Pembacaan

Agak sulit aku menerjemahkan Roudoku 朗読 dengan pendek. Karena seharusnya “Membaca dengan Bersuara dan Penghayatan” tapi bukan deklamasi, dan tidak melulu mendongeng. Untuk puisi memang di Indonesia kita kenal “Pembacaan Puisi. Tapi selain puisi? Misalnya cerita pendek  dan dongeng mungkin di Indonesia tidak ada yang membacanya dengan suara, ritme dan penghayatan yang bagus ya? Sekali lagi ingin aku tekankan bahwa yang dimaksud Roudoku ini BUKAN drama radio dengan pergantian peran, TAPI biasanya satu orang (artis) membacakan satu cerita dengan penghayatan. Tentu saja bisa mengubah suara untuk peran yang timbul dalam cerita itu. Ya, seperti dalang tanpa memainkan wayang 😀

Aku teringat ingin menuliskan tentang Roudoku ini, waktu aku menonton acara TV yang berjudul “100Yen Map”. Ceritanya personil SMAP Katori Singo dan 3 temannya, dalam program naik bus dan turun di halte yang ditentukan, lalu dengan budget 100 yen perorang membeli sesuatu di sekitar situ. Salah satu “perhentian” mereka adalah Roudoku Koya 朗読小屋 yang merupakan tempat berlatih Roudoku. Di situ orang-orang yang berminat berkumpul dan berlatih bagaimana mestinya membaca yang bagus dengan penghayatan. Saat itu Katori Singo berempat membacakan sebuah cerita dongeng tentang rubah Kitsune Gongon (aku lupa judul aslinya) dan sangat bagus. Sasuga artis semua!! Mereka tanpa latihanpun bisa menjiwai peran dari dongeng itu.

Tapi sebetulnya sebelum aku mengenal Roudoku profesional yang banyak muncul di TV, aku sering kagum pada kemampuan suamiku membacakan dongeng pada Riku waktu Riku kecil. Cerita yang panjang bisa dibacakan dengan penghayatan menjadi semacam sandiwara satu orang, dan aku pun ikut mendengarkan. Riku beruntung bisa banyak mendengar cerita dongeng dari papanya dibandingkan Kai. Waktu Kai lahir Gen sangat sibuk sehingga hampir setiap malam aku saja yang mendongeng untuk Kai. Dan aku tidak sepandai Gen membacakan dengan penghayatan. Abis, kalau ceritanya panjang susah juga sih menghayatinya. Sepintar apapun aku berbahasa Jepang, sulit untuk membaca tanpa latihan dulu sebelumnya. Karenanya Kai sangat senang kalau papanya pulang cepat dan bisa membaca sebuah buku tentang Seorang Cerdik dari Kyushu (aku nyerah membaca buku ini karena dialek kyushu yang kental sulit untuk dibaca).

Kalau dipikir-pikir cukup banyak orang Jepang bisa membaca Roudoku mungkin karena mereka sering berlatih. Sejak SD, anak-anak diwajibkan untuk ONDOKU 音読, membaca dengan suara keras (tidak perlu penghayatan) bacaan dari buku pelajaran Bahasa Jepang Kokugo 国語. Hampir setiap hari mereka harus membaca dan kami orang tua HARUS mendengarkan dan memberikan paraf pada kertas laporan. Jika membaca dengan benar, otomatis murid-murid bisa menjawab pada ulangan/test bahasa. Dan terus terang dulu, aku sering skip tidak mendengarkan dengan perhatian pada apa yang dibaca Riku karena terlalu sibuk mempersiapkan makan malam atau sarapan. Riku juga dengan sengaja memilih waktu Ondoku itu pada saat aku sibuk. Tapi akhir-akhir ini karena aku cukup banyak waktu karena kuliah semester genap di universitas sudah selesai, bisa konsentrasi mendengar Riku Ondoku. Melakukan pembacaan. Satu cerita biasanya sekitar 10 hari sampai 2 minggu, dan 3 cerita terakhir benar-benar menambah pengetahuanku sendiri. Tentang Kanji, dan sebuah monogatari (cerita) yang cukup panjang!

Kertas laporan Ondoku yang harus dilakukan (dan didengarkan) setiap hari… tugas sebagai orang tua

Bulan April nanti aku akan tambah sibuk lagi harus menyediakan waktu untuk mendengarkan Ondoku dari Riku yang menjadi kelas 6 dan Kai yang menjadi kelas 1 SD. Kai sendiri sudah cukup lancar membaca dongeng setiap malam sekitar 3 halaman. Memang merepotkan, tapi aku senang sekali jika membayangkan hasilnya… membantu kelancaran membaca, menghafalkan kata-kata baru dan mungkin kelak Riku dan/atau Kai bisa menjadi pembaca Roudoku yang berbobot.

8 thoughts on “Pembacaan”

  1. aku membayangkan “roudoku” itu seperti ketika aku menyaksikan seorang artis membacakan cerpen. waktu itu yang kutonton pembacaan cerpen oleh Landung Simatupang. menurutku, itu keren banget. setahuku, pas pelajaran Bahasa Indonesia di sini juga tidak dilatih untuk membaca dengan penuh penghayatan. sebetulnya bagus ya itu. aku jadi kagum pada budaya Jepang dalam hal ini.

  2. mBak EM, sangat menarik untuk berlatih ketrampilan Roudoku. Saya bayangkan ada tahapan memahami, menghayatinya jadi milik pribadi sehingga bisa melafalkannya dengan intonasi yang berbeda dan tepat untuk setiap karakter yang hendak digambarkan.
    Dan selaku orang tua kini mBak EM menjadi pendengarnya Riku dan Kai ya.
    salam

  3. aku jadi teringat waktu lihat pameran sastra Betawi…, ada pembacaan cerita.., mungkin mirip ya.., karena pembacanya juga bisa berubah2 peran

    kalau nggak salah di Aceh namanya didong, di Lampung juga ada,

    jaman dulu itu memang belum banyak orang Indonesia yang bisa baca, jadi ada seniman yang profesinya membacakan cerita, sastra lisan ya istilahnya

  4. “Membaca dengan Bersuara dan Penghayatan”

    bukan deklamasi … bukan baca puisi …

    Saya rasa di Indonesia sudah ada … membaca komen-komen yang sebelumnya juga berkata demikian …
    Dan jika membacakan dongeng bisa dimasukkan kedalam Roudoku …
    maka … saya tau ada beberapa orang yang keren disini… salah satunya adik kelasmu … Poetri Soehendro … penyiar favorit saya … di bisa membaca dongeng dengan baik sekali …

    Pementasan Monolog bisa masuk Roudoku ? … Ada juga tuh beberapa yang jago.

    Sepertinya asik juga ya … membaca cerpen … dengan penuh penghayatan …

    Dare to try ? Aku sih dare dare ajah … hahaha … !

    Salam saya EM

    (8/3 : 11)

  5. satu saat dulu , aku pernah mendengarkan sebuah dongeng yang khusus dibacakan oleh seseorang yang dianggap mampu untuk “menghidupkan” kisah yang dibacakannya …
    antra lain di daerah Aceh, Ranah Minang dan Medan…

    seperti yang Bunda Monda katakan, kegiatan inilah yang disebut sebagai sastra lisan…
    Apakah kira2 sama ya dengan Roudoku yang di Jepang ,Mbak EM ?

    salam

Komentar ditutup.