Kemarin sebetulnya bukanlah hari yang baik untuk bepergian, karena hujan rintik yang akhirnya menderas di malam hari membuat udara semakin dingin. Untung aku berhasil menemukan mantel kecil kepunyaan Riku dulu untuk membalut tubuh Kai sehingga bisa dipastikan dia hangat. Padahal sudah lewat tengah hari waktu kami keluar rumah kemarin.
Sudah lama aku tidak bertemu adikku Tina. Pernah aku janjian akan bertemu dia waktu kami menginap di rumah mertua, tapi akhirnya tidak jadi. Padahal dia punya sesuatu untuk kami oleh-oleh dari Italia katanya. Jadi di hari libur untuk buruh ini, dia mau datang ke rumah kami ceritanya. Tapi karena menurut prakiraan cuaca hari ini akan hujan terus, kami janjian untuk bertemu di restoran Cabe, Meguro. Sudah lama kami tidak ke sana, dan kami sekeluarga butuh jalan keluar rumah! So sekitar jam 12:45 kita berangkat, melewati Kan-7 douri yang biasanya macet…. tapi entah kenapa saat itu begitu lancar sehingga rekor dalam 40 menit kita sampai di Meguro.

Soal makan-makan tidak penting, yang pasti ada dua peristiwa yang terjadi. Riku seperti biasanya menganggap restoran itu sudah seperti rumahnya sendiri. Dia sering jalan-jalan ke belakang menemui pemilik restoran atau duduk di counter. Nah waktu dia kembali ke tempat duduknya, dia terpeleset jatuh. Aku duduk agak jauh sehingga tidak bisa menangkap dia. Dia terjerembab dan sempat menyenggol meja sebelah kami yang diduduki sepasang keluarga muda, ibunya sedang hamil bersama suaminya. Suaminya waktu itu sedang ke kamar kecil, sehingga kursinya kosong. Seandainya suaminya ada, pasti si Riku akan jatuh ke dia dulu dan tidak menyentuh meja. Alhasil meja tersenggol dan sup yang ada di atas meja tumpah sedikit ke atas meja. Sementara anakku masih di lantai, dan berusaha bangun sendiri.
Aku tanya, “Daijoubu Riku (tidak apa-apa Riku)? Sakit?”
Sambil menahan tangis, dia menggeleng. Aku tahu dia malu.
“Riku terpeleset ya…. ya sudah sini duduk saja”
Dan kepada si ibu hamil, yang diam cemberut saya bilang, “Sumimasen….(maaf ya)”
Dasar restoran Indonesia dengan pelayan Indonesia, tidak cepat tanggap. Kalau di restoran Jepang, pelayan akan segera datang, membantu si anak berdiri, tanya sakit atau tidak, bawa lap, dan bersihkan meja tanpa DISURUH. Nah, karena ini restoran Indonesia, lain servicenya…. (Yang orang jepang di situ hanya pemilik dan istrinya yang waktu itu ada di dapur dan tidak tahu kejadian itu). Si ibu hamil, sambil cemberut, minta si pelayan Indo ini untuk mengganti sup yang tumpah dengan yang baru. OK… si pelayan bawa ke belakang. Tapi, dia tidak mengelap meja!!! dan si ibu hamil itu tunggu terus sampai pelayan datang lagi dan minta meja segera di lap. Oiiii service service, memang orang Indonesia masih banyak harus belajar service dari orang Jepang. Tapi bu… jangan nyinyir gitu dong.
Aduh bu…. aku kasihan deh sama kamu. Ada anak di dalam perut kamu, tapi sifat keibuan kamu ngga ada. Biasanya seorang IBU akan bilang kepada anak yang jatuh siapapun dia … “aduh sakit ya…. kasihan” kek apa kek..basa basi gitu. Lalu…. akan lap itu meja sendiri pake tissue wong lap pake tissue selembar aja ngga akan penuh deh . cuman dikit banget tumpahnya juga. Ini bisa-bisa jadi ibu jutek yang suka marahin anaknya mulu deh tipikalnya orang Jepang heheheh.

Bla bla bla…. cukup lama juga kami menunggu pesanan datang…dan akhirnya tiba waktu pulang. Kai juga senang karena dia bisa makan banyak (nasi soto) dan bisa melihat pemandangan yang baru, juga bertemu tantenya. So, sekitar jam 4-an kami pulang, tapi karena hujan mulai deras, kami mau antar tante titin ke stasiun terdekat. Nah kejadian lagi…. happening yang ke dua adalah: Kai muntah di dalam mobil. Waktu itu aku sedang gendong/peluk dia karena dia rewel didudukkan di baby seat. Jadilah dia muntah ke baju saya dan bajunya. Untung aku selalu bawa baju ganti dan popok lengkap untuk dia. Jadi langsung bisa ganti di dalam mobil. BUT, aku tidak bawa ganti untuk aku sendiri. Dan kebetulan aku juga tidak membawa jaket. Hanya baju sweater satu-satunya itu yang aku pakai. Huh…. terpaksa deh pakai baju dalam - kaos thermal saja (untung pakai hihihi). Untung di Jepang ngga ada UU pornoaksi (kalo di Indo aku ditangkap kali ya?) …. untung gelap karena winter…dan untung mobilku pakai heater yang afdol, dan untung jarak ke rumah tinggal 30 menitan lagi, untung ada selimut selalu di dalam mobil jadi bisa selimutan…… untung ada “untungnya” jawa dan aku tidak seperti ibu jepang nyinyir tadi hahaha. Always look on the bright side…. please.
Alhasil sebelum pulang ke rumah, masih sempat drive through di Mac D untuk beli Happy set untuk Riku yang sudah mengeluh lapar….
Memang benar kata Chrisye…tak selamanya Mendung itu Kelabu……. yang pasti tidak untuk Kai.

Pagi ini seperti biasa aku antar Riku ke TK naik sepeda. Hari yang cerah, meskipun diberitakan bahwa pagi ini adalah pagi yang terdingin di Tokyo. Jam 8 pagi yang terang benderang saja masih menunjukkan 8 derajat. Tapi karena ada sinar matahari, terasa hangat dan sekaligus menyilaukan mata.
Jarak dari rumah ke TK Riku amat dekat jika dengan sepeda. Biasanya saya melewati jalan kecil dulu baru keluar di jalan besar. Persis di mulut jalan kecil itu ada penjual sayur hasil ladangnya sendiri. Akhir-akhir ini dia menjual broccoli, kol, buah kesemek (dalam bahasa Jepang :Kaki), dan daikon atau Lobak. Semua harganya satu 100 yen, jauh lebih murah daripada toko, dan lebih besar dan segar. Biasanya saya mampir ke sini waktu pulangnya, karena jika saya beli waktu pergi,saya kasihan pada sepeda saya. Lebih dari Hampir 100 kg sudah dia angkut masih musti ditambah dengan lobak dan kol yang berat.
Keluar ke jalan besar, saya harus menyeberangi sekolah Luar Biasa, penyandang cacat mental, atau sering disebut anak terbelakang yang bahasa Jepangnya merefer ke chiteki shogai (gangguan pada pengetahuan/otak). Di situlah saya melihat pemandangan ini. Seorang ibu yang mengantar anaknya bersekolah ke situ pasti menggandeng tangan anaknya. Meskipun kadang anaknya lebih besar dari ibunya, sang ibu dengan sabarnya menggandeng tangan anaknya, entah dia laki-laki atau perempuan. Memang perbuatan anak-anak ini tidak dapat diprediksi… tiba-tiba bisa melompat ke jalan (dan mengganggu pemakai jalan lainnya — yang menurut saya tidaklah usah disebut mengganggu, hanya membuat kaget) , berteriak-teriak dan menangis. Hanya dengan perbuatan menggandeng tangan saja, si anak menjadi tentram dan tenang. Betapa besar arti “gandengan tangan” ini bagi si anak dan juga bagi si ibu. Tapi benarkah gandengan tangan itu hanya berarti untuk mereka? Hmmm kita yang normal pun akan merasa senang digandeng tangannya atau bergandengan tangan terlepas si teman itu pacar atau bukan. (Kalau pacaran tidak gandengan tangan juga rasanya aneh ya…) Dengan kehangatan yang menjalar dari tangan teman kita, saudara kita, anak kita, orang tua kita…. seakan memberikan energi baru yang bisa membuat kita lebih bersemangat menghadapi kegiatan satu hari. Untuk orang Indonesia mungkin bisa berpelukan di depan umum (bagi anak dan orang tua), tapi di Jepang tidak bisa. Dicap aneh. Karena itu saya rasa gandengan tangan ini bisa menjadi satu solusi untuk salah satu skinship yang bisa jalankan dengan baik di Jepang.
Sambil mengayuh memutari sekolah LB itu, saya berpapasan dengan orang tua murid lain yang sudah mengantarkan anaknya dan kembali pulang ke rumah. Biasanya mereka bersepeda juga, dan dari jauh mereka biasanya sudah tersenyum dan jika mendekat akan mengucapkan, “Ohayo…itterasshai….” (Pagi…. selamat pergi!” Mau tidak mau, kita akan ikut tersenyum dan menyapa kembali. Atau kadang kala ada yang buru-buru dan tidak sempat menyapa, dia hanya mengangkat tangan dan melambaikan tangan. Suatu gesture yang sederhana, tapi juga membuat hati hangat. Dan beberap hari terakhir, saya melihat perkembangan dalam diri Kai yang duduk di keranjang di atas roda depan sepeda. Dia pasti ikut mengangkat tangannya membalas sapaan ibu-ibu tadi, seakan mewakili mamanya, yang sering tidak membalas, karena takut keseimbangan bersepeda terganggu. Dan biasanya ibu yang memperhatikan Kai itu akan bilang, “Oriko dane…”(Anak baik ya….). Anakku sudah mulai berinteraksi di masyarakat.
Sudahkah Anda tersenyum pagi ini? Atau melambaikan tangan pada seseorang? Mungkin sulit untuk bergandengan tangan, tapi apakah akhir-akhir ini ada orang yang Anda gandeng tangannya? Atau cukup dengan sapaan, “Selamat Pagi…..”
Indah dan cerah harimu Teman. (Kupinjam frase yang bagi saya merupakan royaltinya Yoga. Hai Yoga, Indah harimu dik!)

Riku dan Kai bermain di atas tempat tidur rebutan untuk "menaiki" mamanya...susah main sama anak laki...kasar dan pasti berkelahi ...hihihi
Duh kok bisa-bisanya Riku punya pertanyaan ini. 命より大切なものはなに? Apa yang lebih berharga dari nyawa?
Aku tahu dia mengharapkan jawaban “Riku”, tapi aku jawab begini,
“Inochi yori taisetsuna mono wa nai. Tidak ada yang lebih berharga daripada Nyawa. Karena tanpa nyawa kamu ngga hidup, ngga bisa ketemu mama dan tidka bisa sayang mama. Nyawa itu amat sangat berharga, jadi harus dijaga bener-bener.”
“Kalau Riku, Yang lebih berharga dari nyawa itu adalah mama. Aku mati pun ngga papa, karena aku sayang mama.”
“Mama ngga mau kamu mati. Kalau kamu mati, mama musti sayang siapa? Jadi jangan bilang gitu lagi!”
“Tapi emang di seluruh dunia ini aku paling sayang mama. Nomor satu mama. Nomor dua papa (ups keluar deh nomor-nomoran padahal dulu wkatu umur dua tahun dia bilang “sama sayang”. Nomor tiga Kai!
“Iya terima kasih Riku. Mama juga yang paling mama sayangi adalah Riku, lebih dari papa ….tapi rahasia ya. “
“OK…..(sambil dia cium aku)”
Fffffff aku tidak tahu dia belajar darimana, tapi dia memang pintar sekali membuat kalimat sejak kecil. Perbendaharaan katanya bagus, yang pasti dia dapat dari TV, atau dia dengar aku. Makanya aku berusaha sedapat mungkin jangan memaki-maki/mengumpat-umpat di depan dia.
Kemarin pulang ngajar sudah jam 5 lebih. Kai rewel terus, dan maunya digendong terus. Sampai aku ke WC pun tidak boleh. Akhirnya aku paksa dia tunggu di kamar tamu, sementara aku ke WC. Yang ada si Riku bilang , “Mama, Kai nangis terus loh”
Aku yang sedang sebel menukas, “Tau. mama ngga budeg, mama denger kok. biarin aja”
Riku liat mamanya spanning, diam, dan bilang, “IYa mama”
…………….

Riku suap Kai
Masak makan malam, aku rebus spaghetti, tapi biar bagaimanapun aku berusaha pakai satu tangan (sambil gendong Kai), akhirnya tidak bisa juga. Sedangkan Kai tambah rewel. Aku marah pada Kai, dan bilang begini,
“Kai…. mama juga harus masak untuk Kakak kamu. Riku kan juga lapar.”
“Mama…. ngga papa kok. Riku belum lapar….. ” hmmmm keluar deh…padahal tadi dia yang minta makan. Demi adiknya dia berkorban.
Begitu aku bisa kasih tidur Kai, aku keluar kamar dan peluk Riku,
“Terima kasih ya Riku… sudah mau berkorban.”
“Daijoubu dayo mama. Di dunia ini yang aku sayangi kan cuma mama, papa, dan kai……..”
……………………………

Pagi ini aku kaget waktu melihat angka temperature udara di luar menunjukkan 11. Whew…. 11 derajat… sudah winter ini. Dan memang sudah RITTO 立冬, kedudukan matahari mencapai 225 derajat, hari pertama suasana musim dingin terasa. Dan biasanya jatuh pada tanggal 7 November. Well sekarang sudah lewat 3 hari, dengan suasana mendung dan dingin… muram. Apalagi sejak pulang dari Jakarta yang begitu panas tanggal 5 lalu, Kai sakit terus, dan baru bisa makan hari sabtu yang lalu. Dan seiring dengan “kesembuhan”nya, kenakalannya bertambah.

(Kai dan Opa…. masak handphone didekatkan ke botaknya opa??? nakal kamu!!)
BIcaranya memang belum berbentuk kata tapi volumenya cukup keras. Dan sudah bisa menolak dengan tegas jika akan diberi makan atau susu. Yah, anakku yang bayi sudah mulai menjadi “orang” yang bisa mengekspresikan dirinya juga. Pernah suatu kali dia marah sama saya dan pukul saya dengan kedua tangannya sambil menjatuhkan diri. SAKIT!….. tapi lebih kaget pada ekspresi kemarahannya. Yang pasti dia marah jika saya dan riku “cium -ciuman ” di depan dia. Dia JELAOUS!!!!. Giliran saya dan Riku tertawa melihat kemarahannya. Karena dia langsung melerai kami dan menempatkan diri di tengah-tengah kami hihihi.
Untungnya Riku sudah bisa menerima tugasnya sebagai seorang kakak, meskipun “chlidish” nya masih belum bisa dihilangkan. Dia akan marah jika mainannya dipegang Kai, tapi suatu saat, dia dengan senang hati memberikan mainannya …bahkan dia menyuapkan makanan kepada adiknya. Hari-hari semakin dingin, tapi dengan kehadiran kedua buah hatiku ini, semoga winter 2008 menjadi hangat dan aku dapat menyambut tahun 2009 dengan penuh semangat.
Kemarin pagi, karena Kai masih demam (sejak malam sebelumnya), saya bawa dia ke dokter. Pertama kali Kai ke dokter di LN. Jam 6 pagi mendaftar, jam 8 pagi diperiksa dokter, jam 8:20 selesai. Kasihan Kai, karena demam, batuk dan pileknya membuat dia malas dan tidak ada nafsu makan.
Setelah merawat Kai kemarin dan seharian tadi, sore jam 5 Riku merengek minta diantar ke Game Center. Karena aku lihat Kai bisa ditinggal sama mbaknya, kita langsung menuju BlokM plaza, untuk ke Game Center bersama Andy. Karena Andy bisa tungguin Riku bermain, saya lari sebentar keluar… Memanfaatkan waktu untukku sendiri yang hanya 1 jam. So…what have I done in 1 hour?
Dan hasil panenku kali ini adalah:19 buku +1 CD Dewi Lestari
Buku Pramoedya yang aku punya bahasa Jepang sih, jadi kudu beli versi bahasa Indonesianya kan …hehehe. Kemudian supernovanya Dee juga untuk melengkapi koleksi (yang masih terbungkus plastik)— so maybe these three books will end like the first one. Layla Majnun aku beli karena aku sudah pernah baca di kala SMP, dengan tulisan Ejaan Lama dan bukunya (pinjaman) bener-bener harus hati-hati membukanya saking kunonya. Bener-bener banjir air mata waktu itu. Ada 2 yang tidak difoto yaitu buku kedua dan ketiganya Andrea Hirata. Sebetulnya masih ada (mungkin) buku yang aku mau beli, tapi sudah beraaaat banget. Dan untuk 19 buku + 1CD itu harganya semua 1,17 juta…. waaah mahal juga buku Indonesia ya….Gimana orang Indonesia mau cinta buku hihihi
Hayoooo tebak kira-kira saya bakal baca buku yang mana duluan?
jam 12:00 siang
telepon berbunyi
“Moshi-moshi….. …. halllo?”
“Hallo mama…”
“Riku chan… genki?
“ sekarang aku ada di hotel… hotelnya bagus loh… tempat tidur nya ada 3. trus trus di sebelah tempat tidur, di depan aku ini ada tombol banyak….. Wahhh pokoknya lampunya bagus loh”
“oooh jadi nanti Riku bisa mati dan nyalakan lewat tombol itu ya?”
“(ngga perhatiin ucapan mamanya….) Hebat loh bagus sekali hotelnya. Hmmm nanti lagi ya…. Daaaag….”
click…. tut tut tut….
(Kenapa ya laki-laki tuh semua irit bicara di telepon… semua ngga kecil ngga besar…hiks)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
jam 19:30 malam
Kring…kring…kring…. empat kali, cepat-cepat aku ambil, sebelum answering machine yang menjawab,
(pasti dari Riku, siapa lagi yang telepon jam segini)
“Hallo… Riku chan?”
” unnnn. mama lagi tidur?”
“ngga , mama lagi masak”
“papa ada?”
“papa belum pulang”
“Kai ada?”
“Ada”
“Sedang tidur?”
“ngga… ini ada di sebelah mama… Riku bicara saja…” (pasang speaker)
“KAIIIiiii…. halllo….”
(Kai lihat ke telepon dan tertawa, tapi segera mukanya berpaling melihat TV)
“Kai tahu suaranya Riku loh, dia ketawa….”
“hmmm sebentar ini Achan….” Dan aku harus bicara dengan neneknya…..
“Imechan, Riku hebat loh, dia sudah berenang, dan waktu jalan-jalan dia gendong terus ranselnya. Waktu kita bilang ranselnya di taruh di Taxi saja, dia ngga mau. Dia bilang, “Ada barang-barang yang dibawakan mama. Aku ngga bisa lepaskan ransel ini. Ini adalah ikatan aku dengan mama” (huuuuuu mau nangis deh). Dia banyak ambil foto juga, katanya disuruh mama ……”
(Dan neneknya suruh Riku say goodbye. )
“Mama, ja…sampe besok ya…”
oyasu…. (klick tut tut tut) ….nasai… belum sempat habis bicaraku, dia sudah tutup.
Dasar lelaki!.
——dan aku harus cepat-cepat menyambar Kai, karena tangannya sudah mencapai meja, dan akan menjatuhkan botol air mineral. —- aaaahhhh malam ini aku kesepian lagi deh. Riku biasanya datang tengah malam ke ranjangku dan tidur di tempat tidur single yang ada di ruang computerku. Kalau sudah begini biasanya aku bangun, dan membuka laptopku untuk kerja atau menulis lagi. Bagaimana bisa tempat tidur single itu ditempati dua orang…yang ada aku bisa jatuh deh.
Bukan kabar baik…. hmmm boleh juga dibilang kabar baik. Tapi yang pasti bukan kabar buruk. Hanya sekedar “peringatan” bahwa anakku bukan “Bayi” lagi. Ya, Pemberitahuan itu datang dari pemerintah daerah Nerima (Nerima-ku) bahwa anakku Riku akan mulai bersekolah di SD yang masuk rayon wilayah tempat tinggal kami mulai April 2009, karena sudah mencapai usia sekolah 6 tahun (pada tanggal 25 Februarinya).
Untuk itu kami harus membawa dia untuk pemeriksaan kesehatan di SD tujuan pada tanggal 7 November yang akan datang siang hari jam 1 siang. Waaah hari Jumat tuh, gimana ya…apa aku liburin kelas di Senshu? Atau ada ngga yang mau anterin Riku ya hehehhee (Kayaknya kudu ortu murid deh …hiks)
Seperti diketahui di Jepang wajib belajar adalah untuk SD dan SMP, jadi anak-anak usia sekolah sudah didata semuanya oleh pemda, dan tentu saja biaya sekolahnya gratis. Kecuali kalau mengambil makan siang di sekolah. Enaknya kalau SD, tidak usah antar-jemput, karena semua anak akan berjalan kaki dari rumah ke SD nya, per kelompok. Katanya sih senior (kelas yang lebih tinggi) bertanggung jawab untuk adik-adiknya. Semoga aja bisa lancar-lancar saja.
Kalau dipikir-pikir sistem pemberitahuan dari pemda ke ortu (calon murid) begini ngga ada ya di Indonesia? (kecuali pemberitahuan pajak …nagih duit hihihi) Pasti alasannya ngga ada dana untuk cetak surat dan tidak ada dana untuk beli perangko kirim hehhehe. Enaknya di sini ya gitu, beberapa saat sebelum masuk sekolah atau misalnya ID Card saya akan habis masa berlakunya, pasti dikirimi pemberitahuan dari pemdanya. Kemarin saya juga mendapat pemberitahuan ttg kartu asuransi nasional yang hampir habis dan disuruh mengecek status kependudukan saya. Rupanya di komputer mereka belum tercatat bahwa saya sudah permanent resident.
(Kai mulai baca-baca buku sendiri…. Yang lucu semuanya terbalik, sama seperti Riku sampai umur 4 tahun semua buku/huruf dibaca terbalik.)
Hari ini tanggal 19 Oktober menurut catatan buku pintar aku “What day is today” adalah hari untuk berwisata ke luar negeri. Kok bisa begitu? Penyebutan tanggal menurut bahasa Jepang dibalik menjadi 10-19 … dan dibaca sebagai Tooku e iku (Pergi Jauh). Jadi mustinya hari ini kita semua bepergian deh….
Kebetulan tema ini tepat juga untuk “curhat” tentang Riku. Malam ini aku sambil mengetik di meja makan, Riku menonton TV. Filmnya “Mrs Doubtfire”… sudah berkali-kali aku menonton film ini, dan kagum pada akting si Robbin Williams. Lalu tiba-tiba Riku datang padaku.
Riku: “Mama …aku akan pergi beberapa hari. aku akan kesepian tanpa mama. dan akan ingat mama terus”
Mama: ——aku peluk dia—- (dia mulai menangis)
Riku: “Aku sayang mama….”
Mama: “Iya Riku, mama juga sayang Riku”…. dan aku terpaksa tidak bicara, karena aku juga jadi ikut menangis… membayangkan 4 malam tanpa Riku mulai besok malam. Riku akan pergi bersama ibu dan bapaknya Gen ke Okinawa, kepulauan resort di Jepang Selatan. Kakek dan Neneknya pikir mereka ingin mengajak cucu pertamanya ini bersama mereka (tanpa orang tua) menikmati wisata bersama. Mereka sudah rencanakan ini sudah lama, yaitu akan mengajak pergi wisata sebelum Riku masuk SD. Dan tentu saja aku setuju, karena meskipun aku misalnya punya uang untuk wisata, tidak akan memilih Okinawa sebagai tujuan wisata keluarga. Daripada pergi ke Okinawa lebih baik aku ke Bali atau Yogya, atau ke Lombok…. dan pulkam ke Jakarta.
Riku masih menangis dipelukanku.
Mama: “Riku…lihat, Riku nangis kan… mama juga nangis… Riku sayang mama, dan mama juga sayang Riku. Riku kesepian tanpa mama, Mama juga kesepian tanpa Riku. Tapi … Riku harus enjoy pergi bersama A-chan dan Ta-chan. Riku bisa pergi ke Aquarium terbesar di dunia, Churaumi Aquarium, menginap di hotel bagus, berenang, makan yang enak…. Nanti Riku bisa cerita sama mama tentang perjalanan Riku, jadi Riku harus menikmati perjalanan itu ya. Nanti kalau bagus dan menyenangkan, Mama kan bisa pergi ke sana berdua Riku. Jadi jangan sedih ya…. Dan Riku itu laki-laki, waktu itu kan Riku sudah bisa pergi sendiri dengan teman-teman TK meskipun satu malam. Dan ini kan pergi cuma 3 malam dengan Achan dan Tachan. Nanti kalau Riku sudah besar, Riku juga bisa pergi sendiri ke Jakarta loh. ( Dan sebetulnya sampai umurnya yang 5 tahun ini,, Riku sudah 18 kali naik pesawat terbang…. what a record… yang pasti lebih banyak dari papanya).
Riku: Iya nanti Riku telpon mama tiap malam ya…
Mama: Ok mama tunggu ya.
Well, aku juga harus bersiap-siap suatu saat dia datang ke aku, peluk aku dan bilang, “Mama aku mau sekolah di Amerika “……..
Riku: “Mama kenapa menangis?”
Saya: “Oma sakit. Sakit kepala dan muntah-muntah”
Riku: “Riku juga sakit kepala….”
Saya: “Iya sayang. Tapi Oma pernah sakit berat (stroke)….. Jadi mama khawatir sekali”
Riku: “Ngga apa apa…. Kan belum mati…….”
Saya: …..menangis…..
Riku: ” Kan masih ada Riku….”
Saya: “Iya sayang. Tapi gini…. misalnya Mama sekarang sakit…Riku sedih tidak?”
Riku: “Iya dong…”
Saya: “Makanya mama nangis,…karena mama sedih mendengar mama sakit…”
Riku : “Daijoubu dayo (It’ll be allright)”
Saya: “Iya sayang…kita berdoa sama Tuhan ya…supaya Oma sembuh”
*******************
and I have to rush to go to work today
Kali ini trip ke Sendai memang begitu tergesa-gesa. Lebih dari 6 bulan berselang (Trip to Sendai) waktu kami pertama kali bermobil mengunjungi kota tempat adiknya Gen bermukim yang terletak di Jepang Utara. Sampai saat keberangkatan, banyak masalah yang timbul. Masalah mobil yang jendelanya tidak bisa menutup, karena rotornya rusak. Kemudian hari Olahraganya Riku yang ditunda menjadi hari Minggu, menyebabkan kita baru bisa berangkat jam 2 siang…paling cepat. Tapi masalah yang terpenting adalah penginapan. Karena tanggal 13 (Senin) merupakan hari libur dan hari TAIAN (Hari baik menurut kalender Jepang, sehingga banyak diadakan upacara-upacara pernikahan, 3-5-7 dll)Jadi semua hotel penuh. Lagipula kita tidak bisa memperkirakan kita akan sampai di sana jam berapa. Mau menginap di rumah adik ipar juga akan mengganggu ritme sang bayi yang menjadi primadona kali ini. Jadi kami putuskan untuk pergi hari Senin dini hari pukul 4 pagi, sehingga bisa sampai pada waktunya yaitu jam 11 siang di Kuil Shinto, Tsutsujigaoka Tenmanggu.

Tanggal 13 Oktober bukanlah hari sial untuk orang Jepang (kalau dilihat dari angka), yang penting adalah hari TAIAN dilihat dari nama kalender, seperti kalender jawa yang 5 hari itu. Hari itu, pertama kalinya keponakan saya, sepupu Riku dan Kai, akan “berkunjung” ke Kuil Shinto. Sebuah upacara yang dinamakan Omiyamairi お宮参り. Biasanya bayi berkunjung ke Kuil ini pada waktu berumur 100 hari, tapi Nobu-kun ini sudah berusia 4 bulan. Tidak apalah daripada tidak sama sekali. Untuk saya ini merupakan pertama kalinya mengikuti upacara Omiyamairi yang “asli”, karena Riku pergi ke Kuil hanya lewat depannya saja, demikian juga dengan Kai. Tapi karena altar Kuil Shinto itu suci, kami tidak bisa membuat foto. Dan sebetulnya tidak ada yang “penting” untuk difoto. Pendeta Shinto hanya berdoa dengan memakai semacam tongkat berumbai kertas putih, dan memberikan berkatnya ke Bayi yang digendong oleh ibu dari keluarga Miyashita (ibu mertua saya). Nothing to do…hanya mendengar saja.
Karena ini merupakan kesempatan langka juga bagi keluarga Miyashita untuk berkumpul dengan lengkap dan berkimono (saya tidak loh…hanya pakai kebaya yang paliiiiing sederhana warnanya karena jika tidak saya jadi menonjol sendiri kan? sedangkan yang punya hajat adalah adiknya Gen), kami berfoto bersama di photo studio yang terletak di dekat Kuil itu. Aduuuuuh sulitnya mengatur 3 anak yang keras kepala. Si Bayi , Nobu, tidur…. Si Riku tidak mau diatur (keras kepala) jadi pasang wajah angker terus… sedangkan Kai awalnya senyum-senyum terus, tapi karena diulang-ulang terus, menjadi capek, tidak mau menghadap ke kamera….. huhuhuhuhu… mau nangis tuh si kameramannya. Yah mudah-mudahan nanti hasilnya bagus.

Setelah photo session selesai, kita janjian bertemu di sebuah restoran yang terletak di depan Stasiun Sendai, bernama HANA. Di sini ada lagi satu upacara untuk bayi, yaitu Okuizome (makan pertama sebagai manusia) . Kalau Kai dulu dibuat di rumah, tapi untuk praktisnya maka acara untuk Nobu diadakan di Restoran ini. Dan kali ini mengikuti aturan yang sesungguhnya yaitu dimulai dengan urutan Ikan Thai, nasi, sup, lauk, nasi, sup, lauk, dst dst… semuanya ada artinya (Kalau saya mah semua sama aja jadi ngga pake aturan deh hihihi). Restoran Hana ini cukup bagus suasananya, sayang tidak ada di dekat rumah saya di Tokyo. Sesudah itu kita bersama-sama pulang ke rumah adik ipar yang baru mereka tempati selama 1 bulan. Waaah apartemen baru, masih kinclong dan Barrier Free (bebas rintangan bagi manula). Pemandangan malam indah karena bisa melihat shinkasen yang sedang lewat.
Sekitar jam 9 malam baru kita pergi ke hotel yang saya pesan lewat internet dengan harga muraaaaaah banget. Cocok loh untuk backpacker padahal waktu saya masuk ke hotel itu lumayan bersih dan luas. seperti apartemen dengan 3 kamar (2 kamar masing-masing 2 bed, dan 1 kamar dengan 2 futon) hmmm cocok untuk gashuku juga nih. Cuman memang semua hotel di Jepang pembayarannya berdasarkan jumlah kepala, bukan satu kamar sekian. Jika anggota keluarga banyak maka akan menjadi mahal. Kecuali hotel chain internasional, hampir tidak ada hotel yang hanya menyediakan satu kamar satu malam seharga sekian yen.