Arsip Kategori: Encounter

pertemuan dengan seseorang yang meninggalkan kenangan

“Adik”

Aku sengaja menuliskan “adik” dalam tanda petik, memang untuk merujuk seseorang yang usianya lebih muda dari kita, tidak ada hubungan darah tapi keakrabannya bagaikan saudara sekandung. Memang “adik ketemu gede” tapi bukan sebagai kelakar untuk menutupi hubungan khusus dengan lawan jenis (sering kan tuh jika bertemu pasangan, ditanya cewek itu siapa? Lalu dijawab “Adik”…. adik ketemu gede) dan memang bisanya kita bertemu “adik” (atau “kakak”) ini pada saat kita sudah dewasa. Aku sendiri mempunyai beberapa orang yang kuanggap “adik” (dan dia menganggap aku “kakak”) , baik di ruang nyata maupun di dunia maya.

Aku bertemu dia di Jepang, tahun April 1993, di ruang seminar professor MS di Yokohama National University. Aku sebagai mahasiswa peneliti yang waktu itu tugasku bukan hanya meneliti kehidupan kampus tapi juga beradaptasi pada kehidupan di Jepang, sebelum melangkah menjadi mahasiswa Universitas. Ini merupakan “syarat” tidak tertulis untuk mereka yang ingin belajar S2 ke Jepang, harus melalui tahapan “kenkyusei” (Mahasiswa Peneliti). Tugasku waktu itu hanya mengikuti kuliah-kuliah yang diberikan professor pembimbingku, mengikuti “seminar” khusus dengan dosen pembimbing sambil mempersiapkan ujian masuk S2, mengikuti pelajaran tambahan bahasa Jepang (yang akhirnya oleh guru-guru bahasa di YNU dianggap aku tidak perlu mengikutinya karena sudah cukup. “Kamu lebih baik langsung ikut kuliah lain, jangan buang waktu di sini”)

Pihak universitas waktu menyediakan program Tutoring bagi mahasiswa asing, MS sensei kemudian menunjuk Kimiyo dan Kayoko, mahasiswa tingkat 3 tahun itu untuk menjadi mentorku. Meskipun sebetulnya tidak diperlukan karena aku sudah bisa bahasa Jepang, tapi aku merasa beruntung karena dengan “penugasan” inilah aku bisa akrab dengan Kimiyo. 

Karena aku sudah bisa bahasa Jepang, sang dosen menugaskan Kimiyo untuk “berbuat apa saja laksana mentor”, jadi jam pertemuan mentoring kami biasanya kami pakai untuk berwisata bersama. Bukannya belajar, malahan main! hehehe (dan ini dengan persetujuan sensei loh) Kami menjelajah daerah wisata kamakura bersama, masak bersama, karaoke bersama (lagu favorit kami “Natsu no owari no Harmony — Harmoni di akhir musim panas), merayakan hari Natal bersama di kamar kost ku yang sempit, dll. pokoknya isinya main mulu deh.

meeting sebelum menjadi MC untuk acara natal. Kimiyo bahasa Jepang, aku bahasa Indonesia, dan sambil main-main di akhir acara, tukar bahasa.

Bulan Februari 1994, kedua mentorku itu akhirnya ikut bersama ku pulang kampung, untuk berwisata di Jakarta. Ini adalah kedatangan Kimiyo yang pertama ke Jakarta dan mungkin  boleh dikatakan merupakan “titik awal” jalan hidup Kimiyo sehingga menjadi seperti sekarang ini. Aku mengajaknya ke MONAS. Kami naik puncak Monas bersama, (menaiki lift pesing nan pengap), dan kami juga mengunjungi musium perjuangan di bawah pelataran monas. Museum yang rada gelap, penuh diorama-diorama perjalanan bangsa Indonesia. Dan di satu diorama itu, Kimiyo terhenti…dan …terkejut! Sebuah diorama yang menggambarkan kekejaman serdadu Jepang terhadap masyarakat Indonesia di bawah pendudukan Jepang.

Kimiyo dengan alm. opa Beul (meletus) saudaraku yang pernah menjadi romusha di Nagasaki. Mengakhiri pertemuan yang diawali dengan rasa tidak suka, dengan pernyataan opa, "Ternyata ada juga orang Jepang muda yang baik dan berkemauan keras mempelajari sejarah Indonesia-Jepang"

Loh? ada apa ini? kenapa bisa begitu? kenapa negaraku berbuat seperti ini terhadap negaranya Imelda? — mungkin begitu pertanyaan Kimiyo dalam hati. Memang aku tak bisa menyalahkan angkatan Kimiyo /generasi muda Jepang yang sama sekali tidak tahu bahwa negaranya pernah menjajah Indonesia (Kimiyo memang sudah tahu tentang pendudukan Jepang, tapi tidak menyangka se”biadab” itu). Kebanyakan generasi muda Jepang hanya tahu Jepang menjajah Korea dan Cina (Manchuria), tapi tidak menjajah Indonesia. Kemudian aku jelaskan… memang Indonesia pernah mengalami penjajahan Jepang selama 3 tahun, meskipun banyak yang ramah pada orang Jepang sekarang, belum tentu generasi yang lebih tua dapat “menerima” orang Jepang dengan ramah.

Asal pembaca TE tahu, memang dalam buku sejarah di Jepang, tidak ada yang menuliskan bahwa “Indonesia merdeka dari Jepang tanggal 17 Agustus 1945”. Yang ada “Indonesia merdeka dari sekutu tahun 1948”.

Berawal dari “shock”akan ketidaktahuan sejarah Indonesia-Jepang inilah, Kimiyo kemudian mengambil tema penulisan skripsinya waktu itu, “Pendudukan Jepang yang tertulis dalam buku pelajaran sejarah Indonesia”. Dia ingin mengetahui bagaimana orang Indonesia bisa “menerima” kehadiran orang Jepang dengan “ramah” saat itu padahal sudah mengalami perlakuan kejam dari serdadu Jepang. Kimiyo mengadakan penelitian terhadap buku-buku pelajaran sejarah Jepang dan Indonesia (dia mempunyai sertifikat menjadi guru SD Jepang – wajib dimiliki oleh semua yang mau mengajar di SD, yang macam sertifikasi guru di Indonesia deh.)

Kampai persaudaraan, melewati musim panas bersama, di kampung asal Kimiyo, Hachinohe. Kimiyo-Imelda-Tina

MS sensei membimbing skripsinya dan secara tidak langsung gantian “menugaskan” aku membantu Kimiyo untuk menulis skripsinya. Terutama untuk dokumen berbahasa Indonesia. Skripsi Kimiyo selesai Maret 1995, dan mulailah Kimiyo melangkah sebagai “manusia masyarakat” Shakaijin 社会人, seorang dewasa yang patut bekerja sebagai anggota masyarakat. Tapi saat itu dalam kepala Kimiyo hanya ada satu keputusan, “Aku harus belajar bahasa Indonesia di Indonesia”. Memang Kimiyo lulus dari Yokohama National University, tapi hubungan kami, Imelda dan Kimiyo, tidak berhenti saat itu, malah hubungan sebagai “adik-kakak” dimulai saat itu.

Kimiyo di depan rumah Jkt jaman BIPA

Kimiyo berangkat ke Jakarta sebagai mahasiswa BIPA -UI (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing -UI), dan tinggal indekost di rumahku di Jakarta. Imelda di Jepang, Kimiyo di Jakarta! Aku berkutat dengan dokumen sejarah di Tokyo-Yokohama, sedangkan Kimiyo berkutat dengan buku-buku bahasa Indonesia di Jakarta. Dia juga menjadi guru bahasa Jepang adik “real”ku Tina yang waktu itu mempersiapkan diri  mengambil S2 arsitektur di Jepang.

Give and Take…. selalu begitu dalam kehidupan ini. Tidak ada orang yang bisa hidup sendiri. Dan dalam setiap perjalanan hidup kita, kita pasti akan bertemu dengan seseorang yang bisa mengubah “arah” kehidupan yang mungkin awalnya sudah kita rencanakan. Bisa saja berlangsung sesuai rencana, tapi bisa juga “melenceng” arahnya. Tapi, kita harus tetap yakini, bahwa “perjalanan” hidup kita PASTI akan menuju kehidupan yang LEBIH BAIK.

Aku ingin berterima kasih pada ibunda Kimiyo (tentu juga papanya) yang mau dan memberikan ijin Kimiyo untuk melanjutkan belajar bahasa Indonesia ke Jakarta. Sebagai seorang ibu pasti tidak ingin tinggal berjauhan dengan anak perempuannya. Memang aku tahu bahwa beliau sudah melepas Kimiyo belajar ke Yokohama (mereka berasal dari Hachinohe, utara Jepang), tapi bagaimanapun juga melepas kepergian seorang anak perempuan ke negara lain butuh “keberanian” dan kepasrahan bahwa jalan hidup anaknya akan berubah. Segala kemungkinan bisa terjadi, seperti aku yang akhirnya menikah dengan orang Jepang, seorang ibu harus bisa menerima bahwa memberikan ijin anak perempuannya itu = merelakan anaknya tidak “kembali” lagi a.k.a hidup berjauhan.
Well bukannya semua orang memang melakukan “perjalanan hidup”nya sendiri? Dan memang aku tahu meskipun sejak Kimiyo menyelesaikan SMA nya, kemudian melanjutkan kuliah di daerah lain, kemudian ke Indonesia, waktu yang dilewatkan bersama ibu-anak itu sedikit, tapi banyak pengalaman batin yang terjadi, yang mungkin (aku rasa sih pasti) memperdalam hubungan ibu dan anak. Semoga ibunda Kimiyo, yang meninggal Maret lalu, terus melindungi kami semua yang masih tinggal di dunia ini.Terutama Kimiyo dengan suami dan anaknya, yang sekarang malahan tinggal di suatu tempat yang tidak diduga-duga. Hongkong!

Tulisan ini aku buat untuk mengenang persahabatan dan persaudaraan seorang Imelda dengan Kimiyo Kaneko (yang sering mengaku sebagai Kimiyo Coutrier) selama 17 tahun. Terlalu banyak pengalaman dan cerita yang terjadi selama 17 tahun perjalanan hidup kita bersama Kim, yang tidak bisa aku tuangkan semua di sini, tapi masih akan ada banyak tahun yang akan kita lewati bersama, meskipun kita berlainan kota bahkan berlainan negara. Dua puluh tahun lagi? lebih? ya… tentu sampai mati. Dan semoga persaudaraan kita, bisa berlanjut sampai ke anak-cucu kita ya.

Imelda dan Kimiyo. Merayakan persaudaraan selama 17 tahun, dan seterusnya.

Indahnya Blogging

(Ini adalah tulisan kedua untuk hari ini, setelah Like THIS)

OK…OK…. aku nanti akan membayar royalti ke mas NH18, karena istilah “The Beauty of Blogging” itu milik dia, dan supaya tidak sama persis aku terjemahkan ke bahasa Indonesia. Indahnya bercinta blogging!

Sejak aku menulis blog di domain ini bulan Maret 2008, aku mendapatkan banyak sekali teman blogger yang ditandai dengan saling mengunjungi blog masing-masing. Melalui komentar dan akhirnya kopdar (kopi darat atau bertemu muka langsung) kita dapat terus menjaga silaturahmi dan persahabatan di antara blogger. Meskipun aku tidak termasuk komunitas blog tertentu, aku merasa aku mempunyai kumpulan teman tersendiri. Dan nama-nama mereka bisa Anda lihat di antara di daftar top commentator, list sahabat TE dan beberapa postingan tentang mereka.

Nah, kali ini aku ingin menuliskan khusus tentang pertemanan yang diawali dari blog TE ini dengan mereka yang bukan blogger.Tanggal 11 Maret yang lalu, Witha Kutsuki datang ke apartemenku di Tokyo. Ini memang merupakan pertemuan kami yang ke dua. Tapi Witha memang membawa “titipan khusus” dari Jakarta, yaitu hadiah ulang tahun untuk Riku yang berulang tahun tgl 25 Februari. Riku  mendapat hadiah buku cerita berbahasa Indonesia, “Tidurlah Beruang” dari Wita (Eka Perwitasari),nah namanya sama Witha dan Wita makanya aku suka bilang si kembar…. Padahal mereka berdua tuh ketemunya gara-gara aku yang ngenalin loh. Wita sendiri sudah pernah datang ke rumahku tgl 24 Maret 2009, wah setahun lalu!

Sayang sekali aku dalam keadaan tidak enak badan, sehingga waktu itu hanya bisa menjamu dengan membuat mie bakso. Menurutku kurang enak, tapi ternyata bakso yang kubuat itu akhirnya aku sendirian yang habisin selama 3 hari. Enak kan kalau sakit makan bakso (Dan Witha ngaku bahwa tadinya dia mau minta bawa pulang…tapi sungkan… yah sayang banget deh). Sejak hari itu, aku belum bikin bakso lagi nih! Sepertinya musti ada yang datang main ke rumahku lagi baru aku masakin hehehe.

Riku senang sekali menerima hadiah dari kedua wita, apalagi aku juga dimanjakan mereka dengan hadiah syal dan dompet dari Wita, serta anting-anting garnet dari Witha. Katanya ini hadiah ulang tahun yang tertunda (ulang tahunnya udah lewat lama banget padahal) Tapi aku sangat senang atas perhatian kedua Witha ini. Really appreciate! Doumo arigatou….

Dan Hari minggu kemarin, aku bertemu dengan seorang pembaca TE yang sudah menjadi sahabat FB ku juga. Theresia Ani namanya, dan dia sedang melanjutkan penelitian bidang pertanian di Universitas Ibaraki. Seperti biasa, kami mengisi hari libur kami dengan berjalan-jalan yang murah meriah. Kali ini kami menuju sebuah danau di prefektur Ibaraki, yang bernama Kasumigaura. Menurut Gen danau ini danau nomor dua terbesar di Jepang, setelah danau Biwa, di prefektur Shiga. Dan tempat ini dekat dengan tempat tinggal  Ani. Jadi waktu masih di highway aku menelepon Ani menanyakan kemungkinan bisa bertemu. Dan kebetulan dia memang sedang akan pergi ke danau itu bersama teman-temannya naik sepeda! Wahhh asyik banget membayangkan bisa naik sepeda 20 menit ke tempat yang indah dan luas itu.

berdua Ani di taman Tulip danau Kasumigaura, Ibaraki (lupa deh sama anak-anak...hehehe)

Tentu saja kami berfoto-foto deh begitu bertemu. Selain kami memang baru pertama kali bertemu, pemandangan taman Tulip dengan Kincir Anginnya memanggil kami untuk mengeluarkan bakat narsis kami. Untung Ani datang bersama suami dan temannya Dewi, jadi anak-anak bermain bersama mbak Dewi deh.Kami bertemu tidak lebih dari setengah jam, tapi sudah cukup untuk bertukar berita terutama tentang gereja katolik di daerah Ibaraki (Ooarai).

Setelah Ani, suami dan mbak Dewi kembali ke tempat teman-temannya, kami melihat ke dalam sebuah rumah yang dijadikan semacam museum kecil, dengan informasi mengenai Danau Kasumigaura. Kupu-kupu, burung, ikan-ikan yang hidup di sana. Kata Gen danau ini juga sama dengan Danau Biwa, adalah danau yang kotor sekali dulunya. Kemudian dengan program lingkungan hidup menjadi bersih seperti sekarang ini.

depan Kincir Angin di taman tulips Kasumigaura

Karena mendengar dari Ani, bahwa rumah Ekawati Sudjono hanya 12 km dari danau itu, Gen menawarkan aku untuk bertemu Eka. Langsung aku telepon Eka, dan kami akan menjemputnya di asramanya di kompleks Universitas Tsukuba. Jadi deh kami rendezvous di sebuah restoran di Tsukuba Center (pertemuan dengan Eka adalah yang kedua kali, pertama di rumahku) . Ternyata jika naik mobil dan highway, jarak antara apartemenku dengan Ibaraki/Tsukuba dapat ditempuh hanya satu setengah jam. Hmmm jadi ingin pergi drive ke daerah lainnya deh.

bertemu Eka di Tsukuba Center

Cerita pertemuan dengan Witha, Ani dan Eka di Tokyo ingin kututup dengan sebuah tanda persahabatan lagi dari seorang pembaca TE, yaitu Henny Rupita (Henny menulis blog di Multiply). Memang bukan pertemuan secara fisik, tapi Henny mengirimkan makanan kesukaanku melalui pos! Katanya, dia ubek-ubek page about me dan menemukan bahwa aku menyukai yang serba kanji. Jadi dia mengirimkan TEKWAN kering (+buku batik) . Terima kasih banyak ya Henny, aku sudah menikmati tekwan itu sendirian, biasanya dini hari sambil menulis postingan.

tekwan ini berhasil mengurangi rasa homesick yang akhir-akhir ini mendatangiku

Aku sedang menikmati indahnya persahabatan melalui blogging. Terima kasih banyak teman-teman. Dan semoga aku diberi kesempatan mudik musim panas ini, dan bisa bertemu di Jakarta.

Kopdar atau Jumpa Fans?

Sebetulnya apa artinya kopdar sih? Kopi Darat, atau bahasa Inggrisnya Off Air. Suatu ajang pertemuan dengan sesama teman dalam suatu komunitas. Bisa jadi sesama pendengar acara Radio, atau TV, atau yang pasti sekarang adalah sesama pembaca blog. Tapi seringnya kopdar itu antar blogger, jarang kudengar pertemuan antara penulis dan pembaca bloggernya. Nah, aku tidak tahu deh apakah yang terakhir ini termasuk dengan Jumpa Fans hehehe.

Ekawati Sudjono, muncul di depan pintu apartemenku

Apapun namanya, yang pasti mulai tanggal 15 sampai 17 malam, aku kedatangan tamu di kandang kelinciku (usagi goya, sebutanku untuk apartemenku yang kecil). Kebetulan Gen tidak ada di rumah karena menginap di universitasnya yang dipakai untuk ujian sipenmaru Jepang. “Tante Eka” demikian Riku dan Kai memanggilnya, akhirnya sampai juga di pintu apartemenku jumat lalu, setelah mengikuti panduan naik kereta, bus dan jalan kaki. Ekawati Sudjono  merupakan orang kedua yang datang langsung ke rumah setelah Ekaperwitasari alias Wita yang pernah kutulis di “Ratu Kopdar?”.  (Heran deh di sekelilingku sekarang byk banget yang namanya Eka… helloooo EKA PNS hahhaha, apa kabar penatarannya)

Rumahku memang tidak begitu sulit dicapai, tapi harus ganti kereta beberapa kali dan naik bus. Biasanya orang asing takut untuk naik bus sendiri di Tokyo, karena memang tiap daerah cara membayarnya agak lain. (Silakan baca juga tulisan Hilda tentang naik bus di Jepang). Kalau dalam Tokyo biasanya 200-210 yen tarif tetap untuk berbagai jarak, dan membayar waktu naik.

bertiga dengan kue yang dibawa khusus dari Tsukuba

Berhubung aku bingung mau masak apa, jadi untuk hari jumat mulai jam 3 an, kita makan onabe, rebus-rebusan ayam, ikan, kerang dan sayuran. Malam juga masih sama. Aku malessss banget masak jumat itu.Tapi karena Eka bawa kue buatan temannya, jadi malam itu kita ada desert yang enak.

Kesempatan juga ada Eka, jadi aku minta dia untuk memotret aku dengan baju yang kuterima dari ketiga sahabat blogger. Biar bagaimanapun, difoto orang lain hasilnya akan lebih bagus daripada foto sendiri. hihihi…

Dan untuk menebus rasa bersalahku dalam penyambutan Eka hari sebelumnya, sabtunya aku masak deh. Ayam Bakar Padang plus balado terong. Asyik banget makan berdua pake tangan, serasa di Salero Bagindo deh. Sayang kurang pedas, karena aku masukkan cabenya terakhir, setelah ambil ayam tanpa cabe untuk anak-anak. Dan aku kaget ternyata Kai makan banyaaaak sekali, nasi dan ayam “gule”.

Kalau begini kan bisa makan pakai tangan, ngga usah pakai sumpit... sayang kurang pedas

Tadinya kami mau jalan-jalan sekitar rumah, tapi karena aku sakit kepala, jadi malas deh…. santai-santai aja di rumah, sampai hari berganti tanggal.  Tadinya ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada Eka persis pergantian ke tanggal 17, tapi ternyata aku ketiduran bersama anak-anak dan baru bangun sekitar jam 5:30 pagi.

Aku tidak bisa siapkan kado apa-apa untuk Eka, karena aku sama sekali tidak tahu apa kesukaan dia. Terus terang aku juga baru kenal Eka. Gara-gara dia minta add di FB, tapi dengan pesan begini:  “Hi kk imelda… boleh kenal kah? eka salah satu peserta teacher training-nya monbukagakusho 2009 yg lagi belajar di university of tsukuba =) eka tahu blog kk imelda dari orang tua murid lho karena anaknya juga lagi belajar di ibaraki…eka tinggal di jakarta dan dulu anak sma 70 heheeh ga jauh dari tempat tinggal k imelda =p sebelum berangkat bulan oktober kemaren, sering bgt buka blog k imel =) di confirm yaaaaa.” Siapa yang tidak akan confirm kalau dapat “opening” semanis ini bukan? (heheheh makanya kalau mau add saya di FB, musti kasih alasan hihihi). Tapi setelah jadi friend di FB, baru tahun ternyata Ms Eka ini guru bahasa Inggris keponakanku… what a small world.

Tapi you know, lahir di bulan januari beda 3 hari, sedikit banyak tahu deh sifat-sifat yang dimiliki, yang memiliki persamaan. Jadilah waktu yang dilewatkan bersama kita bercerita tentang ciri-ciri “seorang capricorn sejati” hihihi.

Ini loh yang namanya tumpeng anak-anak..... 😀

Kebetulan rasa ingin masakku hari minggu itu timbul, sehingga waktu dengan berderai air mata Eka cerita bahwa kalau ulang tahun biasanya ibunya membuatkan nasi kuning, aku bilang padanya, “kenapa ngga bilang-bilang? ” Dan dengan lembutnya dia berkata, “Aku ngga mau repotin orang lain kak”…. hihihihi khas nya capricorn.

Happy Birthday sweet seventeen untuk Eka

Jadi deh hari Minggu aku nguprek isi dapur, kira-kira apa saja yang bisa dipersiapkan untuk nasi kuning. Tentu saja bumbu instant… dan jangan sangka bumbu instant tidak bisa enak loh. Yang penting kata Eka, “Masak dari hati”… itu yang menentukan makanan itu enak atau tidak. Eh tapi baru kali ini juga aku lahap makan nasi kuning buatanku (aku biasanya tidak suka makan masakan sendiri) …. kayaknya sih karena ada sambal….

Kai mau bantu.. kalau Riku sih sudah biasa... heboh deh

Demikian pula dengan kue tart Black Forrestnya. Bener-bener darurat karena aku lupa menyiapkan stock bubuk coklat. Jadilah bungkusan cocoa untuk minuman yang dipakai. Biasanya dalam sachet cocoa untuk minuman sudah ada susu/krimnya, jadi warna kuenya tidak bisa coklat tua deh. Tapi sekali lagi yang penting kan rasanya ya Eka….

Yang ulang tahun dengan yang buat kue

Dan sebetulnya selain hasil karya masakanku berhasil diicipi oleh Eka, ada juga hasil kerja tanganku yang lain, yang sayang sekali tidak bisa dipameri di sini. Ya, kata Eka sih sudah sekelas Jonny Andrean hihihi. (Siapa korban berikutnya ya? hihihi)

Well, liburan sudah berakhir, sayang sekali aku tidak bisa mengajak Eka jalan-jalan di Tokyo karena mobil dibawa Gen. Tapi selalu ada lain kali ya Ka…. Ayo, siapa lagi orang Indonesia yang berani datang sampai di depan rumah saya sendiri? Saya tunggu loh 😉 Untuk Eka yang baru tinggal di Jepang 3  bulan (sejak Oktober 2009) ini, selamat melanjutkan pelajarannya, semoga betah dan bisa diterima ke program master…. terima kasih juga untuk kedatangannya bisa membawa suasana Indonesia di rumah, dan menemani saya bersama dua krucil yang suka bertengkar 🙂

Kai yang selalu ngotot mau memotret

Sttt, aku lagi ngeracunin Ekawati Sudjono ini untuk jadi blogger. Di sini nih alamat URLnya dia… http://asakiri.wordpress.com/

Terima kasihku

Tepat hari ini, Minggu Legi pukul delapan pagi, 42 tahun yang lalu, seorang bayi perempuan yang amat rapuh lahir di RS Carolus. Kata ibunya, besar kepalanya seperti mangga golek, badannya keriput seperti anak monyet, dan…. detak jantungnya tak terdengar. Amat lemah. Ketika kutanya berapa beratnya? Tak sampai 2000 gram, karena dia lahir prematur.

Semenjak mengandung bayi ini, ibunya berhenti bekerja sebagai sekretaris di perusahaan minyak. Mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran bayi pertamanya. Dan setelah itu dia tidak pernah lagi kembali bekerja, mempersembahkan hidupnya untuk si kecil, baretje donderkop (si kepala bulat) dan adik-adiknya yang lahir sesudah itu.

imelda usia 6 bulan di Bantaeng

Hari ini aku ingin mengucapkan terima kasih pada Tuhan yang telah memberikan aku nafas dan kehidupan sampai saat ini. Dia telah memberikan aku Mama dan Papa terbaik sedunia, yang membesarkan aku sampai saat ini, dan merelakan putri sulungnya tinggal di belahan dunia lain. Itu suatu “hadiah” terbesar yang diberikan mereka padaku. Terima kasih Mama, Papa, kalian tahu kan bahwa aku selalu rindu untuk bertemu, tapi meskipun aku tidak di depan mata kalian, hatiku selalu bersama kalian…. selamanya. (Dan aku tahu tadi pagi di telepon ada isak tangismu Ma… dan aku pun terisak dalam bis, dalam kereta setiap mengingatnya. Ma, jangan nangis ya…. nanti aku usahakan mudik agustus kok!)

Terima kasih Tuhan telah memberikan seorang suami Gen Miyashita, yang juga berulang tahun di hari ini (kami beda persis dua tahun). Memang Tuhan telah mengatur semuanya, mungkin bahkan sebelum aku lahir di dunia ini.  Terima kasih suamiku, dan semoga kita bisa terus menyambut hari lahir bersama…. selamanya.

Terima kasih Tuhan atas anugerah dua permata hati, Paulus Riku Miyashita dan Kai Miyashita. Kedua permata yang selalu mencerahkan hari-hari kami berdua, dengan gelak tawa, perkelahian bahkan penyakit. Karena semua itu aku yakin ada artinya bagi kehidupan kami. Terima kasih telah melindungi Riku dari penyakit yang menakutkan (hepatitis atau limpa) , dan dia boleh bersekolah lagi hari ini. Hadiah dari Riku berupa pelukan dan cerita karangan dia untuk mama papa, serta coklat untukku.

Terima kasih atas anugerah, mertua dan orang tua, Achan dan Tachan yang selalu membantu kami. Dan melindungi kami dalam perjalanan pernikahan kami.

Terima kasih atas  anugerah teman-teman, sahabat yang begitu baik. Sahabat yang memberikan suprises untukku, sejak masuk tahun yang baru ini. Baik berupa barang ataupun kata-kata-dukungan dan sapaan. Mereka adalah sahabat-sahabat  khusus yang engkau berikan untuk menemaniku menjalani kehidupan ini.

ucapan dari ketiga sahabatku

Terima kasih untuk tiga sahabat blogger yang dengan sengaja mengirimkan baju khusus untukku yang kuterima persis kemarin. Mereka selalu menemaniku setiap hari di internet,  dan meskipun sibuk, kami tetap bersapa menanyakan kabar masing-masing. Yessy, Ria dan Eka…. Terima kasih banyak. Juga untuk kartu dilengkapi foto kalian bertiga. Semoga persahabatan kita tetap langgeng dan harmonis. Terima kasih juga untuk Ria yang telah menuliskan khusus untukku di blognya.

Baju berwarna maroon hadiah dari Yessy, Ria dan Eka. Love you ladies...

Terima kasih untuk Bro Neo dan Nana, yang mengirimkan buku yang memang sudah dijanjikan sejak lama. Anak Bajang Mengiring Angin, yang kuterima tanggal 5 Januari lalu. Dikirimkan langsung ke rumahku di sini. Aku begitu terharu menerimanya. Terima kasih banyak. Kita baru bertemu agustus lalu, tapi serasa sudah lama bersahabat ya. Maaf aku terlambat menuliskannya di TE, karena aku menganggap itu adalah hadiah ulang tahunku dari Bro dan Nana…. Khusus ingin kutuliskan di sini.

sebuah buku "jawa" yang sudah sampai ke "japan"

Terima kasih untuk sahabatku yang bernama Daniel Mahendra, novelis yang baru saja mengadakan soft launching novel pertama Epitaph. Memang Danny mengirimkan paket berisi novel dan teman-temannya itu ke rumah di Jakarta, dan dibawakan oleh Tina ke Tokyo awal tahun lalu. Hadiah karya sendiri…. itu saja merupakan hadiah yang berharga, apalagi dia menuliskan pesan dan tanda tangan di dalamnya dengan TINTA EMAS, sesuai permintaanku di blognya. Bolehkan aku anggap itu kado ulang tahun juga Danny? (pesan sponsor: pemesanan Epitaph bisa melalui email epitaph@penganyamkata.net)

Buku karangan Daniel Mahendra, Epitaph (trilogi bagian pertama)

Terima kasih juga untuk Yoga, yang juga menitipkan sebuah buku karangan Dee, Perahu Kertas lengkap dengan tanda tangan dari Dee. Selain buku, dia membawakan juga tengteng mente 2 box, yang aku habiskan sendiri dalam 10 hari hihihi. Aku juga anggap buku ini hadiah ulang tahun dari Yoga. Terima kasih untuk buku, snack dan lagu “You make my world so colourful”nya Daniel Sahuleka.

Untuk semua teman, sahabat, saudara yang sudah menyampaikan selamat di FB, sms dan blog. Terima kasih banyak-banyak… Masing-masing teman mempunyai peran dalam hidupku, really appreciate.

Aku ingin menutup tulisanku hari ini dengan sebuah lagu “ I Can’t Smile without You” dari Barry Manilow. Sebuah lagu yang selalu mengingatkanku pada seorang sahabat khusus yang memintaku untuk tetap tersenyum, apapun yang terjadi, dimanapun aku berada (terima kasih atas kehadiranmu). Memang benar, aku tak bisa tersenyum tanpa kehadiran kalian semua, sahabat-sahabatku. Terima kasih untuk senyum kalian juga yang telah mewarnai hidupku.

You know I can’t smile without you
I can’t smile without you
I can’t laugh and I can’t sing
I’m finding it hard to do anything
You see I feel sad when you’re sad
I feel glad when you’re glad
If you only knew what I’m going through
I just can’t smile without you

You came along just like a song
And brightened my day
Who would have believed that you were part of a dream
Now it all seems light years away

And now you know I can’t smile without you
I can’t smile without you
I can’t laugh and I can’t sing
I’m finding it hard to do anything
You see I feel sad when you’re sad
I feel glad when you’re glad
If you only knew what I’m going through
I just can’t smile

Now some people say happiness takes so very long to find
Well, I’m finding it hard leaving your love behind me

And you see I can’t smile without you
I can’t smile without you
I can’t laugh and I can’t sing
I’m finding it hard to do anything
You see I feel glad when you’re glad
I feel sad when you’re sad
If you only knew what I’m going through
I just can’t smile without you

Belajar terus sampai mati

Akhir-akhir ini aku sering mengisi kuis di FB, dan salah satunya menghasilkan pernyataan seperti ini:

Your dream is to live a life where you are constantly learning and evolving.
You believe that the world, people, and life are incredibly fascinating.
You want to use your mind as much as possible. You want to dare yourself to do what’s difficult. You’d like to expand your worldview and maybe even solve some of the world’s problems.

Belum lagi ada kuis yang mengatakan orang yang lahir di bulan Januari memang suka mengajar dan diajar.  OK memang kita tidak usah percaya hasil ramalan/kuis sepenuhnya, tapi memang aku berusaha untuk terus belajar tentang apa saja rather than specialize in one subject. Aku ingin tahu semua! Dan pemikiran ini sebetulnya tidak cocok untuk orang Jepang yang “Otaku” menguasai bidang keahliannya saja sedalam-dalamnya, bukan all round.

Tetapi merupakan kenyataan juga bahwa jika kita sudah capek, atau sudah mencapai kondisi tertentu, stagnan atau berada dalam comfort zone, zona aman kita merasa tidak perlu lagi menambah pengetahuan dan seiring juga dengan kemampuan otak yang melambat. Padahal otak yang tidak dipakai, bisa berkarat, jamuran, dan akan menjadikan kita pikun!

“Saya tetap belajar bahasa Indonesia seminggu sekali supaya tidak pikun!” demikian jawab Bapak Watanabe, 94 tahun, mantan muridku. Dia, dan hanya dia sajalah yang selalu memenuhi pikiranku dan menyemangati aku untuk belajar dan belajar terus …. sampai mati.

Lelaki kelahiran delapan belas April 1915, siang ini duduk di hadapanku sambil makan siang bersama. Oh Tuhan,…. aku harus bersusah payah menahan haruku, dan jangan menangis di hadapan dia.

Kemarin aku telepon dia, dan basa-basi bertanya kabarnya… dan dia berkata, “Sensei, kapan yuk kita minum kopi bersama”.
Lalu aku berkata, “Watanabe san, sebenarnya saya telepon untuk menanyakan apakah besok ada waktu untuk bertemu? Besok saya ada urusan di KBRI, kalau bisa sekitar jam 11 bertemu di Stasiun Meguro bagaimana?
“Tentu saya akan pergi ke sana. Sampai jam 11 besok”.

Jam 11 kurang lima aku sampai di stasiun, setelah tergesa-gesa setengah berlari dari KBRI menuju stasiun. Jangan sampai aku membiarkan Watanabe san menunggu. Dan persis pukul 11, aku melihat ke arah terminal bis, di situ bapak tua itu menunggu sambil celingak celinguk. Aku berjalan ke arahnya, sambil tersenyum gembira.

“Sensei… saya senang sekali bertemu sensei”… dia menjabat tanganku… dan memelukku. Aduh …aku benar-benar terharu dan ingin menangis. Laki-laki Jepang mana yang mau memeluk wanita di depan umum? Meskipun istrinya.  Aku merasakan kerinduannya yang besar untuk bertemu denganku. Ahhh Bapak… aku merasa tersanjung… aku tahu kamu menghormati aku sebagai sensei, tapi aku lebih menghormati bapak bukan sebagai murid. Entah harus kukatakan sebagai apa, sebagai sesepuh yang mengingatkan terus… Hai manusia, Jangan kalah oleh umur!

Dia masih sehat. Matanya awas, telinganya tajam. Hanya sayang kakinya mulai lemah, meskipun dia tidak memakai tongkat. Dan aku salah waktu itu, terlambat menyadari, sehingga dia sempat “merosot terduduk” di atas tangga turun. Tidak jatuh, tapi tiba-tiba sudah terduduk di atas tangga. Untung aku langsung tangkap dia, kemudian membantunya berdiri. Sambil berjalan menuju lift ke lantai atas gedung stasiun, aku lihat dia mengisap jari tengahnya. Oh No… buku jari tengahnya berdarah! Terkelupas kulitnya. Aduh….

“Watanabe san saya cari plester dulu ya?”
“Tidak usah… biasa ini”
dan kita langsung ke lantai atas dan mencari restoran soba. Aku tahu pasti makanan yang paling cocok untuk dia hanya soba…. (Aku pernah berdosa besar padanya. Waktu aku masih mengajar dia, dia memberikan aku tiket makan di restoran soba dekat rumahku. Tapi aku tidak pakai sampai hangus. dan aku menyesal…)

Sambil memesan soba, aku tanya pada pelayan restoran apakah dia punya plester. Dan aku dapatkan plester dan aku pasangkan di jari tengahnya.


Lelaki berusia 94 tahun, bukan main-main … 6 tahun lagi dia 100 tahun!  Dan siang ini dia memenuhi undanganku makan siang bersama.  Kami bertemu terakhir 4 tahun yang lalu. Oh Tuhan…. aku harus bersusah payah menahan haruku, dan jangan menangis di hadapan dia. Karena…..

Ya, ternyata yang luka bukan hanya jari tengahnya. Kamu tahu, jika manusia sudah tinggal tulang berbalut kulit, maka kulit itu akan mudah mengelupas. Dan aku baru sadar ketika aku lihat bercak darah di mulut lengan kemeja putihnya. Ya dia berkemeja putih, berdasi dan berjas untuk bertemu dengan aku. Ternyata di lengan di bawah jam tangannya kulitnya terkelupas sepanjang 8 cm. Uhhhh tidak bisa dengan plester, itu harus diperban. Tapi dia berkata, “Tidak apa sensei, memang kalau sudah tua suka begini. Gampang jatuh! Tidak apa-apa. Nanti juga kering lukanya. ” Ingin aku memberikan saputanganku untuk membalut luka, tapi pasti kotor.
“Kalau ada saputangan….”
“Saya ada saputangan, tapi tidak apa-apa”

Aku sudah mulai sulit menelan makanan yang ada di hadapanku. Bukan… bukan aku takut darah atau luka, tapi aku tahu kenyataan, bahwa manusia yang renta mudah luka, mudah jatuh, mudah goyah…. dan sewaktu-waktu si renta itu tiba-tiba tidak ada lagi di hadapanku.

Aku berusaha bercakap-cakap yang ringan, sambil memperhatikan dia makan, jangan sampai tersedak. Jangan sampai dia emosi ingin menjawab, lalu makanan salah masuk. Aku selalu tunggu dia selesai mengunyah dulu baru aku ajak bercakap-cakap.

Dia adalah lulusan Tokyo Teikoku University. Elite, sangat elite di jamannya. Jurusannya? Ekonomi. Pasti dia cerdik pandai. Dan setelah lulus dia bekerja di perusahaan dagang Mitsui Bussan. Aku juga sering mengajar pegawai dari MB dulu, pegawai yang ditugaskan ke Indonesia. Namun Watanabe san ini tidak pernah mendapat kesempatan ditugaskan ke Indonesia. Malahan dia bertugas di Hamburg, Jerman selama 4 tahun. Karena pengalaman di Jerman ini, dia bisa berbahasa Jerman, dan anak lelaki yang sekarang tinggal bersamanya juga bisa berbahasa Jerman dan menjadi penerjemah.

Watanabe san sendiri tidak pernah punya hubungan dengan Indonesia. Hingga usianya yang ke 83, waktu dia berjalan-jalan di dekat sekolah Indonesia Tokyo. Dia mendengar bahasa Indonesia. Juga waktu dia mengajar bahasa Jepang sebagai volunter di Kelurahan Meguro, dia bertemu dengan orang Indonesia. Dia merasa bahasa Indonesia indah bunyinya. Sampai dia bertanya, dimana saya bisa belajar bahasa Indonesia? Kemudian sampailah dia di rumah seorang guru bahasa Indonesia yang mengajar di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo). Dan dia mendapat keterangan dari Pak Herlino Suleman (Pengarang “Pintu Tertutup Salju” ) ini, bahwa setiap hari Senin, Rabu dan Jumat ada pelajaran bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Kedutaan yang bisa diikuti oleh warga Jepang. Pak Herlino juga mengajar di KOI (Kursus Orientasi Indonesia), tapi Watanabe san masuk ke kelas pemula, yang gurunya bernama Imelda Coutrier. Dan dia mengakui, bahwa kalau bukan Imelda sensei, mungkin dia tidak akan belajar terus di KOI.

Ya aku tahu kehadiran bapak Watanabe ini di kelasku. Kelas yang sulit, karena waktu itu muridnya berjumlah 40 orang. Jaman itu bahasa Indonesia sedang berjaya, zaman keemasan. Semua kursus dipenuhi peserta, sampai membludak. Guru Bahasa Indonesia dicari-cari. Dan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat aku mengajar di lobby SRIT, karena itu satu-satunya tempat yang bisa menampung 40 orang. Tanpa mike, aku harus menguasai 40 orang. Impossible. Tapi aku tahu awalnya 40 orang, setelah berjalan biasanya  akan berkurang. Akan ada murid-murid yang tidak tahan untuk belajar 3 kali seminggu. (setelah itu kami ubah jam belajar menjadi 2 kali seminggu dan akhirnya 1 kali seminggu). Benar saja setelah 6 kali, murid-murid tinggal 30 orang. Tapi Bapak Watanabe masih terus hadir dengan rajinnya. Sampai kelas atas dia sudah ikuti, dan begitu dia mengetahui bahwa aku mengajar kelas atas (kelas lanjutan) di sebuah Culture Center, Watanabe san berhenti belajar di KOI, dna belajar di Culture Center, di kelas saya. Di kelas itu, aku harus mengajar 3 lansia dari 9 murid yang ada. Bapak Watanabe 87 th, Bapak Fukuoka 85 th, dan Bapak Asaga 83 tahun. Kelas yang impresif (dan agak sulit)

Watanabe san masih terus belajar di Culture Center itu sampai sekarang. Meskipun aku sudah berhenti mengajar di sana sejak 5 tahun yang lalu. Hanya karena mendengar bahasa Indonesia yang indah… tanpa sekalipun pernah pergi ke Indonesia … bahkan ke Bali pun belum pernah. Tapi kecintaannya pada bahasa Indonesia dan ketekunannya memang patut mendapatkan penghargaan. Kalaupun aku punya hak untuk mencalonkan penerima Bintang Maha Putra atau penghargaan lainnya, ingin aku calonkan nama bapak Watanabe ini dalam nominasi. Yang pasti, semangatnya akan selalu aku patri dalam ingatanku.

“Seharusnya persatuan alumni KOI membuat acara reuni ya?” dia berkata. Terlihat dia ingin sekali hadir dalam acara-acara silaturahmi.
“Ya, seharusnya ada acara reuni ya. Tapi… ketua persatuan alumni (Bapak Fukuoka) sudah meninggal….” Ahhh suram sekali percakapan ini.
“OK nanti saya coba bicara dengan ibu Hikita, supaya kita mengadakan acara reuni.  Nanti saya kasih tahu hasilnya”
“Sensei juga kalau iseng, telpon saya, nanti kita bicara di telepon ya”
“Ya…. kalau tidak, saya akan coba kirim fax ya” Tapi aku tahu dia ingin ngobrol….
“Watanabe san juga hati-hati ya, jaga kesehatan dan hati-hati kalau mandi. Kamar mandi kan licin….”
“Iya… waktu itu juga teman saya ada yang meninggal di kamar mandi. Istrinya panggil-panggil, ternyata sudah tengkurap dalam bak” ….ahhh kenapa aku musti menyebutkan kamar mandi segala!!!!

Sambil berjalan ke tempat taxi….
“Kalau saya kebetulan ke Meguro lagi, nanti saya telpon dan mungkin bisa bertemu lagi ya…. ” Aku tahu ada perasaan itu…. di hati kami…. Mungkin kali ini adalah kali yang terakhir…

Kami berjabatan tangan lagi di depan taxi yang menanti…. dan berpelukan lagi. Tapi aku tahu pelukan ini agak lemah dibanding dengan yang tadi. Aku cuma bisa berdoa, Tuhan lindungi dia… lindungi dalam perjalanannya setiap hari Sabtu untuk belajar bahasa Indonesia, karena berarti dia akan naik kereta, dan jalan kaki sampai tempat kursus yang aku tahu jaraknya cukup jauh.

Aku bantu dia duduk di kursi belakang taxi dan berkata pada pak supir, “Yoroshiku onegaishimasu” (tolong perhatikan dia ya)

Dan aku membungkuk ke arahnya takzim dan melambaikan tangan…

Dan aku berbalik ke arah stasiun dan berusaha menahan tangis.

Dan sekarang aku bisa melepaskan tangisan yang kutahan tadi, sambil menuliskan posting ini.

Jika kamu bisa hidup sampai 94 tahun, masihkah kamu akan belajar… dan belajar…dan belajar terus?

Hormat, Doa dan Terima kasihku untuk Watanabe san.


Dan pagi ini (1 Juli 2009) pukul 8:00 aku menerima telepon darinya, mengucapkan terima kasih untuk pertemuan kemarin (Orang Jepang selalu begitu, menghubungi kembali untuk berterima kasih, sebuah kebiasaan yang patut ditiru). Dia berkata, dia senang dan terkejut melihat aku yang katanya tambah cantik (hahhaha dan aku tambahkan …tambah gendut). Dan dia mengucapkan selamat beraktifitas, semoga bisa bertemu lagi…. Ya, aku masih berharap bisa bertemu lagi, sementara itu aku ingin menulis banyak tentang sejarah dan pertemuan-pertemuanku dengan orang Jepang yang menginspirasiku.

EM

 

NOTE:

Watanabe san sudah meninggal tgl 7 Maret 2012, dalam usia 96 (hampir 97 di bulan April),  karena pnumonia. Di RS dia tetap membaca buku bahasa Indonesia. Sayang aku tak dapat datang melayat, karena persis pulang dari Indonesia, sesudah menghadiri pemakaman mama yang meninggal tgl 23 Februari 2012. Rest in Peace Watanabe san. Hormatku selalu.

Dua kakek Jepang yang kutulis di sini semua sudah meninggal. Bapak Fukuoka adalah dokter di Manado selama pendudukan Jepang. Bapak Asaga bertugas di Aceh dan Medan, pernah bercerita bahwa dia menjalani operasi usus buntu dalam perahu, tentu tanpa obat bius 🙁 Bapak Asaga mendonorkan badannya untuk medis, sehingga tidak ada penguburan sampai 3 tahun lebih. Hormatku untuk ketiga bapak tua, yang begitu mencintai Indonesia. Salute

Kartu Pos itu….

Semua memang bermula dari sepucuk kartu pos yang ditujukan padaku. Pengasuh program acara Gita Indonesia InterFM 76,1 Mhz Tokyo.

Yah memang saya adalah DJ untuk acara Gita Indonesia, sebuah program “InterCommunity Square selama 1 jam setiap minggu yang disiarkan mulai tahun 1997-2001. (Cerita awalnya bisa dibaca di sini)

Banta san, demikian saya memanggilnya, mengirimkan sepucuk kartu pos berisi guntingan koran tertanggal 23 Agustus 1999. Ya guntingan koran itu ditempel begitu saja di bagian menulis berita (sebetulnya tidak boleh, tapi pihak kantor pos di sini “tutup mata”) . Saya bacakan kartu posnya pada siaran tanggal 10 September 1999. Kartu pos pertama, kemudian menjadi kartu pos yang 2, 3, 4 …hampir setiap minggu Banta mengirimkan kartu pos ke InterFM. Ya, dia  boleh dikatakan salah satu fans yang rajin. Pernah suatu kali dia mengirim kartu pos berbahasa aceh… bagaimana saya bisa bacakan kalau tidak tahu artinya? Nanti kalao isinya tidak baik bagaimana? Lagipula bagaimana pelafalan bahasa Aceh, saya tidak tahu. BUT, saya yakin isinya pasti bukan provokasi, sehingga setiap ada waktu, saya bacakan kartu pos dari dia…tentu saja bergantian dengan request atau kartu pos/fax dari pendengar lainnya. Isi kartu posnya kebanyakan tentang pertikaian di Aceh, betapa banyaknya orang yang harus mengungsi karena daerah tempat tinggalnya tidak aman lagi. Kerinduan akan kampung halaman, keluarga dan tanah air…..

Kemudian permohonan itu datang dari NHK, untuk pengisian acara Hallo Nippon, sebuah acara yang mengetengahkan orang-orang asing yang bekerja di Jepang. Sebelumnya sudah dua kali aku diminta mengisi acara yang serupa, dari TV Kanagawa dalam acara “Sekai kamado kara” (Dari belanga dunia) (OA 12-11-1997). Sebuah program memperkenalkan orang asing, hometownnya dan masakan yang mau diperkenalkan. Durasinya 20 menit, live. Hmmm, Acara ini bersifat talk show dengan memakai foto-foto dan saya menyediakan Tempe goreng + Gado-gado. Kemudian NHK BS1dalam acara “Ajia Jouhou Kousaten” (Asia Crossroad Information – OA 19 Desember 1998). Sebuah program yang memperkenalkan acara Gita Indonesia sebagai acara Radio unik dari InterFM. Durasinya 8 menit – rekaman.

Nah, acara NHK BS 1, yang “Hallo Nippon” ini cukup lama 20 menit, dan rekaman dengan menengahkan semua sisi kehidupan aku, ceritanya. Jadi rencananya selama 2 minggu, kamera akan menguntit aku kemanapun aku pergi (kecuali ke WC dan mandi hehehe), ke universitas, ngajar, menerjemahkan, siaran…dsb dsb…semua kegiatan aku, ceritanya. Yang bertugas menjadi director langsung seorang wanita muda, Kaneko Yuki san, padahal semula seorang director senior yang menangani rekaman yang menghubungi saya (ternyata mau ada regenerasi juga di PH -Production House mereka). Karena saya wanita, diharapkan Yuki san bisa menggali semua potensi yang ada dan credible menjadi acara TV yang bagus.

OK. Jadi mulailah rekaman-rekaman kegiatanku, sambil memikirkan plot cerita yang menarik. Di situlah muncul Kartu Pos dari Banta san. Dan saya jelaskan bahwa memang pendengar acara saya kebanyakan adalah pemagang atau Kenshusei yang bekerja di pabrik-pabrik kecil di Jepang, di bawah kelola IMM. Sebelum berangkat ke Jepang, yang berminat harus mendaftar di Dep Tenaga Kerja, kemudian diseleksi, lalu dikumpulkan diberi training (kalo tidak salah di Bandung) lalu dikirim ke Jepang, diterima oleh IMM,  baru dikirim ke perusahaan-perusahaan kecil ini. Bahkan menurut kabar di Bandung mereka selain mempelajari bahasa Jepang, juga diperlihatkan video kehidupan di Jepang, dan dalam video itu mereka pernah melihat saya (weks narsisnya keluar nih). Banyak sekali pemuda-pemuda yang berminat untuk bekerja di Jepang, karena mereka pikir mereka dapat membantu keluarganya di tanah air, dengan mengirimkan uang sekedarnya. Namun itu pun tidak semua yang akhirnya bisa menabung sebagian dari pendapatan mereka. Ada yang memang mendapatkan perusahaan yang baik yang memikirkan kesejahteraan mereka, namun ada pula yang kurang mendapat perhatian. Belum lagi kalau tertimpa musibah, mengalami kecelakaan dalam pekerjaan yang memang berbahaya itu.

Dan saya juga jelaskan pada Yuki san bahwa saya secara rutin membuat acara Jumpa Pendengar Fans Club Gita Indonesia (fansnya acara radionya loh, bukan fans saya). Dan kebetulan dalam waktu dekat akan membuat acara kumpul-kumpul di sebuah restoran, Bengawan Solo di daerah Roppongi (sekarang sudah tutup). Jadi tentu saja Kamera dan Yuki san ikut meliput acara tersebut, dan bertemu dengan pendengar yang waktu itu hadir sekitar 80 orang. Omong-punya-omong,  Yuki san mendesak saya untuk bertemu dengan kumpulan orang Indonesia yang biasa berkumpul di Taman Ueno, untuk membagikan pamflet tentang acara radio saya sekaligus promosi. Tentu saja di situ diharapkan bisa mengambil shoot yang bagus interaksi saya dengan pendengar, semacam temu pendengar singkat. Taman Ueno dijadikan ajang pertemuan bagi pemagang (TKI) Indonesia untuk bertemu, bertukar informasi, atau berbelanja kebutuhan makanan Indonesia yang tersedia di pasar Okachimachi (yang harganya tentu tidaklah murah).

Saya mewawancarai Banta di pabriknya (Yokohama)
Saya mewawancarai Banta di pabriknya (Yokohama)

Sementara camera terus berputar,  tidak disangka-sangka saya bertemu dengan DIA. Ya, si Banta san, pendengar asal Aceh. Saya benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegembiraan saya bertemu langsung dengan orang yang setia mendengar acara saya. Dan langsung di situ juga Yuki-san mengajukan skenario, supaya saya mengunjungi pabrik pendengar dan mewawancarai mereka langsung, termasuk menanyakan kehidupan mereka di Jepang dan kesan-kesan terhadap program radio saya. OK…tambahan kerja lagi hehhehe. Saya harus ke daerah yokohama, mengunjungi 2 pabrik yang satu pembuatan spare parts mobil/motor, sedangkan pabriknya tempat Banta kerja adalah pengolahan tulang besi beton.

Kalau tidak ada shooting untuk acara NHK ini tentu saja saya tidak akan kesampaian mengunjungi apartemen pendengar yang mayoritas cowok, bahkan sampai mewawancarai mereka. Saya merasa terharu sekali waktu mendapat penyambutan yang hangat dari pihak pabrik dan pemagang di rumah mereka, bahkan hampir menangis waktu tahu mereka (Banta dan teman-temannya) menyetel alarm supaya bisa bangun 5 menit sebelum acara radio saya dimulai pukul 2 pagi (Jumat jam 26:00- atau Sabtu dini hari pukul 2 pagi). Saya yang tadinya menyangka bahwa acara saya tidak ada yang mendengar….. kelu lidah saya. Ternyata acara saya waktu itu adalah satu-satunya hiburan mereka, yang waktu itu tidak mempunyai akses dengan internet.

Di apartemen Banta dan teman-teman setelah shooting (Banta-tengah)
Di apartemen Banta dan teman-teman setelah shooting (Banta-tengah)

Akhirnya sebagai penutup skenario saya dalam acara “Hallo Nippon” itu, saya mengundang 10 orang pendengar (termasuk Banta san) untuk datang ke studio dan mengambil rekaman berbincang-bincang di studio dengan mereka. Dalam pertemuan itu saya menanyakan apa “mimpi” mereka ttg Jepang, ttg Indonesia dan masa depan. Kelihatan sekali mereka enggan meninggalkan Jepang tapi rindu dengan tanah air. Bahkan saya bisa melihat mata mereka berkaca-kaca waktu saya putarkan lagu kemesraan sebagai penutup acara, yang diiringi dengan nyanyian lirih mereka…

Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Inginku kenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tentram di samping mu
Hatiku damai
Jiwa ku tentram
Bersamamu

Sebuah lagu yang sama yang saya putarkan pada acara terakhir Gita Indonesia yang terpaksa dihentikan Juli 2001 karena masalah pendanaan. (Yang pasti kali terakhir itu saya yang menangis…..hiks …. 4 tahun sebagai DJ…. dan meskipun saya menawarkan kerja sukarela tanpa gaji asal acara tetap bisa berlangsung, tetap ditolak. Sebabnya yang mahal adalah biaya penyiarannya yang dihitung perdetik sekian ribu Yen…. Pffffhhh)

Banta san memang hanyalah satu dari sekian banyak penggemar acara Gita Indonesia. Tapi Kartu Pos Banta san telah membuka suatu episode yang pasti tidak akan saya lupakan dalam kehidupan saya. Kenyataan bahwa saya mengelola suatu acara yang amat mereka nanti-nantikan. Dan saya menyesal tidak menghubungi Banta san waktu dia akan pulang ke Indonesia, paling sedikit untuk menanyakan kabar/rencana selanjutnya atau alamat di Indonesia. Dari 10 orang yang hadir di studio waktu itu hanya ada 1 orang yang mengabarkan bahwa dia mendirikan perusahaan di daerah bekasi… dan sayangnya saya tidak tindaklanjuti juga karena kesibukan saya yang lain. Saya ingin sekali bertemu dengan mantan-mantan pendengar acara Gita Indonesia, terutama Banta san yang beberapa saat ini menghantui pikiran saya.

Ya, 4 tahun yang lalu, 26 Desember 2004, Tsunami menghanyutkan ratusan ribu orang di Aceh. Yang masih tersisa di benakku sekarang…. apakah Banta san termasuk di antara ratusan ribu orang itu? Jika Ya, saya mendoakan arwahnya semoga diterima Tuhan…. dan jika tidak, ingin saya bertemu sekali lagi dengannya. Hanya untuk menanyakan…. Ogenki desuka? (Apa kabar?)

Bersama Yuki san sesudah pengambilan scene makan ramen kakilima
Bersama Yuki san sesudah pengambilan scene makan ramen kakilima

Catatan:

Siaran NHK BS1dalam acara “Ajia Jouhou Kousaten” (Asia Crossroad Information – OA 19 Desember 1998) yang mempertemukan saya dengan Ibu Sasaki, yang setelah itu mengajak saya bergabung menjadi dosen di Universitas Senshu mulai April,1999. Terima kasih banyak Sasaki Sensei. お世話になっております。

Kopi Darat tanpa Kopi

Saya sudah sering mengadakan kopdar (kopi darat) dengan teman-teman yang saya kenal di dunia maya, yang saya kenal lewat chatting di YM. Biasanya cukup memberitahukan kapan ada waktu kosong, berkumpul di suatu tempat dan siapa saja yang bisa datang, silakan datang. Akibatnya harus bertemu dengan  terlalu banyak orang yang sebetulnya hanya tahu nickname di YM saja. Belum ada pertemuan yang berkualitas yang saya rasakan pada kopdar-kopdar chatters. Itu 3-4 tahun yang lalu, kala chatting menjadi makanan sehari-hari.

Baru tahun ini saya membuka blog saya untuk umum. Dan dari pertemanan yang terjadi di blogsphere ini, saya pernah mengadakan acara kopdar dengan anggota “Asunaros”, so called group yang beranggotakan mas trainer NH18, Bang Hery Azwan, si bungsu Lala dan saya sendiri. Memang blog terasa lebih dalam artinya dari chat karena blog  merupakan cerminan sifat/pemikiran penulisnya. Kopdar pertama blogger itu terjadi bulan Agustus lalu, waktu saya mudik ke Jakarta dalam rangka summer holiday.

Setelah kembali ke Jepang,  menulis postingan di blog dengan intensif dan berjalan-jalan melanglang buana, terbang ke sana kemari dan menclok di Jakarta, Bandung, Amerika, dsb….dsb yang membuat pertemanan di blog juga bertambah banyak. Dan ketika saya harus pulang ke Jakarta dalam rangka menjenguk mama yang sedang masuk Rumah Sakit, saya sempat menghubungi Yoga, yang sebetulnya baru saja saya kenal lewat blognya yang lumayan “sulit dicerna”. Banyak bercerita berlatar filsafat dan yang menarik saya adalah ketertarikannya juga pada environment. Sampai saya bertanya padanya, apakah dia bekerja di LSM atau bahkan kantor negara yang mengurusi lingkungan hidup. Saya melihat ada banyak kesamaan pemikiran saya dengan Yoga, yang menyebabkan saya ingin bercakap-cakap langsung dengannya.

Yoga masih menutup jati dirinya
Yoga masih menutup jati dirinya

Padahal saya mengenal Yoga lewat blognya Danny julukan saya untuk Daniel Mahendra ….. seorang “cowok panggilan”…. baca tulisan bu Enny tentang cewek panggilan…. (bayangkan dalam 30 menit pertama bertemu ada 2-3 deringan telepon yang harus dijawab…. gimana bukan panggilan tuh?) yang saya tahu sibuknya super dupper, yang waktu tidurnya dikorting setiap hari untuk bekerja (dan pacaran mustinya hihihi), yang kerjanya berhubungan dengan buku dan editing…. sehingga membuat saya tertarik untuk mengetahui ilmu “membidani buku” di Indonesia. Dan dari percakapan lewat YM dengan Yoga dan Danny, tercetus juga nama Ibu Enny. Apalagi setelah Yoga mengatakan “Ibu Enny itu aslinya lain loh dengan isi blognya…. seru deh pokoknya”.

“Tapi apa ibu Enny mau ketemu saya?” Ragu karena saya merasa saya “bukan apa-apa” di mata Ibu Enny. Saya tidak dekat dengan ibu Enny, meskipun saya sudah beberapa kali berkunjung ke blog beliau. Saya merasa ilmu saya belum “sampe” untuk bisa mengerti tulisan ibu Enny mengenai Ekonomi dan Perbankan. Dari jawaban ibu Enny terhadap komentar-komentar juga meninggalkan kesan ibu Enny adalah guru yang tegas dan galak! Tanpa basa-basi….. Tapi saya diyakinkan oleh Yoga bahwa nama saya disebut juga dalam daftar blogger yang ingin ditemui….(bener tidak bu??? —semoga bener —hehehe)

Karena sebenarnya ketiga orang yang akan saya temui ini agak nyentrik, yang masing-masing mengaku sulit untuk “lumer” dalam percakapan dengan orang yang asing. Maka diputuskan untuk bertemu berempat saja (dan kelihatannya jumlah 4 ini keramat buat saya, karena asunaros juga terdiri dari 4 orang). Dan pertemuan ini benar-benar yang pertama dengan komposisi ini. Selain Yoga yang sudah pernah satu kali bertemu ibu Enny, kami semua belum pernah saling berjumpa. Tapi dengan keyakinan bahwa kopdar kali ini pasti butuh waktu lama, kami memilih untuk mulai dengan makan siang (dan tentu saja berlanjut dengan “tea time” dan “dinner” bahkan “supper”)

Sebetulnya saya agak ragu hari itu. Karena jam 4 pagi saya baru sampai di rumah setelah 3 jam berada di UGD RSPP untuk Kai. Kai demam sampai 39,8 sehingga berkat saran teman-teman Plurk, saya bawa dia ke UGD untuk periksa darah. Jangan-jangan dia DB atau typhus. Untung saja bukan. Dan setelah pulang dari RS, saya tidak tidur lagi dan mengerjakan terjemahan yang lumayan banyak itu. Terus terang saya bimbang. Pergi tidak pergi tidak…. Untung banyak yang bersedia menjaga Kai, dan sudah saya siapkan obat yang harus diberikan. Tadinya saya berencana pergi sendiri saja,  sms ibu Enny dan membatalkan kehadiran 2 anak. Tapi sesudah saya kirim sms, Riku merengek ingin ikut…. “Mama, aku mau ikut mama terus…kemana saja. Mama tahu? Di dunia ini yang aku sayangi cuman mama loh!” Mulailah dia pakai his charm memuji-muji supaya dia boleh ikut sama-sama. Kemudian saya pikir, asal dia tidak mengganggu apa salahnya ajak dia. Sudah lama aku tidak date berdua dia. Dan mungkin dia bisa temani Danny kalau ketakutan menghadapi 3 cewek. Meskipun dalam pembicaraan telepon dengan Danny, “Hati-hati mbak, anak-anak biasanya lengket sama saya” (yang kemudian saya jawab bukannya nenek-nenek, ibu-ibu dan gadis-gadis juga lengket pada kamu? — kayak lem tikus super kuat aja si Danny ini hahaha—)

Foto by Yoga ( really appreciate it...arigato)
Foto by Yoga ( really appreciate it…arigato)

Jadilah saya pergi dengan Riku, bertemu dengan sang Guru ibu Enny dan si pemilik lesung pipit Yoga. Danny masih dalam perjalanan (sampai kami pikir dia sudah keliling pulau jawa dulu sebelum sampai di PIM sekitar jam 5-6 an). Dari jam 1 sampai jam 8 malam …. 7 jam! (Yang lainnya masih nyambung loh sampai mall itu tutup, yang bisa dibaca di tulisannya bu Enny) Kok saya betah duduk di situ terus????  Memang saya sempat keluar-keluar jjl untuk mencari mainan untuk Riku, atau berulang kali mengambil makanan dan dessert yang “all you can eat” itu, tapi ini rekor untuk saya bisa selama itu berada dalam restoran yang sama dengan komposisi orang yang sama! (kalau di rumah sih biasa, ini di luar loh….) Dan tak sekalipun saya merasa pantat saya jadi tepos! hehehehe.

like a family kata Yoga.... (hei kamu juga anggota family itu bukan?)
like a family kata Yoga…. (hei kamu juga anggota family itu bukan?)

Chemistry…. entah apa namanya itu, memang ada sesuatu yang bisa menghubungkan 4 orang yang sebetulnya lebih banyak bertolak belakangnya ke 4 arah mata angin. Ibu Enny yang selalu berpikir ekonomis, menimbang untung rugi, planning semua dengan teliti. Tapi siapa sangka, Ibu Enny ternyata dulu penggemar BC, ratu novel romance, yang dulu waktu saya SMP/SMA juga sering baca. Alasannya novel BC bisa dipakai belajar bahasa Inggris, ringan, romantis tapi tidak jorok. Wah….teringat saya akan plot cerita BC yang selalu salah satu entah si laki atau si perempuan adalah orang kaya dan yang satunya lagi orang miskin, bertemu lalu happily everafter…. Ada juga ternyata persamaan saya yang que sera-sera dengan Ibu Enny, sang planner.

Kejutan dari Yoga untuk kami bertiga

Yoga yang awalnya pendiam, ciri khas orang bijak dan berpengetahuan, tapi membuat saya terpesona kala dia menebarkan senyuman yang khas dengan lesung pipit kecilnya. (Maaf Yoga, saya sempat meraba-raba lesung pipit kamu hihihi… you should laugh more often please). Dan Yoga pemilik hati yang sensitif dan senyum mempesona ini benar-benar tahu menyenangkan orang. As I said, I like surprises. Dan kali ini saya yang mendapat kejutan darinya. Yaitu sebuah lukisan “kepala atas saya, Riku dan Kai”. Her painting… yang dia buat sendiri dengan cat acrylic yang menonjolkan ciri khas Yoga Paint. Dan Yoga membuat lukisan itu untuk saya, Ibu Enny dan Danny… dan tentu saja self potrait. Sehingga bisa dijadikan banner nih. Banner untuk sebuah pertemuan. (Yoga, Gen suka sekali dengan lukisan itu dan dia langsung pasang di ruang makan kami. Terima kasih banyak)

Danny? si cowok panggilan ini tidak banyak omong memang waktu saya masih ada di situ. Karena apa? Selain dia juga sibuk menghabiskan rib yang segunung itu (jahat deh aku ngga dibagi biar sedikit…padahal pengen rasa tuh…) , dia sedang meratapi nasibnya menghadapi 3 cewek yang berasal dari generasi berlainan ini tapi jika berurusan dengan goda menggoda tidak bisa dibendung lagi. Sehingga larilah dia menemani Riku, anak saya yang bermain dengan komputernya. Dan gara-gara komputer inilah terbongkar rahasianya yang tersimpan dengan rapi selama ini (don’t worry Danny, saya yakin kita bertiga bisa jaga rahasia kamu kok, meskipun saya punya bukti fotonya hehehe. —pasti pembaca penasaran deh!)

Danny dan Riku dan komputer pembongkar rahasia

Satu lagi pertemuan yang mengesankan terjadi. Dan karena kesibukan saya menyelesaikan terjemahan (akhirnya bisa selesai tadi pagi…but…diberi tambahan dengan deadline hari Minggu), baru bisa hari ini saya posting tentang pertemuan itu (mascayo sudah menunggu posting ini yah…. nanti kalau ke Jakarta lagi, pasti saya akan buat waktu khusus untuk bertemu dengan Zia) . Kopi darat yang tanpa kopi, karena semua penyuka teh (saya boleh dibilang selama di Jakarta tidak minum kopi…gara-garanya juga karena tidak ada stock kopi sedangkan saya tidak pergi belanja sama sekali —- can you believe it? Imelda tanpa pergi ke supermarket untuk belanja keperluan bangsa cabe, bumbu instant atau molto dll memenuhi koper pulang ….. ) Kopi darat yang berlanjut dengan kopi udara, dan kopi maya……. kopi dangdut! dengan harapan bisa bertemu lagi jika ada kesempatan mudik lagi. (Mungkin lain kali bisa lebih santai sambil makan masakan sendiri ala jepang) Juga tidak menutup kemungkinan untuk bertemu blogger lainnya… atau bahkan kalau bisa saya ingin pergi ke Yogyakarta ke tempat ibu Tuti dan ibu Dyah, Pekan Baru tempatnya putri dan Sadam, Pontianak tempatnya Ita, semua tempat yang merupakan kediaman teman-teman blogger lain. Masih banyak waktu … masih banyak teman-teman dan masih banyak kesempatan untuk membuat kenangan manis untuk hari tua.

EN DAYORI
EN DAYORI

EN DAYORI singkatan Enny Daniel Yoga Riku….(mewakili saya) bisa diartikan sebagai Berita yang Sempurna.

Kebetulan yang aneh

Sebetulnya mau dibilang aneh bener juga nggak. Karena saya sudah tahu bahwa ada seorang tante juga yang masuk rumah sakit yang sama dengan mama. Dia di lantai 5 sedangkan mama di lantai 7 dengan penyakit yang berlainan.

Kemarin pagi mulai jam 6 aya aplus menjaga mama di RS, dan kemudian menemaninya ikut fisioterapi untuk kaki dan tangan kanannya (ternyata tangan kanannya juga sulit dipakai, yang saya ketahui baru waktu menemaninya menggosok gigi…. bukan tangannya yang bergerak tapi gigi/mukanya…Ffffhhhh).

Masuk ruang Fisioterapi, di sana ada 3 orang lain, satu anak kecil yang kemudian pergi karena sudah selesai, lalu ada seorang oma dan seorang kakek lain. Kemudian mama menempati tempat tidur di seberang si Oma Belanda ini. Kenapa belanda? Karena si Mas Bambang, ahli fisioterapi ini menyapa dia dengan sedikit bahasa Belanda.  Sambil mama disinar tangannya, si Mas Bambang ini melatih si Oma Belanda dengan, “Ein twee drie fier ….. tin 1,2,3,4 …10 bahasa Belanda. Aku rasa geli sekali karena pengucapannya itu `medok’ ..Belanda jawa gitu. Nah…setelah selesai, Si Mas Bambang ini menuntun si Oma berlatih jalan. Saat itu saya merasa aneh….

“Pak, pasien itu namanya Mutter?”

“Betul bu…. ”
Ya Ampun….. ya itu tante saya, alias kakak iparnya Mama. Saya tidak yakin dengan tampilang tubuh bagian belakang, tapi setelah meyakinkan wajahnya…

“Tante …ingat saya? (Duuuh pertanyaan yang salah ditujukan kepada orang yang aku ketemu 10 tahun sekali hehehhe)

“Coutrier…. Imelda”

“(Dalam bahasa Belanda) Tunggu sebentar… mana mama? dia kan juga di RS ini…”
“(Dalam bahasa Belanda) Ya…itu di depannya tante….)

Jadilah dua pasien adik ipar dan kakak ipar saling menjenguk di Ruang Fisioterapi. Sambil Mas Bambang dan petugas lain ramai bercanda dengan bahasa Jawa… (Kok iso ketemune di rumah sakit…. Si Mbak pinter boso londo gitu, kok iso ya? Yo, biasa denger… Lah…anakku ora iso jowo, tiap hari denger…krusak krusuk)

“Ya, saya juga iso jowo….hihihi, ngerti aja kalo bicara ya ngga bisa… ”

So, pagi kemarin ada lagi satu kejadian pertemuan yang aneh, meskipun prosentase kemungkinan terjadinya memang tinggi. Tapi saya pernah mengalami suatu pertemuan yang aneh di Lourdes, Perancis Utara Selatan. Lourdes adalah tempat Ziarah bagi umat Katolik dan setiap hari jutaan orang berkunjung di sini dari berbagai negara. Di situ saya bergabung dengan Day Pilgrim berbahasa Inggris, mengikuti misa bersama di bawah gereja utama…dan kebetulan karena grup ini kecil, saya yang disuruh mewakili grup membawa “papan nama” bahasa Inggris (seperti defile gitu deh). Nah berkat itu juga, tiba-tiba saya dipanggil oleh kakak teman sekelas, Mbak Elmi dan suami. “Imelda…. ya ampun kok bisa ketemu di sini”.

Ya memang aneh, karena dia dan suaminya sedang belajar Sastra Jawa di Belanda dan kebetulan ke Lourdes, sedangkan saya sedang short stay di London dan kebetulan ke Lourdes…. Dan di situ saya merasa bahwa dunia ini kecil adanya.

“Its a small world afterall”

Saya rasa banyak juga di antara teman-teman yang mengalami pertemuan aneh seperti ini. Bertemu kenalan di suatu tempat yang tidak diduga.

Mama dan Tante Zus (Eleonora Mutter)

Maafkan aku sahabat….

Di hari yang suci ini,

aku ingin mohon maaf dari lubuk hatiku pada semua sahabat blogger yang merayakan Hari Raya Idul Fitri 1429 H.

Semoga aku diampuni….

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Tapi terutama aku mau mohon maaf pada sahabat serumahku di Jepang yang telah tiada. Yang telah kembali pada penciptanya, tepat hari ini tanggal 1 Oktober 2005. Tiga tahun yang lalu… sebagai korban Bom Bali 2.

Maafkan saya Ratih, saya tidak bisa mengunjungi pusaramu. Tidak juga berusaha menghubungi keluargamu setelah itu. Aku takut dan juga tidak bisa menghadapi kenyataan bahwa kamu sudah tidak ada. Tapi ketahuilah aku selalu berdoa untukmu, dan untuk anak-anakmu yang harus kehilangan ibu di usia yang belia. Kita memang tidak terlalu akrab, aku sibuk dengan kuliahku, dan kamu dengan pelajaran bahasa Jepang dan part time job. Tapi kita pernah mengalami saat-saat senang dan susah bersama, selama satu setengah tahun di bawah satu atap. (yang rumah itu sekarang sudah tidak ada tih…karena disegel pemerintah …karena induk semang kita berhutang banyak sekali ternyata untuk kegiatan politik suaminya. Untung kamu tidak lihat tih… tahun lalu aku ke sana dan shock melihat tempat itu rata dengan tanah)

Kamu ingat kan Tih, kita sama-sama pergi nonton Asia Bagus, sama-sama berdendang “Won’t be long”…. Atau waktu kita berdua terkikik-kikik masuk toko “condomania” di Harajuku. Menyusuri jalan Takeshita yang penuh dengan punkers… terbengong-bengong kita lihat manusia aneh berseliweran di situ. Juga kita sama-sama menikmati hiasan lampu Natal di Ebisu.

Kita sama-sama juga selalu ikut rombongan kakek-nenek berwisata naik bus, sebagai “pelengkap” dan “penggembira” rombongan induk semang kita. Masuk (onsen) pemandian air panas bersama. Menonton festival kembang api….

Kamu juga yang mengajari aku untuk telaten dan sabar waktu pakai kutex… karena aku iri lihat jari kamu yang mungil itu selalu rapih terhias warna-warni kuteks. Aku masih simpan satu kutex dari sekian banyak kutex yang sudah mengering pemberian kamu waktu kamu pulang ke Indonesia. Oh ya tih, aku seminggu lalu bertemu mantan boss kamu di Travel Biro “Orient Pasific” loh. Kantor itu sudah tutup tahun 2000 katanya. Dunia ini memang kecil ya.

Aku juga sempat bengong waktu kamu cerita bahwa putra ibu K yang menempati kamar sebelahku itu ternyata g*y, padahal kamu sempat naksir dia (kemana juga dia sekarang ya? Perancis maybe). Kamu begitu bersemangat mencari pacar orang Jepang, dan ingin menikah dengan orang Jepang… suatu hal yang sangat aku herankan. Tapi ternyata memang Tuhan memberikan kamu jodoh orang Jepang yang tinggal di Indonesia, moslem lagi. Dan kamu mempunyai 2 anak perempuan yang manisssss sekali.

Tapi… Ratih…. kamu harus pergi secepat itu. Aku masih tidak percaya membaca berita di koran yang memuat nama kamu besar-besar sebagai korban Bom Bali 2. Duh…. Ratih … 35 tahun saja usia kamu waktu itu. Sampai saat ini pun aku masih merasa kamu ada di jakarta. Biarlah aku mengenang kamu di usia yang muda, cantik dan ceria…. semoga Tuhan mau memelihara anak-anakmu, dan seluruh anggota keluarga yang kamu tinggalkan. Semoga keluarga kamu bisa merayakan hari Idul Fitri tahun ini dengan ikhlas dan tabah.

Ratih Tedjojanti…”Won’t be long”….kita mungkin akan bertemu di alam sana. Tunggu aku ya…. dan kita masuk onsen bersama lagi jika ada onsen di sana.

Alm Ratih - Alm Obaasan - aku
Alm Ratih – Alm Obaasan – aku, foto diambil 30 Sept 1993 (15 tahun yal). Dua orang yang membantu aku melewati masa-masa awal kedatangan di Jepang yang sulit.