Arsip Bulanan: Februari 2012

PULANG

(lanjutan cerita kepulangan mendadakku untuk menghadiri upacara pemakaman mama)

Aku bangun pukul 3:30 dini hari. Supaya tidak ketiduran aku sengaja memasang alarm pada pukul 3:30, 4:00, 4:30 dan 5:00. Kami merencanakan berangkat pukul 5:30 ke Narita, meskipun pesawat Garuda yang kami tumpangi berangkat pukul 12:00 siang. Hari kerja biasa (Jumat) sehingga jalan sulit diprediksi. Apalagi ada sebagian jalan menuju Narita yang sedang ditutup, sehingga mau tidak mau kami harus mengambil jalur lain, yang kemungkinan padatnya sangat besar.

Setelah membuang isi lemari es yang berpotensi busuk, membersihkan dapur dan membuang sampah, aku menutup koper yang telah kupersiapkan semalam. Tentu saja isinya hanya baju hitam semua 🙁 Karena di Jepang sedang musim dingin, semua baju musim panas yang tipis sudah kusimpan dalam kardus-kardus di lemari. Jadi waktu packing aku harus membongkar kardus-kardus itu untuk mencari baju-baju yang cocok dipakai di Jakarta. Paling sulit travelling ke negara musim panas di bulan-bulan November – Maret karena perbedaan cuaca yang begitu besar. Tapi sempat terpikir olehku, “Ah aku kan sama besarnya dengan mama, aku bisa pinjam baju mama”.

Anak-anak bangun pukul 5 pagi dan tanpa banyak rewel langsung bersiap, ganti baju. Tepat pukul 5:30 kami turun dari apartemen menuju mobil di parkiran. Rekor terbaru karena biasanya kami molor 15-20 menit dari rencana awal (dan tentu sudah aku perhitungkan waktu menentukan jam berangkat, maklum aku sadar orang (setengah) Indonesia sering juga jam karet :D). Cuaca saat itu: berangin! tapi hangat, tampaknya musim semi sudah mulai mengetuk pintu.

Perjalanan ke Narita cukup lancar. Kemacetan hanya terjadi di titik-titik tertentu, sehingga pukul 8:30 kami sudah sampai di Narita. Setelah mencari parkir di terminal 2 yang akan kami pakai untuk 4 hari sampai Gen kembali dari Jakarta, kami pergi ke check in counter. Memang parkir dalam gedung keberangkatan ini mahal, karena untuk 4 hari kami harus membayar 8000 yen. Tapi kami sudah malas mencari tempat parkir di luar bandara yang lebih murah. Jadi untuk kepraktisan kami putuskan untuk parkir di terminal keberangkatan Narita.

Garuda berada di Counter D. Sudah lama aku tidak pakai maskapai kebanggan negeriku ini. Ada mungkin 15 tahun. Tapi kali ini aku memang harus mengalah dan membeli tiket Garuda, karena satu-satunya Garuda merupakan satu-satunya maskapai yang menyediakan tiket murah Tokyo – Jakarta meskipun untuk keberangkatan hari berikutnya. Memang aku diberitahu bahwa jika mau aku bisa langsung pergi ke Narita dan membeli tiket khusus untuk wni dengan special rate, tapi masalahnya yang pergi bukan hanya aku saja.  Dua krucil dan suamiku kan warga negara Jepang. Dan rasanya lebih aman jika tiket sudah di tangan sebelum berangkat ke Narita.

Karena selalu dimanjakan oleh maskapai penerbangan Jepang yang memungkinkan kita memilih tempat duduk waktu membeli tiket, sedangkan Garuda mengharuskan pemilihan tempat duduk pada waktu cek in, membuat kami juga ingin cepat datang di counter tersebut. Dan karena masih pagi, kami mendapat tempat duduk di bagian depan, meskipun sempat Tina bertanya apakah aku tidak apa-apa duduk di nomor 13. Ah aku tidak pernah percaya superstitious seperti itu.  Kami boarding sesuai waktu, meskipun aku sendiri tidak melihat jam. Payahnya sekarang aku terlalu mengandalkan jam di HP, sehingga jika HP dimatikan, aku tak tahu waktu.

Perjalanan selama 8 jam cukup lama, tapi karena kami berangkat berenam, deMiyashita + adikku Tina dan temannya Kiyoko a.k.a Koko  (disebut papa sebagai anak ke 3,5 – sebagai anak angkatnya di Jepang) perjalanan yang lama itu tidak terasa. Aku lebih banyak tidur daripada menonton film atau bermain game seperti Riku. Aku duduk berdua dengan Kai, sedangkan Gen dengan Riku. Kai memang masih belum bisa berpisah dariku. Oh ya di dalam pesawat aku juga sempat menulis kejadian hari kamis yang aku posting kemarin.

Kami mendarat pukul 6  sore di Cengkareng. Karena semua keluarga sibuk mempersiapkan misa yang akan diadakan pukul 19:30, kami dipesankan taxi besar Tiara Express, jadi tinggal naik mobil alphard yang cukup untuk 6 orang + 3 koper. Amat nyaman, dengan supir yang ramah apalagi aku bisa minta charge BBku dalam mobil itu. Tahu ada taxi begini, mending aku naik taxi setiap kali datang ke Jakarta, karena berarti tidak merepotkan penjemput. Apalagi taxi ini mencari jalan yang tidak macet, sehingga yang biasanya lewat Slipi, kami lewat Kebun Jeruk. Kami sampai di rumah pukul 19:40. Langsung masuk karena kami sudah ditunggu misa.

Dan…. aku pertama kali melihat jenazah mama….dengan muka mama yang tertidur di depanku persis selama misa.

Meskipun mukanya agak biru karena serangan jantung, mama terlihat seperti tidur saja. Tidak ada tanda kesakitan atau perubahan pada mama. Menurut papa, hari Rabu Abu tgl 22 Februari itu, merupakan hari besar bagi agama Katolik. Pada hari Abu kita diingatkan bahwa manusia berasal dari abu, dan akan kembali menjadi abu. Dan pada hari Rabu Abu, umat katolik melakukan pantang dan puasa (puasa katolik berarti satu kali makan kenyang). Jadi mama dan papa pergi misa pukul 5:30 pagi, menerima abu, menerima komuni. Sesuai kebiasaannya juga setiap jam 12 dan jam 3 berdoa rosario. Mama pun puasa pada hari itu. Sekitar pukul 19:30 malam mama minta pada mbak Win untuk dibantu waktu mandi. Memang sejak mama stroke tahun 2008, mama perlu dibantu kalau mandi. Katanya mama minta mandi yang bersih, cuci badan dan cuci rambut. Rupanya waktu itu Mama  sudah mulai merasa sakit tetapi ditahan, dan “mengancam” mbak Win untuk tidak memberitahukan pada papa. Pukul 10 malam Andy adikku yang bungsu masih mendapat ciuman sebelum dia pamit pergi. Setelah itu tidak ada yang tahu.

Menurut papa, akhir-akhirnya ini setiap papa terbangun tengah malam, pasti menemukan mama sedang berdoa. Tapi tengah malam itu, papa tidak melihat mama di tempat tidurnya. Maka papa yang memang mau ke kamar kecil, menuju kamar mandi. Dan disitulah mama ditemukan, sudah tidak bernadi. Saat itu pukul 00:45. Langsung dilarikan ke UGD RSPP, tapi dokter mengatakan bahwa sudah tidak bisa, karena sudah lewat 30 menit. Serangan jantung, dengan kemungkinan meninggal sebelum tanggal berganti, yaitu Hari Rabu Abu. Seandainya benar hari Rabu Abu, alangkah sempurnanya mama, mempersembahkan tubuhnya sendiri pada hari di saat manusia memperingati awal Pra Paskah dan mengingat bahwa manusia berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu. Semoga Tuhan menerima persembahannya …. dan persembahan kami, keluarga yang ditinggalkannya. Tidak ada lagi hari yang lebih indah untuk menghadap Bapa di surga. 

 

Begitu banyak penghiburan yang diberikan kepada kami. Konon misa pada hari kamis malam (malam pertama) dihadiri oleh ratusan orang, sehingga ada beberapa teman yang pulang karena tidak bisa masuk.  Tapi tentu saja selama misa kami masih tidak bisa menahan isakan tangis kehilangan seorang ibu, seberapapun dia sudah panjang umurnya, atau seberapapun dia sakit karena bagaimana pun juga dia adalah orang tua kami, kekasih kami. Kehilangan itu perih, tapi aku ikhlas dan sebagai anak yang tertua aku harus tegar.

Malam itu aku menemani adik-adikku menjaga mama sepanjang malam, sambil berdiskusi mengenai pemakaman mama yang mengikuti kemauan mama sendiri yaitu dikremasi. Suatu cara pemakaman yang tidak biasa di antara keluarga kami, apalagi bagi masyarakat  selain masyarakat chinese yang memang mempunyai kebudayaan kremasi. Malam itu kami kakak beradik mengadakan “rapat keluarga” di depan jenazah mama. Malam itu aku pulang dalam arti sesungguhnya, pulang ke rumahku, pulang ke keluargaku, pulang ke  ideologi keluarga kami yang berlandaskan agama kami : katolik.

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14 : 1-3)

 

 

 

Kamis Kelabu

Sebelum saya  menuliskan posting ini, perkenankan saya mengucapkan banyak terima kasih atas ucapan belasungkawa lewat media apa  saja dan doa yang dipanjatkan teman-teman blogger sehubungan dengan meninggalnya Mama terkasih, Elizabeth Maria Mutter yang meninggal hari Kamis 23 Februari yang lalu. Saya yakin sekali bahwa mama sekarang berada di surga, dari apa yang saya alami selama 44 tahun bersama mama, dan terutama pada 3 hari terakhir melepas mama ke peristirahatan abadi. Keyakinan saya ini membuat saya merasa harus berbuat lebih baik lagi dan berdoa lebih banyak lagi, supaya kelak saya bisa bertemu dengan mama tersayang di dunia abadi.  Sedih dan sepi memang… apalagi jika terkenang akan tawanya, keras kepalanya, dalam kebiasaannya, atau lewat benda-benda miliknya. Tapi saya menikmati hari-hari berkabung ini juga sebagai salah satu proses kehidupan.

senyum yang tak kan pernah kulupa

***

Jika harus menuliskan judul dengan nama hari saat aku menerima berita terburuk dalam hidupku, pada tanggal 23 Februari itu, maka aku akan menuliskan Kamis Kelabu. Tapi dalam ke-kelabu-an hari ini, ada banyak sekali peristiwa yang membuatku bersyukur dan terlindungi oleh kuasa Tuhan.

Kamis 23 Februari

Aku terbangun sekitar pukul 2 pagi waktu Jepang (Jam 12 WIB). Maksudku untuk print out  bahan rekaman sebuah pekerjaan baru. Sudah cukup lama tidak ada kegiatan rekaman yang aku lakukan. Bahannya hanya 2,5 halaman,meskipun tidak susah,ada beberapa kalimat bahasa Inggris yang harus aku ucapkan.  Setelah mencetak bahan rekaman itu, aku juga menyiapkan bahan untuk mengajar hari Jumat.  Minggu ini memang jadwal padat setiap hari. Jumat itu kebetulan aku harus menggantikan teman mengajar.

Sambil mempersiapkan bahan-bahan itu, aku melihat ada email yang masuk. Betapa terkejutnya aku begitu menerima email dari adikku berjudul “Segera Pulang”. Mama sudah kembali pada Bapa. Segera telepon kami.
Aku langsung menelepon rumah di Jakarta dan cukup terkejut bahwa Dharma, si sulung yang mengangkat teleponku. Saat itu sudah pukul 2 pagi WIB. Lalu dia jelaskan bahwa Mamanya sedang di RS. Dia juga yang mengatakan bahwa Oma jatuh di kamar mandi, trus Opa teriak. Jadi oma dibawa ke RS. Setelah menanyakan no HP mamanya, aku langsung menghubungi mamanya. Aku sempat bicara dengan Opa, dan opa mengatakan bahwa mama akan dibawa ke rumah. Suatu keputusan yang melegakan. Karena biasanya orang-orang Jakarta akan memakai Rumah Duka selain rumah untuk segi kepraktisan. Tapi jika disemayamkan di Rumah Duka seperti itu maka kami tidak akan bisa selalu bersama mama, sampai saat penguburan. Jadi waktu papa mengatakan “bawa ke rumah”, aku setuju sekali. Ya, aku ingin selama mungkin bersama mama sebelum melepaskannya selamanya.  Aku katakan pada papa bahwa kami akan segera mencari tiket untuk berangkat Jumat pagi.

Saat menerima berita itu aku memang bisa tenang, apalagi Novi dan Opa juga menjawab dengan tenang. Tapi tidak setelah aku menutup telepon. Pukul 4 dini hari, aku menelepon Tina, adikku yang di Yokohama. Dia tidak angkat… pasti masih tidur… Dan tak lama Kai terbangun, menangis. Biasanya dia hanya berteriak, “Mama neyou… (Mama tidur yuk)”, tapi pagi ini dia menangis, dan belum sempat aku masuk kamar, dia sudah keluar kamar dan menemukan aku menangis.

“Mama kenapa menangis?”
“Oma meninggal”
Kamisama no tokoro? (Ke tempat Tuhan)”
“Iya, ke surga”
Iin janai? (Bagus kan?)
dan dia memeluk aku dan tertidur dalam pelukanku.

Aku tahu bahwa aku tidak bisa pulang hari itu juga (Kamis pagi). Karena jika begitu, aku harus segera bersiap pergi ke bandara.
Lagipula aku ada kerja studio jam 12 yang tidak bisa digantikan orang lain. Jadi aku memutuskan mencari tiket apapun juga untuk Jumat pagi. Sambil aku membatalkan pekerjaan lainnya selama aku pergi ke Jakarta.

Tidak biasanya Gen juga terbangun kira-kira pukul 4:30 , dan terkejut juga mendengar berita itu. Kai yang biasanya sangat rewel jika aku tidak mengikuti kemauannya, dapat mengerti bahwa mamanya sibuk, sehingga dia malah tiduran di lantai kamar makan. Sebelum pukul 6 Riku juga terbangun. Anak sulungku ini memang perasa sekali sehingga begitu mendengar Omanya meninggal langsung menangis terisak-isak tak terbendung. Kami berdua cuma bisa berpelukan saja.

Hari itu hujan. Langit Tokyo seperti ikut bersedih. Masing-masing pergi ke tempat kerja dan belajar. Bagiku hari Kamis itu amat melelahkan. Sesudah mengantar Kai ke sekolah aku langsung ke Tachikawa untuk mengurus re-entry visa. Aku cuma punya waktu 2 jam termasuk waktu untuk naik kereta. Aku tahu bahwa mengurus re-entry itu sebenarnya cepat…. tapi di hari hujan begini, biasanya macet.

Tapi aku merasa Tuhan membantuku. Waktu untuk menunggu bus, kereta, taxi tidak lama, langsung ada. Hanya satu yang kulupa
bahwa untuk mengurus re-entrypermt itu aku harus membeli meterai (3000 yen untuk single dan 6000 yen untuk multiply yang berlaku 3 tahun). Tentu aku butuh yang 3 tahun, tapi… di dalam kantor imigrasi Tachikawa itu tidak ada penjualan meterai! Sebelum giliranku sudah ada 13 orang yang sudah mengantri. OK, dalam hujan aku lari membeli meterai di toko konbini terdekat, sambil berdoa supaya giliranku tidak dilewati.

Benar saja proses mendapatkan re-entry tidak sampai 10 menit. Langsung lari mencari taxi, karena aku harus naik kereta jam 11:46 supaya bisa sampai di Stasiun Kanda tempat studio. Karena lama tidak ada taksi yang lewat, aku sambil menunggu bus juga. Nah saat itu ada taxi, tapi dia bertanda Kaisou 回送, berarti pulang (tidak terima penumpang). Tapi si supir membuka jendela dan bertanya mau kemana?
“Ke stasiun Tachikawa”
OK naik saja……

Aduh benar-benar berkat Tuhan. Aku naik taxi itu sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Kata si supir, “Abis Anda kelihatannya susah bener. Terbaca gerakan bibir “Ah kaisou ” dengan nada kecewa. Saya toh hanya mau makan siang saja (jam 11:30) jadi kalau dekat saya pikir tidak apa-apa”
“Saya benar-benar berterimakasih. Karena saya harus naik kereta jam 11:46 ke Tokyo. Makanya saya juga sambil menunggu bis”
“Oh kalau bus pasti tidak keburu, karena bus kan putar-putar dulu. Semoga jalannya tidak macet ya bu.”

Batere HP tinggal 2 garis…Hmmm harus hemat-hemat karena kalau sampai habis sebelum stasiun Kanda, aku akan bingung mencari staf yang akan menjemput aku ke studio. Jadi aku hanya menelpon adikku Tina menanyakan soal tiket. Aku percayakan soal tiket kepadanya, karena aku sendiri tidak bisa, karena di jalan terus. Aku juga senang karena Gen mendapat ijin cuti dari bossnya dan bisa ikut bersama untuk 3 hari.

Akhirnya aku bisa naik kereta yang sebelumnya jam 11:43. Benar-benar berterima kasih pada pak supir, yang masih mengingatkanku untuk tidak berlari karena jalanan licin karena hujan. Bisa duduk dengan tenang dalam kereta yang kosong. Aku matikan HP untuk menghemat batere, dan … tidur. Ya aku tidak tidur lagi sejak terbangun jam 2. Dan aku memang bisa tidur di dalam kereta cukup enak. Cukup untuk charge energi.

Yang menjadi masalah, aku lapar! wah lucu juga kalau perut keroncongan waktu sedang rekaman. Memang aku sampai di stasiun Kandanya cukup pagi dari janji jam 12:45. Masih ada waktu 15 menit. Andai saja ada kedai kopi “pronto”. Tapi aku lupa bahwa Kanda  (west exit) itu kecil dan tidak ada kedai atau toko roti dalam stasiunnya. Kecuali aku berjalan ke pertokoan sekitar stasiun. Ya sudah aku cukupkan dengan minum minuman jelly “energy” dari wieder. Minuman jelly ini biasanya cukup menahan rasa lapar  ntuk 2 jam, karena konon minuman ini setara dengan 1 kepal nasi. Pas aku mau minum …. si Mr Staff mendatangiku. Aduuuh kamu juga kepagian!

Jadi aku menjelaskan kenapa aku minum minuman jelly itu. Staff ini lelaki muda yang cukup tampan, tapi halus sekali. Sambil memegang bahuku, dia sampai menanyakan apakah aku tidak apa-apa…. Dia bilang studio tidak sampai 1 jam kok jadi bisa cepat-cepat  pulang. Aku hanya minta satu. Diperbolehkan men-charge HP ku selama aku rekaman 😀 Lumayan deh. Memang batere HPku boros sekali kalau dipakai untuk internet, padahal aku perlu. Oh ya, satu lagi yang aku berterima kasih pada Tuhan waktu itu, suaraku tidak berubah meskipun habis menangis banyak. Juga tidak terpengaruh cuaca sehingga rekaman cukup 1 kali take.

Jam 1:30 aku sudah berjalan kembali menuju stasiun Kanda dari studio. Puas karena batere HP cukup dan aku langsung membalas  mail dari Tina yang masuk selama aku rekaman. Uh ternyata aku salah ketik, kebanyakan angka untuk nomor paspornya Gen.  Menyusuri jalan pertokoan yang penuh dengan berbagai retoran kecil, tidak membuatku ingin memasukinya. Padahal lapar! Ntah, aku hanya ingin sepotong roti dan minuman hangat seperti sup atau cocoa. Tapi tidak ada yang kumaui. Sempat tergoda untuk memasuki resto sushi, tapi ternyata daya tariknya tidak cukup kuat mengalahkan rasa malas makan.

Sambil menghubungi Tina, aku mengetahui bahwa travel yang menyediakan tiket kami berada di Stasiun Kichijoji, stasiun yang akan ku tuju untuk pulang. Ya daripada Tina susah-susah mengurus tiket sembari kerja. Kerjaku sudah selesai jadi aku bisa take over proses  pembelian tiketnya. Jadi kupikir aku bisa juga makan di stasiun Kichijoji saja. Eh ternyata mengurus tiket itu cukup lama dari jam 2:30 sampai 4:30 aku berada di travel biro tersebut.

Dengan waktu tersisa 30 menit, aku cepat-cepat naik taksi pulang untuk menjemput Kai di TK nya. Pekerjaan sudah selesai, tiket di  tangan, anak-anak di rumah, dan bisa online di komputer rumah. Sambil masak makan malam, aku packing. Sekitar pukul 8:30 Kai  mengajak aku mandi air panas. Why not… berendam air panas merupakan kemewahan yang tidak bisa kurasa di Jakarta, karena di  Jakarta hanya bisa shower saja. Eh sewaktu kami masih berendam, Gen pulang! Tak kusangka dia bisa pulang secepat itu, karena pasti dia harus mengurus pekerjaan selama dia cuti 2 hari, hari Jumat dan Senin.

Jam berapa aku tidur? Aku hanya sempat tidur dari jam 1:30 sampai jam 3:30 Jumat pagi. Cukup dua jam saja… kebiasaan baruku sampai hari Minggu 26 Februari.

 

Koin Pertama

Untuk teman-teman yang berada di Indonesia, apakah masih memakai dan menyimpan koin? Pecahan koin yang paling besar di Indonesia adalah 1000 rupiah (kira-kira 10 yen) dan kurasa orang-orang sudah malas menyimpan dan membawa-bawa koin dalam dompetnya. Tapi kalau di Jepang koin terdiri atas pecahan 1 yen, 5 yen, 10 yen, 50 yen,100 yen dan 500 yen. Koin-koin ini tentu saja masih “berlaku” dalam arti dibawa-bawa dalam kantong koinnya atau sebagai kembalian waktu membeli sesuatu (bukan berupa permen), meskipun sekarang sudah mulai banyak pemakaian kartu dengan chip (prepaid).

Pernah lihat koin  kuno Indonesia? Ada di antara koin kuno itu yang berbentuk bulatan yang bolong bagian tengahnya kan? Nah di Jepang pun ada koin yang serupa bahkan sampai sekarang masih dipakai yaitu nominal 5 yen dan 50 yen. Dan jika mau ditelusuri sejarahnya ternyata koin yang pertama dipakai di Jepang dibuat pada tahun 708! Namanya Wado Kaichin atau Wado Kaihou. Sudah lama sekali ya?

Sebelum ke kuil, biasanya mencuci tangan dulu. Lihat airnya membeku!

Hari Minggu lalu, sebelum kami pergi ke Icicle di Chichibu itulah, kami mampir ke tempat bersejarah ini.  Sebuah bekas penambangan tembaga yang dijadikan sebagai koin Jepang pertama. Tempatnya kecil saja, dan letaknya tidak jauh dari jalan besar.

Omamori yang kami beli seharga 500 yen, koin kuno yang dibungkus dengan kertas keterangan

Kami menaiki tangga untuk melihat Jinja (kuil Shinto) yang dipakai untuk mendoakan supaya “uang (baca rejeki) bisa lancar masuk”. Boleh dikatakan tidak ada orang di situ, bahkan kalau kita mau membeli jimat/ kain berisi doa-doa yang disebut omamori, kita tinggal mengambil dari wadah yang ada, dan membayarnya di tempat yang tersedia. (Tidak ada yang berani mengambil uangnya)

Di sebelah kuil ada keterangan penambangan tembaga dan juga ema (kayu bertuliskan keinginan) yang digantung

Tidak jauh dari kuil itu kita bisa melihat bekas-bekas penambangan tembaga. Dengan menuruni kali dan melewati jalan setapak, kami  menemukan sebuah monumen berbentuk koin bolong itu. Di seberang kali ditandai tempat-tempat bekas penambangan tembaga. Memang sih bisa dikatakan tempat ini tidak ada apa-apanya. Hanya kuil, monumen dan … rerumputan. Tapi dari sinilah uang tembaga pertama yang dipakai sebagai alat perdagangan dimulai. Sejarah sebuah kebudayaan yang sudah maju untuk abad 8.

Ada sebuah monumen besar berbentuk koin di sebelah sungai kecil yang mengaliri daerah penambangan.

Kamu suka mengumpulkan koin seperti teman saya yang getol menabung sampai pakai ember/kaleng kerupuk sebagai celengan? Atau bahkan mungkin kolektor uang kuno? Ibuku dulu memang kolektor koin dari negara-negara yang pernah dia kunjungi, ditaruh dalam satu akuarium bulat (bayangin akuarium ikan mas deh) , tapi ngga tau deh sekarang kemana semua itu koin-koin. Aku sendiri tidak mengumpulkan koin tapi mengumpulkan perangko.

Jalan setapak menuju bekas penambangan. Aku berjalan terakhir sendiri dan sempat merasa takut juga dengan pemandangan begini di depan mata. Untung siang hari hehehe

 

 

Aku Ingin ke Sini

Tadi pagi jam 7  pagi aku mengintip blognya Una. Ceritanya mau cari info acara Giveawaynya dia yang bertajuk “Mau Kemana?” Karena dalam ingatanku tutup tanggal 21 Februari… eh tahunya aku salah ingat. Karena maksudnya dia tanggal 20 jam 24:00 atau tanggal 21 dini hari… Duh menyesal deh aku kenapa tidak semalam saja menulis posting untuk disertakan dalam giveawaynya Una. Bukan naksir sama giveawaynya sebetulnya, tapi kebetulan sekali aku menemukan satu tempat yang INGIN sekali aku kunjungi dalam waktu dekat, dan memang jaraknya juga tidak begitu jauh. Lain dengan tempat-tempat yang kutulis di posting 12, yang relatif jauh.

Ya aku ingin sekali pergi ke suatu tempat, Warisan Dunia Unesco : Shirakawago. Weekend kemarin itu rupanya waktu aku pergi melihat icicles, es-es batu itu, adikku Tina justru pergi melihat salju! (Ngga bilang-bilang kakaknya hihihi). Mau lihat seberapa banyak saljunya?

Adikku tingginya 160 cm loh

Nah tempat ini dijadikan sebagai Warisan Dunia Unesco karena komplek perkampungan di sini masih memakai arsitektur bergaya Gassho tzukuri 合掌造り, yaitu bagaikan tangan yang dikatupkan waktu berdoa. Atap rumah yang begitu miring dan kuat bisa menahan tumpukan salju yang memang banyak turun di daerah perbatasan prefektur Gifu dan Toyama.

Rumah tradisional dengan Gasshozukuri

Perkampungan Shirakawago ini memang indah untuk dilihat pada setiap musim, tapi memang paling hebat dilihat waktu musim dingin (salju) ini. Waktu adikku ke sana tanggal 18 Februari kemarin, merupakan kesempatan terakhir untuk melihat perkampungan itu dengan penerangan waktu malam. (Tidak setiap hari bisa melihat lightup ini sehingga harus dicek sebelum pergi). Mereka menaiki bukit dan memandang ke bawah. Pemandangan ini yang mereka lihat:

Lightup dimulai

Dan jika lebih gelap lagi menjadi begini :

Menjadi lebih gelap lagi.... uuuuh romantis sekali!!!

Coba di zoom in lagi rumahnya :

Mau tinggal di sini?

Aduuuh aku langsung teringat kartu natal koleksi Currier and Ives yang memang khasnya menampilkan pedesaan pada musim salju. Bayangkan pedesaan yang biasanya berada di kertas itu berada di depan matamu sendiri! AKU INGIN KE SINI.

Memang sudah pasti dingin, tapi untuk melihat pemandangan seindah ini, aku mau tahan dingin deh. Kata adikku dia ikut tur naik bus ke daerah ini, termasuk penginapan dan makan malam serta makan pagi seharga 22.000 yen (sekitar 2 juta 2 ratus ribu rupiah) per orang. Nabung dulu ah supaya bisa pergi tahun depan. Karena satu keluarga berarti butuh sekitar 100ribu yen… haduuh.

Saking indahnya pemandangan lewat foto yang disharingkan adikku, aku langsung ingin berbagi sambil mengikuti giveawaynya Una. Apa daya giveaway sudah lewat, tapi tanpa GA bisa tetap sharing kan? Nanti kalau aku sudah pergi langsung sendiri, pasti akan aku ceritakan lebih detil.

Ya aku INGIN sekali ke SHIRAKAWAGO.

Oh ya, aku juga tampil loh di proyek Karsininya mas NH18 di sini. 😉

 

Dan jangan lupa Giveaway : Solitaire dan Sendiri, masih dibuka sampai tanggal 24 Februari.

 

Keindahan Alam Musim Dingin

Dalam musim dingin di negara empat musim, apa saja sih yang bisa dilihat jika kita mau menikmati keindahan alam? Sama seperti seorang fotografer yang ditantang untuk menampilkan keindahan musim dingin, biasanya yang terbit dalam pikiran adalah SALJU saja. Padahal tidak setiap kota yang mengalami 4 musim itu menikmati putihnya salju. Seperti Tokyo selama musim dingin ini baru 1 kali mengalami turun salju sampai menumpuk. Lain halnya dengan Niigata atau kota-kota di depan Laut Jepang sana, atau di Hokkaido putiiiiih semua, sehingga… mungkin tidak menarik lagi untuk difoto. Habis semuanya putih!

Padahal sebetulnya banyak yang bisa dijadikan obyek foto dalam musim dingin, Seperti Titik yang sering berfoto sebelum berangkat ke kampus dengan coat, sepatu boot, syalnya, dengan atribut begitu saja sudah terasa terlihat  dinginnya. Atau pohon tak berdaun di tengah ladang, biji cemara yang sering dipakai sebagai hiasan natal, perapian, sarung tangan, atau daun-daun berguguran di tanah. Semua melambangkan musim dingin.

Nah kemarin hari Minggu,  Gen sebetulnya mengajak kami untuk pergi ke Iwatsuki. Di sana ada pusat pembuatan bonek untuk hiasan pada hari anak perempuan (3 Maret). Logikanya karena anak kami dua-duanya laki-laki, tidak akan dipaksa beli hihihi. Kalau perginya bulan Mei, akan digoda untuk membeli kabuto (topi samurai). Jadi paling bagus perginya sekarang-sekarang ini.  Waktu melihat homepagenya, ternyata bisa mengikuti kelas pembuatan origami, dan Riku ingin ikut. Tapi untuk mengikuti kelas ini, kami harus mendaftar lewat telepon. Jadi kami menunggu dulu sampai pukul 10 pagi (waktu buka), sambil sarapan dan bersiap-siap. Pas aku selesai mandi, Gen berkata: “Aku sudah telepon.. dan tidak bisa. Katanya harus 1 minggu sebelumnya. Tapi itu perempuan yang menjawab teleponku mengjengkelkan sekali. Kasar sekali jawabnya… huh sebal.”
“Ya sudah, jangan ke situ. Ngapain pergi ke situ kalau dari pertama sudah tidak enak hatinya. Lucu, kok tempat wisata tapi tidak ramah!” Maklum deh, kami ini kan satu zodiak, jadi sudah saling mengenal perasaan satu sama lain.
“Pergi ke tempat lain saja pa!
Sambil aku ganti baju, aku bilang, “Eh kemarin itu Capricorn rangking satu loh ramalannya. Bagus! tapi kemarin ngga ada yang istimewa ya?”
“Eh di yahoo, hari ini loh Capricorn bagus, ranking 1. Katanya * Perhatikan kata-kata dan tindakanmu. Seluruh alam akan memihakmu*”
“Alam? Ya sudah kita pergi ke alam saja….”

Akhirnya Gen mengecek homepage sebuah tempat wisata yang selalu ingin kami kunjungi. Yaitu sebuah “bukit icicle – tetesan air beku – di daerah Chichibu”. Biasanya untuk pergi ke sini, kami harus naik kereta, dan banyak jalan. Tidak disarankan naik mobil sendiri karena jalanan biasanya membeku, harus kendaraan dengan ban khusus yang bisa ke sana. Mobil kami tidak berban khusus (tanpa rantai) . Jadi lebih baik pergi pagi-pagi sekali. Waktu saat itu sudah pukul 10:30. Tapi Gen menemukan pengumuman bahwa  jalanan tidak membeku, sehingga kami bisa pergi dengan mobil sendiri. Jarak dari rumah kami sekitar 100km, jadi kalau langsung berangkat kami bisa sampai sekitar pukul 1 siang. OK langsung pergi! let’s go.

Karena pakai acara mampir sana-sini dan makan siang, kami sampai di tempat ini pukul 3 sore. Tadinya kusangka akan dingin sekali. Tapi ternyata tidak begitu. Udaranya memang kering, tapi karena kami harus berjalan di atas batu-batuan cukup bisa memanaskan badan. Oh ya, untuk melihat  Misozuchi no Tsurara di Ootaki Chichibu ini tidka perlu membayar apa-apa. Tapi kalau mau parkir di tempat terdekat memang ditarik 500 yen setiap mobil, berapa lama pun bisa. Kalau mau gratis bisa parkir di tempat parkir umum yang terletak sekitar 20 menit berjalan kaki. Karena harus melewati jalan besar kami tidak mau beresiko mengajak anak-anak jalan (terutama Kai… dia suka lari sendiri sih). Jadi kami parkir persis di depan “air terjun” itu.

Untuk sampai ke tempat itu harus menuruni sungai berbatu, tapi tidak bersalju

Kami harus turun ke bawah sungai dan begitu sudah dekat, kami bisa melihat es yang membeku bagaikan tembok, bagaikan air terjun beku di situ. Membentuk icicle yang indah. Ada tiga tempat tapi yang terbesar itu ternyata sudah “ditambah” tangan manusia, tidak 100% alami. Biarpun demikian kami tetap bisa menikmati keindahan tembok es/icicle itu meskipun katanya hari itu hanya 90% keindahannya. Maksudnya 10% sudah mencair. Kemarin itu memang hangat sih.

Sembilan puluh persen saja sudah seindah ini, bagaimana kalau 100% dan bagaimana kalau diterangi lampu pada malam hari ya? Tapi kami tidak berani menunggu sampai gelap, karena kami harus pulang cepat dan tidak mau terjebak macet orang-orang yang pulang dari jalan-jalan. Setelah puas melihat dna bermain di situ kami meninggalkan tempat itu pukul 4 sore untuk beranjak pulang.

Memegang es beku, ya seperti pegang es di lemari es aja 😀 Tapi ini di alam

Dan dalam mobil, anak-anak bersahut-sahutan mengatakan “Terima kasih ya papa,…. hari ini amat sangat menyenangkan!”

Kami memang tidak memberitahukan akan pergi ke mana, hanya berkata: “Pergi ke tempat yang dingin!”. Dan ternyata itu merupakan kejutan yang menyenangkan untuk mereka. Dan kami juga berterimakasih pada wanita penjawab telepon yang ketus. Berkat dia, kami bisa melihat keindahan alam yang hanya ada selama bulan Januari sampai pertengahn Februari. Terima kasih ya buuuukkkk.

 

Hadiah Istimewa Untuk Budhe

Aku tak kenal dia. Belum pernah bertemu muka dengannya.

Tapi aku tahu beliau pasti orang yang begitu sabar, selain baik hatinya.

Dan hari ini beliau berulang tahun ke 61! Usia melewati 4 kali satu putaran bagi orang Jepang, usia untuk memulai segala sesuatu yang baru.

Aku tak bisa mengirimkannya apa-apa. Bungapun tak sempat kubelikan. Tapi aku bisa mengirimkan doa, agar Budhe diberikan kesehatan yang berlimpah oleh Yang Maha Kuasa.

Selamat ulang tahun untuk Budhe di Surabaya dari kami di Tokyo:

 

Bunga sakura dari kami... gambarnya saja ya Budhe....

ditulis dalam waktu 4 menit saja jeh

Artikel  ini dikutsertakan dalam Kontes Menulis Cerita Mini

Solitaire dan Sendiri

 

 

 

Ikut yuuk! GIVE AWAY Pribadi Mandiri

Keterangan lengkap baca di bawah posting ini

 

Tahu solitaire kan? Itu loh permainan kartu yang mengurutkan angka-angkanya sampai kartu di tangan habis (ada pula versi digitalnya). Itu memang permainan khusus untuk sendiri, dan bagi yang menikmatinya bisa loh mereka berlama-lama main solitaire begitu berjam-jam. Dan saat ini aku mengingat almarhum Oma Poel yang kadang bermain kartu solitaire itu di rumahku.

Permainan kartu Solitaire itu konon sejarahnya mulai dari pertengahan abad ke 18 yang menyebar ke seluruh dunia dengan nama yang berbeda-beda. Di Inggris dikenal dengan nama “Patience”, di Perancis sering dinamakan “Success” dan dalam bahasa Denmark, Finlandia dan Polandia disebut dengan “Kabal” atau “Kabala” yang berarti secret knowledge, karena sering dihubungkan dengan ramal-meramal.

Konon diberitakan bahwa Napoleon memainkan solitaire ini dalam pengasingannya, tapi tidak terbukti. Pada pertengahan abad 19, permainan ini populer dalam masyarakat Perancis. Sampai akhirnya tahun 1980-an personal computer membuat permainan ini lebih populer karena tidak diperlukan kartu, tidak perlu mengocok dan membaginya. Dengan satu klik pemain  bisa memulai permainan baru. (dari http://justsolitaire.com/history.html)

Yang aku mau tulis sebetulnya bukan soal solitairenya tapi soal bermain “sendiri”nya. Memang kalau banyak waktu luang, atau ingin “membunuh waktu” kita tentu bisa saja bermain sendiri. Bermain game, bermain BB, Angry Bird atau PS/Nintendo dsb dsbnya. Tapi seberapa lama sih bisa bertahan? Apakah tidak pernah bosan?

Aku suka bermain game, tapi cepat bosan. Biasanya kalau aku mulai bermain game berarti aku sedang kesepian. Untunglah sejak 5 bulan lalu otomatis aku sudah tidak bermain game lagi karena sudah ada temen special berbagi hati 😀 Sementara sahabat hati satunya sedang  amat sangat  sibuk sehingga bagiku mendapat teman akrab  baru lagi sesudah pulang mudik dari Jakarta itu merupakan berkat dari Tuhan. Dan aku sadar bahwa aku memang tidak bisa “sendiri”.

Dalam percakapan kami, temanku itu berkata, “Mbak aku mau nonton sendiri hari ini”. Aduuuh kok bisa ya? Kamu bisa? Aku terus terang tidak bisa nonton sendiri, meskipun memang aku amat sangat jarang nonton bioskop. Nah di situ aku langsung berpikir, apa saja ya kegiatan yang tidak bisa aku lakukan sendiri? Dan jawabannya yang langsung melintas di kepala adalah MAKAN!

Ya aku mau cerita, bahwa aku TIDAK BISA makan sendiri… dulu sampai tahun-tahun pertama aku di Jepang. Aku memang tidak menampik bahwa keluargaku termasuk keluarga yang jarang makan bersama waktu malam. Masing-masing sibuk sendiri, sehingga jam makan berbeda semua. Tapi biasanya pasti ada seseorang yang menemani makan, kalau tidak hanya duduk di meja makan dan mengobrol bersama. Apalagi jika makan di luar rumah. TIDAK PERNAH makan di luar/di restoran sendirian! NEVER!

Karenanya aku bersyukur waktu pertama kali datang ke Jepang, aku homestay dengan keluarga Jepang dan biaya kost termasuk makan. Hari pertama mendarat, makan malam bersama keluarganya dan pembantunya! Ya saat itu aku juga kaget, benar-benar kaget karena orang yang dikenalkan padaku sebagai “pembantu” keluarga itu (memang keluarga kaya sih, karena biasanya keluarga Jepang tidak menggaji pembantu) ikut DUDUK di sampingku. Suatu kejadian yang tidak akan pernah dapat aku alami di Indonesia! Atau tidak juga di keluargaku. Apakah keluarga teman-teman yang mempunyai asisten, asistennya makan bersama????? Kurasa meskipun kita ajak makan bersama, mereka juga akan menolak, dan merasa nyaman makan sendiri di dapur. Ini satu pengalaman spritualku yang begitu membekas saat itu. SEMUA ORANG DUDUK DI SATU MEJA YANG SAMA. Inilah negara yang katanya tak beragama tapi betul-betul mengamalkan bahwa manusia itu semua sama. Aku mengubah pandanganku saat itu juga, sampai waktu aku mudik ke Indonesia setelah 2 tahun, begitu aku sampai di rumah Jakarta aku memeluk Dyah, asistem rumahku yang sudah lama bekerja pada kami, dengan perasaan syukur dan terima kasih yang begitu dalam (sambil menuliskan ini aku tak bisa menahan air mata mengingat perasaanku waktu itu dan mengingat mukanya yang kaget, tapi senang… ah Dyah aku kangen kamu. Semoga kamu sehat-sehat bersama Ricky anakmu di desa sana ya)

Jadi, selama di rumah homestay, aku selalu makan bersama keluarga atau minimum bersama sang asisten rumah. Tapi, aku tidak bisa selalu makan siang di rumah. Kalau sedang arbaito (kerja sambilan pertamaku menjadi asisten di kantor landscape di Harajuku, kerja serabutan menggambar atau menghitung, kadang mengantarkan pesanan gambar ke klien) , saat itu aku harus makan siang sendiri. Aku belum tahu bagaimana untuk makan siang yang murah, sehingga aku TERPAKSA masuk ke restoran spaghetti sendiri, duduk di meja untuk sendiri, dan melihat banyak OL (office lady) yang makan sendiri, sehingga aku berhasil menghabiskan spaghetti dalam piringku. Makan di restoran sendirian akhirnya berhasil aku jalani, …dan menjadi biasa. Karena banyak sekali OL yang sendirian di restoran itu. Dan aku juga bisa berganti restoran lain dengan memberanikan diri mencari restoran yang banyak meja untuk berdua saja.

Setelah cukup lama bekerja di kantor landscape itu aku kemudian bisa berteman dengan para arsitek di situ yang kebetulan berasal dari luar negeri. Ada orang Irlandia, orang Malaysia dan orang Amerika. Laki-laki semua, dan mereka mengajarkan aku membeli bento (bekal makanan) di toko dan makan di taman! Waduhh pertama kali aku diajak makan di taman dekat kantor aku canggung sekali. Tidak biasa aku makan di luar ruangan. Untung waktu itu seorang asisten lain yang  perempuan membawa bento dan ikut kami makan bersama. Dan untung mereka semua tidak tahu bahwa itu merupakan pengalaman aku makan di taman yang pertama 😀 Sesekali kami juga makan di restoran bersama, dan aku diajak ke restoran yang murah di sekitar kantor. Waktu itu budgetku untuk sekali makan adalah 1000 yen padahal kalau sekarang banyak sekali restoran yang menawarkan set makan siang seharga 700- 850 yen. Dan sekarang tentu sudah pintar mencari bekal makanan yang 400-an sehingga bisa hemat banyak.

Pengalaman makan siang bersama teman-teman kantor di Harajuku itu membuatku lebih mudah dan lebih cuek untuk makan sendiri. TAPI yang menjadi masalah waktu aku harus makan sendiri di universitas. Waktu pertama kali kuliah di universitas aku belum begitu tahu seluk beluk universitasku. Sehingga tidak tahu kantin itu di mana. Jadi cara terbaik adalah membeli roti. Tapi makan di mana? Tidak ada taman yang rimbun dengan tempat duduk di sekitar kampusku. Adanya lapangan rumput yang besar, lapang, tempat beberapa anak laki-laki selonjor dan makan siang. Tidak ada mahasiswi sama sekali. ADUUUH aku bagaimana? aku tahu, aku tidak bisa makan di luar. Dan aku tidak bisa makan di kelas, karena aku tidak punya kelas khusus waktu itu. Sebagai mahasiswa peneliti, kelasku adalah ruang kerja dosen pembimbingku, SM sensei. Sebetulnya kalau aku mau cuek, bisa saja aku minta ijin untuk makan di situ, karena aku tahu beberapa kali sensei pun makan siang di situ sambil berkata, “Imelda saya makan dulu ya…”.  TAPI aku tidak bisa begitu. Makan sendirian, dengan ditatap sensei yang belum begitu aku kenal (kurasa waktu itu aku memang salting deh, soalnya senseiku itu cakep sih hehehe **waktu itu aku belum kenal Gen loh**) . Jadi waktu kuliah itu aku makan rotinya di mana? Hayo tebak….

Di WC… ya di WC perempuan kampus lantai 5 itu memang jarang dipakai karena mahasiswi nya juga sedikit. WC di situ juga bersih,  tidak bau sehingga aku bisa makan deh dalam bilik WC itu cepat-cepat. Baru setelah aku mempunyai teman perempuan orang Jepang satu seminar, aku diajak makan di kantin atau beli bekal dan sama-sama makan di dalam kantor sensei. Ah…. urusan makan ini memang rumit sekali bagiku, karena aku tidak bisa makan sendiri, tidak bisa makan diliatin orang yang tidak aku kenal 🙁 Kalau diingat kembali, adaptasi adikku yang datang ke Jepang 5 tahun setelah aku jauuuuh lebih cepat daripadaku soal makan ini. Bayangkan, aku belajar makan tachigui soba (mie Jepang yang dimakan sambil berdiri di stasiun) dari dia. Tachigui soba  di stasiun ini MURAH meriah. Beli tiket di vending machine, hanya 350 yen, makan sambil berdiri, slurp 5 menit selesai!  kembalikan mangkoknya lalu pergi. Tidak berlama-lama. Ya aku baru bisa makan itu setelah adikku datang dan mengajariku. Makasih ya Tin 😉  Waktu pertama kali aku tahu bahwa dia sering makan tachigui soba itu, aku bertanya, “Kok kamu bisa sih makan sambil berdiri begitu?” Dia berkata, “Bisa dong. Yang penting murah! Kan aku tidak sekaya kamu yang bisa makan di restoran”…. hmmmm berarti aku manja  ya?

Sekarang tentu saja aku sudah bisa makan sendirian, bisa belanja sendirian, bisa minum kopi sendirian di kedai kopi, bahkan bisa masuk internet cafe/ mangga kissa sendirian. Bisa segala sesuatu (sepertinya sih) sendirian. Tapi awalnya ya itu aku tidak bisa makan sendirian. Bagaimana dengan teman-teman? Tidak bisa melakukan apa sendirian?

Tulisan ini sekaligus mengenang Oma Poel yang jika masih hidup akan berusia 91 tahun pada tanggal 18 Februari besok. I miss you oma!

NB:

Aku menerima beberapa pesan dari mereka yang pernah/sedang tinggal di Tokyo dan merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan waktu itu. Well soal makan memang sulit. Aku masih beruntung karena aku kristen bisa makan semua. Sehingga masalahku HANYA pada soal kebiasaan saja. Tapi mereka yang muslim… sulit sekali untuk mendapatkan makanan yang halal, jika tidak mau masak sendiri. Itu juga menjadi masalah. Mau makan roti atau makanan jadipun di sini kan SUDAH PASTI tidak ada tanda halalnya, kecuali beli di toko khusus. Tapi aku ingat perkataan Alm. Prof Koesnadi waktu kutanyakan soal makanan (beliau pernah tinggal berbulan-bulan di sini dan aku sering bermain ke apartemennya), katanya :”Kan ada kekecualian untuk musafir Imelda”. Ah aku juga kangen pada Prof Koesnadi yang begitu bijak, juga istrinya Tante Nina yang sering membuatkan aku sambal terasi jika aku datang 🙁
Teman-teman yang baru/sedang tinggal di Jepang, semoga bisa mengatasi masalah makan ini dan menjadikannya sebagai suatu pengalaman yang berharga ya.

 

 

Ikut yuuk! GIVE AWAY Pribadi Mandiri

Perhelatan KHUSUS untuk warga Warung Blogger (WeBe) baik bloggerwan maupun bloggerwati. Bila anda BLOGGER tapi belum jadi warga WeBe yaaa sebaiknya daftar dulu deh hehehe  Silahkan membuat  postingan berjudul SOLITAIRE dan SENDIRI, boleh mengintip postingan kami (saya dan Imelda)  tapi tidak boleh mencontek plek ketiplek *GR* di blog masing-masing. Tentu  saja wajib mencantumkan link blog kami berdua, sebagai pemberitahuan pada kami bahwa tulisan kalian sudah tayang. Setelahnya, daftarkan tulisanmu di komen postingan ini seperti biasa:

Nama : Fulan (id facebook : www.facebook.com/fulan)

 Judul : SOLITAIRE dan SENDIRI

URL:

Cantumkan juga : Tulisan ini diikutkan pada perhelatan GIVEAWAY :  PRIBADI MANDIRI yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier dan Nicamperenique.

Ada 3 kriteria untuk calon pemenang, yaitu :

1. Tulisan yang teratas di google.com

2. Tulisan yang terOK menurut kami berdua

3. Tulisan yang terbanyak mendapatkan LIKE dari warga Warung Blogger.  Berarti tulisan teman2 harus diposting di WeBe ya, jangan lupa itu

Perhelatan ini diadakan SATU MINGGU saja, mulai hari ini 17 –  24 Pebruari, 2012, dan pengumuman akan ditayangkan pada tgl. 25 Pebruari 2012.

HADIAHnya aapaaaaa???

Ga pake ribet, ga pake lama, VOUCHER GIFT senilai Rp 100.000,- dari toko buku untuk 3 orang pemenang. Gimana? Menarik toh? Menarik dong!

Semua warga WeBe WAJIB ikut ya … becanda ding … ok, ditunggu partisipasinya yaaaa !

 

 

Giri dan giri-giri

Sudah lama aku tidak berbicara atau mendengar kata “giri” dalam bahasa Jepang, sampai saat aku membaca sebuah timeline penulis, “Support teman MEMBELI bukunya, bukan meminjam atau meminta gratisan! ” Hmm  tentu saja aku setuju sekali! Penulis itu kan memang mengharapkan bukunya dibeli, kalau diberikan gratis ya bangkrut dong. TAPI kalau untuk tujuan promosi diri sendiri ke penerbit lain atau orang-orang yang telah berjasa menjadikannya penulis, ya gratis dong yah. Yang saya tahu malah Pakdhe Cholik tuh sering membagi-bagikan buku karya penulis-penulis kenalannya juga yang beliau beli sendiri, sebagai hadiah kontes atau giveaway. Tindakan pakdhe itulah yang terpuji, karena selain beliau membantu penulis, juga membantu menyebarkan buku (literasi) kepada teman-temannya. Lagipula menurutku BUKU adalah HADIAH yang terbaik!

Lalu terhadap tulisan “”Support teman MEMBELI bukunya, bukan meminjam atau meminta gratisan! ”  itu aku menulis: “Aku selalu beli buku teman. Ngga pernah mau gratisan. Inget “giri” dan “ninjo” aja!”. Nah Giri itu apa?

Sulit dijelaskan dengan satu kata karena artinya juga bisa berubah sesuai dengan kalimatnya. Tapi definisi Giri yang umum adalah:  moral untuk berhubungan dalam masyarakat. Etika yang sewajarnya dilakukan dalam kehidupan. Sesuatu yang wajib dilakukan dalam berhubungan dengan manusia atau masyarakat. Wajib itu belum berarti “dari hati” loh… karena itu dulu banyak orang yang tidak mau membantu orang lain karena takut orang yang mereka tolong mempunyai “giri” yaitu harus membalas budi si penolong. Sulit juga menerangkan kata giri ini yang mendasari kehidupan orang Jepang.

Tapi hari ini yang paling tepat adalah pemakaian kata giri choco. Seperti mungkin sudah diketahui, pada hari valentine di Jepang, justru si perempuan yang memberikan coklat kepada laki-laki untuk menyatakan “cinta” nya. Dan nanti tanggal 14 Maret – White Day – giliran si laki-laki memberikan sesuatu sebagai balasan kepada si perempuan, sebagai arti menerima cintanya. TAPIIIII kebiasaan itu akhirnya ditutup dengan memberikan coklat juga kepada semua laki-laki di sekitarnya. Mungkin kalau kasih kepada satu cowok saja, malu dan takut ketahuan, jadi semua cowok diberikan saja coklat, dengan harga yang berbeda (lebih murah). Nah ini yang disebut giri choco. Coklat “terpaksa” atau coklat pamrih hehehe.  Katanya kalau harganya di atas 1500 yen itu berarti itu lambang cinta sejati hahaha.  Memang ini bisa-bisanya/ taktik dari perusahaan coklat untuk membudayakan pemberian coklat.

Coklat mahal dari GODIVA yang diberikan staf perempuan di kantornya Gen. Uenak pastinya soalnya mahal dan GRATIS! tapi aku harus bagi bertiga nih, aku, Riku dan Kai. Gen tidak begitu suka coklat soalnya. .

Nah apakah aku sudah memberikan coklat kepada TIGA cowok di rumahku? Belum! Mungkin nanti giri-giri sebelum tidur, cari simpanan coklat di lemari atau buat sebentar hehehe. Atau buat susu coklat aja deh. Giri-giri itu artinya MEPET. Jadi coklatku bukan coklat pamrih atau terpaksa tapi coklat mepet 😀
Jadi hari ini sudahkah Anda makan coklat? 😉 Suka coklat ngga? Aku sudah pasti suka coklat tapi yang bitter. Lebih suka lagi yang isinya marmalade! (dan ini biasanya mahal!) Marmalade yang agak kecut pahit dilapis coklat bitter yang pahit manis… sama seperti hidup ini kan? Paduan pahit, kecut dan manis 😀
HAPPY VALENTINE!

 

Akhirnya setelah bongkar lemari ada coklat berbentuk seashells, yang memang pernah aku beli untuk valentine. Dulu pernah coba coklat yang berbentuk seperti kerikil (dan persissss banget). Kali ini sea-shells deh. lucu ya 😉

12

Tanggal 12 Februari, cocok untuk mengerjakan dua belas  pe-er dari ibu Chocovanila.Yakkk, sebelum tanggal berganti aku cepat-cepat selesaikan ya.

Dua belas kelebihan Anda

1. Sejak tinggal di Jepang, bisa makan dalam 5 menit jika perlu.
2. Impulsif dan kadang nekat
3. Tidak mudah tegang di depan TV atau mike radio
4. Bisa makan apa saja dan di mana saja
5. Bisa berteman dengan siapa saja
6. Cuek dan to the point jika perlu 😀
7. Mau mendengar curhat orang/ menerima konsultasi 😀
8. Tidak cepat panik, tapi cepat merasa kesepian 😀
9. Bisa mengoperasikan studio radio, bisa masak, bisa (sedikit) jahit, bisa nyanyi, tapi paling tidak bisa berdansa/menari.
10. Pernah tampil di TV Jepang 3 kali – live, 2 kali rekaman
11. Pernah menjadi narator buku pelajaran bahasa Indonesia, pengisi suara iklan telepon internasional, panduan penumpang pesawat JAL, video promosi Yamaha, sulih suara dalang.
12. Di antara sekian banyak wawancara surat kabar Jepang, yang paling dianggap berbobot adalah tampil di harian Asahi dalam kolom HITO, (semacam perkenalan tokoh), yang katanya sulit untuk bisa masuk kolom ini.

Dua belas hal yang paling tidak Anda sukai

1. orang yang snobbish atau sok tahu
2. pamer merek dan kekayaan, (juga titel berderet-deret <<ini mah ngiri kali yah hahaha)
3. mobil sport (kayaknya dari awal udah bilang “ngga terima tumpangan” hahaha)
4. picky eater meskipun mencoba untuk bisa toleransi pada mereka yang punya beberapa ketidak sukaan. Kalau alergi lain lagi loh ya.
5. nyisain makanan dengan mudahnya:D
6. manja terusss (sesekali sih boleh)
7. jelekin sahabat sendiri di depan umum
8. berbohong
9. menggampangkan segala sesuatu
10. orang yang pelit
11. tidak tepat waktu
12. televisi, infotainment dan sinetron

Dua belas hal tentang Jakarta

1. kampung halamanku
2.  daerah selatan yang rindang dan masih hijau
3.  rumahku, dan tempat aku lahir
4. jajanan keliling
5. macet
6. panas
7. ke mana-mana naik mobil
8. metromini dan kopaja
9. Blok M Plaza dan Ratu Plaza, dua tempat main jaman SMA
10. Summitmas Tower, tempat aku belajar tambahan bahasa Jepang di Japan Foundation
11. TMII
12. Bajaj <<rindu bajaj, soalnya ngga ada di Jepang 😀

Dua belas tujuan wisata yang paling diinginkan :

1. Belanda (Keukenhof dan bertemu keluarga di sana)
2. Spanyol (Pengen bertemu cowok cakep di sana :D)
3. Lourdes (Pengen berdoa yang banyak)
4. Roma (Pengen menelusuri gereja-gereja di sana sekali lagi)
5. Nagasaki (Pengen melihat kota tempat perkembangan agama katolik pertama kali di Jepang)
6. Korea (Pengen MAKAN! bukannya ketemu idolanya bibi erry :P)
7. Kanazawa (melihat pemandangan di Taman Kenroku)
8. New York (Bertemu teman-teman di sana)
9. LA untuk bertemu saudaraku, EMMA  dan Lake Tahoe or lake apa saja deh,( aku pecinta danau!)
10. New Zealand (menurut bapak mertuaku pemandangannya bagus katanya di sini )
11. Sapporo (Snow Festival)
12. Swiss (Pengen ketemu Heidi :D)

Dua belas makanan yang paling Anda gak suka:  cuma satu : NATTO hehehe (penampakannya seperti di sini)

Menjawab 12 pertanyaan:

1. Apa arti dari nama Anda?
Imelda = nama santa, Emma = nama pemberian papa sesuai nama ibunya (oma), Veronica = nama permandian.
2. Apa maksud judul/tagline blog anda, dan kenapa anda memilih kalimat tersebut?
Menikmati setiap detik sebagai perjalanan kehidupan sampai tiba akhir perjalananku.
3. Kenapa anda ngeblog?
Mencatat pengalaman dan informasi yang mungkin berguna
4. Apa yang paling Anda takuti di dunia ini?
Takut kehilangan teman/sahabat
5. Apa yang paling tidak Anda sukai?
Dibohongi
6. Apa yang anda lakukan untuk menjaga lingkungan?
Mengurangi pemakaian plastik, mendaur ulang makanan dan barang-barang yang masih bisa dipakai (tidak mudah membuang barang)
7. Sebutkan 1 orang yang paling anda cintai.
kedua anakku.
8. Apa yang anda lakukan untuk menjaga kesehatan anda?

Sedapat mungkin tidak makan jerohan dan udang/kepiting.
9. Apa yang membuat anda menjadi nyaman?
Mandi berendam air panas/ hot spring
10. Apa hobi Anda?
Membaca, masak, nyanyi, makan!
11. Apa motto hidup anda?
“You Can if You Think You Can”
12. Apa yang anda ketahui tentang transportasi umum?
Transportasi untuk umum adalah transportasi yang disediakan pemerintah (daerah) untuk warganya dengan harga terjangkau dan mencakup semua daerah.

Bu Choco… pe-ernya udah benar belum? Apa ada yang belum dijawab?

Ada yang mau dikasih pe-er ngga?Langsung kerjain aj, pertanyaannya sama kecuali yang tentang Jakarta, diganti dengan Tokyo ya heheheh.

 

STOP PRESS:

tadi pada pukul 8:46 pagi waktu Indonesia bagian barat, ANGKA CANTIK komentar ke 21212 telah tercapai, setelah duel seru antara Nicamperenique dan Uda Vizon. Aku yang tidak mau kehilangna moment penting terus menerus refresh posting ini dan berhasil memotret detik-detik pencapaian komentar ke 21212 itu, sebagai berikut.

Untuk Nique akan aku cari hadiah spesialnya. Kalau ada keinginan boleh disebutkan, asal jangan tiket pesawat pp Jk-Tky (kalo ada tiket pesawat, mending aku yang mudik hehehe)

Selanjutnya…. sekitar 1000 komentar lagi menuju jumlah 22.222. Bisa tercapai sebelum summer ngga ya? (Tergantung kerajinanku menulis sih itu hehehe). Ditunggu loh.