RSS
 

Archive for Februari, 2009

Hari ke 9 : Kopdar atau Narbar (narsis bareng)

28 Feb

Judul diatas adalah royalti Pak Andri A. A. seorang contact saya di FB, dalam komentarnya mengenai foto-foto 9 wanita Kopdar tanggal 23 Februari yang lalu yang saya pasang di FB. Well memang sekilas lebih tepat disebut Narsis Bareng, karena banyaknya lembar foto yang membuktikan kenarsisan mereka (lah posenya aja banyak yang sama gitu kok) Tapi tanpa ada “Kopi Darat” itu Narbarnya tidak akan terwujudkan.

Hari ke 9 perjalananku, memang merupakan hari yang terpadat. Mungkin semua bisa baca sendiri di postingan “Ngumpul yuuuk!!!” betapa padatnya jadwal hari itu. Omah Sendok dari jam 11:00- 15:00, Karaoke dari jam 15:00-17:00 dan malam di Pisa Cafe Mahakam. Sengaja saya set begitu, karena saya tahu para pengikut (terutama Lala dan Yessy yang mantan penyanyi Band) pasti ingin bernarsis ria dengan suaranya. Saya bilang lebih baik setting karaoke dari jam 15:00 sampai jam 19:00 malam baru makan…. karena saya tahu mana cukup 2 jam untuk penyanyi-penyanyi mencapai kepuasan bernyanyi? Tapi apa kata Lala? “Aku butuh waktu untuk pulang, mandi dan berdandan kembali” … HAH? Mau pulang lalu kembali melakukan kopdar? Oi oi ini JAKARTA sekali kamu pergi ke luar, jangan pernah pikir untuk pulang dulu lalu keluar lagi (Hal yang sama jika tinggal di Tokyo…. kecuali Anda seorang CEO yang mempunyai supir yang siap mengantarkan Anda ke setiap penjuru kota). Atau kamu mau pergi sendiri untuk session berikutnya? Memang jarak rumah dengan tempat-tempat ini dekat, tapi ceritanya akan lain jika kamu mempunyai 2 orang anak yang selalu maunya nempel dengan ibunya kemana-mana. Aku pasti tidak akan bisa keluar lagi.

(Kiri : hiasan di Omah Sendok — kanan yang menghias Kopdar kali ini : TRIO MACAN MAKAN : Lala – aku – Yessy)

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Mau membawa 2 bocah itu ikutan kopdar? Oh NOOOOO…. kasian mereka terkontaminasi udara luar yang pasti amat sangat ribut itu… bisa-bisa mereka pulang dengan shock heheheheh. Atau aku yang tidak bisa konsentrasi menjadi host yang baik untuk acara yang sudah dirancang jauh hari ini. Memang kopdar tidaklah cocok bagi seorang ibu RT, kecuali ada seorang suami yang baik seperti Mas Totoknya mbak Rhainy, yang mau menjadi baby sitter bagi ke dua anak yang tampan itu. Maaf ya abang, memang tante sengaja tidak mengajak Riku dan Kai saat itu. Kalau mau bermain- main bersama, lebih baik datang ke rumah atau tentukan waktu yang terpisah khusus untuk anak-anak.

kalau ada anak-anak mana ada waktu untuk iseng begini????

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Satu kesamaan dari kesembilan perempuan yang hadir ini adalah mereka berkenalan di dunia maya melalui blog. Masing-masing mempunyai spesialisasi sendiri, dan avatar yang belum tentu mencerminkan wajah mereka sendiri. Baru hari itulah kami bertatap muka, dan cukup gembira karena menemukan banyak kesamaan yaitu berbody gede, bongsor dan ….. ah isi sendiri deh (Kecuali Bu Enny dan Yessy deh)

Dan kesembilan perempuan ini memang RIBUT. Sepertinya kalau mau membuat kopdar di Tokyo, harus dipikirkan untuk membuat di Taman atau udara terbuka, karena pasti mendapat keluhan dari masyarakat sekitar, sukur-sukur kalau tidak ditangkap polisi dengan tuduhan membuat keonaran. DAN perempuan-perempuan ini BISA diam hanya pada waktu makan saja. (Lihat deh makanan yang dipesan …. Bebek panggang, Iga Bakar, Soto Tangkar, Sup Buntut Goreng….. diet terlupakan. Tapi memang makanan di sini lumayan enak, meskipun sup buntut gorengnya agak asin menurut saya)

Kami sempat membicarakan bermacam issue tentang wanita, sampai kami merasa beruntung tidak ada lelaki yang hadir sehingga bisa BEBAS bicara seenaknya. (Padahal di ruangan sebelah beberapa babe babe pasang kuping juga sih). Mudah-mudahan kami bisa melaksanakan rencana yang dicetuskan untuk membantu kaum wanita dalam permasalahan sehari-hari wanita itu sendiri melalui Blog.

(tidak!!…aku tidak sedang chatting, hanya berusaha menuliskan input teman-teman kok)(aku dan bulet…. padahal siapa sih yang lebih bulet??? )

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Sebetulnya selain 9 orang ini, masih ada Reti dan Krismariana yang rencananya hadir, tapi karena satu dan lain hali terpaksa tidak bisa bergabung. Sembilan perempuan pemilik blog yang hadir pada waktu itu adalah : (klik di foto untuk jump ke blog mereka dan bacalah juga laporan masing-masing mengenai kopdar ini)

Apalah artinya 4 jam untuk wanita-wanita ini. Kalau bisa tentu saja ingin menambah lagi waktu untuk bisa berbicara, bergossip ria dan melepas kerinduan. Tapi karena beberapa harus pulang/kembali ke pekerjaannya, dan session kedua sudah menanti, maka Kopdar hari ini session pertama dituntaskan pada pukul 3 sore. Sebelum pulang, dan menunggu kendaraan, masih sempat-sempatnya Narbar – Narsis Bareng di Omah Sendok.

]

Session ke dua adalah karaoke. Cuman berlima tapi menempati ruangan berkapasitas 20 orang (maksudnya supaya bisa joget, berdansa dan melantai — ngepel gitu). Heboh heboh deh, apalagi ketika mulai dinyanyikan lagu Terajana. Tapi bener deh, berasa tua sendiri berada di antara 4 cewek muda ini. Saat itu saya menyayangkan ketidakhadiran Ibu Enny atau Yoga untuk menemani saya menyanyikan lagu evergreen …hiks hiks… (Eh tapi aku sempet nyanyi Kopi Dangdut loh! hihihi —segitu bangga!???). PR begitu pulang ke Jepang: Belajar lagu Rihanna atau lagu-lagu yang ngepop sekarang, termasuk belajar tereak hihihi.

(kiri …untung ngga ada 9 orang yang begini…kalo ngga hancur deh tuh Inul Vista Melawai)(ceritanya sambil nunggu hasil rekaman CD yang lagi diburn. Hasilnya? Ancurrrrr!)

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Session ketiga tadinya direncanakan jam 6 tapi karena Karaoke diperpanjang dan terbuang waktu untuk menunggu burning CDnya, Kami (Lala, saya dan Ria) sampai di Cafe Pisa, Mahakam pukul tujuh. At last sampai ke session terakhir di hari Senin yang melelahkan ini.

Sambil menunggu kehadiran yang lain, makan es krim bukan sebagai dessert tapi sebagai Appetizer hihihi

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Kalau melelahkan buat apa merencanakan sampai acara makan malam? Ya, karena saya tahu tentu saja ada orang-orang pegawai yang hanya bisa datang di malam hari sesudah pulang kantor. Karena itu settingan untuk malam hari mutlak diadakan. Dan benar saja, kumpulan blogger yang tidak saya kenal sebelumnya selain Lala dan Mangkumlod itu, datang berkumpul (demi bertemu Lala) memeriahan acara session ke tiga dan membenarkan istilah jawa, Mangan ora mangan asal ngumpul. (Padahal makannya roti dan mi Italia –Pizza dan Pasta)

(ber-8 di Cafe Pisa Mahakam) (Bukan maksud buat gossip, tapi kita berdua emang yang paling sepuh di sini)

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Sayang sekali di Pisa Cafe ini, -G-, Wita, Yoga dan Julehajones mendadak tidak bisa join. Tapi di sini, saya bisa bertemu Mas Nugroho yang pandai memotret dan menulis puisi, Daddynya si Sassie. Lalu Hilman yang pernah jadi body guardnya Lala waktu Lala launching buku di Jakarta (Kok banyak diamnya ya Hilman malam itu?). Abi dan tukang siomay yang termasuk dalam kelompoknya Mas Nug. Serta Bayu yang segera akan mempunyai blog (bener kan Bayu? ehehehe) . Selain Blog nya Mas Nug, yang lain saya belum pernah bertandang. Di sinilah terjadi hukum terbalik dari Kopdar. Biasanya baca blog dulu baru Kopdar, tapi kali ini Kodar dulu baru baca blog. Dan itu memang MUNGKIN terjadi.

Hari yang melelahkan, tapi sekaligus memuaskan. Akhirnya saya dan Lala sampai rumah pukul 10 lebih dengan diantarkan Mas Nug. 11 jam di luar rumah! Kopdar Jakarta kali ini boleh dikatakan sukses banget! (siapa dulu dong EO nya… uhuy….)

 

Hari ke 8 – 88 dan Cantent in Viis Domine

26 Feb

Seperti yang pernah saya posting di Apa artinya sebuah angka! Bagi orang Jepang, angka delapan adalah angka mujur. Dan dalam kehidupan manusia, ada suatu titik-titik usia tertentu yang “Diagungkan”. Usia o tahun atau usia 1 tahun pada hitungan Jepang lama yang merupakan hari kelahiran, usia 20 tahun yang menurut pemerintah merupakan pengakuan seseorang menjadi dewasa dengan sebutan khusus HATACHI 二十歳 , usia 60 tahun dengan sebutan KANREKI 還暦 (genap 4 kali putaran shio dan dikatakan bahwa manusia kembali lagi menjadi bayi), usia 88 tahun yang disebut BEIJU 米寿 , 90 tahun disebut SOTSUJU 卒壽 dan 99 tahun yang disebut HAKUJU 白寿.

Sedikit sekali orang yang bisa mencapai umur 88, dan lebih sedikit yang bisa mencapai 90 tahun. Ada dua muridku, orang Jepang yang bisa mencapai sotsuju, yaitu Almarhum Dr Fukuoka Yoshio, yang meninggal 11 januari lalu, dan Bapak Watanabe Ken yang masih segar bugar sekarang dengan usia 93 tahun. Ah aku ingin segera berjumpa Bapak Watanabe sepulang dari Indonesia. Dialah yang memberikan kesadaran pada saya bahwa umur tidak menjadi penghalang untuk belajar, belajar dan belajar terus. Dia mulai belajar bahasa Indonesia denganku pada umur 83 tahun dan sampai saat ini masih belajar di sebuah sekolah bahasa di Shinjuku. Bayangkan… SEMBILAN PULUH TIGA tahun.

Di keluarga Coutrier sendiri, Opa dan Oma (dari pihak papa) berhasil melewati 88 tahun. Padahal boleh dibilang mereka juga tidak fit 100% sampai akhir hidupnya. Opa meninggal persis di hari ulang tahunnya yang ke 88 dan saya bisa menghadirinya. Oma meninggal usia 89 tahun, tanpa ada yang memberitahukan saya (mungkin karena pikir saya toh tidak bisa datang). Dan dari Coutrier Clan ini, sesepuh yang masih hidup adalah Oma Dorothea Versluys yang tinggal di Amersfoort dan baru saja merayakan ulang tahun ke 89 tahun tanggal 7 Januari lalu. Aku juga sangat menyayangi oma Do ini, dan berkhayal kapan lagi bisa bertemu beliau in real.

Dan tanggal 18 Februari lalu, seminggu sebelum Riku ulang tahun, seorang Oma berulang tahun yang ke 88 tahun. Beliau memang bukan Oma yang terdaftar dalam pohon keluargaku. Oma Poel Fernandez dan saya, cucunya, tak ada hubungan darah sama sekali. Beliau yang terus melajang sampai sekarang, hanyalah tetangga belakang rumah kami yang lama. Tapi Oma Poel yang kucinta itu sudah hadir sejak aku lahir, yang memberikan aku nama julukan BARENDJE DONDER KOP (arti harfiah bocah gundul…. yang penggambarannya amat cocok dengan Ikkyu_san, si pendeta Buddha kecil yang gundul dan pintar).

Dan sejak aku bisa berjalan, beliau selalu membuatkan, menjahitkan baju untukku sampai aku SMA. Yang terakhir dia jahitkan adalah rok seragam Tarakanita dalam empat warna/corak, putih untuk hari Senin, abu-abu dan kotak-kotak, serta rok berwarna krem untuk hari Sabtu. Setelah itu dia angkat tangan, dan berkata, “Aku sudah terlalu tua untuk bisa menjahitkan kamu lagi, beli saja. Saya bahkan tidak yakin bisa hidup sampai kamu menikah.”

Nyatanya dia masih bisa melihat foto-foto pernikahan kami (karena dilaksanakan di Jepang), dan bisa menggendong Riku setiap kali aku ke Jakarta, dan bisa bertemu juga dengan cicit ke duanya, Kai di Jakarta. Tuhan memang yang terindah, dan Hanya DIA yang membuat hidup kita menjadi indah pada waktunya.

KAU YANG TERINDAH
DI DALAM HIDUP INI
TIADA ALLAH TUHAN YANG SEPERTI ENGKAU
BESAR PERKASA PENUH KEMULIAAN

KAU YANG TERMANIS
DI DALAM HIDUP INI
KUCINTA KAU LEBIH DARI SEGALANYA
BESAR KASIH SETIA-MU KEPADAKU

REFF:
KUSEMBAH KAU YA ALLAHKU
KUTINGGIKAN NAMA-MU SELALU
TIADA LUTUT TAK BERTELUT
MENYEMBAH YESUS TUHAN RAJAKU

KUSEMBAH KAU YA ALLAHKU
KUTINGGIKAN NAMA-MU SELALU
SEMUA LIDAH KAN MENGAKU
ENGKAULAH YESUS TUHAN RAJAKU

Aku menangis sambil mendengar dan ikut menyanyikan lagu ini. Sebuah lagu kesayanganku yang dinyanyikan oleh teman-teman yang tergabung dalam Paduan Suara Cantent in Viis Domine, atau disingkat CAVIDO, pada misa syukur ulang tahun Oma Poel Fernandez di gereja St Johannes Penginjil Blok B, tanggal 22 Februari (hari ke 8 aku di Jakarta) yang lalu. Aku memang pernah menjadi anggota Paduan Suara ini sejak SMP, sampai sebelum keberangkatanku ke Jepang tahun 1992. Adalah Oma yang mendorongku bergabung dalam paduan suara ini, sehingga menjadi anggota paling rawit saat itu. Tapi setiap kali selalu ditanya, mbak SMA kelas berapa? , karena badanku yang bongsor itu, padahal aku masih SMP.

Pindah ke Jepang tahun 1992, aku merasa kehilangan pada suasana kekeluargaan yang kocak yang ada dalam paduan suara ini. Tapi yang membuat aku bahagia adalah, bahwa mereka, meskipun banyak anggota baru yang tidak mengenal aku, tetap menyambutku dengan hangat setiap aku mampir dalam tugas-tugas mereka di gereja setiap kali aku mudik ke jakarta. Aku masih dianggap sebagai anggota. Dan seandainya aku mau jujur, aku merasa menyesal tidak mendengarkan mereka mengiringi misa pernikahanku karena dilaksanakan di Jepang. (Dan aku tahu Oma Poel juga kecewa dengan keputusanku…. maafkan aku Oma)

Paduan suara ini memang tidak bisa melupakan kehadiran Oma Poel dalam sejarahnya. Kepala sekolah SMA Tarakanita waktu itu, Sr Fraceline yang mendirikan paduan suara ini. Karena anggotanya adalah murid SMA Tarakanita maka tentu saja hanya bersuara wanita saja. Kemudian membuka diri dan menerima murid SMA Pangudi Luhur (yang pria semua) supaya bisa lengkap 4 suara, dan akhirnya menerima anggota umum. Baru setelah itu pelaksanaan sehari-hari untuk latihan dan pemilihan lagu kemudian dilakukan oleh Oma Poel Fernandez ini. Terus dilakukannya sampai saat kesehatan dan pendengarannya bermasalah sehingga akhirnya koordinasi latihan dan lagu-lagu diserahkan pada Mas Atok Joko dan istrinya Mbak Savitri. Dan PS Cavido tahun lalu sudah merayakan lustrum ke 6 atau 30 tahun berdirinya.

88 tahun dan 30 tahun

Oma Poel dan Cavido

aku dan komunitas gereja katolik indonesia

ikatan yang hanya bisa “abadi” dengan campur tangan Bapa Surgawi saja

Selamat ulang tahun untuk Oma Poel

Selamat berkarya dan terus maju untuk Cavido. I love you all, and always miss our togetherness.

The Lord bless you and keep you; The Lord make his face to shine upon you and be gracious unto you; The Lord lift up the light of his coutenance upon you and give you peace. Amen(Bilangan 6:24~26)

http://www.youtube.com/watch?v=O2WQ5yKhgLw compossed by Peter C. Lutkin. yang sering dinyanyikan Cavido juga.

Foto lengkap bisa dilihat di

http://www.facebook.com/album.php?aid=64867&id=787239774&l=31bec

 

The Crown Prince

25 Feb

Tepat 6 tahun yang lalu, 25 Februari 2003. Aku harus pergi ke Obgyn untuk memeriksakan kandungan yang memasuki bulan ke 8 pukul 12 siang. Biasanya aku pergi ke rumah sakit sendiri, tapi karena sudah disuruh bed rest sebulan, lalu oma juga sudah datang dari Jakarta, dan aku pikir kami harus membicarakan rencana kelahiran anak pertama kami yang rencananya tanggal 28 Maret itu. Mungkin ingin minta dipercepat menjadi 14 Maret saja. Kemudian aku juga merencanakan pergi ke bank untuk mencairkan deposito, dan mempersiapkan uang bersalin yang tidak sedikit. Jadi aku minta Gen untuk ambil cuti dan menemani ke dokter.

Tapi ternyata si jabang bayi, tidak sabar untuk segera menikmati udara luar. Karena pukul 7 aku terbangun dengan merasa aneh. Pergi ke WC dan menemukan “tanda” bercak yang diperkirakan mulainya proses persalinan. Memang biasanya masih lama, tapi entah kenapa aku merasa bahwa hari ini lah harinya. Benar saja. Tak lama kontraksi mulai dengan selang waktu 10 menit. wah sudah teratur begitu, jadi lebih baik telepon RS untuk minta periksa. Kami harus cepat-cepat sebelum traffic padat dengan orang yang akan ngantor.

Jadilah aku masuk kamar bersalin pukul 9, persiapan epidural yang memang hanya ada di rumah sakit ini, dan tepat pukul 12:06 siang seorang anak laki-laki lahir ke dunia ini. Beratnya hanya 2070 gram, karena memang kurang bulan. Untung saja dia hanya masuk inkubator untuk 1 hari saja. Tapi dia masih harus tinggal di RS sampai beratnya mencapai 2500 gram, yaitu satu minggu setelah aku keluar RS. Aku sendiri satu minggu berada di RS, dan karena RS itu adalah RS advent yang vegetarian, begitu keluar RS saya dan Gen langsung pergi ke resto sushi deh…. ngga bisa jadi vegetarian. Selama satu  minggu itu aku besuk Riku dan memberi ASI, serta menyelesaikan urusan-urusan kelurahan.

Siapa sangka pemilik jari mungil ini bisa menjadi anak lelaki yang segemuk sekarang? Sejak keluar RS, dia tidak pernah sakit yang berat, yang dikhawatirkan pada anak-anak prematur seperti dia. Bahkan sejak dia umur 6 bulan, terpaksa harus mulai bersosialisasi dengan anak-anak lainnya di penitipan, karena aku mulai bekerja lagi. Kadang dia harus berada di penitipan dari jam 9 pagi sampai 9 malam. Melebih jam kerja orang kantor.

Tapi berkat menjadi anggota penitipan Himawari itu, dia tidak pernah menolak sayur, selalu makan dengan teratur, lebih toleransi, dan mandiri. Aku ingat sekali begitu dia bisa jalan, dia pernah mengambil saputangan dan mengepel lantai. Aku menangis melihatnya. Dia berbuat begitu pasti karena dia selalu melihat di penitipannya. Dan dia sampai hari ini masih merindukan suasana di penitipan yang memang lebih mengutamakan bermain daripada belajar seperti di TK.

Kemudian 1,5 tahun yang lalu dia harus berbagi kasih sayang papa dan mama dengan Kai. Awalnya dia masih mempertanyakan, kenapa sih harus ada Kai? Tapi sekarang dia  malahan menunjukkan sikap seorang kakak terhadap adiknya, dengan berbagi mainan, makanan dan buku.

Yah hari ini, 25 Februari 2009, the crown prince Riku Miyashita menjadi 6 tahun!

Selamat ulang tahun dan peluk cium dari papa,mama, dan kai

 

Hari ke 7 – Berburu Persahabatan

24 Feb

Kebanyakan cerita-cerita dalam kamar, akhirnya pukul 9:50 kami turun ke restoran yang menyediakan makan pagi ala prasmanan. Restoran ini berada di lantai 2, tepat di atas lobby. Tidak ada yang istimewa dari restoran ini, layaknya restoran umum yang bisa kita jumpai di mana-mana. Kalau melihat sajiannya juga memang masih kalah dengan hotel sebelumnya, tapi bolehlah sebagai “bensin” kami untuk beraktifitas hari ini. Seperti biasa, saya ambil bubur ayam, dan agak terpaksa makan omelette yang sudah dibuat. Teman makan saya ternyata tidak bisa makan separah di Hanamasa malam sebelumnya. (Makannya dikit gitu hehhehe)

Kami bertiga makan dengan tidak tergesa-gesa. Tujuan kami hari ini hanya mencari DVD untuk Lala, dan perangko untukku. Paginya saya sempat menelepon jakarta, dan memberitahukan saya akan pulang sekitar jam 1 dari Bandung. Tapi untung juga sempat berbicara dengan Novita, adikku yang jam 4 akan menuju Bandara Cengkareng untuk berangkat ke Belanda. Semestinya dia berangkat minggu lalu, tapi karena sample DNA yang seharusnya dia bawa tidak dijinkan untuk masuk bagasi (padahal sudah diurus perijinannya di KLM), jadi dia batal berangkat. Beginilah cara kerja orang Indonesia, meskipun sudah di maskapai penerbangan international, “semangat kerja” dan “prosedur kerja” tidak dijunjung tinggi. Bagaimana koordinasi pusat dan petugas bandara yang tidak “Harmonis” sehingga merugikan penumpang. Dan JANGAN SEKALI-KALI  Anda mempercayai ucapan petugas yang mengatakan OK, tanpa ada bukti tertulis!!! Itu pelajaran UTAMA. Harus ada hitam di atas putih, berupa surat atau fax, jangan email. Jika peristiwa ini terjadi di Jepang, pasti ada permohonan maaf bahkan pelayanan ekstra. Tak henti-hentinya saya mengatakan, betapa saya mengagumi Jepang, yang benar-benar menjunjung tinggi konsumen. Motto Pembeli adalah Raja, tidak bisa diganggu gugat di Jepang. (Karena itulah saya bisa bertahan hidup 16 tahun di sana).

Judul foto: Mamer O2 hahahha. kok bisa sama ya? (coba ditukar ya, saya ingin tahu tuh Adrress Booknya pastiiiiiiii deh 90% cewe dan penggemar hahaha)

****************

Sesaat sebelum jam 12, kami cek out Hotel Aston Tropicana. Setelah menyelesaikan pembayaran extra, kami menuju tempat parkir, dan mendapat kehormatan diantar oleh Boss nya Bandung sendiri, Daniel Mahendra dengan mobilnya yang nyaman. (Kayaknya aku udah hapal tuh nomor mobilnya, yang berciri khusus hehehe)

Kami pergi ke kantor travel Xtrans yang berada berapa meter saja dari Aston.  Wah kalau jarak segini, di Jepang TIDAK AKAN kami menggunakan mobil. Yang ada mobil tetap kami tinggal di hotel, jalan kaki, setelah selesai urusan, jalan kaki kembali ke hotel, lalu naik mobil menuju tempat lain. Tapi memang karena sekaligus jalan, kami seakan hanya pindah tempat parkir saja. Lah wong deket banget gitu jeh.  ( Kadang kala saya memang berpikir manusia-manusia Indonesia itu males! biar 100 meter kalau bisa naik mobil, pasti naik mobil. Dan aduuuuh manjanya, maunya diturunin persis depan gerbang, dibukakan pintu, dan tidak terburu-buru meskipun tahu bahwa ada banyak antrian mobil dibelakangnya yang sedang menunggu. Hal-hal seperti ini memang tidak dapat kita jumpai di Jepang. Dan aku lebih cocok dengan ala Jepang, dalam hal ini. Selama kita masih bisa berjalan, berjalanlah! Selama kita masih bisa buka pintu sendiri, bukalah! Masak musti nunggu pak supir turun, dan berputar membukakan pintu mobil kita?)

Ternyata “kloter” Bandung-Jakarta yang tercepat baru saja diberangkatkan, jadi kami mendapat tiket untuk yang jam 13:45. Setelah selesai mendaftar di Xtrans itu, kami pergi mencari toko DVD yang katanya murah itu untuk memuaskan sang putri surabaya. Setelah sampai, ternyata toko itu dekat dengan Gedung Filateli Bandung, hanya berjarak 300 meteran. Jadi kami menurunkan Lala di toko DVD, dan lanjut ke Gedung Fi;ateli itu. Eee ternyata sudah tutup. Karena hari Sabtu, jadi cuma sampai jam 12 siang saja. Padahal saat itu baru 12:30 an. Jadi kami putar haluan menuju Kantor Pos Besar, karena kalau kantor pos pasti terbuka terus.

Melewati Braga, Asia Afrika, kangen juga dengan suasana Bandung (yang sudah panas). Terakhir aku ke sini sekitar 3-4 tahun yang lalu dengan Riku dan dua mahasiswa Universitas Senshu. Waktu itu kami menginap di Panghegar. Dan sempat berjalan kaki ke mana-mana.

Sampai di Kantor Pos, saya dan Danny langsung belok ke kiri ke bagian kiosk yang menjual barang-barang filateli. Kebetulan kiosk yang terdekat pintu dijaga oleh seorang ibu keturunan. Saya langsung menanyakan perangko yang saya cari, yaitu Perangko “50th golden year of Friendship 2008 Indonesia-Japan”  50 tahun persahabatan Indonesia Jepang. Untung saja masih ada, dan dengan harga asli per sheetnya 25.000 rupiah. Tapi si ibu pinter banget, tahu saya suka koleksi dan tanya macam-macam jadi dia mengeluarkan koleksi perangko yang menggiurkan. Untuk saya tidak terlalu termakan rayuannya, kalau tidak bisa-bisa saya tidak jadi ke Yogya hihihi.

Selesai di Kantor Pos, kami menjemput Lala yang sudah selesai memborong DVD, lalu langsung pergi ke Xtrans Cihampelas. Sambil menunggu waktu keberangkatan, saya sempat masuk ke toko Oncom Raos yang berada di sebelahnya. Putar-putar melihat makanan kecil yang dipajang di situ. Ingat dulu kalau Papa bertugas ke Bandung, pasti pulang-pulang bawa satu kardus besar oleh-oleh dari Oncom Raos, atau Karya Umbi, atau Sus Merdeka, atau Coklat Braga, atau tape singkong alias peuyem. Tapi entah kenapa tidak ada satupun snacks itu yang menggoda saya untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Apakah saya berubah ya? Banyak makanan dari masa lampau saya yang rasanya sudah tidak menarik lagi di mata saya. Saya makan hanya karena memuaskan “mata” daripada memuaskan “perut”. Banyak yang rasanya juga sudah berbeda, atau jauh dari harapan. Hmmm jaman berubah memang, tapi saya juga merasa sedih jika masa lalu saya akan hilang begitu saja dengan adanya perubahan-perubahan itu. Dan tampaknya saya harus meneriakkan lagi di telinga saya sebuah kalimat yang saya tulis di komentar postingannya Lala, sebuah judul lagu dari Keane  “Everybody changing”… and everything is  changing.

You say you wander your own land
But when I think about it
I don’t see how you can

You’re aching, you’re breaking
And I can see the pain in your eyes
Since everybody’s changing
And I don’t know why.

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same.

You’re gone from here
Soon you will disappear
Fading into beautiful light
cause everybody’s changing
And I don’t feel right.

Tepat jam 1:45 saya dan Lala naik mobil yang akan mengantar kami ke Kartika Chandra. Mobilnya memang lebih besar daripada mobil yang saya pakai waktu berangkat ke Bandung dari Cipaganti Travel. TAPI…. goyangannya sama aja. Untung ada Lala, jadi bisa sambil ngobrol sampai ketiduran. Kalau tidak tidur sepertinya isi perut juga akan keluar deh. Apa sayanya yang terlalu manja selalu naik sedan (dan pesawat) ya? Next time ke Bandung, aku akan naik kereta aja ah…..

Well Bandung, terimakasih… aku sudah berburu persahabatan di sini, dan sudah menemukannya. Dalam arti yang sempit dan arti yang luas. And… I will come again! thats for sure.

 

Hari ke 6 – Pusat Orang Pintar

22 Feb

Tibalah hari ke dua di Bandung. Jam 7:40 saya dapat berita via sms, “Imelda san, Ohayo. Ini nomor HP saya, Barangkali diperlukan. Arigato. Nanang”, Nah, akhirnya saya bisa menghubungi beliau deh. Maklum pak Nanang ini orang penting, sayanya juga takut mengganggu. Jadi saya cuma mengirim via email, kalau bisa hari Jumat mau bertemu, dan tak lupa menyertakan no HP saya.

Ongkos menginap di hotel The Valley ini termasuk dengan Breakfast, yang tersedia di Restorannya dari pukul 7 sampai 10 pagi. Nah, saya menuju Restoran pukul 9:45. Saya pikir biarlah kalau tidak bisa sarapan lagi, saya akan “turun gunung” dan sarapan di dalam kota saja. Sambil membawa laptop untuk buka internet, ternyata saya masih bisa sarapan di situ. Menempati tempat duduk di tengah-tengah restoran, saya ambil bubur ayam dan kopi. Wah memang banyak juga variasi makanan untuk buffet breakfastnya. Soalnya saya terbiasa dengan menu Jepang yang disediakan hotel-hotel di Jepang, hanya ada roti dengan segala selai, dan sosis/daging-dagingan, yoghurt dan teman-teman, serta Japanese Breakfast, yaitu nasi/bubur, ikan bakar dan natto. Tapi di hotel ini, masak ada sate ayam, opor, gule, nasi uduk, soto mie juga. Aneh aja rasanya kalau makan pagi nasi opor hehhehe.

Sambil menikmati bubur ayam (sambil teringat bu Enny yang suka bubur ayam…. wah bu Enny terus-terusan masuk dalam pikiran saya jeh), saya buka laptop dan menyambung internet. Kalau di restoran ini ada wifinya. Saya masih bisa membuka TE (Twilight Express) tetapi malas membuat tulisan baru. Setelah membaca email yang masuk, akhirnya saya matikan laptop, dan kembali ke kamar. Sebabnya…. karena kenyang jadi ngantuk. Dan saya toh masih punya waktu banyak sebelum cek out hotel yang jam 12 itu. Sempat tidur sebentar, dan menanyakan pada Pak Nanang, apakah bisa bertemu waktu sholat jumat (Kami sama-sama beragama katolik). Dan dikatakan beliau masih di luar kantor, dan baru kembali pukul 1 siang.

Jam 11:45, saya menelepon front desk dan konfirmasi cek out dan meminta dicarikan taxi. Maklum Bell boynya yang kemarin bilang, bu… kalau mau panggil taksi kasih tahu 30 menit sebelumnya, karena mungkin agak sulit taksi untuk naik ke atas bukit. Conciergenya tanya apa saya perlu bantuan untuk mengangkat barang? Then saya bilang, PERLU. Masalahnya saya juga sulit mengangkat barang sambil naik tangga yang tak terhitung itu. Bisa menggeh-menggeh deh saya sampai di atas, hehehhe. Mana di atas bukitpun jika sudah tengah hari begini puanasnya minta ampun rek. Terus saya ngebayangin Tokyo yang dingin, hmmm jadi kangen Tokyo.

So, tujuan saya berikutnya kemana? Masih banyak waktu sebelum jam 1, jadi saya pergi ke hotel ke dua yang telah saya pesan untuk cek in. Yaitu Aston Tropicana. Tadinya bingung antara Aston Braga atau Aston Tropicana. Saya senang berada di daerah Braga, karena saya selalu pergi ke Braga Permai untuk membeli coklat, setiap saya ke Bandung bersama keluarga. Tapi katanya Aston Topicana ini masih baru, dan terletak di jalan Cihampelas. Jadi kepada supir Taksi saya minta dia mengantarkan saya ke Aston Tropicana. (Saya pikir waktu cek in nya pukul 12:00, setelah saya masuk kamar baru lihat di buku panduannya, bahwa waktu cek in pukul 2 siang, cek out pukul 12 siang. Nah ini persis hotel-hotel di Jepang)

Di Lobby saya disambut cewek-cewek cantik. Rasanya memang lain ya, jika disambut dengan senyuman dari perempuan-perempuan manis. Meskipun saya sendiri wanita. Soalnya di The Valley, semua petugas hotelnya laki-laki (dan tidak bisa dibilang jelek atau tidak ramah juga… tapi Valley memang kesannya kok “gelap”, sedangkan Aston ini “terang”). Jadi deh yang bawakan tas seret saya si mojang priangan yang senyumnya cukup bisa membuat tersepona. Sambil mengantar saya ke kamar dia bertanya,

“Ibu pertama kali ke Bandung?”
“Tidak, sudah beberapa kali, besok saya ke Jakarta”
“Ibu biasanya menginap dimana di Bandung?”
“Ohhh di Panghegar….” (Entah kenapa saya tidak bisa bilang, eh kemarin tuh saya nginap di the Valley hehehe)
“Ini kamarnya bu, selamat beristirahat” Dan Pintu tertutup… (tentu saja setelah “salam tempel”)

Oioi,,, dia tidak menyalakan AC, atau menjelaskan pemakaian remote control… heheheh meskipun sudah tahu sih, tapi sepertinya itu prosedur yang biasa dijalankan oleh petugas hotel. But, thats OK. Kamar standar di Aston memang terlihat lebih terang dengan nuansa warna krem. Hmmm benar-benar hotel standar, alias…biasa saja (atau standar saya terlalu tinggi ya?).

Nah, karena sudah 12:40, saya menelepon front desk dan minta dicarikan taxi. Karena si mojang priangan ini menyarankan telepon saja, daripada ibu cari sendiri di jalanan depan. Eeeee ternyata sodara-sodara, Taxi yang saya pesan tidak ada kabarnya sampai jam 1 lewat 20 menit. Tidak sabar saya menelpon ke front desk dan bilang, kalau saya sudah terlambat dan tolong carikan taxi apa saja deh. Aneh memang sistem pertaksian di Bandung ini. Sepertinya petugas hotel bergantung pada Taxi Bluebird saja. Tau gitu kan lebih cepat saya “turun ke jalan” dan mencegat taksi yang lewat di jalan cihampelas itu. Banyak gitu kok yang berseliweran. Dasar maunya manja! kena batunya deh.

Tidak lewat dari 5 menit, telepon berdering, “Ibu Imelda, taksinya sudah ada, tapi Gemah Ripah  bu”… yey masa bodo namanya apa… yang penting saya butuh kendaraan ke Pusatnya Orang Pintar dan Penting ini. Ya, tujuan saya berikutnya adalah berkunjung ke ITB. Tapi bukan ITB yang ini:(Institute Tambal Ban)

Melainkan ITB (Institute Teknologi Bandung) yang almamaternya Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno. Dan ternyata letaknya tidak begitu jauh dari Cihampelas, karena saya cuma membayar 10.000 rupiah saja untuk taxinya. Argo awal taxi Rp6.000 (hmmm dibanding deh dengan Jepang yang 710 yen. nyengir aja dulu deh…. Yang pasti di Jepang ngga bisa seenaknya naik taxi) .

Akhirnya saya bisa bertemu dengan dua tokoh dari ITB ini. Yang satunya tentu sudah tidak asing lagi di blogsphere dengan julukan Oemar Bakri dan yang seorang lagi adalah Dr Nanang T Puspito yang merupakan teman seperjuangan di Tokyo, awal-awal kedatangan saya di Tokyo, tahun 1992-1993. Pak Nanang ini amat pintar bernyanyi di Karaoke, dengan lagu “Yukiguni” atau “Osake yo”, lagu-lagu enka jaman baheula deh. Karena Pak Nanang masuk program doktor, jadi kurang fasih membaca kanji, dan selalu dibacakan oleh kami-kami yang masuk dari program S1-S2. Tapi semangat menyanyinya boljug deh. Biasanya anak-anak muda katolik yang berkumpul di gereja Meguro setiap sabtu, akan pergi makan bersama dan karaoke setelah misa pukul 5 sore. Kebiasaan ke karaoke ini hampir setiap minggu dilakukan, dan ini amat sangat membantu saya untuk bisa membaca kanji dengan cepat. Sayangnya saya baru bergabung dengan Mudika (Muda-mudi Katolik) di meguro, Pak Nanang sudah menyelesaikan program doktornya. Jadi waktu pak Nanang pulang ke tanah air, kami mengadakan pesta perpisahan dan mengantar ke Narita. Dengan demikian  saya sudah 15 tahun tidak bertemu pak Nanang ini (untung beliau masih ingat saya…yang dulu kurus itu loh hihih).

Saya juga senang karena akhirnya bisa bertemu dengan dosen ITB yang terkenal itu, Pak Grandis, yang meluangkan waktu untuk “Kopdar” di ruangnya pak Nanang.  Padahal Pak Grandis lagi sibuk-sibuknya mengurusi programnya. Saya baru tahu Pak Grandis ternyata Ketua Program tuh, pantas sibuk.(Nama lengkap programnya saya tidak tahu pak, dan saya pikir bukan wewenang saya menulis di sini, tanpa persetujuan bapak. Maklum kebiasaan di Jepang ternyata “Lupa” saya lakukan saat itu, yaitu tukar menukar Kartu Nama.) Pak Grandis juga sebetulnya yang menghubungkan saya dengan Pak Nanang, waktu membaca postingan saya yang mengenai gempa.

Karena ke dua bapak ini sibuk, saya juga tidak mau berlama-lama berada di kantor ITB ini, dan cepat-cepat pamit. Saya juga tidak sempat berjalan-jalan mengambil foto-foto kampusnya orang-orang terkenal ini. Soalnya dulu waktu saya daftar masuk Universitas, ngga berani daftar ke sini… mentok-mentoknya ke Parahyangan… dan itupun ngga keterima hihihi. Sayang juga teman sekelas saya di SMA, Keke Wirahadikusuma sedang berada di Perancis (kayaknya sih soalnya sulit untuk mengontak beliau).

Kembali ke Aston, saya mampir dulu ke giant supermarket di sebelahnya hotel untuk beli camilan. Sekembalinya ke kamar, nyalakan komputer dan konek internet. Dan dengan sedihnya saya mendapatkan bahwa saya tidak bisa membuka blog TE, blog saya sendiri. Bisa buka yang lain, tapi khusus untuk blog saya, dan blog pak Amin yang pakai hosting sama, tidak bisa dibuka sama sekali. mungkin masalah proxy atau apa. Sebeeeel banget deh. Jadi tidak bisa posting lagi, dan juga jadi malas untuk blogwalking. Jadi deh saya siesta, tidur siang. Tutup tirai (gordijn tuh kan bahasa Belanda… jadi saya hindari pemakaian kata ini), matikan semua lampu, dan ZZZzzZzZzzZZ…. uh Nikmat banget deh tidur siangku saat itu. Terbangun pukul 4, aku dengar suara hujan, buka tirai dan mendapatkan Bandung diguyur hujan deras sekali. Wow. saya buka semua tirai dan sambil tiduran, dan memandangi hujan. tranquilizer.

Tapi lama-lama kok saya jadi takut. Soalnya kadang-kadang terdengar suara ketawa-ketawa orang, dan suara bersin laki-laki di kejauhan yang periode bersinnya seperti teratur. Lalu saya pikir, masak saya mau menyiksa diri dengan  makan sendiri lagi malam ini. Tiba waktunya menghubungi DM , si Penganyam Kata,  Daniel Mahendra hihihi. Biarlah saya ganggu dia sekalian dari kesibukannya. Waktu saya telepon dia, ternyata beliau kaget dan berkata, “loh adikmu itu kan juga sedang menuju ke Bandung”. Hahahaha, ternyata Lala, akan mendarat tiba di Bandung dengan Kereta dari Surabaya jam 8 malam. Toh dia akan nginap di rumah saya besok, jadi kita bisa pergi bersama ke Jakarta besok pagi. Jadilah saya dan DM jemput sang Putri di Stasiun Bandung jam delapan, tapi keretanya di delayed (gaya amat deh bahasanya delayed, TERLAMBAT langsir aja susah-susah pakai bahasa linggish). Tentu saja surprise!!!

Dalam hujan akhirnya kami bertiga mencari makan soalnya sudah jam 9 tuh, dan cacing-cacing di perut sudah megap-megap minta makan (iya loh terakhir makan itu kan breakfast jam 10 pagi itu, yang membuat perut hampir meletus hihii). HANAMASA aja deh, kayaknya aku pernah denger bahwa Danny Boy ini suka hanamasa hihihi. (bener ngga sih Danny?)

Ngamuk deh makan di hanamasa, dan ternyata kita merupakan tamu terakhir di situ karena rupanya resto ini tutup jam 10 malam. Cepet banget ya tutupnya? Terima kasih Danny dianterin makan, dan saya malam ini juga ditemanin Lala tidur di hotel. Hari ini penuh acara kopdar deh bagi saya.