Arsip Tag: SD Jepang

Atas Bawah Sama Berat

Hari Sabtu, 1 Juni, hari yang ditunggu-tunggu Riku. Karena hari itu adalah hari undokai, sport day SD nya, dan jika hari ini berlalu berarti hari-hari penuh derita untuk latihan akan berlalu! Dan kekhawatiranku akan hujan, tidak terbukti karena hari ini cuaca cerah bahkan terik! Aku tak menyangka bahwa aku bisa terbakar matahari dan baru sadar waktu mencuci muka malam harinya, terlihat muka dan hidungku merah-merah karena terbakar 😀 Kupikir aku yang hitam ini pasti tidak terpengaruh oleh sinar matahari seperti layaknya Gen dan teman-teman Jepang lainnya…. eeehhh ternyata terbakar juga 😀

Pagi hari aku bangun jam 5 dan mulai memasak bento (bekal makanan). Sekaligus aku juga memasak ayam bumbu rujak untuk kegiatan bazaar gereja  hari Minggunya. Jam 6 pagi Riku bangun dan minta sarapan. Hari itu kupikir aku harus menyiapkan bento untuk 4 orang, tapi ternyata tidak. Gen yang tadinya mengambil cuti supaya bisa menonton pertandingan olah raga anaknya, terpaksa harus bekerja. Riku tentu kecewa. Tapi aku bisik padanya, “Papa juga sebetulnya sedih sekali tapi karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, terpaksa harus ke kantor. Besok kan bisa pergi dengan papa. Hari Senin kan libur, nanti pergi berdua mama ya….Hibur papa juga ya….” Dan dia bisa merelekan papanya pergi ke kantor.

senam pemanasan

Berarti? Aku harus pergi cepat-cepat dengan Kai untuk mengikuti acara undokainya Riku. Tahun lalu aku tidak perlu cepat-cepat karena Gen ada, dia pergi duluan dan setelah itu aku pergi sebentar. Tidak perlu juga untuk menonton keseluruhan acara. Tapi tahun ini Riku terpilih menjadi murid yang harus memimpin kelasnya untuk senam pemanasan. Jadi dia berdiri paling depan kelasnya. Selain ini pada program ke 3, dia akan berlari 100 meter. Untuk acara olah raga ini, yang benar-benar “bertanding” hanya lari 50 m (untuk kelas 1,2), 80 m (untuk kelas 3,4) dan 100 m (untuk kelas 5,6). Yang lainnya bersifat permainan dan exhibition. Meskipun bertanding dan permainan pun tidak dihitung siapa yang “paling” berdasarkan invidual tapi berdasarkan kelompok. Ya, kelompok Merah dan Putih. Riku termasuk kelompok Merah, dan sejak kelas satu SD dia memang selalu kelompok Merah. Tahun lalu yang menang adalah kelompok Putih, sehingga kelompok Merah bertekad untuk memenangkan undokai tahun ini.

kibasen

Setelah menonton lari 100 m, aku dan Riku pergi ke taman dekat sekolah dan aku menunggui Kai bermain di situ, sampai tiba giliran Riku tampil lagi dalam acara “Kibasen 騎馬戦 ” dari kelas 5 dan 6. Pertandingan ini dilakukan dengan 4 orang dalam satu kelompok. Seperti prajurit berkuda, dengan 3 orang di bawah dan 1 orang di atas. Yang dibawah menahan yang diatas, tapi yang diatas harus berusaha mengambil topi lawan dan berusaha supaya topinya tidak diambil lawan…sama-sama berat tanggung jawabnya. Kulihat kelompok Riku berhasil mengambil topi satu kali, tapi juga diambil topinya satu kali. Tapi secara keseluruhan kelompok Merah menang dalam pertandingan Kibasen ini. Waktu selesai jam sudah menunjukkan pukul 11:30 lewat jadi aku dan Kai pulang ke rumah untuk makan siang. Sedangkan Riku makan siang bento yang kusiapkan dengan teman-temannya.

Aku kemudian kembali lagi ke sekolahnya sekitar pukul 12:40 karena ada exhibition, tarian Soranbushi dari kelas 5, sebuah tarian tradisional yang sangat dinamis. Riku sampai sakit kakinya karena setiap hari harus latihan. Memang otot paha sangat dipakai dalam tarian ini, serta kecepatan bergerak mengikuti irama. Senang sekali melihat Riku bisa mengikuti semua gerakan tanpa salah ataupun terlambat. Kalau aku yang di situ… pasti tidak bisa 😀 Untung sekali juga aku mengambil video dari depan, sehingga bisa melihat gerakan dan pada posisi terakhir Riku berada paling depan, menghadap ke kursi kepala sekolah dan tamu-tamu.

soranbushi

Sebetulnya setelah acara Soranbushi ini aku bisa pulang, karena Riku tidak tampil lagi sampai upacara penutupan. Tapi aku ingin sekali melihat senam oleh kelas 6. Karena aku tahu mereka biasanya membuat ningen piramid (piramida manusia) . Dan aku bersyukur sekali bisa melihat senam itu, karena… aku begitu terharu melihat kekompakan mereka.

Formasi pertama, berdua-dua membuat berbagai bentuk dan yang membuatku terharu pertama adalah pasangan yang satu muridnya berbadan besar sedangkan temannya kecil. Waktu formasi yang kecil harus menahan badan si besar yang berdiri dengan tangan, guru yang bertugas ikut membantu si kecil. Ya, dalam senam ini ada sekitar 8 orang guru yang mengawasi dari jauh di setiap sudut. Jadi anak-anak memang diberi tugas untuk membentuk formasi, berusaha, tapi jika tidak bisa salah seorang guru akan membantu. Tidak dilepas begitu saja, dan guru-guru juga menjaga supaya jangan terjadi kecelakaan. Bukan hanya memerintah tapi juga mendukung. Tanpa sadar air mata menggenangi sudut mataku 🙁

senam kelas 6

Formasi berikutnya bertiga, berempat, dan entah berberapa, ada beberapa formasi yang membuat aku menahan nafas. Ada anak yang didukung bersama sehingga bisa membetuk formasi terbang. Atau didorong sehingga berdiri di atas  pundak beberapa anak dan… menjatuhkan diri. Wah, perlu kepercayaan yang besar bahwa dirinya tidak akan terjatuh. Kerjasama yang di atas dan di bawah, membuat penampilan mereka perfect, sempurna. Ah, mereka BARU kelas 6 SD. Aku dengan susah payah menahan haru, menahan tangis melihat penampilan mereka. Dan sambil berpikir dalam hati: “Tahun depan anakku kelas 6 SD, terakhir di SD dan pasti akan mengikuti senam seperti ini. Sedangkan sekarang saja aku susah payah menahan tangis…apalagi tahun depan ya? Undokai terakhir untuk Riku dan pertama untuk Kai yang akan masuk kelas 1 SD”…

Dan sebagai performance terakhir mereka membuat piramida manusia. Bagi yang mau melihatnya silakan videonya sudah saya upload di Youtube.

Sebagai acara terakhir yang menentukan kemenangan kelompok merah dan putih adalah menggelindingkan Bola Raksasa bersama. Ini juga merupakan acara kesukaanku. Melihat mereka berusaha mendorong, menggelindingkan dan mengangkat bola raksasa itu seakan-akan aku ikut dalam barisan mereka. Daaan, hasilnya kelompok Merah mendapat nilai 523 dan kelompok putih 417, jadi kelompok merah yang menang! Horreeeee

Aku pulang bersama Riku dan Kai sekitar pukul 3:30 sore. Capek, tapi senang. Dan sebagai hadiah untuk Riku, kami membeli es krim di Circle K dan yang paling menyenangkan bagi Riku adalah melihat papanya sudah sampai di rumah waktu memasuki apartemen kami. Malam itu Riku juga menantang papanya bermain catur Jepang “Shogi” dan bisa memenangkan satu kali pertandingan. Hari yang indah untuk kami sekeluarga, meskipun bagi Gen tidak begitu indah karena harus bekerja dan “kalah” shogi dari Riku. Tapi satu yang selalu kuingat dari undokai Riku adalah “kerjasama”, mau di atas, mau di bawah, atau kalah menang, semuanya sama berat tugasnya, tapi semua “beban” akan menjadi ringan jika dijalankan bersama, dan tentu saja dengan berusah payah berlatih.

Puisi Pertama

Saya tidak ingat lagi kapan saya menulis puisi pertama kali. Dulu waktu SD kalau mendapat tugas menulis puisi tentang “ibu” misalnya, saya akan mengubah puisi yang saya temukan di koran-koran yang memang saya kumpulkan (saya hobby mengumpulkan puisi dan cerpen dari kecil, menggunting koran dan membuat clipping). Uuuh bokis (payah) banget ya? (masih untung ngga plagiat hihihi)

Tapi memang ada masa saya merasa labil di usia 12-13 tahun dan saat itu saya sering menulis puisi. Puisinya tentang kesedihan, kesepian, pokoknya yang jelek-jelek deh. Waktu pulkam kemarin saya menemukan buku kecil berisi tulisan itu, buku waktu saya berusia 13 tahun….. dan bisa saya baca sambil tersenyum meskipun isinya tentang kematian semua. Mungkin karena itu pula, saya akan lebih bisa menulis puisi dalam keadaan hati yang sedih atau patah hati. Jarang sekali jika hati berbunga-bunga apalagi waktu sedang jatuh cinta. Well, saya juga tidak suka lebay-lebay-an sih hihihi.

Saya sendiri tidak tahu atau tidak sadar apakah ini adalah puisi pertamanya Riku atau bukan. Memang Riku sejak kecil sudah pandai membuat kalimat dengan kata-kata yang sulit. Tapi kalau puisi?

Tadi malam, papanya menemukan kertas tugas di sekolahnya, dan kami berdua merasa “takjub” dengan cara penulisan Riku. Rupanya gurunya juga merasa kalimat Riku bagus, sehingga dia menandai dengan tanda bulatan berbunga.

Cara penilaian guru di sini memang berbeda dengan di Indonesia, yang setahu saya dulu menggunakan tanda centang (entah kenapa waktu pemilu menjadi contreng) dan tanda “kruwel-kruwel” yang menyatakan bagus (kayaknya ini asalnya dari negara belanda deh…musti tanya dulu)

tanda benar di Indonesia kan seperti ini, bingung deh mahasiswa Jepang waktu lihat penilaian saya hihihi
tanda benar di Indonesia kan seperti ini, bingung deh mahasiswa Jepang waktu lihat penilaian saya hihihi

Kalau di Jepang, guru menandai dengan tanda silang (X) untuk sesuatu yang salah, tanda segitiga (△) untuk sesuatu yang dianggap kurang, tanda bulat (O) untuk yang benar. Dua bulatan untuk yang dianggap bagus, dan tanda bunga jika dirasa “hebat”.

tanda bulat untuk benar, dan dua bulatan untuk bagus
tanda bulat untuk benar, dan dua bulatan untuk bagus

Saya mau share tulisan Riku di sini;

森が月のひかりにてらされています。

どうぶつたちはねむっています。

きこえるふくろのこえ。

Sinar bulan menyinari rimba

binatang tidur

terdengar suara burung hantu

(hmmm kalau diterjemahkan kok “jiwa”nya hilang ya? hehhee)

Tanda bunga untuk menyatakan bagus sekali atau hebat
Tanda "bunga" untuk menyatakan "bagus sekali" atau "hebat". Ini yang saya anggap puisi pertama Riku (padahal mungkin ada yang lain sebelumnya)

.

Anda punya kenangan tentang puisi atau karangan yang bagus?

Penutupan Sekolah

Memang akhir-akhir ini di Jepang ada berita tentang sekolah yang ditutup, terutama SD, karena tidak ada muridnya. Ini merupakan imbas dari jumlah anak atau kelahiran di Jepang yang semakin sedikit, sehingga terpaksa untuk daerah tertentu yang jumlah murid usia SD nya tidak ada/sedikit sekolah ditutup atau dihentikan.

Tapi kali ini yang ingin saya bahas bukan penutupan sekolah secara permanen, tetapi hanya sesaat (temporary) dan merupakan keadaan darurat sehingga terpaksa ditutup. Istilahnya memang “Penutupan Sekolah” 学校閉鎖 gakkou heisa. Tapi mungkin untuk orang Indonesia bisa dipakai istilah “Meliburkan satu sekolah”. Dan mungkin di Indonesia tidak ada kebijakan ini, yang ada mungkin karena terpaksa, seperti yang terjadi di daerah yang menjadi korban bencana.

Di Jepang kebijakan penutupan sekolah ini ada dan terpaksa diambil sebagai tindakan untuk mencegah penyebaran penyakit atau wabah yang kemungkinan akan meluas melalui kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Dua tahun yang lalu saya pernah mengalaminya di universitas akibat penyakit hashika (measles) yang melanda mahasiswa universitas. Konon angkatan tersebut waktu kecil tidak mendapatkan vaksin hashika, sehingga tidak mempunyai kekebalan terhadap penyakit hashika.  Measles pada orang dewasa ini dikhawatirkan bisa tersebar melalui kegiatan pembelajaran, sehingga banyak/ hampir semua universitas meliburkan kegiatan kuliah selama 2 minggu.

Nah, dengan adanya influenza jenis baru, yaitu  virus H1N1 atau yang disebut juga dengan flu babi, sudah banyak sekolah yang menutup/meliburkan sekolahnya terutama di daerah Kansai ( daerah sekitar Osaka, Kobe, Kyoto) Jepang barat. Dan hari ini (tanggal 19 Oktober) aku tercenung waktu menerima selebaran pemberitahuan dari sekolahnya Riku bahwa kelas 5, seluruh kelas dan kelas 6-1 ditutup/diliburkan sampai dengan tanggal 23 Oktober nanti. Meliburkan kelas lima keseluruhan disebut dengan Gakunen heisa 学年閉鎖 dan satu kelas 6 saja disebut dengan gakkyuu heisa 学級閉鎖. Memang tidak dikatakan akibat virus jenis baru ini, tapi memang di 3 kelas 5 sudah ada 8 orang terkena influenza dan demam seperti influenza diderita oleh 14 orang. Untuk kelas 6-1 ada 2 orang yang terkena influenza dan 5 orang demam.

Akhirnya….sampai juga di sekolah/daerah kami. Semoga penutupan kelas ini tidak menyebar atau memburuk dengan harus meliburkan satu sekolah 学校閉鎖.  Akibat penutupan kelas ini, kegiatan sore hari di sekolah juga dibekukan, sehingga otomatis anak-anak langsung pulang, dan menghabiskan waktu di rumah saja. Waaaah aku pikir, kalau sampai Riku musti libur…bagaimana nih dengan kerjaanku. Semoga ngga deh (Sambil membayangkan ibu-ibu murid kelas 5 dan 6-1 yang harus ‘melayani” anaknya di rumah sampai Jumat …duh…)

Padahal persis hari ini (tanggal 19 Oktober), di seluruh Jepang diadakan penyuntikan vaksin anti virus H1N1 yang diproduksi Jepang. Memang jumlahnya masih terbatas (1 juta orang), sehingga yang saya dengar dari berita, vaksin terutama diperuntukan bagi pekerja medis (dokter dan perawat), ibu hamil yang berisiko tinggi karena virus ini berbahaya untuk janin, dan anak-anak usia sekolah dasar. (Sudah ada korban beberapa orang anak karena virus ini jika komplikasi dengan penyakit lain akan menjadi penyakit yang parah dan sulit disembuhkan). Menurut kabar balita dan usia SD s/d kelas 3 akan menerima vaksin itu pada bulan Desember mendatang. Dalam tahun ini diperkirakan bisa diproduksi vaksin untuk 100 juta orang.

Kalau dipikir sistem yang cepat tanggap seperti ini memang merupakan ciri khas Jepang, yang selalu bisa memprediksi suatu masalah dan mengambil keputusan yang mungkin juga agak terlambat, tapi cukuplah untuk mencegah penyebaran sehingga tidak menjadi masalah akut. Yang pasti kami memang harus lebih menjaga kesehatan karena menjelang musim dingin, ketahanan tubuh berkurang dan kemungkinan terjangkit influenza cukup besar. Saya juga sekarang rajin sekali menggunakan alkohol yang disediakan di setiap sudut kampus tempat mengajar, sebagai salah satu pencegahan penularan penyakit.

Well, mencegah memang selalu lebih baik daripada mengobati.

Cita-cita

Jumat lalu sepulang dari kerja, aku menjemput Kai dan sambil mendorong baby-car dengan Kai di atasnya, aku menjemput Riku dari les bahasa Inggrisnya. Dalam perjalanan pulang, sambil berjalan dia berkata,

“Mama, nanti kalau besar aku mau jadi pelukis saja”
“Hmmmm…”
“Kan Riku suka menggambar”
“Ya, boleh tapiiiiii…. harus belajar semua, jangan cuma menggambar saja”
“Iya, nanti kan aku mau masuk universitas, belajar yang susah-susah, yang tidak diketahui anak SD”
“Iya…. Riku mau jadi apa saja boleh, tapi tetap musti belajar ya” .

Sambil aku ngedumel dalam hati…. jangan jadi pelukis kenapa ya? Pemasukannya tidak tetap. Iya kalau terkenal…kalau tidak terkenal mau makan apa? Masak bergantung pada orang tua terus sampai tua?.

Sesampai di rumah, pas aku lagi menyalakan komputer untuk online, Kai datang padaku membawa kamera kami yang lama. Cara pakai kamera ini memang agak rumit, sehingga dia tidak bisa pasang sendiri. Kalau yang baru, dia bahkan sudah tahu di mana tempat SD cardnya segala. Setelah aku ajarkan bagaimana-bagaimananya, dia pergi dengan mengambil foto semua yang dia lihat. Hmm untung digital, jadi nanti bisa dihapus. Kai juga sudah semakin besar….

Malam hari, anak-anak sudah tertidur, aku menemani Gen yang baru pulang untuk makan malam. Saat itu aku baru ingat bahwa Riku hari ini menerima rapor semester ganjilnya. Tidak ada kebiasaan orang tua murid mengambil rapor anaknya. Loh? Jadi, tidak ada pesan-pesan yang disampaikan oleh guru seperti waktu orang tua mengambil rapor di Indonesia?

Sebetulnya ada waktu orang tua murid bertemu dengan gurunya, yaitu waktu ada pertemuan per kelas antara orangtua dan guru hari Selasa sebelumnya. Selama satu jam, kami orang tua berkumpul di kelas, dan gurunya memberikan evaluasi kegiatan murid selama satu semester, termasuk kegiatan undokai yang lalu. Lalu menjelaskan tentang rapor murid yang diberi nama AYUMI. Seperti nama gadis Jepang memang, tapi ayumi itu bisa berarti “Langkah” juga. Jadi namanya bukan seperti  “Laporan Belajar” atau nama-nama keren lainnya, tapi “Langkah” yang memang kedengarannya lebih membumi, cocok untuk murid SD. Sehingga “AYUMI” (semestinya) tidaklah menakutkan.

AYUMI untuk kelas satu SD ternyata hanya dinilai dengan 2 nilai. Yaitu “Bisa” できる dan “Sedikit lagi” もう少し. (Kalau di Indonesia berapa nilai ya? Masihkah dengan angka maksimum 10?) Penilaian ini untuk 5 pelajaran yaitu Bahasa Jepang 国語, Berhitung 算数, Musik 音楽,  Prakarya 図工 dan Olahraga 体育, serta Kepribadian. Penilaian Riku untuk  semua bidang “Bisa” kecuali dalam bahasa Jepang untuk membuat kalimat dan membaca masih kurang. Hmmm memang seniman (pelukis) tidak berhubungan dengan kalimat dan membaca sih hahahaha. (Aku juga pusing euy membaca tulisan dia yang kayak cakar ayam… tapi aku juga introspeksi diri, mungkin ini gara-gara dia bilingual di rumah, sehingga kata-kata dia tahu, tapi untuk menyambungnya menjadi satu kalimat yang bagus agak kurang).

Pembagian nilai dengan dua saja dan kebanyakan diisi dengan “Bisa” seakan menjadi “penghargaan” bagi murid-murid yang baru saja 6 bulan menjalani kehidupan bersekolah. Sehingga untuk selanjutnya murid-murid tidak malu dan rendah diri dalam berusaha.

Dan di bagian akhir ada kolom “Pesan Sekolah kepada orang tua” yang memuat penilaian guru tentang Riku. Dan pesan gurunya itu membuat aku bangga pada Riku (cieee). Katanya, “Riku setiap pagi selalu masuk kelas dengan bersemangat dan mengucapkan Selamat Pagi (Di sekolah ini salam sangat dijunjung tinggi…kami pasti harus mengucapkan salam jika berpapasan dengan siapa saja…. senang deh). Waktu berlatih menulis hiragana, Riku menjiplak dengan rapih dan menunjukkan usaha menulis dengan rapih. Waktu melakukan kebersihan kelas juga berusaha sungguh-sungguh, dan sering terlihat waktu acara makan bersama, Riku bahkan membagikan piring dan makanan kepada teman-temannya dan memikirkan teman-temannya juga.” Wow… bangga deh… yang penting itu nak! Ngga usah pinter-pinter juga (ngga) apa-apa….hehehhe.

Jadi sambil makan dan membaca AYUMI itu, kami berdua tertawa dan membayangkan ….. dua anak yang MUNGKIN menjadi PELUKIS (Riku) dan KAMERAMAN (Kai) hihihi. Padahal namanya anak-anak…cita-cita bisa bergulir, berganti-ganti terus seperti sikat gigi yang dibuang jika sudah tidak bisa dipakai lagi.

Dan dalam hati aku berkata…”Masih bagus mereka punya cita-cita daripada kamu dulu mel, sama sekali tidak bercita-cita kan?”

Kai sedang menggambar pesawat. Loh kok bukan fotonya Riku? hihihi
Kai sedang menggambar pesawat. Loh kok bukan fotonya Riku? hihihi

Merah, Putih dan kebersamaan

***warning: cerita ini tentang Jepang, bukan Indonesia!***

Ya memang saya selalu heran, kenapa topi sekolah untuk sehari-hari atau olah raga baik TK maupun SD di sini berwarna merah dan putih, reversible, bisa dibolak balik. Dan kenapa tidak ada warna lain, semisal biru dan putih? Baru saya sadar kemarin waktu pelaksanaan undokai, sport meeting di SD Riku, bahwa memang hanya diperlukan merah dan putih saja.

Nasionalis? mungkin… tapi mengingat warna manju (kue jepang) waktu selamatan berwarna merah (muda) dan putih, lalu pita yang menghias amplop angpao juga merah dan putih. Belum lagi kain bergaris-garis merah putih dipakai untuk tirai penutup dinding dalam acara-acara pesta atau selamatan. Nasi merah untuk selamatan mungkin juga bisa dihitung (padahal di Indonesia ada bubur merah putih loh) Jepang kelihatannya  memang tidak bisa berpisah dari warna merah dan putih. (Setelah aku tanyakan pada Gen, ternyata bisa balik ke sejarah perang besar keluarga Genji dan Heike — sekitar abad 12—yang masing-masing membawa bendera putih dan merah)

Kai kesenangan dibopong mamanya (nanti mamanya yang kesakitan)
Kai kesenangan dibopong mamanya (nanti mamanya yang kesakitan)

Kalau dulu waktu saya SD dan SMP (di Indonesia) pernah mengadakan class meeting, biasanya yang dipertandingkan adalah olahraga umum seperti volley, basket, atletik dll. Lalu karena per kelas, maka setiap kelas berlomba-lomba untuk menjadi juara. Yang kemudian di akhir acara akan dibagikan piala dan piagam. Dan biasanya juara dalam perorangan akan tampil sebagai individu dari kelas sekian, untuk menerima hadiah.

Tapi di Jepang lain! Memang saya pernah belajar bahwa sifat manusia Jepang adalah “tidak berdiri sendiri di depan” dan “bergerak secara kelompok”, jadi pemahaman saya di sekolah pun tidak ada yang namanya “pertandingan”. Tapi kali ini saya salah. Pertandingan ada tapi bukan antar individu melainkan antar kelompok.

Sejak awal murid dari kelas satu sampai enam sudah dibagi menjadi dua kelompok. Aka gumi “Kelompok Merah” dan Shiro gumi “Kelompok Putih”. Riku termasuk dalam kelompok Merah. Jadi topi yang dipakai yang merah. Dan ternyata pembagian antara kelompok merah dan putih, dilakukan oleh guru mereka dengan pertimbangan yang matang. Menurut desas desus di antara ibu-ibu,  misalnya kecepatan waktu berlari… yang paling cepat ada 4 orang, maka dibagi dua. semua dibagi dua dengan kemampuan yang hampir sama. Karena itu perbedaan nilai juga tidak menyolok. Dan saya rasa ini bagus sekali. Toh pertandingan yang diadakan di SD bukan untuk mencari atlit-atlit olimpik! Hebat euy.

pernag dukungan kelompok merah dan putih
pernag dukungan kelompok merah dan putih

Karena acara undokai sudah dibuka di hari Sabtu sebelumnya (lihat posting sebelum ini), maka begitu anak-anak berkumpul, dimulai dengan senam pemanasan (hmm ini biasa lah), kemudian dilanjutkan dengan “perang dukungan”, Ouen Gassen 応援合戦 antara kelompok Merah dan Putih. Wah yang ini aku belum pernah lihat, jadi merinding deh. Maksud diadakan perang suporter ini adalah untuk membuat peserta bersemangat dalam mengikuti pertandingan.

“Merah itu apa???” si pemimpin bertanya
“Merah itu Matahari” jawab setengah jumlah murid yang memakai topi merah.
“Matahari itu apa?”
“Matahari menyinari bumi, membara….”
“Membara, menang! Merah harus menang!” teriak mereka.

Wahhhh berdiri deh bulu kudukku merasakan semangat mereka. Belum lagi si pemimpin berlari di depan tempat duduk kelompok merah dan mereka bergelombang berdiri mengikuti arah pemimpin. THIS IS IT! Semangat ini perlu ada, semangat berjuang.

Tentu saja kelompok putih juga menyanyikan yell yell yang sama, yang intinya menyemangati peserta kelompok putih untuk menang.

Setelah selesai acara “perang dukungan” ini, baru ada acara pertandingan tiap angkatan. Misalnya lari 50,80,100 m untuk tiap kelas. Pertandingan tarik galah (sebagai ganti tambang…lucu juga loh), dan pertandingan banyak-banyakan memasukkan bola merah/putih ke dalam keranjang. Pertandingan-pertandingan ini semua antara kelompok merah dan putih.

riku siap untuk lari...gaya sih boleh hihihi
riku siap untuk lari...gaya sih boleh hihihi

Tapi selain pertandingan ada pula semacam  “pertunjukan”.  Berupa tarian tradisional/modern yang dipadukan dengan gerak-gerak olahraga yang dinamis dan lagu back ground yang semangat. Acara pertunjukan oleh kelasnya Riku berjudul Furi-furi Rock and Roll… mereka bergoyang dengan iringan lagu rock and roll, goyang pinggul, tangan, kepala dan bergaya bagaikan bermain gitar.

ceritanya rock n roll, goyang pinggangnya riku boljug hihihi
ceritanya rock n roll, goyang pinggangnya riku boljug hihihi

Sesudah acara kelas 1 kelasnya Riku ada acara pertunjukan yang cukup bagus yaitu dari kelas 2 dengan pertunjukan berjudul “The Arauma” uma = kuda ara= belingsatan …. spt kuda lumpingnya Indonesia deh. Cuman kostum mereka lucu. Berbentuk lingkaran dengan kain beraneka macam. Nah nanti kalau Riku naik kelas, biasanya pertunjukkannya sama, dan aku harus menjahit “sarung” nya lingkaran itu dan menghiasinya. Gen bilang, nanti pake batik aja. Tapi aku bilang, jangan batik ah kurang meriah… mending pake kain bali yang emas-emas gitu, atau sekalian pake tenun padang dengan benang emas itu (berat sih hihihi). Pokoknya musti bagus deh….. So aku musti kumpulin kain dari sekarang nih hihihi.

aku musti kumpulin kain yang bagus ahhh buat tahun depan
aku musti kumpulin kain yang bagus ahhh buat tahun depan

Sekitar jam 12, ada acara istirahat makan siang. Anak-anak makan di kelas karena mereka membawa bento (bekal makanan). Orangtua bisa pulang atau makan di gedung olahraga. Nah kebetulan aku sempat membuat onigiri, goreng susis, ayam goreng jadi kami bertiga, aku, gen dan kai makan di dalam gedung olahraga.

Acara sessi ke dua dilanjutkan satu jam setelah istirahat. Riku mengikuti pertandingan lari 50 meter (tentu saja paling belakang hihihi keberatan badan), dan pertandingan memasukkan bola ke dalam keranjang. Di sini kelompok putih yang menang. Aku pikir permainan memasukkan bola ke keranjang ini juga bagus untuk ditiru  di Indonesia. Cara menghitungnya juga bagus. Menghitung bersama-sama dan kelompok yang lebih banyak menghitung terus sampai bola habis, dan menang!

Acara yang membuat aku terharu juga adalah berbagai bentuk senam, terutama piramid manusia. Murid-murid kelas 6 memang berbadan besar, lebih mahir dan terlatih, dan ini merupakan undokai mereka yang terakhir. Kerjasama mereka patut diacung jempol. Yang membuat aku hampir menitikkan air mata, ternyata salah satu murid kelas enam, ada yang badannya lebih kecil dari yang lain… dan ternyata dia pincang. Tapi ke dua temannya meng-cover dia memeluk dia menjadi satu bagian dari pondasi teman yang akan naik ke atas. Tapi tentu saja beban ada di dua teman yang lain, si anak yang lebih kecil ini “hanya” menjadi pelengkap. Tapi semangatnya itu juga perlu diacung jempol. Meskipun dengan terpincang-pincang, dia dapat berlari dengan cepat menuju formasi berikutnya. Dia adalah BAGIAN dari kelompok. Sama-sama kelas enam, tanpa disisihkan oleh teman dan gurunya.

ada seorang anak yang badannya lebih kecil, dilindungi oleh temannya
ada seorang anak yang badannya lebih kecil, dilindungi oleh temannya

Satu hal lagi yang saya kagum, di setiap formasi piramid itu pasti ada seorang guru yang duduk di dekat mereka, sehingga jika ada yang terjatuh atau butuh bantuan bisa langsung menangkap anak itu (meskipun tidak ada kejadian gagal seperti itu). Ah, guru pun masih mengawasi anak-anak ini supaya tidak berbahaya. Aku tambah terharu.

piramid manusia dari kelas 6
piramid manusia dari kelas 6

Tapi aku masih harus menahan kekaguman untuk acara terakhir yaitu pemindahan Bola Raksasa Merah dan Putih yang dilakukan seluruh anggota kelompok. Karena Riku kelompok merah, tentu saja saya mendukung bola merah. Ikut berteriak, ikut bertepuk tangan, waktu bola Merah Raksasa itu bisa sampai di goalnya lebih cepat dari Bola Putih. (Bola Raksasa itu cukup mahal loh, dan dibeli dengan hasil pengumpulan bellmark)

semua murid berpartisipasi memindahkan bola raksasa ke goal
semua murid berpartisipasi memindahkan bola raksasa ke goal

Dalam acara penutup diketahui bahwa kelompok Merah menang dengan nilai 426, sedangkan Putih 424. Tipis… tapi mereka semua sudah berusaha dengan baik. Bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya. Rasanya saya juga ingin melompat bersama anak-anak kelompok merah waktu tahu mereka menang. Ah, undokai… apakah masih ada seperti ini di SD Indonesia? Pasti kegiatan seperti ini merupakan pekerjaan tambahan untuk guru-guru, tapi undokai ini meninggalkan kenangan yang tidak terlupakan seumur hidup.  Enam tahun di SD dengan pengalaman seperti ini pasti akan membentuk anak-anak yang bisa diajak bekerja secara kelompok dan toleran.

nilai kelompok merah dan kelompok putih. beda tipis.
nilai kelompok merah dan kelompok putih. beda tipis.

NB: Tugas saya sebagai panitia di dalam undokai itu hanya sebagai pengatur petugas keamanan yang melarang orang tua murid/tamu yang datang bersepeda. Karena sepeda dilarang parkir di sekitar sekolah. Hanya itu saja, tapi sempat juga menjaga seorang anak “tersesat” yang terpisah dari ibunya. Karena sistem shift, saya bisa melihat Riku waktu gilirannya tiba, dan bekerja di meja khusus itu waktu giliran Riku sudah selesai. Senang sekali bekerja sebagai Staff dari sebuah kegiatan. Sementara saya kerja, Kai bersama Gen, dan waktu Gen yang kerja Kai bersama saya. Gen kerja apa? Dia membantu pembongkaran tenda, pekerjaan pakai tenaga deh. Dari jauh saya melihat guru, orang tua murid dan murid kelas 6 bekerja sama membongkar tenda dan membereskan segala sesuatunya. And I am part of them. Satisfied.

mejeng pakai tanda staff ;)
mejeng pakai tanda staff 😉

Semester dan persahabatan

Hari ini aku harus pergi ke sekolahnya Riku untuk bertemu dengan gurunya, Chiaki sensei. Setiap semester diberi kesempatan bagi orangtua untuk bertemu dengan guru wali kelas dalam “personal discussion” 個人面談 kojin mendan. Mungkin di Indonesia ya waktu pembagian rapor ya. Tapi di Jepang, semester untuk SD baru selesai tanggal 16 Oktober nanti. Dan kojin mendan ini diadakan sebelum summer vacation, mungkin supaya kalau perlu perbaikan nilai bisa “digeber” selama liburan musim panas. (Padahal nilai murid SD di Jepang sekarang tidak diberi nilai berupa angka atau huruf, hanya diberikan penilaian dengan 3 kategori, BIASA, BAGUS dan BAGUS SEKALI.)

Kami diberi jatah 15 menit satu orang, yang dibagi menjadi beberapa hari. Aku disuruh datang hari ini dari pukul 3:15 sampai 3:30. Jam 3:05 aku sudah sampai dan duduk di depan pintu kelas. Karena sebelum aku tidak ada orang, sensei memanggil aku masuk 5 menit sebelum waktunya…. yippie bisa 20 menit deh. Nah, begitu masuk aku mengatakan kekhawatiranku (terutama papanya) mengenai pelajaran Riku. Yaitu masalah membaca dan menulis hiragana yang belum lancar. Dan Chiaki sensei mengatakan Riku sama sekali tidak ada masalah dalam pelajaran di kelas.

“Seperti mamanya yang riang, dia selalu senyum-senyum dan aktif mengikuti pelajaran di sekolah. Berhitung, membaca, menulis …semua tidak ada masalah. ”

“Olahraga bagaimana sensei? Soalnya dia kadang merasa minder karena tidak bisa lari cepat, atau minder karena badannya lebih besar dari yang lain.

“Olahraga? Sama sekali ngga ada masalah. Riku benar-benar menikmati sekolah. Itu yang penting”

“Ya memang sensei, saya tidak mau membuat dia benci sekolah. Susah. Dulu di TK dia suka malas ke TK. Sekarang saya senang, karena Riku pulang sekolah dengan berseri-seri dan selalu membuat PR sendiri tanpa harus di suruh. Saya juga tidak mau memaksa dia menulis dan membaca, seperti papanya. Santai saja, pasti bisa kok. Meskipun kadang dia juga suka sebal sendiri kalau tidak bisa menulis dan membaca. Tapi saya selalu katakan padanya, menulis dan membaca butuh latihan yang banyak. Mama dulu juga tidak bisa menulis hiragana, dan teruuuus latihan. Kan Mama bukan orang Jepang, jadi hiraga juga susaaaah sekali buat mama.”

“Eh, ibu sama sekali tidak ada darah Jepangnya?”

“Tidak ada dong. Kan saya dari Indonesia. Bahasa Jepang juga baru tahu 23 tahun, hampir separuh hidup saya.”

“Bukan orang Jepang tapi pintar berbahasa Jepang. Sugoi. Papanya Riku asli Jepang?”

“Ya asli Jepang dong. Namanya saja Miyashita. Dia sih selalu khawatir mengenai pendidikannya Riku, karena dia dulu dituntut selalu belajar oleh ibunya yang Kyouiku Mama. hehehe” (Kyoiku Mama adalah istilah untuk ibu-ibu yang berusaha apa saja demi pendidikan anaknya, semua yang terbagus dari pendidikan diusahakan untuk anaknya, dan tidak mau kalah dengan orang lain. Sehingga biasanya anak menjadi tertekan, kurang bermain dan belajar terus)

“Kalau begitu bilang papanya Riku. Dont worry. Riku sama sekali tidak ada masalah. Tidak ada yang harus diperhatikan selama musim panas ini.”

So, Riku no problem, juga di bidang sosialnya, dia cukup terkenal di teman-teman karena banyak yang mengatakan teman baiknya adalah Riku. Wah aku senang, karena tahu Riku agak sulit bergaul. Dan aku dengan sensei sepakat bahwa Riku berbakat di berhitung dan prakarya/gambar.

“Mungkin dia akan menjadi artis nantinya ya?”

“Mungkin ya sensei, dan itu komarimasu. Karena artis biasanya tidak mau belajar hehehe. Makanya saya selalu berkata pada Riku, biarpun mau jadi artis, atau koki sekalipun harus belajar! Bagaimana kamu mau membuat lukisan atau patung yang bagus dan bisa berdiri tegak, kalau tidak bisa menghitung. Atau bagaimana mau menjadi animator kalau tidak belajar bahasa.”

“Betul… Ibu bijaksana sekali.”

Komik karya Riku. Hobi baru dia, menggambar komik.
Komik karya Riku. Hobi baru dia, menggambar komik.

Setelah selesai pertemuan dengan guru itu, aku menjemput Riku yang sedang les bahasa Inggris, pulang dan kemudian bersama-sama naik sepeda menjemput Kai. Dalam perjalanan pulang dari penitipan ke rumah, (di lift dan sambil bersepeda) tiba-tiba Riku berkata,

“Mama, temanku Ken (Ken adalah anak half, sama seperti Riku. Ibunya orang Filipina dan bapaknya orang Jepang) . Dia akan pergi ke negaranya dan tidak kembali.”

“Loh, iya mama tahu bahwa Ken akan liburan. Tapi sesudah liburan selesai, dia akan kembali ke Jepang kok.”

“Tapi tadi dia bilang, dia tidak kembali lagi”

“Ya sudah, nanti mama telepon mamanya dan cari tahu ya”

Aku pikir dia sudah tidak memikirkan temannya lagi. Ternyata aku salah. Dia mulai menangis… Wah bahaya dong bersepeda sambil menangis. Jadi aku pelan-pelan mengayuh sepeda, dan bertanya apa mau berhenti dulu. Tapi kalau kita pulang cepat-cepat, juga bisa cepat tahu apakah Ken terus pergi dan tidak kembali atau hanya liburan saja.

 Papa dan Riku, by Riku Miyashita
"Papa dan Riku", by Riku Miyashita

Lama sekali rasanya sampai di rumah. Sambil mendengarkan Riku menangis, aku peluk dia di dalam lift. Ahhh anakku ini merasakan indahnya persahabatan dan rasa sedih akan kehilangan seorang sahabat. Aku seakan bercermin dan melihat diriku di sana, yang sering menangisi kepergian teman atau kesedihan teman, tanpa diketahui siapa-siapa. Aku bangga pada anakku ini, meskipun tahu bahwa sifatnya yang begitu itu mungkin akan membuat susah dia kelak.

Aku tidak bisa langsung menelepon, karena Kai menuntut minta susu, dan dia juga ikut menangis mendengar kakaknya menangis. Bener-bener seperti paduan suara tangisan. Akhirnya begitu aku kasih susu ke Kai, aku ambil telepon dan langsung menelepon ibunya Ken.

“Hallo, sorry to bother you in such a busy time preparing dinner, but I want to ask you one question. Ken will go to Phillipine this summer?”
“Yes… ”
“Will he back to Japan after holiday or will stay for good there. Because now Riku is crying, thinking of loosing his friend.”
“Oh no… Of course we will be back to Japan, just visiting home for summer vacation”
“Ok then. I am relieved. Thank you”

Lalu aku katakan pada Riku…. “Kan, seperti mama bilang, Ken hanya berlibur saja bertemu opa omanya, sama seperti Riku. Dia akan kembali lagi ke Jepang, dan tentu saja bisa bermain bersama lagi.

Dan senyum mengembang di wajahnya…. ditambah pertanyaan-pertanyaan,

“Kapan dia pergi ke Filipin?”
“Filipin itu di mana? (Sambil membawa bola dunia)
“Kapan dia kembali?”
“Apa abis itu bisa main ?” ….. bla bla bla dan aku jawab sekenanya, sambil menunjukkan posisi Filipina yang berada di atas Indonesia….

“Wah dekat rumahnya opa. Kalau naik pesawat berapa lama?”
“Ya memang dekat Riku…. Kalau Riku sudah besar mungkin Riku bisa pergi ke Filipin dan melihat kampungnya Ken (Sambil berpikir betapa dunia itu kecil sekarang ya… dan betapa internasionalnya keluargaku)

Well, hari ini hari  yang berarti buatku. Mengetahui kemajuan pelajaran Riku dan yang lebih berarti, bahwa Riku sudah menemukan arti bersahabat.

Dan malam harinya, sebelum tidur kami membaca Picture Book yang Riku pinjam dari perpustakaan berjudul Curry Raja, Kunimatsu Erika, Kaiseisha Publishing. 「ラジャーのカレー」   国松エリカ 偕成社

Tidur Cepat, Bangun Pagi dan Makan Pagi

Ini adalah kampanye dari Departemen Pendidikan Jepang kepada pelajar di Jepang, serta orang tua mereka. “Hayane, Hayaoki, Asagohan 早寝早起き朝ごはん”。 Sudah sejak Riku di penitipan anak (hoikuen) 保育園 saya mengetahui slogan ini. Waktu itu baru mulai digembar-gemborkan. Tapi kondisi waktu itu tidak memungkinkan bagi saya untuk menjalaninya. Karena saya masih sering pulang mengajar larut, sehingga Riku baru pulang sampai rumah jam 9 malam bersama papanya. Saya sendiri sampai rumah jam 10 malam, masak 30 menit, makan 30 menit, dan tidur jam 11:30- 12:00an. Jadi Riku terbiasa tidur larut, meskipun bangun paginya juga tidak terlalu lambat (paling lambat jam 8 sudah bangun).

Tapi sejak Riku masuk TK, saya berhenti mengajar semua kelas malam. Sehingga Riku bisa tidur pukul 8-9 malam, dan bangun pukul 6-7 pagi keesokan harinya. Karena harus membawa bento (bekal makanan) di TK, maka sekaligus saya persiapkan makan pagi untuk dia, dengan menu yang sama dengan apa yang dibawa.

Simbol slogan Tidur Cepat, Bangun Cepat dan Makan Pagi
Simbol slogan Tidur Cepat, Bangun Cepat dan Makan Pagi

Kenapa sih Departemen Pendidikan Jepang sampai harus mengumandangkan slogan ini? Pertama, adanya kenyataan bahwa jumlah kejahatan anak dan remaja yang semakin serius. Misalnya pada tahun 2004 terdapat 134,852 kasus kejahatan anak/remaja. Selain itu dirasakan ritme kehidupan anak-anak yang semakin “ngawur”. Misalnya balita yang tidur sesudah pukul 10 malam, jumlahnya semakin bertambah. Dalam survey tahun 1990 diketahui bahwa jumlah yang sebesar 31% itu, 10 tahun kemudian (2000) menjadi 50%.  Jumlah murid SD/SMP yang tidak makan pagi juga dibandingkan 5 tahun sebelumnya terlihat pertambahan yang mencolok. Misalnya data tahun 1995 menunjukkan 13% murid SD dan 19% murid SMP tidak sarapan pagi, sedangkan pada tahun 2000 jumlah itu menjadi 16% dan 20%. Padahal dari survey diketahui bahwa murid yang selalu makan pagi, test/ujiannya cenderung mendapat nilai yang tinggi.

Dari berita NHK yang saya tonton seminggu lalu, juga dibahas tentang kegiatan kampanye “Tidur Cepat, Bangun Pagi dan Makan Pagi” ini.  Berdasarkan suatu survey, anak-anak yang tidak bersemangat (malas-malasan) ternyata 9% dari mereka selalu makan pagi setiap hari, sedangkan 38% tidak makan pagi. Hal ini juga terjadi pada anak-anak yang bertempramen “cepat panas, jengkel/kesal”. Ketika ditanya apakah kamu sering merasa jengkel/kesal, maka didapat jawaban 32% dari mereka itu tidak makan pagi, dibandingkan 18% dari mereka yang makan pagi setiap hari. Jadi makan pagi ternyata berpengaruh pada semangat dan kepribadian anak-anak. (Selain itu ada juga survey mengenai makan bersama keluarga atau makan sendiri… ternyata makan bersama keluarga itu lebih baik daripada makan sendiri —- ya memang semestinya begitu sih)

Jadi, sekarang pun saya selalu menyiapkan makan pagi untuk Riku sebelum dia berangkat ke sekolah pukul 7:45. Meskipun saya sudah tidak usah menyiapkan bento (bekal makanan) lagi.Wah tidak usah menyiapkan bento ini merupakan suatu “anugerah” buat saya. Pusing juga loh memikirkan isi bento itu. Karena harus memikirkan keseimbangan gizi/vitamin , dan faktor “keindahan” (supaya mau dimakan —untung Riku makan apa saja) dan “kepraktisan” (tidak bisa memasukkan masakan yang berkuah dalam bento itu).

Sekitar pukul 12:20 sampai 13:00 sesudah jam pelajaran ke 4, disediakan makan bersama di sekolah yang namanya kyushoku 給食. Karena sekolah Riku adalah sekolah negeri, maka yang memasak di dapur sekolah itu berada dibawah (dipekerjakan oleh)  pemerintah daerah. Sebetulnya hari Rabu kemarin, saya bisa mencoba makanan yang disajikan kepada anak-anak itu. Tapi karena kemarin ada rapat/kegiatan PTA dari pagi dan setelah itu saya harus cepat-cepat menjemput Kai di penitipan, maka saya tidak bisa mencoba makanan murid SD itu. Tapi bau kare yang enak (karena mild saya tidak merasa keberatan karena pada dasarnya saya tidak suka makan kare) yang dipersiapkan di dapur itu memenuhi satu gedung sekolah. Dan bau itu cukup menggugah perut yang lapar.

Menurut Riku sih makanan yang disajikan setiap hari sekolah (Senin-Jumat) ini enak. Selain makanan utama juga ada buah/kue dan susu. Jadi setiap hari Riku juga minum susu di sekolah. Bahkan pada tanggal 25 kemarin, dengan riangnya pulang ke rumah dan mengatakan, “Mama tadi kyushokunya dessertnya cake loh…enak!” Dalam hati saya pikir, mentang-mentang tanggal 25 adalah hari gajian (di Jepang kebanyakan hari gajian adalah tgl 25), jadi makanannya juga istimewa hihihihi.

Petugas kyushoku harus memakai baju ini, dan tugas ini berlaku selama satu minggu. Pada hari jumat, pakaian ini dibawa pulang untuk dicuci dan dibawa kembali ke sekolah seninnya.
Petugas kyushoku harus memakai baju ini, dan tugas ini berlaku selama satu minggu. Pada hari jumat, pakaian ini dibawa pulang untuk dicuci dan dibawa kembali ke sekolah seninnya.

Murid-murid itu makan di mana? Tentu saja makan di kelas masing-masing, karena tidak ada ruang makan khusus. Masing-masing anak setiap hari harus membawa alas piring dan serbet untuk melap mulut. Lalu setiap kelas mempunyai daftar petugas kyushoku. Murid-murid yang bertugas itu bersama gurunya akan mengambil sebuah meja dorong yang berisi panci nasi, sup dan lauk yang sudah diatur oleh pemasak. Jadi ada yang bertugas membagi nasi, membagi sup dan lauk. Juga jika ada sisa, bagi yang mau tambah masih bisa. Awal-awal Riku masuk SD, dia sering melapor pada saya bahwa dia menambah makanan waktu kyushoku (oi oi, jangan banyak-banyak ntar gendut hihihi)

meja dorong berisi nasi, sup dan lauk pauk
meja dorong berisi nasi, sup dan lauk pauk

Makan yang sama bersama teman-teman, bertanggung-jawab pada tugas masing-masing, menghabiskan makan tanpa ada suka/tidak suka pada makanan, banyak sekali manfaat dari kyushoku ini (selain meringankan tugas ibu menyiapkan bekal). Memang SD di Jepang itu gratis, tidak bayar uang sekolah, tapi untuk makan kyushoku ini kami harus membayar 4.358 yen (kelas 1 SD) setiap bulannya. Dengan perincian 1 tahun makan 198 kali, satu kali makan 227 yen. Yang pasti tidak bisa membeli makanan di restoran seharga 227 yen dengan keseimbangan nutrisi yang diperhatikan. Cara bayarnya dengan transfer otomatis dari rekening pos. (Jangan disangka tidak ada yang tidak mau membayar juga loh. Akhir-akhir ini banyak kejadian orang tua tidak mau membayar kyushoku bukan karena tidak bisa membayar tapi karena tidak mau membayar. Sehingga pemerintah daerah harus menutupi biaya tersebut dari pemasukan pajak warga. )

Well memang tidur cepat, bangun pagi dan makan pagi merupakan kebiasaan yang sangat baik untuk menuju hidup sehat.  BTW, hari ini sudah makan pagi belum?????

28-5-2009-12:12

Mendongeng di Sekolah

Sudah sejak Riku berusia 1 tahun, kami biasakan untuk membacakan Picture Book sebelum tidur. Selalu bergantian, siapa saja yang bisa, saya atau Gen. Dan setelah berusia lewat 4 tahun, Riku yang memilih sendiri cerita mana yang ingin dia dengar. Hampir setiap malam, sampai Kai lahir.

Kai paling mudah untuk tidur. Cukup berikan botol susu dan kadang tanpa ditemani tidurpun, dia bisa tidur nyenyak. Tak ada cerita, tak ada lullaby. Sepi…. Sampai Gen menyayangkan kondisi ini. Terasa dingin, kurang ada hubungan batin antara Kai dan kami sebagai orang tua. Sementara Riku juga biasanya sudah tertidur sebelum Gen pulang kerja, atau saya sedang menidurkan Kai, memberi makan atau lain-lain. Kalau capek, Riku bisa tertidur sambil duduk di meja makan!

Tapi sejak Kai mulai berinteraksi dengan teman-teman di Himawari (penitipan anak) yang tentu saja salah satu kegiatan mereka adalah membaca Picture Book, Kai mulai menunjukkan minat pada buku. Tak jarang dia mengambil sendiri sebuah buku dan membalik-baliknya, tak jarang mengoceh sendiri dengan suara keras. Sebuah pemandangan yang jarang kami temui waktu Riku berusia sama dengan Kai, 1 tahun 10 bulan.

Dan akhir-akhir ini setiap malam terpaksa saya harus “berantem” dengan mereka. Karena Riku minta dibacakan “Iyaiyaenいやいやえん” sebuah buku yang sedikit gambarnya, sedangkan Kai minta dibacakan buku yang lebih banyak gambar khusus untuk usia 0-1-2 atau sebuah buku “Daiku to Oniroku だいくとおにろく” . Dan biasanya yang menang Kai, karena Riku langsung tertidur begitu kepalanya kena bantal. Jadilah saya mendongeng untuk Kai, berkali-kali sampai… terkadang saya yang duluan tertidur karena bosan.

Beberapa hari yang lalu, saya baru tahu bahwa setiap hari Kamis pukul 8:30 sampai 8:45 (pelajaran mulai pukul 8:50) di setiap kelas dari kelas 1 sampai 6, diadakan pembacaan buku cerita/mendongeng di SD nya Riku. Yang membacakan adalah orang tua murid yang tergabung dalam kelompok “Yomoccha Asa no kai”. Saya mengetahui tentang keberadaan kelompok ini, karena ada surat ajakan untuk ikut masuk ke dalam perkumpulan itu. Saya sebetulnya ingin sekali masuk ke kumpulan itu, tapi berhubung saya orang asing, pengucapan kalimat bahasa Jepang saya bisa mengacaukan pendidikan bahasa anak-anak sehingga saya mengurungkan diri. Tapi yang saya kagumi, pertama: sekolah memberikan waktu khusus untuk dipakai mendongeng di kelas. Dan kedua, orang tua sukarela meluangkan waktu untuk membacakan cerita. Karena tujuan membaca cerita itu amatlah bagus. Pasti ada manfaatnya bagi anak-anak di kemudian hari.

Selain acara rutin setiap pagi sebelum pelajaran pertama mulai, ada juga sebuah kegiatan lain dari PTA, yang juga mengumpulkan anak-anak setelah pulang sekolah pukul 3:30 sore di ruang serba guna, dan membacakan cerita. Selama 30 menit, murid bisa mendengar, melihat dan juga bertanya. Hari ini cerita yang dibacakan adalah mengenai “Curious George Goes to Hospital”… tentu saja versi bahasa Jepang.

Mendongeng… Saya sampai besar dan datang ke Jepang belum pernah mengalami “didongengi” selain oleh orang tua (baca: mama, pada waktu kami belum bisa membaca). Tapi di Jepang sering saya temui acara “mendongeng” yang disebut juga dengan yomikikase atau roudoku. Yomikikase biasanya audiencenya anak-anak, sedangkan roudoku pembacaan di atas panggung (mungkin bisa dibayangkan seperti pembacaan puisinya Rendra). Dan roudoku ini biasanya menampilkan artis kawakan yang penghayatannya juga bagus. Dan sekali lagi, roudoku bukan hanya konsumsi anak-anak! Hebat memang Jepang.

Saya hanya tahu kegiatan mendongeng di Indonesia diadakan oleh  Poetri Soehendro, announcer yang banyak membacakan cerita untuk anak-anak. Tapi selain dia, saya tidak tahu. Or saya juga tidak tahu seberapa “banyak”nya kegiatan mendongeng di Indonesia. Padahal, bekalnya hanya buku loh. Dan suara. Murah bukan? Dan dengan didongengi begini, daya imaginasi anak-anak bisa dipupuk, selain memperkaya pengetahuan.

Memang masyarakat Jepang tidak bisa lepas dari buku. Sejak anak-anak sampai dewasa. (Dan saya tak henti-hentinya mengatakan Indonesia harus meniru Jepang untuk yang ini)

NB: Sssst… Ada satu Picture Book, yang saya pribadi ingiiiin sekali beli. Berjudul, “Shakkuri Gaikotsu” terjemahan dari “Skeleton Hiccups” karangan Margery Cuyler、 S.D. Schindler. Masih mikir-mikir mau beli ngga soalnya harganya 1575 yen … cukup mahal untuk sebuah Picture Book.

Amazon.com
Skeletons are a little less scary when they have the hiccups. This particular skeleton can’t seem to shake them–not in the shower (nice fuzzy bat slippers!), not while brushing his teeth (woops! there goes the bottom jaw!), not while polishing his bones, carving a pumpkin, raking leaves, or even when playing baseball with his friend Ghost. Ghost, instead of Boo-ing! away his buddy’s hiccups right away as we might expect, advises Skeleton to hold his breath and eat some sugar and drink water upside down. When he finally does Boo! it still doesn’t work. But when Ghost finds a mirror and holds it up to Skeleton’s face, he sees his reflection and screams in fright! The hiccups jump away, hic, hic, hic. While it’s novel to see a skeleton eating sugar, drinking water, showering, etc., it may be tricky to find the right audience for this unusual picture book that’s more about hiccups than Halloween. (Ages 4 to 8) –Karin Snelson

Akhirnya aku dibelikan buku ini, yang bisa dibaca ceritanya di sini.

Pengalaman Demokrasi -2-

Kali ini saya mau bercerita tentang perkumpulan orang tua murid di SD nya Riku. Tanggal 16 April yang lalu, saya menghadiri acara pertemuan pertama antara guru dan orang tua murid. Ceritanya dalam acara itu, masing-masing orang tua bisa saling mengenal dan juga mengenal guru walikelas anaknya. Seperti biasa, Guru memperkenalkan diri dulu. Guru Riku ini masih muda, tapi sudah bekerja di SD ini 5 tahun. Jadi saya perkirakan umurnya 27 tahun (rata-rata lulus universitas berusia 22 tahun). Namanya Chiaki Sensei.

Kemudian satu-per-satu orang tua murid memperkenalkan diri. Dan yang lucu di sini, memperkenalkan diri bukan dengan nama si ibu tapi “Saya ibunya Riku Miyashita”. Jadi nanti juga kalau bertemu dan memanggil seseorang akan “…… chan no mama (ibunya …chan)” “Riku kun no mama (Mamanya Riku)” . Dan waktu memperkenalkan diri, diminta untuk menyebutkan “kebaikan – sisi baik sang anak”. Well, saya dapat giliran kira-kira nomor 10, dan aku langsung berkata: “Saya mamanya Riku. Seperti kalian tahu, saya bukan orang Jepang, saya datang dari Indonesia. Saya tidak sedisiplin orang Jepang dalam mendidik anak, jadi kalau Riku berbuat nakal atau tidak sopan, tolong kasih tahu saya. Selama ini Riku selalu bersama saya, lebih suka di rumah. Baru dua hari yang lalu dia berani pergi ke toko sendiri. Kalau ditanya apa yang bagus dari Riku ,maka saya bilang tidak tahu. Karena apa yang menurut saya bagus, belum tentu menurut Anda bagus. Jadi sensei lihat saja nanti Riku bagaimana. Dia makan apa saja. Suka sayur, jadi tidak sulit untuk makanan.”

Setelah semua orang tua murid memperkenalkan diri, tiba waktunya untuk memilih 3 orang wakil untuk menjadi pengurus PTA. Satu dari 3 orang itu akan menjadi PTA Inti yang mengelola semua kegiatan anak sekolah dari kelas 1 sampai 6. Sedangkan 2 yang lainnya, menjadi wakil kelas, mengurus kegiatan kelasnya saja dan menjadi anggota bagian kegiatan PTA. Satu kelas rata-rata 30 anak (kelas Riku 32 anak), dan diharapkan ada 3 orang yang bersedia mau menjadi wakil kelas.

………………….. Tidak ada yang mengangkat tangan. Semua saling pandang. Wah saya kaget juga dengan kondisi ini. Karena waktu Riku TK, orang tua murid di kelas Riku amat aktif. Dalam hitungan menit sudah ada tangan-tangan yang bersedia. Tapi di SD ini….. kenapa tidak ada yang mau ya?  Saya jadi kangen dengan ibu-ibu di TK yang begitu aktif. Memang ada ibu yang tidka mungkin menjadi pengurus karena mempunyai bayi, dan anaknya ada 4/5 orang. OK deh kalau si Ibu itu impossible mengatur waktunya. Tapi saya lihat masih banyak kok yang sebetulnya “kelihatannya” punya waktu. (Dan waktu saya cerita bahwa ibu-ibu tidak ada yang mau, Gen bilang… ya biasanya memang tidak ada yang mau hihihi)

Terus terang saya ingin tahu. Saya ingin tahu bagaimana sih orang Jepang berorganisasi. Saya yang biasa berorganisasi sejak SMP, rasanya gatal kalau tidak ikut. Sebelum pertemuan memang Gen sudah bilang,

“Pasti kamu mau ikut jadi pengurus PTA kan? ”
“Ngga boleh?”
“Ya boleh dong… tapi jangan bilang saya kerja di universitas, nanti saya disuruh bantu-bantu macam-macam hehehe”

Tapi karena tidak ada satupun yang bersedia, saya juga jadi bingung. Masa saya yang orang asing sok tahu angkat tangan dan bilang, “OK, saya mau” Duuh, nanti digencet lagi anakku hehehe. Lima menit lewat,  belum ada yang mau, sedangkan pengurus PTA yang lama, sudah menunggu nama-nama calon pengurus baru. Mereka berdua mengancam, kalau tidak ada yang mau, bisa-bisa diadakan undian. Kalau undian, siapa yang dapat harus mau, jadi lebih baik dan diharapkan ada yang bersedia.

Kebetulan ibu yang duduk di sebelah saya, anaknya juga di TK yang sama dengan Riku meski berlainan kelas. Saya ajak dia untuk angkat tangan. Sementara saya juga bertanya pada Pengurus PTA yang dua orang itu, misalnya saya tidak bisa mengikuti rapat pada hari Jumat bagaimana. Karena saya sudah pasti setiap Jumat tidak bisa. “Well, tidak ada pemaksaan kok. kan masih banyak pengurus yang lain”. Dan ada kata-kata dari dia yang membuat saya akhirnya angkat tangan adalah “Dalam 6 tahun anak Anda bersekolah di sini, harus menjadi pengurus satu kali. Dan daripada nanti jika anak sudah di kelas atas, lebih baik lebih cepat menjadi pengurus lebih baik. Dan kalau sudah satu kali menjadi pengurus, SELANJUTNYA TIDAK USAH.” Loh… biasanya kalau di Indonesia, orang yang sudah terpilih, dia pasti akan dipilih terus-terusan, sehingga tidak bisa lepas dari organisasi. Jadi ada kesan terpaksa. Sehingga biasanya orang juga takut untuk mulai masuk organisasi karena takut tidak bisa “keluar” dari situ.

“Wah kalau begitu, OK saya mau…. “. “Miyashita san terima kasih, siapa lagi yang mau?” Dan teman sebelah saya mengangkat tangannya. Asyiiik terpengaruh juga dia. hihihi.

Akhirnya terpilihlah 3 orang wakil kelas, dan teman saya Rie ini yang akan menjadi pengurus Inti. Sebagai pengurus kelas, kami bertiga langsung dibagikan tanda patrol keamanan untuk ditempelkan di sepeda, dan ditaruh di tas. Dan langsung kami harus mengikuti Rapat Umum Pengurus Inti dan pengurus kelas PTA tanggal 22 April.

Dalam rapat yang diadakan tanggal 22 April itu, sudah langsung dibagi bahwa ada 3 bidang yang harus dipilih. Bidang Kebudayaan, Bidang Kegiatan Anak-anak dan Bidang Keamanan. Saya sebetulnya ingin masuk ke bidang kebudayaan, karena tugasnya hanya membuat seminar tentang apa saja sebulan sekali. Kan gampang tuh…. paling-paling cari pembicara, meeting, tentukan tanggal, buat undangan, persiapan, pelaksanaan lalu terakhirnya evaluasi. Sudah kelihatan kerjanya.

Tapi, berhubung teman saya yang menjadi pengurus Inti itu sudah mengurusi bidang kebudayaan, maka saya tidak bisa masuk ke situ. Saya harus pilih antara Bidang Kegiatan Anak-anak atau Bidang Keamanan. Duuuh kalau keamanan saya males deh, soalnya musti patroli senja hari, memantau keselamatan anak-anak, apakah ada yang masih bermain di luar (baca 5:30). Memantau rumah-rumah yang menjadi tempat pelarian anak-anak Kodomo 110. Lalu sesekali naik patrol car, bersama polisi untuk inspeksi daerah-daerah berbahaya. Saya langsung bilang, “Wah kalau senja saya tidak bisa, karena saya masih ada balita. Saya kan tidak bisa patroli dengan membonceng balita. Saya di Bidang Kegiatan Anak-anak saja ya.”

Untung saja teman pengurus sekelas yang satunya mau masuk ke Bidang Keamanan… (agak maksa juga sih saya hihihi). Jadi deh saya menjadi anggota Bidang Kegiatan Anak-anak. Dan ternyata ….. kegiatan bidang ini yang paling SIBUK!!! Dooohh. Coba deh saya tulis kegiatannya apa saja.

1. Sebulan sekali ikut rapat umum PTA
2. Mengumpulkan bellmark, yang dibagi menjadi kelompok
3. Mengumpulkan eco cap
4. Mengadakan bazaar untuk murid tanggal 19 Juni (sudah pasti saya tidak bisa ikut karena hari Jumat)

Kegiatan nomor 2 dan 3 itu loh yang tidak mengenal waktu. Karena begitu terkumpul banyak, harus segera dikirim. Yang lucunya kedua kegiatan ini pernah saya ulas di TE. Eeee jadinya malah harus mengumpulkan. Tapi karena saya sudah mengerti jalan ceritanya, ya saya tidak bego-bego banget dengan bertanya, “Bellmark itu makanan apa sih?” hihihi.

Nah, yang bagusnya di rapat per bidang, semua yang memang terpilih jadi pengurus ini, ternyata lumayan aktif. Begitu si Ketua bidang tanya, siapa yang mau urus ini-itu, langsung ada yang menjawab. Jadi kali ini saya yang diam, menunggu sisa kerjaan aja hehehe (maklumlah di sini kan ada pemikiran sempai-kohai senior-junior  juga, saya kan masih ortu dari kelas 1, masih kroco , tidak boleh menonjol….. ).

Jadi begitulah…. saya sekarang menjadi “sok sibuk” dengan kegiatan kepengurusan PTA sekolahnya Riku. Tapi saya jadi bisa melihat secara langsung kebiasaan orang Jepang dalam berorganisasi, dan pengejawantahan demokrasi dalam masyarakat Jepang skala kecil. Dan  kalau ada cerita lucu kan bisa jadi bahan posting di TE hehehe.

Setelah Rapat Umum tanggal 22 April ini, kami harus menghadiri Sidang Pleno PTA pada tanggal 30 April. Sebelumnya sudah dibagikan segepok laporan yang harus kami baca sebelum menghadiri Sidang Pleno tersebut. Namanya keren ya… Sidang Pleno…. apa saja sih yang dibicarakan?

…….bersambung