Arsip Tag: bellmark

Buku Pelajaran

Hari kedua Riku ke sekolah. Hanya 4 jam pelajaran, sehingga tidak makan siang di sekolah. Makan bersama di sekolah (kyuushoku 給食) baru mulai besok tanggal 8 April. Hari ini masih mengulang pelajaran yang lalu, dan hari ini dibagikan buku pelajaran dari sekolah. Mata pelajarannya: Berhitung, Bahasa (Jepang), Musik, Kanji. Buku pelajaran utama ini adalah buku wajib yang diterbitkan oleh pemerintah dan dipakai di seluruh Jepang, dan gratis dibagikan ke semua murid. Tahunya dengan melihat bagian belakang buku, tercantum 0000E.

tanda harga buku di bawah ISBN. Semua buku tercetak harganya di bagian belakang

Pernah Riku kehilangan salah satu buku, dan waktu aku mau pesan ke gurunya malahan susah. Karena tidak dijual bebas dan gratis, prosedurnya sulit dan kami tidak tahu harus membayar berapa. Jadi oleh gurunya, karena semester sudah hampir habis, tidak usah membeli baru, lihat bersama buku teman saja (untung hanya buku prakarya).

Buku pelajaran kelas 2 SD, kecuali 2 buku latihan (yang paling kanan) semuanya gratis dibagikan pemerintah

Selain buku wajib, ada beberapa buku latihan dan buku tulis yang memang harus kita bayar. Sekolah yang membelikan, kami hanya memberikan uangnya lewat gurunya. Kebanyakan memang buku/bahan prakarya yang dipakai di sekolah akan dibelikan pihak sekolah, sehingga kami tidak perlu repot-repot mencari yang sama. Buku tulis saja, jika habis kami harus membeli sendiri. Dan buku tulis ini juga seragam semua. Biasanya sudah dibedakan untuk keperluan mata pelajaran apa dan kelas berapa. Jadi tinggal cari di toko buku, dan seragam semua. Buku tulis itu dari perusahaan Showa Note yang juga termasuk anggota Bellmark. Untuk itu perlu menuliskan nama di setiap buku dan peralatan murid. Dan itu tugas mamanya deh. Termasuk juga menulis nama di baju olah raga, kotak alat tulis yang seragam  (bukan kotak pensil tapi kotak A4 yang berisi gunting, selotip, kertas origami, lilin, crayon, craypas, dan alat lain yang diperlukan sehingga tidak usah bawa-bawa setiap hari) dan yang terakhir adalah 2 helai LAP yang satu helai dipakai untuk membersihkan meja/lemari loker dan satunya mengepel lantai.

Buku tulis untuk latihan Kanji

読み込み中

クリックでキャンセルします

画像が存在しません

読み込み中

クリックでキャンセルします

画像が存在しません

Purnabakti

Di awal tahun fiskal 2009, April lalu, aku sudah pernah menulis bahwa aku menjadi pengurus Parent Teacher Association (PTA) di SD nya Riku. Dari setiap kelas dipilih 3 orang, dan dari 3 orang ada satu yang menjadi wakil kelas yang harus duduk di kepengurusan inti (un-ei運営). Aku bukan wakil kelas, sehingga aku hanya menjadi pengurus biasa (sewanin 世話人).

Biasa? Memang tugas wakil kelas lebih banyak, dan mereka menjadi ketua atau wakil seksi di kepengurusan inti. Sedangkan kami-kami menjadi anggotanya. Dan aku menjadi anggota seksi kegiatan murid (Jidoubu 児童部). Kerjanya? Well, yang sudah aku tulis di TE  adalah membuat kumis eh origami udang seperti yang aku posting di Gara-gara Kumis untuk dipakai dalam acara Tsuri Land (Memancing tidak harus di air) ………. Lalu mengadakan kegiatan pengumpulan bellmark serta ecocap dan membantu kegiatan sekolah seperti pertandingan olahraga Undokai (Merah, Putih dan kebersamaan).  Dan ternyata kegiatan-kegiatan ini membuat pengurus yang termasuk dalam Jidoubu ini cukup sibuk (dibandingkan dengan seksi lain), karena paling sedikit dua kali sebulan harus mengadakan rapat dan kegiatan.

Dan secara tidak langsung aku merasa bahwa aku lebih sibuk mengurus ecocap dibanding yang lain. Tutup botol plastik dari botol minuman itu terbuat dari plastik yang kuat dan jika dikumpulkan oleh pabrik pengolah, tutup botol ini diolah lagi menjadi barang-barang plastik lain misalnya pot tanaman, serokan sampah, palet cat air, dan lain-lain. Pabrik pengolah ini “membeli” tutup botol bekas ini dan uang hasil penjualannya dibelikan vaksin (terutama polio) untuk anak-anak di dunia ketiga. Kalau dihitung 800 tutup botol dihargai 20 yen dan itu sama dengan vaksin polio satu orang. Betapa mulia  kegiatan ini, bukan?

Memangnya cukup hanya mengumpulkan tutup botol plastik? Sesudah itu bagaimana?

Tempat sampah khusus untuk ecocap

Di sekolah Riku tempat sampah khusus untuk mengumpulkan ecocap diletakkan di pintu masuk (dua tempat). Murid-murid atau siapa saja yang membawa tutup botol plastik itu memasukkannya ke dalam tong sampah khusus itu. Kemudian setelah banyak terkumpul barulah kami dari jidoubu ini bekerja. Aku juga baru tahu bahwa ternyata sebelum menyerahkan tutup-tutup botol ini perlu diperiksa dulu sebelumnya. Pertama jenisnya harus merupakan tutup botol plastik minuman, tidak boleh bekas tutup botol minyak atau bumbu dapur lainnya (besarnya tidak sama). Kedua, biasanya perusahaan minuman menyelenggarakan sayembara dengan menempelkan seal/sticker di atas tutup botol. Seal biasanya dikumpulkan untuk mendapat hadiah. Nah seal ini harus diambil sebelum diberikan ke pabrik pengolah, jadi kami harus memeriksa satu-per-satu apakah masih ada seal semacam itu di tutup botol yang terkumpul. Selain itu yang ketiga, kami juga harus memilah tutup botol yang kotor. Karena tutup botol yang terkena minuman jus atau kopi atau teh, jika disimpan maka akan menjadi jamuran atau mengundang serangga bertelur. Satu saja tutup botol kotor, akan membuat satu kantong tutup botol-tutup botol itu berjamur dan berserangga (berulat—terutama di musim panas).

satu per satu seal yang menempel di tutup botol dibuang

Nah, kami biasanya berkumpul dua minggu sekali secara bergantian, satu grup 4 orang, untuk memilah tutup botol ini. Tutup botol yang tidak sesuai besarnya dibuang, seal di”keletek“in (diapain sih bahasa Indonesia yang baku? dilepas?) dan yang kotor ? terpaksa kami bawa pulang untuk kemudian dicuci di rumah masing-masing. Kadang kami harus memakai bleach untuk melepaskan kotoran yang menempel di tutup botol itu, karena merendam di bleach lebih menyingkat waktu daripada mencuci satu-per-satu. (dan hasilnya juga bagus…jadi putih mengkilap loh hihihi). Perusahaan pengelola hanya mau menerima tutup botol yang bersih karena jika tidak akan merusak mesin pengolahnya.

tutup botol yang tidak memenuhi persyaratan

Kadang aku juga mikir, duh tutup botol  ini kan sebetulnya sampah loh, tapi orang Jepang selain aktif memikirkan “recycle” dengan kesadaran lingkungan, kalau sudah menetapkan untuk melaksanakan satu kegiatan mereka akan benar-benar melakukannya dengan sepenuh hati. Sebetulnya kegiatan ecocap ini baru pertama kali dilakukan di SDnya Riku, dan kami dari seksi jidoubu ini yang kebagian tugas. Tapi kami melaksanakannya dengan rajin. Mungkin kalau kegiatan ini dilaksanakan orang Indonesia, tidak akan segitu rajinnya membawa pulang dan mencucinya di rumah. Buang saja toh tidak ada yang tahu kan? (Masa bodo dengan kegiatan ecology, tidak mau memikirkan generasi mendatang toh nanti aku juga mati…. dsb dsb)

Tutup botol yang sudah diperiksa kebersihannya itu dimasukkan dalam kantong sampah plastik berukuran 45 kg, lalu kami bawa ke gudang sekolah. Ya, kami tidak bisa meminta perusahaan pengelola ecocap ini mengambil ke sekolah kalau belum berjumlah 7 kantong plastik 45 kg. Padahal satu kali kami memilah tutup botol-tutup botol itu maximum menjadi 2 kantong (2-3 minggu pengumpulan).

satu kali pengambilan oleh perusahaan pengelola, 10 kantong menunggu diangkut

Hari Selasa lalu, aku sibuk mondar-mandir ke sekolah untuk membuat buletin tahunan laporan ecocap ini yang akan dibagikan kepada seluruh murid. Ini merupakan buletin kedua yang aku buat tentang ecocap. Dan karena dua orang temanku yang bertugas membuat buletin ini tidak bisa membuat layout dengan komputer, jadi akulah yang “ketiban” tugas layout sedangkan dua yang lain menyusun kalimat dan mengeceknya. Senang juga sih melihat hasil karyaku dibaca 600 murid (dan orang tuanya tentu).

Buletin ecocap terakhir yang aku buat layoutnya

SDnya Riku selama setahun (empat kali pengambilan oleh pengelola ecocap) berhasil mengumpulkan 121.280 tutup botol dan itu setara dengan vaksin untuk 151 orang. selain itu bisa mengurangi CO2 sebanyak 955 kg. Mungkin dibandingkan dengan sekolah atau organisasi lain masih sedikit, tapi untuk kegiatan pertama aku rasa sudah hebat hasilnya. Dihitung dari uangnya memang jauuuuh hasilnya dengan pengumpulan bellmark, bayangin CUMA 151×20 yen = 3020 yen dan hasilnya tidak kelihatan, karena langsung menjadi vaksin. Pekerjaan susah payah yang dilakukan ibu-ibu di jidoubu juga rasanya tidak seimbang dengan hasilnya. Karena itu kami akhirnya meminta kepada pengurus inti untuk mengubah cara-cara pengumpulan ecocap dalam kepengurusan tahun depan.

Satu lagi yang aku juga merasa hebat dengan organisasi di Jepang, yaitu kami meninggalkan dokumen dengan rapi dalam bentuk hard copy dan file, tapi selain itu kami memikirkan juga bagaimana jika cara-cara kami ini nanti dilanjutkan. Kami mencari cara yang lebih mudah dan tidak memberatkan ibu-ibu yang nanti akan mengemban tugas jidoubu ini. Wahhh kepengurusan di Indonesia mana mau susah-susah memikirkan kepengurusan selanjutnya. File dan dokumen saja belum tentu lengkap (maaf, aku juga sering begitu sebagai sekretaris hihihi meskipun kalau diminta pasti akan aku berikan filenya semua)

Tugas kami di jidoubu secara de jure sudah selesai bulan Maret ini sesuai dengan selesainya tahun fiskal 2009. Tapi de facto kami masih harus membimbing dan membantu pengurus baru dalam masa peralihan sampai bulan Mei. Tanggal 28 April akan diadakan serah terima dalam sidang pleno PTA. Aku merasa agak sedih dan sepi  juga karena dengan bergabung dalam seksi bidang kegiatan anak, jidoubu ini aku bisa banyak belajar mengenai berorganisasi di kalangan sekolah Jepang. Selain itu komposisi ibu-ibu yang tergabung memang baik-baik dan membuat suasana bersahabat yang dibawa juga di luar kegiatan kami. Aku juga bisa mendengar banyak gossip internal yang berguna dalam mendidik anak. Bagaimanapun juga aku kan masih kohai (yunior karena anakku masih kelas 1) dibanding mereka yang sudah sempai (senior karena anak-anaknya sudah kelas atas).

Merah, Putih dan kebersamaan

***warning: cerita ini tentang Jepang, bukan Indonesia!***

Ya memang saya selalu heran, kenapa topi sekolah untuk sehari-hari atau olah raga baik TK maupun SD di sini berwarna merah dan putih, reversible, bisa dibolak balik. Dan kenapa tidak ada warna lain, semisal biru dan putih? Baru saya sadar kemarin waktu pelaksanaan undokai, sport meeting di SD Riku, bahwa memang hanya diperlukan merah dan putih saja.

Nasionalis? mungkin… tapi mengingat warna manju (kue jepang) waktu selamatan berwarna merah (muda) dan putih, lalu pita yang menghias amplop angpao juga merah dan putih. Belum lagi kain bergaris-garis merah putih dipakai untuk tirai penutup dinding dalam acara-acara pesta atau selamatan. Nasi merah untuk selamatan mungkin juga bisa dihitung (padahal di Indonesia ada bubur merah putih loh) Jepang kelihatannya  memang tidak bisa berpisah dari warna merah dan putih. (Setelah aku tanyakan pada Gen, ternyata bisa balik ke sejarah perang besar keluarga Genji dan Heike — sekitar abad 12—yang masing-masing membawa bendera putih dan merah)

Kai kesenangan dibopong mamanya (nanti mamanya yang kesakitan)
Kai kesenangan dibopong mamanya (nanti mamanya yang kesakitan)

Kalau dulu waktu saya SD dan SMP (di Indonesia) pernah mengadakan class meeting, biasanya yang dipertandingkan adalah olahraga umum seperti volley, basket, atletik dll. Lalu karena per kelas, maka setiap kelas berlomba-lomba untuk menjadi juara. Yang kemudian di akhir acara akan dibagikan piala dan piagam. Dan biasanya juara dalam perorangan akan tampil sebagai individu dari kelas sekian, untuk menerima hadiah.

Tapi di Jepang lain! Memang saya pernah belajar bahwa sifat manusia Jepang adalah “tidak berdiri sendiri di depan” dan “bergerak secara kelompok”, jadi pemahaman saya di sekolah pun tidak ada yang namanya “pertandingan”. Tapi kali ini saya salah. Pertandingan ada tapi bukan antar individu melainkan antar kelompok.

Sejak awal murid dari kelas satu sampai enam sudah dibagi menjadi dua kelompok. Aka gumi “Kelompok Merah” dan Shiro gumi “Kelompok Putih”. Riku termasuk dalam kelompok Merah. Jadi topi yang dipakai yang merah. Dan ternyata pembagian antara kelompok merah dan putih, dilakukan oleh guru mereka dengan pertimbangan yang matang. Menurut desas desus di antara ibu-ibu,  misalnya kecepatan waktu berlari… yang paling cepat ada 4 orang, maka dibagi dua. semua dibagi dua dengan kemampuan yang hampir sama. Karena itu perbedaan nilai juga tidak menyolok. Dan saya rasa ini bagus sekali. Toh pertandingan yang diadakan di SD bukan untuk mencari atlit-atlit olimpik! Hebat euy.

pernag dukungan kelompok merah dan putih
pernag dukungan kelompok merah dan putih

Karena acara undokai sudah dibuka di hari Sabtu sebelumnya (lihat posting sebelum ini), maka begitu anak-anak berkumpul, dimulai dengan senam pemanasan (hmm ini biasa lah), kemudian dilanjutkan dengan “perang dukungan”, Ouen Gassen 応援合戦 antara kelompok Merah dan Putih. Wah yang ini aku belum pernah lihat, jadi merinding deh. Maksud diadakan perang suporter ini adalah untuk membuat peserta bersemangat dalam mengikuti pertandingan.

“Merah itu apa???” si pemimpin bertanya
“Merah itu Matahari” jawab setengah jumlah murid yang memakai topi merah.
“Matahari itu apa?”
“Matahari menyinari bumi, membara….”
“Membara, menang! Merah harus menang!” teriak mereka.

Wahhhh berdiri deh bulu kudukku merasakan semangat mereka. Belum lagi si pemimpin berlari di depan tempat duduk kelompok merah dan mereka bergelombang berdiri mengikuti arah pemimpin. THIS IS IT! Semangat ini perlu ada, semangat berjuang.

Tentu saja kelompok putih juga menyanyikan yell yell yang sama, yang intinya menyemangati peserta kelompok putih untuk menang.

Setelah selesai acara “perang dukungan” ini, baru ada acara pertandingan tiap angkatan. Misalnya lari 50,80,100 m untuk tiap kelas. Pertandingan tarik galah (sebagai ganti tambang…lucu juga loh), dan pertandingan banyak-banyakan memasukkan bola merah/putih ke dalam keranjang. Pertandingan-pertandingan ini semua antara kelompok merah dan putih.

riku siap untuk lari...gaya sih boleh hihihi
riku siap untuk lari...gaya sih boleh hihihi

Tapi selain pertandingan ada pula semacam  “pertunjukan”.  Berupa tarian tradisional/modern yang dipadukan dengan gerak-gerak olahraga yang dinamis dan lagu back ground yang semangat. Acara pertunjukan oleh kelasnya Riku berjudul Furi-furi Rock and Roll… mereka bergoyang dengan iringan lagu rock and roll, goyang pinggul, tangan, kepala dan bergaya bagaikan bermain gitar.

ceritanya rock n roll, goyang pinggangnya riku boljug hihihi
ceritanya rock n roll, goyang pinggangnya riku boljug hihihi

Sesudah acara kelas 1 kelasnya Riku ada acara pertunjukan yang cukup bagus yaitu dari kelas 2 dengan pertunjukan berjudul “The Arauma” uma = kuda ara= belingsatan …. spt kuda lumpingnya Indonesia deh. Cuman kostum mereka lucu. Berbentuk lingkaran dengan kain beraneka macam. Nah nanti kalau Riku naik kelas, biasanya pertunjukkannya sama, dan aku harus menjahit “sarung” nya lingkaran itu dan menghiasinya. Gen bilang, nanti pake batik aja. Tapi aku bilang, jangan batik ah kurang meriah… mending pake kain bali yang emas-emas gitu, atau sekalian pake tenun padang dengan benang emas itu (berat sih hihihi). Pokoknya musti bagus deh….. So aku musti kumpulin kain dari sekarang nih hihihi.

aku musti kumpulin kain yang bagus ahhh buat tahun depan
aku musti kumpulin kain yang bagus ahhh buat tahun depan

Sekitar jam 12, ada acara istirahat makan siang. Anak-anak makan di kelas karena mereka membawa bento (bekal makanan). Orangtua bisa pulang atau makan di gedung olahraga. Nah kebetulan aku sempat membuat onigiri, goreng susis, ayam goreng jadi kami bertiga, aku, gen dan kai makan di dalam gedung olahraga.

Acara sessi ke dua dilanjutkan satu jam setelah istirahat. Riku mengikuti pertandingan lari 50 meter (tentu saja paling belakang hihihi keberatan badan), dan pertandingan memasukkan bola ke dalam keranjang. Di sini kelompok putih yang menang. Aku pikir permainan memasukkan bola ke keranjang ini juga bagus untuk ditiru  di Indonesia. Cara menghitungnya juga bagus. Menghitung bersama-sama dan kelompok yang lebih banyak menghitung terus sampai bola habis, dan menang!

Acara yang membuat aku terharu juga adalah berbagai bentuk senam, terutama piramid manusia. Murid-murid kelas 6 memang berbadan besar, lebih mahir dan terlatih, dan ini merupakan undokai mereka yang terakhir. Kerjasama mereka patut diacung jempol. Yang membuat aku hampir menitikkan air mata, ternyata salah satu murid kelas enam, ada yang badannya lebih kecil dari yang lain… dan ternyata dia pincang. Tapi ke dua temannya meng-cover dia memeluk dia menjadi satu bagian dari pondasi teman yang akan naik ke atas. Tapi tentu saja beban ada di dua teman yang lain, si anak yang lebih kecil ini “hanya” menjadi pelengkap. Tapi semangatnya itu juga perlu diacung jempol. Meskipun dengan terpincang-pincang, dia dapat berlari dengan cepat menuju formasi berikutnya. Dia adalah BAGIAN dari kelompok. Sama-sama kelas enam, tanpa disisihkan oleh teman dan gurunya.

ada seorang anak yang badannya lebih kecil, dilindungi oleh temannya
ada seorang anak yang badannya lebih kecil, dilindungi oleh temannya

Satu hal lagi yang saya kagum, di setiap formasi piramid itu pasti ada seorang guru yang duduk di dekat mereka, sehingga jika ada yang terjatuh atau butuh bantuan bisa langsung menangkap anak itu (meskipun tidak ada kejadian gagal seperti itu). Ah, guru pun masih mengawasi anak-anak ini supaya tidak berbahaya. Aku tambah terharu.

piramid manusia dari kelas 6
piramid manusia dari kelas 6

Tapi aku masih harus menahan kekaguman untuk acara terakhir yaitu pemindahan Bola Raksasa Merah dan Putih yang dilakukan seluruh anggota kelompok. Karena Riku kelompok merah, tentu saja saya mendukung bola merah. Ikut berteriak, ikut bertepuk tangan, waktu bola Merah Raksasa itu bisa sampai di goalnya lebih cepat dari Bola Putih. (Bola Raksasa itu cukup mahal loh, dan dibeli dengan hasil pengumpulan bellmark)

semua murid berpartisipasi memindahkan bola raksasa ke goal
semua murid berpartisipasi memindahkan bola raksasa ke goal

Dalam acara penutup diketahui bahwa kelompok Merah menang dengan nilai 426, sedangkan Putih 424. Tipis… tapi mereka semua sudah berusaha dengan baik. Bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya. Rasanya saya juga ingin melompat bersama anak-anak kelompok merah waktu tahu mereka menang. Ah, undokai… apakah masih ada seperti ini di SD Indonesia? Pasti kegiatan seperti ini merupakan pekerjaan tambahan untuk guru-guru, tapi undokai ini meninggalkan kenangan yang tidak terlupakan seumur hidup.  Enam tahun di SD dengan pengalaman seperti ini pasti akan membentuk anak-anak yang bisa diajak bekerja secara kelompok dan toleran.

nilai kelompok merah dan kelompok putih. beda tipis.
nilai kelompok merah dan kelompok putih. beda tipis.

NB: Tugas saya sebagai panitia di dalam undokai itu hanya sebagai pengatur petugas keamanan yang melarang orang tua murid/tamu yang datang bersepeda. Karena sepeda dilarang parkir di sekitar sekolah. Hanya itu saja, tapi sempat juga menjaga seorang anak “tersesat” yang terpisah dari ibunya. Karena sistem shift, saya bisa melihat Riku waktu gilirannya tiba, dan bekerja di meja khusus itu waktu giliran Riku sudah selesai. Senang sekali bekerja sebagai Staff dari sebuah kegiatan. Sementara saya kerja, Kai bersama Gen, dan waktu Gen yang kerja Kai bersama saya. Gen kerja apa? Dia membantu pembongkaran tenda, pekerjaan pakai tenaga deh. Dari jauh saya melihat guru, orang tua murid dan murid kelas 6 bekerja sama membongkar tenda dan membereskan segala sesuatunya. And I am part of them. Satisfied.

mejeng pakai tanda staff ;)
mejeng pakai tanda staff 😉

Lonceng membahanakan cinta

Kemarin saya sibuk! Benar-benar sibuk! Huh…segitu aja laporan siy? Boleh dong tulis curhatan di blog sendiri. hehehe. Selain mengerjakan terjemahan yang baru selesai seperempatnya, padahal sudah 3 hari tidak tidur… , kemarin saya pertama kali mengikut Hogoshakai 保護者会 PTA (Parent Teacher Association) di SD nya Riku.

Banyak yang saya mau ceritakan tentang pertemuan kemarin, tapi karena saya hanya punya waktu sedikit untuk menulis, maka saya hanya akan menulsi satu topik yang saya rasa menarik. Tentu kalau membaca judul posting ini, berpikiran tentang bel sekolah ya? No… saya tidak mau menulis  soal itu sekarang, tapi lonceng yang lain lagi.

Salah satu kegiatan PTA adalah mengumpulkan ベルマーク BELL MARK. Tanda lonceng. Saya memang sudah pernah mendengar soal tanda bel ini, tapi belum ngeh sampai kemarin. Persis waktu saya membuka sekantong potato chips untuk ngemil sambil menerjemahkan di tengah malam (gemuk..gemuk deh, bodo deh!) Nah, saat itu saya  menemukan bell mark itu.

Saya sempat “membongkar” sampah plastik syaa dan menemukan 3 buah bellmark itu. Dan setelah saya perhatikan di setiap bawah gambar lonceng itu ada tulisan 1,6 – 2,0 dan 2,9 … wah apa nih artinya.

OK saya mengerti bahwa saya harus mengguntingnya, kemudian mengumpulkannya ke PTA. Tapi setelah itu bagaimana? Katanya itu menjadi dana bagi kegiatan murid-murid. Seberapa besar? Dan siapa sih yang memulai kegiatan ini? Rasa ingin tahu saya mulai menggelitik dan akhirnya “terpaksa” saya stop kerja dan mencari di paman google.

Saya bertemu homepage dari BellMARK itu dan menemukan informasi sbb:

Bellmark pertama kali dimulai tanggal 24 Oktober 1960, diprakarsai oleh Kelompok Pendukung Sarana Pendidikan dengan porosnya Harian Asahi (Asahi Shimbun) setelah mendapat ijin dari Departemen Pendidikan Jepang. Sekarang namanya sudah menjadi Yayasan Pendukung Pendidikan Bellmark. Kegiatan ini diikuti oleh PTA sekolah (harus mendaftar terlebih dahulu), dan sekarang jumlahnya sudah mencapai 28.000 sekolah. Untuk pribadi, tidak bisa menerima bantuan, tapi bisa membantu mengumpulkan dan diberikan ke PTA sekolah terdekat atau dikirim ke kantor Belmark.

1 point yang tertulis pada tanda lonceng berharga 1 yen. Jadi kalau saya kemarin mengumpulkan 1,6 – 2,0 dan 2,9 berarti saya sudah mengumpulkan 6,5 yen! Itu baru satu hari dan hanya dengan menggunting saja loh. Wahhhh bayangkan kalau saja semua keluarga mau sedikit bersusah dan mengumpulkan tanda lonceng ini berapa banyak dana yang bisa dikumpulkan untuk membantu kegiatan pendidikan?Dan waktu saya membaca daftar top 100 pengumpul bellmark tertulis sebuah nama sekolah di daerah Shizuoka yang berhasil menjadi nomor satu dengan mengumpulkan 758,616 point = 758,616 yen! WOW

Saya merasa KAGUM pada usaha-usaha seperti ini. Seharusnyalah Persatuan Orangtua Murid di Indonesia juga bisa berikhtiar mengadakan kegiatan yang sedikit bisa membiayai pendidikan. Seperti yang pernah saya tulis tentang Eco-cap, yang dengan membantu mengumpulkan “sampah” , memilah, dan tutup botol itu bisa menjadi uang!

Tapi uang/dana itu dari mana? Tentu saja perusahaan yang mencetak label bellmark di kemasannya itu yang mengeluarkan dana sebanyak yang dicap. Ada banyak perusahaan yang mengikuti kegiatan Bellmark ini, dan sayangnya saya belum menemukan berapa jumlah perusahaan itu. Ada beberapa nama besar di daftar website, seperti Kirin Beverage, Morinaga Seika, Toshiba, Kewpie dll. Ada kerjasama, ada “simbiosis mutualisma” antara perusahaan dan bellmark. Karena untuk mengumpulkan bellmark, mereka membeli produknya, bukan? Untuk promosi juga bisa, karena perusahaan itu ikut mendukung pendidikan. Hei, adakah perusahaan Indonesia ikut memikirkan pendidikan Indonesia (harusnya ada, kalau tidak… miris deh)? Jangan-jangan nama yang keluar tidak lain dan tidak bukan adalah perusahaan PMA  juga.

Apakah sudah ada kegiatan yang mendukung pendidikan yang merupakan kerjasama antara perusahaan -sekolah-orang tua murid dan masyrakat seperti ini? Untuk kepentingan satu sekolah, bukan pribadi-pribadi tertentu seperti beasiswa dll. Bukan hanya satu arah saja, murid/sekolah minta-minta duit pada perusahaan tertentu setiap kali mau mengadakan kegiatan, bersifat short term. Lalu perusahaan tertenu yang dimintai itu memberikan duit dengan imbalan pasang banner…. mustinya ada yang lebih “mendidik”. Saya salut dengan KERJASAMA jaringan ini.  Ayo dong!

Akhirnya kenapa kegiatan ini disebut Bellmark? Katanya dipilih lonceng sebagai lambang karena lonceng dapat menggemakan suara cinta, sampai ke seluruh pelosok, baik dalam dan luar negeri. Dan saling menolong murid-murid dalam kegiatan pembelajaran.

Ini baru satu oleh-oleh cerita yang saya dapat dari pertemuan PTA kemarin. Masih banyak hal-hal baru yang saya temukan dan ingin saya sharekan di TE, tapi untuk hari ini segini dulu ya. Doakan kerjaannya cepet selesai, dan saya bisa menulis lagi.