Arsip Tag: jenazah

Pengaruh Media

Dalam kondisi seperti sekarang ini, memang media sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi. Surat kabar memang tertulis dan akurat tapi tetap hanya bisa membaca semacam laporan hari sebelumnya, yang tidak perlu diketahui saat itu juga. Sehingga untuk real time, kami lebih bergantung pada siaran televisi dan radio, dan/atau media online yang berafiliasi dengan media cetak.

Aku sendiri memanfaatkan NHK Televisi di rumah. Rasanya saat ini aku merasa bangga juga karena selalu membayar iuran NHK yang setiap bulannya ditarik 1340 yen. Begitu gempa terjadi, aku langsung menyalakan NHK dan mendapatkan berita akurat yang disiarkan terus menerus. Tentang gempa, gempa susulan, tsunami, jumlah korban, kemudian tentang PLTN Fukushima, dan pemadaman listrik. Pembacaan berita diselingi oleh siaran langsung dari pemerintah, yaitu Menteri Sekretaris Kabinet Edano Yukio, Perdana Menteri Jepang Kan Naoto, pihak Tepco, dll. Juga siaran perkembangan di daerah pengungsian. Semua bisa diikuti di NHK.

Jika aku kalah dengan anak-anak karena mereka mau menonton acara anak-anak, ya aku pindah ke Radio untuk mendengar berita NHK melalui gelombang FM. Karena tanpa tayangan visual, biasanya jika ada berita penting aku minta anak-anak bersabar karena mamanya mau melihat visual dari yang diberitakan. Begitu selesai, kembalikan lagi TV ke anak-anak. Kasihan juga pada mereka karena terus terang sejak kejadian gempa tgl 11 Maret lalu selama kurang lebih 4 hari mereka terpaksa melihat berita terus menerus (yang kemudian berdampak negatif pada Riku, untung sekarang sudah hilang)

Karena aku menonton NHK terus menerus, aku tidak tahu apa yang disiarkan oleh TV swasta, baru setelah 5 hari lewat aku juga mulai melihat chanel lain. Dan yang mencolok bisa terlihat adalah berkurangnya pemasangan iklan dari perusahaan sponsor. Bagian iklan diisi oleh Iklan Layanan Masyarakat dari AC Japan (Advertising Council Japan) yang intinya ingin mengajak masyarakat untuk peduli pada korban gempa dan tsunami. Salah satu iklan yang menarik misalnya tentang kikubari, perhatian terhadap sesama. Seperti adegan seorang pelajar lelaki yang melihat tindakan orang lain yang memberikan tempat duduknya pada bumil, dan akhirnya dia juga membantu seorang lansia yang sedang naik tangga. Tentang iklan ini sahabatku, Mas Sapto Nugroho menulis di Kompasiana. Silakan baca.

Tapi karena iklan layanan masyarakat ini terlalu sering, rasanya juga bosan mendengar himbauan seperti ini terus menerus. Tapi dari chanel swasta ada beberapa hal yang aku juga bisa lihat, antara lain perkembangan kumpulan sumbangan yang dibuka oleh Stasiun TV tersebut. Misalnya pada saat aku melihat chanel Nihon Terebi, mereka melaporkan bahwa sudah terkumpul 400juta yen. Suatu pengumuman yang tidak ada di TV NHK. Selain itu aku juga bisa mendengar diskusi-diskusi mengenai penanganan masalah (nuklir dan pengungsi) yang lebih keras dan kritis daripada NHK. Yah, mereka juga dibayar untuk “bersuara”. Tapi aku pribadi lebih suka mendengar berita yang tidak “radikal”, yang hanya memberikan info begitu saja, tanpa perlu dianalisa. Tapi untuk PLTN, di NHK  analisanya dilakukan seorang ahli Nuklir dari Tokyo University, Prof Sekine. Dan aku suka gayanya yang cool (meskipun sementara orang mengatakan “dia tidak tahu apa-apa”).

Well, memang sulit untuk memilih info mana yang terbaik untuk kita masing-masing. Saking banyaknya media yang bisa dipilih, kadang kita terlalu “banjir” info, yang kadang menyesatkan dan membuat panik. Jangan lupa bahwa di internet, orang bebas untuk mengemukakan pendapat.

Sejak terjadi gempa, aku memang memakai FaceBook sebagai tempat untuk “berkumpul”, bertukar informasi. Mungkin ada beberapa teman yang juga di Jepang yang kurang bisa membaca bahasa Jepang sehingga menganggap tulisanku bisa dipakai sebagai sumber informasi. Terima kasih untuk kepercayaan itu, karena sebetulnya aku juga HANYA menulis saja, menulis apa yang sedang terjadi sebisa mungkin TANPA bumbu. Kalau tidak ada datanya lebih baik aku tidak tulis, karena akan membuat orang bingung.

Dan dipikir-pikir, aku juga merasa beruntung aku tidak lagi menjadi DJ Radio (bisa baca di “Kugadaikan Cintaku” ceritanya). Karena stasiun Radioku dulu itu sebenarnya didirikan untuk memberikan informasi kepada warga asing yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya dalam bahasanya sendiri. Jika aku masih bekerja di situ, dan jika stasiun Radio itu masih bertujuan yang sama seperti pada awalnya didirikan, maka aku pasti harus berada di studio terus, untuk siap memberikan laporan gempa, informasi dalam bahasa Indonesia dan termasuk membacakan nama-nama korban/ orang hilang. Sekarang aku cukup menulis di blog TE saja bukan? 😀 Tanggung jawabnya lebih ringan.

Ada beberapa teman di FB juga yang menanyakan padaku, “Dalam laporan gempa Jepang, saya belum melihat liputan yg memperlihatkan korban dalam keadaan yg sangat menyedihkan sehingga terkesan …tidak manusiawi”

Memang Jepang tidak pernah menayangkan korban atau jenazah dalam tayangan TV sehari-hari. Juga tidak dalam bentuk foto di media cetak. Kenapa?

Aku jawab karena Jepang sangat menghargai hak asasi manusia, sehingga ada privacy law, undang-undang menjaga kerahasiaan individu. Aku pun selalu berusaha mem-blurkan wajah orang-orang dalam foto yang kupakai di sini, kecuali jika anggota keluarga atau teman orang Indonesia yang sudah pasti tidak keberatan. Sebelum difoto atau disorot, biasanya pihak TV/wartawan bertanya dulu apakah bersedia disorot. Nah, jenazah pun sebelumnya adalah manusia, tapi tak bisa ditanyakan bukan? Itu jawabanku hanya berdasarkan hak asasi manusia. Tapi selain itu aku juga sudah pernah menjelaskan di TE sekilas, bahwa dalam upacara penguburan pun, tidak ada orang yang memotret jenazah. Tabu! Meskipun memang aku belum pernah bertanya apakah ada dasarnya dalam agama Buddha. Nanti kalau kebetulan bertemu dengan pendeta Buddha akan aku tanyakan. Tabunya lebih pada perasaan/hati. Tentu saja lebih baik kita mengenang orang yang kita cintai itu dalam rupa yang bagus, ceria, sebelum meninggal kan? Daripada mengingat muka terakhirnya yang mungkin dalam rupa kesakitan atau mungkin rusak karena kecelakaan. Intinya apakah kita memakai HATI atau tidak. Etika di sini juga memegang peran. 

(Mungkin bisa baca juga kritik dari Sapto Nugroho tentang : Kritik ke KOMPAS : Judul Menarik tidak harus membuat Panik)

Setelah aku mencari-cari apa sih dasar hukumnya, mengapa di TV/atau koran tidak ada tayangan/foto  jenazah? Aku menemukan jawaban sebagai berikut: (Bisa baca blog dalam bahasa Jepangnya di http://shima-x.petit.cc/banana/20100117164515.html. )

Menurut UU Penyiaran Jepang (Housoushou 放送法) Pasal 3 ayat 2:
Sebagai kewajiban dan persyaratan penting program penyiaran yang merupakan tanggung jawab setiap perusahaan adalah:
Tidak merugikan keamanan umum dan merugikan kebaikan moral umum
adil dalam bidang politik (tidak berat sebelah)
Penyiaran tidak membelok dari kenyataan/kebenaran
Jika terdapat perbedaan pendapat, sedapat mungkin dijelaskan dari berbagai sudut.

karena itu penayangan mayat di media bisa dianalisa:
– membuat mual, merugikan kondisi kesehatan
– memberikan pengaruh buruk pada anak-anak (yang juga melihat tayangan itu)
– Tanggapan, isi, tampilan dari si pembuat
– Berpikir dari sisi jenazah itu, menghormati jenazah, masalah agama
– reaksi dari perusahaan sponsor
– reaksi dari komite moral penyiaran.

Dan isi dari UU Penyiaran itu juga bisa menjawab pertanyaan berikut:

“Apa TV di Jepang itu hanya memilih tayangan yang bagus-bagus dan ada sensor ya? Kok terlihat masyarakat Jepang tenang saja sesudah gempa dan masih antri lagi untuk pulang? Segitunya tenang dan teraturnya mereka ya?”

Memang begitulah adanya masyarakat Jepang sama seperti apa yang ditayangkan oleh media. Karena sebetulnya TV juga mengambil gambar bahwa barang-barang di toko-toko habis, bukan? Itu bukan berita bagus kok menurutku, jadi memang begitulah kenyataannya. Bahkan kemarin ada tayangan pembagian makanan di tempat pengungsian, bisa dilihat mereka juga antri untuk mendapatkan makanan. Tidak ada yang berebut. Malah ada volunter yang mengambilkan makanan, atau berkeliling yang menanyakan kebutuhan para lansia yang di pengungsian. Apakah memang begitu semua? Tentu saja ada beberapa kasus yang negatif, tapi jumlahnya begitu kecil. Bukan karena tidak dilaporkan tapi karena tidak ada sedikit sekali kejadiannya. Ada kok berita tentang anak yang menipu dengan alasan sumbangan ke pusat gempa padahal masuk kantong sendiri. Jumlah kerugian? 2000 yen! Kecil kan?

Satu hal lagi yang ditanyakan media asing terutama di Amerika. Mengapa tidak ada penjarahan di Jepang sebagai dampak dari musibah? Waktu ada bencana hurricane di Amerika, dikatakan banyak terjadi penjarahan, mumpung penghuni/pemilik tokonya tidak ada, ambil saja! Di Indonesia juga terjadi penjarahan besar-besaran tahun 1998 kan? Mengapa?

Di Jepang ada istilah Kajibadorobou. Orang yang menjarah pada wkatu terjadi kebakaran (musibah). Ada? Tentu saja ada, tapi sedikit, tidak banyak. Mungkin karena orang Jepang tidak terlatih untuk merampok 😀 Kalau mau berbuat kejahatan lebih rapih, seperti ore-ore (lewat telepon/transfer). Dan secara moral orang yang mencuri pada saat musibah sudah dicap saitei 最低 tidak berharga lagi hidup sebagai manusia.

Meskipun sebetulnya kalau aku pikir tindakan seperti menyerbu membeli bahan makanan gila-gilaan di toko-toko hampir serupa dengan Kajibadorobou juga kan? Memanfaatkan musibah untuk diri sendiri. OK deh kalau memang sama sekali tidak ada persediaan. Karena aku tahu juga bahwa orang Jepang jarang menyimpan barang, biasanya secukupnya saja, dan berbelanja setiap hari. Lagipula mau membeli barang banyak juga mau simpan di mana? Rumah terlalu kecil. Biasanya aku pun sekali membeli beras max 5 kg. Lain dengan mereka yang tinggal di daerah dingin dan rumahnya lebih besar yang setiap membeli 30 kg.

Aku memang tidak rush untuk berbelanja seperti orang lain. Kupikir untuk seminggu masih cukup kok makanan. Aku tahu bahwa barang di supermarket tidak ada juga dari teman-teman yang tinggal di Tokyo dari tulisan mereka di FB. Susah memang untuk menahan diri untuk tidak ikut panik. Seperti kata Gen, “Orang-orang itu panik kan karena mereka mau segala sesuatunya TIDAK BERUBAH, tidak mau menyesuaikan diri. Kalau memang tidak ada susu, telur dan roti, ya tidak usah panik kan? Kita bisa tetap hidup tanpa itu.”
Ah, untung sekali pemikiranku juga sama dengan pemikiran suamiku. Kesempatan juga untuk matiraga selama bulan Puasa (Katolik – menyambut Paskah).

Tenang dan jangan panik. Justru harus kita praktekkan dalam saat-saat seperti ini. Tapi memang ketenangan itu timbul karena KEPERCAYAAN. Bukan hanya kepercayaan kepada Tuhan yang memang mutlak, tapi aku juga seperti warga Jepang lainnya PERCAYA bahwa Pemerintah Jepang TIDAK AKAN mengorbankan warganya.

Aku share email dari temanku Alex sehubungan dengan recording Yamaha sebagai berikut:

Hello Imelda-san,

It was really a pleasure to hear your cheerful voice this afternoon. In the times like now I am so happy that I am able to talk to people like you and I am happy that you are fine.

Believe it or not but people in Japan are still keep on working: maybe for those who are abroad it’s hard to believe but we both know it is true. Some of my friends left Japan in panic like my good old ****** buddy xxxxxx who came to Japan more than 30 years ago, I really couldn’t believe it…

Anyway I am sending you the text and 2 maps of the studio in Akasaka for the recording on March 22, Tuesday. I will see you there. If there are any questions please let me know anytime.

Till then – all the best and may the God bless us all,Alex

 

Masih kurang percaya? silakan juga baca tulisan seorang Indonesia di Tokyo, Pepih Nugraha yang menulis “Mengapa Saya (Masih) Bertahan di Tokyo“.

It is all about Faith, about Confidence, about Loyalty, about LOVE

Sebagai penutup tulisan aku ingin sharing sebuah lagu dari ANPANMAN. Tahu kan anpanman? Karakter roti yang pernah aku tulis di sini : Roti Sebagai Sumber Ide. Lagu Anpanman March ini populer di kalangan anak-anak. Dan untuk menghibur anak-anak di pengungsian diputar oleh sebuah stasiun Radio. Teman-teman blogger seperti  Imoe, Koelit Ketjil, Kika, Yoga, Uda Vizon, dkk tentu tahu bagaimana anak-anak di pengungsian memerlukan penghiburan untuk meringankan trauma mereka. Bukan terus menerus kabar sedih yang harus mereka terima, mereka tetap mempunyai harapan untuk maju dan hidup. Mereka butuh bermain, bergembira, meskipun sulit. Nah, lagu anak-anak yang diputar ini TERNYATA dapat menghibur pengungsi dewasa lainnya. Karena mereka juga baru sadar kata-katanya saat itu. Begini liriknya:

Ya! Senangnya, Gembira akan Kehidupan ini
Seandainya pun ada luka di dada.

Untuk apa kita lahir,  apa yang dilakukan untuk hidup
Jangan sampai tidak bisa menjawabnya
Bakarlah semangat dengan Hidup yang sekarang ini
Karena itu kamu, pergilah dengan senyum

Ya! Senangnya, Gembira akan Kehidupan ini
Seandainya pun ada luka di dada.

Ah Anpanman yang baik
Pergilah! Pertahankanlah mimpi semua orang

Apa yang kamu perbuat untuk bisa bahagia,
apa yang kamu perbuat untuk bisa gembira
Jangan sampai selesai tanpa mengerti apa-apa
Jangan lupakan mimpi, Jangan teteskan air mata
Karena itu kamu, terbang sampai manapun juga
Jangan takut, untuk semua orang
Hanya CINTA dan KEBERANIAN, teman kita

Ah Anpanman yang baik
Pergilah! Pertahankanlah mimpi semua orang

そうだ うれしいんだ 生きるよろこび
たとえ 胸の傷がいたんでも

なんのためにうまれて なにをして 生きるのか
こたえられないなんて そんなのは いやだ!
今を生きる ことで 熱い こころ 燃える
だから 君は いくんだ ほほえんで
そうだ うれしいんだ 生きるよろこび
たとえ 胸の傷がいたんでも

ああ アンパンマン やさしい 君は
いけ! みんなの夢 まもるため
なにが君の しあわせ なにをして よろこぶ
わからないまま おわる そんなのは いやだ!
忘れないで 夢を こぼさないで 涙
だから 君は とぶんだ どこまでも
そうだ おそれないで みんなのために
愛と勇気だけが ともだちさ

ああ アンパンマン やさしい 君は
いけ! みんなの夢 まもるため

時は はやく すぎる 光る星は 消える
だから 君は いくんだ ほほえんで
そうだ うれしいんだ 生きるよろこび
たとえ どんな敵が あいてでも

ああ アンパンマン やさしい 君は
いけ! みんなの夢 まもるため

(Pencipta Miki Takashi ) Jika mau dengar silakan dengar di YouTube ini.

Hidup terus berjalan….

dan aku menutup tulisan ini sambil menonton TV tentang kantor pos yang berada di daerah gempa (yang masih berdiri) dibuka kembali, dan semua surat yang belum disampaikan, diantarkan ke rumah-rumah, sambil mencari warga di pengungsian juga.

dan lagu yang dinyanyikan oleh siswa yang mengikuti upacara kelulusan di pengungsian:

asu toiu hi ga arukagiri
shiawase ni shinjite

Selama ada hari yang disebut ESOK
Percayalah pada KEBAHAGIAAN

Asu toiu hi http://www.youtube.com/watch?v=QQsKdWKmY-A

dan Selamat Hari Minggu!

*********************************************************************:

Tanggapan Tim Nuklir Indonesia KBRI Tokyo Terhadap Peningkatan Status INES 5 dari PLTN Fukushima

 

Pada hari Jumat,18 Maret 2011, NISA (Badan Pengawas Keselamatan Industri dan Nuklir Jepang) mengeluarkan informasi pada sekitar pukul 18.00 tentang dinaikannya level INES (International Nuclear Events Scale) dari level 4 menjadi level 5 dari skala 7. Peningkatan level ini dilakukan karena lebih dari 3% bahan bakar (fuel) telah mengalami kerusakan (damage). Menurut berita NHK, level 5 ini sama dengan level ketika terjadi kecelakaan pada Three Miles Island-2 (TMI-2) yang terjadi pada tahun 1979.

Pengumuman skala INES menjadi 5 oleh pemerintah Jepang ini tidak diikuti dengan perluasan daerah evakuasi. Sehingga hingga saat ini, daerah evakuasi tetap 20 km dan antara 20 km hingga 30 km disarankan tetap berada dalam ruangan. Dengan melihat data laju dosis radiasi di reaktor Fukushima Daiichi ataupun di beberapa daerah lain (lihat Update Laju Radiasi 18 Maret 2011), memang tidak terlihat peningkatan, terlebih lagi peningkatan yang signifikan. Bahkan data pengukuran mengindikasikan bahwa tindakan pendinginan melalui operasi penyemprotan air mampu menurunkan dosis radiasi. Usaha untuk memulihkan kembali sumber listrik pada instalasi memberikan harapan pemulihan sistem pendingin reaktor. Meskipun keberhasilan dua usaha ini masih perlu menunggu perkembangan lebih lanjut.

Selain pertimbangan dari Tim Nuklir yang berada di Crisis Center KBRI Tokyo, analisis pakar keselamatan reaktor nuklir di tanah air juga memperkuat pertimbangan. Dr. Setiyanto, Kepala Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir BATAN, sesaat setelah pengumuman peningkatan level INES dari 4 menjadi 5 (18 Maret 2011), menyatakan bahwa dari data yang ada, dosis radiasi dari reaktor Fukushima Dai-ichi belum mengkhawatirkan. Beliau pun menyatakan bahwa radius evakuasi 20 km dari pemerintah Jepang sudah cukup aman, meskipun skala kecelakaan ditingkatkan menjadi INES 5.

Dengan memperhatikan berbagai faktor di atas, hingga saat ini KBRI Tokyo belum mengubah rekomendasinya terkait penentuan radius evakuasi, yaitu tetap 50 km. Oleh karena itu, semua WNI di Jepang diminta untuk tetap tenang dengan tetap memperhatikan sumber-sumber informasi dari Pemerintah Jepang dan KBRI Tokyo.

 

Pertanyaan itu….

Sebelum aku mulai tulisan ini, aku ingin sampaikan duka mendalam untuk korban di Mentawai, korban letusan Gunung Merapi, dan…korban banjir Jakarta. Memang kelihatannya Indonesia dihajar musibah bertubi-tubi, dan sebetulnya di Jepang pun ada sebuah pulau terendam air saat badai mengamuk beberapa hari yang lalu. Bumi sudah tua?

Aku bisa bayangkan paniknya mereka yang mempunyai saudara di tempat-tempat musibah. Begitu aku mendengar gempa di Padang, aku langsung sms ke seorang teman di sana. Dan mendapat jawabannya jam 1 malam di sini. Syukurlah dia tidak apa-apa. Demikian pula begitu mendengar Merapi meletus aku langsung menelepon rumah, tanya kabar dan mengetahui bahwa papa sedang pergi ke Pekanbaru untuk mengajar.

Tadi aku sempat chatting dengan Nana di YM. Dia mengatakan “Aku tidak tega menonton TV tentang wawancara yang dilakukan pada seorang ibu yang bayinya meninggal karena menghirup abu letusan gunung Merapi. Belum lagi si jurnalis TV menginterview keluarga Mbah Marijan dengan memakai perkataan mati gosong (aku tidak hafal tepatnya apa, tapi tidak layaklah pemakaian kata itu untuk manusia)”.

Memang seorang jurnalis harus membuat berita yang bagus (demi rating?). Dan namanya juga manusia bahwa di saat-saat seperti musibah, tidak bisa merangkai kata-kata manis sebagai pertanyaan karena panik. Tapi mbok yo yang sopan sedikit kan bisa. Karena sesungguhnya bahasamu adalah pribadimu….wahai jurnalis. Bahkan aku pernah membaca di salah satu buku jurnalis, bahwa selayaknya wartawan belajar (kuliah) membuat pertanyaan-pertanyaan yang “bernurani” kepada korban dengan simulasi-simulasi dan latihan.

Biasanya media di sini mewawancarai keluarga korban meninggal bukan dengan “Bagaimana perasaan Anda mendengar dia meninggal”, tapi “kami turut belasungkawa. Kira-kira ada pesan almarhum yang ditinggalkan sebelum meninggal?”. “Bagaimana kronologis sebenarnya yang terjadi?” dll.  Dan biasanya memang meskipun menginterview keluarga, biasanya bukan ayah/ibu/keluarga langsung. Biasanya om/tante, keluarga jauh, yang diperkirakan bisa menjawab pertanyaan. Biar bagaimanapun juga “perasaan Anda ttg almarhumah” tidak pantas untuk ditanyakan. Adakah orang yang tidak sedih jika anak/orangtua/saudara kandungnya menjadi korban? Lain halnya jika kejadian sudah cukup lama berlalu.

Dalam kasus pembunuhan, jika tersangka masih dibawah umur (di bawah 20 th) tidak dibenarkan menuliskan nama tersangka. Hanya diberi nama Shonen A. Juga bukan inisial. Begitu pula keluarganya tidak boleh ditampilkan wajahnya, untuk melindungi privasi ybs dan keluarganya. Karena si remaja tersangka pembunuhan, jika benar menjadi terdakwa dan menjalankan hukuman, masih ada kemungkinan dia akan keluar penjara dan hidup di masyarakat. Tidak diumumkannya nama remaja itu juga untuk melindungi dia waktu dia keluar penjara, kelak.

Itupun biasanya bertanya dulu kepada si pemberi info/yang di interview apakah mau wajahnya disorot atau tidak. Tidak jarang kami hanya melihat tubuh bagian bawah dengan suara ybs, atau diblur wajahnya dan suaranya pun diubah. Dan jangan harap pemirsa di Jepang bisa melihat tayangan jenazah. Tidak ada satupun media yang menampilkan wajah/tubuh orang yang sudah meninggal. Demikian pula tidak ada satupun foto jenazah dalam peti mati, meskipun saudara yang diambil/dipotret! Tidak ada fotografer di sebuah pemakaman/upacara penghormatan jenazah terakhir di Jepang! Jangan sampai orang Indonesia meminta izin kepada keluarga Jepang untuk memotret dirinya dengan jenazah! Tidak sopan.

Memang budayanya lain. Aku pun sering melihat foto-foto anggota keluarga besarku yang meninggal, wajahnya sebelum petinya ditutup. Atau biasa saja kita melihat orang yang mengupload foto jenazah kekasihnya tersebut di media internet. Wajah kematian.

Jepang menganggap orang yang sudah meninggal sebagai “hotokesama” seorang yang disucikan, kembali ke alam suci. Setiap polisi, atau medis yang harus menangani jenazah korban baik musibah atau pembunuhan, pasti menghormat di depan jenazah, seakan meminta izin. Aku tidak tahu apakah agama islam ada doa khusus sebelum menangani jenazah atau tidak. Yang kutahu bahwa ada doa waktu pertama kali kita mendengar berita kematian dengan Innalilahi…. atau surat Al Fatihah.

Sebagai hotokesama, tidak pantas kita memotret jenazah, kecuali mungkin polisi sebagai barang bukti. Dan yang pasti, foto jenazah itu TIDAK AKAN diperlihatkan kepada masyarakat umum. Terus terang aku kaget sekali melihat foto jenazah Mbah Marijan diupload begitu saja di Facebook. Entah orang itu dapat darimana, mungkin media, karena kalau medis menyebarkan foto seperti itu semestinya melanggar kode etik (atau ada kekecualian di dunia medis Indonesia?). Mungkin foto itu sebagai pembuktian bahwa beliau bersujud menyongsong kematian. Tapi apakah kita harus melihat bukti khusus berupa foto itu? Aku rasa tidak akan ada yang menyangkal kok apapun posisi jenazah, sehingga perlu ada pembuktian begitu. Atau mungkin ada tujuan lain dengan foto tersebut? Aduh… kemana moral manusia Indonesia?

Aku mungkin akan merubah pandanganku tentang foto jenazah saudara yang meninggal, setelah aku tinggal di sini 18 tahun. Aku lebih setuju mengenang wajah kala orang itu masih sehat dan segar, ketimbang merekam wajah yang tanpa nyawa. Apakah foto jenazah itu akan dipandangi terus? Kalau toh tidak dipandangi, buat apa difoto ya? Aku ada foto jenazah Oma Poel, tapi aku hanya menyimpannya dan hanya melihat satu kali waktu menerimanya, untuk kemudian tak akan pernah kubuka. Wajah Oma yang ceria dengan senyum yang khas lah yang ingin aku kenang. Bukankah begitu?

Hormatilah korban dengan perkataan/pertanyaanmu, dan tindakanmu. Karena meskipun sudah tak bernyawa, mereka tetap saudaramu. Bukankah kita semua bersaudara? Tak pantas kita menyakiti saudara kita, bukan?

(akhirnya tertulis juga uneg-unegku tentang media Indonesia.)