Kugadaikan Cintaku

“Di Radio aku dengar…. lagu kesayanganmu…..”

Enak ya lagunya si Alm. Gombloh ini. Menunjukkan keberadaan RADIO sebagai media untuk “bercinta”. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tapi dulu senang rasanya bila kita mendengarkan nama kita diucapkan oleh sang penyiar, …untuk xXx dari yYy dengan ucapan ……

Atau melalui Radio, saya juga menikmati sandiwara Radio dan menikmati suara Maria Oentoe yang bagi saya “bening” (istilah sapa ya ini)…. Pernah terlintas di benakku, aku ingin menjadi seperti dia. Seiyu bahasa Jepangnya. Kalau diterjemahkan harafiah “Artis Suara”. Dan ….tahukah Anda bahwa Seiyu di Jepang merupakan profesi yang menjadi incaran pemuda-pemudi Jepang. Banyak kita temukan sekolah-sekolah yang melatih profesional Seiyu ini. “Pengisi Suara” atau dubber biasanya melewati sekolah-sekolah ini. Saya tidak tahu apakah ada unsur “teknik” rekaman, tapi coba dengarkan suara si Nenek Sophie dalam film “Howl the Moving Castle”. Suaranya bisa berubah dari suara Sophie Remaja menjadi Sophie Nenek, dan kembali lagi. Pengisi suara si Sophie ini adalah seorang Artis yang menjadi adik tokoh Torajiro yang terkenal itu.

So, kembali ke Radio…. Radio mungkin merupakan media hiburan yang termurah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Saya rasa kalau Anda bermobil, dan lupa membawa CD/Kaset, juga pasti mendengarkan Radio di mobil Anda. (Hei….ada acara di suatu Radio di Jakarta yang selalu saya dengarkan dan itu damn good, humornya hidup euy). Radio juga sempat dipakai sebagai alat propaganda Jepang pada waktu pendudukan di Indonesia (1942-1945). Lewat Radio disiarkan lagu-lagu untuk senam bersama, lomba pidato bahasa Jepang, pengumunan-pengumuman penting bagi kejayaan Asia Timur Raya. Radio berperan penting dalam “Shakai Kyouiku” (Pendidikan masyarakat). Waktu saya meneliti tentang  Pendidikan Indonesia jaman Pendudukan Jepang inilah, saya tergelitik juga untuk menyelidiki peran Radio bagi pendidikan masyarakat… tapi belum ada waktu. Pikiran saya sekarang, Jika mau mendidik bangsa Indonesia secara menyeluruh, kita bisa menggunakan Radio… karena Radio merupakan alat yang termurah dan termudah.

Stop tentang Radio-radioan… sebetulnya yang ingin saya posting di sini adalah ingin bercerita mengapa di kolom perkenalan saya terdapat kata “Mantan DJ”. Sebetulnya saya juga tidak setuju istilah DJ ini tapi ternyata seorang “yang bekerja sebagai pembawa acara dan memutarkan lagu di Radio” awalnya disebut sebagai DJ. Atau jika bagian “bicara”nya lebih banyak dari “musik”nya sering disebut personality. Baru kemudian konotasi DJ adalah untuk mereka yang memutar lagu dari piringan Hitam or whatever dengan mencampuradukkan lagu-lagu sehingga menjadi suatu musik yang baru. Yang terkenal di Jepang misalkan DJ HOnda. Saya tidak tahu tentang DJ Indonesia bagaimana… (or mungkin sepupu saya, Richard Mutter bisa disebut terkenal, secara dia mantan pemain drumer PAS dan sekarang berprofesi sebagai VJ yang pernah juga mendapatkan penghargaan. Sorry aku ambil nama kamu sebagai contoh ya Ki.)

Saya mulai bekerja sebagai announcer, pembawa berita di Radio InterFM, Tokyo (76,1 Mhz) sejak usai menyelesaikan program Master di Yokohama National University (YNU), April 1996. Saya langsung diterima sebagai pembaca berita berbahasa Indonesia di situ karena mempunyai “pengalaman” dengan “Mike Radio”. Itu saja alasannya. Memang saya pernah sebelumnya selama 3 tahun kontrak mengisi sebuah acara di Radio Japan (radio NHK-Internasional) yang berjudul “Ogenkidesuka” yang disiarkan lewat Radio SW (ShortWave). Acara pengajaran percakapan bahasa Jepang selama 5 menit setiap minggu selama setahun, dan paket itu diulang selama 2 tahun (padahal honornya cuman buat setahun tuh….heheheh). Di NHK ini yang dipakai adalah pengalaman saya or latar belakang saya yang pernah mengikuti pendidikan menjadi guru bahasa Jepang. Bukan latar belakang “Radio” nya. Dan itu ternyata menjadi jalan pelicin saya menjadi “Orang radio”.

(NHK -Ogenkidesuka with Yasui-san    — Stasion’s opening ceremony -PSA personality)

Awalnya tugas saya hanya menerjemahkan berita dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dalam acara “Public Service Announcement” (PSA) …ini disiarkan satu kali seminggu dengan jangka waktu 3 menit saja. Tapi di hari yang sama, saya memperoleh jatah 2 x 3 menit untuk membacakan berita-berita aktual dalam bahasa Indonesia. Dan beritanya saya cari sendiri, edit sendiri dan bacakan sendiri, karena producernya tentu saja tidak mengerti bahasa Indonesia. Jadi kalau seandainya saya seorang provokator, saya bisa saja mengumumkan “seruan perang”, berbohong pada laporan isi berita. Jadi untuk acara 3x 3 menit ini saya harus datang seminggu sekali ke studio InterFM , yang waktu itu berkantor di Shibaura, dekat Tokyo Tower. Jadi kalau dipikir juga, biasanya honor di Jepang itu dihitung berdasarkan jam, saya berdasarkan menit. hehheh …cuma persiapannya itu loh….

Selain membaca berita, kemudian saya harus membuat Bansen (Bangumi Senden= Promosi Acara lain) di Radio kami dalam bahasa Indonesia. Misalnya … “Anda sedang mendengarkan Acara Prime Time bersama Charles Glover”. Si Charles ini biasanya minta kita bacakan dengan “suara bersemangat”, “suara seksi” (karena acaranya dia larut malam), dan “biasa-biasa”. Huh, suara seksi itu yang paling susah bo…..

Selain Bansen, saya juga mengerjakan narator untuk iklan-iklan misalnya Kartu Telepon Internasional. Tentu saja dalam bahasa Indonesia karena targetnya adalah orang Indonesia yang tinggal di Tokyo sekitarnya. Oh ya mungkin saya harus menjelaskan sedikit mengapa Radio InterFM ini memiliki siaran 7 bahasa asing, dan merupakan Radio berbahasa Inggris (90%) , satu-satunya di Tokyo. Awalnya adalah karena gempa KOBE yang banyak menelan korban jiwa. Nah disitu terpikirkan bagaimana orang asing yang tinggal di Jepang ini bisa mendapatkan “bantuan” informasi jika terjadi bencana alam yang besar. Dengan tujuan memberikan informasi pada warga asing itulah, akhirnya di Tokyo didirikan InterFM ini (meskipun setelah 10 tahun tujuan itu memudar dan akhirnya dibeli pihak swasta dan tidak menjadi internasional lagi…dan saya juga berhenti dari situ…after 10 years).  Jadi misalnya selama saya bekerja di situ, terjadi gempa besar di tokyo, saya harus datang ke studio dengan cara apa pun  dan bagaimanapun, untuk kemudian membacakan pengumuman-pengumuman bagi masyarakat dalam bahasa Indonesia. Karena itu juga saya tahu banyak tentang apa yang harus dipersiapkan dalam menghadapi gempa. (Untung saja selama itu belum —dan amit-amit jangan—- terjadi gempa besar di Tokyo).

Setahun sesudah acara PSA berjalan, saya ditawari dipaksa untuk menjadi DJ, host untuk program 1 jam dalam bahasa Indonesia. Program ini BOLEH diisi apa saja. TERSERAH kamu. Bagaimana-bagaimana nya semua TERSERAH kamu. Karena pihak Radio hanya BUTUH program 1 jam itu berbentuk kaset digital SIAP PUTAR setiap minggu. DOOOOr deh. So saya yang sorangan ini, harus menjadi Producer, Penulis naskah, Pemilih lagu (jangan sebut music director deh…kekerenan), Pemutar lagu, dan Cuap-cuap dan setelah itu menulis laporan lagu apa saja yang dipasang, dan berita apa saja yang dibicarakan ke dalam bahasa Inggris (mengisi Cue sheet), dan terakhir menuliskan keterangan lagu (judul, artis, album, produksi, lama lagu, lama diputar) untuk diserahkan ke JASRAC. Duuuh ,…… Help Meeee. Dan satu lagi teman-teman, saya waktu itu sudah 5 tahun di Jepang dan no touch dengan musik Indonesia… how can I know that in this very short notice. Untuuuuung banget waktu itu adik saya baru datang dari Indonesia untuk melanjutkan studi di sini, dan tinggal sama-sama (of course yah) dan dia yang input saya dengan band baru Indonesia saat itu, GIGI, Dewa, Slank dsb dsb dsb dsb dsb ….

Start from zero!!! Saya belajar bagaimana mainkan operator board, bagaimana rekam ke kaset digital DAT, menggunakan DAD, MD,  kemudian tidak boleh ada blank lebih dari 5 detik karena bisa menjadi “kecelakaan siaran” and so on, and so on. Sepertinya saya harus MENJELMA menjadi DJ (yes saya rasa saya bisa pakai kata DJ for this kind of work, not just announcer) dalam huh …no time. Saya hanya diberi satu kali studio rehearsal untuk coba alat-alat then sesudah itu langsung rekaman siaran pertama. SAKIT PERUUUUT. Untung lagi si Tina mendampingi aku, dan bantu serabutan…wong sama -sama ngga tau. Program yang satu jam itu butuh waktu studio 6 jam, padahal skrip nya sudah disiapkan, album juga sudah disiapkan. So saya sekarang tidak mau dengar kaset rekaman siaran pertama saya…. gagap jeh. kaku…  Ya gimana dong, sistem One Man Studio ini bagaimana bisa saya kuasai dalam waktu yang (bukan relatif lagi) BENAR-BENAR singkat. Bagaimana saya bisa nyaingi DJ kawakan seperti si Charles yang sudah “bangkotan” kerja di Radio. aduh aduh aduh deh. Dan musti diingat juga saya tidak kerja as a DJ saja waktu itu. Saya masih dan terus kerja sebagai guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Bahasa. Satu hari dalam satu minggu saya harus menderita euy. (satu hari lainnya yang PSA itu sudah “bukan apa-apa” lagi). Saya harus putar otak terus…ini acara 1 jam harus saya isi apa….. Nangis, nangis deh loe. Satu-satunya yang menghibur saya waktu itu adalah jam penyiarannya jam 2 pagi hari Sabtu (Jumat jam 26:00 istilahnya). Saya pikir ah sudahlah …toch tidak ada yang mau dengar jam segitu.

BUT …… perkiraan saya salah….. hiks….. (lanjutnya besok besok aja ya….capek….jadi inget masa lalu sih).

bersambung

NB: Nama program musik 1 jam itu saya namakan “Gita Indonesia” dan memakai Tema Song lagu-lagunya Ruth Sahanaya yang riang, berganti setiap tahun (untuk 4 tahun).

cerita lain mengenai kegiatan saya di Radio juga bisa dibaca di:

http://imelda.coutrier.com/2008/12/17/kartu-pos-itu/

11 gagasan untuk “Kugadaikan Cintaku

  1. Hery Azwan

    Saya dulu selalu kagum dengan penyiar radio. Bisa dibilang sejak SD saya ngefans banget dgn radio. Tidur malam pun selalu ditemani radio di dekat kepala….
    Kalau di Medan, radio favorit saya Citrabuana (dulu masih AM).
    Acara seperti Wono Kairun sangat saya gemari, begitu juga sandiwara Saur Sepuh…
    Waktu pindah ke Jakarta, radio favorit saya Prambors, SK. Ida& Krisna Show menjadi langganan saya.
    Acara2 Bagito dan Patrio dan grup lawak lainnya seperti Sebul grup sangat saya tunggu2, apalagi ada acara Temu Lawak, tempat semua grup berkumpul.
    Saat ini saya tetap mendengarkan radio, terutama di mobil, saat pergi dan pulang kantor. Radio favorit saya di pagi hari I-Radio, Trijaya dan Smart FM. Kalau sore, Trijaya, Elshinta dan Smart FM. Kalau Elshinta yang didengerin BBC jam 6 sore (kalau masih di jalan)…
    Wah, senang banget ya Ime-chan bisa jadi penyiar, eh DJ. Kalau dulu saya menjadi pendengar radio Inter FM, pasti saya udah jadi salah satu fans. He he…

    heheheh …ada fans clubnya loh (FC acaranya bukan FC nya saya) anggotanya 400 orang campur Jepang-Indonesia. Dan dari antara mereka lahir 3 couple yang merit……

    Balas
  2. Hery Azwan

    Lucunya, saya pendengar radio pasif, jadi tidak pernah berusaha untuk kirim2 lagu, baik melalui kupon, surat atau telepon. Kalau dulu sms belum ada…
    Jadi, mendengarkan saja bagi saya sudah menyenangkan. Apalagi saat ini saya bisa mendapatkan informasi headline koran2 ibukota setiap pagi. Minimal, meski nggak baca koran hari itu, berita2 utama kita sudah tahu. Tapi biasanya tetap belum puas kalau belum baca koran sendiri. Kuliah gratis di Smart FM setiap hari dari Senin s/d Jumat merupakan santapan yang sangat saya nantikan. TAnpa perlu membayar kita dapat mendengarkan kuliah gratis dari trainer, motivator dan public speaker. Wah, pokoknya kalau ngomongin radio, sayalah fansnya…
    Salam

    banyak memang yang bisa kita dapat dari Radio, tapi tergantung acaranya. Kadang banyak yang cuman gossip aja…(eh tapi itu kalau di sini ya). Salah satu yang tidak saya sukai di Indonesia, adalah pembawa acaranya kadang suka campur dengan bahasa Inggris yang tanggung-tanggung hehehe

    Balas
  3. nh18

    HAH … aku melongo …
    Gileee beneerr …
    The otherside of Emiko …

    Aku terkagum-kagum …
    Kumplit juga ibu kita yang satu ini …

    Mengenai radio … ya bener banget … kadang fans itu bisa termehek-mehek mendengarkan announcer / penyiar kesayangannya …

    Hmmm bravo em …

    Challenge buat saya, dan saya pikir kalau saya di Indonesia mungkin tidak ada kesempatan seperti ini. TPO

    Balas
  4. Lala

    aahhh..
    penyiar radio… one of my dream job… Uh, kapan yah… ^^

    eniwei,
    emang bener, radio bisa menjadi salah satu sarana yang murah dan terjangkau untuk menyampaikan edukasi. Tapi tetep, kemasannya harus menarik sehingga siarannya mau didengerin..

    tapi…
    aku jarang banget dengerin radio… dulu pernah punya ketakutan tersendiri kalo ngelakuin itu. Ya, karena pernah, satu malem, pas lagi sedih karena Pacar jauh, eh lagunya mellow surellow… Jadinya ya malah ngga karuan… hahaha…. –> benar-benar alasan yang nggak banget deh ya.

    Sekarang sih, udah nggak parno lagi, tapi tetep aja jarang banget. Entah kenapa lebih suka dengerin MP3….

    @ Om:
    AH… she’s a wonder woman, rite?? Remember??? ^_^

    Hmmm kalau MP3 nya pake head phone aku ngga suka. Dulu setiap naik kereta pasang, tapi lama-lama menjadi Noise saja. Saya merindukan suasana ‘tanpa suara’ baik itu radio, TV atau dering telepon. Terlalu ribut sih Jepang.
    Eh la, seperti di telpon, aku lebih prefer Super woman, soalnya bisa pinjem bajunya Superman. (bisa pake Hings juga hahaha). Kan Wonder woman ngga ada Wonder Man nya kan?

    Balas
  5. mang kumlod

    Kakkkooiii…! Sughoi..sughoi… Hebat nih emiko-san.

    Walah kalo ngomongin radio mah, gw banget, emi-san. Abis pulang kantor kunyalakan radio sampe tidur (radio masih hidup). Radio baru mati pas mau berangkat kerja. Radio temen sejatiku… (Saya ga suka nonton TV yg acaranya jijik)

    Di radio saya selalu stay-tune SMART FM. Stasiun radio yg keren banget. Kadang kalau pengen santai di pagi hari dengerin Si Putri sama Rafik di iRadio. Ah Emiko-san pasti ga tau. 😆

    Tapi saya punya masalah dengan radio. Saya ga bisa mengira2 wajah pembicara dari suara. Bahkan setelah tau wajahnya pun saya masih ga bisa menyinkronkan antara wajah dan suaranya. Paragh…!

    hehehe, suara enak dipikirnya wajah cantik dan masih muda…. saya pernah ketemu fans acara saya, dan dia bertanya ….
    “yang namanya Imelda yang mana?”
    “Ya…saya Imelda”
    “Wahhh aku pikir umur 17 tahun”…sambil memperlihatkan wajah kuciwa…. hiks…aku disangka 17 th. OMG.

    Balas
  6. gunawanwe

    Ooo.. kirain DJ yang biasa mangkal di Tempat Dugem :-p
    Tapi emang radio merupakan teman favorit buat begadang kalo lg ada kerjaan.. lebih asik dari tipi malah

    Sayangnya Tempat Dugem ngga mau memperkerjakan cewe segede gajah gini sih…. Heheheh. FYI aku ngga pernah ke disco loh, jadi pasti ngga bisa jadi DJ di tempat dugem. Bisanya jadi DJ di BlueNote atau Classic Cafe heheheh.

    Balas
  7. Ping-balik: Kartu Pos itu…. | Twilight Express

  8. AtA chan


    Seru banget pengalamannya mbak..
    Yang ku tau penyiar radio punya keseimbangan otak kanan dan kiri..
    Biasanya bisa berphikir cepat spontan dan smart tentunya 😉

    Balas
  9. Tuti Nonka

    Wah, seru banget Mbak pengalamannya. Meskipun aduh-aduh dan nangis-nangis, tapi sukses kan? Memang ada kalanya ketika kita dipaksa untuk belajar dalam waktu sangat cepat, akhirnya kekuatan kita muncul tak terduga. Jadi siaran yang satu jam itu siaran tunda ya, direkam dulu? Wah, kalau on air, pasti lebih stres lagi ya …

    Saya belum pernah jadi penyiar radio, tapi mengisi acara di radio pernah beberapa kali. Pengalaman pertama sih waktu SD, nyanyi koor bersama teman-teman diiringi piano.

    Saya sudah baca lebih dulu posting berjudul “Kartu Pos Itu”, tidak lama setelah diposting Mbak Imel. Mengharukan kisahnya …
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Di Radio, Aku Dengar … =-.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *