Arsip Bulanan: Maret 2012

Cakwe dan Pears

Kalau membaca judulnya memang tidak ada hubungannya sama sekali 🙂  Cakwe adalah sejenis roti goreng yang sering dipakai untuk bubur ayam. Bahasa Jepangnya chuuka agepan 中華揚げパン tapi sebetulnya namanya dalam kanji adalah 油条 dibaca ヨウティアオ di daerah Cina sana atau secara Jepang dibaca yujou ゆじょう. Dulu, setiap kali aku mau membuat bubur ayam, aku harus pergi ke Ameyoko, sebuah daerah pertokoan bahan-bahan masakan yang banyak pula menjual bahan makanan dari negara selain Jepang. Atau yang lebih dekat di Shin Okubo, daerah yang banyak “dikuasai” pertokoan korea. Secara jarak memang Shin Okubo lebih dekat, tapi terus terang aku belum pernah belanja langsung ke sana. Ada sebuah toko Indonesia di Shin Okubo yang menjual bahan makanan dari Indonesia, tapi aku pesan lewat online, dan dikirim ke rumah. Sayangnya Toko Indonesia ini tidak menjual cakwe, karena cakwe itu asalnya dari China. Paling asyik sih kalau beli di pecinan – China Townnya langsung (di Yokohama).

Karena itu sudah lama aku tidak masak bubur ayam. Solusinya, aku harus belajar membuat cakwe! Lucunya, sejak setahun lalu waktu aku cari resep di mana-mana, ada bahan bernama sodium bicarbonat, haduh musti cari itu di mana di Tokyo? Putus harapan ditambah rasa malas maka proyek membuat cakwe hanya ada di angan-angan. Baru kemarin aku coba lagi mencari resep cakwe yang mudah dan ketemu. Langsung deh aku persiapkan bahan-bahannya. Tentu saja aku tidak begitu berharap akan jadi. Biasanya sih, resep baru untuk pertama kali akan gagal.

bentuknya amburadul!

Ternyata memang benar, entah siapa yang salah, atau bahannya yang memang begitu, adonan cakwe-ku tidak bisa ditekan dengan roller. Boro-boro tekan, nempel semuanya. Akibatnya, aku potong langsung pakai pisau lalu tarik saja dengan tangan…asal panjang. Biarlah bentuknya tidak karuan, aku hanya ingin tahu bagaimana jadinya waktu digoreng. Eeeehhh ternyata rasanya OK punya! Kupikir biarlah bentuknya tidak seragam, toh nanti diiris halus waktu dipakai untuk bubur ayam. Sayangnya aku belum bisa coba buat bubur ayam hari ini, karena hari Jumat, hari pantang makan daging untuk umat katolik.

Tapi kemudian aku pikir, cakwe itu kan kalau baca tulisan kanjinya pun dikatakan sebagai roti goreng. Dulu waktu aku masih anak-anak, mama sering membuat roti goreng yang dilabur gula halus. Duuuh apa namanya ya? Cari punya cari, aku ketemu namanya Oliebollen, dan dari keterangan yang kudapat, oliebollen itu ternyata makanan khas Belanda waktu Tahun Baru! Hmmm kemudian aku cari resepnya dan melihat cara pembuatannya lumayan cukup mudah.

Oliebollen, roti gorengnya orang Belanda!

Sambil menunggu adonan yang diberi ragi itu mengembang, aku mengutak-utik situs pinterest.com. Sudah pernah dengar situs ini? Aku baru saja tahu, dan ternyata situs itu ya situs soc-med juga yang menyediakan space untuk kita meng-pin seperti kita memasang paku payung pada cork board kita. Kita juga boleh memasang paku payung foto-foto dari anggota yang lain. Ya semacam kita mempunyai foto album di situ untuk dipandangi sewaktu kita senggang. Dan sambil melihat foto-foto yang ada, aku membuat beberapa album. Tapi ternyata kegiatan ini membuat aku menangis 🙁

Ya, aku membuat album berisi foto-foto negara dan tempat yang ingin dan sudah aku kunjungi. Jadi teringat tempat-tempat yang aku kunjungi bersama mama 🙁 Langsung deh, sambil menangis mengenang hari-hari menyenangkan bersama mama di negara-negara itu. Ah, kapan-kapan aku ingin mengulang kembali perjalanan itu…. atau lebih baik jangan ya? Ditambah dengan harumnya oliebollen yang kubuat. Adonannya memang agak cair tapi rasanya mirip sekali dengan yang mama buat untuk kami dulu…. 25-30 tahun yang lalu. Tambah mewek deh:( Dan mungkin perasaan sensitif ini sudah dimulai sejak tadi malam, waktu aku mandi. Yaitu waktu aku membuka sabun Pears kesukaan mama 🙁

Salah satu sabun kesayangan mama....

Rasa, sentuhan, ingatan, kenangan bersama orang yang kita kasihi memang selalu lekat dalam kehidupan kita. Aku sengaja tidak “menutup” kenangan-kenangan itu. Karena kupikir  aku tetap harus kuat. Membuka kenangan itu sekarang atau nanti itu sama saja. Menyedihkan, tapi harus dijalani. Hari Senin tanggal 2 April nanti adalah 40 hari Mama dipanggil Tuhan, kembali ke rumah Bapa. Semoga mama berbahagia di sana ya. Doakan kami yang masih berziarah di dunia ini ya ma, seperti kami juga mendoakan mama di surga sana.. Kenangan bersama mama akan selalu kusimpan dalam hati. I love You Ma….

Kapan Kamu Merasa ‘Bodoh’?

Kalau dulu aku pernah menulis tentang Kapan Kamu Merasa “Tua”?, hari ini aku ingin menulis tentang “Kapan kamu merasa ‘bodoh’?”.  Memang belum ada survey dengan pertanyaan ini, mungkin karena terlalu luas permasalahannya. Bodoh dalam bidang tertentu atau bodoh dalam kehidupan sehari-hari. Atau bisa juga karena orang Jepang sering sekali mengatakan “baka (bodoh)” untuk dirinya sendiri. Aku sendiri pernah ditegur oleh Riku waktu dia masih kecil, waktu aku berkata: Aduh mama bodoh!. Dan dia berkata, “Mama tidak bodoh, kan mama sensei!” hihihi

Kalau googling, kapan ya orang Jepang merasa bodoh, lumayan lucu-lucu dan kelihatannya ada juga orang Indonesia yang melakukannya. Misalnya:

1. Tiba-tiba jatuh di tempat yang tidak ada apa-apanya.
2. Membeli buku yang sama 2 kali
3.  Waktu membeli barang, sudah dibayar, tapi barangnya lupa di kasir sampai kasirnya panggil-panggil.
4. Membuka wikipedia, tapi kemudian lupa mau memeriksa apa
5. Salah pakai conditioner sebagai shampoo sehingga terpaksa harus membilas lalu pakai shampoo dan conditioner lagi. Tapi ini masih mending karena masih dipakai di kepala daripada salah mengambil shampoo dipakai untuk sabun 😀

Dan ternyata ke 5 kebodohan ini aku pernah lakukan loh. Cuma biasanya yang seperti itu langsung dilupakan karena tidak “masuk di hati”. Aku sendiri sebal pada diri sendiri jika melakukan kesalahan. Sudah baca Maternity Blue kan? itu kebodohanku yang tak terlupakan waktu aku hamil… Juga pernah aku meninggalkan sandal yang kupakai di lapangan parkir, gara-gara aku kalau nyetir lepas sandal. Nah pas mau turun…loooh kemana sandalku ya? Terpaksa deh kembali lagi “menjemput” sandalku itu.

Terakhir waktu pergi ke Tohoku bulan Januari kemarin. Aku salah melihat jam keberangkatan shinkansen (kereta cepat), kupikir pukul 12:15 jadi tenang-tenang saja. Ternyata itu tiket untuk pulang, tiket untuk perginya jam 10:40 hahaha. Dan karena tiket itu khusus, tidak bisa diganti karcisnya, terpaksa beli baru lagi….duuuuh saat itu aku merasa bodoh sekali.

Dan satu lagi baru-baru ini aku merasa bodoh, karena sudah mempercayai seseorang teman. Dia dari dulu berkata bahwa dia tidak bisa naik pesawat sama sekali, sedekat apapun. Jangankan Jakarta-Surabaya, Jakarta Singapore saja tidak bisa (eh itu sama ya jaraknya hehehe). Tapi ya begitu deh aku jadi percaya bahwa dia memang punya “penyakit” dan aku selalu membela dia di hadapan teman-temannya. Ehhh ternyata tiba-tiba dia malah menjadi menjadi tour leader ke Bangkok! Well, ke Bangkok kan mesti naik pesawat ya? Ngga bisa naik getek hehehe. Jadi ya gitu aku merasa bodoh sekali karena pernah percaya padanya, yang kusangka sahabat. Herannya jika (mantan) pacar yang begitu, aku tidak merasa bodoh loh…. aku merasa SIAL! hahaha.

Bagaimana dengan teman-teman pernah merasa bodooooh sekali? (Jangan-jangan sering ya? hihihi)

Graffiti or Rakugaki

Pasti tahu dong ya apa arti grafitti. Ternyata asal katanya dari bahasa Italia: graffiato  yaitu seni mencongkel dari keramik atau dinding untuk menimbulkan kesan tertentu. Dan kata graffiato itu berasal dari  bahasa Yunani γράφειν — graphein yang artinya menulis. Dan kalau mendengar graffiti pasti kita membayangkan tulisan-tulisan atau lukisan dengan cat di dinding-dinding atau tangga, tempat-tempat umum. Ada yang berantakan, ada uang keren dan artistik. Dan ntah kenapa aku selalu ingat tulisan Boedoet di tembok-tembok Jakarta 😀

Itu kalau graffiti yang di tembok. Karena sebetulnya aku kalau mendengar kata graffiti selalu teringat celana jeansku yang bermerek graffiti jaman aku masih SMP/SMA. Merek itu sekarang masih ada ngga ya? Maklum aku tidak seperti mas trainer yang bisa beli Levi’s 😀

Ada juga kok coretan di jembatan di Tokyo

Tapi kalau soal coret-mencoret baik dengan bolpen/alat tulis atau dengan benda tajam, biasanya juga terjadi dalam lingkungan sekolah kan? Aku tidak yakin (mantan) sekolah kalian bersih dari coretan. Ya di meja, kursi, kusen pintu, pintu, dinding atau…di wc. Dan aku merasa hebat waktu pergi ke SD nya Riku (Mungkin karena masih SD ya?) aku tidak melihat satu pun coretan di meja, pintu ataupun di WC. Bahkan di WC perempuan tertulis begini: “Eits… mau menulis di sini? Rakugaki (mencoret-coret) berarti hatimu sedang “sakit”. Hubungi guru/pembimbing untuk berdiskusi ya”. Hmmm berarti mencoret = bermasalah.

Bagaimana di WC Umum? Ya kadang-kadang aku temukan juga sih coretan-coretan tidak sopan, atau nomor telepon cewek dengan pesan “siapa yang butuh teman, silakan telpon saya”. Kalau di stasiun besar malah lebih banyak disebarkan pamflet kecil sebesar kartu nama dengan foto cewek setengah bugil dan nomor telepon mereka. Di WC perempuan juga ada, tapi memang yang paling banyak di dalam box telepon umum.

Kemarin ada acara televisi yang menarik yaitu tentang sekolah di seluruh dunia. Pesertanya perwakilan dari berbagai negara, dan biasanya dibuat ranking, negara mana yang terbanyak. Pertanyaannya banyak dan salah satunya memang tentang coretan di sekolah… apakah ada atau tidak. Kalau di Jepang coretan di sekolah yang paling banyak adalah ai-ai gasa yaitu gambar payung dengan nama laki-laki dan perempuan berpasangan… yah seperti H love I misalnya….. Meskipun ada negara yang tidak ada coretan (saking kerasnya pendidikan) tapi kebanyakan di seluruh dunia, kenakalan itu SAMA.

Gambar aiaigasa.....

Selain coretan, kenakalan atau permainan yang biasa dilakukan dalam kelas adalah :

– mengirim surat kepada cowok/cewek yang ditaksir dengan merelay sampai di tangan ybs. (Hayooo pernah begitu ngga?) Kadang melipat kertasnya menjadi bentuk pesawat dan “menerbangkan” ke ybs.
– mencoret-coret buku pelajaran dengan membuat kumis dan kacamata pada foto manusia yang terdapat dalam buku pelajaran (kayaknya ini di Indonesia juga banyak deh hehehe)
– pocongan/ jelangkung (ternyata banyak loh di negara lain kegiatan yang memanggil “roh” untuk menunjukkan sesuatu, meskipun caranya berbeda. Kalau di Indonesia pakai jangka kan?)
– menemukan cinta pada pandangan pertama di sekolah

Lucu juga melihat acara TV tersebut, karena aku jadinya juga nostalgia kenakalan-kenakalan jaman sekolah dulu. Inget banget meskipun tidak melakukannya sendiri, ada anak laki yang menulis di kertas berselotip misalnya “Aku orang gila” “Colek aku dong” dsb dan menempelkan di punggung temannya. BAHKAN ada temanku benar-benar nakal, dia menempelkan di punggung GURU! ampuuun deh.

Belum lagi main jepret-jepret kertas dengan karet gelang sebagai katapel. Atau yang juga sering dilakukan teman pria adalah menarik tali bh teman perempuannya. Duuuh sakit kan tuh kalau dijepret gitu …tapi memang sih yang jadi korban biasanya anak perempuan tertentu. Satu-satunya kenakalan yang pernah aku lakukan adalah “makan permen di kelas” dan hampir satu kelas sampai dimarahin kepala sekolah …hiks

Tapi kenakalan waktu SMA sudah berubah, karena satu sekolah perempuan semua. Jadi tidak ada tuh yang seperti lirik lagu “Nostalgia SMA” karena satu sekolah kan perempuan semua. Dan kenakalannya lain lagi sihhh hehehe. (Ada beberapa yang sudah aku tulis di Who Am I sih)

Pernah melakukan kenakalan dalam kelas seperti di atas? Atau mungkin kenakalannya ada yang lebih canggih lagi?

 

 

 

Le-5 Jepang

Belajar bahasa Jepang sedikit ya….. 1 itu ichi, 2 itu ni, 3 itu san, 4 itu yon, dan 5 itu go…. Jadi Judul di atas bisa dibaca sebagai LEGO Jepang.

Berapa tahun Lego masuk di Indonesia ya? Well jawabannya aku biarkan pelego di Indonesia yang menjawab. Tapi kalau dilihat dari sejarah Lego, mestinya Lego sudah berusia ….. hmmm hampir 80 tahun jika melihat sejarah berdirinya perusahaan bernama LEGO di tahun 1934. Sedangkan di Jepang ternyata Lego tahun 2012 ini sudah 50 tahun!

 

LEGO 50th years in JAPAN Make Together! BUILD UP JAPAN Tokyo Kokusai Forum, Yurakucho. March 25th, 2012

Nah, kebetulan Gen menemukan informasi bahwa dalam rangka ulang tahun ke 50 Lego di Jepang, Lego Japan mengadakan acara yang bertajuk Build Up Japan, Minna de tsukuro.
Kebetulan hari Minggu kemarin itu Gen libur dan yang paling penting, acara ini tidak dipungut bayaran! ho ho…. Betapa senangnya Riku waktu Sabtunya dia diberitahu bahwa akan diajak berdua papanya ke Tokyo Forum. Aku tinggal di rumah dengan Kai, karena sebetulnya sejak tanggal 20 Maret lalu Kai demam, naik turun. Kamis sudah dipaksa pergi ke Shinjuku, dan meskipun dia sudah tidak demam, batuknya cukup parah. Sudah pasti tidak bisa diajak ke tempat yang banyak orang begitu.
Tentu saja sebelum berangkat Riku sudah wanti-wanti untuk memberikan alasan yang tepat untuk Kai sehingga Kai tidak merasa “terkucil”. Eh tapi waktu mereka pergi jam 9 pagi (acaranya mulai jam 9 sampai jam 5 sore) Kai belum bangun, jadi Kai tidak memaksa untuk ikut. Setelah ini tulisan berdasarkan laporan Gen dan Riku.

Di tempat acara, mendapat giliran pada waktu yang tertera di gelang. Menempati meja yang disediakn dan membuat bentuk sesuati peraturan yang tertulis di kertas. Bentuk boleh apa saja! Bebas berkreasi

Mereka tiba di tempat acara Build Up Japan itu sekitar pukul 10:30 dan Riku langsung mendaftar dan mendapat “kloter” grup Biru dari pukul 11, tapi harus berkumpul 15 menit sebelumnya. Karena banyak peserta mereka dibagi beberapa kelompok dengan waktu masuk ruangan yang berbeda-beda. Satu kali “bermain” selama 45 menit, tapi boleh masuk berkali-kali asal mau mendaftar saja.

Membuat lego yang pertama, sebuah rumah. Menyerahkannya pada panitia. Peta Jepang mulai terbentuk

Waktu pendaftaran itu Riku mendapat satu papan lego sebesar kurang lebih 15 cm x 15 cm berwarna putih. Lalu waktu masuk tempat acara, mereka berdiri di depan meja yang penuh dengan parts Lego berbagai bentuk, tapi putih semua. Memang tugas peserta membuat bangunan apa saja kreasi sendiri, untuk kemudian diserahkan kepada panitia. Dan hasil karya itu akan dipasang pada peta Jepang yang ada di tengah-tengah tempat acara. Jadi kegiatan bersama-sama membuat PETA JEPANG. Bisa dibayangkan hasil akhirnya nanti…pasti keren!

Bangunan yang ke dua Tower dengan puncak bebek. Panitia meletakkan di bagian peta bersama dengan skyscraper lain. Ada kuil di tengah-tengah yang lain sendiri dengan figurin banyak!

Untuk pembuatan pertama dia membuat sebuah rumah kecil…dan tentu dia tidak puas dong. Jadilah dia memaksa papanya untuk antri lagi di grup berikutnya. Jadi setelah makan siang di sekitar Tokyo Forum itu, mereka masuk lagi dan Riku membuat sebuah menara kotak dengan bentuk bebek di puncaknya (tapi waktu aku bilang seperti bebek, dia marah loh hihihi, mungkin dia bayangin sesuatu yang lain kali yah :D)

Tower dengan antena yang tinggi, karya ke3, dan taman Jepangnya papa Gen. Akhirnya peta Jepangnya penuh juga!

Dua kali main, masih ada banyak waktu, padahal mereka ingin melihat juga bentuk akhirnya bagaimana. Jadi Gen dan Riku antri lagi untuk ikut grup terakhir. Dan di sini Riku membuat sebuah tower dengan antena tinggi, sedangkan papa Gen membuat taman Jepang 😀 (Waktu kutanya kok kamu ikut main sih? Dijawab : Kan siapa saja boleh, tidak ada batas umur hehehe)

Hasil keseluruhan peta Jepangnya

Memang menyenangkan ya jika bisa melakukan sesuatu yang disenangi, apalagi untuk tujuan yang lebih besar, dan bisa dinikmati hasilnya. Waktu melihat peta Jepang itu kan bisa dengan bangga, “Itu aku buat bagian yang itu looooh”, apalagi Riku membuat  3 bangunan. Kegiatan membuat sesuatu bersama ini memang banyak diadakan di Jepang. Menggabungkan anggota/personil untuk bekerjasama mencapai satu tujuan. Memang cuma mainan sih, tapi itu besar artinya untuk perkembangan jiwa anak. Sudah pernah baca 30 orang 31 kaki? Atau Merah, Putih dan kebersamaan dan Tarik Tambang vs Tarik Galah? Atau permainan domino yang kutulis di  Menumbuhkan Kemampuan Berkreasi pada Anak IndonesiaSemua kegiatan itu intinya satu: Mempunyai tujuan yang sama yang hanya bisa diraih dengan kerjasama! 
Setelah acara Lego selesai, Father and Son ini sempat jalan-jalan ke Ginza loh. Riku belum pernah aku ajak ke Ginza sih, abis akunya juga tidak suka. Ke Ginza tanpa belanja dan duit sama juga boong 😀 Yang dilihat toko-toko mewah yang cuma berani lihat dari luar. Kalau ke Ginza itu Window shopping … tapi aku sih males buang waktu untuk window shopping hehehe.  Kalau ke Ginza biasanya cuma untuk makan shabu-shabu di sebuah restoran kesukaan papa, atau ke Itoya, sebuah toko stationery yang lucu. Nah, malam itu Riku diajak  papanya makan di sebuah Beer Halls yang dibangun pada tahun 1934. Bangunan mirip “katedral” karena lukisan mozaik di dinding itu menyajikan bir dan makanan kecil teman minum. Tapi tentu saja untuk anak-anak tersedia jus. Lucunya Riku sempat berkata pada papanya, “Kasihan mama tidak diajak. Nanti pulang beli bir dong buat mama ya!” …. baiknya anakku…. (tapi papanya lupa belikan bir, soalnya mamanya minta tolong belikan Kentucky Chicken untuk makan malam karena mamanya malas masak, eh tepatnya karena tidak ada bahan untuk dimasak di dalam lemari es hehehe).

Jalan di Ginza kalau minggu jadi surga pejalan kaki karena mobil tidak boleh lewat. Kanan adalah Lion Beer Hall yang terkenal di Ginza

Gadis Dalam Kotak

Terjemahan dari Bahasa Jepang “Hakoiri Musume“, tapi sebetulnya bukanlah arti sebenarnya, karena hakoiri musume menunjuk pada  anak gadis yang dipingit orang tuanya. Dan  memang boleh dikatakan aku dulu seperti “hakoiri musume” . Waktu kecil terus terang aku tidak pernah pergi bersama teman ke suatu tempat atau ke rumah teman itu, paling-paling acara sekolah/pramuka.  Mana pernah pergi ke rumah teman, karena sampai dengan SMP aku naik bus antar-jemput,  jadi pasti langsung pulang ke rumah. Akhir pekan? Ya sudah pasti berada di rumah atau keluar bersama keluarga. Aku ingat dulu kami sering pergi bersama ke Ancol untuk berenang. Karena adikku sakit asthma dan dipercayai akan sembuh jika sering berenang di laut. Atau kami akan pergi ke rumah oma dan opa dari mama yang tinggal di Bogor. Perjalanan panjang, karena dulu belum ada jalan tol. Kami selalu mengambil jalan lewat sawangan -parung-semplak. Kami senang kalau sudah bisa melihat tugu “helikopter” karena berarti sudah dekat. Ah papaku dulu setia sekali menyetir minimum sebulan sekali berkunjung ke rumah opa Bogor.

Sabtu kemarin, seperti yang sudah kutulis di Achievement, Riku diajak pergi menonton bersama 3 orang temannya. Mereka berempat menamakan kelompoknya sebagai grup lego, karena mereka bertemu  seminggu sekali untuk bermain lego. Ibu salah satu teman itu mengatur acara pergi nonton ini, dan dia akan mengantar jemput 4 abang ini ke bioskop yang terletak 15 menit naik mobil dari rumah kami. Bukan itu saja, ibu yang lainnya bahkan sudah membelikan karcis bioskop 2 hari sebelumnya, sehingga mereka tidak usah mengantri lagi. Dan yang aku rasa lucu, ibu-ibu ini sampai mengatur berapa uang yang harus dibawa setiap anak. Karena diperkirakan mereka akan membeli popcorn/minuman jadi perlu membawa bekal uang. Begitu pula setelah selesai menonton si ibu yang sama akan menjemput ke 4 bocah dan mengajak mereka makan siang di sebuah restoran dekat rumah. Itu pun ditanyakan kepada masing-masing ibu apakah boleh. Karena diperkirakan anak-anak akan bermain lagi bersama setelah menonton, tidak bisa langsung pulang…. (bayangkan cerewetnya anak-anak membicarakan film yang telah mereka tonton bersama, atau bahkan meniru karakter yang ada). Seandainya ada ibu yang tidak setuju, misalnya karena tidak mau mengeluarkan uang ekstra untuk makan siang, maka si anak akan diturunkan di rumahnya. Menurut perhitungan si ibu itu untuk popcorn dan makan siang, cukup membawakan si anak 1000 yen. Dan jumlah itu diseragamkan, tidak ada satu anak yang membawa lebih untuk mencegah rasa iri! Aku rasa cara ini bagus sekali.

Filmnya tentu saja sudah didub ke bahasa Jepang!

Jadi pagi-pagi aku memberikan uang 1000 yen kepada Riku untuk popcorn dan makan siang, serta amplop berisi 1500 yen sebagai pengganti karcis bioskop yang sudah dibelikan ibu yang lain. Memang orang Jepang semuanya serba terencana ya. Si ibu yang membelikan karcispun langsung mengirim email memberitahukan padaku bahwa dia sudah menerima uang 1500 dari Riku. Kubayangkan kalau di Indonesia, pasti diem aja tuh hehehe.

Waktu mengantarkan Riku sampai di pintu rumah, Riku sempat berkata: “Nanti aku belikan pop corn bagian Kai juga ya ma”… Haduh kalau begitu kan uangnya kurang …… segitu sayangnya dia sama adiknya. Jadi aku bilang, “Jangan beli untuk Kai. Untuk Riku saja. Nanti Kai tahu kamu pergi nonton dan dia iri….Yang penting kamu enjoy saja ya ”

Film Starwars 3D yang ditonton itu mulai pukul 11:05. Menurut cerita Riku dan dari email ibu yang mengantar, aku tahu bahwa rupanya, si ibu ikut turun dari mobil dan mengantar anak-anak itu sampai ke dalam bioskop. Sebelum masuk studionya, mereka belanja pop corn dulu. Dan rupanya mereka takut menghilangkan dompet berisi sisa uang mereka, jadi semua anak menitipkan dompet mereka pada si ibu sebelum menonton. Hahaha lucu juga…. Begitulah kalau di Jepang, anak-anak tidak dibiasakan membawa uang saku ke sekolah soalnya. DILARANG sama sekali membawa uang ke sekolah. Jadi tidak ada tuh kasus kehilangan uang/dompet. Transportasi? Ya kan mereka semua jalan kaki ke sekolah. Sekolah Riku adalah sekolah pemerintah daerah, yang letaknya PASTI dekat rumah masing-masing. Paling jauh rumah anak itu 15-20 menit berjalan kaki. Jadi tidak perlu uang transport. Bukan hanya uang saja, mereka juga tidak boleh membawa makanan atau mainan dari rumah! Ini semua menghindari perkelahian dan pencurian di dalam sekolah. Toh makan siang dapat di sekolah, dan bisa nambah loh (kalau sisa). Jadi bisa dimengerti bahwa anak-anak kelas 3 SD ini takut membawa dompet.

Tadinya memang si ibu yang akan jemput lagi mereka waktu pulang selesai nonton, tapi ternyata si ayah. Jadi si ayah itu membawakan dompet anak-anak itu dan memberikan kembali kepada anak-anak. Waktu makan bersama di restoran Sukiya (restoran gyudon –nasi daging– dengan sistem membeli kupon sebelum makan), masing-masing anak membeli dengan uangnya masing, apa yang mereka mau makan. Lagipula semahal-mahalnya makanan di situ, paling mahal cuma 600 yen. Jadi pasti cukup (kalau tidak cukup toh mereka bisa berhitung, seberapa uang yang mereka punya dan mereka bisa beli apa). Aku geli aja membayangkan 4 anak kelas 3 SD menonton dan makan bersama lalu hitung-hitung uang di dompet. Tapi pasti senang ya…. aku ingin deh bisa kelas 3 SD lagi dan mendapatkan pengalaman seperti itu 😀

Dan aku tak bisa menanyakan kesan Riku tentang acara menonton bersamanya sebelum Kai tidur pada malam harinya. Setelah Kai tidur aku menanyakan apakah Riku senang? “Tanoshikatta yo (senang sekali)… dan liburan kan masih ada 2 minggu, jadi kalau bisa minggu depan mau bermain bersama lagi”.

Bermainlah nak, selama kamu masih bisa bermain!

(Dan tentu saja aku langsung mengirim email kepada ibu yang sudah membuat rencana outing bersama ini, mengucapkan terima kasih)

Aku rasa teman-teman blogger punya banyak cerita dengan teman sekolahnya masing-masing, tidak seperti aku yang hakoiri musume. Atau bagi yang punya anak, sudahkah membiarkan anak-anakmu bermain bebas dengan teman-temannya? Atau mungkin kita terlalu parno sebagai orang tua?

 

 

Bestest Day

Mungkin itu yang akan dikatakan Riku tentang kemarin. Ya, hari terbaik untuknya dalam tahun ini. Bestest Day! (Secara tata bahasa Bahasa Inggris, salah loh, yang benar best, tapi untuk percakapan atau main-main boleh dipakai bestest).

Kemarin adalah hari penerimaan rapornya yang dinamakan Ayumi. Pelajaran hari terakhir itu hanya 2 jam saja, sehingga aku mengajak ibu mertuaku untuk makan siang sama-sama di Shinjuku, setelah Riku pulang sekolah. Perkiraanku jam 10 sudah pulang, sehingga aku janjian pukul 11:30 di restoran di Shinjuku. Eh tapi ternyata sudah pukul 10:15 pagi, belum pulang juga. Aku cepat-cepat menghubungi ibu mertuaku lewat email, memberitahukan kemungkinan terlambat.

Pukul 10:40 Riku pulang…. Cepat-cepat dia memperlihatka rapornya, dan dengan senangnya dia mengatakan, “Ma, bagian yang bagus sudah bertambah banyak daripada semester satu kan? Aku boleh dapat hadiah dong”.
“Hmmm masih ada yang kuran baik tuh…. tapi Riku sudah berusaha, OK…tapi sekarang kita cepat-cepat ke Shinjuku. A-chan sudah tunggu loh”
Kami memang sudah siap tinggal berangkat saja, jadi bisa berangkat cepat. Dan ternyata kalau kita cepat bergerak, lumayan juga Shinjuku termasuk dekat, karena ternyata kami bisa sampai tepat pukul 11:30 di restoran Zauo, lantai 1 Washington Hotel Shinjuku.

Begitu Riku melihat nama restorannya, dia senang sekali. Kaget! Tapi….. sayang sekali ternyata kami tidak bisa memancing pada siang hari. Siang hari hanya bisa memesan lunch set saja. KECEWA sekali….aku juga kecewa, karena aku ingin membuat surprise untuk Riku. Seperti sudah kutulis di Ulang Tahun yang Tertunda, aku masih ingin menuntaskan keinginan untuk merayakan ulang tahun dia di Zauo, sebuah restoran unik yang memungkina kita memancing ikan yang ada, lalu minta dimasak terserah kita (sashimi, goreng, kukus, bakar dsb dsb). Aku juga menyesal tidak menelepon dulu sebelumnya untuk menanyakan bisa atau tidak memancing di situ.

Jadi terpaksa kami makan siang di situ, dengan lunch set yang ada. Muka Riku kecewa sekali…. tapi aku katakan, yah lain kali kita datang lagi, atau ajak papa pergi ke cabangnya yang ada di Saitama. Achan juga merasa sayang sekali tidak bisa merayakan ultah Riku saat itu…, Tapi sambil kami makan, kami tanyakan pada pelayan restoran itu, kalau jam makan malam apakah bisa memancing, dan mulai buka untuk malam itu jam berapa. Ternyata mereka memang tutup sesudah Lunch (jam 2) tapi buka lagi mulai jam 5 sore untuk makan malam. Dan kalau malam  kami bisa memancing. Dan kalau kami mau saat itu juga bisa memesan tempat duduk yang enak untuk malamnya. Tapi berarti kami harus melewatkan waktu 4 jam di Shinjuku.

Karena Achan memang bisa keluar rumah sampai malam (tidak usah masak makan malam), dan aku pun tidak ada rencana apa-apa untuk malam harinya, maka kami sepakat untuk memesan tempat untuk malam harinya. Tinggal dipikirkan bagaimana cara melewatkan waktu 4 jam berempat di Shinjuku. Hmmm, aku yang pasti tidak suka window shopping, apalagi dengan 2 krucils. Dan pasti akan capai sekali kaki kami jika berjalan terus untuk menghabiskan waktu.

Bergaya di depan Balai Kota Tokyo

Well, sambil jalan menuju stasiun Shinjuku, kami mampir di Balai Kota Tokyo, yang bersebelahan dengan Shinjuku Washington Hotel itu. Jalan pelan-pelan menikmati kota ini juga menyenangkan. Apalagi aku juga bisa memotret anak-anak dengan gaya mereka. Dan aku ingat dulu sekali, waktu aku pertama kali datang ke Tokyo, aku ingat pernah naik ke observatory di lantai 45 gedung Balai Kota ini dengan gratis. Jadi aku tanyakan pada satpam yang berdiri di depan Balai Kota itu. Ternyata benar, kami masih bisa naik ke observatory lantai 45 itu dengan gratis.

Sebelum menaiki lift khusus yang diperuntukkan bagi pengunjung observatory itu, tas kami diperiksa oleh petugas keamanan. Lalu kami menaiki lift selama 55 detik untuk sampai ke lantai 45. Dari atas sini kami bisa melihat pemandangan sekitar Tokyo, termasuk pula Sky Tree di kejauhan. Sayang meskipun udara tidak mendung, langit tidak begitu cerah sehingga Sky Tree samar-samar saja terlihat di kejauhan.

dari Observatory Balai Kota lantai 45, terlihat Sky Tree di kejauhan (kanan)

Setelah melewatkan beberapa waktu di Observatory Balai Kota Tokyo, kami melanjutkan perjalanan ke stasiun Shinjuku. Mampir ke toko elektronik untuk membeli kaset DS untuk Riku, setelah itu aku ajak A-chan ke karaoke. A-chan jarang sekali ke karaoke, anak-anakku juga jarang, jadi dengan kikuk kami masuk ke Big Echo. Riku tenggelam dengan permainan DS nya sampai baterenya habis, jadi boleh dikatakan cuma aku yang sibuk mencari lagu dan menyanyi. Padahal aku sudah memilihkan lagu-lagu anak-anak supaya Kai juga bisa menyanyi. Tapi setiap aku ajak… “Ngga mau, aku cuma mau menyanyi di TK…” hahaha.

Tapi aku memang memilih menghabiskan 2 jam di Karaoke daripada di kedai kopi. Karena selama-lamanya kita bisa duduk di kedai kopi tentu tidak bisa sampai 2 jam, apalagi dengan 2 krucils. Pasti anak-anak akan bosan berada di kedai kopi. Enak di dalam karaoke box, karena kami selain bisa duduk enak, bisa ngobrol, bisa menyanyi, bisa makan minum dan …santai selama kami mau. Setelah 2 jam berlalu, kami lalu naik bus kembali menuju Restoran Zauo di Shinjuku Washington Hotel.

Riku dengan ikan pancingan pertamanya

Riku langsung mulai memancing begitu kami mendapat 2 buah kail. Karena kami anggota kami tidak perlu membayar untuk menyewa kail + umpannya. Tapi meskipun Riku langsung mencoba memancing butuh waktu sekitar 15 menit, sampai dia berhasil menangkap satu ikan bernama Tai. Ikan kakap (?) yang dianggap membawa keberuntungan atau dipakai sebagai makanan dalam selamatan. Pelayan di sana merayakan penangkapan ikan pertama Riku dengan tepuk tangan. Ikan itu kami minta untuk digoreng dan dibuat sashimi.

Kami tahu beberapa jenis ikan yang mahal, seperti ikan Hirame, jadi kami berusaha memancing ikan yang termurah yaitu ikan yang bernama Aji. Riku mencoba, tapi tidak dapat. Lucunya ikan Aji ini katanya bisa ditangkap tanpa umpan. Tapi mesti hati-hati karena ikan Aji ini dijadikan satu tempat dengan ikan Hirame dan Umazura. Karena Riku tidak berhasil menangkap Aji, aku mencoba menangkap dan setelah menunggu 10 menit berhasil juga mendapat satu ekor.

Makan berbagai ikan, sashimi, goreng dan tanpa nasi tentunya 😀

Yang menyenangkan, setelah Makan 3 ikan tangkapan Riku dan aku, Kai juga semangat untuk memancing. Tak diduga, Kai bisa memancing Aji (yang cukup sulit itu),  lalu Kasago (seperti ikan karang) dan Umazura. Totalnya kami menangkap 8 ekor ikan! Banyak, tapi memang tidak bisa menahan keinginan anak-anak untuk tidak memancing kan? hehehe. Untung kami bisa membawa ikan hasil tangkapan asal digoreng atau dibakar terlebih dahulu. (Kalau mentah tidak boleh dibawa pulang. Peraturan dari dinas kesehatan tentunya).

Kimo, Kokuryu dan cumi

Kami baru pertama kali makan ikan yang bernama Umazura. bentuknya agak bundar dengan kulit keras bermotif loreng. Kami disarankan makan mentah (sashimi) dan kami turuti… Dan ternyata ikan itu ENAK sekali dimakan mentah (kecuali kulitnya ya). Dan yang menarik, mereka mengeluarkan isi perut ikan kimo dan menaruhnya dalam satu piring. Karena pelayan itu mengatakan bahwa kimo itu cocok untuk lauknya minuman keras sake, aku dan Achan memesan sake bernama Kokuryu 黒龍 (harafiahnya Naga Hitam). Aku pernah mendengar bahwa nama sake ini enak jadi aku pesan. Dan memang enak, apalagi setelah mencoba kimo yang diberi kecap asin…. wow banget deh. Sayang Gen dan bapak mertuaku tidak ikut (bapak mertuaku memang tidak suka pergi-pergi ke restoran gaya begini, makanya tidak aku ajak).  Achan dan aku sepakat bahwa restoran ini enak karena ikan yang masih segar langsung dihidangkan sesuai permintaan kita dan yang terpenting: kami tidak perlu masak di dapur. Bisa santai duduk sambil makan dan minum dilayani oleh pelayan. Maklumlah sebagai ibu rt, tentu kami yang harus kerja jika mau menjamu tamu, atau makan enak di rumah.

Riku yang sumringah sekali hari itu

Restoran ini menetapkan peraturan hanya boleh 2,5 jam memancing jika reserve tempat. Jadi seitar jam 7:30 kami bersiap untuk pulang.  Tapi pelayan kemudian membawa 2 piring dessert, dengan dua kue coklat kecil dan kembang api di atasnya. Serta sebuah karton besar bertuliskan “Happy Birthday!”. Waktu awal memang aku beritahu bahwa kami merayakan ulang tahun Riku (25 Feb) dan Achan (14 Maret). Jadi deh pelayan dengan suara lantang mengatakan, “Selamat ulang tahun untuk Riku dan Achan” dan disambut dengan tepuk tangan seluruh pelayan dan pengunjung resto… Senangnya Riku, senangnya aku bisa membuat Riku dan Achan senang! Dan mereka juga mengambil foto kami serta mencetaknya dalam kartu ucapan dari resto tersebut. Pelayanan yang bagus sekali.

Semua senang

Meskipun cukup mahal, tapi sambutan, pelayanan resto yang sedemikian baik membuat kami betah dan melewatkan waktu dengan senang. Tentu saja Riku ingin datang lagi, tapi baru bisa tahun depan ya…. kalau tidak mama bokek nih :D. Eh, tapi kalau Opa mau datang ke Jepang, aku mau mengajak ke sini karena opa suka makan ikan! Siap menabung dari sekarang deh…..

Kartu Happy Birthday dari restoran Zauo

 

 

Jangan Baca Ini Sebelum Tidur!

Kami masih meneruskan kebiasaan mendongengkan anak-anak setiap malam. Seringnya aku membacakan sebuah buku pilihan untuk Kai, sedangkan papanya (kalau sudah pulang) akan membacakan buku pilihan Riku. Bisa dibayangkan ramainya dalam satu kamar hehehe. Kalau papanya belum pulang, maka biasanya Riku ndompleng mendengarkan buku yang aku bacakan untuk Kai.

Ada satu buku bagus yang berjudul “24 pasang mata 二十四の瞳 ” yang Gen bacakan untuk Riku hampir setiap malam selama sebulan. Karena Riku sangat cepat tertidur jadi ceritanya tidak maju-maju.  Sedangkan Kai biasanya memilih buku-buku bergambar mengenai cerita dongeng rakyat Jepang. Tapi ada satu buku mengenai “Hitomaneko zaruCurious George” yang dia sering minta aku bacakan. Sebetulnya aku malas sekali membaca bukunya George yang ini karena lumayan panjang, padahal aku tahu aku yang lebih cepat mengantuk daripada Kai. Kalau sedang baik memang Kai menginjinkan aku berhenti dan tidur, tapi kalau lagi keras kepala….duh aku harus baca terus meskipun ngantuk (seringnya aku skip beberapa halaman sekaligus supaya cepat habis :D).

Ada satu buku bergambar yang berjudul “Singa yang Baik- Yasashi Raion” karangan Yanase  Takashi si pencipta Anpanman, yang hari lahirnya sama dengan Pramoedya Ananta Toer, tgl 6 Februari. Menceritakan tentang seekor Singa yang lahir yatim piatu, kemudian dirawat oleh seekor anjing. Anjing membesarkan dengan kasih sayang dan mengajarkan semua tentang kehidupan pada si Singa, sampai Singa menjadi lebih besar dari si Anjing. Tapi kemudian si Singa dipisahkan dengan Anjing dan dipindahkan ke sebuah sirkus. Setiap malam Singa menangis karena rindu pada mamanya, yaitu si Anjing. Sehingga suatu hari dia menerobos kandangnya, melompati rumah-rumah untuk bertemu dengan mamanya- Si Anjing. Karena Singa lari dari sirkus itu, dia dianggap berbahaya dan dikejar-kejar oleh polisi bersenjata. Sampai akhirnya dia bertemu mamanya dan menggendong mamanya pergi…. tapi senjata polisi sudah memberondongnya dan ibu-anak itu pun mati. Setelah itu warga di situ sering melihat bayangan singa yang menggendong anjing “terbang” menuju hutan….. hiks…dan aku tersedu-sedu sampai beberapa saat tidak bisa langsung tidur 😀

Jadi yang ingin aku katakan dalam tulisan ini, mendongeng memang baik, tapi tergantung juga bukunya apa. Kalau terlalu panjang, bisa jadi tidak habis-habis seperti buku yang dibacakan Gen untuk Riku. Atau terpaksa harus memotong beberapa bagian seperti buku George… atau kalau bukunya sedih, bisa sulit tidur malahan. Itu kalau mendongeng, sedangkan aku tidak pernah membiasakan membaca buku untuk diri sendiri sebelum tidur. Karena aku tidak akan bisa tidur sebelum buku itu habis!

Buku seperti apa yang menurut kamu tidak pantas atau sebaiknya tidak dibaca sebelum tidur? Buku tentang hantu? atau mungkin buku humor? hehehe….

Achievement

Haduh ternyata sudah 6 hari aku tidak menulis. Kangen tapi…malas juga. Kebetulan 3 hari terakhir aku kesulitan membuka dashboard. Entah kenapa si Askimet juga lagi merajuk sehingga banyak komentar yang seharusnya masuk spam, jadi masuk moderasi. Tapi biarpun aku sudah delete, muncul terus kalau buka dashboard. Intinya dashboard sulit dibuka. Untung kemarin aku langsung hubungi servernya dan minta diperbaiki.

Well… sesuai judulnya aku ingin menulis tentang “pencapaian”. Ya sebentar lagi April, dan April di sini berarti mulainya tahun fiskal baru serta tahun ajaran baru. Seiring dengan mekarnya bunga Sakura di bulan April, murid-murid sekolah akan merayakan upacara masuk sekolah atau naik kelas di awal April. Riku akan naik ke kelas 4 SD nanti tanggal 6 April dan Kai akan menjadi 年中 Nenchuu, TK pertengahan (TK di sini 3 tahun) tanggal 9 April nanti.

Tanggal 15 Maret yang lalu adalah hari “kenaikan kelas” untuk Kai. Jadi aku mengantar dia pukul 8:45. Hari itu mereka akan menerima topi dan badge baru sesuai dengan pembagian kelas. Biasanya satu kelas akan naik kelas begitu saja, tapi kali ini satu kelas dibagi menjadi 4 kelas baru. Dan Kai dari kelas Tulip menjadi kelas MOMO (plum). Di kelas Tulips topinya warna kuning, sedangkan di kelas Momo jadi PINK… yiekssss…. belum apa-apa dia suka merengut melihat topi pink hehehe (mama juga ngga suka pink sih hihihi) Dan cepat-cepat dia masukkan dalam tas.

Topi pink dan menerima kartu dari senseinya

Acara hari itu selain menerima (pergantian topi dan badge) , ada penyerahan hadiah buat murid yang “cuma” tidak masuk kelas 3 hari selama setahun. Kai tentu saja tidak bisa dapat hadiah karena sering bolos :D… (salah mamanya juga sih suka bolosin). Juga perpisahan dengan guru Kai yang bernama Natsuko sensei, karena beliau akan berhenti mengajar tahun depan. Ada beberapa orang tua murid yang menangis karena harus berpisah dengan Natsuko sensei, tapi aku tidak…karena sebetulnya orang tua Natsuko sensei tinggal satu apartemen dengan kami, sehingga masih akan sering bertemu 😀

Kai bersama guru utamanya : Natsuko sensei dan Yachiyo sensei. Masih manja yaaaa

Selesai acara di TK pukul 10:30 dan…aku malas masak siang, padahal lapar sekali. Jadilah kami berdua “date” kencan berdua di restoran dekat rumah. Tapi tidak bisa berlama-lama di situ karena pada pukul 3 siang, aku akan kedatangan tamu istimewa, 3 orang sahabat. Main guestnya Ani yang pada hari itu diwisuda menjadi Ph D (Selamat ya Ni) , serta Eka Sudjono serta Whita Kutsuki. Karena aku sejak kembali dari Indonesia belum belanja, terpaksa menyediakan makanan yang seadanya. Tapi makan malam dengan rawon, ayam goreng+sambal lombok goreng, tumis sayur ijo, dan rendang bawaan dari Jakarta terasa nikmat sekali. Tentu karena makan bersama sahabat tercinta dan …pakai tangan 😀

Whita - Ani yang berkimono - Eka bersama Riku

Satu tahun ajaran sudah berlalu, dan Kai sudah memasuki libur musim semi sampai tanggal 9 April. Ani juga bersiap pulang kembali ke Yogyakarta dan berkumpul dengan suami dan anak tersayang. Aku? Masih ada 3 kali mengajar setiap Senin, tapi hari lainnya ya di rumah bersama Kai. Eka, back to kuliah dan Whita bersiap pindah rumah…uuhhh aku juga pengen pindah rumah, tapi kebayang deh sibuk beberesnya. Jadi adem ayem dulu di tempat ini, sambil mempersiapkan tahun ajaran baru bulan April nanti.

Kenang-kenangan dari ortu murid kepada Natsuko sensei. Album cover dengan hasil sulaman salah satu ortu murid. Keren yah.... Aku mah paling ngga bisa buat ginian 😀

Oh ya ada satu kejadian yang membuat aku (dan Gen) cukup berpikir dan semakin menyayangi Riku yang baik hatinya. Jadi ceritanya seorang mama dari anggota grup Legonya Riku mengirim email yang mengajak Riku untuk nonton film Starwars 3D bersama tgl 24 Maret nanti. Nanti ibu itu akan mengantar ke 4 anak ini ke bioskop dekat rumah, dan mereka akan nonton sendiri. Aku tentu saja setuju (lain mungkin ya jaman ibuku dulu, pasti ngga ngasih anaknya pergi :D) dan aku cerita pada Gen dan Gen juga setuju banget. Malah dia bilang
“Iiih seru ya baru SD kelas 4 udah punya kenangan nonton bioskop dengan teman akrabnya. Aku pergi berdua teman itu baru SMP loh..dan kalau ingat senang sekali. Kamu kapan?”
“Aku? Aku ngga pernah nonton film di Jakarta. Dengan (mantan) pacar aja ngga pernah kok. Aku baru nonton bioskop itu di Tokyo”
“Pacar? Huh aku salah ya nanyanya” (hahahaha membuka luka lama)

TAPI, waktu aku tanya ke Riku, tahu jawaban dia apa?
“Aku ngga suka nonton 3D ah… aku ngga mau ikut.”
Loh #$%&'()
“Kenapa? Kan asyik pergi dengan teman-teman”
“Tapi Kai kan kasian tidak bisa pergi?”
“Soal Kai gampang. Itu urusan mama. Nanti mama yang ajak Kai ke tempat lain. Bilang aja kamu akan belajar bersama teman-teman”
“Ngga ah… aku maunya nonton sama Papa dan Kai”
dan aku terdiam….
“Ya kalau Riku tidak mau dan tidak suka, mama tidak akan paksa. Tapi jangan pikir Kai. Mama mau Riku senang, dan bermain dengan teman”

Lalu aku melaporkan hal “tidak mau pergi” nya Riku pada Gen.
“Riku…. papa dulu pergi sendiri dengan teman nonton waktu SMP loh. Kenapa kamu ngga mau pergi? Senang loh bisa pergi bersama dengan teman. Kadang kala memang kita harus menahan ketidak sukaan kita, dengan tujuan yang lebih besar yaitu pertemanan. Kalau pergi bersama apa juga menyenangkan loh” (Untung juga suamiku menjelaskan begitu…. kalau aku pasti lebih mendukung Riku “menyendiri” daripada “bergaul” karena dulu waktu aku SD dan SMP ya aku seperti itu)

Akhirnya Riku datang padaku dan mengatakan, “OK ma, aku mau pergi. Tapi nanti mama temani Kai ya….”
“Tentu saja dong….”

Riku…Riku…. khawatir banget kalau Kai iri padanya. 🙂

UMPAT – UMPET

Tadinya aku pikir kata dasarnya petak umpet itu adalah umpat… tapi ternyata di KBBI memang benar kata dasarnya umpet, tapi merupakan bahasa Jakarta yang dipakai untuk percakapan. Pasti semua tahu dan pernah bermain petak umpat umpet ya. Dan sepertinya permainan petak umpet itu sangat universal. Hide and seek bahasa Inggrisnya dan Kakurenbou bahasa Jepangnya.

Kalau dalam bahasa Jepang, waktu tengah-tengah bermain si Oni (harafiah = setan atau penjaga) akan bertanya, “Mou ii kai?” (Sudah belum?) dan akan dijawab dengan, “Mada dayou” (Beluuum). Nah kalau sudah ada yang mengucapkan “Mou ii yo” (sudah) tapi biasanya sih kalau pintar dan tidak mau ditemukan, ya tidak berteriak apa-apa.

Yang lucu pernah kejadian pada adikku, dia bersembunyi dalam lemari, dan tidak ditemukan. Meskipun si Oni sudah nyerah, adikku tidak muncul-muncul. Rupanya dia tertidur di dalam lemari 😀

kayak gini tuh kalau anak balita main petak umpet 😀

Nah, permainan kakurenbou ini sudah dimainkan sejak balita deh. Kecenderungan pada anak-anak balita biasanya adalah : Asalkan DIA tidak melihat orang lain, maka dia PIKIR orang lain tidak akan bisa menemukannya 😀

Bersembunyi dalam selimut 😀

Waktu di Jakarta kemarin, aku dan adikku menemukan “posisi” mengumpet Kai yang lucu-lucu.

bersembunyi di balik handuk yang sedang digantung

Padahal sudah ketahuan...masih "ngumpet" juga 😀

Kalau kamu sendiri apakah ada “cerita” mengenai petak umpet? Jangan bilang pernah “diumpetin” setan loh hihihi.