Arsip Tag: okonomiyaki

Tanggung Jawab Masing-masing

Tentu saja kita harus bertanggung jawab atas perbuatan kita masing-masing. Seorang blogger harus bertanggung jawab akan tulisannya, seorang bapak/ibu harus bertanggung jawab akan keluarganya. Bahkan seorang anakpun harus bertanggung jawab pada pelajaran yang diikuti di sekolah dsb dsb.

Bukan hanya perbuatan saja, kita juga harus bertanggung jawab pada barang-barang milik kita. Sering kita jumpai peringatan di bandara, “Don’t leave your belonging unattended”. Kalau tidak bertanggung jawab alias membiarkan barang-barang begitu saja, tentu saja kita akan rugi sendiri. Bisa jadi barang kita diambil, atau dimasuki benda-benda terlarang, yang akhirnya nanti akan merugikan kita sendiri.

Warung okonomiyaki ala Hiroshima

Sabtu kemarin aku pergi jalan-jalan dengan Riku dan Kai di sekitar rumah saja. Setelah menaruh jas Gen di Dry cleaning, kami makan okonomiyaki ala Hiroshima di sebuah “warung” khusus okonomiyaki. Kami memesan satu okonomiyaki tradisional dan satu modern. Yang tradisional isinya yakisoba (bakmi gorengnya Jepang) dengan  irisan kol lalu ditutup “crepe”. Ini yang membedakan okonomiyaki Hiroshima dengan yang biasa. (Yang biasa bisa lihat di sini) .  Di atas crepe dioles saus khusus + taburan ganggang laut (nori) dan pakai mayoneise.

Yang modern itu serupa pizza. Crepenya okonomiyaki diberi irisan cheese saja. Katanya anak-anak suka “pizza” ini. Jadi aku pesan satu juga, toh tipis ini. Kupikir Riku pasti bisa makan banyak. Kai juga aku harapkan bisa makan karena isinya yakisoba, yang merupakan kegemaran dia. Ternyata …. nyisa deh.

Tapi terpaksa deh aku harus bertanggung jawab dengan pesananku. Di jaman susah seperti ini, rasanya tidak tega untuk membuang makanan. Dan di restoran/warung Jepang tidak bisa dan tidak biasa membawa pulang sisa makanan sebagai “Doggy Bag”. Mereka tidak mau bertanggung jawab jika kita keracunan makanan/sakit perut akibat makan makanan sisa yang mungkin lupa kita masukkan ke lemari es atau lupa dipanasi. Jadi jangan pernah minta bawa pulang sisa makanan di resto jepang ya…. kecuali membeli makanan take away (bukan sisa). (Memang ada saja kekecualian, kalau pembeli cerewet dan memaksa bawa pulang. Untuk itu perlu bahasa Jepang yang memadai ya. Tapi pada umumnya TIDAK LAZIM membawa sisa makanan dari restoran.)

Aku memang tahu bahwa di “warung” itu ada Kodomo Bi-ru, bir untuk anak-anak. Tentu saja tidak mengandung alkohol. Harganya 1 botol kecil 400 yen. Mahal! Karena itu aku diam-diam saja, karena sebetulnya Riku ingin sekali coba minum kodomo bi-ru itu. Yah….. karena dia sudah bisa baca sekarang, dia menemukan satu poster kecil yang bertuliskan “Kodomo bi-ru” itu, dan dengan muka memelas minta padaku. (terdengar deh seruan kalau di Indonesia “Sayang anak…sayang anak….” hehehe :D) Jadi aku kabulkan deh.

Jadi aku pasang juga di sini foto bahwa minuman yang diminum Riku dan Kai itu adalah minuman khusus, BUKAN BIR. Karena pernah ada kejadian, seorang anak (di bawah 20th) mengupload dirinya sedang minum bir di blognya, dan di foto itu juga kelihatan ibunya ada. (Pasti ada yang iri tuh, jadi lapor-lapor polisi hehehe) Dan polisi menangkap ibu itu dengan tuduhan membiarkan anaknya minum bir di tempat umum, yang melanggar peraturan Jepang. Di Jepang strict sekali peraturan tidak boleh merokok dan minum alkohol bagi mereka yang belum 20 th. Ibu itu dianggap tidak bertanggung jawab! Aku tidak mau dong ditangkap 😀

Setelah dari warung itu, kami naik sepeda pulang ke rumah. Kai mengatakan bahwa dia kuat dan mau jalan pulang. Jadi deh kami sempat berfoto di dekat pohon sakura di taman yang kami lewati. Indah!

Tapi di taman itu aku juga menemukan papan peringatan ini.

Kotoran anjing menggangu orang lain. Pemilik anjing HARUS membawa pulang kotoran it.

Pemilik anjing HARUS bertanggung jawab atas KOTORAN anjingnya! Memang waktu aku pertama kali datang ke Jepang juga merasa heran, kenapa orang-orang mengajak anjingnya jalan-jalan, dan mereka pasti membawa kantung plastik. Wah, begitu anjingnya berhenti di pinggir jalan untuk buang air besar, di pemilik langsung deh keluarkan plastik itu untuk MEMUNGUT kotoran anjing itu dan MEMBAWA pulang, untuk dibuang ke kloset masing-masing. (Mau tahu lebih detil tentang memelihara anjing di Jepang bisa baca tulisanku yang “Wan wan atau nya nya”). Aduh… aku jadi mikir untuk pelihara anjing di Jepang…hehehe.

Sebagai penutup aku lampirkan foto ini. Hayo siapa yang harus bertanggung jawab jika Kai jatuh? 🙂

Riku mengajari Kai naik sepeda.

 

 

 

Sepeda Sehat

Akhir-akhir ini aku sering melihat foto-foto kegiatan tiga sahabatku Katon Bagaskara,  teman SMA Ira Wibowo dan teman SDku HDK bersepeda bersama di Jakarta dengan istilah “GOWES”. Kupikir istilah baru yang menyebar di Jakarta, misal dari bahasa Inggris go west, pergi ke barat hehehe. Tapi ternyata setelah tanya penulis yang juga editor, DM, aku tahu bahwa gowes itu dari bahasa Jawa yang artinya “mengayuh”. Hmmm bagus juga jika gowes dibakukan menggantikan “cycling” nya bahasa Inggris atau kata “bersepeda sehat” yang terlalu panjang.

Berlainan dengan blogger sahabat saya mas NH18 yang hobi  bersepeda di akhir minggu sendirian, aku malah bersepeda sebagai kendaraan sehari-hari. Kecuali jika hujan! Kalau dulu sempat aku mempunyai “perpanjangan tangan” yaitu alat yang dipasang di stang depan sepeda untuk memegang payung (dan sudah 3 kali beli karena rusak), sekarang jika hujan aku lebih baik naik bus. Dulu maksa pergi naik sepeda waktu hujan karena aku banyak bekerja pagi dan tidak  bisa terlambat, sekarang masih bisa ditolerir. Naik bus jika hujan yang tadinya hanya makan waktu 10 menit, bisa menjadi 30-40 menit soalnya. Dan tentu saja memikirkan kondisi anak yang mesti aku bawa serta. Kalau dulu Riku penurut sehingga mau saja pergi pada waktunya. Sekarang aku memakai bus sebagai “rayuan” untuk Kai supaya mau pergi ke penitipan.

Dari tempat parkir sepeda, kami menuruni tangga dan mengelilingi kolam Sanpouji di atas jalur deck kayu yang tersedia.

Nah, hari Minggu kemarin cerah dan …panas! (mungkin sekitar 23 derajat) Setelah seminggu terlalu lama di dalam ruangan, dan Gen yang selalu pulang jam 12-2 pagi, akhirnya pada jam 2 siang kami memutuskan untuk bersepeda bersama mencari sisa-sisa sakura ke arah Taman Shakujii (shakujii koen 石神井公園). Sebuah taman seluas 200ribu m2 yang bisa dicapai dengan bersepeda 15-20 menit. Aku memboncengkan Kai di belakang, Riku dengan sepeda barunya, dan Gen sebagai kepala rombongan, tiga sepeda beriringan melewati jalan tikus menuju taman. Sambil melihat sisa-sisa bunga sakura yang sudah bercampur daun, kami juga rumah-rumah di sekitar taman yang begitu besar (untuk ukuran Jepang loh) dan asri…pasti orang kaya deh.

Pemandangan dari tepi kolam

Kami memarkirkan sepeda di luar taman dan berjalan kaki memotong taman mengikuti jalur “walking” berupa deck kayu di sekeliling “Kolam Sanpouji” 三宝寺池. Senangnya melihat deck kayu ini, karena amat berguna untuk mereka yang memakai baby car atau kursi roda/lansia yang berjalan dengan bantuan tongkat. Banyak sekali pengunjung taman hari ini. Aku yakin banyak warga Nerima yang memutuskan untuk melewatkan hari cerah ini di luar. Dan Taman Shakujii menjadi pilihan. Kami bisa menikmati pemandangan kolam, pepohonan, burung dengan gratis!

Angsa, ikan koi, Riku dan Kai di Kolam Sanpouji

Sambil berjalan, sesekali kami berhenti melihat kolam. Kai yang berjalan terus sendiri (kuat juga tuh anak) senang sekali melihat bebek, angsa, burung dan ikan KOI yang besar-besar di kolam. Tidak jarang aku melihat orang-orang dengan kamera DSLR yang canggih memotret kelakuan hewan-hewan itu. Ngiler… pengen beli juga…. hihihi. Bahkan ada di suatu tempat yang sepertinya sudah diketahui sebagai tempat berkunjungnya burung langka, berkumpul 3-4 pemotret dengan lensa tele sebesar lobak ada kali 50 cm tuh… berat nian pasti! Khusus Bird watching!

Bapak-bapak berkumpul melihat permainan shogi (catur tradisional Jepang) di taman

Sementara di beberapa bagian di sisi deck “walking” itu terdapat meja yang dipenuhi bapak-bapak. Kalau di Indonesia pasti main gaplek, tapi di sini main Shogi 将棋, sejenis catur tradisional Jepang. Aku sendiri bisa bermain catur (ngga jago sih) tapi belum pernah bermain shogi, padahal katanya sih rule permainannya tidak begitu berbeda.

Kai hanya bisa bermain di bawah jungle gym

Kami berjalan lagi dan menemukan athletic jungle gym (tempat memanjat, bergantungan, perosotan dsb, dan jungle gym sendiri ternyata awalnya merupakan merek alat tersebut). Banyak anak memanfaatkan tempat ini, termasuk Riku (padahal di situ tertulis untuk 10 th ke atas heheheh). Sedangkan Kai yang masih terlalu kecil untuk ikut memanjat-manjat, menunggu giliran untuk menaikin anjing-anjingan. Aduuuh ini anak, dia maunya duduk di kursi paling depan, dan bersikeras terus menunggu. Hmmm benar-benar keras kepala, jadi ngeri kalau ngebayangin dia jadi “atasan”, targetnya harus bisa tercapai. Kai mirip tante Titin nih! Aku? aku keras kepala juga sih tapi tidak seteguh Kai hehehe.

Kai terus menunggu giliran untuk bisa di bagian depan anjing-anjingan ini

Kemudian kami berjalan lagi memotong taman keluar di jalan besar. Kami kemudian mampir di gedung baru, semacam museum kebudayaan wilayah Nerima. Bangunan mewah ini didirikan dari pajak daerah, dan memamerkan sejarah daerah Nerima. Daerah ini sejak dulu terkenal sebagai penghasil daikon (lobak) yang dikeringkan. Lobak nya besar dan panjang-panjang. Di lantai dua, kami bisa melihat proses pembuatan lobak, selain dari artifak yang ditemukan di Nerima.


Yang menarik di sini juga ada visualisasi sudut kota/perumahan orang Jepang jaman dulu, jadul deh… Tapi beberapa cukup membangkitkan kenangan aku pribadi. Suasana jadul seperti ini dulu masih sering aku jumpai di rumah alm. opa Bogor (kami selalu memanggil papanya mama ini dengan opa bogor, karena tinggal di bogor). Kalau mesin jahit singer dan seterika begitu mah, di rumah Jakarta juga masih ada hehehe. Ya dipikir-pikir untuk angkatannya Riku nanti, mungkin keyboard komputer, handphone sekarang yang canggih-canggih akan menjadi fosil kalau dia dewasa ya? hehehe.

Telepon umum jadul, masih sistem putar tuh. Padahal yang lebih jadul yang ada engkolnya yah

Dari sini, kami pergi ke halaman museum, tempat sebuah rumah tradisional milik  “orang kaya” di Nerima berada. Kalah jauh dengan rumah tradisional di Yokohama, tapi di sini bagusnya dikasih lihat struktur pembuatan atap yang canggih. Di dekat situ juga terdapat situs bekas rumah jaman Jomon, sekitar 5000 tahun yang lalu.

Hari mulai mendung, jadi kami bergegas kembali menyusuri jalan yang sama menuju tempat kami parkir sepeda. Karena kami belum makan siang sejak brunch jam 11, kami mencari toko ramen (mie jepang) yang masih buka. Ternyata  kebanyakan toko ramen tutup sesudah jam 4 sore, untuk kembali beroperasi pukul 6 sore. Salah satu alternatif lain adalah makan okonomiyaki dekat rumah. Ternyata di sini juga tutup, dan baru buka jam 5:30. Tadinya kami ditanya oleh petugas rumah makan itu apakah mau di reserve tempat untuk kami jam 5:30. Tapi Kai tidur di boncengan jadi kasihan juga untuk menunggu satu jam sampai toko itu buka, jadi kami memutuskan untuk pulang tanpa reserve.

Sekitar jam 6:30 Kai terbangun, dan acara televisi kesukaan Riku sudah selesai (Shoten dan Chibi Maruko) sehingga kami langsung naik sepeda lagi ke resto okonomiyaki tadi. Rumah makan ini menjual okonomiyaki khas daerah Hiroshima, yang berbeda dengan Okonomiyaki Tokyo. Okonomiyakinya tidak tebal, tapi tipis, mirip crepe dan di tengahnya berisi soba/udon goreng. Di atas crepe itu dibubuhkan serbuk ganggang laut dan saus okonomiyaki (seperti saus bulldog/inggris tapi lebih kental dan hitam…. hmmm kalau bagi orang Indonesia mirip kecap manis deh) dan mayoneis. Kai juga senang makan ini, karena dia hobi banget makan soba/ segala yang seperti mie.

Okonomiyaki ala hiroshima, mie goreng diapit telur dadar. Tumben imelda minum air putih ya.... hihihi

Akhirnya sekitar jam 7:30 kami pulang ke rumah karena mulai rintik. Bersepeda dalam keadaan kenyang juga merupakan siksaan bagiku hihihi.Mungkin yang paling bugar saat itu hanya Kai, karena sempat tidur. Jam 8:30 kami semua sudah dalam tempat tidur, mendongeng dan ZzZzZZzzzzz.

Dan mau tahu doaku malam ini?  “semoga bersepeda sehat dan jalan-jalan hari ini bisa menurunkan (sedikit) berat badanku… AMIN” (hihihi)

Okonomiyaki ala Jakarta

Berhubung banyak yang (mungkin) ingin coba buat… Saya memodifikasi resep okonomiyaki Jepang dengan bahan-bahan yang ada dan terjangkau di Indonesia. Kemarin bersama Melati san dan Riku kita makan malam Okonomiyaki ala saya… Paling bagus kalau ada hot plate, tapi kalau tidak bisa juga di frypan biasa. Tapi memang lebih enak jika makan sewaktu masih panas.

Resep untuk 6 potong (3 orang):

  1. Kol 1/4 butir, diiris halus
  2. Telur 3 butir, kocok
  3. Daging yang mau dicampur seadanya, bisa daging sapi slice, atau ham atau seafood mix/udang
  4. 2 buah kentang, diparut/blender…. seharusnya memakai yamaimo, sejenis singkong yang mengeluarkan lendir/getah tapi pasti tidak ada di Indonesia, jadi saya coba ganti dengan kentang.
  5. kaldu ayam secukupnya (paling bagus kalau ada dashi /kaldu ikan – bonito dari Jepang)
  6. Tepung  terigu 100-150 gram tergantung kondisi telur. Adonan tidak boleh terlalu kental lebih bagus berair seperti kita membuat telur dadar.
  7. Bisa dimasukkan juga jagung manis, toge…apa saja…coba saja bereksperimen sendiri.
  8. Kecap manis
  9. Mayoneise
  10. Sambal/chili sauce

Cara membuat : semua bahan dicampur/dikocok dan dituang ke atas hotplate atau frypan yang sudah panas dan diberi sedikit minyak goreng. Api sedang supaya bisa matang sampai ke dalam. Jangan sering dibalik karena akan hancur. Setelah berwarna kekuningan angkat dan dihidangkan dengan kecap manis + mayoneise. Tambahkan sambal sesuai selera. Karena mengandung terigu dan kentang, okonomiyaki ini cukup bagi wanita untuk dinner. Kalau mau bisa juga dipadukan dengan bakmi goreng.


Saya lihat Indira juga sudah bereksperimen dengan Okonomiyaki ala Aussienya.  Silakan Anda coba yang mana saja, dan semoga bisa menambah repertoire menu masakan Anda.

Oh ya kemarin kami juga menikmati Puding Roti yang saya buat dari sisa-sisa roti + kopi….di sore hari ….yummy…

Di atas lempeng besi panas

Pernah tahu teppanyaki? Itu adalah semua jenis makanan yang digoreng di atas selembar wajan datar. Biasanya di restoran Jepang, koki akan masak tepat di depan para tamunya. Apa saja di goreng/dibakar di situ, mulai dari daging, seafood sampai crepes mungkin. Tapi ada satu jenis makanan yang juga dimasak di atas wajan datar itu yang diberi nama OKONOMIYAKI. Kalau Anda perhatikan, teppanyaki dan okonomiyaki, mengandung satu kata yang sama yaitu yaki. Yaki sebetulnya artinya membakar, seperti Yakitori (Ayam bakar =satenya Jepang). Tapi kalau berurusan dengan Yakisoba (bakmi goreng) atau Yakimeshi (nasi goreng), yaki menjadi rancu sekali…. karena tidak mungkin bakmi bakar atau nasi bakar…. meskipun juga sebetulnya tidak tepat disebut goreng karena minyaknya yang dipakai sedikit…paling tepat dikatakan ditumis.

OK biarlah ahli masak yang berargumentasi soal penamaan masakan-masakan itu. Kita lihat saja dulu, apa sih Okonomiyaki itu. O-konomi, o itu sebutan hormat (perhatikan saja kebanyakan kata bahasa Jepang memakai o- ) konomi = yang disukai/kegemaran. Jadi sebetulnya kalau mau ditanya, okonomiyaki itu terbuat dari apa? Maka akan sulit. Karena Anda bisa memasukkan apa saja ke dalam adonan. Bisa daging, bisa seafood, bisa ayam, bisa urat, bisa kerang ….apa saja. Tapi adonan itu yang penting. Adonan itu adalah cabbage (kol)yang diiris halus dan diberi telur serta tepung. Itu saja. Jadi mudahnya, kita bayangkan saja DADAR TELOR, yang kemudian diisi macam-macam sesuai selera. Setelah adonan dicampur, dituangkan ke atas lempeng besi panas itu. Setelah jadi, diberi saus bulldog (seperti saus Inggris) dan mayoneisse. BOleh ditambah irisan bonito (katsuobushi) dan nori bubuk (nori = gagang laut). Dan bagi orang Indoensia tentu saja bisa menaruh sambal di atasnya…hmmm pasti yummy. Karena itu saya sendiri pikir bahwa masakan Jepang yang satu ini pasti akan laku di Indonesia. Saya tidak tahu apakah sudah ada restoran okonomiyaki atau tidak …tapi ini sebetulnya sebuah kesempatan bisnis yang bagus.

Okonomiyaki yang terkenal adalah dari Hiroshima. Ciri khasnya, di antara dua dadar diisi dengan bakmi goreng. Jadi seperti sandwich dadar isi bakmi goreng.

Hari ini kami pergi ke toko jas AOKI, untuk membeli jas bagi Gen… bukan karena mau lebaranan tapi karena dalam minggu ini ada akreditasi di universitas tempat dia bekerja. Jadi harus tampil rapi…. cieee… Dan kebetulan hari ini kami mau mengajak Riku pergi ke toko okonomiyaki, karena dia belum pernah makan itu. Ehhh kok kebetulan sekali persis di depan toko jas itu ada sebuah restoran okonomiyaki. Jadi sembari kami menunggu celana disesuaikan panjangnya, kami pergi ke restoran tersebut. Kamarnya tatami, sehingga ada bagusnya dan ada jeleknya. Bagusnya Kai bisa lihat apa yang dia makan, tapi jeleknya…amat sangat berbahaya karena dia bisa tempelkan tangannya juga di besi panas itu. Belum lagi dia bisa langsung ambil makanan yang mentah atau matang itu dan langsung masukkan mulutnya. Akhirnya saya sih biarkan saja…. sehingga lantai jadi kotor … Dan gen yang orang Jepang itu jadi senewen, maunya bersihkan terus… padahal saya bilang, nanti kan bisa sekalian sebelum pulang. Susah deh memang kalau bawa bayi/anak kecil ke restoran. Jadi akhirnya kami cepat-cepat pulang deh.

Mulai kemarin malam saya merasa badan tidak enak… akan flu kelihatannya. Dan ternyata dari tadi pagi Riku juga mulai batuk dan … muntah-muntah. Memang saya dan Riku punya kebiasaan kalau batuk pasti muntah. Tapi saya tidak menyangka bahwa akhirnya malamnya Riku terkena demam dan sempat mengigau dalam tidurnya. Kelihatannya besok saya harus liburkan dia. Sementara saya minum obat saja supaya masih bisa bertahan menjaga orang sakit + Kai yang sehat minta ampun dan sudah mulai kelihatan nakalnya.

Hari ini juga hari bersejarah untuk Riku karena pertama kali gigi susu dia copot dan berganti menjadi gigi dewasa. Rupanya dia juga mendengar cerita bahwa gigi yang tanggal itu jika disimpan di bawah bantal maka akan ada peri yang datang. Dan seperti kebiasaan kita, di Jepang jika yang tanggal gigi atas maka dilempar ke bawah, sedangkan gigi bawah, dilempar ke atas. Tapi akhirnya dua-duanya (taruh di bawah bantal atau dilempar) tidak dilakukan, karena saya yang suruh simpan saja….

Oh ya, satu hari ini saya sudah menyelesaikan page INDEX, yang berisi judul2 semua postingan saya sejak awal sampai hari ini. Sehingga dengan melihat judul saja, mungkin akan tertarik untuk membaca postingan yang dulu-dulu… Mungkin ada yang terlewat belum dibaca, karena kadang saya bisa posting 3-4 postingan sehari. Paling sedikit memudahkan saya dalam pemberian judul, sehingga jangan sampai ada judul postingan yang sama. Selamat membaca.

(menulis posting sambil mendengar lagunya Marcell yang Firasat… enak-enak juga lagunya dia ya)