Arsip Bulanan: Juli 2013

Program 100 Kastil

Seperti yang sudah kutulis di sini, deMiyashita sedang mempunyai proyek  keluarga yaitu mengunjungi 100 kastil terkenal di Jepang. Ceritanya tidak mau kalah dengan kakek Miyashita yang sudah mendaki 100 gunung terkenal di Jepang. Padahal jumlah kastil di Jepang itu banyak sekali. Ada yang masih berupa bangunan kastil, ada yang sudah rata dengan tanah, hanya ada “bekas-bekas”nya saja. Jadi kami sendiri tidak bisa menentukan 100 kastil terkenal itu apa saja. Untung ada buku yang berjudul 100名城 (100 Kastil Terkenal Jepang) yang memuat 100 kastil berdasarkan daerahnya. Buku itu juga menyediakan tempat kosong untuk mengumpulkan cap kastil itu. Jadi kalau kami masuk ke kastil, dan menghubungi pintu masuk, baik bayar atau gratis, bisa menanyakan cap yang dimaksud.

Aku beli dua buku ini untuk Riku dan Kai supaya tidak berantem 😀

Tanggal 7 Juli adalah hari Tanabata. Setelah mengikuti misa dan sekolah minggu (aku mengikuti rapat sekolah minggu) jam 12 siang, Gen menjemput kami di gereja langsung naik tol. Tujuan kami hari itu adalah Odawara Castle yang terletak di prefektur Kanagawa. Aku sendiri sudah berkali-kali ke sini, karena memang bangunan kuil yang terdekat dari Tokyo adalah Odawara Castle sehingga sering mengantar teman ke sini. Riku juga sudah pernah, tapi waktu itu dia baru berusia 2 tahun :D.

pintu gerbang kastil Odawara yang berlapis

Yang menyenangkan sebelum kami sampai di kastil tersebut, kami harus melewati tol yang menyusuri pantai. Di luar terik matahari tapi dalam mobil ber-AC. Jadi sepanjang berada dalam mobil, melihat ke arah laut membiru, segar sekali rasanya. Tapi jangan keluar mobil, karena saat itu suhu di termometer sih 33 derajat, tapi real feelnya 38 derajat sajah! Dan untuk pertama kalinya aku merasa dehidrasi, pusing karena tidak mau minum selama perjalanan.

Kami sampai di kastilnya sudah pukul 15:20 karena berputar-putar mencari tempat parkir. Tapi dibanding dulu waktu aku datang ke sini, pengunjung kastil amat sangat sedikit, alias sepi. TAPI ada yang mengejutkan kami waktu kami mulai memasuki gerbang kastil. Ya kami bertemu dengan 4 orang cosplay (costume player, orang-orang yang memakai kostum dari anime/manga) . Cukup mengagetkan karena tidak menyangka di tempat yang begitu klasik, ada mereka. Sebetulnya aku ingin berfoto dengan mereka, tapi pengaruh hawa panas membuat aku malas.

si cosplayer 😀

Dan ternyata, tidak hanya 4 cosplay saja yang kami temui. Di gerbang kastil bagian dalam, kami bertemu lagi dengan perempuan dengan kostum salah satu pemain di Inuyasha. Langsung aku tanyakan padanya kenapa kok banyak cosplayer yang datang ke Kastil Odawara ini. Dan dia menjawab bahwa sejak jam 10 pagi memang sedang ada event khusus untuk cosplayer di situ. Pantas banyak sekali cosplayer yang kami temui. Coba tidak panas, pasti aku minta berfoto dengan mereka satu-per-satu. Riku juga tidak banyak tahu manga dan anime, sehingga melihat cosplayer begitu juga cuek saja 😀

Di depan kastil ada kebun binatang kecil, tapi karena takut kastilnya tutup, kami langsung memasuki bagian dalam kastil dengan membayar 400 yen untuk dewasa dan 150 untuk Riku. Kalau anak TK memang biasanya gratis.

Odawara Castle

Kami tidak boleh memotret di dalam kastil, dan kebanyakan memang peninggalan bersejarah dari kastil tersebut. Terdiri dari 5 tingkat, dan di puncaknya kami bisa melihat pemandangan ke luar dari 4 mata angin. Sayang ada pagar kawat sehingga hasil fotonya kurang bagus. Di lantai teratas itu juga ada tempat beristirahat dan tempat penjualan cindera mata. Jadilah banyak orang yang membeli es untuk mengusir udara panas sore itu.

dari puncak castle

Setelah menuruni kastil, kami memasuki sebuah kuil Hotokuninomiya jinja yang merupakan tempat memperingati Ninomiya Sontoku (nama aslinya Ninomiya Kinjiro 二宮 金次郎 4September  1787 – 17 November  1856). Dia berasal dari keluarga miskin, ayahnya meninggal waktu usia 14 tahun sehingga harus bekerja keras sambil mengurus adik dan ibunya yang meninggal 2 tahun sesudahnya, tapi di setiap kesempatan beliau membaca buku. Dalam usia 20 tahun dia berhasil mengubah sebuah tanah terlantar menjadi tanah pertanian dan menjadi kaya sebagai seorang tuan tanah. Kemudian dia menjadi seorang daimyo yang terkenal di Odawara.  Patung yang terkenal adalah waktu dia membaca buku sambil berjalan menggendong kayu bakar. 

Ninomiya Jinja. Kanan patung Ninomiya berjalan sambil membaca buku

Ninomiya ternyata juga dikenal sebagai pemimpin agrikultur, ekonomist, moralist dan filosofer. Aku sendiri belum tahu banyak tentang Ninomiya, tapi kalau membaca di wikipedia, kagum juga bahwa dia membuat semacam koperasi simpan pinjam untuk anggota tanpa bunga untuk 100 hari pertama. Meskipun dia tidak meninggalkan buku atau dokumen tertulis, bawahannya menuliskan pemikiran Ninomiya yang menggabungkan pemikiran Buddha, Shinto dan Konfusius dalam pelaksanaan praktis. Selain itu pemikirannya bahwa pertanian adalah bidang yang terpenting, karena berasal dari sang Pencipta.

miyukigahama, odawara

Kami meninggalkan kuil yang teduh itu untuk kembali ke Tokyo. Tapi kami ingin sekali mampir ke pantai yang terlihat dari jalan tol waktu datang, jadi Gen mencari jalan di bawah tol untuk mencari cara untuk ke pantai. Akhirnya setelah melewati jalan sempit pemukiman penduduk, kami sampai di sebuah terowongan untuk pejalan kaki berjalan ke pantai. Anak-anak langsung berlari ke pantai mengejar ombak. Riku dan Kai sempat mendapatkan ikan Katakuchiiwashi (anchovy) yang terdampar terbawa ombak. Tapi karena ikan jenis ini mudah busuk, kami kembalikan ke laut lagi.

Riku dan Kai mengumpulkan katakuchiiwashi (anchovy) yang terdampar

Tapi ombak di pantai Miyukigahama, Odawara ini cukup besar, sehingga aku selalu berteriak wanti-wanti anak-anak jangan terlalu dekat dengan air. Tidak ada orang sama sekali di sekitar pantai, dan itu bisa dimaklumi karena puanasnya rek! 😀 Yang menarik perhatianku di situ terdapat peringatan bahwa jika terjadi gempa bumi, harus segera melarikan diri lewat terowongan ke sisi pemukiman. Sepanjang pantai memang didirikan tembok tinggi dan kalau melihat tebalnya pintu terowongan itu, aku mengagumi antisipasi orang Jepang menghadapi tsunami.

tunnel penghalang tsunami di pantai Miyukigahama. Lihat ketebalan pintunya, seperti pintu  bank ya 😀 (Padahal belum pernah lihat pintu  bank selain di film)

Kami kemudian pulang ke Tokyo naik tol yang lumayan macetnya 😀 Meskipun cuma setengah hari, perjalanan 100 Kastil kami hari itu cukup menyenangkan. Masih ada beberapa kastil di sekitaran Tokyo yang bisa kami kunjungi pulang hari, tapi kalau sudah ke arah kansai (Osaka, Kyoto dan sekitarnya) kami perlu merencanakan jauh hari karena perlu menginap. Semoga bisa lengkap mengunjungi 100 kastil deh, entah selesainya kapan.

 

Menemui Eiffel

Ini adalah sambungan tulisanku yang, Outdoor Family. Perjalanan ke Hokuto, Yamanashi Prefektur.

Karena jam sudah menunjukkan pukul 4:30 sore dan kami tahu jalan tol pulang pasti macet, kami bergegas pulang. Tapi Gen minta ijin untuk mampir ke suatu tempat. Katanya ada yang ingin dia perlihatkan padaku. “Apa sih?” tanyaku…. “Museum Seni!”…. hmmm sebetulnya aku tidak begitu gandrung museum seni, tapi ok lah.

Kami sampai di depan pintu gerbang “Kiyoharu Geijutsumura 清春芸術村” (Perkampungan Seni Kiyoharu) pukul 4:50. Biasanya museum seni di mana-mana tutup jam 5, jadi musti bergegas. Dan di depan gerbang tertulis: Harga karcis masuk dewasa untuk museum 800 yen, untuk Gedung Cahaya: 500 yen, dan harap beli di loket gedung masing-masing. Sempat cemberut juga sih aku, kalau musti keluarkan uang 1500yen untuk 30 menit hehehe.

eh ternyata tidak bisa juga masuk kok ke museumnya karena kami sampai di situ pukul 16:50

Kami masuk ke dalam gerbang dan melihat ada sebuah gedung bundar. Tapi tidak ada siapa-siapa dan ada papan yang menunjukkan bahwa di situ bukan museumnya, tapi di tempat lain. Jadi aku bergegas ke tempat yang dituju. Ada sebuah kolam di situ dan memang terlihat ada pintu masuk bangunan museum, yang… biasa-biasa saja. Memang bangunan museumnya biasa saja, tapi di sekelilingnya dong… Banyak bangunan dan patung yang menarik!

Patung ibu jari karya pematung perancis César Baldaccini (1 January 1921- 6 December 1998), terletak sebelum naik tangga ke museum seni Kiyosato Shirakaba

Rupanya bangunan bulat yang pertama kami lihat bernama “La Ruche” atau sarang lebah. Ini merupakan duplikat dari sebuah bangunan di Paris yang pernah dipakai sebagai pavilion untuk wine di Paris Expo tahun 1900, yang didesain oleh Gustav Eiffel. Sampai sekarang bangunan yang berada di perkampungan seni Kiyoharu ini dipakai sebagai atelier (studio kerja) dan tempat tinggal seniman.

foto bersama di depan “La Ruche”. Sayang miring-miring 😀

Untung saja aku belum sempat membeli karcis masuk museum, karena Gen datang setelah memarkirkan mobil, dan menunjuk sebuah bangunan kecil di sebelah museum. Aku tidak tahu bahwa boleh masuk ke sana. Jadi Gen yang membukakan pintu untukku. Dan… terkejut begitu masuk karena langsung terlantunkan lagu gereja dari player yang ada. Ah, rupanya ini chapel yang dimaksud Gen.

Rouault Chapel dari luar.

Jadi konon ada artist dari Perancis bernama Rouault, terkenal sebagai seniman beragama katolik dan banyak menghasilkan karya seni bernafaskan katolik. Salah satunya adalah sebuah stained glass yang dibeli oleh seorang Jepang yang kaya. Karena dia mau memamerkan stained glass itu maka dia juga membangun sebuah chapel kecil di perkampungan seni itu dan kapel itu dinamakan Rouault chapel.

Dalam chapel, juga ada salib yang dibuat Rouault sendiri untuk di taruh di dinding altar. Dulu banyak lukisan Rouault dipajang di sini, tapi waktu kami ke sini tidak ada.

Yang lucu, si Kai begitu masuk gereja langsung menghormat dan berdoa 😀 Entah apakah pernah ada orang yang mengadakan misa di situ atau tidak tapi tempatnya lengkap dengan orgel kecil, altar dan salib serta tempat duduk umat yang kira-kira 20 kursi. Tapi suasana, pencahayaan, musik dan semuanya membuat kami merasa bahwa tempat itu benar-benar chapel. Nanti mau tanya ah apa sudah pernah ada yang membuat misa di situ 😀 (Ternyata setelah mencari di websitenya, chapel ini bisa dipakai untuk upacara pernikahan, tentu dengan ijin sebelumnya)

Foto Rouault di depan museum seni. Ini toh yang namanya Rouault. Jadi malu pada Gen yang memberitahukan bahwa Rouault adalah seniman katolik yang terkenal. Jadi belajar deh.

Setelah melihat chapel (yang gratis, tanpa perlu membayar tiket masuk), kami menikmati luasnya halaman di lingkungan “desa seniman” ini. Ada sebuah patung berjudul “Eiffel” dan sebuah rumah pohon yang didesain Fujimori Terunobu dan diberi nama Ruang Teh Tetsu. Aku sebetulnya penasaran kenapa kok patung yang kubilang aneh itu diberi nama Eiffel, dan apa hubungannya dengan Menara Eiffel yang di Perancis itu. Waktu mau menulis ini, aku terpaksa harus mencari literatur yang mendukung, dan mengetahui bahwa itu adalah patung Gustav Eiffel, si perancang Menara Eiffel dan tentu saja bangunan bundar yang menyambut kami di pintu gerbang tadi, La Ruche. Tak salah kan, kalau aku menulis judul Menemui Eiffel 😀 (dan Rouault tentunya)

Patung Eiffel di sebelah tangga kuning dan di kejauhan tree house “Ruang Teh Tetsu”.

Senang rasanya bisa melihat tempat ini. Berada di halamannya saja sudah senang (belum tentu sih tetap senang jika melihat lukisan yang dipajang dalam museum, karena aku “buta” seni lukis). Langit juga biru, khas langit musim panas, tapi karena di sini pegunungan jadi tetap sejuk. Memang cocok daerah ini sebagai daerah bungalow. Jadi perkampungan seni di antara belantara bungalow deh.

mobil caravan seni di depan pintu masuk. sayang sudah tutup waktu kami ke sana.

Mungkin kalau kami ke sini lagi, kami akan masuk ke museumnya. Atau konon sakura di sini juga bagus. Tapi berarti harus bulan April kembali lagi ke sini, padahal rencananya kelompok umat katolik di sini akan datang ke rumah retret di sini bulan September nanti. Yang pasti udara sejuk (dingin) dan segar tetap tersedia sepanjang tahun.

Alamatnya:

〒408-0036

山梨県北杜(ほくと)市長坂町中丸2072

公益財団法人 清春白樺美術館
/光の美術館
TEL. 0551-32-4865 (清春白樺美術館)    0551-32-3737 (光の美術館)

Usia Sekolah

Usia Sekolah dalam bahasa Jepang disebut dengan  Shukugaku nenrei  就学年齢, usia yang tepat untuk mengenyam pendidikan yaitu dari seorang genap berusia 6 tahun terhitung tanggal 1 April selama 9 tahun (wajib belajar SD-SMP). Kai tepat hari ini sudah berusia 6 tahun, sehingga bulan April tahun depan Kai akan memasuki SD. Dan, tentu saja membeli ransel baru untuknya.

Kira-kira 3 hari yang lalu, seperti biasa aku tidur bersama Kai. Setelah selesai berdoa, dan selesai membacakan sebuah buku cerita, aku memeluk dan mencium dia sambil berkata, “Aduh anak mama, 3 hari lagi jadi 6 tahun… tambah besar… nanti tidak mau dipeluk mama lagi…”
Lalu Kai jawab, “Mau kok ma… aku mau tinggal sama mama terus sampai tua.”
“Loh, nanti Kai menikah?”
“Iya terus tinggal sama mama. Nanti anak Kai panggil mama obaasan ya (Nenek)”
“Hmmm ya boleh, tapi mama ngga mau urus cucu terus ya!”
“Nanti kalau Kai sudah jadi ojiisan (kakek) berarti ada cucu ya…”
“Wah, kalau Kai ojiisan, mama udah mati dong.”
“Mama ngga boleh mati….”
“Ya kalau Kai ojiisan kan, berarti mama hiobaasan (buyut)…hmmm suatu saat ya mati…”
“Tapi Kai ngga mau mama mati…”
“Kai, setiap orang pasti mati. Mama juga sedih waktu oma meninggal, tapi misalnya oma hidup terus dan sakit-sakitan gimana? Manusia itu suatu saat pasti mati. Berapapun umurnya. Ada yang tua sekali ada yang masih bayi sudah mati.
Mama juga tidak mau mati, tapi kalau mama hidup terus padahal tidak bisa apa-apa, kan lebih baik mama mati.”

Kai menangis, dan aku menangis…. tapi kurasa aku harus menerangkan pada dia bahwa maut dapat datang sewaktu-waktu. “Kita tidak tahu kapan mati Kai, karena itu kita harus hidup baik terus. Baik kepada teman-teman, guru dan semua saja. ”

Aku tambah menangis.
Kai juga menangis.
Kami berpelukan erat sekali.
Dan saat itu aku tahu, Kai yang biasanya begitu cuek, tanpa perasaan jika berbicara soal mati, yang sering heran melihat kakaknya menangis sedih…..hari itu sudah bisa mengerti bahwa kematian itu menyedihkan. Kai menjadi sedikit lebih besar lagi. Secara psikologis dia juga berkembang, dan sering menganggap teman-teman TK nya kekanak-kanakan. Dan dengan penuh kesadaran, dia selalu ikut belajar waktu Riku belajar. Tidak mau kalah.

Yang pasti dia marah, selalu marah, jika kami memanggilkan Kai-chan!
“Kenapa sih panggil chan terus… Panggil Kai kun dong!”
“Maaf mama (papa) tidak biasa, habis Kai lucu sih, jadi lebih cocok panggil Kai chan.”
“Kai tidak lucu! Jangan panggil aku Kai-chan!”

Baiklah Kai-chan… eh Kai-kun. Kami berusaha terus memanggil kamu Kai-kun. Tapi kamu yang terkecil di rumah, jadi kami selalu keceplosan. Jangan marah terus ah! Nanti cepat tua loh 😀

 

Happy Birthday Ignatius Kai Miyashita yang ke 6,

16 Juli 2013

Karena aku sibuk, tidak sempat masak dan membuat kue. Jadi pesta pre-ultah saja di resto Zauo dan birthday cake beli ice cake dari Baskin Robbins. Yukidaruma -the snowman, limited edition for summer.

Kamu selalu akan menjadi yang terkecil di rumah, tapi mama tahu, kamu akan menjadi orang besar nanti! Semoga!

 

 

Outdoor Family

Dalam pikiranku, seseorang yang menyukai outdoor = suka camping, mendaki gunung, hiking dsb nya yang membutuhkan kekuatan badan. Waktu kucari di wikipedia dengan kata kunci: outdoor aku menemukan keterangan berbagai macam kegiatan outdoor. Dan terus terang, kami sekeluarga belum pernah melakukan hal-hal yang tertulis dalam daftar tersebut, kecuali museum, sightseeing, picnicking dan amusement park :D.

outdoor activity by wikipedia

Ok, kami pernah mendaki bukit bersama, dan masih mempunyai target petualangan mengunjungi 100 castle terkenal di Jepang. Kami kalah dari bapaknya Gen yang sudah mendaki gunung-gunung terkenal di Jepang yang tingginya di atas 2500 semua :D. Memang waktu yang dimiliki bapak mertuaku lebih banyak dibanding kami, karena untuk mendaki gunung membutuhkan waktu lebih dari satu hari (kata mertuaku biasanya dia jalan 8 jam baru istirahat) .Tapi seandainya kami punya waktu pun belum tentu bisa mendaki gunung… apalagi aku yang takut ketinggian ini 😀

Bunga Hydrangea (Ajisai) di Parking Area

Tapi yang pasti kami memang suka doraibu (drive). Naik mobil lalu pergi ke prefektur lain, naik highway, keluar pintu tol lalu mulai melihat ke kanan kiri apakah ada tempat yang menarik. Bahkan kadang kami cukup lama turun di Parking Area untuk makan siang atau makan malam. Dan di Parking Area yang besar biasanya ada taman atau fasilitas yang cukup menarik. Dan biasanya yang aku perhatikan adalah bagus tidaknya wc nya. Cukup banyak PA yang wcnya bagus! Nanti deh aku tulis mengenai PA sendiri ya.

lavender di Parking Area

Nah, tgl 23 Juni lalu, sesudah mengikuti misa di Kichijouji, kami bermaksud untuk mengadakan survey tempat rekreasi/retret komunitas umat Katolik Indonesia yang terletak di Kobuchizawa di prefektur Yamanashi. Bagaimana cara ke sana, berapa kira-kira biaya transportasinya, keluar di pintu toll mana, letak stasiun terdekat, ada tidaknya toko/restoran di sekitar tempat itu dan lain-lain. Karena memang rumah retret, letaknya memang cukup jauh dari jalan raya dan harus berjalan 40 menit menanjak dari stasiun.

tujuan utama survey 😀

Bagi kami tempatnya bagus. Well bukan bungalow mewah, tapi dikelilingi pepohonan dan sungai kecil, serta tak jauh dari situ kami bisa melihat hamparan bukit rumput yang begitu luas. Begitu melihat tempat itu Kai berteriak, “Waaaahhh bagus sekali, aku mau ke situ dan ingin menggelinding ke bawah. Papa terima kasih, alam ini menyegarkan hati!” Aduh, papa Gen dan aku begitu terharu mendengar perkataan Kai. Kok bisa dia menemukan kata-kata “menyegarkan hati 心が癒される”.Rasanya capek menyetir hilang seketika mendengar anak-anak kami menyukai alam.

Rusa yang dilihat Kai sekilas dari dalam mobil yang sedang melaju!

Dan mata Kai memang tajam sekali. Waktu kami melewati jalan yang cukup lebar dengan pepohonan di kiri kanan, tiba-tiba Kai berteriak, “Ada RUSA!”… waduh… masak sih? Tapi siapa tahu benar, jadi Gen memutar balik dan melihat ke arah yang ditunjuk Kai. Dan ternyata memang di kejauhan ada sekelompok Rusa liar. Bayangkan melihat rusa di alam, tanpa ada pagar seperti di kebun binatang. Rusa-rusa itu juga melihat ke arah kami, mungkin mereka pikir, “Apaan sh lihat-lihat?” hehehe. Aku segera memotret dengan lensa tele punyaku dan mengabadikan kesempatan emas tersebut.

Kami sebetulnya juga mencari peternakan di daerah itu, siapa tahu kami bisa memegang sapi-sapi langsung atau siapa tahu ada event khusus. Tapi ternyata kami tidak menemukan peternakan yang ada. Kami kemudian mencari wc dan mampir di sebuah toko/restoran tempat istirahat dan penjualan souvenir. Yang kurasa aneh, memang sih daerah di situ daerah villa, tapi baru kali ini aku membaca pengumuman di wc, “Bagi pengguna WC saja, dimohon memberikan sumbangan untuk kebersihan!”. Ya memang sih kalau tidak membeli apa-apa dan cuma mengotori wc, kasihan juga pemilik tempat tersebut. Jadi aku memberikan beberapa keping uang logam yang ada. Eh ternyata akhirnya anak-anak membeli es krim di situ. Yahhhh tahu begitu kan, tidak kasih sumbangan 😀 hehehe.

vending machine yang dirampok 😀

Begitu kami keluar tempat itu, Gen yang mau membeli minuman kaleng di vending machine tertegun. Ya, tidak bisa dibeli karena mesin itu rusak. Rusaknya adalah tempat memasukkan uang 😀 Si pemilik tempat itu keluar dan meminta maaf tidak bisa membeli di situ karena rupanya baru dirampok semalam. Waduh … memang sih kalau malam tempat itu pasti sepi sekali, tapi isi uang di situ sudah pasti tidak banyak. Paling banyak juga 20.000 yen (2 juta rupiah). Hmmm rambo juga ya.

Karena misi survey sudah selesai, kami akhirnya bersiap untuk pulang ke Tokyo, sebelum terlalu larut dan terjebak macet.

 

Rasa Aman

Aku tak tahu bagaimana teman-teman menanggapi kata “rasa aman” ini. Mungkin ada yang pesimis dan berkata bahwa rasa aman sudah hilang dari tanah air. Aku tidak bisa berkata apa-apa dan juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi aku ingin menceritakan mengenai “rasa aman” yang kurasakan 10 hari terakhir ini. Seperti yang kutulis di dalam Mama, Jangan Tidur!, ada kejadian yang menakutkan terjadi pada anak-anak SD (bukan SD Riku tapi masih sekitar wilayah kami), yaitu diserang dengan senjata tajam oleh seorang pria dewasa (yang diduga menderita kelainan jiwa). Saat itu ada 3 murid yang menjadi korban luka-luka.

Setelah kejadian itu ada kejadian lagi yang sempat masuk ke internet di Jepang, yaitu pada kamis minggu lalu. Waktu itu aku baru selesai ngajar dan baru akan naik kereta. Aku melihat ada telepon dari Gen, yang tidak biasanya. Jadi aku langsung telepon kembali dan dia bilang bahwa di internet ada berita bahwa murid perempuan SD nya Riku yang ditusuk dengan payung. “Kelas 5 juga seperti Riku. Apa kamu ditelepon?. Wah terus terang aku panik dong. Jadi ternyata pada jam anak-anak berangkat ke sekolah ada seseorang lelaki muda yang memukul ( bukan menusuk) murid SD (perempuan) dengan payungnya. 

Aku cepat-cepat menelepon ke rumah, tapi Riku tidak ada. Hmmm seharusnya sudah pulang. Untung saja aku saat itu tidak parno, dan pikir macam-macam. Sempat mau menanyakan ibu dari teman sekelas Riku yang cukup akrab, tapi aku urungkan. Pikirku, pasti Riku pergi bermain! Padahal waktu aku periksa homepage SD nya Riku ada pengumuman tentang kejadian itu dan diminta anak-anak untuk tidak keluar rumah jika tidak perlu. Dan ternyata benar setelah aku sampai di rumah, tasnya sudah ada tapi Riku sendiri pergi bermain.

Aku bisa merasa aman dan tenang, karena aku melihat homepage sekolahnya Riku yang menampilkan berita terakhir yang sangat up-to-date. Sebetulnya ada satu service yaitu pengiriman email darurat ke semua pendaftar dari sekolah. Sayangnya aku ternyata belum memperbarui pendaftaran waktu kenaikan kelas, sehingga aku tidak mendapat pemberitahuan. Lalu selain itu dari pihak sekolah juga memberikan keterangan tertulis dan dengan pesan telepon beranting bahwa pelaku sudah diketahui, tapi untuk sementara waktu anak-anak pulang harus berombongan. Lega.

Setelah kejadian itu aku mendaftar kembali untuk penerimaan email dari sekolah, dan juga pemberitahuan dari kelurahan Nerima, tempat tinggalku, berupa email jika terjadi peristiwa darurat atau peringatan lainnya. Sampai hari ini aku sudah menerima 4 pemberitahuan email dari kelurahan. Dua berita mengenai padamnya listrik di beberapa jalan di wilayah kelurahanku waktu terjadi Yudachi (hujan mendadak di sore hari)  akibat petir yang menyambar,  satu berita mengenai suhu yang amat panas dan mohon kewaspadaan terhadap Necchusho (dehidrasi). Dan satu lagi mengenai kejadian adanya seorang lelaki dewasa yang memperlihatkan kelaminnya kepada siswa SMP di tengah perjalanan ke sekolah. Memang di Jepang kadang-kadang ada lelaki eksibis yang suka mempertontonkan kelaminnya kepada wanita muda. Email itu untuk meningkatkan kewaspadaan orang tua dan muridnya sendiri jika melewati jalan-jalan yang sepi.

Ada satu lagi “layanan keamanan” yang aku rasa hebat yaitu penggunaan kartu PIT dari bimbelnya Riku. Jadi setiap dia sampai di kelas dia harus menempelkan kartu PIT itu ke sebuah alat. Saat itu aku akan menerima pemberitahuan lewat email bahwa Riku sudah sampai dan sudah masuk kelas. Demikian pula waktu pulang, dia tempel dan aku bisa tahu dia keluar jam berapa. Dengan demikian aku bisa memperkirakan dia akan sampai di rumah jam berapa. Jika lewat waktunya dari yang diperkirakan aku bisa menelepon staff dan mereka akan menelusuri jalan menuju rumah, kalau-kalau Riku mendapat halangan di jalan. Ah, rasa aman ini memang yang diperlukan oleh orang tua, dan beberapa pihak sudah mengoptimalkan penggunaan IT untuk keperluan itu. Untuk sekolah SD dan pengumuman kelurahan tentu aku tidak perlu bayar alias aku bayar melalui pajak daerah. Untuk bimbel aku memang harus bayar uang kursus, tapi selain dari pengetahuan yang didapat, bonusnya adalah rasa aman itu.

Sistem pelayanan pemberitahuan via email ini tidak hanya pada bimbel tempat Riku. Yang kutahu ada service juga dari perusahaan kereta swasta (Odakyu) yang memberitahukan orang tua waktu sang anak masuk peron secara otomatis ke email.

Sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari di sini, ada banyak “rasa aman” yang secara tidak langsung diberikan sebagai salah satu layanan kepada pengguna. Misalnya jika kereta terhenti, pasti ada pengumuman mengapa kereta terhenti atau terlambat. Atau pernah sekitar rumahku kedatangan pemadam kebakaran, dan setelah beberapa saat diberi pengumuman lewat speaker bahwa mereka datang karena katanya ada pipa gas bocor, tapi ternyata sudah bisa diselesaikan masalahnya. Apapun itu, jika terjadi sesuatu, hal yang pertama kita cari adalah “Penjelasan akan apa yang terjadi”, dan memang Jepang hebat dalam pelayanan ini. Bahkan kalau perlu “membayar” pun, aku yakin banyak yang akan “membeli” rasa aman ini. Setuju?

After 1989

Tahun 1989, aku masih mahasiswa UI, tentu saja bersama 20 teman lainnya yang masuk ke jurusan (hmmm tepatnya Program Studi) Sastra Jepang FSUI (sekarang namanya FIB). Tingkat 3 dan beberapa di antara kami berkesempatan melakukan perjalanan “karya wisata” Kengaku ryokou 見学旅行 ke Jepang bersama, mahasiswa dan dosen. Ada sekitar 20 orang rombongan kami, bersama junior –kohai, kepala program studi dan Ibu Dekan FSUI. Kunjungan dengan jadwal yang padat ke Tokyo, Nagoya, Kyoto, Osaka, Tenri terutama ke universitas yang mempunyai kerja sama dengan UI. Dan ada dua hari di antara 2 minggu perjalanan, kami menginap di rumah orang Jepang.

rombongan di depan universitas Tenri

 

Karena jumlah mahasiswanya ganjil waktu itu, aku sendirian menginap sementara yang lain berdua-dua. Ah, kalau mengingat perjalanan waktu itu, pertama kali ke luar negeri dengan teman, ke Jepang lagi….  Setelah perjalanan itu, aku belum pernah mendengar lagi ada rombongan mahasiswa angkatan ke Jepang bersama. Mungkin karena sulit mengurus, mungkin secara ekonomi mahasiswanya bisa pergi sendiri, atau alasan lain. Tapi perjalanan ke Jepang waktu itu benar-benar membekas dan mempererat persahabatan kami.

Ira selalu di sebelahku

Tahun 2013 ini, ada dua teman seangkatanku yang mengunjungi Tokyo. Dan kebetulan ada hari Sabtu yang memungkinkan aku bertemu mereka. Pertama bertemu Elfi, yang warga Palembang dan datang ke Tokyo karena suaminya sedang dinas di Tokyo. Hanya dua jam pertemuan kami, sebelum aku mengikuti misa di gereja Meguro, tapi sangat menyenangkan. Apalagi aku baru pertama kali bertemu suaminya, Mas Ansori (yang selalu diperkenalkan Elfi bahwa suaminya selalu minta maaf, alias I’m Sorry – begitu terdengarnya 😀 ). Semoga kelak aku bisa jalan-jalan ke Palembang dan berwisata kuliner dengan Elfi.

bertemu Elfi di Meguro

Kemarin malam, aku bertemu dengan kawan seangkatanku, Ira Koesnadi di Shibuya. Memang aku lumayan sering bertemu Ira di Jakarta bila aku mudik. Tapi rasanya memang lain kalau bertemu di Tokyo. Kami makan malam bersama dan ngobrol berjam-jam sampai jam kereta terakhir :D. Kebetulan aku juga cukup dekat dengan orang tuanya Ira, sehingga kami berbicara ngalor ngidul. mulai dari kenangan tahun 1989, meninggalnya papanya yang tragis, sampai membicarakan kehidupan di Jakarta sekarang yang begitu membutuhkan uang untuk pendidikan dan living. Tapi kesimpulannya, kami percaya, kami akan bisa melampaui kesulitan-kesulitan keluarga.

Bertemu Ira dan melewatkan waktu bersama dengan maksimal. Ladies Night dengan sate “bonjiri”.

Kami makan di sebuah kedai murmer bernama “Tengu” di Shibuya, dan yang ingin saya perkenalkan adalah sate ayam yang namanya “bonjiri“. Bonjiri adalah bagian  ayam yang mungkin tidak banyak yang suka, yaitu “brutu ayam” (dalam foto yang dua tusuk di piring terpisah). Dagingnya sangat lunak dan tidak bau sama sekali. Memang tidak semua toko/restoran menyediakan sate bonjiri dan cukup langka. Papa dan alm mama juga suka, sehingga sering adikku beli dan freeze sebelum dibawa ke Jakarta. Silakan coba kalau ada kesempatan ke Jepang 😉

Kenangan

Tak akan habis-habis jika membicarakan kenangan yang tiba-tiba mencuat dalam benak masing-masing. Tapi entah kenapa hari ini tulisanku dan pikiranku penuh dengan “kenangan”.

Aku menulis di FB bahwa tanggal 1 Juli pada tahun 1979 adalah hari pertama kalinya SONY merilis Walkman. Nama yang begitu terkenal karena kita bisa mendengar musik di mana saja, dan juga menjadi cikal bakal alat-alat audio portable saat ini. Aku sendiri tidak begitu ingat kapan aku pertama kali punya walkman, tapi memang pernah melihat alat ini ada di rumahku di Jakarta.

sony walkman

Kenangan yang kedua hari ini, waktu aku menggoreng emping. Kaleng KHG ku yang biasa kuisi macam-macam krupuk sudah kosong. Padahal Kai suka sekali. Jadi aku menggoreng krupuk udang dan emping. Sambil menggoreng aku ingat alm. mama….. Ya dulu mama sering makan nasi dengan emping dan kecap manis + cabe rawit. Katanya “Makanan Miskin” mel…. Atau yang paling miskin lagi nasi dengan air panas yang diberi bulyon (kaldu kotak) + sambal saus. Karena kulihat jam sudah menunjukkan pukul 12, aku ambil nasi sedikit, goreng telur mata sapi diberi kecap sambal dan emping. Ma, hari ini aku juga Makan Miskin 🙂

Makanan Miskin hari ini 😀

Sore hari, aku tiba-tiba melihat sisa whipping cream dan blueberry yang dipakai untuk buat kue Sabtu lalu. Lalu aku pikir, kalau crepe enak ya. Bersiaplah aku membuat crepe. Dan sambil menggoreng crepe itu, aku ingat pada asisten Oma Poel yang bernama Bik Imah. Dia selalu membuatkan kami crepe jika datang ke rumah. Dan crepenya enak! Tebal dan dibumbui gula + parutan kayu manis. Ah, aku teringat alm.

crepe ala WarNer

Di sekitar hidupku banyak tersimpan kenangan-kenangan kecil, dan selalu menemaniku menghadapi hari-hari baru. Rasanya aku masih muda, tapi kenapa akhir-akhir ini sering mengingat masa lalu ya? Bukan soal kangen mama, karena aku sering bermimpi bahwa mama berada di dekatku selalu. Tapi mungkin aku mulai melihat perkembangan anak-anak yang cukup pesat dan “takut” jika aku harus melepaskan mereka 🙂 Pengaruh PMS? mungkin 😀

Bagaimana “Makanan Miskin”mu? Atau kamu suka makan crepe dengan apa?