Gara-gara Cosmos

Waaaha siapa lagi tuh si Cosmos? (Bukan Cosmas loh, kalo Cosmas memang banyak dari Batak tuh). Yang pasti Cosmos ini bukan nama bunga yang pernah saya bahas di sini. Tapi Cosmos adalah nama sebuah komputer sistem pengatur Shinkansen Jepang Utara. Gara-gara dia kecapekan, hari ini sekitar 112 dari 380-an shinkansen yang harusnya berangkat terpaksa dibatalkan. Waktu mendengar berita pertama mengenai keterlambatan Shinkansen Tohoku pagi ini, Gen berkata, pasti itu gara-gara salju. Memang badai salju sedang melanda Jepang Utara. Tapi ternyata penyebabnya ya sistem trouble, kesalahan si Cosmos ini. Tetapi secara tidak langsung badai salju juga turut berperan sehingga si Cosmos akhirnya “meledak”. Karena Badai salju, dial (jadwal kereta) kemarin banyak yang tidak tepat. Nah pagi dini hari sebelum jadwal shinkansen mulai pagi ini diberikan input data jadwal baru. Dn ternyata karena terlalu banyak data baru itu menyebabkan si Cosmos ngambek. Biasanya kalau ngadat begini dalam waktu 1 jam bisa diselesaikan, tetapi hari ini paling sedikit 3 jam shinkansen lumpuh. Sekitar 137.000 orang yang akan mudik ke kampung halamannya terpaksa menunggu di stasiun selama tiga jam dalam dingin. Brrrrr.

Foto diambil dari sini

Puncak mudik diperkirakan tanggal 30 dan 31 besok. Semua orang ingin bergabung dengan sanak-saudaranya di kampung halaman untuk melewatkan pergantian tahun dari tahun Tikus menjadi tahun Sapi. Pada waktu-waktu seperti ini memang paling enak yang tetap tinggal di Tokyo dan sekitarnya, karena lalu lintas dalam kota akan menjadi sepi. Akan tetapi memang diperkirakan 2 hari lagi udara yang sekarang lumayan hangat akan menjadi dingin, menjadi musim dingin yang sebenarnya. Ah…tetapi yang paling enak lagi adalah Tina yang sekarang sedang melewatkan liburan di Jakarta…. duh iri hati deh… urayamashii

Di saat seperti ini kita disadarkan betapa manusia sekarang terlalu bergantung pada sistem komputer. Begitu sistem itu error, heboh deh… Tapi akhirnya yang membetulkan sistem itu juga manusianya. Manusia memang masih diperlukan, secanggih-canggihnya suatu sistem. Dan ngomong-ngomong soal komputer, kemarin aku dan Gen menerima hadiah Natal dari…. masing-masing hehehhe. Untuk Gen aku beli Harddisk external 1 TB (satu Tera byte)… dengan harga yang UNBELIEVABLE  (eh eh eh…masak pengucapan Japlish nya untuk kata ini ANBELIBABO hihihi). iya…. hanya 12.000 yen saja. Mereknya Buffalo, sebuah merek yang selalu aku pakai untuk urusan memory data. Padahal produsen lain masih memberi harga 18.000 – 28.000 yen (saya pernah posting di sini). Dan karena HD externalku yang 160 GB juga sudah mulai penuh, aku beli yang 640 saja, beda harganya 4.000 yen (yaitu 8000 yen dari produsen IO Data). Sebetulnya bisa saja sih beli dua yang sama, cuma Buffallo yang 1 TB itu hanya ada warna hitam (warna PC nya Gen hitam sih), sedangkan aku maunya putih… Dan 1TB yang putih muahaaaaalll (mahal maksudnya heheheh)

Hari ini Riku dan papanya pergi lagi ke Kichijoji untuk menonton Film Wall-E. Harga Tiket di sini 1800 yen untuk dewasa dan 1000 yen untuk anak-anak. Di dalam film terdapat adengan bergandengan tangan, dan katanya Riku pun menggandeng tangan papanya sambil menonton. Gen menjadi terharu di situ…. Film Wall-e ini baru diputar di bioskop jepang mulai tanggal 10 Desember yang lalu. Semua disulih suara dengan  bahasa Jepang. Riku dan Gen menonton pertunjukan jam 11:45, jadi pas waktu makan siang. Tapi meskipun begitu bioskop penuh dengan keluarga yang menonton. Untung juga menonton jam segitu karena pertunjukan berikutnya sudah terdapat antrian yang panjang sekali.

Imelda dan Kai? Hari ini di rumah saja. Sambil nge-print kartu Tahun Baru, aku bermain dengan Kai dan membacakan buku untuk dia. Kelihatan Kai juga suka pada buku. Dia memilih sendiri buku yang ingin dia lihat. Tapi gara-gara Kai aku membuat kesalahan fatal, yaitu tujuan pengiriman Kartu Tahun Barunya semua menjadi 3 lembar. Rupanya cursor untuk menunjukkan berapa copy tergeser menjadi tiga waktu Kai “mengganggu” komputer saya. Dan saya tidak sadar sama sekali, sampai saya heran kenapa waktu pencetakan begitu lama. Tetapi semuanya sudah terlambat. Terpaksa saya kumpulkan 2 lembar yang lain (kan aneh jika orang menerima 3 lembar katu tahun baru dari saya…nanti dipikir saya sudah rada-rada hehehhe) , ada kira-kira 50 lembar, untuk besok dikembalikan ke Kantor Pos. Nah sistem ini juga aneh menurut saya. Kartu pos Tahun baru itu memang sudah tercetak perangko seharga 50 yen. Dan waktu kita beli selembar 50 yen. Tetapi jika kita salah mencetak/menulis nama, kita bisa mengembalikan/menukarkan dengan kartu pos atau perangko dengan dipotong 5 yen per lembar. Heran bener deh… Kalau di Indonesia, jika terjadi kesalahan begitu kan pasti resiko ditanggung penumpang ya? Salut deh aku sama kantor pos di sini.

Zoo Debut

Membesarkan Kai yang anak kedua memang lain dibanding dengan Riku. Jika Riku sewaktu berumur 6 bulan sudah bersosialisasi di penitipan bayi, mempunyai banyak teman dan sering kami ajak bepergian, maka Kai baru waktu berumur 1 tahun “menikmati” kehadiran teman-teman di penitipan. Saya juga jarang membawa dia pergi-pergi karena kalau pergi berarti harus bersama Riku juga. Dan membawa dua anak dengan kendaraan umum memang sulit. Papa Gen sejak Kai lahir memang sibuk sekali, sehingga juga jarang membawa Kai pergi-pergi, lebih senang mengajak Riku yang tentunya tidak merepotkan untuk pergi date berdua. Karenanya memang Kai lebih manja (dan keras kepala) daripada Riku. Sekarang dia sudah mau jika saya tidak ada, dibanding sebelum dia terbiasa di penitipan yaitu sejak bulan November. Dia juga sudah menyambut papanya kalau pulang kantor dnegan anthusias, bahkan kata-kata yang paling sering dia ucapkan adalah “papa” (sebeeeelll…. tapi gpp deh supaya papanya mau ngurusin dia hahaha)

(Primadonanya Kebun Binatang Kichijoji, seekor gajah yang bernama Hanako, kalau tidak salah umurnya sudah 60 tahun lebih)

Dan kemarin (Minggu 28 Desember, 2008) pertama kalinya Kai pergi jalan-jalan tanpa mama. Kai debut, pertama kali pergi ke Kebun binatang di Kichijoji. Tiga laki-laki pergi sesudah makan siang sekitar jam 1, sementara mamanya tinggal di rumah untuk membersihkan rumah. Bongkar pohon Natal, buang mainan Riku yang tidak “utuh” lagi, sambil mencetak kartu tahun baru. Ternyata kartu Tahun baru dari keluarga Miyashita akan terlambat lagi, tidak bisa sampai pada tanggal 1, tetapi baru bisa tanggal 5, hari Senin…. Ngga apa-apa deh, yang penting masih melanjutkan tradisi mengirim kartu pos tahun baru Nengajo, sehingga kebudayaan Jepang ini tidak hilang. (Kalau bukan generasi mudanya yang berbuat, siapa lagi coba?)

(Ternyata mereka sempat beristirahat di kedai minuman Jepang. Yang Riku pesan adalah oshiruko, semacam bubur kacang merah yang manis dan hangat. Sedangkan Gen memesan Amazake, yang terbuat dari beras berfermentasi dan disajikan manis dan hangat. Kadar alkoholnya amat rendah (hampir sama dengan tape singkong)

Karena di luar dingin sekali aku pikir mereka akan pulang cepat. Sebelum pergi juga aku sudah wanti-wanti, kalau misalnya Gen capek atau kewalahan ngurus anak-anak, telepon saja dan aku akan jemput ke Kichijoji. (sorry ya…rada ngga percaya soalnya hihihi). Ternyata, mereka pulang jam 6 sore, dan membawa ayam si kolonel untuk makan malam…. jadi aku tidak usah masak lagi …asyiiik.

Waktu buka pintu untuk mereka langsung si Riku gandeng aku, dan bilang bisik-bisik,”Mama jangan bilang ya bahwa aku bukan pertama kali makan hotdog…. ” Rupanya dia bilang ke papanya, dia tidak pernah makan hotdog, padahal sudah pernah (padahal aku juga lupa sih, kapan itu) Hmmm, sudah mulai mau membohongi dan menutup-nutupi sesuatu nih…. dan aku dijadikan sekongkolnya. hihihi….

(kanan: pohon dilindungi dengan tali-temali sehingga salju tidak akan tertimbun di dahan yang akan menyebabkan dahan patah)

Hasil potretan yang saya rasa bagus, burung-burung yang berenang di kolam+ pelukis (diambil oleh Gen)

Foto-foto lain yang diambil oleh Riku:

Sssssttt…pulang-pulang Gen pasang koyok di bahu kirinya. Dia memang menggendong Kai terus karena tidak membawa baby carnya. Dan dia bilang sama aku, “Saya bisa rasakan betapa beratnya Kai…” hihihi

Jangan Berharap

Hari Sabtu 27 Des yang lalu, langit cerah. Aku sudah bilang pada Riku bahwa kita akan ke gereja sore hari, dan pulangnya bersama papa. Jadi sekitar jam tiga mulai siap-siap dan berangkat seuluh menit sebelum jam 4. Misanya sendiri mulai jam 5. Tapi tunggu-punya tunggu, taksi tidak ada. Padahal dingin semakin menyengat. Untung saja sebelum kesabaran menunggu habis, dan setelah setengah jam menunggu, datanglah taksi. Entah kenapa perjalanan hari ini enjoyable. Riku sudah bisa dipercaya selama naik kereta bahkan dia selama misa sama sekali tidak ribut. Kai juga sama sekali tidak rewel dalam misa, sampai semua heran. Yang lucu Kai ikut menyanyi (ngedumel) waktu umat menyanyi. Ke dua anakku ini mungkin suka menyanyi ya …

gereja St Anselmo, Meguro, Tokyo. Komunitas Indonesia mengadakan misa setiap Sabtu pukul 17:00 di Kapel sebelah Altar.
Gereja St Anselmo, Meguro, Tokyo. Komunitas Indonesia mengadakan misa berbahasa Indonesia setiap Sabtu pukul 17:00 di Kapel sebelah Altar.

Kotbah pastor John Lelan SVD hari ini memberikan pesan yang sangat tajam, yaitu dalam berbuat baik, kita jangan berharap akan mendapat penghargaan (balasan) dari orang lain, bahkan juga penghargaan (balasan) dari Tuhan. Tapi perbuatan kita yang baik atau buruk itu hanya terjadi sekali saja, dan terus membekas, tidak bisa dihilangkan, hanya bisa diperbaiki dengan perbuatan lain. Karena itu sebelum bertindak berpikirlah. Diceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang ibu dengan dua anak yang mempunyai sebuah apel. Si anak bungsu selalu egois dan mengambil apel itu. Lalu kata ibunya,

“Boleh kamu ambil apel itu tapi bagi pada kakakmu”
“Bagaimana saya harus membaginya?”
“Ya bagilah dengan persaudaraan” Tidak dikatakan persaudaraan itu apakah berarti harus membagi dua yang sama atau bagaimana. Si adik merasa sulit untuk membagi, maka ia memberikan apel itu kepada kakaknya supaya dibagi. Mungkin si adik berharap supaya kakaknya membagi dengan bagian yang besar untuk dia, tidak ada yang tahu. Tapi memang kita tidak perlu tahu. Karena “persaudaraan” menurut tiap orang juga lain-lain. Tetapi yang pasti kedua kakak beradik itu tetaplah bersaudara.

Apakah kita memberi dengan bersungut? ataukah kita menerima pemberian orang lain dengan bersungut? Atau kita memberi /menerima dengan senyuman? Itu memang pilihan kita tetapi yang pasti sikap kita itu akan membekas selamanya. Tidak bisa dihapus lagi. hmmm …

Sebagian dari umat yang biasanya mengikuti misa di Meguro, karena selain di Meguro, ada misa berbahasa Indonesia juga di Yotsuya setiap minggu pukul 13:30
Sebagian dari umat yang biasanya mengikuti misa di Meguro, karena selain di Meguro, ada misa berbahasa Indonesia juga di Yotsuya setiap minggu pukul 13:30

Sesudah misa, umat yang hadir berkumpul di ruang pertemuan dan masing-masing mengeluarkan bawaannya kemudian kita makan bersama (Imelda ngga bawa apa-apa sih… bawa dua anak aja udah berat hihii). Pesta Natal sederhana yang akhirnya berkelimpahan dengan makanan. Tante Kristin membuat sup kikil, lalu ada ikan rica, ada gado-gado, ada tempe mendoan (mbak Tati bilang begini… maaf ya saya bawa yang murah saja… doooh tempe adalah barang langka di Tokyo)…

Makanan Indonesia memang yang selalu dicari di perantauan
Makanan Indonesia memang yang selalu dicari di perantauan

Sekitar jam 8 malam, kita pulang dan Kai dan Riku langsung tidur dalam perjalananan. Semoga aku bisa ke misa lagi tanggal 3 Januari yad.

(Si Kai juga senang bisa meraih kue lapis surabaya hehhehe)