Tega dan Tegas

Jumat lalu aku ada kelas mendadak di Meguro, sehingga sejak Kamisnya aku pikirkan bagaimana cara yang enak pergi bersama ke dua anakku. Tadinya sih mau seperti biasa naik mobil karena Gen tadinya mau ambil cuti. Tapi karena banyak kerjaan yang pending, akhirnya dia batalkan cutinya dan harus ke kantor. Kebetulan Riku tidak sekolah karena karantina (gakkyu heisa) sehingga bisa pergi lebih cepat dari biasa yaitu pukul 2 siang. Kebetulan juga kedua mertuaku sedang ada urusan di Shinjuku, sehingga bisa janjian bertemu di Shibuya. Aku menyerahkan ke dua anakku di Shibuya pukul 4 sore, lalu aku pergi mengajar. Dengan rencana pulangnya akan menginap di rumah mertua.

Karena masih ada banyak waktu, aku menghabiskan waktu (sekaligus makan malam) dengan pergi ke sebuah toko roti. Aku memang lebih suka roti daripada nasi, dan aku pilih bakery ini karena ada paket tabehoudai, makan all you can eat dan all you can drink. Aku tidak tahu apakah di Indonesia sekarang sudah ada all you can drink? Kalau di restoran keluarga di sini, sudah banyak yang menerapkan all you can drink dengan nama “drink bar” seharga 190 yen (Rp 19rb)  jika sudah pesan makanan. Minuman yang tersedia biasanya bermacam teh, bermacam kopi, bermacam jus dan soft drink. Murah kalau mengetahui 1 kaleng soft drink di sini harganya 120 yen.

(kiri) Roti all you can eat dan (kanan) Drink Bar di sebuah restoran keluarga.

Setelah selesai mengajar, cepat-cepat aku pulang ke rumah mertua. Memang rumah mertuaku ini jauh lebih dekat daripada aku mesti pulang ke apartemenku sendiri. Tapi aku tak bisa pindah ke rumah mertua, karena lokasi kantornya Gen akan menjadi jauh sekali. Untuk saat ini kami tidak mau punya keluarga yang terpisah. Naik kereta 30 menit dan naik taxi 15 menit, sampai deh. Aku maksa naik taksi karena…aku mau cepat-cepat sampai rumah, karena ada satu pekerjaan mendadak yang harus selesai sampai pukul 12 malam itu. Berarti aku hanya punya waktu 2 jam. Kasihan juga jadinya begitu aku sampai rumah, langsung buka komputer dan konsentrasi bekerja. Padahal bapak ibu mertuaku sudah menungguku untuk minum bareng. Tapi karena aku buru-buru begitu ya mereka maklum.

Nah saat itulah terjadi peristiwa besar bagi Kai. Kai yang memang sedang keras kepala, sedang dalam masa perlawanan , memainkan pegangan lemari hingga copot. Memang bisa diperbaiki, tapi …. maunya kami, dia minta maaf atas kesalahannya. Tapi dia tidak mau minta maaf, tidak mau mengaku bahwa dia yang membuat copot pegangan itu. Langsung deh kena kuliah bapak dan ibu mertuaku. Dimarahi! Tapi… dia tetap keras kepala tidak mau berkata apa-apa bahkan melihat seperti menantang…. Aku terus menghadap komputer meskipun aku mendengar mereka memarahi Kai. Tapi aku pikir, aku tidak mau ikut campur. Misalnya aku datang pada Kai, Kai akan mengharap aku mendukung dia. Padahal aku sedang sibuk, dan aku tidak mau mendukung Kai. Aku juga akan marah…. tapi aku sedang sibuk dan saat itu aku benar-benar tidak bisa marah. Pasti aku akan berkata, ya sudah… mama mau kerja dulu! Dan itu bukan jalan yang baik. Jadi… aku TEGA untuk mendengar kedua mertuaku memarahi Kai dan berharap mereka bisa mengubah sifat Kai yang keras itu. Akhirnya…. bapak mertuaku membawa Kai ke kamar mandi yang gelap. (Aku jadi teringat dulu waktu aku kecil dan nakal juga pernah dimasukkan ke gudang oleh mama, dan aku takut sekali, sampai aku minta maaf terus serta tidak mengulang kesalahan yang sama).

Akhirnya setelah meraung-raung dan akhirnya minta maaf, Kai dikeluarkan dari kamar mandi gelap itu dan bapak mertuaku memeluk Kai dan menjelaskan tindakan itu, kenapa dan apa tujuannya. Kai mengerti dan semua memuji Kai. Aku masih terus bekerja di kamar tamu yang sama. Kai mendatangiku dan aku puji dia, tapi aku bilang, “Maaf Kai mama kerja dulu ya. Kai bobo sama kakak ya”.

Jam 12:00 pekerjaanku selesai. Semua sudah tidur. Aku pun merasa lega pekerjaan selesai, dan masalah Kai yang  stubborn selesai dengan baik. KETEGASAN bapak mertuaku membuahkan hasil yang positif. Karena setelah itu, kami tinggal mengulang cara bapak mertuaku, dan Kai langsung mengerti (Setelah kembali ke rumah, kami sudah 1 kali masukkan dia ke WC gelap hehehe. Untung dia langsung minta maaf). Dan keesokan paginya, aku mengucapkan terima kasih kepada ibu mertua yang sedang menyapu di dapur. Lalu ibu mertuaku berkata, “Maaf ya Imelda, kemarin kami memarahi Kai. Kamu pasti tidak tega mendengar kami memarahi Kai waktu sedang bekerja”
“Oh tidak apa-apa. Malah saya merasa bersalah seakan membiarkan saja. Soalnya kalau saya ikut campur, nanti Kai merasa ada pendukung. Saya malah mau kalau Kai dititipkan di sini 1 minggu supaya dia bisa belajar 😀 Saya justru berterima kasih ”

Untuk mendidik anak memang harus TEGA dan harus TEGAS. Kalau salah ya salah, kalau benar ya benar. Jangan berubah-ubah nanti anaknya bingung. Tapi selama bapak ibu mertuaku memarahi Kai, mereka juga menegur Riku yang “baik” terhadap Kai. Memang Riku terlalu baik pada Kai :D, sehingga Kai sering berani melawan Riku.

 

 

61 gagasan untuk “Tega dan Tegas

  1. @zizydmk

    Aku juga pusing mengajarkan ketegasan pada Vay. Pernah aku letakkan dia di pojok tapi malah menangis kencang sampai jerit2…
    Kalau dikurung di kamar misalnya (padahal kamarnya gak gelap) dia pun menjerit… serba salah ya. Aku taku anak trauma kalau dikurung begitu….
    Harus TEGA. Duuh… kalau Opungnya sih jelas gak tega ama cucunya.

    Balas
  2. nique

    jadi salah lagi Riku ya mba 😀
    tapi apa Riku protes dipersalahkan karena bersikap manis sama adiknya?
    Iya sih, klo Riku banyak mengalah, padahal maksud Riku baik ya, agar tidak heboh karena adiknya menangis atau bertengkar, bisa2 Kai jadi keras kepala, merasa bakal diturutin terus maunya. Semoga apa yang diajarkan ibu bapak mertua membekas dan Kai ingat selamanya. Semoga juga, bertambahnya nanti umur Kai, berubah pula tabiatnya yang keras. 🙂

    Balas
  3. Clara

    Saya ga pernah dimasukkan dalam kamar gelap, soalnya ga ada yang takut, hehehe… tapi kena pukul dulu sering, pake rotan lagi (maklum Mama Batak tulen, jadi keras banget), adek nomor 2 yang paling nakal. Kata orang menghukum dengan memukul itu salah, tapi saya sendiri merasa ga ada masalah sih sampe sekarang. Mba EM, jangan2 phobia ruang sempit dan gelap gara2 dulu dihukum kaya Kai itu ya? (sok teu banget ya :p)

    Balas
  4. Farijs van Java

    Hwaaaaa… Sepertinya enaaaaak… 😀

    Wah, berat juga tuh mengajari anak kecil untuk berani bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya. Barangkali memang cara yang demikian yang cocok untuk mengajari Kai. Harus tega dan tegas memang, Bu. Hwehe. 😀

    Balas
  5. niee

    semuanya demi untuk kebaikan ya.mbak.. klo dibiatin terus nanti anak anak akan manja yg tidak.pada tempatnya.. walaupun merasa kasihan.. kita memang harus tega..

    Balas
  6. ita

    Senangnya punya bapak dan ibu mertua seperti itu.
    Saling mendukung.
    Kalo ortuku ini yg rada payah.susah banget terima kalo aku sedang tegas sama anakku. Jadinya ya gitu deh. Kacau semua 🙁

    biasanya kakek nenek memang penghancur disiplin yang diterapkan oleh orang tua. dan aku beruntung punya ortu dan mertua yang tetap disiplin
    EM

    Balas
  7. DV

    Di sini mungkin aku agak berbeda.. tak apa-apa kan 🙂
    Bagiku, sebisa mungkin anak dimarahi oleh orang tuanya langsung, kalaupun ia nakal ke orang lain, si orang lain itu hanya berhak bilang keberatan ke kita…

    Bukannya kenapa-kenapa, mungkin karena aku masih ‘baru’ jadi ortu maka kalo dengar anak dimarahi orang lain rasanya gimanaaa gitu..

    Lagipula dengan begitu at least bikin kita semakin lebih aware terhadap kenakalan2 anak yg mungkin tak kita sadari sebagai sebuah kenakalan…

    my two cents…

    tentu saja kalau ada kesempatan wkt itu aku akan marahin langsung, tapi aku punya deadline 2 jam yang tidak bisa ditunda. Sedangkan untuk memarahi Kai tidak bisa dgn 5 menit saja. Dan… aku tidak menganggap mertuaku orang lain sih. Ortuku sendiri tidak ada di Jepang kan. Kalau ada apa2 denganku (sakit atau mati) anak-anakku ya harus dididik mertuaku. Jadi mereka juga berhak memarahi jika memang tepat. Kalau mereka tidak memarahi padahal harus memarahi, apa jadinya nanti jika anak-anakku tinggal dengan mereka? Sekarang anak-anakku sayang sekali pada opa-omanya ini, dan maunya setiap minggu ke sana. Mereka yang minta loh, bukan aku ajak/suruh.

    EM

    Balas
  8. vizon

    Setuju banget dengan hal ini; TEGA dan TEGAS..
    Ada pepatah Minang yang kira-kira bunyinya begini:
    “sayang ka anak dilacuik-lacuiki”
    artinya lebih kurang, kalau sayang kepada anak, pukullah ia.
    Maksudnya adalah, kita harus tega dan tegas kepada anak, jika memang dia salah. Namun sebaliknya, kita harus banjir pujian jikalau ia baik..

    Terlalu banyak dipuji, tidak pula baik
    Dan terlalu sering dipersalahkan, juga sangat tidak baik
    Maka, bagi anak harus seimbang antara reward and punishment..

    Nechan.. aku salut sama bapak ibu mertuanya Nechan, yang tetap tega dan tegas terhadap cucunya. Biasanya, anak kalau sudah sama kakek neneknya akan ngelunjak, karena cenderung dimanja, tapi Kai justru tidak mendapatkannya. Itu menurutku sangat baik..

    Duh, jadi kepengen ketemu mereka deh, hehe… 🙂

    Balas
    1. Necky

      uda….sangat-sangat jarang di Indonesia seorang nenek/kakek memarahi cucunya. Sekalipun ada belum tentu sang orang tua bisa memaklumi kayak mbak EM. Situasi dan kondisi yang sulit bisa terjadi di Indonesia nih…

      Balas
  9. nique

    btw, mba, kira2 sekolahnya Kai jauh ga klo dari rumah ibu-bapak mertua? dan klo mo dititip, apa Kai mau pisah sama mama, terutama pisah sama Riku? Hehehe …

    sekolahnya? jauuuh 1,5 jam 😀
    ngga bisa dititip. pernah waktu Kai bayi aku harus kerja 2 kali seminggu, setiap kamis atau jumatnya ibu mertuaku datang ke rumahku, jagain Kai. Hari lainnya aku titipkan ke penitipan dgn bayar mahal. Kalau dua hari aku titipkan bisa bangkrut aku soalnya. Ibu mertuaku rela tuh tiap minggu datang jauh2 dari pagi 🙂
    EM

    Balas
    1. Necky

      extended family…..(kakek, nenek atau saudara) sangat dibutuhkan oleh ibu yg bekerja apalagi di Indonesia saat ini untuk mencari asisten sudah sangat susah banget lho

      Balas
  10. nique

    seringnya begitu ya mba klo mama bekerja, aku punya temen yg gitu tuh, jadi weh ribut terus sama si bapak, karena peraturan ketat dari bapaknya mental sama sikap emaknya yang ga tegaan sama anak. apalagi klo anaknya sudah merengek. langsung deh luluh 😀

    klo drink bar, kayaknya blom ada deh mba. soalnya mereka lebih banyak dapat untung dari minuman kan. bayangin aja air mineral yg modalnya cuma rp1000 dijualnya 10.000??? blom lagi softdrink lainnya, jd kecil sih kemunginkan ada program all u can drik 😀

    Balas
  11. elvira157

    bisa jadi bahan referensi juga buat diriku pribadi nanti kalo punya anak. Cerita yang menarik mbak. TEGA dan TEGAS tapi tidak sampai membuat anak jadi merasa bahwa kita adalah orang tua yg kaku dan tidak demokratis. Kudu pinter-pinter ngambil strategi memang.

    Salam kenal 🙂

    Balas
  12. marsudiyanto

    Jaman saya kecil, langganan dikunci dilumbung padi…
    Bisa seharian didalamnya…

    Kalau ingat hukum menghukum cara itu, saya ingat kejadian yg dialami bapak saya.
    Bapak saya guru kayak saya, guru SD.
    Salah satu muridnya adalah sepupu saya (=keponakan bapak saya)
    Karena melakukan kesalahan, sepupu itu dimasukkan ke WC sekolah dan dikunci oleh bapak saya.
    Dan saat pulang sekolah, bapak saya lupa.
    Setelah malamnya ramai orang2 pada nyari, bapak saya baru keinget kalau ngunci keponakannya di WC…
    Setelah kejadian itu Bapak saya didiamkan oleh orang tuanya yg tak lain adalah kakak bapak saya sendiri…
    Ndiamkannya ada sampai sebulanan… 😀

    Balas
  13. Fatmasnow

    Saya setuju banget kalo dikurung di tempat yang gelap ampe dia minta maaf, soalnya saya juga dulu badung dan hobby di hukum ma ortu, tapi sampai sekarang juga ga apa-apa. Beda banget ama hubby nich yang ama ortunya nurut terus jadi ga pernah dihukum,,makanya kalo lihat the nanny pasti protes and said “Aku ntar pokoknay kalo jadi bapak ga bakalan naruh anak di naughty cair ataupun mengurung anak apalagi mukul” Kalo dah gini yang bingung pasti saya mbak,,, solusinya gimana ntar kalo kasih ketegasan buat si anak jika hubby dan saya sudah berseberangan pemikiran…

    Balas
  14. deindra

    setuju sekali, mendidik anak kadang kadang memang harus disertai dengan TEGA dan TEGAS biar anak belajar disiplin dan bertanggung jawab…btw, salam kenal.

    Balas
  15. chocoVanilla

    Kalo ortu atau mertuaku sih gak tegaan, BuEm. Malah disiplin jadi berantakan. Misal aku melarang anak-anak makan mie instan, eh Eyang atau Neneknya bolehin 🙁

    Kalo tegas aku sih lumayan, tapi kalo tega kayaknya nggak 😛

    Balas
  16. anderson

    Tulisan menarik…sangat menarik.
    Dulu, waktu Alif anak pertama saya mulai nakal, mamanya lah yang lebih keras dan sering memarahi. Saya sering mengerem kemarahan itu, yang belakangan malah jadi bumerang ke saya. Alif selalu cari perlindungan dari saya kalau lagi berbuat salah. Disaat bersamaan,Alif lebih berani menentang saya dan lebih takut ke mamanya. Saya ingin tegas tapi nggak tegaan. Jadinya Team Work saya dengan istri kurang berjalan dan saya yang salah ambil posisi. Sekarang, kami udah komitmen untuk satu sikap menghadapi anak dan alamdulillah, Alif udah nurut sama kita berdua…

    Salam, Mba Imelda

    Balas
  17. Bibi Titi Teliti

    mba Imeeeeeeel…
    memang sih aku mengalami ada sedikit perasaan gak tega *dan gak rela* kalo anak kita dimarahin orang lain….

    Kadang aku dan abah suka main good cop, bad cop gitu mba…hihihi…
    Dan biasanya sih aku yang selalu kebagian jadi bad cop nya *ya iya lah*

    walopun keputusan tetap tidak berubah, tapi minimal Kayla dan Fathir punya tempat berlindung setelah aku omelin…hihihi…

    Balas
  18. Monda

    Kai Itu udah dewasa banget ya. Pengalah.

    Kalau sulungku dulu masih kecil protes kalau adiknya dimarahi, kasihan katanya.
    Sekarang malah sering adu mulut.

    Tegas itu harus, terutama si bungsu yg suka kolokan

    Balas
  19. giewahyudi

    Kadang saya juga mampir ke Holland Bakery untuk nyicipin roti-roti kalau lagi males makan besar.
    oo..gitu ya, jadi harus tega dan juga tegas, biar anak-anak enggak plin-plan nantinya..

    Balas
  20. Kaget

    Inget waktu kecil, tapi dulu saya membakar kelambu yang hampir menghanguskan rumah tetangga sebelah. begitupun tak mau minta maaf. Dan langsung keluar rotan segede jempol 🙁

    Balas
  21. Dewifatma

    Jadi ingat sebuah acara televisi tentang cara menghadapi anak yang ‘nakal’ begitu. Aku jadi belajar banyak dari situ. Tapi bagiku tetap susah untuk bersikap TEGA dan TEGAS..huhu…
    Kadang kalau aku tegas, neneknya nggak dukung.. Payahlah..

    Enaknya punya mertua kayak mertua Mba Imel ya… 😀

    Balas
  22. Necky

    mbak EM….ini kejadian sudah pernah saya lakukan sama anak saya yg paling besar tp akalnya top markotop. Pernah saya masukkan kamar mandi dan matikan lampunya tapi dia teriaknya takut ada setan…..tadinya saya diamkan saja tapi pas teringat saat itu menjelang malam (sekitar maghrib) dan tempatnya udah sering banget yg kesurupan….tentunya saya langsung bergegas untuk ngeluarin dari kamar mandi.
    Setelah agak tenang kemudian saya bertanya sama si nedia….memangnya tadi dia liat apa? mau tahu jawabannya??………sambil senyum2…dia bilang ga lihat apa2….saat itu umurnya masih 31/2 tahun….

    Balas
  23. Gusti 'ajo' Ramli

    Sepakat bu Melda…. Tega dan Tegas adalah dua hal yang musti dilakukan untuk memberikan pelajaran yang lebih baik pada anak… Banyak, diantara ibu-ibu yang tidak tega menghukum anaknya jika salah..

    Balas
  24. Una

    Wah asik banget ada tempat all you can drink.
    Perlu tega juga ya buat menyadarkan anak.
    Itu kakeknya Kai baik banget, sampai minta maaf ke Mbak Imelda hehe ^^

    Balas
  25. advertiyha

    Didikan keren dan perlu dicontoh nih mbak,, tapi aku ini orangnya gak tegaan, hiks…
    mungkin akan bisa nanti2nya, sekarang sih masih disayang2 aja, wong masih bayi,,heheheh,,,
    Tega dan Tegas untuk pelajaran ke arah yang baik, kurasa itu bukti kasih sayang ya mbak… 🙂

    oh iya mbak, OTT, mohon berkenan nulisin Kesan Pesan untuk blogku Keajaiban Senyuman, kalo sempat kirim ke message FB atau emailku ya mbak, hari ini 11 Feb, blogku 2 th, ghehe…
    trims b4 mbak…

    luv U..

    Balas
  26. embung

    saya juga punya anak gadis kecil berumur 3 tahun, sedang dalam masa pertumbuhan dan seringkali frontal. anak saya suka memukul, habis badan saya di pukulnya. jika di marahi dia juga menantang. saya risau tapi dalam setiap kesempatan saya dan suami selalu menasehatinya agar jangan memukul. pernah tantenya sakit hati karena dipukul. langsung pulang. saya terasa hati juga. sampai saat ini kebiasaannya memukul orang terus berlanjut. membaca tulisan mbak. saya jadi berfikir apakah anak saya juga bisa lebih membaik ketika di kurung dalam ruangan ya… saya rasa perlu di coba. salam kenal dari embung

    Balas
  27. nh18

    Betul EM …
    dan satu lagi kuncinya adalah … harus seimbang …
    kalau ada yang baik yang dilakukan oleh anak-anak … kita pun harus segera memberikan pujian … komplimen … bahwa yang dilakukan itu baik sekali …

    Salam saya EM

    Balas
  28. Lyliana Thia

    Aku jg lg belajar tega dan tegas sm anak nih mbak.. Nggak mudah memang.. Yaaah, ada yg bilang anak jgn dimarahi atau dilarang2.. Tp mnrt aku itu ajaran yg salah.. Aku lebih memilih ajaran spt nenekku dulu.. Dipukul tp dosisnya dikurangi.. Hehehe.. Just to let her know it’s wrong..

    Balas
  29. Pengumpul Cerpen

    Terus terang saya belum pernah menghukum cucu seperti itu. Hanya Dita yang pernah saya jewer kupingnya.
    Salut kepada opa/oma Kai.

    Salam hangat dari Surabaya

    Balas
  30. edratna

    Duluu…anak saya suka menangis terus menerus tanpa jelas apa kemauannya. Pernah dihukum, ditaruh di teras, lampu dimatikan…ehh tetap menangis. Dan nggak berani lama-lama karena takut masuk angin. Entah kenapa tak terpikirkan untuk dimasukkan ke kamar mandi.

    Soal menghukum dimasukkan ke kamar mandi ini ada kejadian lucu. Teman sekolahku sangat bandel, suatu saat dia dihukum dimasukkan ke kamar mandi. Apa yang terjadi? Dia menutup saluran pembuangan dengan sabun dan mengocorkan air keran..hasilnya air membanjiri rumah…hehehe. Tapi teman ini sekarang sudah Prof Dr.

    Balas
  31. Agus Siswoyo

    Tega dan tegas memang bedanya tipis banget. Bahkan untuk hal-hal yang sifatnya individu, keputusan harus dibuat dengan ketegasan. Untuk urusan hati pun, kita harus tegas agar hati kita memiliki ketegasan dalam pilihan hidup. Hiks!

    Balas
  32. krismariana

    jempol deh untuk mertua mbak imelda. yang sering terjadi kan nenek-kakek memanjakan cucu-cucunya. aku pikir anak-anak memang perlu ditegasi. (cuma aku kadang nggak ngerti, seberapa sih batas ketegasannya?) soalnya aku sering lihat ada anak-anak yang kurang ajar. kupikir itu karena cara mendidiknya yang keliru deh. *eh, sok tahu deh aku hahaha.*

    Balas
  33. priskila

    hahahaha aku dulu nuakaaaaaal daaaaan keras kepala 😀 dpt hukuman nya cuci baju ndiri ama setrika ( mpe sekarang benci kalo setrika LOL ) dulu suka ngedumel kalo di hukum tapi pas jauh dari rumah kerasa manfaatnya jadi bisa cuci sendiri dan setrika hahahha…

    Balas
  34. tayusani yuza

    Sepertinya aku juga mungkin suatu hari kalo punya anak harus tega dan tegas 🙁 meskipun aku juga di didik nggak tegas2 amat sama ortu jadi beginilah nggak terbiasa menghadapi situasi yang keras.. malah nggak bisa ngebedain antara tegas dan galak

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *