Arsip Tag: taman safari

Family Outing

Sudah lama keluarga inti kami (coutriers) tidak mengadakan acara pergi bersama. Tentu saja sejak kami tercerai-berai tempat tinggalnya, kami sulit untuk bisa berkumpul dan bepergian bersama. Bepergian dalam arti bertamasya, berlibur. Aku selalu ingin mengajak mama pergi, waktu mama masih hidup, paling sedikit ke Yogyakarta dan menengok makam ibunya. Tapi kata mama, “Ah makam itu juga sudah tidak ada, sudah tidak tahu ada di mana.” Dan karena masalah kesehatan mamapun, aku tidak pernah bisa mengajak mama pergi. Terakhir kami (Papa, Mama dan 3 putri + keluarga masing-masing) pergi bersama adalah waktu kami mengadakan perjalanan ke Eropa melalui Natal dan Tahun Baru tahun 2002.

 

Family’s Journey to Germany 2002

Aku juga sebetulnya sudah merencanakan mengadakan perjalanan ke Yogya pada liburan musim panas ini, yang terpaksa kami batalkan karena mama menghadap Bapa bulan Februari lalu. Rencananya keluarga Gen dan papa-mamanya akan berlibur ke Yogya dan sepulang dari sana, mampir Jakarta, memperingati ulang tahun pernikahan ke 45 bagi Miyashita dan Coutrier. Namun tidak bisa kami laksanakan sesuai rencana. Sekali lagi kami diingatkan bahwa manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.

Nah, pada tanggal 4-5 Agustus lalu, Papa, aku + anak-anak serta adikku Novi + keluarga, total 9 orang mengadakan outing (cukup) mendadak ke Cisarua. Rencananya Sabtu pagi-pagi kami menuju ke Taman Safari bersama Kimiyo karena dia mau mengajak anaknya ke sana, lalu bermain bersama. Sementara Kimiyo kembali ke Jakarta karena sudah ada rencana untuk hari Minggunya kami tetap di Cisarua dan menginap di hotel dekat Taman Safari yang bernama Hotel Seruni. Chris, suami Novi sering menginap di situ jika ada seminar-seminar kantornya, dan terkesan dengan besarnya hotel itu. Tapi sekali lagi manusia hanya bisa berencana, karena ternyata Ao-kun, anak Kimiyo demam sehingga terpaksa agenda ke Taman Safari dibatalkan. Kami sendiri karena sudah sering ke Taman Safari, tetap pergi ke Cisarua, tapi langsung ke hotelnya saja, dan santai di hotelnya.

 

Bermain di Cimory yang puanas terik!

HADUUUH hebohnya 9 orang mau pergi semalam aja. Aku geleng-geleng kepala lihat persiapan adikku, selimut, baju tebal, cup noodle, snack segala oreo keripik singkong dkk, susu kotak, baju ganti, dsb dsb, persis orang mau pindahan. Aku di Jepang kalau pergi semalam, paling Cuma bawa baju ganti atasan + daleman (kecuali Kai ya), semua cukup satu tas ransel yang bisa digeret. Karena makanan, minuman dsb gampang bisa beli di perjalanan, serta di hotel pasti disediakan amenities + yukata untuk tidur (jadi tidak usah bawa baju tidur). Makanya aku tertawa melihat bagasi mobil Kijang kami penuuuh sesak dengan bawaan kami.

Kami berangkat pukul 9 an, santai, karena tidak berencana ke Taman Safari. Jalanan tidak macet, lancar jaya, sesekali macet setelah keluar pintu tol karena dekat pasar. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 12, dan kami lapar! Jadi kami bertujuan ke Cimory untuk makan siang. BUT, waktu kami sampai di sana, tertulis : “Restoran buka jam 4, Toko buka”. Kami tetap mampir, pikirnya biar anak-anak bermain. TAPI panas teriiiik. Dalam keadaan lapar dan panas, semua menjadi koro-koro (bahasa Makassar berarti kesal). Jadi kami cepat naik mobil lagi dan bermaksud mencari restoran lain, apa saja yang buka.

Hotel seruni yang kami inapi semalam. Bagus tapi…. menurutku terlalu “rame” hiasannya. Hmmm perpaduan Bali dan Perancis gimana gituuuu

TAPI TERNYATA SAUDARA-SAUDARA (terutama yang kristen), jangan berpergian tanpa makan siang di bulan puasa ke arah Puncak deh! TIDAK ADA YANG BUKA! Baik resto, kentucky, mac donald di sepanjang jalan ke Cisarua itu. Kami tidak naik sampai ke Puncak Passnya sih karena langsung berbelok masuk ke arah Taman Safari. Cukup kesal aku melihat keadaan ini, karena aku pikir, bagaimana jika aku membawa turis asing saat itu? Untung saja Kimiyo tidak jadi ikut. Seharusnya ormas yang melarang pembukaan (kabarnya resto ini takut disweeping ormas tertentu) berpikir dong bahwa arah situ merupakan tujuan wisata juga. Bagaimana mau memajukan pariwisata kalau begini. Tapi sudahlah, aku hanya bisa cuap-cuap lewat status BB, yang ditanggapi teman baikku, Ika. Dia sampai menulis, “Udah mel, kamu ke Indomart, beli cup noodle apa kek, buat anak-anak supaya jangan kelaparan”. Kujawab, “Aku tidak mau makan cup noodle waktu tamasya! Maunya makan enak kok.” Dan dijawab, “WELCOME TO INDONESIA MEL!” hahahaha. Ika, ika, i will miss you when I’m back to Japan. Semoga…semoga BB ku masih bisa dipakai di Jepang 😀 sehingga kita berdua bisa “mendiskusikan” Indonesia KITA!

JADI, aku harus mencabut tawaku tadi yang menertawakan persiapan adikku membawa cup noodle segala kan?

Sebagai solusi, kami langsung saja pergi ke Hotel Seruni, untuk cek in. DAN, kabar gembira! Restoran BUKA 24 jam!!! Muachh deh pengen aku cium tuh orang-orang hotel semua 😀 Jadi, satu alternatif bagi wisatawan non muslim, kalau mencari lunch di bulan puasa, PERGILAH KE HOTEL!

interior dan pemandangan dari kamarku yang di lantai 3

Jadi deh bersembilan masuk restoran yang amat luas, dan pesan makanan. KALAP 😀 Makanannya cukup enak loh. Ada Nasi Bali, Chicken Cordon Blue, Gado-gado dan spaghetti. Sayangnya spaghetti meat sauce pesanan Riku lamaaaa sekali baru datang, padahal spaghetti carbonaranya yang pertama datang 😀 Kasihan Riku musti menunggu lama…. “Dagingnya masih dibeli di pasar, dipotong, digiling, dibuat saus… jadinya lama Riku” 😀 Setelah makan, kami masuk kamar, dan anak-anak pergi berenang.

Boleh dikatakan kami hanya menghabiskan waktu di kamar dan di kolam renang. Tapi aku sempat beberapa kali di tengah malam keluar ke Restoran dan menggunakan internet (wifi) di sana. Soalnya di kamar tidak ada wifinya. Aku sempat mengirimkan nilai mahasiswa dan update posting TE dari sana.

berenang dan menikmati pemandangan alam. opa juga enjoy tuh

Minggunya kami keluar Hotel itu pukul 2 siang menuju Jakarta. Masih berharap Cimory buka karena mendengar desas-desus buka, tapi ternyata tidak buka. Kami langsung menuju Jakarta melewati jalan yang lancar jaya. Bulan Puasa memang surga di jalanan ke/dari Puncak…sepiiiiii. Tapi ya itu dia, jangan berharap dapat makan 😀

Kami sampai di Kebayoran Baru pukul 3 siang, dan masuk restoran Mandala di dekat pasar Santa. Aku baru pertama kali masuk restoran ini. Sebuah restoran yang kecil, khas chinese, tapi begitu ramai. Waktu kami datang, kami masih harus berdiri nunggu giliran meja kosong. Kami tetap tunggu sampai ada meja kosong, dan penantian kami terbalaskan oleh masakan yang enak-enak. Seperti kata Dodo, temanku, Sup Tahu Seafoodnya nomor satu!

 

Restoran yang sudah ada sejak aku kecil, namun aku baru pertama kalinya ke sini. Biasanya ke restoran saudaranya (Mandala Baru) di Mayestik. Sup Tahunya memang enak.

Akhir pekan dengan family outing yang singkat, tapi padat dengan pengalaman.

Ketika Koala bertemu Koala

Si Koala KAI sudah bertemu Gajah di sini. Juga sudah pernah ke kebun binatang Indonesia, Ragunan. Tapi dia belum bertemu saudaranya, sesama Koala. Jadi hari Minggu tgl 13 September lalu, kami pergi ke Tama Zoo. Berangkatnya sesudah makan siang, tapi dengan begitu kami jadi tidak terlalu capek. Karena tidak semua tempat kami kunjungi.

Tujuan utama memang menemui Koala, yang memang kandangnya terletak paling jauh dan dalam. Sehingga sambil menuju ke arah kandang koala, kami mampir melihat kandang binatang dari yang terdekat dengan pintu masuk. Ada kolam dengan bebek dan angsa, tapi sama kotornya dengan ragunan hehehe. Kemudian ada kandang tapir, yang dalam bahasa Jepangnya disebut Baku. Baku ini sering dipakai sebagai peneman tidur. Entah apa yang membuat image seperti ini.

Setelah itu kami melihat kandang rusa dan beruang. Yang lucu yang beruang ini, dia sepertinya sangat “narsis” dan merasa semua perhatian padanya, sehingga selalu melakukan ritual khasnya. Dia berjalan kearah pintu lalu berdiri dan berbalik kembali ke tengah “catwalk”…

Di dekat kandang beruang juga terdapat kandang burung seperti beo dan burung merak (kujaku). Karena Riku sudah pernah lihat burung merak yang indah sekali di Taman Safari, dia berkata, “Ah di sini jelek, yuuuk kita pergi!” hihihi. Memang sih, kalau bisa lihat sedekat yang waktu itu, burung merak di sini tidak menarik. Tapi, burung beo di sini sangat pintar bergaya. Dia memamerkan bulunya yang indah, bagaikan peragawati.

Setelah itu kami pergi ke taman burung. Maunya seperti Taman Burung di Taman Mini, tapi di sini kecil sekali dan hanya ada jenis burung yang ada di Jepang. Kalah deh dengan Taman Burung di TMII, tempat favorit saya, meskipun setelah gemparnya flu burung, saya takut mengajak orang Jepang ke situ.

Akhirya kami sampai di kandang koala di gedung khusus paling dalam kebun binatang ini. Semua gelap di dalam sini. Karena koala adalah binatang yang sensitif, kami juga diwanti-wanti untuk tidak memakai lampu blitz waktu memotret. Dan, lihatlah si Koala bertemu saudaranya!

Paling akhir kami menengok kandang gajah India. Kami baru tahu ternyata gajah yang berada di situ, menjadi model sebuah Picture Book  yang berjudul “Tomodachi wo tasuketa Zou tachi” Gajah-gajah yang menolong temannya. Ada tiga gajah yang dahulu menghuni kebun binatang Tama ini. Yang masih hidup sekarang bernama Annura. Saya tidak bisa mengambil fotonya karena dibalik kandang besi yang teralinya cukup mengganggu pemandangan. Annura ini pernah sakit, dan gajah bila sakit tidak bisa tidur rebahan. Tidur dalam keadaan berdiri. Yang menjadi tema cerita dari Picture Book itu adalah betapa dua teman Annura, selalu berada di sisi kanan dan kiri Annura, menyangga, menopang, membantu Annura selama sakit, dan itu berlangsung cukup lama. Ahhh Gajah saja bisa perhatian begitu, masak kita manusia tidak bisa membantu sesama yang kesulitan?

Akhirnya pukul 4:50 sore, kami diperintahkan untuk meninggalkan lokasi kebun binatang karena akan tutup. Tapi sbeelumnya kami sempat mampir di tempat orang utan, yang orang utannya sudah berlarian entah kemana. Hanya ada satu yang bergelantungan dan bergerak terus, sehingga sulit untuk dipotret. Tetapi di bagian luar ada dua orang utan yang diberi nama Yuki dan Kiki. Kiki ini berasal dari Taman Safari Indonesia. Ada satu lagi penghuni kandang ini yang bernama Jipsi, berasal dari Malaysia. Dan saya menemukan satu lambang (bendera) yang akhir-akhir ini cukup menjadi berita, dua saudara yang sedang “bertengkar”. Begitu saya melihat ini, saya sempat menjelaskan pada Gen yang tidak mengerti. “Untung merah putih di atas, kalau tidak…. tambah berkelahi lagi hihihi!”. Ahhh, seharusnya kita banyak belajar dari binatang…. Betul kan?

Kai dan mama menunggu pesanan spaghetti datang... laparrrr!

Tama Zoo terletak di Kota Hino, turun di Tama Dobutsu Koen kira-kira satu jam perjalanan dari Shinjuku (Keio Line). Harga tanda masuk 600 yen untuk dewasa, dan gratis untuk anak berusia 0-12 tahun. Keterangan dalam bahasa Inggris bisa dilihat di situs ini.

Ketika Koala bertemu Gajah

Sebetulnya Riku sudah sering ke Taman Safari, bahkan dia juga sudah ke sana tanggal 1 Agustus yal bersama sepupu-sepupunya. Tapi saat itu Kai tidak ikut. Karena itu, ketika Eka mengajak kami jalan-jalan, setelah dari Mie Janda, kami putuskan untuk pergi ke Taman Safari. Untuk Eka dan Kai, Taman Safari adalah yang pertama. Bagi Krismariana, sesudah bertahun-tahun lewat (katanya terakhir ke TS ini waktu masih SD…waduh). Saya sendiri sih sudah sering, karena sering mengantar tamu Jepang ke sini.

Yang lucu, Riku karena sudah pernah ke Taman Safari, dia berlagak menjadi penunjuk jalan. Begitu keluar tol, dia bilang “Sudah dekat loh…”. Kemudian selalu mengingatkan kami untuk membeli wortel dulu sebelum masuk ke TS. “Nanti mau kasih makan Llama loh!”. Jadi deh begitu kami belok kanan dan memasuki jalan kecil menuju TS ini, mampir dulu untuk membeli wortel di pinggir jalan.

Kami sampai di Taman Safari ini,  kira-kira pukul 2 lewat dan langsung memasuki areal binatang. Sebetulnya Kai sedang tidur waktu itu, tapi aku pikir, sayang kalau dia tidak lihat binatang yang ada. Dan benarlah, begitu aku bangunkan dia, pas dia melihat Gajah… langsung, “ooowww … awwww…. … mama…”celoteh kekaguman bertubi-tubi.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini, menikmati kehadiran binatang-binatang yang ada dari dekat. Binatang pertama yang menyambut kami adalah Zebra.  Berturut-turut kami melihat Gajah, Llama, Kijang, Kuda Nil, Rusa, Bison, Anoa, Beruang, leopard dsb dsb… Memang puas rasanya melihat berbagai jenis binatang yang ada. Lain deh perasaannya dibandingkan waktu pergi ke Ragunan. (Yah harganya juga beda berpuluh lipat)

Setelah selesai dengan course yang naik mobil, kami berhenti di parkiran untuk melihat pertunjukan gajah. Yang pasti Riku mau naik gajah katanya. Kai yang agak malas berjalan (minta digendong terus) juga antusias melihat gajah, sehingga dia langsung berlari menghampiri. Kami sampai di arena tersebut kira-kira pukul 4, dan dikatakan bahwa setengah jam sesudahnya akan ada pertunjukan gajah yang terakhir. Jadi sambil menunggu waktu pertunjukan, kami berfoto dengan gajah dan naik gajah. Untuk Riku, sudah ke tiga kalinya dia naik gajah, tapi untukku dan si Koala Kai pertama kali. Sempat saya tanyakan pada petugasnya, apakah bisa ‘gajah’ naik Gajah? Jawabannya…. “Ngga apa bu, tiga ‘gajah’ juga masih bisa” hahahaha.

Koala, Gajah dan Riku naik gajah... goyangannya muantabbb
Koala, Gajah dan Riku naik gajah... goyangannya muantabbb

Jadilah kami bertiga naik Gajah yang terbesar di situ. Well, naik gajah ternyata amat sangat tidak nyaman. Mana aku musti menggendong Kai yang ketakutan, sambil berpegangan menahan goyangan setiap kali si gajah melangkah.

Selesai course naik Gajah ini, kami menonton show, dan di akhir show ada pertunjukan si Gajah menggambar dengan kuas pada sebuah T-shirt. Aku jadi ingat sebuah cerita dari seri Curious George tentang gajah dan monyet yang melukis. T shirt yang digambar gajah-gajah ini dijual tentu saja, untuk biaya apa tepatnya sih aku tidak tahu. Tapi akan menjadi cerita yang menarik bagi Riku sebagai pengalaman di liburannya kali ini, jadi aku mengacungkan jari mau membeli Tshirt itu. (Memang cukup mahal harganya, yaitu Rp. 100.000 untuk selembar kaos. Kalau saya bukan turis, pasti saya tidak akan beli hehehe)  Rupanya ada upacara khusus untuk 4 pembeli pertama, yaitu upacara pengalungan bunga oleh sang gajah. Tapi rupanya si Gajah bingung untuk mengalungkan karangan bunganya pada Kai yang digendong, sehingga akhirnya aku yang dikalungkan bunga.

Riku dikalungkan bunga oleh gajah
Riku dikalungkan bunga oleh gajah

Setelah upacara pengalungan bunga, kami mengambil T Shirt lukisan si gajah di samping panggung. Melihat Riku dan Kai memakai T Shirt itu, aku teringat untuk membelikannya juga untuk Gen, sehingga “my Three Boys” bisa kembaran…. hehehe.

Karena di samping panggung juga ada toko cendera mata, kami masuk ke dalam untuk melihat-lihat apa ada yang bisa dijadikan oleh-oleh. Yang pasti Riku harus membeli oleh-oleh untuk 3 sahabatnya di Tokyo. Aku sempat pusing mau membelikan apa untuk anak laki-laki seusia Riku sebagai hadiah dari Jakarta. Tapi begitu melihat boneka harimau dan leopard yang Riku pilih, aku langsung setuju untuk membeli. CUTE! dan harga murah jika dibandingkan dengan barang yang sama di Tokyo. Yang terpenting juga, ada kalung/tag di leher mereka yang bertuliskan “Taman Safari Indonesia”. Well ini sangat mewakili oleh-oleh yang manapun.

boneka binatang ini memang lucu dan empuuuk
boneka binatang ini memang lucu dan empuuuk

Yang aku heran, Riku akhir-akhir ini suka pada boneka stuffed animal sebagai teman tidur. Perasaan dulu aku tidak pernah punya boneka (apalagi orang hahahah) sebagai teman tidur deh. Tidak juga bantal atau guling khusus yang konon dimiliki oleh anak-anak yang tidak bisa digantikan oleh apapun juga, meskipun sudah robek, usang dan tidak karuan bentuknya. Seakan setiap anak punya “boneka/benda kesayangan”. (Dan aku rasa pasti di antara pembaca TE juga ada yang begini, atau bahkan mungkin mempunyai boneka itu sampai sekarang… hiiii kebayang deh bentuknya) Well, aku tidak! Tapi Riku akhir-akhir ini membawa si beruang hadiah dari Opa dari Toronto sebagai teman tidur, dan dia bawa dari Tokyo dan menghuni tas ransel hijaunya, dan setia menemani dia tidur di Jakarta.

Sebetulnya ada cerita unik mengenai si beruang ini, yang aku ketahui dari Mbak Riana, asisten rumah tangga di Jakarta. Dia bercerita begini, “Bu, Riku lucu deh…tiba-tiba datang pada saya dan bilang gini….
“Mbak beha aku mana?”
“Emang Riku punya beha?”
“Iya … beha aku mana… (padahal yang dia maksud itu BONEKA beruangnya) hahahaha. Aku baru mengerti setelah lama, bahwa Riku memang tidak salah atau menghafal salah. Mungkin malah si Mbak mendengar salah. Karena Beruang dalam bahasa Jepang adalah KUMA, tapi jika memakai Japlish, akan menjadi BE-YA (bear) …dan memang Beha dan Beya itu dekat! hihihi.

Nah, kembali lagi ke toko souvenir Taman Safari. Aku heboh menyuruh Riku memilih kado untuk teman-temannya. Padahal dia sendiri sibuk memeluk dua buah boneka yang agak besar, boneka harimau dan macan putih.
“Mama, aku boleh beli ini? Ini kado untuk papa”
“Boleh … tapi satu aja ya…”
“Tapi ini untuk aku… aku mau dua ini. Yang ini papa, yang ini aku”
(perlu diketahui bahwa semua percakapan Riku di Jakarta memakai bahasa Indonesia! Dia sudah mahir dan sering show off bahwa dia bisa bahasa Indonesia… terutama doang, dong, banget dan kereeeen)
Well, dengan alasan itu aku bisa merasakan dia sudah kangen papanya. Jadi aku setuju membeli dua boneka yang kemudian dia bawa terus ke mana-mana, mirip lagunya Mbah Surip alm…. digendong ke mana-mana.

Sementara itu toko mulai dipadati pengunjung. Duh mesti begini deh. Setiap aku masuk toko yang kosong, yang tadinya tidak ada siapa-siapa….tidak lama akan menjadi penuh dan…menyebalkan karena terpaksa aku yang harus antri menunggu pembeli lain memilih dan membayar. Hal ini pernah juga aku tulis dalam postingan berjudul  JINX. Sifat “menarik pembeli” sepertinya juga terjadi waktu penawaran TShirt lukisan gajah tadi. Yang tadinya tidak ada yang mau membeli, setelah aku, Riku dan Kai maju ke depan menerima pengalungan bunga, bertubi-tubi orang yang juga mau membeli.Akhirnya abis deh stock T Shirt hari itu…. Syukurlah.

Sementara itu Kai si Koala ternyata juga berkeliling sendiri dan menemukan mainan yang dia mau…dan itu bukan boneka fluffy, tetapi bentuk dinosaurus. (Yang akhirnya begitu sampai rumah tidak ketahuan lagi ada di mana…..). Karena sudah lewat jam setengah 5, padahal kami harus sampai di jakarta jam 7 malam karena Adrian menunggu, jadi kami buru-buru keluar dari lokasi Taman Safari. Memang masih banyak yang belum kami lihat, termasuk berfoto di Baby Zoo dsb… well next time ya…

Yang mengejutkan kami adalah kenyataan bahwa jalan turun dari Taman Safari sampai ke depan tol itu ternyata MACET CET CET…. KOK bisa ya? padahal kan hari biasa tuh… Kalau begini, bisa-bisa jam 10 kami baru bisa sampai Jakarta. Biarpun kami bisa bercerita macam-macam, tetap saja khawatir dengan keadaan jalan yang macet begitu. And then…. terdengarlah bunyi SIRINE…..

Voorrijder!!!

kemudian supir cantik kami berkata,
“Mbak Em, aku ngga sabar nih… boleh ya..”
“Wah aku sih terserah..kamu yang nyetir kok!”

Dengan keahliannya menyetir, Eka langsung masuk ke belakang mobil yang berada di belakang “pembuka jalan” itu, menyalakan lampu hazard, dan sesekali membunyikan klakson pada mobil yang mau menyalip kami. Jadilah kami menjadi rombongan di belakang Voorrijder yang jelas-jelas mengambil setengah  jalur naik, sehingga kami dengan leluasa bisa “ngebut” melampaui deretan mobil yang terjebak macet.

Well, aku pernah menulis bahwa aku tidak mau berada pada rombongan yang dikawal oleh Voorrijder pada tulisannya Daniel Mahendra, dengan alasan malu. Tapi jelas untuk kondisi semacam ini, memang ada bermacam perasaan…. malu, deg-degan, merasa kasian pada yang terjebak macet, tapi jika mengetahui waktu 2 jam bisa dipersingkat begitu cepat… maka uang Rp 1 juta (katanya) rasanya tidak mahal jika kita dalam keadaan darurat.  Yang pasti, aku sendiri tidak bisa menyetir seperti Eka, dan tidak berani “ikut-ikutan” pada rombongan di belakang pembuka jalan. Nyaliku kecil, dan aku memang masih “de niue batakers” kalah bener dengan the real batak, Eka.

Kalau aku mungkin, setelah tahu bahwa memang bisa menyewa jasa voorrijder…. akan mengeluarkan uang segitu untuk mohon dikawal…jika terpaksa. Ahhh… memang aku tidak bisa melawan peraturan. Mungkin karena itulah aku berada di Jepang! Dimana peraturan memang ada untuk dipatuhi…..

Kalau aku yang menyetir, pasti patuh berada di antrian dan sampai di Jakarta pukul 10 malam. Dan tentu saja aku bersyukur sekali, mempunyai supir yang cantik, berani dan handal menyetir seperti si Eka. Sayang aku tidak bisa menggaji dia untuk menjadi supir pribadiku (ngga bakal dikasih lah sama Adrian hihihi). Cukuplah hari itu, aku menikmati THRILLING yang mungkin tidak ada ke dua kalinya dalam hidupku.

Eka…. you are GREAT!!!! (Riku juga enjoy loh, dia duduk di samping bu supir!”)

Sebetulnya masih banyak yang ingin kutulis, begitu banyak foto yang ingin kupasang…. tapi nanti pembicaraan jadi tidak terfokus, jadi kusudahi sampai di sini. Tapi yang pasti hari itu Kamis, 13 Agustus, merupakan hari yang benar-benar menyenangkan. Thanks to Eka and Krismariana.

So… next year….driving to…. Bandung or Jogja? yihaaaa.

Kai mau menjadi driver seperti Tante Eka!
Kai mau menjadi driver seperti Tante Eka!