Arsip Tag: lukisan

Seni Menipu – Tokyo Trick Art Museum

Bukan, aku tidak mau mengajarkan pembaca mengenai bagaimana cara-cara menipu loh. Tapi yang ingin kutulis adalah tentang kesenian yang bisa mengelabui mata. Kelihatannya seperti sesuatu yang lain, padahal itu adalah pinter-pinternya yang menggambar saja.

Aku pergi ke Tokyo Trick art Museum  waktu pergi ke Legoland yang kedua kalinya. Karena Tokyo Trick art Museum ini terletak satu lantai di bawah legoland (Decks ODAIBA), sehingga pasti lewat waktu pulang. Karena harga tiket masuknya hanya 900 yen untuk dewasa, maka aku dan Sanchan sepakat untuk mampir di sini berdua, waktu anak-anak main lego, dan berfoto narsis 😀 Emang duo emak ini udah klop kalau soal foto berfoto 😀

Eh, tapi ternyata kami tidak bisa melepaskan diri dari anak-anak. Memang peraturan di Legoland itu, tidak boleh meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan orang tua. Waktu makan siang kami bisa meninggalkan satu jam, Riku dan Yuyu, tapi Kai kami bawa sebagai “jaminan” supaya waktu masuk kembali, kami bersama anak-anak. Untung saja Kai mau, dan kami ajak makan di restoran Surabaya, yang berada di gedung sebelah. Kai suka makan soto ayam, sehingga aku bisa “membujuk” dia untuk pergi sebentar dari Legoland dan makan soto ayam bersama duo emak. Riku dan Yuyu makan siang di dalam Legoland, yang ternyata menurut perhitungan duo emak, tidak terlalu mahal. Biasanya kalau makan di dalam sebuah thema park, harga makanan diketok habis-habisan (jadi inget Disneyland), tapi di Legoland, satu bento paling mahal 500 yen. Memang untuk dewasa tidak cukup (dan tidak enak), tapi untuk anak-anak lebih dari cukup. Apalagi karena kamu member, kami mendapat potongan 10% setiap berbelanja di dalam Legoland.

Restoran Surabaya di Odaiba

 

Balik ke Tokyo Trick art Museum, kami akhirnya masuk bersama pada pukul 18:30. Memang Legoland kali ke dua  itu aku minta supaya anak-anak bisa selesai dan pulang jam 6 sore. Tidak seperti malam sebelumnya yaitu jam 8 malam (Legoland sendiri tutup jam 9 malam). Nah waktu menuruni eskalator itu lah kami memutuskan mengajak anak-anak juga. Tadinya kami pikir anak-anak tidak antusias, tapi perkiraan kami salah. Ternyata anak-anak jauuuuh lebih narsis daripada ibunya 😀 

Dua gambar di atas berada di luar museum, sedangkan yang di bawah di pintu masuk

Untungnya waktu kami masuk itu masih sepi, tapi tak lama mulai berdatangan tamu yang lain, sehingga cukup menyebalkan, karena tidak bisa konsentrasi berfoto :D. Di pintu masuk kami disambut (lukisan) seorang wanita berkimono, yang jika dilihat dari berbagai sudut akan aneh. Jika melihat pada sudut yang tepat memang kita akan melihat tangannya seakan benar-benar tiga dimensi. Tapi yang cukup menarik adalah sebuah lukisan yang menggambarkan kedai minum teh ala jepang dengan payung di luar kios. Dengan menekuk lutut sedikit kita bisa memotret seakan-akan kita sedang duduk santai di situ.

Kiri atas, perumahan di kota Edo. Ternyata berbentuk segitiga yang menonjol dari dinding, sehingga Sanchan sempat menabraknya 😀 Kanan atas: Riku dengan kappa (binatang jejadian). Kiri bawah: Aku lebih kecil dari Riku. Kanan bawah : Riku minum sake dengan hantu mata tiga 😀

Permainan lukisan yang menghasilkan tiga dimensi tentang kota pada jaman Edo. Satu yang perlu percobaan cukup banyak adalah sebuah ruangan yang bisa memutarbalikkan fakta. Aku yang sebesar ini bisa jauh lebih kecil daripada Riku. Dan memang harus memotretnya dari luar ruangan. Pada jaman Edo banyak pembantaian, dan cerita mengenai setan, hantu dsb nya itu sangat populer.

Yang lucu fotonya Kai, kok dia menutupi bagian yang “tepat” dengan tangannya ya? hahaha.(eh aku ngga suruh-suruh loh) Kalau Riku dia bergaya persis memegang bahu si baju merah seakan sedang menepuknya.

 

Anak-anak cukup takut untuk sendirian berada di dalam bagian ini. Setelah keluar dari bagian “perhantuan” kami bisa melihat beberapa lukisan manusia dan binatang.

foto ikan hiu itu sepertinya sudah banyak ya?

Konon trick art seperti ini juga sudah menyebar ke Jakarta juga. Tapi aku baru pertama kali melihat berbagai trick di museum ini. Museumnya tidak besar sih, tapi ya kalau mau berusaha memotret dengan jurus yang diberitahukan (dengan tiduran atau menjengking segala) bisa menghasilkan foto yang bagus, sehingga HTM seharga 900 yen cukup murah lah. Tapi ternyata kami fotonya tidak seheboh waktu berada di Madame Tussaud. Kembali ke museum ini lagi? Nanti deh kalau musti antar tamu baru mau masuk lagi 😀

(Tulisan yang tertunda hampir 2 bulan :D)

 

Anggur dan Lukisan

Setelah dari Takeda Jinja, kami menuju ke  Tomi no oka Winery milik perusahaan Suntory. Aku sempat bilang pada Gen, “Loh waktu itu bukannya kita sudah pernah ke Suntory juga?” Ternyata waktu itu pabrik air mineral dan whisky, sekarang ini adalah pabrik…. tempat pembuatan anggur/ wine.

Setelah melewati perbukitan yang begitu sepi, tanpa terlihat ada satu mobilpun, kami sampai di pintu gerbang Tomi no oka Winery. Hujan rintik masih turun, dan kami dihadang oleh satpam winery itu, kami katakan bahwa kami belum mendaftar untuk berkunjung ke winery, tapi kalau bisa on the spot, ingin ikut. Oleh satpam kami diberitahu bahwa tentu bisa ikut rombongan untuk berkunjung ke winery dan kebetulan 10 menit lagi ada grup yang akan berangkat. Gratis dan karena hujan pesertanya sedikit, jadi kami bisa join. Tapi lain kali daftar dulu ya. “Yes, sir!” Kami cepat-cepat memarkirkan mobil, ambil payung dan menuliskan nama dalam buku tamu. Kami diberi tanda masuk untuk dikalungkan di leher, tapi khusus untuk Gen ada kalung lain yang bertuliskan bahwa dia menyetir mobil jadi TIDAK BOLEH sama sekali mencoba atau mendekatkan mulutnya ke wine. Selain itu anak-anak tentu karena belum cukup umur (belum 20 th) tidak boleh juga minum atau mencoba wine. Jadi… cuma mama Imelda yang bisa coba, karenanya Gen mengatakan : Selanjutnya kita menyenangkan mama.

Tomi no oka Winery. Kai setiap melihat box telepon seperti di Harry Porter dia kegirangan.

Rombongan berangkat dari dekat lapangan parkir, dan sebelum pergi ke penyimpanan anggur, kami melihat video pembuatan  wine dulu. Kalau masih pagi, sebetulnya kami bisa berkunjung dari melihat perkebunan anggurnya, lalu pabrik pembuatannya juga. Tapi karena sudah jam 3, kami cuma bisa melihat video dan kemudia pergi ke penyimpanan anggur yang telah diolah. Baru tahu dari video itu bahwa untuk wine putih, buah anggur putih dikupas dulu kulitnya, dan yang dipakai cuma daging buahnya. Sedangkan untuk wine merah, anggur merah tidak dikupas kulitnya, seluruh buah dipakai. Daging, kulit dan bahkan bijinya dihancurkan lalu disaring. Setelah ditambah biang fermentasi baru dimasukkan ke dalam tong-tong kayu. Kami kemudian melihat penyimpanan tong-tong kayu berisi wine yang belum jadi di sebuah gudang yang berada di dalam bukit.

menonton video pembuatan wine dan melihat gudang penyimpanan wine

Karena berada di dalam bukit, seperti di dalam gua, suhu udara bisa dijaga sampai sekitar 15 derajat sepanjang waktu secara alami. Memang sedikit dingin saat kami memasuki gudang tong-tong fermentasi pertama itu. Setelah itu wine dalam tong dipindahkan ke dalam botol, yang sebetulnya di dalam botolpun wine ini akan berfermentasi terus. Waktu memasuki gudang botol, terlihat rak-rak botol kosong karena wine yang sudah berusia 3 tahun sudah dijual. Dan diujung lorong penyimpanan botol, kami melihat botol-botol hasil winery Tomi no oka. Yang paling mahal dan paling enak (konon) berwarna kuning emas sebelah kiri atas. Waktu kami lihat harganya di toko di dalam winery seharga 50.000 yen (5 juta rupiah satu botol) waaaah siapa yang mau beliin untukku? 😀

Memang setelah selesai melihat penyimpanan wine itu, rombongan bubar, dan kami diminta untuk menaiki mobil kami masing-masing menuju shop, untuk mencoba wine yang diproduksi. Shop itu terletak di perbukitan menghadap perkebunan anggur dan gunung. Sayang sekali waktu itu hujan sehingga berkabut dan tidak bisa melihat jauh. Padahal kalau cerah pasti indah pemandangannya. Akupun menemukan beberapa jenis bunga yang belum pernah kulihat di Tokyo. 

Kai di jalan menuju wine shop

Di dalam shop, peserta kunjungan bisa mencoba 3 jenis wine yang disediakan. Rosso yang hanya dijual di tempat itu seharga 1890 yen, manis fruity, sedangkan wine lainnya putih dan merah aku tidak begitu suka. Salah juga sih si waiter memberikan wine manis duluan padaku 😀 memang hanya aku yang bisa mencoba minum wine, karena aku sudah dewasa dan tidak menyetir mobil. Dan yang kurasa bagus, waiternya sempat menegur dengan keras seorang kakek yang memakai kalung pertanda dia menyetir. Kelihatan memang dia ingin sekali minum, sampai dia tanya ke istrinya bagaimana rasanya dan sempat mendekatkan gelas ke hidungnya. Nah, memang pengendara mobil sudah diwanti-wanit dari awal, bahwa TIDAK BOLEH mengendus gelas sama sekali (karena itu awal ingin minum, tinggal selangkah lagi bisa tegak sekaligus kan) . Waiter itu sampai bilang, “Maaf pak, kalau tidak bisa patuh, pulangnya harus naik taxi loh. Jangan main-main. ” Memang mereka juga bertanggung jawab kalau sampai si kakek minum dan tetap mengendarai mobil. Peraturan untuk supir yang dalam pengaruh alkohol tapi masih menyetir di Jepang sangat ketat. Pemberi minuman, pelayan toko dan teman penumpang mobilnya akan ikut mendapat hukuman. Disiplin itu harus berada dari diri kita dan perlu dukungan sekitarnya.

Wine shop di depan perkebunan anggur dengan pemandangan menghadap gunung yang indah.

Karena lokasi ini cukup membosankan bagi anak-anak, akhirnya kami cepat-cepat pulang ke parkiran, dan menuju ke Museum Seni Yamanashi. Rupanya Gen ingin memperlihatkan lukisan Millet (Jean-François Millet, pelukis perancis) yang terkenal kepada Riku. Museum ini sejak dibuka 1978 memang terkenal sebagai museum Millet. Kami sampai di museum itu sudah pukul 4:30 lebih, tapi masih diperbolehkan masuk ke museum yang tutup pukul 5. (sebetulnya tidak bisa lagi beli karcis jika sudah pukul 4:30, tapi entah Gen mungkin bicara bahwa kami dari Tokyo). Harga karcis untuk dewasa 310 yen, untuk anak-anak 100 yen. Tidak mahal jika dibandingkan dengan pameran khusus yang biasanya 1800 yen/orang dewasa.

hasil karya Millet yang kuketahui

Lukisan Millet yang kuketahui cuma sang penabur (The Sower) dan pemandangan wanita yang sedang bekerja di ladang (The Gleanders). Lukisan The Gleanders ini pertama kali kulihat di Museum Louvre, Paris, sedangkan penabur aku tidak melihat langsung. Senang juga bisa melihat kedua lukisan ini dari dekat. Rupanya memang kedua lukisan ini (dan satu lagi The Angelus) merupakan lukisan Millet yang paling terkenal. Waktu kucari keterangan tentang Millet, kuketahui bahwa Millet bersama Rosseau mendirikan Barbizon School, yaitu sebuah aliran baru yang berpusat di daerah yang bernama Barbizon di pedesaan Perancis. Sedangkan kalau dilihat dari pengelompokan jenis lukisan, lukisan Millet bisa dimasukkan dalam kategori Realisme dan Naturalisme.

Sayang aku tidak bisa berlama-lama menikmati lukisan-lukisan Millet, dan lukisan pelukis Barbizon lainnya, karena aku harus menemani Kai. Ya, Kai belum bisa mengerti, mengapa harus melihat sebuah gambar berlama-lama, dalam sunyi, tak boleh bercakap-cakap dengan suara keras, dan jalan juga musti pelan-pelan, tidak boleh lari. Museum memang BUKAN tempat yang cocok untuk anak TK 😀 Tapi sebaiknya anak-anak juga dikenalkan pada lukisan dan barang-barang berharga/bersejarah  sedini mungkin sehingga bisa menghargai seni dan sejarah suatu bangsa. Jadi sementara Riku dan papanya menikmati lukisan, aku dan Kai berjalan agak cepat mengelilingi museum dan pameran khusus lain, kemudian menunggu mereka di lantai bawah. Bagi Riku dan Kai ini merupakan pengalaman pertama mengunjungi museum seni.

Yamanashi Art Museum

Persis pukul 5 sore, kami keluar museum itu dan berfoto di depan museum. Hari itu kami, terutama Gen puas karena bisa memenuhi rencana kunjungan ke tiga tempat. Takeda Jinja, Tomi no oka Winery dan Yamanashi Art Museum.

 

 

 

Kuda

Pasti pernah ya lihat lukisan kuda di ruang tamu seseorang? Biasanya berjumlah delapan, karena menurut orang Asia, angka delapan itu membawa kemujuran. Kuda dilambangkan sebagai hewan yang kuat, tegar dan tentu saja tidak takut berperang. Diharapkan manusia atau penyuka kuda itu “tertular” keberanian kuda dari lukisan yang dipasang.

sapa mau beli nih : "Damai di Lembah Padang Rumput" Ukuran: 130cm X 200cm Media: Oil on Canvas Harga: Rp.17.200.000 (http://javadesindo-artgallery.blogspot.com/2010/01/lukisan-gajah-lukisan-kuda.html)

Aku juga suka kuda, meskipun naik kuda hanya terbatas pada kuda di daerah wisata yang kadang masih dipegangi oleh sang penyewa. Naik kuda itu sebenarnya tidak enak dan tidak seempuk yang dibayangkan (tanggung deh pasti pantatnya sakit sesudah naik kuda), tapi entah kenapa aku juga suka pada binatang ini. Pernah lihat mata kuda? cantik! Penunggang kuda atau yang diberi nama Joki kuda itu kelihatannya gagah sekali bisa mengendalikan jalannya kuda. Mungkin karena itu juga aku pernah suka pada seorang joki kuda di jaman SMP … cihuyyy (Moga-moga dia tidak baca postingan ini. Malu hahaha… well memory cinta monyet 😀 )

Nah sebetulnya yang aku mau kasih tahu pada pembaca TE adalah soal balap kuda, pacuan kuda, adu kuda, entah apa namanya, tapi mengadu kecepatan kuda di suatu “veledrome” eh bukan veledrome karena veledrome itu arena balap sepeda. Entah ada nama khusus tidak untuk arena balap kuda, tapi di Jepang namanya Keibajo. Balap Kuda di Jepang diberi nama Keiba 競馬 terdiri dari dua kanji: kanji berlomba dan kuda.

Aku cukup heran karena pernah ditanyakan pada teman mahasiswa di Universitas Yokohama “Kamu suka keiba?”.  Hmmm pertanyaan yang gawat karena balap kuda di Jepang = berjudi. Dan terus terang aku tidak suka berjudi, bahkan untuk membeli undian berhadiah saja tidak suka. Meskipun misalnya beli, tidak pernah menonton atau memperhatikan nomor undiannya. Jadi seandainya nomorku pernah keluar nomor satu pun aku mungkin tidak tahu tuh hihihi. Gagal deh jadi orang kayanya :D.

Keiba, pacuan kuda Jepang, judi resmi penghasil devisa. Foto diambil dari http://plaza.rakuten.co.jp/major01/profile/

Hari ini adalah hari keiba, karena tanggal 16 September tahun 1954, sebuah organisasi bernama Japan Racing Association (JRA) didirikan dibawah pengawasan Departemen Pertanian Kehutanan dan Perikanan Jepang. Dan boleh dikatakan mungkin Jepang satu-satunya negara di dunia (yang menyelenggarakan balap kuda) memberikan penghasilan sedemikian besar pada negara, sebagai hasil keiba. Pertahun 300milyar yen masuk ke kas negara. Dan uangnya tentu saja banyak dipakai untuk kesejahteraan lembaga-lembaga di bawah Departemen tersebut, selain sumbangan bangunan/sarana pada negara. Yah, dulu Indonesia juga pernah punya SDSB (?) sumbangan berhadiah yang rencananya dana itu dipakai untuk pembangunan negara. Tapi hebatnya Jepang, perjudian seperti keiba, juga lotto dan undian berhadiah lainnya didukung pemerintah dan hasilnya benar-benar kelihatan.

Untuk teman-teman di Jepang, Sekolah Republik Indonesia Tokyo di Meguro itu terletak dekat halte bus yang bernama Moto Keibajo Mae. Jadi dulu sepertinya pernah ada arena pacuan kuda tuh, dekat dekat situ. Ah… sebagus-bagusnya manfaat keiba, aku merasa beruntung suamiku atau sahabatku tidak ada yang kecanduan keiba. Biar bagaimanapun juga itu kan judi. Yang kasian dompet dan kudanya diadu-adu hehehe.

Postingan ini dibuat secepatnya soalnya aku sudah dimarahi tidak membuat postingan baru. Postingan yang sedianya aku publish hari ini masih membutuhkan penelitian (jiaahhh) lebih lanjut yang membuat aku malesssss banget nulisnya. Semoga secepatnya bisa dipublish deh. OK Liona, I hope this posting could satisfy you, for now. Jangan bete-bete terus yah hehehe.

*** Oh ya kalau ada yang main FV di FB kirimin aku horse ya… jarang ada yang ngirimin kuda sih 😀 (ketahuan lagi addicted main FV a.k.a FarmVille)

Orang Jepang Suka Pameran

Ya aku setuju dengan pernyataan itu. Bukan MAMER diri sendiri loh, tapi maksudnya pergi melihat pameran di museum-museum atau galeri seni.

Surat kabar The Art Newspaper versi online yang berkantor di London Inggris menyatakan bahwa orang Jepang adalah pecinta pameran sedunia. Mengapa? Dari seluruh pameran yang diadakan di seluruh dunia selama tahun 2009, jika dilihat berdasarkan jumlah pengunjungnya per hari, maka Jepang menduduki 4 ranking teratas di dunia.

Ranking satu  adalah pameran “Warisan Negara patung  ASHURA”  di Tokyo National Museum yang menyerap pengunjung sebanyak 15.960 orang rata-rata satu hari pameran. Yang kedua adalah pameran “Shosoin” di Nara National Museum dengan pengunjung sebanyak 14.965 orang/hari. Pameran “Permata Kekaisaran ” yang juga diadakan di Tokyo National Museum dengan pengunjung sebanyak 9473 orang/hari. Dan rangking kelima adalah pameran “Lukisan Eropa abad 17 dari Mouseum Louvre” yang diadakan di National Museum of Western Art, Tokyo, yang pengunjungnya 9267 orang/hari. Yang kelima di mana? Di Musee du quai Branly,Paris yang menyelenggarakan pameran foto dengan pengunjung per harinya 7868 orang.

Pamflet/poster pameran Ashura di Tokyo National Museum

Dikatakan oleh surat kabar tersebut bahwa kecintaan orang Jepang terhadap seni dan pameran tidak mengenal resesi. Hmmm mungkin benar juga, karena sebetulnya harga karcis masuk melihat pameran-pameran itu cukup mahal (menurut aku sih). Misalnya untuk melihat pameran Ashura itu untuk orang dewasa 1300 yen, mahasiswa 1000 yen, SMA 800 yen (bisa makan bento 2 kali tuh), SD/SMP 600 yen. Tapi mereka mau menyisihkan uang untuk mendatangi pameran itu!

Dulu, waktu masih single, aku kadang pergi ke museum, terutama untuk melihat pameran pelukis-pelukis “Impressionis”, tapi kalau sekarang mungkin pikir-pikir dulu. Kecuali kalau mendapat karcis gratis/potongan harga. Nah, biasanya kami yang berlangganan surat kabar tertentu suka mendapat potongan harga atau malahan karcis gratis pameran kesenian begitu yang disponsori oleh surat kabar tersebut. Sebagai salah satu cara promosi penjualan surat kabar kepada pelanggan, mereka membagikan karcis-karcis pameran kesenian atau pertandingan olahraga. Seperti beberapa waktu yang lalu aku mendapat karcis gratis untuk melihat Art Fair Tokyo yang diselenggarakan awal April  untuk 2 orang dari surat kabar langganan kami. Selain itu kami masih mempunyai (diberikan) beberapa karcis pameran “mamalia” dan potongan harga untuk masuk ke kebun binatang.

Karcis pameran gratis Tokyo Art Fair

Yah, bagi orang Indonesia (baca Jakarta) sekarang mungkin tujuan rekreasi akhir minggu adalah mal, tapi di Jepang? Mal bukanlah tujuan rekreasi. Pameran, Museum, Taman, Pertandingan olahraga, lebih menarik dari pada melihat orang-orang dan barang-barang dalam gedung tertutup. Ada yang memang harus mengeluarkan uang, tapi banyak pula kesempatan untuk mendapatkan karcis masuknya secara gratis, atau pelaksanaan pameran itu sendiri tidak dipungut biaya.

Mungkin kecintaan orang Jepang terhadap seni juga membawa mereka maju seperti sekarang ya? who knows….

Bericht (berita) n schilderij (lukisan)

Vandaag 5-01-2009 om 09.10 uur is tante NikKe Heineken Bax Overleden. Bij deze dan het bericht van tante Nikke. Harry

Bedankt voor jouw informasi.Ik zal dit bericht hier in Indonesia rond zenden. Please convey our condolences to the hele familie Bax-Coutrier. Sinds wij het  bericht kregen dat tante Nieke was opgenomen hebben Marie en ik vaak voor tante Nieke gebeden. Ik ben er zeker van dat ze een goed plaatsje by onze Lieve Heer krijgt. Wij bidden voor haar ziel ! Lucky.

Mirip ya kata Bericht dengan kata Berita – ya mungkin memang asalnya adalah kata bericht itu. Karena orang Indonesia sulit mengucapkan [cht] jadi diubah saja menjadi [ta] hehehe.

Ya itu adalah berita yang saya terima lewat email tadi malam. Untung ada email (dan milis keluarga) sehingga penyampaian berita bisa diterima a.s.a.p. Kalau jaman dulu? Paling cepat telepon, tapi itupun harus pakai hitung-hitung perbedaan waktu antara Amsterdam dan Jakarta.

Berita itu adalah berita duka dari negerinya bir “Heineken”. Dan kebetulan yang meninggal juga bernama Heineken-Bax, sepupunya alm. opa saya, yang meninggal dalam usia 90 tahun lebih kemarin pagi. Saya pernah bertemu dia tahun 2002 dan masih sehat serta tinggal sendiri di sebuah panti Jompo. Bahkan tahun lalu saya masih sempat berbicara dengannya lewat telepon. Dia merasa “agak dekat” dengan saya, karena muka saya mirip dnegan putrinya. Kadang saya merasa menyesal tidak lebih banyak meluangkan waktu untuk menghubungi sepuh-sepuh ini. Mereka yang sebetulnya merindukan bercakap-cakap dengan anak-cucunya.

Alm. Tante Nikke Heineken, Amsterdam. Rest in Peace Oma, dan semoga lukisan-lukisan itu tidak dibuang hiks.

Waktu saya pergi ke apartemen yang menjadi bagian dari Panti Werdha itu, saya menemukan beberapa lukisan yang “familiar” sekali. Ya, gaya lukisan itu saya kenal dari selembar lukisan yang ada dalam gudang di rumah jakarta (sekarang ntah dimana). Pelukisnya Oma Anna Bax, yaitu ibu dari oma yang meninggal ini. Saya suka sekali lukisan yang ada di Jakarta itu, berwarna hijau rumput, pemandangan sebuah rumah. Semoga lukisan itu masih ada.

Kenapa saya suka lukisan di gudang itu? selain karena memang bagus menurut saya, tapi juga merupakan suatu bukti bahwa ada “darah seni” yang mengalir dalam keluarga saya. Meskipun bukan lukisan cat minyak, alm opa juga sering menggambar, bahkan dia selalu mencoretkan sesuatu dalam surat-surat yang dikirimkan untuk saya. His personal touch, yang tidak akan saya lupakan (saya sedang mengumpulkan surat-surat opa kepada saya, dan men-scan untuk dokumen saya — ternyata saya masih termasuk rajin bersurat-suratan dengan opa). Darah seni ini ternyata hanya bisa dilanjutkan oleh Tina, adik saya, si arsitek yang masih bisa membuat ilustrasi gambar-gambar jika diperlukan. Saya? wah saya paling bisanya gambar dua gunung dengan pematang sawah, rumah, pohon dan dari dua gunung itu menyembul matahari. Kemudian di dua sisi gunung kok bisa ada pohon kelapa. Sebuah pola pemandangan yang sering digambar oleh anak-anak Indonesia (atau saya saja?). Coba deh lihat gambar anak Jepang… ngga ada yang sama gambarnya. Hmmm keliatan juga ya bahwa orang Indonesia memang dari kecil sukanya meniru. Satu gambar begini, semua gambar yang sama. Satu buat usaha warnet, satu jalanan jadi warnet semua. Pfffffhh.

Gambar Riku setelah dengan nangis-nangis mau meniru gambarku tapi tidak bisa (pelajaran buatku jgn gambar bagus-bagus hehehe)
Gambar Riku setelah dengan nangis-nangis mau meniru gambarku tapi tidak bisa (pelajaran buatku jgn gambar bagus-bagus shg susah dicontoh hehehe)

Sebelum postingan ini jadi ngalor ngidul, saya mau tutup dengan sebuah lagu belanda. Sebuah lagu anak-anak kinderliedjes yang sering dinyanyikan mama waktu aku kecil, dan sekarang saya nyanyikan untuk Riku dan Kai. Yang mengherankan Kai yang sedang rewel biasanya bisa tenang waktu saya nyanyikan ini. Mungkin ada magic wordsnya?

Poes is ziek rheumatik Kucing sedang sakit rematik
dat zei dokter Jantje itu kata dokter Yance
Zware kou stop haar gauw Flu berat jadi masukkan dia cepat
Warmpjes in haar mandje hangatkan dia di keranjangnya
poes is Ziek rheumatik Kucing sedang sakit rematik
poesje jij moet zweten Kamu harus berkeringat

Minggu Pagi yang Kusam

Pagi terbangun pukul 8 pagi karena Kai menangis keras. Yang hanya bisa diredam dengan menggendong dia ke luar kamar. Padahal aku baru “ketidur” jam 4 pagi. Hmmm malas rasanya, tapi akhirnya semua bangun. Terpaksa aku buat sarapan pagi Onigiri. Dan hisashiburini kita berempat leyeh-leyeh di ruang makan sambil nonton TV.

Yang lucu acara TV yang ditonton bukanlah anime kesukaan Riku. Hari ini dia dilarang menonton anime. Juga bukan berita atau film atau kuis seperti biasa. Hari ini adalah tentang lukisan di chanel NHK education.

Anda pasti mungkin tahu Vermeer. Sebuah ruangan dengan gadis dan permainan cahaya yang indah. Kekuatan cahaya yang masuk dari luar ke dalam ruangan itu menjadi penekanan dalam lukisan-lukisan Vermeer. Nah hari ini ditampilkan sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah kamar dengan badan belakang seorang wanita. Sekilas saya pikir Vermeer juga tetapi ternyata bukan. Dan entah kenapa, saya suka lukisannya.

Saya pikir pasti si pelukis adalah kelahiran Belanda, dan ternyata mempunyai prejudice itu memang tidak boleh. Pelukis yang diketengahkan kali ini adalah Vilhelm Hammershøi, pelukis dari Kopenhagen, Denmark (1864-1916). Seperti yang ditulis di Wikipedia, dia sering melukis interior.

Lihat sinar yang jatuh di dalam kamar. Sebuah kamar kosong. Dan benar kata-katanya yang disebutkan di televisi pagi tadi, “Kamar yang tak berpenghuni itu adalah kamar yang paling indah”. Kalau ditelaah lebih lanjut, mungkin karena belum ada unsur-unsur yang mengganggu keberadaan kamar itu, tidak oleh kehadiran orang dan juga tidak oleh kehadiran interior tambahan lainnya. Hmmm, Nama dia menempati salah satu daftar pelukis yang saya sukai saat ini.

Menjadi model = harus bugil?

Salah satu arbaito (pekerjaan sambilan) yang pernah saya kerjakan selama di Jepang adalah menjadi model (waktu masih kurus sihh hihihi).

Nah kalo jadi model…. hmmm misalnya model kacamata…. ya ngga usah buka baju dong ya. Atau model jam tangan…  Yang musti buka baju ya pasti model baju dalam ya. Untung aku baru coba jadi model kacamata aja. Jadi difoto bagian muka aja kan hehehe.

Tapi biasanya kalau bilang model lukisan…langsung orang berkonotasi modelnya harus telanjang. Sebetulnya wajar sih ya kalau punya persepsi gitu. Karena hampir di setiap adegan yang menunjukkan orang belajar melukis pasti modelnya berbugil-bugil ria ya.

Nah sebenarnya saya pernah menjadi model lukisan. BUT…. justru harus pake baju tuh. Udah gitu yang melukis ibu-ibu sudah tua lagi (kuciwa deh… hehehe). Ceritanya suatu hari, saya dapat telepon dari KBRI, apakah mau menjadi model lukisan, soalnya ada yang cari ke KBRI. Memang wanita Indonesia yang muda (taelah) waktu itu langka sih… dan kebetulan waktu itu saya masih ada waktu nganggur jadi saya ok-in aja. Dan rupanya setelah saya telepon si pelukis dia minta saya bawa baju tradisional indonesia, karena dia mau menggambar orang asing dan alangkah baiknya kalau pakai baju tradisionalnya. Rupanya dia harus menuliskan proses  melukis orang, terutama yang non jepang. Buku itu terbitan NHK Publishing, yang disunting oleh pelukis kenamaan Jepang Hirayama Ikuo. Dan yang meminta saya untuk menjadi model adalah Shinozaki Mihoko, yang merupakan pelukis wanita anak-buah (desshi) dari Hirayama Ikuo.

Judul bukunya “Melukis Manusia” (人物を書く) dari seri teknik Kursus Melukis Lukisan Jepang (Nihonga). Nah sepertinya saya harus menjelaskan sedikit di sini bahwa Nihonga, Lukisan Jepang, itu memakai cat dan kanvas khusus. Bukan cat minyak, tapi cat yang terbuat dari serpihan mineral seperti emas, perak atau besi, tembaga lalu dicampur juga dengan kerang, tulang atau serangga malah sehingga kasat dan mempunyai warna yang terbatas. Yang pasti hasil lukisannya berat! Mungkin lebih tepat kalau Anda membayangkan lukisan relief di atas kanvas. Dan yang menarik, biasanya Nihonga ini memakai warna emas untuk point-point yang ingin ditonjolkan.  Kalau ada kesempatan melihat Nihongga, coba sentuh dengan jari, dan akan dirasakan bahwa memang seret dan seperti relief.

Jadi, sekitar 3-4 kali saya harus datang ke atelier (studio) sang pelukis itu, dan pakai baju kebaya (untung ngga usah di sanggul) dan…. duduk jadi patung. Sumprit deh…(aku ngga biasa pake kata sumprit euy….) ngga dua kali deh aku mau lagi jadi model. Bayangin saja … musti diam tak bergerak. Orang kayak Imelda gini, di suruh duduk diam? mana bisa sih. Belum lagi kalo abis makan siang, rasanya pengen bobo aja. Dan aku juga tanya kenapa ngga difoto aja sih? Tapi memang lain sih ya, pencahayaan waktu melihat langsung dan dengan hasil foto. Perlu pengorbanan yang tidak sedikit baik dari model dan pelukis nya untuk mendapatkan hasil yang bagus dan maksimum.

Setelah buku itu selesai, saya membelinya untuk kenang-kenangan. (日本画技法講座「人物を書く」平山郁夫監修・NHK出版:2500円)

… dan ketika si pelukis itu menelepon lagi untuk minta saya kembali menjadi modelnya saya tidak tega untuk mengatakan tidak!. Untung kali ini karena dia harus bayar sendiri, saya cukup satu kali datang dan dia banyak memotret pose-pose saja, untuk kemudian dipadukan dalan selembar kanvas berukuran 2mx2m. Hasil lukisannya dipamerkan di Museum Ueno dalam pameran Nihonga.

So, ada juga pekerjaan menjadi model lukisan yang tidak harus berbugil ria….hehhehe.

Menikmati Karya Seni

Veronica mengusap wajah Yesus
Veronica mengusap wajah Yesus by Al Greco

Terus terang sebelum saya ke Jepang, saya tidak begitu tahu nama-nama pelukis terkenal dunia. Paling-paling di Jakarta saya sempat tahu pelukis lokal Affandi, atau Basuki Abdullah (sering lihat di gereja juga),  tentu saja tahu seniman yang berhubungan dengan gereja yaitu Michael Angelo, atau si Van Gogh dan Rembrant (kebetulan ke museumnya waktu di Belanda). But selebihnya saya kurang paham. Katro banget deh.

Nah saya mulai berkenalan dengan seniman lainnya itu sebetulnya gara-gara diajak date. (Ngajak date kok ke pameran lukisan ya? ).  Berhubung dia bilang, “Mel, aku punya tiket ke pameran dua lembar, mau ikut ngga? ” Jadi deh saya pergi ke Ueno Hakubutsukan (Ueno Museum of Arts) dan begitu masuk saya melihat lukisan Yesus di Kayu Salib yang begitu besar …. yang terus terang sampai saat ini saya tidak tahu karya siapa… hehehe.

Sebagai orang yang awam lukisan, saya lebih menikmati lukisan yang kelihatan real atau … romantic seperti Monet. Sehingga saya sering dikatakan sebagai penganut Impressionis (inshouha 印象派) . Padahal apa saja jenis pembagian aliran lukisan yang ada…saya tidak mengerti (ayo belajar mel, besok keluar ujian hihihi). Dan satu hal yang saya sempat dimarahi yaitu waktu saya berkata, “iiiih lukisannya bagus banget…seperti foto!” Dan saya diomelin panjang lebar, bahwa pelukis tidak akan suka jika lukisannya dibilang seperti foto bla bla bla bla… Yahhh, abis saya kan ngga tau mau komentar apa… masak cuman mangut-mangut aja?

OK sekian proloog untuk posting ini. Saya sebetulnya mau menulis tentang seorang Jepang yang sekarang bermukin di Amerika, dan kemarin tanggal 20 menjadi tanggalnya dia yaitu Hiro Yamagata. Pada suatu ketika, waktu saya jalan-jalan di mall, melihat sebuah lukisan yang memang menari. warna-warni dan modern. Saya baca pelukisnya Hiro Yamagata.

Hiro Yamagata (born 山形 博導 Hiromichi Yamagata, May 30 1948, in Maibara city, in Shiga prefecture, Japan) is a painter/ artist, based in Los Angeles, California. He has been considered as one of the most famous silkscreen artists because of his use of vivid colors in his pieces. However, he has been known as a contemporary artist using laser and hologram technology recently. He is recognized as a pioneer of contemporary laser art.

Hasil karyanya memang unik dan bisa membuat hati riang dengan melihat warna-warna yang dipakai seperti pelangi.

Saya juga melihat dia suka menggambar balon udara, sehingga karyanya bener-bener seperti penggambaran sebuah festival. Kalau saya pribadi mungkin lebih suka karyanya yang bernuansa biru ini. Sebuah danau di Jepang, BIWAKO.