbak, entar aku usulin mbak jadi duta budaya Indonesia.

Tadinya semangat banget mau kerjain quiz-nya, tapi akhirnya berhenti… takut ketauan kalau aku ini Orang Jawa jejaden… hehe…

Ya, biarpun wajahku ini khas orang Jawa..
dan perilaku-ku lemah lembut..
terus lahirnya di Surabaya yang.. Jawa pula…
tetep aja, miniiimmm banget pengetahuan tentang ini.

Ah, aku orang Suroboyo ae.
Campuran dikit sama londo… hhehe..

*uh, kangen!*
*internet gebleg!*
*mau nyusul komentar terbanyak ah! hehe*

senyum-senyum baca jawabannya Riku.
apa Riku kalau sudah besar mau tinggal di Indonesia?
Salam buat Riku 🙂

mascayo´s last blog post..berita harian masih membuat hatiku gelisah

dia maunya tinggal sama mama terus sampe tua katanya….
trus saya bilang… boleh tapi ngga boleh di rumah terus. Harus kerja!!! heheheh
(padahal begitu punya cewe, pasti ibunya dilupain)
(semoga dia ingat omongannya waktu masih kecil hihihihi)
EM

wah keren wong jowo tenan hahaha menawi kulo komentar ngaggem boso krami inggil menopo kinten kinten di pun waos hehehe
kulo sarujuk dumateng pangandikanipun panjenengan menawi kito medal saking susuhipun waget ningali olo lan endahing susuh kito
hayooo mbak imel tahu enggak hahaha
ini wong jowo tulen tapi tinggal di gunung hahaha

genthokelir´s last blog post..Setahun Sawali (dot )Info

bentar buka kamus jawa dulu ya hihihi
(percaya ngga Pak Tok, saya punya kamus jawa, sunda, batak, betawi, malaysia, jerman, belanda, latin, Jepang –wajib lah yau– kamus islam, kamus teknik, kamus ekonomi dsb dsb )
EM

Ping-balik: Tuliskan Saja

Tentang kuis, pertanyaan tentang kota batik itu agak rancu, sebab Solo dan Pekalongan sama-sama punya batik yang sangat bagus …

Jawaban Mbak Imel di komen no 7 sangat mengharukan bagi saya … ihiks 🙁 (lho, kok malah saya yang nangis … )

Saya orang Jawa asli, pengetahuan saya tentang Jawa lumayanlah (hehe … menilai diri sendiri) tapi sikap hidup saya tidak bersandar pada budaya Jawa. Adat istiadat Jawa hampir tidak pernah dilakukan di dalam keluarga saya. Saya lebih merasa sebagai orang Indonesia, bahkan sebagai ‘warga dunia’ … (halah!). Oleh karena itu saya tidak anti pada budaya asing, selama budaya itu positif.

Mungkin benar apa yang ditulis Mbak Imel, karena identitas saya sudah jelas, yaitu ‘orang Jawa’, maka saya tidak sibuk-sibuk lagi mencari atau membentuk identitas diri.

Beberapa tahun terakhir ini, setelah mengunjungi banyak tempat dan menyaksikan keindahan alam serta budaya Indonesia, saya merasa semakin cinta Indonesia. Negara kita ini sangat kaya dan indah lho. Sungguh! Jadi keterlaluan kalau ada orang Indonesia yang tidak cinta Indonesia.

Kalau situasi negara masih morat-marit, itu karena ulah sebagian (besar) pemimpin, tapi bukan salah tanah, air, dan udara Indonesia dimana kita hidup.

tuti nonka´s last blog post..Majapahit dan Gajah Mada, Siapa Tak Bangga?

dari namaku saja sudah kelihatan jawanya. meski lama tinggal di sunda logat jawa tetap saya ketahuan meskipun menggunakan bahasa indonesia

narno´s last blog post..Blank spot

MAK JEGAGIK, begitulah ku spontan duduk tegap terpana-pana 😯 mlototin judulnya woow.. gak nyangke ada judul ginian di blok ini

sampe di kuinys….. wakkkkaaak… 😆 ke-pingkel2

mank c, wayang n budaya jawa including boso kromo inggil dah banyak diexport, bahkan mereka banyak kok yng “Much More” Jawa Than The Jawa — sampe2 saya pernah khawatir jangan2 nanti budaya bangsa indo tinggal legenda or dongeng belaka: tersebutlah di suatu negeri yg konon bernama indonesia ada budaya jawa, sunda, batak, minang, minahasa, ……… 😥

Misalnya soal budaya jawa, saya pernah ketemu dg orang inggris, prancis, jerman yg selain canggih banget maen gitar ato narinya, juga boso kromonya bikin saya yg mnr sejarah lahir di jokja speechless sak less less lesssnya 😳

eh, ngomong2 soal batik nih, kira2 bisa ga ya jualan batik2 tulis asli kraton jokja disana? maklumlah saya ga punya skill n pengalaman nyales

tfs, salam budaya

JiMi´s last blog post..The Rain ~ Boleh Saja Benci

Terkait dengan pertanyaan nomor sepuluh, pribahasanya kayak gini:
Ing ngarso ngusung bondho
Ing madyo mangun istono
Tut wuri handarbeni…..

Ssssssssssssssst jangan kasi tahu Tuti, nanti dia ngomellll. Tapi salahnya Bu Imel juga, melibatkan aku kedalam uji kadar kejawaan orang (ppm/liter ???)

sonyssk´s last blog post..TARUHAN atau PERTARUHAN ?

mbk..kok ga’ ada jawabannya, bisa dilihat ga’ mb Mbk Imel, jadi pengen tau seberapa Jawa sih Dewi ini…Riku itu…pinter bgt siiiiihhhh…seneng ya Mbk punya anak begitu, bikin terharu terus kata-katanya, dia cinta bgt lagi ma Ibunya, knp bukan papanya? kok bisa…papanya jarang di rumah itu bukan?….sekarang sih byk anak Jawa yang ga’ bisa Jawa, karena orang tuanya sendiri ga’ mengenalkan Jawa, ga’ mbois katanya, ndeso, itu pandangan orang tua yg ga’ sok kota, malu klo dibilang ndeso, gengsi. kaya’ di kampungku, mulai pke b. Indo, tp yg ga’ baku, kaya’ orang Cina gitu, ambilkan–ambilno, di sana–ndek sana. di sekolah aja sampai bikin kurikulum Jawa, ttg budaya dan bahasa karena melihat kenyataan bahwa permainan tradisional pun punah…heh..aku sendiri sekarang udah lumayan bisa Jawa alus, karena di rumah emang Malangan…

Iki ono tembang jowo sing biasane kanggo puji pujian nang Mushola/Langgar sak durunge sholat diwiwiti:

Sholawat badar (yang diselipi dengan syi’ir tentang Sifat Wajib Allah, Rukun Islam, Rukun Iman, Fardhlunya Wudhlu dan Sindiran2 lainnya)

Sholatullah Salammullah ‘ala toha rosulillah
Sholatullah Salammullah ‘ala yasiin habiillah

Allah Wujud, Qidam, Baqo’
Mukholafatu, Lil Hawaditsi
Qiyamuhu, Binnafsihi..
Wahdaniyah, Kodrat, Irodat

Ilmu. Hayya, Sama’, Basor
Kalam, Qodiron..
Al Muriddan, Kaliman, Hayyan
Sami’am, Bashiron, Mutakaliman

Eling siro kang sak nyoto
Rukune Islam kang limo
Kang sepisan moco sahadat
Tekatno lan ngucap siro

Kaping pindo iku sholat
Ono ing fardu kang limo
Kaping telu aweh zakat
Lamun siro sugih bondo

Kaping papat iku poso
Ono ing wulan romadhon
Kaping limo ziaroh haji
Aneng Mekah lamun kuoso

Lan malih rukune Iman
Yoiku enem perkoro
Kang sepisan imano siro
Ing Alloh Pangeran kito

Kaping pindho imano siro
Ing malaekate Gusti Alloh
Kaping telu imano siro
Sekehing kitabe Alloh

Kaping papat imano siro
Ing utusane Pangeran kito
Kaping limo imano siro
Dino kiamat mesti ono

Kaping enem imano siro
Ing pepesthening Gusti Alloh
Olo becik iku nyoto
Kersaning Pangeran kito

Lan malih rukune wudlu
Yoiku enem perkoro
Kang sepisan niat kelawan ati
Kaping pindho masuh rai

Kaping telu masuh astane loro
Kaping papat ngusap sirah
Kaping limo masuh sukune loro
Kaping enem iku tertib

Eling-eling siro manungso
Temenono anggonmu bekti
Mumpung during katekanan
Malaekat juru pati

Moloekat juru pati
Lirak lirik marang siro
Nggone nglirik angenteni
Dawuhe kang moho suci

Cilik cilik diwulang ngaji
Besok gede supoyo ngerti
Agomo islam agomo suci
Sopo ra ngaji awake rugi

Rugi donya ra dadi opo
Rugi akherat bakal ciloko
Sopo wae ra iso mbelo
Kurang bejo mlebu neroko

Emane yen dadi wong sugih
Golek bondho ra wigah-wigih
Barang haram digowo mulih
Neng akhirat bakal ditagih

Eman ugo yen dadi wong mlarat
Akeh dosa neng ra tobat-tobat
Gaweane mung nunggu zakat
Opo maneh yen ora sholat

Eman maneh yen sugih bondho
Pengin opo wae mesti iso
Neng ra sadar kakehan dosa
Suk yen mati bakal ciloko

Emane yen dadi pedagang
Ngalor ngidul dodolan barang
Golek bathi ra kurang-kurang
Neng sholate do arang-arang

Eman uga yen dadi petani
Mengkat esuk ngarap pari
Wektu luhur dilewati
Sholat ngasar nganti lali

Eman maneh yen dadi bakul
Nggowo barang ngalor ngidul
Golek pangan nggo isi wakul
Neng sholate do podo ucul

Paling eman yen dadipejabat
Gaweane mung rapat-rapat
Omong lamis ngapusi rakyat
Opo maneh do ora sholat

Kyai Abdul Basir sempat menyempaikan beberapa topik dengan bait-bait shalawat dengan syair -syair Jawa.. berikut sedikit petikannya:

Hasbunallohwa ni’mal wakkil
Ni’mal mawla wa ni’man Nasir

La haula wala quwata
Ila billahil ‘aliyil ‘adhim

Urip kudu sing ati ati
Amal becik do dilakoni
Golek ridhane kang moho suci
Neng akherat bakale mukti

Karcis swargo kuwi murah
Neng akeh sing podo wegah
Karcis neroko kuwi larang
Sing seneng kok pirang-pirang

Urip saiki kudu waspodo
Godaane werno-werno
Halal haram ra pati cetho
Salah pilih bakal ciloko

Werkudoro gambare wayang
Gatotkoco iso mabur
Ayo konco do sembahyang
bakal slamet neng ngalam kubur

Seperti sepotong lagu yang sempat kami rekam waktu pulang kampung ke Purworejo kemarin
Berikut petikannya :
……..
eling eling siro manungso
kito sedoyo bakale sedo

kito sedoyo bakale mulih
diklambeni sandangan putih
diklambeni sandangan putih

ditumpake kereto jowo
rodo papat rupo menungso

di dusi nganggo banyu kembang
tonggo tonggo podho nyawang
do tangisan koyo wong nembang
do tangisan koyo wong nembang

siro mati bondho ra melu
bojo ayu bejo sing nemu

ning kuburan podho tangisan
ditinggal mati nggrayah warisan
ditinggal mati wegah tahlilan

eling eling siro manungso
ojo podho rebutan bondho

simbah simbah ayo ngibadah
najan umur wis ora tambah
simbah simbah yen ra ngibadah
ning akherat bakale susah
ning akherat bakal dipisah

awit cilik diwulang ngaji
besok gedhe ben dadi santri
ojo seneng ngombeni wisky
opo meneh pil ekstasi
doyan wadon karo maen judi

yen wong urip amale kurang
suk nek mati cemplungke jurang
najan kere amale gedhe
ning suargo dipakani sate
ning akherat dipenak penake

cekap semanten panglipur kulo
tembang kulo tembang wong jowo
menawi lepat nyuwun ngapuro
nyuwun ngapuro kalih nyuwun arto
nyuwun arto gawe tumbas sego

sing maringi , tak dongakke slamet
sing ra maringi , yo kebangeten banget
sing ethok2 turu , tak dongakke slamet
ning sithik wae..

Sangu Pati
July 12th, 2008 by berliana79

Eling – eling siro manungso
Ngelingono anggonmu sholat lan ngaji
Mumpung durung ketekan malaikat juru pati ( Iszro’il )

Panggilane kang moho Kuwoso
Gelem ra gelem bakal di gowo
Den saline sandangan putih
Yen wes budal ra biso mulih.

Tumpakane kereto jowo
Roda papat rupa manungso
Jujugane omah guwo
Tanpo bantal tanpo kloso

Omahe ra ono lawange
turu ijen ra ono kancane
Di tutupi anjang- anjang
Diurug lan di siram kembang

Tonggo – tonggo podo nyawang
Tangisane koyo wong nembang
Yen ngijik ayang- ayang
Pertondho imane kurang

Kelingan dhek emben, ana tembang puji-pujian mengkene;

Eee….sedulur yen wis krungu ana adzan
mlebu mejid ngelingana kuwajiban
sholat sunat aja nganti ketinggalan
tunggu imam sinambi puji-pujian

( ora njur malah padha ndopok nang njero mesjid )

Eeee…..manungsa rukun islam ana lima
syahadat sholat pasa, zakat haji genep lima
sholat iku penting bisa nyegah laku ala
sak jeroning sholat mengku donga warna-warna

aku yo wong jowo asli yang nggak ada bajakanne(sebabbe susah dicopy alias belum dibikin softwarenya)hu hui…. gimana kbar mbak imelda???
bln dpn 4/4 kami mudik ke Jowo dan mau nanggap wayang sekaligus ngundang sinden jepang Mbak Hiromi Kanno.Guyon Maton semalam suntug.

Andum Slamet sedulur.

Waduh mas Jatmiko…..
asyik banget mau nanggap bawa sinden impor lagi
sayang aku ngga bisa ikutan
gimana kabar istri dan anak2?
EM

Mba Imel… baru baca yang ini *hiks*
Pas gw lagi hiatus nih… Kapok ah hiatus2an…

Aku orang Jawa mba. Tapi ga bisa bahasa Jawa karena saya Jawanya sebelah barat, Jawa Barat… 😀

mangkum´s last blog post..Golput di Mata Saya

huehehuee….
mbak, berhubung saya bukan orang jawa, jadi gak bisa jawab kuiz itu 🙂
.-= zee´s last blog ..Cuci Mata ke Sarinah =-.

wah gak nyangka, di jepang ada perkumpulan wayang…

aku 1/2 jawa saja, budaya jawa, yg aku tahu cuma bahasa, tp kalo upacara2 wah.. gak tahu sama sekali
sistem penanggalan jg gak tahu..
gak banyak yg tahu deh ttg budaya jawa
.-= Bro Neo´s last blog ..Arjuna Sasrabahu =-.

Hehehe… kalau gara-gara ngisi kuis itu Mbak Ikkyu San jadi Jawa Tulen, saya turut senang juga. Soalnya, saya yang campuran Jawa – Sunda juga jadi Jawa tulen setelah ikut kuis How Jawa Are You di facebook.
.-= Moh Arif Widarto´s last blog ..Bebasnya Prita, Kemenangan Siapa? =-.

Bener banget Mbak. Seperti halnya manusia, berabad-abad mengagumi bulan, bintang dan matahari. Tapi setelah manusia bisa terbang ke luar angkasa, kita baru menyadari bahwa bumi kita itu indah. Tak kalah indah dari segala keindahan lain yang kita temukan di luar sana.

Wah-wah kuisnya lumayan bagus mnak utk mengasah kepiawaian bhs Jawa. Meski saya sendiri bukan orang Jawa. Sip setuju dgn kalimat terakhir di postingan ini mbak “Yang saya tahu, hutanku adalah Indonesia !”. Cocok & pas banget itu 🙂 🙂 🙂

Best regard,
Bintang

Koq gak muncul jawannya. ?
Kayaknya jawaban saya betul semua !! Hehehe…
Amargi kulo tiyang jawi asli. 🙂
Saking Pekalongan

Matur nuwun mbak yu…

mmm …
kalimat terakhir itu yg qu suka.

sy juga bingung kalau ditanya.
*ortu asli blahblahblah. *lahir di blahblahblah
*berkembang di Jawa, sampai medhoknya masih nyangkut terus.
*selanjutnya sampai sekarang di blahblahblah 😆
salam hangat.
.-= dinda27´s last blog ..my Daddy … =-.

hhahaha……. buat mbak imeeel…

java itu basa inggris,,
artinya jawa mbaaakk..

kalo orang jawa..
javaneese..
kalo jepang kan
japaneese..
hampir mirip.. hhehe..

Saya pengen banget nonton wayang di Jakarta tapi ga sempat2 (alasan, hehe..), ga ada temannya Mba.. menurut teman2 saya tampaknya menonton wayang tidak semenarik menonton di 21, tapi saya kepengen sekali, sekali2 saja, sebab itu budaya Indonesia..

Aku gak kuat baca semua komentar hehehe…
Jangan lupa Melda, kamu gede di Tarakanita…gudangnya guru-guru Jawa…ga salah lah kalau kamu berubah jadi Jawa hahaha…Terus masih dipupuk terus di Jakarta yang masih juga dominan Jawa (eh di Tokyo malah ketemu Ki Manteb hahaha…) Gedenya di zaman the smiling general…klop deh!

Tapi teman SMAku yang Batak kuliah di Bandung eh jadi Sunda lho…hehehe…kayaknya paling tepat memang hutan Indonesia itu…warna-warni apapun, termasuk dari Jepang…tetap cinta sang akar…

saya pernah nonton pertunjukan wayang di jepang dalangnya Ryoh Matsumoto… ternyata banyak juga anak muda yang menyukai wayang, harga tiket waktu itu ( th 2002 ) 3500 yen di cafe di shibuya

walah mbak susah jawabannya 🙂
mbak Imelda akhirnya saya bisa masuk ke blog ini lagi setelah beberapa lama selalau error. sempat tanya pakde,kata pakde clear historynya. sudah saya clear tetap tidak bisa. akhirnya saya download Chrome baru deh bisa. seneng guling-gulingan hehehe lebay ya

Huehehe, aku orang Jawa, berbahasa Jawa tapi gak bisa jawab kebanyakan soalnya :p
Wah aku terharu baca yang tentang Riku mau jadi orang Indonesia. :’)

aku juga dikira orang jawa ma temen2 sampai akhirnya mereka memanggilku dengan nama djawa hingga sekarang., padahal aku orang sunda tulen., cuma dulu sering gaulnya ma orang jawa, jadi dikira sama hehe., tapi aku bangga juga dengan nama Djawa itu yang sudah melekat denganku hampir 25 tahun yang lalu hingga sekarang, makanya aku paki nama itu buat apa saja hehe.,

beberapa ada yang gak bisa saya jawab ..
Walau tinggal di Surabaya saya berasal dari Barat sehingga masih ada beberapa yang tidak saya ketahui **ngeles dikit wkwkwk
Kesimpulan akhirnya saya suka banget mbak.
Trims.
Dan terima kasih juga bukunya sudah sampai.
Salam hangat selalu 🙂

hehehe iya lah namanya aja Yayat, jadi orang Barat tuh 😀
Sama-sama, semoga bukunya berguna
EM

yah begitulah…banyak sekali profesor2 jebolan UGM .malah mengajar kebudayaan yang ada di Indonesia ke :uar Negeri karena Prof di Indonesia tidak di anggap dan tidak di hargai dari segi Bayaran

Mbak Imel, saya dan istri juga sering ditanya suku. Akhirnya kita pilih suku aja. Di gen istri ada gen Arab,Palembang, China, Portuguese dan saya Jawa dan China. Saya sering di tanya oleh customer, temen dan bahkan orang Malaysia yg duduk sebelahan di pesawat apa saya punya darah China? Karena Muka saya jawa engga jelas, tapi klo China kok item. Anak2 saya kalau ditanya jawab nya Palembang Jawa. Padalan dari kecil tinggal di Cimanggis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :