Arsip Tag: sejarah

The Floating Castle

The Floating Castle adalah bahasa Inggrisnya sebuah film Jepang yang berjudul Nobou no Shiro. Sebuah film berlatar belakang sejarah Jepang di tahun 1590, waktu Toyotomi Hideyoshi  sebagai daimyo (tuan tanah) berusaha menyatukan Jepang. Jaman itu memang jaman yang penuh peperangan yang disebut dengan Sengoku Jidai 戦国時代 . Nah, pasukan Toyotomi Hideyoshi ini mendapat perlawanan keras dari sebuah castle yang dikelilingi danau yang bernama Oshijou 忍城.

poster film Nobou no Shiro

Pemimpin  Oshi Castle ini adalah Narita Nagachika yang masih muda dan nyentrik, dan harus menggantikan ayahnya yang meninggal menjadi pemimpin daerah itu. Bagaimana tidak nyentrik atau bahkan gila dilihat dari sebutan yang diberikan “Nobou” (singkatan dari Dekunobou) padanya, yaitu dengan kekuatan pasukan 500 orang dia bersikeras untuk MELAWAN pasukan Toyotomi Hideyoshi sejumlah 20.000 orang!

Pada saat pasukan Toyotomi (di bawah pimpinan Ishida Mitsunari) terdesak pada serangan pertama, mereka kemudian membuat Ishida Tsutsumi (Dam Ishida) yaitu sebuah dam untuk membendung aliran sungai dan memaksa Narita a.k.a Nobou  ini untuk menyerah. Semua daerah yang rendah tertutup air, dan warga petani berlari mencari perlindungan ke kediaman Nobou. Tempat istana yang tidak sembarangan bisa diinjak kaum biasa itu apalagi waktu itu warga yang mengungsi berlumpur kakinya. Satu yang menarik sekali bagiku adalah Nobou sendiri TURUN menginjak lumpur dan menjadikannya sama dengan warga yang mencari perlindungan itu. Dia dan permaisurinya dengan kaki kotor mengajak semua warga yang ada untuk masuk ke kastil untuk berlindung.

Narita Nagachika diperankan oleh pemain Kyogen (kesenian tradisional Jepang) yang juga aktor: Nomura Mansai. Seniman yang hebat!

Mengetahui bahwa dia tidak akan bisa menang dengan keadaan terendam air, maka  Nobou pergi dengan perahu ke arah Ishida Tsutsumi di depan Maruhakayama Kofun (bukit makam yang menjadi pusat pasukan Toyotomi) untuk membuat pertunjukan tarian di depan musuh! Layaknya bunuh diri 🙁 Tarian Dengaku yang ditarikan merupakan tarian petani waktu berdoa pada dewa supaya panen berhasil. Nobou memang terkenal sebagai eksentrik yang suka bermain ke pertanian wilayahnya dengan maksud untuk membantu, tapi biasanya hanya akan mengganggu pekerjaan petani. Waktu dia sedang menari itulah, dia ditembak oleh pihak musuh.

Melihat pemimpinnya jatuh ke dalam air, beberapa petani yang menyusup ke dalam pasukan musuh membongkar tanggul sehingga air yang mengelilingi Shijo Castle itu surut. Pengaruh Nobou pada petani memang besar.

Setelah air surut, Nobou bersiap untuk berperang lagi. Demikian juga pihak musuh. Tetapi sebelum terjadi pertempuran, ada pemberitahuan bahwa Odawara Castle sudah kalah, sehingga peperangan tidak perlu dilakukan lagi. Odawara Castle lebih tinggi kedudukannya dari Oshi Castle. Pertempuran selesai dengan kondisi seri, namun tentu Nobou tidak bisa tinggal lagi di castle itu. Oshi castle adalah satu-satunya castle dalam perang Sengoku Jidai yang tidak “kalah”.

Dan yang mengesankan pada pertemuan dengan pihak musuh setelah perang usai, Nobou mengajukan dua syarat yaitu minta supaya sawah yang hancur oleh perang (ditimbun tanah waktu membendung tanggul) untuk dibersihkan. Katanya, “Jika tidak dibersihkan petani tak bisa bertanam lagi”. Dan yang ke dua, waktu pertempuran ada beberapa petani yang dibunuh oleh prajurit musuh. Petani bukanlah samurai, jadi tidak boleh dibunuh. Itu sudah merupakan etika perang. Jadi Nobou minta supaya prajurit yang membunuh petani untuk dihukum (dibunuh). Di sini dapat dilihat betapa Nobou berpihak pada petani.

Setelah itu memang tidak diketahui Nobou pergi dan tinggal di mana. Ada seorang panglima perangnya yang kemudian menjadi pendeta Buddha untuk mendoakan mereka yang sudah mati dalam peperangan. Oshi Castle bubar, dan terakhir menjadi milik keluarga Abe, salah seorang menteri berpengaruh di pemerintahan Tokugawa (abad 18).

Trailer film ini bisa dilihat di : http://youtu.be/9I__lzfCpHU

Film yang cukup bagus menurutku. Aku sendiri baru menonton persis sehari sebelum kami pergi ke Oshi Castle tanggal 19 Mei yang lalu.  Riku dan Kai diajak papanya menonton waktu film ini dirilis tahun lalu. Sebetulnya film ini akan dirilis bulan September 2011, tapi untuk menghormati Gempa Tohoku (Maret 2011) rilis film ini ditunda. Pertimbangannya karena ada adengan luapan air bagaikan tsunami yang menutupi daerah rendah sekitar castle, yang mungkin akan berpengaruh pada perasaan korban gempa dan keluarga yang ditimpa musibah. Rasanya tidak etis… Keputusan ini juga aku kagumi. Toleransi orang Jepang yang sangat tinggi! Selain itu di cover DVD yang kami pinjam juga tertulis peringatan bahwa akan ada adegan seperti tsunami.

Oshi Castle

Oshi Castle ini sendiri terletak di Gyoda Saitama, cukup dekat dengan rumah kami hanya dengan 1 jam bermobil. Kami pergi ke sana dan menemukan bangunan castle tetapi bukan peninggalan jaman Nobou tentunya. Castle ini masih baru dan berfungsi sebagai museum sejarah daerah setempat. Kami sampai di castle sekitar pukul 2 siang karena kami harus ke gereja dulu paginya. Kami lalu membeli karcis masuk seharga 200 yen untuk dewasa dan 50 yen untuk anak-anak. Untung sekali waktu itu Staf memberitahukan bahwa ada kesempatan untuk memakai baju perang yoroi sebagai sebuah acara tambahan museum. Gratis asal membayar tanda masuk castle yang 200 yen itu! Murah sekaliiiii….. Begitu mendengar bahwa bisa memakai yoroi, anak-anak sangat gembira sampai stafnya berkata, “Wah senang sekali melihat anak-anak ini begitu antusias”.

Oshi Castle

Kami langsung menuju aula tempat mencoba memakai pakaian perang itu dan mendaftar. Cukup lama harus menunggu giliran. Akhirnya Kai dipakaikan baju perang dari Takeda Shingen (yang kami kunjungi dua minggu sebelumnya). Yoroi itu ternyata terpisah-pisah. Pertama pakai pelindung kaki, lalu pelindung tangan baru semacam rok dan pelindung dada. Roknya terdiri dari lempengan besi dan keseluruhan berat pakaian ini sekitar 20 kg untuk orang dewasa (rata-rata sepertiga dari berat badannya). Bisa lihat beratnya baju perang ini dalam video Kai berputar memakai yoroi.


Riku memakai yoroi ukuran dewasa yaitu yoroi dari keluarga Abe, si penguasa Oshi Castle pada jaman Tokugawa. Memang setiap yoroi berbeda desain menurut keluarganya, sehingga bisa terlihat waktu perang, prajurit itu prajurit siapa. Dan staf yang memakaikan baju perang ini pada Riku amat baik dan menawarkan mengambil foto kami sekeluarga. Mungkin karena aku orang asing ya 😀

proses pemakaian baju perang

Setelah mencoba berpakaian yoroi, kami pun melihat benda-benda bersejarah dari Oshi castle ini yang dipamerkan di tiga lantai. Seperti kebanyakan museum, kami tidak boleh memotret dalam museum. Tapi memang tidak ada yang menarik sih. Mungkin yang menarik di situ adalah bahwa kota Gyouda ini terkenal juga sebagai pembuat kaus kaki untuk kimono. Dan di salah satu corner ada foto alas kaki pesumo terkenal dan kita bisa membandingkan kaki kita dengan pesumo itu. Wah memang kakinya pesumo itu besar ya 😀 Habis kaki itu harus menanggung berat badan yang tidak tanggung-tanggung sih.

Ishida Tsutsumi

Setelah melihat museum, kami pindah tempat menuju ke Ishida Tsutsumi, dam buatan waktu pasukan Toyotomi merendam Oshi Castle dengan air sungai. Di dekatnya terdapat Maruhakayama Kofun (makam) yang menjadi pusat pasukan Toyotomi. Makam ini berbentuknya seperti gundukan tanah yang tinggi, tapi karena waktu itu aku capek sekali, aku tidak ikut naik ke atas. Lagipula sudah mulai hujan rintik-rintik, aku takut kalau terpaksa harus bergegas turun, padahal aku takut ketinggian (sehingga pasti butuh waktu lama untuk menuruni bukit).

Maruhakayama Kofun

Sebetulnya di sekitar tempat itu juga ada museum dokumentasi lainnya, tapi karena sudah pukul 4:30 sudah tutup. Kami juga tidak sempat (lebih ke tidak berminat sih) mencoba makanan khas daerag Gyouda yaitu Gorengan dan Jelly Goreng … yieks.

Senang sekali perjalanan waktu itu, bisa mengunjungi castle yang menjadi tempat bersejarah. Sayangnya castle ini tidak termasuk dalam 100 castle terkenal di Jepang. DeMiyashita sedang berusaha mengunjungi dan mengumpulkan stamp dari castle-castle yang termasuk dalam 100 castle terkenal di Jepang 100名城. Ntah kapan bisa terlengkapi, tapi senang jika mengetahui bahwa kami mempunyai suatu target bersama, target keluarga dalam hidup kami.

Riku ber-yoroi

Pemersatu

Aku selalu mengajarkan pada murid-muridku bahwa bahasa Indonesia adalah pemersatu bangsa Indonesia, yang memang mempunyai sekian banyak bahasa daerah untuk sekian banyak suku bangsa. Tapi bahasa itu memang skala “besar” dan “abadi”, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya butuh beberapa “rangsangan” untuk lebih merasakan persatuan bangsa. Suatu kegiatan atau acara atau apalah namanya yang dapat membuat satu negara ini merasakan sesuatu yang sama.

Padahal Indonesia punya banyak hari peringatan, yang setiap tahun, pada hari tertentu diperingati seluruh masyarakat. Entah dengan kegiatan besar seperti kegiatan hari Kartini yang sampai melibatkan anak TK berpakaian adat, atau kegiatan kecil yang “hanya” dirayakan oleh pegawai negeri dengan upacara bendera. Atau mungkin karena sudah terlalu sering, maka peringatan itu kehilangan maknanya? Hmmm semestinya tidak boleh kehilangan makna, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai sejarahnya, bukan? (Jangan jawab bukaaaaan yah hehehe)

Kemarin tanggal 21 Mei 2012, hampir seluruh penduduk Jepang menyaksikan gerhana matahari, annular eclipse. Seperti sudah diketahui, fenomena  gerhana matahari adalah suatu saat jika posisi bulan berada di antara bumi dan matahari dan bulan menutupi  menutupi sebagian atau seluruh cahaya matahari. Biasanya gerhana matahari berlangsung setahun 2 kali. Tapi gerhana matahari total atau gerhana matahari cincin amat sangat jarang bisa dilihat. Kali ini Jepang mulai dari selatan sampai utara, bisa melihat gerhana matahari cincin, yang merupakan kejadian bersejarah setelah 932 tahun (terakhir pada tahun 1080). Dari seluruh kota Jepang, Shizuoka (tempat gunung Fuji berada) dan Tokyo, beruntung dapat melihat gerhana matahari cincin yang sempurna (pas di tengah-tengah).

Aku memotret Riku yang sedang memotret gerhana matahari yang sedang terjadi di Kagoshima (selatan Jepang) dengan Nintendo DS nya. Saat itu di Tokyo matahari sudah seperti bulan sabit.

Sudah sejak sebulan sebelumnya media masa Jepang mengangkat topik ini, sehingga hampir seluruh masyarakat Jepang mengetahuinya. Tentu saja fenomena ini juga menjadi kesempatan untuk bisnis. Suamiku membeli sebuah majalah “Newton” yang mengulas tentang Gerhana Matahari Cincin lengkap dengan jadwal bisa dilihat pukul berapa di kota apa, serta sebuah kacamata khusus untuk melihat gerhana matahari. Harga majalahnya 1500 yen (+pajak jadi 1575 yen). Tapi banyak pula yang hanya membeli kacamata saja, seharga minimum 500 yen. Seorang teman FBku menulis: “Coba kita hitung-hitungan berapa untungnya pebisnis dengan adanya gerhana matahari cincin ini”. Tentu saja pasti untung!

Kai dibangunin kakaknya supaya melihat kejadian langka ini. Masih menguap deh 😀 Dia melihat dengan kacamata yang dijual bersama Majalah Newton yang dibeli Gen. Satu kacamata untuk berempat, gantian deh.

Meskipun pada hari H nya mendung menggelayut, gerhana matahari cincin dapat dinikmati oleh orang-orang yang ingin menjadi bagian dari sejarah. Belum tentu anak cucu kita bisa melihatnya lagi loh. Sampai-sampai ada beberapa sekolah yang menyuruh murid-muridnya datang lebih cepat (karena diperkirakan pukul 7:30 padahal hari biasa sekolah mulai pukul 8:30). Satu sekolah menyaksikan gerhana matahari cincin bersama, di halaman sekolah. Coba tuh, gerhana matahari bisa menjadi pemersatu!

Gerhana matahari cincin di Tokyo pada pukul 7:34 pagi. Aku tidak berani ambil foto karena katanya kamera/mata bisa rusak... cari amannya aja deh.

Dan hari ini tanggal 22 Mei, satu lagi “pemersatu” Jepang dibuka. Menara pemancar tertinggi di dunia, Sky Tree Tokyo (634 meter) diresmikan. Meskipun hujan dan udara dingin (16 derajat, turun 9 derajat dari kemarin), warga Tokyo mulai memenuhi pelataran Sky Tree di bawah payung sejak pukul 6 pagi. Pengunjung umum belum bisa masuk dan naik ke atas Sky Tree tanpa reservation sampai bulan Juli. Setelah itu baru pengunjung umum bisa masuk dengan membayar 3000 yen untuk naik ke tenboudai (observatory deck) tertinggi (350 meter). Diharapkan Sky Tree dapat menarik wisatawan untuk datang, dan menggeliatkan perekonomian Jepang yang sedang lesu.

So, kapan kopdar di Sky Tree? 😀

 

Kesatuan Macan Putih

Jika kemarin aku sudah menulis tentang Tsurugajo Castle (istana dari han Aizu), maka untuk menulis tempat yang aku kunjungi setelah itu, aku harus menuliskan sedikit sejarah Jepang jaman Meiji awal, 1868-an.

Pada jaman sebelum Meiji, atau yang dikenal dengan jaman Tokugawa atau Edo (nama Tokyo waktu itu), Jepang dikuasai oleh Shogun dari keluarga Tokugawa dan menjadi pucuk pimpinan dari wilayah-wilayah yang disebut han, yang diketuai oleh seorang daimyo. Pada akhir kekuasaan Tokugawa, ada dua han yang melawan Tokugawa dan mendukung pemerintahan baru, yaitu Satsuma dan Chosu. Sedangkan han Aizu yang diketuai Matsudaira Katamori sebagai daimyo terakhir mendukung pemerintahan lama.

Pada perang antara pendukung Tokugawa dan pendukung pemerintahan baru yang disebut perang Boshin tahun 1868-1869 (yang berakhir dengan kekalahan Tokugawa), Aizu ikut bertempur dan sebagai pasukan cadangan dibuatlah pasukan yang diberi nama Byakkotai atau bisa diterjemahkan menjadi Kesatuan Macan Putih. Kesatuan ini terdiri dari 305 pemuda berusia 16-17 tahun yang terdiri dari anak-anak samurai dari han Aizu. Pada waktu terjadi pertarungan di Tonogahara, ada 20 anggota Byakkotai terpisah dan mundur ke bukit Iimori. Dari bukit Iimori ini, mereka bisa  melihat ke arah kastil Tsurugajo dan terlihat kastil itu terbakar. Merasa kalah dan tidak bisa mempertahankan tuan mereka, prajurit muda ini kemudian melakukan bunuh diri di bukit tersebut. Tapi ada satu prajurit yang selamat (diselamatkan penduduk) bernama Iinuma Sadakichi yang kemudian setelah perang selesai pindah dan tinggal di Sendai. Karena pengakuan Iinuma inilah diketahui nasib 19 orang anggota Byakkotai yang bunuh diri ini. Untuk mengenang keberanian mereka di bukit Iimori ini dibangun tempat kenangan, monumen dan kuburan yang diberi nama Byakkotai Kinenkan (Byakkotai Memorial).

Hadiah patung batu dari Mussolini

Dalam komplek ini terdapat puisi dari Matsudaira Katamori yang tertulis di batu peringatan yang bertuliskan: “Seseberapa banyaknya tangisan akan menghapus batu-batu ini, nama-nama mereka tidak pernah akan terhapuskan dari dunia”. Kagum akan keberanian dan kesetiaan pasukan Byakkotai, Benito Mussolini dari Italia mengirimkan sebuah patung batu dari Pompeii untuk didirikan dalam kompleks Memorial ini.

Tingginya tangga di bukit Iimori, sebelah kanan ada elevator untuk ke atas, tentu harus bayar

Setelah memarkirkan mobil, kami menuju Memorial dan di pintu masuknya kami mendapati sebuah tangga yang tinggi sekali. Sempat berpikir juga, apakah aku sanggup untuk naik ke sana. Tapi ternyata untuk turis penakut seperti aku, tersedia elevator sampai ke atas dengan membayar 250 yen. Jadi aku, Riku dan Kai naik elevator sedangkan Gen naik tangga. Sesampai di atas memang hanya monumen dan patung serta kuburan yang bisa dilihat. Bagi wisatawan yang tidak mengerti jalan cerita sejarah Byakkotai pasti menganggap tempat ini membosankan. Tapi buat mereka yang mengerti bisa merasakan dan membayangkan kegalauan anak-anak muda yang demi membela han dan tuannya, rela bunuh diri sendiri.

Tugu peringatan dan tempat berdoa

Dari bukit tempat memorial, kami menuju arah pulang sesuai dengan petunjuk yang ada. Dan kami menemui sebuah bangunan yang aneh. Semacam menara berwarna hitam. Kami diajak untuk mencoba masuk dan naik menara ini, dan merasakan keajaiban bangunan yang didirikan tahun 1796. Jika kita masuk dan menaiki tanjakan (bukan tangga) Aizu Sasaedo ini, kita akan bisa sampai atas, dan tanpa perlu kembali ke arah datang kita bisa turun ke bawah. Jadi waktu turun kita tidak akan pernah berpapasan dengan orang yang sedang naik. Memang menarik sekali bangunan kuno ini. Meskipun rasanya 400 yen cukup mahal sebagai tanda masuknya 😀

Menara Aizu Sasaedo dengan tangga beralur yang memungkinkan kita tidak usah kembali untuk turun

Tapi waktu kami meninggalkan Aizu Sasaedo dan akan berjalan pulang, kami menemukan sebuah kali kecil berarus deras dengan Jinja (tempat berdoa) dan pemandangan di sini indah! Tanahnya ditutupi daun-daun kuning sehingga kami bisa merasakan autumn yang sesungguhnya. Jepang Utara di musim dingin memang memikat.

menuruni bukit

 

Koinobori

Sejak hari Senin (18 April 2011) yang lalu, di lapangan TK Kai terdapat pemandangan yang lain dari biasa. Begitu masuk halaman sekolah itu langsung terlihat deretan bendera ikan KOI yang besar menggantung di sana. Bendera ikan KOI memang dipasang menjelang hari anak-anak atau Kodomo no hi tanggal 5 Mei.

Bendera Koi (Koinobori) di halaman sekolah TK nya Kai

Pemandangan itu akan berbeda sekali dengan foto ini, foto kibaran bendera ikan Koi di daerah korban gempa, terpasang gagah di depan Balai desa Ooishi, Rikuzen Takada, prefektur Iwate. Bendera ikan Koi ini dikirim bersama makanan dan bantuan dari Osaka, dan dipasang oleh relawan. Kontras sekali dengan latar belakang daerah yang rata dengan tanah akibat terjangan tsunami.

Koinobori dengan latar daerah bencana

Koinobori ini sama-sama sebagai perlambang atau simbol hari anak laki-laki (meskipun dikatakan hari anak-anak, karena perayaan untuk anak perempuan sudah dilaksanakan tanggal 3 Maret dengan Hina Matsuri). Aku sempat berpikir mengapa bendera ikan Koi yang dipakai sebagai lambang hari anak-anak ini? Mengapa bukan layang-layang berbentuk naga atau mungkin samurai? Mengapa ikan KOI? mengapa bukan ikan-ikan yang lain, misalnya hiu atau salmon?

Setelah aku cari memang ternyata Koi merupakan ikan yang tangguh dan bisa hidup di mana-mana, kolam maupun genangan air berlumpur. Dahulu ada air terjun di China yang arusnya bergitu kencang. Konon jika ada ikan yang berhasil melawan arus dan sampai di puncaknya akan berubah menjadi naga. Dan satu-satunya ikan yang berhasil melawan arus dan sampai ke puncaknya hanya seekor Koi. Dia kemudian berubah menjadi naga.(Keterangan dari sini)

Jadi Koi dipilih sebagai simbol hari anak-anak juga dimaksudkan supaya anak-anak laki-laki dapat tetap tangguh melawan kehidupan yang keras dan maju terus.

Tapi kalau lihat dari sejarahnya, sebetulnya koinobori baru dipakai pada jaman Tokugawa di kalangan rakyat biasa. Dulunya peringatan hari anak-anak untuk kalangan samurai dipakai bendera dengan lambang keluarga atau umbul-umbul. Nah, kalangan rakyat biasa yang tidak mempunyai lambang keluarga kemudian memakai simbol Koi sebagai bendera sebagai lawannya kaum samurai. Awalnya bendera Koi ini terbuat dari kertas Jepang, dan baru pada tahun 1955 memakai bendera dari kain sintetis. (sumber  dari sini)

Aku juga jadi ingat pertanyaan Ata chan dalam posting “Four Season” yang menanyakan :

setelah liat foto kolam itu jadi kepikiran.. ikan koi tahan ya Mbak di musim dingin..?
apa kolamnya pake’ heater..

Tentu saja ikan Koi tahan dingin, karena asal mereka memang dari negara 4 musim dan di alam tidak ada heater bukan? Ikan Koi yang terkenal di Jepang dari jenis Nishikigoi, berasal dari daerah Niigata. Daerah yang terkenal sebagai “Negara Salju” Yukiguni. Tidak mungkin ikan Koi ini satu per satu dipindahkan ke kolam berheater kan? Lagi pula meskipun permukaan kolam membeku, air di dalam kolam tidak akan membeku, atau tidak semua tempat airnya membeku (seperti yang dialiri air terjun pasti tidak membeku).

Karena tahan dingin ini juga mungkin ikan Koi terkenal dengan kekuatannya. Jadilah dia koinobori, simbol bagi pertumbuhan dan perkembagan anak laki-laki menjadi manusia yang tangguh dan kuat. Semoga anak-anak korban gempa Tohoku juga menjadi anak-anak yang kuat dan sehat menyambut masa depan yang mungkin sekarang kelihatannya suram. Maju terus!

 

Tulisanku tentang perayaan hari anak-anak bisa dibaca dari posting lalu:

http://imelda.coutrier.com/2008/05/05/hari-anak-laki-laki/

http://imelda.coutrier.com/2009/05/06/bouya/

http://imelda.coutrier.com/2010/05/06/hari-anak-anak/

selain itu bagi yang berminat mencari posting lama di TE silakan mencari di page INDEX.

 

 

Pintu Pemeriksaan

Posting kali ini adalah catatan wisata berbau sejarah, yang merupakan lanjutan perjalanan kami di Hakone yang telah saya tulis di Paten(i) Seni.

Pada bagian akhir saya menjelaskan bahwa ternyata tempat yang kami kunjungi itu dulunya merupakan tempat perhentian iring-iringan daimyo (tuan tanah) daimyo gyouretsu, sehingga menjadi tempat yang bersejarah. Dan sebetulnya daerah Hakone memang terkenal sebagai jalan masuk/keluar menuju Edo (Tokyo) dan Kyoto. Karena itu di Hakone ada Pintu Pemeriksaan yang disebut Hakone Sekisho.

Pintu masuk Tokyo

Jaman Edo dulu (1603-1868) , para tuan tanah diwajibkan untuk berkumpul di pusat kota pada waktu-waktu tertentu. Peraturan yang dinamakan sankin kotai ini merupakan kebijakan pemerintah Tokugawa untuk menjaga keutuhan negeri. Karena jika tuan tanah pergi ke pusat kota, berarti dia tidak berkesempatan membangun kekuatan militer di daerahnya. Ini bagus untuk keamanan, tapi berdampak buruk untuk perekonomian, karena biaya perjalanan ditanggung oleh sang tuan tanah Daimyo.

Nah untuk melindungi keamanan Edo (Tokyo) maka pemerintah Bakufu (pemerintah Edo Pusat) mendirikan Pintu Pemeriksaan atau Sekisho ini di 53 titik yang dianggap sebagai pintu masuk ke Edo (Tokyo). Selama pemerintahan Bakufu, sedikitnya 260 tahun, Sekisho   menjalankan tugasnya untuk mengamankan Edo (Tokyo) sampai awal Meiji (runtuhnya pemerintahan Bakufu).

Loket penjualan karcis masuk di Pintu Kyoto. Lihat Kai "bersembuyi" di bawah....

Sebetulnya saya sudah pernah pergi ke Hakone Sekisho ini, di awal kedatangan saya di Jepang, sekitar tahun 1992-an.  Saya masih ingat, dulu tempat ini kusam, tidak banyak bangunan dan yang membekas ada semacam museum dengan dokumen-dokumen kuno. Hmmm boleh dikatakan tidak menarik untuk orang asing awam (kecuali yang suka sejarah). Dulu memang saya juga tidak membawa kamera sehingga tidak ada kenangan yang diabadikan.

Yang sebelah kiri tuh ceritanya pendeta Buddha Ikkyu-san

Tapi waktu kami pergi ke hakone Sekisho ini, amat banyak perubahan yang ada. Tempat pemeriksaan ini ternyata sudah direnovasi, setelah 140 tahun terbengkalai. Di bangunan yang di cat hitam ditempatkan patung penjaga, patung kuda, bahkan dilengkapi dengan dapur lengkap dengan panci dan patung orang yang sedang memasak. Patung-patung ini seukuran manusia dan karenanya Kai takut melihatnya.

Kami masuk dari pintu Edo, melintasi Kantor Pemeriksaan dan pos pengawal, untuk kemudian keluar lewat Pintu Kyoto. Tapi untuk melihat ke dalam Kantor Pemeriksaan termasuk dapur dan menara pengintainya, kami musti membeli karcis seharga 500 yen untuk dewasa di dekat pintu Kyoto. Saya merasa agak aneh saja, kok loket karcisnya hanya di pintu Kyoto. Dan sebetulnya 500 yen untuk melihat ke dalam Kantor itu agak mahal deh…. Untuk orang Jepang yang mengerti sejarahnya OK lah. Tapi untuk wisatawan asing…. hmmmm. Baru kali ini saya menyetujui perbedaan karcis masuk untuk wisdom dan wisman di tempat wisata Indonesia.

Pemandangan di kantor pemeriksaan

Di Kantor Pemeriksaan kami bisa melihat proses pemeriksaan yang dilakukan oleh satu petugas Bangashira, satu asisten Yokometsuke, 3 orang Jobannin, dan  15 petugas bawahan. Dan satu lagi yang tidak kalah penting perannya adalah hitomi-onna. Hitomi onna ini bertugas memeriksa wanita yang lewat. Karena peraturan sankin kotai itu mewajibkan tuan tanah meninggalkan anak-istrinya di Edo selama pulang ke daerah mereka. Sebagai tawanan sehingga mereka tidak bisa memberontak melawan penguasa pusat.

Jenis paku jaman Edo. Kok aku ngeliat gini jadi ngeri kalau paku itu dipakukan ke orang ya? hiiii

Meskipun saya merasa mahal karcis masuk yang 500 untuk melihat fasilitas seperti itu, bisa terobati juga sih karena memang pemandangan dari atas menara pengintai itu bagus. Di latar belakang terlihat danau Ashi dengan kapal wisata berbentuk kapal bajak laut. Kalau ada waktu banyak lumayan juga duduk di atas bukit sambil baca buku sambil menikmati pemandangan yang terhampar.

Setelah dari tempat ini, kami sempat mampir juga di sebuah hotel kuno di daerah Hakone Yumoto yang bernama Miya no shita Fujiya Hotel. Kami sudah 2-3 kali ke hotel ini, tapi memang tidak menginap. Karena tarif per malam menginap di hotel ini mahal sekali. Satu orang per malam bisa 3,6 juta rupiah saja hihihi. (FYI: menginap di penginapan Jepang hampir semua dihitung per kepala, bukan per kamar)

halaman hotel Fujiya

Hotel yang didirikan tahun 1878 ini memang terkenal sebagai hotel kuno, yang sering dikunjungi seleb dan orang terkenal dari manca negara. Karena kami belum menjadi seleb, jadi belum mampu deh menginap di situ. Cukup makan nasi kare saja di restorannya. Nasi Kare restoran di hotel ini begitu terkenal sampai dijadikan makanan retort (siap saji dalam kemasan).

Gambar kompleks hotel Fujiya. Diambil dari web resmi hotel ini.

Dan kami pernah mengajak papa-mama mampir ke hotel ini waktu papa mama datang ke Jepang. Salah satu foto mereka yang amat saya suka…. (obat kangen nih)

aku suka foto ini yang aku ambil 29 Mei 2005 di Fujiya Hotel, Hakone

Dengan selesainya tulisan ini, selesai deh perjalanan kami ke Hakone tanggal 11 Januari yang lalu. Satu hari wisata dengan 3 tulisan, yaitu: kerajinan Yosegisaiku Paten(i) Seni, Museum Pangeran Kecil , dan Pintu Pemeriksaan ini.

Sebutan itu….

Pahlawan adalah sebuah sebutan yang ditujukan pada orang-orang yang berjasa dalam merebut kemerdekaan. Benarkah itu? Tentu saja benar, tapi mungkin artinya bisa lebih luas lagi. Kita lihat KKBI,

pah·la·wan n orang yg menonjol krn keberanian dan pengorbanannya dl membela kebenaran; pejuang yg gagah berani; ke·pah·la·wan·an n perihal sifat pahlawan (spt keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan)

Waktu saya ingin menulis sesuatu untuk menyambut hari Pahlawan, terus terang saya merasa sulit. Apa yang akan saya tulis? Meskipun saya suka sejarah, ternyata sejarah yang saya kuasai lebih banyak sejarah Jepang daripada sejarah Indonesia. Atau saya merasa “kurang informasi” mengenai sejarah pahlawan Indonesia sendiri. Putar otak dan memanfaatkan internet saya malah membaca bermacam-macam fakta yang membuat kening saya berkerut. Sampai Gen, suami saya berkata,”Mel, dengan muka kamu yang berlipat begitu, pasti tulisan kamu tidak akan menarik!”. Betul sekali… muka saya memang tidak pantas dilihat saat itu.

Berapa sih sebetulnya jumlah pahlawan Indonesia? seratus sekian? Dan lebih terkesiap jika Anda membaca komentar Daniel Mahendra di posting saya yang ini: Ajakan Merayakan Hari Pahlawan

Dan tahukah, Bung Tomo baru akan diberi gelar Pahlawan Nasional itu besok, pada 10 November 2008.

See?

Aduh…. benar-benar aduh! Saya cari di wikipedia tentang Pahlawan dan mencari dengan kata kunci Pahlawan. Terdapat daftar nama Pahlawan Indonesia, yang 138 orang, per 2006. Memang tidak ada nama Bung Tomo. Padahal? Ditetapkan tanggal 10 November itu apa coba dong alasannya? kok… loh… dong … dechhh ….. sih ……

cuma itu yang saya bisa katakan, sambil menahan emosi.

Sutomo (lahir di Surabaya 3 Oktober 1920, meninggal di Makkah, 7 Oktober 1981) lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Banyak yang ingin saya tulis…tapi daripada jadi ngalor ngidul saya hanya mau tanya tentang kata pahlawan itu sendiri. Siapa sih yang menentukan seseorang berhak dipanggil pahlawan? Apakah memang butuh waktu sekian lama untuk menentukan seseorang seperti Bung Tomo menyandang “gelar” Pahlawan (Yang tentunya bagi Bung Tomo sendiri gelar itu sendiri sekarang TIDAK penting!!!!). Dan mengapa kita sendiri bisa mengumbar sebutan pahlawan untuk siapa saja di sekitar kita, tetapi untuk mengakui orang yang benar-benar berjasa saja butuh waktu sekian lama? Saya tidak mempertanyakan keabsahan sebutan itu tapi kalau kita bisa menyebutkan orang tua kita sendiri sebagai pahlawan kita, (lihat posting mascayo )  atau kita bisa menyebut guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, atau yang paling aneh menurut saya Tenaga Kerja (Wanita) yang bekerja di luar negeri sebagai pahlawan devisa, masak sih masih banyak orang yang benar-benar berjuang di medan perang, tidak bisa kita panggil sebagai pahlawan? OK, saya mengerti bahwa kalau semua orang dinyatakan sebagai pahlawan akan penuh TMP kita…. tapi selayaknya kita, bangsa Indonesia, memikirkan tentang PAHLAWAN lebih dalam, jangan asal sebut saja, sehingga makna kata Pahlawan itu menjadi kabur. (meskipun dalam KBBI sendiri artinya amat sangat luas sekali).

Ilustrasi percakapan saya dan Gen di pagi hari tanggal 10 November ini:

“Gen …. Yasukuni Jinja itu tempat pahlawan Jepang?”
“Bukan…”
“Tapi kan selalu jadi polemik jika petinggi negara pergi ke sana”
“Kita diajarkan untuk tidak menganggap orang-orang yang di”kubur” di situ sebagai pahlawan”
“Loh… Jadi Pahlawan Jepang itu siapa?!
sambil tertawa, “Ichiro… (pemain base ball)”
“hmmm lalu orang-orang yang tergambar di uang kertas Jepang apakah bukan pahlawan?”
“Ya mereka Pahlawan….. Tapi bagi Jepang sekarang orang-orang yang aktif di dunia internasional sekarang adalah pahlawan”

Natsume Soseki (Satrawan), Fukuzawa Yukichi (Bapak Pendidikan), Shotoku Taishi (Pangeran yang membuat peraturan Jepang pertama kali di abad ke 7) dll.

“OK. Bisa dimengerti…. BTW Indonesia hari ini memperingati hari pahlawan. You know what? TKI aja dibilang pahlawan devisa”

“Understandable!. Indonesia perlu legenda. Sebanyak mungkin memberikan gelar pahlawan atau menyebut seseorang pahlawan untuk menyatukan negeri. Dan memang begitu kondisinya kan. Jepang dari awal tidak perlu pahlawan karena kita menganggap Jepang adalah negara kesatuan dari dulu (yang menurut saya tidaklah 100% benar). Tidak perlu ada istilah pahlawan. Tapi Indonesia perlu. Pahlawan sekarang justru yang sedang berkecimpung di dunia internasional dan mendapat pengakuan luar negeri.”

Hmmmm emang lain ya cara berpikirnya. Tapi soal pahlawan “sekarang” adalah orang-orang yang aktif mengharumkan nama negara di dunia internasional, itu saya amat sangat setuju. Jadi mari…kita berusaha menjadi pahlawan dengan mengharumkan nama bangsa kita. Maju!!!!! jangan melulu tinggal pada romantisme masa lalu. Baca posting pak Oemar tentang Yogi. Selayaknyalah kita berusaha memajukan Indonesia lewat bidang masing-masing. Atau paling sedikit menulis lewat blog Indonesia, seperti komentar DM.

Ajakan Merayakan Hari Pahlawan

Saya mendapat ajakan dari Mang Shanny untuk bersama-sama memperingati Hari Pahlawan. Mari…mari yang berminat bisa ikutan ya.

******************************

Rencananya nanti pada tanggal 10 November 2008, kita semua para blogger akan membuat posting dengan tema tentang pahlawan Indonesia. Dan semuanya akan di publish pada pukul 10 pagi di tanggal 10 November tersebut.

Karena itu kami berharap agar rekan-rekan blogger semua dapat ikut berpartisipasi dalam event ini. Sebagai bentuk wujud kepedulian kita terhadap para pendiri bangsa ini.

Mungkin hanya inilah yang bisa kita lakukan sebagai blogger dalam rangka memperingati hari Pahlawan nanti. Semoga seluruh rekan-rekan dapat mengikutinya.

Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut ;

  • Isi posting bebas, bisa berupa hasil tulisan anda sendiri, sejarah para pahlawan, sejarah tokoh pahlawan, sejarah tentang situasi masa kemerdekaan, atau apapun juga.
  • Bisa dalam bentuk tulisan murni, atau bisa juga dalam bentuk posting foto atau video.
  • Publish hasil posting anda pada blog anda masing-masing pada pukul 10 pagi WIB, atau disesuaikan dengan kota masing-masing blogger berada
  • Masing-massing blogger cukup hanya publish satu posting saja
  • Tagline : hari pahlawan, pejuang, kemerdekaan, sejarah, bangsa, negeri, Indonesia
  • Kategori post : Sejarah, Pahlawan, Bangsa, Indonesia

Diharapkan pada siang harinya, seluruh hasil posting tersebut sudah dapat di search melalui mesin pencari di google, dengan kata kunci yang sama dengan tagline atau kategori post.

Hal ini diharapkan akan berdampak kepada pencarian, dimana pada waktu yang sama dengan tanggal yang sama telah terjadi posting blog secara serentak yang dilakukan oleh para blogger di Indonesia.

Selain itu pada tanggal yang sama juga, diharapkan para blogger dapat melakukan aksi sosial berupa donor darah di PMI cabang masing-masing kota.

Namun untuk yang satu ini, diharapkan ada keihklasan hati untuk mendonorkan darahnya, serta niat semata-mata untuk menolong sesama yang membutuhkan darah.

Bila anda akan mendonorkan darah, maka harus memenuhi ketentuan sebagai berikut ;

  1. Tidak sedang dalam kondisi Menstruasi bagi wanita
  2. Tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan baik obat dari dokter atau hanya obat biasa
  3. Tidak sedang dalam kondisi capek atau bekerja berat
  4. Tidak dalam kondisi yang kurang istirahat (tidur) akibat bedagang sehari sebelumnya.
  5. Tekanan darah dalam kondisi normal

Jadi dalam menyambut hari Pahlawan nanti pada tanggal 10 November, ada dua event yang akan kita lakukan, yaitu posting secara bersamaan, dan satunya adalah aksi sosial berupa donor darah.

Pengalaman anda dalam mendonorkan darah, bisa anda publish sebagai bahan posting hari berikutnya.

Semoga ini adalah event yang pertama kali dilakukan oleh para blogger di Indonesia, dan mendapat perhatian dari blogger negara lain.

Mohon kepada anda yang telah membaca tulisan ini, untuk menyebarkannya kembali kepada rekan-rekan atau blogroll anda atau informasikan juga pada saat anda chatt, sehingga diharapkan semakin banyak blogger yang berpartisipasi dalam acara ini.

Silahkan anda copas tulisan ini untuk anda pasang di blog anda, semoga pula dengan cara seperti ini informasi akan dengan cepat menyebar kepada para blogger.