Arsip Tag: wayang

Beber

Tahu “beber”? “wayang beber”? Kalau kata kerja “membeberkan” pasti tahu dong ya? Nah kali ini aku mau membeberkan sebuah fakta yang membuat kita sebagai orang Indonesia agak malu, hmmm paling tidak aku deh yang merasa malu.

Mengapa? Karena aku bisa melihat dan mengerti sedikit tentang Wayang Beber justru di Jepang ini. Dan itu pun karena diajak Gen untuk melihat pameran “beber” di museum Kertas, yang terletak di Kita-ku (bisa dibaca pengantarnya di cerita sebelumnya, Taman Asukayama). Dia baca di homepage Museum Kertas itu bahwa dari tanggal 19 Juni s/d tgl 4 Juli lalu itu ada pameran khusus yang bertajuk “Keindahan Kertas Kulit Pohon Asia” アジアの樹皮紙の美。

Dia bilang begini, “Di situ dipamerkan replika wayang beber yang berusia ratusan tahun. Katanya sering dipamerkan ke seluruh dunia, dan belum tentu bisa datang lagi ke Jepang, Yang pertama dan yang terakhir”…. Hmmm aku juga belum pernah melihat wayang beber, dan aku tidak yakin bisa melihatnya di Indonesia jika pulang  kampung. Karena itu kami sepakat untuk menghabiskan hari Minggu itu kami di Museum Kertas dan Taman Asukayama. Paling tidak Riku bisa bercerita bahwa dia pernah melihat sekilas kebudayaan negara ibunya.

Pameran wayang beber ini dilaksanakan di sebuah ruangan khusus untuk pameran temporer dalam Museum Kertas. Di lantai 4. Begitu masuk ke sudut itu, kami langsung bisa melihat gambar ini. Sss….t sebetulnya kami tidak boleh memotret di situ. Hanya ada satu foto jadinya 😀

Selain gambar wayang beber juga terdapat bermacam keterangan pembuatan dan pameran alat pemukul kertas daluwang

Di sebelah replika wayang beber yang dipajang itu tertulis proses dan cerita mengenai beber ini dalam bahasa Jepang. Dan untuk lebih mengerti lebih jelas lagi maksud pameran ini, kami disuguhkan dua video di ruangan tengah. Video itu mengenai pembuatan baju dari serat kulit yang disebut Fuya di Sulawesi Tengah. Yang membuat kami heran ternyata kulit pohon itu yang tadinya lebarnya tidak seberapa bisa ditumpuk kemudian  disambung dengan cara dipukul-pukul sehingga menjadi selembar “kain kertas” yang besar.

Video yang kedua tentang wayang beber yang hampir punah. Karena sudah tidak ada lagi pembuatan wayang beber dengan memakai teknologi jaman baheula itu , padahal kertas yang terbuat dari serat yang diberi nama Daluwang itu amat kuat dan tipis.

Wayang Beber adalah seni wayang yang muncul dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah daerah tertentu di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupun Ramayana.

Konon oleh para Wali di antaranya adalah Sunan Kalijaga wayang beber ini dimodifikasi bentuk menjadi wayang kulit dengan bentuk bentuk yang bersifat ornamentik yang dikenal sekarang, karena ajaran Islam mengharamkan bentuk gambar makhluk hidup (manusia, hewan) maupun patung serta diberi tokoh tokoh tambahan yang tidak ada pada wayang babon (wayang dengan tokoh asli India) diantaranya adalah Semar dan anak-anaknya serta Pusaka Hyang Kalimusada. Wayang hasil modifikasi para wali inilah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam dan yang kita kenal sekarang. Perlu diketahui juga bahwa Wayang Beber pertama dan masih asli sampai sekarang masih bisa dilihat. Wayang Beber yang asli ini bisa dilihat di Daerah Pacitan, Donorojo, wayang ini dipegang oleh seseorang yang secara turun-temurun dipercaya memeliharanya dan tidak akan dipegang oleh orang dari keturunan yang berbeda karena mereka percaya bahwa itu sebuah amanat luhur yang harus dipelihara.Selain di Pacitan juga sampai sekarang masih tersimpan dengan baik dan masing dimainkan ada di Dusun Gelaran Desa Bejiharjo, Karangmojo Gunungkidul. (wikipedia)

Gambar wayang beber yang dipajang, dan menjadi pamflet pameran di Museum Kertas

Nah, dalam video itu kami ketahui bahwa ada seorang Jepang yang bernama Prof. Sakamoto yang akan memulai proyek menggali kembali penyelamatan wayang beber untuk  mengganti kertas wayang beber yang hampir punah itu. Untuk itu di daerah Bandung ada seorang pengrajin (aku tidak mencatat siapa namanya) yang membantu meneliti pembuatan kertas daluwang ini. Proyek ini dibiayai oleh pemerintah Jepang, sedang berjalan dan cukup memakan waktu lama.

Memang meskipun kertas Daluwang ini kuat, tentu saja tidak bisa bertahan melawan usia. Wayang beber yang ada tetap dipertunjukkan sehingga pedalang juga sangat berhati-hati memakainya (sampai robek-robek tuh). Hanya saja waktu kami menonton di video itu, pertunjukan wayang beber masih memakai penerangan dari api/tungku. Duuuh kalau sampai lembaran wayang itu tersambar api bagaimana ya….semoga jangan ada kejadian….

Dasar Museum Kertas... jadi tempat duduknya juga dari kertas tuh (kardus). Berempat menyimak pembuatan daluwang/fuya dari video.

Satu kali lagi mataku terbuka akan kebudayaan Indonesia yang hampir punah ini. Memang aku tidak mengerti wayang, tapi merasa ikut senang jika kekayaan budaya yang ada tetap dipelihara dan dijaga (dasar penyuka sejarah…) . Meskipun malu kenapa harus orang asing (orang Jepang) yang melakukan penyelamatan itu, aku bisa mengerti juga bahwa orang Indonesia meskipun mempunyai kesadaran akan kekayaan budaya, masih terantuk pada masalah waktu dan dana, sementara pemerintah yang diharapkan bisa menjaga keutuhan negara kita ini juga masih sibuk dengan urusan lain.

Miraikan

Ini bukan kata bahasa Indonesia baru, tapi bahasa Jepang yang berarti “Balai Masa Depan”. Kalau diinggriskan menjadi National Museum of Emerging Science and Innovation. Kami pergi ke sini hari Minggu tanggal 2 Mei, pas di Indonesia memperingati Hari Pendidikan. Tidak dipas-pasin loh, karena memang sejak paginya kami bingung mau pergi ke mana hari ini. Sayang gitu kalau tidak keluar rumah. Memang ada banyak alternatif awal seperti pergi manen stroberi, atau pergi ke peternakan Mother Farm di Chiba. Tapi karena paginya Gen mau pergi ganti oli mobil, jadi kami baru bisa memutuskan tujuan kami pukul 2 siang.(Kayaknya de Miyashita waktu keluar kandang nya emang pas jam segini deh… bukan morning person untuk hal-hal begini heheheh)

Gedung fuji Television di Odaiba

Nama lengkapnya Nihon Kagaku Miraikan 日本科学未来館, disingkat Miraikan, terletak di Odaiba, sebuah lahan reklamasi di Teluk Tokyo. Odaiba sendiri merupakan kompleks yang besar dengan gedung-gedung besar nan canggih, termasuk gedung Fuji Television. Kami sampai di depan gedung Miraikan ini sudah jam 3:20. Sambil Gen mencari parkir, aku dan anak-anak membeli karcis masuk. Untuk dewasa 600 yen, anak SD 200 yen. Kami harus membayar lebih jika mau melihat film 3D, tapi itupun harus pesan tempat. Karena waktu tinggal sedikit, jadi aku beli karcis yang base saja.

National Museum of Emerging Science and Innovation, Odaiba

Nah sebetulnya yang menjadi trigger, pemicu kami datang ke sini adalah adanya pameran Kako Satoshi mengenai teknologi. Kako Satoshi yang mengarang picture book Dewi Sri yang barusan kutulis itu, memang menulis juga berbagi picture book yang menyangkut pengetahuan. Misalnya tentang laut, tentang planet dsb. Nanti deh kalau ada senggang aku coba tulis tentang bukunya yang lain lagi ya.

Bola dunia raksana di lobby

Pameran itu berjudul Your Future, Your FutureSelf, a journey into picture book with Satoshi Kako. Sayangnya di pameran ini banyak bagian yang dilarang memotret. Ada yang aku kadung motret, karena tidak lihat sign “No Photography” nya. Nah kalau soal ginian, aku strict nih, kalau dilarang, ya aku pasti patuh. Padahal ada kalanya Gen punya sense…ngga papa lah, bilang aja ngga tau (kadaaang sekali, soalnya kalau orang Indonesia kan kebanyakan berprinsip peraturan itu memang dibuat untuk dilanggar hihihi). Nah untuk ini Gen jadi orang Indonesia deh, aku yang orang Jepang. hehehe.

Pameran Your Future, Your FutureSelf, a journey into picture book with Satoshi Kako

Isi pameran itu kebanyakan berisi panel-panel tentang pentingnya belajar ilmu pengetahuan, juga disediakan beberapa pojok dengan matras plastik bagi yang mau membaca picture book yang disediakan di situ. Menurut Gen, “Yaaah aku ngga nyangka pamerannya kok sok kotbah gini” hehehe. Pasti ada pejabat/institusi yang mau memakai nama Kako Satoshi yang terkenal untuk menyampaikan pesan tertentu. Namun memang ada surat dari Kako Satoshi kepada anak-anak, yang kata-katanya aku setuju. “Belajarlah apa yang kamu sukai, dan tidak sukai, supaya bisa menjadi pintar dan bisa mengubah dunia dengan pengetahuan”. Kita memang harus juga belajar yang tidak kita sukai karena, somehow suatu waktu akan perlu dan berguna.

Pintu masuk pameran Kako Satoshi

Di pameran ini Riku dan Kai bosan! Aku harus menjaga Kai yang lari kian kemari, sehingga tidak bisa melihat dengan tenang. Ya tidak apa lah, sudah biasa hehehe. Dari pameran ini, kami pergi ke ruang Yokan Kenkyujo, kalau diterjemahkan yokan = prediksi, imaginasi, kenkyujo = penelitian. Jadi di sini memang kita bisa melihat penemuan-penemuan pengembangan teknologi yang berhubungan dengan art (kesenian) dan hiburan. ART! adalah sesuatu yang disukai Riku. Anak ini memang suka seni, segala macam ini dicoba dan berkreasi sendiri. Jadilah di sini dia melewatkan waktu cukup lama dan mencoba semua booth yang ada. Lari ke sana ke mari sendiri. Wew…sementara mamanya berdiri dari jauh memperhatikan dia dan si unyil koala yang juga merasa bosan, tidak ngerti apa-apa. Jelas lah…apa sih yang menarik bagi anak usia 2 tahun?

Memainkan wayang tradisional

Booth pertama yang dikunjungi Riku adalah memadukan permainan wayang (memakai bayang-bayang) dengan komputer. Riku mencoba menggerakkan wayang secara tradisional dan setelah itu dipakaikan semacam topi yang tersambung pada komputer. Setiap gerak riku dibaca oleh komputer yang akan menggerakkan wayang sesuai dengan gerakan Riku. Jadi kalau tradisionalnya orang menggerakkan wayang kulit dengan tangan, di masa depan, orang menggerakkan wayang dengan gerakannya sendiri, tapi dengan tampilan wayang kulit (bayangan) . Hehehe…bukan wayang orang gitchuuu. Cukup bangga aku di booth ini, tentu saja karena mereka memperkenalkan wayang, dan penelitinya adalah team dari Universitas Waseda. Waseda gitu loh….

Wayang canggih dengan gerak virtual

Setelah dari sini aku kehilangan jejak Riku, yang sudah lari ke sana kemari mencoba setiap booth yang hampir semua dilengkapi komputer. Sampai akhirnya aku bertemu dia sedang mencoba program komputer untuk membuat balon dari gambar kita sendiri.

Program membuat balon dari gambar kita di komputer

Booth selanjutnya tentang program komputer untuk mendesain kursi yang cocok untuk kita. Disesuaikan dengan tinggi badan, keseimbangan kursi dll, sehingga bisa menghasilkan desain kursi khusus spesial (ngga pake telur!) . Di sini aku turun tangan, karena si peneliti tidak bisa bahasa Jepang, jadi Riku tidak mengerti maksudnya. So begitu deh dia menjelaskan kegunaan programnya dengan bahasa Inggris padaku (yang cerewet tanya ini itu hihihi)

Kami berfoto dengan Mr Chair yang menjelaskan program mendesain kursi khusus. Bisa lihat pramodel kursi di bagian belakang

Berikutnya adalah program komputer yang memungkinkan karakter beruang di dalam display bereaksi terhadap gerakan kita. Selain itu juga ada program memasak virtual, program menyarankan menu makanan dengan balancing bahan-bahan makanan yang telah kita konsumsi, bahkan sampai mengatur dan menghitung jumlah kalori yang sudah dikonsumsi. Nah…yang ini perlu deh untuk aku hahaha.

Kai mulai bosan,papanya juga bosan, jadi mereka berdua pergi duluan ke ruang pameran lain, yang terletak di lantai 5.  Sementara aku menemani Riku mencoba ini itu. Dan setelah semuanya dicoba, kami juga pergi ke lantai lima gedung ini, untuk melihat pameran tentang manusia dan teknologi. Nah, waktu mau masuk ke ruangan ini, kami sempat bingung, karena pintu otomatisnya tidak membuka. Seperti di pintu masuk stasiun sepertinya harus memasukkan karcis. Tapi pintu ini lebih canggih, cukup menyentuh QR code yang terdapat pada karcis masuk, kemudian pintu membuka. Huh.. berasa ketinggalan jaman deh.

Pintu masuk museum dengan scanner pembaca QR code yang terdapat pada karcis masuk

Menurutku di sini terlalu beragam yang ingin dipamerkan. Ada masalah lingkungan hidup, ada tentang DNA dan manusia, penelitian biologi, sampai kehidupan di luar angkasa… tidak fokus gitu hehehe. Tapi lumayan deh aku sempat mendengar sedikit kuliah gratis  mengenai DNA  sebelum akhirnya Kai minta minum. Kelaparan dia. Jadi aku dan Kai keluar ke Cafe, dan membeli hot dog untuk dia. Sementara Riku dan papanya melewatkan waktu dalam museum itu sampai jam 5:45 sore.

Jadi DNA itu begini toh...kata Kai

Kesan aku? Jepang kebanyakan duit sampai harus membuat museum begitu besar, mewah dan canggih untuk menjadi pusat pameran teknologi. Tapi mungkin memang harus begitu, sebagai daya tarik  supaya akan lebih banyak lagi anak-anak canggih yang lahir dan berkreasi di bidang penemuan. Aku kagum ada anak yang sudah mengerti DNA dan bisa menjawab semua keterangan pada waktu kuliah gratis itu. Mungkin dia kelas 5 SD…duh otakku ngga nyampe deh bersaing dengan dia. Dan aku juga tidak memaksa anakku untuk tahu semuanya seperti dikarbit. Enjoy aja nak!

Jam 6:30 kami keluar dari parkiran Museum.  Bayarnya cuma 700 yen untuk 3 jam…aku pikir bakal lebih dari 1000 yen, kalau mengingat gedung yang begitu mewah ini. Lalu Gen berkata, “Ngga mungkin lah pemerintah meras warga dan mengambil keuntungan dari ongkos parkir!” … Hmmm memang sih, 600 yen karcis masuk juga masih murah. Tapi masalahnya, mau ngga keluarin 600 yen untuk datang ke tempat beginian?

Karena sudah starving, pekopeko alias lapar berat, kami akhirnya masuk ke tempat parkir di gedung DECK Odaiba. Semacam mall dan restoran. Ada banyak gedung semacam ini di daerah ini, tapi kebetulan yang cepat dan mudah parkirnya ya di DECK ini. Jelas aja… 1 jam parkirnya 500 yen jeh… muahal! Dan kami langsung menuju lantai 5, ke restoran Tonkatsu WAKO. Restoran ini menjual daging/ayam/udang goreng yang cukup terkenal. Tadinya sih kepingin makan sushi tapi antri… jadi ubah haluan deh. TAPI….

Kami benar-benar enjoy makan di sini, bukan karena makanannya enak banget, tapi pemandangannya bagus banget! Restoran ini mempunyai teras yang langsung menghadap ke teluk Tokyo, dengan Rainbow Bridgenya yang mulai diwarnai lampu-lampu. Keren banget pemandangannya! Riku tadinya mau duduk di luar, tapi sepertinya petugas restoran malas membawa makanan sampai luar (atau kami perlu membayar charga khusus… ngga tau juga deh) Tapi alasannya dingin berangin. Padahal Riku berdiri di luar terus sampai makanan datang karena di lantai 3 nya ada pertunjukan “gratis” musik oleh idunnohisname, tapi entah kenapa Riku suka sekali sehingga merekam dalam video pertunjukan itu dengan camera.

Pemandangan dari teras restoran... Rainbow Bridge by night

Meskipun waktu pulang kami terjebak macet di jalan tol (bayangin jalan tol macet!…eh udah biasa ya di Jakarta hehehe) tapi pemandangan lampu-lampu di sekeliling bisa menghibur kami, dan mengakhiri hari yang kedua dalam liburan panjang  Golden Week.

How JAWA are you?

Aduuuuh aku mau ngakak bener deh begitu selesai menjawab kuis tentang “How Jawa are you?” di FaceBook. Karena jawabannya gini :

Wong Jowo Asli

sampeyan benar-benar orang jawa Tulen, jangan melupakan kebudayaan, unggah ungguh dan tata krama, matur sembah nuwun

***********************

Nah loh…. padahal? Dalam diriku TIDAK ADA darah jowo-jowoan sama sekali! Meskipun mama pernah tinggal di Yogya (Tapi itu kan mama, bukan saya! Saya hanya pernah tinggal di jakarta dan JAPAN not JAVA  — tidak seperti abang Sony yang orang Batak tapi jawa banget karena pernah sekolah di sono). Saya juga bukan Novi, adik saya yang menikah dengan wong Solo dan punya rumah kedua di Klaten sono. Pernah sih punya mantan pacar orang Jawa (gede di Jakarta) sebentar hihihi (dan yang pasti tidak pernah dia mengajari saya bahasa/ budaya jawa). So? …mau tahu pertanyaannya? Sebetulnya lebih enak ikut kuisnya langsung di FB supaya bisa langsung dapat resultnya. (Terus terang saya sendiri tidak tahu jawaban benernya apa… jadi cari sendiri ya jawabannya hehehhe. Lha wong aku jawabnya juga sambil ketawa-ketiwi ngga yakin dan kayaknya pasti salah — ada sih niat untuk pake Uncle Goole mencari jawabnya, but ngga lah moso mau serius gitu hihihi)

kuis ini mengukur betapa JAWA diri anda, monggo dipun jawab !

  1. Apa nama Ibukota Jawa Tengah

  2. Raden Harjuna satriyo ing?

  3. Apa bahasa jawa halusnya “Makan”?

  4. Isi Sawo arane?

  5. Kota Batik adalah?

  6. Gendhing untuk mengiringi temanten adalah?

  7. Anake Kebo arane?

  8. Becik ketitik, …………

  9. Jamu untuk mengobati Panas Dalam adalah?

  10. Ing …… mangun karso

SO? gimana …. bagi yang Jawa apakah Anda jawa tulen….seperti saya hhihihihi.

But, sebagai kelanjutan tulisan ini, Anda kenal Ki Manteb Sudharsono? Ya, saya pernah berkesempatan mewawancarai beliau waktu beliau datang ke Jepang dalam rangka undangan Nihon Wayang Kyokai yang diketuai Bapak Matsumoto Ryo (tahunnya saya lupa). Dan waktu itu pertama kali saya melihat langsung pertunjukan wayang langsung (bukan lewat TV — saya ingat duluuuuuu sebelum saya datang ke Jepang, di TV ada pertunjukan wayang dini hari, dan adik saya Andy dengan getolnya nonton di depan TV, syaa kadang hanya menemani dia….. lah saya juga tidak mengerti bahasa Jawa hiks) yang didalangi oleh pedalang Indonesia apalagi terkenal begitu. Dan memang, Ki Manteb memang mantap sekali membawakan cerita dan menggerakkan wayang kulit… ya saya ingat terkadang beliau menyelipkan humor (sedikit berbau politik juga) sehingga yang mengerti bahasa Indonesia dan situasi Indonesia waktu itu bisa tertawa. Saya kagum pada pedalang yang bisa membuat penontonnya tertawa seperti itu.

Mewawancarai Ki Manteb Sudarsono untuk acara Radio Gita Indonesia di InterFM 76,1 MHz Tokyo
Mewawancarai Ki Manteb Sudharsono untuk acara Radio “Gita Indonesia” di InterFM 76,1 MHz Tokyo
******************************

 

Saya banyak mempelajari wayang justru setelah saya datang ke Jepang. Sejak saya berkenalan dengan Nihon Wayang Kyokai, secara tidak langsung akhirnya saya mempelajari wayang juga, terutama tokoh-tokoh yang keluar dalam cerita perwayangan itu. Itu masih awal-awal kedatangan saya di Jepang, sambil belajar di Universitas Yokohama, saya arubaito (part-time) mengajar bahasa Indonesia di Kelompok Wayang itu. Setiap hari Selasa malam, saya mendatangi apartemen Bapak Matsumoto/ Sebuah apartemen kecil yang dijadikan studio wayangnya. Begitu masuk langsung terhampar layar putih lebar yang memakan semua kelebaran apartemen. Bukan layar itu saja yang memenuhi ruangan. Bermacam wayang kulit tersimpan dalam peti kayu, buku-buku wayang, batik (kebetulan istri dari Bapak Matsumoto adalah juga pembuat batik — dan jangan pikir dia orang Indonesia…. pasangan suami istri ini JAPANESE tulen yang menguasai JAVANESE culture! ) dan sebuah kotatsu (meja rendah berukuran 1 meter x 1 meter untuk kita belajar. Memang serasa masuk “gudang” tapi langsung bisa merasakan suasana Indonesia di dalam kamar itu!
 Bersama Bapak Matsumoto Ryo, Restoran Jembatan Merah,Akasaka-Tokyo dalam penyambutan Pedalang Ki Manteb Sudharsono
Bersama Bapak Matsumoto Ryo, Restoran Jembatan Merah,Akasaka-Tokyo dalam penyambutan Pedalang Ki Manteb Sudharsono
********************

 

Bapak Matsumoto sendiri sudah pintar berbahasa Indonesia. Sebetulnya Bapak Matsumoto ini adalah lulusan bahasa Perancis pada Universitas Bahasa Asing Osaka, 40 tahun lebih berkecimpung dalam dunia perwayangan, sampai mendirikan Nihon Wayang Kyokai (Perhimpunan Wayang Jepang). Dan tidak heran atas usahanya ini, pemerintah Indonesia memberikan penghargaan Satyalencana Kebudayaan. Setiap hari selasa ini, saya hanya mengajar anggota Nihon Wayang Kyokai yang belum begitu mahir berbahasa Indonesia. Meskipun pada awalnya saya sudah katakan, mungkin lebih baik mencari guru bahasa Indonesia yang berasal dari jawa sehingga kalau ada bahasa Jawa bisa juga sekaligus diajarkan. Tapi mereka berkata, soal bahasa Jawa gampang, kami tinggal bertanya pada Bapak Matsumoto. Yang kami perlu bahasa Indonesianya. OK then…

 

Nah, bahan pelajaran yang dipakai adalah cerita dalam bahasa Indonesia dari sebuah majalah bulanan kepunyaan bapak Matsumoto. Biasanya satu cerita sepanjang 3 halaman A4, kadang bisa selesai diterjemahkan  dalam 1 kali pertemuan (2 jam) jika banyak yang hadir, tapi kadang harus  2 kali pertemuan jika sedikit yang hadir. Banyak itu berapa orang? Maximum 6-7 orang. Ceritanya mengenai Karna, Durna, Pandawa …. dsb dsb (hmmm saya harus mengumpulkan kembali fotokopian itu! pasti ada… somewhere hehehhe)

 

Saya memang mengajar bahasa Indonesia kepada mereka, tapi saya belajar banyak dari mereka! Saya belajar wayang, cerita Mahabarata, bahkan bahasa Jawa dan sedikit bahasa Jepang yang kromo. Sebelum saya mengajar di situ, saya tidak tahu apa bahasa Jepangnya “pamit” …. eh rupanya 暇乞い(いとまごい)をする。Sayang saya terpaksa harus menghentikan mengajar di situ, karena konsentrasi untuk pembuatan thesis dan kesibukan lain.

 

Tapi sekitar awal tahun 2006, saya bertemu kembali dnegan Bapak Matsumoto dan mendapat kehormatan dipercayakan mengisi suara (narasi) dalam bahasa Indonesia sebuah lakon “Mizu no Onna” (kalau tidak salah bahasa Indonesianya Dewa Ruci….  lupa deh) karya bapak Matsumoto sendiri yang akan ikut serta dalam Festival Wayang Internasional di Yogya 23-Juli 2006. Waaaah, waktu itu saya senang sekali karena menjadi “artis suara” merupakan impian saya. Saya harus mengganti suara sesuai karakter yang ada dalam skenario. Kadang sedih, kadang genit, kadang marah…. wah itu susah. Skenario itu merupakan challenge pertama untuk saya. Dan untung saja masih ada kesempatan ke dua, karena tahun berikutnya, 2007, saya  diberi kesempatan lagi untuk membacakan cerita “Menuju Istana Bayangan” (Wayang Jepang) yang akan digelar di Mangkunegaran. Nah… ini benar challenge karena dalam cerita banyak terdapat karakter pria, wanita dan jin hehhehe. Sayang sekali saya tidak bisa hadir di kedua acara pagelaran wayang dari bapak Matsumoto itu di Yogya.
bersama pak Matsumoto Desember 2010

 

Saya percaya, jika manusia keluar dari “sarang”nya bukan hanya bisa melihat pemandangan indah di luar, dan terlebih dapat melihat ke dalam sarangnya sendiri dengan lebih obyektif dan bahkan mendalaminya. Meskipun kadang saya –sebagai manusia tak bersuku– merasa gamang dalam menentukan dimanakah sebetulnya sarangku itu. Yang saya tahu, hutanku adalah Indonesia!