Arsip Tag: kuil

Family Day: Shichi Go San

Bukan nama orang yang bernama Shichigo loh, tapi ini adalah peringatan yang jatuh pada tanggal 15 November setiap tahunnya terutama untuk keluarga yang punya anak-anak, baik anak lelaki maupun anak perempuan.

Sesuai dengan namanya, shichi = 7, go=5, dan san =3. Pada hari ini mereka yang mempunyai anak perempuan berusia 3 dan 7 tahun, serta anak lelaki berusia 5 tahun (di beberapa tempat ada juga yang merayakan untuk anak lelaki berusia 3 tahun, tapi kami tidak), merayakan “kesehatan” dan perkembangan anak-anak mereka dengan berdoa di Jinja atau Kuil (dan sekarang juga banyak yang merayakannya di gereja Jepang). Dan pada usia-usia inilah anak-anak ini pertama kali memakai baju tradisional Jepang, kimono untuk anak perempuan dan hakama 袴 untuk anak laki-laki.

Kebiasaan ini ternyata baru dimulai pada jaman Tokugawa Tsunayoshi tahun 1681, untuk mendoakan kesehatan anaknya. Secara mudahnya, kebiasaan shichigosan ini karena dulu anak-anak berusia dibawah 7 tahun itu banyak yang sakit dan tidak bisa hidup terus. Jadi kita melewati tahun ke 3, ke 5 dan ke 7, orang tua mengucapkan syukur kepada dewa-dewa atas pertolongan melindungi anak-anaknya. Diharapkan setelah usia 7 tahun, anaknya akan tumbuh sehat terus sampai nanti upacara berikutnya pada usia 20 tahun, yaitu hari dewasa Seijin no hi, waktu anak-anak itu dinyatakan sebagai dewasa.

Hasil foto studio 4 tahun yang lalu

Nah, Kai sudah berulang tahun ke 5, tahun ini. Jadi aku tahu bahwa kami harus mengikuti tradisi shichigosan ini. Waktu Riku aku ingat kami hanya mengambil foto di studio bersama Kai, dan itu aku laksanakan di bulan Mei. Perkiraannya waktu itu karena jika sudah masuk bulan November, maka akan banyak orang yang memakai jasa foto studio. Pada hari H, sekitar tanggal 15 November, kami makan bersama di rumah mertua, dan Riku berkunjung ke kuil dekat rumah Yokohama. Itu tahun 2008.

Tahun ini aku lebih “sigap” jadi aku mengatur supaya papa Gen bisa cuti, Riku dan Kai bolos sekolah dan aku juga tidak ada kerja, lalu menelepon foto studio untuk membuat jadwal. Sampai dengan tanggal 15 November, foto studio yang biasa kami pakai itu menggratiskan penyewaan kimono dan hakama bagi anak yang merayakan 753, serta orangtuanya. Wah, kesempatan bagiku untuk juga ikut memakai kimono, meskipun aku harus membayar untuk makeup dan hair stylistnya. Waktu upacara pernikahan aku memang tidak memakai kimono, dan dalam waktu dekat juga tidak ada keluarga jauh kami yang akan menikah, sehingga kali ini merupakan kesempatan bagiku kecuali aku mau menunggu kedua anakku menikah nanti 😀 Aku juga mengajak orang tua Gen untuk ikut berfoto bersama, apalagi tahun ini mereka merayakan ulang tahun pernikahan ke 45 tahun! Sekalian saja.

Jadi pukul 9:30 pagi kami keluar rumah dan naik bus menuju Kichijouji, tempat foto studio Laquan NY, karena aku akan mulai didandani pukul 10:30. Anak-anak dan Gen sebetulnya bisa datang pukul 11 karena pemotretan sendiri mulai pukul 12. Tapi…. aku tidak yakin membiarkan 3boys jalan sendiri, terutama aku takut kalau Kai berulah. Tapi ternyata kekhawatiranku tidak perlu. Meskipun mereka harus menunggu 30 menit sebelum jadwal mereka ganti baju, mereka dapat mengikuti petunjuk staff studio dengan baik. Bahkan Kai gembira sekali melihat 3 jenis hakama yang aku pilihkan buat dia. Memang sebelumnya aku sudah pilihkan 3 set hakama untuk Kai, dan ternyata dia pilih yang paling unik sendiri. Yaitu pakaian untuk samurai yang bernama Kamishimo (かみしも).

Pakai kimono bagaimana rasanya? Hmmm sama saja seperti pakai kebaya deh. Cuma kalau kebaya yang “menyesakkan” biasanya bagian perut dan pinggang karena pakai korset, sedangkan untuk kimono yang menyiksa adalah bagian dada. Percuma punya dada membusung karena pasti ditekan sedemikian rupa supaya rata. Prinsipnya pada kimono, wanita tidak perlu mempunyai body bentuk biola 😀 karena akan memakai obi (ikat pinggang) lebar yang membuat dada, perut dan pinggang menjadi satu garis :D. Jadi siap-siaplah buka bh, dan untung tidak perlu buka cd seperti wanita Jepang jaman dulu. Semua “lembah” disumpal dengan kapas dan kain sehingga menjadi rata, baru dipakaikan kimono. Yang menjadi patokan adalah motif bunga bagian bawah, jadi yang penting bagian bawah dulu, baru kemudian diatur bagian perut dan dada. Yang pasti akan sulit sekali memakai kimono sendiri, perlu belajar dan latihan yang banyak supaya bisa memakai sendiri. Kecuali badannya lurus seperti papan setrikaan kali ya hahaha.

Setelah aku siap kimononya, Gen dan anak-anak siap memakai hakamanya, kami menuju studio foto yang terletak di lantai 3. Fotografernya perempuan cantik dan lincah. Berkat dia, kedua anak lelakiku bisa bergaya dengan baik 😀 Kai sendiri, lalu Kai berdua Riku, lalu kami sekeluarga ber-4 dan ber-6 dengan bapak ibu mertua. Kai juga bergaya sendiri dengan memakai tuxedo (baju eropa). Yang pasti hasil pemotretan keseluruhannya ada 360 lembar!

Setelah selesai ganti baju, kami masih harus memilih dari 360 lembar, berapa yang kami mau cetak. Kami sudah pengalaman dan sudah tahu bahwa di situ cetaknya mahal (ongkos cetak ukuran terkecil seharga 2100 yen (Rp210.000), sehingga benar-benar memilih yang terbagus saja. Dan kami memilih 20 foto dengan 2 berukuran 5R (sisanya berukuran L). Memang mahal tapi kapan lagi bisa begini. Tapi pelayanan studio Laquan memang top. Mereka memberikan service 2 foto berukuran kecil dalam bentuk data untuk HP. Juga memberikan kalender dengan salah satu foto yang kami pilih. Bahkan karena aku cek in di FB, kami mendapatkan satu set kotak coklat dengan bungkus fotonya Kai :D.

Hasil foto baru jadi 2 minggu yang akan datang, tapi aku bisa menampilkan foto yang kami terima sebagai gambar background HP.

Kiri: Kai memakai Kamishimo dengan memegang Chitose Ame (Permen 1000 tahun), permen yang mengungkapkan harapan orang tua agar anak-anaknya panjang umur. Kanan: Kai dengan tuxedo yang kupilih. Senang sekali melihat dia langsung menyukai tuxedo ini.

Setelah selesai pemesanan dan pembayaran di studio, kami masih punya waktu 2 jam lebih sebelum bisa makan malam bersama di sebuah restoran Perancis masih di dekat-dekat stasiun Kichijouji itu. Aku memesan tempat untuk ber 6 pada pukul 17:30, begitu restoran itu buka untuk dinner. Sebetulnya restoran itu TIDAK menerima tamu di bawah 6 tahun, karena sudah bisa dipastikan anak berusia di bawah 6 tahun itu ribut dan bisa mengganggu tamu lainnya. Tapi waktu aku tanyakan apakah kami bisa merayakan Shichigosan di sana,kami diterima. Katanya ada kekecualian untuk event-event khusus. Untunglah.

Aku memilih restoran ini karena pernah diusulkan oleh teman ibu mertua. Katanya masakannya lebih enak daripada restoran Perancis yang sering kami datangi yang bernama Kaisen Shokudo. Dan restoran ini bernama Mariage, sehingga kurasa cocok untuk merayakan ulang tahun pernikahan bapak ibu mertua. Mariage tentu saja berarti pernikahan.

Restoran ini tidak besar, tapi berada dalam sebuah rumah yang cantik, jadi seperti memasuki rumah bergaya Eropa. Karena malam dan dingin, kami tidak mau duduk di teras yang juga terlihat menyenangkan. Untuk makan siang pasti menyenangkan deh.

Sebelum memasuki restoran ini, aku sudah wanti-wanti Kai untuk behave! Tidak boleh ini itu, dan harus dengar-dengaran. Tapi tentu saja sulit bagi anak seusia 5 tahun untuk bersikap dewasa apalagi menguasai table manner. Sekaligus kesempatan ini kami pakai untuk mengajarkan table manner pada Kai. Kalau Riku sudah 9 tahun, sehingga sudah bisa mengikuti tata cara makan ala eropa. Kalau dipikir debut Riku di restoran Perancis memang jauh lebih muda daripada Kai. Usia 6 bulan saja dia sudah makan foie gras :D

Kami memesan makanan course menu, tapi masing-masing memilih main course beda-beda. Ibu mertua dan Riku memilih masakan udang besar, Gen dan papanya memilih steak daging sapi, Kai memilih roast chicken, sedangkan aku memilih steak menjangan. Rasanya? tentu semua enak (dan mahal). Tapi kami bisa memperingati sekaligus shichigosan dan ulang tahun pernikahan, dan mungkin untuk tahun ini adalah perayaan yang terakhir karena kami tidak merayakan pergantian tahun (tahun baru) karena dalam suasana duka mochu 喪中 (mama meninggal bulan Februari)

Kopdar Tokyo

Asyiiik, setelah tahun September 2009 aku bertemu dengan blogger Mas Agustus Nugroho di Tokyo Tower, hari ini aku mengadakan kopdar kedua di Ueno – Asakusa. Ya aku bertemu dengan Ade Susanti atau yang lebih sering dikenal dengan Unidede.

Setelah mendarat dan check in di hotelnya, Unidede menghubungi aku dan kami janjian bertemu di Ueno. Akhirnya kami bertemu menjelang jam 3 di depan Hard Rock Cafe, Hirokoji Exit di Ueno. BTW, aku baru tahu bahwa ada HRC di Ueno. Setahuku HRC hanya ada di Roppongi. Ketahuan deh sudah lama tidak main-main 😀

Kami berlima, Unidede dan suami, aku, Riku dan Kai akhirnya makan siang di sebuah restoran sushi yang berada di lantai 2. Dan yang menyebalkan aku terlambat mengambil bill bayaran sehingga akhirnya aku ditraktir Mas Aryo deh. Terima kasih banyak ya. Aku juga dibawain Beng-beng, Kopi dan Teh Kotak!  Waaah sekeluarga menikmati oleh-oleh sampai merem melek di rumah.

Late lunch dengan sushi...

Sesudah makan kami naik taxi ke Ueno. Tidak jauh, sekitar 1200 yen ongkosnya. Dan kami bisa melihat Sky Tree menjulang. Sayang waktu itu aku repot pangku si Kai, jadi tidak bisa memotret Sky Tree di depan mata. Oleh pak supir kami diturunkan persis di depan Kaminari Mon, pintu gerbang menuju Kuil Sensoji, Asakusa, yang merupakan tempat wisata yang harus dikunjungi di Tokyo.

Di depan Kaminari Mon

Ada banyak pemuda ber-happi (kimono pendek) yang menawarkan untuk naik Jinriki-sha (becak yang ditarik manusia), aku pernah tulis di sini. Kata temanku sih satu keliling sekitar 4000 yen, maklum tidak pernah coba untuk naik sih.

Setelah berfoto di depan Kaminari Mon, kami masuk menyusuri toko-toko sepanjang jalan kiri-kanan. Riku dan Kai senang sekali, bagaikan kuda lepas berkata, “Mama boleh ini? boleh ini?” Dan mamanya kadang harus pasang muka anker dengan berkata “tidak boleh!” Tapi kami sempat membeli gantungan kunci, coba minum amazake dan makan kibidango (kue mochi yang dibawa oleh Momotaro sebelum menaklukkan Oni di Onigashima) , mizuame (permen berisi buah-buahan, lengket-lengket deh hihihi) dan terakhir aku belikan pra model untuk mereka berdua.

Deretan toko-toko sepanjang jalan menuju Kuil Sensoji

Terakhir aku ke Kuil ini sudah sekitar 15 tahun lalu, waktu masih single, dan waktu itu siang hari. Ternyata kalau malam hari memang tempat wisata Jepang itu lebih terasa mistis dan indah. Asalkan di light-up ya, kalau tidak ya susah untuk ambil fotonya. Dari depan kuilnya pun kami bisa melihat sepotong dari Sky Tree yang menjulang. Mas Aryo yang kameranya sama denganku (Nikon D80, tapi lensanya lebih canggih tuh) juga banyak mengabadikan kuil ini.

Pemandangan malam hari di Kuil Sensoji

Akhirnya sekitar pukul 6:30 kami kembali ke Ueno naik taxi lagi, dan berpisah di Ueno, dengan janji untuk bertemu kembali besok, Selasa pagi untuk jalan-jalan di Tokyo. Tapi bener deh, jalan-jalan bawa anak itu….refoooot banget. Tanya aja sama unidede, betapa lincahnya si Kai 😀

Ayoooo siapa lagi yang mau kopdar di Tokyo? Tak tunggu loh 😀

Bulan Tanpa Dewa

ini merupakan terjemahan dari nama bulan Oktober, yang bahasa Jepangnya adalah Kannazuki 神無月. Kalau melihat dari Kanjinya, langsung bisa mengetahui artinya yaitu bulan tanpa dewa. Dikatakan pada bulan Oktober ini, dewa-dewa dari seluruh Jinja (Kuil Shinto) di Jepang pergi ke Izumo Ooyashiro, Jinja “pusat” yang berada di prefektur Shimane. Jadi di Jinja-jinja selain Izumo jinja itu tidak ada dewanya. Kosong deh ….

Sehingga ada juga orang Jepang yang kritis dan pernah menulis di Yahoo Question begini, “Kalau dewa-dewa tidak ada di Jinja, buat apa kami pergi ke jinja untuk berdoa. Toh tidak ada dewanya, bagaimana bisa dikabulkan?” Hmmm benar juga teorinya ya. Meskipun bagi agamaku, Tuhan berada di dalam hatiku 😀

Nah, sudah tahu di Jinja tidak ada dewanya, yang aku heran kenapa cukup banyak matsuri (festival) diadakan di Jinja. Kalau tanggal 3 Okt, kami pergi ke Kuil Kitano, maka hari Minggu lalu (17 Oktober), kami bersepeda ke Kuil Hikawa (Hikawa Jinja) yang terletak dalam kompleks Taman Shakujii. Karena dari rumah kami terdengar suara ramai-ramai arak-arakan omikoshi (altar usung) . Riku dan Kai langsung ingin pergi ke Matsuri, jadi kami bersepeda ke sana sekaligus mengembalikan buku di perpustakaan. (Jalanannya cukup menanjak euy, padahal aku membonceng Kai sehingga menggeh-menggeh juga hehehe)

Omikoshi atau altar usung yang diarak-arak sekeliling Jinja

Seperti biasa, kami berdoa dulu di depan altar Jinja sesudah mencuci tangan di tempat cuci depan altar. Setelah itu kami mencoba minum teh hijau matcha yang biasa disajikan dalam upacara minum teh chanoyu. Teh Hijau matcha ini yang biasanya dibuat es krim, pahit tapi… manis. Nah loh bingung kan? Memang sebelum minum teh ini, sebaiknya makan kue manis atau dodol, sehingga waktu minum teh, tidak terlalu pahit. Untuk Kai, si pembuat teh membuat tehnya lebih encer dari biasanya. Dan Kai minum semua sampai habis.

Sesudah minum teh matcha itu, kami menonton pertunjukan taiko (gendang) yang dibawakan oleh perkumpulan anak-anak yang biasa berlatih di jinja itu. Aku selalu senang menonton pertunjukkan taiko. Adrenalin dipompa setiap hentakan dan dentuman gendang, belum lagi teriakan dan gaya mereka yang kakko ii …kereeeen. Pengen sekali deh belajar taiko, tapi aku ragu apa aku bisa. Sayangnya Riku sama sekali tidak menunjukkan apresiasi pada pertunjukan taiko itu. Dia bilang, “Mama…ribut, aku pergi ya…. ” Aku tahu dia tidak sabar untuk pergi mencari stand permainan dan… minta duit untuk itu hahaha.

Sementara Kai tetap bersamaku dan menonton pertunjukkan Taiko. Sayangnya, dia melihat seseorang yang membawa senapan, dan dia juga mau! Heran sekali deh, dia suka sekali main dengan senapan dan pistol-pistolan. Sepertinya dulu Riku tidak terlalu bermain dengan pistol deh.

Osakayaki, sejenis kue dengan isi daging dan sayuran (seperti okonomiyaki)

Dan tentu saja Gen melarangku membelikan senapan untuk Kai. Jadi deh Kai merajuk dan merengek, berteriak minta dibelikan. Jadi kami cepat-cepat pulang, selain juga kami merasa bahwa toko-toko yang ada di festival itu sedikit dan tidak menarik juga. Padahal kuil ini cukup besar untuk daerah ini. Aku juga sempat mendengar seorang ibu berkata harus mendaftarkan anaknya untuk upacara shichi-go-san (7-5-3) peringatan khusus untuk anak-anak yang biasanya dilakukan bukan November. Sayangnya untuk anak laki-laki hanya diadakan pada usia 5 tahun, jadi masih 2 tahun lagi untuk Kai. Saat itu anak-anak itu akan didoakan di kuil dan memakai kimono yang bagus. (sewa dari photo studio sih biasanya).

Oktober masih ada 10 hari lagi, tapi mungkin matsuri (festival) sudah tidak ada lagi karena kuil-kuil biasanya sibuk menyambut shichi-go-san. Dan tentu saja menyambut kembalinya dewa-dewa ke jinjanya masing-masing. 🙂

Miko san, asisten Kannushi, pendeta Shinto dalam upacara-upacara keagamaan.

Keterangan tentang Miko san 巫女さん bisa dibaca di sini.

Pohon Keramat

Beberapa waktu yang lalu ada sebuah peristiwa yang membuat aku berpikir bahwa orang Jepang memang mempunyai  “sense of belonging” yang tebal. Peristiwanya begini:

Dua buah jalur kereta, Hokuriku (kereta malam) dan Noto. Jalur ini ditutup, dan pagi ini di siaran berita diperlihatkan fans kereta api berkumpul. Ada yang di peron, dan ada yang menaiki kereta terakhir itu. Yang di peron meneriakan “Arigatouuuuuu” kepada KERETA. dan melambaikan tangan…. Aku sampai ikut terharu. Perasaan memiliki (terutama untuk barang-barang milik umum/bukan milik pribadi) ini yang jarang aku temukan di indonesia…atau aku saja yang tidak tahu?
Kereta itu telah mengantar mereka bekerja/bermain/bersekolah atau pulang kampung, selama bertahun-tahun. Untuk perbaikan jalur, kereta itu masuk museum (pasti dijual ke negaraku juga sih karena masih berfungsi)…. Sense of belonging orang Jepang memang hebat! Coba negaraku juga memiliki rasa itu, rasa berterima kasih pada suatu barang atau orang, semestinya bisa lebih maju. Menyayangi barang dan memakai sampai saat terakhir, daijini suru…. menjaga dan memeliharanya….. (TT 13 maret 2010)

Kereta yang adalah hasil buah pikiran manusia saja dicintai sedemikian rupa. Apalagi alam? Tanggal 18 Maret lalu, aku membaca bahwa batang pohon Ginkyo raksasa yang tumbang di Kuil Tsuruoka Hachimangu 10 hari sebelumnya  ditanam kembali batangnya. Tujuannya untuk melindungi anak-anak pohon yang mungkin tumbuh dari tempat yang sama.  Ya, tumbangnya pohon raksasa ini menjadi berita besar, karena sebetulnya pohon ini pohon “keramat”. Yang selalu menjadi bahan cerita turun temurun.

(foto dari mass media Jepang)

Pohon ini berusia sekitar 1000 tahun, setinggi 30 meter dan diameter 7 meter tumbang akibat badai. Pohon yang ditetapkan menjadi warisan daerah Kanagawa ini menyimpan sejarah karena di dekatnya Shogun ketiga pada jaman Kamakura, Minamoto no Sanetomo,1219 dibunuh oleh keponakannya sendiri yang bernama Kugyo. Sumber dari sini.

Kalau di Indonesia mungkin setiap malam Jumat sudah dipenuhi orang yang minta wangsit yah hehehe

Kami merasa beruntung masih sempat melihat pohon ini bulan September tahun lalu. Memang aku belum sempat membuat catatan perjalanan ke Kamakura ini saking banyaknya yang mau diceritakan. Kebetulan waktu itu ada Silver Week, libur beruntun sehingga kami berempat bisa jalan-jalan naik kereta ke Shibuya, dan Yokohama, yang sudah aku tulis postingannya. Dan sebetulnya setelah dari Yokohama itu, kami menginap di rumah mertua, dan keesokan harinya kamu pergi ke Kamakura. Aku ingin memperlihatkan The Great Buddha yang terkenal di Kamakura kepada Riku. Jadi hari itu kami pergi ke Great Buddha dan ke Tsuruoka Hachimangu tempat si pohon “keramat” ini berada. (Posting mengenai The Great Buddhanya kapan-kapan yah hihii)

Kamakura memang kota tua dan pernah menjadi pusat pemerintahan Jepang pada jaman yang disebut dengan jaman Kamakura,  yaitu dari tahun 1183 sampai 1333.  Letaknya tidak jauh dari Yokohama, karena satu prefektur dengan Yokohama yaitu prefektur Kanagawa. Kami naik JR dari stasiun Yokohama dan turun di Kita Kamakura. Memang untuk ke Kuil Tsuruoka Hachimangu ini perlu banyak jalan kaki, tapi pertokoan di sepanjang jalan juga menarik untuk dilihat.

Gerbang (Torii) awal jalan ke Tsurugaoka Hachimangu, ternyata gerbang ini bukan gerbang pertama, tapi gerbang kedua. Gerbang pertama ada di pantai. Lihat jalan yang mengecil (dan kazura)

Tentu saja kita juga bisa naik Jinrikisha, becak yang ditarik pemuda berpakaian hitam, sampai ke Kuil, tapi aku rasa cukup mahal deh. Kecuali untuk lansia yang memang tidak kuat berjalan jauh, atau ingin mencoba menaiki becak Jepang ini (biasanya sih wisatawan domestik, soalnya wisatawan asing biasanya pelit… mahal sih hihihi).Di sepanjang jalan setapak yang diapit jalan mobil ini banyak terlihat bunga berwarna merah berasal dari Cina bernama Higanbana (Lycoris) yang memang sedang musimnya mekar pada bulan September.

Yang menarik justru jika kita menyusuri jalan yang akan menghantar kita ke arah Kuil. Jalan itu terlihat mengecil sehingga membuat pejalan kaki tidak mengetahui seberapa jauh jarak yang ditempuh (terasa jauh). Pengelabuan mata seperti ini disebut dan kazura.

Begitu kami sampai di depan kuil, terdapat sebuah torii, pintu gerbang kuil (yang ketiga) yang khas berwarna merah. Juga ada jembatan lengkung berwarna merah dengan parit kecil di bawahnya. Jika Anda perhatikan, di setiap kolam, atau wadah yang berisi air, kecuali air “wudhu” air yang dipakai untuk membersihkan tangan dan mulut sebelum masuk kuil, pasti ada koin-koin satu yen di atas/dalamnya. Perhatikan deh di setiap tempat wisata yang dikunjungi orang Jepang pasti ada koinnya, bahkan sampai di Roma, di Fontana di Trevi aku bisa melihat banyak terdapat koin di dalamnya (dan menyadari kenyataan bahwa orang Jepang sudah merajai dunia… coba lihat kolam-kolam di Bali …hiks)

Di parit di bawah jembatan inipun demikian, bahkan mereka melemparkan uang koin di atas daun! Dari pintu gerbang ini untuk mencapai kuil masih harus berjalan cukup jauh. Tapi memang lahan kuil ini sangat luas dan dikelilingi pepohonan yang rimbun. Dan di bawah lapangan luas terdapat sebuah panggung, yang katanya dulu merupakan tempat menari. Dari pelataran itu kami harus menaikin tangga yang cukup terjal untuk bisa sampai ke kuilnya.Memang kuil Shinto itu selalu terletak di tempat yang tinggi, dengan pemahaman bahwa dewa selalu berada di atas. Karena Kai waktu itu sedang tidur di kereta bayinya, akhirnya aku tinggal di bawah sementara Riku dan Gen naik ke atas. Well, orang Jepang perlu berdoa kepada nenek moyangnya untuk keselamatan dirinya.

Aku menunggu di bawah pohon “keramat” itu. Memang besar dan …adem. Dari tempat aku duduk bisa melihat gentong-gentong sake persembahan dari pabrik pembuatan sake kepada kuil . Sake memakai beras, dan beras adalah pemberian dewa, sehingga perlu disyukuri dengan memberikan persembahan. Wah membaca tulisan di gentong-gentong sake itu, aku jadi menghitung sudah berapa jenis sake yang aku pernah minum ya hihihi. Salah satu cita-citaku adalah menjadi pencicip sake Jepang, yang kalau di Perancis pencicip wine diberi nama Sommelière. Kalau di Jepang namanya Kikizakeshi きき酒師(ききざけし)。  Aku sudah cukup mahir membedakan sake yang diproduksi tanpa campuran bahan kimia dengan yang memakai campuran kimia, junmai 純米 ginjou 吟醸 jouzou 醸造.

Gentong Sake persembahan perusahaan bagi kuil Shinto

Pada perjalanan pulang menuju stasiun kami sempat melihat awan yang cukup aneh, yang katanya disebut sebagai hitsujigumo awan domba, karena bentuknya seperti bulu domba. Awan memang obyek yang menarik untuk difoto ya…..

 

 

KoPdAr di Tokyo Tower

Siapa sangka saya bisa naik Tokyo Tower bersama teman Indonesia saya, setelah 17 tahun saya tinggal di Jepang? Ya, saya memang belum pernah naik Tokyo Tower. Waktu ibu saya datang ke sini, kami pernah sampai bawahnya saja, dan membatalkan rencana karena harus antri 3 jam, untuk bisa masuk. Jangan sekali-kali coba pergi pas akhir minggu deh. Dan akhirnya saya bisa berada di 150 meter di atas tanah hari Jumat lalu tanggal 12 September 2009.

Saya sangat antusias ketika Mbak Cindy sejak July lalu mengirim email soal kemungkinan kedatangan ke Jepang. Jarang-jarang kan ada teman blogger yang datang ke Tokyo. Kemudian Mas Nugroho mengirim email bahwa tanggal 11 September dia dan Mbak Cindy akan datang, dan kalau bisa bertemu tanggal 12 atau 13, dengan tujuan satu… KOPDAR dong deh sih!

Tokyo Dome Hotel, sebuah hotel yang bersebelahan dengan Taman Ria Korakuen dan tokyo Dome Hall, tempat permainan baseball. Benar-benar dikelilingi amusement center.
Tokyo Dome Hotel, sebuah hotel yang bersebelahan dengan "Taman Ria" Korakuen dan Tokyo Dome Hall, lapangan permainan baseball. Benar-benar dikelilingi amusement center.

Asyik kan kita banggain bisa kopdar di TOKYO! Padahal waktu aku di Jakarta emang mas Nug lagi super sibuk, sehingga tidak bisa ketemu untuk menyusun planning kedatangan ke Tokyo. Dan yang mengherankan sekali, sesampai di Bandara Internasional Narita, Tokyo, ternyata no HP nya mas Nug masih bisa dipakai untuk menerima dan mengirim sms, which is dulu telepon GSM tidak bisa sama sekali dipakai di Jepang. Wah hebat! (Memang ada biaya roaming, tapi bisa!) Ternyata memang Softbank (dulu vodafone) sudah memperluas jaringan deh. Jadi tidak sulit untuk aku berhubungan dengan mas Nug, dan mengetahui posisi mereka bertiga di mana (Mas Nug, Mbak Cindy dan temannya Mbak Cindy, Mas Adi)

Aku memang memilih untuk bertemu mereka begitu mereka mendarat hari Jumat tanggal 11, karena berarti aku punya waktu untuk pergi sendiri, tanpa harus mengajak kedua buntutku. Susah euy ke dalam kota bawa anak-anak, apalagi pasti tidak bisa konsentrasi untuk bersenang-senang dong. Karena perhitungan perjalanan bus dari Narita sampai di hotel jam 12, maka aku langsung ke Tokyo Dome Hotel, dan sampai di sana pukul 12:30.

Dan begitu saya bertemu Mas Nug (Mbak Cindy dan Mas Adinya lagi ngurusin kerjaan) langsung deh mas Nug bilang, “Ayo foto …manas-manasin Lala dan Ria yuuk”. Jadilah aku foto pakai HP dan langsung upload ke FB …sayangnya karena dari ponsel tidak bisa men-tag siapa-siapa, sehingga dua orang yang dimaksud baru tahunya setelah malamnya.

foto yang berhasil membuat ngiri bloggers di FB
foto yang berhasil membuat ngiri bloggers di FB

Karena aku  ada waktu sampai 4:00 sore, aku menawarkan mengantar Mas Nug ke Asakusa (kuil di Tokyo) atau tempat wisata lainnya.  Tapi sambil memutuskan akan pergi kemana, kami melihat-lihat paket tour dalam kota yang akan dipilih untuk rombongan melewatkan hari di Tokyo. Dan saat itu Mbak Cindy bergabung dengan kami. Katanya dia dan Mas Adi punya waktu sampai jam 5. Wow! Jadilah kami berempat naik taxi (yang lebih efisien daripada naik kereta karena jumlah orangnya) dan menuju ke Tokyo Tower.

Dalam taxi, sang fotografer Mas Nug tidak henti mengambil foto. Saya juga ikut-ikutan, dan waktu melewati Imperial Palace, ada taman pinus di depannya yang cukup luas. Kami juga banyak melihat orang-orang yang tiduran di bawah pohon. Mungkin asalkan tidak mengganggu kepentingan umum, maka keberadaan mereka di”cuek”in polisi Jepang.

Sampai di Tokyo Tower, kami membeli karcis untuk Naik Tower sampai 150 meter di atas permukaan tanah. Untuk sampai ke observatory itu kami naik lift. Dan memang karena hari biasa, pengunjung tidak banyak. Tapi…. memang melihat pemandangan kota itu paling bagus malam hari ya. Kalau siang hari kurang…. hmm… romantis.

Yang lucu, di dalam observatory itu terdapat sebuah kuil kecil, yang mungkin diperuntukkan untuk pelindung Tokyo Tower. Sedangkan di luar,  kami bisa melihat pemandangan Rainbow Bridge di kejauhan, dan yang lebih dekat sebuah kuil yang asri dengan kompleks pemakamannya. Saat itu aku ditanya, “Kok pemakamannya kecil?” Ya, karena yang dimakamkan di situ kan sudah berbentuk abu dalam guci.

Sebetulnya kami bisa naik lagi sampai ke level 250 meter di atas tanah (tentu saja dengan membayar karcis lagi), tapi waktu itu kami harus menunggu 20 menit jika mau ke atas. Oh NO! waktu kami tidak banyak, jadi kami membatalkan rencana naik ke lebih atas lagi. Apalagi Mas Nug rencananya akan datang lagi sendirian pada malam hari. Jadi kami bergerak turun.

Ternyata untuk turun lewat lift, kami perlu menuruni tangga dulu, dan bertemu lagi semacam observatory yang sama. Yang bagusnya di lantai ini, ada satu lantai kaca berukuran 50×50 cm yang memungkinkan kita melihat ke bawah. Saya yang penakut dan phobia ketinggian, jelas-jelas tidak mau berdiri di situ. Tapi waktu kami berjalan berapa langkah lagi, kami menemukan jendela yang lebih besar, 1 meterx60 cm. Wah, langsung kami bereksperimen di situ.

Mas Adinya jadi Spiderman
Mas Adinya jadi Spiderman

Empat orang Indonesia tidak malu-malu untuk jongkok, nungging, nyelosor, entah apa deh sebutannya, yang penting bisa narsis, berfoto-foto di dalam Tokyo Tower. (Aku juga sempet gemetar juga sih, lihat saja pegangannya kuat banget hihihi)

Setelah kami turun dan mengelilingi toko souvenir, kami keluar ke pelataran dan menemukan sudut bagus untuk mengambil foto. Tapi… mengambil fotonya harus sambil nungging hihihi. Jadi yang nungging sibuk mengambil foto yang berdiri, dan yang berdiri, sibuk mengambil foto yang sedang nungging.

pose yang masih "agak" sopan

Well, waktu yang menyenangkan memang selalu terasa pendek. Tapi senang rasanya saya bisa bertemu sesama blogger di Tokyo meskipun cuma sebentar.  Mbak Cindy dan Mas Adi harus melanjutkan kerjaannya, saya juga harus pulang menjemput anak-anak, Mas Nug harus ke kamar dan me”manas-manasin” blogers dengan foto-foto di FB.

So? Kapan giliran Anda datang ke Tokyo? Kasih tahu jauh hari ya, karena jadwal orang Jepang itu padat loh hihihi.