Arsip Kategori: Picture

Buku Bagus

Menurutku hampir semua buku itu bagus! Kalau ada buku jelek, ya itu mungkin karena cara penyampaian, atau topik yang tidak menarik (ini juga relatif sih), atau editornya kurang cerewet hehehe. Bener ngga mas Din?

Yang sedikit adalah buku “luar biasa”, dan memang itu berbeda karena di situ sudah masuk unsur pendapat dan kesukaan masing-masing individu. Buku favoritku dan buku favorit kamu pasti beda deh. Jadi daripada menanyakan buku itu bagus atau tidak, lebih tepat mengelompokkan buku menjadi : buku menarik dan tidak menarik.

Nah, aku di blog TE ini sudah banyak memperkenalkan Picture Book Jepang yang aku rasa bagus dan menarik. Aku memperkenalkan picture book itu karena memang aku kagum pada keberadaan picture book dalam pendidikan anak-anak di Jepang. Sampai-sampai waktu pergi memeriksakan kesehatan  berkala bayi pertama kali di puskesmas, orang tua akan diberikan hadiah picture book gratis, untuk dibacakan pada bayi mereka. Tujuannya cuma satu: supaya bayi dapat menjadi anak-anak yang cinta buku.

Kali ini aku ingin menulis lagi tentang picture book yang bagus. Buku ini sudah lama Gen beli, mungkin musim panas tahun yang lalu. Tapi aku baru bacakan untuk Kai beberapa malam yang lalu. Riku sudah dibacakan Gen sejak awal beli. Tapi karena Gen yang bacakan, aku sendiri tidak perhatikan isinya. Tapi begitu aku selesai bacakan ke Kai, esoknya aku bilang pada Gen, “Buku itu bagus ya!”.  Jawabnya, “Itu aku buka-buka di toko buku, dan aku beli karena menurutku memang bagus. Buku ini merupakan buku pilihan untuk tahun 2009.” Dan… harganya cukup mahal, 1500 yen. (ssst padahal gambarnya ngga bagus loh— sekali lagi pendapat pribadi)

sampul buku picture book kali ini

Judulnya?” Okodademasenyouni” 「おこだでませんように」 dan aku yakin orang Indonesia yang sudah belajar bahasa Jepang tidak bisa menemukan arti dari judul tersebut. Karena sebenarnya cerita dalam picture book ini memakai dialek Kansai (Osaka, Kyoto dan sekitarnya) yang berlainan dengan bahasa Jepang standar. Sedangkan okodademasennyouni sendiri merupakan bahasa anak-anak (seperti mam untuk makan dalam bahasa Indonesia). Aku pun agak terbata-bata waktu membacakan picture book ini pada Kai, tapi…. isinya tetap tersampaikan.

Seorang anak laki-laki kelas 1 SD, berjalan pulang ke rumah dari sekolah sambil menundukkan kepala…

Aku selalu dimarahi. Di rumah maupun di sekolah….
Kadang-kadang mama pulang lambat dari kerja,
karenanya aku harus bermain dengan adikku.
Tapi entah kenapa khusus di hari-hari mama tidak ada,
adikku itu manja sekali…
“Apaan origami seperti ini. Jelek! Kertas lipat buatan mama lebih bagus”
“Cerewet! Lebih muda dariku sudah cerewet!”

Kalau aku marah, adikku langsung menangis.
Dan biasanya nangis terus sampai mama pulang.
Memang sih tengah-tengah berhenti, tapi begitu mama pulang…
langsung nangis lagi! huh….

Waktu adik menangis itu, mama selalu marah.
“Kamu gangguin adik lagi ya!”  (abis dia lebih muda dari aku minta macam-macam)
“Kamu belum bikin PR?????” (Ya iya… kan aku main dengan adik… kapan aku bisa bikin PR?)

Tapi, kalau aku bilang apa yang kusebutkan dalam hati itu,
mama PASTI marah.
Makanya aku diam saja dan berpaling.
Berpaling dan tidak bicara apa-apa, terima dimarahi.

Huh, aku selalu dimarahi.

Di sekolah pun aku sering dimarahi. (gambar dia pegang jangkrik, dan murid perempuan menangis)

Hari ini waktu istirahat, aku ngga dibolehin ikut main sepakbola oleh Ma-kun dan Ta-kun
“Kenapa aku ngga boleh ikut main?”
“Kamu ngga tau peraturan dan sering kasar mainnya sih!”
Aku kesal!
“Ohhh gitu ya? Aku biar diminta kamu untuk main bersama juga ngga mau!”
sambil berkata begitu aku tendang Ma-kun dan pukul Ta-kun.
Keduanya langsung menangis.

Guru langsung datang, dan hanya marahin aku saja.
“Kamu apain?” (Tuh mereka berdua yang duluan musuhin aku)
“Tidak boleh kasar kan!” (Tapi waktu dibilang “kamu ngga boleh ikut” , itu adalah pukulan telak di hatiku)

Tapi kalau aku bilang apa yang ada dalam hati, PASTI guruku akan marah.
Karena itu aku diam saja, dan berpaling.
Berpaling dan tidak bicara apa-apa, terima dimarahi.

Huh, aku selalu dimarahi.

(gambar: sambil berjalan pulang ke rumah….)

Kemarin juga dimarahi…
Hari ini juga dimarahi…..
Pasti besok juga dimarahi……

Sesungguhnya aku ingin sekali dikatakan, “anak baik”
Tapi mama dan guruku setiap melihatku, pasti dengan muka marah..

Waktu itu, aku bilang pada mama,”Kalau mukanya seperti itu nanti keriputnya bertambah loh”…. dimarahin lagi. Padahal aku ingin mama tetap cantik.

Aku harus gimana ya supaya tidak dimarahi…
Aku harus gimana ya supaya dipuji……
Apa aku memang “anak nakal?”
Padahal aku sudah masuk SD
Sudah jadi anak kelas 1.

Tanggal 7 Juli, kami menuliskan keinginan di kertas Tanzaku.
Ma-kun dan Ta-kun menulis, “Supaya bisa jadi atlit sepakbola”.
Tomo-chan menulis,”Supaya bisa pintar bermain piano”.

Aku berpikir.
Aku berpikir apa keinginanku nomor satu.
Waktu aku sedang berpikir keras…
“Ayo cepat tulis!”
dimarahi lagi…….

Kemudian aku menulis keinginanku dengan huruf hiragana yang kupelajari sejak masuk SD.
Dengan hiragana satu per satu, penuh perasaan.

“Okodademasenyouni” (Supaya jangan dimarahi)

Selesai menulis, aku selalu yang terakhir. (Aaaah pasti dimarahi lagi)
Sambil berpikir begitu, aku menyerahkan kertas Tanzaku pada guruku.
Guruku melihat tanzaku milikku….
Guruku teruuuus membaca kertas tanzaku milikku.

Ahhhhhh

Guruku menangis!!!!!

“Bu guru selalu marah ya…. maaf ya. Pintar ya tulisannya. Keinginan yang bagus!”

Haaaaaa…. guruku memujiku!!!!!!

Aku kaget sekali
Abis…keinginanku langsung terkabulkan!

Malam harinya, ada telepon dari guruku.
Mama lamaaaa sekali berbicara di telepon dengan guruku.
Selesai telepon, mama memelukku seperti waktu memeluk adikku.
“Maaf yah, mama marah terus-menerus”
sambil berkata begitu, mama memelukku erat-erat.

Karena adikku iri, aku memeluk adikku.
“Kamu berdua, harta mama yang paling berharga”
Sambil berkata begitu mama memeluk aku dan adikku… lamaaaaa sekali.

Tanabata sama, terima kasih.
Banyak banyak terima kasih.
Hari ini aku bahagia sekali.
Sebagai terimakasihku, aku akan jadi anak baik.

ZzZZzzzzzzz

***(Tanggal 7 Juli adalah peringatan tanabata. Berasal dari dongeng pertemuan dua kekasih yang bisa dibaca di sini, sehingga setiap tanggal tersebut orang Jepang mempunyai kebiasaan untuk menuliskan keinginan mereka pada kertas tanzaku dan menggantungkan di daun Sasa. Bisa baca cerita permohonan tanabata ini juga di sini.)

(Terjemahan oleh Imelda. Cerita ini aku terjemahkan hampir semua karena tidak bisa sepotong-sepotong. Ingat copyright ada di tangan penerbit. Jadi dilarang menyebarkan cerita keseluruhan tanpa menyebutkan sumber, apalagi mencetaknya)

Aduuuuh aku menangis sambil membaca buku ini. Bohong kalau aku tidak pernah marah pada anak-anak. Dan buku ini menceritakan perasaan anak-anak sesungguhnya. Mereka TIDAK BERMAKSUD UNTUK NAKAL. Pasti ada sebabnya, sedangkan kita, orang dewasa selalu menyalahkan mereka. Selalu MENYURUH MEREKA MENYESUAIKAN DIRI DENGAN KEHENDAK ORANG DEWASA. Padahal mereka juga belum mampu. Oh Tuhan… memang keinginan anak itu adalah permohonannya juga pada Tuhannya. Supaya jangan dimarahi. Supaya dipuji.

Anak butuh pujian! Dan tidak ada salahnya orang tua minta MAAF pada anak.

Buku ini benar-benar buku yang bagus. Dan sebetulnya HARUS dibaca oleh para orang tua, bukan anak-anak. Kita selalu beranggapan bahwa picture book itu untuk anak-anak saja. NO! Sebetulnya banyak picture book yang cocok untuk semua umur! Betapa banyak aku belajar juga dari picture book (silakan search kata kunci “picture book” di TE, pasti ada beberapa cerita yang telah aku perkenalkan)

Cerita ini dikarang oleh Kusunoki Shigenori, gambar oleh Ishii Koyotaka. Diterbitkan oleh Shogakkan pertama kali Juli 2008 seharga 1500yen(+pajak 5%)

Musim Hujan Tlah Tiba

Meskipun Jepang terkenal dengan 4 musim, yaitu Musim Semi, Musim Panas, Musim Gugur dan Musim Dingin, ada lagi tambahan satu musim yang bisa dikatakan “nyempil” di antara Musim Semi dan Musim Panas. Dalam bahasa Jepang disebut dengan Tsuyu. Dan biasanya itu dimulai awal bulan Juni, dengan pernyataan dari Japan Meteorological Agency akan adanya Tsuyu Iri 梅雨入り , awal musim hujan.

Anjing dan anak-anak pada hari hujan karya Iwasaki Chihiro
Anjing dan anak-anak pada hari hujan karya Iwasaki Chihiro

Sudah sejak Hari Kamis lalu hujan terus turun di Tokyo, terutama pada sore hari. Sehingga saya dan Riku harus menjemput Kai di penitipan naik bus bersama, tidak bisa naik sepeda. Karena hujan rintik-rintik maka Kai cukup memakai jas hujan dan dia enjoy sekali jalan di bawah hujan. Tapi hari Minggu ini, hujan tidak bercanda.

Sabtu saya dan anak-anak sudah seharian berada dalam rumah, karena di luar hujan dan temperatur menunjukkan 20 derajat celcius. Brrr. Minggu pagi lebih sedikit hangat 25 derajat, dengan hujan rintik. Dan sekitar jam 11 kami memutuskan untuk keluar rumah. Bisa “berjamur” rasanya jika kami tinggal dalam rumah saja. Tujuannya makan siang dan pergi ke Museum Seni Chihiro. Dua tempat yang terletak tidak jauh dari rumah kamu, selalu kami lewati tapi belum sempat kami mampiri. So today is the day!

Taman yang tertanam dalam lantai... hmmm ide interiornya boleh juga nih

Restoran Marushima 丸嶋 spesialisasi soba (mie Jepang) dan ikan. Kami tidak menduga restoran ini begitu bagus interior dalamnya. SO JAPANESE. Harga makanannya juga tidak mahal, dan yang pasti Gen dan Riku suka Soba dingin, jadi….bisa-bisa pamor restoran ini di keluarga Miyashita akan mengalahkan restoran sushi dekat rumah.

Sashimi maguro dengan parutan yamaimo

Jadi kami memesan Soba untuk kami berempat, padahal aku sebetulnya kepingin sekali makan ikan. Jadi Gen memesan Yamakake Maguro, yaitu Maguro (Tuna) mentah yang dipotong kotak-kotak dan diberi parutan ubi “Yamaimo” Dioscorea japonica, yang juga disebut dengan Tororo. Parutan ubi ini akan membentuk sebuah saus seperti kanji. Hmmm mungkin orang Indonesia tidak akan suka dengan penampilan yamaimo ini karena ….. mmmm maaf ..seperti ing*s yang berwarna putih. Tapi percayalah, yamaimo ini sangat berkhasiat untuk pencernaan bahkan menjadi bahan obat tradisional China untuk penderita kencing manis.

Dan yang mengherankan adalah Riku, terlebih Kai suka sekali makan maguro dengan yamaimo itu. Cuma bagi orang tertentu yamaimo memang bisa menimbulkan alergi gatal-gatal. Dan karena Kai pertama kali, saya tidak tahu bahwa ternyata Kai agak alergi dengan yamaimo. Dia sempat rewel mulutnya gatal. Tapi untung tidak parah, tidak sampai membuat bibir dower seperti disengat lebah.

Meja dengan hiasan display

Setelah selesai makan, kami berjalan menuju Museum Seni Chihiro yang ternyata terletak persis di seberang restoran ini. HTM Museum ini 800 yen untuk orang dewasa, bagi balita sampai pelajar SMU gratis. Senang sekali kami berdua, karena Riku senang melihat lukisan-lukisan Chihiro dan langsung berkata bahwa dia juga ingin mencoba melukis.
“Jadi mama … belikan aku pensil warna dan cat air ya? …”
“Ada di rumah… kamu saja selalu berantakin jadi tidak tahu bahwa kamu punya sebetulnya”. Diem deh hihihihi….

Chihiro Art Museum

Chihiro Iwasaki was born on December 15, 1918, in Takefu, Fukui Prefecture, and moved to Tokyo the following year. She began to study sketching and oil painting at the age of fourteen under Saburosuke Okada, and Japanese calligraphy when she was eighteen, under Shuyo Oda of the Fujiwara Kozei School. Her first work for children was a set of illustrated “paper-theater” storytelling panels called Okasan no Hanashi (The Story of a Mother) in 1950, and in 1956, she created her first picture book, Hitori de Dekiru yo (I Can Do it All by Myself). She won many prizes, among them: Graphic Prize Fiera di Bologna for Kotori no Kuru Hi (The Pretty Bird) in 1971, and Bronze Medal of the Leipzig International Book Fair for Senka no Naka no Kodomo-tachi (Children in the Flames of War) in 1974. In autumn of 1973 Chihiro was diagnosed with liver cancer. She died the following year on August 8 at the age of fifty-five.

Yang membuat satu keluarga bisa betah berkunjung ke museum ini, yaitu disediakannya perpustakaan Picture Book dan sebuah Ruang Bermain bagi balita. Sementara Riku membaca di perpustakaan, saya dan Kai bermain di play room nya. Di playroom itu tentu terdapat juga buku-buku untuk anak balita. Ada beberapa Picture Book yang kami sudah punya, tapi banyak lagi yang lain yang belum punya. Benar-benar seperti toko buku bagi balita.  Apakah saya membacakan buku untuk Kai? Tidak, dia konsentrasi penuh bermain mobil-mobilan sendirian hihihi. Persis waktu kami mau pulang itulah hujan deras turun membasahi bumi. Sudah lama sekali kami tidak melihat hujan sederas ini. Karena mobil kami diparkir di restoran Soba, Gen lari pergi mengambilnya dan memindahkan ke parkiran museum yang tadi wkatu kita datang penuh parkirannya. Sementara itu saya dan dua anak memasuki Gift Cornernya.

Aduuuh susah deh membawa dua anak yang cerewet dan memiliki kemauan masing-masing. Ada aja yang satu mau minta dibelikan ini, sedangkan Kai langsung main ambil dan bermain di pojokan (yang memang disediakan) . Gift Corner dipenuhi dengan bermacam barang yang berhiaskan lukisan Chihiro yang khas. Anak-anak! Memang karyanya banyak dipakai untuk program Unicef juga.  Selain lukisan Pater Sato yang memakai media craypas, lukisan Chihiro yang memakai cat air ini juga termasuk dalam koleksi seni saya (seni ni yeee).

Akhirnya dalam hujan, dengan dua payung, saya dan Kai, serta Riku dan papanya, kami  pulang ke rumah dengan gembira. Ternyata berempat dalam payung berhujan-hujan juga cukup romantis…..as a family!

Mengapa harus tikus sih?

Anda semua pasti kenal Mickey Mouse dong… Lalu Tom and Jerry. Atau pernah nonton juga Little Stuart yang bisa membuat kita menitikkan air mata. Kemudian yang terakhir adalah Ratatouille atau yang di bahasa Jepangnya di beri judul “Remi no oishii resutoran レミーのおいしいレストラン” — Restoran Lezat Remi. Coba perhatikan saja sekian banyak karakter yang dipakai yang menjadi populer itu, tidak lain dan tidak bukan adalah seekor TIKUS. Tikus yang digambarkan memang macam-macam, ada yang lucu, imut-imut bahkan bisa diterima sebagai ikon yang mendunia. Tapi coba kalau dipakai fotonya yang asli, bukan gambar kartun… dijamin tidak bisa makan sambil menonton deh. Apalagi kalau kita bayangkan si REMI yang membuat masakan kita yang sedang kita santap itu …Wuaaaaahhh. (Maaf kalau baca ini sedang puasa… )

Fenomena ini memang sudah lama terjadi. Entah apa tujuan Paman Walter memilih si tikus untuk hero-nya. Saya juga heran kenapa alat tambahan untuk memudahkan penulisan di computer itu harus dinamakan MOUSE atau TETIKUS. Mungkin ini merupakan obsesi dari para pencipta karakter itu untuk mengangkat derajat si tikus dari binatang buruk rupa, pembawa penyakit (yang pasti bau..ngga pernah mandi sih)  dan umpan si Kucing (kayaknya anjing juga banyak yang suka sih… bahkan manusia pun ada yang mau makan) …pokoknya …. si makhluk yang jueleeeek ini menjadi lucu, imut-imut, gemesin (seperti jeunglala hihihi …ngga deh seperti anak-anak saya….kapan lagi narsis) dan menjadi idola manusia di dunia ini (di planet ngga tau ada tikus ngga).

Anyway, saya benar-benar merasa perlu untuk meneliti fenomena ini, tapi sayangnya waktunya saya tidak ada. Mungkin jika ada yang punya banyaaaaak waktu luang bisa memikirkan topik ini sebagai tema skripsi atau thesis atau disertasinya (haiyah….). Dan ternyata Jepang pun tidak mau kalah dengan negara Amerika dengan Mickey Mousenya. Karena ternyata ada sebuah Picture Book di Jepang yang terbit tahun 1963 (bayangkan ….seumuran mas trainer atau pak grandis mungkin hihihi) yang mengambil tokoh TIKUS. Bukan hanya satu…malah dua ekor Tikus. Hebat ngga?

Namanya GURA dan GURI. Ingat saja Gula itu membuat gurih makanan sebagai bumbu penyedap (kakushi aji 隠し味) . Dua tokoh tikus ini diciptakan oleh Nakagawa Rieko (karangan) dan Oomura Yuriko (gambar) pada tanggal 1 Desember 1963. Diterbitkan oleh penerbit kesayangan saya FUKUINKAN SHOTEN. Ditujukan untuk anak-anak berusia 3-5 tahun … dan ditetapkan sebagai “buku wajib” oleh Asosiasi Perpustakaan Sekolah Seluruh Jepang. You can not believe it but….. buku ini sudah dicetak 160 kali per data tahun 2005. Tidak ada orang Jepang yang tidak mengetahuinya. HEBAT!!!!.(Aduuuh saya ingin sekali anak-anak Indonesia juga mengetahui cerita ini)

Ceritanya sangat sederhana. Dua tikus bersaudara (kembar) itu menemukan sebutir telur yang besar di hutan, dan ingin membuat kue castella. Tapi mau membawa telur itu ke rumah mereka tidak bisa… pasti pecah di perjalanan, karena terlalu berat. Jadi mereka membawa panci, bowl untuk adonan, pengaduk, susu dan gula dari rumah mereka ke tempat si telur berada. Sambil mengadon dan memasak kue itu, bau yang harum menyebar ke seluruh hutan, mengundang binatang lain berdatangan. Dan kue yang besar itu kemudian dinikmati bersama oleh seluruh penghuni rimba.

Yang menarik dari cerita ini adalah lagu yang dinyanyikan ole Guri dan Gura waktu menunggu kue matang yang menjadi trade mark mereka.

Bokura no namae wa Guri to Gura

Kono yo de ichiban suki nano wa

Oryori suru koto taberu koto

Guri gura guri gura….

(Nama kami Guri dan Gura

Yang kami sukai di dunia ini

Memasak dan makan

Guri gura-guri gura)

Sederhana sekali bukan? Lagunya tentu saja diiramakan sendiri oleh si pembaca. Jadi bisa saja irama pop atau dangdut (heheheh). Tapi waktu pertama kali Riku yang berumur 2 tahun dibacakan cerita ini oleh papanya, saya juga heran mendengar iramanya… seperti nyanyi gregorian hihihi. Lagu yang gen nyanyikan itu  biasa-biasa saja, tapi tetap melekat sampai sekarang. (Tapi di situ saya juga kagum bahwa membaca cerita yang simple itu bisa begitu memukau jika dihayati, dan sejak itu saya berusaha memakai “ekspresi” jika membacakan cerita untuk Riku. )

Guri dan Gura

Ini adalah buku pertama, dan setelah itu ada beberapa cerita dari seri Guri dan Gura ini dengan judul “Tamu Guri dan Gura”, “Guri dan Gura : Berenag di laut”, “Guri dan Gura :Piknik” “Guri dan Gura bersama Kururikura”, “Guri dan Gura: Pembersihan besar-besaran”. “Guri dan Gura bersama Sumire-chan” dll. Buku ini juga saya sarankan untuk mereka yang baru belajar bahasa Jepang karena semuanya tertulis dalam hiragana. Saya tidak tahu apakah di perpustakaan Japan Foundation Jakarta ada atau tidak, mungkin bisa ditanyakan langsung ke sana.

Buku Guri dan Gura ini yang pasti sudah diterbitkan dalam bahasa Inggris. Berikut adalah sinopsisnya dalam bahasa Inggris.

Guri and Gura, popular characters in Japan since their 1963 debut (of which this book is the translation), enter the American market with the first of the publisher’s projected series. Here, the two exuberant mice find a huge egg in the forest and decide to use it to make “a sponge cake so big we can eat it from dawn to dusk and still have some left over.” Realizing that the egg is too big to move, Guri and Gura haul a huge frying pan (and everything else they need) over to the egg, then mix up the batter, build a fire and share the results with all the animals who have sniffed out their cake. Yamawaki’s pared-down line drawings deliver information plainly and directly, with little shading on an expansive white background: Gura holds the lid of the pan (which towers over him), Guri raises his tiny mouse fist in excitement, and the nicely risen cake is revealed. A childlike refrain becomes a light-hearted mantra: “My name is Guri. And my name is Gura. And what do you think we like to do best? Cook and eat. Eat and cook. Yeah! Guri and Gura, that’s us.” The book’s visual appeal is dampened somewhat by bland type design and bleed-through on the matte pages. But cake-making is always a delicious theme for small readers, and Guri and Gura’s inventive energy loses nothing in the Pacific crossing. Ages 4-8.
Copyright 2002 Reed Business Information, Inc.

Lembah Moomin

Moomin Valley…. ada yang sudah tahu? Saya cari di Gugel tidak ada keterangan bahasa Indonesianya. Tentu saja topik saya kali ini adalah Picture Book, sehingga mungkin kurang menarik bagi orang dewasa. Tapi saya merasa kenapa sih begitu banyak Picture Book dari negara asing yang masuk ke Jepang? Kata suami saya, Jepang atau perusahaan Jepang tidak akan segan-segan menetapkan budget yang besar untuk Picture Book bagi anak-anak. Hanya dengan label “Pendidikan anak-anak” akan mudah untuk mendapatkan budget….
Ahhh seandainya….. (stop wishing Imelda… u know your country…)

Orang Indonesia pasti tahu tentang karakter disney, atau yang pernah populer di TV Indonesia seperti Tom and Jerry, Popeye the Sailor Man…..dll. Dan ini memang karakter terkenal yang berasal dari Amerika. Yang mengagumkan di Jepang tidak hanya mengambil karakter Amerika saja, meskipun sering dikatakan Jepang berkiblat ke Amerika. Buktinya si Moomin ini berasal dari Finlandia. Dan kita ketahui Finlandia itu menempati peringkat pertama mengenai kualitas pendidikan. Mungkin Moomin tidak ada hubungannya, tapi ada baiknya juga kita mengetahui negara Finlandia lewat Moomin.

Moomin diciptakan oleh Tove Jannson (Mrs) pada tahun 1945, tapi mencapai puncak populeritasnya waktu dikeluarkan film seri anime sekitar tahun 1990. Buku Moomin sudah terkenal sebelum itu tapi Moomin Boom timbul setelah adanya film animasi Moomin, terutama di Finlandia dan Jepang. Populer berarti banyak barang-barang dengan karakter tersebut pula yang laku di pasaran. Jannson memenangkan Anderson award International dan banyak award lainnya. Meninggal tahun 2001 dalam usia 86 tahun. Cerita Moomin dilanjutkan oleh adik lelakinya yang bernama Lars Jannson, dan sekarang dilanjutkan oleh anaknya Sophia Jannson. Untuk menjaga keaslian cerita turun temurun dalan keluarga Jannson, mereka menolak tawaran Walt Disney Company yang ingin membeli hak cipta mereka.

Meskipun saya tidak mengenal cerita-ceritanya secara langsung, saya suka warna-warna yang dipakai dalam gambar Moomin itu. Sekilas karakter Moomin mengingatkan saya pada badak yang manis. Hari ini tanggal 3 Juni dianggap oleh para fans Moomin di Jepang sebagai Hari Moomin , dari pengucapannya Mu (6) Mi (3) n. Padahal sebetulnya hari lahirnya Moomin adalah tanggal 9 Agustus.

Catatan: Kualitas pendidikan Finlandia terbaik di dunia

Lanjutkan membaca Lembah Moomin

Kiss, Boy and Girl

Saya bertemu dengan karya Pater Sato (Illustrator) ini di Harajuku. Waktu itu saya sedang arbaito di daerah itu, dan waktu istirahat menemukan sebuah letterset dengan gambar yang benar-benar cute. Gambar boys and girls. Judulnya KISS, si gadis mau cium pipi si lelaki tapi dianya malu…. Bisa terbayang.
Photobucket

 

Saya rasa media yang dipakai adalah crayon, tapi saya suka dengan paduan warnanya. Jadi saya jatuh cinta pada karya P.Sato ini dan mencari informasi mengenai dia.

Photobucket
Pater Sato ini lahir tgl 5 November 1945, di Yokosuka. 1969 dia pergi ke New York selama satu tahun, dan sepulangnya bekerja sebagai free illustrator. 10 tahun kemudian dia kembali ke Amerika dan belajar untuk komersial/editorial. th 1981 menerbitkan karya pertama yang diberi judul VENUS. Kembali ke Jepang dan sesudah itu masih satu kali pergi ke New York. Dia menjadi terkenal dengan karya pastel color nya. Sayang sekali umurnya tidak panjang, tahun 1994 dia meninggal dunia. Sekarang karya-karyanya bisa dinikmati di Pater’s Shop and Gallery di Shibuya, dengan alamat Jingumae 2-31-18 Shibuyaku- Tokyo 150-0001 tel 03-3408-4947