Arsip Kategori: Language

Hari Penerjemah Internasional

Aku baru tahu ada hari penerjemah Internasional ketika membaca status temanku, Charity. Sasuga penerjemah tersumpah Bahasa Jepang- Indonesia! Tapi Imelda tidak bisa berhenti sampai di: “Oooo ada toh hari penerjemah? ” Tentu aku jadi ingin tahu kenapa tanggal 30 September ditetapkan sebagai hari penerjemah internasional.

Berkat googling kudapati bahwa : International Translation Day is celebrated every year on 30 September on the feast of St. Jerome, the Bible translator who is considered the patron saint of translators. The celebrations have been promoted by FIT (the International Federation of Translators) ever since it was set up in 1953. (wikipedia)

Lalu kucari dalam bahasa Jepang, apakah penerjemah Jepang ikut merayakan hari peringatan penerjemah internasional itu, dan ternyata tidak! Memang sepertinya gaungnya lebih pada penerjemahan dari dan ke bahasa Inggris.

Tapi yang pasti dari yang pernah kudapat selama kuliah dan hidup di Jepang selama 22 tahun ini, Jepang bisa maju juga karena peran penerjemah! Meiji awal banyak diterbitkan buku terjemahan dan bisa disebutkan Futabatei Shimei sebagai pelopornya. Dia menerjemahkan buku “Aibiki” dari bahasa Rusia karangan Ivan Turgenev Ивáн Серге́евич Турге́нев、ke dalam bahasa Jepang. Selain itu ada nama Mori Oogai yang seorang dokter yang banyak menerjemahkan buku-buku bahasa Jerman. Sampai-sampai disebutkan bahwa kesustraan jaman Meiji merupakan kesusastraan terjemahan!

Dari sebuah sumber diketahui bahwa sampai dengan tahun ke 15 Meiji (1882), ada 1500 buku terjemahan hampir 15% dari buku yang diterbitkan di Jepang. Sebuah jumlah yang menurutku cukup besar untuk kondisi pada jaman itu. Dan buku-buku terjemahan itu sedikit banyak membantu modernisasi Jepang.

Sekarang memang kemampuan bahasa Inggris sudah menjadi syarat untuk setiap orang di dunia. Untuk mengglobal katanya. Tapi masih ada bidang-bidang yang masih sulit dimengerti masyarakat awam sehingga peran penerjemah masih (sangat) dibutuhkan. Itu untuk bahasa Inggris, padahal dunia itu luas. Untuk mengetahui kebudayaan dan kemajuan negara-negara lain, tentu masih diperlukan orang-orang yang menguasai bahasa negara-negara tersebut.

Salah satu profesiku memang penerjemah, tapi itu kalau ada permintaan dalam bentuk pekerjaan. Di luar pekerjaan, sering aku menemukan artikel atau tulisan yang bagus, yang ingin sekali kuterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tapi sering kali  tidak ada waktu untuk mengerjakannya, atau tidak ada kata-katanya yang tepat untuk menggambarkan maksud tulisan aslinya. Di blog ini, ada beberapa terjemahan picture book, cerita anak, syair lagu dan puisi. Akhir-akhir ini aku juga menulis sedikit pemikiran tentang Jepang berdasarkan artikel bahasa Jepang yang tidak bisa aku terjemahkan semua (karena kurang waktu) di sini. Semoga ke depannya aku masih ada waktu untuk menerjemahkan tulisan-tulisan menarik lagi di sini ya.

Sebagai penutup aku ingin mengucapkan selamat bekerja untuk teman-teman penerjemah, termasuk sempai Charity, my dimple sister Sanchan, dan narablog Krismariana.

Kanji of The Year : 2012

Setiap akhir tahun di Kuil Kiyomizudera diumumkan Kanji untuk tahun yang baru berlalu. Biasanya kanji yang dipilih melambangkan apa yang terjadi di Jepang selama satu tahun, selama 2012. Kalau pada tahun 2011 dipilih kanji KIZUNA 絆、yang berarti ikatan, hubungan,  yang terutama terasa sekali setelah terjadi gempa bumi Tohoku tanggal 11 Maret 2011. Sedangkan pada tahun 2012 kanji yang terpilih adalah kanji 金 yang dibaca KIN berarti emas. Karena pada tahun 2012 ada gerhana matahari yang dinamakan Kinkan Nisshoku 金環日食, juga banyaknya medali yang didapat atlit Jepang pada Olimpik London (38 medali), selain itu ada pemenang Nobel Prof Yamakana di bidang biologi. Tahun 2012 juga ditandai dengan pembukaan TOKYO SKY TREE menara tertinggi di dunia setinggi 634 m. Padahal banyak orang yang meramalkan bahwa kanji WA 輪 yang berarti lingkaran yang akan terpilih. Karena WA bulat, berarti juga kelompok, juga lambang olimpik adalah lima lingkaran. Kanji Wa hanya menempati nomor dua, setelah Kin.

Kanji tahun 2012: KIN http://www3.nhk.or.jp/news/html/20121212/k10014136961000.html

Kalau melihat pada kanjijiten.net bisa diketahui bahwa pertama kalinya kanji yang sama dipakai untuk kedua kalinya. Kanji Kin juga terpilih sebagai kanji of the year tahun 2000.  Pada acara televisi banyak ditanyakan kanji pilihan untuk masing-masing orang. Banyak yang mengatakan [sei 成] atau [和], tergantung pada dirinya kanji apa yang mewakili tahun ini. Bagiku sendiri tidak ada satu kanji yang bisa dipilih untuk tahun ini. Waktu kutanya pada Gen, dia juga tidak mempunyai satu kanji tertentu. Tapi jika mau mengikuti kanjinya yang terpilih dan diumumkan di Kiyomizudera pada tanggal 12 Desember itu, ya cocok saja untukku. Karena kanji  金, juga bisa dibaca sebagai kane yang artinya uang. Betul banyak uang yang sudah aku keluarkan tahun ini, karena aku pulang kampung bulan Februari karena mama meninggal dan Agustus. Ada beberapa acara besar dalam keluarga kami yang memang membutuhkan biaya banyak. Belum lagi akhir-akhir ini terasa sekali seringnya menggesek kartu menjelang natal untuk beli ini itu. Nah loh…. Well, semoga tahun baru nanti bisa bekerja lebih giat lagi dan bisa menambah pemasukan ya.

Kanjijiten.net

Seperti yang kutulis pada Kanji of the year: 2011, mungkin bagus juga jika Indonesia memilih kata populer, Indonesian Words of The Year. Kalau tahun 2011 kata pilihanku adalah SBY sesuatu banget ye…. maka tahun ini kata populernya apa ya? Ciyus? Miapah? atau Cetar? Yang mana yang paling populer ya? hehehe

Ondoku

Aku ingin menulis pendek saja, yaitu mengenai ondoku 音読. Bagi yang mempunyai anak SD yang bersekolah di SD Jepang pasti mengetahui ondoku ini. On adalah suara, doku adalah membaca. Membaca sambil bersuara, bukan dalam hati. Ini adalah satu usaha dalam pelajaran bahasa Jepang kokugo 国語, untuk membuat anak-anak sejak kelas 1 SD mengenal huruf, lancar membaca dan menulis.

Awalnya semua dalam hiragana, lalu perlahan diajarkan kanji dan katakana. Ceritanya juga cukup menarik, disesuaikan dengan musimnya. Jika musim semi maka bercerita tentang wakaba daun muda, bunga-bunga sedangkan waktu musim panas bercerita tentang tanpopo, sejenis bunga yang menyebar serbuknya di musim panas.

Setiap anak mempunyai satu helai kartu Ondoku, yang berisi hari itu membaca judul apa, bagaimana  kecepatannya dan ketegasan, serta perasaan waktu membaca itu. Siapa yang menilai? Nah itu dia, yang menilai adalah orang tuanya, dalam hal ini tentu ibunya.

Wah, aku paling tidak suka mengejar-ngejar anak (murid) untuk membuat PR. Karena dulu waktu aku kecil, bahkan sejak SD, aku tidak pernah disuruh membuat PR. Sepulang sekolah (SD) aku langsung membuat PR tanpa disuruh, dan pasti pukul 8 malam sudah tidur. Untuk keesokan harinya bangun pukul 5 pagi. Jadi menurutku PR adalah suatu rutinitas yang wajar dilaksanakan, dan aku berharap anak-anakku juga begitu…..

Untunglah Riku tidak sulit untuk membuat PR, tapi untuk Ondoku ini dia agak malas. Karena biasanya jika disuruh ondoku (dan itu hampir setiap hari) sewajarnya mencoba membaca berkali-kali. Tapi itu juga berarti mamanya juga harus mendengarkan berkali-kali…. hmmm…. payah ya 😀 Biasanya Riku hanya membaca satu kali saja. (Terus terang awal-awal kelas 1 aku tidak perhatikan apa yang dia baca. Dan kadang aku berpikir, untung sekali aku bisa bahasa Jepang ya 😀 )

Kartu "Membaca" dengan judul, kecepatan, ketegasan dan perasaan, kemudian tanda-tangan ortu dan sensei

Dan aku harus bisa menentukan akan menilai bagaimana, segitiga = kurang, bulat= bagus dan kembang = bagus sekali. Penilaian yang sulit :D. Tapi jika Riku bisa membaca dengan bagus, otomatis dia juga bisa menghafal isinya. Dan itu menguntungkan dia, jika ada “ulangan” dia bisa mendapat nilai bagus. (Lucunya di sini tidak diberitahu kapan ada ulangan, kecuali di akhir-akhir semester…. jadi diharapkan belajar harian deh)

Dan karena PR Ondoku ini hampir ada setiap hari, berarti mamanya juga harus menilainya setiap hari. Anak dan ibu sama-sama mengerjakan PR. Ondoku hari ini? Tentu sudah dong.

Pembaca TE sudah menyelesaikan PR hari ini belum? (aduuh aku ada PR dengan deadline  s/d tgl 15 Mei nih…. hihihi)

Peringatan : perhatikan cara membaca, dengan sikap yang baik, mulut dibuka, kapan penekanan keras-lemahnya dll. Selain itu warna kartu akan berubah sesuai dnegan banyaknya lembar yang terkumpul. Wah... Riku jangan malu-maluin mamanya yang pernah kerja di Radio dong 😀

Sudah 17 tahun dong, deh, loh!

Jumat kemarin aku menggantikan teman mengajarku di KOI (Kursus Orientasi Bahasa Indonesia) untuk kelas Atas, karena dia ada urusan lain. Jadi seperti setiap hari Senin aku berangkat dari rumah pukul 4:30 bersama anak-anak, menitipkan mereka di rumah keluarga Indonesia di dekat SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo), lalu ke sekolah Indonesia itu.

Memang aku sudah mendapatkan bahan mengajar dari temanku itu jadi hanya tinggal setor muka, dan menerangkan tema hari itu. Sebetulnya lebih tepat memeriksa pekerjaan mereka, karena mereka sudah diberikan soal-soal sebelumnya. Temanya tentang “lho”,” kok”, “dong”,” deh”, “sih”!

Yihaaaaa sedangkan orang Indonesia saja tidak tahu definisi persis dari pemakaian kata-kata ini. Pakai perasaan! Bagaimana mereka bisa mengerti kapan pakai kata dong atau deh untuk kalimat yang tepat? Harus mengerti perasaan orang Indonesia? Pastinya 🙂 ….

Tapi bahasa bisa ditarik kecenderungan pemakaian seperti “dong” pasti lebih kuat dari “deh” yang datar. Sedangkan “kok” mengandung pertanyaan  “kenapa?”.  Dan di antara ke 5 kata itu yang bisa bersanding bersama hanya “lho kok”.

Nah, mulailah pelajaran dengan membahas soal-soal. Karena hanya 4 orang muridnya, giliran terasa cepat berputar dan ayo coba isi latihan ini ya?

1. Jangan marah ……………….. , kan aku hanya bercanda saja.
2. Aku ………. mau-mau saja pergi asal kamu jemput ke rumahku.
3. ……………, …………. ngga jadi pergi?
4. Gimana ……… kok belum jadi? Janjinya kan jadi hari ini?
5. Kamu hebat ……….. kalau bisa mengalahkan dia main pingpong.

Bisa jawab dong ya? No 1. sudah pasti jawab “dong”. No 2. “sih” dan nomor 3. “lho, kok” (satu-satunya yang bisa dijadikan satu). Nah yang no 4 ini menjebak, karena ada koknya, maka disangka pasangan kok yang harus diisi, sehingga banyak yang menulis lho. Padahal seharusnya sih, yang menempel pada kata Gimana. Gimana sih! Siapa sih! Apa sih! Riku sering sekali berkata, “APA SIH!!!!” dengan nada marah kalau Kai mengganggunya waktu dia main game. Itu salah satu bahasa Indonesianya yang paling lancar 😀

Yang lucu juga ada contoh kalimat seperti ini, “Enak kan masakannya? Siapa dulu …….. yang memasak.” Jawabnya pasti “dong” deh. Dong sering dipakai untuk jiman (sombong) pada diri sendiri. Ingat saja kalimat ” Riku pintar ya…. Siapa dulu dong ibunya” 😀 hihihi.

Untuk kalimat “Kamu hebat …………… kalau bisa mengalahkan dia main pingpong” Bisa saja diisi “deh” atau “loh”, tergantung penekanannya bagaimana. Ada beberapa kalimat yang memang mempunyai kemungkinan lebih dari satu, tergantung latar belakang situasinya.  Harus ada keterangan ilustrasi yang mendukung.

Lalu apa hubungannya cerita tentang jalannya pelajaran Bahasa Indonesia kemarin itu dengan judul?

Waktu aku masuk ke dalam kelas 10 menit sebelum jam mulai (6:30 sore), ada 3 murid yang sudah hadir. Dua di antaranya aku kenal karena mereka ikut kelas dasar di tempatku setahun sebelumnya. Nah, murid ke empat yang masuk ke kelas persis waktu jam mulai itu yang membuatku terkejut. Namanya K. san dan merupakan mantan muridku sudah lama. “Loh K san sudah lama kan belajar bahasa Indonesia. Saya ingat sekali kamu adalah guru Sejarah di SMA kan? ”

“Tentu saja, saya sudah lama belajar bahasa Indonesia. Meskipun tidak pandai-pandai. Saya pertama belajar di KOI ini tahun 1994, dan menurut saya waktu itu Imelda san juga pertama kali mengajar di KOI. Jadi sudah…. 17 tahun!” demikian kata K san.
Whaaat…. sudah 17 tahun ya?” Dan aku terharu karena ada saksi sejarah lamanya aku mengajar di KOI yaitu K san ini. Ternyata aku sudah mengajar TUJUH BELAS TAHUN (dikurangi sekitar 4 tahun untuk melahirkan 2 anak), dan aku masih berdiri di sini untuk mengajar. Berarti KOI satu-satunya tempat mengajarku yang terlama.

“Waktu itu taihendeshita ne (Susah ya). Karena kita belajar 3 kali seminggu setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Senseinya taihen, muridnya lebih taihen kalau ada PR :D. Kelasnya juga di lobby bawah, karena muridnya 40 orang. hahaha.”

Meskipun awalnya 40 orang itu memang banyak yang tumbang di tengah semester dan tinggal separuhnya di akhir term pertama. Salah satu dua yang tinggal bertahan adalah K san dan Watanabe san yang kuceritakan pada “Belajar Sampai Mati” di TE. Itu menunjukkan juga betapa besar minat orang Jepang untuk belajar bahasa Indonesia kala itu. Sekarang? Kelas diisi 8 orang saja sudah berterima kasih, karena seringnya harus dimulai dengan susunan 5 orang. Banyak kursus bahasa Indonesia yang tidak bisa membuka kelas karena peminatnya sedikit. (Imelda juga jadi nganggur nih hihihi)

Well, aku memang sudah berumur, ibaratnya mangga ranum hampir busuk hahaha 😀 😀 😀 . Dan boleh (sedikit) berbangga, aku mengajar Bahasa Indonesia sudah 17 tahun DONG! (atau “17 tahun deh”, atau “17 tahun loh” pilih tergantung situasinya). 😀

 

From Paris with Love

Ya, sebuah judul film yang dibintangi John Travolta, Sabtu lalu  menjadi tema perbincangan aku dan Gen dalam kereta. Tidak biasanya Sabtu pagi Gen harus dinas luar dan harus menggunakan kereta. Dalam hujan, Gen, aku dan Kai naik bus menuju stasiun. Setelah menitipkan Kai, kami berdua naik kereta sampai Shinjuku. Canggung juga rasanya berduaan naik kereta, kapan terakhir kami berdua naik kereta ya? Mungkin sebelum Riku lahir…lebih dari 7 tahun yang lalu.

Kesempatan ini kami pakai untuk bercerita macam-macam dengan suara lirih tentunya. Tentang apartemen-apartemen yang baru dibangun, tentang tempat tujuan kunjungan di liburan golden week (29 April-5 Mei) nanti (yang sepertinya dia tetap harus bekerja–dan akhirnya aku juga ada terjemahan baru)…dan saat itu kami melihat poster filmnya John Travolta, From Paris with Love di dalam kereta.

bukan ini sih poster yang kami lihat. yang ini masih pakai alfabet semua

Bukan, bukannya kami mau menonton. Selain membicarakan John Travolta yang sudah “gaek” (duh filmnya yang dulu Saturday Night Fever… waktu itu aja kita sudah SMP kan, sekarang  dia masih juga main film), terlambatnya film-film hollywood diputar di Jepang (bahkan lebih cepat Indonesia daripada Jepang untuk hal penayangan begini. sebabnya bisa dibaca di sini) , kami juga membicarakan tentang terjemahan JUDUL film.

Judul filmnya si Travolta itu dalam bahasa Jepang adalah パリより愛をこめて (Pari yori ai wo komete), dan setelah aku cari info di HP, memang benar jika diterjemahkan kembali adalah “From Paris with Love”. OK berarti terjemahan judul bahasa Jepangnya sama dengan judul aslinya. TAPI hal ini jarang terjadi! Maksudku, jika kita menonton film Hollywood atau yang aslinya bahasa Inggris di Jepang, harus siap-siap BINGUNG dengan judul bahasa Jepangnya. Karena biasanya jika diterjemahkan kembali maka tidak sama bahkan jauh dari judul aslinya. Dan …itu cukup membuat pusing kepala orang-orang asing alias gaijin di Jepang.

Yang aku tahu misalnya film “Basic Instinct” nya Sharon Stone, judulnya menjadi 「氷の微笑」(Koori no bishou – Senyum Es) 1992. Atau “Sliver” menjadi 「硝子の塔」 (Garasu no Tou – Menara Kaca 1993). Atau untuk film baru, contohnya film Disney yang di dalam bahasa Inggris hanya “UP”, diterjemahkan menjadi 「カールじいさんの空飛ぶ家」(Ka-ru jiisan no Soratobu ie — Rumah Terbang Kakek Carl  2009).

Well, memang akan kaku rasanya jika semua film berbahasa Inggris diterjemahkan secara harafiah, atau memakai tulisan katakana semua.” Blue Pasific Stories” ditulis katakana semua : ブルー・パシフィック・ストーリーズ, “Alice in Wonderland” アリス・イン・ワンダーランド, kalau pendek seperti “Avatar”  アバータ sih masih mudah membacanya, tapi kalau panjang, bisa puyeng juga (yang puyeng emang aku yang gaijin orang asing sih…orang Jepang ngga puyeng karena katakana kan tulisannya mereka juga). Tapi pusing juga kalau harus mengira-ngira judul dengan tulisan kanji itu judul aslinya apaan. Sering aku pikir, kenapa sih tidak “begitu saja” tulis judul dalam bahasa Inggris dengan alfabet? Supaya orang Jepang terbiasa baca alfabet nih! Katanya mau globalization…jangan nanggung hehehe.

Aku jadi berpikir, orang Indonesia ternyata tidak mempunyai masalah dengan penerjemahan film seperti di Jepang ya? Ah, aku juga sudah lama sekali tidak menonton di Jakarta, jadi tidak tahu kondisi film asing sekarang. Apakah juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan apakah memakai subscript atau dubbing? Yang pasti kita tidak harus pusing menerjemahkan judul.

foto jadulku yang aku kasih judul: from rusia with love..tuh kan narsis, bilang aja mau mejeng foto hahaha

Beda Buku Jepang dan Indonesia

Kemarin aku sakit kepala, sampai setiap suara anak-anak menjadi gangguan 🙁 Meskipun sudah kuminta anak-anak untuk tidak berteriak atau bertengkar tapi tetap saja. Dan puncaknya sekitar pukul 7:30 malam aku menyuruh Riku mematikan televisi dan diam. Untung Riku sudah bisa mengerti sehingga dia mengajak adiknya masuk tempat tidur, dan membacakan picture book. Yang dipilih adalah “Momotaro”, cerita tentang seorang anak lelaki yang “lahir” dari sebuah Peach besar yang mengalir di sungai, kemudian diambil oleh seorang nenek yang sedang mencuci. Cara lahirnya itu yang lucu, yaitu waktu si nenek mau membelah buah peach dengan pisau, maka peach itu membuka sendiri, dan “oe oek….” seorang bayi menangis deh. Nah yang lucu di situ bergambar bayi dengan t*titnya, dan Kai menunjuk-nunjuk… Eh ada cincin! Aku juga punya! hahaha…

Rame deh akhirnya, tapi saat itu Kai bilang, “Chigau!(Berbeda)”. Ya dia ingat penjelasanku tentang buku beberapa hari yang lalu. Anak ini memang pintar, dijelaskan satu kali bisa ingat terus. Apa yang dia tanyakan waktu itu? Coba perhatikan gambar 2 picture book ini.

Saya pilihkan dua picture book, yang satu "Momotaro" dan satunya "Wall-e" terjemahan ke bahasa Jepang

Sekilas tidak berbeda ya? sama besarnya. Coba lihat foto berikutnya, bagaimana kalau kita buka halaman pertama.

Terlihat perbedaannya ya. Yang "Wall-e" membuka ke kiri, sedangkan "Momotaro" membuka ke kanan

Buku “Wall-e” seperti biasanya buku-buku Indonesia, membuka ke kiri. Sedangkan “Momotaro” adalah ciri khas buku Jepang! Membuka ke kanan. Atau kalau dengan pemikiran orang Indonesia, membuka dari belakang ke depan. YA! BERBEDA! Dan itu disadari Kai beberapa malam yang lalu waktu aku mendongeng untuk dia. (Doooh akhir-akhir ini dia selalu minta dibacakan buku, dan kadang butuh 2 jam sampai dia tertidur…sengsara bener deh aku! Kalau tengah malam dia terbangun, juga minta membaca buku. Akhirnya biasanya aku pura-pura buka buku, padahal aku tidak baca…aku ceritakan apa yang sudah aku hafal. Bahkan kalau perlu hanya bergumam saja hihii)

Nah waktu itu aku jelaskan pada Kai tentang perbedaan kedua buku itu. Pasti dia tidak bisa menyerap semua penjelasan aku, tapi tetap aku jelaskan. Dia akan bisa memahaminya kelak.

Seperti yang sudah aku katakan tadi, bahwa “Momotaro” adalah buku khas Jepang. Ditulis dengan bahasa Jepang (ya iyalah… hihihi) Tapi ditulis dari atas ke bawah. Ini sebetulnya cara menulis Jepang yang asli. Dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan. Oleh sebab itu cara membuka buku yang ditulis vertikal begitu itu harus membuka ke kanan! Sedangkan buku “Wall-e” meskipun ditulis dalam bahasa Jepang pun, ditulis dengan cara modern dari kiri ke kanan secara horisontal. Karena itu dalam membaca pun harus membuka ke kiri, selayaknya buku-buku berbahasa Inggris/Indonesia atau buku lain yang ditulis dalam alfabet.

Beda tulisan vertikal dan horisontal mempengaruhi "cara" membuka buku.

Tentu akan bertanya, loh menulis dari atas-ke bawah dari kiri ke kanan, apa tidak belepotan tuh tangannya dengan tinta? Ini juga pertanyaan aku tadinya, lalu aku teringat bahwa memang orang Jepang kuno menulis bukan dengan bolpen tapi dengan tinta dan kuas. Tidak boleh meletakkan tangan pada kertas. Gaya menulis kaligrafi Jepang pun menunjukkan bahwa sikap duduk yang lurus (tidak bongkok) mempengaruhi keindahan tulisan.

Aku pernah belajar kaligrafi Jepang sebentar dan memang sikap duduk amat sangat menentukan. Sebenarnya kalau ada kelas menulis kaligrafi yang murah, aku ingin ikut lagi deh. Atau paling sedikit ingin menyuruh Riku mempelajarinya supaya tulisan dia bagus dan rapih. ( Aku harus bersyukur bahwa dia masih termasuk rapih menulisnya, meskipun kadang aku bingung membaca tulisannya hehehe)

Well, untuk sementara waktu aku harus bersiap mendengarkan celoteh Kai sebelum aku dongengi dengan kata-kata, “Chigau (Berbeda)”

Ikkyu menulis kaligrafi dengan kuas pada kertas yang panjang. Test waktu itu adalah menulis satu huruf yang mempunyai arti dengan satu goresan saja (tidak boleh terputus) dan ikkyu memilih kata "shi" dalam hiragana yang artinya "mati"

Joyo Kanji

Tanggal 13 April yang lalu, Komite Masalah Budaya (Cultural Affairs Council) dari Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology Jepang mengumumkan  penghapusan 5 kanji dalam bahasa Jepang yang sudah tidak dipakai lagi, alias sudah mati, dan penambahan 196 kanji baru sebagai Joyo Kanji  sehingga menjadi 2136 kanji (dari 1945 dulunya) yang wajib diketahui warga Jepang.

Joyo Kanji 常用漢字 adalah kanji pilihan yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari dalam berbahasa Jepang, misalnya dalam siaran, surat kabar dan surat-surat resmi. Jadi boleh dikatakan bahwa jika ingin bisa membaca surat kabar Jepang wajib mengetahui semua kanji yang terdapat dalam daftar Joyo Kanji. Well, 2136 kanji dari sekian banyak kanji yang ada (tidak ada yang bisa mengatakan persis berapa banyak sebetulnya jumlah kanji Jepang itu… mungkin bisa diperkirakan 10.000 lebih) , semestinya bisa menjadi standar pengetahuan minimal.

Yang menarik sebetulnya adalah melihat kanji “baru” yang masuk kedalam daftar. Selain dari kanji yang banyak menempel pada nama perfektur di Jepang, ada kanji “UTSU” 鬱 yang amat rumit ditulis tangan.  Utsu adalah nama penyakit stress yang sekarang banyak “diderita” masyarakat Jepang. Penyakit modern tapi tidak bisa diabaikan karena penyakit baru ini mulai mengganggu masyarakat. Contohnya seorang penderita utsu tidak mau mandi dan keramas untuk beberapa waktu, hidup dalam kekosongan jiwa. Tidak mau beraktifitas pergi ke kantor dsb nya dan kadang utsu ini juga memicu perasaan untuk bunuh diri.

Ada satu kanji yang sebetulnya diajukan oleh pemerintah daerah Mitaka yaitu TAKA 鷹 yang berarti elang, tapi tidak lolos seleksi untuk masuk dalam list Joyo Kanji. Saya bukan warga Mitaka, tapi cukup heran dan menyayangkan juga kenapa kanji ini tidak masuk daftar, karena selama saya tinggal di sini 17 tahun, cukup sering harus menuliskan kanji ini. Kebetulan dulu saya tinggal di jalan yang bernama takaban 鷹番 jadi kenyang deh menulis kanji Taka di berbagai formulir heheheh.

Saya tidak tahu apakah Joyo Kanji baru ini juga menjadi standar untuk penguasaan peserta ujian Kemampuan Bahasa Jepang yang baru. Mulai tahun ini Ujian Kemampuan Bahasa Jepang JPLT berubah dari yang selama ini saya ketahui (dan pernah ikuti). Dulu hanya 4 tingkat, sekarang menjadi 5 tingkat. Bagi yang memerlukan informasi JPLT yang baru bisa juga melihat penjelasannya di website The Japanese-Language Proficiency Test (JLPT).

Yang pasti saya bertekad membantu anak saya, Riku belajar Kanji yang semakin sulit di kelas dua SD. Kemarin siang ,saya mengikuti pertemuan orang tua murid dengan pihak sekolah mengenai target pendidikan kelas dua SD selama satu tahun ajaran (April 2010-Maret 2011), dan mengetahui bahwa Riku dalam setahun ini harus mempelajari 160 kanji, yang jumlahnya berlipat dari waktu kelas satu yang hanya 80 kanji. Bukan saja jumlah yang ditakuti, tapi kerumitan penulisan juga cukup mengagetkan. Kerumitan penulisan kanji biasanya ditentukan dengan banyaknya “stroke” – satu kali kuas/bolpen bergerak bisa berupa garis atau titik. Semakin banyak “stroke” nya semakin rumit, karena jika kurang atau salah sedikit saja, kanji itu tidak bisa dibaca.

Sebagai penutup, saya akan tuliskan dua kanji yang hari ini menjadi PR untuk Riku yaitu:

HARU 春 (musim semi)  dan KAZE 風 (angin).

春風に吹かれて tertiup angin musim semi..... kelopak bunga sakura berjatuhan

Pancasila dan Buntut Bersambung

Aku tidak tahu apa mainan anak sekarang. Yang pasti dulu waktu aku kecil ada permainan “Pancasila”. Pancasila ada lima… lalu masing-masing peserta mengeluarkan tangan (jarinya) yang kemudian dihitung sesuai alfabet. Jadi kalau jumlah jari ada 12 berarti “L”. Kemudian di kertas kami menuliskan nama-nama yang berawalan L dengan perjanjian kategori dalam 5 kolom.

Nama buah, Nama orang, Nama binatang, Nama Jalan, Nama Kota  Jumlah
Lemon            Lina                   Lipan                      Limau            Lima                 50

Satu kategori nilainya 10, sehingga kalau benar semua mendapat jumlah 50. Kalau ada dua orang yang menulis sama berarti harus berbagi, dan nilainya menjadi 5. Jadi kami sedapat mungkin mencari kata-kata yang aneh dan sedikit kemungkinannya  ditulis orang lain. Ini melatih perbendaharaan kata/pengetahuan umum kami. Aku berharap masih ada anak-anak yang memainkan “Pancasila” ini….

Nah, kalau di Jepang, kami sering memainkan “Shiritori” yang arti harafiahnya “ambil pant*t”. Diawali dengan kata apa saja, lalu kami meneruskan dengan suku kata yang paling belakang. Misalnya sa-ka-na (ikan), diambil na -nya dan lanjutkan dengan kata berawalan na, misalnya na-be (panci) —-> be-ro (lidah) —> rou-so-ku (lilin) dan seterusnya. Tapi tidak boleh dilanjutkan dengan kata yang berakhir dengan “n” karena tentu saja tidak ada kata berawalan n. Mati deh….

Permainan ini juga merangsang otak menemukan kata-kata baru dalam waktu cepat. Sudah sejak Riku berumur 4 tahun kami membiasakan bermain shiritori ini di mana saja. Kadang sebelum tidur, kadang di mobil dalam kemacetan, atau sambil nunggu giliran di dokter dll.

Tapi pikir punya pikir, orang Indonesia kan juga sering menyanyikan lagu “sedang apa….sekarang” dan dicari kelanjutan kata yang disebutkan sebelumnya…. sedang makan…makan apa? makan nasi…. nasi apa? dst dst. Masih pada menyanyikan lagu ini ngga sih? apa sudah terlalu jadul? hihihi

Permainan yang tanpa menggunakan alat, murah meriah dan memakai otak seperti Pancasila dan Buntut Bersambung (Shiritori) ini semestinya dilestarikan dan dimainkan. Bagaimana menurut teman-teman? Ada lagi permainan tanpa alat dan mendidik seperti ini?

Tabu atau pamali

(hari ini rajin euy… ini posting ke dua hari ini setelah Celana Buruh hihihi)

Pagi dini hari tadi, sebuah truk menabrak kereta servis dari Line Seibu Shinjuku. Kejadian pada pukul 3 dini hari menyebabkan jadwal kereta terganggu, dan baru bisa teratasi pukul setengah 11 pagi. Ya, memindahkan kereta yang terguling tidaklah mudah. Aku juga pernah mengalami berada dalam kereta sesudah kereta yang mengalami kecelakaan tertabrak truk di lintasan kereta, dan untuk pulih butuh waktu 9 jam! Aku sendiri terpaksa cari jalan lain, termasuk naik taksi untuk bisa pulang kemudian menjemput Riku yang waktu itu kutitipkan di penitipan bayi dekat stasiun rumah kami.

Jalur kereta itu harus digunakan Gen untuk pergi ke kantor. Dan untung saja kejadiannya hari ini, karena kebetulan kemarin dia naik kereta (biasanya naik mobil, tapi sekarang aku pinjam mobilnya setiap hari Senin untuk mengajar). Coba seandainya Gen naik kereta pasti akan terlambat sekali sampai ke universitas. Dan aku baca juga kebetulan ada beberapa sekolah di jalur kereta Seibu Shinjuku Line ini ada yang mengadakan ujian masuk, sehingga tentu saja kasihan anak-anak yang akan ujian tapi terlambat. Dan untuk mengantisipasinya sekolah-sekolah itu memperlambat jam mulai ujian.

Waktu membaca soal ujian ini, saya teringat dengan percakapan induk semang saya pada anaknya yang akan ujian masuk universitas waktu itu.
“Hati-hati di jalan (waktu itu bersalju) dan selamat ujian ya Nak”
“Terima kasih bu”
Kemudian nenek bercerita, “Iya kasian ya, saya pernah baca banyak kejadian anak-anak yang akan ujian menjadi gagal karena mereka sakit, atau jatuh di jalan yang bersalju”
Mendengar itu si Ibu (anak si nenek ini) marah dan berkata:
“Nenek jangan cerita yang begitu dong. Menurunkan semangat saja. Kalau hal-hal buruk itu terjadi pada anakku bagaimana. Sebelum ujian lagi bicaranya…. bla bla bla”
“Loh saya kan tidak bilang hati-hati jangan terpeleset! Saya hanya cerita saja kok”
Bertengkarlah mereka.

Memang dalam bahasa Jepang,  jangan terpeleset (suberanaiyouni) 滑らないように, Jangan jatuh (ochinaiyouni) 落ちないように tidak pantas atau tabu digunakan dalam percakapan orang yang akan ujian. Karena ada pemikiran kalau berkata “Jangan begini begitu”, biasanya JUSTRU akan terjadi. Kalau berkata “Jangan terpeleset/ Jangan jatuh” nanti akan terjadi, dan ujiannya gagal.

Dalam upacara pernikahan juga dilarang menggunakan kata-kata seperti potong (kiru) 切る, berpisah (wakareru/hanareru) 別れる, 離れる Kata-kata yang negatif seperti itu tabu digunakan di Jepang. Tabu dalam berbahasa seperti ini apakah ada di Indonesia ya? Mungkin saja ada karena tiap daerah yang memakai bahasa daerah, mungkin melarang pemakaian kata-kata tertentu dalam suatu tindakan. Hanya saja biasanya tabu juga menjadi banyak jika mengaitkan dengan pakaian atau sikap, faktor-faktor di luar bahasa.

Tapi mungkin sebagai sharing pengalaman mengenai tabu bahasa ini, aku ingin menuliskan tentang “sakit hati” mama terhadap orang Makassar. Waktu aku berusia 6 bulan, mama membawaku ke Bantaeng (Sulsel) bertemu dengan mertua (kakek dan nenekku) yang kebetulan berada di sana. Setiap orang makassar yang melihat bayi imut (ehm ehm) Imelda ini berkata:
Aduh busukna!” sambil cium-cium dan cubit-cubit diriku.
Semua orang yang mendekat pasti berkata “busukna”, padahal mama yakin aku tidak sedang beol, atau belum mandi atau bau muntah. Kenapa mereka semua bilang busuk? Sakit hati deh mama. Baru setelah bertanya pada papa, baru tahu bahwa orang Makassar itu berbicara KEBALIKANNYA. Mungkin buat mereka pamali menyebutkan yang bagus, dan menjadikan mama atau aku besar kepala nantinya. Aku sendiri tidak tahu apakah semua aspek disebut kebalikannya atau tidak. Kalau ya, wahhh sulit sekali untuk mengerti orang Makassar ya.

Tabu atau pamali…. pasti banyak deh dalam kehidupan kita. Tapi aku rasa unik saja jika di Jepang yang sudah maju begini, masih memperhatikan tabu dan pamali terutama pada mahasiswa yang akan ujian, atau pasangan yang akan menikah. Dan aku sendiri belum pernah mendengar orang tua Indonesia tidak mengatakan “Jangan lupa bukunya/nomor ujian/pensil” dan lain-lain hanya untuk menghindari anaknya nanti akan JUSTRU LUPA hihihi.

Di Jepang tabu untuk memberikan bunga dalam pot untuk pasien RS, karena takutnya penyakitnya akan "mengakar" dan tidak sembuh-sembuh. Jadi kalau jenguk orang Jepang bawa bunga potong ya....

(foto oleh Tadashi Miyashita – bapak mertuaku – Nikon D80)