Kaki Telanjang atau Telanjang Kaki?

Sepintas artinya sama…memang sama-sama merujuk pada kaki yang tidak beralas. Namun jika melihat penjelasan berdasarkan jenis kata (tata bahasanya), Kaki telanjang itu adalah frase nomina (bisa disisipi kata -yang- ) dan mengacu pada keadaan/kondisi kaki tak beralas. Mungkin karena dia tidak punya, hilang, atau kondisi lain. Tapi telanjang kaki (bertelanjang kaki) adalah frase verba yang mengandung unsur kesengajaan untuk tidak beralas kaki. (Sekali lagi ini hanya pemikiran saya —yang bukan ahli linguistik juga— sehingga mungkin ada yang tidak setuju).

Nah, saya suka sekali bertelanjang kaki. Malas rasanya kalau kaki harus dibungkus oleh kaus kaki dan sepatu.  Jadi kalau di rumah (apalagi di Indonesia) saya selalu bertelanjang kaki. Padahal orang Jepang mempunyai kebiasaan melepas alas kaki di Genkan (pintu masuk) kemudian menggantinya dengan slipper (sandal rumah) . Kemana-mana dalam rumah pakai slipper. Kalau mau ke WC, maka tanggalkan slipper di luar pintu, kemudian pakai slipper khusus untuk WC, yang biasanya terbuat dari plastik. Or, kalau tidak mau pakai slipper, pasti pakai kaus kaki. Hanya di musim panas saja, wanita boleh tidak berkaus-kaki/stocking. Itupun kalau harus bertamu ke rumah orang lain, diharapkan memakai stocking tipis/pendek. Jadi sayapun akan mematuhi peraturan tersebut. (meskipun kadang kalau saya mengajar masih sering membuka sepatu… apalagi kalau kelasnya berkarpet uuuhhh enakan tanpa sepatu  kan(pakai stocking sih)? —-JANGAN DICONTOH!!!)

Ada satu foto yang ingin saya pasang di sini. Yaitu pintu masuk TK nya Riku. Di situ ada rak berkotak-kotak seperti loker, yang isinya sepatu. Pagi hari waktu datang, murid akan menanggalkan sepatunya (yang berdebu/berpasir/bertanah/basah) itu, taruh dalam raknya yang sudah ada nama murid. Lalu memakai sepatu “DALAM” namanya Uwabaki, yang biasanya berwarna putih, seperti sepatu balet/senam/gym. Sepatu Dalam ini tentu saja bersih, dan dipakai untuk kemana-mana di dalam lingkungan sekolah yang berlantai. Kalau sampai harus keluar sekolah dan menginjak tanah, maka harus mengambil sepatu “LUAR” tadi.

Saya pikir pertamanya, alangkah repotnya! Tapi itu adalah kebiasaan orang Jepang untuk mengganti sepatu dengan slipper di rumah, dan di sekolah diganti dengan sepatu (bisa bayangkan kalau pakai slipper di sekolah? pasti itu sandal sudah kemana-mana dipakai main tendang-tendangan, nemplok muka orang… chaos) Untuk kelangsungan kebiasaan yang ada di rumah itu bagus sekali. Dan setelah saya pikir-pikir, bagus pula untuk KEBERSIHAN. Tidak perlu mengepel kelas yang bertanah kalau becek, tidak perlu sering-sering menyapu, karena otomatis kondisi lantainya bersih dari debu (meskipun pasti ada yang membersihkan sekolah sekali sehari). Dan karena sepatu “Dalam” itu berwarna putih dengan model yang hampir sama, maka tidak ada anak yang sempat memamerkan merek sepatu yang dipakainya, dengan warna-warni mentereng, atau kelap-kelip lampu, atau bahkan ada yang memakai roda di bagian solnya. SERAGAM semua. (Ya saya tahu ada sekolah swasta di Indonesia yang mewajibkan sepatu hitam, seragam…. tapi kalau pikir masalah kebersihan masih lebih baik cara Jepang ini, dengan membedakan sepatu luar dan sepatu dalam).

Yang saya tahu, di SD juga pakai sistem Uwabaki (sepatu dalam) ini, karena waktu saya pergi ke calon  SDnya Riku, saya melihatnya. SMP dan  SMA pun masih memakai sistem ini. Suatu kebiasaan yang mungkin bagus untuk ditiru di masa datang (100 tahun lagi kali) , meskipun banyak kendalanya.