Arsip Kategori: Environment

Canggih!

Sudah 20 tahun aku tinggal di Jepang, dan melihat banyak kecanggihan orang Jepang dan terbiasa dengannya. Ada satu hal yang membuat aku sadar waktu Natal kemarin pulkam sebentar. Yaitu waktu di Bandara aku ke wc dan mau cuci tangan. Loh kok tidak keluar airnya? Tentu saja! Karena aku hanya mengulurkan tangan di bawah keran, tanpa memutar keran. Terbiasa di Jepang hampir semua keran di fasilitas umum itu otomatis. Memakai sensor sehingga air akan keluar hanya dengan mendekatkan tangan ke keran. Dan saat itu aku berkata, “Welcome to Jakarta mel”.

Hari ini mau posting pendek saja deh, masih capek pulang kerja pertama di Tahun Baru. Tidak terbiasa jalan lagi di dalam udara dingin, sehingga badan meriang dan kepala pusing. Apalagi katanya hari ini angin memang kencang dan dingin di Tokyo, dengan prakiraan max 8 derajat. Kalau di bawah sinar matahari sih masih mending….

Kecanggihan yang ingin kuperkenalkan kali ini adalah usaha merubuhkan sebuah hotel di pusat Tokyo. Jika teman-teman pernah perhatikan di televisi. Biasanya orang merubuhkan bangunan pasti dengan memakai alat berat seperti shovel car, atau kalau bangunannya besar memakai bahan peledak…. boooommmm!

Nah, di daerah Akasaka ada sebuha hotel yang terkenal dengan nama AKAPURI, singkatan dari Akasaka Prince Hotel. Aku pernah beberapa kali mengikuti acara di sana, dan hotel ini memang termasuk hotel tua karena dibuka tahun 1955. Hotel berlantai 40 setinggi 140 meter itu sesudah Gempa bumi Tohoku pernah menampung 788 pengungsi, sampai ditutup tanggal 30 Juni 2011. Tentu saja hotel ini ditutup karena sudah merasa “kuno” dan di tempat yang sama akan dibangun komplek apartemen/hotel yang lebih canggih lagi. Lokasinya memang bagus sih.

Nah masalahnya bagaimana merubuhkan hotel dengan 40 lantai, tanpa memakai bahan peledak? Nah di sini canggihnya. Jadi, perusahaan Taisei yang bertugas merubuhkan hotel ini, memakai cara unik, yaitu “memotong” bagian lantai atas tiap 10 hari 2 lantai. Sehingga tingginya akan menciut, sampai yang tertinggal adalah lantai teratas dan lantai bawah dan … habis semua pada bulan Mei 2013. Dimulai tanggal 13 November, pada tanggal 8 Januari kemarin sudah berkurang 30 meter tingginya dari 140 meter hotel aslinya.

Cara “pemotongan” lantai ini dilaksanakan karena ingin mengurangi debu dan suara yang keluar dari pembongkaran bangunan yang begitu besar (mengurangi polusi). Bahkan kalau tidak memperhatikan atau tidak tahu proyek ini, orang yang lewat di dekatnya bahkan tidak sadar bahwa sebetulnya hotel itu sedang menciut. Memang sih kalau memakai bahan peledak, resikonya besar sekali karena letaknya di pusat kota. Canggih ya? Cuma pasti biayanya tidak sedikit tuh…..

(Sumber data dan foto dari http://ajw.asahi.com/article/behind_news/social_affairs/AJ201301090049)

 

 

Eco Life Check

Judulnya keren ya! Ini adalah suatu usaha dari kelurahanku tempat kutinggal, untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan pencegahan pemanasan global. Tahun ini mereka memakai cara yang sama dengan dua tahun yang lalu, yaitu meminta 40.000 warga kelurahan kami untuk menjawab angket. Dengan bekerjasama dengan sekolah, setiap murid membawa “Eco Life Check” untuk didiskusikan bersama keluarga dan menjawabnya bersama. Dan Riku membawa lembaran itu sebagai PRnya. Tadi pagi aku tanya apa PRnya, ternyata angket itu. Huh, mestinya jawab sama-sama tuh! Tapi aku cek saja jawabannya dia dan menemukan satu kesalahan, yaitu bahwa mamanya selalu membawa tas belanja sendiri. Ya tentu saja Riku tidak tahu, karena aku selalu pergi belanja sendiri, tidak pernah bersama anak-anak. Tentu saja aku bawa, karena dengan membawa My Bag, kami mendapat potongan 2 yen setiap belanja. Emak-emak gitu loh, kudu dijabanin dong 😀

Dulu waktu aku masih single, aku tidak merasa perlu berhemat. Tidak pernah merasa menyesal jika melewatkan kesempatan-kesempatan diskon, atau dengan sengaja mencari toko-toko yang lebih murah untuk membeli bahan yang sama. Well, sebagai emak-emak aku juga semakin pelit lah. Masakan sisa aku olah lagi supaya menjadi masakan baru dong. Misalnya kemarin dulu ada roti kering yang tidak termakan, aku rendam dengan susu lalu campur daging giling, jadilah perkedel panggang. Tapi sisa, jadi sisa perkedel aku potong-potong sebesar dadu, lalu masukkan makaroni, susu, telor, keju lalu jadi makaroni panggang. Ini pasti habis! hehehe. 

Apa saja yang ditanyakan pada lembar “Eco Life Check” itu?:    O = ya           X =tidak      ( bisa mengurangi….. gram CO2/hari)

1. Sudah mengurangi melihat TV atau bermain game? (17 gram )
2.  Mematikan lampu kamar yang tidak ada orangnya? (19gram)
3. Mencabut steker listrik alat-alat yang lama tidak dipakai? ( 62 gram)
4. Mandi dan berendam berurutan sehingga air panas bisa langsung dipakai  tanpa harus memanaskan lagi? (231gram)
5.  Tidak lupa mematikan keran shower? (82gram)
6. Memilah sampah, dan menggunakan barang yang masih bisa dipakai (recycle)?(47 gram)
7. Tidak menyisakan makanan? (90gram)
8. Tidka membiarkan keran menyala terus waktu menyikat gigi? (26 gram)
9. Waktu berbelanja memakai MyBag, daa tidak memakai plastik kresek? (37 gram)
10. Membawa MyBottle kemana-mana? (56 gram)
11. Waktu pergi ke tempat yang dekat, tidak memakai mobil, tapi berjalan kaki atau bersepeda? (350 gram)
12. Mempunyai waktu untuk  bersama keluarga? (73 gram)

pertanyaan Eco Life Check dari kelurahan kami

PR ini lalu dikumpulkan kepada gurunya, untuk diteruskan ke kelurahan. Menurut selebaran yang kami terima, hasilnya akan dihitung dan dianalisa, kemudian akan dilaporkan sekitar bulan Februari, dan juga dimuat di website kelurahan. Well, memang kalau kita melihat setiap satu usaha yang kita lakukan itu memang kecil gram nya. Tapi kalau ada 40.000 orang mengurangi 10 gram saja, berapa jumlahnya? Besar kan?

Sttt semoga saja kami bisa melaksanakan check list ini setiap hari. Karena hari-hari semakin dingin, maka listrik dan gas yang kami pakai untuk pemanas tentu semakin bertambah. Dan aku senang karena tadi sebelum makan malam, Riku mengecek pemakaian listrik kami, dengan mematikan lampu kamar, lalu kami bertiga berkumpul di meja makan untuk makan malam, dan mengerjakan pekerjaan masing-masing (Kai menggambar dan Riku bermain DS) , dan…. mematikan TV. Ah aku suka sekali suasana seperti ini, yang ntah sampai kapan bisa kami pertahankan.

Salju Inspiratif

Memang sudah sejak hari Kamis malam, kami mendapat warning bahwa di Tokyo hari Jumat sampai Sabtu akan turun salju dengan perkiraan ketebalan 5 cm. Dan waktu bangun pagi….. benar saja, butir-butir salju putih beterbangan di udara. Tapi karena belum terlalu dingin, butiran itu langsung mencair. Tapi tetap saja sama….dingin.

Teman chattingku pagi itu, LL, bertanya hari ini hendak kemana. Memang hari Jumat tgl 11 ini adalah hari libur untuk Jepang, hari pendirian negara Jepang. Tapi karena bersalju begini, malas rasanya untuk pergi. Tapi…. Gen mau keluar rumah, dan tentu saja aku terpaksa ikut.

Berjalan dalam curahan salju dengan payung di tangan, merasakan dingin terutama di tangan, tapi entah kenapa aku tidak begitu merasa dingin seperti kalau tidak bersalju. Ntah ini sugesti atau bukan, pada waktu turun salju, dinginnya masih bisa ditahan, dibandingkan hari cerah tapi berangin. Angin musim dingin Tokyo memang jahat!

Tujuan kami adalah Pusat Recycle Sekimachi, milik pemerintah daerah Nerima. Kalau tidak salju, kami bisa naik sepeda 15 menit. Jalan kaki juga bisa sih, sekitar 40 menit, tapi kami naik bus untuk pergi ke sana. Hari ini di Pusat Recycle itu ada kegiatan “Save ecology for children”. Dengan sedikit pameran dan permainan, ingin mengajarkan anak-anak tentang ECO. (ketemu lagi deh mas eko hihihi)

Begitu sampai di tempat itu, seperti yang sudah kami duga, sepi sekali. Kami disambut oleh mas-mas eko, tapi kali ini mas-mas ekonya sudah sepuh. Mereka adalah pekerja sukarela pemda, pensiunan-pensiunan, kakek nenek yang “cari kesibukan di usia lanjut” dengan membantu kegiatan-kegiatan semacam ini.

Membuat pistol-pistolan dari sumpit kayu, karet dan jepitan jemuran

Opa-opa itu mengajarkan Riku dan Kai membuat pistol-pistolan dari sumpit kayu, karet dan jepitan jemuran. Mudah, murah tapi cukup membuat kedua anakku asyik berduaan, sampai sulit sekali kusuruh berhenti bermain. Sementara mereka bermain, aku sempat masuk WC di gedung berlantai 3 itu. Begitu masuk WC lampu langsung menyala, karena memakai sensor. Otomatisasi seperti ini sudah banyak dipakai di gedung perkantoran dan sekolah untuk menghemat listrik. Tapi lucunya rupanya sensor itu membaca gerakan manusia. Jadi waktu aku “duduk” di WC sambil baca emails/internet, otomatis aku tidak bergerak, jadi lampunya mati tiba-tiba… hahaha. Sempat kaget sih, dan karena kaget bergerak kan tanganku, jadi lampu menyala kembali. Wah canggih sekali sensornya, maksudku sensitif terhadap gerak manusia. (Sempat terpikir kalau ada yang tiba-tiba mati di sini, ngga ketahuan ya karena lampu mati dan gelap…. hiiiii)

Selain otomatisasi lampu WC, mereka memakai tissue WC hasil daur ulang yang diberi nama 23KuBrand. Tissue itu merupakan proyek lingkungan hidup dari pemda Nerima, untuk mengumpulkan kertas sebagai bahan daur ulang. Tissue ini dipakai di setiap kantor pemda di 23 kelurahan di Tokyo. Satu lagi gerakan ECO.

Tissue hasil daur ulang 23KuBrand

Kemudian aku mengajak anak-anak pergi ke lantai 3 karena di situ ada bermacam “pameran”. Begitu masuk ruangan ada percobaan membangkitkan listrik dengan turbin. Ada 6 “pistol mainan” yang memakai tuas. Jika diputar tuasnya maka lampu akan menyala. Memang sih begitu 1 orang berhenti memutar, maka lampu juga akan mati, tapi disitu diajarkan bahwa listrik dapat dihasilkan dengan memakai turbin. Kai senang sekali di sini, meskipun dia yang paling lemah memutarnya, tapi dia senang sekali melihat lampu bisa menyala. Melihat Kai senang begitu opa-opa di sana bersemangat deh membantu memutar 6 pistol-pistolan itu hahaha.

Kai senang sekali di tempat percobaan pembangkit listrik ini

Di meja berikutnya, dijelaskan tentang beda pemakaian lampu biasa dan lampu LED. Jika lampu biasa memakai 60 watt, maka lampu LED hanya pakai 6 watt….jadi bisa hemat uang juga. Riku di situ diingatkan oleh petugasnya bahwa dengan mencolok kabel saja tanpa menyalakan mesin-mesin atau TV, tetap ada konsumsi listrik sebesar 0.5 watt. Yang juga berarti pemborosan listrik dan uang. Baru sadar dia, bahwa mamanya setiap kali ngomel ada artinya. Setiap malam sebelum tidur mamanya matikan dan cabut semua kabel itu ada artinya 😀

Konsumsi listrik setiap lampu berbeda. Yang paling hemat tentu LED

Meja yang lain memamerkan karya penghangat tubuh untuk musim dingin dari bahan bekas. Juga pembuatan kairo (penghangat tubuh) yang bisa dipakai terus menerus dengan memanaskan di microwave. dengan memakai kaus kaki tebal, atau kairo penghangat leher, tentu kita tidak perlu terus menerus menyalakan heater pada musim dingin.

Meja terakhir sebenarnya mau menunjukan memasak dengan solar cooker. Wah aku melihat wajan solar itu jadi ingat dulu waktu SMA, ikut kegiatan Science Club juga pernah membuat wajan solar bekerja sama dengan SMA Pangudi Luhur. Meskipun percobaan itu gagal, hati kami cukup hangat karena bisa bertemu dengan pemuda-pemuda kece (SMA semua putri saja soalnya hehehe). (Sayang ngga ada yang nyantol hahaha)

Seperti ini nih dulu 27 th lalu, aku buat percobaan di SMA, wajan matahari untuk masak. Akhirnya gagal, sudutnya byk salah jadi telurnya ngga matang-matang

Di sini akhirnya opa-opa itu membuat pop corn dengan kompor biasa, dan membagikannya pada anak-anak yang datang. Bahkan mereka membuat khusus untuk Kai, yang lahap memasukkan pop corn dalam mulutnya. Salah satu opa sampai bertanya padaku, “Kai tidak apa-apa makan pop corn begitu?”… oh tentu saja tidak apa-apa. Memang di Jepang sebelum memberikan sesuatu pada anak-anak pasti menanyakan dulu pada orang tuanya, apakah boleh diberikan atau tidak. Seperti pembagian permen/coklat/krupuk. Karena banyak orang tua yang disiplin tidak memberikan makanan tertentu, atau memang anak-anaknya alergi pada bahan makanan tertentu. (Suatu hal yang tidak pernah dilakukan orang Indonesia, langsung kasih ke anak-anak tanpa tanya pada orang tuanya apakah boleh atau tidak 😀 Dan menggagalkan pendidikan “tidak boleh permen/coklat” karena anak-anak merasa “dapat angin”)

Opa-opa membuat pop corn untuk Kai 😀

Sebagai hadiah kehadiran anak-anak dalam acara itu, kami mendapatkan hadiah kecil yang ditukarkan dengan kertas kehadiran yang penuh dengan stamp. Boleh pilih hadiahnya, dan aku suka sekali dengan sebuah bros kerajinan yang berbentuk seperti pensil, padahal bukan.

Pensil, tapi tidak bisa dipakai. Karena hanya ranting pohon yang ujungnya diberi warna spt pensil. kreatif juga. Aku suka!

Setelah cukup lama menghabiskan waktu di Pusat Recycle itu, kami pulang dalam salju, berjalan menuju stasiun terdekat, Musashi Seki. Karena lapar kami mampir makan Ramen dan pergi ke toko buku membeli buku cerita bergambar untuk Kai dan Riku dan mamanya 😀 Ada Picture book baru karangan Nakaya Miwa, penulis favoritku, yang karyanya sudah pernah kutulis (Story of Black Crayon) di sini, (Tempat tidur si kacang babi) di sini dan (Si Hitam dan Hantu) di sini.

Sebagai penutup aku mau menuliskan sebuah kalimat inspiratif yang kudapat di televisi akhir minggu lalu. “Bagaimana bisa menumbuhkan dan mengembangkan sesuatu kalau tidak memulainya?” Sister Tsudo, 83 tahun, seorang dokter biarawati yang memimpin RS TBC di Haiti, yang rubuh oleh gempa. (はじめなければ何も成長しない)

Duh, melihat kegiatan beliau, aku yang usianya separuhnya seharusnya tidak mengeluh dengan kehidupan ini. Bayangkan dia 30 th membangun RS di Haiti dari yang tidak ada apa-apa, sampai punya RS megah, dan hancur seketika oleh gempa. Tapi dia tidak pernah menyerah!

Sama halnya dengan pengajaran penghematan listrik dan gerakan cinta lingkungan. Tidak akan bisa berlangsung kalau kita tidak mulai dari diri sendiri! Mulailah, baru mengembangkannya.

Aku sebetulnya tidak begitu suka dengan istilah “Kalimat inspiratif”. Karena kalimat itu akan tetap menjadi kalimat kosong belaka jika TIDAK DILAKSANAKAN. Tapi karena aku diminta oleh Jumialely untuk menyebarkan virus inspiratif, maka aku tutup postingan hari ini dengan kalimat dari Sister Tsudo itu.

“Bagaimana bisa menumbuhkan dan mengembangkan sesuatu kalau tidak memulainya?”

Air Keras dan Air Lunak

Bukan minuman keras, tapi Air Keras dan Air Lunak. Sudah pernah dengar? Dan yang pasti Air Keras yang kumaksud ini  bukan air keras yang sering disebut-sebut sebagai pengganti merkuri (Hg) atau air raksa. Tapi ini mengenai kesadahan air.

Air sadah disebut juga air keras (hard water) , sedang yang tidak sadah disebut air lunak (soft water). Kesadahan air menunjuk kandungan mineral-mineral tertentu dalam air, terutama ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Tapi tentu saja ion logam, garam bikarbonat dan sulfat juga bisa menyebabkan kesadahan itu.  Jadi air sadah atau air keras adalah air yang kadar mineralnya tinggi sedangkan air lunak kadar mineralnya rendah.

Lalu bagaimana tahunya air itu sadah atau tidak, keras atau lunak. Yang paling mudah adalah dengan sabun. Jika berbuih banyak maka air itu air lunak, tapi jika berbuih sedikit maka termasuk air keras. Sebetulnya kita juga dapat melihat bahwa air keras karena mengandung mineral tinggi dapat menyebabkan garis kuning seperti karat di keramik tempat cuci tangan, atau membuat endapan di sekitar mulut ledeng.

Sebetulnya kesadahan air minum bisa langsung diketahui waktu meminumnya. Mungkin karena saya sudah lama tinggal di Jepang, lidah saya jadi bisa membedakan air minum itu air keras atau air lunak. Dan istilah  air keras  (硬水 kousui) air lunak (軟水 nansui) memang sering dipakai di Jepang (berlainan dengan di Indonesia, mungkin karena di Indonesia lebih banyak air keras ya?) Tadinya saya juga tidak tahu apa-apa mengenai kesadahan air ini. Saya baru tahunya (bahwa saya bisa membedakan air keras dan lunak itu) pada waktu mengadakan kunjungan ke pabrik Suntory Natural Mineral Water yang terdapat di Hakushu. (Tulisan ini seharusnya saya buat sudah lama, bersamaan dengan kunjungan ke Pusat Kupu-kupu Oomurasaki)

Kami sekeluarga memang kadang-kadang  membeli air mineral merek ini, sebelum minum air RO Pure Water yang sudah saya tulis di tulisan sebelum ini (Air Minum Gratis), atau kalau kami lupa dan tidak sempat mengambil air di supermarket tersebut. Sebagai jaga-jaga jika terjadi gempa bumi. (RO water itu hanya tahan 2 hari jika dibiarkan di suhu kamar, atau seminggu jika dimasukkan dalam lemari es. Mineral Water tentu jauh lebih tahan lama)

Karena mengenal merek ini, dan waktu mencari di internet, ternyata pabrik ini mengadakan open-house kunjungan ke pabrik setiap hari! Bayangkan setiap hari loh. Tapi memang kami baru bisa mengunjunginya Minggu 29 Agustus. Tentu saja pakai acara antri karena penuh nuh nuh pas week end dan akhir liburan musim panas.  Orang Jepang memang suka ya pergi ke tempat-tempat begini. Berwisata sambil belajar. Karena selain mengunjungi pabrik air minum (penyulingan/ pembotolan –seluruh proses), di lokasi yang sama ada pabrik pembuatan whisky. Tapi karena saya tidak suka whisky, jadi tidak mengikuti program kunjungan ke pabrik pembuatan whisky.

Kami diantar guide cantik dari perusahaan Suntory ini naik bus ke lokasi pabrik. Karena wilayah pabrik ini sangat luas, bagaikan berada dalam  hutan saja. Di pabrik baru yang belum lama beroperasi itu kami dijelaskan proses pembuatan/pembotolan air mineral yang diambil dari sumber mata air dari pegunungan Minami Alps. Pabrik baru itu sebetulnya juga dibangun dengan solar panel yang bisa menyediakan listrik yang akan dipakai pabrik itu sendiri.

selalu berada terdepan mengikuti penjelasan mbak cantik

Yang menggelikan sebetulnya melihat kedua krucilku ini mengikuti si mbak cantik kemana saja dia pergi. Sedapat mungkin berada di barisan paling depan untuk mendengarkan penjelasan si mbak. Well, tentu saja dia menjelaskan bahwa perusahaannya selain menjamin mutu air yang disuling dari sumber air itu sampai pada proses pembotolan, tapi juga menekankan usaha mereka untuk mengurangi pengeluaran CO2, dengan membuat eco packing. Kalau soal recycle botol plastik yang digunakan sih memang sudah menjadi program pemerintah, sampai semua warga memang harus memilah dan mengumpulkan pet botol untuk bisa didaur ulang kembali.

Sebagai konsumen ada satu hal yang membuat saya senang dengan produk ini yaitu bentuk botolnya yang canggih. Persis di bagian tengah tempat kita memegang botol untuk menuangkan isinya, sengaja dibuat lekukan yang pas untuk jari kita.

si Koala belum bisa baca aja serius banget sih hihihi

Setelah melakukan kunjungan pabrik itulah, kami dibawa ke sebuah ruangan untuk menikmati minum air mineral. Di depan kami terdapat dua gelas berisi air. Di sebelah kiri adalah produk suntory,  sedangkan yang kanan adalah Vittel, merek air mineral buatan Perancis yang didistribusikan di Jepang oleh group Suntory. Vittel kadar kesadahan Vittel 315 sedangkan suntory mineral water hanya 30. Beda sekali bukan?  Dan memang langsung terasa bahwa gelas yang sebelah kiri jauuuuh lebih enak, mudah diminum (rasanya minum seberapapun masuk) sedangkan yang sebelah kanan  terasa berat. Ternyata orang Jepang memang terbiasa minum air dengan kesadahan rendah, karena memang ditekan supaya kadar kesadahannya tidak melebihi angka 100.

dua gelas berisi air untuk membandingkan kesadahan air

Air dengan kesadahan rendah ini cocok dipakai untuk membuat susu bayi atau menyeduh teh atau kaldu. Air ini tidak “menutupi” rasa asli dari bahan yang dicampurnya. Aku juga merasa bahwa air RO pure water yang kami biasa minum ini memang kesadahannya rendah, mau minum sebanyak apapun tidak terasa “berat” (kecuali berasa kembung tentunya).

Tertulis kadar kesadahan 30

Katanya sih kesadahan air tidak berpengaruh pada kesehatan manusia. Tapi saya pernah sekilas baca mungkin perlu diperhatikan bagi mereka yang punya penyakit jantung. Saya tentu saja bukan ahli kimia yang bisa menjelaskan tentang kesadahan air dengan mendetil, hanya ingin berbagi saja bahwa ternyata selain masalah PH, ada pula istilah kesadahan yang terdiri dari air keras dan air lunak.

Terkadang saya yang tinggal di Jepang merasa iri hati bahwa negara ini benar-benar beruntung karena kaya akan sumber air yang sehat dan bersih (+enak) , belum lagi teknologi mereka (+dana) yang memungkinkan mengadakan air yang enak seperti proses desalinasi dengan RO. Seperti komentar sahabat blogger Clara di tulisan sebelum ini bahwa harga mesin pembuat RO water itu mahaaaal sekali. Padahal saya bisa mendapatkan air minum RO dengan gratis di Tokyo. Sementara di belahan dunia lain masih banyak yang belum bisa mendapatkan jangankan air minum, air bersih saja sulit.

Beberapa waktu yang lalu saya juga sempat menonton berita tentang perusahaan air Jepang yang “menjual” teknologi pembuatan air bersih ke negara-negara di Arab Saudi yang mulai kekurangan air minum. Negara Arab masih kaya sehingga bisa membayar teknologi itu, tapi untuk negara miskin? Mendapatkan air bersih saja merupakan suatu impian.

Memang sudah banyak kampanye memberikan sumbangan dari banyak perusahaan Jepang dengan cara membeli produknya maka sekian persen akan menjadi air minum bagi rakyat di Afrika. Atau beberapa penemuan orang Jepang yang bisa dipakai langsung di negara-negara sulit air. Antara lain saya pernah lihat diperkenalkan penemuan (bukan orang Jepang sih)  drum air berbentuk roda murah sederhana yang tidak memerlukan banyak tenaga yang bisa dipakai untuk mengambil air dari sumur yang jauh. Yang jika dengan cara tradisional, seseorang (wanita) harus memikul gentong air seberat 20kg di atas kepalanya, dan berjalan jauh. Paling sedikit drum air berbentuk roda itu bisa meringankan beban serta mempercepat proses pengambilan air. Nama drum ini adalah Qdrum, dan waktu saya mencari websitenya ternyata ada program sumbangan untuk mengirimkan Qdrum ini ke Timor Timur juga.

Daripada menaruhkan gentong di atas kepala, tentu saja lebih baik menarik Qdrum ini. Sebetulnya penemuan yang sederhana tapi sangat membantu.

Banyak juga sebetulnya yang masih bisa kita lakukan sebagai upaya penghematan air, seperti yang sudah pernah saya tuliskan di Bermula dari Air antara lain dengan memakai sistem dual flush untuk WC, atau dengan menggunakan kembali air yang masih bisa dipakai setelah berendam di ofuro (bak mandi) untuk mencuci pakaian seperti yang pernah saya tulis di Maternity Blue. Atau memakai beras musenmai yang tidak perlu dicuci lagi seperti yang saya tulis di Menanak Nasi.

Satu lagi yang juga pernah saya sadari bahwa usaha ini adalah salah satu mengurangi pemakaian air demi perwujudan Eco Kitchen yaitu memakai baskom cucian di tempat cuci piring. Di rumah orang Jepang PASTI di tempat cuci piring ada baskom ini, tempat mereka memasukkan piring kotor ke dalam air dan memberi sabun di dalamnya. Tunggu dulu sebentar sehingga air baskom itu bisa melarutkan kotoran dari piring sehingga mudah disabuni dan dibilas. Coba jika tanpa baskom itu, air keran yang mengalir terus bisa berapa liter terbuang? Memakai baskom itu saja bisa menghemat air (+ uang rekening air).

Saya rasa memakai baskom cuci seperti ini bisa lebih mengirit air dibanding mencuci langsung di bawah kucuran ledeng

Ada banyak cara untuk menghemat air di rumah seperti yang ditulis Alamendah, tetapi semuanya kembali lagi pada diri kita sendiri. Maukah kita melaksanakannya? Semoga….. (saya berharap sambil menghabiskan air  mineral dari gelas anak-anak yang tidak habis…. daripada dibuang kan… mendingan ibunya yang minum)

Tulisan ngalor ngidul tentang air ini dalam rangka berpartisipasi dalam aksi global dunia maya, Blog Action Day 2010.

Air Minum Gratis

Aku ingin bertanya, masih adakah restoran di Indonesia yang menyediakan air minum gratis? OK, boleh juga air teh tawar gratis deh. Mungkin di restoran  padang masih ada, tapi sepertinya di Jakarta, di seluruh restoran kalau kita minta air minum pasti “dipaksa” untuk membeli Aq*a (entah yang memang mereknya itu, atau bukan) tapi pasti air mineral.

Kenyataan seperti ini kadang membuat aku merasa beruntung tinggal di Tokyo. Karena kita tidak perlu membayar jika minta air minum di restoran, sebanyak apapun kamu minum. Meskipun kadang aku juga sempat sih berpikir, air ini darimana? Kemungkinan besar memang dari ledeng, tapi sebetulnya no worries juga karena air ledeng di Tokyo semua bisa diminum. Bahkan di stasiun, taman tempat umum tersedia  fountain untuk minum. Meskipun jarang sekali aku melihat ada gadis/ibu-ibu yang minum dari fountain itu. (Aku cari bahasa Jepangnya ternyata cuma tertulis Mizu nomiba 水のみ場= tempat minum air). Ya, sudah pasti kakko warui (jaim dong ya) mangap di tempat umum menampung air yang muncrat ke atas. Kalau tidak tepat target bisa kena wajah bermakeup, atau baju.

Keran minum (fountain) yang banyak terdapat di taman/stasiun/tempat umum dengan berbagai bentuk

Dimana lagi ada air gratis ya? Oh ya, di apotik dan Rumah Sakit dekat rumahku itu menyediakan dispenser air minum dingin dan teh hijau. Di apotiknya malah lebih canggih, menyediakan dispenser untuk kopi, teh hijau, teh ceylon (teh jawa) dan air, semuanya ada panas atau dingin. Di ruang dosen tempat aku mengajar juga ada air minum gratis ini (aku rasa ini biasa ya di Indonesia juga).

Nah di rumah gratis tidak? Sebetulnya gratis karena air ledeng kan bisa diminum. Tapi dasar orang Indonesia, waktu pertama datang ke Jepang, tidak bisa minum langsung dari ledeng. Selalu dimasak dulu baru didinginkan. Tapi…. rasa air ledeng Tokyo tidak enak. Jadi dulu aku selalu beli air minum mineral dalam botol 2 liter seminggu 6 botol, dan minta diantar ke rumah karena berat (lewat koperasi).

Waktu Kai lahir dan harus minum susu formula, aku sibuk mencari perusahaan semacam AQ*A di Indonesia untuk menyewa dispenser dan minta diantar refilnya ke rumah. Tapi… itu mahal! Tidak sanggup deh melanjutkan membeli, apalagi waktu itu Riku masih usia 4 tahun dan seenaknya saja mengambil air kemudian minum sedikit dan ambil gelas baru. Boros! Sesudah Kai berusia 1 tahun aku hentikan berlangganan air minum yang diantar ini.

Jadi kembali lagi membeli botol mineral, hingga suatu hari aku melihat promo di supermarket dekat rumahku. Sebetulnya sudah lama melihat alat dispenser semacam itu di supermarket-supermarket dekat rumahku, tapi membayangkan harus membawa air seberat itu sambil menggendong/ membawa bayi, cukup membuatku berpikir. Tapi Kai semakin besar dan bisa berjalan, atau tidak begitu perlu diperhatikan terus, jadi kupikir inilah waktunya.

Botol khusus untuk mengambil air di dispenser. Awalnya membayar 504 yen, sesudah itu gratis.

Untuk mendapatkan air gratis ini, kami harus mendaftar dulu, lalu menerima kartu magnetik, yang dipakai untuk membuka pintu dispenser. Membayar 504 yen (sudah termasuk pajak), kami mendapatkan satu botol kosong untuk 4 liter air. Harga 504 yen itu untuk awal saja, setelah itu sama sekali tidak dipungut bayaran. Jadi bagiku yah bisa dibilang gratis. (Mungkin dengan harapan bahwa kita akan belanja di toko itu terus maka disediakan gratis ya)

Jika mau mengisi botol, tinggal menggesek kartu magnetik. Buka pintu dispenser kemudian meletakkan botol di dalam ruang yang ada. Bisa pilih mau mengisi 2 liter atau 4 liter. Sesudah selesai kira-kira 20-30 detik tanda bisa dibuka pintunya menyala, dan kita ambil botol dan tutup sendiri.

Dispenser yang diletakkan di supermarket dekat rumah. Harus ambil dengan botol khusus, tapi boleh berkali-kali, mau satu hari 10 kali juga boleh hehehe.

Memang cukup berat membawa 4 liter air ini (karena itu ada pilihan 2 liter juga), tapi karena aku naik sepeda, cukup taruh di keranjang depan sepeda. Masalahnya aku mendaftar untuk 2 botol, nah kalau isi dua-duanya lumayan tuh jadi 8 kg, bisa berlatih otot jadi binaragawan.

Airnya enak rasanya. Memang ditulis sih bahwa air itu cocok untuk dipakai untuk apa saja, minum teh/kopi, masak, bahkan untuk membuat susu bayi. Berlainan dengan air mineral, air ini tidak diberi tambahan mineral lain sehingga menyerupai air alam. Perlu diketahui air mineral itu tidak cocok dipakai untuk membuat susu bayi, karena cenderung diberi tambahan mineral atau kandungan mineralnya terlalu kuat untuk perut bayi.

Padahal air  yang kuambil di dispenser supermarket (Inageya) dekat rumahku ini adalah air RO (Reverse Osmosis ) yang juga bisa disebut dengan desalinasi yang sudah pernah dibahas oleh Alamendah di sini. Sebuah proses penyulingan air laut menjadi air minum dengan memisahkan garam dan substansi lain dari molekul air. Pertama kali memang aku ragu, tapi setelah minum…. benar-benar enak, tidak ada bau atau rasa yang menyolok. Bahkan meskipun aku tidak tahu kesadahan airnya berapa, aku bisa merasa bahwa kesadahannya rendah.

Kesadahan air? Ada yang bisa menerangkan? well, aku simpan keterangan tentang kesadahan air di tulisan tentang air berikutnya ya.

Menanak Nasi

Pertama kali aku datang ke Jepang, aku tinggal bersama keluarga Jepang. Dan di situ aku ternganga melihat pembantunya (memang tidak biasa di sini pakai pembantu, kebetulan induk semangku itu orang kaya sehingga ada pembantu) akan memasak nasi. Memang pakai rice cooker (mana ada sih sekarang masih cara lama, yang kalau masak nasi direbus dulu, baru ditanak di dandang?) tapi yang mencengangkanku adalah caranya dia mencuci beras. Waduh cuci berasnya seperti cuci baju, diputar, ditekan pokoknya kasar deh menurut aku. Sudah gitu beberapa kali airnya diganti sampai beras itu bersih putih.

Wahhhh kupikir, kalau ibuku lihat pasti dia ngomel, soalnya di keluargaku kalau mencuci nasi harus tidak lebih dari 3 kali, tidak boleh sampai bersih sekali, alasannya : “Vitaminnya hilang semua!”.  Jadi melihat beras sampai airnya bening begitu membuat aku terperanjat, apalagi bahasa Jepangnya mencuci beras itu ada kata khususnya, bukan arau tapi togu 研ぐ、yang lebih sering dipakai untuk pisau yang artinya “mengasah (pisau)”.  Terjemahan bahasa Inggrisnya yang cocok adalah grind.(Bisa bayangkan kan?) .

Sesudah air beras itu menjadi bening, barulah dimasak di rice cooker dengan takaran air yang cocok. Dan yang lucunya biasanya sebelum mulai dimasak (rice cooker ON) ditunggu dulu minimum 30 menit. Katanya supaya beras itu mengembang dulu, baru dimasak dan akan menjadi rasa nasinya lebih enak. Kadang dia juga menambahkan sesendok sake untuk masak ke dalam beras sebelum dimasak (katanya supaya enak, dan memang benar lebih harum, tapi aku pernah coba ternyata tidak tahan lama, alias cepat basi). Setelah nasi tanak, tunggu dulu 5 menit, baru boleh dibuka, namanya murasu 蒸らす. Kemudian diaduk semua supaya panas dan kelembutannya merata. (Believe, keluarga induk semangku ini memang agak cerewet soal masakan hihihi). Nasi baru itu, sesendok pertama biasanya diberikan untuk sesaji Altar Buddha (butsudan).

Sejak 2007, di Jepang ada produk beras baru yang bernama Musenmai 無洗米, beras tanpa dicuci.  Jadi beras hasil penggilingan biasa masih mempunyai lapisan yang diberi nama nuka 糠. Nuka ini lapisan yang menimbulkan bau, warna kekuningan dan rasa yang kurang enak pada beras, sehingga harus dicuci yang bersih dengan cara togu tadi. Jadi dengan menghilangkan lapisan nuka ini (dengan cara BG Bran Grind, NTWP Neo Tasty White Process dll) , sebetulnya beras itu tidak perlu dicuci lagi di perumahan dengan air. Selain bisa menghemat waktu, juga bisa menghemat air. Betapa beras ini ramah lingkungan, bukan?

Harga musenmai ini memang lebih mahal sekitar 100 yen (5 kg)  daripada seimai (beras biasa masih ber-nuka) dari jenis padi yang sama. Tapi membayar 100 yen lebih untuk waktu dan air yang terbuang…. sangatlah murah menurutku. Awalnya aku juga ragu untuk mencoba memakai musenmai ini. Tapi karena waktu itu (2007) Riku masih bayi, padahal aku masih bekerja setiap hari dan masih harus memasak, jadi sedapat mungkin menghemat waktu untuk memasak nasi. Jadilah aku sejak itu membeli musenmai terus.

Dan ternyata aku baru tahu dalam sebuah acara kuiz di TV, bahwa beras musenmai itu amat sangat ramah lingkungan. Dan baru saja aku cek  di wikipedia Jepang tentang apa yang dikatakan pembawa acara kuiz itu. Yang membuat beras musenmai itu ramah lingkungan, selain menghemat air, yaitu dengan tidak membuang nuka ke limbah perumahan, yang akan dialirkan ke laut. Karena sebetulnya dalam nuka itu masih mengandung phosporus dan nitrogen yang sulit “dibersihkan/diolah” (semua limbah perumahan melalui tahapan purification dulu sebelum dibuang ke laut, oleh karena itu perumahan juga harus membayar ongkos air limbah yang sama jumlahnya dengan ongkos air ledeng…untuk biaya purification itu). Padahal nuka yang mengandung phosporus dan nitrogen itu bagus dipakai untuk pupuk atau pakan ternak. Nah, jika dibuang/terbuang begitu saja ke laut, maka keseimbangan habitat laut akan terganggu, misalnya ganggang laut akan berkembangbiak tak terkendali yang akhir-akhirnya akan mengganggu habitat ikan dan keseimbangan laut lainnya

Jadi ternyata musenmai itu lumayan banyak membantu lingkungan hidup, meskipun musenmai sebetulnya hanya sebagian kecil dari limbah perumahan yang berpengaruh pada keseimbangan alam. Saya jadi teringat akan tulisannya Alamendah di Citarum Menjadi Sungai Paling Tercemar di Dunia, bahwa 5 juta penduduk yang tinggal di kanan-kiri sungai berperan mencemari sungai dengan sampah dan limbah perumahan selain 500 pabrik yang ada. Sudah selayaknya kita juga memperhatikan sampah dan limbah yang kita buang dari dapur/rumah kita, karena sebetulnya persentasi kemungkinan kita sendiri mencemari lingkungan sekitar cukup besar.

Harga oh Harga!

Hari ini aku mau tulis gundahnya ibu rumah tangga ya… tolong didengerin ajah hehehe. Ngedumelnya pasti sama sih dengan ibu RT di mana saja. Yaitu soal harga barang-barang yang bikin pusing kepala. Apalagi kalau naik terus. (Eh tapi …. pinternya orang Jepang yah, harganya tetap cuma berat/volume/kemasannya diperkecil….jadi konsumen ngga sadar bahwa sebetulnya harganya naik hihihi)

Sebelumnya aku mau memasang sebuah foto, belanjaanku pagi ini. Memang tidak banyak sih karena … tidak bawa duit hehehe… ngga juga sih, lebih karena tujuan utamanya lain, bukan belanja harian. Nah, dari foto ini kira-kira kamu-kamu bisa menebak tidak, benda apa yang harganya paling mahal…..

bisa tebak ngga ya barang apa saja itu... dua kotak tengah adalah bumbu kare, dan yang pling kanan adalah jamur

sudah bisa menebak? barang apa yang termahal di situ?

.

.

.

.

.

hmmmm…. sudah nebaknya?

OK, aku buka kartu ya…. di antara semua barang di situ yang paling murah air mineral seharga 85 yen. Dan yang termahal adalah …..rokok. hiks hiks

Hari ini aku membeli rokok sampai 3 karton loh, untuk suami tersayang. Padahal aku sebetulnya paling anti orang merokok… tapi gimana lagi, cinta mengalahkan segalanya (cihuuuy). Dan aku memang menghargai hak azazi manusia, selama Gen tidak merokok di depan aku dan anak-anak, then its allright. Dan Gen memang sejak pacaran tidak pernah merokok di depan aku. Dia selalu merokok di luar rumah.

Nah, kenapa aku sampai beli rokok begitu banyak? Apakah Gen ulang tahun? Bukan…. bukan ulang tahun. Tapi….. karena harga satu pak rokok hari ini masih 330 yen, dan mulai besok menjadi 440 yen ….huaaaaa coba tuh satu pak = satu bento makan siang. hiks… yang menangis jelas aku lah.

Hampir separuh orang Jepang yang perokok melihat kenaikan harga rokok ini sebagai kesempatan untuk berhenti merokok karena terlalu mahalnya harga rokok. Aku juga baca di tulisan salah satu teman di FB bahwa di Jerman satu pak rokok menjadi 5 euro….(berarti jauh lebih mahal dari di Jepang tuh). Aku sih berharap supaya Gen berhenti merokok, tapi aku tahu juga rokok dan game komputer adalah satu-satunya pelarian dia kalau sedang stress. Semoga dengan ekonomi rumah tangga yang makin ketat ini dia bisa berhenti (berdoa yang kencang)…..

wis itu saja ngedumelnya aku, dan aku mau menambahkan satu hal menyambung komentar aku di blognya Alamendah mengenai Penyebab dan dampak pencemaran oleh limbah pemukiman. Dan di situ aku menulis :

Kami di sini tidak boleh membuang minyak bekas pakai ke saluran pembuangan air. Harus dibekukan dengan obat khusus atau diserap ke kertas lalu dibuang sebagai sampah terbakar. Terutama di musim dingin, karena minyak beku dapat menghambat saluran pembuangan.

Obat pembeku minyak bekas. Satu kantong 50 yen bisa untuk 600 ml minyak. Dimasukkan minyak yang mau dibuang dalam keadaan panas (di atas 80 derajat) dan waktu minyak mendingin, maka akan membeku. Setelah beku buang ke sampah yang bisa terbakar.

Salah satu obat pembeku minyak itu seperti foto ini. Aku memang tidak tahu apakah semua orang Jepang berbuat sama seperti aku, tapi dari percakapan teman-teman orang Jepang, ya selain membekukan minyak, ada yang memakai koran untuk menyerap minyak dll. Tidak ada teman Jepangku yang membuang langsung ke saluran pembuangan. Semoga teman-teman Indonesia yang tinggal di Jepang juga bisa turut “care” dengan masalah ini.

Tuh kan ceritaku hari ini ngalor-ngidul… tapi yang penting nulis kan ya…hehehe. Selamat menuntaskan hari Rabu 😉

Kupu-kupu Nasional

Jika ditanya apa bunga negara (bunga nasional) Indonesia? Banyak yang akan menjawab: Melati. Tapi mungkin ada yang menjawab : Anggrek. Dan ini tidak salah, karena memang ternyata Indonesia mempunyai 3 bunga yang ditetapkan menjadi bunga Nasional yaitu bunga Melati Putih (Jasminum Sambac) sebagai puspa bangsa, bunga Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai puspa pesona dan bunga padma raksasa (Raflessia Arnoldii) sebagai puspa langka. (sumber : wikipedia)

Nah, kalau di Jepang selain bunga nasional yaitu Sakura dan Seruni, ada pula penetapan Kupu-kupu Nasional yaitu dari jenis Oomurasaki (nama jepangnya) atau nama Latinnya Sasakia Charonda, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “great purple emperor“. Kupu-kupu jenis ini ditetapkan menjadi kupu-kupu nasional tahun 1956 oleh Asosiasi Serangga Jepang (日本昆虫学会).

Kupu-kupu nasional Jepang: Oomurasaki, dari website daerah Hokuto

Bingung juga mungkin orang Indonesia kalau ditanya Kupu-kupu Nasionalnya apa, karena konon dari 17.500 jenis kupu-kupu yang ada di dunia, 1600 jenis ada di Indonesia, yang merupakan negara nomor dua terbanyak jenis kupu-kupunya setelah Brazil. Bagaimana kupu-kupu Jepang? Di Jepang hanya ada 240 jenis dan 28% di antaranya dalam bahaya kepunahan.(Karena sedikit itu maka masih bisa ditentukan yang mana yang kupu-kupu nasional? ntahlah)

Kupu-kupu Oomurasaki ini memang masuk ke dalam kategori NT yaitu sekarang masih belum termasuk dalam tahap kepunahan tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda pengurangan. Jadi sebetulnya kupu-kupu ini masih bisa kita lihat beterbangan di bukit-bukit sekitar Tokyo juga. Tapi hari minggu tanggal 29 Agustus yang lalu, kami pergi ke Nagasaka, kota tempat yang mempunyai Center untuk Kupu-kupu Oomurasaki. Kota ini terkenal sebagai habitat terbanyak dari kupu-kupu jenis ini di Jepang, sehingga didirikanlah Center di sini.

Gen yang memang “ahli” serangga (bukan ahli secara akademis, tapi memang suka saja) ingin mengajak Riku untuk melihat center ini yang terletak di prefektur Yamanashi. Diapit oleh pegunungan South Alpen, dan dataran tinggi Yatsugatake daerah ini memang masih sejuk dan asri. Tapi memang cukup jauh dari Tokyo, yaitu sekitar 110 km melewati jalan tol. Kami berangkat pukul 7 pagi dan sekitar pukul 9 kami singgah di Parking Area (PA) Shakado untuk beristirahat. Meskipun pagi hari jalan tol ini sudah padat dengan kendaraan. Hari Minggu itu merupakan hari minggu terakhir dari liburan musim panas, dan setiap hari sabtu/minggu pengguna jalan tol diberi keringanan membayar 1000 yen jauh dekat. Jadi sudah pasti macet di mana-mana. (pulangnya kami terjebak macet sampai 4 jam di jalan tol …hiks)

mist, semburan embun yang bisa mendinginkan suhu dan menyegarkan

Nah yang menarik di PA ini adalah adanya awning yang diberi semburan embun (mist). Mist ini dipercaya dapat menurunkan suhu udara, dan memberikan kesegaran alami. Memang waktu itu belum terlalu panas, tapi berdiri di bawah mist ini membuat badan menjadi segar kembali. Pemandangan yang hanya bisa dilihat waktu musim panas.

Tak lama kami sampai di Oomurasaki Center and Nature Park. Masuk ke dalam gedung, terdapat maket hutan di sekitar kota Nagasaka, lengkap dnegan binatang dan tumbuhan yang terdapat di situ. Selain itu ada berbagai koleksi kupu-kupu kering dari seluruh dunia dan ruang pemutaran video mengenai siklus kehidupan kupu-kupu Oomurasaki.

bisa melihat kepakan sayap kupu-kupu oomurasaki dengan model ini, sementara di sekelilingnya terdapat kupu-kupu kering dari seluruh dunia.

Di gedung sesudahnya terdapat koleksi kumbang dari berbagai belahan dunia, termasuk kumbang dari Jawa. Hiiii ngeri deh, besar sekali. Di sini juga ada pemutaran film, ada permainan-permainan yang berhubungan dengan serangga, dan kayu. Jadi bagian ini lebih pakai “meraba” daripada “melihat”.

Gedung paling dalam, seperti kandang, hutan kecil untuk mengembangbiakkan kupu-kupu

Keluar dari gedung ini,kami memasuki “kandang” besar berisi pepohonan, yang merupakan hutan kecil untuk pengembang-biakan kupu-kupu. Nah, sayangnya kami tidak bertemu dengan kupu-kupu Oomurasaki, karena salah waktu. Waktu melihat kupu-kupu seharusnya bulan Juli awal. Sekarang mereka sedang bertelur dan menjadi ulat, yang kemudian akan menetasnya Juli tahun depannya lagi. Memang siklusnya begitu, karena Jepang negara 4 musim. Kupu-kupu tidak tahan jika harus terbang dalam dingin kan? hehehe

Tapi di antara pohon-pohon enoki yang ada dalam taman ini, kami bisa menemukan beberapa telur yang sudah berubah menjadi ulat kecil di ujung-ujung daunnya. Mata Riku memang tajam, aku mungkin tidak bisa menemukan ulat itu karena warnanya sama dengan daun enoki.

ulat calon kupu-kupu oomurasaki, yang ditemukan Riku di ujung daun enoki.

Meskipun tidak bertemu dengan Oomurasaki, kami masih bisa melihat beberapa jenis kupu-kupu lain yaitu kupu-kupu hitam Kuroageha, dan kupu-kupu kecil kuning kichou yang memang banyak dijumpai di taman-taman Tokyo juga.

Kupu-kupu hitam, kuroageha, masih banyak dijumpai di Jepang. Hasil bidikan aku loh....susyah bidiknya, terbang mulu soalnya.

Yah, memang kami harus kembali lagi datang ke sini tahun depan. Karena belum bertemu langsung dengan kupu-kupu nasional Jepang. Sebagai kenang-kenangan aku mengirimkan kartu pos berbentuk kupu-kupu Oomurasaki untuk Riku dan Kai, yang jika dikirim dari Center itu akan mendapatkan cap khusus berbentuk kupu-kupu.

Kartupos berbentuk kupu-kupu yang kukirim dari center

Sebelum pergi dari tempat itu kami menyempatkan diri mengelilingi taman yang ada, dan melihat berbagai serangga di kolam teratai serta rumah pohon “tree house”.

kupu kupu yang lucu
kemana engkau terbang
hilir mudik mencari
bunga bunga yang kembang

berayun-ayun
pada tangkai yang lemah
tidakkah sayapmu
merasa lelah


kupu kupu yang elok
bolehkah saya serta
mencium bunga-bunga
yang semerbak baunya

sambil bersenda-senda
semua kuhampiri
bolehkah kuturut
bersama pergi

(ciptaan: Ibu Sud)

Taman Asukayama

Duh, Tokyo sudah mulai panas… meskipun suhu maximumnya BARU 31 derajat (soalnya bisa saja mencapai 40 loh). Sekarang masih dianggap musim hujan, sampai ada pernyataan “Musim hujan selesai” dari Badan Meteorologi dan Geofisikanya Jepang. Nah, di hari yang panas begini memang paling enak kalau jalan-jalan ke mall atau dalam bangunan yang berAC. Tapi tentu saja itu tidak menyehatkan, kan? Kalau di Tokyo, kita juga bisa ke taman-taman kota sebagai usaha meng”ademkan” diri.

Hari Minggu tanggal 27 Juni lalu, setelah melepas Narpen jam 8 pagi (soalnya dia ada janjian sama teman-temannya tuh), kami pergi ke Taman Asukayama. Tujuannya sebetulnya ke Museum Kertas yang berada di dalam taman tersebut. Tapi posting kali ini aku akan menulis tentang tamannya dulu ya.

menuju Taman Asukayama dan bertemu kereta listrik trem yang sejajar dengan jalanan mobil

Taman Asukayama ini terletak di kelurahan Kita-ku, dekat stasiun Ouji 王子, sehingga kerap disebut sebagai Taman Ouji juga.  Jika mendengar kata Ouji atau Juujou 十条, saya otomatis teringat bahwa dulu ada fasilitas imigrasi Jepang di sini yang boleh dikatakan sebagai “penjara” nya warga asing ilegal di Jepang. Ntah apakah dengan adanya kantor imigrasi baru di Shinagawa, tempat ini juga pindah ke sana.

Taman ini termasuk taman yang mudah dikunjungi karena merupakan taman kota yang menyediakan sarana parkir mobil, meskipun terbatas. Kebetulan hari itu parkirnya kosong, sehingga kami bisa memarkirkan mobil dengan mudah. Coba jika kami datang pas musim Sakura berbunga…wah bakal sulit kami memarkirkan mobil kami. Karena taman ini merupakan tempat yang terkenal sebagai taman Sakura.

jalan mencari makan di sekitar taman Asukayama

Karena kami datang ke sana sudah pukul 1 siang, dan onaka peko-peko alias laper berat, jadi kami mencari tempat makan yang terdekat. Dan yang terdekat dengan tempat parkir hanya sebuah restoran Katsu (goreng-gorengan) yang menyediakan Asukayama Bento. Karena tidak ada pilihan lain, kami akhirnya makan siang di sana.

Memasuki pintu gerbang taman jam setengah tiga, kami disambut dengan rimbunnya pepohonan di sana. Dan… bunga Ajisai (hydrangea) yang bermekaran. Kebanyakan ajisai di sini berwarna biru dan putih.

di depan taman Asukayama.....taman yang berusia 280 tahun lebih

Di sebelah kanan terhampar tempat bermain anak-anak dan di sebelah kiri ada 3 bangunan museum yaitu Museum Daerah Asukayama Kita-ku, Museum Kertas dan Museum Shibuzawa. Museum Kertas inilah yang menjadi tujuan utama kami sebetulnya.

Taman Asukayama Asukayama Kouen 飛鳥山公園 ini ditetapkan menjadi  Taman kota yang pertama di Jepang pada tahun 1873, bersanding dengan 4 taman lainnya yaitu Taman Ueno 上野公園, Taman Shiba 芝公園, Taman Asakusa 浅草公園 dan Taman Fukagawa 深川公園, yang dikenal sebagai 5 taman Kota Tokyo. Meskipun sebetulnya sejarah Taman Asukayama ini  sudah dimulai sejak 1720 kala Tokugawa Yohimune memerintahkan menanam pohon sakura di lahan ini. Taman Sakura ini kemudian dibuka untuk umum tahun 1737.

Sebetulnya dari namanya Asukayama, diketahui bahwa yama= gunung, gunung Asuka. Dan memang tempat ini lebih tinggi dari sekelilingnya, meskipun nama Gunung Asuka ini tidak tercantum dalam Daftar Nama Gunung Jepang. Dikatakan bahwa gunung Asuka adalah gunung yang terendah yaitu hanya 25,7 meter (hihihi lebih bagus diberi nama bukit kali ya).

Selain tempat bermain untuk anak-anak dengan gunungan dan berbagai alat permainan, di dalam taman  juga terdapat lokomotif D51 dan gerbong kereta trem Toden 6080.  Sambil memperhatikan Riku dan Kai yang bermain aku sempat melihat bermacam tingkah pengunjung taman. Kebanyakan memang keluarga yang membawa anak-anak. Kelihatan sekali ada anak yang memang “behaved” dan ada anak-anak yang tidak terbiasa bermain bersama, yang mau menangnya sendiri, bahkan ada anak yang melempar pasir ke arah muka Kai (orang tuanya sih langsung minta maaf….).

Sambil menunggu anak-anaknya bermain, orang tua duduk-duduk di bangku sekitar taman. Dan ada satu pemandangan yang sebetulnya amat menggelitik “jiwa fotografi”ku, yaitu seorang bapak yang menggendong bayi di punggungnya sambil duduk. Dan bapak dan bayi itu sama-sama tertidur! Duh aku bisa bayangkan si bapak yang kecapekan bekerja seminggu, disuruh momong bayi, yang ibunya ntah pergi ke mana (karena lumayan lama…hihihi ketahuan lama juga memperhatikannya). Mungkin si ibu bermain dengan anaknya yang lebih besar, who knows. Memang akhirnya aku bisa berhasil mencuri foto si bapak dan bayi, tapi kurang bagus, dan kurang etis kalau aku tampilkan di sini, karena ada muka orang-orang lain di sekitarnya.

Riku dan Kai cukup lama bermain di taman ini sampai puas, dan kami terpaksa mengajak mereka pulang lebih karena khawatir ongkos parkir yang harus kami bayar daripada soal waktu yang memang sudah larut senja.  Dan dalam perjalanan pulang kami sempat melewati Universitas Tokyo yang terkenal dengan gerbang merahnya. (Dan ternyata si Narpen juga ke sini meskipun jamnya berbeda).

Gerbang Merah atau aka-mon yang terkenal

Dalam perjalanan pulang kami juga bertemu dengan mobil kampanye pemilihan legeslatif Jepang. Mobilnya ada dua berwarna pink + putih dengan papan  pink! Rupanya calon legeslatif yang katanya berasal dari profesi artis. Wah tidak di Indonesia, tidak di Jepang, sama aja, artis juga merambah ke kancah politik. Sayang aku tidak sempat memotret si artis itu hihihi. (sambil naik mobil sih, jadi susah timingnya dan aku duduk di sebelah kiri, dianya di sebelah kanan). Pemilihan legeslatifnya Jepang akan dilaksanakan tanggal 11 Juli ini,  tapi kok sepertinya kurang semangat dibanding waktu yang sudah-sudah. Kurang ribut kampanyenya, karena biasanya mobil-mobil ini juga “berkoar-koar”  di daerah pemukiman, namun kali ini aku jarang mendengar.

mobil kampanye calon legeslatif yang artis... pink dehhh