Arsip Kategori: Religious

Krayon Kuning Kecil

Ada sebuah dongeng yang ditampilkan berbentuk gambar animasi di chanel anak-anak NHK. Cerita itu berjudul Chiisana Kureyon ちいさなくれよん Krayon Kecil. Ceritanya begitu sederhana dan menarik, dan aku tak sadar aku menangis di akhir cerita. Hanya satu kali aku melihatnya tapi langsung terpateri dalam ingatanku. Setelah aku cari-cari ternyata cerita yang ditayangkan di televisi itu bersumber dari sebuah Picture Book berjudul Krayon Kecil itu.

cover picture book ini

Aku ingin sekali membacakannya untuk anak-anakku, jadi aku mencarinya di Amazon. Karena budget buku sedang diperketat, aku mencari buku bekasnya saja, dan ada! Setengah harga aslinya yang 1260 yen dan masih dalam kondisi bagus!

Sepotong krayon kuning yang sudah kecil terpakai, dibuang ke dalam tong sampah.
“Aku masih bisa dipakai loh! Masih bisa mewarnai!”…. dia  berteriak tapi tak ada yang mendengar.

“Baiklah, aku akan pergi sendiri. Aku masih…masih bisa berguna!”

Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan sepasang sepatu kanvas yang bergambarkan anak ayam. Saking sering dicuci, gambar anak ayam itu terlihat kusam.

“Sini, biar aku membuat kalian lebih cerah lagi” dan si Krayon mewarnai gambar anak ayam di sepatu itu.

“Terima kasih Krayon. Kami menjadi bagus kembali”

Dan Krayon pergi menjauh lagi dengan badan yang semakin kecil.

Di depan pintu pagar, Krayon bertemu mobil-mobilan kuning yang sudah pudar warnanya.

“Hai, kenapa kamu di sini?”
“Aku sudah tidak baru dan tidak menarik lagi, jadi majikanku tak lagi bermain bersamaku”

Krayon kemudian mewarnai mobil-mobilan itu dengan badannya sehingga menjadi seperti baru kembali.

“Terima kasih Krayon” kata mobil-mobilan pada Krayon yang menjadi semakin kecil.

Krayon sampai di pinggir jalan di bawah pohon rindang. Karena matahari bersinar terik, dia berteduh di bawah pohon. Tak lama seorang anak laki-laki lewat dan melihatnya.

“Wah ada krayon!” diambilnya krayon itu…”Yah sudah kecil sekali” sambil membuang krayon itu kembali. Krayon itu membentur sebuah batu dan dia menangis.

“Krayon, sakit ya?” tanya batu kecil.
“Ya, abisnya dia mengatakan aku chibi (kecil) dan membuangku”
“Tapi kamu bagus. Warnamu bagus begitu. Aku ingin punya warna seperti kamu.”kata batu kecil yang warnanya entah putih, entah abu-abu…sungguh warna yang aneh.

“Kalau begitu, biar aku mewarnaimu” dan dengan sekuat tenaga Krayon mewarnai batu itu sehingga menjadi batu kuning. Dan Krayon kecil itu menjadi sebesar butir nasi 🙁

“Terima kasih Krayon. Tapi kamu jadi sedemikian kecil….. Maaf ya”
“Tidak apa-apa. Aku biarpun kecil masih berguna. Aku senang. Aku pergi dulu ya….”

Krayon berjalan lagi….

Senja menjelang dan di langit bertaburan bintang.

“Bintang itu indah ya. Majikanku dulu selalu memakaiku waktu menggambar bintang. Karena itu rasanya aku dna bintang begitu akrab.”

Dan saat itu Krayon melihat ada satu bintang yang kurang terang cahayanya.

“Ah, aku ingin mewarnai bintang itu. Meskipun aku sudah kecil begini, jika kupakai seluruh badanku pasti bintang itu bisa lebih cerah bersinar”

Dalam badan Krayon yang begitu kecil,  semangatnya meluap-lupa begitu besar.

“Aku akan pergi ke bintang sana” Dipandanginya bintang pudar itu, dan dia terbang lurus pesat menuju bintang itu…..

Chiisana Kureyon
Karangan : Shinozuka Kaori Gambar : Yasui Tan
Cetakan pertama Januari 1979. Cetakan ke 26 Juni 2001
Kin no Hoshisha

diceritakan kembali oleh Imelda Coutrier

 

Krayon dan sepatu bergambar anak ayam

 

Ahhhhh…. kalian harus melihat sendiri anime itu! Benar-benar mengharukan. Krayon memakai seluruh badannya untuk menerangi bintang itu!

Untuk bisa berguna memang kita harus merelakan semuanya, tanpa ragu.

Bisakah aku seperti krayon itu? Atau seringkah aku membuang “krayon-krayon kecil” dalam hidupku?

Mana kelingkingku?

***Posting ini adalah isi Kebaktian Paskah Oikumene KMKI yang dilaksanakan hari Sabtu, 25 April lalu, di gereja Anselmo, Meguro. ***

Dua jari kelingking yang hanya separuh, rajah bak baju menempel abadi, itu hanya penampilan luar yang tidak bisa berubah dan tak bisa diubah siapapun juga. Tapi Hati dan Keinginan hidup yang pernah ingin dibuang, tidak ada yang tahu perubahannya kecuali dia dan Tuhannya.

dua kelingking yang hanya separuh dan rajah di badan

Adalah seorang Suzuki Hiroyuki yang memukau 70-an orang Indonesia di Gereja Meguro, Sabtu lalu. Dengan semangat yang diselingi usapan air mata, dan sesekali gelak tawa mengalirlah cerita mengenai kekuatan “Sang Pemberi Hidup” pada hidupnya.

Pada usia 17 tahun memasuki dunia hitam Yakuza, gangster di Jepang. Dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa untuk menjadi Yakuza, seseorang harus mengorbankan separuh jari kelingkingnya. Belum lagi tato sekujur badan. Tidak ada rasa sakit bagi Yakuza, karena hidupnya harus TEGA untuk kekerasan. Kalau perlu membunuh orang.

Dan selama 17 tahun, Suzuki muda ini menjalani hidup yang seenaknya, sampai membuang istri dan anaknya. Sampai saat 17 tahun sesudahnya, dia diusir dari kelompoknya.  Tidak ada tempat berlindung. Dia dikejar-kejar oleh musuhnya yang lain karena ada hutang juga. Dia tidak punya apa-apa lagi, karena dia juga telah memutuskan hubungan dengan istrinya. Tidak ada saudara, tidak ada uang, tidak ada pekerjaan. Siapa yang mau mempekerjakan seorang “bekas” Yakuza?  Salah-salah orang yang mempekerjakan dia akan dibunuh dan dijadikan target juga oleh gerombolan Yakuza yang lain.

Salah satunya jalan adalah bunuh diri. Tapi saat itu dia bertemu dengan seorang pendeta. Yang memberitahukan bahwa ada “Yesus” yang telah mati untuk dia, orang yang tidak berguna itu. Jika kamu percaya, maka apa saja akan bisa dilampaui. Dan ingat… “Yesus tidak pernah mengatakan hidupmu akan MUDAH, tapi bahwa engkau akan diselamatkan”.

Siapa sangka dengan penampilan seperti ini, beliau adalah mantan Yakuza?
Siapa sangka dengan penampilan seperti ini, beliau adalah mantan Yakuza?

Tidak mudah membuang masa lalu. Sekitar 17 tahun yang lalu, dia memanggul salibnya sampai ke Hokkaido. Dia ingin merasakan penderitaan Yesus sendiri. Sambil berjalan dan mendengarkan, bertukar pikiran dengan umat Kristen Jepang yang sangat sedikit.

Di suatu tempat dia berjumpa dengan seorang nenek berusia 86 tahun yang beragama Kristen. Lalu dia bertanya pada si Nenek,

“Nek, apa yang kamu rasa paling sulit dalam hidup beragama?”

Si Nenek berkata:

“Saya percaya Tuhan. Percaya saja itu mudah. MUDAH sekali. Tapi yang sulit adalah… TERUS PERCAYA.”

Sebagai umat baru, yang baru menerima Yesus, atau yang baru menganut agama, biasanya semanagat masih menyala-nyala. Tapi setelah sekian lama, banyak mengalami hal-hal sulit, yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Di situ lah tantangan untuk TETAP percaya bahwa Tuhan itu ada. Begitu mudah kita akan jatuh lagi ke dalam Ketidakpercayaan kita.

Saya tidak bisa menuliskan kembali kesaksian Pendeta Suzuki ini semuanya. Ada cerita yang lucu dikemukakannya, ketika dia memanggul salib, dia diminta untuk berbicara dalam acara agama kristen di televisi. Dia pikir, acara itu disiarkan hari Minggu, pagi lagi, tentu tidak ada teman yakuza yang akan menonton acara religius seperti itu. TAPI dia salah…. ternyata ada orang yang tahu, dan seluruh dunia yakuza tergoncang. Apalagi si penagih hutang yang akhirnya mendatangi dia. Saat itu dia sudah hidup bersama istri dan anaknya kembali. Betapa takutnya dia menghadapi kawanan Yakuza itu, tapi ternyata Tuhan melindungi dia, melalui tangan anak kecil, anaknya sendiri, yang tidak takut-takut, membelai kepala botak si Yakuza, dan bermain di sebelahnya. Sampai si Yakuza itu malah mengeluarkan dompet dan memberikan uang 20.000 yen untuk uang saku si anak. Tuhan bekerja!

Suzuki Sensei ini juga merupakan satu-satunya orang Jepang, Kristen yang diundang dalam acara makan pagi kenegaraan di Washington DC. Presiden Clinton hanya berpidato 5 menit.  Pendeta Billy yang terkenal itu hanya punya plot waktu 5 menit. Tapi Pendeta Suzuki ini mendapat waktu 15 menit + termasuk terjemahan. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak bisa masuk Amerika karena pernah di”pulangkan” karena tidak bervisa waktu ke Hawaii.

Banyak buku dan ada sebuah film yang dibuat berdasarkan jalan cerita hidup Pendeta Suzuki. Sayangnya masih berbahasa Jepang.

Kai dan Banner

Saya merasa beruntung bisa mendengarkan langsung kisah hidupnya, hari Sabtu yang lalu. Meskipun dalam hujan, saya berhasil datang ke gereja bersama Kai dan Riku naik bus dan kereta. Karena hujan, hanya 70 umat kristen dan katolik Indonesia berkumpul di Meguro.Tapi dengan sukses 70 orang ini menghabiskan jatah makan 200 orang, makan nasi kare, bubur ketan hitam dan masih bisa membawa bekal pulang ke rumah. Ya kami semua bisa membawa pulang bekal makanan jasmani, tapi yang terutama bekal makanan rohani yang memperkuat iman untuk TETAP percaya pada TUHAN.

Petinggi KMKI Pdt Atsumi, Pdt Suzuki, Rm. Harnoko, Rm Leo, Pastor Caleb
Petinggi KMKI Pdt Atsumi, Pdt Suzuki, Rm. Harnoko, Rm Leo, Pastor Caleb

DVD dan Buku-buku karangan Pdt Suzuki:

Undangan KMKI

Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia, disingkat KMKI, mengundang umat Kristen yang berdomisili di Tokyo dan sekitarnya untuk merayakan Paskah Bersama KMKI 2009, pada tanggal 25 April 2009, pukul 17:00 – 20:00 JST. Pengkotbah adalah seorang Jepang yang “bangkit” dari dunia kejahatan dan menjadi seorang pendeta. Beliau bernama Pdt Suzuki Hiroyuki.

Kotbah tentu saja dilakukan dalam bahasa Jepang, tapi jangan takut, Pdt Surya dari GIII akan menerjemahkan langsung untuk Anda semua. Tempat kebaktian oikumene ini di gereja katolik Anselmo, Meguro, 3 menit berjalan kaki dari stasiun Meguro. Datang dan dengarkan kisah Pdt Suzuki ini! (Sssst saya ketua panitia nih, jadi dukung saya ya …. saya bukan caleg kok hehehhe)

Pdt. Suzuki Hiroyuki masuk ke dunia yakuza sejak umur 17 tahun dan hidup semaunya sendiri selama 17 tahun. Melalui pertobatan yang drastis, beliau memulai hidup yang baru sebagai penginjil. Bersama dengan rekan-rekan bekas yakuza,  beliau melayani sebagai penginjil di grup penginjilan bernama “Mission Barabas”. Sekarang Pdt. Suzuki melayani di Gereja Siloam Christ sebagai gembala dan banyak melayani di dalam dan luar negara Jepang.

(terima kasih pada Sdr Verawati yang telah membuat pamflet ini)

Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia atau disingkat KMKI, merupakan wadah kegiatan umat Kristen interdenominasi (oikumene) di Jepang. Anggota KMKI adalah orang Indonesia (baik WNI/WNA) yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya dengan profesi pegawai negeri/swasta berserta keluarganya, pelajar/mahasiswa, pemagang di perusahaan Jepang dan suami/istri dari warga Jepang. Meskipun belum terdata secara jelas jumlah anggota merupakan jumlah anggota dari masing-masing gereja yang ada di Tokyo, Jepang yaitu sekitar 1500 orang, dan jumlah anggota aktif yang hadir dalam acara Natal tahunan sekitar 400 orang.

Adapun gereja yang tergabung dalam KMKI adalah :

1. Gereja GIII (Gereja Interdenominasi Injili Indonesia)

Gembala : Bapak Pendeta Yasuo Atsumi

Ketua Majelis : Bapak Richardo Sihombing

2. Gereja Agape dengan nama resmi adalah IFGF-GISI (International Full Gospel Fellowship / Gereja Injil Seutuh Internasional)

Gembala : Pastor Caleb Supratman

Gereja : Narimasu (Tokyo), Oarai, Gunma

3. Gereja Katolik berbahasa Indonesia

Gembala : Harnoko CICM

Gereja : St. Ignatius Yotsuya; St. Anselmo Meguro, Oarai

Kegiatan KMKI adalah :

1. mengadakan acara KKR minimal sekali setahun

2. mengadakan Kebaktian Padang (di luar ruangan) sekali setahun

4. mengadakan Perayaan Paskah/ Natal Bersama

5. berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat yang diadakan Kedutaan Besar Republik Indonesia

13 Tahun

Hari ini hari Paskah, Hari besar agama Kristen yang selayaknya diperingati sebagai hari yang jauh lebih berharga, lebih besar maknanya daripada hari Natal. Aku ingat waktu SMA, pernah dimarahi suster kepala sekolah karena OSIS lupa memberikan selamat paskah kepadanya dan suster-suster di biara. “Kalian boleh lupa memberi selamat Natal, tapi jangan pernah lupa memberikan selamat Paskah. Paskah jauuuuh lebih penting daripada Natal”. Sambil meminta maaf kami memberikan selamat Paskah pada suster-suster di biara. Ah masih terbayang wajah Ketua Osis saat itu, Mutiara S yang pucat pasi.

Ya, tanpa ada Kebangkitan, kita sebagai orang kristen akan tetap mati, berkubang dalam dosa, tidak mendapatkan keselamatan. Saya bisa membayangkan, dan saya harap teman-teman juga bisa membayangkan, bagaimana GIRANG dan SENANGnya jika seseorang yang kita kasihi yang meninggal 3 hari sebelumnya, tiba-tiba BANGUN, BERDIRI dan HIDUP di hadapan kita? Meskipun kaget, kita pasti akan bersorak-sorak dan akan menyambutNya, memelukNya, dan berusaha berada dekat kakiNya …selamanya, sampai kita yakin bahwa Dia itu benar-benar hidup dan bisa disentuh dipandangi dan dan didengar. Coba bayangkan jika Dia itu adalah kekasih hati, orangtua, adik, kakak, orang terkasih yang sudah meninggal?….

Saya tidak mau memberikan kotbah Paskah, karena saya tidak berwewenang dalam hal itu. Saya hanya ingin menuliskan betapa kita harus mensyukuri HIDUP yang diberikan Tuhan pada kita, manusia, satu per satu. Dan tentunya HIDUP yang diberikan Tuhan pada kekasih-kekasih kita, sahabat dan teman-teman kita. Ya, juga KAMU, yang sedang membaca tulisan saya ini. Saya bersyukur karena KAMU hidup, dan saat ini terhubungkan hatinya melalui dunia  maya yang sebetulnya, menurut saya, sudah mulai pudar “kemayaan”nya.

13tahun

Ya, saya juga mensyukuri hidup saya, setelah saya menderita 10 hari terbaring kesakitan di kamar RS, pada usia 13 tahun. Masih teringat jelas di benak saya, keceriaan Papa, Mama, dan Oma Poel yang mendapati aku tersenyum lega, di siang hari Minggu saat itu. Tersenyum lega karena merasa ringan dan dapat bernafas dengan leluasa setelah semua selang-selang yang membantu pemasokan oksigen ke dalam tubuh saya dilepaskan. Oma Poel yang menangis sesegukan karena dipikirnya saya sudah tiada.

Pagi hari itu, saya bangun dan seperti biasa membereskan kamar tidur. Saya lupa mungkin waktu itu tidak ada pembantu, atau hanya satu, sehingga saya membereskan kamar sendiri. Biasanya kalau ada pembantu saya tidak membereskan kamar. Tapi saya ingat, saat itu pas saya membungkuk untuk menyapu kolong lemari, saya merasakan kesakitan yang amat sangat di perut sebelah kanan. Sampai saya sulit berdiri. Dengan tertatih-tatih saya pergi ke mama, dan menceritakan bahwa perut saya sakit. Waktu itu saya memang reguler ke RS setiap minggu untuk menerima suntikan alergi di Dr. Karnen. Oleh mama, saya disuruh pergi ke dokter Karnen.  Saya bersiap pergi, dan karena terbiasa pergi sendiri ke dokter, saya berjalan dengan tertatih-tatih di depan rumah saya, menuju jalan besar untuk mencari bajaj. Tapi tak lama, saya dipanggil kembali, karena mama mau mengantar saya ke dokter. “Mana mama tega melihat kamu kesakitan begitu ke rumah sakit sendiri.”

Kami berdua pergi ke dokter Karnen yang selalu praktek pagi. Waktu itu sekitar pukul 8 pagi. Karena bukan jadwal berobat, saya harus menunggu waktu kosong di sela-sela tidak ada pasien yang datang. Begitu dokter memeriksa, dia langsung merujuk ke dokter bedah. Dan saat itu juga saya pergi ke dokter bedah, dan divonis “Appendix Acute”.

“Sakit di sini?”, sambil ditekannya perut sebelah kiri.
“Tidak dok”
“di sini?”, perut sebelah kanan. Dia tak perlu menunggu jawaban karena saya sudah berteriak. Demikian juga ketika kaki kanan ditekukkan. Amat sakit.

Karena waktu itu aku masih anak-anak, dokter tidak memberitahukan hasilnya padaku. Dia menjelaskan di sebelah tirai pada mama, bahwa aku harus segera dioperasi. Sedikit marah dia berkata,

“Saya heran kenapa selama ini tidak ada keluhan sakit? Kenapa musti sampai separah ini, baru datang?”
“Dia anak yang tahan sakit dok. Tidak pernah mengeluh sakit, bahkan waktu datang bulanpun tidak. Bagaimana saya tahu?”
Ya memang…. saya sebetulnya sering merasa sakit, karena waktu itu saya termasuk lemah badannya. Berdiri lama sedikit, langsung berkunang-kunang karena darah rendah. Tapi setiap sakit perut, saya abaikan.

“Ya sudah. Ibu kasih pengertian saja pada anak ibu, bahwa dia harus di operasi. Supaya jangan takut.”
Uhhh dokter, saya juga bukan orang bego, saya bisa mendengar semua percakapan kamu di sebelah tirai, dan saya juga tahu apa itu “operasi”. Seorang pesakitan yang tidur di atas dinginnya tempat tidur besi, menunggu badannya diiris-iris selama dia tertidur.

Mama mendatangi saya, dan berkata, “Imelda, kamu harus dioperasi. Tidak usah takut ya.”
“Ya ma, aku tahu kok. Aku ngga takut. Bahkan aku bisa membanggakan pada teman-teman bahwa aku pernah dioperasi. Kan asyik…”
dan mama menangis…..
Mungkin dalam hatinya berpikir, “Ah nak kamu tidak tahu bahwa operasi juga ada kemungkinan gagal, dan aku tidak bisa bertemu lagi dengan kamu….”
Dan memang dokter memberitahukan, jika terlambat dioperasi, usus buntu itu akan pecah dan meracuni tubuh, dan…. good bye.

Saat itu, aku berusia 13 tahun. Seorang anak pertama yang masuk masa puber, dan merasa hidupnya tidak berguna. Setiap kemarahan orangtua masuk dalam hati dan merasa bahwa orangtua lebih menyayangi adik-adik. Tidak ada kasih sayang untuk si Tua ini. Dan sebetulnya waktu itu aku sering menulis puisi tentang kematian. Si 13tahun Imelda ini ingin mati. Karena ada satu rahasia di sekolah yang sulit untuk ditanggung sendiri. Yang menyangkut hubungan seorang guru dan murid. Kenapa kok harus aku yang mengalaminya.

Jadi dengan senyam-senyum aku masuk ke kamar rawat-inap untuk mempersiapkan operasi. Mama pulang memberitahukan papa dan adik-adik, mengatur rumah. Operasi dijadwalkan pukul satu siang, karena saya sudah sempat makan pagi sebelum ke RS. Seandainya belum makan, bisa saat itu juga. Dan di kamar, saya tidak punya rasa takut sama sekali, bahkan tidak takut apakah akan bangun lagi atau tidak. Karena matipun boleh kok saat itu.

Operasi berjalan selama 4 jam. Hanya sepotong usus buntu, tapi sempat merepotkan para dokter. Karena begitu perut saya “dibelah”, si pengganggu itu pecah, dan nanahnya mengotori usus sekitarnya. Terpaksa dokter harus mencuci usus yang panjang itu deh (hiperbolis amat sih…. tapi mungkin begitu situasinya, saya tidak tahu, karena saya tertidur saat itu). Dokter yang bertugas amat sangat teliti, sampai usus buntu yang membengkak sebesar kepalan tangan dan pecah itu, dia jahit kembali. Dimasukkan ke dalam toples dan diperlihatkan padaku… Sayang waktu itu jiwa jurnalisku belum ada, sehingga tidak mengambil foto (waktu itu juga belum ada digital camera) dan aku tidak berani membawa pulang toples itu sebagai kenangan…
Ada satu kalimat dokter yang selalu kuingat sampai saat ini, “Jika operasi terlambat satu jam saja….” Yah Imelda hanya tinggal nama.

SIALAN… satu kata yang kuucapkan begitu aku sadar dari obat bius. Sakit yang harus kutanggung sesudah operasi 10 kali lipat dari rasa sakit sebelum operasi. HUH, tahu begini aku tidak mau dioperasi. Dan kondisi harus tidur berhari-hari di atas tempat tidur, tanpa bisa membalikkan tubuh, tanpa bisa mandi, tanpa bisa ke wc, tanpa bisa makan yang namanya “Makanan” (bubur cair bukanlah makanan!), tanpa bisa ke sekolah…. amat sangat menyebalkan.

Seminggu lebih kondisi ini berlanjut. Perutku semakin besar, melembung bagaikan ibu hamil 9 bulan. Penyebabnya, gas tidak bisa keluar. Selain itu saya sempat muntah darah, yang diperkirakan lambung mengalami iritasi. Karena jika muntah membutuhkan energi, maka dipasanglah selang langsung ke lambung dari hidung. Dan uhhhh selang itu cukup besar, dan sakit waktu dimasukkan lewat hidung! Apalagi hidungku sensitif sering bersin karena alergi …hiks… Memang dengan demikian suster dapat menyedot darah dari lambung lewat selang, tapi sama sekali tidak nyaman bagiku.

Kondisi badan yang lemah dengan perut besar, belum bisa makan hanya cairan infus saja yang masuk, selang atas bawah (kateter) yang mengganggu membuat kondisi fisik tambah buruk. Dan hari Sabtu malam hari penafasan mulai sulit. Saya berkata pada papa yang menjaga di samping tempat tidur, “Pa, aku capek… ngantuk. Mau tidur. Tapi kalau papa lihat aku tidak bernafas, papa bikin nafas buatan ya?”
“Loh kamu susah nafas?”
“Iya…”

Langsung papa memanggil suster, dan saya diberikan oksigen. Tambah lagi kesengsaraan saya, karena oksigen yang berupa selang yang ditempelkan di hidung ditambah masker… entahlah yang pasti saya lega bisa bernafas, tapi tidak nyaman dengan tambahan alat-alat yang mengganggu muka saya.

Dengan kondisi seperti ini, dokter jaga datang dan merasakan heran atas perkembangan mundur badan saya. Dan sebagai alternatif maka pagi hari akan diambil Xray kondisi perut, seandainya ada yang tidak beres maka mungkin perlu dioperasi kembali. What??? operasi kembali? Oh NO.

Pukul 4 pagi, papa masih di sampingku dan berbisik, “Imelda, papa mau menangis melihat kamu begini. Tapi kalau aku menangis, mama (yang sedang duduk di kursi) akan bertambah sedih dan panik. Jadi papa tahan. Kita berdoa saja ya. Nanti pagi, papa panggil pastor untuk sakramen perminyakan. Jangan kamu pikir kamu akan mati, meskipun itu sakramen untuk orang sakit. Bukan berarti dengan menerima sakramen itu kamu akan mati, bahkan mungkin dengan sakramen itu kamu bisa sembuh. Opa dan Oma Bogor pun pernah dua kali menerima sakramen itu, dan mereka masih hidup kan?”
Saya hanya bisa berkata lirih, “Iya pa”, dan tertidur sambil mendengar doa papa di sebelah telingaku.

Jam 5 lebih, alm. pastor Van Der Werf  SJ datang dan dengan terburu-buru memberikanku sakramen perminyakan. Kenapa terburu-buru? Ya, karena bruder dan suster sudah menunggu dengan tempat tidur dorongnya untuk membawa saya ke ruang Xray.

Setelah Xray, entah pemeriksaan apa lagi, sambil menunggu hasil dan kedatangan dokter yang bertanggung jawab… waktu berjalan lambat. Antara tidur dan tidak, saya menunggu kedatangan dokter.  Sungguh seandainya saja ada yang memotret saya pada saat itu, mungkin itu menjadi foto terburuk dalam sejarah hidup saya. Seorang anak kurus pucat dengan perut besar, dengan berbagai selang di tubuhnya, tentu bukan pemandangan indah untuk dipandang.

Begitu dokter datang, entah apa yang menjadi keputusan dokter, semua selang yang menuju ke maag dicopot, tinggal oksigen. Dan diberitahu juga bahwa dari hasil Xray, tidak perlu operasi lagi. Tinggal tunggu sang “kentut” maka semua beres… Baru pertama kali dalam hidup, si kentut itu memegang peranan amat penting.

Karena selang yang sudah berapa hari mengganggu dicopot, langsung saya merasa lega dan tersenyum. Senyuman itu terus mengembang setelah dokter pergi, dan papa memanggil oma Poel yang menunggu di luar. Jadi begitu oma Poel sampai di pintu, dia sebetulnya sudah memikirkan kabar buruk. Apalagi dokter bergegas keluar dan papa memanggilnya buru-buru. Dan dia juga ingat bahwa saya pernah mengatakan bahwa selama sakit selalu terngiang lagu “Aku berjalan di kebun”. (In the Garden, Jim Reeves etc)

Aku berjalan di kebun
waktu mawar masih berembun
dan kudengar lembut suara
Tuhan Yesus memanggil

Dan berjalan aku dengan Dia
dan berbisik di telingaku
bahwa Aku adalah milikNya
Itu saat bahagia….


Dipikirnya… It’s the time. Maka ketika Oma Poel masuk kamar, dan melihat saya tersenyum, dia tidak bisa menahan tangisnya. Kami berdoa untuk segala proses yang Tuhan anugerahkan waktu itu. Dan saya pun tahu, Saya masih diberi HIDUP olehNya, untuk lebih berkarya lagi sesuai dengan kapasitasku. Karena pengalaman itulah, umur 13 tahun merupakan moment penting bagi saya sehingga saya bisa menjadi seorang Imelda seperti yang sekarang ini. Saya mensyukuri HIDUP yang telah Tuhan berikan selama ini.

Selamat Paskah!
12 April 2009

imelda emma veronica coutrier

Catatan:

Tulisan ini bisa terangkai pagi ini terutama karena aku merasa aku belum siap dan merasakan kegembiraan Paskah tahun ini. Sambil merenungi peristiwa yang aku alami berpuluh tahun yang lalu, aku juga ingin menuliskan ini sebagai pesan untuk saudaraku, Melati san a.k.a Mariko san dan suaminya, Hironori san yang memutuskan untuk menerima sakramen permandian dan menjadi pengikut Yesus hari ini, di gereja katolik St Ignatius Yotsuya. Tinggalkan hidup yang lama, mari sambut hidup yang baru yang sudah ditebus Yesus di kayu salib. Dia rela mati menanggung dosa-dosa kita manusia yang tidak tahu berterimakasih.

Selamat saudaraku Katarina-san dan Fransisco-san!

( To Samsul, this is the answer for your question. “kok aku belum menangkap mengapa harus 13 tahunnya yah bu?”)

You Are My Sushine

The other night, dear, as I lay sleeping
I dreamed I held you in my arms
But when I awoke, dear, I was mistaken
So I hung my head and I cried.

You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You’ll never know, dear, how much I love you
Please don’t take my sunshine away

I’ll always love you and make you happy,
If you will only say the same.
But if you leave me and love another,
You’ll regret it all some day:


Aku  ingin berbagi sebuah email dari blog-multiplynya Romo Pujasumarta, Uskup Bandung, yang kuterima dalam rangka Paskah. Sudah berkali-kali aku baca cerita sharing ini, dan setiap kali aku menangis. Biarlah aku pasang di blogku ini, sehingga bisa aku baca setiap kali putus asa dan merasa sedih. Yes, you all are my sunshine!

PASKA KEBANGKITAN TUHAN

Allah menghendaki Yesus Kristus Putera-Nya, tetap hidup selama-lamanya. Daya hidup yang tersimpan di dalam-Nya tidak dimusnahkan oleh kematian. Namun sebaliknya diabadikan oleh Kasih Ilahi, supaya daya hidup itu memberdayakan hidup kita sehingga semakin serupa dengan hidup-Nya.

MUJIZAT NYANYIAN SEORANG KAKAK

“YOU ARE MY SUNSHINE”

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA . Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya di perut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih di perut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen, “Bersiaplah, jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi!”

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus!

“Mami, aku mau nyanyi buat adik kecil!” Ibunya kurang tanggap.

“Mami,  aku pengin nyanyi!” Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.

“Mami,  aku kepengin nyanyi!” Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil.

Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.

Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup! Ia  dicegat oleh suster di depan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!. Karen ragu-ragu. Tapi, suster…. suster tak mau tahu. Ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya, “Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!” Suster terdiam menatap Michael dan berkata, “Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!”

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya … lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring, “You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey” Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya. “You never know, Dear, how much I love you. Please, don’t take my sunshine away.”

YOU ARE MY SUNSHINE

By Johnny Cash

(Cfr. http://www.youtube.com/watch?v=FafLnokzeNo)

The other night, dear, as I lay sleeping
I dreamed I held you in my arms
But when I awoke, dear, I was mistaken
So I hung my head and I cried.

You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You’ll never know, dear, how much I love you
Please don’t take my sunshine away

I’ll always love you and make you happy,
If you will only say the same.
But if you leave me and love another,
You’ll regret it all some day:

You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You’ll never know dear, how much I love you
Please don’t take my sunshine away

You told me once, dear, you really loved me
And no one else could come between.
But not you’ve left me and love another;
You have shattered all of my dreams:

You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You’ll never know dear, how much I love you
Please don’t take my sunshine away

In all my dreams, dear, you seem to leave me
When I awake my poor heart pains.
So when you come back and make me happy
I’ll forgive you dear, I’ll take all the blame.

You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You’ll never know dear, how much I love you
Please don’t take my sunshine away

Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan, “Terus, terus, Michael! Teruskan, Sayang!” bisik ibunya. “The other night, dear, as I lay sleeping, I dream, I held you in my arms” Dan sang adik pun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur. “I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same!” Sang adik kelihatan begitu tenang … sangat tenang.

“Lagi, Sayang!” bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan … adiknya kelihatan semakin tenang,  relax dan damai … lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian, si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan, “How much I love you”.

Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil “Michael” untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagi-Nya, bila Ia menghendaki terjadi.

Allah menghendaki Yesus Kristus Putera-Nya, tetap hidup selama-lamanya. Daya hidup yang tersimpan di dalam-Nya tidak dimusnahkan oleh kematian. Namun sebaliknya diabadikan oleh Kasih Ilahi, supaya daya hidup itu memberdayakan hidup kita sehingga semakin serupa dengan hidup-Nya.

Selamat Paska!

Bandung, 12 April 2009

+ Johannes Pujasumartaa

Uskup Keuskupan Bandung

Ho ho ho … Merry Christmas

Saya mengucapkan Selamat Natal pada semua teman-teman yang merayakannya.

Tanggal 25 pagi, aku bangun jam 6 pagi (padahal bobo cuman berapa jam tuh? 3 jam?) Dan membersihkan rumah. Baru aku lihat ternyata satu ekor ayam panggang kemarin malam ludes habis dimakan Gen …whooaaaa… seneng juga sih, daripada nyisa. Memang ku tidak sediakan nasi, jadi musti makan pakai roti atau macaroni…dasar Gen perut Jawa eh Japan hahahhaa.. kurang kenyang tanpa makan nasi. Tapi berhubung aku udah ketiduran sebelum dia selesai makan, ngga mau sengaja nyari nasi (padahal ada nasi loh di rice cooker… suamiku ini kalo ngga disediakan di depan matanya, ngga mau ambil sendiri sih hihihi).

Buang sampah-sampah, aku mandi dan siap-siap untuk ke gereja. Sebetulnya hari ini tanggal 25 itu bukan hari libur di Jepang, tapi karena dia ada jatah untuk libur satu hari pada hari biasa sebagai ganti lembur, maka aku minta dia untuk ambil libur pas tanggal 25. Aku mau ke gereja!. Padahal Riku harus ke TK, ada acara penutupan semester yang hanya sampai jam 10:30. Sedangkan misa yang mau aku ikuti itu mulai jam 10:30. Jadi harus ada yang jemput Riku.

Pagi-pagi sebelum ke TK, Riku sempat membuka kado natalnya yang ditaruh di bawah pohon. Dia senang sekali mendapat monster-moster kelengkapan dari boneka ultramannya.

Jam 9 lewat sedikit aku antar Riku ke TK naik sepeda, kembalikan sepeda ke parkiran di apartemenku lalu langsung pergi ke Kichijoji naik bus. Gereja yang aku tuju adalah Gereja Kichijoji yang dikelola ordo SVD. Dekat dari rumah hanya 20 menit naik bus, tapi memang sulit untuk kemana-mana membawa 2 orang balita sendirian. Jadi aku menikmati sekali perjalanan untuk mengikuti misa pagi ini. Belum juga jam 10 pagi, aku sudha sampai di Kichijoji. Berjalan di bawah bayangan gedung menuju ke gereja sempat membuatku menggigil. Sebelum masuk gereja, kami dibagikan fotocopy keterangan kolekte tahun ini yang terkumpul akan disalurkan ke mana saja. Terutama untuk anak-anak di Rwanda, dan negara-negara Africa.

Gereja pagi itu penuh, tapi 90% dari umat yang datang adalah kaum lansia, atau ibu muda dengan anak. Jarang sekali melihat laki-laki muda. Ada seorang seorang laki-laki bule yang menggendong anak bayi dan menggandeng anak balita waktu menyambut komuni. Ya, semua laki-laki/perempuan muda sedang bekerja di kantor saat itu, termasuk juga Melati san yang sebetulnya ingin sekali mengikuti misa.

Sebetulnya aku tidak begitu suka ikut misa berbahasa Jepang. Bukan karena faktor bahasa… tapi lebih ke faktor pendukungnya, yaitu lagu-lagu. Bayangkan di hari Natal, lagu Natal yang dinyanyikan “hanya” しずけきまよなか (Silent Night) di awal misa dan もろびとこぞりて (Joy to the World). Lagu-lagu misanya ngantukin… gregorian semua… huh. mbok yang genki (semangat) dikit nape sih.

Setelah selesai misa, aku melihat sosok orang Indonesia di depan gereja. Langsung saja saya sapa, “Pastor ya?. Saya memang tahu ada seorang pastor dari Indonesia (asal Timor) yang sedang bertugas di sini. Beliau juga melayani misa di komunitas katolik Meguro, tapi selama ini saya belum sempat bertemu. Beliau senang sekali disapa dalam bahasa Indonesia, tapi masih bingung kelihatannya. Lalu saya dalam bahasa Indonesia menceritakan bahwa saya tahu Pastor John Lelan ini dari ibu Kristin dan bla bla bla. Rupanya pastor menyangka saya orang Jepang yang bisa berbahasa Indonesia. Kemudian pastor bilang, “Ibu mari kita makan  siang sama-sama” Wah pastor ngajak nge -date nih hihihi. Dan memang kepada semua orang, Pastor bercanda berkata, “Kenalkan ini kanojo (pacar) , dia pintar bahasa Jepang”. Lalu saya bilang pada pastor, “Jangan begitu pastor, nanti semua orang pikir benar bagaimana?”. Justru katanya biar mereka tidak bertanya-tanya kok pastor muda pergi berduaan dengan perempuan, lebih baik dikenalkan begitu. Lagipula mereka kan tahu saya bercanda…. Hmmm orang Jepang memang sulit untuk bercanda.

bersama pastor John Lelan,SVD dan seorang umat di Kichijoji church

::::::::::::::::

Alhasil, saya pergi deh ke sebuah restoran Unagi (rupanya kesukaan pastor John adalah unagi –belut–) untuk makan siang bersama Pastor John, sambil cerita-cerita masa lalu. Tentang meninggalnya pastor Norbert, kabar dari frater Ardi yang sedang belajar di Nagoya sekarang dan katanya tahun depan akan ditahbis (kangen juga sama frater muda yang takut pada orang mati itu hihihi). Lalu mengenai jumlah umat di paroki Kichijoji yang berjumlah 5000 orang (lumayan besar ya). Dan ngga boleh lupa diceritakan bahwa pastor tidak menyangka bahwa saya sudah berumur 40 tahun, lebih tua 5 tahun dari beliau hahahahha ( biar narsisnya keluar kan…. dia sangka aku baru lulus dari universitas …. doooh hiperbolis sekali deh)

Sambil cerita-cerita begitu, tahu-tahu ada sekelompok ibu-ibu 8 orang masuk …wah rupanya umatnya dari gereja yang juga mau makan siang di situ. Terpaksa deh setelah makan kita aisatsu (mengucapkan salam dulu) kepada ibu-ibu ini, sambil berjanji saya akan sering ke gereja Kichijoji…. semoga. Dengan tahun depan Riku masuk SD, dia bisa mengikuti sekolah minggu setiap Minggu jam 9 pagi. Dan aku juga berjanji untuk mengusahakan pergi ke misa Natal tgl 27 nanti di gereja Meguro yang akan dipimpin oleh Pastor John untuk komunitas orang Indonesia Meguro.

Pulang, aku naik bus dari stasiun Kichijoji, dan ternyata aku ketiduran dalam bus. Waktu bangun sudah lewat halte dekat rumah, tempat yang seharusnya aku turun. Jadi aku sengaja turun di halte berikut yang memang harus jalan sekitar 10 menit sambil melewati ladang-ladang dan Rumah Sakit Koperasi tempat kami selalu pergi. Ada yang berjualan sayur dalam locker di situ, jadi saya beli wortel dan bayam sebelum pulang. Sambil menikmati jalan santai aku pikir begitu pulang aku mau masak Kare untuk Gen dan Riku, sedangkan sebagian dagingnya mau aku kasih bumbu soto madura…kepengen makan soto nih setelah makan masakan eropa semua hehehhe.

well aku berterima kasih pada Gen, yang membiarkan aku pergi ke gereja sendiri, dan dia yang baby sit anak-anak di rumah. Waktu aku pulang, Gen sedang membersihkan akuariumnya, Riku sedang bermain dan Kai … sedang minum susu sendiri (tak lama dia tidur sore sampai berjam-jam… kelihatannya dia capek sisa kemarin … dia sama sekali tidak tidur siang kemarin). Imelda? aku pasang YM dan mendengarkan curhat yuki san yang minta advis untuk sekolahnya, bingung antara arsitek, HI atau sastra Jepang. Hmmm pergunakanlah kesempatan yang ada, jangan cari yang tidak ada. Kadang kita memang harus mengalah untuk mencapai cita-cita. Waktu masih banyak untuk orang seusia dia… 19 tahun…

Akhir-akhir ini Riku senang menggambar, dan tadi malam tiba-tiba dia bilang begini, “Mama ini memang bukan asli, hanya dari kertas, tapi ini bunga untuk mama sebagai hadiah Natal……” hiks aku benar-benar terharu sampai mengeluarkan air mata. Sebelahnya adalah kado natal dia untuk papanya, yang dia berikan sembunyi-sembunyi…. ya sebuah rokok… dia tahu aku akan marah hahahaa.

Wajah dalam tidur

Pernahkah Anda menatap Orang terdekat Anda saat Ia sedang Tidur???

Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur.
Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun
bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur.
Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah Anda saat beliau sedang tidur.
Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu
kini semakin tua dan ringkih,
betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya,
betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya.
Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya.
Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda.
Hmm…kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu
kini kasar karena tempaan hidup yang keras.
Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita.
Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita
semata-mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya,
itu sering kita salah artikan.

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu… Ayah, Ibu, Suami, Istri,
Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya…

Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya.
Rasakanlah energi cinta yang mengalir pelan-pelan
saat menatap wajah lugu yang terlelap itu.

Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras
ketika mengingat betapa banyaknya
pengorbanan yang telah dilakukan
orang-orang itu untuk kebahagiaan anda.

Pengorbanan yang kadang tertutupi
oleh kesalahpahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur
agar pengorbanan itu bisa tampak lagi
melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.

Pengorbanan yang kadang melelahkan
namun enggan mereka ungkapkan.
Dan ekspresi wajah ketika tidur pun
mengungkap segalanya.

Tanpa kata, tanpa suara dia berkata…
“betapa lelahnya aku hari ini”.
Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah?
Tak lain adalah kita.

Suami yang bekerja keras mencari nafkah,
istri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah.
Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan
hari-hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit
yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka.
Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan
seketika membuncah jika mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi
jika esok hari mereka “orang-orang terkasih itu”
tak lagi membuka matanya, selamanya …

Teruskan email ini ke teman-temanmu yang lain agar
mereka juga boleh diingatkan untuk lebih mencintai
dan memperhatikan orang-orang terdekat, tercinta
dan yang terpenting adalah, yang telah berjasa besar sekali
membesarkan dan berkorban demi mereka,
sejak mereka masih bayi hingga kini

Tuhan Memberkati

Photobucket