Arsip Tag: rumah tradisional

GW-1- Tradisional

Jumat 29 April kemarin sebenarnya adalah hari libur di Jepang yang dinamakan Showa no hi (Hari Showa untuk memperingati kaisar Showa) dan merupakan awal dari rangkaian hari libur yang disebut Golden Week (biasa disingkat GW). Tapi….untukku bukan hari libur. (Sedangkan Gen yang biasanya kerja di hari libur saja, kemarin bisa libur :D)

Ya, akibat permulaan tahun ajaran baru 2011 diundur 1 bulan-an, maka aku yang memang hari kuliahnya hari Jumat, harus mengajar kemarin meskipun hari libur. Tentu saja itu berarti mahasiswa tidak bisa libur. Sama-sama deh. Dan karena Gen libur, aku tidak perlu memikirkan siapa yang harus menjaga Riku dan Kai selama aku mengajar.

Yang menyenangkan sebetulnya adalah pukul 6 pagi waktu aku bangun, Ternyata Riku dan papa Gen juga sudah bangun. Dan Gen mau mengantarkan aku ke universitas naik mobil. horre…. yatta! Meskipun aku tahu naik bus dan kereta ke arah universitas pada hari libur juga tidak terlalu penuh tapi selalu lebih enak kan, jika diantar from door to door.… sampai depan universitas hehehe. Dan untuk mengantisipasi lalu lintas macet, kami berangkat pukul 8:30. Aku mengajar pelajaran ke 2 pukul 10:45, tapi aku perlu me- lithograph (stensil)  bahan pelajaran dulu, yang cukup banyak.

Tapi untunglah jalanan tidak macet sehingga aku bisa sampai di universitas pukul 9:30-an. Aku sendiri tidak tahu apa rencana Gen dan anak-anak selama aku mengajar. Dan baru tahu sekitar pukul 12 bahwa mereka menunggu di daerah sekitar universitas… sampai aku selesai mengajar pukul 2:30

Daerah dekat universitas memang asri sekali. Di situ banyak terdapat rumah-rumah tradisional yang dilestarikan yang tergabung dalam “Taman Rumah Tradisionl” Minka-en. Tadinya mereka ingin pergi ke museum Okamoto Taro, seorang seniman Jepang yang terkenal. Tapi ntah kenapa, letak museum tidak bisa ditemukan. Setelah parkir mobil, malah menemukan kumpulan rumah-rumah tradisional jaman dulu. Memang dulu aku pernah melewati beberapa rumah tradisional waktu pergi dengan Riku. Tapi waktu itu tujuan kami ke planetarium (yang ternyata kecil dan belum buka waktu kami ke sana. Bukanya pukul 3:30 hihihi).

Jadi bertiga mereka berkeliling ke rumah-rumah tradisional itu, dan Riku yang memotret rumah-rumah itu. Langsung keliatan sih dari hasilnya, pasti bukan Gen yang memotret. But not bad juga hasilnya. Ini hasil potretan Riku:

Yang terekam oleh Riku dari depan sampai dapur.

Dalam taman ada 21 rumah tradisional, termasuk salah satunya yang biasa dipakai untuk pertunjukan Kabuki. Sayang kemarin itu tidak ada pertunjukannya. Tapi di beberapa rumah ada sukarelawan, yang biasanya kakek-kakek dan nenek-nenek yang akan menjelaskan tentang rumah dan bercakap-cakap dengan pengunjung. Ada yang menyalakan perapian di irori yaitu perapian berbentuk kotak yang sering dipakai sebagai pengganti meja makan. Bisa bayangkan duduk mengelilingi irori, sambil minum teh atau makan nasi lobak (kayak Oshin deh hihihi).

Kayu yang dipakai untuk membakar akan menghasilkan abu yang terkumpul di sekitar irori. Dan pojok-pojok irori ini dahulu kakek-kakek mengajar cucunya menulis memakai ranting. Very japanese yah 😀

Yang juga menarik adanya beberapa rumah yang berlantai bambu. Biasanya lantai rumah terbuat dari papan kayu tapi ini terbuat dari bambu, yang juga menunjukkan kondisi perekonomian saat itu (bambu jelas lebih murah dari kayu). Kok waktu melihat foto-foto rumah dengan lantai bambu itu aku jadi teringat rumah saudaraku di Makassar dulu semua lantainya terbuat dari bambu sehingga kami bisa melihat kambing-kambing dan ayam berlarian di bawah rumah.

Jangkrik dari daun dibuatkan nenek relawan di rumah tradisional

Untuk memasuki Taman Rumah Tradisional Pemda Kawasaki ini hanya membayar 500 yen (dewasa, SMA-mahasiswa 300 yen, SMP ke bawah gratis) untuk melihat semua rumah yang terdapat dalam kompleks ini. Yang aku cukup terkejut ternyata yang paling tua ada rumah yang berdiri sejak abad 17… berarti 300 tahun yang lalu? Wah orang Jepang memang menghargai sejarah ya.

21 rumah yang terdapat dalam Taman Rumah Tradisional daerah Kawasaki (pamflet)

Sepeda Sehat

Akhir-akhir ini aku sering melihat foto-foto kegiatan tiga sahabatku Katon Bagaskara,  teman SMA Ira Wibowo dan teman SDku HDK bersepeda bersama di Jakarta dengan istilah “GOWES”. Kupikir istilah baru yang menyebar di Jakarta, misal dari bahasa Inggris go west, pergi ke barat hehehe. Tapi ternyata setelah tanya penulis yang juga editor, DM, aku tahu bahwa gowes itu dari bahasa Jawa yang artinya “mengayuh”. Hmmm bagus juga jika gowes dibakukan menggantikan “cycling” nya bahasa Inggris atau kata “bersepeda sehat” yang terlalu panjang.

Berlainan dengan blogger sahabat saya mas NH18 yang hobi  bersepeda di akhir minggu sendirian, aku malah bersepeda sebagai kendaraan sehari-hari. Kecuali jika hujan! Kalau dulu sempat aku mempunyai “perpanjangan tangan” yaitu alat yang dipasang di stang depan sepeda untuk memegang payung (dan sudah 3 kali beli karena rusak), sekarang jika hujan aku lebih baik naik bus. Dulu maksa pergi naik sepeda waktu hujan karena aku banyak bekerja pagi dan tidak  bisa terlambat, sekarang masih bisa ditolerir. Naik bus jika hujan yang tadinya hanya makan waktu 10 menit, bisa menjadi 30-40 menit soalnya. Dan tentu saja memikirkan kondisi anak yang mesti aku bawa serta. Kalau dulu Riku penurut sehingga mau saja pergi pada waktunya. Sekarang aku memakai bus sebagai “rayuan” untuk Kai supaya mau pergi ke penitipan.

Dari tempat parkir sepeda, kami menuruni tangga dan mengelilingi kolam Sanpouji di atas jalur deck kayu yang tersedia.

Nah, hari Minggu kemarin cerah dan …panas! (mungkin sekitar 23 derajat) Setelah seminggu terlalu lama di dalam ruangan, dan Gen yang selalu pulang jam 12-2 pagi, akhirnya pada jam 2 siang kami memutuskan untuk bersepeda bersama mencari sisa-sisa sakura ke arah Taman Shakujii (shakujii koen 石神井公園). Sebuah taman seluas 200ribu m2 yang bisa dicapai dengan bersepeda 15-20 menit. Aku memboncengkan Kai di belakang, Riku dengan sepeda barunya, dan Gen sebagai kepala rombongan, tiga sepeda beriringan melewati jalan tikus menuju taman. Sambil melihat sisa-sisa bunga sakura yang sudah bercampur daun, kami juga rumah-rumah di sekitar taman yang begitu besar (untuk ukuran Jepang loh) dan asri…pasti orang kaya deh.

Pemandangan dari tepi kolam

Kami memarkirkan sepeda di luar taman dan berjalan kaki memotong taman mengikuti jalur “walking” berupa deck kayu di sekeliling “Kolam Sanpouji” 三宝寺池. Senangnya melihat deck kayu ini, karena amat berguna untuk mereka yang memakai baby car atau kursi roda/lansia yang berjalan dengan bantuan tongkat. Banyak sekali pengunjung taman hari ini. Aku yakin banyak warga Nerima yang memutuskan untuk melewatkan hari cerah ini di luar. Dan Taman Shakujii menjadi pilihan. Kami bisa menikmati pemandangan kolam, pepohonan, burung dengan gratis!

Angsa, ikan koi, Riku dan Kai di Kolam Sanpouji

Sambil berjalan, sesekali kami berhenti melihat kolam. Kai yang berjalan terus sendiri (kuat juga tuh anak) senang sekali melihat bebek, angsa, burung dan ikan KOI yang besar-besar di kolam. Tidak jarang aku melihat orang-orang dengan kamera DSLR yang canggih memotret kelakuan hewan-hewan itu. Ngiler… pengen beli juga…. hihihi. Bahkan ada di suatu tempat yang sepertinya sudah diketahui sebagai tempat berkunjungnya burung langka, berkumpul 3-4 pemotret dengan lensa tele sebesar lobak ada kali 50 cm tuh… berat nian pasti! Khusus Bird watching!

Bapak-bapak berkumpul melihat permainan shogi (catur tradisional Jepang) di taman

Sementara di beberapa bagian di sisi deck “walking” itu terdapat meja yang dipenuhi bapak-bapak. Kalau di Indonesia pasti main gaplek, tapi di sini main Shogi 将棋, sejenis catur tradisional Jepang. Aku sendiri bisa bermain catur (ngga jago sih) tapi belum pernah bermain shogi, padahal katanya sih rule permainannya tidak begitu berbeda.

Kai hanya bisa bermain di bawah jungle gym

Kami berjalan lagi dan menemukan athletic jungle gym (tempat memanjat, bergantungan, perosotan dsb, dan jungle gym sendiri ternyata awalnya merupakan merek alat tersebut). Banyak anak memanfaatkan tempat ini, termasuk Riku (padahal di situ tertulis untuk 10 th ke atas heheheh). Sedangkan Kai yang masih terlalu kecil untuk ikut memanjat-manjat, menunggu giliran untuk menaikin anjing-anjingan. Aduuuh ini anak, dia maunya duduk di kursi paling depan, dan bersikeras terus menunggu. Hmmm benar-benar keras kepala, jadi ngeri kalau ngebayangin dia jadi “atasan”, targetnya harus bisa tercapai. Kai mirip tante Titin nih! Aku? aku keras kepala juga sih tapi tidak seteguh Kai hehehe.

Kai terus menunggu giliran untuk bisa di bagian depan anjing-anjingan ini

Kemudian kami berjalan lagi memotong taman keluar di jalan besar. Kami kemudian mampir di gedung baru, semacam museum kebudayaan wilayah Nerima. Bangunan mewah ini didirikan dari pajak daerah, dan memamerkan sejarah daerah Nerima. Daerah ini sejak dulu terkenal sebagai penghasil daikon (lobak) yang dikeringkan. Lobak nya besar dan panjang-panjang. Di lantai dua, kami bisa melihat proses pembuatan lobak, selain dari artifak yang ditemukan di Nerima.


Yang menarik di sini juga ada visualisasi sudut kota/perumahan orang Jepang jaman dulu, jadul deh… Tapi beberapa cukup membangkitkan kenangan aku pribadi. Suasana jadul seperti ini dulu masih sering aku jumpai di rumah alm. opa Bogor (kami selalu memanggil papanya mama ini dengan opa bogor, karena tinggal di bogor). Kalau mesin jahit singer dan seterika begitu mah, di rumah Jakarta juga masih ada hehehe. Ya dipikir-pikir untuk angkatannya Riku nanti, mungkin keyboard komputer, handphone sekarang yang canggih-canggih akan menjadi fosil kalau dia dewasa ya? hehehe.

Telepon umum jadul, masih sistem putar tuh. Padahal yang lebih jadul yang ada engkolnya yah

Dari sini, kami pergi ke halaman museum, tempat sebuah rumah tradisional milik  “orang kaya” di Nerima berada. Kalah jauh dengan rumah tradisional di Yokohama, tapi di sini bagusnya dikasih lihat struktur pembuatan atap yang canggih. Di dekat situ juga terdapat situs bekas rumah jaman Jomon, sekitar 5000 tahun yang lalu.

Hari mulai mendung, jadi kami bergegas kembali menyusuri jalan yang sama menuju tempat kami parkir sepeda. Karena kami belum makan siang sejak brunch jam 11, kami mencari toko ramen (mie jepang) yang masih buka. Ternyata  kebanyakan toko ramen tutup sesudah jam 4 sore, untuk kembali beroperasi pukul 6 sore. Salah satu alternatif lain adalah makan okonomiyaki dekat rumah. Ternyata di sini juga tutup, dan baru buka jam 5:30. Tadinya kami ditanya oleh petugas rumah makan itu apakah mau di reserve tempat untuk kami jam 5:30. Tapi Kai tidur di boncengan jadi kasihan juga untuk menunggu satu jam sampai toko itu buka, jadi kami memutuskan untuk pulang tanpa reserve.

Sekitar jam 6:30 Kai terbangun, dan acara televisi kesukaan Riku sudah selesai (Shoten dan Chibi Maruko) sehingga kami langsung naik sepeda lagi ke resto okonomiyaki tadi. Rumah makan ini menjual okonomiyaki khas daerah Hiroshima, yang berbeda dengan Okonomiyaki Tokyo. Okonomiyakinya tidak tebal, tapi tipis, mirip crepe dan di tengahnya berisi soba/udon goreng. Di atas crepe itu dibubuhkan serbuk ganggang laut dan saus okonomiyaki (seperti saus bulldog/inggris tapi lebih kental dan hitam…. hmmm kalau bagi orang Indonesia mirip kecap manis deh) dan mayoneis. Kai juga senang makan ini, karena dia hobi banget makan soba/ segala yang seperti mie.

Okonomiyaki ala hiroshima, mie goreng diapit telur dadar. Tumben imelda minum air putih ya.... hihihi

Akhirnya sekitar jam 7:30 kami pulang ke rumah karena mulai rintik. Bersepeda dalam keadaan kenyang juga merupakan siksaan bagiku hihihi.Mungkin yang paling bugar saat itu hanya Kai, karena sempat tidur. Jam 8:30 kami semua sudah dalam tempat tidur, mendongeng dan ZzZzZZzzzzz.

Dan mau tahu doaku malam ini?  “semoga bersepeda sehat dan jalan-jalan hari ini bisa menurunkan (sedikit) berat badanku… AMIN” (hihihi)

Mix Business with Pleasure

Biasanya berlaku “Don’t mix bussiness with pleasure” tapi Jumat lalu, aku melanggarnya. Lebih tepatnya aku terpaksa melanggarnya.

Riku masih bengkak lehernya karena Mumps (gondong) , dan selama masih bengkak berarti masih bisa menular pada anak lain, sehingga tidak boleh ke sekolah. Sekolah di sini ketat sekali untuk hal-hal seperti ini. Padahal Jumat tanggal 8 lalu, Riku harusnya masuk sekolah sesudah libur musim dingin (26 Des-7 Jan). Karena tidak bisa ke sekolah, dan tentu saja saya tidak bisa menitipkan ke keluarga lain (ya takut lah kalau nularin anak-anak mereka kan), jadi terpaksa aku mengajak Riku ke kampus.

Kalau dulu dia sudah ke kampus Universitas Waseda (lihat: Jika Anak Libur…), kali ini dia terpaksa aku ajak ke kampus Universitas Senshu. Dari sebelumnya aku sudah wanti-wanti bahwa kampus ini jauh, jadi dia harus bisa menahan diri, jangan ngomel-ngomel. Sempat sih terpikir untuk menyetir mobil sendiri, minta Gen untuk naik bus, dan aku yang pakai mobil. Tapi…. aku sendiri yang tidak berani, karena malam sebelumnya aku kurang tidur. Sibuk menilai test mahasiswa.

Jadilah aku, Riku dan Kai keluar rumah pukul sembilan pagi. Sampai di penitipan, pas tepat mereka bersiap untuk jalan-jalan ke Taman. Kai paling senang jalan-jalan ke taman bersama teman-temannya, sehingga jarang dia menolak untuk pergi ke penitipan. Setelah menyerahkan Kai pada gurunya, aku dan Riku menuju ke stasiun. Tapi Riku berkata bahwa dia lapar… Saking sibuknya mempersiapkan macam-macam, aku tidak bisa menyiapkan sarapan paginya. Jadilah kami mampir ke Mac D dan pesan Happy set (hadiahnya Naruto soalnya, jadi aku juga ambil happy set deh, supaya dapat 2 mainan). Well, aku memang perlu datang ke universitas untuk tanda tangan saja, jadi bisa agak santai.

Riku di universitas Senshu, Ikuta

Setelah ganti kereta 2 kali dan naik bus khusus dosen dan karyawan, akhirnya kami sampai di kampus pukul 11:45. Riku senyum-senyum sendiri, ketika aku bilang bahwa mahasiswa tidak ada yang boleh naik bus ini loh. “Wah aku lebih hebat dari mahasiswa ya Ma?” hihihi…iya karena kamu sama mama jadi tidak apa.

Aku meninggalkan Riku di pelataran gedung 120th, dan menuju ke ruang dosen, untuk menyelesaikan absen. Setelah selesai, aku kembali ke tempat Riku dan mengajak dia pergi ke planetarium yang berada di sebelah kampus universitas.
“Mama sudah selesai kerjanya?”
“Sudah”
“Kok cepat? Bisa dapat uang kalau cepat begitu?”
“Hehehe ya bisa. Begini Riku, di dunia ada dua jenis pekerjaan, yang satu memakai tenaga, biasanya kerjanya lama dan dapat uang sedikit. Tapi yang satunya lagi memakai otak, biasanya kerjanya cepat, dan dapat uang banyak. Tinggal Riku mau yang mana. Kalau mau yang memakai otak, berarti Riku harus belajar yang rajin, menjadi pintar, dan bekerjalah dengan otak. Kalau Riku malas-malasan, tidak mau sekolah, ya siap-siap saja bekerja dengan tenaga, tetapi dapat uang sedikit.”
Dia diam saja, masih belum mengerti.

Karena aku sendiri tidak tahu tepat letak planetarium itu, aku bertanya pada petugas satpam universitas. Untung saja dari tempat universitas kami, jalannya menurun. Tidak begitu jauh, hanya jalan 15 menit, tapi jika sebaliknya harus menanjak, pasti menggeh-menggeh deh.

Planetarium ini terletak dalam satu wilayah yang bernama Ikuta Ryokuchi, Wilayah Hijau Ikuta. Di sini terdapat beberapa bangunan rumah tradisional Jepang, Nihon Minka-en 日本民家園. Yang masing-masing harga masuknya 500 yen. Wahhh lumayan juga jika mau masuk ke sekitar 10 rumah di situ (meskipun untuk anak SD gratis).

Tapi Riku tidak mau mampir-mampir. Tujuannya hanya satu, yaitu Planetarium. OK, karena Riku juga sudah mau menemani aku, jadi sekarang gantian Mamanya temani Riku. Tapi…. begitu kami sampai di planetarium harus menggigit jari. Apa pasal?

Planetariumnya kecillll... hihihi

Kami sampai di tempat itu pukul 12:30. Dan tiket untuk menonton planetarium baru dijual pukul 2:00, baru bisa masuk ke dalamnya jam 2:40, dan pertunjukan mulai jam 3. Waduuuhhh… aku tidak tahu informasi ini. Di website tidak ada informasi ini. Tadinya aku tidak mau mengecewakan Riku, dan kami sempat  menunggu setengah jam. Tadinya memang karena kena matahari terasa hangat, tapi semakin siang, matahari mulai ngumpet di balik awan, mulai terasa dingin. Jadi aku tanya apakah Riku benar-benar mau menunggu selama itu? (Perut mulai lapar juga)

Akhirnya Riku bilang, “Pulang aja yuuk ma”… horeeee itu yang kutunggu hihihi. Jadi kami menuruni planetarium menuju jalan besar. Nah, masalahnya aku tidak tahu berada di mana, dan bagaimana caranya untuk ke stasiun terdekat. Untung di dekat jalan besar itu ada perbaikan jalan,  dan ada seorang ibu yang bekerja mengatur jalan. Kami bertanya pada ibu itu, dan disarankan jalan kaki ke stasiun. Katanya sih tidak begitu jauh, sekitar 10 menit. Hmmm. Tidak ada bus, tidak ada taxi.

Ada lokomotif di depan planetarium, jadi berfoto deh ngabisin waktu

Baru aku selesai bicara dengan si ibu itu, tiba-tiba aku lihat taxi turun dari tanjakan. Langsung deh aku angkat tangan memanggil taxi itu. Si ibu langsung bilang, “Lucky!!”.

Sampai di stasiun, makan spaghetti dan pizza dulu baru pulang. Well, kami akhirnya tidak jadi nonton planetarium memang. Tapi setelah sampai di rumah, Riku mengakui bahwa dia juga capek. “Aku ngerti kenapa mama hari Jumat selalu capek. Jauh sekali ya?” ….

Jumat itu aku telah mix kerja dan pleasure. Pleasure menghabiskan satu hari bersama Riku.

Rumah Tradisional Jepang

Hari Minggu kemarin, 12 Juli, setelah nyekar ke makam keluarga, kami mampir di sebuah rumah tradisional Jepang yang dijadikan semacam museum oleh pemerintah daerah Yokohama. Namanya “Yokomizo Yashiki”  Misono Kouen, Tsurumi-ku (Yashiki = rumah besar/mewah…. biasanya milik petinggi atau bangsawan). Dan meskipun waktu itu udara cukup panas, kita bisa mengademkan diri dalam rumah, karena memang struktur rumah di Jepang itu sejuk waktu musim panas (dan dingin waktu musim dingin …brrrr)

Kami memasuki pintu gerbang yang disebut 長屋門 Nagayamon , sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pintu gerbang memanjang, dengan gudang alat pertanian di kiri kanannya. Tapi sebelum itu kami melewati sebuah parit yang sedang ditanami padi….. Ah setiap melihat hamparan padi menghijau dengan capung beterbangan di atasnya, aku selalu rindu kampung halaman Indonesia (karena aku tinggal di kota Jakarta).

Begitu lewat pintu gerbang, kami bisa melihat bangunan rumah utama 主屋 Shuya yang bertingkat dua, di sebelah kiri adalah ruang tamu/keluarga, sedangkan di kanannya menuju ke dapur. Kami masuk melalui dapur. Pintu masuk masih berupa tanah dan untuk memasuki ruang tamu harus menaiki tangga 2 undakan yang berpelitur. Tinggi undakan itu pas cocok untuk manusia dewasa duduk dengan kaki menjuntai sedikit. Terbayangkan pada musim panas, wanita dan pria berkimono duduk di pelataran teras sambil mengayunkan kipas mereka, memandang langit, yang sesekali dihiasi kembang api. Hmmm musim panas = kembang api.

Dapurnya masih jaman baheula dengan memakai kayu. Mungkin saya tidak perlu lagi menerangkan dapurnya Jepang, cukup dengan foto ini. Karena saya tahu kebanyakan pasti sudah pernah menonton oshin. Oshin kecil yang harus meniup kayu, membuat api dan memasak. Ya …di dapur seperti ini.

Dari dapur kami mengelilingi ruang tamu yang “biasa” saja, dengan meja pendek dan hiasan-hiasan. Tapi saya sempat mampir ke wc yang terpisah di samping luar ruang tamu itu. Tadinya saya pikir harus siap-siap pakai wc jaman dulu… eeeeh ternyata wcnya sudah modern meskipun bangunannya kuno. Yang menambahkan kesan kuno hanya sandal wc yang terbuat dari jerami, dan tempat cuci tangan di luar yang terbuat dari batu, dengan cidukan kayu khas Jepang.

Dari WC, saya menyusul Gen dan anak-anak ke lantai dua. Di lantai dua dipamerkan barang-barang milik keluarga Yokomizo, pemilik rumah besar ini, seperti hiasan untuk matsuri (festival), cangkir-cangkir sake, baju kimono, gendang, boneka-boneka jepang….. (kayak di film ring hahahah, aku ngebayangin kalau datang ke sini malam-malam pasti takut ya, kalo semua bergerak hidup hahaha)

Menuruni tangga curam, kami bisa sambil melihat gudang beras di belakang rumah. Sayang tidak bisa difoto karena posisi yang jelek. Lalu kami keluar mengitari halaman di sebelah kanan. Banyak lansia yang sedang menggambar rumah utama di bawah Nagayamon. Hebat memang lansia Jepang, tidak berhenti beraktifitas meskipun sudah tua. Tidak mendekam di rumah, mereka tepat melanjutkan hobi mereka, sekaligus berkumpul dengan “teman-teman sehobi”.

Halaman dipenuhi tumbuhan beranekaragam, ada lavender, bunga ajisai, dan ada parit kecil yang airnya begitu bening, sehingga Riku bisa menemukan bahwa di situ ada sarigani, sejenis udang berkulit tebal. Didekat situ juga ada rumpun buah berry dan ichijiku. Berry saya rasa sudah banyak yang tahu, tapi ichijiku mungkin termasuk buah khas Jepang. Yang kalau dibelah bentuk dan warnanya seperti buah jambu klutuk versi kecil. Tapi kalau biji jambu klutuk keras, tidak bisa dimakan, maka ichijiku, bisa dimakan semua dengan biji-bijinya karena bijinyapun lembut.

Selesai menikmati kebun di sebelah kanan, kami pergi ke sayap kiri dari Nagayamon, dan mendapatkan gudang berisi alat pertanian, dan beras dalam karung jerami yang siap untuk diangkut (tentu saja bukan beras betulan). Satu karung itu biasa digendong buruh tani untuk dibawa ke pasar. Satuan yang dipakai untuk mengukur beras jaman dulu adalah ippyou 一俵 (satu karung itu kira-kira 60 kg). Waktu saya coba mengangkatnya…wahhh tidak bergerak sedikitpun. Mungkin kalau setengahnya masih bisa, karena setengah hyou itu = beratnya Riku hihihi.

Dan dipinggiran gudang beras itu tersedia engrang 竹馬 takeuma, dan potongan bambu yang diikat dengan tali. Gen dan saya coba pake enggrang, tapi tampaknya agak sulit karena badannya keberatan hihihi. Kemudian Riku dan Gen bertanding memakai potongan bambu tali itu (yang saya tidak tahu apa namanya). Kai hanya bisa menonton saja, karena belum bisa partisipasi.

Yang saya suka di bagian halaman kiri ini juga terdapat hutan bambu. Entah kenapa saya suka hutan bambu yang mistis dan berkesan Jepang sekali gitu. Sayang sekali musim ajisai sudah selesai, kalau tidak pasti bagus deh. Melihat “Yokomizo Yashiki” ini, saya jadi ingin pergi ke perumahan orang asing dan pemakaman orang asing di Yokohama. Well, we’ll keep it for September’s course. Hari minggu itu kita benar-benar enjoy menikmati rumah tradisional itu, mungkin disebabkan juga karena masuk ke sini gratis, tanpa tiket masuk hehehe.

Sepulang dari yokohama, malam harinya kami menyalakan kembang api di pelataran parkir. Untuk Kai, ini yang pertama melihat kembang api dari dekat.

Dan saya paling suka dengan senkou hanabi 線香花火, sinarnya tenang dan membuat bentuk-bentuk percikan yang indah yang bisa membuai khayalan ke mana-mana.