Arsip Bulanan: Juni 2013

Mama, Jangan Tidur!

“Iya nak… mama juga tidak akan tidur, jika tidak capek sekali.
Atau jika mama khawatir.
Justru kalau mama tidak khawatir, mama bisa tidur.
Mama sama sekali tidak khawatir tentang Kai, karena Kai bisa memperhatikan banyak hal.”

Lalu disambut Kai, “Mama capek ya? Nanti kalau sampai di rumah Kai pijat ya….”

Kai bobo di mobil… enak banget deh 😀

Sabtu kemarin, aku pergi ke gereja sore bersama Kai saja. Karena Riku ingin pergi sendiri ke rumah kakek neneknya di Yokohama. Ya, sendirian dari rumah naik bus ke stasiun terdekat lalu naik kereta ke stasiun terdekat rumah mertuaku. Untung hanya satu kereta tanpa mesti berganti kereta, dan itu selama 71 menit karena local train yang berhenti di setiap stasiun. Ada berapa stasiun yang dilewati? Ntahlah aku tak menghitungnya. Tapi selain biaya kereta, aku bekali dia 20 keping uang 10 yen untuk menelepon dari telepon umum, jika ada apa-apa. Aku belum mau membelikan dia HP karena kupikir belum perlu benar. Kemudian kertas bertuliskan jadwal kereta dan nama stasiun yang harus dilewati, karena meskipun satu kereta, jalur yang dipakai itu sebenarnya ada 3, Seibu Ikebukuro Line (private), Tokyo Metro (subway) dan Minato Mirai line (private).

Parno? Tidak! Aku tidak mau melepas anakku untuk petualangan pertamanya dengan kekhawatiran berlebih. Karena aku tahu Riku itu bagaimana sifatnya. Dia tidak segan bertanya jika merasa ragu, dan itu sudah sejak usia 3 tahun! Dan jika dia sudah yakin bisa, biasanya aku lepaskan. Sama seperti waktu aku memberikan pilihan mau belajar di Kumon, dia mau. Meksipun akhirnya dia bosan (aku juga) dengan cara-cara Kumon. Kemudian dia mau ikut bimbel, dan aku carikan, dan sekarang dengan (cukup) rajin pergi ke bimbel yang lumayan jauh dari rumah kami. Dia harus naik sepeda 20 menit untuk sampai tempat itu.

Jadi waktu dia telepon dari stasiun dan mengatakan bahwa dia tinggal menunggu kereta datang, aku lupakan Riku sejenak. Aku konsentrasi membuat kue cake ulang tahun yang akan kubawa ke gereja. Kemarin aku masih “rajin” untuk membuat rainbow cake. Meskipun sambil membuat kue itu aku pikir bawah rainbow cake itu kan sebetulnya yang HEBOH hanya warnanya. Rasanya sama sekali BIASA hehehe. Aku lebih memilih cake yang rasanya enak deh :D. Dan tahu-tahu pukul 14:15 ada email dari ibu mertuaku, bahwa dia sudah bertemu Riku di stasiun. LEGA deh.

“rainbow cake” ala WarNer 😀

Memang aku harus menahan kantuk yang sangat malam kemarin di dalam bus. Capek sekali seminggu ini, dan lebih ke capek batin. Hari Selasa, Riku mogok ke sekolah karena dia diejek-ejek teman sekelasnya. Untung selasa itu Gen libur sehingga bisa ikut follow up, dan aku bersyukur karena suamiku bisa mengerti kondisi batin anaknya 😀 Cukup kaget aku waktu Gen bilang, “Kamu tidak mau ke sekolah karena tidak mau bertemu anak itu kan? Bukan karena pelajarannya kan? Dan kamu yakin bisa belajar sendiri? Kalau begitu ya sudah libur saja!” hahahaha… aku sih sebetulnya sama seperti pemikiran Gen, cuma karena aku tahu dia dulu itu disiplin (mamanya) sekali soal pelajaran sekolah (selalu nomor satu), jadi kupikir aku juga harus disiplin pada Riku. Jadi deh Riku “bolos” sehari, dan esoknya dengan senyum bisa ke sekolah. Daripada kami paksa ke sekolah dan trauma terus setiap hari… kasih waktu istirahat untuk batinnya. We all need that! So, aku menyetujui “Bolos” jenis begini 😀

Soal Riku selesai, meskipun waktu kutanya sesudah itu temannya masih terus mengejeknya. Dia sudah bisa “cuekin” perkataan temannya. Bukan itu saja, pada hari Kamis dia pergi ke bimbelnya untuk belajar sendiri, atas kemauan dia sendiri. Memang bimbelnya hanya setiap hari Jumat, tapi murid-murid bisa pakai gedung itu untuk belajar mandiri, dan setiap saat bisa bertanya pada guru yang kebetulan ada di situ. Tak percuma aku membayar mahal untuk bimbel itu. Mungkin Riku terngiang kata papanya, “Kamu harus punya satu kelebihan yang bisa kamu pakai sebagai senjata menghadapi anak-anak yang suka mengejekmu. Kamu tahu, SAKIT, benar-benar sakit hati loh jika kamu dibilang BODOH oleh orang yang pintar. Karena berarti kata bodoh itu bukan hanya ejekan, tapi kenyataan. Dulu papa berusaha sekuat tenaga supaya jangan mengatakan bodoh kepada teman yang memang bodoh. MAKA jadilah PINTAR supaya bisa mempunyai tameng hati, yaitu kata bodoh yang telak. Meskipun tidak perlu kamu gunakan jika tidak perlu. Yang pasti kamu bisa berpikir, ahhh biar saja dia ejek aku, dia bodoh ini…. :D”

Capek batin kedua kualami hari Jumat. Hari jumat itu aku harus mengajar satu jam pelajaran saja, karena jam ke3 diliburkan pihak universitas untuk persiapan festival universitas. Dan memang minggu lalu aku sudah berikan tugas yang harus diselesaikan sebagai bahan hari jumat ini. Aku perlu datang ke sekolah untuk menjawab jika ada pertanyaan dari mahasiswa, atau kalau ada yang tidak tahu tentang tugas itu. TAPI waktu aku antar Kai ke TK, tiba-tiba kulihat mata Kai merah sekali. Sambil aku membatalkan perpanjangan kelas Usagi di kantor kepsek, aku akhirnya sekaligus memberitahukan bahwa Kai kubawa pulang saja. Matanya meragukan. Dan aku terpaksa mengajak Kai ke universitasku.

Kami pulang ke rumah sekitar pukul 3, dan sempat bertemu rombongan murid yang dipimpin satu guru pulang bersama menurut wilayah tempat tinggal mereka. Aku sempat heran, tapi kupikir itu karena hari Jumat, biasanya memang ada latihan “mengungsi dalam keadaan bencana 避難訓練”. Jadi aku juga tahu bahwa Riku pasti sudah di rumah. Aku cepat-cepat pulang, dan mendapatkan Riku di dalam apartemen kami dengan seorang anak kelas 3 yang rumahnya beda dua apt di lantai yang sama.

“Mama aku mengajak dia masuk karena ibunya belum pulang dan dia tidak ada kunci”
“Oh tidak apa-apa kok…”
“Soalnya kami disuruh pulang dan tidak boleh keluar sementara. Kan ada peristiwa kejahatan terhadap murid SD di Oizumigakuen -Nerima-ku. Ada di berita TV loh….”
What????” langsung aku menyalakan TV.

Jadi rupanya sekitar jam 2, di sekolah dekat stasiun rumahku (ada banyak sekolah SD memang di daerahku), murid kelas 1 SD pulang lebih cepat. Waktu menunggu akan menyeberang, tiba-tiba seorang lelaki membawa pisau mendatangi kerumunan anak-anak itu dan… menyabet senjatanya. Ada 3 anak menjadi korban, 2 anak terkena di bagian leher dan luka ringan, sedangkan satu anak di bagian siku dan luka berat. Semua anak panik, dan petugas penyeberang yang berada 5 meter dari lokai mendatangi anak-anak dan memukulkan tongkat ke arah lelaki bersenjata itu. Kejadiannya sangat cepat, setelah 3 menit, lelaki itu masuk ke mobilnya dan lari….. Kemudian dalam 40 menit tertangkap dan kebetulan letaknya dekat dengan kantor Gen.

Aku sama sekali tidak tahu ada peristiwa itu, tapi begitu melihat tayangan TV menjadi tahu, dan bersyukur bahwa kejadian itu bukan di SD Riku. Bersyukur bahwa SD Riku dekat rumah dan di dekat rumah ada pos polisi. Bersyukur aku sudah berada di rumah waktu mendengar berita itu (kalau masih di jalan pasti akan panik sekali). Sekaligus khawatir jika ada kejadian serupa terjadi lagi, waktu Kai masuk SD tahun depan. Ah… kekhawatiran yang tidak perlu dibesar-besarkan, karena aku tahu pasti anak-anakku tahu harus berbuat apa jika sampai ada kejadian yang sama. Sekaligus aku tahu bahwa Tuhan juga akan melindungi anak-anakku. Berserah kepadaNya memang yang terbaik. Tuhan tidak akan Tidur!

Seminggu yang melelahkan batin dan pikiran, sehingga aku memang sempat sih tertidur 3 menit dalam bus, dan dibangunkan Kai…

“Mama Jangan Tidur….”

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

(kelelahan seminggu juga sebagian disebabkan hosting yang amburadul, dan kemudian perpindahan hosting dengan bantuan kang Yayat yang cukup makan waktu. Terima kasih ya Kang Yayat. Sekarang sudah di hosting baru sehingga semestinya blog Twilight Express ini sudah bisa diakses dengan lancar. Blog mirror akan saya biarkan untuk dokumentasi atau jika TE sulit diakses. Dua tulisan baru yang aku tulis di mirror site yaitu Ketika Cinta (Blogging) Harus Memilih dan Menikmati Kopi dan Omong Kosong sudah aku pindahkan juga ke sini.)

 

 

Menikmati Kopi dan Omong Kosong

Coba bayangkan situasi ini. Kamu duduk bersama teman di beranda rumah, sambil menghadap jalan depan rumah. Ngobrol ngalor ngidul sambil menghirup kopi hitam. Kadang kala kamu berdua bercerita tentang mimpi, kadang tentang pengalaman masa lalu, kadang tentang teman-teman kalian berdua. Atau bahkan kadang sambil memetik gitar dan bernyanyi. Santai….

Aku senang membayangkan situasi seperti itu untuk bersantai. Ada unsur kopi, jalanan, cerita dan TEMAN. Teman itu bisa menjadi pendengar, atau pencerita atau obyek yang diceritakan.

Itulah yang aku temukan pada blog ACACICU.COM milik Bro Hakim. Masbro aku menyebutnya, dan sejak dia menikah pada bulan sebelas mengganti nama pada tampilan FBnya menjadi RZ HAKIM. Wuih pak Hakim nih 😀

Foto hitam-putih berasa sejarahnya ya 😉

Terus terang aku belum lama berkenalan dengannya, meskipun aku sesekali mengintip tulisannya karena aku lebih lama mengenal istrinya HANA atau prit, si api kecil. Tapi ada satu moment yang membuatku terharu. Ya, Masbro menulis khusus, menyinggung tentang kematian mamaku bulan Februari 2012 dalam blognya. Padahal aku tidak akrab dengannya! Tapi Masbro merasakan kesedihan ditinggal seorang ibu karena Masbro sudah terlebih dahulu ditinggal ibunya. Dejavu.

Aku pun kemudian membaca tulisan masbro sebelum tulisan tentang mamaku itu. Dan aku temukan kesamaan antara ibunya dan ibuku. Mereka berdua sama-sama “pianis”, yang mengalunkan “lagu-lagu” kehidupan yang  indah dengan tuts bersimbol alfabet itu. Ternyata kedua ibu kami piawai mengetik! Tapi keduanya juga menderita penyakit yang sama sebelum meninggal, stroke.

Mas bro yang punya Band bernama Tamasya!

Bro Hakim menulis blognya di URL www.acacicu.com berbasis blogspot pada tanggal 17 September 2010, hampir 3 tahun yang lalu. Tulisannya sebanyak 478 mungkin bisa juga dinilai sedikit, tapi Masbro juga mengelola beberapa blog yang lain. Template yang dipakai 3 kolom, sebuah template sederhana berawarna abu-abu. Hanya ada 3 halaman, yaitu About, Beranda dan Sitemap. Sidebarnya hanya diisi dengan tulisan anyar dan entri populer. Sudah, itu saja. Tidak glamour, tidak snobbish. Tanpa ada “pamer” Pagerank atau Alexa, padahal pagerank Acacicu sudah 3 loh, sama dengan Twilight Express. Alexa Traffic Rank: 663,619  Traffic Rank in ID: 51,723. Suatu angka yang hebat menurutku. Tapi melihat penampilannya? Pasti semua sependapat denganku bahwa blog Acacicu begitu sederhana. Sesederhana hidup dan cintanya terhadap musik, lingkungan dan sejarah daerahnya (serta tentu pada Hana, istrinya). Dan pendapatku pribadi, isi lebih penting dari penampilan! Sama seperti kata Masbro di sini: “Desain blog sangatlah penting. Dan isi atau tulisan, itu satu tingkat lebih penting dari desain blog.”

Penampilan Acacicu

Dengan membaca Acacicu, aku dibawa ke masa lalu dengan cerita sejarah Jembernya, dibawa menikmati musiknya dengan band tamasya, dan melihat kegiatannya dalam mengumpulkan botol bekas. Aku tersenyum waktu membaca alasan Masbro menjadi blogger, yaitu karena dia pelupa 😀 Tapi aku juga terharu dan gemas waktu membaca ceritanya waktu dituduh mencuri sandal.  Dengan manisnya Masbro juga sering menulis tentang teman-teman blogger dan orang-orang yang dia hormati. Bahasanya begitu teratur dan memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ini pula yang membuat mengernyutkan kening ketika membaca judul tulisannya yang 4qu Cint4 Bah454 1ND0N35I4. Bukan gaya Masbro sama sekali, dan ternyata itu juga termasuk tulisan yang dilink ke blog Twilight Express, selain Sebab Mereka Senang Membaca.

Yang mungkin menjadi pertanyaan adalah kenapa bernama Acacicu? Awalnya kupikir acacicu merupaka singkatan sesuatu kata, atau ada hubungannya dengan Machu Picchu. Tapi setelah membaca di sini, aku baru tahu bahwa acacicu artinya omong kosong. Apakah Masbro kemudian menuliskan omong kosong dalam blognya? Dari yang kubaca sih tidak! Tidak ada yang omong kosong dalam 478 tulisannya. Memang meskipun acicuci bagi orang Jember berarti omong kosong, justru bagi Masbro : “Acacicu, bagi saya lebih seperti kicau burung di pagi hari. Menyambut Keagungan Tuhan dan tak pernah berhenti berdzikir. Acacicu seperti suara butir butir hujan, yang hanya bisa di dengar kemerduannya oleh siapapun yang mau meluangkan waktu untuk mendengar. Itulah acacicu saya.

Anda penyuka kopi? Atau penyuka sejarah atau bahasa Indonesia non alay? atau bahkan penyuka kesederhanaan? Silakan berkunjung ke ACACICU…..

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Blog Review~Saling Berhadapan

Ketika Cinta (Blogging) Harus Memilih

 

huhuhu lebay sekali deh judulnya 😀 Tapi memang dalam beberapa hari ini aku sedang galau, gara-gara blog. Seperti diketahui aku mempunyai blog bertajuk Twilight Express dengan domain sendiri. Tentu saja dengan hosting sendiri, bayarnya memang tidak lebih dari 1 juta rupiah per tahun karena sudah beberapa kali upgrade kapasitas. Jumlah nominal yang kecil untuk beberapa orang yang memang mempunyai pemasukan dari internet. Tapi karena aku belum mau me-monitize blogku, maka jumlah itu cukup memberatkanku.

Masalahnya memang hampir setelah 2 tahun pindah hosting (ini yang ke 3) pasti akan terkena suspend berkali-kali karena dianggap mengganggu stabilitas pengguna hosting lain. Padahal menurutku pemakaian juga tidak seaktif sebelumnya, dan kalaupun membludak diperkirakan kalau ada tulisan baru dong, deh gitu lah yau!

Tulisan terakhir di sana tanggal 20 Juni. Padahal aku ingin sekali menulis banyak! Tapi kalau aku menulis baru, akan pengaruh lagi dengan trafik kunjungan dsb dsb. Terpaksa deh nahan 😀 Oleh pihak hostingnya dibilang aku harus upgrade dengan VPS, tapi sedangkan yang pakar IT saja, sahabatku si Jumria TIDAK menyarankan aku pindah VPS. Karena aku boleh dikatakan “amatir” atau istilahnya dia End User. Sehingga jika nanti ada apa-apa, aku tidak bisa menghandle sendiri cpanel (yang sebetulnya aku sendiri baru sedikit menguasai -akhirnya-). KECUALI aku menyerahkan pada pihak hosting, yang tentu harganya muahal (berlipat dari yang sekarang), atau aku tetap menyewa VPS di luar negeri, dan “menggaji” orang untuk memaintainnya. JIKA aku kaya mah, apa juga aku beli… kalau bisa beli perusahaan hosting sekalian hahahaha.

kan ngga gede-gede amat 😀 Udah pakai backup loh

So, terpikir untuk pindah hosting, tapi juga terpikir, jika pindah hosting PASTI akan berhadapan dengan masalah yang sama, cepat atau lambat. Salah satu kemungkinan yang paling cepat adalah pindah saja ke wordpress gratisan yang memang fiturnya terbatas, sehingga boleh dikatakan aku harus DOWNGRADE.

BUANGLAH SEJARAH MASA LALU….

Sambil berpikir untuk downgrade kembali ke wordpress gratisan saja yang memang sudah aku miliki, ada banyak alternatif yang bisa dicoba. TAPI pada akhirnya aku pikir terkadang memang kita harus melupakan masa lalu, masa kejayaan kita. Waktu berjalan terus, dan bukan jamannya lagi untuk mengagung-agungkan masa lalu.

Masa di mana aku menulis 1247 tulisan dengan 25.685 komentar, dengan theme yang kusuka putih bersih, dengan plugin favoritku ” Todayish in History” yang memungkinkanku membaca kembali tulisan yang kubuat pada tanggal yang sama sama 5 tahun ke belakang.

Apalagi tepat waktu hostingku bermasalah, seorang pembaca blogger setia, sahabatku sejak awal ngeblog mencapai angka komentar 1000 (dalam 5 tahun -1247 posting) berkat plugin “Top Commentator”. Terima kasih banyak untuk komentarnya ya mas NH18.

Ini dia urutan TOP commentator di TE

SEKALI LAGI SEJARAH! Kenangan 🙁 

Untukku melupakan masa lalu itu berat! Apalagi sejarah adalah kesukaanku. Tapi aku harus berpikir praktis, karena otomatis karena kepalaku dipenuhi masalah hosting, aku tidak bisa move on, menulis terus. Padahal sahabatku Donny Verdian sampai berkali-kali menanyakan perihal blogku sambil menawarkan bantuan. Katanya, “after all, semoga mood blogmu semakin membaik apapun solusi yang kau percaya benar untuk ditempuh *halah* Hahahaha.. Go Imel, Go!”

dashboard terakhir 🙁

Kalau aku mau kembali ke tujuanku ngeblog awalnya, memang hanya untuk menulis. Dan mungkin ini saatnya pula untuk bangkit, menulis lebih banyak lagi. Dan meminjam frase yang kukenal dari Gratcia Siahaan, “Write like nobody’s reading”. Sehingga kuputuskan untuk menulis di sini dulu, sambil aku mencari jalan terbaik untuk domainku. Toh aku sebetulnya baru saja membayar perpanjangan hosting dan domain, sehingga aku masih punya waktu 1 tahun berpikir (sayang sih karena otomatis aku membayar sesuatu tanpa menerima pelayanan). Mungkin akan kubatasi tulisan di sana sesedikit mungkin sampai 1 tahun, dan tulisan lamanya kutaruh di sini. Ntahlah, yang pasti aku harus menulis. Apalagi aku masih ada hutang tulisan kepada Masbro 🙁 dalam GA nya pakde Abdul Cholik. Segera setelah ini aku akan mulai menulis…… masih ada 3 hari kan? 😀

 

Silakan berkomentar di : http://twilightexpress.wordpress.com/2013/06/26/ketika-cinta-blogging-harus-memilih/

Berlipat Ganda

Menurut blogrollku, aku sudah 4 hari tidak menulis posting baru. Sibuk? Ya memang, tapi biasanya aku akan mengusahakan sedikit waktu untuk menulis sedikit tulisan. Tapi rasanya kali ini aku mulai merasa malas. Mengapa?

Sebetulnya yang salah bukan dari diriku, dan ntah aku harus mengatakan siapa atau apa yang salah. Aku tak tahu apakah ada teman lain yang mengalami atau tidak, tapi ini merupakan kali kedua aku merasa kecewa. Kekecewaan pertama aku alami sekitar bulan Juni tahun 2010. Saat itu aku sudah memakai hosting dari Singapura dan harus merasa kesal karena blogku sering di suspend. Bukan karena belum bayar, tapi katanya, “Karena terlalu banyak kunjungan ke blog Anda yang memakai resource kami, sehingga pelanggan lain terganggu, dan kami harus menghentikan website Anda. Anda harus memakai server sendiri sehingga tidak mengganggu pelanggan lain”. Tapi server sendiri itu mahal sekali, sekalipun ada yang murah yaitu dengan VPS (Virtual personal Server)… tapi tetap saja tidak semurah menyewa hosting biasa. Akhirnya waktu itu aku dikenalkan oleh Ray Astho untuk memakai hosting kenalannya yang katanya “Cukup besar, sehingga kapasitasnya jauh lebih besar dan MUNGKIN bisa mentolerir pemakaian resource websitenya mbak Imelda tidak seketat hosting yang lain”.

Jadi aku sudah pakai hosting ini selama 2 tahun lebih. Tentu tanpa kejadian yang berarti, apalagi jika terjadi apa-apa, custumer servicenya standby selama 24 jam, dan langsung tanggap menangani keluhanku. Aku puas dengan pelayanan mereka, sampai sekitar 2 bulan yang lalu. Websiteku sering tidak bisa diakses, eror dsb dsb. Setiap kali aku menghubungi CSnya, dilayani dengan cepat TAPI disarankan untuk menyewa VPS sendiri. Padahal aku tahu untuk mengelola VPS itu tidak mudah, perlu tahu tentang server dan jika mau memakai jasa CS dari hosting yang biasa aku pakai ini, tentu harus membayar setiap transaksi masalah. Apalagi harga sewa VPS di situ berlipat ganda dari biaya hosting yang sekarang kupakai. Padahal kalau lihat dari performance blogku ini jauuuuuh lebih rendah daripada tahun lalu, atau 2 tahun yang lalu. Maksimum aku menulis 11 tulisan sebulan 🙁 Pagerank hanya 3 dan alexa sudah jutaan. Benar-benar masalah hosting ini membuatku malas menulis. Karena setiap aku menulis sesuatu yang baru diperkirakan “banjir” kunjungan dan koit deh. Sepertinya aku akan menutup domain ini, dan mulai lagi dari bawah….jika aku masih ada keinginan yang kuat untuk menulis. Bisa memakai wordpress gratisan yang memang aku sudah punya beberapa seperti  http://coutrier.wordpress.com atau http://twilightexpress.wordpress.com atau http://usagigoya.wordpress.com tentu saja selain Twilight Tasogare yang merupakan blogrollku….loh ternyata banyak juga yang masih aku update ya hehehe. (ssst masih ada sih yang lain yg sedang hiatus).

Well, aku sudahi dulu “kegalauan”ku ini. Dan aku akan bercerita soal “Berlipat Ganda” yang lain.

Seperti sudah kutulis di beberapa tulisan yang lalu, deMiyashita sedang mencoba melaksanakan proyek keluarga untuk mengunjungi 100 Kastil  Terkenal Jepang. Tapi ternyata waktu juga yang membuat proyek ini dalam kondisi “jalan di tempat”. Hanya ada satu kali pada tanggal 2 Juni lalu, waktu aku sedang mengikuti Bazaar di gereja Meguro. Kai dan papanya mengunjungi sebuah situs bekas kastil di dekat rumah mertua di Yokohama. Karena sudah tidak ada bangunannya, Riku malas pergi dan tinggal di rumah.  

kecebong di kolam rumah mertua. bawah kanan : Kai di situs bekas kastil Kozukue, Yokohama

Kai tentu tidak lupa membawa jaring kupu-kupunya, TAPI karena sudah siang tidak banyak kupu-kupu yang terbang. Kebetulan saat itu mereka berdua bertemu dengan sukarelawan yang bekerja di sekitar situs tersebut. Sukarelawan itu heran juga melihat bapak anak ini mengunjungi tempat yang “tidak ada apa-apanya”. Lalu dia tanya pada Kai, “Kamu suka kumbang badak kabutomushi? Dan tentu Kai jawab suka. Lalu Kai diajak pergi mengambil larva kabutomushi dan mendapat satu karung penuh, kira-kira 50 larva. Duh duh duh waktu Gen bercerita begitu aku sudah bergidik membayangkannya, sedangkan Kai dengan “cool” nya mengambil satu dan memperlihatkan padaku… hiiii. Kata Gen dia mau membawa ke sekolah dan tanya guru-guru apakah mau menjadikan sebagai proyek monitoring murid-murid. Ternyata karena terlalu banyak, pihak sekolah juga tidak mau bertanggung jawab, sehingga terpaksa kami yang harus memelihara 50 larva itu. Kata Gen proses larva menjadi kumbang itu cukup menarik untuk diamati. Sedangkan setelah itu dia bisa saja bawa ke hutan dan buang.

OK, aku memang takut pada kumbang, tapi kok kasihan juga pada “bayi” kumbang ini. Jadi sekalipun ada beberapa larva pernah “lari”, dan aku pernah menginjak salah satunya…aku masih bisa sabar dan tahan. Sambil nyengir aku bilang, “Rasanya seperti menginjak udang :D”. Jadi aku selalu harus berhati-hati waktu menjemur pakaian di beranda, supaya jangan menginjak “bayi-bayi” itu 😀

Kai dengan satu kantong berisi sekitar 50 larva kumbang badak 😀

Tapi sebenarnya kami hanya memelihara 40 larva karena 10 yang lain diambil oleh teman-temannya Riku untuk dipelihara di rumah masing-masing. Dan ada satu temannya Riku yang mengambil 2 larva sambil membawa lobak, ketimun dan zucchini, hasil kebun dari ibunya. Nah waktu itulah gen mengatakan “Seperti Warashibe Chouja saja”. Eh, apa itu Warashibe Chouja?
“Kalian tidak tahu? Itu cerita rakyat Jepang loh”. Sehingga kami mencari cerita itu di net.

Dahulu kala ada seorang pemuda yang hidupnya selalu jujur tapi tidak beruntung. Teruuuus bekerja tapi tidak beruntung dan hidupnya miskin terus. Sampai pada suatu hari, dia berpuasa lalu berdoa kepada dewa. Menjelang senja, Dewa tampil di hadapannya dan berkata, “Keluar dari kuil ini, kamu akan jatuh dan memegang sesuatu. Bawalah itu pergi ke arah barat.”

Memang waktu si pemuda keluar kuil, dia jatuh dan memegang sebatang jerami. Dia pikir, apa sih gunanya jerami… tapi dia bawa itu terus ke arah barat. Kemudian ada seekor lebah terbang dan hinggap di jerami itu. Waktu sampai di kota, ada seorang bayi yang menangis terus, tapi begitu melihat jerami dan lebah, dia berhenti menangis. Ibu sang bayi kemudian memberikan 3 buah jeruk pada si pemuda. 

Pemuda itu kemudian membawa 3 jeruk ke arah barat dan bertemu dengan seorang gadis yang sedang kehausan. Si pemuda memberikan 3 buah jeruk dan sebagai gantinya dia menerima sehelai kain sutra. Waktu berjalan terus, dia bertemu dengan samurai dengan seekor kuda yang lesu. Begitu melihat sutra itu, samurai memberikan kudanya dan membawa sutra itu pergi. Pemuda kemudian merawat kuda itu dan kuda itu menjadi sehat. Bersama kuda itu dia pergi dan sampai pada sebuah rumah besar. Ternyata pemilik rumah itu hendak pergi menyepi dan menukar rumahnya dengan kuda si pemuda. Jadilah pemuda mempunyai rumah besar dan terkenal sebagai Warashibe Chouja. (Bagian akhir ada beberapa versi seperti si pemuda bertemu dengan orang kaya yang ternyata ayah dari si gadis pemberi jeruk, sehingga dinikahkan)

Intinya si pemuda menerima berlipat ganda dari apa yang dia berikan awalnya. Dari sebatang jerami menjadi sebuah rumah besar. Tuhan selalu membalas berlipat ganda. Dan yang dimaksud dengan Gen adalah Riku memberikan 2 larva kumbang, dan menerima jauuuuh lebih banyak : lobak, ketimun dan zucchini. Jadi seperti Warashibe Chouja.

TAPI untungnya 40 larva kumbang TIDAK AKAN berlipat ganda menjadi 80 kumbang ya… kalau berlipat ganda, bisa bisa aku tidak bisa tidur tenang terus deh hehehe.

Ada pembaca yang mau memelihara kumbang badak (seperti kumbang kelapa) ? 😀 Nanti aku kirim deh larvanya dengan EMS 😀

Antara Smartphone dan Daag

Telepon Pintar itu memang sudah menyebar luas. Hampir semua mahasiswa di tempat aku mengajar, memakai smartphone. Meskipun dalam kenyataannya aku masih banyak melihat wanita dan sebagian pria yang tidak berstatus sebagai mahasiswa/karyawan yang  memakai telepon biasa non smartphone. Aku sekarang memang memakai smartphone dan awalnya aku merasa “hebat” karena dengan satu gadget itu kita bisa menelepon, chatting, bermain, mengambil foto, browsing dsb. Padahal sebelumnya, pakai telepon biasapun sebenarnya sudah bisa. Tapi kecepatan koneksi internet yang ditawarkan memang mengagumkan sehingga layaknya aku membawa sebuah komputer kecil bersamaku (aku belum mempunyai iPad). Kekurangannya cuma satu: kecil. Maklum mataku sudah mulai rabun karena faktor u. 😀

Ada satu hal yang aku pelajari dari ibu-ibu, mamatomo, ibu-ibu di TK dan sekarang menjadi kebiasaanku juga. Yaitu waktu membaca pengumuman yang ditulis guru TK di papan. Dulu aku selalu menulis di catatan. Tapi begitu aku melihat trend baru ibu-ibu, mereka tidak lagi menulis tapi memotret papan pengumuman itu. Dengan smartphone, sangat mudah membesarkan foto sehingga sehingga hurufnya bisa terbaca, tanpa harus memindahkan ke komputer. Segala informasi yang penting, tinggal foto saja. Beres!

Semakin aku terbiasa dengan smartphoneku, semakin aku terbiasa memotret semua informasi itu. Praktis dong. TAPI aku sempat kesal dua kali oleh smartphone di tangan mahasiswa.

Aku pernah menulis status di FB:

Sedang memeriksa test bahasa Indonesia, dan aku tertawa (kecut) mendapati jawaban seorang mahasiswa dari pertanyaan: 私のカバンは重いです (Watashino kaban wa omoidesu). Iseng kutanya pada Riku, apa terjemahannya. Lalu dia berkata, “Aku punya rucksack berat!” wow… padahal aku tidak pernah mengajarkannya, meskipun jawaban yang benar, “Tas saya berat”. TAPI jauh lebih bagus dari jawaban muridku, “Nama saya berat” hihihi.
(Langsung masuk blacklist deh. Hei….kemana saja waktu aku jelaskan?????)

dan sebenarnya selain daripada tidak adanya perhatian dia waktu aku terangkan, ada pula jawaban yang memakai kata-kata bahasa Indonesia yang belum pernah aku ajarkan. Hmmm kok bisa dia menjawab seperti itu ya? Lalu aku coba masukkan kalimat yang harus diterjemahkan ke dalam google translator dan bingo! Jawabannya persis seperti yang dia tulis. O o o kamu ketahuan memakai google translator dalam smartphonenya untuk menjawab test! Dan parahnya ada 3 mahasiswa yang jawabannya plek sama!

Memang susah mengontrol begitu banyak mahasiswa dalam satu kelas. Tapi dari lembar jawabannya aku sudah tahu bahwa mahasiswa ini memakai smartphone dalam menjawab. Jelas aku kesal dan marah, sehingga minggu berikutnya aku menceritakan hal itu di depan kelas dan langsung mengatakan, “Kerjakan test dengan jujur. Pasti ketahuan kok. Dan jika pada test berikutnya ada lagi kejadian seperti ini saya akan mengurangi nilai mereka yang memakai smartphone. Usaha sih boleh, saya lebih suka kalian buka buku dan cari jawabannya di buku daripada di smartphone. Itu artinya bukan kalian yang belajar tapi si smartphone yang belajar”.

Hal kedua yang membuatku kesal, baru terjadi tadi siang. Waktu aku menyuruh semua mahasiswa untuk membaca, aku melihat ada seorang mahasiswa yang melihat kertas fotocopy temannya. “Oh dia tidak punya fotocopynya ” pikirku dan aku mau berikan dia satu lembar. Tapi sebelum aku sempat memberikan fotocopy itu, aku melihat dia mengambil smartphonenya dan memotret kertas fotocopy temannya. Sambil meneruskan pelajaran, dalam dada ini berkecamuk apakah aku perlu menegurnya atau tidak. What the heck! Aku biarkan saja, selama dia bisa mengikuti pelajaran dan menjawab pertanyaanku. TAPI sebetulnya lain kan mereka yang belajar dengan membaca lewat kertas dan yang membaca lewat smartphone. Jika ada kertas, mereka bisa mencatat, memberikan tambahan arti sendiri, sehingga mereka bisa BELAJAR dan pada akhirnya bisa menjawab test. Foto lembaran yang di smartphone tidak bisa ditambahkan dengan catatan-catatan, dan aku tidak yakin dia akan buka kedua kalinya 🙂 Selain itu kalau dia memandang smartphone dan ditegur, dia bisa jadikan alasan bahwa dia sedang membaca foto itu. Jaman memang berbeda! Jauh berbeda berkat kecanggihan teknologi. Dan kurasa dalam waktu dekat pihak universitas perlu membuat peraturan mengenai smartphone, atau dosennya yang harus mengubah pola mengajar atau membuat testnya. Seperti seminggu lalu akhirnya aku membuat test lisan, dan yang tidak bisa menjawab…pass (lewatkan) deh. NOL! Tidak bisa juga diterapkan mengumpulkan smartphone sebelum kuliah dimulai layaknya anak SD, karena sudah pasti diprotes, selain juga makan waktu untuk mengembalikannya. Smartphone di kampus sudah mulai membuat banyak masalah. 🙁

Tapi di antara kekesalan atas tingkah beberapa mahasiswa, aku masih senang karena masih ada mahasiswa yang benar-benar mau belajar. Seorang mahasiswa yang rajin tadi bercerita bahwa dia membuat daftar kata-kata baru sendiri dengan komputer dan mencetaknya, lalu menempelkannya di kamar, di WC, di pintu kamar mandi (persis daftar perkalian dsb untuk anak SD :D) supaya bisa belajar dan menghafal. Mendengar ceritanya aku merasa senang dan menghargai usahanya. Dan teman-teman yang duduk di sekitarnya (ada 4 orang) memang termasuk mahasiswa yang aktif dan pintar. Selain itu mereka juga yang selalu memberi salam terakhir dengan “Daag!” 😀 Waktu mendengar pertama memang aneh rasanya, karena meskipun memang aku ajarkan bahwa orang Indonesia pakai “Daag” dalam percakapan, selama 20 tahun mengajar di Jepang belum pernah ada yang berkata “Daag” padaku. Jadi geli juga dan ingin kuperingatkan bahwa jangan pakai daag kepada orang yang lebih tua atau kurang akrab…….tapi ah aku kan masih muda :D. Just enjoy it 😉

Bagaimana cara teman-teman belajar bahasa asing supaya cepat hafal? Apakah pernah menempel daftar/tabel kata-kata di dinding?

Hujan Bulan Juni

Bulan Juni sudah 14 hari lewat, rasanya baru kemarin aku menyatakan bahwa Tokyo sudah mulai musim hujan. TAPI ternyata itu hanya berlaku dua hari di akhir Mei. Sedangkan masuk bulan Juni hujan baru turun sejak hari Selasa lalu, yang merupakan imbas dari badai nomor 3 dari Filipin yang membelok ke Lautan Pasifik. Akibatnya Rabu dan Kamis hujannya awet 😀 Hari Jumat ini pagi harinya turun hujan tapi sekitar pukul 11-an sudah berhenti, dan membuat udara menjadi lembab. Dan besok menurut prakiraan cuaca, “Payung tak akan lepas dari tangan!”. Nah, bersiap deh.

Bukan mau mengeluh akan kehadiran musim hujan, tapi dengan turun hujan semua perjalanan harus diperhitungkan waktunya tidak akan tepat. Butuh waktu extra. Yang tadinya aku bisa antar Kai ke TK naik sepeda, ini harus berjalan kaki. Meskipun Kai tidak pernah mengeluh tidak mau jalan (dia suka jalan!) tapi tentu jarak yang bisa ditempuh 10 menit orang dewasa, menjadi 15 atau bahkan 20 menit bagi anak-anak yang kakinya masih kecil. Daaaannnn, minggu ini penuh acara di sekolah!

Hari Senin lalu, Riku libur karena sekolahnya berulang tahun 🙂 Seperti pernah kutulis di sini, perusahaan atau sekolah Jepang meliburkan karyawan atau muridnya waktu ulang tahun pendirian organisasinya. Padahal Senin seminggu sebelumnya dia juga libur karena setelah undokai. Otomatis aku menemani dia menikmati hari liburnya, yaitu dengan menunggu dia main di game center dengan uangnya sendiri. Yah aku cuma mentraktir dia makan siang yang super murah, sebuah set sushi seharga 500 yen! Aku senang ke situ, karena tidak ada tempat lain yang menjual set sushi seharga 500 yen dengan volume yang cukup besar dan enak! Transportasi ke sananya gratis karena naik sepeda 😀 Hari kencan yang murah 😀

Selasa, aku meliburkan Kai karena dia batuk cukup parah. Dan aku harus beres-beres rumah dan mempersiapkan makan malam plus bento untuk anak-anak lebih cepat dari biasa. Aku mengganti hari mengajar yang tadinya Senin malam menjadi Selasa malam. Dan hujan cukup lebat waktu kami berangkat pukul 4:45 dari rumah. Anak-anak seperti biasa aku titipkan pada Mas penjaga sekolah, dan mereka makan malam di kamarnya.

Rabu masih hujan padahal aku harus pergi ke sekolahnya Riku dalam rangka Open School yang merupakan kegiatan periodik mereka. Saat itu orang tua murid bisa melihat kegiatan pembelajaran dalam kelas. Dan memang benar semakin tinggi kelasnya, semakin sedikit orang tua yang datang. Biasanya orang tua itu bekerja atau menyempatkan melihat satu jam pelajaran saja. Setelah 5 tahun, aku juga merasa “capek” melihat kegiatan ini karena ya sebetulnya asalkan tidak bermasalah, pasti juga kondisi kelas ya biasa-biasa saja. Aku melihat waktu Riku kelas 3 memang kondisi kelasnya amat mengkhawatirkan, dan ternyata memang kegiatan pembelajaran tidak berlangsung seperti yang diharapkan. Banyak sekali anak yang tidak konsentrasi dalam pelajaran, ribut sehingga mengganggu anak-anak lain. Guru walikelasnya tidak bisa menghandle anak-anak yang nakal ini. Berdasarkan laporan dan permintaan orang tua kemudian gurunya diganti waktu kenaikan kelas 4 (Seorang guru biasanya pegang kelas ganjil dan genap. Jadi kelas 1-2, 3-4, 5-6 walikelasnya sama). Di kelas 5 ini, aku rasa tidak ada masalah berarti, tapi mungkin karena Riku sudah ikut bimbel di luar. Soal bimbel akan aku bahas terpisah ya.

Kamis kemarin, hujan gerimis kadang-kadang deras, tapi awet 😀 Aku harus mengajar di universitas sehingga pagi-pagi mengantar Kai lagi jalan kaki ke TK, baru ke universitas. Tapi untungnya Universitas W cukup dekat dari rumah. Satu jam cukup. Lain halnya dengan hari Jumat. Tadi pagi aku extra pagi berangkatnya, karena kalau hari tidak hujan aku butuh 1,5 jam….jadi kalau hujan perkiraanku 2 jam 😀 Dan untung saja, karena hujan kereta juga banyak yang terlambat. Apalagi bus. Jangan dikira angkutan di Tokyo tepat waktu terus ya 😀 kalau ada kejadian “bunuh diri” di rel (dan lumayan banyak), atau kalau ada hujan/badai/gempa ya pasti terlambat. Karena itu warga Tokyo akan berangkat lebih awal dari hari lainnya.

Jadi? Aku bisa istirahat dong besok ya? Kan weekend 😀 Sayangnya tidak, karena besok giliran TK nya Kai yang mengadakan Open School. Kalau tidak hujan, kami akan mengadakan undokai kecil-kecilan. Pertandingan olahraga yang melibatkan anak dan ortu. Tapi kalau hujan, kami akan membuat prakarya bersama di dalam kelas. Yang pasti besok sampai pukul 11:30 aku harus menemani Kai di TK. Dan berarti Kai akan libur hari Senin (that means… aku harus menemani Kai di rumah hehehehe).

Sebetulnya harusnya aku bisa istirahat asalkan Gen tidak bekerja. Sayangnya karena dia bekerja di universitas, dia yang harus mengadakan Open School di kampusnya pada hari Sabtu dan Minggu 😀 … Dan ya, minggu yang sibuk dan (akan) ditemani hujan terus.

Maaf kalau posting kali ini seperti mengeluh, tapi aku ingin menulis padahal untuk menulis tema lain (yang sudah ada di draft) perlu otak yang santai, jadi maafkan ya….

Have a nice weekend!

(Fotonya belakangan, soalnya aku mesti jemput Riku dulu ya :D)

Seni Menipu – Tokyo Trick Art Museum

Bukan, aku tidak mau mengajarkan pembaca mengenai bagaimana cara-cara menipu loh. Tapi yang ingin kutulis adalah tentang kesenian yang bisa mengelabui mata. Kelihatannya seperti sesuatu yang lain, padahal itu adalah pinter-pinternya yang menggambar saja.

Aku pergi ke Tokyo Trick art Museum  waktu pergi ke Legoland yang kedua kalinya. Karena Tokyo Trick art Museum ini terletak satu lantai di bawah legoland (Decks ODAIBA), sehingga pasti lewat waktu pulang. Karena harga tiket masuknya hanya 900 yen untuk dewasa, maka aku dan Sanchan sepakat untuk mampir di sini berdua, waktu anak-anak main lego, dan berfoto narsis 😀 Emang duo emak ini udah klop kalau soal foto berfoto 😀

Eh, tapi ternyata kami tidak bisa melepaskan diri dari anak-anak. Memang peraturan di Legoland itu, tidak boleh meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan orang tua. Waktu makan siang kami bisa meninggalkan satu jam, Riku dan Yuyu, tapi Kai kami bawa sebagai “jaminan” supaya waktu masuk kembali, kami bersama anak-anak. Untung saja Kai mau, dan kami ajak makan di restoran Surabaya, yang berada di gedung sebelah. Kai suka makan soto ayam, sehingga aku bisa “membujuk” dia untuk pergi sebentar dari Legoland dan makan soto ayam bersama duo emak. Riku dan Yuyu makan siang di dalam Legoland, yang ternyata menurut perhitungan duo emak, tidak terlalu mahal. Biasanya kalau makan di dalam sebuah thema park, harga makanan diketok habis-habisan (jadi inget Disneyland), tapi di Legoland, satu bento paling mahal 500 yen. Memang untuk dewasa tidak cukup (dan tidak enak), tapi untuk anak-anak lebih dari cukup. Apalagi karena kamu member, kami mendapat potongan 10% setiap berbelanja di dalam Legoland.

Restoran Surabaya di Odaiba

 

Balik ke Tokyo Trick art Museum, kami akhirnya masuk bersama pada pukul 18:30. Memang Legoland kali ke dua  itu aku minta supaya anak-anak bisa selesai dan pulang jam 6 sore. Tidak seperti malam sebelumnya yaitu jam 8 malam (Legoland sendiri tutup jam 9 malam). Nah waktu menuruni eskalator itu lah kami memutuskan mengajak anak-anak juga. Tadinya kami pikir anak-anak tidak antusias, tapi perkiraan kami salah. Ternyata anak-anak jauuuuh lebih narsis daripada ibunya 😀 

Dua gambar di atas berada di luar museum, sedangkan yang di bawah di pintu masuk

Untungnya waktu kami masuk itu masih sepi, tapi tak lama mulai berdatangan tamu yang lain, sehingga cukup menyebalkan, karena tidak bisa konsentrasi berfoto :D. Di pintu masuk kami disambut (lukisan) seorang wanita berkimono, yang jika dilihat dari berbagai sudut akan aneh. Jika melihat pada sudut yang tepat memang kita akan melihat tangannya seakan benar-benar tiga dimensi. Tapi yang cukup menarik adalah sebuah lukisan yang menggambarkan kedai minum teh ala jepang dengan payung di luar kios. Dengan menekuk lutut sedikit kita bisa memotret seakan-akan kita sedang duduk santai di situ.

Kiri atas, perumahan di kota Edo. Ternyata berbentuk segitiga yang menonjol dari dinding, sehingga Sanchan sempat menabraknya 😀 Kanan atas: Riku dengan kappa (binatang jejadian). Kiri bawah: Aku lebih kecil dari Riku. Kanan bawah : Riku minum sake dengan hantu mata tiga 😀

Permainan lukisan yang menghasilkan tiga dimensi tentang kota pada jaman Edo. Satu yang perlu percobaan cukup banyak adalah sebuah ruangan yang bisa memutarbalikkan fakta. Aku yang sebesar ini bisa jauh lebih kecil daripada Riku. Dan memang harus memotretnya dari luar ruangan. Pada jaman Edo banyak pembantaian, dan cerita mengenai setan, hantu dsb nya itu sangat populer.

Yang lucu fotonya Kai, kok dia menutupi bagian yang “tepat” dengan tangannya ya? hahaha.(eh aku ngga suruh-suruh loh) Kalau Riku dia bergaya persis memegang bahu si baju merah seakan sedang menepuknya.

 

Anak-anak cukup takut untuk sendirian berada di dalam bagian ini. Setelah keluar dari bagian “perhantuan” kami bisa melihat beberapa lukisan manusia dan binatang.

foto ikan hiu itu sepertinya sudah banyak ya?

Konon trick art seperti ini juga sudah menyebar ke Jakarta juga. Tapi aku baru pertama kali melihat berbagai trick di museum ini. Museumnya tidak besar sih, tapi ya kalau mau berusaha memotret dengan jurus yang diberitahukan (dengan tiduran atau menjengking segala) bisa menghasilkan foto yang bagus, sehingga HTM seharga 900 yen cukup murah lah. Tapi ternyata kami fotonya tidak seheboh waktu berada di Madame Tussaud. Kembali ke museum ini lagi? Nanti deh kalau musti antar tamu baru mau masuk lagi 😀

(Tulisan yang tertunda hampir 2 bulan :D)

 

The Floating Castle

The Floating Castle adalah bahasa Inggrisnya sebuah film Jepang yang berjudul Nobou no Shiro. Sebuah film berlatar belakang sejarah Jepang di tahun 1590, waktu Toyotomi Hideyoshi  sebagai daimyo (tuan tanah) berusaha menyatukan Jepang. Jaman itu memang jaman yang penuh peperangan yang disebut dengan Sengoku Jidai 戦国時代 . Nah, pasukan Toyotomi Hideyoshi ini mendapat perlawanan keras dari sebuah castle yang dikelilingi danau yang bernama Oshijou 忍城.

poster film Nobou no Shiro

Pemimpin  Oshi Castle ini adalah Narita Nagachika yang masih muda dan nyentrik, dan harus menggantikan ayahnya yang meninggal menjadi pemimpin daerah itu. Bagaimana tidak nyentrik atau bahkan gila dilihat dari sebutan yang diberikan “Nobou” (singkatan dari Dekunobou) padanya, yaitu dengan kekuatan pasukan 500 orang dia bersikeras untuk MELAWAN pasukan Toyotomi Hideyoshi sejumlah 20.000 orang!

Pada saat pasukan Toyotomi (di bawah pimpinan Ishida Mitsunari) terdesak pada serangan pertama, mereka kemudian membuat Ishida Tsutsumi (Dam Ishida) yaitu sebuah dam untuk membendung aliran sungai dan memaksa Narita a.k.a Nobou  ini untuk menyerah. Semua daerah yang rendah tertutup air, dan warga petani berlari mencari perlindungan ke kediaman Nobou. Tempat istana yang tidak sembarangan bisa diinjak kaum biasa itu apalagi waktu itu warga yang mengungsi berlumpur kakinya. Satu yang menarik sekali bagiku adalah Nobou sendiri TURUN menginjak lumpur dan menjadikannya sama dengan warga yang mencari perlindungan itu. Dia dan permaisurinya dengan kaki kotor mengajak semua warga yang ada untuk masuk ke kastil untuk berlindung.

Narita Nagachika diperankan oleh pemain Kyogen (kesenian tradisional Jepang) yang juga aktor: Nomura Mansai. Seniman yang hebat!

Mengetahui bahwa dia tidak akan bisa menang dengan keadaan terendam air, maka  Nobou pergi dengan perahu ke arah Ishida Tsutsumi di depan Maruhakayama Kofun (bukit makam yang menjadi pusat pasukan Toyotomi) untuk membuat pertunjukan tarian di depan musuh! Layaknya bunuh diri 🙁 Tarian Dengaku yang ditarikan merupakan tarian petani waktu berdoa pada dewa supaya panen berhasil. Nobou memang terkenal sebagai eksentrik yang suka bermain ke pertanian wilayahnya dengan maksud untuk membantu, tapi biasanya hanya akan mengganggu pekerjaan petani. Waktu dia sedang menari itulah, dia ditembak oleh pihak musuh.

Melihat pemimpinnya jatuh ke dalam air, beberapa petani yang menyusup ke dalam pasukan musuh membongkar tanggul sehingga air yang mengelilingi Shijo Castle itu surut. Pengaruh Nobou pada petani memang besar.

Setelah air surut, Nobou bersiap untuk berperang lagi. Demikian juga pihak musuh. Tetapi sebelum terjadi pertempuran, ada pemberitahuan bahwa Odawara Castle sudah kalah, sehingga peperangan tidak perlu dilakukan lagi. Odawara Castle lebih tinggi kedudukannya dari Oshi Castle. Pertempuran selesai dengan kondisi seri, namun tentu Nobou tidak bisa tinggal lagi di castle itu. Oshi castle adalah satu-satunya castle dalam perang Sengoku Jidai yang tidak “kalah”.

Dan yang mengesankan pada pertemuan dengan pihak musuh setelah perang usai, Nobou mengajukan dua syarat yaitu minta supaya sawah yang hancur oleh perang (ditimbun tanah waktu membendung tanggul) untuk dibersihkan. Katanya, “Jika tidak dibersihkan petani tak bisa bertanam lagi”. Dan yang ke dua, waktu pertempuran ada beberapa petani yang dibunuh oleh prajurit musuh. Petani bukanlah samurai, jadi tidak boleh dibunuh. Itu sudah merupakan etika perang. Jadi Nobou minta supaya prajurit yang membunuh petani untuk dihukum (dibunuh). Di sini dapat dilihat betapa Nobou berpihak pada petani.

Setelah itu memang tidak diketahui Nobou pergi dan tinggal di mana. Ada seorang panglima perangnya yang kemudian menjadi pendeta Buddha untuk mendoakan mereka yang sudah mati dalam peperangan. Oshi Castle bubar, dan terakhir menjadi milik keluarga Abe, salah seorang menteri berpengaruh di pemerintahan Tokugawa (abad 18).

Trailer film ini bisa dilihat di : http://youtu.be/9I__lzfCpHU

Film yang cukup bagus menurutku. Aku sendiri baru menonton persis sehari sebelum kami pergi ke Oshi Castle tanggal 19 Mei yang lalu.  Riku dan Kai diajak papanya menonton waktu film ini dirilis tahun lalu. Sebetulnya film ini akan dirilis bulan September 2011, tapi untuk menghormati Gempa Tohoku (Maret 2011) rilis film ini ditunda. Pertimbangannya karena ada adengan luapan air bagaikan tsunami yang menutupi daerah rendah sekitar castle, yang mungkin akan berpengaruh pada perasaan korban gempa dan keluarga yang ditimpa musibah. Rasanya tidak etis… Keputusan ini juga aku kagumi. Toleransi orang Jepang yang sangat tinggi! Selain itu di cover DVD yang kami pinjam juga tertulis peringatan bahwa akan ada adegan seperti tsunami.

Oshi Castle

Oshi Castle ini sendiri terletak di Gyoda Saitama, cukup dekat dengan rumah kami hanya dengan 1 jam bermobil. Kami pergi ke sana dan menemukan bangunan castle tetapi bukan peninggalan jaman Nobou tentunya. Castle ini masih baru dan berfungsi sebagai museum sejarah daerah setempat. Kami sampai di castle sekitar pukul 2 siang karena kami harus ke gereja dulu paginya. Kami lalu membeli karcis masuk seharga 200 yen untuk dewasa dan 50 yen untuk anak-anak. Untung sekali waktu itu Staf memberitahukan bahwa ada kesempatan untuk memakai baju perang yoroi sebagai sebuah acara tambahan museum. Gratis asal membayar tanda masuk castle yang 200 yen itu! Murah sekaliiiii….. Begitu mendengar bahwa bisa memakai yoroi, anak-anak sangat gembira sampai stafnya berkata, “Wah senang sekali melihat anak-anak ini begitu antusias”.

Oshi Castle

Kami langsung menuju aula tempat mencoba memakai pakaian perang itu dan mendaftar. Cukup lama harus menunggu giliran. Akhirnya Kai dipakaikan baju perang dari Takeda Shingen (yang kami kunjungi dua minggu sebelumnya). Yoroi itu ternyata terpisah-pisah. Pertama pakai pelindung kaki, lalu pelindung tangan baru semacam rok dan pelindung dada. Roknya terdiri dari lempengan besi dan keseluruhan berat pakaian ini sekitar 20 kg untuk orang dewasa (rata-rata sepertiga dari berat badannya). Bisa lihat beratnya baju perang ini dalam video Kai berputar memakai yoroi.


Riku memakai yoroi ukuran dewasa yaitu yoroi dari keluarga Abe, si penguasa Oshi Castle pada jaman Tokugawa. Memang setiap yoroi berbeda desain menurut keluarganya, sehingga bisa terlihat waktu perang, prajurit itu prajurit siapa. Dan staf yang memakaikan baju perang ini pada Riku amat baik dan menawarkan mengambil foto kami sekeluarga. Mungkin karena aku orang asing ya 😀

proses pemakaian baju perang

Setelah mencoba berpakaian yoroi, kami pun melihat benda-benda bersejarah dari Oshi castle ini yang dipamerkan di tiga lantai. Seperti kebanyakan museum, kami tidak boleh memotret dalam museum. Tapi memang tidak ada yang menarik sih. Mungkin yang menarik di situ adalah bahwa kota Gyouda ini terkenal juga sebagai pembuat kaus kaki untuk kimono. Dan di salah satu corner ada foto alas kaki pesumo terkenal dan kita bisa membandingkan kaki kita dengan pesumo itu. Wah memang kakinya pesumo itu besar ya 😀 Habis kaki itu harus menanggung berat badan yang tidak tanggung-tanggung sih.

Ishida Tsutsumi

Setelah melihat museum, kami pindah tempat menuju ke Ishida Tsutsumi, dam buatan waktu pasukan Toyotomi merendam Oshi Castle dengan air sungai. Di dekatnya terdapat Maruhakayama Kofun (makam) yang menjadi pusat pasukan Toyotomi. Makam ini berbentuknya seperti gundukan tanah yang tinggi, tapi karena waktu itu aku capek sekali, aku tidak ikut naik ke atas. Lagipula sudah mulai hujan rintik-rintik, aku takut kalau terpaksa harus bergegas turun, padahal aku takut ketinggian (sehingga pasti butuh waktu lama untuk menuruni bukit).

Maruhakayama Kofun

Sebetulnya di sekitar tempat itu juga ada museum dokumentasi lainnya, tapi karena sudah pukul 4:30 sudah tutup. Kami juga tidak sempat (lebih ke tidak berminat sih) mencoba makanan khas daerag Gyouda yaitu Gorengan dan Jelly Goreng … yieks.

Senang sekali perjalanan waktu itu, bisa mengunjungi castle yang menjadi tempat bersejarah. Sayangnya castle ini tidak termasuk dalam 100 castle terkenal di Jepang. DeMiyashita sedang berusaha mengunjungi dan mengumpulkan stamp dari castle-castle yang termasuk dalam 100 castle terkenal di Jepang 100名城. Ntah kapan bisa terlengkapi, tapi senang jika mengetahui bahwa kami mempunyai suatu target bersama, target keluarga dalam hidup kami.

Riku ber-yoroi

Atas Bawah Sama Berat

Hari Sabtu, 1 Juni, hari yang ditunggu-tunggu Riku. Karena hari itu adalah hari undokai, sport day SD nya, dan jika hari ini berlalu berarti hari-hari penuh derita untuk latihan akan berlalu! Dan kekhawatiranku akan hujan, tidak terbukti karena hari ini cuaca cerah bahkan terik! Aku tak menyangka bahwa aku bisa terbakar matahari dan baru sadar waktu mencuci muka malam harinya, terlihat muka dan hidungku merah-merah karena terbakar 😀 Kupikir aku yang hitam ini pasti tidak terpengaruh oleh sinar matahari seperti layaknya Gen dan teman-teman Jepang lainnya…. eeehhh ternyata terbakar juga 😀

Pagi hari aku bangun jam 5 dan mulai memasak bento (bekal makanan). Sekaligus aku juga memasak ayam bumbu rujak untuk kegiatan bazaar gereja  hari Minggunya. Jam 6 pagi Riku bangun dan minta sarapan. Hari itu kupikir aku harus menyiapkan bento untuk 4 orang, tapi ternyata tidak. Gen yang tadinya mengambil cuti supaya bisa menonton pertandingan olah raga anaknya, terpaksa harus bekerja. Riku tentu kecewa. Tapi aku bisik padanya, “Papa juga sebetulnya sedih sekali tapi karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, terpaksa harus ke kantor. Besok kan bisa pergi dengan papa. Hari Senin kan libur, nanti pergi berdua mama ya….Hibur papa juga ya….” Dan dia bisa merelekan papanya pergi ke kantor.

senam pemanasan

Berarti? Aku harus pergi cepat-cepat dengan Kai untuk mengikuti acara undokainya Riku. Tahun lalu aku tidak perlu cepat-cepat karena Gen ada, dia pergi duluan dan setelah itu aku pergi sebentar. Tidak perlu juga untuk menonton keseluruhan acara. Tapi tahun ini Riku terpilih menjadi murid yang harus memimpin kelasnya untuk senam pemanasan. Jadi dia berdiri paling depan kelasnya. Selain ini pada program ke 3, dia akan berlari 100 meter. Untuk acara olah raga ini, yang benar-benar “bertanding” hanya lari 50 m (untuk kelas 1,2), 80 m (untuk kelas 3,4) dan 100 m (untuk kelas 5,6). Yang lainnya bersifat permainan dan exhibition. Meskipun bertanding dan permainan pun tidak dihitung siapa yang “paling” berdasarkan invidual tapi berdasarkan kelompok. Ya, kelompok Merah dan Putih. Riku termasuk kelompok Merah, dan sejak kelas satu SD dia memang selalu kelompok Merah. Tahun lalu yang menang adalah kelompok Putih, sehingga kelompok Merah bertekad untuk memenangkan undokai tahun ini.

kibasen

Setelah menonton lari 100 m, aku dan Riku pergi ke taman dekat sekolah dan aku menunggui Kai bermain di situ, sampai tiba giliran Riku tampil lagi dalam acara “Kibasen 騎馬戦 ” dari kelas 5 dan 6. Pertandingan ini dilakukan dengan 4 orang dalam satu kelompok. Seperti prajurit berkuda, dengan 3 orang di bawah dan 1 orang di atas. Yang dibawah menahan yang diatas, tapi yang diatas harus berusaha mengambil topi lawan dan berusaha supaya topinya tidak diambil lawan…sama-sama berat tanggung jawabnya. Kulihat kelompok Riku berhasil mengambil topi satu kali, tapi juga diambil topinya satu kali. Tapi secara keseluruhan kelompok Merah menang dalam pertandingan Kibasen ini. Waktu selesai jam sudah menunjukkan pukul 11:30 lewat jadi aku dan Kai pulang ke rumah untuk makan siang. Sedangkan Riku makan siang bento yang kusiapkan dengan teman-temannya.

Aku kemudian kembali lagi ke sekolahnya sekitar pukul 12:40 karena ada exhibition, tarian Soranbushi dari kelas 5, sebuah tarian tradisional yang sangat dinamis. Riku sampai sakit kakinya karena setiap hari harus latihan. Memang otot paha sangat dipakai dalam tarian ini, serta kecepatan bergerak mengikuti irama. Senang sekali melihat Riku bisa mengikuti semua gerakan tanpa salah ataupun terlambat. Kalau aku yang di situ… pasti tidak bisa 😀 Untung sekali juga aku mengambil video dari depan, sehingga bisa melihat gerakan dan pada posisi terakhir Riku berada paling depan, menghadap ke kursi kepala sekolah dan tamu-tamu.

soranbushi

Sebetulnya setelah acara Soranbushi ini aku bisa pulang, karena Riku tidak tampil lagi sampai upacara penutupan. Tapi aku ingin sekali melihat senam oleh kelas 6. Karena aku tahu mereka biasanya membuat ningen piramid (piramida manusia) . Dan aku bersyukur sekali bisa melihat senam itu, karena… aku begitu terharu melihat kekompakan mereka.

Formasi pertama, berdua-dua membuat berbagai bentuk dan yang membuatku terharu pertama adalah pasangan yang satu muridnya berbadan besar sedangkan temannya kecil. Waktu formasi yang kecil harus menahan badan si besar yang berdiri dengan tangan, guru yang bertugas ikut membantu si kecil. Ya, dalam senam ini ada sekitar 8 orang guru yang mengawasi dari jauh di setiap sudut. Jadi anak-anak memang diberi tugas untuk membentuk formasi, berusaha, tapi jika tidak bisa salah seorang guru akan membantu. Tidak dilepas begitu saja, dan guru-guru juga menjaga supaya jangan terjadi kecelakaan. Bukan hanya memerintah tapi juga mendukung. Tanpa sadar air mata menggenangi sudut mataku 🙁

senam kelas 6

Formasi berikutnya bertiga, berempat, dan entah berberapa, ada beberapa formasi yang membuat aku menahan nafas. Ada anak yang didukung bersama sehingga bisa membetuk formasi terbang. Atau didorong sehingga berdiri di atas  pundak beberapa anak dan… menjatuhkan diri. Wah, perlu kepercayaan yang besar bahwa dirinya tidak akan terjatuh. Kerjasama yang di atas dan di bawah, membuat penampilan mereka perfect, sempurna. Ah, mereka BARU kelas 6 SD. Aku dengan susah payah menahan haru, menahan tangis melihat penampilan mereka. Dan sambil berpikir dalam hati: “Tahun depan anakku kelas 6 SD, terakhir di SD dan pasti akan mengikuti senam seperti ini. Sedangkan sekarang saja aku susah payah menahan tangis…apalagi tahun depan ya? Undokai terakhir untuk Riku dan pertama untuk Kai yang akan masuk kelas 1 SD”…

Dan sebagai performance terakhir mereka membuat piramida manusia. Bagi yang mau melihatnya silakan videonya sudah saya upload di Youtube.

Sebagai acara terakhir yang menentukan kemenangan kelompok merah dan putih adalah menggelindingkan Bola Raksasa bersama. Ini juga merupakan acara kesukaanku. Melihat mereka berusaha mendorong, menggelindingkan dan mengangkat bola raksasa itu seakan-akan aku ikut dalam barisan mereka. Daaan, hasilnya kelompok Merah mendapat nilai 523 dan kelompok putih 417, jadi kelompok merah yang menang! Horreeeee

Aku pulang bersama Riku dan Kai sekitar pukul 3:30 sore. Capek, tapi senang. Dan sebagai hadiah untuk Riku, kami membeli es krim di Circle K dan yang paling menyenangkan bagi Riku adalah melihat papanya sudah sampai di rumah waktu memasuki apartemen kami. Malam itu Riku juga menantang papanya bermain catur Jepang “Shogi” dan bisa memenangkan satu kali pertandingan. Hari yang indah untuk kami sekeluarga, meskipun bagi Gen tidak begitu indah karena harus bekerja dan “kalah” shogi dari Riku. Tapi satu yang selalu kuingat dari undokai Riku adalah “kerjasama”, mau di atas, mau di bawah, atau kalah menang, semuanya sama berat tugasnya, tapi semua “beban” akan menjadi ringan jika dijalankan bersama, dan tentu saja dengan berusah payah berlatih.