Sepeda Sehat

Akhir-akhir ini aku sering melihat foto-foto kegiatan tiga sahabatku Katon Bagaskara,  teman SMA Ira Wibowo dan teman SDku HDK bersepeda bersama di Jakarta dengan istilah “GOWES”. Kupikir istilah baru yang menyebar di Jakarta, misal dari bahasa Inggris go west, pergi ke barat hehehe. Tapi ternyata setelah tanya penulis yang juga editor, DM, aku tahu bahwa gowes itu dari bahasa Jawa yang artinya “mengayuh”. Hmmm bagus juga jika gowes dibakukan menggantikan “cycling” nya bahasa Inggris atau kata “bersepeda sehat” yang terlalu panjang.

Berlainan dengan blogger sahabat saya mas NH18 yang hobi  bersepeda di akhir minggu sendirian, aku malah bersepeda sebagai kendaraan sehari-hari. Kecuali jika hujan! Kalau dulu sempat aku mempunyai “perpanjangan tangan” yaitu alat yang dipasang di stang depan sepeda untuk memegang payung (dan sudah 3 kali beli karena rusak), sekarang jika hujan aku lebih baik naik bus. Dulu maksa pergi naik sepeda waktu hujan karena aku banyak bekerja pagi dan tidak  bisa terlambat, sekarang masih bisa ditolerir. Naik bus jika hujan yang tadinya hanya makan waktu 10 menit, bisa menjadi 30-40 menit soalnya. Dan tentu saja memikirkan kondisi anak yang mesti aku bawa serta. Kalau dulu Riku penurut sehingga mau saja pergi pada waktunya. Sekarang aku memakai bus sebagai “rayuan” untuk Kai supaya mau pergi ke penitipan.

Dari tempat parkir sepeda, kami menuruni tangga dan mengelilingi kolam Sanpouji di atas jalur deck kayu yang tersedia.

Nah, hari Minggu kemarin cerah dan …panas! (mungkin sekitar 23 derajat) Setelah seminggu terlalu lama di dalam ruangan, dan Gen yang selalu pulang jam 12-2 pagi, akhirnya pada jam 2 siang kami memutuskan untuk bersepeda bersama mencari sisa-sisa sakura ke arah Taman Shakujii (shakujii koen 石神井公園). Sebuah taman seluas 200ribu m2 yang bisa dicapai dengan bersepeda 15-20 menit. Aku memboncengkan Kai di belakang, Riku dengan sepeda barunya, dan Gen sebagai kepala rombongan, tiga sepeda beriringan melewati jalan tikus menuju taman. Sambil melihat sisa-sisa bunga sakura yang sudah bercampur daun, kami juga rumah-rumah di sekitar taman yang begitu besar (untuk ukuran Jepang loh) dan asri…pasti orang kaya deh.

Pemandangan dari tepi kolam

Kami memarkirkan sepeda di luar taman dan berjalan kaki memotong taman mengikuti jalur “walking” berupa deck kayu di sekeliling “Kolam Sanpouji” 三宝寺池. Senangnya melihat deck kayu ini, karena amat berguna untuk mereka yang memakai baby car atau kursi roda/lansia yang berjalan dengan bantuan tongkat. Banyak sekali pengunjung taman hari ini. Aku yakin banyak warga Nerima yang memutuskan untuk melewatkan hari cerah ini di luar. Dan Taman Shakujii menjadi pilihan. Kami bisa menikmati pemandangan kolam, pepohonan, burung dengan gratis!

Angsa, ikan koi, Riku dan Kai di Kolam Sanpouji

Sambil berjalan, sesekali kami berhenti melihat kolam. Kai yang berjalan terus sendiri (kuat juga tuh anak) senang sekali melihat bebek, angsa, burung dan ikan KOI yang besar-besar di kolam. Tidak jarang aku melihat orang-orang dengan kamera DSLR yang canggih memotret kelakuan hewan-hewan itu. Ngiler… pengen beli juga…. hihihi. Bahkan ada di suatu tempat yang sepertinya sudah diketahui sebagai tempat berkunjungnya burung langka, berkumpul 3-4 pemotret dengan lensa tele sebesar lobak ada kali 50 cm tuh… berat nian pasti! Khusus Bird watching!

Bapak-bapak berkumpul melihat permainan shogi (catur tradisional Jepang) di taman

Sementara di beberapa bagian di sisi deck “walking” itu terdapat meja yang dipenuhi bapak-bapak. Kalau di Indonesia pasti main gaplek, tapi di sini main Shogi 将棋, sejenis catur tradisional Jepang. Aku sendiri bisa bermain catur (ngga jago sih) tapi belum pernah bermain shogi, padahal katanya sih rule permainannya tidak begitu berbeda.

Kai hanya bisa bermain di bawah jungle gym

Kami berjalan lagi dan menemukan athletic jungle gym (tempat memanjat, bergantungan, perosotan dsb, dan jungle gym sendiri ternyata awalnya merupakan merek alat tersebut). Banyak anak memanfaatkan tempat ini, termasuk Riku (padahal di situ tertulis untuk 10 th ke atas heheheh). Sedangkan Kai yang masih terlalu kecil untuk ikut memanjat-manjat, menunggu giliran untuk menaikin anjing-anjingan. Aduuuh ini anak, dia maunya duduk di kursi paling depan, dan bersikeras terus menunggu. Hmmm benar-benar keras kepala, jadi ngeri kalau ngebayangin dia jadi “atasan”, targetnya harus bisa tercapai. Kai mirip tante Titin nih! Aku? aku keras kepala juga sih tapi tidak seteguh Kai hehehe.

Kai terus menunggu giliran untuk bisa di bagian depan anjing-anjingan ini

Kemudian kami berjalan lagi memotong taman keluar di jalan besar. Kami kemudian mampir di gedung baru, semacam museum kebudayaan wilayah Nerima. Bangunan mewah ini didirikan dari pajak daerah, dan memamerkan sejarah daerah Nerima. Daerah ini sejak dulu terkenal sebagai penghasil daikon (lobak) yang dikeringkan. Lobak nya besar dan panjang-panjang. Di lantai dua, kami bisa melihat proses pembuatan lobak, selain dari artifak yang ditemukan di Nerima.


Yang menarik di sini juga ada visualisasi sudut kota/perumahan orang Jepang jaman dulu, jadul deh… Tapi beberapa cukup membangkitkan kenangan aku pribadi. Suasana jadul seperti ini dulu masih sering aku jumpai di rumah alm. opa Bogor (kami selalu memanggil papanya mama ini dengan opa bogor, karena tinggal di bogor). Kalau mesin jahit singer dan seterika begitu mah, di rumah Jakarta juga masih ada hehehe. Ya dipikir-pikir untuk angkatannya Riku nanti, mungkin keyboard komputer, handphone sekarang yang canggih-canggih akan menjadi fosil kalau dia dewasa ya? hehehe.

Telepon umum jadul, masih sistem putar tuh. Padahal yang lebih jadul yang ada engkolnya yah

Dari sini, kami pergi ke halaman museum, tempat sebuah rumah tradisional milik  “orang kaya” di Nerima berada. Kalah jauh dengan rumah tradisional di Yokohama, tapi di sini bagusnya dikasih lihat struktur pembuatan atap yang canggih. Di dekat situ juga terdapat situs bekas rumah jaman Jomon, sekitar 5000 tahun yang lalu.

Hari mulai mendung, jadi kami bergegas kembali menyusuri jalan yang sama menuju tempat kami parkir sepeda. Karena kami belum makan siang sejak brunch jam 11, kami mencari toko ramen (mie jepang) yang masih buka. Ternyata  kebanyakan toko ramen tutup sesudah jam 4 sore, untuk kembali beroperasi pukul 6 sore. Salah satu alternatif lain adalah makan okonomiyaki dekat rumah. Ternyata di sini juga tutup, dan baru buka jam 5:30. Tadinya kami ditanya oleh petugas rumah makan itu apakah mau di reserve tempat untuk kami jam 5:30. Tapi Kai tidur di boncengan jadi kasihan juga untuk menunggu satu jam sampai toko itu buka, jadi kami memutuskan untuk pulang tanpa reserve.

Sekitar jam 6:30 Kai terbangun, dan acara televisi kesukaan Riku sudah selesai (Shoten dan Chibi Maruko) sehingga kami langsung naik sepeda lagi ke resto okonomiyaki tadi. Rumah makan ini menjual okonomiyaki khas daerah Hiroshima, yang berbeda dengan Okonomiyaki Tokyo. Okonomiyakinya tidak tebal, tapi tipis, mirip crepe dan di tengahnya berisi soba/udon goreng. Di atas crepe itu dibubuhkan serbuk ganggang laut dan saus okonomiyaki (seperti saus bulldog/inggris tapi lebih kental dan hitam…. hmmm kalau bagi orang Indonesia mirip kecap manis deh) dan mayoneis. Kai juga senang makan ini, karena dia hobi banget makan soba/ segala yang seperti mie.

Okonomiyaki ala hiroshima, mie goreng diapit telur dadar. Tumben imelda minum air putih ya.... hihihi

Akhirnya sekitar jam 7:30 kami pulang ke rumah karena mulai rintik. Bersepeda dalam keadaan kenyang juga merupakan siksaan bagiku hihihi.Mungkin yang paling bugar saat itu hanya Kai, karena sempat tidur. Jam 8:30 kami semua sudah dalam tempat tidur, mendongeng dan ZzZzZZzzzzz.

Dan mau tahu doaku malam ini?  “semoga bersepeda sehat dan jalan-jalan hari ini bisa menurunkan (sedikit) berat badanku… AMIN” (hihihi)

20 gagasan untuk “Sepeda Sehat

  1. AtA chan


    Asli endingnya nendang banget mbak.. Aku ampek ketawa guling-guling..
    😀
    ..

    Dan aku tambahkan doaku saat ini: “dan semoga Ata chan ngga sakit perut karena ketawa” hihihi
    EM

    Balas
  2. Rock

    Aku juga suka bersepeda mbak…

    Iya, bersepeda itu sehat ya. tapi kalau mau bersepeda di Jakarta, aku mikir-mikir dulu. Asap knalpot, terik matahari……..
    EM

    Balas
  3. krismariana

    tahu nggak mbak, aku kangen banget naik sepeda spt dulu. dulu pas sekolah di Madiun aku naik sepeda. biar sepedanya udah agak butut, tapi ringan sekali. tapi sejak di Jogja, aku nggak naik sepeda lagi. jalanan di Jogja sering ada yg menanjak, dan itu berat. apalagi kalau jalannya rame, nggak kuat asap kendaraannya. apalagi sekarang di Jkt, waaa… nggak berani aku mbak. bisa ketendang bus kota dan motor yg ugal2an itu. jadi kangennya naik sepeda belum terobati nih…

    memang struktur daerah juga berpengaruh. daerah kami masih termasuk “datar”, kalau ada tanjakan sih yang pasti aku turun dari sepeda. Sulit untuk tetap menggenjot sambil duduk dengan membawa beban Kai. Salah-salah bisa jatuh.
    Nah, kalau di yokohama aku nyerah naik sepeda, karena gunung. bisa mampus deh naik sepeda. wong jalan kaki aja menggeh-menggeh. (Jadi ingat nanti mau foto tanjakan depan rumah ortunya Gen di yokohama… 45 derajat …hihihih)

    EM

    Balas
  4. Hery Azwan

    Asyik banget bersepeda di Jepun. Jalanan relatif sepi dan udaranya masih segar. Aku juga senang bersepeda meski sendirian aja. Tapi jalurnya nggak berani masuk jalur umum. Cukuplah di sekitar kompleks dan putar2 di sekitar Kanal Banjir Timur.

    Iya bang… ini karena aku tinggal di pinggiran Tokyo. Kalau di office town ya ribet juga. meskipun sepeda adalah transportasi yang memasyarakat ke mana-mana. Mungkin loh… Jepang pemakai sepede kedua terbanyak setelah belanda? Hmmm nanti aku cari deh (soalnya penduduk belanda kan ngga sebanyak jepang hihihi)

    EM

    Balas
  5. vizon

    dari dulu aku pengen tahu, seperti apa nechan kalau lagi naik sepeda, dan sebesar apa sepedanya… gambar di atas telah menjawab segala kepenasaranku, hehehe… 😀

    taman bersantai seperti itu sebetulnya sudah dimiliki juga oleh Jogja. hanya sayang, perawatannya sangatlah tidak baik, sehingga ide bagus itu menjadi tidak tercapai tujuannya. ya, kelemahan kita sebagai orang indonesia adalah: “bisa membuat tapi tak cukup pintar untuk menjaga…”

    nechan… kalau aku ke tokyo, kita keliling pake sepeda, dan aku bonceng dengan dirimu ya… hahaha… 😀

    hahaha ada foto yang lebih close up nanti aku upload di Fb aja yah hihihi
    MENJAGA< maintenance> itu memang orang Indonesia tidak bisa kan 😉
    segala macam perlu dijaga kok sebenarnya … termasuk silaturahmi 😉
    bonceng? bukan kebalik? (atau mau duduk di bagian depan? hahaha)

    EM

    EM

    Balas
  6. anderson

    Wah..tempat menenangkan pikiran yang asik. Asri dan terawat keliatannya ya, Mbak…
    Btw…ngakak ngeliat foto Kai yang bobo di boncengan sepeda..:-D Untung ada senderannya yah..

    Ayuh Mbak, gowes lagi…

    harus terawat … kan kami bayar pajak. heheheh
    ada senderannya dan ada seat beltnya. Kalau tidak bisa nggelundung dong Uda hehehe
    EM

    Balas
    1. nique

      sakit hati saya mbaca postingan ini mbak 😀
      karena bolak balik bilang ‘kami kan bayar pajak’
      lah … emang kami gak bayar pajak apa di sini? 😛
      wong makan aja dipajakin, buang angin doang yang digratisin mbak
      makanya sakit hatinya dobel hiks
      udah mbayar tapi gak ada fasum yang memadai seperti taman deket rumahmu itu mbak
      huhuhu

      moga2 Jokowi terpilih jadi Gubernur dan dia memperhatikan hal ini deh nanti #hlo? Ngarep hahaha

      Balas
  7. HP

    Suasana baru nih, mengingatkan Firefox di Linux. Kayaknya memang asyik bersepeda di Jepang. Sepi, nyaman dan bebas dari motor. Wah, berani gak yah kalau bu Imelda naik sepeda di Jakarta. 😀

    satu kata:
    NGGA!
    EM

    Balas
  8. henny

    Mo ngucapin Terima Kasih untuk Om Gen yang udah jeprat-jepret kamera… sehingga kami pembaca TE benar-benar dimanjakan dengan foto lucu Kai; bermain, tertidur :D, makan….plus foto berharga Mbak Imel gowes-gowes membonceng Kai hehehe…Itu si Riku ngeloyor duluan, untung jalanan sepi (*apa udah dicarter keluarga Miyashita sehari?*) TFS mbak!

    Eits, selain foto yang ada akunya, itu semua foto aku yang ambil loh. Gen bertanggungjawab menjaga anak-anak. hihihi
    EM

    Balas
  9. Dewa Bantal

    Enak banget kayaknya, setiap postingan selalu aada foto2 kalian jalan2. Bikin iri uh… pengen sekali hidup disana.

    Ngomong2 soal telepon yang diputer… jadi inget dulu waktu SD masih pake telepon itu hahaha… Paling sebel kalau nelepon handphone soalnya nomernya panjang, dan nunggunya lama banget… apalagi kalau banyak angka 9 sama 0… huh… 5 detik per nomor!

    sama tapi teleponku warna abu-abu, karena milik perushaan. Yang ngangenin kan telepon gituan yg item tuh. bunyinya juga khas
    EM

    Balas
  10. nh18

    Doa EM :
    “semoga bersepeda sehat dan jalan-jalan hari ini bisa menurunkan (sedikit) berat badanku…Amin …”

    Dan saya ikut meng Amin i …

    BTW … kamu sudah naik sepeda dari dulu kan ???
    Kok … … …

    (hehehehe)

    Massssssssssssssssssss awas yah 😛
    iya iya udah dari dulu
    eh dulu aku kurus loh
    hiks hiks hiks (nangis ditahan …..)
    EM

    Balas
  11. Ria

    doa terakhirmu itu loh mbak…huhehehehehe….

    Bersepeda memang asyik dan menyehatkan asal jangan lewat tanjakan aja *aku sih gak kuat ya mbak, kalau udah tanjakan tinggi aku turun trus aku tenteng sepedanya :P*

    asyiknya memang kalo bisa motret2 burung langka dan tingkah binatang…jadi inget salah satu fotoku di FB oleh2 jalan2 dari SUMBAR…

    hus bukan tenteng tapi….. nah loh…narik? dorong?
    tenteng kan di bawa spt tas gitu…
    hmmm bhs indonesia yang terbatas!

    EM

    Balas
  12. Bro Neo

    lama tak berkunjung.. eh udah beda theme 🙂

    wah aseek ya, masih ada tempat bersepeda, dan taman terbuka untuk umum.. gratis pula

    kalo di sini sdh jd mall tuh 🙁

    wah kai kayaknya pulas banget tidurnya…

    Balas
  13. Tuti Nonka

    Mbak, saya sudah kenyang naik sepeda waktu sekolah dulu, mulai dari dari SD sampai SMA. Sekarang nggak ada kesempatan naik sepeda, soalnya kalau pergi jauh-jauh … (alasan aja?). Lagipula di Yogya udaranya sudah penuh polusi.

    Pengin lihat museum yang di Nerima Mbak. Bangunannya kelihatan modern ya (yan putih)? Foto bangunan yang di bawah (rumah kayu) itu unik banget. Tapi … yang lebih unik adalah foto model yang berbaju merah. Yes!!

    Balas
  14. Li Lee

    keluarga bahagia 🙂
    iri melihatnya
    kangen sepedaan deh
    di Solo taman”nya uda dibenahin
    teratur sekarang
    tapi dasar orang Indonesia, ga menghargai lingkungan
    tetep aja ada sampah, rada rusak dan coretan sana sini
    waaah, ada galeri rumah kuno yah
    buat satu di Solo aaah
    mungkin ada, tapi kurang dipublikasi
    ah, tante mah doanya ga realistis gitu
    mana bisa kurang kalo makannya kenceng dan ga prioritasin olahraga
    postingannya asyik 😉 suka banget deh *thumb up*

    ~LiOnA~

    Balas
  15. edratna

    Asyik sekali bersepeda di taman yang banyak pepohonan.
    Kai kapan mulai bisa ikutan bersepeda (roda tiga)?

    Hmm eberapa kali saya melihat ada semacam bangku di taman ya…fotonya Narp juga menunjukkan itu. Apa di Jepang taman-tamannya suka ada yang duduk mengelompok seperti itu? Main catur atau apa aja?

    Doa Imelda yang dibawah…..bacanya sambil senyum…:P
    Nanti akan kurus sendiri jika anak-anak besar, karena memikirkan mereka dan tak perlu menghabiskan makanan Kai…hehehe

    Balas
  16. Mamah Aline

    jadi inget lagu kring-kring gowes gowes meski gak inget penyanyinya, itu istilah yang pas buat bersepeda mba. Semoga bisa turun berat badannya
    .-= Mamah Aline´s last blog ..Serba Untung =-.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *