Arsip Bulanan: Oktober 2010

Keriput ceria atau keriput duka

Pernah lihat anjing bulldog ? (sorry ya Yeye, bukan maksudku menjelekkan si Poki). Tahukah kamu kapan anjing bulldog itu tersenyum/tertawa? Perasaan melihat mukanya saja, kita menyangka anjing itu bawaannya sedih selalu. Meskipun bagi pemiliknya bisa melihat kapan dia tertawa atau biasa saja.

Memang manusia tidak bisa dibandingkan dengan anjing. Tapi aku pernah melihat seorang bayi yang…. entah bagaimana dengan bibirnya, bayi itu terlihat muram terus, tak pernah tersenyum atau tertawa. Suram! (Aku tidak akan memuat fotonya, karena kebetulan anak temanku). Bayangkan jika si bayi terus begitu terus sampai tua, rasanya kita tertular kesuramannya sepanjang masa, bukan?

Jumat lalu, seperti biasa aku mengajar di Universitas Senshu. Karena aku melaksanakan test kecil di akhir pelajaran, aku bisa menyelesaikan kuliah 15 menit lebih dahulu dari waktunya, sehingga aku bisa mengejar bus karyawan pukul 14:23. (Jika tidak maka aku harus naik yang 14:35).

Pas sampai di bawah, di depan pintu gerbang gedung baru, aku bertemu dengan dosen bahasa Spanyol, yang boleh dikatakan karibku di sini. Cuma kadang-kadang aku malas bertemu dia, karena sudah bisa dipastikan seluruh perjalanan pulangku akan dipakai untuk berbicara, dan dalam BAHASA INGGRIS. Well, bagus juga lah supaya aku bisa berlatih terus hihihi.

Wanita ini berasal dari Columbia, cantik,  langsing, tomboy dan selalu bercelana panjang untuk mengajar, dan …tas ransel. Cocoklah kita (sama-sama pakai ransel hihihi, bukan cantik dan langsingnya). Tapi kemarin itu ada yang janggal, yaitu dia memakai tas seret (beroda).

Begitu bus datang, kami naik dan kami duduk terpisah, karena tempat duduk untuk berdua di bagian depan, ditempati dosen lain. Lalu dia bertanya kabar anak-anak and so on. Dia memang tidak (mau) punya anak tapi sering menanyakan kabar anak-anakku. Sesampai di stasiun, dia berkata bahwa dia harus naik lift (bukan tangga), dan dia ajak aku bersamanya. Dan baru saat itu dia bercerita tentang keadaannya.

Seminggu yang lalu, dia jatuh di sebuah stasiun. Tidak biasanya hari itu dia begitu bergegas untuk bisa naik kereta, padahal hari masih pukul 6 pagi. Masih sedikit orang yang naik kereta. Waktu dia berlari turun dari tangga, dia “salah langkah” kaki kanannya sehingga dia jatuh di peron (untung bukan di rel kereta. Dia jatuh sedemikian keras, sampai dia sendiri tahu, ini jatuh yang fatal. Dia tidak berani buka mata, takut panik. Untuk beberapa saat dia meng-scan tubuhnya (aku tak tahu apakah kita orang biasa bisa melakukannya, tapi jika kita berada dalam kondisi kritis dan bisa mengendalikan diri kita, maka kita bisa “melihat” kondisi tubuh mulai dari kaki sampai kepala. Hal ini pernah aku alami antara tidak sadar dan sadar sesudah anastesi caesar).  Dan dia mendapatkan hasil bahwa badannya OK saja, tidak ada kerusakan luar.

Yang lucunya, karena masih pagi, tidak ada orang yang ada untuk membantunya. Seorang petugas stasiun datang mendekat, tapi dia tidak mau dekat-dekat. Dia hanya bertanya,”Ibu, Anda tidak apa-apa?” Dan dijawabnya, “tolong bantu saya berdiri”. Dan si petugas tidak mau. (Hal ini sering terjadi di Jepang, karena jangan melakukan tindakan gegabah dengan langsung mengangkat atau mendirikan orang yang jatuh, karena ada kemungkinan bisa memperparah lukanya. Itulah prosedurnya! Yang boleh mengangkat atau membantu orang sakit hanya paramedis).

Akhirnya si dosen itu bangun dengan tenaga sendiri, dan meskipun merasa sakit lebam di dada/sisi badan bagian kanan, dia tetap naik kereta menuju tempat kerjanya. “Aku sampai di kampus, lalu pergi ke WC dan buka bajuku semua. Wow, aku harus mengucapkan terima kasih pada petugas stasiun itu. Lantainya benar-benar bersih, sehingga bajuku sama sekali tidak ada titik noda. Padahal aku pakai shirt putih! Dan waktu kulihat badanku juga sama sekali tidak ada “biru-biru” di sisi yang sakit. Semua perfect! TAPI sakit!”.

Selesai mengajar, dia langsung pergi ke dokter untuk memeriksa badannya. Discan dan dokter berkata: “Apa benar kamu jatuh? Sama sekali tidak ada bekasnya.” Dan dokter memberikannya obat pain-killer saja.

Sekembalinya di rumah dia tetap merasa aneh. Sehingga dia kembali mengadakan “scan” pada dirinya. Kali ini dia bisa menemukan titik sakitnya yaitu di daerah rusuk bagian tengah. Jadi, esok harinya dia pergi lagi ke dokter dan minta periksa dengan detil bagian rusuk tengahnya. Dokter berkata, “Ah itu cuma perasaan kamu saja. Tidak ada yang aneh kok. Tapi OK, mari kita lihat hasil rontgennya”.

Ta… raaaaa….. (sound effect  untuk sesuatu hasil magic). TERNYATA dari hasil rontgen diketahui bahwa tulang rusuk ketiga PATAH di tengahnya. Terlihat ada space yang cukup besar di rusuk itu. Dan karena luka dalam, dokter tidak bisa melakukan sesuatu selain menunggu kesembuhan secara alami. Meskipun bisa dibantu dengan bebat, tapi seringkali bebat itu membuat si penderita susah nafas.

Karena itulah dia memakai tas seret karena tidak mau membebani punggung dan rusuknya. Memang aku sempat membantu membawakan tasnya (yang ringan) waktu kami turun tangga menuju peron, tapi secara keseluruhan penampilannya sama sekali BIASA. Dokter yang merawatnya berkata, “Bagaimana bisa kamu TAHU rusukmu patah! Dan yang lebih heran bagaimana bisa kamu menahan sakit yang sudah pasti AMAT SANGAT SAKIT dna masih bisa tertawa-tawa bercanda dengan saya?”.

Lalu si dosen berkata, “Well dokter. Memang sakit. tapi masih bisa ditahan. Mengapa saya musti menangis kesakitan? You know dokter, Manusia pasti akan menjadi tua dan keriputan. Tapi saya pilih menjadi keriput dengan suka hati tanpa sedih dan tangisan. Toh hasilnya sama: Keriput. Jadi… beginilah saya, masih bisa tertawa-tawa dalam sakit.” Dan semua staf universitas juga heran ketika diberitahu hasil “rusuk patah” karena sama sekali tidak terlihat dari luar.

Aku sendiri tidak tahu seberapa sakitnya. Aku juga tidak tahu apakah aku dapat bersikap seperti dia jika mendapat kejadian yang sama. Tapi yang pasti aku setuju sekali bahwa aku ingin menjadi keriput dengan suka cita.

“Tuhan mengingatkan kamu untuk slow down….jangan cepat-cepat dalam hidup ini. Dan ingat umurmu” kataku
“Ya, aku juga tahu. Aku selalu berprinsip tidak mau berlari mengejar kereta. Tapi entah saat itu aku seperti diajak berlari. Memang Tuhan mau mengingatkan aku dengan kejadian ini ya.” katanya.
“Dalam budaya Jawa, kami selalu punya kata “untung”, untung kamu cuma patah rusuk, tidak patah kaki atau keseleo atau yang lainnya.”
“Aku rasa filosofi itu yang terbaik. Kita harus selalu melihat segi positif dalam semua kejadian”

slow down – scanning – think positive – always be grateful….
and KEEP SMILING…..

.

.

Have a good SUN-day everyone.

Pertanyaan itu….

Sebelum aku mulai tulisan ini, aku ingin sampaikan duka mendalam untuk korban di Mentawai, korban letusan Gunung Merapi, dan…korban banjir Jakarta. Memang kelihatannya Indonesia dihajar musibah bertubi-tubi, dan sebetulnya di Jepang pun ada sebuah pulau terendam air saat badai mengamuk beberapa hari yang lalu. Bumi sudah tua?

Aku bisa bayangkan paniknya mereka yang mempunyai saudara di tempat-tempat musibah. Begitu aku mendengar gempa di Padang, aku langsung sms ke seorang teman di sana. Dan mendapat jawabannya jam 1 malam di sini. Syukurlah dia tidak apa-apa. Demikian pula begitu mendengar Merapi meletus aku langsung menelepon rumah, tanya kabar dan mengetahui bahwa papa sedang pergi ke Pekanbaru untuk mengajar.

Tadi aku sempat chatting dengan Nana di YM. Dia mengatakan “Aku tidak tega menonton TV tentang wawancara yang dilakukan pada seorang ibu yang bayinya meninggal karena menghirup abu letusan gunung Merapi. Belum lagi si jurnalis TV menginterview keluarga Mbah Marijan dengan memakai perkataan mati gosong (aku tidak hafal tepatnya apa, tapi tidak layaklah pemakaian kata itu untuk manusia)”.

Memang seorang jurnalis harus membuat berita yang bagus (demi rating?). Dan namanya juga manusia bahwa di saat-saat seperti musibah, tidak bisa merangkai kata-kata manis sebagai pertanyaan karena panik. Tapi mbok yo yang sopan sedikit kan bisa. Karena sesungguhnya bahasamu adalah pribadimu….wahai jurnalis. Bahkan aku pernah membaca di salah satu buku jurnalis, bahwa selayaknya wartawan belajar (kuliah) membuat pertanyaan-pertanyaan yang “bernurani” kepada korban dengan simulasi-simulasi dan latihan.

Biasanya media di sini mewawancarai keluarga korban meninggal bukan dengan “Bagaimana perasaan Anda mendengar dia meninggal”, tapi “kami turut belasungkawa. Kira-kira ada pesan almarhum yang ditinggalkan sebelum meninggal?”. “Bagaimana kronologis sebenarnya yang terjadi?” dll.  Dan biasanya memang meskipun menginterview keluarga, biasanya bukan ayah/ibu/keluarga langsung. Biasanya om/tante, keluarga jauh, yang diperkirakan bisa menjawab pertanyaan. Biar bagaimanapun juga “perasaan Anda ttg almarhumah” tidak pantas untuk ditanyakan. Adakah orang yang tidak sedih jika anak/orangtua/saudara kandungnya menjadi korban? Lain halnya jika kejadian sudah cukup lama berlalu.

Dalam kasus pembunuhan, jika tersangka masih dibawah umur (di bawah 20 th) tidak dibenarkan menuliskan nama tersangka. Hanya diberi nama Shonen A. Juga bukan inisial. Begitu pula keluarganya tidak boleh ditampilkan wajahnya, untuk melindungi privasi ybs dan keluarganya. Karena si remaja tersangka pembunuhan, jika benar menjadi terdakwa dan menjalankan hukuman, masih ada kemungkinan dia akan keluar penjara dan hidup di masyarakat. Tidak diumumkannya nama remaja itu juga untuk melindungi dia waktu dia keluar penjara, kelak.

Itupun biasanya bertanya dulu kepada si pemberi info/yang di interview apakah mau wajahnya disorot atau tidak. Tidak jarang kami hanya melihat tubuh bagian bawah dengan suara ybs, atau diblur wajahnya dan suaranya pun diubah. Dan jangan harap pemirsa di Jepang bisa melihat tayangan jenazah. Tidak ada satupun media yang menampilkan wajah/tubuh orang yang sudah meninggal. Demikian pula tidak ada satupun foto jenazah dalam peti mati, meskipun saudara yang diambil/dipotret! Tidak ada fotografer di sebuah pemakaman/upacara penghormatan jenazah terakhir di Jepang! Jangan sampai orang Indonesia meminta izin kepada keluarga Jepang untuk memotret dirinya dengan jenazah! Tidak sopan.

Memang budayanya lain. Aku pun sering melihat foto-foto anggota keluarga besarku yang meninggal, wajahnya sebelum petinya ditutup. Atau biasa saja kita melihat orang yang mengupload foto jenazah kekasihnya tersebut di media internet. Wajah kematian.

Jepang menganggap orang yang sudah meninggal sebagai “hotokesama” seorang yang disucikan, kembali ke alam suci. Setiap polisi, atau medis yang harus menangani jenazah korban baik musibah atau pembunuhan, pasti menghormat di depan jenazah, seakan meminta izin. Aku tidak tahu apakah agama islam ada doa khusus sebelum menangani jenazah atau tidak. Yang kutahu bahwa ada doa waktu pertama kali kita mendengar berita kematian dengan Innalilahi…. atau surat Al Fatihah.

Sebagai hotokesama, tidak pantas kita memotret jenazah, kecuali mungkin polisi sebagai barang bukti. Dan yang pasti, foto jenazah itu TIDAK AKAN diperlihatkan kepada masyarakat umum. Terus terang aku kaget sekali melihat foto jenazah Mbah Marijan diupload begitu saja di Facebook. Entah orang itu dapat darimana, mungkin media, karena kalau medis menyebarkan foto seperti itu semestinya melanggar kode etik (atau ada kekecualian di dunia medis Indonesia?). Mungkin foto itu sebagai pembuktian bahwa beliau bersujud menyongsong kematian. Tapi apakah kita harus melihat bukti khusus berupa foto itu? Aku rasa tidak akan ada yang menyangkal kok apapun posisi jenazah, sehingga perlu ada pembuktian begitu. Atau mungkin ada tujuan lain dengan foto tersebut? Aduh… kemana moral manusia Indonesia?

Aku mungkin akan merubah pandanganku tentang foto jenazah saudara yang meninggal, setelah aku tinggal di sini 18 tahun. Aku lebih setuju mengenang wajah kala orang itu masih sehat dan segar, ketimbang merekam wajah yang tanpa nyawa. Apakah foto jenazah itu akan dipandangi terus? Kalau toh tidak dipandangi, buat apa difoto ya? Aku ada foto jenazah Oma Poel, tapi aku hanya menyimpannya dan hanya melihat satu kali waktu menerimanya, untuk kemudian tak akan pernah kubuka. Wajah Oma yang ceria dengan senyum yang khas lah yang ingin aku kenang. Bukankah begitu?

Hormatilah korban dengan perkataan/pertanyaanmu, dan tindakanmu. Karena meskipun sudah tak bernyawa, mereka tetap saudaramu. Bukankah kita semua bersaudara? Tak pantas kita menyakiti saudara kita, bukan?

(akhirnya tertulis juga uneg-unegku tentang media Indonesia.)

Rumput Babi

Terus terang tidak ada rumput yang bernama Rumput Babi (sudah obrak-abrik rumah Om Gugle). Yang ada rumput yang dimakan Babi. Tapi aku namakan dia si Rumput Babi, karena bahasa Jepangnya adalah KUSABUTA (kusa =rumput dan buta=babi) 草豚. Dan semestinya ini tidak haram kok, seperti juga Kacang Babi ソラマメ (soramame)  yang pernah aku tulis di sini. (Ya iya lah mel, emang semua yang pake kata “babi” jadi haram?)

Yang pasti sekarang aku (dan mungkin anak-anak juga) sedang menderita akibat si Rumput Babi ( Ambrosia artemisiifolia) ini. Rumput yang dalam bahasa Inggrisnya disebut ragweed atau hogweed ini memang menyebarkan serbuk bunganya di musim gugur. Serbuk rumput ini mengandung alergen, yang konon jumlah penderitanya nomor 3 setelah alergi pohon pinus Sugi, dan pohon Hinoki. Padahal aku ini alergi debu, dan termasuk juga serbuk-serbuk pollen begini. Jadi siapa saja yang tinggal di Jepang dan mengalami bersin-bersin, sakit kepala pada musim ini (apalagi kalau musim semi juga mengalami kejadian yang sama) bisa dipastikan Anda termasuk penderita alergi Kusabuta.

Si Rumput Babi yang membuat aku sengsara.... Padahal tampangnya spt tidak bersalah kan? hihihi. Gambar diambil dari wikipedia Jepang ttg Butakusa

Mana cuaca semakin dingin, daya tahan tubuh melemah. Di Tokyo sekarang mendung terus bawaannya,  semakin menunjang mereka yang memang kesehatannya sedang menurun. De Miyashita menderita bersin/pilek, batuk dan juga sedikit demam sejak masuk bulan Oktober. Bergantian!  Sehingga profesiku bertambah selain jadi Tukang Masak, Tukang Cuci, Tukang beberes, menjadi Juru Rawat deh. Apalagi akhir-akhir ini setiap Senin aku menjadi Juru Mudi a.k.a supir juga. Akibatnya hari ini tumbang juga. Tanpa tidur 3 jam di siang hari (setelah minum obat) sudah pasti aku tidak bisa menjalankan seluruh tugasku ini. Bisa-bisa aku dipecat deh hihihi.

Selain alergi karena Rumput Babi, aku juga memang alergi debu, padahal sekarang karena sudah semakin dingin sudah harus menyiapkan baju-baju tebal, yang kebanyakan terbuat dari wool, dan menyimpan debu. Hatchiiii hatchiii terus deh. Persiapan baju tebal termasuk membongkar lemari ini di Jepang disebut Koromogae 衣替え, yang dilakukan setiap pergantian musim.

Meskipun banyak susahnya, aku tetap optimis menjalani musim gugur dan menyambut datangnya musim dingin. Di Nikko kabarnya daun-daun di pepohonan Momiji (Maple) sudah berubah warna dan indah sekali warnanya waktu aku lihat di TV. Sayang hari Minggu kemarin kami tidak sempat mencari “autumn” karena mendung dan waktunya pendek. Semoga masih bisa menikmati perubahan warna daun menjadi kuning/merah yang dalam bahasa Jepangnya disebut Kouyou 紅葉.

Dawai Benang Laba-laba

“Benang Laba-laba” atau bahasa Jepangnya Kumo no Ito 蜘蛛の糸, adalah sebuah cerpen karangan satrawan Jepang terkenal Akutagawa Ryunosuke 芥川龍之介. Ini merupakan bacaan wajib mahasiswa sastra Jepang UI kala itu. Kalau tidak salah karangan ini dimuat dalam buku Nihonggo I, buku pelajaran yang sama sekali tidak ada lucu-lucunya (yaelah imelda, sejak kapan textbook kuliah ada yang lucu ya?). Bacaan yang berat, karena memang Akutagawa sastrawan yang “berat” dan “suram” juga hasil karyanya. (Tahu kan maksudku berat dan suram…. kalau baca tulisannya tuh bukan gembira, tapi malah jadi mikir dan depresi hihihi)

Suatu hari Syaka sama (Siddartha Gautama) sedang berjalan di kolam teratai di surga. Dari kolam itu bisa terlihat di bawahnya di kejauhan isi neraka. Sang Buddha melihat seorang mantan perampok bernama Kandata sedang menderita sengsara di dalam neraka. Memang semasa hidupnya Kandata orang jahat, tapi satu kali saja dia pernah menolong seekor laba-laba, dengan tidak menginjaknya.

Mengingat kebaikan Kandata, Sang Buddha memberikan kesempatan pada Kandata untuk bebas, dengan mengirimkan seekor laba-laba yang menjulurkan benangnya ke dalam neraka. Kandata yang melihat benang laba-laba ini kemudian memanjatnya untuk keluar dari neraka. Terus memanjat sambil berharap dapat keluar dari neraka, Kandata kemudian melihat ke bawah. Dan dilihatnya bahwa banyak penghuni neraka ikut-ikutan memanjat benang laba-laba itu. Kandata berpikir, kalau begitu banyak orang ikut memanjat maka benang laba-laba itu akan putus, dan dia tidak bisa keluar dari neraka. Maka dia berteriak,” Hei, benang ini milikku. Siapa yang menyuruh kalian memanjatnya. Turun! Turun!”. Dan tepat setelah teriakan Kandata itu, benang laba-laba itu terputus persis di atas Kandata, sehingga Kandata jatuh masuk neraka lagi.

Sang Buddha yang melihat keserakahan Kandata menjadi sedih dan menjauhi kolam teratai itu.

Cerita lengkapnya bisa baca di sini.

Sebuah cerita yang sarat mengandung ajaran agama (terutama agama Buddha) ini dimuat pertama kali dalam majalah sastra untuk anak-anak  “Akai Tori” pada tahun 1918. Waktu membaca karya tersebut pertama kali, aku berpikir juga, kenapa ya memakai laba-laba? Memang binatang yang ditolong Kandata adalah laba-laba bukan semut atau kelinci misalnya. Tapi secara logika memang hanya laba-laba yang bisa menjadi media, sebagai tangga keluar dari neraka. Selain itu kenyataan bahwa benang laba-laba itu sebetulnya amat kuat.

Biola yang memakai 3 senar dari benang laba-laba dimainkan oleh Prof Oosaki.

Adalah seorang Profesor Oosaki Shigeyoshi dari Nara mengumumkan hasil penelitiannya awal September lalu yaitu berhasil membuat biola dengan memakai benang laba-laba sebagai dawainya. Suaranya? katanya terdengar lembut (sayang tidak ada di youtube, rasanya ingin mendengar seperti apa suaranya).

Tiga senar biola yang masing-masing berdiameter 0,7-1,00 mm itu memakai belasan ribu helai benang laba-laba yang dijadikan satu. Dikumpulkan dari 300 laba-laba yang menghasilkan benang dalam waktu 2 tahun.

Tali dari benang laba-laba dipakai sebagai salah satu bagian pada sambungan hammock. Bisa menahan beban 65 kg lebih.

Selain suara yang indah, benang laba-laba itu juga terkenal sebagai benang yang kuat. Seberapa kuatnya? Sekitar 190.000 helai benang laba-laba dijadikan satu dan menjadi satu bagian penyambung di hammock mampu menahan berat badan 65 kg. Hebat ya! (Ayo… yang hebat siapa? Si laba-laba atau si peneliti? Kalau menurutku yang hebat adalah Sang Pencipta laba-laba dan peneliti…hehehe)

Bulan Tanpa Dewa

ini merupakan terjemahan dari nama bulan Oktober, yang bahasa Jepangnya adalah Kannazuki 神無月. Kalau melihat dari Kanjinya, langsung bisa mengetahui artinya yaitu bulan tanpa dewa. Dikatakan pada bulan Oktober ini, dewa-dewa dari seluruh Jinja (Kuil Shinto) di Jepang pergi ke Izumo Ooyashiro, Jinja “pusat” yang berada di prefektur Shimane. Jadi di Jinja-jinja selain Izumo jinja itu tidak ada dewanya. Kosong deh ….

Sehingga ada juga orang Jepang yang kritis dan pernah menulis di Yahoo Question begini, “Kalau dewa-dewa tidak ada di Jinja, buat apa kami pergi ke jinja untuk berdoa. Toh tidak ada dewanya, bagaimana bisa dikabulkan?” Hmmm benar juga teorinya ya. Meskipun bagi agamaku, Tuhan berada di dalam hatiku 😀

Nah, sudah tahu di Jinja tidak ada dewanya, yang aku heran kenapa cukup banyak matsuri (festival) diadakan di Jinja. Kalau tanggal 3 Okt, kami pergi ke Kuil Kitano, maka hari Minggu lalu (17 Oktober), kami bersepeda ke Kuil Hikawa (Hikawa Jinja) yang terletak dalam kompleks Taman Shakujii. Karena dari rumah kami terdengar suara ramai-ramai arak-arakan omikoshi (altar usung) . Riku dan Kai langsung ingin pergi ke Matsuri, jadi kami bersepeda ke sana sekaligus mengembalikan buku di perpustakaan. (Jalanannya cukup menanjak euy, padahal aku membonceng Kai sehingga menggeh-menggeh juga hehehe)

Omikoshi atau altar usung yang diarak-arak sekeliling Jinja

Seperti biasa, kami berdoa dulu di depan altar Jinja sesudah mencuci tangan di tempat cuci depan altar. Setelah itu kami mencoba minum teh hijau matcha yang biasa disajikan dalam upacara minum teh chanoyu. Teh Hijau matcha ini yang biasanya dibuat es krim, pahit tapi… manis. Nah loh bingung kan? Memang sebelum minum teh ini, sebaiknya makan kue manis atau dodol, sehingga waktu minum teh, tidak terlalu pahit. Untuk Kai, si pembuat teh membuat tehnya lebih encer dari biasanya. Dan Kai minum semua sampai habis.

Sesudah minum teh matcha itu, kami menonton pertunjukan taiko (gendang) yang dibawakan oleh perkumpulan anak-anak yang biasa berlatih di jinja itu. Aku selalu senang menonton pertunjukkan taiko. Adrenalin dipompa setiap hentakan dan dentuman gendang, belum lagi teriakan dan gaya mereka yang kakko ii …kereeeen. Pengen sekali deh belajar taiko, tapi aku ragu apa aku bisa. Sayangnya Riku sama sekali tidak menunjukkan apresiasi pada pertunjukan taiko itu. Dia bilang, “Mama…ribut, aku pergi ya…. ” Aku tahu dia tidak sabar untuk pergi mencari stand permainan dan… minta duit untuk itu hahaha.

Sementara Kai tetap bersamaku dan menonton pertunjukkan Taiko. Sayangnya, dia melihat seseorang yang membawa senapan, dan dia juga mau! Heran sekali deh, dia suka sekali main dengan senapan dan pistol-pistolan. Sepertinya dulu Riku tidak terlalu bermain dengan pistol deh.

Osakayaki, sejenis kue dengan isi daging dan sayuran (seperti okonomiyaki)

Dan tentu saja Gen melarangku membelikan senapan untuk Kai. Jadi deh Kai merajuk dan merengek, berteriak minta dibelikan. Jadi kami cepat-cepat pulang, selain juga kami merasa bahwa toko-toko yang ada di festival itu sedikit dan tidak menarik juga. Padahal kuil ini cukup besar untuk daerah ini. Aku juga sempat mendengar seorang ibu berkata harus mendaftarkan anaknya untuk upacara shichi-go-san (7-5-3) peringatan khusus untuk anak-anak yang biasanya dilakukan bukan November. Sayangnya untuk anak laki-laki hanya diadakan pada usia 5 tahun, jadi masih 2 tahun lagi untuk Kai. Saat itu anak-anak itu akan didoakan di kuil dan memakai kimono yang bagus. (sewa dari photo studio sih biasanya).

Oktober masih ada 10 hari lagi, tapi mungkin matsuri (festival) sudah tidak ada lagi karena kuil-kuil biasanya sibuk menyambut shichi-go-san. Dan tentu saja menyambut kembalinya dewa-dewa ke jinjanya masing-masing. 🙂

Miko san, asisten Kannushi, pendeta Shinto dalam upacara-upacara keagamaan.

Keterangan tentang Miko san 巫女さん bisa dibaca di sini.

Cream Stew

Udara di sini mulai menjadi dingin, terutama dini hari, meskipun siang hari mencapai 22 derajat. Tapi jika mendung, maka suasana menjadi suram membawa hati juga menjadi melankolis. Apalagi pukul 5 sore  sudah mulai menjadi gelap. Bagaimana kalau musim dingin ya?

Tapi yang paling membuat ibu rumah tangga pusing adalah menyiapkan masakan yang membuat semua anggota keluarga sehat, tahan terhadap udara dingin sehingga tidak mudah terserang flu. Dan pada musim gugur begini, bahan masakan yang banyak didapat (karena musimnya) adalah kentang, ubi-ubian, serta jamur.

Ada satu jenis hidangan hangat yang biasanya disajikan pada musim dingin yang diberi nama Cream Stew atau dijepangkan menjadi kurimu shichuu クリムシチュー。

Pada dasarnya cara pembuatannya seperti sup sayuran saja (asal jangan kelodoan yah 😉 ). Segala potongan sayur dan daging ayam atau sapi dimasukkan ke dalam air berkaldu, kemudian diberi susu supaya berwarna putih, dan Roux (bahan pengental berbumbu) yang sudah dijual di toko-toko. Atau kalau tidak ada roux itu, bisa mengentalkan sup dengan memakai terigu/kanji dan tentu saja lebih enak jika pakai cream cheese.

Cream Stew roux yang dijual di toko, tinggal masukkan dalam sup sayuran saja untuk mengentalkan menjadi cram stew.

Beberapa hari yang lalu aku masak cream stew itu, tapi karena saya masukkan labu ke dalamnya, warnanya menjadi keoranyean. Meskipun enak kurang cantik untuk difoto. Dan waktu itu aku menyajikannya dengan menaruh diatas nasi, sama seperti waktu menyajikan nasi kare. Nah, di situ saya diprotes Riku, katanya, “Aku maunya dipisah, jadi cream stewnya seperti sup. Jangan taruh di nasi!”. Ah…. cerewet kamu, kupikir. Tapi setelah itu aku membaca sebuah artikel berbahasa Jepang di internet bahwa ternyata cara makan cream stew itu memang ada dua cara. Kelompok pertama yang menaruh cream stew itu di atas nasi seperti nasi kare, dan kelompok yang kedua adalah mereka yang menganggap cream stew sebagai sup sehingga harus di pisah. Aku kebetulan tahunya yang ditaruh di atas nasi, sedangkan Riku tahunya dipisah, karena waktu makan di sekolahnya rupanya dipisah. Padahal sebetulnya sama saja kan, akhirnya masuk ke perut juga hahaha.

Cara makan orang memang berbeda. Misalnya papaku kalau makan soto ayam, maunya menaruh jeruk sendiri ke dalam supnya, sebelum bahan yang lain ditaruh ke dalam piring. Tapi nasi boleh masuk ke dalam sotonya. Mungkin cerita cream stew di atas itu sama seperti orang yang mau makan soto ayam ya. Ada yang suka memasukkan nasi ke dalam mangkok dan mencampurkan semuanya (seperti bubur) tapi ada yang terpisah, sehingga nasi tidak basah oleh sotonya (nasinya tidak mengembang gituuuu….).

Kamu masuk kelompok mana? Nasi soto atau Nasi + soto (terpisah) ? Aku? Aku sih mana ajah yang penting enak hehehe. Tapi mungkin seperti bubur ayam, aku lebih suka kalau dicampur dulu semua supaya rasanya merata. (huhuhu jadi pengen makan bubur ayam …hiks)

NB: Kalau mau coba masak Cream stew, bisa lihat resepnya di sini. Soalnya kalau aku masak cream stew ini tidak pakai lihat resep sih hihihi. Seadanya sayuran dan bahan saja.

Prediksi

Beberapa hari yang lalu, saya ditag oleh sahabat blogger Reva di notesnya di FB. Tulisan seorang wartawan dalam bahasa Jepang dan isinya cukup mengerikan. Tulisnya, menurut pakar Kelautan ITB Bandung (tidak diberitahukan siapa) , jika pemerintah (or siapa saja) tidak mengadakan langkah antisipasi dan pengendalian penurunan tanah sesegera mungkin maka tahun 2100, seluruh kota Jakarta akan terbenam ke dalam laut. Mungkin bukan terbenam, tapi permukaannya lebih rendah dari laut. Well, apa saja deh yang pasti kenyataan buruk akan terjadi 90 tahun lagi. Prediksi ini tentu bisa dilakukan pakar tersebut melihat kondisi yang terjadi sebelum ini dan kecenderungan jika faktor-faktor yang menentukan penurunan pemukaan tanah itu tidak ada perubahan.

Mungkin memang kita tidak akan mengalaminya, tapi sepertinya anak-anak kita bakal mengalaminya. Pernahkah kita (baca terutama pejabat-pejabat pemerintah) memikirkan anaknya sendiri? Dikatakan dalam artikel itu bahwa perlu diadakan reklamasi di daerah Marunda sesegera mungkin. Masalahnya sekarang bukan hanya masalah lingkungan rusak dsb, tapi sudah gawat menyangkut terbenamnya kota pemerintahan.

OK, saya tidak mau berdebat tentang isi tulisan itu yang aslinya bisa dibaca di sini, tapi saya hanya mau menunjukkan bahwa banyak pakar dan ahli melakukan prediksi (bukan ramalan loooh) dengan memakai statistik. Statistik itu biasanya memang dikumpulkan dari data yang diberikan/dicari melalui angket kepada sejumlah orang. Lebih banyak orang, mungkin lebih bagus hasilnya, meskipun mungkin lebih sulit mengolahnya.

Saya memang bukan ahli statistik, tapi suka melihat statistik, data-data yang dikumpulkan mulai dari yang sulit (cukup dilirik doang), sampai yang cemen-cemen (nah ini kadang-kadang bisa jadi bahan tulisan di TE, bisa intip deh TE yang dulu-dulu, sering ada ranking ini-itu berdasarkan angket internet dari situs goo. Dan lumayan lucu-lucu hasilnya). Dan terus terang, saya jarang menemukan statistik yang saya cari terutama mengenai pendidikan Indonesia (dalam bahasa Indonesia). Pernah saya menanyakan “Berapa persen sih sebetulnya (dari kelompok jumlah lulusan SMA) mahasiswa Indonesia yang pernah/sedang mengecap pendidikan tinggi di perguruan tinggi?” Tidak ada yang bisa jawab, dan… saya cari di situsnya BPS juga tidak ketemu. Sedangkan jika saya cari angka tersebut untuk Jepang, langsung bisa didapat di Internet. (Ini yang membuatku senang mengadakan penelitian di Jepang. Ada semua datanya, ASAL bisa bahasa Jepang).

Statistik secara gamblang mempunyai 3 manfaat.
1. Bisa mengetahui kecenderungan atau trend secara menyeluruh.
2. Dari sebagian data bisa diperkirakan kecenderungan kelompok yang lebih besar.
3. Dari pola yang terjadi sebelumnya sampai sekarang, bisa memprediksikan masa depan.

Di Jepang kami setiap hari berhubungan dengan statistik. Setiap pagi kami melihat prakiraan cuaca, atau kemungkinan persentage hujan turun. Barang-barang yang dijual di supermarket dan informasi keuangan di surat kabarpun berasal dari statistik yang dilakukan. Apalagi dengan perkembangan komputer dan internet yang begitu canggih, memungkinkan data-data itu diolah dengan cepat. Ditambah lagi dengan satelit untuk membaca prakiraan cuaca, mesin kasir toko-toko yang sudah memakai komputer, dan satu lagi yang membuat saya terhenyak adalah dari data pasmo dan suica (sistem tiket bus/kereta otomatis pra-bayar dengan chip)…. pasti data yang didapat dari tiket eletronik itu bisa diolah sedemikian rupa sehingga mengetahui patern/pola masyarakat Jepang. Tinggal memasukkan chip saja ke dalam tubuh manusia yang belum di Jepang. Kalau sudah? Beuh, kecenderungan berapa jam sekali kita k*ncing saja bisa direkam dan diolah datanya.#:-S

Padahal lucunya, di Jepang sama sekali tidak ada Fakultas Statistik, berlainan dengan Amerika yang mempunyai 300 lebih Fakultas Statistik.  Mungkin karena statistik sudah mendarah daging dalam kehidupan sehingga tidak perlu lagi ya?

Hari ini adalah hari statistik di Jepang (makanya saya menulis tentang ini). Bukan hari libur, tapi peringatan karena sekitar tanggal hari ini 18 Oktober th 1870 pertama kalinya pemerintah Jepang mengumpulkan data dari seluruh prefektur Jepang untuk melaporkan hasil produk bumi (komoditi) untuk dibuat “Daftar Produk Prefektur”.  Karena pentingnya statistik seperti ini, pada tahun 1973,  maka hari ini ditetapkan menjadi “Hari Statistik”.

(sumber: Asahi Shogakusei Shimbun 16-10-2010)

Air Keras dan Air Lunak

Bukan minuman keras, tapi Air Keras dan Air Lunak. Sudah pernah dengar? Dan yang pasti Air Keras yang kumaksud ini  bukan air keras yang sering disebut-sebut sebagai pengganti merkuri (Hg) atau air raksa. Tapi ini mengenai kesadahan air.

Air sadah disebut juga air keras (hard water) , sedang yang tidak sadah disebut air lunak (soft water). Kesadahan air menunjuk kandungan mineral-mineral tertentu dalam air, terutama ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Tapi tentu saja ion logam, garam bikarbonat dan sulfat juga bisa menyebabkan kesadahan itu.  Jadi air sadah atau air keras adalah air yang kadar mineralnya tinggi sedangkan air lunak kadar mineralnya rendah.

Lalu bagaimana tahunya air itu sadah atau tidak, keras atau lunak. Yang paling mudah adalah dengan sabun. Jika berbuih banyak maka air itu air lunak, tapi jika berbuih sedikit maka termasuk air keras. Sebetulnya kita juga dapat melihat bahwa air keras karena mengandung mineral tinggi dapat menyebabkan garis kuning seperti karat di keramik tempat cuci tangan, atau membuat endapan di sekitar mulut ledeng.

Sebetulnya kesadahan air minum bisa langsung diketahui waktu meminumnya. Mungkin karena saya sudah lama tinggal di Jepang, lidah saya jadi bisa membedakan air minum itu air keras atau air lunak. Dan istilah  air keras  (硬水 kousui) air lunak (軟水 nansui) memang sering dipakai di Jepang (berlainan dengan di Indonesia, mungkin karena di Indonesia lebih banyak air keras ya?) Tadinya saya juga tidak tahu apa-apa mengenai kesadahan air ini. Saya baru tahunya (bahwa saya bisa membedakan air keras dan lunak itu) pada waktu mengadakan kunjungan ke pabrik Suntory Natural Mineral Water yang terdapat di Hakushu. (Tulisan ini seharusnya saya buat sudah lama, bersamaan dengan kunjungan ke Pusat Kupu-kupu Oomurasaki)

Kami sekeluarga memang kadang-kadang  membeli air mineral merek ini, sebelum minum air RO Pure Water yang sudah saya tulis di tulisan sebelum ini (Air Minum Gratis), atau kalau kami lupa dan tidak sempat mengambil air di supermarket tersebut. Sebagai jaga-jaga jika terjadi gempa bumi. (RO water itu hanya tahan 2 hari jika dibiarkan di suhu kamar, atau seminggu jika dimasukkan dalam lemari es. Mineral Water tentu jauh lebih tahan lama)

Karena mengenal merek ini, dan waktu mencari di internet, ternyata pabrik ini mengadakan open-house kunjungan ke pabrik setiap hari! Bayangkan setiap hari loh. Tapi memang kami baru bisa mengunjunginya Minggu 29 Agustus. Tentu saja pakai acara antri karena penuh nuh nuh pas week end dan akhir liburan musim panas.  Orang Jepang memang suka ya pergi ke tempat-tempat begini. Berwisata sambil belajar. Karena selain mengunjungi pabrik air minum (penyulingan/ pembotolan –seluruh proses), di lokasi yang sama ada pabrik pembuatan whisky. Tapi karena saya tidak suka whisky, jadi tidak mengikuti program kunjungan ke pabrik pembuatan whisky.

Kami diantar guide cantik dari perusahaan Suntory ini naik bus ke lokasi pabrik. Karena wilayah pabrik ini sangat luas, bagaikan berada dalam  hutan saja. Di pabrik baru yang belum lama beroperasi itu kami dijelaskan proses pembuatan/pembotolan air mineral yang diambil dari sumber mata air dari pegunungan Minami Alps. Pabrik baru itu sebetulnya juga dibangun dengan solar panel yang bisa menyediakan listrik yang akan dipakai pabrik itu sendiri.

selalu berada terdepan mengikuti penjelasan mbak cantik

Yang menggelikan sebetulnya melihat kedua krucilku ini mengikuti si mbak cantik kemana saja dia pergi. Sedapat mungkin berada di barisan paling depan untuk mendengarkan penjelasan si mbak. Well, tentu saja dia menjelaskan bahwa perusahaannya selain menjamin mutu air yang disuling dari sumber air itu sampai pada proses pembotolan, tapi juga menekankan usaha mereka untuk mengurangi pengeluaran CO2, dengan membuat eco packing. Kalau soal recycle botol plastik yang digunakan sih memang sudah menjadi program pemerintah, sampai semua warga memang harus memilah dan mengumpulkan pet botol untuk bisa didaur ulang kembali.

Sebagai konsumen ada satu hal yang membuat saya senang dengan produk ini yaitu bentuk botolnya yang canggih. Persis di bagian tengah tempat kita memegang botol untuk menuangkan isinya, sengaja dibuat lekukan yang pas untuk jari kita.

si Koala belum bisa baca aja serius banget sih hihihi

Setelah melakukan kunjungan pabrik itulah, kami dibawa ke sebuah ruangan untuk menikmati minum air mineral. Di depan kami terdapat dua gelas berisi air. Di sebelah kiri adalah produk suntory,  sedangkan yang kanan adalah Vittel, merek air mineral buatan Perancis yang didistribusikan di Jepang oleh group Suntory. Vittel kadar kesadahan Vittel 315 sedangkan suntory mineral water hanya 30. Beda sekali bukan?  Dan memang langsung terasa bahwa gelas yang sebelah kiri jauuuuh lebih enak, mudah diminum (rasanya minum seberapapun masuk) sedangkan yang sebelah kanan  terasa berat. Ternyata orang Jepang memang terbiasa minum air dengan kesadahan rendah, karena memang ditekan supaya kadar kesadahannya tidak melebihi angka 100.

dua gelas berisi air untuk membandingkan kesadahan air

Air dengan kesadahan rendah ini cocok dipakai untuk membuat susu bayi atau menyeduh teh atau kaldu. Air ini tidak “menutupi” rasa asli dari bahan yang dicampurnya. Aku juga merasa bahwa air RO pure water yang kami biasa minum ini memang kesadahannya rendah, mau minum sebanyak apapun tidak terasa “berat” (kecuali berasa kembung tentunya).

Tertulis kadar kesadahan 30

Katanya sih kesadahan air tidak berpengaruh pada kesehatan manusia. Tapi saya pernah sekilas baca mungkin perlu diperhatikan bagi mereka yang punya penyakit jantung. Saya tentu saja bukan ahli kimia yang bisa menjelaskan tentang kesadahan air dengan mendetil, hanya ingin berbagi saja bahwa ternyata selain masalah PH, ada pula istilah kesadahan yang terdiri dari air keras dan air lunak.

Terkadang saya yang tinggal di Jepang merasa iri hati bahwa negara ini benar-benar beruntung karena kaya akan sumber air yang sehat dan bersih (+enak) , belum lagi teknologi mereka (+dana) yang memungkinkan mengadakan air yang enak seperti proses desalinasi dengan RO. Seperti komentar sahabat blogger Clara di tulisan sebelum ini bahwa harga mesin pembuat RO water itu mahaaaal sekali. Padahal saya bisa mendapatkan air minum RO dengan gratis di Tokyo. Sementara di belahan dunia lain masih banyak yang belum bisa mendapatkan jangankan air minum, air bersih saja sulit.

Beberapa waktu yang lalu saya juga sempat menonton berita tentang perusahaan air Jepang yang “menjual” teknologi pembuatan air bersih ke negara-negara di Arab Saudi yang mulai kekurangan air minum. Negara Arab masih kaya sehingga bisa membayar teknologi itu, tapi untuk negara miskin? Mendapatkan air bersih saja merupakan suatu impian.

Memang sudah banyak kampanye memberikan sumbangan dari banyak perusahaan Jepang dengan cara membeli produknya maka sekian persen akan menjadi air minum bagi rakyat di Afrika. Atau beberapa penemuan orang Jepang yang bisa dipakai langsung di negara-negara sulit air. Antara lain saya pernah lihat diperkenalkan penemuan (bukan orang Jepang sih)  drum air berbentuk roda murah sederhana yang tidak memerlukan banyak tenaga yang bisa dipakai untuk mengambil air dari sumur yang jauh. Yang jika dengan cara tradisional, seseorang (wanita) harus memikul gentong air seberat 20kg di atas kepalanya, dan berjalan jauh. Paling sedikit drum air berbentuk roda itu bisa meringankan beban serta mempercepat proses pengambilan air. Nama drum ini adalah Qdrum, dan waktu saya mencari websitenya ternyata ada program sumbangan untuk mengirimkan Qdrum ini ke Timor Timur juga.

Daripada menaruhkan gentong di atas kepala, tentu saja lebih baik menarik Qdrum ini. Sebetulnya penemuan yang sederhana tapi sangat membantu.

Banyak juga sebetulnya yang masih bisa kita lakukan sebagai upaya penghematan air, seperti yang sudah pernah saya tuliskan di Bermula dari Air antara lain dengan memakai sistem dual flush untuk WC, atau dengan menggunakan kembali air yang masih bisa dipakai setelah berendam di ofuro (bak mandi) untuk mencuci pakaian seperti yang pernah saya tulis di Maternity Blue. Atau memakai beras musenmai yang tidak perlu dicuci lagi seperti yang saya tulis di Menanak Nasi.

Satu lagi yang juga pernah saya sadari bahwa usaha ini adalah salah satu mengurangi pemakaian air demi perwujudan Eco Kitchen yaitu memakai baskom cucian di tempat cuci piring. Di rumah orang Jepang PASTI di tempat cuci piring ada baskom ini, tempat mereka memasukkan piring kotor ke dalam air dan memberi sabun di dalamnya. Tunggu dulu sebentar sehingga air baskom itu bisa melarutkan kotoran dari piring sehingga mudah disabuni dan dibilas. Coba jika tanpa baskom itu, air keran yang mengalir terus bisa berapa liter terbuang? Memakai baskom itu saja bisa menghemat air (+ uang rekening air).

Saya rasa memakai baskom cuci seperti ini bisa lebih mengirit air dibanding mencuci langsung di bawah kucuran ledeng

Ada banyak cara untuk menghemat air di rumah seperti yang ditulis Alamendah, tetapi semuanya kembali lagi pada diri kita sendiri. Maukah kita melaksanakannya? Semoga….. (saya berharap sambil menghabiskan air  mineral dari gelas anak-anak yang tidak habis…. daripada dibuang kan… mendingan ibunya yang minum)

Tulisan ngalor ngidul tentang air ini dalam rangka berpartisipasi dalam aksi global dunia maya, Blog Action Day 2010.

Air Minum Gratis

Aku ingin bertanya, masih adakah restoran di Indonesia yang menyediakan air minum gratis? OK, boleh juga air teh tawar gratis deh. Mungkin di restoran  padang masih ada, tapi sepertinya di Jakarta, di seluruh restoran kalau kita minta air minum pasti “dipaksa” untuk membeli Aq*a (entah yang memang mereknya itu, atau bukan) tapi pasti air mineral.

Kenyataan seperti ini kadang membuat aku merasa beruntung tinggal di Tokyo. Karena kita tidak perlu membayar jika minta air minum di restoran, sebanyak apapun kamu minum. Meskipun kadang aku juga sempat sih berpikir, air ini darimana? Kemungkinan besar memang dari ledeng, tapi sebetulnya no worries juga karena air ledeng di Tokyo semua bisa diminum. Bahkan di stasiun, taman tempat umum tersedia  fountain untuk minum. Meskipun jarang sekali aku melihat ada gadis/ibu-ibu yang minum dari fountain itu. (Aku cari bahasa Jepangnya ternyata cuma tertulis Mizu nomiba 水のみ場= tempat minum air). Ya, sudah pasti kakko warui (jaim dong ya) mangap di tempat umum menampung air yang muncrat ke atas. Kalau tidak tepat target bisa kena wajah bermakeup, atau baju.

Keran minum (fountain) yang banyak terdapat di taman/stasiun/tempat umum dengan berbagai bentuk

Dimana lagi ada air gratis ya? Oh ya, di apotik dan Rumah Sakit dekat rumahku itu menyediakan dispenser air minum dingin dan teh hijau. Di apotiknya malah lebih canggih, menyediakan dispenser untuk kopi, teh hijau, teh ceylon (teh jawa) dan air, semuanya ada panas atau dingin. Di ruang dosen tempat aku mengajar juga ada air minum gratis ini (aku rasa ini biasa ya di Indonesia juga).

Nah di rumah gratis tidak? Sebetulnya gratis karena air ledeng kan bisa diminum. Tapi dasar orang Indonesia, waktu pertama datang ke Jepang, tidak bisa minum langsung dari ledeng. Selalu dimasak dulu baru didinginkan. Tapi…. rasa air ledeng Tokyo tidak enak. Jadi dulu aku selalu beli air minum mineral dalam botol 2 liter seminggu 6 botol, dan minta diantar ke rumah karena berat (lewat koperasi).

Waktu Kai lahir dan harus minum susu formula, aku sibuk mencari perusahaan semacam AQ*A di Indonesia untuk menyewa dispenser dan minta diantar refilnya ke rumah. Tapi… itu mahal! Tidak sanggup deh melanjutkan membeli, apalagi waktu itu Riku masih usia 4 tahun dan seenaknya saja mengambil air kemudian minum sedikit dan ambil gelas baru. Boros! Sesudah Kai berusia 1 tahun aku hentikan berlangganan air minum yang diantar ini.

Jadi kembali lagi membeli botol mineral, hingga suatu hari aku melihat promo di supermarket dekat rumahku. Sebetulnya sudah lama melihat alat dispenser semacam itu di supermarket-supermarket dekat rumahku, tapi membayangkan harus membawa air seberat itu sambil menggendong/ membawa bayi, cukup membuatku berpikir. Tapi Kai semakin besar dan bisa berjalan, atau tidak begitu perlu diperhatikan terus, jadi kupikir inilah waktunya.

Botol khusus untuk mengambil air di dispenser. Awalnya membayar 504 yen, sesudah itu gratis.

Untuk mendapatkan air gratis ini, kami harus mendaftar dulu, lalu menerima kartu magnetik, yang dipakai untuk membuka pintu dispenser. Membayar 504 yen (sudah termasuk pajak), kami mendapatkan satu botol kosong untuk 4 liter air. Harga 504 yen itu untuk awal saja, setelah itu sama sekali tidak dipungut bayaran. Jadi bagiku yah bisa dibilang gratis. (Mungkin dengan harapan bahwa kita akan belanja di toko itu terus maka disediakan gratis ya)

Jika mau mengisi botol, tinggal menggesek kartu magnetik. Buka pintu dispenser kemudian meletakkan botol di dalam ruang yang ada. Bisa pilih mau mengisi 2 liter atau 4 liter. Sesudah selesai kira-kira 20-30 detik tanda bisa dibuka pintunya menyala, dan kita ambil botol dan tutup sendiri.

Dispenser yang diletakkan di supermarket dekat rumah. Harus ambil dengan botol khusus, tapi boleh berkali-kali, mau satu hari 10 kali juga boleh hehehe.

Memang cukup berat membawa 4 liter air ini (karena itu ada pilihan 2 liter juga), tapi karena aku naik sepeda, cukup taruh di keranjang depan sepeda. Masalahnya aku mendaftar untuk 2 botol, nah kalau isi dua-duanya lumayan tuh jadi 8 kg, bisa berlatih otot jadi binaragawan.

Airnya enak rasanya. Memang ditulis sih bahwa air itu cocok untuk dipakai untuk apa saja, minum teh/kopi, masak, bahkan untuk membuat susu bayi. Berlainan dengan air mineral, air ini tidak diberi tambahan mineral lain sehingga menyerupai air alam. Perlu diketahui air mineral itu tidak cocok dipakai untuk membuat susu bayi, karena cenderung diberi tambahan mineral atau kandungan mineralnya terlalu kuat untuk perut bayi.

Padahal air  yang kuambil di dispenser supermarket (Inageya) dekat rumahku ini adalah air RO (Reverse Osmosis ) yang juga bisa disebut dengan desalinasi yang sudah pernah dibahas oleh Alamendah di sini. Sebuah proses penyulingan air laut menjadi air minum dengan memisahkan garam dan substansi lain dari molekul air. Pertama kali memang aku ragu, tapi setelah minum…. benar-benar enak, tidak ada bau atau rasa yang menyolok. Bahkan meskipun aku tidak tahu kesadahan airnya berapa, aku bisa merasa bahwa kesadahannya rendah.

Kesadahan air? Ada yang bisa menerangkan? well, aku simpan keterangan tentang kesadahan air di tulisan tentang air berikutnya ya.