Arsip Bulanan: Januari 2009

Kurang apa lagi?

Tadi malam tidak seperti biasanya, Kai tidur duluan. Dan tidak biasanya juga, saya tidak ikut tertidur. Waktu keluar dari kamar, saya lihat  Riku sedang belajar menulis dengan papanya. Berkali-kali dia disuruh latihan tulis hiragana A. Memang hiragana A あdan O お hampir mirip (menurut orang Jepang sih ngga, menurut saya iya hehehe) . Rupanya dia disuruh gurunya untuk menuliskan kesan-kesan bersekolah di TK. Dan sebisa mungkin ditulis sendiri. Jadi papanya kasih latihan khusus. Saya juga sempat kena tegur karena salah urutan menulis hiragana. Karena setiap urutan ada maknanya yang membuat bentuk huruf itu balance. Ada 1-2 kata yang memang saya tahu salah karena urutannya salah. Pikir saya dulu, toh yang penting hasilnya sama! (tapi di Jepang ngga bisa loh punya pandangan seperti ini…. susah ya jadi orang Jepang — makanya gue ngga mau  jadi orang jepang hihihi)

Setelah selesai menulis kesannya, Riku mau menggambar tapi sekali lagi dimarahi papanya. Buang kertas! Memang Riku boros kertas, karena hanya pakai satu sisi saja, dan tidak penuh. Dia tahu di mana saya simpan kertas untuk printer, sehingga dia suka ambil sendiri. Dan biasanya pas saya mau pake nge-print kertasnya sudah habis…. huh memang anak-anak! hehehe.Tapi saya tidak pernah marah soal kertas, kecuali kalau dia serakkan kertas di mana-mana. Saya tidak mau mematikan kreativitas dia menulis/menggambar. Tapi papanya tidak berpikiran seperti saya. Jadi saya beri Riku bekas kertas yang sisi satunya ada hasil cetakan print, supaya dia bisa pakai sisi yang masih kosong.

Tiba-tiba Gen panggil saya, dan bilang…. “LIhat Riku menggambar free-hand… hebat… aku dulu ngga bisa loh.” “Pasti anakku ini nanti masuk teknik” Anakmu? Anakku lah hehhehe. (iya…iya… anak berdua). Tapi Riku memang masih menggambar orang berupa kerangka, belum berbadan, padahal banyak temannya sudah bagus gambarnya. Well aku tidak mau membanding-bandingkan dengan anak lain, biar saja. Saat itu Riku menggambar sebuah bangunan dengan banyak kamar. Ada lift, ada tangga, lalu di setiap kamarnya ada kegiatan. Masing-masing kamar berbeda. Ada yang membeli jus di vending machine. Ada yang sedang melihat pameran lukisan, Ada yang duduk di meja dll. Dia jelaskan semua pada kami berdua.

Atau dia menggambar sebuah rumah sakit berbaling-baling. Katanya supaya jika ada orang yang tidak bisa pergi ke RS, RS nya yang terbang ke orang itu. Gen selalu kagum dengan kemampuan Riku mengingat sesuatu, baik itu film, tempat, perkataan atau peristiwa (Anakku hehhehe). Karena pagi harinya Gen menjelaskan mengenai Flying Doctor, Dokter helicopter yang menjadi topik dalam berita di TV. Jadi Dokter-dokter itu naik helicopter menuju tempat korban/pasien kemudian membawa pasien yang tinggal di tempat terpencil itu dengan helicopter. Penjelasan itu sekarang dia pakai untuk menjelaskan Rumah Sakit Terbang nya  itu.

Kami bertiga mengelilingi meja makan. Melihat Riku yang enjoy menggambar,  lalu sambil bercakap-cakap, sambil menghirup teh panas kemi melewatkan waktu bersama. Sambil menonton TV yang beritanya tentang PHK pabrik NEC yang sekian banyak itu. Lalu mengenai pesumo yang ditangkap karena membawa ganja. Dan dalam kehidupan nyata, saya juga tahu beberapa teman yang sedang berjuang melawan penyakit yang mengancam jiwanya. Atau teman yang kehilangan pekerjaannya…… Sedangkan kami di sini masih bisa mempunyai waktu nyaman ini bersama. Masih bisa makan makanan yang hangat tadi. Masih ada pemanas di dalam rumah yang menghangatkan musim dingin. Masih ada listrik yang menerangi sehingga Riku bisa menggambar, Gen bisa baca buku, dan aku bisa blogging. Kami mempunyai dua anak yang “manis” (kecuali kalau berkelahi dan berantakin rumah hehehe). Dan coba lihat anakku ini:

(Kiri Kai kemarin — Kanan Riku seumuran Kai di jkarta)

Kurang apa lagi coba?

Tuhan kusyukuri nikmat yang Engkau berikan pada keluarga kami.

Praise the Lord.

Mamma Mia!!! kok lelet banget ya?

Tadi pagi ada sesuatu di televisi yang membuat suami saya terlambat pergi kerja. Yaitu sebuah interview televisi Jepang dengan Merryl Streep, si pemain di film “Mamma Mia”. Wah memang dia sudah tua ya, sudah terlihat keriput di sana sini. Tapi ada satu kata-katanya yang cukup memberikan inspirasi (ah kata-kata ini aku tidak begitu suka… tapi ngetrend banget sih di Indonesia) yaitu, “Keep your spirit, jangan mau kalah dengan umur. Tapi jangan mengingkari umur juga. Yang penting jangan putus asa! ” 年に負けず Kira-kira begitulah kata-kata dia yang sudah diterjemahkan dengan subscript 字幕 di bagian bawah dalam tulisan bahasa Jepang (Dan saya selalu membaca script-script seperti itu, makanya saya benci jika terjemahannya salah)

Kenapa juga Merryl Streep diwawancarai hari ini? Ternyata hari ini , ya HARI INI tanggal 30 Januari 2009, FILM MAMMA MIA itu baru diputar di bioskop-bioskop di Jepang. WELL, coba baca ulasan adikku si Lala di sini. Postingannya di tanggal 13 Oktober jeh. Di Indonesia sudah main lama (udah kunoooo). Tapi di Jepang baru hari ini. Saya juga sudah bisa (sudah bisa bukan berarti sudah menonton loh… lain sekali… ) nonton di dalam pesawat SQ waktu pulkam akhir Oktober-November lalu. TAPI di bioskop Jepang, orang-orang Jepang baru bisa nonton HARI INI. Kenapa kok bisa begitu?

Ya, ini adalah sebuah masalah yang kelihatannya sulit untuk diatasi oleh masyarakat film di Jepang. Sudah pasti film-film dari Luar Negeri baik itu film hollywood atau film asing lainnya membutuhkan penerjemahan. Penerjemahan itu bisa berbentuk subscript (tulisan di bawah kalau di Indonesia dan di samping kanan kalau di Jepang — karena tulisan kanji itu dari atas ke bawah-kanan ke kiri) atau sulihsuara. Akhir-akhir ini lebih banyak film yang memakai sulih suara. Jadilah kita menonton film action di Swachi -chan ( Schwarzenegger)   dengan suara om-om Jepang yang terus terang saja TIDAK MACHO sama sekali. Kalau sudah dipasang di televisi memang kita bisa switch ke bahasa asli atau bahasa Inggris, tapi kalau di bioskop kan tidak bisa seenak perut. Pasti yang dipasang yang bahasa Jepang.

Film Wall-e yang Riku tonton bulan Desember lalu juga sudah di-sulihsuarakan ke dalam bahasa Jepang! Oi oi… makanya orang Jepang sampai kapanpun akan sulit berbahasa Inggris karena tidak terlatih!. OK deh Karena Wall e adalah konsumsi anak-anak yang belum bisa bahasa Inggris, mau tidak mau memang harus memakai sulih suara. Saya katakan MAU TIDAK MAU!. kenapa? Ya karena sulit untuk memberlakukan penulisan subscript terjemahannya di dalam film. Nah! kenapa lagi tuh.

Untuk menerjemahkan pembicaraan bahasa Inggris ke dalam bahasa Jepang tentu saja memakai KANJI. Pengetahuan Kanji anak-anak SD- SMP tentu saja masih terbatas. Akan ada banyak tulisan yang mereka tidak bisa baca dan mengerti. Yah, kalau begitu pakai hiragana saja. Nah itu dia masalahnya, kalau pakai hiragana maka kalimat yang harus ditulis akan semakin panjang. Ternyata ada ketentuan bahwa panjangnya satu subscript film hanya boleh memakai 13 huruf dalam 2 baris. Alasannya manusia hanya bisa membaca 4 huruf dalam 1 detik. Dan ternyata sekarang pun jumlah huruf yang 13 itu menjadi semakin sulit. Banyak pemuda Jepang yang tidak keburu membaca 13 huruf itu. Ini berhubungan dengan menurunnya kemampuan pemuda Jepang menguasai Kanji, menurunnya berbagai pengetahuan umum, termasuk sejarah dan budaya. Misalnya Soviet dalam bahasa Jepang disebut ソ連(それん), dan banyak pemuda yang tidak tahu apa itu.

Jadi sekarang banyak pengimpor film asing yang berputar haluan membuat sulih suara untuk film-film yang akan diputar di bioskop maupun di video. Dan proses pembuatan sulih suara itu memang lebih memakan waktu daripada hanya menambahkan subscript pada film. Karena proses panjang itulah sering kali kami yang di Jepang harus menunggu film-film baru hollywood yang sudah diputar di Indonesia paling cepat 3 bulan sesudahnya. Ironis ya? Dan JUDUL FILM nya bisa berubah, disesuaikan dengan bahasa Jepang misalnya Basic Instinct jadi 氷の微笑 (harafiah nya senyum es). Karena itu saya paling benci kalau murid-murid saya memberitahukan judul film holywood yang sudah diterjemahkan. Pasti saya tanya, “Bahasa Inggrisnya apa?” hehehhe. Dan tentu saja mereka tidak tahu! Kalau sekarang enak, bisa tanya sama Paman Google. Dulu belum lahir tuh Pamannya.

Sebagai tambahan saya juga ingin menceritakan pengalaman nonton bioskop di Tokyo. Saya tidak tahu apakah akhir-akhir sudah berubah, tapi yang pasti jika kita mau nonton film di bioskop, kita membeli karcis secepat mungkin. Kalau film baru malah biasanya harus antri berjam-jam. Nah, kalau di Indonesia kan biasanya kita bisa memilih tempat duduk yang ada, sehingga kita bisa pergi dulu jalan-jalan dan sebelum film mulai kita kembali ke gedung bioskop itu. Nah, kalau di Jepang, tidak ada sistem memilih tempat duduk. Siapa cepat masuk dia bisa memilih mau duduk di mana. Karena itu, sesudah membeli karcis, semua akan antri lagi di depan pintu masuk. Bayangin deh, dengan tiket di tangan kita masih musti tunggu lagi 1 jam untuk berebut tempat! Bete bete deh. Pernah saya mau membeli tempat duduk VIP saja. Eeee ternyata tempat duduk VIP itu bedanya hanya berada persis di tengah-tengah bioskop dengan tanda alas duduk berwarna putih! Mending kalau kursinya kursi sofa empuk bisa selonjoran. No! sama seperti yang lain tapi ada alas sandaran bahu/leher berwarna putih. Harganya? dobel …. HuH! Mending nonton DVD di rumah saja. Tapi mungkin juga sistem ini sudah berubah, soalnya sudah lama tidak nonotn film di bioskop sih.

Tapi yang enak sih memang dulu pernah nonton film di bioskop di daerah Chiba (desa? …heheeh jangan marah ya untuk mereka yang tinggal di Chiba). Kita bayar satu film tapi bisa nonton berkali-kali asal tidak keluar dari bioskopnya. Jadi bisa juga masuk tengah-tengah film duduk, dan nonton lagi mulai awal (jadi bisa nonton satu setengah film hahahaha… bener-bener deh gaya mahasiswa. Kalo anak 80-an bilangnya BOKIS!!! (Yang pernah ngajak saya nonton di Chiba baca posting ini ngga ya hehehe)

So, apakah saya akan nonton Mamma Mia hari ini? TIDAK. Hari ini hujan terus, dan saya tidak suka menonton. Nanti saja kalau saya naik SQ ke Singapore mungkin bisa menonton film baru dalam pesawat (kalau Kai tidak rewel— Kalau Riku sih enjoy banget nonton film dia, waktu itu pp dia menonton Kungfu Panda dan terbahak-bahak sendirian. Dan film itu memakai sulih suara bahasa Jepang! )

(Tadi sempat lihat trailernya di http://www.mamma-mia-movie.jp/enter.html     hmmm si Pierce Brosnan sudah tua ya —well saya juga sudah tua sih—  padahal aku suka banget sama dia waktu main di Return of the Saint)

Kunjungan TK terakhir

Seperti saya pernah tulis di posting yang ini, TK nya Riku mempunyai program “Pelajaran Terbuka” yang bisa dikunjungi oleh orang tua murid. Harinya berubah-ubah, dan hari ini juga diprogramkan untuk orang tua mengunjungi kelas Nenchou (5th). Kunjungan ini merupakan yang terakhir sebelum nanti bulan Maret dilakukan Wisuda TK. Jadi aku paksakan untuk menghadiri acara ini, meskipun lama-lama mengikuti acara seperti ini membosankan (lain halnya kalau aku tidak harus membawa Kai ya, biar bagaimanapun juga susah euy).

Acara dimulai jam 10 pagi, sedangkan Riku biasanya saya antar jam 9:20. Karena tanggung untuk pulang dan kembali lagi, jadi saya langsung tunggu sampai tiba pukul 10 di halaman sekolah. Kai yang sudah bisa berjalan kemana-mana merasa bebas. Dia memang lucu, selalu senang melihat banyak orang, apalagi kakak-kakak yang berpakaian seragam. Seakan dia ingin menjadi teman mereka, “Terima gue dong!”. Dan pagi tadi karena cuaca tidak hujan (mendung sedikit) maka anak-anak TK setelah menaruh tas mereka di lokernya, berhamburan ke halaman sekolah untuk bermain. Ada yang bermain bola, ada yang membawa tali dan bermain lompat tali sendiri atau bersama-sama, ada yang bermain di jungle jim, atau ada yang hanya berlari-lari saja. Duh anakku Riku, dia memang sulit untuk bermain bersama teman lain, sehingga dia mengambil bola dan bermain sendiri. Apalagi dia tahu aku ada di situ, jadi dia maunya dekat-dekat aku terus.

Kai yang melihat kakaknya bermain bola, juga ingin ikut bermain bola. Berusaha menangkap bola meskipun terjatuh beberapa kali. Karena aku berdiri dekat pintu masuk kelas, banyak teman-teman Riku yang mengenal aku, menyapa, “Riku Mama, ohayo gozaimasu”. Ah anak-anak ini memang angels. Ada beberapa anak perempuan yang datang menghampiri, lalu berkata, “Riku Mama, lihat gigi seri aku sudah copot dan sudah timbul gigi yang baru.” “Aku sudah 2 buah gigi loh”. “Kalau aku sudah 5 dong”. Aku jadi agak sedih, lupa mengingat gigi Riku sudah berapa yang tanggal ya? …..

Jam 10 kami masuk kelas, sebelumnya aku bawa Kai cuci tangan di depan kelas. Di depan setiap kelas ada sink untuk mencuci tangan yang tingginya disesuaikan dengan tinggi anak-anak TK itu. Jadi tempat itu merupakan tempat yang menarik bagi Kai, karena dia memang paling suka bermain air. Saat itu, ada seorang anak laki-laki yang datang, Kotaro kun.
“Riku mama, konnichiwa! Riku mama bijin ne (bijin = cantik)”.
Wah, menerima pujian dari anak TK !!!! Aku tertawa dan aku bilang padanya,
“Kotaro kun arigatou. Tapi mama kamu juga cantik loh”.
Ya, memang benar ibunya cantik, berbadan mungil dan baru melahirkan anak kedua. Mungkin tinggi ibunya hanya 150 cm, tapi Kotaro sendiri badannya tinggi. Pasti dia akan tumbuh lebih tinggi jauh dari ibunya. Kotaru kun adalah anak yang tertinggi di kelas.

Selama satu jam kami bisa melihat jalannya pelajaran di kelas Riku. Setelah bernyanyi-nyanyi dengan iringan piano (setiap kelas ada pianonya, dan guru TK wajib bisa bermain piano!) selama 30 menit. pelajaran dilanjutkan dengan bahasa Inggris. Pantas tadi pagi Riku bertanya pada saya, “Mama bahasa Inggrisnya doragon apa? ”
“Dragon!”
“Loh kok sama?”
“Ya sama, banyak loh bahasa Jepang yang memakai bahasa Inggris”
“Kalau tora apa?”
“Tiger”

Jadi waktu gurunya tanya, “What animal do you like?”, Riku menjawab Tiger. Waktu pulang aku tanya, kenapa Riku tidak jawab Dragon? Bisa tahu jawaban dia apa?
“Kan aku tidak yakin apa dragon itu binatang atau bukan, jadi aku jawab tiger aja!”
Aku kaget…. dan aku bilang sama dia,
“Riku benar! karena pada kenyataan tidak ada dragon kan?”
Phew…..

Akhirnya satu jam melihat jalannya pelajaran di kelasnya Riku selesai. Satu jam yang pernuh perjuangan untuk menyeret Kai agar tidak mengganggu jalannya pelajaran. Kai serasa ingin jadi murid, langsung duduk di sebelah Riku. Kebetulan aja tempat duduk itu kosong, karena si empunya sakit tidak masuk. Waktu pelajaran bahasa Inggris, anak-anak duduk di lantai dan membentuk lingkaran. Kai langsung menghampiri dan ikut duduk dalam lingkaran!!!!! DUH DUH DUH… Karena kasihan jika mengganggu, saya langsung seret Kai keluar kelas dan membiarkan dia bermain air di tempat cuci tangan. Tapi kalau dipikir Kai tidak nakal. Dia hanya mau ikut belajar. Tidak seperti anak kecil lainnya yang lari ke sana ke mari berseliweran. Sayang sih masih harus menunggu  2 tahun lagi untuk memasukkan Kai ke TK. Karena TK di sini dimulai dari umur 3 tahun.

Tebak Foto

Mau ngikut-ngikut pak Oemar nih… kasih tebakan 2 foto. Kira-kira pada bisa jawab ngga ya? Benda apakah ini:

tidak usah pakai hints yaaaaaaa…..

JAWABAN TEBAK FOTO:

Yang kiri adalah standar sepeda. Karena rumah orang Jepang sempit, jika roda dimasukkan di sela-sela tempat ini, maka space yang terpakai tidak banyak. Ini untuk 2 sepeda. Yang satu roda (yang kiri) akan lebih naik dari roda yang sebelah kanan. Versi begini yang lebih banyak (panjang) terdapat di stasiun-stasiun dan apartemen yang lahannya terbatas tapi harus menampung sepeda yang banyak. Pokoknya di Jepang harus HEMAT TEMPAT, tempat (space) mahal sekali. Karena itu bapak saya selalu bilang, kok Imelda tahan hidup di Kandang Kelinci (Usagigoya). Well, tidak tahan (sampai kena Panic syndrome juga karena itu kan) tapi apa boleh buat. You are living in one of the most expensive city in the world.

Yang kanan adalah:

Ya kaus kaki yang dimasukkan dalam cup kecil (seperti cup kue) dan dihias seperti kue. Petit cadeau memang berarti Kado kecil! (You are right mas NH18). Seni menghias kado-kado dari bahan handuk/kaus merupakan point tambahan dari produsen baju dalam wanita “Charle”. Saya menerima kado kecil ini dari teman saya Akemi Kimura sebagai hadiah ulang tahun. Dulu pernah juga menerima handuk dalam bentuk beruang.

So selamat kepada para pemenang, hadiah bisa diambil di Tokyo, anytime 24-7 … Aku tunggu yaaaa. hehehhe

Aku Ingin Pergi JAUUUHHH

“Aku Ingin Pergi Jauh” Tooku e ikitai 遠くへ行きたい! adalah sebuah acara televisi yang menayangkan perjalanan orang-orang ke sebuah tempat. Program televisi ini sudah berjalan selama 35 tahun! Bayangkan 35 tahun setiap hari minggu pagi dari jam 7:30 sampai 8:00. Dimulai bulan Oktober 1970. Pasti ada Blogger yang bahkan masih menari-nari di awan  alias belum lahir (Jeunglala aja belum lahir tuh). Program ini mengajak pemirsa pergi ke tepat-tempat di seluruh Jepang. Toko, Restoran, penginapan, wisata dan lain-lain. Pokoknya enjoy deh.

Tapi biasanya dalam program acara yang memperkenalkan suatu tempat, pasti akan diberitahukan cara untuk pergi ke sana, nama toko/penginapan atau restoran yang dituju, bahkan harga makanan/ tempatpun ditampilkan. Tapi khusus untuk program ini sama sekali tidak diberitahukan dimana, nama toko, harga dsb. Hanya diberitahu prefektur dan kotanya saja. Tapi tentu saja dari papan nama toko atau bentuk rumah dll ada tersirat hintsnya. Kata produsernya, biar acara kami seperti itu, karena jika orang bener-benar mau mengadakan perjalanan, maka mulai dari mencari informasi tempat dsbnya itulah perjalanan dimulai. Hari minggu lalu tgl 25 Januari 2009, program ini mengetengahkan prefektur Kanazawa yang terkenal dengan taman Kenroku yang tertutup salju. Saya belum pernah ke Kanazawa, padahal lumayan dekat dari Tokyo. Mungkin akan masuk dalam list perjalanan saya bersama dengan kota Nagasaki.

Anda ingin pergi jauh?

Well sebetulnya saya tidak ingin pergi jauh. Meskipun Belanda dan Spanyol ada dalam list saya. Saya justru ingin pergi mendalami tempat-tempat yang ada di sekitar saya. Masih banyak yang belum saya ketahui tentang Indonesia dan Jepang. Mungkin musim panas nanti kami tidak bisa pulang ke Indonesia dan akan berwisata di Jepang saja. Karena itu dalam kesempatan pulang kampung Februari nanti, saya berencana untuk pergi ke Yogyakarta. Paling tidak saya ingin memperlihatkan Borobudur yang termasuk World Heritage itu pada Riku sehingga dia bisa bercerita pada teman-temannya di SD nanti. Yang pasti dia bisa membanggakan diri karena dia sudah pernah pergi ke Yogyakarta, padahal papanya belum pernah.

Seperti tujuan program TV “Aku ingin pergi jauh”, perjalanan dimulai sejak mencari informasi. Kali ini saya dibantu oleh Uda Vizon, Wita, Lala juga Mbak Tuti dalam mengumpulkan informasi. Yang sudah pasti itienary perjalanan saya adalah:

Tgl 23 Februari, KOPDAR bersama writer dari Surabaya. Direncanakan sih makan siang, di daerah Sudirman/Thamrin, JAKARTA. Supaya banyak ibu-ibu seperti Jeng Rhainy dan calon ibu Reti juga bisa ngumpul. Jangan lupa bawa bukunya Lala + bolpen untuk tanda tangan (+amplop yang tebel juga boleh). Tadinya the famous Lala mau pulang ke SBY malamnya, tapi kayaknya bisa diundur, jadi mungkin bisa dilanjutkan sampai malam dengan karaoke dsb dsb. So, yang mau ikutan daftar ya (kirim email aja)… biar bisa dicarikan tempat yang enak nih.

Tanggal 7-8-9 Maret Kopdar+Wisata Yogya with Lala dan EM+Riku. Acara yang sudah pasti adalah tanggal 7 Maret pukul 15:00-17:00 “Bermain Bersama Bocah Kweni” yang diarrange Uda Vizon. Untuk latar belakang silakan baca postingan Uda yang ini. (Kalau ada yang mau titip sesuatu untuk anak-anak ini, saya bisa membawakannya)
Lalu tanggal 7 Maret pukul 18:00 Kopdar Yogya, makan malam bersama di Resto Taman Pring Sewu. (Kalo masih kuat mungkin karaoke sampai pagi hehehe). Tanggal 8-9 diplot untuk wisata, tapiiiii tergantung bangunnya jam berapa. SO… siapa saja yang mau ikut… baik ikut wisatanya, atau main bersamanya atau makan malamnya hubungin kami ya. (email saya atau Lala atau Uda Vizon). Nanti kami beritahukan lagi detilnya via sms)

Saya masih mengumpulkan bermacam informasi, tapi kalau di antara teman-teman ada usul (misalnya tempat yang jual bakwan malang enak di mana gitu — loh Yogya kok nyari bakwan malang hehehe). Maklum saya paliiiiing suka bakwan Malang (Tahun depan kudu ke tempat dewisang deh)

Ya, rencana saya pergi jauh kali ini adalah Yogyakarta tuh. (Padahal kalau lihat di peta ngga jauh juga ya)

EM

BACA VERSI LALA DI SINI http://jeunglala.wordpress.com/2009/01/28/the-events/

IBSN: Kapan Anda Merasa Orang Indonesia?

Ya sebuah pertanyaan yang mudah, tapi mungkin agak sulit dijawab oleh orang Indonesia. Karena belum ada standar yang pasti ciri-ciri khas orang Indonesia. Adanya ciri khas orang dari suku Jawa, Sumatra, Bali dll. Mungkin sebuah survey yang dilakukan pada orang Jepang ini bisa menjadi semacam “referensi” bagi kita. Ini adalah sebuah hasil angket terhadap pertanyaan, Kapan Anda merasa bahwa ternyata Anda memang orang Jepang.

  1. Merasa bahagia waktu minum sup miso.
  2. Merasa relaks waktu masuk ke dalam pemandian air panas (hot spring)
  3. Merasa bahagia waktu minum teh hijau
  4. Merasa “at home” waktu mencium bau tatami
  5. Makan acar Jepang
  6. Tidur di kasur Jepang di lantai/tatami
  7. Mendukung tim Jepang dalam pertandingan olah raga
  8. Berkata,”Kereennnn ” waktu melihat orang memakai kimono
  9. Kalau terus menerus makan roti, jadi ingin sekali makan nasi
  10. Membungkuk -bungkuk waktu menelepon
  11. Memperhatikan kapan waktu sakura mekar
  12. waktu makan umeboshi (buah plum kering)
  13. Merasa senang waktu mendengar suasana festival (matsuri)
  14. Merasa minder waktu diajak omong orang asing
  15. Menyesuaikan dengan orang lain pada waktu rapat
  16. Merasa bersyukur waktu melihat gunung Fuji
  17. Memperhatikan kapan waktunya bisa melihat pemandangan daun berubah di musim gugur
  18. Secara tidak sadar memilih rasa Maccha (Green tea) misalnya es krim dsb.
  19. Selalu mengatakan “Barang tidak berguna” waktu menyerahkan hadiah pada orang lain
  20. merasa senang waktu bisa duduk menekuk lutut meskipun di atas kursi (Seiza= duduk ala jepang atau ala pendeta buddha)

Kadang kala saya merasa saya sudah menjadi orang Jepang, yaitu waktu masuk hot spring (2), makan acar Jepang (5), suka melihat orang pakai kimono (8), membungkuk waktu menelepon (10), senang mengikuti festival terutama taiko -gendangnya (13), melihat gunung Fuji (16) , dan (18) serta (19). Tapi nomor 10 memang sering dikatakan ibu saya, karena saya tidak sadar melakukannya.

Nah, sebagai orang Indonesia, kalau mengacu pada angket itu, apa ya? Makan sambal, mendukung tim Indonesia, senang melihat orang berkebaya, merasa bersyukur melihat pohon kelapa (di Jepang tidak ada pohon kelapa) dan bertelanjang kaki. Mungkin masih ada yang lain, tapi untuk sementara cukup sekian. Bagaimana teman-teman, kapan Anda merasa bahwa Anda itu orang Indonesia (terutama dalam pergaulan dengan orang asing)?

upload di YouTube

Akhir-akhir saya selalu gagal untuk upload di Youtube. Baru pagi ini berhasil, dan itu juga karena pendek. Mau lihat hasilnya? Judulnya, “Kai mencuri (cooking) coklat”.

Desa Setengah Hari

Kenapa namanya desa Setengah Hari? Ya, karena desa itu hanya “hidup setengah hari saja”. Kalau desa-desa lainnya, bangun pada terbitnya matahari kemudian bekerja dan kembali ke rumah untuk beristirahat pada waktu petang selama kira-kira 12 jam, maka desa Setengah Hari ini hanya menikmati “matahari” selama 6 jam saja. Sedangkan malamnya 18 jam.

“Brrrrr dingiiiiinnnnn. Saya akan memulai menceritakan sebuah desa yang bernama “Desa Setengah Hari”. Baruuuuu akan mulai cerita saja, saya sudah menggigil. Desa itu adalah desa yang dingiiiiin. Habis, di desa itu hanya setengah hari saja terangnya. Loh, kenapa kok setengah hari? Ya, di belakang desa itu ada sebuah gunung yang amat tinggi. Pagi hari waktu sang matahari terbit, karena tertutup gunung itu, sinarnya tak terlihat. Setelah tengah hari, akhirnya matahari yang sudah tinggi menampakkan wajahnya dari balik puncak gunung itu. Barulah desa itu menjadi terang…. menjadi pagi. ”

Begitulah baru pada tengah hari, pagi datang dan segala kehidupan di desa itu berjalan. TAPI, pagi itu hanya sebentar karena segera menjadi senja. Dan jika senja hari tiba,  angin bertiup dari danau yang berada di muka Desa Setengah Hari itu menyebar ke seluruh desa dan mebuat desa itu menjadi dingin. Kehidupan terhenti. Apalagi pagi yang ditanam di desa itu, tidak cukup matahari sehingga hasil produksi padi hanyalah setengah dari jumlah produksi padi desa lain. Akibatnya penduduk desa itu semua kurus,pucat dan lemah.

Di desa itu hidup seorang anak bernama Ippei. Pada suatu malam dia mendengarkan percakapan kedua orang tuanya. Yang membicarakan tentang desa mereka yang aneh. Seandainya tidak ada gunung itu… apa daya gunung tak dapat dipindahkan!

Keesokan harinya Ippei naik ke gunung membawa kantung. Mengisi kantungnya dengan bebatuan dari gunung itu, lalu menuruni bukit menuju ke danau. Dibuangnya bebatuan itu ke dalam danau. Setelah beberapa kali melakukan itu, siang pun tiba. Teman-teman Ippei melihat Ippei melakukan sesuatu yang aneh dan bertanya, “Ippei kamu ngapain?”

“Aku mau membenamkan gunung itu dalam danau!”

“GILA!” semua temannya menertawakan Ippei. Namun Ippei tidak peduli dan terus melakukan pekerjaannya. Memindahkan bebatuan gunung ke dalam danau. Setiap hari!

Lama kelamaan teman-teman Ippei melihatnya, menjadi ingin tahu dan ikut-ikutan membawa kantung serta meniru Ippei. Satu-dua orang lama kelamaan seluruh teman Ippei melakukannya karena tidak mau ketinggalan.

Orang dewasa yang melihat kelakuan anak-anaknya berkata, “Goblok, kalau mau mengangkut batu jangan pakai kantung! Pakai karung seperti ini!” Lalu kalau mau menggali, caranya begini. Satu-dua orang dewasa mulai mengajari anak-anak itu. Dan lama kelamaan semua orang dewasa ikut mendaki gunung dan memindahkan bebatuan itu ke dalam danau. Karena jika dia saja tidak ikut, merasa dikucilkan dari kegiatan desa. Dan perasaan matahari timbul lebih cepat dari biasanya!

Bertahun tahun mereka melakukan itu. Orang dewasa meninggal dan  Ippei yang kanak-kanak menjadi dewasa. Namun kegiatan itu tidak terhenti. Anak Ippei dan teman-temannya sebagai ganti bermain, mengusung bebatuan dari atas gunung dan memindahkannya ke danau.

Sampai suatu pagi, ketika ayam berkokok, matahari pun menyinari seluruh desa Setengah Hari. Puncak gunung menjadi datar, dan danau yang ditimbuni batu-batu gunung itu luasnya menjadi setengahnya. Di atas setengah danau itu pun dijadikan sawah. Dan sejak saat itu Desa Setengah Hari berubah nama menjadi desa Sehari.

NOTHING IS IMPOSSIBLE!

“Desa Setengah Hari” Hannichi Mura, (1400 yen) diterbitkan tahun 1980 oleh penerbit Iwasaki Shoten. Pengarangnya Saito Ryusuke (cerita) dan Takidaira Jiro (hangga). Cerita ini langsung masuk dalam buku teks pelajaran di Sekolah Dasar Jepang. Hangga adalah seni cetak dengan memakai cetakan cukilan kayu (seperti cap) . Salah satu jenis seni rupa Jepang yang menggugah kesenian global. Jika Anda pernah mendengar UKIYO-E maka itu adalah salah satu hasil hangga.

Isi cerita diterjemahkan dan dirangkum oleh Imelda.

NB: Saya mendapat buku ini dari mantan murid saya Kuchiki Keiko, yang bercita-cita membuat perpustakaan bahasa Indonesia di Tokyo. Dia banyak menulis puisi dalam bahasa Indonesia, dan sempat belajar bahasa Jawa di UGM, setelah selesai menamatkan BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) UI. Juga pernah membantu mendirikan perpustakaan di salah satu desa di Sumba. Sayang sekali saya sudah lama tidak berjumpa yaitu sejak saya mulai hamil Kai. Terakhir saya mendapat kartu tahun baru yang menuliskan bahwa dia juga sering membaca blog ini. Kuchiki san, apa kabar?

Kairo yang bukan di Mesir

kok bisa? hmmm ya bisa aja. Soalnya ini nama sebuah barang, bukan nama sebuah kota yang merupakan ibukotanya Mesir. Dan terus terang memang barang ini PANAS.

Kebetulan kemarin dingin sekali sehingga saya memakainya. Namanya Kairo portable (buang setelah dipakai). Tsukaisute Kairo 使い捨てカイロ. Bentuknya seperti kantong putih/oranye yang dalamnya berisi pasir besi dan campuran kimia yang lain. Begitu kantong ini dibuka dari plastiknya maka sedikit demi sedikit akan naik suhunya. Katanya bahkan bisa sampai 80 derajat. Tapi karena masih dibawah suhu mendidih, masih dianggap aman.

Awalnya pada tahun 1975, Pabrik Asahi Chemical di Kyushu memproduksi pemanas kaki khusus untuk prajurit Amerika. Dengan mengacu pada produk ini Perusahaan Lotte Electric kemudian mengeluarkan kantong pemanas yang diberi nama Hokaron pada tahun 1978. Meskipun baru dibuat akhir-akhir ini ternyata pada jaman baheula, sistem pemanas yang memasukkan kayu api/batu panas ke dalam wadah atau kain untuk pemanas sudah ada.

Ada dua tipe Kairo portable yaitu yang hanya berupa kantong saja, atau yang bisa ditempelkan ke baju, atau sepatu. Jika yang berupa kantong biasanya panasnya tahan 18-20 jam, sedangkan yang ditempel (tidak boleh tempel langsung ke kulit)  bisa tahan 12-14 jam tergantung besar dan produknya.  Buka plastik kairo yang biasa, lalu masukkan ke dalam saku mantel, masukkan tangan ke dalam saku dan …. voila! tangan yang membeku bisa mendapatkan kehangatan kembali. Bagi mereka yang bekerja di luar pada musim dingin, Kairo ini merupakan barang yang HARUS dibawa ke mana-mana. Tempelkan di sepatu, bagian dalam mantel di daerah punggung dan perut, lalu masukkan kantong kairo dalam saku…. Dingin yang menggigit bisa terlupakan sejenak. Tentu saja bagian wajah tetap merasakan dinginnya angin atau salju di musim dingin. Dan saya belum menemukan ada kairo yang bisa menghangatkan wajah.

Barang yang diperlukan dalam musim dingin untuk melawan dingin:

untuk dipakai :

  • baju thermal atas bawah, sedapat mungkin yang menyerap panas
  • stocking denin 80 atau wool bagi wanita atau celana hanoman bagi pria (bahasa jepangnya momohiki)
  • pakaian yang terbuat dari wool atau chasmere
  • jaket yang terbuat dari wool atau down jacket (yang berisi bulu angsa/kapas). Jaket kulit? kalau untuk gaya aja sih boleh, karena jaket kulit tidaklah hangat, kecuali berlapis wool dalamnya.
  • syal terbuat dari wool, topi dan sarung tangan
  • Kairo (kairo ini hanya ada di Jepang, jadi bagus juga buat oleh-oleh untuk teman di negara dingin lainnya)

untuk ruangan :

  • Pemanas atau heater. Ada macam-macam energi yang digunakan. Listrik (yang menyambung pada AC) adalah yang termahal dan tidak efektif menurut saya. Oil heater adalah yang terbersih dan tidak bau tapi cukup mahal karena masih memakai listrik. Gas heater disambungkan pada gas rumah, paling hangat dan tidak bau. Kerosene heater atau pemanas minyak tanah, paling murah tetapi bau dan bahaya sehingga biasanya apartemen bagus tidak mengijinkan penyewa memakai pemanas dari minyak tanah ini. Ada lagi yang juga bagus bila ada yaitu Hot Carpet dan hot blanket, tapi inipun memakai listrik.
  • Menaikkan humidity (kelembaban) ruangan juga membuat ruangan sedikit hangat.  Karena itu biasanya orang Jepang menjerang air di atas pemanas minyak tanah untuk membuat ruangan lembab.
  • Yang paling murah meriah sih sebetulnya adalah kehangatan badan manusia. Jadi……… (isi sendiri ya…. hihihi)