Kartu Pos itu….

Semua memang bermula dari sepucuk kartu pos yang ditujukan padaku. Pengasuh program acara Gita Indonesia InterFM 76,1 Mhz Tokyo.

Yah memang saya adalah DJ untuk acara Gita Indonesia, sebuah program “InterCommunity Square selama 1 jam setiap minggu yang disiarkan mulai tahun 1997-2001. (Cerita awalnya bisa dibaca di sini)

Banta san, demikian saya memanggilnya, mengirimkan sepucuk kartu pos berisi guntingan koran tertanggal 23 Agustus 1999. Ya guntingan koran itu ditempel begitu saja di bagian menulis berita (sebetulnya tidak boleh, tapi pihak kantor pos di sini “tutup mata”) . Saya bacakan kartu posnya pada siaran tanggal 10 September 1999. Kartu pos pertama, kemudian menjadi kartu pos yang 2, 3, 4 …hampir setiap minggu Banta mengirimkan kartu pos ke InterFM. Ya, dia  boleh dikatakan salah satu fans yang rajin. Pernah suatu kali dia mengirim kartu pos berbahasa aceh… bagaimana saya bisa bacakan kalau tidak tahu artinya? Nanti kalao isinya tidak baik bagaimana? Lagipula bagaimana pelafalan bahasa Aceh, saya tidak tahu. BUT, saya yakin isinya pasti bukan provokasi, sehingga setiap ada waktu, saya bacakan kartu pos dari dia…tentu saja bergantian dengan request atau kartu pos/fax dari pendengar lainnya. Isi kartu posnya kebanyakan tentang pertikaian di Aceh, betapa banyaknya orang yang harus mengungsi karena daerah tempat tinggalnya tidak aman lagi. Kerinduan akan kampung halaman, keluarga dan tanah air…..

Kemudian permohonan itu datang dari NHK, untuk pengisian acara Hallo Nippon, sebuah acara yang mengetengahkan orang-orang asing yang bekerja di Jepang. Sebelumnya sudah dua kali aku diminta mengisi acara yang serupa, dari TV Kanagawa dalam acara “Sekai kamado kara” (Dari belanga dunia) (OA 12-11-1997). Sebuah program memperkenalkan orang asing, hometownnya dan masakan yang mau diperkenalkan. Durasinya 20 menit, live. Hmmm, Acara ini bersifat talk show dengan memakai foto-foto dan saya menyediakan Tempe goreng + Gado-gado. Kemudian NHK BS1dalam acara “Ajia Jouhou Kousaten” (Asia Crossroad Information – OA 19 Desember 1998). Sebuah program yang memperkenalkan acara Gita Indonesia sebagai acara Radio unik dari InterFM. Durasinya 8 menit – rekaman.

Nah, acara NHK BS 1, yang “Hallo Nippon” ini cukup lama 20 menit, dan rekaman dengan menengahkan semua sisi kehidupan aku, ceritanya. Jadi rencananya selama 2 minggu, kamera akan menguntit aku kemanapun aku pergi (kecuali ke WC dan mandi hehehe), ke universitas, ngajar, menerjemahkan, siaran…dsb dsb…semua kegiatan aku, ceritanya. Yang bertugas menjadi director langsung seorang wanita muda, Kaneko Yuki san, padahal semula seorang director senior yang menangani rekaman yang menghubungi saya (ternyata mau ada regenerasi juga di PH -Production House mereka). Karena saya wanita, diharapkan Yuki san bisa menggali semua potensi yang ada dan credible menjadi acara TV yang bagus.

OK. Jadi mulailah rekaman-rekaman kegiatanku, sambil memikirkan plot cerita yang menarik. Di situlah muncul Kartu Pos dari Banta san. Dan saya jelaskan bahwa memang pendengar acara saya kebanyakan adalah pemagang atau Kenshusei yang bekerja di pabrik-pabrik kecil di Jepang, di bawah kelola IMM. Sebelum berangkat ke Jepang, yang berminat harus mendaftar di Dep Tenaga Kerja, kemudian diseleksi, lalu dikumpulkan diberi training (kalo tidak salah di Bandung) lalu dikirim ke Jepang, diterima oleh IMM,  baru dikirim ke perusahaan-perusahaan kecil ini. Bahkan menurut kabar di Bandung mereka selain mempelajari bahasa Jepang, juga diperlihatkan video kehidupan di Jepang, dan dalam video itu mereka pernah melihat saya (weks narsisnya keluar nih). Banyak sekali pemuda-pemuda yang berminat untuk bekerja di Jepang, karena mereka pikir mereka dapat membantu keluarganya di tanah air, dengan mengirimkan uang sekedarnya. Namun itu pun tidak semua yang akhirnya bisa menabung sebagian dari pendapatan mereka. Ada yang memang mendapatkan perusahaan yang baik yang memikirkan kesejahteraan mereka, namun ada pula yang kurang mendapat perhatian. Belum lagi kalau tertimpa musibah, mengalami kecelakaan dalam pekerjaan yang memang berbahaya itu.

Dan saya juga jelaskan pada Yuki san bahwa saya secara rutin membuat acara Jumpa Pendengar Fans Club Gita Indonesia (fansnya acara radionya loh, bukan fans saya). Dan kebetulan dalam waktu dekat akan membuat acara kumpul-kumpul di sebuah restoran, Bengawan Solo di daerah Roppongi (sekarang sudah tutup). Jadi tentu saja Kamera dan Yuki san ikut meliput acara tersebut, dan bertemu dengan pendengar yang waktu itu hadir sekitar 80 orang. Omong-punya-omong,  Yuki san mendesak saya untuk bertemu dengan kumpulan orang Indonesia yang biasa berkumpul di Taman Ueno, untuk membagikan pamflet tentang acara radio saya sekaligus promosi. Tentu saja di situ diharapkan bisa mengambil shoot yang bagus interaksi saya dengan pendengar, semacam temu pendengar singkat. Taman Ueno dijadikan ajang pertemuan bagi pemagang (TKI) Indonesia untuk bertemu, bertukar informasi, atau berbelanja kebutuhan makanan Indonesia yang tersedia di pasar Okachimachi (yang harganya tentu tidaklah murah).

Saya mewawancarai Banta di pabriknya (Yokohama)

Saya mewawancarai Banta di pabriknya (Yokohama)

Sementara camera terus berputar,  tidak disangka-sangka saya bertemu dengan DIA. Ya, si Banta san, pendengar asal Aceh. Saya benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegembiraan saya bertemu langsung dengan orang yang setia mendengar acara saya. Dan langsung di situ juga Yuki-san mengajukan skenario, supaya saya mengunjungi pabrik pendengar dan mewawancarai mereka langsung, termasuk menanyakan kehidupan mereka di Jepang dan kesan-kesan terhadap program radio saya. OK…tambahan kerja lagi hehhehe. Saya harus ke daerah yokohama, mengunjungi 2 pabrik yang satu pembuatan spare parts mobil/motor, sedangkan pabriknya tempat Banta kerja adalah pengolahan tulang besi beton.

Kalau tidak ada shooting untuk acara NHK ini tentu saja saya tidak akan kesampaian mengunjungi apartemen pendengar yang mayoritas cowok, bahkan sampai mewawancarai mereka. Saya merasa terharu sekali waktu mendapat penyambutan yang hangat dari pihak pabrik dan pemagang di rumah mereka, bahkan hampir menangis waktu tahu mereka (Banta dan teman-temannya) menyetel alarm supaya bisa bangun 5 menit sebelum acara radio saya dimulai pukul 2 pagi (Jumat jam 26:00- atau Sabtu dini hari pukul 2 pagi). Saya yang tadinya menyangka bahwa acara saya tidak ada yang mendengar….. kelu lidah saya. Ternyata acara saya waktu itu adalah satu-satunya hiburan mereka, yang waktu itu tidak mempunyai akses dengan internet.

Di apartemen Banta dan teman-teman setelah shooting (Banta-tengah)

Di apartemen Banta dan teman-teman setelah shooting (Banta-tengah)

Akhirnya sebagai penutup skenario saya dalam acara “Hallo Nippon” itu, saya mengundang 10 orang pendengar (termasuk Banta san) untuk datang ke studio dan mengambil rekaman berbincang-bincang di studio dengan mereka. Dalam pertemuan itu saya menanyakan apa “mimpi” mereka ttg Jepang, ttg Indonesia dan masa depan. Kelihatan sekali mereka enggan meninggalkan Jepang tapi rindu dengan tanah air. Bahkan saya bisa melihat mata mereka berkaca-kaca waktu saya putarkan lagu kemesraan sebagai penutup acara, yang diiringi dengan nyanyian lirih mereka…

Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Inginku kenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tentram di samping mu
Hatiku damai
Jiwa ku tentram
Bersamamu

Sebuah lagu yang sama yang saya putarkan pada acara terakhir Gita Indonesia yang terpaksa dihentikan Juli 2001 karena masalah pendanaan. (Yang pasti kali terakhir itu saya yang menangis…..hiks …. 4 tahun sebagai DJ…. dan meskipun saya menawarkan kerja sukarela tanpa gaji asal acara tetap bisa berlangsung, tetap ditolak. Sebabnya yang mahal adalah biaya penyiarannya yang dihitung perdetik sekian ribu Yen…. Pffffhhh)

Banta san memang hanyalah satu dari sekian banyak penggemar acara Gita Indonesia. Tapi Kartu Pos Banta san telah membuka suatu episode yang pasti tidak akan saya lupakan dalam kehidupan saya. Kenyataan bahwa saya mengelola suatu acara yang amat mereka nanti-nantikan. Dan saya menyesal tidak menghubungi Banta san waktu dia akan pulang ke Indonesia, paling sedikit untuk menanyakan kabar/rencana selanjutnya atau alamat di Indonesia. Dari 10 orang yang hadir di studio waktu itu hanya ada 1 orang yang mengabarkan bahwa dia mendirikan perusahaan di daerah bekasi… dan sayangnya saya tidak tindaklanjuti juga karena kesibukan saya yang lain. Saya ingin sekali bertemu dengan mantan-mantan pendengar acara Gita Indonesia, terutama Banta san yang beberapa saat ini menghantui pikiran saya.

Ya, 4 tahun yang lalu, 26 Desember 2004, Tsunami menghanyutkan ratusan ribu orang di Aceh. Yang masih tersisa di benakku sekarang…. apakah Banta san termasuk di antara ratusan ribu orang itu? Jika Ya, saya mendoakan arwahnya semoga diterima Tuhan…. dan jika tidak, ingin saya bertemu sekali lagi dengannya. Hanya untuk menanyakan…. Ogenki desuka? (Apa kabar?)

Bersama Yuki san sesudah pengambilan scene makan ramen kakilima

Bersama Yuki san sesudah pengambilan scene makan ramen kakilima

Catatan:

Siaran NHK BS1dalam acara “Ajia Jouhou Kousaten” (Asia Crossroad Information – OA 19 Desember 1998) yang mempertemukan saya dengan Ibu Sasaki, yang setelah itu mengajak saya bergabung menjadi dosen di Universitas Senshu mulai April,1999. Terima kasih banyak Sasaki Sensei. お世話になっております。

20 gagasan untuk “Kartu Pos itu….

  1. nh18

    EM …
    Jujur saja …
    Tulisan ini mengharukan sekali …

    Sebuah kisah nyata sederhana tentang interaksi Siaran Radio dan penggemarnya … yang menjadi istimewa karena ini ada di negara lain …

    Aku yakin jika Banta san membaca tulisan ini … dia juga akan terharu …

    Salam Saya EM …

    Saya nulisnya juga sambil nangis kok mas
    teringat kembali masa-masa dulu, masa saya masih aktif berinteraksi dengan sesama wni
    mereka yang datang dari tanah air untuk memperbaiki hidup, ekonomi keluarga mereka.
    Banta san sebelum ke Tokyo adalah seorang manager dari perusahaan asuransi, dan dia bekerja di pabrik tulang besi beton itu.
    Ahhh begitu banyak yang saya lihat, dan ini membuat saya miris….
    Semoga saja Banta san masih hidup
    masih bisa membaca tulisan ini
    atau ada temannya, keluarganya yang tahu kabarnya….
    saya berharap….

    9 hari lagi peringatan 4 th Tsunami di Aceh….. Fffffhhhh…..

    EM

    Balas
  2. tukyman

    saya datang lagi dengan sejuta senyuman 🙂
    salam kenal 🙂

    tukyman´s last blog post..Comment on Buat Gambar Karikature by NdesO

    terima kasih untuk senyumannya
    salam kenal juga
    EM

    Balas
  3. Melati

    Apakah video itu juga ada di rumah mbak?
    Kalau ada, boleh saya lihat?
    Pasti bikin saya menangis.
    Orang-orang yang mbak wawancarai berjuang hidup di sini.
    Saya juga harus berjuang seperti mereka.

    Ada Melati san
    minggu lalu saya putar di Univ Senshu….
    kelas menengah menyimak
    kelas dasar mengantuk hihihi
    apa boleh buat ya

    EM

    Balas
  4. edratna

    Saya terharu bacanya Imel…siapa tahu ada yang kenal Banta San, atau dia bisa membaca blog mu ini, jika dia masih hidup.

    Menyenangkan ya Imel, kerja di radio, setiap kali mendengarkan tanggapan dari para pendengar langsung.
    Saya juga termasuk pendengar radio yang setia, dibanding TV, karena kalau TV selain didengarkan harus dilihat…sedang radio, bisa didengarkan sambil mengerjakan pekerjaan lain.

    edratna´s last blog post..Menjadi “bisa” karena kebiasaan atau karena terpaksa?

    Iya bu, saya berharap….
    menyenangkan di Radio jauuuh lebih menyenangkan daripada di televisi. Saya mungkin tidak cocok kalau di TV, terlalu stress. Hanya beberapa kali mengunjungi studio TV, saya sudah bisa melihat stress nya bekerja di tipi.
    EM

    Balas
  5. alris

    Mengharukan. Semoga sdr. Banta dapat yang terbaik dalam hidupnya. Saya dulu waktu jaman SMP dan SLTA pendengar setia radio NHK seksi bahasa Indonesia. Kalo sekarang lebih suka dengar radio AM yang siaran dalam bahasa Minang, Jawa dan Sunda.

    alris´s last blog post..EMAK

    Radio SW ya?
    Saya pernah mengisi acara “Ogenki desuka”, pelajaran percakapan Bahasa Jepang bertahun yang lalu (1994-1996 an) selama 3 tahun bersama Yasui-san. Cuman 5 menit sih hehhee.
    EM

    Balas
  6. Hery Azwan

    Ime-chan, saya merinding membacanya…
    Sungguh lho…
    Semoga bisa ketemu dengan semua pendengar setia, terutama Banta San…

    Terima kasih Bang…
    (Baca dari rumah ya…makasih banget mau meluangkan waktu baca blog saya di rumah)
    Semoga saja bisa tercapai
    EM

    Balas
  7. npsasaki

    Selama 10 tahun ini saya tetap bertemu dengan Banta-san di videonya bersama banyak mahasiswa di kelas bahasa Indonesia saya.
    Saya masih ingat baik-baik ketika saya bisa menemukan Banta-san di tengah-tengah keramaian di Balai Indonesia menjelang 17an Agustus pada suatu tahun.
    Saya pernah kirim Kumpulan Karangan Senshu kepada Banta-san karena ada banyak kesan mahasiswa yang mengharukan kepadanya.
    Tahun depan saya berusaha mencari Banta-san dengan kerja sama teman saya di Aceh.
    Ya, inilah salah satu tujuan utama untuk tahun depan. 来年の目標の一つがが決まりました。

    Iya bu Sasaki selalu memutar video itu ya. Saya sendiri tidak begitu sering memutar karena seakan “memamerkan saya” (Narsis bahasa sekarangnya). Tapi tahun ini saya putar di 4 kelas bahasa Indonesia di Waseda dan Senshu. Video itu sudah lama ya bu….. Saya masih ingat ibu menelepon saya di Handphone suatu malam. Waktu itu saya sedang dinner dengan Gen, kaget sekali mendengar tawaran dari ibu. Tahun depan saya akan usahakan membuat acara kumpul-kumpul dengan kelas Ayu-san dan kita bernostalgia bersama lagi ya bu.
    Salam untuk bapak
    Imelda

    NB: Seandainya bertemu Banta san, sampaikan salam saya juga

    Balas
  8. jmzach

    Kadang tidak sadar ya apa yang dikerjakan (seperti pengalaman siaran di radio spt pengalaman di atas), ternyata memberi kontribusi banyak pada pendengarnya sebagaimana feedback mereka (pendengar radio) yang mengharukan seperti itu.

    Ya … yang lalu mmg jadi nostalgia, namun sebenarnya Anda melakukan hal yang sama dengan saat menjadi penyiar dulu(cuma saat ini mediumnya berbeda) yakni melalui blog Twilight Express ini 🙂 … Keep posting dan berkontribusi bagi orang banyak melalui media ini 🙂

    Saya termasuk pembaca blog Anda, yang terbantu dengan fasilitas RSS Google Reader sehingga kl ada posting Anda yang menjadi input/informasi/pencerahan bagi saya dengan fasilitas RSS Google Reader … saya tinggal “Add Star” untuk marking posting tersebut.Thanks ya

    jmzach´s last blog post..Million … Billion eyes … even more!

    Ah terima kasih banyak.
    Anda membuat saya benar-benar terharu lagi.
    Saya bersyukur jika memang blog saya bisa menjadi blog yang berguna.
    Kadang saya melihat feedback dalam bentuk komentar, tapi sekarang saya harus yakin, meskipun tidak ada komentar, bukan berarti blog saya tidak dibaca. Sama seperti waktu saya jadi DJ, tidak ada request bukan berarti siaran saya tidak didengar.
    Sekali lagi terima kasih banyak. Komentar Anda adalah Kado Natal untuk saya. And I mean it.
    EM

    Balas
  9. Yoga

    Mbak sudah tahu pendapatku tentang tulisan ini via obrolan kita, tempo hari kan, dan sampai hari ini, tetap masih sangat terkesan dengan apa yang telah mbak lakukan (I’m so proud being your friend).

    Semoga Pak Banta, sehat walafiat hingga detik ini, dan kelak, ada kesempatan bertemu mbak kembali.

    Komentar dari Pak JMZach benar-benar kado natal buat mbak 🙂

    Yoga´s last blog post..Ketika Wain Besar Surut

    Balas
  10. tuti nonka

    Mbak, semoga ada bloger Aceh yang bisa membantu Mbak Imelda mengetahui kabar Banta-san.

    Saya dulu juga penggemar beberapa siaran radio, bahkan ikut menjadi anggota fans club segala. Ada beberapa penyiar yang menjadi favorit saya (dan kebanyakan penyiar pria … hehehe … ). memang penyiar radio bisa menjadi sedemikian dekat di hati para pendengarnya, karena lewat radio, interaksi yang terjalin lebih personal, suatu hal yang tidak mungkin diperoleh melalui siaran televisi.

    Mbak Imel sekarang masih menjadi penyiar radio? Maksud saya, setelah acara Gita Indonesia berhenti tayang …

    tuti nonka´s last blog post..Ditinggal Suami

    Balas
  11. basir

    menggugah jiwa mbak, saya terasa hadir dalam dialog tersebut,
    terasa menggelora hidup ini akan kejadian TKI yang ada di sana, apa lagi mereka memiliki jiwa besar untuk perbaikan,
    baik itu linkungan mikro maupun makro.

    “bagiku amalku, bagimu amalmu”

    terima kasih telah mengnjugi blog saya

    “Ya Allah, tempatkan dunia di tanganku, bukan di hatiku”

    basir´s last blog post..Siapa sih Che Guevara itu?

    Balas
  12. sonyssk

    Adalah satu pengalaman yang sangat berharga kita dapatkan tanpa kita sadari, dan ketika pendengar dan penggemar itu pulang ke tanah air dihatimu ada kesunyian jaaaaaauuuuuh lebih sunyi dari sebelum mengenal mereka. Tapi segala sesuatu itu indah pada waktunya, karena rencana Tuhan.

    sonyssk´s last blog post..Kisah Si Cerdik Cendakiawan

    Aduh abang… kata-kata ini :
    Tapi segala sesuatu itu indah pada waktunya, karena rencana Tuhan. Memang kita harus bersyukur terus ya…karena semua memang indah pada waktunya.
    Mengingatkanku pada rangkaian peristiwa di musim panas lalu. hiks

    EM

    Balas
  13. mang kumlod

    Ini toh kisahnya… Duh gara-gara hiatus nih jadi ketinggalan…

    Blogger Aceh tuh mudabentara kalau ga salah, tapi apa dia kenal Banta-san?

    mangkum´s last blog post..Yang Paling Menginspirasiku

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *