Merah, Putih dan kebersamaan

***warning: cerita ini tentang Jepang, bukan Indonesia!***

Ya memang saya selalu heran, kenapa topi sekolah untuk sehari-hari atau olah raga baik TK maupun SD di sini berwarna merah dan putih, reversible, bisa dibolak balik. Dan kenapa tidak ada warna lain, semisal biru dan putih? Baru saya sadar kemarin waktu pelaksanaan undokai, sport meeting di SD Riku, bahwa memang hanya diperlukan merah dan putih saja.

Nasionalis? mungkin… tapi mengingat warna manju (kue jepang) waktu selamatan berwarna merah (muda) dan putih, lalu pita yang menghias amplop angpao juga merah dan putih. Belum lagi kain bergaris-garis merah putih dipakai untuk tirai penutup dinding dalam acara-acara pesta atau selamatan. Nasi merah untuk selamatan mungkin juga bisa dihitung (padahal di Indonesia ada bubur merah putih loh) Jepang kelihatannya  memang tidak bisa berpisah dari warna merah dan putih. (Setelah aku tanyakan pada Gen, ternyata bisa balik ke sejarah perang besar keluarga Genji dan Heike — sekitar abad 12—yang masing-masing membawa bendera putih dan merah)

Kai kesenangan dibopong mamanya (nanti mamanya yang kesakitan)

Kai kesenangan dibopong mamanya (nanti mamanya yang kesakitan)

Kalau dulu waktu saya SD dan SMP (di Indonesia) pernah mengadakan class meeting, biasanya yang dipertandingkan adalah olahraga umum seperti volley, basket, atletik dll. Lalu karena per kelas, maka setiap kelas berlomba-lomba untuk menjadi juara. Yang kemudian di akhir acara akan dibagikan piala dan piagam. Dan biasanya juara dalam perorangan akan tampil sebagai individu dari kelas sekian, untuk menerima hadiah.

Tapi di Jepang lain! Memang saya pernah belajar bahwa sifat manusia Jepang adalah “tidak berdiri sendiri di depan” dan “bergerak secara kelompok”, jadi pemahaman saya di sekolah pun tidak ada yang namanya “pertandingan”. Tapi kali ini saya salah. Pertandingan ada tapi bukan antar individu melainkan antar kelompok.

Sejak awal murid dari kelas satu sampai enam sudah dibagi menjadi dua kelompok. Aka gumi “Kelompok Merah” dan Shiro gumi “Kelompok Putih”. Riku termasuk dalam kelompok Merah. Jadi topi yang dipakai yang merah. Dan ternyata pembagian antara kelompok merah dan putih, dilakukan oleh guru mereka dengan pertimbangan yang matang. Menurut desas desus di antara ibu-ibu,  misalnya kecepatan waktu berlari… yang paling cepat ada 4 orang, maka dibagi dua. semua dibagi dua dengan kemampuan yang hampir sama. Karena itu perbedaan nilai juga tidak menyolok. Dan saya rasa ini bagus sekali. Toh pertandingan yang diadakan di SD bukan untuk mencari atlit-atlit olimpik! Hebat euy.

pernag dukungan kelompok merah dan putih

pernag dukungan kelompok merah dan putih

Karena acara undokai sudah dibuka di hari Sabtu sebelumnya (lihat posting sebelum ini), maka begitu anak-anak berkumpul, dimulai dengan senam pemanasan (hmm ini biasa lah), kemudian dilanjutkan dengan “perang dukungan”, Ouen Gassen 応援合戦 antara kelompok Merah dan Putih. Wah yang ini aku belum pernah lihat, jadi merinding deh. Maksud diadakan perang suporter ini adalah untuk membuat peserta bersemangat dalam mengikuti pertandingan.

“Merah itu apa???” si pemimpin bertanya
“Merah itu Matahari” jawab setengah jumlah murid yang memakai topi merah.
“Matahari itu apa?”
“Matahari menyinari bumi, membara….”
“Membara, menang! Merah harus menang!” teriak mereka.

Wahhhh berdiri deh bulu kudukku merasakan semangat mereka. Belum lagi si pemimpin berlari di depan tempat duduk kelompok merah dan mereka bergelombang berdiri mengikuti arah pemimpin. THIS IS IT! Semangat ini perlu ada, semangat berjuang.

Tentu saja kelompok putih juga menyanyikan yell yell yang sama, yang intinya menyemangati peserta kelompok putih untuk menang.

Setelah selesai acara “perang dukungan” ini, baru ada acara pertandingan tiap angkatan. Misalnya lari 50,80,100 m untuk tiap kelas. Pertandingan tarik galah (sebagai ganti tambang…lucu juga loh), dan pertandingan banyak-banyakan memasukkan bola merah/putih ke dalam keranjang. Pertandingan-pertandingan ini semua antara kelompok merah dan putih.

riku siap untuk lari...gaya sih boleh hihihi

riku siap untuk lari...gaya sih boleh hihihi

Tapi selain pertandingan ada pula semacam  “pertunjukan”.  Berupa tarian tradisional/modern yang dipadukan dengan gerak-gerak olahraga yang dinamis dan lagu back ground yang semangat. Acara pertunjukan oleh kelasnya Riku berjudul Furi-furi Rock and Roll… mereka bergoyang dengan iringan lagu rock and roll, goyang pinggul, tangan, kepala dan bergaya bagaikan bermain gitar.

ceritanya rock n roll, goyang pinggangnya riku boljug hihihi

ceritanya rock n roll, goyang pinggangnya riku boljug hihihi

Sesudah acara kelas 1 kelasnya Riku ada acara pertunjukan yang cukup bagus yaitu dari kelas 2 dengan pertunjukan berjudul “The Arauma” uma = kuda ara= belingsatan …. spt kuda lumpingnya Indonesia deh. Cuman kostum mereka lucu. Berbentuk lingkaran dengan kain beraneka macam. Nah nanti kalau Riku naik kelas, biasanya pertunjukkannya sama, dan aku harus menjahit “sarung” nya lingkaran itu dan menghiasinya. Gen bilang, nanti pake batik aja. Tapi aku bilang, jangan batik ah kurang meriah… mending pake kain bali yang emas-emas gitu, atau sekalian pake tenun padang dengan benang emas itu (berat sih hihihi). Pokoknya musti bagus deh….. So aku musti kumpulin kain dari sekarang nih hihihi.

aku musti kumpulin kain yang bagus ahhh buat tahun depan

aku musti kumpulin kain yang bagus ahhh buat tahun depan

Sekitar jam 12, ada acara istirahat makan siang. Anak-anak makan di kelas karena mereka membawa bento (bekal makanan). Orangtua bisa pulang atau makan di gedung olahraga. Nah kebetulan aku sempat membuat onigiri, goreng susis, ayam goreng jadi kami bertiga, aku, gen dan kai makan di dalam gedung olahraga.

Acara sessi ke dua dilanjutkan satu jam setelah istirahat. Riku mengikuti pertandingan lari 50 meter (tentu saja paling belakang hihihi keberatan badan), dan pertandingan memasukkan bola ke dalam keranjang. Di sini kelompok putih yang menang. Aku pikir permainan memasukkan bola ke keranjang ini juga bagus untuk ditiru  di Indonesia. Cara menghitungnya juga bagus. Menghitung bersama-sama dan kelompok yang lebih banyak menghitung terus sampai bola habis, dan menang!

Acara yang membuat aku terharu juga adalah berbagai bentuk senam, terutama piramid manusia. Murid-murid kelas 6 memang berbadan besar, lebih mahir dan terlatih, dan ini merupakan undokai mereka yang terakhir. Kerjasama mereka patut diacung jempol. Yang membuat aku hampir menitikkan air mata, ternyata salah satu murid kelas enam, ada yang badannya lebih kecil dari yang lain… dan ternyata dia pincang. Tapi ke dua temannya meng-cover dia memeluk dia menjadi satu bagian dari pondasi teman yang akan naik ke atas. Tapi tentu saja beban ada di dua teman yang lain, si anak yang lebih kecil ini “hanya” menjadi pelengkap. Tapi semangatnya itu juga perlu diacung jempol. Meskipun dengan terpincang-pincang, dia dapat berlari dengan cepat menuju formasi berikutnya. Dia adalah BAGIAN dari kelompok. Sama-sama kelas enam, tanpa disisihkan oleh teman dan gurunya.

ada seorang anak yang badannya lebih kecil, dilindungi oleh temannya

ada seorang anak yang badannya lebih kecil, dilindungi oleh temannya

Satu hal lagi yang saya kagum, di setiap formasi piramid itu pasti ada seorang guru yang duduk di dekat mereka, sehingga jika ada yang terjatuh atau butuh bantuan bisa langsung menangkap anak itu (meskipun tidak ada kejadian gagal seperti itu). Ah, guru pun masih mengawasi anak-anak ini supaya tidak berbahaya. Aku tambah terharu.

piramid manusia dari kelas 6

piramid manusia dari kelas 6

Tapi aku masih harus menahan kekaguman untuk acara terakhir yaitu pemindahan Bola Raksasa Merah dan Putih yang dilakukan seluruh anggota kelompok. Karena Riku kelompok merah, tentu saja saya mendukung bola merah. Ikut berteriak, ikut bertepuk tangan, waktu bola Merah Raksasa itu bisa sampai di goalnya lebih cepat dari Bola Putih. (Bola Raksasa itu cukup mahal loh, dan dibeli dengan hasil pengumpulan bellmark)

semua murid berpartisipasi memindahkan bola raksasa ke goal

semua murid berpartisipasi memindahkan bola raksasa ke goal

Dalam acara penutup diketahui bahwa kelompok Merah menang dengan nilai 426, sedangkan Putih 424. Tipis… tapi mereka semua sudah berusaha dengan baik. Bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya. Rasanya saya juga ingin melompat bersama anak-anak kelompok merah waktu tahu mereka menang. Ah, undokai… apakah masih ada seperti ini di SD Indonesia? Pasti kegiatan seperti ini merupakan pekerjaan tambahan untuk guru-guru, tapi undokai ini meninggalkan kenangan yang tidak terlupakan seumur hidup.  Enam tahun di SD dengan pengalaman seperti ini pasti akan membentuk anak-anak yang bisa diajak bekerja secara kelompok dan toleran.

nilai kelompok merah dan kelompok putih. beda tipis.

nilai kelompok merah dan kelompok putih. beda tipis.

NB: Tugas saya sebagai panitia di dalam undokai itu hanya sebagai pengatur petugas keamanan yang melarang orang tua murid/tamu yang datang bersepeda. Karena sepeda dilarang parkir di sekitar sekolah. Hanya itu saja, tapi sempat juga menjaga seorang anak “tersesat” yang terpisah dari ibunya. Karena sistem shift, saya bisa melihat Riku waktu gilirannya tiba, dan bekerja di meja khusus itu waktu giliran Riku sudah selesai. Senang sekali bekerja sebagai Staff dari sebuah kegiatan. Sementara saya kerja, Kai bersama Gen, dan waktu Gen yang kerja Kai bersama saya. Gen kerja apa? Dia membantu pembongkaran tenda, pekerjaan pakai tenaga deh. Dari jauh saya melihat guru, orang tua murid dan murid kelas 6 bekerja sama membongkar tenda dan membereskan segala sesuatunya. And I am part of them. Satisfied.

mejeng pakai tanda staff ;)

mejeng pakai tanda staff 😉

29 gagasan untuk “Merah, Putih dan kebersamaan

  1. Nesta

    Pantesan waktu hari Minggu kemaren lewatin sekolahan yg lagi undokai adanya merah & putih aja 😀
    Seperti biasa dari blog TE saya bisa dapat banyak informasi tentang Jepang, arigatou mba^^
    Cerita undokainya seru banget, senengnya grup Riku kun yang menang, omedetou ya!
    Oya youchiennya Kai kun ngadain undokai juga ga mba?

    Balas
  2. Oemar Bakrie

    Harusnya sekolah-sekolah di Indonesia makin banyak yg bisa seperti ini ya, aktivitas sehari-hari dan perlombaannya banyak sehingga pendidikan lebih holistik. Yg agak aneh kadang ada anak-anak teman yg baru pulang dari LN begitu sekolah di Indonesia terkaget-kaget dengan banyaknya materi pelajaran. Bahkan ada yg merasa agak ketinggalan dari sekolah Indonesia, terutama dalam hal pencapaian, tapi meskipun begitu tampaknya mereka lebih mendalami dan menghayati berbagai materi yg sudah pernah dipelajari, tidak hanya sekedar asal “lewat” saja …
    .-= Oemar Bakrie´s last blog ..Pertamina Gelar Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi 2009 =-.

    Balas
  3. Eka Situmorang-Sir

    Waaah SELAMAT ya kelompoknya Riku menang 🙂
    hmmmm banyak pelajaran positif bisa dipetik disini ya mbak.
    Keren bangett, mulai antisipasi keamanan (sampe ada guru berjaga)
    sampe benar2 pertandingan diatur sportif dan seimbang.
    TOP!!!

    btw mbak… ulos dimasukin juga dunk buat kainnya Riku kalau naik kelas :p ehhehe
    .-= Eka Situmorang-Sir´s last blog ..Balonku ada 5 =-.

    Balas
  4. henny

    Selamat buat Aka gumi-nya Mas Riku!! Ikut senang untuk kemenangannya!!

    Salute buat Mas Gen, yang turun-tangan pada kegiatan sekolah buah hati… Wah, Mama-Papa yang kompak! *Ada acara makan bareng lagi… Uugh!

    Tentu Kai (tumben gak ada gaya ‘koala’nya?) juga menikmati segala kesibukan di sekolahnya Riku ya… Seru laporannya Mbak Em!!!
    Makasih ya!!
    .-= henny´s last blog ..Jogja 2009; Seleksi Ketat =-.

    Balas
  5. Riris E

    Wah serunya. Saya jadi ingat waktu ada perlombaan antar kelas sejak SD sampai SMA, hanya saja seingat saya tidak ada perlombaan kelompok yang membangkitkan semangat kebersamaan seperti ini.

    Sepertinya, kita bisa usulkan ini ke DikNas Indonesia ya Mbak? Dengan harapan jika ada semangat kebersamaan dan persatuan tawuran antar pelajar bisa berkurang.

    Salam untuk Riku dan Kai..
    .-= Riris E´s last blog ..Bencana Vs Murka Tuhan =-.

    Balas
  6. Tuti Nonka

    Mbak, itu kelompok pertandingannya hanya merah putih saja? Jadi hanya ada dua kelompok ya? Lha kalau muridnya atau peserta lomba banyak, kelompoknya jadi guede gitu ya?

    Hihihi …. mbak Imel bertugas jaga sepeda, malah kebagian jaga anak. Tapi akhirnya anak yang tersesat itu ketemu orangtuanya kan?

    Nampaknya, sekolah-sekolah di Jepang sangat mengikutsertakan parttisipasi orangtua murid ya …
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Yogya Ulang Tahun … Yeey! =-.

    Balas
  7. aurora

    ternyata banyak yang seru-seru juga yah, bagi anak-anak di jepang…. tapi jangan dikira Indonesia kalah dong…..

    hidup Indonesia!!!

    BTW, judulnya bikin sesat nih….

    Balas
  8. p u a k™

    Asli, seru banget mbak acara sekolah Riku ini..
    Jadi nggak sabaran juga, jika Flo punya acara class meeting gini nanti dan daku ikutan teriak di bangku supporter..
    .-= p u a k™´s last blog ..Dreadlocks =-.

    Balas
  9. putri

    Pernah ngelihat acara seperti itu di anime2 Jepang ama di serial Jepang yang pernah tayang di Indonesia…

    Ternyata mereka sangat Filosofis sekali, ya ?

    HIDUP MERAH PUTIH !!! 😀

    Balas
  10. pakde

    Ya ya y a… membiasakan anak dari kecil untuk ngerti dan faham tentang Teamwork. Di Indonesia juga begitu. Sayangnya brainwashnya tidak dipertahankan sampai mereka dewasa. jadi senengnya sendiri-sendiri alias individualistis tis tisss.

    Inget lagi jaman dulu, mengenal makna dan arti warna itu sendiri, sekarang malah lupa. Selain merah itu berani putih itu suci. Iya kan? Tapi nampaknya itu hanya symbolisasi warna dan maknanya saja. karena ternyata kita tahu putihnya pada bendera Indonesia tidak lagi suci. Banyak yang mengotorinya jeung. Bener nggak sih?

    Balas
  11. Bro Neo

    woww seru… !! apalagi melibatkan orang tua sebagai panitia… wah kebersamaannya pasti terasa banget tuh.. orang-orang yg (mungkin) baru kenal, udah kerjasama mendirikan tenda, ngebayangin juga ada ngatur kursi-kursi, etc.. seru banget!!

    lomba-lombanya seru juga!!

    sdikit tanya neh? apakah format lombanya baku? kelas 1 lari, kelas dua tari dg lingkaran itu, kelas enam bikin piramid manusia… dari tahun ke tahun sama?
    .-= Bro Neo´s last blog ..Melihat dari sisi lain =-.

    Balas
  12. nanaharmanto

    seru banget Mbak Imel…..
    mantap bgt lomba-lombanya tuh….asyik…kelompok merah Riku menang!
    Aku terharu waktu baca dan lihat foto anak yang berbadan kecil tapi tetap bersemangat yang didukung oleh teman-temannya. tampaknya Nggak ada istilah “anak bawang” ya di Jepang? wah, salut aku Mbak sama semangat anak-anak itu, juga angkat 2 jempol untuk para orang tua yang mau terlibat sebagai panitia mendukung kesuksesan acara sekolah.

    Btw, Mbak, foto ibu-ibu di belakang Kai dibopong mama itu terlewatkan nggak di “blur” Mbak? nanti diprotes nggak tuh? kayaknya di Jepang kan nggak bisa sembarangan pasang foto wajah orang ya, atau memang udah ijin sama yang bersangkutan?
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Semacam Pak Unyil =-.

    Balas
  13. nh18

    Hanya ingin berkomentar …
    Si Kai makin lama makin kayak Bule juga ya …
    Sama kayak Riku …

    Lebih kuat darah Ibunya nih keknya …

    Salam saya EM

    Balas
  14. Joko Setiawan

    Subhanalllah Mbak…
    Luar biasa sekali cara mendidik anak2 di sana, tidak salah memang kalo Orang2 Jepang ini unggul dalam hal kerjakelompok dan memang ditekankan untuk bisa bekerja dalam kelompok…pendidikan itu ditanamkan sejak kecil dan tentus aja didukung oleh semua pihak….

    Indonesia…???? Bersedih tapi asa itu8 masih ada, Negara kita pun pasti bisa menuju ke arah sana Mbak, tinggal menyamakan visi dan semua melakukan misinya masing menuju ke arah yang sama… 🙂

    Salam semangat selalu
    http://garasiusaha.wordpress.com/
    Mbak Imelda ihh..tidak pernah mau main di Blog saya hiks..hiks..hiks…

    NB : Eh sebelumnya terima kasih atas lagu dan lyricnya ya Mbak…Keren lyricnya, cuman memang lagu jadul sich he he he..But I Like it 😉
    .-= Joko Setiawan´s last blog ..BUKU PANDUAN DAN LAPORAN MENGENAI BENCANA =-.

    Balas
  15. Haswardi Hasan

    Kok Saya jadi teringat almarhum Gombloh ya Mel?
    ” ..merah darahmu, putih tulangmu…” jadi terngiang di telinga Saya,,,
    Terahir baru tersadar dari laumnan ketika melihat posemu di akhir posting yang di bawahnya bertuliskan “””mejeng pakai tanda staff”””,,,, seperti melihat foto Sutradara di tempat shooting.. ( serius).

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *