Beda Buku Jepang dan Indonesia

Kemarin aku sakit kepala, sampai setiap suara anak-anak menjadi gangguan 🙁 Meskipun sudah kuminta anak-anak untuk tidak berteriak atau bertengkar tapi tetap saja. Dan puncaknya sekitar pukul 7:30 malam aku menyuruh Riku mematikan televisi dan diam. Untung Riku sudah bisa mengerti sehingga dia mengajak adiknya masuk tempat tidur, dan membacakan picture book. Yang dipilih adalah “Momotaro”, cerita tentang seorang anak lelaki yang “lahir” dari sebuah Peach besar yang mengalir di sungai, kemudian diambil oleh seorang nenek yang sedang mencuci. Cara lahirnya itu yang lucu, yaitu waktu si nenek mau membelah buah peach dengan pisau, maka peach itu membuka sendiri, dan “oe oek….” seorang bayi menangis deh. Nah yang lucu di situ bergambar bayi dengan t*titnya, dan Kai menunjuk-nunjuk… Eh ada cincin! Aku juga punya! hahaha…

Rame deh akhirnya, tapi saat itu Kai bilang, “Chigau!(Berbeda)”. Ya dia ingat penjelasanku tentang buku beberapa hari yang lalu. Anak ini memang pintar, dijelaskan satu kali bisa ingat terus. Apa yang dia tanyakan waktu itu? Coba perhatikan gambar 2 picture book ini.

Saya pilihkan dua picture book, yang satu "Momotaro" dan satunya "Wall-e" terjemahan ke bahasa Jepang

Sekilas tidak berbeda ya? sama besarnya. Coba lihat foto berikutnya, bagaimana kalau kita buka halaman pertama.

Terlihat perbedaannya ya. Yang "Wall-e" membuka ke kiri, sedangkan "Momotaro" membuka ke kanan

Buku “Wall-e” seperti biasanya buku-buku Indonesia, membuka ke kiri. Sedangkan “Momotaro” adalah ciri khas buku Jepang! Membuka ke kanan. Atau kalau dengan pemikiran orang Indonesia, membuka dari belakang ke depan. YA! BERBEDA! Dan itu disadari Kai beberapa malam yang lalu waktu aku mendongeng untuk dia. (Doooh akhir-akhir ini dia selalu minta dibacakan buku, dan kadang butuh 2 jam sampai dia tertidur…sengsara bener deh aku! Kalau tengah malam dia terbangun, juga minta membaca buku. Akhirnya biasanya aku pura-pura buka buku, padahal aku tidak baca…aku ceritakan apa yang sudah aku hafal. Bahkan kalau perlu hanya bergumam saja hihii)

Nah waktu itu aku jelaskan pada Kai tentang perbedaan kedua buku itu. Pasti dia tidak bisa menyerap semua penjelasan aku, tapi tetap aku jelaskan. Dia akan bisa memahaminya kelak.

Seperti yang sudah aku katakan tadi, bahwa “Momotaro” adalah buku khas Jepang. Ditulis dengan bahasa Jepang (ya iyalah… hihihi) Tapi ditulis dari atas ke bawah. Ini sebetulnya cara menulis Jepang yang asli. Dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan. Oleh sebab itu cara membuka buku yang ditulis vertikal begitu itu harus membuka ke kanan! Sedangkan buku “Wall-e” meskipun ditulis dalam bahasa Jepang pun, ditulis dengan cara modern dari kiri ke kanan secara horisontal. Karena itu dalam membaca pun harus membuka ke kiri, selayaknya buku-buku berbahasa Inggris/Indonesia atau buku lain yang ditulis dalam alfabet.

Beda tulisan vertikal dan horisontal mempengaruhi "cara" membuka buku.

Tentu akan bertanya, loh menulis dari atas-ke bawah dari kiri ke kanan, apa tidak belepotan tuh tangannya dengan tinta? Ini juga pertanyaan aku tadinya, lalu aku teringat bahwa memang orang Jepang kuno menulis bukan dengan bolpen tapi dengan tinta dan kuas. Tidak boleh meletakkan tangan pada kertas. Gaya menulis kaligrafi Jepang pun menunjukkan bahwa sikap duduk yang lurus (tidak bongkok) mempengaruhi keindahan tulisan.

Aku pernah belajar kaligrafi Jepang sebentar dan memang sikap duduk amat sangat menentukan. Sebenarnya kalau ada kelas menulis kaligrafi yang murah, aku ingin ikut lagi deh. Atau paling sedikit ingin menyuruh Riku mempelajarinya supaya tulisan dia bagus dan rapih. ( Aku harus bersyukur bahwa dia masih termasuk rapih menulisnya, meskipun kadang aku bingung membaca tulisannya hehehe)

Well, untuk sementara waktu aku harus bersiap mendengarkan celoteh Kai sebelum aku dongengi dengan kata-kata, “Chigau (Berbeda)”

Ikkyu menulis kaligrafi dengan kuas pada kertas yang panjang. Test waktu itu adalah menulis satu huruf yang mempunyai arti dengan satu goresan saja (tidak boleh terputus) dan ikkyu memilih kata "shi" dalam hiragana yang artinya "mati"

20 gagasan untuk “Beda Buku Jepang dan Indonesia

  1. mangkum

    Wah… Kai bangun malem pengen dibacain buku…. Apa semua orang Jepang seperti ini budayanya? Ataukah di keluarga Miyashita aja? (Maap ya kalau udah pernah ada nanyain ini sebelumnya… hehehe). Kalau aku mah bangun malem, pengen makan soalnya…. 😀
    .-= mangkum´s last blog ..Rasa…. =-.

    hahaha, ngga tau tuh sekarang si Kai kalau bangun suka minta dibacain. Soalnya skr aku larang minum susu sambil tidur. Semoga kebiasaan itu cepat hilang 😀

    EM

    Balas
  2. exort

    buku bertulisan Kanji hampir mirip dengan buku bertuliskan Arab ya, dibuka dari kanan ke kiri bedanya tulisan Arab horisontal tulisan Kanji vertikal
    .-= exort´s last blog ..2 Festival =-.

    Ya benar… mirip bahasa Arab.
    EM

    Balas
  3. krismariana

    entah kenapa ya kalau lihat buku anak2 aku selalu tertarik, walaupun aku tidak mengerti bahasanya (spt buku bhs Jepang itu misalnya). tp melihat foto2nya di blog ini, aku naksir lo mbak. dan aku merasa buku2 cerita dari luar Indonesia, idenya unik2.
    .-= krismariana´s last blog ..Jogja dan Acara Murah Meriah =-.

    Ya makanya aku suka posting tentang Picture Book
    EM

    Balas
  4. kartiko

    – Mbak imel… kalo masa skg menulis tanngan pake kanji atau pake komputer pada sebuah buku apa juga halamannya dari kanan ke kiri sama dengan jepang kuno??
    – Soalnya.. komik jepang yg terjemahan bhs indonesia, masih dibuka dari kanan kekiri..

    hmmm komik jepang itu biasanya memang dari atas ke bawah tulisannya, jadi membuka ke kanan. Tergantung penerbitnya juga sih. Karena sudah banyak ikut “cara internasional” yaitu membuka ke kiri
    EM

    Balas
  5. rumah-sehat afiat

    aku dulu pernah belajar kaligrafi jepang. padahal tulisan tanganku jeleklah tapi kok nulis kaligrafi jepang malah bagus dapet nilai 95. Ternyata aku lebih cocok nulis kaligrafi jepang dari pada nulis tulisan latin. salam sehat selalu ada artikel menarik di konsep-smart-healing.

    Karena kanji itu sebetulnya kan simbol gambar, jadi tetap dilihat segi artistiknya. Tapi bagaimana mau menulis kanji dengan cantik kalau tidak tahu dasar penulisan dan artinya?
    EM

    Balas
  6. Rock

    Belajar kaligrafi Jepang susah apa gak sih?
    Aku suka tulisannya…
    .-= Rock´s last blog ..EDGUY =-.

    Tidak susah kalau sudah bisa bahasa Jepang (tulisan) 🙂

    EM

    Balas
  7. henny

    Aku ingat dulu waktu Akong (Papa dari Mama) menulis surat dalam kaligrafi China, memakai tinta khusus/bak dan kuas yg ujungnya luncip…sikap duduknya sempurna, kuas juga tergenggam dengan baik dengan hanya sedikit telapak yang menyentuh permukaan kertas…*teringat Ping yang kadang ngelendot di meja sambil menulis angka saat malas menulis…hhhh…*

    Tak kuasa aku membayangkan Kai didongeng hingga 2 jam! Ping juga selalu kudongengkan dengan membaca dari buku, setelah 3-4 halaman, kubilang “…bersambung besok malam…” hehehe soalnya aku membaca sambil berbaring disebelahnya…jadi ikutan ngantuuuuk….

    Ya memang dengan tinta khusus. Dengan tinta yang sama bisa dihasilkan lukisan hitam putih yang begitu menarik

    Ya ya ya..aku juga sambil berbaring jadi pengennya tidur duluan … TAPI ngga pernah dibolehin hihii
    EM

    Balas
  8. henny

    dan…ooh Mbak Imel sama aja kita!!, kalo sedang malas atau mengantuk, aku juga selalu ‘ngarang’ dongeng sendiri sambil memegang buku cerita…hahahaha….
    .-= henny´s last blog ..Ping; Renang Gaya Dogi =-.

    hihihi, karena yang dia cari sebetulnya hanya suara. kadang dia minta aku nyanyi juga kok 😀

    EM

    Balas
  9. radesya

    hihihi…., kai seperti aku dulu, minta dibacain buku…, adik pinter…..

    kapan-kapan kakak bacain ya Kai…. 🙂
    .-= radesya´s last blog ..Mama =-.

    Nah…kapan desya? Bisa kopdar kalau aku pulkam?

    EM

    Balas
  10. Dewa Bantal

    Terus kira2 kapan nih akan mulai dibiasakan tidur tanpa perlu dibacakan buku? ahaha..

    Kira2 kalau penulisan buku2 China dan Korea gimana ya? Apa mirip2 sama punya Jepang juga? :O

    Buku2 Arab juga?
    .-= Dewa Bantal´s last blog ..Kedua Bukanlah Tak Sebaik Pertama =-.

    Kapan ya? Sekrang ya aku enjoy aja dulu
    Sepertinya sama, tapi aku ngga tau deh, tanya sama yang ahlinya heheheh
    EM

    Balas
  11. AtA chan


    buku yang Wall-E bagus banget tuh..
    gambarnya keren-keren..
    ..
    dulu aku juga pernah baca komik great teacher Onizuka, buka halamannya juga dari kiri..
    🙂
    ..

    Itu kan foto dari filmnya ata-chan…
    aku malah lebih suka kartun yang lain daripada wall-e
    EM

    Balas
  12. bloqaditaaz

    aku juga sempat bingung baca komik yang dimulai dari kanan, tapi ada komik anak-anak yang mengajarkan cara baca komik yang dimulai dari kanan dengan memberi no jadi tinggal mengikuti no tersebut.

    Balas
  13. rauff risharasakti

    Ternyata ada 2 tulisan jepang modern dan asli.
    Baru tahu aku 🙂
    .-= rauff risharasakti´s last blog ..Aku Malu Pakai Windows =-.

    Balas
  14. sewa mobil

    Oh, gitu ya, baru tau saya buku jepang n nulisnya, he..he..he. Sayang, dah tuir saya, mau belajar bahasa, susah kayanya, baru mau ingetin jadwal aja susah mnta ampun

    Balas
  15. arman

    wuii gak kebayang susahnya nulis tapi tangannya gak boleh nempel kertas! hahaha.

    ngomongin buku, kemaren ini si andrew nemu 1 buku yang kita beli di indo. trus pas dia baca, dia bilang ke kita kalo tokoh yang di buku itu tinggal di indonesia. kita tanya kenapa dia bisa pikir begitu? dia bilang soalnya tidurnya pake guling! huahahaha. ternyata emang di gambarnya ada adegan tokohnya tidur pake guling. 😛

    ternyata si andrew ngeh juga, kalo disini gak ada guling. yang pake guling itu orang2 indo. hahaha.

    Balas
  16. Diandra

    waduuuh….tidak boleh meletakan tangan diatas kertas…?
    aq ngebayanginnya kok jadi bingung sendiri….hihihi

    mbaaaak…..lain kali kalau mau bacain dongeng direkam aja
    Kai nya disuruh merem jadi gak ketauan
    hihihi….
    *saran menyesatkan*

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *