Arsip Bulanan: Mei 2013

Patah Hati :D

Beberapa hari yang lalu, Gen memberikan sebuah artikel surat kabar. “Baca deh!”…. Waktu membaca judulnya aku sudah tertawa, tapi baru sempat baca tadi pagi. Well memang ini adalah masalah ibu-ibu yang punya anak laki-laki 🙂

Judulnya, 息子に「失恋」母の傷心] awalnya karena baca sekilas kusangka artinya “Perasaan Ibu Jika Putranya Patah Hati” eh ternyata yang patah hati justru ibunya hahaha, patah hati terhadap sang putra 😀

Banyak ibu-ibu yang sudah mengalami bahwa semakin putranya beranjak dewasa, jarak akan menjadi jauh. Yang selama masih SD masih bisa dicium-cium, atau bisa mandi dan tidur bersama, lama-kelamaan tidak bisa lagi.  Apalagi kalau sang putra menampik pembicaran dengan “Mama mau tahu aja” atau “cerewet”. “Uzai ウザイ” (cerewet) atau “Kimoi キモイ” (memuakkan) adalah kata-kata hinaan jaman sekarang (slang) yang juga disebutkan kepada sang ibu. Sakit hati mendengarnya.

Rupanya ibu-ibu Jepang yang mempunyai anak lelaki, secara tidak sadar dalam kesibukannya sebagai seorang ibu, mulai “jatuh cinta” pada anak lelakinya. Setelah menikah 10 tahun lebih dan menjadi ibu rumah tangga 100% , mereka mulai bekerja part time dan mempunyai hobi sendiri. Tapi suaminya yang sibuk setiap hari membuat sang ibu kesepian. Ini menyebabkan “perhatian” beralih kepada anak lelakinya dan mencurahkan seluruh kasih sayang kepada anaknya. Sang ibu sering mengajak anak lelakinya untuk “kencan” makan berdua atau jalan-jalan di taman.  Meskipun sang ibu berusaha “menyamakan” pengetahuan dengan anaknya dengan membaca juga buku yang dibaca anaknya, atau berusaha mendengarkan musik yang disukai anaknya, tetap saja ada batasnya. Usia, pergaulan, komunikasi dan dunia sang anak semakin membuat sang ibu jauh dari anaknya sehingga sang ibu “patah hati”.

artikel dari surat kabar Asahi Shimbun

Hal ini bisa terjadi karena memang perubahan masyarakat Jepang sendiri yang membuat rata-rata seorang wanita melahirkan 1,39 anak. Jika anak hanya satu atau dua, tentu seluruh waktunya sebagai ibu dicurahkan kepada 1 atau 2 anak ini saja. Selain itu sekarang anak-anak lelaki berubah menjadi 草食系 (soushokukei) yaitu lelaki yang tidak “garang”. Kalau lihat dari kanjinya bisa diterjemahkan sebagai “pemakan rumput” dibandingkan dengan 肉食系 (nikushokukei) “pemakan daging” yang sifatnya lebih agresif. Perubahan laki-laki yang “garang” menjadi “lembut” membuat mereka lebih bisa mengerti hati wanita, sehingga bisa lebih dekat dengan ibunya. Sehingga ibu yang merasa “nyaman” dengan hubungan anak lelaki ini, akan menjadi “patah hati” jika sang anak menjauh.

Oleh psikiater disarankan kepada ibu-ibu untuk ① mengerti bahwa anaknya akan memasuki masa puber dan itu normal ② harus mempunyai kegiatan lain selain menjadi seorang ibu ③ tetap menjaga hubungan dengan suami…

Waaaah isi artikel yang kalau dipikir jauh dengan kondisiku. Aku masih mempunyai banyak hal yang harus dipikirkan selain anak-anak, keluarga, pekerjaan, hobi termasuk ngeblog 😀 TAPI aku bisa mengerti dan memahami bahwa akan ada suatu saat waktu seorang ibu harus melepaskan anak(-anak) lelakinya untuk memulai kehidupan sendiri.

Tadi pagi aku sempat memeluk Riku di depan pintu sebelum dia pergi sekolah, lalu dia sambil tertawa berkata “Uzai” “Kimoi”, aku hampir marah, tapi untung aku ingat, dia juga membaca artikel koran itu. Rupanya dia menggoda aku! Huh, aku cubit dia tapi dia sempat lari masuk ke lift. Memang sudah mulai ada jarak antara aku dan Riku. Dia maunya mandi sendiri, lalu sudah mulai memilih baju sendiri, tidak suka dengan baju pilihanku. Atau kadang-kadang dia tidak makan makanan yang kusediakan karena tidak suka. Tidak bisa lagi kumarahi kalau tidak makan seperti dulu.  Dia tentu saja sudah bisa belanja, bepergian atau menunggui rumah sendiri. Rasanya aku sudah tidak diperlukan selain untuk masak dan membereskan rumah 😀

Aku senang karena masih ada Kai. Dia masih mau tidur dan mandi bersamaku. Atau dia masih mau mencium pipiku dan memelukku meskipun sudah malu kalau di depan umum. Tapi dia juga sudah mulai “besar” dan bertanggung jawab. Dia sering memarahiku kalau lupa atau membiarkan lampu menyala. “Boros kan ma…” Atau dia selalu  bertanya, “Mama tidak apa-apa?” kalau mendengar aku batuk atau bunyi “gubrak” waktu aku menjatuhkan sesuatu. Kadang aku peluk dia erat-erat dan berkata, “Aduh tahun depan Kai sudah SD, mama tidak bisa begini lagi ya?” Dan… tahu dia jawab apa?
“Aku akan terus tidur sama mama”
“Loh sampai kapan?”
“Sampai aku gede!”
“Ngga bisa dong, Kai harus bisa tidur sendiri kalau sudah gede!”
Aku sebetulnya mau gangguin dia…. “Kan kamu suatu waktu juga akan menikah” tapi aku diamkan saja dulu. Karena kalau aku bilang sekarang, sudah pasti jawabannya, “Aku tidak mau menikah!” (Dia pernah bilang mau jadi pastor :D) hahahaha

Akankah aku “patah hati” … hmmm let say, 5 tahun lagi? Mungkin! Tapi aku akan bersiap-siap mencari kesibukan baru jika anak-anak sudah besar. Mau belajar membuat keramik, mau belajar melukis, atau mau treking sambil hunting foto. Tapi yang pasti aku mau ngeblog terus 😀

Tapi sebetulnya yang susah itu justru kalau anak-anak lelakiku patah hati ya? Jangan-jangan aku ikut “patah hati” jika mereka patah hati 😀 hihihihi

 

Bukitpun Kan Kudaki!

Jangankan emas permata sesen pun aku tak punya
Tapi jangan kau sangka aku tak kan gembira
Walau semua itu tak ada
Hidupku untuk cinta
Tlah terbalas cinta
Inilah bahagia oh oh oh

Gunung pun akan kudaki lautan kusebrangi
Asalkan kudapati cinta kasih abadi
Permata aku tak peduli

(Titik Puspa)

Enak sih kalau bisa bilang: “Siapa takut?” pada mendaki gunung. Hmm, sebetulnya AKU yang takut mendaki gunung. Selain takut karena merasa tidak pede akan kemampuan badan untuk mendaki, aku pun sebetulnya takut ketinggian. Phobia terhadap ketinggian! Tapi sejak tinggal di Jepang 20 tahun lalu, lama kelamaan aku bisa mengatasi rasa takut itu, tergantung ketinggiannya juga sih :D. Waktu menaiki gunung Nokogiriyama setinggi 330 meter yang pernah kutulis di sini, aku merasa payah. Payahnya karena semua berupa tangga yang cukup tinggi dan terjal, sehingga membuat aku takut tanpa berpegangan. Takut jatuh, sehingga rasanya aku mau merayap saja deh. 

Hari Minggu tanggal 12 Mei, persis Mother’s Day, sesudah dari gereja, kami pergi ke bekas kastil Hachiouji. Tadinya kupikir kami akan pergi ke Gunung Takao, ternyata Gen mencari di website dan mengetahui bahwa di dekat Takao, tepatnya di Hachiouji baru sebulan yang lalu dibuka rekonstruksi situs bekas kastil Hachiouji yang terbakar waktu jam perang saudara (terbakar/runtuh tahun 1590-an). Kebetulan Riku sedang getol-getolnya belajar serajah sehingga mengenal nama-nama tokoh yang meninggal di situ. Karena tempat itu berbukit-bukit, maka Gen juga membawa jala untuk menangkap kupu-kupu.

Situs rekonstruksi Hachiouji Castle

Kami parkir di tempat yang disediakan (parkir dan tanda masuk gratis semua) dan sebelum mendaki, kami pergi dulu ke pusat informasi yang terletak di sebelah lapangan parkir. Di situ kami melihat maket tempat-tempat yang diharapkan didatangi pengunjung, dan tidak lupa membawa peta bekas situs kastil Hachiouji. Tak lupa ke wc dulu, karena di atas gunung pasti tidak ada wc yang bersih. Gedung ini baru dan wcnya sangat modern.

peringatan awas ular, dan bunga wisteria ungu yang mendompleng pohon-pohon besar dalam hutan

Mulailah kami menyusuri bukit menuju ke rekonstruksi kastil Hachiouji. Untuk menuju ke sini tidak ada tangga atau bukit yang curam, semuanya landai TAPI di beberapa tempat terdapat peringatan “Hati-hati ular”, yang membuat takut juga. Setelah melintasi jembatan, jalan berbatu dan gerbang kayu, kami sampai di pelataran luas dengan beberapa batu yang diletakkan untuk menunjukkan bentuk kastil saat itu. Tapi ini baru tempat awal, karena sebetulnya pusat dari kastil ini ada di atas bukit, dan untuk itu  kami harus mendaki kira-kira 30 menit. Memang ada jalan untuk hiking, tapi bukan berupa semen, dan lebarnya hanya satu meter, sehingga aku cukup ngeri mendakinya. Yang hebat Kai, karena dia melesat sendirian ke atas, sambil sesekali menunggu kami 😀 Duh itu anak memang sih yang paling kurus dan lincah serta tidak ada rasa takut. Untung juga Riku tidak takut untuk mendaki meskipun jika kalau disuruh naik roller coaster dia tidak suka.

sampai juga ke puncak 400 sekian meter 😀

Akhirnya sampai juga sih di atas bukit, tempat Honmaru atau pusat kuil Hachijoji Castle berada di ketinggian 445m dan cukup terhibur melihat pemandangan ke arah kota Hachiouji di bawah. Tentu saja dengan menggeh-menggeh kehabisan nafas 😀 tapi aku merasa senang, waktu beberapa kali berpapasan dengan orang yang sedang turun, kebanyakan mereka menyapa “Konnichiwa”…. ah orang Jepang memang sopan-sopan.

Acara turun memang lebih cepat dari pada waktu mendaki, tapi cukup ngeri karena takut terpeleset karena pijakan masih ada beberapa tempat yang tanah merah. Aku memang bukan pendaki gunung deh, tapi aku harus memuji diriku sendiri, karena meskipun tidak berani dan tidak kuat, masih mau berusaha mendaki. Yang penting kan usahanya dulu ya. ngeles.com hihihi

Hari itu capek sekali, sehingga kami bermaksud untuk makan malam di luar saja. Dan mengikuti permintaan Riku, dia ingin makan sushi di dekat rumah kami. Tapi salah juga sih karena kami sampai di restoran itu pukul 7 malam, dan sudah banyak tamu yang menunggu. Kaget juga melihat begitu banyak orang, tapi bisa dimaklumi karena hari itu adalah Mothers Day. Kami baru bisa duduk dan makan setelah menunggu satu jam. Karena sudah capek kami tidak mau bersusah payah mencari restoran lain, dan dengan sabarnya menunggu. Hari Ibu yang melelahkan tapi menyenangkan.

sushi hari ibu 😀 Ada mawar mininya

 

Anggur dan Lukisan

Setelah dari Takeda Jinja, kami menuju ke  Tomi no oka Winery milik perusahaan Suntory. Aku sempat bilang pada Gen, “Loh waktu itu bukannya kita sudah pernah ke Suntory juga?” Ternyata waktu itu pabrik air mineral dan whisky, sekarang ini adalah pabrik…. tempat pembuatan anggur/ wine.

Setelah melewati perbukitan yang begitu sepi, tanpa terlihat ada satu mobilpun, kami sampai di pintu gerbang Tomi no oka Winery. Hujan rintik masih turun, dan kami dihadang oleh satpam winery itu, kami katakan bahwa kami belum mendaftar untuk berkunjung ke winery, tapi kalau bisa on the spot, ingin ikut. Oleh satpam kami diberitahu bahwa tentu bisa ikut rombongan untuk berkunjung ke winery dan kebetulan 10 menit lagi ada grup yang akan berangkat. Gratis dan karena hujan pesertanya sedikit, jadi kami bisa join. Tapi lain kali daftar dulu ya. “Yes, sir!” Kami cepat-cepat memarkirkan mobil, ambil payung dan menuliskan nama dalam buku tamu. Kami diberi tanda masuk untuk dikalungkan di leher, tapi khusus untuk Gen ada kalung lain yang bertuliskan bahwa dia menyetir mobil jadi TIDAK BOLEH sama sekali mencoba atau mendekatkan mulutnya ke wine. Selain itu anak-anak tentu karena belum cukup umur (belum 20 th) tidak boleh juga minum atau mencoba wine. Jadi… cuma mama Imelda yang bisa coba, karenanya Gen mengatakan : Selanjutnya kita menyenangkan mama.

Tomi no oka Winery. Kai setiap melihat box telepon seperti di Harry Porter dia kegirangan.

Rombongan berangkat dari dekat lapangan parkir, dan sebelum pergi ke penyimpanan anggur, kami melihat video pembuatan  wine dulu. Kalau masih pagi, sebetulnya kami bisa berkunjung dari melihat perkebunan anggurnya, lalu pabrik pembuatannya juga. Tapi karena sudah jam 3, kami cuma bisa melihat video dan kemudia pergi ke penyimpanan anggur yang telah diolah. Baru tahu dari video itu bahwa untuk wine putih, buah anggur putih dikupas dulu kulitnya, dan yang dipakai cuma daging buahnya. Sedangkan untuk wine merah, anggur merah tidak dikupas kulitnya, seluruh buah dipakai. Daging, kulit dan bahkan bijinya dihancurkan lalu disaring. Setelah ditambah biang fermentasi baru dimasukkan ke dalam tong-tong kayu. Kami kemudian melihat penyimpanan tong-tong kayu berisi wine yang belum jadi di sebuah gudang yang berada di dalam bukit.

menonton video pembuatan wine dan melihat gudang penyimpanan wine

Karena berada di dalam bukit, seperti di dalam gua, suhu udara bisa dijaga sampai sekitar 15 derajat sepanjang waktu secara alami. Memang sedikit dingin saat kami memasuki gudang tong-tong fermentasi pertama itu. Setelah itu wine dalam tong dipindahkan ke dalam botol, yang sebetulnya di dalam botolpun wine ini akan berfermentasi terus. Waktu memasuki gudang botol, terlihat rak-rak botol kosong karena wine yang sudah berusia 3 tahun sudah dijual. Dan diujung lorong penyimpanan botol, kami melihat botol-botol hasil winery Tomi no oka. Yang paling mahal dan paling enak (konon) berwarna kuning emas sebelah kiri atas. Waktu kami lihat harganya di toko di dalam winery seharga 50.000 yen (5 juta rupiah satu botol) waaaah siapa yang mau beliin untukku? 😀

Memang setelah selesai melihat penyimpanan wine itu, rombongan bubar, dan kami diminta untuk menaiki mobil kami masing-masing menuju shop, untuk mencoba wine yang diproduksi. Shop itu terletak di perbukitan menghadap perkebunan anggur dan gunung. Sayang sekali waktu itu hujan sehingga berkabut dan tidak bisa melihat jauh. Padahal kalau cerah pasti indah pemandangannya. Akupun menemukan beberapa jenis bunga yang belum pernah kulihat di Tokyo. 

Kai di jalan menuju wine shop

Di dalam shop, peserta kunjungan bisa mencoba 3 jenis wine yang disediakan. Rosso yang hanya dijual di tempat itu seharga 1890 yen, manis fruity, sedangkan wine lainnya putih dan merah aku tidak begitu suka. Salah juga sih si waiter memberikan wine manis duluan padaku 😀 memang hanya aku yang bisa mencoba minum wine, karena aku sudah dewasa dan tidak menyetir mobil. Dan yang kurasa bagus, waiternya sempat menegur dengan keras seorang kakek yang memakai kalung pertanda dia menyetir. Kelihatan memang dia ingin sekali minum, sampai dia tanya ke istrinya bagaimana rasanya dan sempat mendekatkan gelas ke hidungnya. Nah, memang pengendara mobil sudah diwanti-wanit dari awal, bahwa TIDAK BOLEH mengendus gelas sama sekali (karena itu awal ingin minum, tinggal selangkah lagi bisa tegak sekaligus kan) . Waiter itu sampai bilang, “Maaf pak, kalau tidak bisa patuh, pulangnya harus naik taxi loh. Jangan main-main. ” Memang mereka juga bertanggung jawab kalau sampai si kakek minum dan tetap mengendarai mobil. Peraturan untuk supir yang dalam pengaruh alkohol tapi masih menyetir di Jepang sangat ketat. Pemberi minuman, pelayan toko dan teman penumpang mobilnya akan ikut mendapat hukuman. Disiplin itu harus berada dari diri kita dan perlu dukungan sekitarnya.

Wine shop di depan perkebunan anggur dengan pemandangan menghadap gunung yang indah.

Karena lokasi ini cukup membosankan bagi anak-anak, akhirnya kami cepat-cepat pulang ke parkiran, dan menuju ke Museum Seni Yamanashi. Rupanya Gen ingin memperlihatkan lukisan Millet (Jean-François Millet, pelukis perancis) yang terkenal kepada Riku. Museum ini sejak dibuka 1978 memang terkenal sebagai museum Millet. Kami sampai di museum itu sudah pukul 4:30 lebih, tapi masih diperbolehkan masuk ke museum yang tutup pukul 5. (sebetulnya tidak bisa lagi beli karcis jika sudah pukul 4:30, tapi entah Gen mungkin bicara bahwa kami dari Tokyo). Harga karcis untuk dewasa 310 yen, untuk anak-anak 100 yen. Tidak mahal jika dibandingkan dengan pameran khusus yang biasanya 1800 yen/orang dewasa.

hasil karya Millet yang kuketahui

Lukisan Millet yang kuketahui cuma sang penabur (The Sower) dan pemandangan wanita yang sedang bekerja di ladang (The Gleanders). Lukisan The Gleanders ini pertama kali kulihat di Museum Louvre, Paris, sedangkan penabur aku tidak melihat langsung. Senang juga bisa melihat kedua lukisan ini dari dekat. Rupanya memang kedua lukisan ini (dan satu lagi The Angelus) merupakan lukisan Millet yang paling terkenal. Waktu kucari keterangan tentang Millet, kuketahui bahwa Millet bersama Rosseau mendirikan Barbizon School, yaitu sebuah aliran baru yang berpusat di daerah yang bernama Barbizon di pedesaan Perancis. Sedangkan kalau dilihat dari pengelompokan jenis lukisan, lukisan Millet bisa dimasukkan dalam kategori Realisme dan Naturalisme.

Sayang aku tidak bisa berlama-lama menikmati lukisan-lukisan Millet, dan lukisan pelukis Barbizon lainnya, karena aku harus menemani Kai. Ya, Kai belum bisa mengerti, mengapa harus melihat sebuah gambar berlama-lama, dalam sunyi, tak boleh bercakap-cakap dengan suara keras, dan jalan juga musti pelan-pelan, tidak boleh lari. Museum memang BUKAN tempat yang cocok untuk anak TK 😀 Tapi sebaiknya anak-anak juga dikenalkan pada lukisan dan barang-barang berharga/bersejarah  sedini mungkin sehingga bisa menghargai seni dan sejarah suatu bangsa. Jadi sementara Riku dan papanya menikmati lukisan, aku dan Kai berjalan agak cepat mengelilingi museum dan pameran khusus lain, kemudian menunggu mereka di lantai bawah. Bagi Riku dan Kai ini merupakan pengalaman pertama mengunjungi museum seni.

Yamanashi Art Museum

Persis pukul 5 sore, kami keluar museum itu dan berfoto di depan museum. Hari itu kami, terutama Gen puas karena bisa memenuhi rencana kunjungan ke tiga tempat. Takeda Jinja, Tomi no oka Winery dan Yamanashi Art Museum.

 

 

 

Yamanashi, Prefektur Tanpa Laut

Kalau berbicara tentang Yamanashi, bagi yang sudah tahu Jepang, tentu mengetahui bahwa Yamanashi terletak di pegunungan dan mengaku juga empunya separuh dari gunung Fuji, dan merupakan prefektur (semacam propinsi di Indonesia) yang tidak mempunyai laut. Bagi yang pernah belajar bahasa Jepang tentu tahu bahwa penggunaan ~nashi berarti tanpa ~. Nah kalau melihat nama Yamanashi, prefektur ini bukannya tanpa yama (gunung) tapi malahan tanpa umi (laut), sehingga seharusnya namanya menjadi Uminashi 😀 OK OK ini hanyalah dajare, lelucon (tidak) lucu.

Hari Sabtu kemarin, aku terbangun pukul 5 pagi. Setelah membuat sarapan untuk Riku, aku membangunkan Gen pukul 7 karena kusangka dia kerja hari itu. Ternyata dia libur! Wah, kalau begitu aku bisa tidur lagi dong 😀 Jadilah aku tidur di samping Kai yang masih terlelap sekitar pukul 7:30. Jam 9, aku lihat Kai terbangun dan keluar, tapi kupikir… ahhh kapan lagi bisa tidur sampai siang. Tahu-tahu jam 9:30 aku dibangunkan Gen. “Mel bisa bangun? Kalau bisa aku mau ke Yamanashi…”
“Kan hujan hari ini?”
“Ada 3 tempat yang aku mau kunjungi, dan tidak apa kalau hujan”
“OK….” Aku bangun dan bersiap cepat-cepat karena aku cuma punya waktu 30 menit. Gen rencana berangkat jam 10 pagi, supaya bisa sampai di Yamanashi pukul 12:30 an. Katanya jalan tol hari ini tidak macet, mungkin karena orang tahu bahwa hari ini hujan, jadi tidak berencana keluar rumah 😀

Dan… highway memang lancar jaya… Yang biasanya macet, bisa kami lewati dengan kecepatan sampai 110 km/jam. Wah seperti mimpi. Bahkan ketika kami sampai di Parking Area eh Service Area (bedanya kalau Service Area ada pompa bensin segala) Dangozaka, tetap lancar. Padahal katanya tempat itu  terkenal macetnya. Dan tempat ini lumayan besar karena ada beragam restoran dan bakery. Kai langsung berkata, “Aku lapar! Aku mau makan soba” Well, memang Kai dan Gen tidak sempat sarapan, jadi meskipun waktu itu baru sekitar pukul 11 lebih, kami makan siang sajalah.

Takeda Jinja, KOFU, Yamanashi prefektur

Setelah kami isi “bensin” , kami melanjutkan perjalanan dan sampai di pusat ibu kota Yamanashi, KOFU, kami langsung pergi menanjak menuju Takeda Jinja. Jinja adalah kuil Shinto, dan Takeda adalah nama seorang pembesar daerah, daimyo yang terkenal pada jaman Sengoku. Kebetulan Riku sedang gandrung membaca buku-buku mengenai pahlawan-pahlawan Jepang jaman dulu yang terdapat di perpustakaan (seperti yang sudah kutulis dia kan wakil ketua seksi perpustakaan OSIS di SDnya), sehingga dia bisa bercerita siapa itu Takeda Shingen dengan papanya. Wah senang deh rasanya mendengar mereka berdua bercakap-cakap di mobil. Aku juga suka sejarah (dan memang spesialisasiku sejarah Jepang khususnya jaman Tokugawa) tapi aku tidak tahu detil ceritanya seperti orang Jepang yang sudah  belajar sejarah Jepang dari kecil. Lama-lama aku ketinggalan deh pengetahuannya dibanding Riku.

Pernikahan ala Jepang tradisional di Jinja

Dan kebetulan waktu kami ke Jinja itu, ada pasangan pengantin Jepang yang merayakan upacara pernikahannya di Jinja itu. Aku sempat memotret iringan pengantin itu sebelum mereka masuk ke bagian dalam Jinja, yang hanya bisa dilihat oleh anggota keluarga saja (eh tapi aku pernah loh masuk ke bagian dalam jinja waktu menjadi penerjemah seorang wanita Indonesia yang menikah dengan orang Jepang secara Shinto). Setelah melihat-lihat jinja, kami juga masuk ke museum yang memamerkan sejarah keluarga Takeda, termasuk pedang dan pakaian perangnya. Sayang kami tidak boleh berfoto di dalam museum itu. Untuk masuk museum kami harus membayar 300 yen untuk orang dewasa.

shishimai yang mengambilan omikuji, kertas ramalan untuk Kai. Satu kertas 200 yen

Di depan museum kecil itu terdapat kotak kaca berisi shishimai (barong) yang bisa mengambilkan surat ramalan omikuji. Memang kalau ke Jinja biasanya orang akan membeli kertas omikuji yang berisi ramalan keberuntungan tahun itu. Jika bagus biasanya diikat di tempat yang disediakan dengan doa semoga dikabulkan. Yang aku baru lihat adalah tempat memasang kertas penamaan bayi. Maklum dulu waktu kami menentukan nama Riku dan Kai tidak pakai tulis di kertas begitu sih (kami juga tidak pergi omiyamairi, kunjungan pertama ke kuil Shinto 😀

bagian bawah: omikuji (ramalan kehidupan) dan meimeisho (kertas penamaan bayi)

Waktu kami datang ke Takeda Jinja ini hujan masih rintik-rintik, tapi lama kelamaan menderas, sehingga harus pakai payung. Sebelum pergi dari kuil itu kami sempat mampir ke toko souvenir dan membeli es krim rasa anggur. Daerah Yamanashi memang terkenal sebagai penghasil buah anggur. Enak!

softcream rasa anggur… oishiiiiii

Riku membeli sebuah pedang katana yang terbuat dari kayu dengan uangnya sendiri. Melihat itu Kai juga ingin beli, tapi karena Kai tidak punya (dan tidak bawa) uang, kami tidak berikan dia beli pedang. Nah, berantem deh 😀 Sulit memang untuk memberikan pengertian pada Kai, bahwa tidak semua yang dimiliki Riku itu cocok dan baik untuknya. Itu yang selalu harus kami tanamkan pada Kai, sehingga meskipun berkelahi, kami tetap tidak membelikan pedang untuk Kai. Kalau kami belikan, kata Gen, “Perang Saudara Jepang akan terjadi di Nerima” hahaha

Setelah dari Takeda Jinja, kami memasuki mobil untuk pergi ke tujuan berikutnya, yang katanya Gen untuk menyenangkan mama (setelah menyenangkan Riku, giliran mamanya). Yeay!

Berfoto di depan patung Takeda Shingen yang terdapat di alun-alun kota, sebelah stasiun, bukan di Jinja

Berlanjut~~~

Kenali Sekitarmu

Salah satu cara untuk menikmati liburan adalah dengan jalan-jalan, jalan kaki atau naik sepeda di daerah sekitar rumah tinggal. Ini sering kami lakukan jika malas keluar rumah seharian, atau ada acara lain yang menyisakan waktu kosong hanya setengah hari. Ya antara lain Gen mengajak anak-anak pergi ke taman dekat rumah untuk menangkap kupu-kupu. Karenanya aku juga senang membaca tulisan bu Enny yang berjalan-jalan di daerah Toyohashi, di sekitar kampus anaknya, dan tetap enjoy. Berwisata tidak harus jauh dan mahal kok.

Tapi tanggal 6 Mei yang lalu, karena kami menginap di rumah mertua, tanpa membawa apa-apa, tanpa mobil, tanpa bat baseball, tanpa jaring kupu-kupu, kami mati kutu di rumah paginya. Seperti biasa kami memang tidak pernah bangun siang. Paling siang pun jam 9 pagi. Padahal tanggal 6 itu, pukul 9 pagi kami bahkan sudah selesai sarapan. Sarapan bermacam roti yang ibu mertua dan aku beli di toko yang berbeda-beda. Aku memang suka roti, jadi senang sekali bisa mencoba berbagai jenis roti. Kalau anggotanya banyak, kan roti bisa kita potong kecil-kecil untuk sekedar tahu rasanya. Makanya aku sempat upload foto di FB dan memberinya judul “Bread Day @Yokohama”, yang kemudian disangka sahabatku, Whita, Bread Day itu nama cafe di Yokohama 😀

berbagai jenis roti yang kami beli dan makan untuk sarapan pagi

Sesudah makan, anak-anak terus di depan TV, dan Gen merasa sayang kok hari yang cerah harus dilewatkan di dalam rumah. Di depan TV lagi. Jadi dia mengajak anak-anak pergi. Awalnya Riku tidak mau ikut, karena kakeknya tidak ikut. Kai sih sejak awal sudah semangat untuk jalan-jalan. Anak itu memang atlit deh 😀 Hmmm lalu aku merasa, mungkin kalau aku ikut Riku akan mau juga ikut. Dan tiba-tiba neneknya Riku, A-chan juga mau ikut. OK jadi kami berlima bersiap untuk jalan-jalan, osampo dekat rumah. Aku tak lupa membawa kamera dan dompet kalau-kalau perlu membeli sesuatu.

rumah-rumah sepanjang perjalanan. Ngeri ya nangkring gitu. Kanan bawah adalah peringatan jika terdengar sirine spy menjauhi sungai

Kami berjalan menyusuri sungai yang melintasi daerah Kohoku, jalan terus sampai akhirnya memotong highway yang biasanya kita pakai untuk datang/pergi ke Yokohama. Wah lumayan jauh nih jalannya. Tapi, sebenarnya kita mau ke mana sih?

Tadinya Gen pikir untuk menuju ke stasiun terdekat lalu pulang ke rumah naik kereta. Tapi A-chan bilang bahwa ada sebuah course jalan di dekat situ yang akhirnya akan menuju ke sumber air sungai. Jadi kami menuju ke tempat itu, saat itu saja kami sudah berjalan sekitar 3 km.

peta dan papan permulaan course jalan kaki sepanjang 8 km. Kiri bawah stroberi beruang, semacam raspberry yang tumbuh di sepanjang jalan. Kanan bawah bunga dari sebuah pohon yang besar

Ternyata memang ada course jalan kaki yang dibuat oleh pemerintah daerah, melewati taman-taman, apartemen yang semuanya sudah di pavement. Di sepanjang jalan ditanam pohon dan bunga-bunga, meskipun tidak terlalu teratur, cukup menghibur orang yang berlari/jogging lewat course itu. Aku sempat menemukan buah semacam raspberry yang namanya Jepangnya Kumaichigo (stroberi beruang). Atau menemukan burung pelatuk yang hinggap di pohon, terbanng berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Course itu sendiri sepanjang 8 km, tapi kami hanya sampai di tengah-tengah kolam (sekitar 4 km).

akhirnya sampai di kolam luas dan sebuah rumah tradisional kuno

Kolam yang cukup luas itu sebagian dipenuhi oleh tanaman teratai dan bebek-bebek. Banyak lansia yang duduk-duduk di sekitar kolam sambil bercakap-cakap di bangku yang tersedia. Di situ juga ada rumah tradisional kuno yang dilestarikan. Matahari mulai tinggi dan panas! Riku sudah ribut bertanya, abis ini kita ke mana…. Memang sudah waktunya untuk makan siang, tapi waktu kami pergi ke restoran Italia yang ada di dalam taman, ternyata sudah penuh. Jadi kami mengarah ke stasiun untuk akhirnya masuk ke dalam restoran Jepang. Menu makanan juga sudah sedikit pilihannya. Yang kasihan pesanan Riku, yang sudah peko-peko (lapar berat), datangnya paling akhir 😀 Tambah manyun deh dia 😀

woodpecker 😉

Selesai makan, kami naik kereta dan pulang ke rumah mertua. Lumayan juga kami melewati 4 stasiun rupanya. Dan perlu diketahui rumah mertuaku ini berada di atas bukit, sehingga dari stasiun masih harus mendaki lagi ke atas 😀 Yang hebat si Kai, tanpa istirahat dia jalan terus loh… dan tidak mengeluh sama sekali.

Tadinya kupikir begitu sampai di rumah mertua, istirahat sebentar, lalu kami pulang ke Nerima. Makan malamnya di jalan pulang saja. Eh, ternyata istirahatnya kebablasan sampai akhirnya kami makan malam di yokohama lagi.

Tapi meskipun capek, puas rasanya bisa menaklukan daerah sekitar rumah dan terutama menaklukkan keinginan diri untuk bermalas-malasan di rumah 😀

Sailor Kid

Tanggal 5 Mei adalah hari Anak-anak Laki-laki di Jepang. Sebetulnya karena tanggal 3-4 Mei, kami sudah berada di Yokohama, bisa saja kami melanjutkan menginap di rumah mertua dan melanjutkan jalan-jalan di daerah Yokohama. Tapi karena tanggl 5 itu hari Minggu, Riku harus mengikuti sekolah minggu di gereja, dan aku pun harus hadir karena ada pertemuan orang tua murid dari anak-anak sekolah minggu. Kebetulan yang menjadi penasehat sekolah minggu adalah Pastor Ardy yang orang Indonesia, jadi tentunya aku harus memberikan support dong:D. Apalagi Kai yang kuajak ke gereja, karena merasa sudah akrab dengan pastor, dia duduk di sebelah kanan pastor 😀 Sok teu 😀

Setelah selesai mengikuti rapat sekolah minggu, Gen bergabung dan kami berjalan menuju stasiun. Kami memang mau memakai kereta api untuk jalan-jalan hari itu, dengan tujuan ke Minato Mirai di Yokohama. Parkir di Minato Mirai itu sulit dan mahal! Jadi lebih baik naik kereta yang lebih pasti. Setelah makan siang di Sukiya (restoran gyudon -nasi dengan tumis daging yang murah meriah), kami memulai perjalanan hari itu.

Untung saja kami datang di Yokohama Port Museum itu pas sebelum jam 2:30, jadi kami bisa ikut mendaftarkan anak-anak untuk mengikuti latihan memasang layar di kapal Nippon Maru, yang merupakan kapal pelatih. Untuk ikut acara ini sih gratis, tapi kami harus membayar harga masuk ke kapal seharga 600 yen untuk orang dewasa.

Latihan memasang layar untuk anak-anak

Tepat pukul 3:00 siang, kami berkumpul di geladak kapal dan karena pesertanya cukup banyak, maka orang tua tidak ikut memasang layar, cukup anak-anak saja. Itupun tidak semua layar dikembangkan. Hanya satu layar di bagian bawah. Kalau semua layar dikembangkan, katanya berbahaya untuk anak-anak karena harus memanjat. Yang diajarkan waktu membuka layar itu, bahwa menarik tali itu perlu banyak orang, tenaga dan keseragaman gerakan. Jadi ingat sih dulu waktu bermain ke sini waktu Riku masih kecil, kami melihat ‘pertunjukan’ mengembangkan layar oleh para kadet, dan indah sekali gerakan, juga  pemandangan layar terkembangnya.

bagian dalam kapal pelatih Nippon Maru

Sesudah acara memasang layar untuk anak-anak ini, kami bisa mengelilingi dalamnya kapal Nippon Maru. Memang Riku untuk kedua kalinya melihat dalamnya Nippon Maru, tapi Kai baru pertama kali sehingga dia mau melihat SEMUA, dan tertarik pada semuanya. Dia juga sempat bergaya mengemudikan kapal loh.

Riku dan Kai juga mencoba memakai baju kapten 😀

Setelah selesai, Gen dan anak-anak masuk ke museum pelabuhan Yokohama yang persis terletak di depannya (harga karcis 600 yen tadi sudah termasuk tanda masuk ke museum juga). Aku beristirahat di pelataran depan Nippon Maru sambil memotret yang bisa dipotret. Lama-kelamaan terasa dingin karena angin mulai bertiup, dan aku baru sadar bahwa jaketku ketinggalan di restoran Sukiya tadi :D. Untung masih ada syal, sehingga cukuplah untuk menutup leher.

Kembali berjalan ke stasiun, kami melihat bahwa di rotari sekitar tangga ada seniman jalanan  daigeido 大芸道 sedang bermain dengan api. Cukup menarik yang dibawakan sehingga cukup banyak orang yang berkumpul. Karena Kai kecil dan tidak bisa melihat, dia digendong papanya di pundak sehingga bisa menonton, sedangkan Riku sudah menyelinap ntah ke mana untuk menonton. Aku akhirnya naik tangga dan menonton dari atas. Ah, aku memang suka Yokohama! Kota pelabuhan yang modern dan bernafaskan luar negeri (baca: western).

menonton atraksi seniman jalanan

Setelah si seniman selesai, seperti halnya pengamen di sini, dia mengumpulkan uang, tapi bagi yang mau memberi saja. Aku lihat Riku diberikan uang oleh papanya, dan dia pergi ke kerumunan orang untuk memberikan kepada si seniman. Setelah itu kami berjalan ke stasiun dan naik kereta untuk pulang…. ke rumah mertua karena esoknya tanggal 6 Mei juga libur. Dan acara kami tanggal 6? nanti kutulis terpisah ya 🙂

 

Liburan Tanpa Rencana

Memang bukan baru kali ini sih, deMiyashita berlibur tanpa rencana. Sering! Kami namakan Nariyuki 成り行き : Jalan seenaknya kemana kaki (dalam hal ini biasanya sih mobil) melangkah. Nah pada libur Golden Week part 2 yaitu dari tanggal 3-4-5-6 Mei, kami juga nariyuki lagi deh. Tapi yang pasti Riku ingin menginap di rumah kakek-neneknya di Yokohama pada tanggal 3 Mei, jadi kami pergi ke Yokohama hari itu. Memang Riku amat sayang pada kakek-neneknya, dan hanya untuk datang saja, dan berada bersama mereka, Riku sudah senang. Aku pun bahagia melihat anak-anak sayang pada kakek-neneknya. Ternyata cukup banyak loh orang Jepang (ibu-ibu Jepang) modern yang tidak suka mempertemukan anak-anak mereka pada mertuanya (orang tua suami). Heran ya? Tapi itu kenyataan 🙂

 

berburu kupu-kupu di dekat rumah

Tapi sebelum berangkat ke rumah mertua, aku mesti siap-siap barang yang mau dibawa, sehingga Gen mengajak anak-anak mencari kupu-kupu di sekitar rumah kami. Lumayan dapat satu jenis kupu-kupu yang belum kami punyai specimennya yang ditangkap Riku. Kai juga sempat menangkap kupu-kupu tapi dilepas karena sudah punya specimennya. Setelah kembali ke rumah baru kami pergi ke Yokohama pada tanggal 3 Mei dan menginap di Yokohama. Tapi sebelumnya aku sempat mampir ke rumah adikku yang juga tinggal di daerah Yokohama untuk mengantarkan makanan Indonesia yang kumasak beberapa hari sebelumnya. Maklum dia wanita karir dan tidak masak sendiri, dan sebagai kakak yang baik…. hehehe. Sesampai di rumah mertua, kami makan malam bersama dan tidur. Nah keesokan harinya, cerah sekali. Sayang kalau dilewatkan di rumah saja, sehingga kami sepakat keluar rumah. Ntah kemana yang penting keluar rumah.

Kami mengarah ke semenanjung Miura. Tadinya kami ingin pergi ke Anjin, mungkin kalau pernah nonton film Shogun, orang Inggris yang bernama Wiliam Adams yang diceritakan pada film itu nama Jepangnya Anjin san. Nah konon di tempat itulah dia membangun kapal untuk pulang. Sayang kami tidak sampai ke sana karena berhenti-berhenti di tempat lain. Nanti lain kali ingin juga melihat daerah yang bersejarah itu.

kupu-kupu dan laba-laba yang kutemukan di taman PA Yokosuka. Kiri atas, mobil reklame dengan minuman kaleng di atasnya. Kanan bawah tempat charge utk mobil listrik

Tempat perhentian pertama kami adalah Parking Area dari highway di Yokosuka. Tempat para supir beristirahat makan, minum atau pergi ke toilet. Ada dua hal yang menarik kami temukan di PA ini, satu adalah adanya sebuah kolam tempat capung-capung berkumpul. Aku menemukan kupu-kupu cantik di sini. Ini merupakan fenomena menarik yang aku pelajari dari Jepang, yaitu meskipun mereka membangun fasilitas gedung untuk manusia, mereka tetap membiarkan beberapa tempat alami untuk habitat yang ada di situ. Kadang malah dibuat taman yang indah di sampingnya. Orang Jepang memang top dalam hal memadukan kedua unsur ini, buatan dan alami.

Yang kedua adalah tempat charge untuk mobil listrik. Aku takjub melihat bahwa mereka pun sudah menyediakan jasa seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana cara pembayarannya, apakah dihitung per waktu atau per energi yang dicharge. Maklum belum punya mobil listrik sih. Nanti ya kalau sudah punya, aku tulis 😀

Setelah istirahat di PA Yokosuka, kami melanjutkan perjalanan, lalu keluar tol…dan menemukan ada sebuah signboard yang bertuliskan “Tempat kupu-kupu”. Wah rupanya sebuah perusahaan LP gas bernama Sagami yang  membuat semacam museum kupu-kupu. Lumayan bagus untuk tingkat perusahaan (bukan pemda atau pemerintah). Suatu kontribusi bagi pengetahuan dan alam. Beberapa kupu-kupu yang dipajangkan berasal dari seluruh dunia. Sayang kalau difoto, lampu ruangan memantul sih, jadi tidak bisa membuat banyak foto di situ. Tidak sampai 30 menit kami di situ tapi Gen merasa senang sekali. Maklum memang melihat kupu-kupu itu hobinya. 

Museum kupu-kupu milik perusahaan Sagami. Lihat gambar kanan atas itu terbuat dari syaap kupu-kupu yang sudah mati, dari sbeuah negara di Afrika.

Melanjutkan perjalanan dan di kanan jalan kami menemukan papan “Ootawa Azalea Hills“. Mumpung sudah dekat, dan kami tidak tergesa-gesa, kami memutuskan untuk mampir. Dan untung saja kami mampir, juga dengan membawa jaring penangkap kupu-kupu, karena bukit ini indah sekali. Sepanjang mata memandang bunga Azalea di mana-mana. Lagipula dari atas kami bisa melihat kota Yokosuka membentang di bawah. Tentu saja aku menikmati waktu untuk memotret macam-macam yang bisa menjadi obyek kameraku.

Bukit Azalea Ootawa. Capek menaiki tangga ke atas, tapi pemandangannya indah. Di bagian atas ada tempat untuk piknik bagi yang mau. Masuk ke taman ini gratis

Waktu pulang menuju parkir, kami melihat ada kupu-kupu berwarna hitam yang terbang cepat. Hebat juga si Riku bisa menangkap kupu-kupu yang sedang terbang itu.

Dari bukit Ootawa itu kami menuju ke arah pantai, karena katanya di daerah itu (Nagai) ada pelabuhan ikan. Tapi sebelum itu kami menyusuri jalan sambil mencari rumah makan yang buka karena sudah waktu makan siang. Untung saja ketemu satu restoran Jepang, yang menunya hanya satu (tidak bisa pilih yang lain). Yaitu set nasi, sashimi dan ikan goreng untuk dewasa, dan nasi + sashimi maguro untuk anak-anak. Riku tentu sudah makan ukuran dewasa (dan kurang :D) sehingga kami memesan untuk  3 dewasa + 1 anak-anak.

Setelah selesai makan, kami bermain di pantai yang rupanya cukup dalam, tanpa pasir. Tapi airnya bening sekali. Ada sih sedikit sampah seperti bekas botol minuman dan plastik,tapi sedikit sekali. secara keseluruhan tempat itu bersih. Tapi tentu saja anak-anak lebih senang bermain di pasir.

Pantai buatan yang cukup dalam, tanpa pasir tapi bersih

Setelah puas bermain air, kami bergerak lagi menuju pelabuhan ikan. Rupanya ada pasar ikan tapi kecil. Dan karena kami takut ikannya busuk dalam perjalanan, kami tidak membeli ikan. Tapi kami membeli cumi-cumi bakar yang dijual di situ. Cumi-cuminya segar sehingga dagingnya tidak keras waktu dibakar. Riku suka tapi kami cuma beli satu. Itu saja harganya 300 yen (30.000 Rp).

Memang kami bisa melihat pemandangan pelabuhan di situ, yang tentu tidak sekotor/sebau di pelabuhan Sunda Kelapa. Tapi menurut Gen masih lebih besar dan lebih bagus pelabuhan Sunda Kelapa (wah baru ingat belum tulis nih…hampir setahun lewat hehehe). Ya memang pelabuhan ikan ini kan minor, tidak besar.

Pelabuhan Ikan Nagai. Kanan atas jepitan jemuran untuk menjemur ikan kering.

Karena sudah sore, aku mengajak Gen pulang saja ke Nerima. Tadinya kami berniat kembali dulu ke rumah mertua, tapi takut macet dan kemalaman, jadi kami langsung pulang ke rumah. Kami tidak bisa menginap lagi, karena tgl 5 (minggu) kami harus ke gereja pagi jam 9. Riku harus mengikuti Sekolah Minggu dan aku ada pertemuan dengan orang tua murid Sekolah Minggu.

Liburan kami tanggal 3 dan 4 berakhir dengan menyenangkan padahal tidak terencana dengan baik. Hal ini menyimpang dari kebiasaan orang Jepang pada umumnya yang apa-apa direncanakan secara mendetil. Ya,seperti Arman yang sedang merencanakan liburan musim panasnya di Canada. Bagus sih, cuma terkadang menyusun rencananya saja sudah capek duluan 😀

Teman-teman suka berlibur terencana atau nariyuki seperti kami?

Bukit Azalea Ootawa, Yokosuka

 

pantai Nagai, Yokosuka

Gender Free

Aku sering mendengar kata ini dalam masyarakat Jepang, gender free... tapi kalau cari dalam huruf alfabet, tidak akan ketemu, karena ternyata kata “mirip” bahasa Inggris ini adalah Wasei Eigo 和製英語 Japlish, buatannya orang Jepang saja. Kalau mau tahu tentang Japlish bisa baca di sini. Soalnya kalau kita telaah dalam bahasa Inggrisnya akan terasa aneh. Gender = sex, jenis kelamin, sedangkan free artinya bebas. Bebas sex? Sex Bebas? weleh weleh nanti bisa kepikirannya free sex lagi 😀 Jadi kalau diperhatikan  “bebas jenis kelamin”, artinya tidak tahu dia itu berkelamin laki-laki atau perempuan.

Padahal maksudnya gender free itu adalah menghilangkan batasan-batasan yang dibuat oleh masyarakat yang dipatenkan pada jenis kelamin tertentu. Misalnya : laki-laki bekerja di luar sedangkan perempuan di rumah. Perempuan pakai make up, sedangkan laki-laki tidak. Perempuan pakai rok, sedangkan laki-laki celana panjang dsb dsb. Dan ya memang sekarang di Jepang banyak pula laki-laki yang pakai make up dan rok! (Bisa juga baca transgender di sini)

Mau tidak mau tadi pagi aku mengatakan soal gender ini kepada Riku. Jadi ceritanya Riku amat senang dengan set peralatan menjahitnya, sampai tadi pagipun dia masih berlatih menjahit. Lalu dia mengatakan pada papanya yang sedang duduk di meja makan.
“Riku mau kasih hadiah set peralatan jahit seperti ini ke Achan deh (Achan adalah panggilan kesayangan kepada bapaknya Gen – kakek)”
Lalu Gen menjawab, “Achan pasti tidak suka!”
“Kenapa?”

Lalu aku tahu bahwa Gen juga pasti tidak akan menjelaskan lebih lanjut, jadi aku yang menjelaskan pada Riku:
“Riku, sekarang Riku perlu belajar menjahit, perlu belajar macam-macam pekerjaan karena jaman sekarang ini ada kemungkinan kamu tidak menikah. Banyak orang yang akhirnya tidak menikah dan hidup sendiri. Jadi harus bisa semua. Sedangkan jamannya Achan, ada yang namanya gender, ada kebiasaan dalam masyarakat bahwa laki-laki bekerja di luar rumah dan tidak masak, tidak menjahit… karena pekerjaan itu adalah pekerjaan perempuan. Sekarang beda, dulu beda. Jadi kamu tidak bisa menyuruh Achan untuk menjadi seperti kamu di jaman ini dengan membelikan peralatan menjahit. Achan mungkin sudah bisa menjahit kalau perlu, tapi tidak dengan sukarela menyukai pekerjaan menjahit. Masih oldefo… kuno”

Sambil mangut-mangut Gen mengatakan,… iya ya, jaman berubah. Dan kupikir memang jaman berubah (terus). Bukan lagi tentang feminisme yang didengungkan wanita yang mencari kesamaan hak, tapi memang sudah harusnya begitu. Karena kalau tidak, kalau masih kolot, tidak akan bisa survive. Tidak bisa bertahan hidup!

Sebagai tambahan cerita, Kai sebetulnya ingin masuk latihan sepak bola di TK nya. Kalau ikut kegiatan ekstra kurikuler begitu, kami harus membayar tambahan 6300 yen perbulan. Dulu Riku juga ikut, tapi kebanyakan bolos, padahal mamanya bayar terus 😀 TAPI lucunya tahun-tahun ini tidak ada lagi pemberitahuan soal ekstra kurikuler sepak bola. Biasanya ada semacam pamflet yang membuka pendaftaran anggota baru. Aku heran dan sempat menanyakan pada seorang ibu. Katanya: “Sepak bola kan sekarang terkenal. Banyak anak perempuan juga yang mau ikut karena kemenangan tim sepakbola wanita Nadeshiko. Jadi langsung penuh. Banyak yang waiting list, tapi sepertinya tidak akan ada kesempatan untuk yang waiting list deh….” Di Indonesia? mungkin belum biasa ya?

Aku jadi teringat perkataanku pada Priskilla yang berkata, “Aneh ya aku mom, aku suka foto-foto tower seperti yang mommy ambil” Lalu aku bilang, “Aneh? Suka foto tower aneh dan menganggap seperti laki-laki? Gimana perempuan-perempuan yang suka manjat towernya? Kamu mau bilang apa tentang mereka? ” hehehe.

Tidak ada lagi yang aneh di sini, di Jepang. Meskipun aku masih sebal hilang kesempatan mengambil foto seorang laki-laki yang memakai rok panjang tipis seperti rok lilit di musim panas tahun lalu. Atau laki-laki yang mencukur alis mereka dan menggambarnya bagaikan perempuan! Harus bisa mengerti dan tidak menganggap aneh apalagi mendiskriminasikan mereka, meskipun berdoa sungguh-sungguh  jangan sampai anak-anakku seperti mereka 😀 (hush… prejudice lagi :D)

Back on Duty

OK, semestinya aku menulis yang lain, tentang Golden Week kemarin. Sudah setengah tulis tapi aku berubah pikiran ingin menulis tentang perasaanku hari ini dulu. Tentu saja tentang anak-anakku, my precious jewels.

Sore hari…. Riku menyelesaikan PR nya, lalu dia menunjukkan satu set alat menjahit yang kupesan lewat sekolah. Gurunya menyuruh anak-anak memperlihatkan pada orang tua, karena orang tua yang membelikan, dan untuk sementara waktu satu set itu akan ditaruh di sekolah untuk dipakai pada pelajaran PKK. Melihat satu set itu, aku rasanya ingin membeli juga, tapi ah… cukuplah dengan membuat “kotak alat jahit” sendiri, seadanya :D. Lalu Riku mengatakan ingin berlatih menjahit.

Jadi deh aku mengajarkan cara “mengikat” benang yang sudah masuk ke jarum, lalu cara membuat jelujur. Maklum anak lelaki, dia maunya langsung bisa, dan jelujurnya segede gajah. Tapi sudahlah nanti kalau sudah sering akan rapih juga. Dia ingin melihat hasil akhirnya, jadi kuajari membuat kantong yang nanti-nantinya bisa menjadi bantalan jika diisi kapas. Dia semangat untuk membuat bantalan tangan penyanggah tangan waktu menggerakkan mouse. Ok aku ajarkan dan dia lanjutkan sendiri.

Sementara itu Kai mendekatiku dan berbisik, “Ma …. aku kerja sama mama. Sehari bisa dapat uang berapa?”. Dia memang baru mendapat uang logam 500 yen beserta dompetnya dari neneknya. Waktu tahun baru juga mendapat uang, tapi waktu itu dia belum ada “nafsu” mempunyai uang, jadi dia berikan semuanya ke aku, dan minta dibelikan lego. Tapi, setelah itu mungkin dia melihat bahwa kakaknya punya banyak uang di dompet. Aku memang tidak memberlakukan uang saku, tapi “honor” bekerja ringan. Semisal dia pergi membelikan sesuatu untukku, aku memberikan “upah” 50 yen. Atau kalau aku mau membelikan snack, aku tanya, dia mau uangnya atau snacknya. Kadang dia minta uangnya, dan puasa snack. Dengan demikian dia bisa menabung dan membeli apa yang diinginkan sendiri. Nah, Kai ingin seperti kakaknya!

Lalu aku berkata pada Kai, “Kai, mama tidak mau bilang kamu dapat sekian kalau kerja sehari. Nanti mama ditangkap polisi karena mempekerjakan anak di bawah umur. TAPI kamu bisa ‘bekerja’ sedikit dan mama kasih ‘upah’ sedikit. Misalnya … hmmm seperti kemarin waktu Kai beli susu untuk mama di Toko Murata. ”
“Itu aku belum dibayar loh” (ingat juga dia hahaha).
“OK, mama kasih 50 yen ya….” (dan aku langsung berikan padanya, dan Kai masukkan ke dalam dompetnya dengan riang)
“Aku bisa kerja apa lagi?”
“Hmmm bagaimana kalau kamu bersihin kamar mandi, dan untuk kali ini mama kasih kamu 50, sesudah selesai ya….”
” Mau…mau… gimana caranya?”
Jadi deh aku mengajari dia bagaimana membersihkan bak dan kamar mandi. Sementara itu aku kembali ke kamar makan dan mengajarkan Riku… juga menyiapkan makan malam. Dan di kamar mandi terdengar suara-suara Kai yang sedang ‘bekerja’… ah dia sungguh-sungguh bekerja, bahkan sampai yang tidak kusuruh pun dia kerjakan. Aku begitu terharu dan ingin menangis 🙁  Ingin rasanya memberikan lebih dari 50 yen… tapi aku tidak mau memanjakan dia. Harus tetap menaati komitmen yang sudah kubuat.

Kai (5th) lagi bersihin kamar mandi

Bukan itu saja, setelah dia selesai dan melapor padaku, aku berikan dia uangnya, lalu aku kembali mengajari Riku yang hampir selesai ‘bantal’nya. Bagaimana menutup jahitan dsb. Dan selama itu aku melihat Kai, tanpa disuruh (dan tanpa minta upah) menyapu kamar makan huhuhuhu. Bantal selesai dan…

“Mama aku kerja apa lagi?”
“Aduh Kai, kalau kai terus-terusan kerja sama mama, uang mama habis! Dan kamu semua tidak dapat makan karena mama tidak bisa belanja! Jadi kalau bekerja sama mama, cukup 2 kali sehari ya. Dan uangnya, tergantung saat itu loh”
“Iya ma…”
“Emang Kai mau beli apa sih?”
“Lego…”
“Bukannya kaset DS?”
“Oh iya … kaset DS” (hihihi emang sebetulnya dia belum punya tujuan sih, hanya ingin bisa mempunyai uang)

Aku tidak tahu apakah cara ini benar atau tidak, tapi aku merasa bahwa anak-anakku pun perlu belajar bahwa untuk mendapatkan uang manusia HARUS bekerja. Dan mereka harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Semoga dengan sistem uang saku seperti ini, mereka bisa belajar mengatur keuangan juga. Aku sampai dengan SMP tidak pernah mendapatkan uang saku. Jika mau sesuatu bilang ke orang tua, dan mereka akan menyediakan dengan “syarat-syarat” tertentu misalnya jika mendapat nilai 90 sekian kali, atau tunggu waktu natal/ulang tahun. Jadi aku memang tidak terbiasa memegang uang. Negatifnya, aku tidak pandai mengatur uangku sendiri, dan menyesal kenapa dulu orang tuaku terlalu “memanjakan”ku. Well, menjadi orang tua tidak mudah ya. Semua harus disesuaikan sesuai jamannya, sesuai sifat anak-anaknya, case by case.

Riku (10th) yang sedang belajar njahit 😀

Ok aku harus mengakhiri tulisanku sekarang, karena Kai mengajakku tidur. Aku sedang menikmati kemanjaan dari si bungsu, sebelum dia menjadi ‘mandiri’ seperti Riku yang sekarang sudah mulai ‘jauh’ dariku. Kai pun sudah tidak mau dicium-cium (di depan umum) ih…. sabishiiiii…. (feel lonely) 😀