Arsip Kategori: Opinion

Jangan Menyamakan Semuanya

Kemarin  malam aku merasa bahagia. Sederhana saja sebenarnya.

Kemarin Kai pergi karya wisata bersama teman-teman satu angkatan. Memang setiap tahun sekolahnya (negeri) mempunyai program dengan mengajak satu angkatan pergi ke luar sekolah. Kelas satu dan dua pergi ke tempat yang dekat saja, dan tahun lalu (kelas 2) Kai demam sehingga tidak bisa ikut. Tahun ini mereka pergi ke daerah Saitama yang terkenal dengan higanbana, bunga berwarna merah. Sudah sejak seminggu sebelumnya Kai mempersiapkan sendiri apa saja yang mesti dibawa. Sehingga benar-benar meringankan tugasku. Tugasku hanya menyiapkan bekal di pagi harinya.

Karena sangat capek mendaki bukit, Kai tidur lebih cepat. Tapi sebelumnya, dia minta untuk tidur bersama aku, di sebelahku sebab malam sebelumnya dia mimpi buruk. Karena akupun capek, aku juga leyeh-leyeh di tempat tidur, dan tak lama Gen juga masuk kamar. Daaaan…. aku mulai ngedumel soal perkuliahan. Karena tahu kami masih bangun, Riku masuk kamar kami dan bertiga leyeh-leyeh di tempat tidur. Tentu sambil mendengarkan aku yang sedang ngedumel hehehe.

Apa sih kekesalan aku sebenarnya?
Ini merupakan kekesalan seorang dosen terhadap sikap mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Waktu aku datang 24 tahun lalu, aku cukup kaget melihat sikap mahasiswa Jepang dalam perkuliahan, terutama jika kuliah itu diikuti oleh 50 orang lebih. Ya, mereka sering tidur!

Waktu aku masuk UI dulu, aku juga sering heran melihat sikap mahasiswa yang amat sangat berlainan dengan sikap murid di SMA asalku. Doooh waktu SMA kami benar-benar disiplin dan harus menghormati guru deh. Di UI pun aku mengikuti beberapa kuliah di ruangan besar, tapi tidak ada yang tidur deh sepertinya. (Atau aku saja yang tidak lihat?)

Anyway, jadi aku sudah tahu bahwa mahasiswa Jepang suka tidur di kelas. Alasannya macam-macam, ada yang capek karena mesti bekerja sampai malam. Atau memang tidak berminat mengambil mata kuliah itu tapi merupakan kuliah wajib ambil.

Aku mempunyai satu kelas yang pesertanya sampai 70 orang. Berat sekali mengendalikan kelas ini, yang sudah tiga tahun aku jalani. Pengaruh smartphone terhadap perkuliahan itu amat besar, seperti yang sudah kutulis di sini. Tapi akhir-akhir ini aku merasa kondisi menjadi lebih parah. Biasanya jika aku menyuruh mahasiswa membaca dan ketahuan dia tidur, tapi kalau dipanggil namanya, pasti bangun dan berusaha mencari bagian mana yang dia mesti baca. Mahasiswa itu akan merasa “malu” ketahuan tidur. Tapi sekarang, rasa malu itu sudah tidak ada 🙁 Bahkan waktu aku menyuruh menjawab soal, yang jawabannya pun ada di halaman yang sama, tidak bisa! Tidak usaha sama sekali! Duh!

Yang paling menyebalkan, kejadian waktu pokemon go dirilis di Jepang. Pas hari itu aku mengadakan ujian akhir. Open book, satu jam saja. Tapi kalau sudah selesai, boleh kumpulkan dan keluar. Daaaan ada satu mahasiswa yang mengumpulkan di menit ke 30. Kupikir dia pasti pintar, tapi waktu kulihat lembar jawabannya, hanya setengah yang diisi. Ternyata waktu pulang, aku melihat dia dan teman-temannya sedang main pokemon go! So, dia sama sekali tidak berusaha mengisi semua ujiannya, dan yakin dia pasti akan dapat sksnya meskipun dengan nilai pas-pasan!

Suamiku juga bekerja di bidang yang sama, pendidikan. Dan menurutnya, mahasiswa jaman sekarang  tidak mempunyai lagi “keinginan untuk maju”. Yang aku namakan dengan tidak mempunyai “alert” terhadap bahaya. Bahaya bahwa kamu tidak bisa dapat pekerjaan! Kelihatannya mahasiswa Jepang bersekolah di universitas hanya untuk memenuhi keinginan orang tua. Toh orang tua yang bayar! Tidak perlu lah dapat nilai bagus, nanti juga dapat pekerjaan. Bahkan, ada kecenderungan beberapa orang mahasiswa laki-laki yang merasa cukup, jika dia bisa bekerja menjadi “tukang bangunan”, seperti tukang cat, tukang semen dll. Bukan, bukannya aku merendahkan pekerjaan itu, tapi kok tidak punya keinginan untuk “lebih” dari yang lain ya? Jepang sudah terlalu lama berada dalam “kedamaian” mungkin ya?

Kesimpulannya, aku akan lebih “galak” lagi, dengan memberikan ancaman-ancaman jika tidak memenuhi syarat akan kuminta tidak usah datang saja ke kuliahku, karena aku tidak akan “memberikan” sks.

Nah, yang membuatku bahagia malam kemarin itu, Riku ikut mendengarkan dan berdiskusi dengan kami soal “mahasiswa yang tidak belajar” itu. Baru kali ini kami terlibat pembicaraan serius yang cukup lama. Sampai aku baru sadar setelahnya, bahwa dia BARU kelas 2 SMP, karena gaya bicaranya yang cool 😀

Katanya, “Memang aku juga banyak mendengar dari guru-guru di bimbel bahwa murid SMA dan mahasiswa sekarang ini kurang belajar. Tapi murid SMP nya lain loh. Murid SMP yang aku lihat itu mereka belajar loh. Mereka berusaha menjadi yang terbaik. Memang dibilang bahwa murid SMA dan mahasiswa sekarang menjadi bodoh karena pakai smartphone. Tapi jangan samakan mereka dengan murid SMP ya, karena kami TIDAK punya smartphone yang bisa dibawa ke sekolah (memang tidak diperbolehkan, sedangkan SMA dan univ tidak ada larangan). Kami pakai smartphone pun di luar jam sekolah. Menyebalkan sekali jika kami disamakan dengan mereka!”

Ya, ya…. memang tidak boleh menyamakan semuanya. Karena sebetulnya kemarinnya lagi, aku baru saja memulai satu kelas baru di universitas yang lain. Muridnya 35 orang. Memang aku lihat ada 2-3 orang yang ngantuk-ngantukan, tapi secara keseluruhan mereka bisa menunjukkan kecerdasan mereka. Apalagi ternyata hampir setengahnya sangat fasih berbahasa Inggris. Kepalaku sampai pening memakai tiga bahasa, Jepang, Inggris dan Indonesia  dalam tiga jam hahaha.

Yang penting, semoga anakku tidak seperti mahasiswa yang malas-malasan itu deh 😀 dan semoga dia bisa menemukan bidang yang disenangi untuk diselami lebih dalam di universitas.

*dongeng perkuliahan*

Budak Gadget

Wah sadis bener ya sebutan itu. Tapi kadang kala aku ingin sekali nyeletuk itu jika melihat foto dan berita seperti ini :

orang-orang yang antri di Ginza untuk membeli iPh*ne5, sudah sejak seminggu sebelum dirilis ….. gambar diambil dari http://weekly.ascii.jp/elem/000/000/108/108945/

Bayangkan orang-orang ini antri iPhone 5 di gerai Ginza sejak seminggu sebelumnya. Sampai ada yang bawa komputer lengkap dengan modem, atau bahkan ada yang bawa peralatan masak untuk berkemah! Segitunya deh. iPhone5 itu dirilis hari Jumat tanggal 21 September lalu, mulai pukul 8 pagi. Jadi aku bisa lihat tuh di TV panjangnya antrian yang mencapai 650-an orang (lebih mungkin). Duh segitunya! Ampun deh. Tepat ngga kalau aku katakan seakan manusia diperbudak barang?

Memang sih orang Jepang akan berbuat seperti ini juga jika ada produk-produk baru yang akan dirilis. Semua ingin menjadi yang pertama mendapatkannya sampai rela bersusah payah begitu. Tapi dari sisi lain, aku juga bisa melihat passion mereka, loyalitas mereka terhadap sesuatu. Ya, ada sisi buruk tapi ada sisi baiknya juga.

Mungkin kita tidak sampai diperbudak gadget, tapi kecanduan atau ‘gila’ gadget. Ada seorang temanku yang punya 5 buah handphone, dengan 2 BB, iPhone,dan 2 HP biasa…total 5 biji untuk dia sendiri (Dia baca ngga ya hehehe). Mungkin dia juga tidak marah kalau dikatakan “iiih kamu gila gadget, maniak banget sih!”, karena memang begitulah dia. Kalau dengan gadget dia bisa happy ya bagus kan? 😉 Untungnya dia tidak mengeluarkan semua HPnya ke atas meja waktu bertemu denganku… bisa-bisa aku tilep deh satu hehehe. Rasanya akan mengganggu juga jika waktu bertemu dengan teman, janjian di cafe, lalu misalnya dia mengeluarkan BB, iPhone, Tablet, dan iPadnya sekaligus….. oi oi… mau jualan bu? (Believe it or not, orang seperti ini ada). Cukup satu yang penting saja dong 😀 😀 😀

Meskipun aku tidak menyangkal bahwa gadget itu memang diperlukan, tapi menurutku jangan sampai kita dikuasai gadget. Susah loh keluar dari cengkeramannya. Contohnya si Kai. Selama di Jakarta dia diberi pinjaman Tab oleh omnya, karena sepupunya yang lain memakai Tab punya orangtuanya. Sampai di Tokyo dia sempat minta “Mama kenapa sih ngga beli iPad?”  dan aku jelaskan “Loh kan mama sudah bilang sejak di Jakarta, mama tidak akan beli iPad atau Tab, apalagi lihat kalian begitu kecanduan angry bird… oh no way!”. Padahal sebetulnya Gen sempat menawarkan membelikanku iPad sbelum ke Indonesia. Untung tidak jadi dan tidak akan! Dan aku miris melihat semakin banyak anak-anak yang tergila-gila dengan gadget, kalau bisa begitu lahir sudah dibelikan gadget oleh orang tuanya. Dan ini pemandangan khas di Indonesia loh. Di Jepang aku jarang sekali, hampir tidak pernah, melihat anak-anak (TK/SD) memegang HP apalagi Tab/iPad.

Jika sebuah kamera digital jika termasuk dalam kategori gadget, maka sudah pasti aku tergantung pada gadget. Karena aku suka memotret dan hampir selalu membawa kamera digital dalam tasku. Dari sejak sebelum Riku lahir (sekitar 10 tahun yang lalu) kami berdua memilih Canon PowerShot G2 sebagai kamera keluarga. Ketika G2 rusak, ganti dengan ‘kakak’nya G6, lalu waktu Kai lahir kami ganti lagi dengan G9, sampai dengan ke Jakarta Agustus lalu. Tapi akhirnya kami harus berpisah dengan G9 yang kami cintai itu, karena dia mati begitu saja menjelang Gen datang menyusul kami. Karena masih ada DSLR, kupikir aku akan bertahan tanpa kamera kecil. Tapi akhirnya Gen mengatakan, “Ayo beli saja Canon. Sejak dulu kan kita suka Canon, dan memang sekarang sudah ada yang terbaru. Tapi kita jangan beli yang terbaru, beli saja yang G12, karena itu yang terakhir sebelum namanya berubah (menjadi G1X)”… Ah kami berdua memang sentimentil soal beginian. Ciri khas capricorn, kalau sudah pilih satu, pasti itu terussss 😀

Yang lama dan yang baru….

Jadilah kami membeli Canon PowerShot G12 di Jakarta, dengan harga murah! Jauuuuh lebih murah daripada beli di Jepang. Yatta! Dan kami masih sempat pakai untuk merekam acara jalan-jalan kami di Kota Tua dan Museum Fatahilah. Dan ternyata tidak kecewa deh membeli kamera ini. Karena bisa meredam goncangan sehingga dalam kondisi bergerakpun bisa memotret (dan membuat video) dengan stabil.

Ada lagi satu gadget milikku yang terasa sekali kehadirannya terutama setelah aku kembali ke Jepang. Ya, namanya memang bisa menjadi singkatan dari Bau Badan sih, dan dimusuhi oleh teman bloggerku yang ini, mungkin karena imagenya yang jelek di matanya.

Jadi selama di Jakarta aku memakai BB, yang sudah berusia 2 tahun, tapi masih gres. Karena aku cuma pakai selama 1 bulan dalam setahun (ditambah kemarin jadi 2 bulan). Ya, BB itu tidak bisa dipakai di Jepang. Tentu saja karena aku tidak mau membayar roaming. TAPI, ternyata, jika network telepon dimatikan dan aku punya Wifi di rumah, aku masih bisa pakai untuk BBM dan email saja! Padahal di rumahku di Tokyo tidak ada Wifi. TAPI setting wifi itu ternyata mudah ya…. Aku tinggal membeli ruter dan… voila… jalanlah semua laptop dan gadget yang memakai wifi. Jadi deh aku bisa ber BB ria di Tokyo juga. Dan aku merasa bermanfaat sekali, karena papa dan kedua adikku di Jakarta hanya bisa respon cepat melalui BB. Manfaat pertama langsung terasa  waktu tanggal 1 September  pagi aku terbangun dan mendapatkan BBM bahwa papa masuk RS 🙁 Sejak itu hampir setiap hari aku menanyakan kabar papa, atau mendengar curhat papa yang sering kesepian di malam hari. Di waktu-waktu seperti itu rasanya ingin terbang ke Jakarta menemani dia ….

So, kesimpulannya gadget memang penting dan jika kita memang tahu memakainya bisa menjadi alat yang sangat berguna. Asalkan jangan kita diperbudaknya sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Gadget apa yang sedang kamu inginkan?Aku sudah mencoret iPad dan Tab dari daftar keinginanku karena rasanya aku tidak perlu, sekarang tinggal iPhone hanya karena aku tertarik pada fungsi kameranya 😀 So, aku sedang menunggu ada yang berbaik hati membelikan iPhone5 (sambil melirik Gen….:D ) tapi tanpa antri! hehehe

 

Aku dan dunia mayaku

Ada bermacam peristiwa di dunia maya yang membuatku ingin menoleh kembali pertama kali aku menggunakan sarana internet, serta memikirkan dampaknya.

Pertama kali berkenalan dengan yang namanya internet itu sekitar tahun 1996, jaman nulis email musti konek jaringan lalu buka eudora segala macem. Saat itu untuk chat adanya MIRC, dan aku tidak pernah coba pakai. Browsing pertama kali pakai Netscape dan paling-paling aku buka kompas.com untuk cari berita radio dan bahan ngajar. Saat itu aku belum tergantung benar pada internet.

Ketergantungan pada internet timbul sejak aku hamil Riku tahun 2002. Aku harus membatalkan tiket mudik bulan Agustus 2002 karena tidak diperbolehkan dokter naik pesawat. Dia hanya bilang begini, “Ya terserah karena tanpa naik pesawat saja, kita tidak tahu bayi ini bisa bertahan atau tidak”. Ya karena calon “Riku” hidup berdampingan dengan myom (semacam kista) yang membesar terus hampir 10 cm. Terpaksa aku cepat-cepat membatalkan tiket pesawat sambil membayar denda pembatalan 20.000 yen. Dan saat itu aku kenal chatting di Yahoo Messenger.

Aku cukup addict dengan chatting untuk mengusir kesepian dengan ngobrol di room, membuat kelas bahasa Jepang, atau menjadi DJ dengan memutar lagu-lagu. Aku juga banyak belajar mengenai komputer dari chatting…dari cara menghubungkan beberapa komputer dengan LAN, sampai pengetahuan dasar menjadi webmaster.  Lumayan tidak usah membayar kursus komputer. Dari chatting, aku tahu dunia blog dan membuat akun di blogger Juni 2003 untuk memberikan komentar di blog teman. Aku sendiri mulai menulis blog Mei 2005 karena saat itu aku banyak memangkas jam mengajar dan merasa perlu mencatat perkembangan Riku saat itu… dan aku bersyukur memulai kebiasaan menulis itu dan melanjutkkannya sampai sekarang.

Sekarang semakin mudah untuk membangun hubungan di dunia maya. Koneksi internet yang jauuuh lebih cepat dibandingkan dahulu. Dulu masih pakai dial phone 28 Kbps, sekarang sudah FTTH dengan kecepatan koneksi 100MBps. Biaya nginternet juga jauuuuh lebih murah, dulu sampai 7000 yen, sekarang cukup 3800 yen. Hampir separuh! Selain chatting, blogging juga ada banyak jaringan pertemanan SNS (Social Networking Service) yang diciptakan oleh orang-orang pinter dengan tujuan dan fungsi yang berbeda. Sudah pernah mencoba semua service yang ada di dunianya si Maya ini. Friendster… yuhuu apa kabarnya FS aku ya? Dari dulu aku tidak begitu suka FS, jadi jarang log in. Lalu kemudian ada Multiply, Plurk, Facebook dan Twitter. Sebelumnya aku pernah coba MySpace, dan malas melanjutkan karena isinya pemusik semua hihihi.

Pernah coba imeem, tempat upload musik dan bisa embed ke blog juga. Untuk foto sampai sekarang aku masih pakai Photobucket, setelah mencoba Webphoto dan kurang asyik karena susah memasang embeb ke blog. Sampai dengan tahun 2007 aku masih pakai Multiply untuk mengupload foto-foto. Sekarang? Multiply ku sudah jarang sekali dibuka.

Pasti semua sudah pernah mendengar  bahwa katanya FB dan BB “Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat“. Banyak yang mengeluhkan betapa orang masing-masing kutak-kutik HPnya sendiri padahal sedang berkumpul rame-rame. Kalau menurut aku sih, itu memang terjadi karena kita sendiri tidak membatasinya, tidak kontrol diri. Jaman HP pertama kali diperkenalkan di Jepang pun, terjadi euphoriasemacam itu. Di mana-mana terlihat orang berbicara memakai HP nya, tanpa mengenal tempat dan waktu. Baru kemudian dibuat peraturan, “dilarang memakai HP di tempat umum dan set dering telepon menjadi vibrate”. Bahkan jika berada di tempat duduk “silver seat” (tempat duduk khusus untuk lansia, ibu hamil dan penyandang cacat) kami WAJIB mematikan HP. Alasannya, mengganggu frekuensi pengguna alat pacu jantung. Dan memang aku merasa gatal kalau mudik ke Indonesia dan melihat orang berbicara seenaknya di sembarang tempat. Persis seperti dulu di Jepang, nenek-nenek berteriak di HP karena tidak terdengar, atau pemuda pemudi berpacaran di HP dan kita sekelilingnya bisa mendengar percakapan mereka. TAPI, orang Jepang(cukup) taat peraturan, sehingga sejak ada larangan menggunakan HP di tempat umum seperti di kereta dan bus, tidak terdengar lagi suara-suara yang mengganggu itu. Sekarang yang menjadi masalah masyarakat justru semua DIAM sambil mengetik email/browsing dengan HP nya. Ironis…

Tapi, ada satu kejadian di Facebook yang membuat aku berpikir…cukup dalam. Facebook memang dipakai untuk mengumpulkan teman-teman lama. Tetap saja untuk bertemu teman lama itu, kita akan dan harus pergi ke luar untuk bertemu muka. FB hanya sebagai media yang mempertemukan kita. Tapi? pernahkah kamu berpikir bahwa FB itu membuat kita lebih “emosional”? Lebih memakai perasaan kita dibanding jika tidak ada FB. OK, memang maksud aku untuk sedikit membela FB. Aku tinggal di negara lain, dan bisa berhubungan kembali dengan teman-teman lama melalui FB. Semua info tentang teman itu bisa disampaikan lewat FB (kalau mau). Aku tahu jika ada yang ulang tahun, dan mengirimkan ucapan selamat ulang tahun. Tanpa FB? aku lupa dia ulang tahun kapan. Aku tahu dari statusnya kalau anaknya kecelakaan, dan ikut bingung sambil berdoa semoga anaknya tidak apa-apa. Aku bisa lihat aktifitas teman-teman yang kaya-kaya yang merayakan ulang tahun dengan piknik bersama ke singapore. Tidak, aku tidak iri, tapi justru bersyukur aku jauh, karena jika aku di jkt mungkin aku akan “maksa diri” mengumpulkan duit dan pergi bersama mereka. Karena jauh, aku bisa basi-basi, “Aduuuh enaknya yang jalan-jalan terus. Iri deh…” Padahal belum tentu aku mau ikut. basa-basi….

Dan satu lagi aku mulai berpikir, ketika salah satu friend di FB ku, yang sudah lumayan sepuh menulis begini, ” Wah ini temanku yang sudah mati, apa kuhapus saja ya idnya….” Lalu banyak yang memberikan komentar, sampai dia menjawab begini,”Ya aku cuma takut saja tiba-tiba dia menulis di tempatku”. OK…. Bercanda tentu saja. Tapi tak lama dari kejadian itu, seorang kontakku, kakak kelas di UI meninggal dunia karena kanker 🙁

Sedih… itu pasti meskipun aku tidak akrab dengannya dan tahukah kamu kalau membuka home di FB ada saran dari FB untuk “mencolek” teman-teman yang sudah lama tidak berhubungan. Dan kamu bisa bayangkan kalau foto teman yang sudah tiada itu terpampang di sana. Ingin rasanya bilang pada FB, ” oooi ini orang sudah meninggal, jangan sarankan saya menghubungi dia dong”.Akhirnya memang terpikir seperti joke temanku tadi bahwa dia mau menghapus nama orang yang meninggal (karena takut jika si almarhum menulis di tempatnya). Hapus? tidak hapus?

Aku justru tidak akan menghapus namanya. Karena justru dengan timbulnya foto di halaman “Home” ku, aku diingatkan …setiap kali diingatkan akan arti hidup ini, dan arti komunikasi. Dan memang menurutku FB membuatku (entah bagi yang lain) lebih emosional, lebih memakai perasaan dan memperhatikan keadaan teman-teman. Sekarang tinggal kita saja yang menggunakan sebaik-baiknya.

Dan satu lagi yang ingin kutulis di sini, yaitu bahwa sebagus-bagusnya Twitter dan FB, mereka hanya menyediakan sesuatu tulisan yang “timely”, begitu lewat akan hilang. Kamu tidak bisa search lagi percakapan status/komentar di FB dan twitter (kecuali di link/notes di FB). Semua akan tertelan oleh waktu dan karena aku tahu tentang hal ini, maka aku tidak pernah menghapus notifikasi lewat email yang penting dan berharga buatku. Tapi kamu masih bisa mencari kata/komentar yang pernah kamu tuliskan di blog! Karenanya aku lebih menyukai blog dibandingkan SNS lain. Benar, kan?

Beberapa waktu yang lalu aku pindah hosting. Mungkin karena aku terlalu banyak memakai plugin macam-macam, jadi setiap mempublish posting baru, pengunjung tiba-tiba dalam waktu yang bersamaan berkunjung kemari. Karena itu mungkin teman-teman pernah menemukan halaman TE bahwa “This Account has been suspended” , well perkataannya itu loh suspended, seakan aku penjahat belum bayar, padahal maksudnya busy hehehe. Lalu beberapa tindakan dilakukan dengan bantuan sahabatku, Ria (you are really an angel Ri…couldn’t thank you enough) yang memang ahlinya IT sehingga TE bisa tetap “hidup”. Jadi saranku, hati-hati menambah plugin di blog kamu-kamu yang memakai domain pribadi. Dan mungkin sebagai imbas dari pengurangan plugin dll ada selang waktu yang cukup lama bagi komentar yang sudah tertulis untuk tampil di kolom komentar. Ada beberapa teman yang menuliskan nada putus asa karena berkali-kali menulis tapi tidak muncul. Coba tinggalkan TE dulu beberapa waktu dan kembali, pasti komentar kamu ada dan tidak hilang kok. Karena aku pun mengalami waktu menjawab komentar, terjadi lag time yang cukup lama. Aku mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Yang pasti aku memang hidup di dua dunia, dunia nyata dan di dunia maya. Tapi bagiku, teman-teman di dunia maya, bukan hanya sepotong gambar/foto/avatar saja. Semua mempunyai jiwa yang sangat aku hargai. Terima kasih jika pertemanan lewat blog ini dapat menjadi pertemanan yang baik, meskipun kita belum pernah bertemu.

Ujian, menguji atau mempermainkan? -1-

Di hari golden week, aku ditanya seorang kohai (junior sastra Jepang), Santi Dodo yang menanyakan apakah aku pernah menulis tentang sistem pendidikan Jepang di blog. Dia ingin tahu apakah “dr kls 6 ke SMp ada ujian ga? trus SMP ke SMA gmn n hal2lainnya, misal ulangan SD ada/nggak ada?“. Memang saat itu lagi ramai-ramainya soal ujian negara dsb dsb di Indonesia.Well, rasanya aku sering menyinggung pendidikan Jepang, tapi memang belum pernah menulis yang serius. Kali ini aku coba rangkum sedikit ya. Semoga tidak bosan membacanya.

Well, aku tidak mau membahas soal penting tidak UN itu seperti banyak juga dicantumkan di status teman-teman di FB : “UN seharusnya dihapus saja. Atau kenapa pemerintah tetap menjalankan UN 2010, padahal katanya Mahkamah Agung sudah melarangnya?” . Tapi aku mau mendongeng sedikit tentang ujian dalam pendidikan di Jepang. (Aku meminjam istilah mendongeng dari Pak Oemar  Bakrie dari istilah dongeng geofisikanya. Pinjam ya pak….)

Dongeng pendidikan aku mulai dengan menuliskan percakapanku dengan Gen Miyashita (suamiku –buat yang belum tahu hihihi), tadi malam di meja makan. Kami berdua mantan mahasiswa pasca sarjana “Penelitian Pendidikan Sekolah” di Universitas Negeri Yokohama. Karena percakapan sambil makan, aku tidak bisa memberikan sumber tertulisnya, karena ini rangkuman dari yang pernah kami baca.

Pertama mulai dari pertanyaan apakah di Jepang ada UN, Ujian Negara serentak di seluruh negeri untuk menentukan kelulusan siswa seperti di Indonesia? Jawabnya: TIDAK ADA. Masing-masing sekolah yang menentukan kelulusan siswa. Kenapa tidak ada ya?

Aku pikir karena tidak perlu! Setiap sekolah harus mengikuti “Pedoman Kurikulum Pendidikan”  Curriculum Guideline, 学習指導要領 gakushuu shido youryou dari Ministry of Education, Culture, Sport, Sciense and Technology (Mombukagakusho…karena bahasa Inggris/Indonesia panjang, maka selanjutnya saya pakai bahasa Jepang saja ya… disingkat Mombusho). Pedoman Kurikulum Pendidikan ini wajib diikuti oleh SEMUA sekolah SD, SMP, SMA, Sekolah Kejuruan di seluruh Jepang, yang memuat isi pendidikan dan detil pengajaran setiap mata pelajaran. boleh dibilang buku manualnya deh! Pedoman Kurikulum Pendidikan yang sekarang dipakai adalah Kurikulum tahun 2002, dan tahun depan akan dimulai kurikulum revisi, kurikulum baru th 2011. Kenapa diganti? Karena kurikulum 2002 yang diberi nama yutori kyouiku, pendidikan yang memberikan kelegaan dianggap membuat mutu pendidikan anak-anak Jepang menurun (sebelumnya kurikulumnya sangat padat sehingga dikritik anak-anak tidak mempunyai waktu untuk berkembang, tapi ternyata setelah dilonggarkan hasilnya menurun). Jadi aku juga sedang waku-waku menanti-nantikan kurikulum tahun depan seperti apa, yang pasti pelajaran bahasa Inggris dan “pengertian internasional 国際理解” lebih ditekankan. Untuk itu juga tahun depan akan ada pergantian buku pelajaran 教科書 kyoukasho yang dibagikan gratis oleh Mombusho ke seluruh siswa. Tanoshimini shiteiru.

Aku dan Gen sepakat bahwa di Jepang, UJIAN MASUK lebih sulit daripada UJIAN LULUS! Jadi mungkin bisa disebut sebagai kebalikan dari di Indonesia, ujian untuk lulus atau NAIK KELAS itu yang lebih sulit. Karena itu pula di Indonesia ada istilah TIDAK NAIK KELAS atau dalam bahasa  Jepangnya rakudai/ ryunen 落第・留年. Selama bersekolah di Jepang, jika waktu SD kamu adalah angkatan tahun 2000, maka sampai SMA kamu TETAP angkatan 2000, seluruh murid NAIK KELAS dan LULUS bersama! Even seorang murid yang tidak pernah hadir di sekolah pun! pasti lulus. TAPI….. merupakan tanggung jawab masing-masing individu JIKA TIDAK BISA MELANJUTKAN ke jenjang yang lebih tinggi. Naik kelas atau lulus adalah hal LUMRAH, tapi tidak dengan MASUK ke sekolah yang lebih tinggi. dan ini menyebabkan murid (terlebih orang tua murid kebakaran jenggot) untuk berusaha bisa masuk ke sekolah yang lebih tinggi atau sekolah FAVORIT. SD dan SMP adalah program wajib belajar, jadi TIDAK MUNGKIN seorang murid SD tidak bisa melanjutkan ke SMP Negeri. Sudah pasti ada kursinya. Tapi SMA adalah tanggung jawab masing-masing sehingga di sinilah mulai persaingan dengan kegiatan JUKEN 受験 yang harafiahnya mengikuti ujian masuk, tetapi secara umum merujuk pada kegiatan belajar untuk mempersiapkan ujian masuk. Dan biasanya murid akan mengikuti pelajaran tambahan di bimbingan belajar, bimbel (Aku ingat topik ini yang membawaku ke blog Bang Hery Azwan tahun 2008 lalu).

Jadi kalau menjawab pertanyaan Dodo, apakah ada ujian dari kelas 6 ke SMP? ya ada…ujian kelulusan di kelas 6 di SD masing-masing, dan ujian masuk di SMP FAVORIT TUJUAN. Kalau SMP Negeri (Pemda bukan Negara) yang termasuk rayon tidak usah ikut ujian, Bagian pendidikan pemerintah daerah akan mengirimkan surat untuk masuk ke SMP yang terdekat rumah tinggal. JIKA tidak mau bersekolah di situ maka cukup melapor. Tapi untuk SMP Negara (yang disebut SD-SMP-SMA Negara adalah sekolah yang berafiliasi dengan Universitas Negeri yang mempunyai program Guru) untuk memasukinya perlu mengikuti ujian masuk. Dan kadang-kadang sebagai “godokan” awal berupa undian, chuusen 抽選, siapa yang menang undian yang beruntung bisa mengikuti ujian dan lulus. (Gen masuk SMP Negara –SMP-SMA Tsukuba Daigaku– dengan menang chuusen , jadi dia bilang kasihan teman yang benar-benar pintar tidak bisa ikut ujian…seharusnya chuusennya sesudah ujian ya hehehe)

Soal ulangan? Tentu saja ada…. test kecil hampir setiap hari…dan aku juga memberlakukan test kecil di Universitas Senshu yang jika ditambah dengan kehadiran dapat sangat membantu nilai akhir.

bersambung……

Orang Jepang Suka Pameran

Ya aku setuju dengan pernyataan itu. Bukan MAMER diri sendiri loh, tapi maksudnya pergi melihat pameran di museum-museum atau galeri seni.

Surat kabar The Art Newspaper versi online yang berkantor di London Inggris menyatakan bahwa orang Jepang adalah pecinta pameran sedunia. Mengapa? Dari seluruh pameran yang diadakan di seluruh dunia selama tahun 2009, jika dilihat berdasarkan jumlah pengunjungnya per hari, maka Jepang menduduki 4 ranking teratas di dunia.

Ranking satu  adalah pameran “Warisan Negara patung  ASHURA”  di Tokyo National Museum yang menyerap pengunjung sebanyak 15.960 orang rata-rata satu hari pameran. Yang kedua adalah pameran “Shosoin” di Nara National Museum dengan pengunjung sebanyak 14.965 orang/hari. Pameran “Permata Kekaisaran ” yang juga diadakan di Tokyo National Museum dengan pengunjung sebanyak 9473 orang/hari. Dan rangking kelima adalah pameran “Lukisan Eropa abad 17 dari Mouseum Louvre” yang diadakan di National Museum of Western Art, Tokyo, yang pengunjungnya 9267 orang/hari. Yang kelima di mana? Di Musee du quai Branly,Paris yang menyelenggarakan pameran foto dengan pengunjung per harinya 7868 orang.

Pamflet/poster pameran Ashura di Tokyo National Museum

Dikatakan oleh surat kabar tersebut bahwa kecintaan orang Jepang terhadap seni dan pameran tidak mengenal resesi. Hmmm mungkin benar juga, karena sebetulnya harga karcis masuk melihat pameran-pameran itu cukup mahal (menurut aku sih). Misalnya untuk melihat pameran Ashura itu untuk orang dewasa 1300 yen, mahasiswa 1000 yen, SMA 800 yen (bisa makan bento 2 kali tuh), SD/SMP 600 yen. Tapi mereka mau menyisihkan uang untuk mendatangi pameran itu!

Dulu, waktu masih single, aku kadang pergi ke museum, terutama untuk melihat pameran pelukis-pelukis “Impressionis”, tapi kalau sekarang mungkin pikir-pikir dulu. Kecuali kalau mendapat karcis gratis/potongan harga. Nah, biasanya kami yang berlangganan surat kabar tertentu suka mendapat potongan harga atau malahan karcis gratis pameran kesenian begitu yang disponsori oleh surat kabar tersebut. Sebagai salah satu cara promosi penjualan surat kabar kepada pelanggan, mereka membagikan karcis-karcis pameran kesenian atau pertandingan olahraga. Seperti beberapa waktu yang lalu aku mendapat karcis gratis untuk melihat Art Fair Tokyo yang diselenggarakan awal April  untuk 2 orang dari surat kabar langganan kami. Selain itu kami masih mempunyai (diberikan) beberapa karcis pameran “mamalia” dan potongan harga untuk masuk ke kebun binatang.

Karcis pameran gratis Tokyo Art Fair

Yah, bagi orang Indonesia (baca Jakarta) sekarang mungkin tujuan rekreasi akhir minggu adalah mal, tapi di Jepang? Mal bukanlah tujuan rekreasi. Pameran, Museum, Taman, Pertandingan olahraga, lebih menarik dari pada melihat orang-orang dan barang-barang dalam gedung tertutup. Ada yang memang harus mengeluarkan uang, tapi banyak pula kesempatan untuk mendapatkan karcis masuknya secara gratis, atau pelaksanaan pameran itu sendiri tidak dipungut biaya.

Mungkin kecintaan orang Jepang terhadap seni juga membawa mereka maju seperti sekarang ya? who knows….

Jangan paksakan diri demi aku

terjemahan dari bahasa Jepang, “Boku no tameni muri shinaide ne”

Sabtu malam, papa Gen pulang ke rumah sekitar jam 8 malam. Kebetulan anak-anak belum makan, dan pas baru akan makan. Waktu aku  mempersiapkan makanan, Gen bilang padaku, “Sorry sayang, besok (minggu) aku harus kerja”. What?
Aku juga agak kecewa, karena kebayang capeknya melewati hari minggu bertiga lagi. Tapi apa boleh buat, kalau memang kerjaannya belum selesai abis bagaimana. Jadi aku bilang pada Riku, “Riku besok papa kerja, jadi kasih itunya sekarang saja”.

Riku sudah membuat gambar dan “convinience tools” untuk papanya, kado di Hari Ayah. Karena aku bilang kasih sekarang saja (semestinya besok), kemudian dia berikan pada papanya. Terima kasih bla bla bla….. ok… dinner time.

Salah satu gambarnya Riku ; “Riku with Papa”

Tapi waktu kami akan mulai makan, Riku bertanya sekali lagi,
“Besok papa kerja?”
“Iya, maaf ya Riku….”
“Ya sudah, besok Riku, Kai dan mama pergi jalan-jalan yuuuk”, aku berusaha menghibur.
Tapi aku lihat warna mukanya berubah. Gen tidak perhatikan, karena dia duduknya menyamping. Aku tahu, Riku akan menangis, jadi aku langsung menghampiri dia, memeluk dia dan berkata,
“Riku, papa juga ngga mau pergi kerja, tapi kalau pekerjaannya belum selesai gimana”
Meledaklah tangis Riku, dan Gen terkejut. Tidak menyangka. Langsung Gen bilang,
“OK Riku, besok papa libur!!! Yosh… kimeta (saya putuskan) tidak ke kantor”
Gantian Gen memeluk Riku, dan terucaplah kalimat di atas,
“Papa jangan paksakan diri libur hanya untuk Riku!”
sebuah ungkapan yang sering dipakai orang Jepang yang sebetulnya berusaha untuk menyatakan bahwa dirinya tidak apa-apa. ….. Tapi biasanya dipakai oleh orang dewasa tentunya. Aku juga heran sampai Riku yang baru 6 tahun bisa berkata begitu. Kasihan, dia terlalu cepat menjadi dewasa pemikiran….

Sambil menahan haru, Gen bilang,
“Kamu bilang apa? Bagi papa, Riku lebih penting dari kerja. Besok kita pergi sama-sama ya”
Kami bertiga menghapus airmata dan berdoa makan…. cuma kai saja yang tertawa melihat kami…..

Hari Minggu Hari Ayah! Masak seorang Ayah harus bekerja di hari itu? Sama saja seorang buruh bekerja di Hari Buruh… dan itu sering terjadi di keluarga Jepang pada umumnya, dan keluarga Miyashita pada khususnya. Bukan karena suka kerja, workholic, tapi karena terpaksa. Sambil merenungi kejadian Sabtu malam itu, aku berpikir. Dulu papaku juga tidak pernah ambil cuti. Tapi anak-anaknya tidak ada yang protes atau berkata seperti Riku, jadi ya begitu saja terus. Kami jarang sekali bepergian/piknik bersama. Jadi teringat sebuah iklan mobil di TV Jepang, “Mono yori omoide” (Daripada barang lebih baik kenangan).

Berkat Riku, hari Minggu kami lewati dengan penuh kegembiraan, meskipun hari hujan dari pagi hari. Aku terbangun jam 6 pagi, padahal baru tidur jam 3 pagi. Tapi Riku juga bangun jam 6, dan tak lama Kai bangun juga. Jam 8 semua sudah berkumpul di kamar tamu. Jadi, hari ini mau ke mana?

Dan sekali lagi Riku berperan, “Aku mau ke yokohama, ke tempat A-chan (ibunya Gen) dan Ta-chan (bapaknya Gen)”. Ya, sekaligus deh merayakan Hari Ayah bersama Ketua Clan Miyashita.

Jam 9 pagi kami sudah di jalan raya di bawah rintik hujan, dan… lapar. Lalu aku bilang pada Gen, bahwa mulai kemarin di Mac D hadiahnya karakter Pokemon. Dan ini pasti cepat habis. Jadi akhirnya kami mampir ke Mac D, dan saya juga pesan Happy Set + untuk anak-anak, supaya bisa dapat mainan pokemonnya 3 buah. Dan Kai, langsung berseri-seri melihat mainan pokemon, “Pipa…pipa…” rupanya dia mau bilang Pika (pikachu).
Ternyata tidak perlu makanan mewah dan mainan mahal untuk menggembirakan satu keluarga (Yang pasti Gen dan aku ikut gembira karena rasa lapar terobati. Paling tidak enak menyetir dalam keadaan lapar).

bermain bersama Ta-chan

Setelah selesai sarapan, kami bergerak menuju Yokohama dalam hujan yang menderas, dan jalanan yang mulai padat dan macet. Hampir satu bulan lebih kami tidak saling bertemu, dan ternyata banyak berita keluarga yang tidak sempat kami ketahui. Yang sakit, yang cuti, yang menderita…. Nampaknya tahun ini akan menjadi tahun yang sulit juga bagi keluarga kami. Menghitung hari-hari tersisa dalam kehidupan.

Biasanya kami pulang larut malam, tapi karena sudah lama juga tidak bertemu adikku Tina, jadi kami mampir dulu ke apartemennya. Ternyata dia sendiri, Kiyoko temannya sedang pergi ke rumah orangtuanya. Jadilah kami ajak dia makan malam bersama di restoran Taiwan. Yang saya merasa menyesal saat itu, kenapa tidak minta Tina untuk memotret kami berempat! Baru ingatnya setelah jalan pulang.

Well, week end is over, and back to reality.

POLIO dan TILANG

Hari Senin hari yang sibuk. Kenapa ya? Apa karena hari pertama setelah libur dua hari? Sampai-sampai ada lagu I don’t like Monday….

Hari Minggu kemarin rupanya Riku terjatuh di jalanan waktu akan menyeberang. Dan kepalanya terbentur… Katanya. Tidak ada luka parut di kepala maupun kaki, tapi dari sore hari dia mengeluh sakit kelapa eh kepala. Dan tentu saja Gen khawatir , takut jangan-jangan pengaruh ke otaknya Riku. Kok kayaknya aku ibu yang cuek ya… aku ngga khawatir sama sekali. Karena aku cukup bertanya, muntah ngga? eneg ngga? mimisan ngga? Jawabnya “NO” semua…. jadi tidak apa-apa (menurut aku loh). Dan aku lihat dia biasa saja, tetap genki…ceria tidak lemas. Mungkin yang mengkhawatirkan justru karena dia agak berlebihan ceria dan cerewetnya…ini harus diperiksa hahahaa.

Jadi waktu pagi hari Riku masih berkata “sakit kepala” , dan Imelda diberi tugas oleh Gen untuk mengantar Prince Riku ke rumah sakit untuk diperiksa dokter. OK boss. Padahal hari ini Kai juga ada jadwal vaksin Polio di puskesmas. Sibuk banget deh hari ini. But enjoy enjoy….!

Berhubung Prince Kai terlambat bangun, kami baru bisa berangkat ke RSnya jam 10…. huh aku paling malas ke RS ini kalau tidak tepat jam buka (jam 9) karena kadang-kadang suka banyak yang antri di Pediatric sehingga musti lama menunggu. Untung saja waktu aku datang banyak yang menunggu, tapi karena ada dua dokter jadi lumayan cepat dipanggil. Dua anak yang sebetulnya sehat (bayangin suhu badannya aja waktu itu cuma 36,4) sambil menunggu giliran bermain bersama di play-cornernya. Senang juga melihat Riku sudah bisa “menjaga” adiknya bermain.

Benar juga perkiraanku, Prince Riku tidak apa-apa. Tapi memang Rikunya sendiri bilang, “Masih pusing … bla bla bla”. Aku terpaksa bilang, “Iya dok, nanti kalau pusing terus seminggu saya kembali lagi”. Meskipun maksud perkataan itu untuk Riku. Buktinya setelah itu dia tidak mengeluh pusing-pusing lagi. Heran deh… Riku itu emang suka sekali RS. Sering tanya,” Mama, kapan aku musti disuntik lagi?” Huh… mentang-mentang aku selalu puji dia bahwa dia sejak bayi tidak pernah menangis kalau disuntik (termasuk vaksin).

Jam sebelas pemeriksaan selesai, kami pulang untuk istirahat dan makan siang. Lalu jam 12:30 pergi ke Puskesmas Kelurahan untuk Kai mengikuti vaksin polio. Letaknya agak jauh dari rumah, yaitu bersepeda 20 menit. Untung Riku sudah bisa bersepeda, kalau tidak lumayan loh bonceng dua anak sampai ke puskesmas itu.

Kai iri melihat kakaknya sudah bisa naik sepeda

Kai sebetulnya sudah “mengabaikan” vaksin polio dua kali. Polio ini gratis dari kelurahan dan diselenggarakan setiap musim semi (Mei-Juni) dan musim gugur (Sept-Okt). Tahun lalu setiap ada jadwal polio, mesti dia tidak sehat. Jadi senin kemarin itu kebanyakan yang datang adalah bayi-bayi berusia 6 bulan lebih. Lucu juga aku memandangi bayi-bayi itu… masih digendong ibunya…. hmmm Kai dulu juga kecil segini ya. Sekarang? sudah bisa menuntut dibelikan minuman dari vending machine, lari ke sana kemari… doooh.

Kai mendapat urutan nomor 44 (sampai dengan aku pulang ada sekitar 150 ibu). Tidak sampai 30 menit semua selesai. Antri untuk diperiksa salah satu dari 5 dokter. Untung Kai anteng sehingga memudahkan pemeriksaan. Oh ya, waktu si dokter memeriksa dada Kai dengan stetoskop, tercium wangi parfum… wahhh dokter “gaek” (udah tua sih) ini dandy juga pake parfum segala. Biasanya jarang loh laki-laki Jepang pake parfum. Untung isengnya Imelda ngga kumat dan menanyakan…. “Dok, kamu pake parfum merek apa sih?” hahahaha.

Setelah mendapat OK dari dokter untuk menerima vaksin polio, langsung diberi vaksin di bagian suster-suster. Vaksin polio itu berupa cairan yang langsung dimasukkan ke mulut bayi. Katanya sih manis. Tapi selama 30 menit tidak boleh makan dan minum dan “ngempeng”. Ntah akhir-akhir ini Kai suka sekali memasukkan tangannya (seluruhnya loh) ke mulut. Jadi aku repot deh membuat dia lupa supaya jangan memasukkan tangannya selama 30 menit. Bagaimana cara supaya dia lupa? Kebetulan di samping gedung kelurahan itu sedang ada pembangunan gedung baru, dan pada tahap pembongkaran pondasi. Jadi ada semacam crane/buldozer yang dioperasikan. Dasar dua anak laki-laki, melihat kegiatan begitu saja bisa lupa semua! (dan heran juga mamanya ikut terkesima melihat proses pembangunan sambil jaga dua unyil)

Bunga Ajisai (Hydrangea) bermekaran di musim hujan

Setelah lewat 30 menit, aku ajak mereka pulang (dengan susah payah) dan ajak mereka pergi ke Mac Donald. Hadiah Happy setnya sekarang tidak terkenal, jadi aku juga tidak begitu antusias…. (loh kok jadi perhatiin hadiah terus nih). Sampai di rumah ternyata tidak lama sekitar jam 5, Gen sudah pulang. Wah kok cepat? Ternyata dia ada dinas luar ke daerah Teluk Tokyo. Dan dia membawa “hadiah”….. sebuah kertas bertuliskan “Pelanggaran Parkir” chuusha ihan 駐車違反。 Baru pertama kali dapat jadi bingung juga harus bagaimana. Rupanya dia parkir mobilnya di pinggir jalan, dan waktu dia parkir sih ada taksi dan truk di depan dan belakangnya, tapi waktu dia kembali 30 menit sesudahnya ternyata taksi dan truk sudah tidak ada, dan ada kertas ini di wipernya…. kena deh hehehe.

surat tilang (chuucha ihan -pelanggaran parkir)

Begitu sampai rumah, dia pergi ke koban (pos polisi) dan oleh polisi di sana dibilang suruh menunggu akan ada surat tilang yang dikirim ke rumah. Setelah terima surat itu, bayar denda, dan mungkin di SIM nya tidak diberi tanda “point pelanggaran”. Semakin banyak point pelanggaran makan semakin besar kemungkinan SIM dicabut. Karena kami berdua Gold SIM  Card dan belum pernah melakukan pelanggaran, jadi sayang jika SIM harus “ternodai” oleh point pelanggaran. Jika ada satu saja point pelanggaran, maka pada penggantian SIM berikutnya (setelah 5 tahun) akan terjadi penurunan tingkat (tidak Gold lagi) dan harus ikut kursus/test lagi  (sebentar sih sekitar 1-2 jam)

Jadi sekarang kami sedang menunggu “kiriman” dari polisi, dan biasanya untuk pelanggaran parkir kami harus membayar 15.000 yen (1.500.000 rupiah kira-kira). “Gomen ne ごめんね  (maaf ya)” kata Gen… dan aku cuma ketawa sambil bilang, “berdoa saja semoga tagihan dari polisinya datang sesudah gajian ya hehehe”. Lima belas ribu yen itu sudah standar dan tidak ada sistem “tawar menawar” atau suap-menyuap seperti di Indonesia. Seandainya…. seandainya loh, peraturan seperti ini diterapkan di Indonesia, aku bisa bayangkan betapa kayanya kepolisian RI…. cukup untuk bayar utang negara mungkin …hahahaha.

What a busy and unpredictable MON day!

Kartu Nama

Ada satu hal yang kadang saya rasakan kurang ketika bertemu dengan teman-teman lama atau teman-teman baru, baik waktu reuni, maupun  kopdar blogger di Indonesia. Yaitu tidak adanya kebiasaan untuk bertukar kartu nama. Seperti saya dengan Lala, saya tidak punya kartu namanya, sehingga kalau saya mau mengirim sesuatu, saya harus menanyakannya via email atau sms. Dari sekian banyak blogger/teman lama yang pernah saya temui, mungkin hanya 5-10 lembar kartu nama yang pernah bertukar tempat dengan kartu nama saya.

Mungkin memang cukup dengan nama, blog dan email saja. Tapi mungkin karena saya sudah (seperti) orang Jepang, maka saya merasakan ada kejanggalan. Ya, di Jepang, jika mau bertemu dengan seseorang , harus menyiapkan KARTU NAMA atau MEISHI  名刺. Kalau tidak membawa, seakan kamu tidak “serius” dalam berkenalan, dan saya yakin, kamu akan kehilangan chance untuk mendapatkan pekerjaan. Terutama untuk orang seperti saya yang freelancer, then don’t leave home without it! (kalau Anda hanya ibu rumah tangga tentu saja tidak perlu, sekarang cukup tukar menukar nomor HP dan email HP saja!)

Tidak berbeda dengan di Indonesia, Kartu Nama di Jepang tentu saja memuat Nama, Alamat dan Nomor telepon. Untuk bisnis, biasanya hanya mencantumkan alamat dan nomor telepon kantor, nomor HP dan email HP. Dan untuk kalangan entertainer (maklum pernah bekerja di Radio) biasanya dipasang juga foto wajah (bukan pas photo).

kartu nama ini sempat saya pakai sebentar, tapi sekarang sudah habis

Nah ada satu fenomena yang menunjukkan bedanya masyarakat Jepang dan Indonesia mengenai pendidikan. Dan ini saya sering pakai untuk menjelaskan mengenai Gakureki shakai 学歴社会 society which places excessive [undue] emphasis on academic records . Dalam kartu nama saya yang berbahasa Jepang, tidak pernah saya cantumkan gelar kesarjanaan saya. Tetapi dalam kartu nama yang berbahasa Indonesia “terpaksa” saya pasang gelar itu. Saya selalu memberikan contoh kartu nama orang Indonesia misalnya Prof. Dr. H. Alibaba SE, MA, MSc dst dst. (Jadi bahan juga untuk menjelaskan singkatan apa saja itu, termasuk bedanya singkatan dan akronim). Saya rasa sedikit sekali orang Indonesia yang “tidak mau memamerkan” gelar mereka yang panjang-panjang itu. Lah…untuk dapatkannya juga susah payah …mungkin itu alasannya. Dan inilah gakureki shakai… yang jumlah elite berpendidikan masih sedikit (dibanding Jepang), sehingga gelar yang didapat haruslah dipajang.

Saya tidak bermaksud mengritik siapa-siapa, lah wong saya juga akhirnya pakai penulisan gelar itu karena memang masyarakat Indonesia menuntutnya. Sayang saya tidak sempat memotret baliho-baliho caleg di Indonesia waktu itu. Duuuh banyak sekali gelar kesarjanaan yang saya TIDAK TAHU singkatan apa itu. Coba lihat poster caleg Jepang! tidak ada satupun yang memakai gelar kesarjanaan. Dan memang pada dasarnya gelar kesarjanaan TIDAK ditulis. Lulus Universitas itu atarimae 当たり前, lumrah. Gelar kesarjanaan hanya dipakai di biografi buku yang ditulisnya, atau di seminar-seminar ilmiah.

Ada satu cerita lucu yang saya dapatkan dari teman saya. Dia cerita begini:

“Mel, kamu punya kebiasaan nulis sesuatu ngga di kartu nama orang?”
“Ya dong, biasanya tulis pake pensil, ketemu kapan, di mana”
“Tulis ciri khas orang itu ngga?”
“Hahahahahaha … iya, abis orang jepang kan mirip semua. Kadang aku tulis berkacamata, atau pinter bhs indo, atau cantik, atau spt somebody dll”
“Nah …. ini kejadian. Aku dan temanku pergi bertemu orang Jepang. Setelah selesai, kita masih ada di kantor itu beberapa saat, sambil ngopi di coffee shopnya. Terus temen gue ini pergi ke WC. Di situ ketemu dua kartu nama yang jatuh. Ternyata itu kartu nama kita. Dan……

“Hahahaha ada tulisan apa di belakangnya?”
“Ah elu mel, nyela aja. Iya gitu deh, ternyata si Jepun itu tulis ciri khas kita. Nah si temen gue ini sampai pucet, ternyata di kartu namanya ditulis cerewet, gendut, rambut kriwil. Sebel banget dia.
“Haahahaha. Makanya kalo nulis di kartu nama orang tuh yang bagus-bagus aja. Atau jangan pake bahasa yang bisa dimengerti orang lain. Kode dong kode…..”
“IYAAAAA…. tapi kan ini orang Jepang. Dan lu tau ngga di kartu nama gue ditulis apa? Si temen gue ini sampe ngga mau kasihin ke gue, takut gue marah.
“Apa? Gendut? ”

“Masih mending… ditulis HAGE はげ alias BOTAAAAAAAAAAAAAAAKK!”

“Hahahahahahahahaahah…. sorriiiiii but…. abis …. gimana lagiiiiiii”
“Sompret bener tuh orang”
“Hahahaha….. ya sudah… abis mau digimanain lagi kan? ”
“Iya…sekarang masalahnya. Dia ngejatuhin kartu nama kita nih kan. Nah kalo dia mau urusan sama kita kan ngga bisa jadinya. Dia mungkin cari ke WC. Tapi itu kan udah kita ambil. Mau kita balikin, ntar diambil org lain gimana? NAHHHH, kalo kita kembaliin ke YBS, lebih gawat lagi dong. Dia akan tahu kalo kita udah baca “MEMO” dia di kartu nama itu kan. Mazui まずい。 Payah!”
“Hahahahahahha… buah simalakama ya…. susyah deh. Ya diemin aja lah, mustinya dia bisa usaha tanya temennya yang lain atau gimana.”
“Ho oh. Cuman gue kan KESEL banget ditulis gitu”

Cerita nyata dengan sedikit modifikasi. Untuk yang merasa sorry ya …. hehehe.

So, hari ini tentang Kartu Nama ada dua pelajaran penting yang harus dihapal:

1. Selalu siapkan kartu nama jika bertemu dengan orang Jepang
2. JANGAN menulis yang negatif sebagai keterangan di kartu nama orang lain.

eh yang ketiga:

3. JANGAN menjatuhkan kartu nama orang lain di tempat senonoh….hihihihi  (Kalau kartu nama sendiri sih namanya promosi atau cari masalah hihihi)

Mana kelingkingku?

***Posting ini adalah isi Kebaktian Paskah Oikumene KMKI yang dilaksanakan hari Sabtu, 25 April lalu, di gereja Anselmo, Meguro. ***

Dua jari kelingking yang hanya separuh, rajah bak baju menempel abadi, itu hanya penampilan luar yang tidak bisa berubah dan tak bisa diubah siapapun juga. Tapi Hati dan Keinginan hidup yang pernah ingin dibuang, tidak ada yang tahu perubahannya kecuali dia dan Tuhannya.

dua kelingking yang hanya separuh dan rajah di badan

Adalah seorang Suzuki Hiroyuki yang memukau 70-an orang Indonesia di Gereja Meguro, Sabtu lalu. Dengan semangat yang diselingi usapan air mata, dan sesekali gelak tawa mengalirlah cerita mengenai kekuatan “Sang Pemberi Hidup” pada hidupnya.

Pada usia 17 tahun memasuki dunia hitam Yakuza, gangster di Jepang. Dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa untuk menjadi Yakuza, seseorang harus mengorbankan separuh jari kelingkingnya. Belum lagi tato sekujur badan. Tidak ada rasa sakit bagi Yakuza, karena hidupnya harus TEGA untuk kekerasan. Kalau perlu membunuh orang.

Dan selama 17 tahun, Suzuki muda ini menjalani hidup yang seenaknya, sampai membuang istri dan anaknya. Sampai saat 17 tahun sesudahnya, dia diusir dari kelompoknya.  Tidak ada tempat berlindung. Dia dikejar-kejar oleh musuhnya yang lain karena ada hutang juga. Dia tidak punya apa-apa lagi, karena dia juga telah memutuskan hubungan dengan istrinya. Tidak ada saudara, tidak ada uang, tidak ada pekerjaan. Siapa yang mau mempekerjakan seorang “bekas” Yakuza?  Salah-salah orang yang mempekerjakan dia akan dibunuh dan dijadikan target juga oleh gerombolan Yakuza yang lain.

Salah satunya jalan adalah bunuh diri. Tapi saat itu dia bertemu dengan seorang pendeta. Yang memberitahukan bahwa ada “Yesus” yang telah mati untuk dia, orang yang tidak berguna itu. Jika kamu percaya, maka apa saja akan bisa dilampaui. Dan ingat… “Yesus tidak pernah mengatakan hidupmu akan MUDAH, tapi bahwa engkau akan diselamatkan”.

Siapa sangka dengan penampilan seperti ini, beliau adalah mantan Yakuza?
Siapa sangka dengan penampilan seperti ini, beliau adalah mantan Yakuza?

Tidak mudah membuang masa lalu. Sekitar 17 tahun yang lalu, dia memanggul salibnya sampai ke Hokkaido. Dia ingin merasakan penderitaan Yesus sendiri. Sambil berjalan dan mendengarkan, bertukar pikiran dengan umat Kristen Jepang yang sangat sedikit.

Di suatu tempat dia berjumpa dengan seorang nenek berusia 86 tahun yang beragama Kristen. Lalu dia bertanya pada si Nenek,

“Nek, apa yang kamu rasa paling sulit dalam hidup beragama?”

Si Nenek berkata:

“Saya percaya Tuhan. Percaya saja itu mudah. MUDAH sekali. Tapi yang sulit adalah… TERUS PERCAYA.”

Sebagai umat baru, yang baru menerima Yesus, atau yang baru menganut agama, biasanya semanagat masih menyala-nyala. Tapi setelah sekian lama, banyak mengalami hal-hal sulit, yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Di situ lah tantangan untuk TETAP percaya bahwa Tuhan itu ada. Begitu mudah kita akan jatuh lagi ke dalam Ketidakpercayaan kita.

Saya tidak bisa menuliskan kembali kesaksian Pendeta Suzuki ini semuanya. Ada cerita yang lucu dikemukakannya, ketika dia memanggul salib, dia diminta untuk berbicara dalam acara agama kristen di televisi. Dia pikir, acara itu disiarkan hari Minggu, pagi lagi, tentu tidak ada teman yakuza yang akan menonton acara religius seperti itu. TAPI dia salah…. ternyata ada orang yang tahu, dan seluruh dunia yakuza tergoncang. Apalagi si penagih hutang yang akhirnya mendatangi dia. Saat itu dia sudah hidup bersama istri dan anaknya kembali. Betapa takutnya dia menghadapi kawanan Yakuza itu, tapi ternyata Tuhan melindungi dia, melalui tangan anak kecil, anaknya sendiri, yang tidak takut-takut, membelai kepala botak si Yakuza, dan bermain di sebelahnya. Sampai si Yakuza itu malah mengeluarkan dompet dan memberikan uang 20.000 yen untuk uang saku si anak. Tuhan bekerja!

Suzuki Sensei ini juga merupakan satu-satunya orang Jepang, Kristen yang diundang dalam acara makan pagi kenegaraan di Washington DC. Presiden Clinton hanya berpidato 5 menit.  Pendeta Billy yang terkenal itu hanya punya plot waktu 5 menit. Tapi Pendeta Suzuki ini mendapat waktu 15 menit + termasuk terjemahan. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak bisa masuk Amerika karena pernah di”pulangkan” karena tidak bervisa waktu ke Hawaii.

Banyak buku dan ada sebuah film yang dibuat berdasarkan jalan cerita hidup Pendeta Suzuki. Sayangnya masih berbahasa Jepang.

Kai dan Banner

Saya merasa beruntung bisa mendengarkan langsung kisah hidupnya, hari Sabtu yang lalu. Meskipun dalam hujan, saya berhasil datang ke gereja bersama Kai dan Riku naik bus dan kereta. Karena hujan, hanya 70 umat kristen dan katolik Indonesia berkumpul di Meguro.Tapi dengan sukses 70 orang ini menghabiskan jatah makan 200 orang, makan nasi kare, bubur ketan hitam dan masih bisa membawa bekal pulang ke rumah. Ya kami semua bisa membawa pulang bekal makanan jasmani, tapi yang terutama bekal makanan rohani yang memperkuat iman untuk TETAP percaya pada TUHAN.

Petinggi KMKI Pdt Atsumi, Pdt Suzuki, Rm. Harnoko, Rm Leo, Pastor Caleb
Petinggi KMKI Pdt Atsumi, Pdt Suzuki, Rm. Harnoko, Rm Leo, Pastor Caleb

DVD dan Buku-buku karangan Pdt Suzuki: