Arsip Tag: resep

Private Interview

Sebetulnya ku lebih suka istilah “private consultation” untuk bahasa Jepang Kojin Mendan 個人面談 suatu sistem pendidikan di sini untuk memonitor perkembangan akademis murid di sekolah SD.  Ini biasanya dilakukan di tengah semester bukan waktu penerimaan raport, supaya jika ada yang kurang bisa ditindaklanjuti oleh orang tua dan guru.

Hari ini pukul 3:30 aku mendapat “jatah” bertemu dengan gurunya Riku selama 15 menit. Entah kenapa, gurunya Riku ini selalu menempatkan aku di paling belakang, mungkin (mungkin loh) dia juga senang bercakap-cakap –ngerumpi– masalah lainnya. Dia merasa dekat denganku, karena katanya, kita kan sama-sama bekerja di bidang pendidikan, jadi bisa saling mengerti.

Jadi aku menerima laporan dari guru Riku mengenai perkembangan pelajaran Riku di sekolah. Waktu kelas satu memang Riku masih belum bisa lancar menulis beberapa hiragana. Tapi sekarang dia sudah bisa menulis kanji yang sulit-sulit juga. Memang masih ada beberapa kesalahan dalam tata bahasa, tapi yang penting Riku selalu enjoy di sekolah. Itu nomor satu! Gurunya juga bilang bahwa Riku sendiri mengaku bahwa lebih suka berhitung daripada bahasa (dan memang nilainya bagus-bagus kalau berhitung), tapi Riku paling “kreatif” di prakarya. Selalu lain dari yang lain, dan begitu pula dengan pemakaian warna-warna waktu menggambar, yang disebut gurunya “lain dari orang Jepang biasanya” 日本人離れ。

Gambar Riku kesan waktu field trip bersama teman-teman ke Kokuu Koen, Saitama

Selain itu Riku juga tidak punya masalah dalam pertemanan, temannya banyak. Pokoknya tidak ada keluhan untuk Riku. Nah, giliran aku yang melaporkan bahwa selama liburan musim panas, kami akan pulkam jadi Riku tidak bisa mengikuti pelajaran berenang yang diadakan selama musim panas. Selain itu setelah libur, murid-murid kelas 2 SD akan mulai menghafal perkalian dengan cara “kuku” 99 sebuah cara menghafal berupa kalimat-kalimat… aku sendiri tidak pernah belajar memakai cara ini, sehingga aku serahkan semuanya pada papanya (Ya jelas lah, aku kan belajar SD di Indonesia hihihi)

Setelah aku melaporkan bahwa kami akan melewatkan musim panas di Indonesia, sang guru kemudian bertanya. “Di Jakarta bisa lihat apa?” “Wahhh banyak bu…” Lalu dia mengatakan bahwa dia ingin pergi ke luar negeri sebelum menikah, dan waktu yang paling tepat adalah liburan musim panas (dan paling mahal memang hihihi). Jadi aku sarankan dia untuk pergi ke Bali dengan paket tour saja. Kecuali dia mau datang ke Jakarta waktu kami berada di Jakarta, sehingga kami akan mengantar dia jalan-jalan. Semoga dia bisa mendapatkan tiket yang sesuai.

Pegangan tangga khusus untuk pemakai kursi roda.

Bener deh, aku keluar kelas sudah cukup laat, sehingga setelah aku memesan foto-foto waktu Riku pergi “field trip” bersama sekolah waktu itu, aku cepat-cepat pulang. Oh ya, kelas dua terletak di lantai dua, sehingga aku harus menuruni tangga, dan saat itu aku sempat mengambil foto pegangan tangga di situ. Pegangan tangga itu khusus dibuat supaya penyandang cacat dengan kursi roda bisa naik tangga. (Tidak ada lift di sekolah pemda di sini). Pemandangan ini juga bisa dilihat di stasiun dan tempat umum lainnya. Pokoknya kalau berbicara tentang fasilitas penyandang cacat di Tokyo, ngga ada habisnya deh…alias bagus gitu. Tidak bagus-bagus amat, tapi dipikirkan.

Setelah aku “berlari” ke rumah mengambil sepeda, aku jemput Kai di penitipan. Dan terpaksa bayar ekstra karena lebih dari waktu yang seharusnya.

Bersiap naik sepeda. Di bagian belakang ada tumbuhan merambat dengan bunga dan bau seperti melati.

Sesampai di rumah, aku mencoba membuat German Potatoes. Memasuki musim panas, para petani banyak memanen kentang, sehingga hasil kentang berlimpah. Entah kenapa diberi nama German Potatoes, tapi masakan yang mudah ini cukup enak dan mengenyangkan, selain bisa dipakai sebagai satu jenis lauk makan malam. Apalagi jika ditemani dengan susis bradwurst  dan… bir dingin (maaf ya, yang tidak boleh jangan ngiri, cukup minum Zero saja) serasa berada di Munchen deh….

Resep German Potatoes:

Kentang : 300 gram
Potongan daging atau ham
garam sedikit
lada hitam sedikit
air jeruk nipis sedikit
mustard 2 sdm bagi yang suka, kalau saya ganti dengan mayonneise

Kentang direbus dan dipotong-potong secukupnya. Kebetulan kentang yang aku beli kecil sehingga satu kentang aku potong menjadi 4. Kemudian cara merebus juga bermacam-macam. Ada yang memotong dulu baru direbus, tapi kalau aku kebiasaan di rumah Jakarta, merebus kentang utuh dulu, baru dipotong-potong. Menguliti kentang rebus jauh lebih mudah. Tiriskan air rebusan dan beri air dingin (air ledeng), kulit akan mudah sekali dikelupas.

Hmmm warning untuk yang diet! Tidak disarankan untuk mengonsumikannya hehehe

Tumis potongan daging atau ham (atau bisa juga corned beef) dengan sedikit minyak atau mentega lalu masukkan kentang rebus potongan. Campurkan dengan semua bumbu sampai merata, dan taruh menggunung di atas piring (hint: Orang Jepang selalu menyusun makanan seperti gunung dalam piring yang cantik). Untuk pemanis bisa pakai parsley… tapi aku jarang beli pemanis-pemanis begitu sih (soalnya dirikyu kan sudah manis…hihihi… langsung kabur menghindari lemparan tomat pembaca TE.

Dengan resep dasar ini, tentu banyak bisa dimasukkan variasi lainnya, seperti memasukkan rebusan sayuran (peas/wortel) atau jamur…. apalagi pakai keju leleh …waaahhhh bisa gudbai deh diet hahaha. Selamat mencoba!

 

 

Ladybug and Crepe

Tentu saja tidak dijadikan satu (hiiii masak ada Ladybug Crepe…..tapi kalau nama toko crepe bagus juga ya), tapi keduanya adalah topik hari ini, awal bulan Juni.

Karena aku masih sakit, setelah antar Kai ke penitipan aku menyelesaikan urusan bayar-bayaran segala macam di bank, lalu cepat-cepat pulang ke rumah. Sampai di rumah belum jam sepuluh, tapi malesssss banget untuk ngapa-ngapain. Termasuk untuk menjemur cucian. Hmmm kapan lagi aku bisa siesta (bobo siang) nih. Jadi terhitung sejak jam 10 sampai jam 1:30 aku pulezzzz. Tidak lama sekitar pukul 1:45 Riku pulang. Wah kok cepat? Rupanya hari ini hanya 4 jam pelajaran, jadi sesudah makan siang, mereka pulang.

Riku ada janji ke dokter gigi jam 3:30, tadinya dia mau pergi bermain ke taman bersama teman-temannya. Tapi entah kenapa tidak jadi, dan film di disney chanel lebih menarik buatnya. Aku biarkan saja, dan masuk tempat tidur lagi…. waduuuh kebo banget aku hari ini. Tidur lagi sampai jam 3 sore. ZzzZZzZZz

Bangun jam 3, langsung siap-siap ke dokter gigi. Hari ini kali terakhir karena dipasang tambalan terakhir.Jadi minggu depan tidak usah kembali lagi. Riku juga sudah mulai malas pergi ke dokter gigi. Sebetulnya tadi ada kesempatan untuk minta ijin dokternya membuat foto dia lagi ditangani, cuma ntah deh aku males banget hari ini.

Setelah selesai dari dokter gigi, kami belanja ke toko dekat situ dan menjemput Kai. Waktu memarkirkan sepeda itulah kami menemukan ladybug, nama kerennya untuk kumbang kepik atau tentoumushi dalam bahasa Jepang. Kalau ladybug aku masih berani. Cute kan! Jadi ingat sama crature semacam ladybug tapi berwarna coklat di tanah depan rumah. Waktu kecil aku suka mengorek-orek tanah yang membentuk pusaran, karena di dalamnya pasti ada undur-undur. Keluarkan undur-undurnya dan mainin. (Kalau dipikir sadis juga ya, tidak berperikebinatangan hihihi)

Jadi deh kami bawa ladybug ke rumah, dan sementara jadi bahan mainan anak-anak. Sementara itu aku persiapkan bahan untuk membuat crepe. Riku minta dibuatkan crepe dan untuk itu kami sudah beli es krim dan whipping cream waktu belanja tadi. Kebetulan aku punya alat pemanggangnya yang dari listrik dan aman untuk dipakai bersama anak-anak. Alat ini sudah diatur sampai suhu tertentu saja. tidak akan gosong seandainya lupa.

Nah, karena Fatma pernah tulis minta resep, aku tuliskan di sini resepnya ya. Gampang sekali kok buatnya:

Resep crepe:

Susu 240 ml
Terigu 80 gr
Telur 2 butir
Gula 2 sendok makan
Garam seperempat sendok teh

bisa tambah vanili sedikit, tapi aku tidak pakai, karena tidak punya.

Adonan diaduk dan jika masih ada terigu yang menggumpal, seluruh adonan disaring saja. Tuangkan satu centong ke atas wajan atau plate panas sambil dilebarkan. Kalau permukaan sudah kering, bisa dibalik.

Crepe yang sudah jadi bisa diberi isi macam-macam. Riku isi crepe dengan es krim coklat, whipping cream dan mixed fruit kaleng. Kemarin waktu buat aku pakaikan peanut butter di atas crepe panas-panas juga uenak banget. Wahhh pokoknya bahaya deh untuk diet hihihi. (Mumpung lagi sakit, dietnya diberhentikan dulu, dan selembar crepe masih bisa ditolerir hihihi). Sambil ngebayangi waktu makan crepe di Harajuku sana. Beuh mahal! 400-500 yen, padahal kalau buat sendiri lebih murah hehehe (dasar pelit ahhh)

Dan setiap aku membuat crepe, aku teringat seorang bibi dari oma, yang bernama Bi Ima (alm) yang sering membuatkan kami crepe di rumah Jakarta. Dan saat itu isi crepe nya adalah gula manis ditambah kayu manis tumbuk. Atau kadang kalau rajin membuat vla vanila/coklat untuk diisikan pada crepe, lalu masukkan lemari es. Jadi ingat sering membeli di toko Mon Ami tuh(dan ada terus sampai sekarang). Tuh kan, hampir setiap apa yang kumakan ada sejarahnya tuh. 🙂

Care for a slice of crepe anyone?

yummy loh

Sedangkan Ubi Kuliah!

Kamu tahu bahasa Jepang untuk Universitas/Perguruan Tinggi? Aku ajarin ya, istilahnya Daigaku. Jadi kalau kamu lulusan Universitas Indonesia = lulusan Indonesia Daigaku.  Kalau lulusan ITB = Bandung Kouka Daigaku. Tinggal dibalik deh susunan katanya.

Hari ini aku mau posting yang ringan dan lucu aja deh. Yaitu sebuah kudapan asli Jepang, terutama dari Kanto (Tokyo dan sekitarnya), yang pasti mudah dibuat dengan bahan yang pasti ada di Indonesia juga. Nama kudapan ini adalah Daigaku Imo, Ubi (di) Universitas? Yang pasti artinya bukan Universitas Ubi, karena susunan katanya bukan IMO DAIGAKU! (Pasti tidak ada yang mau sekolah di sana ya hihihi).

Kebetulan aku punya ubi atau bahasa Jepangnya satsuma imo banyak kiriman dari Akemi san. Biasanya aku cuma goreng biasa lalu taburkan garam sedikit. Mau membuat kolak, tapi bahan lainnya tidak lengkap (unggu kolang-kaling, belum sempat beli). Lalu aku teringat kudapan ini. Kalau mau diterjemahkan sih bisa saja menjadi Ubi Karamel.

Bahan:

Ubi (saya pakai ubi cukup besar 1 batang, ya kira-kira 400 gram)
Gula pasir 4 sendok makan
Air 2 sendok makan
Kecap Kikkoman 1 sendok teh
Cuka (jepang) 1 sendok teh (Cuka Indonesia mungkin cukup setetes/dua tetes, dan saya rasa bisa ganti sedikit lemon kalau tidak ada cuka)

Caranya:

Potong ubi sedang tidak beraturan, kalau saya waktu itu membuat stick saja.
Goreng sampai kuning.

Campuran gula, air, kecap dan cuka dipanaskan di wajan lain sampai menjadi kecoklatan. Kemudian masukkan gorengan ubi ke dalamnya, dan campur. Biasanya waktu dihidangkan orang Jepang menaburkan sedikit wijen hitam di atasnya, tapi karena saya tidak punya ya tidak pakai. Toh itu hanya sebagai pemanis saja.

Kudapan sederhana dari Tokyo...monggo....
Kudapan sederhana dari Tokyo...monggo....

Yang menarik, dengan resep yang ini karamel memang tidak mengeras, sehingga agak “pliket” waktu memakannya. Tapi rasanya? Hmmm yummy loh, sebagai teman minum teh atau kopi….sedaaaap! Selamat mencoba, dan kamu bisa berkuliah bersama si UBI.

Setelah aku cari sejarah nama ini, ternyata memang makanan ini berasal dari lingkungan universitas. Dulu tahun 1912, jenis makanan ini amat disukai kalangan mahasiswa, dan sekitar tahun 1925 ada beberapa mahasiswa Universitas Tokyo yang mencari tambahan uang kuliah dengan menjual makanan ini di sekitar universitas. Tapi ada mahasiswa Universitas Waseda (tempatku mengajar sekarang) juga mengaku bahwa daigaku imo dimulai di universitas itu. Yang mana yang benar? entahlah… Yah pokoknya makanan ini populer di kalangan mahasiswa, jadilah namanya Daigaku Imo. Kalau dipikir-pikir hebat juga mahasiswa bisa menciptakan patent yang enak gini …kalau mahasiswa Indonesia menciptakan patent apa ya? Demo? hihihi.

Waseda Daigaku dalam hujan di musim dingin.... kemarin 3-12-09
Waseda Daigaku dalam hujan di musim dingin.... kemarin 3-12-09 (camera HP Biblio)

OK deh saya mau kasih kuliah pada ubi-ubi hihihi dulu… Selamat hari Jumat…dan menyambut weekend tentunya!

Terry Rice Set

Uhhh, aku seenaknya saja pakai nama orang. Waktu aku browsing ternyata ada orang bernama Terry Rice, yang fotografer ….dan karyanya keren-keren banget loh! Very fabulous! Untung bukan nama anaknya Rice, THE Secretary of State.

OK aku akan jelaskan postingan hari ini. Waktu baca di webnya Pak De Cholik yang ini, yaitu tentang resep makanan berbasis ikan dan sayur…. aku sempat berkomentar, Ikan di sini lain dengan di Indonesia. Dan mendapat jawaban “alasan aja”…. something like that deh.

Ya jelas aja, memang ikan di sini lain sih. Memang diimpor ke Indonesia, tapi kan muahal….. Lagian orang Jepang paling senang makan ikan itu mentah atau di bakar, tanpa bumbu-bumbu tambahan. Sushi dan sashimi tuh kan bukan masakan karena tidak dimasak hihihi.

Jadi saya puter otak, ikan apa yang sama dengan di Indonesia. Dengan syarat murah dan mudah didapat! Akhirnya saya bertemu si Terry Rice ini, si kecil yang banyak mengandung kalsium dan …relatif murah, serta bisa dibeli di mana saja. Saya tahu jenis ikan teri di Indonesia banyak. Sedikitnya dua yang saya tahu, Teri Medan dan Teri Nasi. Nah karena saya suka teri nasi, maka saya memikirkan resep teri nasi + sayuran sebagai syarat dari blognya Pak De itu.Dan tentu saja jumpalitan cari bumbu yang ada di Indonesia.

Ikan Teri di Jepang juga bermacam-macam. Yang paling kecil dan halus, bernama shirazu, biasa dimakan mentah dengan parutan daikon (lobak) dan diberi shoyu (kecap jepang). Nah kali ini saya akan menampilkan Terry Rice Set, yaitu nasi kepal (onigiri) dengan ikan teri + acar sawi hijau serta salad nya yang terdiri dari lettuce+tahu sutra+ ikan teri goreng.

Karena saya tidak tahu apakah shirasu / ikan teri nasi di Indonesia bisa dimakan mentah atau tidak, semua teri nasinya saya goreng.

shirazu

Cara Pembuatan

Nasi Kepal Teri :

bahan:

1 mangkuk nasi panas (paling bagus jika beras dicampur dengan beras ketan dengan perbandingan 3:1, supaya mudah dibentuk/dikepal)
ikan teri goreng secukupnya sesuai keinginan
acar sawi hijau ditiriskan airnya dan dikeringkan dengan tissue/lap potong kecil-kecil.

(Kalau tidak bisa membuat acar sawi hijau sendiri, boleh memakai caysim yang sudah dijual. Cara membuat acar sawi hijau : seduh sawi hijau dengan air panas, bubuhkan garam, masukkan plastik dan inapkan. Bisa juga masukkan satu cabe merah yang sudah dicuci. Jika keluar air dan sawi sudah layu maka acar sudah jadi)

Campur bahan ke dalam nasi panas. Lalu basahkan tangan Anda dengan air bersih (paling bagus dengan air mineral kalau di Indonesia) taburkan sedikit garam di tangan. Ambil sesendok campuran nasi dan bentuk segitiga/bundar seperti pembuatan onigiri. Besarnya bisa disesuaikan, tapi saya lebih suka berukuran mini, satu suap. Waktu mengepal nasi ini memang panas  …. tapi tahan. Cinta Anda kepada keluarga tertumpah dalam sebuah onigiri!
Baca di sini untuk mengetahui nasi kepal/onigiri Jepang!

Salad Tahu Teri:

bahan:

daun salada (lettuce) dipotong acak
tahu sutra (kalau di Jepang bisa dimakan mentah, kalau di Indonesia mungkin perlu digoreng dulu. Tahu goreng biasa juga boleh, dipotong kecil-kecil, kotak-kotak)
ketimun/ kyuri diiris halus
ikan teri goreng secukupnya

Hidangkan di piring dan bubuhkan salada dressing yang Anda punya. Tentu saja dressing ala japanese atau chinese yang berbumbu minyak wijen paling cocok, tapi mayonaise pun tidak apa-apa.
Jika tidak ada dressing bisa campurkan bahan berikut ini:

2 sendok makan kecap asing Jepang (kikkoman) atau apa saja yang ada
2 sendok makan minyak wijen
sedikit cuka (cuka Indonesia sangat kecut, sehingga hati-hati menggunakannya)  bisa diganti dengan lemon/jeruk
satu sendok teh gula pasir

Sebetulnya jika mau membuat dressing ala jepang perlu diberi sake untuk masak dan mirin, tapi saya sudah coba dengan bahan di atas sudah cukup. Campurkan semua bahan dan bubuhkan di atas salada yang siap disantap. (Ingin berbumbu yang lebih “maknyus” ala Indonesia? Pakai saja bumbu gado-gado/pecel yang diencerkan sehingga menjadi seperti goma dressing. Jadi deh Gado-gado Jepang hihihi.)

Perlu diketahui, orang Jepang memang sangat menghargai rasa alami dari setiap bahan yang ada. Karena ini menuntut kesegaran setiap bahan. Sedapat mungkin tidak memakai minyak untuk menggoreng untuk mengurangi kolesterol. Pokoknya makanan Jepang amat sangat healty.  Selamat mencoba!

NB: Saya tidak tahu apakah seperti ini memenuhi persyaratan atau tidak untuk disertakan dalam acaranya PakDe Cholik.

 

Oh_ya_K.O_dong

Hmmm mungkin merasa aneh dengan judul itu. Tapi mungkin Anda memang benar bisa KO (karena kenyang) jika menikmati OYAKODON, nama sebuah masakan di Jepang.

Oyako berarti orangtua dan anak, sedangkan don adalah semua makanan yang  ber-base nasi. Nasi ditaruh di dalam mangkuk dan ditutupi oleh lauk, disebut DON(buri), padahal don itu sebenarnya merujuk ke mangkuknya. Nah kenapa saya mengambil topik “Nasi orangtua-anak”? Sebetulnya karena saya merasa lucu saja akan penamaan oyako (orangtua anak) untuk makanan. Yang umum disebut dengan oyako don adalah nasi dengan lauk ayam (biasanya direbus dalam kaldu) lalu diatasnya diberi kocokan telur. Perpaduan harmonis orangtua dan anak, AYAM dan TELUR, panas-panas menyebabkan air liur menetes jika kita dalam keadaan lapar. Makanan yang sederhana sekali dan mudah membuatnya.

Resep:

Nasi 800 gram(untuk 4 orang dimasukkan dalam mangkuk)

ayam 200 gram

bawang bombay 1 butir

Kaldu 300 ml

Mirin 4 sdm

Sake utk masak 1 sdm

Kecap asin 3 sdm

Gula 1 sdm

Telur 4 butir dikocok seperti untuk telur dadar

cara membuat:

Rebus kaldu dan masukkan mirin, sake, kecap asin,gula sampai mendidih, kemudian masukan ayam yang sudah dipotong kecil-kecil. Beri irisan bawang bombay dan rebus sampai ayam matang. Masukkan kocokan telur tunggu kira-kira satu menit, lalu matikan api dan pindahkan ke dalam mangkuk nasi. Jika tidak suka telur yang masih mentah, maka biarkan di api lebih lama lagi. Tapi orang Jepang justru lebih suka jika telur masih setengah matang/mentah. Di atas nya bisa dihias dengan daun ketumbar atau atau kemangi untuk menambah wangi. Kalau di Jepang dipakai daun mitsuba, yang mungkin tidak ada di Indonesia.

perpaduan nasi + ayam + telur
perpaduan nasi + ayam + telur

Sebetulnya selain Oyakodon yang ayam dan telur, ada juga beberapa orang yang menyebutkan nasi dengan ikan salmon dan telur ikan salmon (ikura) juga sebagai oyako don (Salmon Ikura Don). Tapi yang pasti musti hati-hati makan “Nasi Orangtua Anak” ini karena…. kalau banyak-banyak bisa menggemukkan hihihi.

ikan salmon dan telurnya, perpaduan orangtua-anak yang lain
ikan salmon dan telurnya, perpaduan orangtua-anak yang lain

Okonomiyaki ala Jakarta

Berhubung banyak yang (mungkin) ingin coba buat… Saya memodifikasi resep okonomiyaki Jepang dengan bahan-bahan yang ada dan terjangkau di Indonesia. Kemarin bersama Melati san dan Riku kita makan malam Okonomiyaki ala saya… Paling bagus kalau ada hot plate, tapi kalau tidak bisa juga di frypan biasa. Tapi memang lebih enak jika makan sewaktu masih panas.

Resep untuk 6 potong (3 orang):

  1. Kol 1/4 butir, diiris halus
  2. Telur 3 butir, kocok
  3. Daging yang mau dicampur seadanya, bisa daging sapi slice, atau ham atau seafood mix/udang
  4. 2 buah kentang, diparut/blender…. seharusnya memakai yamaimo, sejenis singkong yang mengeluarkan lendir/getah tapi pasti tidak ada di Indonesia, jadi saya coba ganti dengan kentang.
  5. kaldu ayam secukupnya (paling bagus kalau ada dashi /kaldu ikan – bonito dari Jepang)
  6. Tepung  terigu 100-150 gram tergantung kondisi telur. Adonan tidak boleh terlalu kental lebih bagus berair seperti kita membuat telur dadar.
  7. Bisa dimasukkan juga jagung manis, toge…apa saja…coba saja bereksperimen sendiri.
  8. Kecap manis
  9. Mayoneise
  10. Sambal/chili sauce

Cara membuat : semua bahan dicampur/dikocok dan dituang ke atas hotplate atau frypan yang sudah panas dan diberi sedikit minyak goreng. Api sedang supaya bisa matang sampai ke dalam. Jangan sering dibalik karena akan hancur. Setelah berwarna kekuningan angkat dan dihidangkan dengan kecap manis + mayoneise. Tambahkan sambal sesuai selera. Karena mengandung terigu dan kentang, okonomiyaki ini cukup bagi wanita untuk dinner. Kalau mau bisa juga dipadukan dengan bakmi goreng.


Saya lihat Indira juga sudah bereksperimen dengan Okonomiyaki ala Aussienya.  Silakan Anda coba yang mana saja, dan semoga bisa menambah repertoire menu masakan Anda.

Oh ya kemarin kami juga menikmati Puding Roti yang saya buat dari sisa-sisa roti + kopi….di sore hari ….yummy…